Anda di halaman 1dari 23

NORMA,

NORMA HUKUM,
dan
NORMA HUKUM dalam NEGARA
Oleh:
R. Wahjoe Poernomo Soeprapto

PENGERTIAN
NORMA ADAT-ISTIADAT
MACAM
NORMA HUKUM
NORMA AGAMA
SISTEM NORMA STATIK
NORMA
SISTEM NORMA
(dari HANS KELSEN)
SISTEM NORMA DINAMIK
NORMA HUKUM
DINAMIKA NORMA
HUKUM VERTIKAL
DINAMIKA NORMA
HUKUM HORIZONTAL

PERBEDAAN NORMA HUKUM


DENGAN NORMA SELAINNYA
NORMA HUKUM UMUM
ALAMAT YANG DITUJU
NORMA HUKUM INDIVIDUAL
NORMA HUKUM ABSTRAK
HAL YANG DIATUR/PERBUATANNYA
NORMA HUKUM KONKRIT
NORMA HUKUM YANG TERUS-MENERUS

NORMA HUKUM
DAYA LAKUNYA
NORMA HUKUM YANG SEKALI SELESAI
NORMA HUKUM TUNGGAL
NORMA HUKUM BERPASANGAN
NORMA HUKUM PRIMER
NORMA HUKUM SEKUNDER
NORMA HUKUM
dalam PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
HUBUNGAN PERTANGGUNGJAWABAN PERBUATAN
DAYA LAKU dan DAYA GUNA

NORMA ADAT-ISTIADAT
(Teori Receptio in Complexu Vs Teori Receptie, Politik
Hindia Belanda thd Islam dan Umat Islam [konsep C.
Snouk Hourgronje], perdebatan
staatsfundamentalnorm bangsa Indonesia)

NORMA AGAMA
(KHUSUS ISLAM: bersifat individu [tidak ada
campur tangan negara], sanksi moral [berdosa],
bersifat keakhiratan, upaya pendistorsian dunia tdk
berkaitan dgn akhirat)

NORMA
NORMA HUKUM
NORMA HUKUM
dalam NEGARA
sekularisme

Pemerintah Hindia Belanda


memperlemah pelaksanaan Hukum Islam
(hukum positif) Pasal 131 Indische Staatsregeling

Teori Receptio in Complexu


(van den Berg-secara objektif)
[hukum Adat baru dapat diakui
setelah diresepsi lebih dulu
oleh hukum Islam]
Teori Receptie
(Setelah melalui
rekayasa politik kekuasaan)
[hukum Islam baru dapat diakui
setelah diresepsi lebih dulu oleh
hukum Adat]

Hukum Islam

Vs

Hukum Adat
Islam Nasionalis-Islam Sekuler ,
Islam Kyai-Santri-Abangan

Living law

Umat Islam di Hindia Belanda

Hans Kelsen
(teori jenjang norma hukum [stufentheorie]
jenjang norma secara umum,)

Hans Nawiasky
(teori jenjang norma dalam suatu negara )
( Die Theorie vom Stufenordnung der Rechtsnormen

berjenjang-jenjang
berlapis-lapis + berkelompok-kelompok
berjenjang-jenjang
dan berlapis-lapis
Mengembangkan teori gurunya

GRUNDNORM (norma dasar)


(norma yg paling tinggi
tidak dibentuk oleh norma yg lebih tinggi lagi,
ditetapkan terlebih dulu oleh masyarakat sbg norma dasar,
suatu aksioma)
Kelompok I: Staatsfundamentalnorm

NORMA C
(norma yg lebih tinggi dari norma B)
Kelompok II : Staatsgrundgesetz

NORMA B
(norma yg lebih tinggi dari norma A)
Kelompok III: Formell Gesetz

NORMA A
Kelompok IV: Verordnung &
Autonome Satzung

NORMA HUKUM DALAM NEGARA


(Hans Nawiasky)

STAATSFUNDAMENTALNORM

STAATSGRUNDGESETZ

FORMELL GESETZ

VERORDNUNG &
AUTONOME SATZUNG

STAATSFUNDAMENTALNORM

STAATSFUNDAMENTALNORM

Norma hukum tertinggi dan merupakan kelompok pertama


dlm hierarki norma hukum dlm negara,
Merupakan norma tempat bergantungnya norma-norma
hukum dibawahnya,
Norma yang tidak dibentuk oleh suatu norma yang lebih
tinggi lagi,
Bersifat pre-supposed atau ditetapkan terlebih dulu oleh
masyarakat dlm suatu negara dan tidak dapat ditelusuri
lebih lanjut dasar berlakunyakita harus menerimanya
sebagai suatu aksioma,
(Hans Nawiasky)istaatsfundamentalnorm merupakan
norma dasar bagi pembentukan konstitusi atau UUD suatu
negara

STAATSGRUNDGESETZ

STAATSGRUNDGESETZ

Merupakan kelompok norma hukum dibawah


staatsfundamentalnorm,
Merupakan aturan-aturan yang masih bersifat
pokok dan aturan umum yang masih bersifat garis
besarmasih merupakan norma hukum tunggal,
Hans Nawiaskystaatsgrundgesetzdituangkan
dalam dokumen negara yang disebut
staatsverfassung, atau dokumen yang tersebar
yang disebut staatsgrundgesetz.

FORMELL GESETZ

FORMELL GESETZ

Merupakan kelompok norma dibawah


staatsgrundgesetz,
Merupakan norma hukum yang lebih konkret
dan terincidpt langsung berlaku dlm
masyarakat,
Norma hukumnya tidak hanya tunggal, tapi
berpasangan (norma hukum primer dan
sekunder)sehingga dpt dilekati sanksi
Di Indonesiacukup disebut Undang-undang

VERORDNUNG

&
AUTONOME SATZUNG

VERORDNUNG
&
AUTONOME SATZUNG

Merupakan kelompok norma dibawah formell


gesetz,
Berfungsi menyelenggarakan ketentuanketentuan dalam UU,
Verordnung (peraturan pelaksanaan)
kewenangan delegasi
Autonome Satzung (peraturan otonom)
kewenangan atribusi

Wet in materiele zijn (Peraturan perundangundangan)


Wet in formele zijn/formell gesetz (DPR +
Presiden)

Unwritten constitution/undocumentary
constitution

TUGAS

DITULIS DI KERTAS FOLIO


BOLPEN BIRU
JUMLAH HALAMAN 5
DIKUMPULKAN PADA SAAT UTS

Peraturan perundang-undangan (regeling):


NH Umum-abstrak, kewenangan
Penetapan (beschikking): NH Individualkonkrit, sekali selesai
Peraturan Kebijakan (beleidsregel): NH
Umum-abstrak, tidak punya kewenangan

Diskresi/kebebasan pemerintah/freies
ermessen/policy
rulesAAUPB/AAPL/ABBB
1. Kebebasan menafsirkan peraturan
perundang-undangan
2. Kebebasan penilaian

Bupati/walikota dapat melarang iklan yang


melanggar kepentingan umum
Melanggar kepentingan umum(?)

M (10)
L
P
S
B

ABBB

ALGEMENE BEGINSELEN VAN


BEHOORLIJK BESTUUR/ASAS-ASAS
UMUM PEMERINTAHAN YANG
BAIK/ASAS-ASAS UMUM
PEMERINTAHAN YANG LAYAK:
Larangan sewenang-wenang
Larangan penyalahgunaan kekuasaan