Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FILSAFAT PANCASILA

IDENTITAS NASIONAL
Dosen: Musa Taklima,M.H

NAMA KELOMPOK:
1.
2.
3.
4.

Maria Kusuma C
(13620014)
Wafiatun Amalia
(13620026)
Iqbalullah M.K
(13620018)
Izatu Septinaharin M (13620019)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2013

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Hakikatnya, sebagai warga Negara yang baik seharusnya kita
mengerti dan memahami arti serta tujuan dan apa saja yang terkandung
dalam Identitas Nasional. Identitas Nasional merupakan pengertian dari
jati diri suatu Bangsa dan Negara, Selain itu pembentukan Identitas
Nasional sendiri telah menjadi ketentuan yang telah di sepakati bersama.
Menjunjung tinggi dan mempertahankan apa yang telah ada dan
berusaha memperbaiki segala kesalahan dan kekeliruan di dalam diri
suatu Bangsa dan Negara sudah tidak perlu di tanyakan lagi, Terutama di
dalam bidang Hukum.
Seharusnya Hal Hal yang seperti ini, Siapapun orang mengerti serta
paham Aturan Aturan yang ada di suatu Negaranya, Tetapi tidak sedikit
orang yang acuh dan tidak perduli seolah olah tidak mempermasalahkan
kekliruan yang terjadi di Negaranya, Dan yang paling memprihatinkan
seolah olah masyarakat membiarkan dan bisa dikatakan mendukung,
Pernyataan tersebut dapat dibenarkan dan dilihat dari sikap dan
tanggapan masyarakat dari kekeliruan di bidang hukum di dalam Negara
tercinta ini.
Maka dari itu Identitas Nasional sangatlah penting untuk dipelajari hingga
diterapkan pada kehidupan sehari hari. Agar Masyarakat di Negara
tercinta ini dapat mengubah dan memperbaiki segala kekeliruan yang
terjadi, menjadikan Negara tercinta ini lebih baik lagi dari sebelumnya.
Bukanlah orang lain tetapi kita sendiri sebagai masyarakat yang ada di
Negara dan Bangsa ini yang dapat mengubah segala kekeliruan yang
terjadi.
2. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan dan manfat penulisan makalah ini, penulis berharap dapat
memberikan suatu kontribusi mengenai materi Identits Nasional dan dapat memberikan

sebuah dorongan untuk lebih memahami makna Identitas Nasional dalam era globalisasi ini,
khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi kawan kawan yang membaca makalah ini.

BAB II

PEMBAHASAN
1. Pengertian Identitas Nasional
- Identity : ciri-ciri, tanda atau jati diri
- Term antropologi : identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan
sesuai dengan kesadaran diri pribadi, golongan sendiri, kelompok sendiri,
atau negara sendiri.
Nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok- kelompok yang lebih besar yang
diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non
fisik, seperti keinginan,cita-cita dan tujuan. Jadi adapun pengertian identitas sendiri adalah
ciri-ciri, tanda-tanda, jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang bisa
membedakannya.
Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh
dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas. Dengan
ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan
kehidupannya.
Diletakkan dalam konteks Indonesia, maka Identitas Nasional itu merupakan manifestasi
nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang sebelum masuknya agama-agama
besar di bumi nusantara ini dalam berbagai aspek kehidupan bdari ratusan suku yang
kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan
acuan Pancasila dan ruh. Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Hakikat Identitas Nasional

Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas nasional kita sebagai bangsa
di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya
tercermin dalam berbagai penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam
Pembukaan beserta UUD kita, sistem pemerintahan yang diterapkan, nilai-nilai etik, moral,
tradisi, bahasa, mitos, ideologi, dan lain sebagainya yang secara normative diterapkan di
dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional maupun internasional.
Perlu dikemukakan bahwa nilai-nilai budaya yang tercermin sebagai Identitas Nasional tadi
bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatif dan dogmatis, melainkan
sesuatu yang terbuka-cenderung terus menerus bersemi sejalan dengan hasrat menuju
kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi dan
implikasinyaadalahidentitas nasional juga sesuatu yang terbuka, dinamis, dan dialektis untuk
ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan funsional dalam kondisi aktual yang
berkembang dalam masyarakat.
Hakikat identitas nasional indonesia adalah pancasila yg diaktualisasikan dalam bergagai
kehidupan dan berbangsa. AKTUALISASI ini untuk menegakkan pancasila dan UUD 45
sebagaimana dirumuskan dalam pembukaan UUD 45 terutama alinea ke 4
Krisis multidimensi yang kini sedang melanda masyarakat kita menyadarkan bahwa
pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan Identitas Nasional kita telah
ditegaskan sebagai komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri
negara kita dalam pembukaan, khususnya dalam Pasal 32 UUD 1945 beserta penjelasannya,
yaitu :
Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional Indonesia
yang diberi penjelasan :
Kebudayan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budaya rakyat
Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak-puncak
kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha
kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak
menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau
memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa
Indonesia .

Kemudian dalam UUD 1945 yang diamandemen dalam satu naskah


disebutkan dalam Pasal 32
1. Negara memajukan kebudayan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memeliharra dan mengembangkan nilai-nilai budaya.
2. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
Dengan demikian secara konstitusional, pengembangan kebudayan untuk membina dan
mengembangkan identitas nasional kita telah diberi dasar dan arahnya, terlepas dari apa dan
bagaimana kebudayaan itu dipahami yang dalam khasanah ilmiah terdapat tidak kurang dari
166 definisi sebagaimana dinyatakan oleh Kroeber dan Klukhohn di tahun 1952.

3. Unsur Unsur Pembentuk Identitas Nasional


Pada hakikatnya, Identitas Nasional memiliki empat unsur:
1. Suku Bangsa: golongan social yang khusus yang bersifat askriftif (ada sejak lahir), yang
sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali
suku bangsa, kuran lebih 360 suku.
2. Agama: bangsa indonessia dikenal sebagai bangsa yang agamis. Agama agama yang
berkembang di Indonesia antara lain agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Kong
Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi Negara
Indonesia namun sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi telah
dihapuskan.
3. Kebudayaan: merupakan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang berisikan
perangkat perangkat atau model model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh
pendukung pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi
dan digunakan sebagai pedoman untuk bertindak dalam bentuk kelakuan dan benda benda
kebudayaan.
4. Bahasa: merupakan usur komunikasi yang dibentuk atas unsur unsur bunyi ucapan
manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.
Menurut Syarbani dan Wahid dalam bukunya yang berjudul Membangun Karakter dan
Kepribadian melalui Pendidikan Kewarganegaraan, keempat unsur Identitas Nasional
tersebut diatas dapat dirumuskan kembali menjadi 3 bagian:
a. Identitas Fundamental: berupa Pancasila yang menrupakan Falsafah Bangsa, Dasar
Negara, dan Ideologi Negara.
b. Indetitas Instrumental: berupa UUD 1945 dan Tata Perundangannya, Bahasa
Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, dan Lagu Kebangsaan.

c. Indetitas Alamiah: meliputi Kepulauan (archipelago) dan Pluralisme dalam suku,


bahasa, budaya dan kepercaraan (agama).

4. Perwujudan Identitas Nasional


Sejarah Jati Diri Bangsa Indonesia
a. Masa Kejayaan Nusantara (sebelum masa pergerakan nasional) 1293-1478
Sriwijaya
1. Berhasil menguasai wilayah Indonesia
2. Masa dimulainya peletakan dasar-dasar kebudayaan dan peradaban
manusia
Majapahit
1. Patih Gajah Mada
Tan Mukti Palapa lamung durung Purna Hmusthi Nuswantara
Tidak akan makan buah palapa sebelum dapat mempersatukan
Nusantara
Tidak akan menikah sebelum berhasil Indonesia Merdeka
b. Perlawanan Patiunus dalam Perjuangan menentang penjajahan 1512-1513
c. Perang Aceh dalam perjuangan menentang perjuangan 1873-1907
d. Budi Oetomo Berbasis Sub Kultur Jawa 1908,pergerakan dan kebangkitan
Nasional yang menumbuhkan jiwa kebangsaan (Nasional dan Patriotisme)
e. Sumpah Pemuda 1928, yang isinya :
Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia
Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
Berbahasa satu, Bahasa Indonesia
Sumpah Pemuda ini menumbuhkan jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan
bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia tetap berkeyakinan bahwa semangat Sumpah
Pemuda tersebut tetap significan dan relevan hingga waktu sekarang dan yang

akan datang.
f. Pada masa Proklamasi 17-8-1945, yang merupakan :
Titik kulminasi perjuangan Bangsa Indonesia
Untuk membebaskan diri dari cengkraman penjajah
Menjadi momen kemerdekaan

The Declaration of Indonesian


Independence ke seluruh dunia
Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah mempunyai jiwa dan
semangat kejuangan, cinta tanah air, patriotisme, nasionalisme,persatun dan
kesatuan, pantang mundur, pantang menyerah, merdeka atau mati, gotong
royong, rela berkorban, sebagai wujud jati diri bangsa Indonesia.
g. Manusia Indonesia yang di pengaruhi lingkungan fisik dan demografis,serta system
nilai yang diwarisi dari zaman ke zaman.
h. Pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha,di lanjutkan dengan kebudayaan Islam dan
Barat,saling berinteraksi dengan nilia-nilai local. Pergulatan nilai itu membentuk
karakter manusia Indonesia yang bergerak dinamik.
5. Penyimpangan Identitas Nasional
Geografis :
a. Kurangnya kekuatan maritime yang memadai
b. Pertahanan laut dan udara masih belum di kembangkan dengan optimal.
Akibatnya wilayah yang jauh di pinggir perbatasan merasa di perhatikan dan
dijaga dari kemungkinan datangnya ancaman luar
c. Kebanyakan daerah perbatasan mengalami kelambanan dalam pembangunan
infrakstruktural transportasi dan komunikasi sehingga mereka kurang
berinteraksi dengan wilayah lin di tanah air,bahkan mereka lebih dekat dengan
negara tetangga.
d. Kondisi geografis yang senjang juga terlihat mencolok antara wilayah
pedesaan dengan wilayah perkotaan. Warga pedesaan merasa tertinggal dan
tidak di perhatikan di bandingkan dengan warga di perkotaan. Muncul
berbagai masalah social akibat ketimpangan pembangunan anatar daerah, dan
proses urbanisasi yang tak berencana.
Demografis :
a. Terjadinya kesenjangan antara generasi tua dengan generasi muda dalam
memandang persoalan bangsa dan menghadapi tantangan hidup.
Social dan Budaya :
a. Perasaan senasib-sepenanggungan semakin mencair
b. Kristalisasi nilai kebangsaan mengalami keretakan di sana-sini
c. Banyaknya pejabat yang menuntut hak-hak istimewa bagi kepentingan
pribadinya, meskipun hak-hak dasar rakyat pada umumnya belum terpenuhi.
Sikap itu pada gilirannya membuahkan tragedi pemerintahan yang lamban di
tengah desakan kepentingan umum akibat bencana yang terjadi dimana-mana
dan kondisi social ekonomi yang diterpa krisis dari waktu ke waktu
d. Lemahnya kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman

Gejala tersebut dapat di lihat dari menguatnya orientasi dalam kelompok,


etnik, dan agama yang berpotensi menimbulkan konflik social dan bahkan
disintegrasi bangsa. Masalah ini juga semakin serius akibat dari makin
terbatasnya ruang public yang dapat diakses dan dikelola bersama masyarakat
yang

multikultur

untuk

penyaluran

aspirasi.

Dewasa

ini

muncul

kecenderungan pengalihan ruang publik ke ruang privat karena desakan


ekonomi.
e. Kurangnya kemampuan bangsa dalam mengelola kekayaan budaya yang kasat
mata (tangible) dan yang yang tidak kasat mata (intangible). Dalam era
otonomi daerah, pengelolaan kekayaan budaya menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah. Kualitas pengelolaan yang rendah tidak hanya disebabkan
oleh kapasitas fiskal, namun juga pemahaman, apresiasi, kesadaran, dan
komitmen pemerintah daerah terhadap kekayaan budaya. Pengelolaan
kekayaan budaya ini juga masih belum sepenuhnya menerapkan prinsip tata
pemerintahan yang baik (good governance). Sementara itu, apresiasi dan
kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk dalam negeri masih rendah,
antara lain karena keterbatasan informasi.
f. Terjadinya krisis jati diri (identitas) nasional. Nilai nilai solidaritas sosial,
kekeluargaan, dan keramahtamahan sosial yang pernah di anggap sebagai
kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa indonesia, makin pudar bersamaan
dengan menguatnya nilai nilai materialisme. Demikian pula kebanggaan atas
jati diri bangsa seperti penggunaan bahasa indonesia secara baik dan benar,
semakin terkikis oleh nilai nilai yang dianggap lebih superior. Identitas
nasional meluntur oleh cepatnya penyerapan budaya global yang negatif, serta
tidak mampunya bangsa indonesia mengadopsi budaya global yang lebih
relevan bagi upaya pembangunan bangsa dan karakter bangsa (nation and
character building).
6. Keterkaitan Globalisasi terhadap Identitas Nasional
Era Globalisasi merupakan era yang penuh dengan kemajuan dan persaingan, sedangkan
Identitas Nasional sebuah bangsa merupakan hal yang sangat diperlukan untuk
memperkenalkan sebuah bangsa atau Negara dimata dunia. Dengan adanya Globalisasi,
identitas sebuah bangsa dan Negara dapat mudah dikenalkan dimata internasional atau juga
identitas tersebut mudah tenggelam karena terpengaruh oleh bangsa dan Negara lain. Perlu

kita sadari, bangsa Indonesia yang kita cintai ini sedang mengalami krisis identitas nasional
yang sangat membahayakan bagi nilai nilai dasar Identitas bangsa Indonesia itu sendiri.
Letak Negara Indonesia yang sangat setrategis merupakan hal yang sangat mempengaruhi
terjaga atau tidak kelangsungan Identitas bangsa Indonesia. Globalisasi yang terus
berkembang pesat membuat nilai nilai budaya bangsa Indonesia mulai terkikis oleh budaya
budaya barat yang kurang sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia seperti halnya
budaya berpakaian. Kebaya dan batik yang merupakan salah satu identitas bangsa
Indonesia yang berupa pakaian, kini mulai hilang dari kehidupan bangsa Indonesia karena
tergantikan oleh pakaian yang bersifat kebarat - baratan. Tidak hanya itu saja, masyarakat
Indonesia yang dulunya terkenal sebagai orang orang yang ramah, kini mulai terpengaruh
terhadap era globalisai yang memiliki sifat persaingan yang sangat tinggi yang
menyebabkan kesenjangan sosial di masyarakt semakin meningkat.
7. Keterkaitan Integrasi Nasional Indonesia dan Identitas Nasional
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional.

Untuk

mewujudkannya, diperlukan keadilan dalam kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah


dengan tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa, dan sebagainya. Sebenarnya, upaya
mcmbangun keadilan, kesatuan, dan persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya
membangun dan membina stabilitas politik. Di samping itu, upaya lainnya dapat dilakukan,
seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam mcncntukan komposisi dan rnckanisme
parlemen. Dengan demikian, upaya integrasi nasional dengan strategi yang mantap perlu
terus dilakukan agar terwujud integrasi bangsa Indonesia yang diinginkan. Upaya
pembangunan dan pembinaan integrasi nasional ini perlu karena pada hakikatnya integrasi
nasional menunjukkan kckuatan persatuan dan kesaluan bangsa yang diinginkan. Pada
akhirnya, persatuan dan kesatuan bangsa inilah yang dapat lebih menjamin terwujudnya
negara yang makmur, aman. dan tentram. Konflik yang terjadi di Aceh, Ambon, Kalimantan
Barat, dan Papua merupakan cermin belum terwujudnya integrasi nasional yang diharapkan.
Adapun keterkaitan integrasi nasional dengan Identitas Nasional adalah bahwa adanya
integrasi nasional dapat menguatkan akar dari Identitas Nasional yang sedang dibangun.
8. Pancasila Sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional

Suatu bangsa harus memiliki identitas nasional dalam pergaulan internasional. Tanpa
national identity, maka bangsa tersebut akan terombang-ambing mengikuti ke mana angin
membawa. Dalam ulang tahunnya yang ke-62, bangsa Indonesia dihadapkan pada pentingnya
menghidupkan kembali identitas nasional secara nyata dan operatif.Identitas nasional kita
terdiri dari empat elemen yang biasa disebut sebagai konsensus nasional. Konsensus
dimaksud adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Revitalisasi Pancasila harus dikembalikan pada eksistensi Pancasila sebagai ideologi bangsa
dan negara. Karena ideologi adalah belief system, pedoman hidup dan rumusan cita-cita atau
nilai-nilai (Sergent, 1981), Pancasila tidak perlu direduksi menjadi slogan sehingga seolah
tampak nyata dan personalistik. Slogan seperti Membela Pancasila Sampai Mati atau
Dengan
Pancasila Kita Tegakkan Keadilan menjadikan Pancasila seolah dikepung ancaman dramatis
atau lebih buruk lagi, hanya dianggap sebatas instrument tujuan. Akibatnya, kekecewaan bisa
mudah mencuat jika slogan-slogan itu tidak menjadi pantulan realitas kehidupan masyarakat.
Karena itu, Pancasila harus dilihat sebagai ideologi, sebagai cita-cita. Maka secara otomatis
akan tertanam pengertian di alam bawah sadar rakyat, pencapaian cita- cita, seperti kehidupan
rakyat yang adil dan makmur, misalnya, harus dilakukan bertahap. Dengan demikian, kita
lebih leluasa untuk merencanakan aneka tindakan guna mencapai cita-cita itu.
Selain perlunya penegasan bahwa Pancasila adalah cita-cita, hal penting lain yang dilakukan
untuk merevitalisasi Pancasila dalam tataran ide adalah mencari maskot. Meski dalam hal ini
ada pandangan berbeda karena dengan memeras Pancasila berarti menggali kubur Pancasila
itu sendiri, namun dari sisi strategi kebudayaan adalah tidak salah jika kita mengikuti alur
pikir
Soekarno, jika perlu Pancasila diperas menjadi ekasila, Gotong Royong. Mungkin inilah
maskot yang harus dijadikan dasar strategi kebudayaan guna penerapan Pancasila.
Pendeknya, ketika orang enggan menyebut dan membicarakan Pancasila, Gotong Royong
dapat dijadikan maskot dalam rangka revitalisasi Pancasila.
Mencari maskot. Meski dalam hal ini ada pandangan berbeda karena dengan memeras
Pancasila berarti menggali kubur Pancasila itu sendiri, namun dari sisi strategi kebudayaan
adalah tidak salah jika kita mengikuti alur pikir Soekarno, jika perlu Pancasila diperas

menjadi ekasila, Gotong Royong. Mungkin inilah maskot yang harus dijadikan dasar strategi
kebudayaan guna penerapan Pancasila. Pendeknya, ketika orang enggan menyebut dan
membicarakan Pancasila, Gotong Royong dapat dijadikan maskot dalam rangka revitalisasi
Pancasila.

BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
Dalam kesempatan kali ini penyusun ingin menegaskan bahwa diera Globalisasi
seperti sekarang ini Identitas Nasional merupakan hal yang harus diperhatikan, karena

Identitas Nasional merupaka hal yang membuat bertahan atau tidaknya ciri khas dan
karakteristik suatu bangsa yang seharusnya menjadi kebanggan bangsa itu sendiri karena,
Identita Nasional merupakan salah satu senjata untuk bersaing kearah yang lebih positif diera
Globalisasi ini.

DAFTAR PUSTAKA
Syarbani Syahrial, Wahid Aliaras. 2006; Membangun Karakter dan Kepribadian melalui
Pendidikan Kewarganegaraan,

UIEU University Press.2009; Kompetensi Demokrasi yang Beradab melalui Pendidikan


Kewarganegaraan,Graha

Ilmu,

Yogyakarta.

http://kewarganegaraan.wordpress.com/2007/11/30/memerangi-pengikisan-identitas nasional/
http://fisip.untirta.ac.id/teguh/?p=45