Anda di halaman 1dari 4

KARL FISCHER TITRATOR

Karl Fischer Titrator merupakan Autotitrator yang ditemukan oleh Mr. Karl Fischer (1901-1958)
yang digunakan untuk menganalisa kadar air dalam suatu sampel/produk.Adapun aplikasi
penetapan kadar air adalah pada:

pada produk teknis (minyak; plastik, gas)


kosmetik
produk farmasi
industri makanan, dll.

Sampel yang dianalisa pada Karl Fischer Titrator dapat berupa padat,cair,dan pasta.Cara
memasukkan sampel ke dalam alat :

Sampel cair diinjeksikan dengan menggunakan syringe


Sampel pasta dimasukkan menggunakan boat
Sampel padat dimasukkan menggunakan spatula

Prinsip dasar titrasi Karl Fischer didasarkan pada Reaksi Bunsen antara iodium dan
sulfurdioksida dalam suatu medium yang mengandung air. Karl Fischer menemukan bahwa
reaksi ini bisa dimodifikasi untuk digunakan dalam penentuan kadar air di suatu sistem yang
berisi suatu kelebihan sulfurdioksida. Ia menggunakan bahan utama alkohol (metanol) sebagai
bahan pelarut, dan suatu dasar (pyridine) sebagai buffer agen.
Stoikiometri reaksi titrasi karl Fischer :
CH3OH + SO2 + RN [RNH]SO3CH3
H2O + I2 + [RNH]SO3CH3 + 2RN [RNH]SO4CH3 + 2[RNH]I

(RN = basa organik)


Kandungan dasar Karl fischer reagent :
Reagent

I2

Sulfur dioksida

SO2

Buffer
Pelarut

Imidazol/piridine
Metanol

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses titrasia adalah

Perbandingan air dan Iodium


Harus 1:1
Nilai PH
pengaruhnya : Pada Ph antara 5-8 titrasi berlangsung normal , sedangkan jika ph di bawah 5
titrasi berjalan lambat, dan jika di atas 8 titrasi sangat cepat.

Ada 2 jenis/metoda titrasi Karl Fischer , yaitu:


1) Titrasi Karl Fischer Volumetrik
Cara titrasi Volumetry sangat cocok digunakan untuk penentuan kadar air di sekitar 100 ppm
untuk 100%.
2) Titrasi Karl Fischer Coulometric
Coulometry sangat cocok untuk penentuan kadar air di sekitar 1 ppm untuk 5%.
Pada dasarnya prinsip pengukuran KF-Titrator sama dengan autotitrator,hanya saja alat ini hanya
dapat menganalisa kadar air dikarenakan peniter yang digunakan berupa Iodium yang akan
mengikat air.Dan sebelum dilakukan pengujian pada sampel air murni terlebih dulu harus
distandarisasi dengan menggunakan Sodium Tartarat ( .Kemudian kadar H 2O dapat ditentukan
melalui rumus:
WE = COO/EP1 ; 3 ; mg/ml
Dimana:
WE = Water Equivalent
COO = Berat H2O, mg
EP1 = Volume Hydranat Composite, m l .

% H2O = EP1*CO1*CO27COO; 3 ; % (4)


Dimana:
EP1 = Volume Hydranal Cornposite
CO1 = WE
CO2 = 100%
COO= Beratsampel
3 = Jumlah angka decimal
Prosedur Pengoperasian KF-Titrator:

Tekan F3 (pump) jika di dalam tabung terdapat pelarut yang sudah jenuh, hal ini
dilakukam untuk mengeluarkan pelarut tersebut.

Tekan tombol biru dan F3 untuk mengisi buret. Buret diisi minimal 40 mL agar elektroda
terendam dan magnet stirrer tidak terpental.

Alat harus distandardisasi dengan menggunakan natrium tartarat hidrat. (tekan F2 untuk
memulai standardisasi)

Sampel dimasukkan ke dalam tempat sampel, jika sampel berupa larutan, dimasukkan
dengan alat berupa suntikan dan jika berupa padatan dapat langsung dimasukkan ke dalam
tabung

Sebelum sampel diinjeksikan, alat berupa suntikan di timbang dan di Tare terlebih
dahulu, kemudian larutan sampel diambil dan ditimbang sesuai rentang angka yang
dihasilkan pada layar,ditimbang, dam ditare kembali, kemudian sampel diinjeksikan ke
dalam tabung, setelah itu, suntikan ditimbang kembali dan hasil penimbangan merupakan
massa sampel, massa sampel diinput ke dalam karl fischer dan dilakukan titrasi.

Ditunggu beberapa saat sampai pada monitor muncul nilai R yang yang menunjukkan %
kadar air dalam sampel.