Anda di halaman 1dari 7

ENDOMETRIOSIS

A. Pengertian
Endometriosis ialah lapisan selaput yang sepatutnya melapisi dinding
dalam rahim (uterus) ada di luar rongga uterine atau pada otot rahim.
B. Etiologi
Endometriosis terjadi bila endometrium tumbuh di luar rahim. Lokasi
tumbuhnya beragam di rongga perut, seperti di ovarium, tuba falopii, jaringan
yang menunjang uterus, daerah di antara vagina dan rectum, juga di kandung
kemih. Endometriosis bukanlah suatu infeksi menular seksual, sehingga tidak ada
hubungannya dengan apakah seorang remaja pernah berhubungan seksual atau
tidak.
C. Manifestasi Klinis
Simptom endometriosis termasuk:
-

Sakit ketika melakukan hubungan seks (dyspareunia).

Sakit ketika ovulasi.

Sakit pinggang.

Rasa sakit ketika hendak buang air besar, terutama ketika haid.

Perdarahan sebelum dan antara waktu haid.

Tidak subur dan sukar hamil.

Gangguan kesehatan, terutama ketika haid seperti cepat sakit


kepala, dan cepat lelah. (Prof.Dr.Nik Mohd Nasri Ismail,2005)

D. Pathofisiologi
Endometriosis berasal dari kata endometrium, yaitu jaringan yang melapisi
dinding rahim. Endometriosis terjadi bila endometrium tumbuh di luar rahim.
Lokasi tumbuhnya beragam di rongga perut, seperti di ovarium, tuba falopii,
jaringan yang menunjang uterus, daerah di antara vagina dan rectum, juga di

kandung kemih. Endometriosis bukanlah suatu infeksi menular seksual, sehingga


tidak ada hubungannya dengan apakah seorang remaja pernah berhubungan
seksual atau tidak.

Untuk memahami masalah endometriosis ini, kita perlu

memahami siklus menstruasi. Dalam setiap siklus menstruasi lapisan dinding


rahim menebal dengan tumbuhnya pembuluh darah dan jaringan, untuk
mempersiapkan diri menerima sel telur yang akan dilepaskan oleh indung telur
yang terhubungkan dengan rahim oleh saluran yang disebut tuba falopii atau
saluran telur. Apabila, telur yang sudah matang tersebut tidak dibuahi oleh sel
sperma, maka lapisan dinding rahim tadi luruh pada akhir siklus. Lepasnya
lapisan dinding rahim inilah yang disebut dengan peristiwa menstruasi.
Keseluruhan proses ini diatur oleh hormon, dan biasanya memerlukan waktu 28
sampai 30 hari sampai kembali lagi ke awal proses. Salah satu teori mengatakan
bahwa darah menstruasi masuk kembali ke tuba falopii dengan membawa
jaringan dari lapisan dinding rahim, sehingga jaringan tersebut menetap dan
tumbuh di luar rahim.
Teori lain mengatakan bahwa sel-sel jaringan endometrium keluar dari
rahim melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening, kemudian mulai
tumbuh di lokasi baru. Namun, ada pula teori yang mengatakan bahwa beberapa
perempuan memang terlahir dengan sel-sel yang "salah letak", dan dapat tumbuh
menjadi endometrial implant kelak. Berbagai penelitian masih terus dilakukan
untuk memahami endometriosis ini dengan baik sehingga dapat menentukan cara
yang tepat untuk mengobatinya. Dalam kasus endometriosis, walaupun jaringan
endometrium tumbuh di luar rahim dan menjadi "imigran gelap" di rongga perut
seperti sudah disebutkan tadi, struktur jaringan dan pembuluh darahnya juga sama
dengan endometrium yang berada di dalam rahim. Si imigran gelap (yang
selanjutnya akan kita sebut endometrial implant) ini juga akan merespons
perubahan hormon dalam siklus menstruasi.
Menjelang masa menstruasi, jaringannya juga menebal seperti saudaranya
yang berada di "tanah air". Namun, bila endometrium dapat luruh dan melepaskan
diri dari rahim dan ke luar menjadi darah menstruasi, endometrial implant ini
tidak punya jalan ke luar. Sehingga, mereka membesar pada setiap siklus, dan

gejala endometriosis (yaitu rasa sakit hebat di daerah perut) cenderung makin
lama makin parah. Intensitas rasa sakit yang disebabkan oleh endometriosis ini
sangat tergantung pada letak dan banyaknya endometrial implant yang ada pada
kita. Walaupun demikian, endometrial implant yang sangat kecil pun dapat
menyebabkan kita kesakitan luar biasa apabila terletak di dekat saraf.(Utamadi,
Gunadi, 2004). Setiap bulan, selaput endometrium akan berkembang dalam rahim
dan membentuk satu lapisan seperti dinding. Lapisan ini akan menebal pada awal
siklus

haid

sebagai

persediaan

menerima

telur

tersenyawa

(embrio).

Bagaimanapun jika tidak ada, dinding ini akan runtuh dan dibuang sebagai haid.
Endometriosis yang ada di luar rahim juga akan mengalami proses sama seperti
dalam rahim dan berdarah setiap bulan.
Oleh kerana selaput ini ada di tempat tidak sepatutnya, ia tidak boleh
keluar dari badan seperti lapisan endometrium dalam rahim. Pada masa sama,
selaput ini akan menghasilkan bahan kimia yang akan mengganggu selaput lain
dan menyebabkan rasa sakit. Lama kelamaan, lapisan endometriosis ini semakin
tebal dan membentuk benjolan atau kista (kantung berisi cecair) dalam ovari.
Endometriosis perlu dibuang segera kerana ia akan menyebabkan:
-Tidak mampu ovulasi.
-Folikel tidak pecah.Luteolisis.
-Oosit tidak matang.
-Hubungan seks menjadi sakit dan ini mengakibatkan ia jarang dilakukan.
-Kadar keguguran yang tinggi (45 %). (Prof.Dr.Nik Mohd Nasri Ismail,2005)
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laparoskopi
Membuat lubang kecil pada pusar dan memasukkan sebuah batang yang
diujungnya memiliki kamera yang dihubungkan dengan monitor TV
sehingga dapat dilihat langsung kondisi organ kandungan didalam sana,
tanpa harus menyayat perut.
2. MRI (magnetic imaging resonance)

Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menentukan posisi serta


besar/ luas.
3. Thorax X ray
Untuk mengidentifikasi keadaan pulmo.
4. Analisa Gas Darah
Menunjukan efektifitas dari pertukaran gas dan usaha pernafasan.
F. Pengobatan
Menurut sebuah penelitian baru di Italia wanita yang lebih banyak makan
buah-buahan dan sayuran lebih jarang mengalami endometriosis. Endometriosis
terjadi bila jaringan yang melapisi uterus tumbuh di luar uterus dan mulai
menutupi

organ-organ

lain

dalam

abdomen.

Keadaan

tersebut

dapat

mengakibatkan pendarahan, nyeri, dan rasa tidak nyaman. Kelainan ini


merupakan salah satu penyakit kandungan yang paling sering terjadi. Para peneliti
memutuskan untuk mengamati peran apa yang dimainkan oleh pola makan dalam
terjadinya kelainan tersebut. Mereka melakukan survey terhadap 504 orang wanita
yang didiagnosa menderita endometriosis, untuk diperbandingkan dengan 504
wanita yang tidak menderita penyakit tersebut. Semua partisipan berusia di bawah
65 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi buah-buahan dan sayuran hijau
melindungi wanita dari penyakit tersebut.
Dibandingkan dengan mereka yang memakannya dalam jumlah paling
sedikit, mereka yang memakannya dalam jumlah paling banyak memiliki risiko
40 persen lebih kecil terhadap penyakit tersebut. Namun memakan daging merah
menyebabkan efek yang berlawanan. Mereka yang memakan paling banyak
daging merah dan ham mengalami peningkatan risiko 100 persen dibandingkan
yang makan paling sedikit. Wanita dapat mengurangi risiko terhadap
endometriosis dengan lebih sedikit memakan daging merah. Penelitian yang
dipimpin oleh Dr Fabio Parazzini ini diterbitkan dalam jurnal Human
Reproduction. Ia mengatakan, Penelitian kami menunjukkan bahwa ada
hubungan antara pola makan dan risiko endometriosis dan sekarang kita
membutuhkan penelitian prospektif yang tepat untuk mempelajari faktor-faktor

tersebut. Bila penemuan ini telah dikonfirmasikan, maka dengan pola makan
yang tepat kasus endometriosis dapat turun sebanyak 3-4%, yang berarti
mengurangi 800.000 wanita yang dapat terkena penyakit ini di Eropa.
Endometriosis mempengaruhi kualitas hidup penderitanya dan bila ada
penyesuaian yang dapat dilakukan dalam pola makan untuk mengurangi risiko
terhadap penyakit tersebut, sangat penting bagi kami untuk memperoleh bukti
yang jelas tentang makanan apa yang melindungi dan apa yang meningkatkan
risiko, katanya Dr Janice Rymer, seorang konsultan kandungan dan kebidanan di
Londons Guy and St Thomas hospital, mengatakan: Hal ini sangat menarik.
Tidak ada alasan mengapa faktor pola makan tidak endometriosis karena
kita belum tahu dengan pasti apa sebenarnya penyebab endometriosis. Jadi faktor
pola makan mungkin merupakan faktor yang penting. Ia mengatakan beberapa
pasienya yang mengalami endometriosis mengatakan bahwa perubahan pola
makan memang bermanfaat. Seorang juru bicara dari British Nutrition Foundation
mengatakan bahwa terlalu dini untuk membuat kesimpulan, namun penemuan ini
dapat menjanjikan sesuatu. Endometriosis adalah penyakit yang terkait-estrogen.
Makanan tampaknya memodifikasi beberapa penyakit terkait-estrogen
seperti kanker endometium dan ovarium. Ia mengatakan makanan yang
mengandung zat yang dikenal sebagai phytoestrogen ditemukan dalam kedelai,
sayuran hijau tua, kacang-kacangan mengurangi kadar estrogen dalam aliran
darah dan tampaknya mempunyai sifat protektif terhadap penyakit ini. Telah
dilakukan beberapa penelitian tentang efek diet dalam endometriosis, namun
penelitian pada hewan memang menunjukkan bahwa makanan-makanan tertentu
dapat memberikan perlindungan seperti asam lemak omega-3 yang ditemukan
pada ikan, katanya. (Kalbefarma,2004)

G. Pathways
Menstruasi metaplasia
Sisa epitel embrional
Respon estrogen-progesteron
Endometrium

Adenomatosis

Endometriosis Eksterna
Ovarium

Luka parut

Inflamasi

Mestruasi

Steril
Uterus

Vesica
Urinaria

Dispaereunia
Disuria

Disinformasi

Rectum

Ansietas

Nyeri
Defekasi

Nyeri
Senggama

Resti in efektif
terapi
Darah menempel
peritonium

Krista pecah

Nyeri pinggang
belakang

Akut abdomen
Nyeri pelvis

G. Diagnosa Keperawatan
a.

Nyeri kronik berhubungan dengan respon penggantian jaringan


endometrial (abdominal, peritoneal) terhadap siklus rangsang hormon
ovarium.

b.

Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan senggama


yang menimbulkan rasa sakit dan infertilitas.

c.

Ansietas yang berhubungan dengan penyakit alami yang tidak


dapat diperkirakan.

d.

Resiko terhadap ketidak evektivan penatalaksanaan program


terapeutik berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tentang
kondisi,mitos, dan potensi kehamilan.