Anda di halaman 1dari 11

1

AKHLAK DALAM ISLAM


A. Pengertian Akhlak, Etika dan Moral
1. Pengertian Akhlak
Akhlak menurut bahasa berarti tingkah laku, perangai atau tabiat.
Akhalak menurut istilah, akhlak ialah pengetahuan yang menjelaskan tentang
baik dan buruk, mengatur pergaulan manusia, dan menentukan tujuan akhir dari
usaha dan pekerjaannya.
Pada dasarnya, akhlak itu melekat pada diri seseorang, bersatu dengan
perilaku atau perbuatan. Jika perilaku yang melekat itu baik, maka disebut akhlak
yang baik atau terpuji (mahmudah). Sebaliknya, Jika perilaku yang melekat itu
buruk, maka disebut akhlak yang buruk atau tercela (madzmumah).
Akhlak tidak terlepas dari aqidah dan syariah,oleh karena itu, akhlak
merupakan pola tingkah laku yang mengakumulasikan aspek keyakinan dan
ketaatan sehingga tergambarkan dalam prilaku yang baik.
Akhlak merupakan perilaku yang tampak dengan jelas, baik dalam kata-kata
maupun perbuatan yang dimotivasi oleh dorongan karena Allah, Namun demikian
banyak pula aspek yang berkaitan dengan sikap ataupun pikiran,seperti akhlak
diniyah yang berkaitan dengan berbagai aspek, yaitu pola prilaku kepada Allah,
sesama manusia, dan pola prilaku kepada alam.
2. Pengertian Etika
Selain akhlak digunakan pula istilah etika dan moral.
Etika berasal dari bahasa Yunani ethes artinya adat kebiasaan.
Etika adalah ilmu yang menyelidiki baik dan buruk dengan memperhatikan
perbuatan manusia sejauh yang diketahui oleh akal pikiran. Etika dan akhlak
memiliki kesamaan dalam hal baik dan buruk dari tingkah laku manusia.Bedanya,
akhlak didasarkan pada al-Quran dan Hadis Nabi saw, sedangkan etika sebagai
cabang filsafat didasarkan pada pikiran manusia.
3. Pengertian Moral
Moral berasal dari kata mores yang berarti adat kebiasaan.
Moral adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide umum (masyarakat)
yang baik dan wajar. Moral dan etika memiliki kesamaan dalam hal baik dan
buruk. Bedanya, etika bersifat teoritis dan moral bersifat praktis. Menurut
pandangan filsafat, etika memandang perbuatan manusia secara universal
(umum), sedangkan moral memandangnya secara lokal.
B. Akhlak Islam
Akhlak terikat oleh aqidah dan syariah yang mengandung arti pola tingkah
laku yang memadukan aspek keyakinan dan ketaatan yang diwujudkan dalam
perilaku yang baik. Akhlak merupakan perilaku yang terlihat dengan jelas baik
dalam ucapan maupun perbuatan yang dimotivasi oleh niat karena Allah.

2
Namun demikian, banyak aspek yang berkaitan dengan sikap batin ataupun
pikiran, seperti akhlak diniyah yang berkaitan dengan berbagai segi, yaitu pola
perilaku kepada Allah, dan pola perilaku kepada alam.
1. Akhlak Terhadap Allah
Akhlak yang baik kepada Allah adalah berucap dan bertingkah laku yang baik
terhadap-Nya, baik melalui ibadah seperti shalat, puasa maupun selain ibadah
seperti berderma. Berakhlak yang baik kepada Allah, antara lain melalui :
a. Beriman
Meyakini wujud ke-Esa-an Allah dan firman-Nya. Iman merupakan fondamen
dari seluruh bangunan akhlak Islam. Jika ia telah tertanam di dalam dada, ia akan
memancar ke seluruh perilaku yang membentuk prilaku yang islami.
Dalam Al-Quran dijelaskan :



82. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka
itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
b. Taat
Patuh kepada segala perintah Allah dan menjauhkan segala larangan-Nya. Sikap
taat kepada Allah merupakan sikap yang mendasar setelah beriman yang
menggambarkan adanya iman di dalam hati.
Ada 3 pokok taat, menurut Al-Fagih, yaitu :
1) Perasaan takut, dibuktikan dengan menjauhi segala larangan Allah ( hal-hal
yang haram).
2) Raja ( berharap) hal ini dibuktikan dengan tekun beribadah atau sungguhsungguh menalankan taat.
3) Perasaan cinta, yang dapat membuktikan dengan rindu dan kembali ( khusu)
c. Ikhlas
Melaksanakan perintah Allah dengan pasrah dan mengharap ridha-Nya.
Menurut Ulama Hikmah Ikhlas adalah : tidal ingin amalnya yang baik dilihat
orang, apalagi diperlihatkan, tidak jauhnya seperti dia melakukan kejahatan yang
tidak ingin diketahui umumnya masyarakat.
Menurut Syaqiq ada tiga perkara merupakan benteng amal, sehingga bisa ikhlas :
1) Hendaknya mengakui bahwa amal/ibadahnya adalah pertolongan Allah, agar
penyakit ujub dalam hatinya musnah.
2) Dalam melakukan ibadah hanya mencari ridla Allah, agar hawa nafsunya
teratur.
3) Senantiasa mengharap ridla Allah, agar tidak timbul rasa tamak atau riya.
Maka dengan tiga perkara tersebut dalam menjalankan ibadah bisa ikhlas.
d. Khusyu
Melaksanakan perintah Allah dengan sungguh-sungguh sehingga melahirkan
ketenangan batin dan perasaan bahagia dalam hidup.
e. Husnu adh-Dhan
Berprasangka baik kepada Allah atas pemberian-Nya yang diyakini sebagai
sesuatu yang terbaik sehingga tidak menyebabkan perasan kecewa dan putus asa.

3
f. Tawakkal
Mempercayakan diri kepada Allah dalam melaksanakan suatu kegiatan atau
rencana. Tawakkal menggambarkan sikap sabar, kerja keras dan sungguh-sungguh
dalam melak sanakan suatu kegiatan. Bila rencana itu terwujud sesuai harapan
ataupun gagal, dapat diterimanya tanpa rasa penyesalan.
Tawakkal terbagi menjadi dua :
1) Tawakkal tentang rizki, maka tidak boleh gelisah, prihatin didalamnya
2) Tawakkal tentang pahala amal, harus percaya dan tenang pada janji Allah, dan
khawatir terhadap amalnya, apakah diterima atau tidak.
g. Syukur
Mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas pemberian-Nya dengan ucapan
seperti hamdalah dan dengan perilaku seperti menggunakan nikmat Allah sesuai
dengan kelazimannya. Ungkapan dalam bentuk kata-kata adalah mengucapkan
hamdalah setiap saat, sedangkan bersyukur dengan prilaku
dilakukan
dengan cara menggunakan nikmat Allah sesuai dengan semestinya.Misalnya
nikmat diberi mata, maka bersyukur terhadap nikmat itu dilakukan dengan
menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang baik, seperti membaca, mengamati
alam dan sebagainya yang mendatangkan kemanfaatan.
Dalam Al-Quran telah dijelaskan :
Artinya : Beramallah kamu ( bersukurlah), yakni : jadikanlah semua
perbuatanmu itu untuk mensyukuri nikmat karunia Tuhanmu.

amal

Menurut
Al-Faqih
berkata
:
Syukur
itu
ada
3
macam
:
1. Ketika menerima nikmat dengan rela dan puas
2.
Jangan gunakan nikmat dakam kemaksiatan
3.
Ketika menerima nikmat, ingatlah pemberinya lalu memuji
kepadaNya(Allah)
a. Tasbih
Mensucikan Allah dengan ucapan seperti subhanaallah dan dengan perilaku tidak
mempersekutukan Dia dengan yang lain.
Keutamaan membaca tasbih :
1) Dihimpun dengan dengan orang yang berdzikir sebanyak-banyaknya
2) Dianggap paling utama dari orang yang berdzikir di siang malam
3) Dijadikan tanaman surga baginya
4) Segala dosanya lenyap, seperti gugurnya pohon kering
5) Dirahmati oleh Allah, dan tidak disiksa.
b. Istighfar
Meminta ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukannya melalui ucapan (cara)
ber-istighfar dan melalui perilaku yakni meninggalkan perbuatan dosa.
Dalam Al-Quran disebutkan :


Artinya : Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sebab Dia Maha Pengampun.
c. Takbir
Mengagungkan Allah dengan ucapan Allah Akbar dan dengan perilaku yakn
mengagungkan nama-Nya dalam segala hal, sehingga tidak menjadikan sesuatu
melebihi keagungan Allah, tidak mengagungkan yang lain melampui keagungan
Allah dalam berbagai kontek kehidupan, baik melalui kata-kata maupun dalam
tindakan.

d. Doa
Meminta kepada Allah apa saja yang diinginkan dengan cara yang baik. Doa
merupakan inti ibadah, bukti kelemahan dan kekurangan diri manusia di hadapanNya. Enggan berdoa berarti bersikap sombong sebab tidak mengakui
kelemahannya di hadapan Allah.
Anjuran untuk berdoa telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah Ayat 186 :



186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran.
Ada 7 faktor yang menjadikan doa tidak dikabulkan, diantaranya :
1. Perbuatan yang mengundang amarah Allah, dan tidak segera bertaubat
2. Pernyatan palsu, yaitu menyatakan : Kami hamba Allah , tetapi tidak seperti buruh
taat kepada majikannya.
3. Tidak melaksanakan Al-Quran, sekalipun membacanya, tetapi acuh terhadap
perintah atau larangan yang dikandungnya.
4. Mengingkari pengakuan sebagai umat Muhammad karena sunnaturrasul
ditinggalkan begitu saja, sehingga tetap makan ( melanggar barang) haram.
5. Mengerti bahwa : Dunia tiada harganya di sisi Allah walau sesayap nyamuk,
tetapi karenanya perasaanmu menjadi tentram
6. Kau mengerti bahwa dunia fana (rusak), tetapi kau berbuat seakan-akan kekal
baginya.
7. Mengerti akherat lebih utama daripada dunia, tetapi tidak beramal demi akhirat
dengan sepenuh hati, bahkan berlaku sebaliknya.
4. Akhlak Terhadap Manusia
a. Akhlak terhadap diri sendiri
- Setia (al-amanah)
Sikap pribadi setia, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang
dipercayakan kepadanya, baik berupa harta, rahasia, kewajiban dan
kepercayaan lainnya. Allah berfirman dalam al-Quran :




58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya
Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

Benar (as-shidq)

5
Berlaku benar dan jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan. Allah
berfirman dalam al-Quran :


Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan masuklah
kepada golongan orang-orang yang benar. (Q.S. at-Taubah: 119)

- Adil (al-adl)
Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil perseorangan, tindakan
memberikan sesuatu kepada yang berhak tanpa menguranginya. Adil dalam
hukum atau masyarakat, memutuskan suatu perkara sesuai dengan hukum
tanpa memandang latar belakang. Pemerintah yang adil, yang berusaha
menjadikan rakyatnya sejahtera. Allah berfirman dalam al-Quran :




Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri lurus karena Allah
menjadi saksi atas keadilan. Janganlah kebencian suatu kaum menyebabkan
kamu tidak menjalankan keadilan. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
kepada taqwa dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Maidah: 8)
-

Memelihara kesucian diri (al-ifafah)


Menjaga dan memelihara kesucian dan kehormatan diri dari tindakan tercela,
fitnah dan perbuatan yang mengotori dirinya. Allah berfirman dalam alQuran :



Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh
merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. as-Syams: 9)
-

Malu
Malu terhadap Allah dan diri sendiri dari perbuatan melanggar perintah Allah.
Perasaan malu dapat mencegah dari perbuatan buruk dan nista. Nabi saw
bersabda :


Malu itu tidak membuahkan sesuatu kecuali kebaikan. (H.R. Muttafaq
Alaih)
-

Keberanian (as-Syajaah)
Sikap mental yang menguasai hawa (keinginan) nafsu dan berbuat menurut
semestinya. Nabi saw bersabda dalam hadisnya yang artinya:


Bukanlah yang disebut pemberani itu orang yang kuat bergulat.
Sesungguhnya pemberani ialah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya
ketika marah. (H.R. Muttafaq Alaih)
-

Kekuatan (al-quwwah)
Potensi, daya dan kekuatan fisik, jiwa (semangat) dan pikiran (kecerdasan).
Kekuatan fisik dipelihara melalui makanan atau pemeliharaan kesehatan dan
kebugaran badan sehingga tidak mudah sakit. Kekuatan jiwa ialah
kesanggupan menerima cobaan dan kesiapan melakukan perjuangan sehingga
tidak mudah lemah dan putus asa. Kekuatan pikiran adalah kesiapan dan
semangat mencari dan mengembangkan pikiran dan mencari pengetahuan dan
ketarmpilan.

Kesabaran (as-shabr)
Sabar dalam beribadah berarti berusaha istiqomah dan tepat waktu
menyembah dan mengabdi kepada Allah, sabar ketika ditimpa musibah berarti
segera ingat kepada Allah dan berusaha menanggulanginya, sabar dalam
menghindari maksiat atau dosa berarti berusaha sekuat tenaga untuk
menjahuinya dan sabar dalam mengerjakan sesuatu berarti semangat
menghadapi pekerjaan dan tugas hidup.
Allah berfirman dalam al-Quran dijelaskan :


Sesungguhnya orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa
terhitung. (Q.S. Az Zumar: 10 )

Kasih sayang (ar-rahmah)


Sifat mengasihi terhadap diri sendiri, orang lain dan sesama makhluk. Sifat ini
melahirkan sikap pemurah, tolong menolong, pemaaf, damai, persaudaran dan
silaturrahim.

Hemat (al-iqtishad)
Sikap hemat yang meliputi hemat terhadap harta, tenaga dan waktu. Allah
berfirman dalam al-Quran:



Dan mereka itu apabila membelanjakan hartanya, tidak melampaui batas dan
tidak pula bersifat kikir, tetapi mengambil jalan tengah di antara keduanya.
(Q.S. al-Furqan: 67).

b. Akhlak Terhadap Keluarga


- Akhlak terhadap orang tua
Orang tua menjadi sebab adanya anak-anak, karena itu akhlak terhadap orang
tua sangat di tekankan oleh ajaran Islam. Bahkan menyakiti orang tua
termasuk dosa besar yang siksanya bisa dirasakan dunia dan di akhirat.
Prinsip-prinsip dalam melaksanakan akhlak terpuji (mahmudah) terhadap
orang tua:
a. Patuh, yaitu mentaati perintah orang tua selain bermaksiat kepada Allah.
b. Ihsan, berbuat baik kepada mereka sepanjang hidupnya.

7
c.
d.
e.
f.

Lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan.


Merendahkan diri di hadapnnya.
Berterima kasih.
Berdoa untuk mereka atau meminta doa kepada mereka.

- Akhlak terhadap suami isteri


Suami-isteri merupakan ikatan yang menghubungkan kasih sayang laki-laki
dan perempuan. Dalam keluarga hubungan itu melahirkan komunikasi, baik
dengan kata-kata maupun perilaku. Jika komunikasi itu didasari kasih saying
yang tulus, maka akan lahir hubungan yang harmonis. Kasih saying
ditampilkan dalam bentuk perhatian melalui kata-kata dan sikap.
Masing-masing dari keduanya mempunyai hak atas yang lain. Hak suami atas
isteri adalah: dan hak isteri anak suami adalah:
- Akhlak terhadap anak
Akhlak terhadap anak adalah memberinya perhatian dan kasih sayang yang
sangat dibutuhkan anak. Merawat, mengasuh, membimbing dan mengarahkan
anak merupakan bagian yang sangat penting dalam mengembangkan akhlak
yang baik. Bergaul dengan anak pada dasarnya merupakan pendidikan bagi
anak. Seluruh gerak gerik orang tua akan dilihat, ditiru dan dijadikan contoh
oleh anak dalam mengepresikan dirinya.
c. Akhlak Terhadap Tetangga
Akhlak terhadap tetangga merupakan perilaku yang terpuji. Memenuhi hak
tetangga
adalah
berbuat
baik
kepada
tetangga
sesuai
dengan
kemampuan.Tetangga adalah orang-orang yang tinggalnya berdekatan dengan
rumah kita, muslim, abid, fasiq, teman, musuh, pendatang dan sebagainya.
Tetangga merupakan orang yang paling dekat secara sosial, karena itu, menjadi
prioritas untuk diperlakukan secara baik, sehingga dapat terjalin hubungan yang
harmonis dalam bentuk tolong menolong dan sebagainya.
Tetangga terdiri dari beberapa tingkatan atau martabat, ada yang rendah ada
yang tinggi. Karena itu, ada tetangga yang hanya mempunyai hak tetangga saja
seprti tetangga musyrik, ada yang mempunyai dua hak seperti hak tetangga dan
hak keIslaman, dan ada yang mempunyai tiga hak seperti hak tetangga, hak
keIslaman dan hak kekerabatan.
Perintah memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga, telah dijelaskan oleh
dalil dalil al-Quran :





Dan sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya dengan sesuatu yang
lain, berbuat baiklah kepada ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, ibnu sabil dan budak yang kamu miliki.
Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang sombong dan
membanggakan diri. (Q.S. an-Nisa: 36)
Sedangkan hadis Nabi SAW yang menerangkan berbuat baik kepada tetangga
yang artinya :


Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati
tetangganya. (H.R. Abu Daud)
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak menyakiti
tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
berkata baik atau diam. (H.R. Bukhari)
Berbuat baik kepada tetangga sangat dianjurkan oleh Nabi saw. Beberapa hak
tetangga yang dijelaskan oleh Nabi saw dalam sabdanya adalah :
1.

Kalau ia ingin meminjam sesuatu


hendaklah engkau pinjamkan.
Kalau ia minta tolong, hendaklah engkau
tolong.
Kalau ia sakit, hendaklah engkau jenguk.
Kalau ia ada keperluan, hendaklah engkau
beri.
Kalau ia miskin, hendaklah engkau beri
bantuan.
Kalau ia mendapat kesenangan, hendaklah
engkau ucapkan selamat.
Kalau ia tertimpa kesusahan, hendaklah
engkau hibur.
Kalau ia meninggal dunia, hendaklah
engkau antarkan jenazahnya.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Janganlah engkau membangun rumah lebih tinggi dari rumahnya sehingga


menghalangi sampainya angin (udara) ke dalam rumahnya, kecuali seizinnya.
Janganlah engkau susahkan ia dengan bau masakanmu kecuali engkau berikan
masakanmu kepadanya.
Jika engkau membeli buah-buahan, berikan buah-buahan itu kepadanya, jika
engkau tidak memberinya, bawalah masuk ke dalam rumah secara sembunyi dan
janganlah anakmu membawa buah-buahan itu ke luar (rumah), karena anak
(tetangga) itu akan menginginkannya. (H.R. al-Kharaithi)

d. Akhlak Terhadap Tamu


Akhlak terhadap tamu merupakan perilaku yang terpuji. Tamu merupakan
orang yang dekat dengan kita baik dari keluarga sendiri maupun orang lain.
Memuliakan tamu adalah menerima mereka yang datang ke rumah kita untuk
bermalam serta menjamunya dan memberikan perbekalan kepadanya ketika ia pergi
(pulang). Menjamu tamu (dhiyafah) yang datang, dipandang sebagai suatu keutamaan
budi bahkan dipandang sebagai tanda kebenaran iman.
Terkait dengan perintah berakhlak baik kepada tamu adalah dalil al-Quran :



Mereka mengutamakan kepentingan orang lain meskipun mereka
membutuhkannya dan barang siapa yang menjaga dirinya dari kikir. Mereka
itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. al-Hasyr: 9).
Sedangkan dalam Hadis Nabi SAW, yang artinya :
Barang siapa beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah ia
menghormati tamunya. (H.R. Bukhari Muslim)
1. Cara memuliakan tamu adalah:
(a) Memberi jamuan yang baik untuk hari pertama dan jamuan sekedarnya
(apa yang bisa diberikan) untuk hari kedua dan ketiga,
(b) Memberi belanja (bekal) sehari semalam ketika ia pergi atau pulang.
Hak bertamu akan habis pada hari ke empat dan segala apa yang
diberikan kepada tamu dihukumi sedekah. Sebab, batas bertamu sesuai
dengan ajaran sunnah Nabi saw adalah tiga hari tiga malam. Tamu tidak
boleh tinggal lama-lama di rumah orang yang menerima kedatangannya
kecuali atas kerelaaan yang mempunyai rumah karena
dapat
memberatkan tuan rumah sesuai dengan hadis Nabi saw yang artinya:
Dan tidak boleh bagi tamu berdiam lama-lama di rumah orang yang
menerimanya, karena yang demikian itu memberatkan tuan rumah. (H.R.
Bukhari Muslim
2. Tata cara menerima tamu adalah:
(a) Menyambut kedatangannya dengan wajah ceria dan berseri-seri dan
Menyenangkan selama ia berada di rumah kita,
(b) Membicarakan yang baik-baik dengan dia,
(c) Mendudukkan dia di tempat yang baik dan kita sendiri yang melayani,
(d) Menyiapkan makan minumnya selama tiga hari sesuai dengan
kemampuan; segera setelah kedatangannya kita ajak makan dan minum
jika waktunya sudah tiba
(e) Mengantar tamu ke pintu rumah jika ia mau pulang.

5. Akhlak Terhadap Lingkungan


Alam semesta ini merupakan ciptaan Allah yang wajib disyukuri dengan cara
mengelolanya dengan baik agar berguna bagi manusia dan alam itu sendiri.
Pemanfaatan alam dan lingkungan hidup bagi kepentingan manusia hendaknya
disertai sikap tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap utuh dan lestari.
Berakhlak kepada lingkungan alam adalah menyikapinya dengan cara memelihara
kelangsungan hidup dan kelestariannya. Agama Islam menekankan agar manusia
mengendalikan dirinya dalam mengekploitasi alam, sebab alam yang rusak akan
merugikan bahkan menghancurkan kehidupan manusia sendiri.
Seorang muslim dituntut untuk menebarkan rahmat bagi seluruh alam, yaitu
memandang alam dan lingkungan dengan rasa kasih sayang. Di antara ayat al-Quran

10
terkait dengan pemeliharaan alam dan larangan merusak serta akibatnya adalah yang
artinya :



Telah nyata bencana di darat dan di laut, karena ulah tangan manusia, supaya
Allah merasakan sebahagian dari (balasan) perbuatan yang mereka perbuat,
mudah-mudahan mereka kembali (taubat). (Q.S. as-Sajdah: 41)




77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.

11