Anda di halaman 1dari 17

Tumor Marker pada Kanker Ginekologi

Sinonim kata untuk tumor marker adalah biomarker. Adanya tumor marker
mengindikasikan perubahan biologik yang memberikan sinyal adanya malignansi dalam
organisme host. Substansi ini biasanya berkaitan dengan keganasan tertentu. Tumor marker
diproduksi oleh tumor itu sendiri atau oleh organ yang berespon karena keberadaan kanker.
Dalam penggunaannya tumor marker dapat dimanfaatkan untuk skrining populasi
yang berisiko menderita kanker, mendukung konfirmasi diagnosis kanker secara lebih
spesifik, menentukan tingkat prognosis, dan monitor keadaan remisi pasien atau menilai
respons suatu terapi (pembedahan maupun kemoterapi). Dewasa ini tumor marker banyak
digunakan untuk menilai respon terapi dan mendeteksi timbulnya keadaan rekurens.
Tumor marker merupakan zat yang dibebaskan oleh kanker dengan cara yang berbeda
secara kualitatif dan/atau kuantitatif dari sel-sel normal. Dengan kemajuan teknologi antibodi
monoklonal, banyak petanda tumor sekarang dapat terdeteksi dalam sampel cairan tubuh
yang sedikit misalnya serum atau asites. Idealnya, tumor marker mempunyai potensi untuk
membantu ahli klinik dengan cara memberi sinyal aktivitas penyakit dalam keadaan tidak
adanya manifestasi klinik, sehingga dengan demikian memberikan suatu metode skrining
untuk penyakit preklinik, memantau status tumor selama pengobatan, dan mendeteksi
kekambuhan dini.
Tidak ada tumor marker yang spesifik komplit.Oleh karena itu, diagnostik
imunohistokimia harus dipergunakan untuk penentuan morfologik dan temuan klinik.
Proliferasi yang tidak terkendali mengandung risiko kesalahan dalam replikasi DNA dan
menghasilkan kandungan DNA abnormal (aneuploidi). Aneuploidi ini sering dijumpai pada
kanker dan dianggap mempunyai nilai prognostik. Pada umumnya status ploidi dinyatakan
dengan indeks DNA (DI), yaitu diploid bila DI = 0,95-1,05 dan aneuploidi bila DI kurang
dari 0,5 atau lebih dari 1,05. Jenis kanker dengan DNA aneuploidi mempunyai prognosis
lebih buruk dibanding dengan kanker dengan DNA diploid. Walaupun aneuploidi dalam satu
sel atau jaringan tidak selalu berarti keganasan, aneuploidi merupakan indikasi bahwa sel
bersangkutan potensial menjadi ganas, bahkan sering dianggap sebagai status premaligna.
Karena itu histogram DNA merupakan informasi yang bermakna dan dianggap dapat
mempengaruhi keputusan klinik dalam kaitannya dengan penetuan prognosis.

ANTIGEN JARINGAN
Yang termasuk petanda tumor golongan antigen jaringan antara lain
a. Ca 125
b. Ca 19-9
c. Ca 15-3
d. Antigen Karsinoma sel skuamosa (SCC)

CA-125 (Cancer Antigen 125)


Hampir 90% kanker ovarium merupakan karsinoma epitelial selomik dan
mengandung glikoprotein terkait dengan epitel selomik yaitu CA-125. CA-125 dapat
terlokalisasi pada sebagian besar serosa, endometrioid dan karsinoma ovarium sel jernih,
sementara pada jenis musinosum antigen ini kurang diekspresikan.
CA-125 merupakan

tumor marker yang penting untuk diagnosis, terapi dan

pengamatan lanjut. Oleh karena itu, CA-125 telah direkomendasikan untuk skrining. Namun
perlu disadari CA-125 kurang berperan pada deteksi dini karena kurang sensitif dan kurang
spesifik untuk kanker ovarium. CA-125 lebih berperan di klinik untuk menentukan respon
terapi. Peningkatan CA-125 dapat terjadi akibat penyakit lain di rongga peritoneum selain
kanker ovarium.
Walaupun secara konsisten kadarnya meningkat pada kanker ovarium epitelial, dapat
juga terjadi peningkatan pada jenis tumor ginekologik lain seperti endometrium dan tuba
falopii dan beberapa kanker nonginekologi (pankreas, kolon, payudara).
Serum CA-125 digunakan untuk menilai progresivisitas kanker ovarium. Peningkatan
CA-125 selama atau sesudah terapi menjadi prediktor kuat terhadap kemungkinan
progresivitas penyakit. Penurunan CA-125 pada awal pengobatan berkaitan dengan lamanya
free interval disease.
Kadar CA-125 yang kurang dari 35 U/ml setelah 6 seri terapi berkaitan dengan
lamanya free interval disease , walaupun hal ini tidak dapat menjadi prediktor akan
keberadaan tumor mikroskopik. Jika nilai CA-125 lebih besar dari 35 U/ml setelah 6 seri
kemoterapi menjadi prediksi akan adanya penyakit. Progresivitas penyakit kemungkinan

terjadi jika CA-125 kadarnya menetap. Peningkatan kadar CA-125 menjadi prediktor
terjadinya rekuren minimal 3 bulan pada banyak kajian.
CA-125 merupakan suatu glikoprotein permukaan sel dengan berat molekul tinggi
mencapai lebih dari 1000 kDa. Tidak seperti halnya banyak petanda tumor glikoprotein
permukaan sel lainnya, CA-125 tidak dianggap sebagai suatu musin karena kandungan
karbohidratnya (24%) kurang dari 50%. Pada orang dewasa, CA-125 terdapat pada
permukaan sel-sel yang merupakan lini tuba fallopii, endometrium, endoserviks, peritoneum,
pleura, perikardium, dan bronkhus. Pada ovarium normal CA 125 ini hanya sedikit dijumpai,
meskipun antigen tersebut kadang-kadang ditemukan dalam ovarium pada kista inklusi,
ekskresi papilari jinak.
CA-125 tidak merupakan suatu petanda spesifik untuk kanker ovarium. Peningkatan
kadar serum telah ditemukan pada kebanyakan pasien penderita metastatik endometrium,
tuba fallopii, endoservik, dan karsinoma pankretik, dan juga pada beberapa pasien penderita
kanker payudara, paru dan kolon. Insiden yang paling tinggi dari peningkatan CA-125 pada
kanker non ginekologi terlihat pada kanker pankreas (60%).
Dalam aplikasi kliniknya mencakup pemantauan status penyakit pada pasien
penderita kanker ginekologi metastatik, yang memprediksi adanya penyakit residual dalam
menuntaskan kemoterapi, yang mendeteksi adanya penyakit kambuhan sebelum kecurigaan
klinis, dan membedakan masa adneksa jinak dari malignan preoperatif.
CA-19-9
Serum karbohidrat antigen 19-9 meningkat pada 35% pasien dengan kanker
endometrium dan juga dapat digunakan untuk pengamatan lanjut pasien dengan tumor
ovarium borderline. Pengukuran tumor marker ini untuk pengamatan lanjut dapat mendeteksi
secara dini terjadinya rekurens hanya pada sebagian kecil pasien. Karbohidrat antigen 19-9
tidak spesifik untuk kanker ovarium.
CA-19-9 merupakan suatu karbohidrat yang telah teridentifikasi sebagai antigen sialyl
Lewis. CA-19-9 meningkat dalam serum dari 29% sampai 48% wanita penderita kanker
ovarium. Beberapa dari wanita ini tidak mengalami peningkatan CA-125. CA-19-9 dapat
berguna dalam memantau pasien-pasien penderita tumor musinus. Suatu proporsi kecil
pasien-pasien penderita kanker serviks atau endometrium juga telah meningkat kadar CA-199nya.

CA-15-3
Cancer-antigen 15-3 sangat

bermanfaat selama pengamatan lanjut pada pasien

perempuan dengan kanker payudara, khususnya kanker payudara lanjut. Kadarnya jarang
meningkat pada kanker payudara stadium awal.
Tumor marker cancer antigen 15-3 dapat juga meningkat pada pasien dengan kanker
ovarium, paru, atau prostat. Peningkatan kadar tumor marker ini dapat juga pada keadaan non
kanker termasuk tumor payudara jinak, tumor ovarium jinak, endometriosis, penyakit radang
pelvik dan hepatitis. Adakalanya CA-15-3 juga meningkat pada kehamilan dan saat laktasi.
Antigen Karsinoma Sel Squamosa (SCC Squamous Cell Carcinoma antigen)
Kadar squamous cell carcinoma antigen meningkat pada karsinoma serviks, dan
kelainan kulit jinak. Antigen karsinoma sel squamosa (SCC) adalah suatu derivat dari TA-4.
Antibodi2 yang diarahkan terhadap antigen ini mengenali epitelium squamosa yang
neoplastik, displastik, dan metaplastik. Kadar antigen SCC serum juga meningkat pada
kanker vagina, dan vulva,.

ANTIGEN FETUS
Protein onkofetal normal terdapat selama masa embrio atau fetus, dan tidak hilang
seluruhnya pada waktu dewasa, serta meningkat kembali pada proses keganasan. Substansi
ini berasal dari jaringan tumor itu sendiri dan masuk kedalam sirkulasi akibat sekresi oleh sel
tumor atau sebagai produk dari pemecahan sel tumor. Contoh yang paling sering dari protein
onkofetal adalah carcinoembryonic antigen (CEA) dan alpha-fetoprotein (AFP).
Alfafetoprotein (AFP)
Alfafetoprotein (AFP) merupakan yang pertama diantara protein-protein ini yang
diteliti secara luas. AFP diisolasi pada tahun 1956 dan dikaitkan dengan keganasan pada
1963. Alfa fetoprotein merupakan serum protein yang disintesis oleh liver, yolk sac, dan
traktus gastrointestinal yang berkaitan dengan sekuens homologi albumin. AFP merupakan
komponen terbesar dari plasma janin,yang kadar puncaknya 3 mg/ml pada 12 minggu gestasi.
Setelah lahir, AFP akan menghilang dari sirkulasi karena waktu paruhya 3,5 hari. Konsentrasi
AFP pada serum orang dewasa kurang dari 20 ng/ml. Apabila penurunan kadarnya lambat

atau kadarnya tidak menurun menjadi normal setelah pengangkatan tumor, maka ini indikasi
kuat adanya penyakit residual.
Tumor sinus endodermal mengekspresikan AFP. AFP diekspresikan dari sitoplasma
sel tumor. AFP juga diekspresikan oleh karsinoma sel embrional, dan teratoma imatur.
Penurunan terlalu lambat kadar serum dengan terapi atau kenaikan baru petanda sesudah
terapi menunjukkan adanya pertumbuhan tumor residual atau residif dan merupakan suatu
indikasi untuk terapi tambahan. Spesifisitas kadar AFP dalam hal ini mendekati 100%.
Sensisitivitasnya lebih rendah; hasil negatif palsu (tidak ada kenaikan petanda walaupun ada
progresi) terdapat pada 10-20% dari penderita.
b. Antigen Karsinoembrionik (Carcinoembryonic antigen (CEA)
Petanda tumor onkofetal lainnya, yaitu antigen karsinoembrionik (CEA), pertama
kali teridentifikasi pada tahun 1965 pada pasien-pasien penderita adenokarsinoma kolon.
Selanjutnya, CEA ditemukan diekspresikan pada usus, hati, dan pankreas fetus. CEA
merupakan suatu glikoprotein membran permukaan sel dengan berat molekul 200.000. kadar
CEA serum meningkat pada pasien-pasien penderita kanker kolon tetapi dapat juga
meningkat pada kelainan gastrointestinal jinak
Kadar CEA meningkat pada 35% kanker endometrium. Imunohistokimia CEA tidak
dapat membedakan antara proliferasi kelenjar tumor jinak dan ganas dari serviks uterus. Oleh
karena itu, pewarnaan CEA kurang mempunyai nilai untuk membedakan adenokarsinoma
dari endoserviks atau dari endometrium.
Kadar CEA dapat positif pada pasien dengan kanker yang bermetastasis ke ovarium
karena kanker primernya dapat berasal dari kanker gastrointestinal, sebagaimana diketahui
kanker ini memproduksi CEA.

PETANDA TUMOR HORMONAL


Yang termasuk dalam golongan petanda tumor hormonal adalah :
a. Human Chorionic Gonadotropin
b. Steroid
c. Inhibin

Human Chorionic Gonadotropin (hCG)


Beta hCG diturunkan pada berbagai fragmen yang terkonsentrasi di urin yang dikenal
sebagai peptida gonadotropin urin. Penggunaan hCG tidak terbatas pada penyakit trofoblas
karena hCG juga terdapat pada berbagai neoplasma ginekologik nontrofoblas. Peningkatan
kadar hCG terjadi pada pasien dengan koriokarsinoma dan juga pada disgeminoma.
Sinsitiotrofoblas plasenta mensekresikan suatu glikoprotein heterodimer dengan berat
molekul 36.700. Tumor marker ini bermanfaat untuk menilai respon kemoterapi dan
menentukan kejadian rekurens pada pengamatan lanjut pasien dengan komplit remisi.
Steroid
Berbagai estrogen, progestin, dan androgen dapat disekresikan oleh tumor stroma
ovarium. Steroid adrenal dapat juga dibebaskan jika differensiasi tumor mensimulasi kortek
adrenal. Sebagai tambahan, pada beberapa kasus hiperplasia stroma ovarium dapat menyertai
tumor-tumor epitelial ovarium, yang mengakibatkan meningkatnya steroidogenesis stromal..
Inhibin
Hormon ini merupakan suatu glikoprotein heterodimer yang diproduksi oleh sel-sel
granulosa ovarium. Fungsi fisiologi primer inhibin adalah mensupresi pelepasan FSH oleh
pituitari. Hormon ini dimiliki oleh super famili TGF- dari protein2 yang memodulasi
pertumbuhan. Peningkatan kadar inhibin terlihat pada tumor sel granulosa dan kadar serial
telah bermanfaat dalam memantau status penyakit.

ENZIM
Yang termasuk petanda tumor dari golongan enzim adalah :
a. Lactic dehidrogenase
b. Placental alkaline phospatase

Lactic dehidrogenase (LDH)


Enzim ini merupakan petanda tumor non spesifik dimana enzim ini merupakan suatu
enzim glikolitik yang dilepaskan oleh sel-sel yang rusak. Kadar LDH (lactic dehidrogenase)

dalam serum meningkat pada banyak tumor-tumor solid dan aktivitas seum sering berkorelasi
dengan volume total tumor. Pada beberapa tumor, isoenzim yang spesifik telah diperlihatkan
bertanggung jawab untuk terjadinya peningkatan aktivitas total LDH serum.

Placental alkaline phosphatase


Plasental alkali fosfatase (PLAP) merupakan suatu isoenzim alkalin fosfatase yang
diproduksi oleh trofoblas dalam keadaan normal. Meningkatnya aktivitas serum enzim ini
terjadi pada sejumlah tumor yang berbeda. Namun, persentase tumor yang memperlihatkan
petanda ini relatif rendah dan kadarnya tidak sesuai dengan beban tumor atau status penyakit.
Dahulu PLAP ini disebut sebagai isoenzim Regan

PETANDA TUMOR PADA KEGANASAN GINEKOLOGI


Tumor Epitelial Ovarium
Tumor marker CA-125 digunakan untuk mendeteksi adanya keganasan, nilai batas 35
IU/ml mempunyai sensitivitas 82-93% dan spesifisitasnya 67-77%. Bila pemeriksaan USG
dikombinasi dengan CA-125 maka spesifisitas meningkat menjadi 91,1-100%, sensitivitas
meningkat menjadi 93,7-95,6%.
CA-125 kurang dipercaya pada pasien-pasien premenopause dimana CA-125 dapat
meningkat karena kehamilan, endometriosis, adenomiosis, fibroid uterus, penyakit
peradangan pelvis, dan jarang pada orang yang menstruasi. Setiap kondisi yang menyangkut
peritoneum, pleura atau perikardium dapat menimbulkan peningkatan sementara petanda
tersebut.
Kasus neoplasma ovarium suspek ganas, ditegakkan atas dasar penemuan klinik, USG
dan petanda tumor. Pemeriksaan fisik ditemukan massa di abdomen pelvis dan ascites. USG
abdominal dan vagina (dianjurkan pemeriksaan dengan color Doppler). CT Scan atau MRI
optional. Petanda tumor CA-125, bila usia muda AFP dan LDH. Diagnosis pasti kanker
ovarium dengan histopatologis. Manajemen terapi yang dilakukan adalah laparotomi dengan
potong beku. Hasil potong beku dan kebutuhan fungsi reproduksi menjadi pertimbangan

untuk melakukan conservative surgical staging. Hasil potong beku bisa tumor ovarium
beningn, malignant, atau borderline.
Evaluasi preoperatif menyangkut foto thoraks dan penilaian tarktus urinarius dengan
IVP. Pemeriksaan CT scan abdomen dan pelvik juga mempunyai nilai dalam mengevaluasi
massa pelvik. Pada pasien dengan ascites dan tidak teraba adanya massa pelvik secara klinis,
perlu diperiksa CT scan untuk melihat kemungkinan adanya tumor di liver atau pankreas.
Skoring keganasan prabedah neoplasma ovarium

No

Temuan

Skor

1.

Penurunan BB 10% dlm 3 bulan

2.

Ascites

3.

USG ada bagian padat

4.

Neovaskularisasi (RI) < 0,45

5.

CA 125 > 35

Skor > 6

: risiko tinggi keganasan

Skor < 6

: risiko rendah keganasan

Formula lain RMI (Risk of Malignancy Index) dengan formula :


RMI = U x M x CA-125
U : Temuan USG (multilokuler, solid, bilateral, ascites dan metastasis intra abdomen)
0-1 = 1 apabila >2 = 3
M : Status menopause : Pre menopause : 1, dan post menopause : 3
CA-125 (dalam IU/L)
Nilai RMI > 250 = risiko tinggi terjadinya keganasan.

CEA dapat membantu dalam mendeteksi kanker musinus diantara wanita2 yang
disertai massa adneksa. CEA terbukti sangat membantu dalam diagnosa banding antara
adenokarsinoma ovarium dan kolon. Pada satu penelitian, rasio CA-125/CEA serum > 25
mengakibatkan sensitivitas 91%, spesifisitas 100%, dan nilai prediktif positif 100% untuk
diagnosa kanker ovarium.
Tumor Sel Germinal Ovarium
Tipe petanda yang dihasilkan oleh neoplasma ini tergantung pada tonjolan embrionik
yaitu tempat dimana mereka berasal. Petanda-petanda biasanya digunakan untuk memantau
respon tumor terhadap terapi dan untuk menscreening kekambuhan. Mereka dapat juga
digunakan pada diagnosa banding preoperatif
Petanda yang paling penting untuk tumor sel germinal adalah hCG dan AFP.
Choriocarcinoma secara eksklusif menghasilkan hCG. Karsinoma embrional dan juga secara
umum melepaskan hCG. Sejumlah persentase kecil disgerminoma menghasilkan hCG. AFP
dibuat oleh hampir semua tumor sinus endodermal . Beberapa karsinoma embrional dan
poliembrioma melepaskan AFP. Lebih kurang 60% teratoma imatur menghasilkan AFP.
Tumor sel germinal campuran dapat menghasilkkan hCG atau AFP tergantung pada
konstitusinya.
AFP, jika disekresikan oleh tumor, biasanya memberikan suatu petanda status
penyakit yang dapat dipercaya. Penurunan kadar kembali ke normal selama pengobatan
terkait dengan penyakit persisten. Namun, meskipun AFP serum normal dapat diperoleh
dengan terapi, mungkin terdapat persistensi elemen selain tumor sinus endodermal.
CA-125 meningkat pada lebih dari 50% tumor sel germinal, mungkin disebabkan
karena iritasi peritonium karena tumor-tumor ini tidak mengekspresikan CA-125. CA-19-9
sering meningkat pada pasien-pasien penderita teratoma malignan. LDH meningkat karena
persentase besar disgerminoma dan tumor sinus endodermal. CEA terutama tidak bermanfaat
dalam manajemen tumor sel germinal.

Tumor Stroma Ovarium


Tumor marker yang dapat diperiksa untuk mendeteksi rekurensi atau keberhasilan
pengobatan adalah estrogen dan inhibin. Estrogen kadang-kadang tidak meningkat kadarnya

dalam serum atau hanya meningkat sedikit sehingga tidak ideal sebagai tumor marker.
Inhibin, protein yang berasal dari sel granulosa, dapat digunakan sebagai tumor marker
karena kadarnya meningkat sampai tujuh kali lipat kadar normal pada penderita tumor sel
granulosa. Kadar inhibin juga meningkat jika terjadi rekurensi tumor sel granulosa.
Tumor sel granulosa menghasilkan estrogen dan secara tipikal menyebabkan gejalagejala kelebihan estrogen. Hal yang sama, thecoma membebaskan kuantitas surplus steroid
estrogenik. Yang jarang terjadi, kelebihan androgen atau progestin dilepaskan oleh tumortumor ini. Kebanyakan tumor sel Sertoli-Leydig (arrhenoblastoma, androblastoma, dan tumor
sel hilus) menhasilkan androgen dan mengakibatkan hirsutisme dan atau virilisasi.

Kanker Endometrium
Belum ada tumor marker yang sensitif dan spesifik pada adenokarsinoma
endometrium.

Tetapi

beberapa

penelitian

menggunakan

CA-125.

Pada

jaringan

adenokarsinoma tipe 1 (jenis endometrioid) memberi persentase posiif 89,3%.


Kegunaan petanda tumor belum diteliti luas

pada skrining atau diagnose dini.

Kebanyakan penyelidik telah menguji peran petanda tumor dalam evaluasi preoperatif
mengenai luasnya penyebaran kanker endometrium, memantau respons terhadap pengobatan,
dan pendeteksian dini kekambuhan.
Petanda-petanda tumor juga telah dievaluasi untuk kegunaannya pada follow-up pasienpasien kanker endometrium sesudah pengobatan awal. Dalam hal ini, CA-125 telah diteliti
paling luas. Lebih kurang setengahnya dari pasien-pasien penderita kanker endometrium
kambuhan mengalami peningkatan konsentrasi CA-125.
Suatu penelitian akhir2 ini telah menyatakan bahwa nilai ambang sebesar 20 U/ml
digunakan untuk CA-125 dalam mengikuti pasien-pasien kanker endometrium. Hal ini
didasarkan pada temuan yang menyatakan bahwa 95% pasien yang bebas dari penyakit
sesudah pengobatan untuk kanker stadium dini mempunyai nilai CA-125 pada atau dibawah
level ini.

Kanker serviks
SCC (Squamous cell carcinoma antigen) dapat digunakan sebagai tumor marker
kanker serviks jenis skuamosa. Prevalensi peningkatan kadar SCC meningkat sesuai dengan
stadium penyakit. Pada stadium I hanya sebesar 30-40% saja yang meningkat, pada stadium
II 60-70% sedangkan pada stadium III-IV 80-90%. SCC juga berkorelasi dengan tumor
primer yang eksofitik dibandingkan dengan yang infiltratif. SCC juga berkorelasi dengan
diferensiasi sel yang sedang dan buruk.
Penggunaan SCC untuk mengawasi kemungkinan terjadinya residif tumor, kurang
menguntungkan. Karena kelebihan SCC bukan pada sensitivitasnya tetapi pada
spesifisitasnya, sehingga kenaikan kadar SCC yang abnormal dengan penemuan lesi residif
secara klinik terdapat keterlambatan 6-7,8 bulan. Umumnya pengobatan kuratif kasus residif
tidak lagi memungkinkan bila kadar SCC sudah meningkat.
Nilai acuan standar untuk konsentrasi serum normal belum disepakati, tapi umumnya
digunakan kisaran kadar nilai ambang antara 2,5 sampai 3,5 ng/ml. Bahkan ada peneliti lain
yang mengambil batas 4 ng/ml, tetapi tetap tidak mampu meningkatkan sensitivitas
pemeriksaan.
Dengan hasil data tersebut nampaknya pemeriksaan kadar SCC mempunyai banyak
keterbatasannya, dinilai dari sudut keuntungan dibandingkan dengan biaya pemeriksaan
nampaknya belum memberi keuntungan yang bermakna, sehingga pemeriksaan SCC dinilai
sebagai pemborosan.
Penyakit Trofoblastik Ganas (GTN)
Gestational trophoblastic neoplasia (GTN) diperkenalkan tahun 2000 oleh FIGO pada
kasus-kasus GTD dengan kadar hCG yang tetap tinggi (persisten) meskipun terbukti tidak
ada kehamilan normal. Kriteria diagnosis GTN adalah: ada plateau kadar hCG lebih dari 4
minggu, tiga kali pemeriksaan yang memperlihatkan kenaikan kadar hCG persisten (hari 1, 7,
dan 14); kadar hCG > 20.000 IU/L pada 4 minggu setelah evakuasi, hCG tetap positif setelah
16 minggu setelah evakuasi, dan ada bukti histologik koriokarsinoma.
Manajemen yang optimal terhadap pasien PTG harus meliputi penilaian menyeluruh
tentang perluasan penyakit sebelum pengobatan diberikan. Evaluasi itu mencakup:
1) Riwayat dan pemeriksaan fisik yang lengkap

2) Pengukuran kadar hCG serum secara serial


3) Test fungsi liver, ginjal dan tiroid
Untuk penilaian metastasis, mencakup:
1) Foto rontgen thoraks Paru
2) USG atau CT scan abdomen Liver
3) CT scan atau MRI Otak

Gambar 1. Normal regression curve of beta-subunit human chorionic gonadotropin (-hCG) after molar
evacuation. (Gynecologic Oncology, 5th ed. Philadelphia:Lippincot williams & Wilkins, 2010 hal 599).

Human chorionic gonadotropin (hCG) mempunyai banyak karakteristik petanda


tumor ideal yang sulit difahami. Peningkatan petanda ini merupakan bukti dengan sel
tumor sedikitnya berjumlah 104 sampai 105,

yang membuatnya merupakan salah satu

petanda yang paling sensitif yang tersedia untuk setiap keganasan. Kadar serum berkorelasi
baik dengan volume tumor, dan staging penyakit ini mencakup evaluasi kadar hCG.
Konsentrasi hCG serum juga mempengaruhi prognosis.
Status penyakit dapat dipantau dengan hCG selama terapi. Kemoterapi sering
dilanjutkan selama 2-3 siklus diluar batas dimana hCG menjadi negatif, yang memastikan
bahwa sedikit jumlah sel2 tropoblastik sisa akan hilang. Ketersediaan petanda ini telah
mempermudah manajemen yang efektif pada kebanyakan pasien-pasien ini dan
memungkinkan pelestarian fertilitas dan meminimalkan efek-samping yang terkait dengan
pengobatan.
Tidak semua pasien mempunyai respon segera terhadap pengobatan. Peningkatan
hCG yang persisten pada sisi khemoterapi sitotoksik sering mendorong penyelidikan untuk
fokus tumor yang resisten terhadap obat. Ketika teridentifikasi, GTN resisten sering dapat
disembuhkan jika segera diobati dengan mengubah manajemen. Perubahan pada senyawa
kemoterapeutik dan pengangkatan bedah dapat digunakan pada kasus sulit tersebut.
Pemantauan yang kontinyu pada kadar hCG memberikan manfaat yang berbobot pada
keefektifan pengukuran ini dan memungkinkan feed-back yang cepat yang dapat digunakan
untuk mengembangkan strategi pengobatan lebih jauh jika hCG tetap meningkat.

Klasifikasi klinik dari GTT (Hammond dkk, 1973)

1. PTG non metastasis


2. PTG bermetastasis
a. Low risk
i.

hCG < 100.000 IU/urin 24 jam atau < 40.000 IU/ml serum

ii.

simptom < 4 bulan

iii. tidak ada metastasis di otak, liver


iv. belum pernah dapat khemoterapi
v.

bukan berasal dari kehamilan aterm

b. High risk
i.

hCG > 100.000 IU/ urin 24 jam atau > 40.000 lU/ml
serum

ii. simptom > 4 bulan


iii. metastasis di otak, liver
iv. gagal dengan kemoterapi sebelumnya
v.

didahului kehamilan aterm

Skor prognosis penyakit trofoblas (WHO)


0

Umur

<39

>39

Kehml sblmnya

mola

abortus

aterm

Interval bulan

4-6

7-12

>12

hCG sblm terapi

10 3

10 3 -10 4

10 4- 10 5

10 5

sar ( cm )

3-4

Letak metastasis

ginjal, lien GIT

hati, otak

Jumlah metastasis

l-4

4-8

>8

tunggal

>2

Ukuran tumor terbe

Khemotx sblmnya gagal

<4 risiko rendah; 5-7 risiko menengah; >7 risiko tinggi

Skor prognosis penyakit trofoblas (FIGO)

< 6 risiko rendah; > 7 risiko tinggi

DAFTAR PUSTAKA

1.

Nuranna L. Tumor Marker Dalam Bidang Ginekologi. Dalam Buku Acuan Nasional
Onkologi Ginekologi. Edisi pertama. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
2006. Jakarta. hal 211.

2.

Buku Pedoman Pelayanan Kanker Ginekologi. Himpunan Onkologi Ginekologi


Indonesia. Edisi ke-2.

3.

Berek JS, Hacker NF. Uterine Cancer in Gynecologic Oncology, 5th ed.
Philadelphia:Lippincot williams & Wilkins, 2010; 400-401.

4.

Andrijono. Penyakit Trofoblas Gestasional. Dalam : Sinopsis Kanker Ginekologi.

5.

Edisi ketiga. Pustaka Spirit. Jakarta, 2009, hal: 239-240.


Andrijono. Kanker Serviks Uteri. Dalam : Sinopsis Kanker Ginekologi. Edisi ketiga.

6.

Pustaka Spirit. Jakarta, 2009, hal: 47-48, 95-96.


E. I. Kohorn EI. The new FIGO 2000 staging and risk factor scoring system for
gestational trophoblastic disease: Description and critical assessment. Int j gynecol

7.

cancer, 2001, 11, hal : 7377.


Ngan HYS. The practicability of FIGO 2000 staging for gestational Trophoblastic

8.

neoplasia. Int j gynecol cancer, 2004, 14, hal :202205.


Bratakoesoema DS. Penyakit Trofoblas Gestasional. Dalam Buku Acuan Nasional
Onkologi Ginekologi. Edisi pertama, 2006 Hal. 535-565.

Anda mungkin juga menyukai