Anda di halaman 1dari 15

PELUANG DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ELECTRONIC

COMMERCE PADA DUNIA BISNIS INDONESIA

Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM)


Dosen Pengampu : Dr. Sonny Subroto Maheri Laksono, M.Si.

Disusun oleh :
PEBRI RIAWAN
12.1.02.02.0179
Manajemen 3i

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
2014-2015

Sejalan dengan pesatnya perkembangan bidang teknologi, perusahaanperusahaan makin dipacu untuk menggunakan teknologi yang maju sebagai
senjata untuk tetap survive dan memenangkan persaingan yang kian hari terasa
ketat dan keras. Akhir-akhir ini penggunaan internet yang menjurus kepada
cyberspace kelihatannya akan mendominasi seluruh kegiatan di atas permukaan
bumi di masa kini dan masa datang dan secara umum akan berubah menjadi
alat untuk persaingan antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya. Ini pun
akan membawa dampak yang sangat besar bagi setiap perusahaan. Dampak
pada aspek persaingan adalah terbentuknya tingkat kompetisi yang semakin
tajam. Globalisasi ekonomi juga membuat perubahan menjadi konstan, pesat,
radikal,

serentak,

dan

pervasif.

Sehingga

perusahaan

harus

memiliki

kemampuan yang cepat untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi


sehingga perusahaan akan mampu bersaing dengan para kompetitornya.
Penggunaan teknologi diharapkan dapat memberikan manfaat yang
besar terhadap dunia bisnis yang kompetitif tersebut. Perusahaan yang mampu
bersaing

dalam

kompetisi

tersebut

adalah

perusahaan

yang

mampu

mengimplementasikan teknologi ke dalam perusahaannya. Salah satu jenis


implementasi teknologi dalam hal meningkatkan persaingan bisnis dan penjualan
produk adalah dengan menggunakan electronic commerce (e-commerce) untuk
memasarkan berbagai macam produk atau jasa, baik dalam bentuk fisik maupun
digital. Dalam penggunaan teknologi tersebut, berbagai pihak yang terkait
dengan perusahaan seperti investor, konsumen, pemerintah akan ikut berperan.
Perkembangan dot-com sudah sangat mempengaruhi berbagai segi
bidang

dalam

kehidupan

sehari-hari,

internet

dapat

dikatakan

telah

mempengaruhi cara berbisnis, baik apakah itu dari segi mendapatkan


pendapatan, mendapatkan pelanggan, atau mungkin juga dalam mengatur /
1

manajemen alur produk. E-commerce menjadi hal yang menarik perhatian,


memungkinkan menjalankan bisnis untuk menjual produk dan layanan ke
pelanggan secara global. Dapat dikatakan, e-commerce merupakan sebuah
platform dengan metode yang baru dalam menjual dan mendistribusikan produk
dan layanan yang inovatif secara elektronik.
Peluang serta tantangan implementasi e-commerce pada dunia bisnis
Indonesia ini menjadi sudut pandang penulis yang dijadikan sebagai topik
pembahasan. Melihat kenyataan bahwa penerapan teknologi e-commerce
merupakan salah satu faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan dari
bisnis sebuah perusahaan. Untuk mempercepat dan meningkatkan penjualan
maka dengan melihat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat
tersebut kita dapat memanfaatkan suatu layanan secara online yang berupa ecommerce. Namun di samping itu tak dapat dipungkiri pasti ada tantangan yang
harus dihadapi oleh para pelaku bisnis dengan penerapan e-commerce ini.
Electronic Commerce
Electronic Commerce (e-commerce) merupakan konsep baru yang bisa
digambarkan sebagai proses jual beli barang atau jasa pada World Wide Web
Internet (Shim, Quershi, Siegel, Siegel, 2000 dalam buku M. Suyanto, 11, 2003)
atau proses jual beli atau pertukaran produk, jasa dan informasi melalui jaringan
informasi termasuk internet (Turban, Lee, King, Chung, 2000 dalam buku M.
Suyanto,11, 2003).
E-commerce juga dapat diartikan sebagai suatu proses berbisnis dengan
memakai teknologi elektronik yang menghubungkan antara perusahaan,
konsumen

dan

masyarakat

dalam

bentuk

transaksi

elektronik

dan

pertukaran/penjualan barang, servis, dan informasi secara elektronik (Munir


Fuady, 2005 : 407).
Sedangkan menurut Kalakota dan Whinston (1997) dalam buku M.
Suyanto (2003) mendefinisikan e-commerce dari beberapa perspektif berikut :
1. Perspektif Komunikasi : e-commerce merupakan pengiriman informasi,
produk/layanan, atau pembayaran melalui lini telepon, jaringan computer
atau sarana eletronik lainnya.
2. Perspektif Proses Bisnis : e-commerce merupakan aplikasi teknologi menuju
otomisasi transaksi dan aliran kerja perusahaan.
3. Perspektif Layanan: e-commerce merupakan salah satu alat yang memenuhi
keinginan perusahaan, konsumen dan manajemen dalam memangkas
service cost ketika meningkatkan mutu barang dan kecepatan pelayanan.
4. Perspektif Online: e-commerce berkaitan dengan kapasitas jual beli produk
dan informasi di internet dan jasa online lainnya.
Penggolongan

e-commerce

yang

lazim

dilakukan

orang

ialah

berdasarkan sifat transaksinya. Menurut M. Suyanto (2003) tipe-tipe berikut


segera bisa dibedakan :
1. Business to Business (B2B)
Business to Business e-commerce memiliki karakteristik antar pelaku bisnis
sudah memiliki hubungan cukup lama, melakukan data secara berulang,
menggunakan model peer-to-peer, dan salah satu pelaku dapat melakukan
pengiriman data.
2. Business to Consumer (B2C)
Business to Customer e-commerce memiliki karakteristik terbuka untuk
umum, layanan dibuat berdasarkan permohonan, dan pendekatan client

sering menggunakan sistem yang minimal (berbasis web) dan processing


(business procedure).
3. Consumer to Consumer (C2C)
Dalam C2C, seorang menjual produk atau jasa ke orang lain. Dapat juga
disebut sebagai pelanggan ke pelanggan yaitu orang yang menjual produk
atau jasa ke satu yang lain.
4. Consumer to Business (C2B)
Dalam C2B konsumen memberitahukan kebutuhan atas suatu produk atau
jasa tertentu, dan para pemasok bersaing untuk menyediakan produk atau
jasa tersebut ke konsumen.
5. Non Business E-commerce
Non Business E-commerce atau Government to Citizens (G2C) yaitu
pemerintah menyediakan layanan kepada masyarakat melalui teknologi ecommerce. Pemerintah dapat melakukan bisnis dengan pemerintah lain
(G2G) demikian juga dengan organisasi lain (G2B).
6. Intrabusiness (Organizational) E-commerce
Pada jenis ini, organisasi menggunakan e-commerce untuk meningkatkan
kegiatan operasi organisasinya. Hal ini dikenal juga dengan sebutan
Business to Employee (B2E).

Implementasi E-commerce Di Indonesia


Paradigma baru tentang e-commerce saat ini menjadi tren teknologi
informasi yang digunakan tidak hanya oleh perusahaan-perusahaan besar di
Indonesia, namun juga personal. Tak lain penggunaannya dimaksudkan agar
dapat memperoleh prospek cemerlang khususnya bagi perusahaan. Sehingga
dengan menerapakan apa yang disebut sebagai e-commerce ini meningkatkan
tingkat efisiensi dan efektifitas dari perusahaan itu sendiri. Memperluas
jangkauan dan yang paling penting adalah adanya legitimasi dari publik.
Perkembangan internet di abad ke-20 menyebabkan kelahiran suatu
pasar elektronik atau disebut e-marketplace perdagangan elektronik (ecommerce).

Di

Indonesia

sendiri

pengaruh

dari

sebuah

e-marketplace

menyediakan ruang virtual di mana penjual dan pembeli bertemu satu sama lain
seperti di pasar tradisional. Berbagai jenis transaksi ekonomi seperti membeli
dan menjual barang dan jasa, serta pertukaran informasi dapat dilakukan pada
e-marketplace. E-marketplace telah menjadi tempat alternatif untuk kegiatan jual
beli.
E-commerce sebagai suatu cara untuk melakukan aktifitas perekonomian
dengan infrastruktur internet memiliki jangkauan penerapan yang sangat luas.
Seperti halnya internet, di mana siapapun dapat melakukan aktifitas apapun
termasuk aktifitas ekonomi, e-commerce memiliki segmentasi penerapan yang
luas. Secara garis besar, e-commerce saat ini diterapkan untuk melaksanakan
aktifitas ekonomi business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).
Saat ini, di Indonesia banyak sekali perusahaan-perusahaan yang telah
menerapkan e-commerce. Ini terjadi karena pertumbuhan akan teknologi

informasi khususnya internet begitu pesat di Indonesia. Tentunya ini merupakan


peluang yang bagus bagi para pengusaha untuk mengembangkan usahanya.
Perkembangan e-commerce di Indonesia sendiri telah ada sejak tahun
1996, dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net (www.dnet.net.id)
sebagai perintis transaksi online. Wahana transaksi berupa mall online yang
disebut D-Mall (diakses melalui D-Net) ini telah menampung sekitar 33 merchant.
Produk yang dijual bermacam-macam, mulai dari makanan aksesoris, pakaian,
produk perkantoran sampai furniture.
Salah satu contoh perusahaan lain yang menerapakan e-commerce
adalah Lazada.co.id. Perusahaan Lazada merupakan top online retailer di
Indonesia. Perusahaan ini memberikan kesempatan kepada konsumen untuk
membeli segala jenis produk yang berkaitan dengan elektronik, dekorasi rumah
tangga, hingga produk kesehatan dan kecantikan hanya dengan mengakses
situs web yang telah disediakan. Produk yang dipesan akan diantar ke rumah
konsumen melalui kurir. Pembayaran dapat dilakukan dengan cash on delivery
(COD), debit card, ataupun credit card.
Perusahaan-perusahaan lain yang serupa juga kian hari kian banyak
bermunculan. Selain Lazada.co.id, perusahaan yang menerapkan e-commerce
adalah Tokopedia.com, Bhinneka.com, Zalora.co.id, Tokocamzone.com, dan
masih banyak lagi yang lainnya. Perusahaan-perusahaan tersebut di atas
tentunya tidak semua menjual produk yang sama, melainkan menyediakan
berbagai macam produk berbeda. Misalnya saja Zalora.co.id yang menjual
kebutuhan fashion atau Tokocamzone.com yang menjual berbagai macam
kamera dan aksesorisnya.

Pada umumnya, bentuk penerapan e-commerce pada perusahaanperusahaan di Indonesia berbeda-beda. Ini bergantung kepada tipe e-commerce
yang digunakannya. Setiap perusahaan pasti akan memilih tipe bagaimana yang
akan digunakan dalam kegiatan bisnisnya, apakah business to business (B2B),
customer to business (C2B), business to business (B2C), atau yang lainnya.
Berikut ini adalah salah satu contoh flowchart dari implementasi e-commerce
business to customer (B2C) yang digunakan oleh perusahaan.

Sumber : ewebarchitecture.com
7

Namun dengan banyaknya pengguna internet tak sejalan dengan tingkat


penjualan e-commerce. Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk
terbanyak ke lima di dunia diketahui memiliki jumlah pengakses internet yang
juga cukup banyak. Namun tak disangka hal tersebut rupanya tidak berdampak
cukup baik terhadap tingkat penjualan e-commerce di Indonesia. Menurut situs
Quartz, Indonesia berada di posisi paling akhir dari lima negara di Asia perihal
peringkat penjualan e-commerce.

Walau begitu, diproyeksikan pertumbuhan nilai penjualan e-commerce


Indonesia ditargetkan akan bertumbuh dua kali lipat pada tahun-tahun
mendatang, yang diikuti pula dengan pertumbuhan mobile commerce di
Indonesia yang diprediksi akan ikut mendongkrak pertumbuhan ini. Belum lagi
dengan bertumbuhnya pengguna internet khususnya di wilayah Indonesia timur
juga mampu mendatangkan potensi yang positif bagi bisnis e-commerce
Indonesia.
Peluang dan Manfaat E-commerce Di Indonesia
Kehadiran e-commerce di Indonesia sebagai media transaksi baru ini
tentunya menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak
produsen dan penjual (retailer). Dengan menggunakan internet, proses
perniagaan dapat dilakukan dengan menghemat biaya dan waktu.

Beberapa peluang e-commerce yang ada di Indonesia di antaranya


adalah sebagai berikut :
1. Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pangsa pasar yang
masih dapat banyak digarap.
2. Kondisi geografis yang sangat mendukung berkembangnya e-commerce,
dengan begitu banyak pulau-pulau yang tersebar di seluruh nusantara, ecommerce merupakan salah satu jalan terbaik untuk meningkatkan bisnis
antar pulau.
3. Begitu banyaknya bahan alam yang dapat diolah menjadi produk-produk
yang bagus dan istimewa.
4. Begitu banyaknya adat istiadat dan budaya yang ada, merupakan sumber
inspirasi bagi perkembangan usaha kerajinan yang dapat menjadi sumber
perdagangan dan komoditi pariwisata jika dikelola dengan baik.
Selain itu, e-commerce juga banyak mendatangkan manfaat bagi banyak
pihak. Manfaat yang dapat diperoleh dari e-commerce bagi organisasi menurut
M. Suyanto (2003) adalah :
1. Memperluas market place hingga ke pasar nasional dan internasional.
2. Menurunkan biaya pembuatan, pemrosesan, pendistribusian, penyimpanan
dan pencarian informasi yang menggunakan kertas.
3. Memungkinkan

pengurangan

inventory

dan

overhead

dengan

menyederhanakan supply chain dan manajemen tipe pull.


4. Mengurangi waktu antara layout modal dan penerimaan produk dan jasa.
5. Mendukung upaya-upaya business process reengineering.
6. Memperkecil biaya telekomunikasi internet lebih murah dibanding VAN.
7. Akses informasi lebih cepat.

Selain mempunyai manfaat bagi perusahaan, menurut M. Suyanto (2003)


e-commerce juga mempunyai manfaat bagi konsumen, yaitu :
1. Memungkinkan pelanggan untuk berbelanja atau melakukan transaksi lain
selama 24 jam sehari sepanjang tahun dari hampir setiap lokasi dengan
menggunakan fasilitas Wi-Fi.
2. Memberikan lebih banyak pilihan kepada pelanggan.
3. Pengiriman menjadi sangat cepat.
4. Pelanggan bisa menerima informasi yang relevan secara detail dalam
hitungan detik, bukan lagi hari atau minggu.
5. Memberi tempat bagi para pelanggan lain di electronic community dan
bertukar pikiran serta pengalaman.
6. Memudahkan persaingan yang ada pada akhirnya akan menghasilkan diskon
secara substansial.
Menurut M. Suyanto (2003) selain manfaat terhadap organisasi,
konsumen e-commerce juga mempunyai manfaat bagi masyarakat, antara lain :
1. Memungkinkan orang untuk bekerja di dalam rumah dan tidak harus keluar
rumah untuk berbelanja. Ini berakibat menurunkan arus kepadatan lalu lintas
di jalan serta mengurangi polusi udara.
2. Memungkinkan sejumlah barang dagangan dijual dengan harga lebih rendah.
3. Memungkinkan orang di negara-negara dunia ke tiga dan wilayah pedesaan
untuk menikmati aneka produk dan jasa yang akan susah mereka dapatkan
tanpa e-commerce.
Manfaat yang dirasakan perusahaan khususnya untuk kepentingan
pelanggan memperlihatkan bahwa e-commerce dapat memberikan manfaat :
1. Mendapatkan pelanggan baru. Studi yang menyebutkan bahwa manfaat
penggunaan e-commerce dalam bisnis adalah mendapatkan pelanggan baru

10

dikemukakan oleh Hamill dan Gregory, 1997 dan Swatman, 1999 serta
Hoffman dan Novak, 2000. Digunakannya e-commerce memungkinkan
perusahaan tersebut mendapatkan pelanggan baru baik itu yang berasal dari
pasar domestik maupun pasar luar negeri.
2. Menarik konsumen untuk tetap bertahan. Studi yang dilakukan oleh Daniel &
Storey, 1997 di industri perbakan menemukan bahwa dengan adanya
layanan e-banking membuat nasabah tidak berpindah ke bank lain. Selain itu
bank juga akan mendapatkan pelanggan baru yang berasal dari bank-bank
yang bertahan dengan teknologi lama.
3. Meningkatkan mutu layanan. Dengan adanya e-commerce memungkinkan
perusahaan dapat meningkatkan layanan dengan melakukan interkasi yang
lebih personal sehingga dapat memberikan informasinya sesuai dengan apa
yang

diinginkan

oleh

konsumen.

Studi

yang

menyebutkan

bahwa

penggunaan e-commerce dapat bermanfaat untuk meningkatkan mutu


layanan ini dikemukakan oleh Gosh, 1998.
4. Melayani konsumen tanpa batas waktu. Studi yang dilakukan oleh Daniel &
Storey, 1997 menemukan bahwa adanya pelanggan dapat melakukan
transaksi dan memanfaatkan layanan suatu perusahaan tanpa harus terikat
dengan waktu tutup ataupun buka dari suatu perusahaan tersebut.
Tantangan dan Hambatan E-commerce di Indonesia
E-commerce sebenarnya dapat menjadi suatu bisnis yang menjanjikan di
Indonesia. Hal ini tak lepas dari potensi yang telah disebutkan di atas dan
adanya jarak fisik yang jauh sehingga e-commerce dapat dimanfaatkan dengan
maksimal. Sayangnya daya beli masyarakat yang masih rendah dan infrastruktur
telekomunikasi yang tidak merata di daerah-daerah lainnya membuat ecommerce tidak begitu populer. Hal ini tak lepas dari jumlah pengguna internet di

11

Indonesia yang hanya sekitar 8 juta orang dari total 200 jutaan lebih penduduk.
Selain itu, e-commerce juga belum banyak dimanfaatkan oleh perusahaanperusahaan di Indonesia.
Meskipun relatif banyak perusahaan yang sudah memasang hompage,
namun

hanya

sedikit

yang

memfungsikannya

sebagai

sarana

perniagaan/perdagangan online. Sebagian besar hompage tersebut lebih


difungsikan sebagai media informasi

dan pengenalan produk. Menurut Adji

Gunawan, Associate Partner dan Technology Competency Group Head Anderson


Consulting, secara umum ada tiga tahapan menuju e-commerce , yakni :
presence (kehadiran), interaksi, dan transaksi. Saat ini, kebanyakan homepage
yang dimiliki perusahaan di Indonesia hanya mencapai pada tahap presence,
belum pada tahap transaksi. Pada akhirnya, perkembangan teknologi dan
peningkatan penggunaan internet di Indonesia, akan membuat e-commerce
menjadi suatu bisnis yang menjanjikan. (ditoprasetyo250.blogspot.com)
Berikut adalah beberapa tantangan atau hambatan dari penrapan ecommerce di Indonesia :
a. Internet bust! hancurnya bisnis internet
b. Infrastruktur telekomunikasi yang masih terbatas dan mahal
c. Delivery channel
d. Kultur dan Kepercayaan (trust)
e. Security atau keamanan
f.

Munculnya jenis kejahatan baru

g. Ketidakjelasan hukum
h. Efek sampingan terhadap kehidupan.

12

KESIMPULAN
Di Indonesia, penerapan e-commerce sudah mengalami perkembangan
cukup pesat sejak kemunculannya di tahun 1996. Ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang menjadi peluang dan memicu perkembangan tersebut. Faktor yang
menjadi peluang di antaranya adalah jumlah penduduk yang besar sebagai
peluang pasar, letak geografis yang mempermudah transaksi tanpa tatap muka
secara langsung, kekayaan yang melimpah sebagai sumber produk unggul, dan
keanekaragaman adat istiadat yang menjadi sumber inspirasi. Namun di
samping itu, penerapan e-commerce di Indonesia juga memiliki hambatan atau
tantangan seperti infrastruktur yang masih terbatas dan mahal, delivery channel,
kultur dan kepercayaan (trust), masalah keamanan, munculnya kejahatan baru,
juga ketidakjelasan hukum. Terlepas dari peluang dan tantangan yang dihadapi,
kehadiran e-commerce di Indonesia sebagai media transaksi baru ini tentunya
menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen
dan penjual (retailer). Dengan menggunakan internet, proses perniagaan dapat
dilakukan dengan menghemat biaya dan waktu.

13

DAFTAR PUSTAKA
Daniel, E.M., Storey, C. 1997. On Line Banking Strategic And Management
Challenges. Long Range Planning, Vol. 30, No.6, hal. 890-898.
Fuady, Munir. 2005.
Gosh, S. 1998. Making Business Sense of The Internet. Harvard Business
Review. Maret April, hal. 126-134.
Hamill, J., Gregory, K.1997. Internet Marketing In The Internationalization of UK
SMEs. Journal of Marketing Management, Vol 13. hal. 9-28.
Hofman, D.L., Novak. 1995. How To Acquire Customers On The Web. Harvard
Business Review. Mei Juni, hal. 179 188.
Suyanto, M. 2003. Strategi Periklanan Pada E-Commerce Perusahaan Top
Dunia. Yogyakarta: Andi Offset.
Swatman, P.M.C. 1999. An Exploratory Study of Small Business Internet
Commerce Issues. Information and Management, Vol 35, hal. 9-18.
_______ http://ditoprasetyo250.blogspot.com, [07/12/14].
_______ http://www.ewebarchitecture.com, [18/12/14].
_______ http://www.qz.com, [18/12/14].

14