Anda di halaman 1dari 17

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM MANGROVE

BERBAGAI POLA TAMBAK TUMPANGSARI


PADA STATUS LAHAN NEGARA DAN LAHAN MILIK
Studi Kasus : Di Karawang - Jawa Barat
AHMAD BUDIYANA
P052020021

NAMA : Patrich Ph.E. Papilaya


N R P : E 161140041
PRODI : ILMU PENGELOLAAN HUTAN (IPH)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


2015

I.

Pendahuluan

Pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya antara lain melalui pengalihan fungsi hutan menjadi tambak tumpangsari, penebangan
hutan untuk memperoleh kayu bakar; arang; bahan baku kertas (chips) dan sebagainya, serta
penangkapan ikan; udang dan jenis-jenis biota air lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya
pemanfaatan ini berkembang kearah bentuk usaha pemanfaatan yang bersifat komersial dan
dilakukan secara besar-besaran, baik dalam bentuk pengusahaan hutan maupun untuk usaha
pertambakan yang makin bertambah luas. Disamping itu, dengan adanya pertambakan penduduk
yang makin meningkat, bentuk pemanfaatan tidak saja dilakukan terhadap hasil yang diperoleh dari
hutan tersebut, bahkan berkembang ke bentuk pemanfaatan lainnya sendiri untuk berbagai usaha
produksi seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, pemukiman dan kawasan industri (Dewi,
1995).
Fungsi hutan mangrove secara ekonomi dapat dilihat dari berbagai manfaat yang didapat dari hutan
mangrove itu sendiri, Manfaat tersebut diantaranya adalah manfaat langsung (Direct use) yang terdiri
dari manfaat basil tambak yaitu kepiting, udang, ikan dan lain-lain; kayu bakar, kayu arang, nipah dan
lain-lain.Manfaat tidak langsung (Indirect Use) terdiri dari penahan abrasi; spawning dan nursery
ground; dan habitat flora serta fauna langka. Manfaat pilihan (OptionValue) terdiri dari biodiversity
dan pengembangan tambak terpadu. Manfaat keberadaan (Existance Value) terdiri dari keberadaan
satwa liar; satwa dilindungi; habitat mangrove yang terancam dan Jain-lain. Manfaat pewarisan
(Bequest Value) terdiri dari Hankamrata dan potensi bisnis pembibitan bakau.
2. Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan
tujuan dari penelitian ini secara umum adalah ingin mengetahui nilai ekonomi ekosistem mangrove
yang berada di lokasi penelitian. Adapun tujuan khususnya adalah, untuk :
1. Menduga nilai ekonomi hutan mangrove yang dikonversi menjadi berbagai pola tambak
tumpangsari dan nilai ekonomi hutan mangrove yang tidak dikonversi;
2. Mengetahui pola tambak tumpangsari dengan nilai ekonornis yang paling tinggi.
b. manfaat
Manfaat yang ingin dicapai dari hasil penelitian, adalah : penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan
pertimbangan bagi masyarakat dalam menentukan bentuk pola tambak tumpangsari yang diterapkan,
dan bagaimana seharusnya pihak kebijakan/para pengambil keputusan untuk mengelola hutan
mangrove itu agar dapat lestari tetapi tetap dapat dimanfaatlam oleh masyarakat dalam
meningkatkan kesejahteraannya
3. Metodologi Penelitian
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di RPH Cibuaya BKPH Cikiong KPH Purwakarta Perum Perhutani Unit Ill Jawa
Barat (sebagai Lahan Negara) dan di Lahan Milik (Masyarakat), yang secara administratif wilayah
tersebut terletak di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat.
Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Juni sampai Desember 2004.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study). Penelitian studi kasus
adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu Jase spesifik atau
khas dari keseluruhan personalitas (Maxfield, l 930b dalam Nazir, 1998). Tujuan studi kasus adalah
memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter yang khas
dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas akan dijadikan suatu kasus
yang bersifat umum. Satuan kasusnya adalah areal hutan mangrove RPH Cibuaya yang secara
1|Page

administratif terletak di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang Jawa Barat dan
seluruh individu yang berada disekitar hutan mengrove baik yang terlibat secara langsung maupun
tidak langsung dengan hutan mangrove.

Gambar 1. Skema Pemikiran Kerangka Pikir Penelitian


Ada dua jenis metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu:
a) Stratified Random Sampling (metode pengambilan sampel acak bertingkat) adalah metode
pengambilan sampel dengan membagi populasi ke dalam lapisan-lapisan (strata) yang
seragam dan dari setiap lapisan diambil sampel secara acak. Metode ini dipergunakan untuk
menilai manfaat langsung dari pertambakan dan stratifikasi dilakukan berdasarkan luas lahan
garapan dan klasifikasi hutan, yaitu kriteria luas lahan garapannya adalah sebagai berikut : <
2 ha, 2 - 5 ha, dan > 5 ha. Sedangkan kriteria klasifikasi hutan didasarkan pada kondisi hutan
yang terjadi dilapangan, dimana klasifikasi hutan tambak sebagai berikut: I). Baik (Rasio 80:
20), 2) Sedang (Rasio 60: 40). 3). Rusak (Rasio 40: 60), dan 4). Rusak Berat (Rasio 20: 80)
(Perhutani, 2003).
b) Purposive Sampling adalah metode pcogambilan sampcl tidak secara acak melainkan
berdasarkan pertimbangan tertentu. Metode ini dipergunakan untuk menilai dua jenis
manfaat yaitu manfaat langsung selain pertambakan dan manfaat keberadaan. Adapun
pertimbangannya adalah bahwa responden 26 (Buah) tersebut bersifat spesifik sehingga
penentuannya harus dilakukan secara sengaja (purpose).
Metode Analisis Data
Penilaian ekonomi hutan mangrove dalarn penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap sebagaimana
dikemukakan oleh Paryono et al (1999), yaitu:
1. ldentifikasi manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove
2. Kuantifikasi seluruh manfaat dan fungsi ke dalam nilai uang (rupiah)
3. Penilaian alternatif alokasi pemanfaatan ekosistem hutan mangrove
Berikut ini uraian masing-masing tahap kegiatan penelitian tersebut :

2|Page

a) Identifikasi manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove


Langkah awal dari tahap ini adalah mengidentifikasi segenap manfaat dan fungsi dari ekosistem yang
diteliti. Bertujuan untuk memperoleh data tentang berbagai macam manfaat dan fungsi ekosistem
hutan mangrove. yang terdiri atas :
1) Manfaat Langsung (Direct-Use Value)
Nilai dari manfaat langsung adalah nilai yang diperoleh dari manfaat yang langsung dapat diperoleh
dari ekosistem hutan mangrove, seperti hasil hutan (potensi kayu log, kayu bakar); hasil perikanan
(udang, ikan, wideng, belut); hasil satwa (ular, burung). dan hasil pertambakan (Sofian, 2003).

2) Manfaat Tidak Langsung (Indirect-Use Value)


Manfaat tidak langsung adalah nilai yang dirasakan secara tidak langsung terhadap barang dan jasa
yang dihasilkan sumberdaya alam dan liogkungan (Fauzi, 2002). Manfaat ini diperoleh dari suatu
ekosistem secara tidak Iangsung, seperti : penahan abrasi pantai (Fahrudin, 1996) dan penyedia
bahan pakan organik bagi udang (Meilani, 1996).

3) Manfaat Pilihan (Option Value)


Manfaat pilihan yaitu nilai yang menunjukkan kesediaan seseorang atau individu untuk membayar
demi kelestarian sumberdaya bagi pemanfaatan dimasa depan (Fahrudin, 1996).

3|Page

4) Manfaat Keberadaan (Existence Value)


Manfaat keberadaan yaitu manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan sumberdaya
setelah manfaar lainnya dihilangkan dari analisis. Secara umum teknik pendekatan dilakukan dengan
interview/wawancara terhadap rumah tangga, dengan menanyakan keinginan untuk membayar
(willingness to pay) dalam mempertahankan asset lingkungan (Maryadi, 1998). Formulasinya adalah
sebagai berikut :

5) Manfaat Pewarisan (Bequest Value)


Manfaat pewarisan adalah suatu manfaat yang dapat diwariskan untuk generasi yang akan datang.
Dalam penelitian ini manfaat pewarisan dibatasi hanya pada potensi bisnis pembibitan bakau.
Manfaat pewarisan dapat dirumuskan sebagai berikut :

b) Kuantifikasi seluruh manfaat dan fungsi kedalam nilai rupiah (rupiah)


Setelah semua manfaat dan fungsi ekosistem yang diteliti berhasil diidentifikasi, maka langkah awal
selanjutnya adalah mengkuantifikasikan manfaat dan fungsi tersebut ke dalam nilai rupiah. Beberapa
teknik kuantifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan nilai pasar harga
tidak langsung, dan nilai manfaat ekonomi total.
1) Nilai Pasar
Pendekatan nilai pasar digunakan untuk komoditas-komoditas yang langsung dapat diperdagangkan
dari ekosistem yang ditelitinya, misalnya ikan, tambak, dan sebagainya. Pendekatan ini digunakan
untuk mendapatan nilai uang (rupiah) bagi manfaat langsung dari ekosistem hutan mangrove.
2) Harga Tidak Langsung
Pendekatan ini digunakan apabila mekanisme harga gagal memberikan nilai pada komoditas
ekosistem yang diteliti, yaitu untuk manfaat dan fungsi tidak langsung (indirect use value).
3) Nilai Manfaat Ekonomi Total
Nilai Manfaat Ekonomi Total (NMET) merupakan penjumlahan dari seluruh manfaat yang terlah
diidentifikasi dari ekosistem hutan mangrove yang diteliti dengan diformulasikan dalam bentuk
rumus :

4|Page

c) Penilaian alternatif alokasi pemarfaatan ekosistem hutan mangrove


Berdasarkan nilai manfaat ekonomi ekosistem hutan mangrove tersebut, selanjutnya dilakukan
analisis terhadap beberapa altematif pemanfaatan ekosistem hutan mangrove. Beberapa alternatif
pemanfaatan itu berdasarkan bentuk pola tambak tumpangsari dan rasio yang diterapkan
dilapangan, serta berdasarkan status lahan yang dikonversi untuk budidaya tambak. Adapun rasio
yang akan dilakukan pengambilan sampelnya yaitu, rasio 80% : 20%; rasio 60% : 40%; rasio 40% : 60%
dan rasio 20% : 80% yang merupakan rasio antara hutan dan tambaknya. Analisis valuasi
pemanfaatan ekosistem hutan mangrove dilakukan dengan menggunakan analisis biaya-manfaat
(benefit cost analysis) dengan discount rate 0%, 4%, 8% 10%, 12% dan 15% dengan jangka waktu
analisis 15 tahun serta menggunakan harga nominal. Adapun asumsi yang digunakan, yaitu :
1) Produksi kayu tetap, karena usaha untuk memelihara hutan dan mengurangi kegiatan
pemanfaatan kayu mangrove
2) Produksi udang, ular, kepiting, belut, dan ikan tetap karena adanya usaha untuk melestarikan
hutan
3) Pertambakan tetap karena adanya usaha untuk mempertahankan kondisi hutan yang baik
4) Jenis pemanfaatan hutan mangrove tetap dan dikonversi menjadi satuan luasan
5) Analisis biaya dan manfaat ekosistem hutan mangrove dilakukan pada beberapa bentuk pola
tambak tumpangsari dan berdasarkan rasio masing-masing serta status Jahan mangrove
yang dikonversi
6) Kehilangan manfaat Iangsung, manfaat tidak langsung (penyedia pakan), manfaat pilihan dan
manfaat pewarisan akibat konversi hutan mangrove menjadi biaya kehilangan bagi
pemanfaatan hutan mangrove
7) Jangka waktu analisis adalah lima belas tahun. Hal ini dilakukan karena mengacu pada hasil
penelitian Effendi {1991) dalam Meilani 1996, yang menyatakan bahwa waktu yang
diperlukan oleh ekosistem hutan mangrove untuk dapat dimanfaatkan kembali dan
penjarangan dalam rangka pemeliharaan permudaan alam sebagai bahan chip atau pancang
dilakukan pada umur minimal 10 tahun
8) Tingkat suku bunga (discount rate) yang dipakai 15% karena mengikuti tingkat suku bunga
yang berJaku pada saat penelitian, sedangkan penggunaan discount rate 0%; 4%; 8% dan 10%
atas dasar bahwa discount rate untuk analisis ekonomi dalam pengelolaan sumberdaya
adalah 10% (Fauzi, 2004)
9) Nilai yang digunakan adalah nilai/harga nominal. Hal ini dilakukan karena dalam analisis
manfaat-biaya selama jangka waktu 15 tahun tidak menggunakan harga rill setiap tahunnya,
sehingga tidak terjadi perubahan nilai baik manfaat (benefit) maupun biaya (cost) per
tahunnya dan mengakibatkan nilai BCR pada berbagai tingkat suku bunga konstan.
Pencarian alokasi pemanfaatan ekosistem mangrove yang efisien dilakukan dengan menggunakan
Cost-Benefit Analysis (CBA), yaitu Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR). Net Present
Value {NPV) atau nilai manfaat bersih sekarang dijelaskan dengan rumus sebagai berikut :

Kriteria keputusan sebuah proyek memang layak dan efektif untuk dikembangkan dari segi ekonomi,
jika mempunyai NPV lebih besar dari nol (NPV > 0). Untuk kriteria evaluasi kebijakan lainnya, yaitu
5|Page

Analisis B/C dilakukan dengan menggunakan rumus Benefit Cost Ratio (BCR) sebagai berikut
(Kadariah et al, 1978; Gray et al, J 997; Husnan dan Suwarsono, 1999) :

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil identifikasi dan kuantifikasi seluruh manfaat hutan mangrove yang didapatkan di
kawasan hutan mangrove Sedari baik pada lahan negara maupun lahan milik, maka selanjutnya
dilakukan kuantifikasi manfaat hutan mangrove secara keseluruhan pada Tabel 1, dan contoh
perhitungan untuk masing-masing manfaat (table 2 ,3 dan 4).
Tabel 1. Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove Sedari pada Laban Negara (Perum
Perhutani) maupun Laban Milik (Masyarakat), Tahun 2004

Nilai manfaat total hutan mangrove dapat diketahui setelah menjumlahkan hasil dari penilaian
terhadap manfaat hutan mangrove secara keseluruhan. Adapun nilai manfaat hutan mangrove yang
terdapat di lokasi penelitian, yaitu desa Sedari yang terletak di Petak 43 , 46 dan 57 hutan mangrove
di wilayah kerja RPH Cibuaya BKPH Cikiong yang merupakan lahan negara dengan luas sekitar 1,292.4
ha dan ada sekitar 400 ha hutan mangrove yang merupakan lahan milik.
Dari hasil penelitian, terdapat lima nilai manfaat yang dapat diidentifikasi dan dikuantifikasikan
nilainya dari kawasan hutan mangrove baik pada Iahan negara maupun lahan milik. Pada Tabet 1 dan
Gambar 2 dapat dilihat, bahwa nilai manfaat hutan mangrove tertinggi yaitu untuk manfaat tidak
langsung yang mana memiliki persentase paling besar dibandingkan manfaat lainnya. Manfaat tidak
langsung memiliki persentase sekitar 58.41 % dengan nilai sebesar Rp 6,646.274,972 per tahun pada
lahan negara dan pada Iahan milik memiliki persentasc 66.05% dengan nilai sebesar Rp 2,907,781,710
per tahun. Nilai manfaat tidak langsung yang diperoleh lebih besar dari manfaat langsung, disebabkan
bcsarnya nilai dari manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi.
6|Page

7|Page

Gambar 2. Proporsi Nilai Manfaat Ekonomi Total Hutan


Mangrove pada Laban Negara (Perum
Perhutani) maupun Lahan Milik (Masyarakat),
Tahun 2004

8|Page

SKENARIO PEMANFAATAN RUTAN MANGROVE


Besarnya manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove baik secara langsung maupun secara tidak
langsung membutuhkan pengeloJaan yang baik. Pengelolaan ekosistem hutan mangrove perlu
dilakukan dengan optimal dan berkelanjutan, tidak hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan
keuntungan ekonomi semata, tetapi penting pula untuk memperhatikan aspek ekologis dari
sumberdaya tersebut. Dalarm upaya mencapai tujuan tersebut, maka setelah hasil nilai ekonomi total
ekosistem hutan mangrove diketahui, kemudian dibuat beberapa model altematif pengelolaan.
Pada saat penelitian berlangsung, pengelolaan ekosistern hutan mangrove Sedari di petak 43 dan
4657 seluas 1,292.4 ha yang ada di kawasan hutan mangrove lahan negara dilakukan dengan pola
tumpangsari, begitu juga yang terjadi di hutan mangrove Sedari pada lahan milik dengan luas 400 ha
Berdasarkan nilai manfaat ekonomi total ekosistem hutan mangrove Sedari yang diperoleh, dilakukan
analisis biaya-manfaat terhadap beberapa model alternatif alokasi pemanfaatan ekosistem
mangrove. Analisis biaya-manfaat dilakukan terhadap beberapa skenario pemanfaatan hutan
mangrove dengan discount rate I 0%, 12% dan 15% serta jangka waktu analisis 15 tahun.
Hutan Mangrove Pada Kondisi Awai
Pemanfaatan sumberdaya aJam seharusnya mempertimbangkan fungsi ekonomi dan ekologi
sumberdaya tersebut. Usaha pemanfaatan ekosistem hutan mangrove hendaknya tidak hanya
memperhitungkan fungsi ekonomi tetapi juga fungsi ekologi hutan mangrove agar usaha
pemanfaatan yang dilakukan dapat berkelanjutan. Pentingnya memasukkan fungsi ekologi/
lingkungan sebagai input produksi akan berdampak pada kegiatan usaha yang berkelanjutan
(sustainable business). Pendekatan tersebut akan menggambarkan suatu piliban atau altenatif pola
pemanfaatan sumberdaya mangrove yang lebih rasional. Areal hutan mangrove Sedari pada kondisi
awal dimana seluruh arealnya tegakan mangrove dengan luas 1.292.4 ha pada lahan negara (Perum
Perhutani) dan sekitar 400 ha pada laban milik (Masyarakat) merupakan analisis usaha awal yang
harus diketahui nilainya. Pada kondisi awal, hutan mangrove yang berada di Sedari terdiri dari jenis
api-api dan bakau. Jarak tanam dan pertumbuhan hutan mangrove dianggap sama dengan kondisi
saat ini. Dengan melakukan analisis ekonomi maka diketahui nilai NPV dan BCR dari kondisi awal
hutan mangrove Sedari adalah seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3.

Berdasarkan perhitungan analisis ekoaomi dengan discount rate (Tingkat Suku Bunga) 0%; 4%; 8%;
10%; 12%; dan 15% dalam jangka waktu analisis 15 tahun, diperoleh nilai Net Present Value (NPV)
Ekosistem Mangrove Kondisi Awai pada Lahan Milik (Masyarakat) adalah sebesar Rp 71A71,400.961
pada tingkat suku bunga idiscount rate) 0%; Rp 52,876,044,011 (4%), sebesar Rp 40,617,267,368
(8%); Rp 36,049,887,760 (10%); Rp 32,240,309,442 (12%) dan sebesar Rp 27,624,567,456 (discount
rate 15%). Adapun nilai NPV Ekosistem Mangrove Kondisi Awal pada Lahan Negara (Perum Perhutani)
adalah sebesar Rp 200.913,002,760 pada tingkat suku bunga (discount rate) 0%. Rp 148,597,500.418
9|Page

(4%); sebesar Rp 114,109,103,124 (8%): sebesar Rp 10 I ,259,403,099 pada (10%); Rp 90,541,673,718


( 12%) dan sebcsar Rp 77,555,912,734 (discount rate 15%). Selanjutnya, untuk nilai Benefit Cost Ratio
(BCR) Ekosistem Mangrove Kondisi Awal dengan discount rate 0%, 4%. 8%, 10%, 12% dan 15% didapat
nilai yang sama yaitu 6,86 pada Lahan Milik dan 6, IO pada Lahan Negara. Contoh perhitungannya
pada Tabel 4 dan 5.

10 | P a g e

ALTERNATIF SKENARIO PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE POLA TAMBAK TUMPANGSARI


TERTINGGI
Untuk mengetahui beberapa nilai ekonomi pemanfaatan mangrove menjadi tambak tumpangsari
berdasarkan analisis biaya-manfaat tertinggi, maka dilakukan berbagai altematif skenario
pemanfaatan dari hutan mangrove menjadi tambak tumpangsari. Berdasarkan hasil penelitian, maka
diketahui ada beberapa altematif skenario pemanfaatan yang dilakukan oleh responden/masyarakat
dalam memanfaatkan hutan mangrove sebagai tambak tumpangsari.
Altematif skenario pemanfaatan tersebut ada 4 yaitu : (I) Skenario pemanfaatan I (SP I), pada skenario
ini responden/masyarakat melakukan budidaya tambak jenis bandeng dengan mengkonversi hutan
mangrove seluas 20% dari total hutan mangrove; (2) Skenario pemanfaatan II (SP II), dalam skenario
ini dilakukan budidaya tambak jenis bandeng dengan luas hutan yang dikonversi sebesar 40% dari
total hutan mangrove; (3) Skenario pemanfaatan III (SP Ill), dalam skenario ini dilakukan budidaya
tambak jenis bandeng dengan luas hutan yang dikonversi sebesar 60% dari total hutan mangrove;
dan ( 4) Skenario pemanfaatan IV (SP IV), dimana pada skenario ini hutan mangrove yang dikonversi
menjadi tambak tumpangsari seluas 80% dari totalnya dengan jenis budidaya yang sama yaitu
bandeng. Berdasarkan beberapa alternatif skenario tersebut, maka dapat diketahui perbandingan
nilai Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR) secara analisis ekonomi baik itu pada Lahan
Milik (Masyarakat) maupun pada Lahan Negara (Perum Perhutani). Data hasil perhitungan nilai NPV
dan BCR pada Jahan milik dan lahan negara dari pemanfaatan hutan mangrove secara total dapat
dilihat pada Tabel 26, sedangkan basil analisis manfaat-biaya pada lahan milik dan lahan negara
pemanfaatan hutan mangrove yang hanya manfaat secara langsung dapat dilihat pada Tabel 6,7 dan
8.

Tabel 6 memberikan gambaran tentang basil analisis manfaat-biaya nilai manfaat total hutan
mangrove pada berbagai skenario. Dari Tabel 6 tersebut dapat dijelaskan, bahwa berdasarkan
perhitungan nilai NPV dan BCR pada berbagai suku bunga discount rate (0%, 4%, 8%, 10%, 12% dan
15%) secara umum diketahui nilai ekonomi tertinggi dari pemanfaatan hutan mangrove untuk
tambak tumpangsari secara analisis ekonomi baik itu pada status lahan milik maupun pada status
lahan negara adalah pada altematif skenario pemanfaatan I, dimana pada skenario ini pola tambak
tumpangsarinya yaitu 80% Hutan dan 20% Tambak. Nilai NPV dan BCR pada altematif skenario
pemanfaatan I ini lebih besar dibandingkan dengan nilai NPV dan BCR pada 3 altematif skenario
11 | P a g e

pemanfaatan lainnya, namun demikian nilai NPV dan BCR pada altematif skenario pemanfaatan I
masih lebih kecil apabila dibandingkan dengan nilai NPV dan BCR pada ekosistem mangrove kondisi
awal karena pada kondisi awal ini tidak terjadi pengkonversian luasan ekosistem mangrove untuk
kegiatan tambak tumpangsari. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa nilai ekonomi tertinggi
dari ekosistem mangrove adalah berasal dari nilai manfaat secara tidak langsung, yaitu dari manfaat
mangrove sebagai penahan abrasi pantai.

Selanjutnya Tabel 7 memberikan gambaran tentang hasil analisis manfaat-biaya nilai manfaat secara
langsung dari hutan mangrove pada berbagai skenario. Dari Tabel 7 tersebut dapat dijelaskan, bahwa
berdasarkan perhitungan nilai NPV dan BCR pada berbagai suku bunga discount rate (0%, 4%, 8%,
10%, 12% dan 15%) secara umum diketahui nilai ekonomi tertinggi dari pemanfaatan hutan
mangrove untuk tambak tumpangsari secara analisis ekonomi baik itu pada status Jahan milik
maupun pada status lahan negara adalah pada altematif skenario pemanfaatan I, dimana pada
skenario ini pola tambak tumpangsari yang diterapkan yaitu 80% Hutan dan 20% Tambak. Nilai NPV
dan BCR pada altematif skenario pemanfaatan I ini lebih besar dibandingkan dengan nilai NPV dan
BCR pada 3 alternatif skenario pemanfaatan lainnya, namun demikian nilai NPV dan BCR pada
altematif skenario pemanfaatan I masih lebih kecil apabila dibandingkan dengan nilai NPV dan BCR
pada ekosistem mangrove kondisi awal karena pada kondisi awa1 ini tidak terjadi pengkonversian
luasan ekosistem mangrove untuk kegiatan tambak tumpangsari.
Adapun dari hasil analisis manfaat-biaya pemanfaatan hutan mangrove seperti yang terdapat pada
Tabel 8 yang hanya menghitung manfaatdari kegiatan tambak; penangkapan udang alam; kepiting;
belut dan hasil tangkapan ikan lainnya diketahui, bahwa altematif skenario pemanfaatan hutan
mangrove menjadi tambak tumpangsari pada skenario pemanfaatan II (hutannya 60% dan
tambaknya 4-0%) pada lahan milik memiliki nilai NPV dan BCR lebih tinggi dibandingkan pada
altematif skenario pemanfaatan I, skenario pemanfaatan III dan skenario pemanfaatan IV, sedangkan
pada lahan negara nilai NPV dan BCR lebih kecil dibandingkan altematif skenario pemanfaatan I.

12 | P a g e

Dari ketiga pendekatan tersebut, temyata pendekatan satu (analisis manfaat biaya nilai manfaat total
hutan mangrove) dan pendekatan dua (anaJisis manfaat biaya nilai manfaat langsung hutan
mangrove) pada altematif skenario pemanfaatan I memiliki nilai Net Present Value (NPV) dan Benefit
Cost Ratio (BCR) tertinggi dibandingkan dengan skenario pemanfaatan Il; skenario pcmanfaatan ID dan
skenario pemanfaatan IV. Hal ini dikarenakan terjadinya kehilangan nilai manfaat dari kegiatan pola
tambak tumpangsari pada berbagai alternatif skenario, dimana nilai kehilangan tersebut dimasukkan
terhadap komponen biaya pada analisis manfaat-biaya hutan mangrove. Nilai kehilangan
tersebut mengaJami peningkatan sejalan dengan alternatif skenario pemanfaatan yang ditetapkan
dilapangan. Nilai kehilangan terjadi sejalan dengan semakin besarnya konversii hutan mengrove
menjadi tambak tumpangsari. Adapun hasil dari pendekatan ketiga (analisis manfaat-biaya. nilai
manfaat Jangsung dari kegiatan tambak, penangkapan kepiting, udang alam dan belut serta ikan
lainnya) diketahui bahwa pada lahan milik altematif kegiatan II memiliki nilai tertinggi dibandingkan
pada alternatif skenario pemanfaatan I; skenario pemanfaatan III dan skenario pemanfaatan IV, akan
tetapi pada lahan negara altematif skenario pemanfaatan I masih memiliki nilai tertinggi dibandingkan
dengan altematif skenario pemanfaatan II; skenario pemanfaatan III dan skenario pemanfaatan IV.
BCR pada kondisi awal dengan suku bunga (discount rate) 0%, 4%, 8%, 100/o; 12o/o dan 15%
diperoleh basil yang berbeda antara nilai BCR ekosistem mangrove pada lahan milik dengan nilai BCR
pada lahan negara, pada lahan milik nilai BCR pada keenam discount rate sama nilainya yaitu 6.86
sedangkan pada lahan negara sebesar 6.10, hal tersebut menunjukkan semakin meningkatnya suku
bunga maka nilai BCR aJcan tetap yang berarti suku bunga tidak mempengaruhi nilai BCR. Nilai BCR
pada Skenario Pcmanfaatan I; Skenario Pemanfaatan Il; Skenario Pemanfaatan Ill; dan Skenario
Pemanfaatan IV pada lahan milik Jebih tinggi dibandingkan nilai BCR pada lahan ncgara, karena
perbandingan antara manfaat (benefit) yang didapatkan dengan biaya (cost) yang dikeluarkan pada
lahan milik lebih kecil dibandingkan dengan perbandingan antara manfaat (benefit) yang didapatkan
dengan biaya (cost) yang dikeluarkan pada Jahan negara, hal tersebut terjadi karena luas konversi
hutan mangrove untuk tambak pada lahan milik Iebih kecil bila dibandingkan dengan luas konversi
hutan untuk tambak pada lahan negara. Berdasarkan analisis kelayakan suatu proyek nilai BCR pada
Kondisi Awal, Skenario Pemanfaatan I, Skenario Pemanfaatan II, Skenario Pemanfaatan III dan
Skenario Pemanfaatan IV pada beberapa tingkat suku bunga baik pada lahan milik maupun pada lahan
negara dinyatakan layak karena nilainya lebih dari satu (BCR > I).

13 | P a g e

Keuntungan neto suatu usaha adalah pendapatan bruto dikurang dengan jumlah biaya. Maka, NPV
suatu kegiatan adalah selisih PV arus benefit dengan PV arus biaya. Dalam penelitian yang dilakukan
dengan empat pola altematif skenario pemanfaatan yaitu skenario pemanfaatan I; skenario
pemanfaatan II; skenario pemanfaatan III; dan skenano pemanfaatan IV didapatkan hasil nilai NPV
skenario pemanfaatan I lebih besar dari skenario pemanfaatan II; skenario pemanfaatan Ill; dan
skenario pemanfaatan IV baik pada lahan milik maupun lahan negara pada berbagai tingkat suku
bungaldiscount rate. Skenario Pemanfaatan I merupakan skenario yang memiliki nilai tertinggi yang
artinya apabila skenario pemanfaatan I diterapkan akan menghasilkan suatu keuntungan yang lebih
besar dibandingkan dengan skenario pemanfaatan II, skenario pemanfaatan III dan skenario
pemanfaatan IV. Benefit Cost Rolio (BCR) adalah perbandingan antara pendapatan dengan biaya yang
telah didiskon. BCR dapat menentukan tingkat efisiensi dalam penggunaan modal. Dalam penelitian
nilai BCR tertinggi terdapat pada skenario pemanfaatan I yang didapat nilai BCRnya sebesar 6.60 (pada
lahan milik) dan 4.08 (pada lahan negara). Nilai BCR pada beberapa tingkat suku bunga tetap yang
artinya tidak dipengaruhi oleh naik turunnya suku bunga. Nilai tersebut menunjuk bahwa tingkat
efisiensi penggunaan modal dapat dikatakan cukup baik karena dengan nilai tersebut merupakan
suatu kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan kriteria investasi yaitu lebih dari satu.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Nilai manfaat ekonomi total ekosistem mangrove Sedari, pada saat ini adalah sebesar Rp 4,402,
170,910 per tahun atau Rp 11 ,005,427 per ha per tahun pada status lahan milik dan sebesar Rp
11,377,794,020 per tahun atau sekitar Rp 8,803,617 per ha per tahun pada status lahan negara.
Nilai ekonomi total tersebut secara berurutan pada status lahan milik terdiri atas manfaat tidak
langsung sebesar Rp 2,907,781,710 (66.05%); manfaat langsung sebesar Rp 1,371,424,000
(31.15%); manfaat pilihan sebesar Rp 54,105,200 (1.25%); manfaat keberadaan sebesar Rp
44,860,000 (1.02%) dan manfaat pewarisan sebesar Rp 24,000,000 (0.55%), sedangkan pada
status Iahan negara nilai ekonomi total secara berurutan terdiri atas manfaat tidak langsung
sekitar 58.41 % atau sebesar Rp 6,646,274,972; manfaat langsung sekitar 38.04% atau sebesar
Rp 4,328,221,751; manfaat pilihan sebesar Rp J 74,813,901 atau sekitar 1.54%; manfaat
keberadaan sebesar Rp 150,939,396 atau sekitar 1.33% dlan manfaat pewarisan sebesar Rp
77,544,000 atau sekitar 0.68%.
2. Besarnya nilai ekonomi total hutan mangrove menunjuklran betapa besamya manfaat ekosistem
hutan mangrove. Untuk mendapatkan pengelolaan ekosistem hutan mangrove yang optimal
telah dilakukan analisis terhadap empat altematif skenario pemanfaatan hutan mangrove,
disamping melihat juga nilai ekonomi total hutan mangrove pada kondisi awal atau tanpa ada
kegiatan konversi lahan baik pada hutan mangrove status lahan milik maupun pada status lahan
negara. Berdasarkan basil analisis biaya-manfaat terhadap empat altematif skenario
pemaofaatan ekosistem mangrove ditambah pada saat kondisi hutan masih belum dikonversi
jadi tambak tumpangsari, temyata altematif skenario pemanfaatan I memberikan nilai NPV dan
BCR paling tinggi, yaitu sebesar Rp 71,485,662,012 pada tingkat suku bunga 0%; Rp
52,881,853.226 (4%); scbcsar Rp 40,617,504,806 (8 %); sebesar Rp 36,048,049,263 (10 %); Rp
32,236,739,441 (12%); dan Rp 27,618,899,540 (suku bunga 1S%) pada status lahan milik,
sedangkan nilai NPV ekosistem mangrove pola tambalc tumpangsari pada lahan negara sebesar
Rp 171,620,547,321 pada tingkat suku bunga 0%; Rp 126,909,422,739 (4%) sebesar Rp
97,434,124.614 (8%); sebesar Rp 86,452.206,963 (10%); Rp 77,292.365,002 (12%); dan Rp
66,194.163,682 (suku bunga 15%). Adapun nilai Benefit Cost Ratio (BCR) pada lahan milik adalah
6.60 baik itu pada tingkat suku bunga 0%; 4%; 8%; I 0%; 12% dan 15%, sedangkan pada lahan
negara adalah sebesar 4.08 pada tingkat suku bunga yang sama Altematif skenario pemanfaatan
I ini sesuai dengan ketentuan Perurn Perhutani yang menyatakan bahwa konversi hutan
mangrove jadi tambak tumpangsari adalah dengan pola 80% hutan dan 20% tambak dan sama
dengan basil penelitian yang dilakukan oleh Meilani (1996). Adapun hasil penelitian ini sesuai
14 | P a g e

dengan kondisi dilapangan pada saat penelitian dimana para responden dalam memanfaatkan
hutan mangrove untuk dikonversi menjadi tambak tumpangsari lebih banyak menggunakan
pola/skenario pemanfaatan I ini.
3. Hasil analisis manfaat-biaya diketahui, bahwa semua alternatif scenario pemanfaatan hutan
mangrove menjadi tambak: tumpangsari yang dilakukan dilokasi penelitian memiliki nilai NPV
dan BCR yang layak untuk terus diusahakan, karena mempunyai nilai nominal yang positif dan
lebih dari satu Namun berdasarkan tingkat kepennngan, maka altematif skenario pemanfaatan
I (hutan 80 % dan tambak 20 %) merupakan hasil yang sesuai dengan ketentuan Perum Perhutani
karena pada skenario pemanfaatan I ini kelestarian hutan mangrove akan terjaga dan
berkelanjutan. Adapun kepentingan rnasyarakat akan terabaikan dengan skenario pemanfaatan
I ini, karena masyarakat mengharapkan hasil yang nyata dari kegiatan budidaya tambak dan
basil lainnya (tangkapan udang alam, belut, kepiting dan jenis ikan lainnya). Sedangkan
kepentingan pemerintah daerah adalah memanfaatkan hutan mangrove tersebut untuk
meningkatkan pendapatan asli daerahnya (PAD) dengan tetap mempertahankan fungsi ekologi
mangrove sehingga dapat dimanfaatkan secara bertelanjutan dan tidak menimbulkan dampak
negatif pada waktu yang akan datang.
Saran
1. Pengelolaan hutan mangrove yang baik sangat dibutuhkan tidak saja untuk kepentingan
manfaat hutan yang secara langsung dirasakan masyarakat tetapi juga memperhatikan daya
dukung alam bagi keberlanjutan manfaat tersebut Pengelolaan hutan mangrove dengan sistem
tambak tumpangsari dapat dipertahankan karena memberikan peningkatan pada nilai ekonomi
total ekosistern hutan mangrove. Pengelolaan tersebut perlu memperhatikan daya dukung
lahan yang terbatas dan kualitas produk yang dibud.idayakan memiliki daya jual yang lebih
tinggi. Artinya, pemanfaatan dilakukan tidak dengan meningkatkan konversi lahan, tetapi
dengan melakukan peningkatan produktifitas tambak yang sudah ada atau dengan melakukan
kegiatan jasa lainnya seperti dibukanya kegiatan ekowisata/wisata alam (kegiatan wisata yang
berwawasan lingkungan).
2. Altematif skenario pemanfaatan I (80% hutan dan 20% tambak) merupakan pola pemanfaatan
hutan mangrove menjadi tambak tumpangsari yang memiliki nilai tertinggi, dimana nilai
nominal NPV dan BCRnya lebih besar dibandingk.an dengan alternatif skenario pemanfaatan
lainnya. Namun hal ini perlu dikaji secara mendalam terutama berkaitan dengan tingkat
kesejahteraan masyarakat, sebab secara pemanfaatan langsung dari kegiatan tambak;
penangkapan udang alam; kepiting; belut dan ikan lainnya yang dapat dirasakan oleh
petani/pesanggem temyata pada altematif skenario pemanfaatan Il masih memberikan nilai
nominal NPV dan BCR yang tinggi dibaodingkan dengan alternatif skenario pemanfaatan I,
skenario pemanfatan III dan skenario pemanfaatan IV. Berdasarkan tingkat kepentingan, maka
perlu adanya penelitian yang mengkaji lebih mendalam tentang' pemanfaatan hutan mangrove
untuk dikonversi kedalam bentuk pemanfaatan lainnya. Seperti adanya pemanfaatan hutan
mangrove untuk kegiatan rekreasi dengan membuka mangrove menjadi kawasan
ekowisata/wisata alam.

15 | P a g e

PUSTAKA
Dewi, H. R. 1995. Pengaruh Kerapatan Tegakan Mangrove Terhadap Aspek Ekologis Tambak
Tumpangsari (Stlvofishery) (Studi Kasus di RPH Cibuaya Karawang [Tesis]. Program
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Effendi, R. 1991. Suatu Pemikiran Pemeliharaan Permudaan Alam Hutan Mangrove Untuk
Meningkatkan Mutu Areal Bekas Tebangan. Prossiding Seminar Ekossitem Mangrove, Bandar
Lampung 8-9 Agustus 1990. LIPI. Jakarta. P. I 11-116.
Fahrudin, A. 1996. Analisis Ekonomi Pengelolaan Laban Pesisir Kabupaten Subang Jawa Barat [Tesis].
Program Pascasarjana IPB. Bogor. Bogor.
Fauzi, A. 1999. Teknik Valuasi Hutan Mangrove. Mablah Pelatihan Management for Mangrove Forest
Rehabilitation. Begor, Oktober 1999.
Husnan, S. dan Suwarsono. 1999. Studi Kelayakan Proyek. Edisi Ill. UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
Kadariah, L. Karlina dan C. Gray. 1978. Pengantar Evaluasi Proyek. Lembaga Penerbit FE - Ul. Jakarta.
Maryadi. 1998. Analisis Ekonomi Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Mangrove untuk Berbagai Macam
Kegiatan Pcrtanian di Pesisir Pantai Timur Kecamatan Tulung Sclapan Propinsi Sumatera
Selatan [Tesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Meilani, M.M. 1995. Keadaan Usaha Pcrtambakan di Desa Mayangan, Kecamatan Pamanukan,
Kabupaten Subang, Jawa Barat. Laporan Praktek Lapangan. Program Studi Sosial Ekonomi
Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nazir, M. 1988. Metode Penelitian (Cetakan ke-3). Jakarta: Ghalia Indonesia. Jakarta.
Perum Pcrhutani. 2003. Selayang Pandang BKPH Cikiong KPH Purwakarta. Perum Perhutani.
Purwakarta.
Paryono, T.J., T. Kusurnantanto, R. Dahuri, D.G. Bengcn. 1999. Kajian ekonomi pengelolaan tambak
di kawasan mangrove Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pesisir dan Lautan
3: 8-16.
Sofian, A. 2003. Valuasi Ek:onomi Pemanfaatan Hutan Mangrove di Kawasan Blanakan Kabupaten
Subang, Jawa Barat [Skripsi]. Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Fakultas
Perikanan dan ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor

16 | P a g e