Anda di halaman 1dari 5

Nama

: Laila Nur Hidayah

NIM

: 4411412071

Rombel

: 2 Biologi

VAKSINASI
Sejarah
Vaksinasi merupakan salah satu jenis imunisasi aktif karena memberikan antigen suatu
pathogen sehingga menstimulasi sistem imun untuk membentuk antibodi dan respon imun
seluler yang melawan agen penginfeksi, apabla nantinya terpaparan antigen yang serupa maka
orang tersebut tidak akan sakit. Vaksinasi berasal dari bahasa latin vacca yang berarti sapi.
Pada tahun 1796 ketika berbagai belahan dunia sedang digemparkan oleh virus Variola yang
menyebabkan penyakit smallpox yang mematikan mewabah. Edward Jenner yang merupakan
seorang dokter keluarga berkebangsaan Inggris melakukan variolasi yakni upaya pencegahan
penularan virus Variola. Cara yang dilakukannya adalah dengan mengambil spesimen lesi pada
lengan orang dewasa yang terkena Cowpox (penyakit kulit yang ditularkan pada sapi) lalu
menginokulasikannya ke lengan seorang anak berusia 8 tahun. Sehingga seminggu kemudian
muncul lesi ditempat inokulasi namun hanya mengalami gejala ringan, cepat pulih dan tidak
mengalami sakit serta menjadi imun terhadap smallpox. Kemudian Edward Jenner
mempublikasikan hasil eksperimennya dalam An Inquiry into the Causes and Effects of the
Variola Vaccinae pada tahun 1798. Hal ini menjadikan tonggak sejarah adanya vaksinansi
meskipun Edward Jenner bukanlah orang yang pertama yang melakukan pencegahan dengan
prinsip vaksinasi, akan tetapi disebut sebagai tonggak sejarah karena melakukannya dengan
kaidah ilmiah dan berlandaskan pemahaman epidemiologi. Maka Edward Jenner disebut sebagai
Bapak Vaksinologi atau bahkan Bapak Imunologi
Seiring dengan perkembangan zaman diiringi kemajuan bioteknologi, telah ditemukan
berbagai macam vaksin untuk berbagai macam penyakit pula. Seperti halnya vaksin yang
termasuk dalam daftar imunisasi rutin yaitu BCG, DPT,Hepatitis B, Campak dan Polio. Adapula
vaksin terapeutik atau vaksin pengobatan yang memberikan pengobatan terhadap penyakit

tertentu yang mampu menginduksi dan memperkuat respon imun, adapun penyakit yang
menggunakan vaksin terapeutik antara lain seperti kanker prostat.
Terdapat tiga macam vaksin menurut Kitsner (2003), yaitu live attenuated, inactivated
dan sub unit vaksin.
1. Live Attenuated
Virus virulen dapat dibuat menjadi kurang virulen (attenuated) dengan cara
menumbuhkan virus tersebut pada sel inang yang berbeda dari sel inang normal atau
dengan cara mengembang-biakkan virus tersebut pada suhu non fisiologis. Mutan
yang mampu berkembang biak lebih baik dibanding virus tipe liar (wild type) pada
kondisi selektif tersebut akan meningkat selama replikasi virus. Jika mutan tersebut
diisolasi, dimurnikan, dan diuji patogenisitas pada model yang tepat, beberapa tipe
mutan dapat memiliki sifat patogen yang lebih rendah dibandingkan induknya.
Mutant tersebut merupakan kandidat yang baik sebagai vaksin karena mereka tidak
lagi berkembang dengan baik pada inang alaminya tetapi memiliki kemampuan
bereplikasi yang cukup tinggi sehingga dapat menstimulasi respons imun, tetapi tidak
menimbulkan penyakit. Apabila virus yang mulanya sel inangnya adalan manusia
kemudia dipindahkan ke sel hewan kera maka virus tersebut akan bermutasi, sehingga
disebut mutan. Virus yang ada dalam kera tidak berkembang begitu baik dan pesat
selayaknya di sel manusia sebagai inang alaminya. Sehingga virus ini dapat
digunakan sebagai vaksin karena kemampuan replikasinya yang rendah. Contoh
vaksinnya adalah BCG, Campak,Rubella.

2. Inactivated
Pada metoda ini, virus yang secara alami bersifat patogen diproduksi dalam
jumlah besar dan diinaktifkan dengan menggunakan bahan kimia atau prosedur fisik
yang dirancang untuk menghilangkan sifat infektif dari virus tanpa kehilangan sifat

antigenisitasnya (yaitu kemampuan untuk memicu respons imun yang diinginkan).


Teknik yang umum digunakan adalah dengan cara perlakuan dengan formalin atau
beta propriolactine atau ekstraksi dari partikel envelope virus dengan detergen
nonionik seperti Triton X-100. Jenis vaksin ini relatif tidak memerlukan proses
pembuatan yang rumit dan berbiaya murah. Contoh Vaksin virus inaktif : Vaksin
Influenza, Poliovirus (Salk Vaccine), Rabies, vaksin untuk hewan (veterinary).
3. Sub unit
Mengambil hanya suatu bagian protein virus untuk dibuat menjadi suatu vaksin,
Contoh : vaksin hepatitis B dan vaksin influenza diformulasikan hanya dengan
beberapa komponen yang dimurnikan dari virus (tanpa memasukkan seluruh bagian
virus) disebut dengan vaksin subunit. Komponen virus yang diambil adalah protein
virus yang dikenali oleh antibodi. Pada banyak kasus, protein yang digunakan adalah
protein struktural virus, khususnya protein yang ditemukan pada permukaan virion,
yang merupakan target utama dari respons imun.

Hepatitis B

Gambar 1. Virus VHB

Hepatitis B merupakan penyakit radang hati yang disebabkan oleh VHB (Virus Hepatitis
B) yang termasuk dalam family hepadnaviridae yang bergenus Orthohepatnavirus. Pada tahun
1965, Blumberg melaporkan penemuan pertama kali antigen permukaan hepatitis B (HbsAg),
juga dikenal sebagai antigen Australia. Virus hepatitis B merupakan tipe virus DNA yang karena
mengandung DNA sirkuler dan double stranded. Virus ini memilki dua lapisan yang disebut
sebagai dane, yang terdiri dari HbsAg dan HbcAg. Adapun gejala dari penyakit ini adalah

keluhan sakit pada ulu hati yakni bagian kanan atas perut, mual tidak nafsu makan, lemas,
muntah, kencing berwarna coklat tua dan kulit berwarna kuning. Infeksi hepatitis akan sembuh
dalam waktu 6 bulan dan akan mengalami kekebalan tubuh. Namun bisa terjadi kemungkinan
sirosis hati dan bahkan kanker hati.
Vaksin hepatitis telah dikenal sejak tahun 1982. Vaksin ini mengandung antigen 30-40g
protein HBsAg (antigen virus hepatitis B). Pada anak balita vaksin ini diberikan sebanyak 3 kali
yaitu segera setelah lahir, usia 1 bulan dan diantara usia 3-6 bulan. Kejadian pasca pemberian
vaksin ini adalah demam ringan dan segera menghilang. Hal ini terjadi karena tubuh bereaksi
aktif terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh. Adapun efektivitas vaksin ini mencapai 9095 % dalam mencegah terjangkitnya virus hepatitis B. Pertahanan akan bertahan sampai minimal
12 tahun.

Gambar 2. Bakteri Yersinia pestis

Penyakit Pes
Pes (sampar) merupakan penyakit yang terdaftar dalam Karantina International
dan juga disebut remerging disease dan masih merupakan masalah kesehatan yang dapat
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) atupun wabah. Pes masuk pertama kali di
Indonesia pada tahun 1910 melalui pelabuhan Tanjung Perak,Surabaya melalui jalur
perdagangan. Angka kematian tertinggi yaitu 23.275 orang yang terjadi pada tahun 1934.
Pes diakibatkan oleh bakteri Yersinia pestis yang ada pada pinjal rodentia seperti
tikus. Pinjal merupakan serangga tanpa sayap yang ada pada tubuh Rodentia yang
ternyata mengandung bakteri pes. Bakteri ini hidup di saluran pencernaan rodentia, yang
bisa menyebabkan hewan pengerat ini mati mendadak. Apabila Bakteri ini termasuk
dalam bakteri gram negative yang patogen intraseluler obligat yang harus terkandung
dalam darah untuk bertahan hidup, dan non sporing. Bakteri ini berbentuk batang dengan
ukuran 1,5-2 x 0,5-0,7 mikron dengan suhu pertumbuhan yang baik bagi bakteri ini
adalah pada suhu 28C - 37C.

Bakteri pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan
lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung
kuman pes tadi,dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau
manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan. Apabila terdapat gigitan pinjal
kemudian bakteri ikut melewati aliran darah hingga ke kelenjar getah bening maka akan
terjadi bubo atau pembengkakan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan nanah
bercampur darah, panas, bengkak, disertai sakit yang hebat dengan suhu yang tinggi.
Vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit pes disebut dengan vaksin Otten.
Hal ini dikarenakan ditemukan oleh Louis Outten pada tahun 1934 yang berasal dari
Belanda mengujicobakan vaksin ini pertama kali di Bandung. Beliau bekerja di Pasteur
Institute yang sekarang dikenal dengan Bio Farma. Pabrik inilah yang sekarang terkenal
dan menjadi sejarah pabrik vaksin nasional. Vaksin ini berisikan bakteri yang dilemahkan
sehingga dikategorikan sebagai live attenuated vaksin.
Daftar Pustaka
Anonim. 2014. Penyakit Hepatitis.[on-line] http://penyakithepatitisb.com/ (diakses 5 Juni 2014)
Djauzi,Syamsulridjal dan Dirga Sakti Rambe. 2013. Imunisasi, Sejarah dan Masa Depan. CD-K
205 Vol.40 No. 6.
Mathilda, A. 2009. Kelengkapan Imunisasi. Skripsi : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Nur, Khozing. 2008. Bab II Konsep Dasar. [on-line] http://digilib.unimus.ac.id/download.php?
id=2703 (diakses 9 Juni 2014)
http://directory.umm.ac.id/minggu_3_Vaksin_dan_Vaksinasi.pdf (diakses 5 juni 2014)
http://web.uconn.edu/mcbstaff/graf/Student%20presentations/Y.%20pestis/Yersinia
%20pestis.html (diakses 10 Juni 2014)