Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENELITIAN STABILITASI TANAH

DENGAN KAPUR

Disusun oleh :
1.

Andri Kurniawan (022113097)

2.

Bakhtiar Kurniawa (022113097)

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil


Universitas Islam Sultan Agung
Tahun Angkatan 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Stabilisasi Tanah
dengan Kapur dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih
pada Bapak Ir. Gatot Rusbintardjo, M.R.Eng.Sc., Ph.D. selaku Dosen mata kuliah Teknik Penulisan
yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Stabilisasi Tanah dengan Kapur. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Semarang, 9 April 2015

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar ......................................................................................................................... 2


Daftar Isi .................................................................................................................................. 3
BAB I: PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................. 4
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................................ 5
1.3. Tujuan .......................................................................................................................... 5
BAB II: PEMBAHASAN
2.1. Definisi tanah ............................................................................................................... 6
2.2. Definisi stabilitas ......................................................................................................... 6
2.3. Cara cara perbaikan tanah pada umumnya ............................................................... 7
2.4. Klasifikasi Tanah yang ada pada umumnya ................................................................ 9
2.5. Jenis - jenis kapur .......................................................................................................11
2.6. Persyaratan bahan yang digunakan..13
2.7. Cara pengerjaan pemadatan di lapangan..16
BAB III: PENUTUPAN
3.1. Kesimpulan.....................................................................................................................18
3.2. Saran...........18
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................19

BAB 1
Pendahuluan

1.1.

Latar Belakang

Tanah merupakan salah satu komponen yang ada di bumi selain air dan udara. Keragaman
bentuk serta sifat sifat tanah membuat sulit untuk dipahami. Selain berfungsi sebagai lahan
pertanian tanah juga digunakan sebagai lahan dibuatnya jalan. Jalan merupakan salah satu sarana
penting yang harus diperhatikan karena merupakan sarana yang diperlukan untuk kehidupan atau
aktivitas manusia sehari hari. Untuk membuat jalan yang tahan lama dibutuhkan daya dukung yang
maksimal, karena daya dukung tanah tersebut sangat berpengaruh terhadapat daya tahan atau umur
jalan tersebut.
Permasalahan daya dukung tanah ( stabilisasi tanah) sering sekali muncul dalam pengerjaan
jalan. Banyak upaya yang sudah di lakukan dalam upaya menaikan daya dukung tanah salah satunya
dengan mengunakan Geotextil, tetapi upaya tersebut dianggap terlalu sulit dan membutuhkan biaya
yang tidak sedikit.
Amerika bereksperimen dengan bahan plastik sebagai tambahan semen untuk menciptakan
campuran yang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai level kelembaban dan cuaca yang ekstrem.
Tes laboratorium menemukan campuran dasar yang dapat meningkatkan kekuatan dan ketangguhan
lapisan jalan sampai 100% dengan tetap memberikan fleksibilitas lapisan yang dicari oleh militer.
Lahirlah solusi stabilitas tanah yang modern.
Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa terobosan baru dalam perkembangan metode
stabilizer tanah menggunakan bentuk cair. Untuk menghemat ongkos transportasi dan kemudahan
penerapannya, para peneliti telah berusaha untuk mengembangkan stabilizer tanah berbahan dasar
cair.
Namun, ternyata bahan dasar cair kurang efektif apabila dibandingkan stabilizer yang lama.
Bentuk cair tidak dapat menyatu benar dengan tanah karena sebuah tanah bisa terlalu keropos atau
malah terlalu kuat untuk bahan cair bisa menembusnya. Bahan dasar cair juga hanya bisa dipakai di
lapisan jalan paling atas sehingga tidak bisa menstabilkan lapisan bawah, sehingga tidak sanggup
menahan beban yang terlalu besar.
Maka pada kesempatan yang berbahagia ini kami sedikit mengupas tentang Stabilisasi tanah
dengan kapur dengan materi seadanya sesuai dengan referensi yang kami peroleh dan ketahui,
sekiranya bisa memuaskan pembaca.

1.1.1. Rumusan Masalah


Menelisik dari latar belakang yang tertera di atas maka dapat diperoleh masalah
masalah yang perlu akan pembahasan dan pembuktian sehingga masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana cara pencampuran tanah dengan kapur?
2. Berapa campuran agar mendapat mendapat hasil yang maksimal?
3. Apa saja persyaratan bahan yang digunakan untuk proses pencampuran?
4. Bagaimana perbandingan antara tanah biasa dan tanah yang telah dicampur
dengan kapur?

1.1.2.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
1. Besarnya daya dukung (bearing capasity) tanah urug setelah dicampur dengan
kapur.
2. Prosentase penggunaan kapur yang harus ditambahkan ke dalam tanah urug
agar menghasilkan daya dukung tanah yang optimal.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

Definisi tanah umum

Tanah adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi,
yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor:
Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu. (Dokuchaev 1870)
Tanah sebagai bahan material terdiri dari agregat mineral-mineral padat yang
tidak terikat secara kimia antara satu sama lain dari bahan-bahan organik yang telah
melapuk yang berpartikel padat disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruangruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Tanah dasar merupakan material
tanah yang dipadatkan sebagai tanah dasar dari suatu.
2.2

Definisi Stabilitas

Stabilitas tanah merupakan kemampuaan tanah dasar untuk menerima atau memikul
beban yang bekerja di atasnya yang disebut daya dukung tanah dasar (L.A Sitangggang
2004). Di lapangan akan banyak ditemukan bahwa tidak semua tanah dasar dasar memiliki
daya dukung yang baik, oleh karena itu harus diadakan perbaikan karekteristik tanah
tersebut dengan cara perbaikan stabilitas dengan bahan-bahan kimia dan juga dengan
cara pemadatan dengan mekanis. Dengan memperhatikan dilapangan bahwa kebanyakan
tanah memiliki daya dukung yang rendah, maka ada beberapa cara atau teknik
perbaikan tanah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Proses stabilisasi tanah
meliputi pencampuran tanah dengan tanah lain untuk memperoleh gradasi yang diinginkan
atau pencampuran tanah dengan bahan-tambah b uatan pabrik, sehingga sifat-sifat teknis
tanah menjadi lebih baik. Guna merubah sifat-sifat teknis tanah, seperti : seperti kapasitas
dukung, kompresibilitas, permeabilitas, kemudahan dikerjakan, potensi pengembangan dan
sensitifitas terhadap perubahan kadar air, maka dapat dilakukan dengan cara penanganan dari
yang paling mudah sampai teknik yang lebih mahal seperti: mencampur tanah dengan semen,
kapur, abu terbang, dan lain-lain. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah stabilitas tanah
dengan kapur.
Berdasarkan percobaan uji sondir (standar penetration test,spt),nilai daya dukung
untuk jenis tanah yang berbeda beda besarnya tidak sama (bervariasi), seperti dapat kita
lihat pada tabel di bawah ini.
Keadaan konsistensi tanah
Sangat lembek
Lembek
Sedang
Keras

daya dukung tanah (kg/cm2)


0,0 0,3
0,3 0,6
0,6 1,2
1,2 2,4

Sangat keras
Keras sekali
(sumber : http://proyeksipil.blogspot.com)

2.3

2,4 4,8
> 4,8

Cara Cara Perbaikan Tanah pada Umumnya

Tanah yang kurang memenuhi persyaratan untuk dijadikan sebagai lapisan tanah
dasar, maka hal perlu dilakukan untuk meningkakatkan daya dukung tanah tersebut
adalah dengan melakukan perombakan terhadap tanah tersebut. Adapun cara yang
dilakukan untuk meningkatkan daya dukung tanah tersebut (Silvia Sukirman, 1992).
Adapun cara atau teknik yang dapat dilakukan dilapangan sesuai dengan keadaan tanah
dilapangan adalah sebagai berikut:
1. Cara dinamis, yaitu perbaikan tanah dasar dengan menggunakan alat-alat berat seperti
compector yang dilengkapi dengan alat penggetar untuk pekerjaan pemadatan.
2. Memperbaiki gradasi yang ada, yaitu dengan cara menambah fraksi yang kurang
kemudian dicampur dan dipadatkan.
3. Dengan stabilitas kimia, yaitu menstabilitaskan lapisan tanah dasar dengan bahanbahan kimia seperti semen portland, kapur, dan bahan kimia lainnya.
4. Membongkar dan mengganti, langkah ini dilaksanakan apabila tanah dasarnya sangat
jelek dan mengganti tanah aslinya dengan material yang lebih baik, berkualitas tinggi, dan
mempunyai daya dukung yang optimal.
1.Peningkatan Stabilitas Tanah Dasar Dengan Pemadatan Menurut dari pengertian
pemadatan tanah bahwa pemadatan tanah itu adalah proses yang dilakukan terhadap tanah
untuk meningkatkan volume tanah, meningkatkan daya dukung tanah (Braja M Das
1998). Sehingga dapat dikatakan bahwa peningkatan stabilitas tanah dasar dengan cara
pemadatan adalah bertujuan untuk memperbaiki karekteristik mekanis tanah yaitu
memperkecil pori-pori tanah serta mengeluarkan air yang terkandung di dalam tanah
tersebut. Energi pemadatan yang dibutuhkan di lapangan diperoleh dari mesin gilas.
Dengan cara ini maka gaya geser tanah atau permaebilitas tanah akan turun. Hasil
yang dapat diperolah dengan cara pemadatan adalah sebagsi berikut (Braja M Das 1998):
a. Pengurangan penurunan tanah (subsidensi) akibat gerakan-gerakan vertikal di
dalam masa tanah sendiri, akibat berkurangnya angka pori tanah
b. Keawetan daya dukung tanah optimal
c. Berkurangnya volume akibat berkurangnya kadar air dari nilai patokan pada
saat pengeringan.
1.1 Perbaikan Stabilitas Dengan penyesuaian Dengan Gradasi Gradasi adalah
pemberian jumlah butiran masing-masing dari suatu masa tanah, makin besar jumlah

butir didalam tanah dengan ukuran yang sama (misalnya mencapai 75%), maka tanah itu
dinamakan bergradasi baik dan merata. Gradasi atau distribusi partikel-partikel berdasarkan
ukuran agregat merupakan hal yang penting dalam menentukan stabilitas perkerasan.
Perbaikan dengan cara ini dilakukan apabila tanah asli tidak memenuhi persyaratan
distribusi yang ditentukan, hal ini dapat diketahui dengan mengadakan evaluasi test
laboraturium dapat diketahui ukuran butir dan jumlah tanah yang harus ditambah mencapai
distribusi yang baik. Perbaikan gradasi yaitu perbaikan stabilitas tanah dengan cara
mencampur tanah asli yang bergradasi kurang baik dengan tanah yang mempunyai
ukuran butiran tertentu, hingga diperoleh gradasi yang baik. Distribusi gradasi tanah
ditentukan pemakaiannya pada konstruksi, jika distribusi perbutiran tanah cukup baik,
maka ruang kosong diantara butiran-butiran yang akan di isi oleh gradasi dengan butiran
yang lebih kecil, sehingga ruang kosong yang mungkin timbul yang mengakibatkan
permaebilitas semakin kecil atau mungkin akan bersifat kedap air.
1.2 Perbaikan Stabilitas Tanah Dengan Kapur Atau Semen Stabilitas dengan kapur
dilakukan untuk tanah kohesif atau jenis tanah yang mempunyai kadar lempung yang
tinggi, karena tanah dengan kadar lempung tinggi memiliki indeks plastisitas (IP) yang
tinggi dan kadar ini akan baik untuk material jalan. Tujuan utama dari stabilitas dengan
tanah kapur adalah untuk mereduksi harga IP yang baik untuk perkerasan adalah di bawah
10% dengan nilai liquid limid (LL) kurang dari 30% untuk material yang lolos saringan
no 40. Selain untuk mereduksi harga IP, reaksi peningkatan antara kapur dan silika
atau alumunium bebas yang terdapat pada tanah lempung akan menghasilkan perbaikan
daya dukung dan stabilitas tanah asli. Untuk tanah berpasir dan berkerikil serta
mengandung sedikit tanah yang berbutir-butir akan digunakan bahan stabilitas semen,
maka perlu diselidiki tentang kadar air, dan konsistensi tanah yang akan distabilitas. Dapat
diartikan pula Stabilitas tanah kapur yaitu mencampur tanah dengan kapur dan air pada lokasi
pekerjaan di lapangan untuk merubah sifat-sifat tanah tersebut menjadi material yang lebih
baik yang memenuhi ketentuan sebagai bahan konstruksi yang diijinkan dalam perencanaan.
Kapur bereaksi dengan air tanah sehingga merubah sifat tanahnya, mengurangi kelekatan dan
kelunakan tanah. Sifat ekspansif yang menyusut dan berkembang karena kondisi airnya akan
berkurang secara drastis karena butir kapur.( http://utdgank.blogspot.com/2013/11/stabilitastanah-kapur.html)
2. Membongkar dan Mengganti Material Tanah Membongkar dan mengganti yaitu
memperbaiki stabilitas tanah dengan cara membongkar atau mengganti tanah yang berasal
dari daerah lain yang mempunyai karekteristik yang lebih baik dari pada kondisi tanah pada
lokasi pembangunan jalan.
a. Sifat-sifat Tanah Tanah mempunyai sifat struktur yang bermacam-macam, hal
itu disebabkan karena tanah mempunyai banyak sifat-sifat fisis yang berbeda. Sifat-sifat
fisis meliputi berat isi, angka pori, nilai sudut geser, dan berat volume. Berat isi adalah
berat tanah termasuk air dan udara dengan volume total. Sudut geser terbentuk akibat
dari gerak antara butiran-butiran tanah. Berat volume adalah berat volume butiran
tanah termasuk udara, dengan volume total tanah. Dalam merencanakan pembangunan

suatu proyek ada baiknya dilakukan survey di lapangan untuk mempelajari sifat-sifat
tanah pada lokasi yang akan dijadikan area proyek. Hal ini penting mengingat tanah
mempunyai sifat-sifat yang berbeda pada tempat tertentu disuatu lokasi tertentu dan dari
hasil survey lapangan dapatlah kita simpulkan apakah pada lokasi tersebut layak
dilaksanakan bangunan jalan raya misalnya, atau landasan pacu, pabrik, dan bangunanbangunan lainnya. Secara umum dari hasil survey lapangan dan test laboraturium tanah
memiliki sifat-sifat sebagai berikut (Braja M Das, 1998) :
b.Permaebilitas tanah
c.Kemampuan dan konsuliditas tanah
d.Kekutan tegangan geser tanah.
e. Klasifikasi Tanah
2.4

Kalasifikasi Tanah yang Ada pada Umunya

Klasifikasi tanah adalah cara untuk menentukan jenis tanah sehigga diperoleh gambaran
sepintas tentang sifat-sifat tanah (Ir.Shirley LH, 1987). Klasifikasi tanah berfungsi untuk
mengetahui jenis dan sifat masing-masing tanah, kepadatan serta kadar airnya yang bertujuan
untuk mempermudah perkiraan dan daya dukung tanah dasar dan pengerjaannya. Secara
umum tanah dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu tanah kohesif dan tanah tanah
tidak kohesif (granular). Sifat-sifat tanah kohesif adalah sebagai berikut :
i.Jika butir-butir tanah pada pembasahan dan pengeringan akan menyusun butirbutir tanah tersebut satu sama lain, sehingga diperlukan gaya untuk memisahkan dalam
keadaan kering.
ii.Berdasarkan satu keadaan analsis makanis, maka yang dimaksud dengan tanah
non kohesif adalah bila butir-butir tanah akan terpisah- pisah sesudah dikeringkan, butirbutir tersebut hanya bersatu kembali jika dalam keadaan basah karena pengaruh gaya
tarik permukaan didalam air. Berdasarkan ukuran-ukuran butirannya, maka tanah dapat
dibagi menjadi 4 jenis ( L.A Sitanggang, 2004), yaitu:
1.Tanah yang berbutir kasar (2 mm)
2.Tanah berbutir sedang (2 0,075 mm)
3.Tanah berbutir halus (0,075 0,005 mm)
4.Tanah lempung (<0,005 mm)
Pembagian jenis tanah ini umumnya digunakan untuk bahan-bahan yang non kohesif
seperti pasir kasar, pasir sedang, kerikil, dan tidak berlaku bahan-bahan yang kohesif. Untuk
menentukan sesuai tidaknya suatu tanah untuk bahan-bahan konstruksi, maka perlu
dibentuk suatu klasifikasi tanah yang lebih lengkap dan mendetail, mengingat
klasifikasi tanah diatas bersifat umum, dimana mungkin terjadi klasifikasi yang sama

untuk tanah-tanah yang hampir bersamaan. Adapun sistem klasifikasi yang resmi dipakai
adalah :
a.Sistem klasifikasi tanah AASTHO (American Association of State Highway and
Transportation Officials).
b.Sistem klasifikasi tanah USCS (Unified Soil Classification System).
a.Sistem Klasifikasi Tanah AASTHO Dengan sistem klasifikasi tanah AASTHO,
tanah dapat didefenisikan menjadi tujuh kelompok, yaitu A-1 sampai A-7. Dimana kelompok
tanah A-1 sampai A-3 adalah tanah berbutir dengan tidak lebih dari 35% bahan lewat
saringan no 200. Kelompok tanah A-1 terdiri dari campuran kerikil, pasir kasar, pasir
halus yang bergradasi cukup baik dan bahan pengikat yang mempunyai plastisitas yang
sangat rendah. Kelompok A-1 terdiri dari sub kelompok yaitu A-1a dan A-1b.
Sub kelompok A-1a mengandung kerikil yang cukup banyak dan merupakan
bahan yang bergradasi yang baik, sedangkan sub kelompok A-1b terdiri dari pasir serta
mempunyai nilai plastisitas (PI) <6. Kelompok A-2 merupakan bahan berbutir dengan
jumlah bahan yang lewat saringan no 200 tidak lebih dari 35%. Tanah A-3 merupakan
campuran pasir halus yang mempunyai ukuran relatif seragam dan serupa campuran
pasir halus bergradasi kurang baik dengan sebagian kecil terdiri dari bahan pasir kasar dan
kerikil serta merupakan bahan yang tidak plastis. Tanah A-4 sampai A-7 dianggap tanah
berbutir halus dan semuanya mempunyai bahan yang lewat saringan no 200 minimum 36%.
Kelompok A- 7 masih dibagi atas sub kelompok yaitu A-7-5 dimana PI < (LL-30) dan sub
kelompok A-7-6 bila PI > (LL-30).
b. Sistem Klasifikasi Tanah USCS (Unified Soil Classification System)
Dalam sistem ini, tanah-tanah lewat notasi (simbol) kelompok yang terdiri dari
sebuah prefiks dan sebuah sufiks Prefiks berfungsi untuk menunjukkan jenis tanah utama
dan sufiks menunjukkan sub divisi didalam kelompok-kelompok sebagai berikut.
Tabel 2.1 Sistem klasifikasi tanah (sumber, USCS)
Jenis Tanah
Kerikil
Pasir

Lanau
Lempung
Organis
Gambut

Prefiks
G
S

M
C
O
P

Sub Kelompok

Gradasi seragam
Berlanau

Sufiks
W
P
U
M

LL 50%
LL 50%

L
H

Keterangan :

10

G = kerikil (Gravel)
S = Pasir (Sand)
M = Lanau (Silt/Moam)
C = Lempung (Clay)
W = Bergradasi baik (Well Graded)
P = Bergradasi buruk (Poor Graded)
U = Bergradasi seragam (Uniform Graded)
L = Plastisitas rendah (Low Liquid Limit)
H = Plastisitas tinggi (High Liquid Limit)
O = Organik (Organic)
Dari tabel diatas, sistem tanah USCS memberikan defenisi sebagai
berikut :
a.Berbutir kasar, apabila lebih dari 50% tertahan pada saringan no 200
b. Berbutir halus apabila lebih dari 50% lolos saringan no 200.
Klasifikasi tanah berbutir kasar adalah :
a.Kerikil, apabila fraksi kasar yang tertahan pada saringan no 4 lebih dari 50%
b. Pasir, apabila fraksi saringan yang lolos melalui saringan no 4
4.Sistem klasifikasi tanah USCS ini merupakan sistem yang paling banyak digunakan
untuk pekerjaan Teknik Sipil, misalnya pekerjaan teknik pondasi, saluran pondasi, dan
landasan.
Bahan Kapur adalah sebuah benda putih dan halus terbuat dari batu sedimen,
membentuk bebatuan yang terdiri dari mineral kalsium. Biasanya kapur relatif terbentuk di
laut dalam dengankondisi bebatuan yang mengandung lempengan kalsium plates (coccoliths)
yang dibentuk olehmikroorganisme coccolithophores. Biasanya lazim juga ditemukan batu
api dan chert yangterdapat dalam kapur. atau Istilah Umumnya yaitu Bahan Yang
mengandung kalsium anorganik,di mana karbonat, oksida dan hidroksida mendominasi.
Tepatnya, kapur adalah kalsium oksidaatau hidroksida kalsium. Tepatnya, kapur atau kalsium
oksida kalsium hidroksida.
(http://www.scribd.com/doc/76936801/Pengertian-Bahan-Kapur#scribd)
2.5

Jenis jenis Kapur

11

Ada beberapa jenis kapur antara lain :


kapur tipe I adalah kapur yang mengandung kalsium hidrat tinggi; dengan kadar
Magnesium Oksida (MgO) paling tinggi 4% berat;
kapur tipe II adalah kapur Magnesium atau Dolomit yang mengandung Magnesium Oksida
lebih dari 4% dan paling tinggi 36% berat;
kapur tohor (CaO) adalah hasil pembakaran batu kapur pada suhu 90C, dengan
komposisi sebagian besar Kalsium Karbonat (CaCO3);
kapur padam adalah hasil pemadaman kapur tohor dengan air, sehingga membentuk hidrat
[Ca(OH)2].
Mekanisme dasar stabilisasi dengan kapur :
1. Adanya ikatan ion Ca, Mg dan Na yang menyebabkan bertambahnya ikatan antara partikel
tanah.
2. Adanya proses sementasi (antara kapur dan tanah sehingga kekuatan geser/daya dukung
tanah menjadi naik)
3. Stabilitas tanah dengan campuran kapur hanya efektif digunakan untuk tanah lempung dan
tidak efektif untuk tanah pasir
Material yang diperlukan pada stabilitas tanah kapur :
1. Kapur
Berdasarkan SNI 03-4147-1996 Kapur yang digunakan sebagai bahan stabilisasi
tanah adalah kapur padam dan kapur tohor.
2. Tanah
Efektif digunakan pada tanah lempung yang plastisitasnya tinggi.
Membuat struktur tanah jadi rapuh sehingga mudah dipadatkan dengan konsekuensi nilai
kepadatan maksimum menjadi turun
3. Air
Air yang digunakan adalah air yang tidak mengandung asam.
Air laut boleh digunakan tapi tidak boleh mengalami kontak dengan lapisan aspal
Spesifikasi Persyaratan untuk Kapur

12

1. Calcium oxide (CaO) kandungan Ca & MgO > 92 %


2. CO2 (oven) < 3 % ; CO2 (lap) < 10 %
3. Calcium Hidroxide (Ca(OH)2) kandungan Ca & MgO > 95 %
4. CO2 (oven) < 5 % ; CO2 (lap) < 7 %
Sifat-sifat Kapur
Sifat sifat dari kapur antara lain :

Mempunyai sifat plastis yang baik

Sebagai mortel, memberi kekuatan pada tembok

Dapat mengeras dengan cepat dan mudah

Mudah di kerjakan

Mempunyai ikatan yang bagus dengan batu atau bata

Mengurangi sifat mengembang dari tanah

Meningkatkan daya dukung dari tanah

2.6

Persayatan Bahan yang Digunakan

Persyarata bahan adalah sebagai berikut merupaka pedoman untuk melakukan percobaan:
1) tanah yang akan distabilisasi dengan kapur adalah tanah yang berkohesi, berbutir halus atau
lempung yang sama dengan yang direncanakan di laboratorium sesuai SK SNI T-14-1992-03 tentang
tata cara perencanaan stabilisasi dengan kapur harus sesuai dengan takan yang sesuai.
2) kapur yang akan digunakan sebagai bahan stabilisasi di lapangan adalah sama dengan jenis kapur
yang digunakan dalam perencanaan campuran stabilisasi tanah dengan kapur di laboratorium.

Peralatan yang digunakan harus layak pakai .


Alat penghampar, yaitu :
1) tangki air;
2) alat pemadat;
3) alat bantu.

Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
1) alat pencampur untuk pencampuran tanah dan kapur serta air di lapangan dapat digunakan
salah satu dari alat-alat berikut ini:
1.

alat-alat pertanian, yaitu : alat pencampur pupuk alat pemecah tanah dan alat
pembajak tanah;
2. alat pembentuk mekanik;

13

3.
4.
5.

pencampur berjalan yaitu : alat pencampur menerus dan tempat pencampur berjalan;
pengaduk rotor:
cangkul mekanik atau sekop mekanik;

2) alat pembentuk permukaan tanah;


3) alat penghampar, yaitu :
1.
2.
3.

truk jangkit;
alat penyebar mekanik;
alat manual.

4) tangki air yang dilengkapi distributor untuk menyiram pekerjaan selama pencampuran dan
pemadatan;
5) alat pemadat, yaitu :
1.
2.

pemadat roda karet 10 12 ton;


pemadat roda tandem 8 10 ton.

6) alat bantu, yaitu :


1.
2.
3.

penggaruk;
sekop;
roda dorong dan alat bantu lainnya yang diperlukan.

Persiapan di Lapangan
Persiapan di lapangan, sebagai berikut :
1) tanah dasar yang akan distabilisasi harus dibersihkan dari kotoran dan bahan organis serta
bahan yang tidak dikehendaki serta dijaga kelembabannya;
2) sebelum diberi kapur untuk dicampur, tanah dipecah dan digemburkan terlebih dahulu
dengan alat yang sesuai dengan jenis tanah yang akan digemburkan;
3) air yang digunakan harus bersih tidak mengandung asam, alkali, bahan organik, minyak,
sulfat dan klorida di atas nilai yang diijinkan sesuai SK SNI T-14-1992-03 tentang Tata Cara
Pembuatan Rencana Stabilisasi Tanah dengan Kapur.
Percobaan Lapangan
Pencampuran kadar kapur yang sudah direncanakan di laboratorium, diperiksa dengan faktor
efisiensi pencampuran di lapangan dengan ketentuan sebagai berikut :
1) rumus untuk menghitung faktor efisiensi, yaitu :
F.E = Kekuatan bahan yang dicampur di lapangan
kekuatan bahan yang dicampur di laboratorium . . . . . . . . . . (1)
Keterangan : Kekuatan bahan, diuji dengan pengujian kuat tekan bebas.
2) faktor efisiensi hubungannya dengan alat pencampuran, yaitu :
1.

alat pembentuk mekanik : 40 50%;

14

2.
3.

alat pencampur rotor : 60 80%;


instalasi pencampur : 80 100%.

3) percobaan lapangan dilaksanakan dengan membuat jalur percobaan minimum sepanjang


200 meter.
4) selama percobaan harus dilakukan hal-hal, sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

kegemburan tanah;
faktor efisiensi;
derajat kepadatan yang dicapai oleh alat pemadat;
efektifitas alat pencampur;
cara perawatan.

Pemadatan
Ketentuan pemadatan, sebagai berikut :
1) tebal padat setiap lapisan 15 20 cm, jumlah lintasan untuk tebal lapisan padat
disesuaikan dengan ruas
percobaan;
2) panjang maksimum pemadatan disesuaikan dengan kapasitas produksi dan kemampuan
peralatan pemadatan;
3) pemadatan harus mencapai 95% kepadatan laboratorium;
4) bila akan memadatkan bagian berikutnya, bagian tepi yang akan disambung dan sudah
dipadatkan harus dipotong tegak lurus dan roda pemadat tidak menggilas bagian yang sudah
dipadatkan terlebih dahulu sewaktu menggilas bagian yang baru;
5) selama melaksanakan pekerjaan stabilisasi tanah dengan kapur sebaiknya dilakukan dalam
cuaca hangat.
Perawatan dan Perlindungan
Ketentuan perawatan dan perlindungan, sebagai berikut :
1) lapisan stabilisasi tanah dengan kapur harus dirawat untuk mencegah kehilangan kadar air
yang diperlukan untuk berhidrasi dengan cara memberi penutup selama 4 hari;
2) selama masa perawatan, permukaan stabilisasi tanah dengan kapur tidak boleh dilewati
lalu lintas atau alat-alat berat.
Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu terdiri dari pengendalian mutu persiapan tanah dan pengendalian mutu
persiapan tanah dan pengendalian mutu stabilisasi tanah dengan kapur yang meliputi :
1) pemeriksaan kerataan;
2) pemeriksaan penggemburan;
3) pemeriksaan pencampuran;
4) pemeriksaan kepadatan;
5) pemeriksaan ketebalan;
6) perawatan.
Pemeriksaan Kerataan
Pemeriksaan kerataan, sebagai berikut :
1) kerataan tanah harus diperiksa setiap jarak 25 meter dengan menggunakan mistar
pengukur kerataan panjang 3 m;
2) ketidakrataan di bawah mistar yang diijinkan, yaitu 1,5 cm;
3) bagian yang lemah seperti terlalu basah atau kurang padat harus diperiksa secara visual
dan ditangani menurut ketentuan yang berlaku.

15

Pemeriksaan Penggemburan
Pemeriksaan penggemburan dapat dilakukan dengan mengambil satu contoh tanah yang
sudah diproses untuk setiap 2 m2; proses kegemburan dapat dikontrol dengan rumus :
PK = A/B x 100% . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2)
Keterangan :
PK = proses kegemburan
A = berat kering tanah yang lolos saringan tanah No. 4
B = berat kering total contoh (tidak termasuk kerikil yang tertahan saringan No. 4).
Pemeriksaan Pencampuran
Pemeriksaan pencampuran, sebagai berikut :
1) keseragaman bahan setelah pencampuran dapat dilakukan secara visual;
2) membuat galian ke arah melintang dengan ketebalan setebal hamparan setiap 50 m;
3) bila hasil dari penelitian visual, campuran telah menunjukkan keseragaman yang baik
maka contoh dapat diambil untuk dilakukan pengujian untuk mencari faktor efisiensi dari
pencampuran.
Pemeriksaan Kepadatan
Pemeriksaan kepadatan, sebagai berikut :
1) kepadatan harus diperiksa minimal satu titik untuk setiap 500 m2;
2) dilakukan dengan memakai alat kerucut pasir, silinder tekan atau gelembung balon karet
bila masih kurang padat maka lintasan harus ditambah seperlunya.
Pemeriksaan Ketebalan
Pemeriksaan ketebalan, sebagai berikut :
1) ketebalan hasil stabilisasi tanah dengan kapur harus diperiksa pada setiap jarak 50 m;
2) tebal padat stabilisasi tanah dengan kapur yang sudah selesai tidak boleh kurang dari 1,25
cm dari tebal rencana.
Perawatan
Selama waktu perawatan perlu dilakukan pengamatan kelembaban secara periodik setiap 24
jam, selama waktu perawatan.
2.7

Cara Pengerjaan Pemadatan Di Lapangan

Langkah-langkah cara pengerjaan stabilisasi tanah dengan kapur di lapangan,


sebagai berikut :
1. siapkan tanah yang akan distabilisasi untuk pencampuran stabilisasi tanah lempung
dengan kapur dilakukan di tempat;
2. gemburkan tanah yang akan distabilisasi sesuai dengan sub bab 3.2;
3. hamparkan kapur yang akan dicampur secara merata dengan cara manual atau dengan
alat penyebar mekanik, sesuai dengan yang dibutuhkan apabila pencampuran
dilakukan di lokasi setempat;

16

4. aduk kedua bahan sampai merata, selama pengadukan dapat ditambahkan air bila
diperlukan dan pemberian air dilakukan secara bertahap sampai memenuhi ketentuan
yang berlaku;
5. sesuaikan dengan yang direncanakan dan kemampuan alat pencampur tebal campuran
di lapangan sebelum dipadatkan, yaitu 30 cm lepas;
6. padatkan tanah pada butir dengan menggunakan pemadat roda karet atau yang sejenis
sesuai dengan ketentuan Sub Bab 3.3;
7. lakukan pemadatan dari tepi menuju ke tengah sejajar sumbu jalan pada bagian yang
lurus; sedangkan pada tikungan dilakukan dari bagian yang rendah ke bagian yang
tinggi sejajar sumbu jalan, demikian pula pada tanjakan, pemadatan dilakukan dari
bagian yang rendah menuju ke tempat yang tinggi sejajar sumbu jalan;
8. lakukan pemadatan awal dengan pemadat roda karet; pada lintasan pertama roda
penggerak dari mesin penggilas ditempatkan di depan; setelah pemadatan awal jika
masih perlu diratakan dan dibentuk, dipakai alat pembentuk mekanik;
9. lakukan pemadatan akhir dengan alat pemadat roda tandem, setelah kerataan
memenuhi persyaratan;
10. periksa kepadatannya dan ukur tebal lapisan padat setelah minimum 4 lintasan;
11. usahakan konstruksi lapisan campuran tidak menjadi kering, selama pelaksanaan dan
selama masa perawatan;
12. lakukan pengendalian mutu selama pekerjaan berlangsung; pengamatan kelembaban
dilakukan untuk menentukan efektivitas cara perawatan yang digunakan.

17

BAB 3
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penelitian ini dapat di simpulkan bahwa stabilisasi tanah dengan menggunakan kapur terbukti
bahwa terjadi peningkatan daya dukung tanah yaitu Sebelum distabilisasi, daya dukung tanah

adalah 2%, dan setelah distabilisasi atau ditambahkan kapur lime kedalam tanah, daya
dukung meningkat menjadi 5%, sehingga dapat dipergunakan sebagai tanah dasar perkerasan
jalan raya. Penilitan dilakukan di laboratorium jalan raya dengan alat proctor. 10 - 30%
kapur lime dari berat volume tanah dengan selang 5% ditambahkan pada tanah, diaduk
kemudian dipadatkan dengan alat Proctor.

3.2.

Saran

peningkatan daya dukung tanah merupakan salah satu komponen yang sangat vital
bagi perbaikan untuk menunjang keperluan manusia dalam usaha untuk memenuhi kebuthan
hidup mereka maka petinya penerapan di lapangan dari hasil penelitian ini. Laporan ini masih
sangat jauh dari sempurna maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
supaya kedepan laporan dapat dibuat dengan baik.

18

Daftar Pustaka

[1] QEDQ1229. 2006. Introduction to Soil-Stabilization. Understanding the Basics of Soil


Stabilization. An overview of Materials and Techniques.
[2] Kedzi, A. 1979. Stabilized Earth Roads. Hungary: The Publishing House of the
Hungarian Academy of Sciences. 102 139.
[3] Joder, E.J. and Witczak, M.W. 1975. Principles of Pavement Design. A WileyInterscience Publication. JOHN WILEY & SONS, INC. 1975. 301 304.
[4] Zamhari, K.A., Hermadi, M., Ali, M.H. 2014. Comparing the Performance of Granular
and Extracted Binder from Buton Rock Asphalt. International Journal of Pavement
Research and Technology, Vol. 7(1). 25 30.
[5] Hadiwardoyo, S.P, Fikri, H. 2013. Use of Buton Asphalt Additive on Moisture Damage
Sensitivity and Rutting Performance of Asphalt Mixtures. Civil and Environmental
Research, Vol. 3(3). 100 108.
[6] Hadiwardoyo, S.P., Sinaga, E.S., Fikri, H. 2013. The Influence of Buton Asphalt Additive
on Skid Resistance Based on Penetration Index and Temperature. Construction and
Building Materials, Cik. 42, pp. 5 10.
[7] Siswosoebrotho, B.I., Tumewu, W., Kusnianti, N. (2005). Laboratory Evaluation of
Lawele Buton Natural Asphalt in Asphalt Concrete Mixture. Proceedings of the Eastern
Asia Society for Transportation Studies, Vol. 5, pp. 857 867.
[8] Buton Asphalt Indonesia Co. Ltd (PT. Buton Aspal Indonesia), 2006. The Private
Company in Indonesia who explores and sells Buton Asphalt.
[9] Donald P. Coduto 1994, Foundation Design Principles and Practice. PRENTICE HALL
Englewood Cliffs, N.J. 07632 pp. 606

19