Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gastritis

adalah

istilah

yang

digunakan

untuk

menggambarkan

sekelompok kondisi dengan satu hal yaitu radang selaput perut. Peradangan ini
(gastritis) sering kali adalah hasil dari infeksi bakteri Helicobacter Pylori yang
menyebabkan radang perut yang paling sering ditemukan. Di negara
berkembang prevalensi infeksi Helicobacter Pylori pada orang dewasa
mendekati angka 90%. Sedangkan pada anak-anak prevalensinya lebih tinggi
lagi. Di Indonesia, prevalensi kuman ini menggunakan urea breath test.
Penelitian serologis yang dilakukan secara cross sectional bertambahnya
prevelansi penyakit ini sesuai dengan pertambahan usia. Penyebab penyakit ini
adalah gram negative, basil yang berbentuk kurva dan batang.
Namun, banyak faktor lain seperti cedera traumatis, penggunaan obat
penghilang rasa sakit tertentu atau minum alkohol terlalu banyak juga dapat
berkontribusi untuk terjadinya gastritis.
Gastritis dapat terjadi secara mendadak (gastritis akut) atau bisa terjadi
perlahan-lahan dari waktu ke waktu (gastritis kronis). Dalam beberapa kasus,
gastritis dapat menyebabkan bisul ( ulkus )pada lambung dan peningkatan
risiko kanker perut. Bagi kebanyakan orang, gastritis tidaklah serius dan dapat
dengan cepat mereda bahkan sembuh dengan pengobatan.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :
a. Bagaimana definisi sistem pencernaan ?
b. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari lambung ?
c. Bagaimana definisi dari gastritis ?
d. Bagaimana klasifikasi dari gastritis ?
e. Bagaimana etiologi dari gastritis ?
f. Bagaimana patofisiologi dari gastritis ?
g. Bagaimana manifestasi dari gastritis ?
h. Bagaimana pengobatan dari gastritis ?
i. Bagaimana pencegahan dari gastritis ?
j. Bagaimana komplikasi dari gastritis ?
k. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien gastritis ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :
a. Dapat mengetahui dan memahami tentang definisi sistem pencernaan.
b. Dapat mengetahui dan memahami tentang anatomi dan fisiologi dari
lambung.
c. Dapat mengetahui dan memahami tentang definisi dari gastritis.
d. Dapat mengetahui dan memahami tentang klasifikasi dari gastritis.
e. Dapat mengetahui dan memahami tentang etiologi dari gastritis.
f. Dapat mengetahui dan memahami tentang patofisiologi dari gastritis.
g. Dapat mengetahui dan memahami tentang manifestasi dari gastritis.
h. Dapat mengetahui dan memahami tentang pengobatan dari gastritis.
i. Dapat mengetahui dan memahami tentang pencegahan dari gastritis.
j. Dapat mengetahui dan memahami tentang komplikasi dari gastritis.

k. Dapat mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada klien


gastritis.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Gastritis
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999).
Gastritis didefinisikan sebagai peradangan mukosa lambung (Sjamsuhidajat, R,
1998). Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat
akut kronik, atau lokal (Soepaman, 1998). Gastritis merupakan suatu keadaan
peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis,
difus, atau local (Patofisiologi, Sylvia A Price).
Berdasarkan pengetian di atas, penulis menyimpulkan bahwa inflamasi
yang terjadi pada mukosa lambung di tandai dengan adanya radang pada daerah
tersebut yang disebabkan karena mengkonsumsi makanan yang dapat
meningkatkan asam lambung (seperti makanan yang asam atau pedas) atau bisa
di sebabkan oleh merokok dan minum alkohol.
2.2 Jenis - Jenis Gastritis
Terdapat dua jenis gastritis yang paling sering terjadi yaitu gastritis superfisial
2.2.1

akut dan gastritis atrofik kronis.


Gastritis Akut

Penyakit

maag

akut

adalah

inflamasi

(reaksi

tubuh

terhadap

mikroorganisme dan benda asing yg ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan
gangguan fungsi organ tubuh) akut dari lambung, dan biasanya terbatas hanya
pada muklosa. Penyakit maag akut dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya
Gastritis akut adalah proses peradangan mukosa akut, biasanya bersifat
transien. Peradangan mungkin disertai perdarahan ke dalam mukosa dan pada
kasus yang lebih parah, terlepasnya epitel mukosa superfisial (erosi). Bentuk
erosive yang parah ini merupakan penyebab penting perdarahan saluran cerna
akut.
Satu atau lebih pengaruh berikut diperkirakan berperan dalam berbagai
situasi ini: gangguan lapisan mucus lekat, rangsangan sekresi asam disertai
difusi balik ion hydrogen ke dalam epitel superfisial, berkurangnya
pembentukan dapar bikarbonat oleh sel epitel superfisial, berkurangnya aliran
darah ke mukosa, dan kerusakan langsung pada epitel. Tidak mengherankan,
gangguan pada mukosa bekerja secara sinergistis. Akhirnya, infeksi akut oleh
H. pylori memicu peradangan neutrofilik mukosa lambung, tetapi proses ini
biasanya lolos dari perhatian pasien.
Gambaran klinis gastritis akut mungkin sama sekali tidak bergejala, dapat
menyebabkan nyeri epigastrium dengan keparahan bervariasi disertai mual dan
muntah, atau bermanifestasi sebagai hematemesi, melena, dan pengeluaran
darah yang dapat mematikan, bergantung pada keparahan kelainan anatomic.
Secara keseluruhan, gastritis adalah salah satu penyebab utama hematemesis,
terutama pada pecandu alkohol. Bahkan pada situasi lain, penyakit ini cukup
sering ditemukan; hampir 25% orang yang minum aspirin setiap hari untuk
arthritis rematoid mengalami gastritis akut pada suatu saat selama pengobatan,
banyak yang mengalami perdarahan baik tersamar atau nyata. Risiko
perdarahan lambung pada gastritis akibat NSAID bergantung pada dosis,
sehingga kemungkinan penyulit ini meningkat pada pasien yang memerlukan
pemakaian jangka panjang obat ini.
2.2.2

Gastritis Kronik

Lambung penderita penyakit maag kronis mungkin mengalami inflmasi


(reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yg ditandai oleh panas,
bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh) kronis dari tipe gangguan
tertentu, yang menyebabkan gastritis dari tipe yang spesifik yaitu gastritis
kronisa.
Gastritis kronis yaitu sebagai peradangan mukosa kronis yang akhirnya
menyebabkan atrofi mukosa dan metaplasia epitel. Penyakit ini memiliki
subkelompok kausal yang tersendiri dan pola kelainan histologik yang berbedabeda di berbagai tempat di dunia.
Sejauh ini keterkaitan etiologic terpenting adalah dengan infeksi kronis
oleh Helicobacter pylori. H. pylori adalah bakteri batang gram-negatif,
berbentuk S, tidak invasive, tidak membentuk spora, dan berukuran sekitar 3,5
x 0,5 m.
Gambaran

klinis.

Gastritis

kronis

biasanya

tidak

atau

sedikit

menimbulkan gejala; dapat timbul rasa tidak enak di abdomen atas serta mual
dan muntah. Apabila pada gastritis autoimun terjadi banyak kehilangan sel
parietal, biasanya terdapat hipoklorhidria atau aklorhidria (mengacu pada kadar
asam hidroklorida di lumen lambung) dan hipergastrinemia. Pengidap gastritis
kronis akibat penyebab lain mungkin mengalami hipoklorhidria, tetapi karena
sel parietal tidak hilang sama sekal, para pasien ini tidak mengalami aklorhidria
atau anemia pernisiosa. Kadar gastrin serum biasanya dalam kisaran normal
atau hanya sedikit meningkat.
Jenis penyakit maag yang dilihat berdasarkan tingkat keparahan, dibedakan
menjadi:
a. Maag ringan
Maag ringan masih tergolong tahap ringan dimana biasanya setiap orang
sudah berada di tahap ini, jika dilakukan pemeriksaan akan terlihat asam
lambung berlebih di bagian dinding.
b. Maag sedang

Maag pada tahap ini sudah menyebabkan nyeri, sakit dan mual yang
menyakitkan.
c. Maag kronis
Maag kronis adalah maag yang sudah parah intensitasnya di bandingkan
maag biasa.
d. Kanker lambung
Kanker lambung terjadi akibat mikroorganisme yang merugikan, yaitu
Helycobacter pylori.

2.3 Etiologi Gastritis


1. Indisekresi diet makan terlalu banyak, cepat, terlalu berbumbu,
2.
3.
4.
5.

makanan yang terinfeksi


Infeksi bakteri helicobactery pylory
Aspirin dan obat AINS merusak mukosa lambung
Alkohol dapat mengikis mukosa pada dinding lambung
Terapi radiasi luka pada lambung

Berdasarkan Klasifikasi Gastritis yaitu sebagai berikut :


2.3.1

Gastritis Akut
a. Penggunaan obat-obatan seperti aspirin dan obat anti inflamasi
nonsteroid dalam dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi
mukosa lambung.
b. Alkohol
Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding
lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi
c.
d.
e.
f.

normal.
Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar.
Stress
Pola diet yang tidak benar
Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau
infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan perdarahan pada

2.3.2

lambung.
Gastritis Kronis

Pada gastritis kronik penyebab tidak jelas, tetapi berhubungan dengan


Helicobacter pylori, serta di temukan ulkus pada pemeriksaan
penunjang.

2.4 Manifestasi Klinis


Gejala umum gastritis yaitu :
1) Sakit saat buang air besar
2) Mual dan muntah
3) Sering merasa lapar
4) Perut kembung
5) Nyeri yang terasa perih pada perut dan dada
6) Sering bersendawa
Berdasarkan jenis gastritis :
a. Gastritis akut
1) Nyeri epigastrium, hal ini terjadi karena adanya peradangan pada
mukosa lambung.
2) Mual, kembung, muntah merupakan salah satu keluhan yang sering
muncul. Hal ini dikarenakan adanya regenerasi mukosa lambung
sehingga terjadi peningkatan asam lambung yang mengakibatkan mual
hingga muntah.
3) Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematesis dan
malena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca
perdarahan.
b. Gastritis kronis
Pada pasien gastritis kronis umumnya tidak mempunyai keluhan. Hanya
sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nausea dan pada
pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan.

2.5 Epidemiologi Gastritis


Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai
diklinik penyakit dalam. Gastritis akut merupakan penyakit yang sering
ditemukan biasanya jinak dan dapat tumbuh sendiri dan 80-90% yang dirawat
di ICU menderita gastritis akut.
a. Gastritis Akut :
Bahkan pada situasi lain, penyakit gastritis ini cukup sering ditemukan,
hampir 25% orang yang minum aspirin setiap hari untuk arthritis rematoid
mengalami gastritis akut pada suatu saat selama pengobatan, banyak yang
mengalami perdarahan baik tersamar atau nyata. Risiko perdarahan lambung
pada gastritis akibat NSAID bergantung pada dosis, sehingga kemungkinan
penyulit ini meningkat pada pasien yang memerlukan pemakaian jangka
panjang obat ini.
b. Gastritis Kronis :
Di dunia Barat, prevalensi perubahan histologik yang menunjukkan gastritis
kronis melebihi 50% untuk populasi usia lanjut. Prevalensi infeksi pada orang
dewasa di Puerto Rico melebihi 80%, orang Amerika berusia lebih dari 50
tahun memperlihatkan angka prevelensi mendekati 50%. Di daerah yang
edemik, infeksi ini tampaknya berjangkit pada masa anak dan menetap selama
berpuluh tahun. Sebagian besar orang yang terinfeksi juga mengalami gastritis,
tetapi asimtomatik

2.6 Patofisiologi Gastritis

2.7 Penatalaksanaan Klinis


2.7.1 Gastritis akut
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001 penatalaksaan medis pada pasien
gastritis akut diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari
alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan
melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan
perlu

diberikan

secara

parenteral.

Bila

perdarahan

terjadi,

maka

penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur yang dilakukan untuk


hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis diakibatkan oleh
mencerna makanan yang sangat asam, pengobatan terdiri dari pengenceran

dan penetralisasian agen penyebab. Untuk menetralisr asam digunakan antacid


umum. Dan bila korosi luas atau berat dihindari karena bahaya perforasi.
Sedangkan menurut Sjamsuhidajat, 2004 penatalaksanaannya jika terjadi
perdarahan, tindakan pertama adalah tindakan konservatif berupa pembilasan
air es disertai antacid dan antagonis reseptor H 2-

pemberian obat yang

berlanjut memerlukan ti ndakan bedah.


2.7.2 Gastritis kronik
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001 penatalaksanaan medis pada pasien
gastritis kronik diatasi dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan
istirahat, mengurangi stress dan memuli farmakoterapi. Helicobacter pylori
dapat diatasi dengan antibiotic dan bismuth.
Sedangkan menurut Mansjoer, 2001 penatalaksanaan yang dilakukan
pertama kali adalah jika tidak dapat dilakukan endoskopi caranya yaitu
dengan mengatasi dan mengindari penyebab pada gastritis akut, kemudian
diberikan pengobatan empiris berupa antacid. Tetapi jika endoskopi dapat
dilakukan berikan terapi eradikasi.
2.8 Pengobatan Gastritis
Maag bisa disembuhkan tetapi tidak bisa sembuh total, maag adalah
penyakit yang dapat kambuh apabila penderita tidak makan teratur, terlalu
banyak

makan,

atau

sebab

lain.

Biasanya

untuk

meredakan

atau

menyembuhkannya penderita harus mengkonsumsi obat jika diperlukan. Tetapi


maag dapat di cegah, yaitu dengan cara makan teratur, makan secukupnya, cuci
tangan sebelum makan dan jangan jajan sembarangan.
Obat-obatan untuk sakit maag umumnya dimakan dua jam sebelum makan
dan dua jam sesudah makan. Adapun dengan tujuan obat dikonsumsi dua jam
sebelum makan yaitu untuk menetralisir asam lambung, karena pada saat
tersebut penumpukkan asam lambung sudah sangat banyak dan didalam
lambung penderita pasti telah terjadi luka-luka kecil yang apabila terkena asam
akan terasa perih. Kemudian obat yang diminum dua jam sesudah makan
bertujuan untuk melindungi dinding lambung dari asam yang terus diproduksi.
Akhirnya dua jam setelah makan, asam yang di lambung akan terpakai untuk

10

mencerna makanan sehingga sudah ternetralisir dan tidak akan melukai dinding
lambung. Obat-obatan yang biasanya digunakan:
1. Antasida (Menetralisir asam lambung dan menghilangkan rasa nyeri)
2. Pompa Proton pencegah pertumbuhan bakteri(Menghentikan produksi
asam lambung dan menghambat infeksi bakteri helicobacter pylori)
3. Agen Cytoprotektif (Melindungi jaringan mukosa lambung dan usus
halus)
4. Obat anti sekretorik (Mampu menekan sekresi asam)
5. Pankreatin (Membantu pencernaan lemak, karbohidrat, protein dan
mengatasi gangguan sakit pencernaan seperti perut kembung, mual,
dan sering mengeluarkan gas)
6. Ranitidin (Mengobati tukak lambung)
7. Simetidin (Mengobati dispepsia)
Selain itu penyakit ini dipercaya memiliki beberapa jenis minuman dan makanan
yang kurang baik untuk dikonsumsi yaitu :
1. Minuman yang merangsang pengeluaran asam lambung antara lain : kopi,
anggur putih, sari buah sitrus, dan susu.
2. Makanan yang sangat asam atau pedas seperti cuka, cabai, dan merica
(makanan yang merangsang perut dan dapat merusak dinding lambung).
3. Makanan yang sulit dicerna dan dapat memperlambat pengosongan lambung.
Karena hal ini dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang
akhirnya dapat meningkatkan asam lambung antara lain makanan berlemak,
kue tar, coklat, dan keju.
4. Makanan

yang

melemahkan

klep

kerongkongan

bawah

sehingga

menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan seperti alkohol,


coklat, makanan tinggi lemak, dan gorengan.
5. Makanan dan minuman yang banyak mengandung gas dan juga yang terlalu
banyak serat, antara lain:
a. Sayur-sayuran tertentu seperti sawi dan kol

11

b. Buah-buahan tertentu seperti nangka dan pisang ambon


c. Makanan berserat tinggi tertentu seperti kedondong dan buah yang
dikeringkan
d. Minuman yang mengandung banyak gas (seperti minuman bersoda).
Selain itu, kegiatan yang dapat meningkatkan gas didalam lambung juga harus
dihindari, antara lain makan permen khususnya permen karet serta merokok.
2.9 Komlikasi Gastritis
2.9.1 Gastritis akut
1) Perdarahan saluran cerna bagian atas yang berupa hematemesis dan
malena. Kadang-kadang perdarahannya cukup banyak sehingga dapat
menyebabkan syok hemoragik yang bisa mengakibatkan kematian.
2) Terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat. Ulkus ini diperlihatkan hamper
sama dengan perdarahan saluran cerna bagian atas. Namun pada tukak
peptic penyebab utamanya adalah infeksi Helicobacter pylori, sebesar
100% pada tukak duodenum dan 60-90% pada tukak lambung. Hal ini
dapat ditegakkan dengan pemeriksaan endoskopi.
2.9.2 Gastritis kronis
1) Atrofi lambung dapat menyebabkan gangguan penyerapan terhadap vitamin.
2) Anemia pernisiosa yang mempunyai antibody terhadap faktor intrinsik
vitamin B12.
3) Gangguan penyerapan zat besi.

Asuhan keperawatan
3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awala dari proses keperawatan yang meliputi aspek
bio, psiko, sosio, dan spiritual secara komprehensif. Maksud dari pengkajian
adalah untuk mendapatkan informasi atau data tentang pasien. Data tersebut
berasal dari pasien (data primer) dari keluarga (data sekunder) dan data dari
catatan yang ada (data tersier). Pengkajian dilakukan dengan pendekatan proses
keperawatan melalui wawancara, observasi langsung, dan melihat catatan
medis, adapun data yang diperlukan pada klien Gastritis adalah sebagai berikut.

12

3.1.1 Anamnesa meliputi :


a. Identitas Pasien
Perawat mengisi identitas pasien meliputi nama, usia, jenis kelamin,
jenis pekerjaan, alamat, suku atau bangsa, agama, dan tingkat
pendidikan : bagi orang yang tingkat pendidikan rendah/minim
mendapatkan pengetahuan tentang gastritis, maka akan menganggap
remeh penyakit ini, bahkan hanya menganggap gastritis sebagai sakit
perut biasa dan akan memakan makanan yang dapat menimbulkan serta
memperparah penyakit ini.
b. Riwayat kesehatan saat ini
Meliputi perjalanan penyakitnya, awal dari gejala yang di rasakan klien,
keluhan timbul secara mendadak atau bertahap, factor pencetus, upaya
yang di lakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
c. Keluhan utama biasanya pada pasien gastritis yaitu mual, muntah,
anoreksia (yang di tandai dengan BB turun), sendawa, malaise,
hematemesis.
d. Riwayat kesehatan masa lalu
Meliputi penyakit yang berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat
kecelakaan, riwayat dirawat di rumah sakit dan riwayat pemakaian obat.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi adalah keluarga yang mempunyai penyakit keturunan seperti
hipertensi, jantung, DM, dan lain-lain.
f. Riwayat psikososial
Meliputi mekanisme koping yang di gunakan klien untuk mengatasi
masalah dan bagaimana motivasi kesembuhan dan cara klien menerima
keadaannya.
g. Pola kebiasaan sehari-hari
Meliputi cairan, nutrisi, eliminasi, personal hygine, istirahat tidur,
aktivitas dan latihan serta kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan.
3.1.2 Pemeriksaan Fisik (Review of System)
1. B1 (breath)
Ditemukan takhipnea pada pasien
2. B2 (blood)
Ditemukan takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer lemah, pengisian
perifer lambat dan warna kulit pucat.
3. B3 (brain)

13

Ditemukan sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu,


disorientasi, nyeri epigastrum.
4. B4 (bladder)
Ditemukan oliguri, gangguan keseimbangan cairan.
5. B5 (bowel)
Ditemukan anemia, anorexia,mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran
terhadap makanan pedas.
6. B6 (bone)
Ditemukan kelelahan, kelemahan
Pemeriksaan yang di lakukan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki
dengan menggunakan 4 teknik yaitu palpasi, inspeksi, auskultasi, dan perkusi.
1. Aktivitas atau istirahat
Gejala : lemah, lemas, gangguan pola tidur dan istirahat, kram
abdomen, nyeri ulu hati.
Tanda : nyeri ulu hati saat istirahat
2. Sirkulasi
Gejala : keringat dingin (menunjukkan status syok, nyeri akut, respon
psikologis)
3. Eliminasi
Gejala : bising usus hiperaktif atau hipoaktif, abdomen teraba keras.
Distensi peubahan pola BAB
Tanda : feses encer atau bercampur darah (melena), bau busuk,
konstipasi.
4. Integritas ego
Gejala : stress (keuangan, hubungan kerja). Perasaan tidak berdaya.
Tanda : ansietas, misalnya : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian
menyempit, gemetar.
5. Makanan dan cairan
Gejala : anoreksia, mual dan muntah, nyeri ulu hati, kram pada
abdomen, sendawa bau busa, penurunan berat badan.
Tanda : membrane mukosa kering, muntah berupa cairan yang
berwarna kekuning-kuningan, distensi abdomen, kram pada abdomen.
6. Neurosensori
Gejala : pusing, pandangan berkunang-kunang, kelemahan pada otot
Tanda : lethargi, disorientasi (mengantuk)
7. Nyeri atau kenyamanan
Gejala : nyeri epigastrium kiri samping tengah atau ulu hati, nyeri
yang digambarkan sampai tajam, dangkal, rasa terbakar, perih.
Tanda : meringis, ekspresi wajah tegang
14

8. Pernafasan
Gejala : sedikit sesak

3.1.3 Pemeriksaan Diagnostik


a. Pemeriksaan darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam
darah. Hasil tes yang positif menunujukkan bahwa pasien pernah
kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya tapi itu tidak
menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat
juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat perdarahan
lambung karena gastritis.
b. Uji napas urea
Suatu metode diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh
ureaseH. Pylori dalam lambung menjadi amoniak dan karbondioksida
(CO2). CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding lambung dan dapat
terdeteksi dalam udara ekspirasi.
c. Pemeriksaan feces
Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau
tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini
menunjukkan adanya pendarahan dalam lambung.
d. Endoskopi saluran cerna bagian atas
Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna
bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan
dengan cara memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel(endoskop)
melalui mulut dan masuk ke dalam esofagus, lambung dan bagian atas
usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dianestesi sebelum
endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman
menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat
mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel(biopsy) dari
jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium
untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30

15

menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini
selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang
kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko akibat tes ini.
Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada
tenggorokan akibat menelan endoskop.
e. Rontgen saluran cerna bagian atas
Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit
pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium
terlebih dahulu sebelum dirontgen. Cairan ini akan melapisi saluran
cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.
f. Analisis Lambung
Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting
untuk menegakkan diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung
nasogastrik dimasukkan ke dalam lambung dan dilakukan aspirasi isi
lambung puasa untuk dianalisis. Analisis basal mengukur BAO( basal
acid output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat untuk menegakkan
diagnosis sindrom Zolinger- Elison(suatu tumor pankreas yang
menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya akan
menyebabkan asiditas nyata).
g. Analisis stimulasi
Dapat dilakukan dengan mengukur pengeluaran asam maksimal (MAO,
maximum acid output) setelah pemberian obat yang merangsang sekresi
asam seperti histamin atau pentagastrin. Tes ini untuk mengetahui
teradinya aklorhidria atau tidak.
3.2 Diagnosa Keperawatan
Sebelum membuat diagnosa keperawatan maka data yang terkumpul
diidentifikasi untuk menentukan masalah melalui analisa data, pengelompokkan
data dan menentukan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah
keputusan atau kesimpulan yang terjadi akibat dari hasil pengkajian
keperawatan.
1. Defisit volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat dan output cair yang berlebih (mual dan muntah).

16

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


penurunan intake asupan gizi (anoreksia)..
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
4. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.
3.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1 :
Defisit volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat dan output cair yang berlebih (mual dan muntah).
Tujuan: Mencegah output yang berlebih dan mengoptimalkan intake cair.
Kriteria Hasil : Mempertahankan volume cairan adekuat dengan dibuktikan
oleh mukosa bibir lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler berwarna merah
muda, input dan output seimbang.
Intervensi
Penuhi kebutuhan individual.

Rasional
Mengganti kehilangan cairan dan

Anjurkan klien untuk minum

memperbaiki keseimbangan cairan

(Dewasa : 40-60 cc/kg/jam).

dalam fase segera.

Intake cairan yang adekuat akan

Menunjukkan status dehidrasi atau

mengurangi resiko dehidrasi pasien.

kemungkinan kebutuhan untuk


peningkatan penggantian cairan.

Kaji turgor kulit


Observasi TTV

Indikator dehidrasi atau hipovolemia


Indikator
keadekuatan
volume

sirkulasi
Hindari cairan yangbersifat asam yang Makanan atau minuman yang dapat
dapat meningkatkan asam lambung

merangsang

asam

lambung

dapat

mengakibatkan mual dan muntah


Kolaborasi :
berikan cimetidine dan ranitidine

Cimetidine dan ranitidine berfungsi

17

untuk

menghambat

sekresi

asam

lambung
Diagnosa 2 :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan
intake asupan gizi (anoreksia).
Tujuan : Gangguan nutrisi teratasi
Kriteria Hasil :
1. Antoprometri: Berat badan, lingkar lengan atas kembali normal.
2. Albumin, hemoglobin normal.
3. Klinis : terlihat segar.
4. Porsi makan bertambah
Intervensi
Reduksi stress dan farmakoterapi

Rasional
Stress menyebabkan peningkatan

seperti cytoprotective agent,

produksi asam lambung, untuk klien

penghambat pompa proton,

dengan gastritis penggunaan

anatasida.

penghambat pompa proton membantu


untuk mengurangi asam lambung
dengan cara menutup pompa asam
dalam sel lambung penghasil asam.
Kemudian untuk penggunaan
cytoprotective agent membantu untuk
melindungi jaringan yang melapisi
lambung dan usus kecil. pada klien
dengan gastritis antasida berfungsi
untuk menetralisir asam lambung dan

Konsul dengan ahli diet untuk

dapat mengurangi rasa sakit.


Pemasukan individu dapat

menentukan kalori / kebutuhan

dikalkulasikan dengan berbagai

nutrisi

perhitungan yang berbeda, perlu


bantuan dalam perencanaan diet yang

18

Tambahan vitamin seperti B12.

memenuhi kebutuhan nutrisi.


Mencegah terjadinya anemia.

Batasi makanan yang menyebabkan

Keragu-raguan untuk makan

peningkatan asam lambung berlebih,

mungkin diakibatkan oleh takut

dorong klien untuk menyatakan

makanan yang menyebabkan terjadinya

perasaan masalah tentang makan diet. gejala


Berikan nutrisi melalui IV sesuai
Program ini mengistirahatkan saluran
indikasi.

pencernaan sementara , dan memenuhi

Koloborasi transfusi albumin.

nutrisi sangat penting dan dibutuhkan


Dengan tranfusi albumin diharapkan
kadar albumin dalam darah kembali
normal sehingga kebutuhan nutrisi
kembali normal.

Diagnosa 3 :
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan: Intoleransi aktifitas teratasi
Kriteria Hasil: Klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.
Intervensi
Tingkatkan tirah baring atau duduk

Rasional
Tirah baring dapat meningkatkan

dan berikan obat sesuai dengan

stamina tubuh pasien sehinggga pasien

indikasi.

dapat beraktivitas kembali.

19

Berikan lingkungan yang tenang dan

Lingkungan yang nyaman dan tenang

nyaman.

dapat mendukung pola istirahat pasien

Ajarkan klien metode penghematan Klien

dapat

energy untuk aktivitas (lebih baik bertahap

beraktivitas

sehingga

tidak

secara
terjadi

duduk daripada berdiri saat melakukan kelemahan.


aktivitas)
Diagnosa 4 :
Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.
Tujuan : Informasi tepat dan efektif.
Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan
gejala, perawatan, pencegahan dan pengobatan.
Beri

Intervensi
pendidikan

kesehatan Pengkajian

(penyuluhan) tentang penyakit, beri periodik


kesempatan klien atau keluarga untuk atau

Rasional
atau evaluasi

meningkatkan

pencegahan

secara

pengenalan

dini

terhadap

bertanya, beritahu tentang pentingnya komplikasi seperti ulkus peptik dan


obat-obatan untuk kesembuhan klien.

pendarahan pada lambung

Evaluasi tingkat pengetahuan pasien.

Memberikan

pengetahuan

dasar

dimana klien dapat membuat pilihan


informasi tentang kontrol masalah
kesehatan. Keterlibatan orang lain
yang telah menerima masalah yang
sama dapat meningkatkan koping,
dapat meningkatkan terapi dan proses
penyembuhan.

20

BAB III
APLIKASI TEORI

KASUS 1
Ny. X 27 tahun, karyawan pada perusahaan garment yang mengharuskan bekerja
dengan target tertentu sehingga setiap hari di buru-buru tugas. Ia adalah karyawan
baru yang bertugas sebagai Quality Control (QC) dengan 60 pegawai yang
pekerjaanya harus di periksa kualitasnya. Semua pegawainya adalah perempuan dan
rata-rata bekerja lebih dari 4 th. Ny X sudah sejak lama mengeluh nyeri seperti
terbakar pada area epigastrium yang di rasakan lebih nyeri setelah makan, di sertai
perasaan mual dan kadang-kadang muntah. Ia sering juga mengeluh perutnya
kembung dan di sertai diare. Selama ini ia seringkali menggunakan aspirin saat ia
merasa tidak enak badan. Tadi pagi sekitar jam 09.05 saat ia berada di kantor tiba-tiba
ia merasa sakit hebat pada perut dan kemudian pingsan. Ny X segera di bawa ke Unit
Gawat Darurat RS Mutiara untuk mendapatkan pertolongan. Di UGD pada
pengkajian fisik TD= 130/80mmHg, N= 90x/menit, RR= 18x/menit, S=36,6 C BB
sblum MRS= 65 kg saat MRS : 50 kg, pemeriksaan darah 11,8 (103/l), uji nafas urea
21

positif, pemeriksaan fases positif, skala nyeri 6 dan pemerikasaan endoskopi positif
setelah dilakukan pemeriksaan dan meyakinkan ada sesuatu di lambungnya, pasien
merasakan ketakutan saat dia harus menjalani endoscopy. Perawat menyiapkan pasien
dan mencari keluarganya untuk minta persetujuan, tetapi tidak ada satupun
keluarganya yang bisa di hubungi padahal terapi bisa dilakukan setelah hasil
pemeriksaan selesai dan memberikan konstribusi penting dalam penentuan diagnosa.

PENGKAJIAN
1. Anamnese meliputi :
Identitas Pasien :
Nama

: Ny. X

Umur

: 27 thun

Alamat

: Jl. X

Pendidikan

:-

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Karyawan perusahaan

Status

: Menikah

Tanggal Masuk

: 03-11-2014

Tanggal Pengkajian

: 03-11-2014

No. Register

: 25.09.1995

Diagnosa Medis

: Gastritis

Identitas Penanggung Jawab:


Nama

: Tn. Z

22

Umur

: 35 thun.

Hubungan dg pasien : Suami


Pekerjaan

:-

Alamat

: Jl. Z

1) Status Kesehatan
1. Status kesehatan saat ini
a. Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini)
Klien merasakan mual dan kadang-kadang muntah
b. Riwayat Penyakit sekarang
P : klien mengatakan nyeri dirasakan setelah makan
Q :klien mengatakan nyerinya seperti ditusuk-tusuk
R : klien mengatakan nyerinya di sekitar epigastrium
S: klien mengatakan nyerinya skala 6
T: klien mengatakan nyeri nya setelah makan
c. Riwayat penyakit terdahulu
Klien mengatakan sudah sejak lama mengeluh nyeri seperti terbakar
pada area epigastrium yang di rasakan lebih nyeri setelah makan.
d. Riwayat Keluarga.
e. Riwayat Pekerjaan
Klien bekerja di dalam ruangan
f. Riwayat geografi
Klien tinggal di daerah perumahan.
g. Riwayat Alergi
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi
1) Kebiasaan Sosial
Klien mengatakan sering bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya.
2) Kebiasaan merokok
Klien tidak merokok
2) Pemeriksaan Fisik

23

a. B1 (Breathing)
Klien merasakan nyeri diperutnya
Skala nyeri 6
b. B2 (Blood)
TD= 130/80mmHg
N= 100x/menit
c. B3 (Brain)
Kesadaran Umum : Komposmetis
d. B4 (Bladder)
e. B5 (Bowel)
f. B6 (Bone)
Klien terlihat lemah
1. Pemeriksaan Diagnostik
. ANALISA DATA
No.

Data

Etiologi

Problem

DS : klien mengatakan

Kehilangan volume cairan

Kekurangan volume

sering mual dan muntah

aktif

cairan

Nyeri Epigastrium

Nutrisi kurang dari

disertai diare
DO : TD= 130/80 mmHg
N= 90x/menit
RR= 18x/menit
DS : klien mengatakan
susah makan karena nyeri

kebutuhan

DO : BB sebelum MRS:
65kg, BB setelah MRS:
50kg

24

Ds: klien mengatakan

Takut akan menjalani

ketakutan saat akan

pemeriksaan endoscopy

ansietas

menjalani pemeriksaan
endoscopy
Do : 100x/menit RR=
20x/menit

3.2 DIAGNOSA
1. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan nyeri epigastrium
3. Ansietas berhubungan dengan Takut akan menjalani pemeriksaan endoscopy
3.3 INTERVENSI
NO

TUJUAN

RENCANA

1.

KEPERAWATAN
Dalam waktu 3x24 jam 1. Pertahankan
:
Volume

RASIONAL

intake dan output

hidrasi

Kriteria hasil :

adekuat, tekanan

adekuat
2. TTV stabil
Nadi teraba

yang masuk dan

yang adekuat
keluar dari tubuh
cairan 2. Monitor
status 2. Membantu

terpenuhi
1. Volume

1. Mengontrol cairan

cairan

(nadi

kecepatan
kesembuhan.

darah)
3. Pantau TTV

3. Untuk

menjaga

keseimbangan
Kolaborasi
4. Berikan

4. Agar cairan dalam


cairan

IV
5. Berikan

tubuh

menjadi

adekuat
5. Mempertahankan
obat

keseimbangan
25

2.

Dalam waktu 3x24jam:


Kebutuhan

sesuai indikasi
dalam tubuh
1. Berikan makanan 1. Menyeimbangkan

nutrisi

tubuh terpenuhi
Kriteriahasil:

sesuai diet yang


dianjurkan
kolaborasi
2. Berikan Vitamin

1.BB ideal

3. Berikan

Dalam waktu 3x24 jam: 1.


Ansietas berkurang

IV
3. cairan dalam tubuh

menjadi adekuat
Berikan 1.mempersiapkan

bimbingan antipasi

Kriteria hasil:
1. penuruan ansietas

Mencegah

terjadinya anemia
sesuaiindikasi

3.

dalam

tubuh
2.

B12

2. lingkarlengan normal
3. Hb normal

kebutuhan

pasien

menghadapi

krisis perkembangan
2.berikan penurunan 2.meminimalkan
ansietas
3.Berikan

kekhawatiran
teknik 3.meredakan

menenangkan diri

kecemasan

4.berikanpeningkata

4.membantupasien

n koping

untuk
beradaptasidengan
persepsi stresor

5.Berikan dukungan 5.memberikan


emosi

penenangan

26

3.4 IMPLEMENTASI
N

Tgl/Hari/Jam

Tindakan Keperawatan

Respon

Paraf

O.
Dx
1

03-11-2014/
07:00 WIB
08:30 WIB

1. mempertahankan

1. intake dan outputtidak


seimbang
intake dan output yang

adekuat
2. Monitor status hidrasi
(nadi adekuat, tekanan
darah)

10:00 WIB

2. N:90x/menit
Klien merasa mualdan
muntah

Keke

3. memantau TTV
Kolaborasi

11:00 WIB

Keke

4. memberikan cairan IV
5. memberikan
obat

3. TD:130/80mmHg N:
90x/menit BB:65kg R:
20x/menit S:36.5c

Keke

sesuai indikasi

03-11-2014/
10.10 WIB

4. Tubuh klien mampu


menerima Cairan
5. Klien mampu
mengonsumsinya
1. memberikan
1. klien mampu
Keke
mengonsumsinyaseten
makanan
sesuai
gah porsi diet
diet
yang
dianjurkan

10.15 WIB
10.40 WIB

kolaborasi
2. memberikan
Vitamin B12

Keke
2. klien
mampumengonsumsin
Keke
ya
27

3. memberikan IV
sesuaiindikasi
3

3. klien
mampumenerima
cairan IV

03-11-2014/

1.memberikan bimbingan 1. klien sip menghadap ikrisi Keke

06.00 WIB

antipasi

06.10 WIB

2.memberikan penurunan 2.klien merasa ansietasnya

perkembangan

ansietas
06.40 WIB

3.memberikan

menurun

Keke

teknik 3.klien masih merasa tegang

menenangkan diri
07.10 WIB

4.memberikanpeningkatan

4. klien mampu memahami

koping

tindakan

pemeriksaan

yangakan dilakukan
5.memberikan dukungan

5.klien

masih

emosi

menghadapi tindakan

Keke
takut

Keke

28

3.5 Evaluasi

NO

Tgl/hari/ja

Dx

m
05-11-2014
08.00 WIB

EVALUASI

Paraf

S : klien mengatakan tidakmaldan Keke


muntah serta tidak mengalami diare
O : TD: S: RR:
A : masalah teratasi

08.30 WIB

P : tindakan dihentikan
S : klien mengatakan bisa makan karena Keke
nyeri mulai menghilang
O : BB
A : masalah sebagian teratasi
P : Tindakan no 1 dan 2dilanjutkan, dan

09.00 WIB

tindakan no3 dihentikan


S : klien mengatakan tidak ansietas atas Keke
tindakan keperawatan
O : klien tampaktenang
A : masalah teratasi
P : tindakan dihentikan

BABIV
PEMBAHASAN
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung
yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau local. Dua jenis gastritis yang paling
29

sering terjadi adalah gastritis superfisial akut dan gastritis atrofik kronis. Gastritis
superfisialis akut,merupakan penyakit yang sering ditemukan, biasanya bersifat
swarsirna,merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal.
Endotoksin bakteri (stelahmenekan makanan terkontaminasi),kafein,alkohol,aspirin
merupakan agen pencetus yang lazim.Infeksi H.Pylori lebih sering di anggap sebagai
penyebab gastritis akut. Oraganisme tersebut melekat pada epitel lambung dan
menghancurkan lapisan mukosa pelindung,meninggalkan daerah epitel yang
gundul.obat

lain

juga

terlibat,misal

anti

inflamasi

nonsteroid

(misal

indomentasin,ibuprofen,naproxen),sulfunamida,steroid,digitalis.Asam empedu,enzim
pangkreas,dan etanoljuga diketahui mengganggu sawar mukosa.

Apabila alkohol diminum bersama aspirin efeknya akan lebih merusak


dibandingkan dengan efek masing-masing agen tersebut bila diminum secara
terpisah.Gastritis erosif hemoragik difus biasanya terjadi pada peminum berat dan
pengguna aspirin,dan dapat menyebabkan perlunya reseksi lambung.penyakit yang
serius ini akan dianggap sebagai ulkus akibat stres,karena keduanya memiliki banyak
persamaan.Pada gastritis superfisial mukosa memerah,edema,dan ditutupi oleh mukus
yang melekat,juga sering terjadi erosi kecil dan pendarahan.Maniefestasi klinis
gastritis akut dapat bervariasi dari keluhan abdomen yang tidak jelas,seperti
anoreksia,mual,sampai gejala yang lebih berat sperti nyeri epigastrium,muntah,.Pada
beberapa kasus bila gejala menetap dan resisten tindakan diagnostik tambahan seperti
endoskop,bioksi mukosa,dan analisis cairan lambung.Gastritis superfisial akut
biasanya mereda bila agen penyebabnya dihilangkan penggunaan obat penghambat
misalnya ranitidin untuk mengurangi sekresi asam,antasit untuk menetralkan asam
yang tersekresi dan sukralfat untuk melepisi daerah inflamasi dan mempercepat
penyembuhan.
Gastritis atrofik kronis ditandai oleh kehilangan sel parietal dan chief sell.Dinding
lambung menjadi tipis dan mukosa mempunyai mukosa yang rata.gastritis kronis

30

digolongkan menjadi 2 kategori:Grastitis tipe A dan Gastritis tipe B.Gastritis tipe


A,merupakan penyakit auto imun yang disebabkan oleh adanya auto antibody
terhadap sel parietal kelenjar lambung dan faktor intrinsik dan berkaitan dengan tidak
adanya sel parietal dan chief sel yang menurunkan sekresi asam dan menyebabkan
tingginya kadar gastring.Gastritis tipe B,atau disebut juga gastritis antral karena
umumnya mengenai daerah antrum lambung dan lebih sering terjadi dibandingkan
gastritis kronis tipe A,.Penyebab utama gastritis kronis tipe B adakah infeksi kronis
oleh H.Pylori.Faktor etiologi adalah asupan alkohol yang berlebihan,merokok,refluk
empedu kronis.Pengobatan gastritis atrofik kronis bervariasi tergantung terhadap
penyebab penyakit,bila terdapat lesi ulkus duodenum,dapat diberikan antibiotik.

BAB V
PENUTUP

31

5.1 Kesimpulan
Gastritis (dyspepsia atau penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan
oleh adanya asam lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung
sehingga mengakibatkan imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung
seperti teriris atau nyeri pada ulu hati. Gejala yang terjadi yaitu perut terasa
perih dan nyeri.
Gastritis dibagi menjadi dua yaitu gastritis akut dan kronis. Gatritis Akut
(inflamasi mukosa lambung) paling sering diakibatkan oleh kesalahan diit, mis.
makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan makanan yang terlalu banyak
bumbu atau makanan yang terinfeksi. Penyebab lain termasuk alcohol, aspirin,
refluks empedu atau terapi radiasi. Inflamasi lambung yang berkepanjangan
yang disebabkan oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau bakteri
Helicobacter pylori.
Manifestasi klinis gastritis antara lain nyeri terbakar di epigastrium atau
rasa tidak enak yang bertambah berat dengan makan, dispepsia, anoreksia,
nausea atau muntah, dapat terjadi pedarahan yang mengakibatkan hematemesis,
melena. Penatalaksanaan dari penyakit adalah Mengurangi paparan obat-obat
yang bersifat iritan. Mengurangi produksi asam untuk melindungi mukosa
lambung dengan antagonis H2, inhibitor pompa proton, dan atau sukralfat.
Gastritis H. Pylori simtomatik diterapi dengan terapi tripel selama 2 minggu
(misalnya

omeprazole,

chlarithromyein,

dan

amoksilin;

bismuth,

metronidazole, dan ampisilin atau tetrasiklin). Profilaksis antasid sebaiknya


diberikan pada sebagian besar pasien yang sangat kritis. Pedarahan berat pada
kasus gastritis stres dapat diterapi melalui endoskopi ; pada kasus yang jarang,
pedarahan yang refrakter kemungkinan memerlukan tindakan gastrektomi.

5.2 Saran
1. Diharapkan kepada perawat untuk membekali diri dengan pengetahuan
khususnya mengenai kasus yang dikaji, misalnya gastritis agar ditemukan
data yang akurat dan tepat.
32

2. Diharapkan perawat perlu meningkatkan pengetahuan untuk menganalisa


suatu data secara tepat sehingga dapat menegakkan diagnose dengan tepat
pada kasus gastritis.
3. Diharapkan dalam tahap perencanaan perlu diperhatikan keadaan atau
kondisi pasien gastritis dan fasilitas yang tersedia untuk mengatasi
masalah yang ditemukan pada pasien.
4. Pada pelaksanaan perawatan gastritis hendaknya dilakukan kerja sama
antara tim kesehatan.
5. Bagi perawat hendaknya perlu meningkatkan penilaian terhadap tindakan
yang akan dilaksanakan.
6. Perhatikan perubahan status kesehatan yang terjadi pada pasien.
7. Jika implementasi kurang, maka berikan implementasi kolaborasi atau
mengambil alternative tindakan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Kumar V., Cotran R. S., Robbins S. L., 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2 Edisi 7.
Jakarta : EGC

33

Misnadiarly. 2009. Mengenal Penyakit Organ Cerna: Gastritis (Dyspepsia atau


maag), Infeksi Mycobacteria pada Ulser Gastrointestinal. Jakarta : Pustaka
Populer Obor.
Nurachmah Elly. 2011. Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : Salemba
Medika
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2007. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : EGC
Grace, Pierce & Borley Neil. 2007. At A Glance : Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta :
Erlangga.

34