Anda di halaman 1dari 10

SIKLUS HIDROLOGI

Jumlah air di bumi sangat besar, kira-kira 1,36 milyar km 3. Dari jumlah tersebut sekitar 97,2%
merupakan air yang berada di laut, 2,15% berupa es dan salju, sedang sisanya yang 0,65% merupakan air
yang terdapat di danau, sungai, atmosfer dan air tanah. Meskipun persentase dari bagian yang terakhir ini
sangat kecil, tetapi jumlahnya sangat besar.
Air merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan di muka bumi. Dengan
meningkatnya kebutuhan akan air, para ilmiawan memberikan perhatian yang sangat besar terhadap
kelangsungan perubahan air di atmosfer, laut dan daratan. Sirkulasi suplai air di bumi yang tidak putusnya
disebut siklus hidrologi. Siklus ini merupakan pancaran sistem energi matahari atmosfer merupakan rantai
yang menghubungkan lautan dan daratan. Air dari laut, secara tetap mengalami evaporasi menjadi uap air
yang berada di atmosfer. Angin akan mengangkut uap air ini. Kadang pada jarak yang sangat jauh. Uap air ini
akan berkumpul membentuk awan. Apabila awan sudah jenuh, maka akan berubah menjadi hujan. Hujan
yang jatuh di laut mengakhiri siklus ini dan akan mulai dengan siklus yang baru. Hujan yang jatuh di daratan
akan melalui jalan yang lebih panjang untuk mencapai laut.
Apa yang terjadi apabila hujan jatuh di daratan ? Sebagian air hujan akan meresap ke dalam tanah
dan sebagian lagi akan mengalir di permukaan ke darah yang lebih rendah, dan kemudian akan berkumpul di
danau atau sungai dan akhirnya mengalir ke laut. Bila curah hujan lebih besar daripada kemampuan tanah
untuk menyerap air, maka kelebihan air tersebut akan mengalir dipermukaan menuju ke danau atau sungai.
Air yang meresap ke dalam tanah (infiltrasi) atau yang mengalir di permukaan (run off) akan menemukan
jalannya untuk kembali ke atmosfer, karena adanya evaporasi dari tanah, danau dan sungai. Air yang meresap
ke dalam tanah juga akan diserap oleh tumbuhan dan akan kembali menguap melalui daunnya kembali ke
atmosfer. Proses ini disebut transpirasi.
Apabila hujan jatuh di daerah beriklim dingin, airnya tidak langsung meresap ke dalam tanah atau
mengalir sebagai run off, atau menguap. Air tersebut akan menjadi salju atau es, yang merupakan cadangan
air yang cukup besar di daratan. Apabila salju atau es ini mencair, dapat menyebabkan naiknya muka air laut
dan menggenangi daerah pantai.
Meskipun jumlah uap air di bumi waktu tertentu sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah total
suplai air di bumi, tetapi jumlah absolut dalam siklus yang melalui atmosfer setiap tahunnya sangat besar,
kira-kira 380.000 km3, jumlah yang cukup untuk menutupi permukaan bumi sampai kedalaman sekitar satu
meter. Karena jumlah total dari uap air di atmosfer kira-kira tetap sama, maka curah hujan tahunan rata-rata di
permukaan bumi harus sama dengan jumlah air yang menguap. Tetapi untuk semua daratan, jumlah curah
hujan lebih banyak daripada penguapan, sebaliknya di laut, jumlah penguapan lebih banyak daripada curah
hujannya. Karena muka air laut tidak mengalami penurunan, maka curah hujan di daratan sebanding dengan
penguapan di laut.
Siklus hidrologi menggambarkan gerakan air yang terus menerus dari laut ke atmosfer, dari
atmosfer ke daratan, dan dari daratan kembali ke laut.
Air Yang Mengalir Di Permukaan
Diantara proses geologi, air yang mengalir merupakan proses yang sangat penting bagi manusia.
Manusia tergantung pada sungai sebagai sumber energi, transportasi dan irigasi; dan dataran sungai yang
subur merupakan tempat yang paling baik untuk tempat tinggal manusia sejak dulu kala. Sebagai agen yang
dominan untuk merubah bentang alam, aliran air telah membentuk lingkungan fisik manusia.
Meskipun manusia sangat tergantung pada air yang mengalir, tetapi tidak pernah mengetahui
sumber air tersebut. Hal ini berlangsung sampai pada abad ke 16 ketika manusia menyadari bahwa air berasal
dari aliran permukaan dan airtanah, yang keduanya bersumber dari air hujan dan salju. Air permukaan yang
mengalir akan terkumpul pada torehan-torehan kecil, yang akhirnya sampai ke sungai. Ada dua istilah yang
sering digunakan untuk aliran air permukaan yang terkumpul ini, yaitu stream dan river. Walaupun keduanya
mempunyai pengertian yang sama, stream digunakan untuk sungai dalam segala ukuran, dari torehan kecil
sampai yang berukuran seperti Amazone, sedangkan river digunakan untuk sungai utama yang mempunyai
banyak cabang.

Aliran Air Sungai (streamflow)


Air yang mengalir menuju ke laut sangat dipengaruhi oleh gravitasi. Waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai laut tergantung pada kecepatan aliran, yang merupakan jarak yang ditempuh oleh aliran air dalam
satuan waktu tertentu. Ada sungai yang mempunyai kecepatan aliran hanya 0,8 km/jam dan adapula yang
sangat cepat sampai 30 km/jam. Kecepatan biasanya diukur pada beberapa lokasi memotong saluran sungai
yang kemudian dirata-ratakan. Pada saluran yang tegak lurus, kecepatan terbesar terdapat di tengah saluran
sedikit dibawah permukaan, dimana terdapat tahanan yang terkecil. Tetapi pada sungai yang berkelok,
kecepatan maksimum terdapat pada bagian luar kelokan.
Kemampuan sungai untuk mengerosi dan mentransport material berhubungan langsung dengan
kecepatan aliran, jadi kecepatan merupakan ciri yang paling penting. Variasi kecepatan aliran akan
berhubungan langsung dengan perubahan material sedimen yang ditransport oleh air. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kecepatan aliran yang tentunya juga mengontrol jumlah erosi oleh sungai. Faktor-faktor
tersebut adalah :
1. Kemiringan Sungai
2. Bentuk, ukuran dan kekasaran dari dasar saluran
3. Debit sungai
Faktor yang terutama mengontrol kecepatan aliran sungai adalah gradient atau kemiringan lereng
sungai. Gradien sungai dinyatakan dengan perbandingan beda tinggi dengan jarak atau panjang mendatar dari
sungai. Gradien sungai sangat bervariasi antara satu sungai dengan yang lainnya. Semakin besar gradien antar
satu sungai semakin besar kecepatan alirannya. Jika kedua sungai yang mempunyai karakteristik sama kecuali
gradiennya, maka sungai yang mempunyai gradien lebih besar akan mempunyai kecepatan aliran yang lebih
besar pula.
Bentuk penampang melintang saluran menentukan jumlah air yang bersentuhan dengan saluran dan
ini akan mempengaruhi tahanan gesernya. Saluran yang paling efisien adalah yang mempunyai perimeter
yang paling kecil. Meskipun luas penampang dari ketiga saluran tersebut sama, tetapi bentuk saluran yang
setengah lingkaran mempunyai persentuhan air dengan saluran paling kecil, sehingga mempunyai tahanan
geser yang paling kecil. Jadi apabila faktor lain dari ketiga saluran tersebut sama, maka air akan mengalir
lebih cepat dalam saluran setengah lingkaran.
Ukuran dan kekasaran dasar saluran berpengaruh juga terhadap besarnya tahanan saluran. Bila
ukuran saluarn bertambah, maka perbandingan perimeter dengan penampang melintang saluran akan
berkurang, sehingga efisiensi aliran bertambah besar. Efek dari kekasaran dasar saluran berpengaruh terhadap
macam aliran dalam saluran. Bila salurannya halus akan menghasilkan aliran seragam (uniform flows),
sedang bila dasar saluran kasar, seperti misalnya banyak bolder, akan menghasilkan aliran turbulen.
Debit (discharge) sungai adalah jumlah air yang mengalir pada jarak tertentu pada satuan waktu
tertentu, biasanya diukur dengan meter kubik per detik. Debit sungai biasanya diperoleh dari perkalian antara
luas penampang melintang saluran dengan kecepatan alirannya.
Debit sungai selalu berubah-ubah. Hal ini disebabkan oleh curah hujan dan pencairan salju yang
tidak selalu tetap. Jika debit sungai berubah, maka faktor-faktor yang berpengaruhpun akan mengalami
perubahan. Bila debit bertambah, maka lebar dan kedalaman dari saluran akan bertambah besar atau air
mengalir lebih cepat. Dari penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa dengan bertambahnya
jumlah air yang mengalir, maka lebar, kedalaman dan kecepatan akan meningkat pula. Jadi untuk
mengimbangi peningkatan debitnya, sungai akan mengalami proses pelebaran dan pendalaman saluran
sungai.
Perubahan Sungai Ke Arah Hilir (downstream)
Salah satu jalan untuk mempelajari suatu sungai adalah penampang memanjang sungai
(longitudinal profile). Profil ini menggambarkan penampang sungai mulai dari bagian hulu (head atau
headwater) sampai ke muara sungai. Kenampakan utama dari tipe profil memanjang sungai adalah penurunan
gradien sungai dari hulu ke muara. Secara umum bentuk penampang tersebut adalah busur yang cekung ke
atas.
Ada hubungan terbalik antara gradien dan debit sungai. Bial kemiringan sungai besar, maka
debitnya kecil, dan bila debit besar maka gradien sungai kecil. Atau bisa dikatakan bahwa di bagian hulu
sungai dapat mempunyai kecepatan yang besar walaupun kemiringannya kecil, karena debit yang besar,
saluran yang lebar dan dasar sungai yang relatif halus.

Bidang Datum (Base Level) & Keseimbangan Sungai (Graded Stream)


Satu hal yang penting yang mengontrol aliran sungai adalah bidang datum (base level), yang
merupakan titik terendah dimana aliran air dapat melakukan erosi (pengikisan). Dua tipe umum dari base
level, muka air laut (sea level) yang disebut ultimata base level, yang merupakan batas terendah dari proses
erosi oleh sungai, dan temporary atau lokal base level, yang ditunjukkan oleh danau. Batuan yang resisten,
dan sungai utama, yang merupakan base level bagi cabang-cabang sungainya.
Sungai selalu akan menyesuaikan dirinya dengan perubahan yang terjadi. Pada suatu kondisi
tertentu sungai akan berada pada suatu keadaan dimana sungai tidak melakukan proses erosi ataupun deposisi.
Sungai pada kondisi demikian disebut dalam kondisi kesetimbangan atau graded stream.
Proses Yang Dilakukan Oleh Aliran Air Di Sungai
Proses yang dilakukan oleh sungai adalah erosi, transportasi dan pengendapan. Proses tersebut
berjalan bersama-sama pada setiap sungai, walaupun di bawah ini akan dibahas satu persatu.
1. Proses Pengikisan (erosi)
Meskipun sebagian besar material yang diangkut oleh sungai berasal dari material yang diangkut
oleh air tanah, aliran air permukaan dan mass wasting, sungai juga menambah jumlah angkutannya dengan
mengerosi batuan yang dilaluinya. Bila batuan yang dilalui sangat kompak (bedrock), maka proses erosi
dilakukan dengan cara abrasi yang dilakukan oleh material sedimen yang diangkut oleh air. Material yang
berukuran kasar biasanya dilepas dari batuannya dengan melakukan pengeboran oleh air pada dasar saluran
yang disebut potholes. Tetapi bila batuannya tidak kompak (lepas), maka pengikisan dilakukan oleh air
sendiri.
2. Proses Pengangkutan (transportasi)

Sungai akan mengangkut material hasil erosinya dengan cara pelarutan (dissolved load), suspensi
(suspended load) dan sepanjang dasar saluran (bed load).
Material terlarut diangkut ke sungai oleh air tanah dan sebagian kecil berasal dari batuan yang
mudah larut sepanjang sungai. Jumlah material yang terlarut sangat bervariasi dan sangat tergantung pada
iklim dan kondisi geologinya.
Kebanyakan sungai mengankut material hasil erosinya dengan suspensi. Material yang diangkut
dengan cara suspensi ini umumnya berukuran pasir halus, lanau dan lempung. Pada waktu banjir, material
yang ukurannya besar dapat juga diangkut dengan cara suspensi. Juga pada waktu banjir material suspensi
akan meningkat jumlahnya.
Banyak juga material sungai yang ukurannya terlalu besar untuk diangkut dengan cara suspensi.
Material kasar ini akan bergerak pada dasar sungai sebagai bedload. Material ini mengerosi dasar sungai,
sehingga sungai menjadi bertambah dalam.
Material bedload bergerak sepanjang dasar sungai dengan cara menggelinding (rolling), meluncur
(sliding) dan meloncat (saltasi). Sedimen yang bergerak dengan saltasi akan meloncat sepanjang dasar
sungai. Hal ini terjadi karena material tersebut ditabrak oleh sedimen yang diangkut sehingga akan terangkat
dan akan turun kembali ke dasar karena gaya beratnya. Sedimen yang terlalu besar untuk bergerak.
Tidak seperti sedimen suspensi dan terlarut yang bergerak tetap pada sungai, sedimen bedload
hanya bergerak apabila kekuatan air cukup besar untuk menggerakannnya. Sedimen bedload sangat sulit
diukur, karena terjadi pada waktu banjir.
Kemampuan sungai untuk mengangkut material hasil erosinya diukur dengan dua kriteria. Yang
pertama, kompetensi sungai, yaitu ukuran maksimum dari sedimen yang dapat diangkut. Kompetensi sungai
sangat tergantung pada kecepatan aliran sungai. Jika kecepatan aliran sungai meningkat dua kali lipat, maka
gaya impak yang dilakukan oleh air akan meningkat sampai empat kali. Jika kecepatan meningkat sampai tiga
kali lipat, maka gaya impak dari air akan meningkat sampai sembilan kali. Jadi pada kecepatan yang rendah,
bolder akan tetap diam, dan akan bergerak pada waktu banjir ketika kecepatan aliran meningkat. Yang kedua,
kapasitas sungai, yaitu jumlah maksimum sedimen yang mampu diangkut oleh aliran sungai. Kapasitas
sungai sangat berhubungan dengan debit sungai. Semakin besar debit sungai, semakin besar juga jumlah
sedimen yang dapat diangkut.
3. Proses Pengendapan

Ketika kecepatan sungai menurun, maka kompetensi sungai juga menurun. Akibatnya, sedimen
suspensi akan mulai mengendap. Endapan sedimen ini disebut dengan aluvial. Meskipun sebagian sedimen
terendapkan sementara di sungai, sebagian lainnya akan mencapai laut. Bila sungai mencapai tubuh air yang
tetap seperti laut atau danau, kecepatannya menurun dengan cepat, dan akan mengendapkan sedimen yang
diangkutnya di mulut sungai yang disebut delta. Sedimen halus yang berukuran lanau dan lempung akan
terendapkan agak jauh dari muara sungai dengan membentuk lapisan yang hampir mendatar yang disebut
lapisan bottomset. Kelanjutan dari lapisan bottomset, mulai terendapkan lapisan foreset. Lapisan ini disusun
oleh sedimen kasar, yang diendapkan begitu aliran mancapai laut atau danau, membentuk lapisan yang
miring. Lapisan foreset biasanya ditutupi oleh lapisan mendatar yang tipis yang terbentuk pada waktu banjir
yang disebut topset. Pertumbuhan dari delta menyebabkan gradien sungai akan mengalami penurunan,
sehingga sungai mencari jalan yang lebih pendek untuk mencapai base level. Akibatnya delta akan
berkembang membentuk segitiga seperti huruf Yunani delta. Itulah sebabnya endapan di muara sungai ini
disebut delta.
Sungai-sungai besar seperti Nil, Mississippi dan Mahakam membentuk delta yang telah
berkembang mulai jutaan tahun yang lalu sehingga membentuk delta yang sangat luas. Selain itu sungai
utama membaginya menjadi beberapa saluran yang disebut distributaries, kenampakan yang terlihat pada
delta yang besar.
Meskipun delta sering terbentuk pada sungai besar, tidak semua sungai besar dapat membentuk
delta. Sedimen yang besar jumlahnya, oleh kekuatan arus dan ombak disekitar muara sungai akan disebarkan
kembali begitu diendapkan di muara. Kadang-kadang sungai besar juga tidak mengangkut sedimen dalam
jumlah yang cukup besar untuk membentuk delta.
Kipas aluvial (aluvial fan) adalah endapan sungai yang bentuknya seperti delta yang terbentuk di
daratan. Sungai-sungai yang mengalir di gunung, setelah mencapai dataran, gradien sungai akan turun dengan
drastis, sehingga akan mengendapkan material yang diangkutnya. Biasanya material kasar diendapkan dekat
kemiringan lereng, sementara yang halus terendapkan lebih jauh pada pedataran.
Sungai yang lebar dengan lembah yang datar, kadang-kadang membentuk tanggul alam (natural
level), merupakan endapan yang sejajar lembah. Tangggul alam ini dibentuk oleh endapan banjir yang terjadi
secara periodik selama bertahun-tahun. Ketika banjir, air sungai akan melewati tebing sungai dan kecepatan
menurun drastis, sehingga akan meninggalkan endapan sedimen kasar pada tepi sungai. Ketika air melimpah,
sedimen halus terendapkan di dasar lembah. Penyebaran sedimen yang tidak merata ini akan membentuk
kemiringan yang landai dari tanggul alam. Daerah di belakang tanggul alam dicirikan oleh drainase yang jelek
dan air tidak dapat mengalir kembali ke sungai, sehingga terbentuk rawa-rawa yang disebut back swamp.
Cabang-cabang sungai yang terbentuk sejajar dengan sungai utama dan memotong tanggul alam disebut
dengan yazzo tributaries.
AIR TANAH
Walaupun jumlah air tanah hanya sekitar satu persen dari jumlah air yang menyusun bumi kita ini,
tetapi jumlahnya sangat besar. Diperkirakan jumlah air tanah pada kerak bumi sampai kedalamam 899 meter
sekitar 3000 kali lebih besar dari jumlah volume air yang berada pada semua sungai, dan sekitar 20 kali dari
jumlah volume air yang terdapat pada semua danau dan sungai.
Di beberapa bagian di dunia ini air yang berasal dari tanah tidak hanya digunakan untuk mencukupi
kebutuhan hidup manusia, tetapi juga digunakan untuk pertanian dan indutri. Di Indonesia pemanfaatan
airtanah ini dikelola oleh instansi dibawah Departemen Pekerjaan Umum. Instansi tersebut adalah Proyek
Pengembangan Air Tanah (P2AT). Instansi inilah yang berusaha mengembangkan pemanfaatan air tanah
untuk pertanian terutama pada lahan pertanian yang belum dicapai atau dialiri oleh air dari segi irigasi teknik.
Selain itu airtanah juga merupakan media yang sangat penting dari proses erosi seperti aliran air
permukaan. Proses erosi yang dilakukan airtanahlah yang membentuk gua-gua di dalam tanah dan
kenampakan lain yang berhubungan dengan gua tersebut.
Penyebaran Airtanah
Air hujan sebagian akan menjadi air permukaan, sebagian akan menguap, dan sebagian lagi akan
meresap ke dalam tanah menjadi airtanah. Sumber airtanah yang berasal dari peresapan air hujan ini disebut
air meteorik. Jumlah air hujan yang meresap ke dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu

kemiringan topografi, sifat batuan, intensitas hujan dan tipe serta jumlah vegetasi yang terdapat pada daerah
tersebut. Air hujan yang turun pada daerah kemiringan lereng yang terjal dan disusun oleh batuan yang kedap
air (impermeable), sebagian besar airnya menjadi air permukaan (run off). Sedangkan air hujan yang turun
pada daerah yang landai dengan batuan yang tidak kedap air (permeable), sebagian besar airnya akan
meresap kedalam tanah menjadi airtanah.
Air yang meresap kedalam tanha sebagian akan tertahan oleh partikel-partikel tanah dan akan
menguap kembali ke atmosfer, sebagian akan diserap oleh tumbuhan dan sebagian lagi akan terus meresap ke
bawah sampai pada suatu zona dimana pori-pori dari tanah seluruhnya terisi oleh air. Zona tersebut disebut
zona yang jenuh air atau zona saturasi (zone of saturation). Air yang terdapat dalam zona ini disebut
airtanah. Batas teratas dari zona yang jenuh air ini disebut muka airtanah (water table). Daerah di atas muka
airtanah, dimana tanah, sedimen atau batuannya tidak jenuh air disebut zone of aeration. Pada zona ini
rongga antar butiran terisi oleh udara.
Sumber Airtanah
Airtanah berasal dari bermacam sumber. Airtanah yang berasal dari peresapan air permukaan
disebut air meteorik (meteroic water). Selain berasal dari air permukaan, airtanah dapat juga berasal dari air
yang terjebak pada waktu pembentukan batuan sedimen. Airtanah jenis ini disebut air konat (connate
water). Aktivitas magma di dalam bumi dapat membentuk airtanah, karena adanya unsur hidrogen dan
oksigen yang menyusun magma. Airtanah yang berasal dari aktivitas magma ini disebut dengan air juvenil
(juvenile water). Dari ketiga sumber airtanah tersebut air meteorik merupakan sumber airtanah yang terbesar.
Muka Airtanah (Water Table)
Muka airtanah merupakan kenampakan yang sangat penting bagi airtanah, terutama untuk
memperkirakan produktivitas dari suatu sumur, menerangkan tentang aliran sungai dan mata air, dan
menentukan fluktuasi dari air di danau dan sungai.
Meskipun muka airtanah tidak dapat diketahui secara langsung tetapi kedudukannya dapat
dipelajari dan dipetakan pada daerah yang mempunyai banyak sumur, karena muka airtanah di sumur
merupakan batas paling atas dari zona yang jenuh air. Muka air tanah biasanya merupakan pencerminan dari
keadaan topografinya. Di daerah rawa muka airtanah akan tinggi, dan akan turun ke bawah pada daerah yang
rendah (gambar 1). Di daerah rawa muka airtanah tepat berada di permukaan. Sedangkan muka airtanah yang
berada di atas permukaan akan membentuk danau atau sungai. Kedudukan muka airtanah sangat bervariasi
tergantung pada jumlah curah hujan dan permeabilitas dari tanah dan batuan penyusunnya.
Hubungan antara muka airtanah dengan sungai yang mengalir pada daerah yang basah (humid)
digambarkan pada gambar 2. Sungai yang airnya disuplai oleh airtanah, sehingga sungai tersebut tetap berair
pada musim kemarau, disebut sungai effuent. Sebaliknya di daerah kering (arid) dimana muka airtanah
sangat dalam, airtanah tidak dapat mensuplai aliran air sungai. Hanya sungai permanen di daerah ini yang
berasal dari daerah bawah yang kemudian mengalir ke daerah kering. Pada kondisi yang demikian, zona
saturasi yang berada di bawah lembah sungai akan disuplai oleh air sungai, sehingga muka airtanah di bawah
lembah ini akan cembung ke atas. Sungai demikian disebut dengan sungai influen.

Gambar 1. Beberapa kenampakkan kedudukan muka airtanah

Gambar 2. Tipe sungai yang didasarkan pada kedudukan muka airtanah terhadap sungai
Pergerakan Airtanah
Aliran airtanah sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Airtanah mengalir dari muka airtanah yang
tinggi ke muka airtanah yang rendah, yaitu menuju lembah sungai, danau atau mata air. Meskipun
kebanyakan airtanah mengalir ke tempat yang rendah sesuai dengan kemiringan muka airtanah, tetapi
sebagian airtanah mengalir melalui jalur yang melengkung ke daerah tersebut di atas. Pada gambar 3, terlihat
sebagian airtanah meresap ke sungai dari segala arah. Ada juga aliran yang melengkung ke atas berlawanan
arah dengan gaya gravitasi. Aliran tersebut disebabkan oleh perbedaan ketinggian muka airtanah yang
menyebabkan perbedaan tekanan pada airtanah tersebut. Hal ini dapat dikatakan bahwa airtanah di daerah
perbukitan berada pada tekanan yang lebih tinggi daripada airtanah yang berada di lembah sungai, sehingga
airtanah bergerak ke daerah yang bertekanan rendah. Jadi aliran yang berbentuk garis melengkung di zona
saturasi merupakan perpaduan antara gaya gravitasi dan kecenderungan air untuk mengalir ke tempat yang
tekanannya lebih rendah.

Gambar 3.

Arah pergerakan airtanah pada material yang permeabilitasnya seragam.

Keadaan material bawah tanah sangat mempengaruhi aliran dan jumlah airtanah. Jumlah airtanah
yang dapat disimpan dalam batuan dasar, sedimen dan tanah, sangat tergantung pada porositas bahan tersebut.
Porositas merupakan jumlah atau persentase pori atau rongga dalam total volume batuan atau sedimen. Selain
pori atau rongga antar butiran, rongga di dalam batuan dapat juga terbentuk karena adanya kekar dan sesar,
atau karena pelarutan batuan seperti yang sering terbentuk pada batugamping.
Porositas suatu material sangat bervariasi, sedimen pada umumnya mempunyai porositas antara
10% sampai 50%. Besarnya porositas sangat tergantung pada bentuk dan ukuran butir, susunan butiran,
derajat sortasi dan derajat batuan sedimen. Sebagai contoh, lempung dapat mempunyai porositas samapi 50%,
sedang material yang disusun oleh gravel mempunyai porositas 20%. Pada batuan yang disusun oleh ukuran
butir yang sangat bervariasi (sortasinya jelek), porositasnya akan turun, sebab butiran yang halus akan
mengisi rongga diantara butiran yang kasar. Batuan beku dan metamorf, dan juga sebagian batuan sedimen
yang disusun oleh mineral yang saling tumbuh dan mengikat, porositasnya sangat kecil. Porositas yang besar
pada batuan semacam ini disebabkan oleh adanya rekahan-rekahan pada batuan tersebut.
Selain porositas, sifat fisik batuan lainnya yang mempengaruhi jumlah airtanah adalah
permeabilitas. Permeabilitas merupakan kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan atau meloloskan
air. Airtanah mengalir melalui rongga-rongga yang kecil. Semakin kecil rongganya, semakin lambat
alirannya. Jika rongganya sangat kecil, akibatnya molekul air tersebut akan tetap tinggal. Kejadian semacam
ini terjadi pada lempung. Meskipun lempung mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menyimpan air,
tetapi karena porinya sangat kecil, maka air tidak dapat bergerak atau mengalir. Lapisan atau batuan yang

disusun oleh material lempung yang tidak dapat melewatkan air disebut lapisan kedap air (impermeable)
dan disebut lapisan aquiclude. Sebaliknya batuan yang disusun oleh material kasar seperti batupasir atau
kerakal yang mempunyai pori yang besar, airtanah akan mengalir dengan mudah. Batuan permeabel semacam
ini yang dapat mengalirkan airtanah dengan mudah disebut aquifer.
Mataair (Spring)
Mataair (spring) merupakan airtanah yang muncul kepermukaan. Munculnya airtanah
kepermukaan dapat disebabkan oleh bermacam faktor, diantaranya adalah terpotongnya muka airtanah oleh
topografi atau sesar, atau karena adanya perbedaan sifat fisik batuan. Oleh karena itulah masa air banyak
dijumpai pada daerah pegunungan, karena pada daerah dengan topografi tinggi banyak yang muka airtanah
yang terpotong oleh topografi. Pada gambar 1, terlihat bagaimana suatu mataair terbentuk oleh perbedaan
sifat batuan. Lapisan kedap air yang terdapat di atas muka airtanah, akan menghalangi aliran air yang meresap
ke dalam tanah, sehingga akan terbentuk suatu zona saturasi diatas lapisan kedap air tersebut. Pada zona
saturasi tersebut akan terbentuk muka airtanah yang terjebak (perched water table). Karena airtanah tersebut
tidak dapat mengalir secara vertikal, maka aliran airtanah tersebut akan mendatar, dan akan membentuk
mataair bila alirannya terpotong oleh topografi.
Sumur Bor (Well)
Salah satu pemanfaatan airtanah oleh manusia dilakukan dengan cara melakukan pemboran sampai
ke zona saturasi yang biasanya disingkat dengan sumur bor (well). Kegiatan semacam ini sudah dilakukan
sejak berabad lalu dan sampai sekarang masih merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan airtanah.
Sekarang ini pemanfaatan airtanah bukan saja untuk kebutuhan manusia sehari-hari, tetapi juga untuk
pengairan atau irigasi.
Muka air laut selalu mengalami fluktuasi tergantung musim. Pada musim kering muka airtanah
turun, sedangkan pada musim hujan muka airtanah akan naik. Untuk menjaga agar sumur bor dapat selalu
mensuplai air, maka pemboran harus dilakukan beberapa meter di bawah muka airtanah. Pada waktu
dilakukan pemompaan akan terjadi penurunan muka airtanah disekitar sumur yang berbentuk kerucut yang
disebut cone of depression. Bila pemompaan dilakukan dalam jumlah yang sangat berlebihan, maka akan
terjadi penurunan muka airtanah yang meliputi daerah yang sangat luas. Kejadian ini dapat mempengaruhi
sumur-sumur bor launnya yang lebih dangkal. Untuk menghindari hal tersebut, maka pemompaan airtanah
harus disesuaikan dengan debit dan suplai airtanahnya.
Sumur Artesis
Istilah artesis digunakan untuk airtanah yang muncul kepermukaan dengan tekanannya sendiri.
Kondisi demikian dapat terjadi apabila lapisan aquifer yang miring terletak diantara dua lapisan kedap air,
sehingga salah satu sisinya muncuk dipermukaan dan suplai airtanah dapat terjadi. Airtanah yang terdapat di
dalam aquifer semacam ini disebut airtanah tertekan (confined grounwater). Karena tekanan airtanah yang
terdapat diatasnya, maka air akan naik. Bila tidak ada hambatan, maka airtanah tersebut akan memancarka
sampai ketinggian airtanah pada puncak aquifer. Adanya hambatan menyebabkan turunnya permukaan
tekanan. Semakin jauh dari daerah suplai air (discharge area), hambatan semakin besar, dan kenaikan air
semakin kecil. Pada gambar 4, sumur 1 merupakan sumur artesis negatif, karena ditempat ini permukaan
tekanan dibawah permukaan tanah. Jika permukaan tekanan berada diatas permukaan tanah, maka sumur
yang di bor sampai aquifer (sumur 2), merupakan sumur artesis positif.

Gambar 4.

Pembentukan sumur artesis yang tipenya sangat dipengaruhi oleh batas tekanan airtanah.

Mata Air Panas (Hot Spring)


Mata air panas adalah mata air yang temperatur airnya sekitar 6 o 9o C diatas temperatur rata-rata
disekitar mata air tersebut. Pada umumnya mata air panas muncul di daerah gunung api. Airtanah yang
mempunyai sirkulasi pada tempat yang sangat dalam akan menjadi panas karena adanya gradient geotermal,
yaitu perubahan temperatur bumi karena bertambahnya kedalaman. Tiap daerah mempunyai gradient
geotermal yang berbeda-beda. Pada umumnya di Indonesia besarnya gradien geotermal adalah 3 o per 100
meter. Artinya setiap masuk sampai kedalaman seratus meter temperatur akan naik sekitar 3 oC. Di daerah
volkanik angka ini akan bertambah besar, karena besar aktivitas magma di daerah ini. Bila airtanah pada
daerah semacam ini muncul dipermukaan, maka akan terbentuk juga mata air panas.
Geyser
Geyser merupakan mata air panas yang pada waktu-waktu tertentu memuncratkan airnya dengan
tekanan yang besar. Semburan airnya sangat bervariasi, kadang sampai 30 60 meter. Setelah air kemudian
disemburkan udara panas yang disertai dengan suara yang bergemuruh.
Geyser terjadi karena airtanah dipanaskan di dalam suatu rongga di bawah tanah. Pada dasar
rongga tersebut air berada pada tekanan yang besar karena berat dari air yang berada diatasnya. Akibatnya
titik didihnya naik menjadi lebih dari 100 oC. Karena pemanasan ini air mengembang, dan sebagian mengalir
keatas. Penurunan tekanan ini menyebabkan air dengan cepat berubah menjadi uap air, dan menyebabkan
terjadinya erupsi air panas.
Airtanah dari mata air panas dan geyser biasanya mengandung banyak material terlarut daripada
airtanah biasa, karena air panas mempunyai sifat lebih mudah melarutkan. Apabila airnya banyak
mengandung silika, maka akan terbentuk endapan geyser disekitar mata air. Bila banyak mengandung
karbonat, maka akan terbentuk travertin, yang merupakan karakteristik mata air panas di daerah batugamping.
Beberapa mata air panas banyak mengandung sulfur, yang menyebabkan rasa dan baunya tidak enak.
Energi Panas Bumi (Geotermal)
Beberapa geyser merupakan tempat yang potensial untuk terkumpulnya energi geotermal, yaitu tiap
air alam yang digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik. Beberapa negara seperti Selandia Baru, Italia,
Rusia, Meksiko, Amerika Serikat dan juga Indonesia, telah memanfaatkan energi tersebut sebagai tenaga
listrik. Beberapa faktor geologis yang menyebabkan resevoir geotermal mempunyai nilai ekonomis antara lain
:
1.
Ada sumber panas yang potensial, seperti dapur magma yang besar. Dapur magma ini harus cukup
dalam sehingga mempunyai tekanan yang cukup besar dan pembekuan magma relatif lambat, tetapi
tidak terlalu dalam untuk sirkulasi airtanah. Dapur magma semacam ini umumnya terdapat di daerah
sekitar aktivitas gunung api.
2.
Ada batuan reservoir yang besar dan porous tempat tersimpannya uap air hasil dari pemanasan sirkulasi
airtanah oleh panas dari magma.
3.
Ada lapisan penutup (cap rock) yang disusun oleh batuan kedap air supaya uap air yang tersimpan tidak
lepas kemana-mana.
Indonesia juga merupakan daerah dengan aktifitas gunung api sangat besar, mempunyai potensi
energi geotermal sangat besar. Beberapa diantaranya telah dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik
yang disebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, yaitu di Kamojang dan Gunung Salak (Jawa
Barat), Dieng (Jawa Tengah) dan Lahendong (Sulawesi Utara), sedang di daerah lainnya masih taraf
eksplorasi. Beberapa kesulitan pemanfaatan energi panas bumi ini adalah kebanyakan tempat-tempat dengan
aktifitas magma yang besar juga merupakan tempat-tempat dengan kegempaan yang besar juga.
Proses Geologi Oleh Airtanah
Proses erosi atau pengikisan batuan penyusun kerak bumi selain dilakukan oleh air permukaan juga
dapat dilakukan oleh airtanah. Proses erosi yang terutama dilakukan oleh airtanah adalah pelarutan batuan.

Karena proses pelarutan inilah mengakibatkan komposisi kimia airtanah sangat tergantung pada unsur-unsur
yang terlarut didalamnya.
Batuan yang mudah larut seperti seperti batugamping mempunyai penyebaran yang luas pada
permukaan bumi. Pada daerah inilah airtanah memegang peranan penting sebagai media erosi. Batugamping
merupakan batuan yang mudah larut dalam air yang mengandung asam karbonat. Kebanyakan air di alam
mengandung asam tersebut, karena air hujan melarutkan karbon dioksida yang terdapat di atmosfer dan dari
pembusukan tumbuhan. Bila airtanah bersentuhan dengan batugamping, akan terjadi reaksi antara kalsit
dengan asam karbonat yang membentuk kalsium bikarbonat, yang mudah larut dan ditransport oleh airtanah.