Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI

MATERI KULTUR ORGAN

Nama
NIM
Kelompok
Asisten

: Fadhilah Roviyanti
: 125040201111204
: Kamis 2, 13.20-15.00
: Muhammad Yasin

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Bioteknologi kultur merupakan salah satu
cara untuk menghasilkan varietas baru yang lebih
unggul. Kultur jaringan merupakan hal yang berkaitan
dengan bahan bahan kimia untuk mendukung
teknologi pemuliaan. Ada bermacam macam cara
kultur jaringan, salah satunya adalah dengan kultur
organ.
kultur organ dimulai dengan bagian yang terorganisir
dari suatu tanaman, tetapi yang paling sering digunakan
adalah bagian tunas. Proses kultur organ ini bertujuan
untuk menjaga keadaan agar tetap steril sambil
mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan ke arah
perbanyakan dan regenerasi tanaman baru yang
lengkap.
Arah perkembangan eksplan dalam kultur in-vitro
dikontrol oleh ratio zat pengatur tumbuh auksin dan
sitokinin. Ratio auksin sitokinin yang relatif tinggi akan
menginduksi pembentukan akar, sementara ratio yang
rendah
akan
memacu
pembentukan
tunas.
Pembentukan
tunas
yang
didahului
dengan
terbentuknya kalus disebut organogenesis tak langsung.
Sedangkan bila pembentukan tanpa kalus disebut
organogenesis langsung. Organogenesis dalam kalus
diinisiasi dengan pembentukan kelompok sel-sel
meristematik yang mampu merespon faktor-faktor yang
dapat menghasilkan primordium. Tergantung pada sifat
faktor internal, stimulus dapat menginisiasi akar, tunas
atau embrioid. Inisiasi tunas atau kaulogenesis dalam
jaringan tanaman yang dikultur dapat di induksi dalam

beberapa sistem dengan keseimbangan yang sesuai


dari auksin dan sitokinin eksogen.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana teknik dan cara
melakukan kultur organ.
Untuk mengetahui tahapan-tahapan dan proses
dalam megkultur organ.
Untuk
Mengetahui
dan
dapat
melakukan
perbanyakan tanaman khususnya pada tanaman
krisan dan mawar melalui teknik kultur organ.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Syarat Eksplan dalam Kultur Jaringan
Eksplan adalah bagian dari tanaman yang
digunakan dalam kulturisasi. Eksplan ini menjadi bahan
dasar bagi pembentukan kalus (bentuk awal calon tunas
yang kemudian mengalami proses pelengkapan bagian
tanaman, seperti daun, batang dan akar). Sebagian
eksplan sebaiknya dipilih pucuk muda tanaman dewasa
yang diketahui asal usul dan varietasnya, tidak terinfeksi
penyakit, dan jenisnya unggul.
(Ferdinand P, 2010)
2.2 Faktor Penentu Keberhasilan Kultur Jaringan
Agar berhasil dengan baik ketika akan
melakukan kultur jaringan, terdapat beberapa syarat
yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
a) Pemilihan eksplan
Eksplan adalah bagian dari tanaman yang digunakan
dalam kulturisasi. Eksplan ini menjadi bahan dasar
bagi pembentukan kalus (bentuk awal calon tunas
yang kemudian mengalami proses pelengkapan
bagian tanaman, seperti daun, batang dan akar).
Sebagian eksplan sebaiknya dipilih pucuk muda
tanaman dewasa yang diketahui asal usul dan
varietasnya, tidak terinfeksi penyakit, dan jenisnya
unggul.
b) Penggunaan media yang cocok
Media yang cocok memengaruhi pertumbuhan
eksplan yang telah ditanam untuk menjadi plantet
(tanaman kecil). Media yang baaik, harus memenuhi
syarat nutrisi yang diperlukan eksplan untuk tumbuh

dan berkembang. Oleh karena itu, di dalam media


kultur jaringan ditambahkan berbagai macam
mineral, vitamin, sumber karbohidrat, dan zat
pengatur tumbuh (hormon).
c) Keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang
baik
Semua tahapan yang dilakukan dalam kultur jaringan
harus dilakukan secara aseptik. Hal ini guna
menghindari kontaminasi oleh jamur maupun bakteri.
Oleh karena itu, sterilisasi eksplan ke dalam medium
dilakukan di dalam laminar air flow cabinet untuk
mencegah kontaminasi. Penyimpanan kultur juga
harus di dalam ruangan dengan suhu, pencahayaan,
dan pengaturan udara yang baik.
(Ferdinand P, 2010)
2.3 Tahap Kultur Jaringan
a) Penyiapan Media
Media yang digunakan untuk menumbuhkan eksplan
harus steril. Dalam media harus tersedia empat
komponen penting, yaitu:
1) Sumber karbon, biasanya gula tebu,
2) Hara makro (makronutrien)
3) Hara mikro (mikronutrien),
4) Vitamin dan hormon tumbuh, dan
5) Agar sebagai pemadat (untuk media padat)
Setiap tumbuhan memiliki kebutuhan hara,
vitamin, dan hormon yang berbeda. Saat ini, upaya
menemukan formula khusus untuk setiap jenis
tumbuhan (media yang spesifik) terus dikembangkan,
walaupun hal itu tidak mudah untuk dilakukan.
Berbagai macam jenis media tumbuh telah
ditemukan. Beberapa di antaranya bersifat spesifik untuk
satu jenis tanaman da nada juga yang bersifat umum

untuk berbagai macam tanaman. Salah satu media


tumbuh yang paling banyak digunakan adalah medium
MS (Murashige and Skoog).
b) Sterilisasi Eksplan
Eksplan atau bahan tanam yang hendak
ditumbuhkan dalam botol kultur harus disterilkan terlebih
dahulu. Bahan eksplan dicuci dengan detergen lalu
dibilas bersih kemudian disterilisasi dengan cara dibakar
sesaat atau direndam dalam larutan desinfektan.
Selanjutnya, bahan eksplan dibilas dengan air steril
beberapa kali. Bahan eksplan siap untuk dikultur.
c) Penanaman Eksplan
Setelah bahan eksplan disterilkan dan dipotongpotong, eksplan ditanam dalam botol kultur. Pemotongan
eksplan dilakukan dalam ruang kultur yang steril dan
dengan alat-alat yang steril pula.
d) Inkubasi dan Perkembangan Eksplan
Botol-botol kultur yang telah ditanami eksplan
kemudian dipindahkan ke ruang inkubasi atau ruang
pertumbuhn. Pada ruang ini, diberikan penyinaran terusmenerus dengan suhu ruang yang stabil (lebih kurang
20C). Bila media cocok, maka akan terjadi tahapan
perkembangan sebagai berikut.
1) Eksplan mulai membentuk kalus (tahap inisiasi),
2) Kalus terus tumbuh (tahap poliferasi sel), dan
3) Kalus mulai membentuk akar atau tunas (tahap
organogenesis)
Kalus adalah kumpulan sel yang tidak teratur dan
belum
berkembang
menjadi
jaringan
(tidak
terdiferensiasi). Kalus seperti onggokan sel berwarna
putih kehijauan atau kecokelatan.

Setelah beberapa minggu, dari bagian kalus


akan muncul tunas pucuk dan akar. Selanjutnya, untuk
memperbanyak tunas dapat dilakukan dengan
melakukan subkultur untuk merangsang perbanyakan
tunas. Tahap inilah yang disebut tahap multiplikasi tunas.
e) Aklimitisasi
Setelah dihasilkan tanaman kecil (plantet) yang
cukup kuat untuk tumbuh, plantet siap dikeluarkan,
dipisahkan dan ditanam pada pot-pot penanaman.
Selanjutnya, pot dipindahkan ke green house agar
terjadi proses penyesuaian secara bertahap pada
kondisi alam (aklimatisasi). Selanjutnya, setelah
tanaman kuat dan dapat beradaptasi dengan keadaan
sekitarnya, lalu dipindahkan ke lahan perkebunan.
(Prasodjo, 2007)
2.4 Jenis Kontaminasi Media
Adapun kontaminasi yang sering terjadi pada
kultur jaringan tanaman terdiri atas dua jenis yaitu
kontamiasi oleh bakteri dan kontaminasi oleh jamur.
Untuk membedakan kedua jenis kontaminasi ini, dapat
dilihat dari ciri-ciri fisik yang muncul pada eksplan
maupun media kultur. Bila terkena kontaminasi bakteri
maka tanaman akan basah atau menyebabkan adanya
lendir, hal ini dikarenakan bakteri langsung menyerang
terhadap jaringan dari tubuh tumbuhan itu sendiri.
Sedangkan bila terkontaminasi oleh jamur, tanaman
akan lebih kering dan akan muncul hifa jamur pada
tanaman yang terserang dan biasanya dapat dicirikan
dengan adanya garis garis (seperti benang) yang
berwarna putih sampai abu abu. Penyebab terjadinya
kontaminasi bisa diakibatkan karena kesalahan pada

saat penanaman, saat sterilisasi media dan eksplan atau


bahkan pada saat pembuatan media.
(Wardiyanti, 1998)
2.5 Pengaruh Media Terhadap Pertumbuhan Eksplan
Salah satu faktor yang juga berperan penting
dalam menentukan keberhasilan kegiatan kultur jaringan
adalah media tanam. Media tanam merupakan tempat
tumbuh
untuk
tumbuhnya
eksplan.
Menurut
Soerianegara (1994) diacu dalam Hidayat (2009) media
tanam dalam kultur jaringan tumbuhan dibedakan
menjadi dua yaitu media dasar dan media perlakuan.
Bentuk media tanam yang digunakan dalam kultur
jaringan ada 3 yaitu media tanam bentuk padat, semi
padat dan cair. Pada umumnya, media dasar yang
sering digunakan adalah media dasar Murashige dan
Skoog (MS, 1962). Menurut Acquaah (2004) media
kultur jaringan mengandung komponen yang dapat
dikategorikan menjadi empat kelompok yaitu unsur
mineral, senyawa organik, zat pengatur tumbuh dan
sistem penyokong, dengan uraian sebagai berikut :
1. Unsur mineral terdiri dari unsur makronutrien dan
unsur mikronutrien. Adapun unsur-unsur yang
terdapat pada unsur makronutrien terdiri dari
nitrogen-NO3,
NH4,
fosfor-P,
potassium-K.
Sedangkan unsur mikronutrien terdiri dari Ca, Mg,
Cl, Fe, S, Na, B, Mn, Zn, Cu, Mo,Co, I.
2. Senyawa organik menyediakan sumber karbon dan
faktor-faktor lain untuk mendukung pertumbuhan.
Pada umumnya, senyawa organik terdiri dari gula,
vitamin, dan myo-inositol.
3. Zat pengatur tumbuh pada tanaman sama dengan
hormon pertumbuhan pada hewan. Zat pengatur
tumbuh ini digunakan atau dicampurkan ke dalam

media. Adapun contoh senyawa zat pengatur


tumbuh yang umum digunakan yaitu auksin,
sitokinin, dan giberelin. Auksin berfungsi untuk
mendukung terjadinya pertumbuhan akar. Contoh
dari auksin alami yang umum digunakan yaitu indole3-acetic-acid (IAA), indole-3-butyric-acid (IBA), dan
contoh auksin sintetik yaitu naphtalene acetic acid
(NAA), 2,4-dichlorophenoxyacetic cid (2,4-D).
Sitokinin berfungsi untuk mendukung terjadinya
pertumbuhan tunas, contohnya yaitu zeatin (alami),
benzyladenine 9 (BA) dan kinetin (sintetik).
Sedangkan giberelin berfungsi untuk mendukung
pertumbuhan batang dan pembungaan, contohnya
GA3dan GA4+7.
4. Sistem penyokong dalam kultur jaringan yakni media
kultur jaringan
(Probowati, 2011)
2.6 Tahapan Pertumbuhan Eksplan
1. Tahap Inisiasi
Tahap inisiasi adalah tahap pengambilan tunas
(eksplan)
dari
tanaman
induk,
selanjutnya
disterilisasi dan ditanam di dalam medium steril yang
sesuai untuk pertumbuhan awal eksplan tersebut.
Eksplan ini akan tumbuh menjadi tunas baru yang
disebut plantet.
2. Tahap Multiplikasi
Pada tahap multiplikasi, pertumbuhan tunas plantet
hasil inisiasi dirangsang. Proses perangsangan ini
disebut
multiplikasi.
Cara
perangsangan
pertumbuhan tunas ini adalah dengan memotong
plantet tersebut kemudian memindahkan ke media
kultur yang baru.
3. Tahap Perakaran

Setelah melalui tahapan multiplikasi dan dihasilkan


dalam jumlah tertentu, terhadap plantet-plantet
tersebut dilakukan induksi perakaran.
(Tini, 2008)

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat, Bahan dan Fungsi
Alat :
Pinset : Untuk mengambil benda berukuran kecil.
Skalpel : Untuk memotong bahan.

Petridish : Sebagai wadah / tempat membuang


carrier.
LAFC : Tempat melakukan kultur.
Sprayers :Untuk menyemprotkan larutan.
Matapisau : Untuk memotong ujung organ.
Gelas Ukur 400 ml : Untuk meletakkan larutan.
Botol Kultur : Sebagai tempat media.
Saringan : Untuk menyaring larutan.
Spatula : Untuk mengambil media kultur.
Bunsen: Untuk mensterilkan media dan untuk
menghindari kontaminasi alat.
Bahan:
Tunas Krisan : Sebagai tanaman yang akan di kultur.
Deterjen : Untuk membersihkan bahan dari kotoran.
Bayclean : Untuk memutihkan bahan kultur.
Aquades : Untuk pencampuran bahan
Fungisida : Untuk mencegah tumbuhnya jamur.
Etanol (C2H5OH) 70%: Sebagai bahan dalam media
kultur organ. Dan juga untuk mensterilkan bahan
kultur agar tidak terjadi kontaminasi dari bakteri dan
jamur.

3.2 Cara Kerja


a) Sterilisasi eksplan
Ambil eksplan

Gojok dengan detergen 10% selama 5 menit

Bilas dengan air mengalir

Rendam dengan Clorox 30%, gojok selama 10 menit

Bilas dengan air mengalir


Rendam dengan fungisida 5% selama 5 menit
Bilas dengan aquades steril simpan di LAFC
b) Penanaman eksplan
Ambil pinset dan dekatkan dengan api untuk sterilisasi
Ambil eksplan dan letakkan pada cawan petri 1
Ambil pisau dan letakkan dengan api untuk sterilisasi
Potong ujung bawah dan atas eksplan
Ambil botol kultur dan dekatkan tepi mulut botol ke api

Tanam eksplan pada media

Ambil botol kultur dan dekatkan tepi mulut botol ke api

Tutup dengan plastik dan ikat dengan karet, usahakan


rapat
3.3 Analisis Perlakuan
Pada penanaman hal pertama yang dilakukan
adalah sterilisasi eksplan. Ambil kurang lebih 10 eksplan
lalu gojok dengan detergen 10% selama 5 menit.
Kemudian bilas eksplan pada air mengalir. Setelah itu
gojok lagi dengan Clorox 30% selama 15 menit dan bilas
pada air mengalir. Kemudian gojok dengan fungisida 5%
selama 5 menit dan bilas dengan aquades steril. Setelah
itu simpan pada LAFC. Kemudian pada LAFC lakukan
penanaman. Ambil pinset dan bakar pada api untuk
sterilisasi. Ambil eksplan dan letakkan pada cawan petri
kosong. Kemudian ambil pisau dan bakar pada api agar
steril kemudian potong eksplan pada bagian atas dan
bawah nodul. Ambil botol kultur jaringan yang telah berisi
media tanam lalu dekatkan tepi mulut botol eksplan agar
steril. Tanam eksplan pada media dan dekatkan pada
api lagi. Lalu tutup dengan plastik dan ikat dengan karet
secara rapat.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil (10 Botol)
N
o

Botol kultur
ke+

Dokumentas
i

Kondisi eksplan
Kontaminan/tida

keteranga
n

tanggal
pengamata
n
Botol kultur
ke 1
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 2
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 3
3
Desember
2013

k kontaminan

Botol kultur
ke 4
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 5
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 6
3
Desember

Kontaminan

Tidak
kontaminan

Kontaminan

Jamur

Tidak
Kontaminan

Jamur,
browning

Tidak
kontaminan

Kontaminan

Bakteri

10

11

2013
Botol kultur
ke 7
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 8
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 9
3
Desember
2013
Botol kultur
ke 10
28
November
2013
Botol kultur
ke 1
25
November
2013

Kontaminan

Bakteri

Kontaminan

Jamur

Kontaminan

Jamur

Kontaminan

Jamur

Kontaminan

Jamur

4.2 Pembahasan (Bandingkan dengan Literatur)


Salah
satu
indikator
keberhasilan
dalam
pembuatan media kultur jaringan tanaman yang baik
adalah tingkat kontaminasi media yang kita buat.
Semakin sedikit media yang terkontaminasi maka

semakin baik tingkat keberhasilan kita. Autoklaf


merupakan salah satu alat yang penting dalam
pembuatan media kultur jaringan. Autoklaf dapat dipakai
untuk membunuh mikroorganisme seperti bakteri dan
cendawan, sehingga media yang kita buat dapat steril
dari mikroorganisme mikroorganisme tersebut.
(Coleman, 2003).
Kegagalan kultur jaringan dapat dilihat dari warna
media tanamnya. Jika warnanya menjadi keruh seperti
susu, kultur terkontaminasi oleh bakteri. Jika di
permukaan media terlihat lapisan putih atau kelabu
kehitaman media terkontaminasi oleh jamur. Apabila
didiamkan, lapisan ini akan menutupi seluruh permukaan
media. Jika kontaminasi jamur atau bakteri sudah parah,
sebaiknya botol kultur dan tanamnya disterilkan dengan
cara direbus sampai mendidih atau dimasukkan dalam
autoklaf. Setelah itu, dibuang di tempat yang aman.
(Agromedia,2005)
Pada pratikum kelompok kali ini, dari sebelas botol
penanaman, yang berhasil tidak terkontaminasi ada 3
botol, sementara lainnya terkontaminasi. Penanaman
yang saya lakukan termasuk yang kontaminasi. Pada
pengamatan pertama dan kedua belum terjadi
kontaminasi, namun saat pengamatan ke tiga dan empat
kontaminasi tersebut timbul.
Kontaminasi ini dapat disebabkan adanya
kontaminasi terlebih dahulu pada media tanam, dapat
pula disebabkan saat bahan tanam sudah disterilisasi
eksplan tidak langsung ditanam sehingga terkontaminasi
dengan udara luar. Selain itu dapat pula disebabkan saat
proses penanaman pemotongan eksplan tidak benarbenar terpotong dengan baik.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Terdapat beberapa faktor yang mempengruhi
keberhasilan penanaman eksplan, yaitu pemilihan
eksplan, media yang cocok, kondisi yang aseptik dan
kondisi penyimpanan yang sesuai. Berdasarkan hasil
praktikum diperoleh hasil dari 11 eksplan yang ditanam,
8 diantaranya terkontaminasi. Botol yang terkontaminasi
kemungkinan berasal dari alat-alat yang kurang steril
atau praktikan yang membawa kontaminan saat
melakukan penanaman eksplan.
5.2 Saran
Praktikum sudah berjalan dengan baik dan
lancar. Asisten praktikum sudah menguasai materi
dengan baik. Harapan saya agar lebih baik lagi dalam
pelaksanaan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Agromedia. 2005. Anggrek: Anda bertanya, Pakar dan
Praktisi menjawab . Jakarta: Redaksi Agromedia
Coleman, J. O. D., Evans, D.E., and Kearns, A. 2003.
Plant Cell Culture . New York: BIOS Scientific
Publishers.
Ferdinand P, Fiktor dkk. Praktis Belajar Biologi. Visindo:
Jakarta
Prasodjo, Budi dkk. 2007. IPA 3. Yudhistira: Jakarta.
Probowati, Dwi Woro N. 2011. Pengaruh Pemberian
Antibiotika Pada Kultur In Vitro Pulai (Alstonia
scholaris (L.) R. Br). Fakultas Kehutanan. IPB
Tini, Ani dan Kahirul Amri. 2008. Mengebunkan Jati
Unggul; Pilihan Investasi Prospektif. Visindo: Jakarta
Wardiyati. 1998. Teknik kultur jaringan tumbuhan. PAU
bioteknologi IPB. Bogor.