Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM NEUROBEHAVIOR

KEJANG DEMAM PADA An.D DI RUANG DAHLIA


RSUD DR.H. SOEWONDO KENDAL

Disusun Oleh :
Dewi Syarifatul
Muhammad Ali
Zema Maksalmina

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
PEKAJANGAN-PEKALONGAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kejang demam merupakan kelainan neurologist yang paling sering
dijumpai pada anak terutama pada golongan anak berumur 6 bulan sampai
4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur dibawah 5 tahun pernah
mengalami kejang demam. Kejang demam biasanya terjadi pada awal
demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku,
kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa
waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari
biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang
biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi
selama lebih dari 15 menit.
Terjadinya jangkitan demam kejang tergantung kepada umur,
tinggi serta cepatnya suhu tubuh meningkat. Tiap anak mempunyai
ambang kejang yang berbeda, tergantung tinggi rendahnya ambang kejang
seseorang anak akan menderita demam kejang pada kenaikan suhu
tertentu. Bangkitan demam kejang merupakan satu manifestasi daripada
lepasnya muatan listrik yang berlebihan disel neuron saraf pusat. Keadaan
ini merupakan gejala terganggunya fungsi otak dan keadaan ini harus
segera mendapatkan penanganan medis secara tepat dan adekuat untuk
mencegah terjadinya komplikasi antara lain : Depresi pusat pernafasan,
Pneumonia aspirasi, cedera fisik dan retardasi mental. Selain dampak
biologis, klien juga mengalami pengaruh psikososial. Dalam keadaan ini
klien akan merasa rendah tinggi karena perubahan pada tubuhnya akibat
adanya kejang demam.
Kejang demam menurut (Mansjoer 2007, h.434) menyebutkan
bahwa kejang demam dapat di klasifiksikan menjadi dua golongan, yaitu
kejang demam sederhana, yang berlangsung kurang dari 15 menit dan
umum, dan kejang demam kompleks, yang berlangsung lebih dari 15
menit, fokal atau meltiple (lebih dari 1 kali kejang dala 24 jam.

Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak


umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di
bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih
sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut
disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih
cepat dibandingkan laki-laki.
Di Amerika Serikat, kejang demam terjadi pada 2-5% anak usia 6
bulan hingga 5 tahun. Diantaranya, sekitar 70-75% hanya mengalami
kejang demam sederhana, yang lainnya sekitar 20-25% mengalami kejang
demam kompleks, dan sekitar 5% mengalami kejang demam simtomatik.
Kejang demam tergantung pada usia, dan jarang terjadi sebelum usia 9
bulan dan setelah usia 5 tahun. Puncak terjadinya kejang demam yaitu
pada usia 14 sampai 18 bulan, dan angka kejadian mencapai 3-4% anak
usia dini. Di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi sekitar 20%
diantara jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus
ditangani secara lebih teliti (Selamihardja, 2001). Di Indonesia pada tahun
2006 kejang demam termasuk sebagai lima penyakit anak terpenting di RS
Cipto Mangunkusumo sebesar 7,4%, meningkat pada tahun 2008 dengan
kejadian kejang sebesar 22,2% (RSCM, 2008).

BAB II
KONSEP TEORI
A.

PENGERTIAN
Kejang demam adalah serangan kejang yang terjadi karena
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 0 C) (Sukarmin 2009, h.53).
Kejang demam atau febrile convulsion adalah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 0 C) yang
disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan
kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak-anak, terutama
pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun (Ngastiyah 2005,
h.165). Kejang demam merupakan fungsi otak mendadak dan sementara
sebagai akibat dari aktivitas neural yang abdnormal dan pelepasan listrik
serebral yang berlebihan (Betz&Sowden 2002, h.67).
Dari ketiga pengertian dapat disimpulkan bahwa kejang demam
adalah kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak-anak
yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan
fungsi otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan
sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang.
B. ETIOLOGI
Kondisi yang dapat menyebabkan kejang antara lain : infeksi yang
mengenai jaringan ekstra kranial seperti tonsilitis, otitis media akut,
bronkitis (Sukarmin 2009, h.53).
C. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis yang muncul pada penderita kejang demam:
1. Suhu tubuh anak (suhu rektal) lebih dari 38o C
2. Timbulnya kejang yang bersifat tonik klonik, klonik, tonik, fokal atau
akinetik. Beberapa detik setelah kejang berhenti anak tidak
memberikan reaksi apapun tetapi beberapa saat kemudian anak akan
tersadar kembali tanpa ada kelainan persyarafan.

3. Saat kejang anak tidak berespon terhadap rangsangan seperti


panggilan, cahaya (penurunan kesadaran)
Kejang demam menurut Living Stone juga dapat kita jadikan pedoman
untuk menentukan manifestasi kilinis kejang demam :
1. Umur anak saat kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
2. Kejang hanya berlangsung tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum (tidak pada satu bagian tubuh seperti pada oto
rahng saja)
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan sistem persyarafan sebelum dan sesudah kejang tidak ada
kelainan
6. Pemeriksaan elektro encephaloghrapy dalam kurun waktu satu minggu
atau lebih setelah suhu normal tidak di jumpai kelainan
7. Frekuensi kejang dalam waktu satu tahun tidak lebih dari 4 kali
(Sukarmin 2009, hh. 53-54 )

D. PATOFISIOLOGI
Infeksi yang terjadi pada jaringan di luar kranial seperti tonsilitis,
otitis media akut, bronkitis penyebab terbanyaknya adalah bakteri yang
bersifat toksik. Toksik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dapat
menyebar ke seluruh tubuh melalui hematogen maupun limfogen.
Penyebaran toksik ke seluruh tubuh akan di respon hipotalamus
dengan menaikan pengaturan suhu di hipotalamus sebagai tanda tubuh
mengalami bahaya secara sistemik. Naiknya pengaturan suhu di
hipotalamus akan merangsang kenaikan suhu di bagian tubuh yang lain
seperti otot, kulit sehingga terjadi peningkatan kontraksi otot
Naiknya suhu di hipotalamus, otot, kulit dan jaringan tubuh yang
lain akan di sertai pengeluaran meediator kimia seperti epinefrin dan
prostaglandin. Pengeluaran mediator kimia ini dapat merangsang
peningkatan potensial aksi pada neuron. Peningkatan potensial inilah yang
merangsang perpindahan ion natrium, ion kalium dengan cepat dari luar
sel menuju ke dalam sel. Peristiwa inilah yang di duga dapat menaikan
fase depolarisasi neuron dengan cepat sehingga timbul kejang.

Serangan yang cepat itulah yang dapat menjadikan anak


mengalami penurunan respon kesadaran, otot ekstremitas maupun bronkus
juga dapat mengalami spasma sehingga anak beresiko terhadap injuri dan
kelangsungan jalan napas oleh penutupan lidah dan spasma bronkus
(Sukarmin 2009, hh. 54-55 ).

E. PATHWAY
Terlampir
F. KOMPLIKASI
Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya
terjadi hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang
terjadi. Mula mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu
timbul spastisitas.
Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan
anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy.
Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan
kejang demam :
a. Pneumonia aspirasi
b. Asfiksia
c. Retardasi mental
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Darah
Glukosa Darah

: Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N <

200 mq/dl)
BUN

: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan


merupakan indikasi nepro toksik akibat dari
pemberian obat.

Elektrolit

: K, Na Ketidakseimbangan elektrolit merupakan


predisposisi kejang Kalium ( N 3,80 5,00
meq/dl )Natrium ( N 135 144 meq/dl ).

b. Cairan Cerebro Spinal


Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi, pendarahan
penyebab kejang.
c. Skull Rayi
Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi
d. Tansiluminasi
Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (di
bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk
transiluminasi kepala.
e. EEG
Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang
utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.
f. CT Scan
Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik hematoma, cerebral oedem,
trauma, abses, tumor dengan atau tanpa kontras.
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu
dikerjakan, yaitu :
1. Pemberantasan kejang secepat mungkin
Pemberantasan kejang di Sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI sebagai berikut :
Apabila seorang anak datang dalam keadaan kejang, maka :
a. Segera diberikan diazepam intravena

dosis rata-rata 0,3

mg/kg
Atau
diazepam rectal

dosis 10 kg : 5 mg

bila kejang tidak berhenti

10 kg : 10 mg

( Tunggu 15 Menit).
Dapat diulang dengan cara/dosis yang sama kejang berhenti
berikan dosis awal fenobarbital
dosis : neonatus

: 30 mg I.M

1 bulan 1 tahun : 50 mg I.M


1 tahun

: 75 mg I.M

Bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital


dengan dosis

awal dan selanjutnya diteruskan dengan dosis

pemulihan.
2. Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
a. Semua pakaian ketat dibuka
b. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi
lambung
c. Usahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin

kebutuhan

oksigen
d. Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan
oksigen
3. Pengobatan rumat
Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada
hari pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari
berikutnya.
Pengobatan ini dibagi atas 2 golongan yaitu :
a. Profilaksis intermitten
Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari diberikan
obat campuran anti konvulsan dan anti piretik yang harus diberikan
pada anak bila menderita demam lagi
b. Profilaksis jangka panjang
Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil
dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya
kejang di kemudian hari.

4. Mencari dan mengobati penyebab


Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan
astitis media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati
penyakit tersebut. Pada pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan
lebih intensif seperti fungsi lumbal, kalium, magnesium, kalsium,
natrium dan faal hati. Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG,
ensefalografi, dll (Ngastiyah 2005, h.168).
Cara pemberian obat :
a. Diazepam rektal 5 mg, atau10 mg, maksimal 2 kali, interval 5-10
menit.
b. Diazepam IV maksimal sekali pemberian 10 mg dengan kecepatan
2 mg/menit, dapat diberikan 2-3 kali dengan interval 5 menit.
c. Fenitoin IV dosis inisial maksimum adalah 1.000 mg (30
mg/kgBB). Sediaan IV diencerkan dengan 1 ml NaCL 0,9% per 10 mg.
Kecepatan pemberian IV maksimum 50 mg/menit.
d. Fenobarbital IV dosis inisial maksimum 600 mg (30 mg/kgBB).
Kecepatan pemberian maksium 30 mg/menit.
e. Midazolam IV bolus 0,2 mg/kgBB (perlahan), kemudian drip 0,020,4 mg/kg/jam. Rumatan Fenitoin dan Fenobarbital tetap diberikan.
Menurut (Sukarmin 2009, hh. 56-57 ) penatalaksanaan pada pasien
dengan kejang demam selama di rumah sakit dan di rumah adalah
sebagai berikut :
1. Penatalaksanaan di Rumah Sakit
Penatalaksanaan yang dilakukan saat pasien di Rumah Sakit antara
lain:
a. Saat timbul kejang maka penderita di berikan di anak diazepam IV
secara perlahan dengan panduan dosis untuk BB yang kurang dari
10 kg dosisnya 0,5-0,75 mg per kg BB, di atas 20 kg 0,5 mg per kg
BB
b. Pembebasan jalan napas dengan cara kepala dalam posisi
hiperekstensi miring, pakaian di longgarkan dan penghisapan
lendir. Bila tidak membaik dapat dilakukan intubasi endotrakel
atau trakeostomi.

c. Pemberian oksigen, untuk membantu kecukupan perfusi jaringan


d. Pemberian cairan IV untuk mencukupi kebutuhan dan
memudahkan dalam pemberian terapi IV. Dalam pemberian terapi
IV pemantauan intake dan output cairan selama 24 jam perlu
dilakukan karena pada penderita yang beresiko terjadinya
peningkatan TIK kelebihan cairan dapat memperberat penurunan
kesadaran pasien
UMUR

BB KG

KEBUTUHAN

0-3 hari
3-10 hari
3 bulan
6 bulan
9 bulan
1 tahun
2 tahun
4 tahun
6 tahun
10 tahun
14 tahun

3
3,5
5
7
8
9
11
16
20
28
35

CAIRAN PER KG BB
150
125-150
140-160
135-155
125-145
120-135
110-120
100-110
85-100
70-85
50-60

e. Pemberian kompres air es untuk membantu menurunkan suhu


tubuh dengan metode konduksi yang perpindahan panas dari
derajat yang tinggi (suhu tubuh) ke benda yang mempunyai derajat
lebih rendah (kain kompres)
f. Apabila terjadi peningkatan TIK maka perlu di berikan obat-obatan
untuk mengurangi edeme otak seperti deksametason 0,5 sampai 1
ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik
g. Untuk pengobatan rumatan setelah pasien terbebas dari kejang
pasca pemberian diazepam , maka perlu di berikan obat
fenobarbital dengan dosis awal 30mg pada neonatus, 50mg pada
anak usia 1 bulan samapai satu tahun, 75mg pada anak usia 1 tahun
ke atas dengan tekhnik pemberian IM
h. Pemeriksaan leukosit, foto rontgen, pemeriksaan kultur jaringan,
pemeriksaan gram bakteri serta pemeriksaan penunjang lain untuk
mengetahui jenis mikroorganisme yang menjadi penyebab infeksi.
2. Penatalaksanaan di Rumah

Karena penyakit kejang demam sulit di ketahui kapan munculnya,


maka orang tua atau pengasuh anak perlu di beri bekal untuk
memberikan tindakan awal pada anak yang mengalami kejang demam.
Tindakan awal itu antara lain:
a. Saat timbul serangan kejang segera pindahkan anak ke tempat yang
aman seperyi di lantai yang di beri alas lunak tapi tipis, jauh dari
benda-benda berbahaya seperti gelas, pisau.
b. Posisi kepala anak hiperekstensi, pakaian di longgarkan. Kalau
takut lidah anak menekuk atau tergigit mka di berikan tong spatel
yang di bungkus dengan kasa atau kain, kalau tidak ada dapat di
berikan sendok makan yang di balut dengan kasa atau kain bersih
c. Fentilasi ruangan harus cukup. Jendela dan pintu di buka supaya
terjadi pertukaran oksigen lingkungan.
d. Kalau anak mulutnya masih dapat di buka sebagai pertolongan
awal dapat di berikan antipiretik seperti aspirin dengan dosis 60mg
pertahun perkali (maksimal sehari 3 kali)
e. Kalau memungkinkan sebaiknya orang tua atau pengasuh di rumah
menyediakan diazepam (melalui dokter keluarga) sehingga saat
serangan kejang anak dapat di berikan jika tidak tersedia segera
anak di bawa ke rumah sakit.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Tempat Praktek

: Ruang Dahlia RSUD DR.H.Soewondo Kendal

Tanggal praktek

: 31 Maret 2014 -12 April 2014

1. IDENTITAS DATA
Nama

: An. D

Alamat

: Patebon 04/02 Kendal

TTL

: Kendal, 8 Januari 2009

Agama

: Islam

Usia

: 4 tahun

Suku bangsa

: Indonesia

Nama Ayah/Ibu

: Tn. K

Pendidikan Ayah

: Wirausaha

Pekerjaan Ayah

: SMA

Pendidikan ibu

: SMA

Pekerjaan ibu

: Ibu Rumah Tangga

2. KELUHAN UTAMA
Pasien panas, suhu : 40,6 C.
3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Sebelum dibawa kerumah sakit pasien habis pulang dari bermain tibatiba

pasien panas tinggi sampai mengalami kejang kurang lebih 10

menit, batuk-batuk, muntah-muntah. Akhirnya keluarganya memutuskan


untuk membawa pasien di RSUD Dr.H.Soewondo Kendal. Pada saat
dilakukan pengkajian pada tanggal 3 April 2014 pada pukul 08.30
didapatkan data suhu : 40,6 C, Rr : 34x/menit, Nadi : 108x/menit, kulit
teraba hangat, batuk, ada bunyi ronkhi pada kedua lapang paru. Pasien
dirawat diruang Dahlia HND untuk mendapatkan pengawasan oleh
perawat secara berlanjut.
4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Ds : ibu pasien mengatakan bahwa pada waktu kecil kurang lebih pada
umur 3 tahun pasien mengalami kejang-kejang untuk pertama kali selama
lima menit , pasien sudah sering dirawat dirumah sakit dengan keluhan

yang sama. Pasein sering diberi obat penurun panas pada saat panas
meningkat. Pasien tidak pernah mengalami tindakan operasi. Pasien
mendapatkan imunisasi lengkap, tidak ada riwayat elergi. Ibu pasien
mengatakan pasien tidak pernah mengalami kecelakaan atau jatuh.
5. RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1. Kemandirian dan bergaul
a. Menatap wajah

:v

b. Menggapai mainan

:v

c. Mengenal orang lain

:v

d. Menunjuk benda

:v

e. Melepas benda

:v

f. Cuci tangan

:-

g. Bermain kelompok

:-

h. Memerintah atau mengkritik

:v

i. Tersenyum pada orang lain

:v

j. Makan sendiri

:v

k. Melambaikan tangan

:v

l. Menarik celana

:v

m. Latihan BAK

:v

n. Pamer

:v

2. Motoirk halus
a. Refleksi anak

:v

b. Mengikuti gerakan

:v

c. Memasukkan kemulut

:v

d. Menjepit benda

:v

e. Membuka buku

:v

f. Membuka baju

:-

g. Tulisan cakar ayam

:v

h. Membolak balik buku

:v

i. Meniru garis horisontal

:v

j. Meniru lingkaran

:v

k. Meniru silang

:v

l. Menulis nama depan

:-

m. Menghitung benda 4

:-

n. Menggambarkan 6 bagian

:-

3. Kognitif dan bahasa


a. Rospan wajah pada wajah

:v

b. Celateh

:v

c. Tertawa atau menjerit

:v

d. Memahami kata tidak

:v

e. Meyebut mama atau papa

:v

f. Memahami perintah 4-6 kata

:v

g. Menyebut bagian tubuh

:v

h. Menyebut idetitas lengkap

:-

i. Menyebut bagian tubuh

:v

j. Menanyakan arti

:v

4. Motorik kasar
a. Menggangkat kepala dalam

:v

tengkup
b. dapat diubah dengan tegak

:v

c. berguling

:v

d. duduk sendiri

:v

e. berjalan

:v

f. menendang

:v

g. melompat

:v

h. naik tangga

:v

kesimpulan perkembangan anak = perkembangan baik.


6. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA ( DISERTAI GENOGRAM )
Genogram :

An.
D

Keterangan :
= Laki-laki
= Perempuan
= Pasien
= Tinggal Serumah
DS : ibu pasien mengatakan tidak ada yang menderita penyakit
yang sama dengan pasien dalam keluarganyaganya.
7. POLA KESEHATAN FUNGSIONAL MENURUT GORDON
a. Pola persepsi kesehatan manajemen (pemeliharaan kesehatan)
Ibu pasien mengatakan jika sakit pasien diperiksakan oleh
keluarga ke pelayanan kesehatan terdekat seperti Bidan, Puskesmas
maupun ke Rumah sakit. Di rumah keluarga biasa menyediakan obatobatan seperti obat penurun panas dan obat batuk pilek.
b. Pola metabolisme nutrisi
Ibu pasien mengatakan sebelum sakit pasien makan nasi, sayur,
buah, lauk pauk, dan sudah ada makanan pendamping, selama sakit
pasien tetap makan nasi, sayur, ayam, tahu, tempe di rumah sakit.

c. Pola eliminasi
Ibu pasien mengatakan sebelum pasien BAB 1-2x se hari. BAK
6-7x/hari, selama sakit pasien BAB 1x/hari dengan konsistensi

lembek, warna kekuningan, tidak ada lendir atau darah, BAK 4x/hari
dengan warna khas urine.
d. Pola aktivitas latihan
Ibu pasien mengatakan dalam pemenuhan kebutuhan seperti
makan, minum, BAB-BAK, mandi, berpakaian pasien dibantu
keluarga selama sakit pasien tampak lemah.
e. Pola istirahat tidur
Ibu pasien mengatakan sebelum sakit passien tidur malam 10-12
jam, tidur siang 2-4 jam. selama sakit pasien tidur malam 8-10 jam
tidur siang kurang lebih 2 jam.
f. Pola persepsi kognitif
Ibu pasien mengatakan pasien tidak mengalami gangguan pada
pendengaran, penglihatan, pengecapan, pasien dapat membedakan
orang yang dikenal dengan orang asing.
g. Pola persepsi diri
Ibu pasien mengatakan pasien pengen cepat sembuh agar dapat
bermain dengan teman-teman yang lain.
h. Pola hubungan sosial
Ibu pasien mengatakan pasien suka bermain dengan keluarga,
pasien sering bermain dengan teman-temannya disekolah.
i. Pola seksual
Pasien berjenis kelamin perempuan. Genetalia pasien tidak ada
kelainan.
j. Pola pemecahan masalah mengatasi stres
pasien diajak bermain untuk mengurangi stress akibat sakitnya.
k. Sistem kepercayaan nilai-nilai
Ibu pasien mengatakan pasien dari keluarga yang beragama
Islam. Keluarga pasien tidak mempercayai mitos-mitos sesuai
kepercayaan orang dulu.

8. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI


a. Diagnosa medik
Kejang Demam
b. Tindakan operasi
Tidak ada prosedur operasi yang harus dijalani pasien.
c. Status nutrisi
A : BB = 15 Kg. panjang badan= 90 cm
B : WBC : 13,5x103, HGB : 12,3g/dL, MCV : 76,4 fL, RDW-SD :
39,1 fL.
C : Turgor kulit baik.
D : Pasien mendapatkan diet nasi.
d. Status cairan
Intake :
Pasien terpasang infuse RL 16 tpm.
Pasien mendapat terapi :
Injeksi :
Cefotaxim 2x400 mg
Diazepam : 10 mg (Bila Kejang).
Ranitidin 3x25 mg
Oral :
Paracetamol 3x 30 mg
Luminal : 3x30 mg
Ibu pasien mengatakan pasien minum air putih 300 cc / hari
Output :
Ibu pasien mengataka passien BAB 1-2x/hari, BAK 150 cc
Kenaikan suhu
e. Obat-obatan
Injeksi :
Cefotaxim 2x225 mg

Oral :
Paracetamol 3x 30 mg

Diazepam : 10 mg (Bila Luminal : 3x30 mg


Kejang).

Nebulizer (ventoline 3x 10 mg)

Ranitidin 3x25 mg

f. Aktivitas
Aktivitas pasien terbatas seperti makan, minum, BAK, BAB,
berpakaian dibantu oleh keluarga. Pasien selama sakit dalm aktivitas
terbatas karena pasien terpasng infus, pasien sering tidur di atas
tempat tidur

g. Tindakan keperawatan
1) Melakukan terapi bermain dengan mewarnai gambar
2) Memonitor TTV pasien
3) Memonitor keadaan umum pasien
4) Mengajarkan pemberian kompres hangat dan water tepid sponge
5) Memberikan penkes tentang kejang demam
h. Hasil laboratorium
Pemeriksaan hematologi tgl 3/4/2014 :
Leukosit
13,5x 10^3/ul

Nilai Normal
4,0 11,0
10^3/ul

Eritrosit

4,49x10^3/ul

3,6 - 5,2

10^6/ul

Hemoglobin

12,3 g/dl

10,7 - 13,1

g/dl

Hematokrit

34,3 %

35 43

Trombosit

195x10^3 /ul

150 450

x10^3 /ul

Eosinofil absolute

0,09 10^3/ul

0,045 - 0,44

10^3/ul

Limfosit absolut

2.33 10^3/ul

0,9 - 5,2

10^3/ul

Eosinofil

0,70 %

24

Neutrofil

71.50 %

50 70

MCV

76,4 fL,

80,0-100,0 Fl

RDW-SD

39,1 fL.

35,0-56,0 fl

Pemeriksaan Elektrolit Darah tgl

Nilai Normal

3/4/2014:
Natrium : 103,2

135-148

Kalium : 2,65

3,5-5,3

Calsium : 1,02

1,13-1,31

i. Hasil rontgen
j. Data tambahan
9. PEMERIKSAAN FISIK
a. Temperatur
S : 40,6C
b. Denyut jantung/nadi
N : 108 x/menit
c. Respiratori rate
34x/menit
d. Tekanan darah
e. Pertumbuhan
BB = 15 Kg. panjang badan= 90 cm
f. Keadaan umum
Keadaan umum pasien baik.
g. Kepala
34 cm
h. Mata
I : Mata simetris, konjungtiva tidak anemis, pupil isokhor, reflek mata
terhadap cahaya +/+, tidak ada odema periorbita.
i. Hidung
I : Lubang hidung simetris, tidak ada pembesaran polip, terdapat
sekret.
P : Tidak ada benjolan abnormal.

j. Mulut
Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis, sakit pada tenggorokan.
k. Telinga
Telinga tampak bersih, tampak serumen pada telinga kanan dan kiri.
l. Tengkuk
Tidak ada kaku kuduk, tidak ada benjolan abnormal.
m. Dada
I : Bentuk dada simetris, tidak ada hiper/hipopigmentasi, konfigurasi
1: 2, tidak tampak penggunaan otot bantu pernapasan.
n. Jantung
I: denyut ictus cordis tidak nampak
P: tidak ada pembesaran jantung, denyutan ictus cordis teraba kuat di
ICS 5 midclavicu
la sinistra.
P: suara pekak, batas jantung jelas, tidak ada pembesaran jantung.
A: Bunyi jantung I dan bunyi jantung II terdengar reguler, tidak
terdengar suara jantung tambahan
o. Paru
I : Pengembangan kedua paru simetris, tidak ada jejas.
P : pengembangan kedua paru simetris
P : suara Sonor
A : Suara dasar Vesikuler, tidak terdapat suara paru tambahan
p. Perut
I : perut cembung, Tidak ada pembesaran vena
A : Suara bising usus 22x/ menit
P : tidak ada asites
P : suara perkusi tympani
q. Punggung
Tidak ada dekubitus
r. Genetalia
Genetalia tidak ada kelainan, pasien tidak dipasang kateter.

s. Ekstremitas
Tidak terdapat edema. Tangan kiri terpasang infus RL 16 tpm.
t. Kulit
kulit teraba hangat, tidak hiperpegmentasi.
Jenis Kelamin anak
perempuan

Riwayat Persalinan
Ibu pasien mengatakan saat

Riwayat Imunisasi
Ibu pasien mengatakan

melahirkan anaknya (An. D)

pasien

melalui persalinan normal

imunisasi

pervaginam. Kehamilannya

lengkap

waktu itu sudah 40 minggu.

Imunisasi yang sudah

Berat saat lahir 3000 gram.

diberikan :

mendapatkan
secara

a. Vaksin BCG umur 1


bulan
b. Vaksin DPT umur
2,4 dan 6 bulan
c. Vaksin polio umur
0,2,4 dan 6 bulan
d. Vaksin hepatitis B
umur 0,2,4 dan 6
bulan
e. Campak

umur

bulan
B. ANALISA DATA
No. TANDA DAN GEJALA
1 DS :
Ibu pasien mengatakan badan
anaknya panas
Ibu pasien mengatakan di rumah
mengalami kejang selama
kurang lebih 10 menit.
DO :

PROBLEM
Hipertermi

ETIOLOGI
Proses Infeksi

kulit kering
kulit teraba hangat
Suhu : 40,6 0C
2.

pasien tampak gelisah,


DS :

Ibu klien mengatakan

Ketidakefektifan

akumulasi sekret.

bersihan jalan napas

anaknya batuk-batuk tak


berdahak.
DO :

Klien terlihat batuk

terdengar suara ronkhi pada


kedua lapang dada.

3.

DS :

RR : 34 x/mnt
Resiko infeksi

Masuknya agen

Ibu pasien mengatakan panas

patologi (bakteri,

pada anaknya masih panas.

virus) dalam

DO :
S :40,6C
Leukosit : 14,2 10^3/ul
kulit teraba hangat
mukosa kering

C. MASALAH KEPERAWATAN
1. Hipertermi b.d. proses infeksi.
2. ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. akumulasi sekret.
3. Infeksi b.d. Masuknya agen patogen (bakteri,virus) pada tubuh.
D. PRIORITAS MASALAH
1. Hipertermi b.d. proses infeksi.
2. ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. akumulasi sekret.
3. Infeksi b.d. Masuknya agen patogen (bakteri,virus) pada tubuh.

tubuh.

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No

Dx.

1.

Keperawatan
Hipertermi

Kriteria,Evaluasi
keperawatan
Setelah dilakukan Observasi

berhubungan

tindakan

dengan

Tujuan,

proses keperawatan

infeksi

selama 3x24 jam

Intervensi

Rasional

Prf

Keperawatan
Menentukan

Dewi,

tanda-tanda

intervensi

vital.

selanjutnya.

Berikan
kompres hangat

menurunkan

keperawatan

pada pasien.

suhu tubuh.

Anjurkan

Dapat

teratasi dengan

keluarga untuk

meningkatkan

kriteria hasil:

memberikan

proses

1. Suhu normal

pakaian yang

evaporasi dan

menyerap

mengurangi

keringat

keringat

(36-37,5 C)
2. Akral teraba
hangat

zema

Dapat

masalah
hipertermi dapat

ali,

berlebih.
Batasi aktivitas

Aktivitas

selama anak

dapat

panas

meningkatkan
metabolisme
dan
meningkatkan
panas

Kolaborasi

2.

Ketidakefektifan Setelah dilakukan

Dapat

pemberian obat

menurunkan

antipiretika

suhu tubuh.

sesuai indikasi.
Observasi

Menentukan

bersihan jalan

tindakan

kecepatan,

kebutuhan O2

napas b.d.

keperawatan

irama, dan

dalam tubuh

akumulasi

selama 3x7 jam

upaya

Dewi,
ali,
zema

sekret.

infeksi dapat

pernapasan

teratasi dengan KH Pantau pola


:

pernapasan
-

RR normal

tidak ada

kefektifan pola
napas

Auskultasi

ronkhi
-

mengetahui

bunyi napas

Batuk (-)

Mengetahui
bunyi
tambahan pada
paru

pertahankan
pemberian O2

memenuhi keb
O2 dalam
tubuh.
mengencerkan
sekret pada

Kolaborasi

jalan napas

pemberian obat
Nebulezer
3.

Resiko Infeksi

Setelah dilakukan

b.d. Masuknya

tindakan

agen patogen

sesuai indikasi.
Kaji tanda

untuk

Dewi,

menyusun

ali,

keperawatan

intervensi

zema

(bakteri,virus)

selama 3x7 jam

yang tepat

pada tubuh.

infeksi dapat

tanda infeksi

teratasi dengan KH
- Leukosit dalam

Pantau tandatanda vital

Mengetahui
keadaan

batas normal.

umum pada

- tidak ada tanda

pasien

tanda infeksi.
- Suhu dalam batas
normal.

Ajarkan

Mengurangi

tentang

suhu panas

kompres

pada pasien

hangat

Kolaborasi

mencegah

pemberian

terjadinya

antibiotik

infeksi.

Pantau hasil
laboratorium

Pemeriksaan
penunjang
sangat
diperlukan
dalam
pemberian
terapi.

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tanggal
/jam
31
Maret
2014
07.45
WIB
07.50
WIB

No.
Dx
1,2,3

07.55
WIB

1,3

08.00
WIB

1,2,3

Implementasi

Respon

Paraf

Mengobservasi TTV

S : ibu klien mengatakan anaknya


Dewi
badannya panas
Ali
0
O : S: 40,6 C, Nadi : 108 x/menit, RR: Zema
34 x/mnt

Memantau
pernapasannya

S : Ibu mengatakan anaknya batuk


O : klien terlihat batuk

Dewi
Ali
Zema
Mengajarkan
ibu S :
Dewi
pemberian kompres hangat
Ibu mengatakan sudah mengerti Ali
tentang cara pemberian kompres Zema
hangat.
O:
Ibu memahami dan mampu
mempraktikan cara pemberian
kompres hangat
S : 39,5C
Memberikan
program S :
injeksi IV dan Oral :
Ibu ps mengatakan pasien badannya
masih panas
Cefotaxim 2x225 mg
O:

Dewi
Ali
Zema

Ranitidin 3x25 mg
Oral :
Paracetamol syrup 2 sdt.
Luminal 3x30 mg

Pasien menangis ketika diinjeksi


Tidak ada tanda alergi

10.00
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Dewi
Ali
Zema

11.00
WIB

Mengajarkan pada keluarga S : agar


pasien
diberikan O : Ibu mengenakan anaknya pakaian
pakaian longgar.
yang longgar

Dewi
Ali
Zema

11.05
WIB

1,2,3

Memberikan
penkes S : Ibu klien memahami apa yang
tentang kejang demam dan diterangkan.
penanganannya.
O : ibu terlihat memperhatikan.

11.30
WIB

12.00
WIB

1,2,3

13.00
WIB

1,2,3

13.10
WIB

Mengukur suhu tubuh

14.00
WIB

1,2,3

Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah


pasien.
O : S : 39,2, RR 30 x/mnt, N : 86 x.mnt

14.20
WIB

Mempertahankan O2

15.00
WIB

1,3

Mengukur suhu tubuh

15.15

1,3

Melakukan kompres hangat

Dewi
Ali
Zema
Memberikan
terapi S : Dewi
nebulizer
O : anak terlihat menghirup uapnya.
Ali
Zema
S:Memberikan obat oral :
Dewi
O
:
Obat
masuk
melalui
Oral,
tidak
Luminal 3x30 mg
Ali
muntah dan alergi.
Zema
Memonitor tetesan infus
S:Dewi
O : infus lancar, terpasang infus RL 16 Ali
tpm
Zema
S : Ibu pasien mengatakan anaknya masih
panas.
O : Suhu : 39,4 C

Dewi
Ali
Zema

Dewi
Ali
Zema
S:Dewi
O : O2 3 ltr/mnt
Ali
Zema
S : Ibu mengatakan panas anaknya naik Dewi
turun
Ali
O : S : 38,1 C
Zema
S : ibu mengatakan anaknya badannya

Dewi

WIB
15.25
WIB

16.00
WIB

1,2,3

hangat.
O :S : 37,9 C
Menganjurkan ibu pasien S :
untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Ali
Zema
Dewi
Ali
Zema

Memberikan
program S :
injeksi IV dan Oral :
Ibu ps mengatakan pasien badannya
masih hangat
Ranitidin 3x25 mg
O:

Dewi
Ali
Zema

Pasien menangis ketika diinjeksi


Tidak ada tanda alergi
16. 10
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

16.15
WIB

1,2,3

Memberikan obat oral :


Luminal 3x30 mg

16.20
WIB

20.00
WIB

20.10
WIB

1,2,3

20.20
WIB

20.30
WIB

1,3

20.30
WIB

1,3

Dewi
Ali
Zema

S:O : Obat masuk melalui Oral, tidak


muntah dan alergi.

Dewi
Ali
Zema
Mengajarkan pada keluarga S : Dewi
agar
pasien
diberikan O : Ibu mengenakan anaknya pakaian Ali
pakaian longgar.
yang longgar
Zema
Memberikan
nebulizer

terapi S : O : anak terlihat menghirup uapnya.

Dewi
Ali
Zema
Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah
Dewi
pasien.
O : S : 37,3 C, RR 32 x/mnt, N : 88 Ali
x.mnt
Zema
Mempertahankan O2
S:Dewi
O : O2 3 ltr/mnt
Ali
Zema
Mengukur suhu tubuh
S : Ibu mengatakan panas anaknya naik Dewi
turun
Ali
O : S : 38,4 C
Zema
Melakukan kompres hangat

S : ibu mengatakan anaknya badannya


hangat.
O :S : 38 C

Dewi
Ali
Zema

20.35
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Dewi
Ali
Zema

23.00
WIB

1,2,3

Memberikan
program S :
injeksi IV dan Oral :
Ibu ps mengatakan pasien badannya
masih hangat
Ranitidin 3x25 mg
O:
Cefotaxim 2x225 mg

Dewi
Ali
Zema

Pasien menangis ketika diinjeksi


Tidak ada tanda alergi

23.10
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Dewi
Ali
Zema

05.00
WIB

Memberikan
nebulizer

Dewi
Ali
Zema

07.00
WIB

1,2,3

Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah


pasien.
O : S : 36.8 C, RR 32 x/mnt, N : 98
x.mnt

terapi S : O : anak terlihat menghirup uapnya.


Sekret keluar sedikit.

4 april 2014

07.50
WIB

08.00
WIB

1,2,3

10.00
WIB

Dewi
Ali
Zema
Memantau
S : Ibu mengatakan anaknya batuk
Dewi
pernapasannya
O : klien terlihat batuk
Ali
Zema
Memberikan
program S :
Dewi
injeksi IV dan Oral :
Ibu ps mengatakan pasien panasnya Ali
naik turun
Cefotaxim 2x225 mg
Zema
O:
Ranitidin 3x25 mg
Pasien menangis ketika diinjeksi
Oral :
Paracetamol syrup 2 sdt.
Tidak ada tanda alergi
Luminal 3x30 mg
Menganjurkan ibu pasien S :
untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Dewi
Ali
Zema

10.10
WIB

Mengukur suhu tubuh

S : Ibu pasien mengatakan anaknya masih


panas.
O : Suhu : 38 0 C

10.30
WIB

Melakukan kompres hangat

S : ibu mengatakan anaknya badannya


hangat.
O :S : 37,5 C

11.00
WIB

11.30
WIB

Memberikan
nebulizer

12.00
WIB

1,2,3

Memberikan obat oral :


Luminal 3x30 mg

13.00
WIB

1,2,3

Memonitor tetesan infus

Dewi
Ali
Zema
S:Dewi
O : Obat masuk melalui Oral, tidak Ali
muntah dan alergi.
Zema
S:Dewi
O : infus lancar, terpasang infus RL 16 Ali
tpm
Zema

13.10
WIB

Mengukur suhu tubuh

14.00
WIB

1,2,3

Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah


pasien.
O : S : 37,1, RR 31 x/mnt, N : 86 x.mnt

14.20
WIB

Mempertahankan O2

15.00
WIB

1,3

Mengukur suhu tubuh

15.25
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Dewi
Ali
Zema

16.00
WIB

1,2,3

Memberikan
program S :
injeksi IV dan Oral :
Ibu ps mengatakan pasien badannya

Dewi
Ali

Dewi
Ali
Zema

Dewi
Ali
Zema
Mengajarkan pada keluarga S : Dewi
agar
pasien
diberikan O : Ibu mengenakan anaknya pakaian Ali
pakaian longgar.
yang longgar
Zema
terapi S : O : anak terlihat menghirup uapnya.

S : Ibu pasien mengatakan anaknya masih


panas.
O : Suhu : 37,2 C

Dewi
Ali
Zema

Dewi
Ali
Zema
S:Dewi
O : O2 3 ltr/mnt
Ali
Zema
S : Ibu mengatakan panas anaknya naik Dewi
turun
Ali
O : S : 37,3 C
Zema

masih hangat
O:

Ranitidin 3x25 mg

Zema

Pasien menangis ketika diinjeksi


Tidak ada tanda alergi
16. 10
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

16.15
WIB

1,2,3

Memberikan obat oral :


Luminal 3x30 mg

16.20
WIB

20.00
WIB

20.10
WIB

1,2,3

20.20
WIB

20.30
WIB

1,3

20.35
WIB

Dewi
Ali
Zema

S:O : Obat masuk melalui Oral, tidak


muntah dan alergi.

Dewi
Ali
Zema
Mengajarkan pada keluarga S : Dewi
agar
pasien
diberikan O : Ibu mengenakan anaknya pakaian Ali
pakaian longgar.
yang longgar
Zema
Memberikan
nebulizer

terapi S : O : anak terlihat menghirup uapnya.

Dewi
Ali
Zema
Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah
Dewi
pasien.
O : S : 36,9 C, RR 34 x/mnt, N : 97 Ali
x.mnt
Zema
Mempertahankan O2
S:Dewi
O : O2 3 ltr/mnt
Ali
Zema
Mengukur suhu tubuh
S : Ibu mengatakan panas anaknya naik Dewi
turun
Ali
O : S : 36,7 C
Zema
Menganjurkan ibu pasien S :
Dewi
untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau Ali
hangat
minum air putih
Zema
O:

ibu memberikan air hangat sebanyak


10 cc

23.00
WIB

1,2,3

Memberikan
program S :
injeksi IV dan Oral :
Ibu mengatakan panas anaknya naik turun
O:
Ranitidin 3x25 mg

Cefotaxim 2x225 mg
23.10
WIB

Pasien menangis ketika diinjeksi


Tidak ada tanda alergi

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih

Dewi
Ali
Zema

Dewi
Ali
Zema

O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

05.00
WIB

Memberikan
nebulizer

terapi S : O : anak terlihat menghirup uapnya.

07.00
WIB

1,2,3

Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah


pasien.
O : S : 36.7 C, RR 33 x/mnt, N : 95
x.mnt

5 april 2014

07.50
WIB

Dewi
Ali
Zema
Memantau
S : Ibu mengatakan anaknya batuk tapi Dewi
pernapasannya
sudah berkurang
Ali
O : tidak terdengar suara ronkhi
Zema
Memberikan
program S :
Dewi
injeksi IV dan Oral :
Ibu ps mengatakan pasien panasnya Ali
naik turun
Cefotaxim 2x225 mg
Zema
O:
Ranitidin 3x25 mg
Tidak ada tanda alergi
Oral :
Paracetamol syrup 2 sdt.
Luminal 3x30 mg

08.00
WIB

1,2,3

10.00
WIB

Menganjurkan ibu pasien S :


untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau
hangat
minum air putih
O:
ibu memberikan air hangat sebanyak
10 cc

Dewi
Ali
zema

10.10
WIB

Mengukur suhu tubuh

Dewi
Ali
Zema

11.30
WIB

Memberikan
nebulizer

12.00
WIB

1,2,3

Memberikan obat oral :


Luminal 3x30 mg

13.00
WIB

1,2,3

Melepas infus

13.10
WIB

Mengukur suhu tubuh

S : Ibu pasien mengatakan anaknya sudah


tidak panas
O : Suhu : 36,9 0 C
terapi S : O : anak terlihat menghirup uapnya.

Dewi
Ali
Zema
S:Dewi
O : Obat masuk melalui Oral, tidak Ali
muntah dan alergi.
Zema
S:Dewi
O : infus di lepas
Ali
Zema
S : Ibu pasien mengatakan anaknya masih
panas.
O : Suhu : 36,5 C

Dewi
Ali

Zema
Dewi
Ali
Zema
S: Ibu mengatakan panas anaknya naik Dewi
turun
Ali
O : S : 36,8C
Zema

14.00
WIB

1,2,3

Mengobservasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien sudah


pasien.
tenang
O : S : 36,4, RR 30 x/mnt, N : 99 x.mnt

15.00
WIB

1,3

Mengukur suhu tubuh

15.10

1,2,3

Memberikan terapi bermain

16. 10
WIB

S:O : Klien terlihat senang

Dewi
Ali
Zema
Menganjurkan ibu pasien S :
Dewi
untuk memberikan air
Ibu pasien mengatakan anaknya mau Ali
hangat
minum air putih
Zema
O:

ibu memberikan air hangat sebanyak


10 cc

16.15
WIB

1,2,3

17.10
WIB

1,2,3

Memberikan obat oral :


Luminal 3x30 mg

S:O : Obat masuk melalui Oral, tidak


muntah dan alergi.

Dewi
Ali
Zema
Mengevaluasi TTV pada S : ibu pasien mengatakan pasien gelisah
Dewi
pasien.
O : S : 36,9 C, RR 32 x/mnt, N : 98 Ali
x.mnt
Zema

2. Medical Management
a. IVF, O2 Theraphy
Medical
Management
- Infus RL

Tanggal

Penjelasan

31/3/2014

tujuan
Merupakan cairan RL
digunakan Tidak
yang

Indikasi

dan Respon

bersifat untuk memenuhi ada

isotonik

yang kebutuhan cairan indikasi

didalamnya

an elektrolit pada kelebihan

terdapat beberapa tubuh.

volume

ion elektrolit.

cairan.

b. Obat-obatan
Nama Obat

Cefotaxim
Diazepam

Tanggal

Cara,

Cara kerja obat, fungsi, Respon

dosis,

klasifikasi

3-4-2014

frekuensi
IV,3x225

Cefotaxim

3-3-2014

mg
IV, 10 mg

sebagai antibiotik.
Diazepam
digunakan Tidak alergi
sebagai

Ranitidin

3-4-2014

IV,
mg

berfungsi Tidak alergi

anti

konvulsif

yang

fungsinya

mencegah

terjadinya

kejang pada pasien.


2x25 Menghilangkan gejala- Tidak alergi
gejala

ketidakmampuan

mencerna asam & rasa


panas

pada

ulu

hati,

ulkus lambung jinak &


ulkus duodenum, refluks
esofagitis,

sindroma

Zollinger-Ellison,
dispepsia yang menahun
(kronis),

mencegah

perdarahan

karena

ulserasi akibat sters atau


ulserasi
sindroma
Paracetamol

3-4-2014

oral

peptikum,
Mendelson,

ulkus peptikum
Paracetamol
dengan
hipotalamus

bekerja Tidak alergi

menstimulus
sebagai

pengatur
Luminal

3-4-2014

panas

pada

tubuh.
Luminal adalah obat anti

Oral

kejang,juga

untuk

insomnia
epilepsi,

nevosa,
dan

migren,

Kontraindikasinya
disfungsi ginjal atau hati,
gangguan

metabolisme

porfirin. Efeksampingnya
alergi dan mengantuk.
c. Diet
Jenis diet tanggal
TKTP

3-4-2014

Penjelasan Indikasi dan Respon


umum
Merupakan

tujuan
Memberikan

diet dengan sumber


kandungan
kalori

tenaga dalam

dan tubuh.

protein
tinggi.
d. Aktivitas Latihan
Jenis

Tanggal

Penjelasan

latihan
Terpi

05-4-2014

Terapi bermain sangat Untuk

Pasien

diperlukan

merasa

bermain

yang

Indikasi

bagi

anak mengurangi

menjalani rasa

hospitalisai

Respon

jenuh senang

karena pada anak.

dengan

dengan terapi bermain

melakukan

dapat mengurangi rasa

terapi

stress pada anak.

bermain.

F. EVALUASI ( CATATAN PERKEMBANGAN )

No.
1

Tgl/ Jam
3

April

No. Dx.
Kep
1

Perkembangan
S: Ibu pasien mengatakan pasien masih panas

2014

O: Suhu : 38 C, kulit teraba panas, bibir kering.

24.00 WIB

A: Masalah belum teratasi


P: Lanjutkan intervensi:
Kaji TTV secara rutin
Berikan kompres hangat
ajarkan ibu agar pasien memakai pakaian
longgar.
Laksanakan advis dokter dalam pemberian
injeksi IV
Cefotaxim 2x225 mg
Ranitidin 2x 25 mg
Laksanakan advis dokter dalam pemberian
obat oral :
Luminal 3x 30 mg
2

Paracetamol syru 2 sdt


S: Ibu pasien mengatakan anaknya masih batuk
O : RR 35x/mnt, Batuk (+), ronkhi (+).
A: Masalah keperawatan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
Pantau suhu pasien
Anjurkan ibu pasien agar pasien minum air
hangat
Pertahankan terapi O2
Kolaborasi pemberian nebulezer (Ventolin 1
mg) .

S: Ibu pasien mengatakan anaknya masih panas

Paraf

O: S : 38 C, Akral teraba hangat


A: Masalah kperawatan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
Panatau tanda-tanda vital
Berikan kompers hangat bila panas
Kolaborasi pemberian antibiotik (Cefotaxim
2

4 April

2014

3x225 mg).
S: Ibu pasien mengatakan pasien masih panas
O: Suhu : 37,8 C, kulit teraba panas, bibir kering.
A: Masalah belum teratasi

24.00 WIB

P: Lanjutkan intervensi:
Kaji TTV secara rutin
Berikan kompres hangat
ajarkan ibu agar pasien memakai pakaian
longgar.
Laksanakan advis dokter dalam pemberian
injeksi IV
Cefotaxim 2x225 mg
Ranitidin 2x 25 mg
Laksanakan advis dokter dalam pemberian
obat oral :
Luminal 3x 30 mg
2

Paracetamol syru 2 sdt


S: Ibu pasien mengatakan anaknya masih batuk
O : RR 36 x/mnt, Batuk (+), ronkhi (+).
A: Masalah keperawatan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
Pantau suhu pasien
Anjurkan ibu pasien agar pasien minum air
hangat
Pertahankan terapi O2
Kolaborasi pemberian nebulezer (Ventolin 1

mg) .
S: Ibu pasien mengatakan anaknya masih panas
O: S : 37,8 C, Akral teraba hangat
A: Masalah kperawatan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
Panatau tanda-tanda vital
Berikan kompers hangat bila panas
Kolaborasi pemberian antibiotik (Cefotaxim

05 April

2014

3x225 mg).
S: Ibu pasien mengatakan pasien masih panas
O: Suhu : 38,5 C, kulit teraba panas, bibir kering.
A: Masalah belum teratasi

24.00 WIB

P: Lanjutkan intervensi:
Kaji TTV secara rutin
Berikan kompres hangat
ajarkan ibu agar pasien memakai pakaian
longgar.
Laksanakan advis dokter dalam pemberian
injeksi IV
Cefotaxim 2x225 mg
Ranitidin 2x 25 mg
Laksanakan advis dokter dalam pemberian
obat oral :
Luminal 3x 30 mg
2

Paracetamol syru 2 sdt


S: Ibu pasien mengatakan anaknya masih batuk
O : RR 38 x/mnt, Batuk (+), ronkhi (+).
A: Masalah keperawatan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
Pantau suhu pasien
Anjurkan ibu pasien agar pasien minum air
hangat

Pertahankan terapi O2
Kolaborasi pemberian nebulezer (Ventolin 1
3

mg) .
S: Ibu pasien mengatakan anaknya masih panas
O: S : 38,5 C, Akral teraba hangat
A: Masalah kperawatan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
Panatau tanda-tanda vital
Berikan kompers hangat bila panas
Kolaborasi pemberian antibiotik (Cefotaxim
3x225 mg).

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari hasil pemeriksaan secara lengkap yang dilakukan pada An.D umur 4
tahun di simpulkan bahwa An.D diagnose medis kejang demam. Kejang demam
merupakan kelainan neurologist yang paling sering dijumpai pada anak terutama
pada golongan anak berumur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang
berumur dibawah 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Kondisi yang
dialami oleh An.D sangat sesuai dengan konsep teori tentang kejang demam.
Penegakan diagnosa medis tersebut yaitu tentang konsep teori umur anak yang
dapat mengalami kejang demam yaitu dalam rentang 6 bulan samapi 4 tahun dan
An.D berumur 4 tahun artinya ada kesusaian antara konsep teori dengan kasus.
Pengkajian yang dilakukan pada tanggal 03 April 2014 didapatkan data suhu :
40,6 C, Rr : 34x/menit, Nadi : 108x/menit, kulit teraba hangat, batuk, ada bunyi
ronkhi pada kedua lapang paru. Pemberian asuhan keperawatan pada An.D
dengan kejang demam dilakukan pengkajian secara komprehensif ditemukan
adanya 3 masalah keperawatan yaitu Hipertermia, Ketidakefektifan bersihan jalan
napas, dan resiko infeksi.

Hipertermi merupakan gangguan termoregulasi dalam tubuh yang disebabkan


adanya suatu infeksi dalam tubuh yang di tandai dengan adanya peningkatan suhu
tubuh diaas rentang normal. Diagnosa pertama yang muncul pada an.D adalah
hipotermia karena hasil dari pengkajian di dapatkan data yang mendukung dalam
penegakan diagnosa tersebut yaitu : Suhu 40,6 C, kulit teraba hangat, mukosa
kering.
Diagnosa keperawatan yang harus segera mendapatkan tindakan keperawatan
adalah ketidakefektifan pola napas. Ketidakefektifan pola napas (Wilkinson,
Judith M, 2012 h. 99) merupakan suatu keadaan dimana inspirasi dan/atau
ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi yang adekuat. penetuan masalah
keperawatan ketidakefektifan pola napas kerena adanya data hasil dari pengkajian,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang lain, adapun data yang
mendukung penegakkan diagnosa tersebut adalah RR 34x/menit, ada batuk, ada
ronkhi.
Diagnosa yang muncul selanjutnya adalah adanya resiko infeksi, dasar
penegakan diagnosa ini adalah karena proses infeksi merupakan sebagi faktor
pencetus atau provokatif dalm terjadinya kejang demam. oleh karen itu diagnosa
ini perlu di tegakkan guna mencegah terjadinya infeksi dan memperburuk
prognosis penyakit pada An.D.