Anda di halaman 1dari 149

PENELITIAN HUKUM

TENTANG
BADAN USAHA DI LUAR PERSEROAN TERBATAS
DAN KOPERASI

Disusun Oleh Tim


Di bawah Pimpinan
Drs. Ulang Mangun Sosiawan, M.H.

BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL


KEMNETERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI
JAKARTA, 2012
i
romawi buku 8.indd 1

12/12/2012 9:35:16 AM

ii
romawi buku 8.indd 2

12/12/2012 9:35:16 AM

PENELITIAN HUKUM
TENTANG
BADAN USAHA DI LUAR PERSEROAN TERBATAS
DAN KOPERASI

iii
romawi buku 8.indd 3

12/12/2012 9:35:16 AM

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Badan Pembinaan Hukum Nasional
Penelitian hukum tentang badan usaha di luar perseroan terbatas dan
koperasi/disusun oleh tim di bawah pimpinan Ulang Mangun Sosiawan;
editor Tana Mantiri; Badan Pembinaan Hukum Nasional. -- Jakarta:
Badan [tsb.], 2012
viii, 137 hlm.; 21 cm
ISBN 978-602-8815-49-9

Disusun Oleh Tim Pengkajian


Di bawah Pimpinan
Drs. Ulang Mangun Sosiawan, S.H.
Editor
Tana Mantiri, S.H., M.H.

Terbit Tahun 2012


Diterbitkan Oleh
Badan Pembinaan Hukum Nasional
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI
Jalan Mayjen Sutoyo No. 10 Cililitan
Telepon (021) 8091908, 8002192
Faksimile (021) 80871742
Jakarta Timur 13640
iv
romawi buku 8.indd 4

12/12/2012 9:35:16 AM

KATA PENGANTAR

Dalam upaya meningkatkan hasil perekonomian nasional, peran

badan usaha sangat penting dan strategis. Oleh karena itu badan-badan
usaha harus dibina dan dikembangkan dengan baik, diberi landasan
hukum yang kuat agar mampu bersaing dengan badan usaha lain dalam
dunia global.

Berkenaan dengan hal ini, Badan Pembinaan Hukum Nasional

selaku pembina hukum nasional, merasa perlu untuk melakukan suatu


penelitian hukum tentang Badan Usaha Di Luar Perseroan Terbatas
dan Koperasi. Penelitian dimaksudkan untuk mendeskripsikan prinsipprinsip hukum yang mendasari badan usaha : Persekutuan Perdata,
Persekutuan Firma dan Persekutuan Comanditer.
Mengidentifikasi peluang dan kendala yang dihadapi badan usaha
tersebut dalam dunia global, serta kaitannya dengan penerapan Good
Corporate Governence dan Corporate Social Resposibility. Sebagai
masukan untuk merumuskan pengaturan atau landasan hukum yang
kuat bagi badan usaha termaksud.

Penerbitan hasil penelitian ini dimaksudkan untuk menambah

khazanah informasi hukum mengenai badan usaha. Selain itu agar dapat
disebarluaskan kepada Anggota JDHN di seluruh nusantara. Dengan
demikian masyarakat dapat mengetahui, menggunakan, menanggapi
dan mengembangkan lebih lanjut, khususnya oleh kalangan hukum.

v
romawi buku 8.indd 5

12/12/2012 9:35:16 AM

Akhirnya, Kepada Tim yang dipimpin oleh Sdr. Drs. Ulang

Mangun Sosiawan, M.H., dan para pihak yang berperan aktif sehingga
buku ini dapat diterbitkan, kami ucapkan terima kasih

vi
romawi buku 8.indd 6

12/12/2012 9:35:17 AM

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ v


DAFTAR ISI .............................................................................................. vii
BAB I

PENDAHULUAN ................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................ 6
C. Tujuan Penelitian ................................................................. 6
D. Kegunaan Hasil Penelitian ................................................... 7
E. Kerangka Teori dan Konsep ................................................. 7
F. Metode Penelitian ................................................................. 13
G. Sistematika Penulisan .......................................................... 16

BAB II PERSEKUTUAN USAHA DAN PRINSIP TANGGUNG


JAWAB HUKUM PERUSAHAAN DI INDONSIA .............. 19
A. Persekutuan Perdata (Burgerlijke Maatschap) ...................... 19
B. Persekutuan Firma (Vennootschap Onder Firma).................. 32
C. Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap)..... 49
D. Prinsip Tanggung Jawab Hukum Perusahaan di Indonesia.... 62
BAB III PENYAJIAN DATA PENELITIAN PERSEKUTUAN

USAHA DI INDONESIA ........................................................ 85

A. Dasar Hukum Pembentukan Persekutuan Usaha ......... 85


B. Persekutuan Perdata ..................................................... 87
C. Firma ............................................................................. 89
D. Persekutuan Komanditer ...............................................92
vii
romawi buku 8.indd 7

12/12/2012 9:35:17 AM

E. Hubungan Antara Tanggung Jawab dan Hukum


Perusahaan Dalam Perspektif Teoretis.......................... 94
BAB IV ANALISIS HUKUM PERSEKUTUAN USAHA DI
INDONESIA ..................................................................101
A. Prinsip Hukum Yang Mendasari Persekutuan Perdata,
Persekutuan Dengan Firma dan Persekutuan
Komanditer ................................................................ 101
B. Persekutuan Usaha Dalam Menerapkan Prinsip Good
Corporate Governance .............................................. 118
C. Peluang dan Kendala Persekutuan Usaha Dalam
Menghadapi Globalisasi .............................................126
BAB V PENUTUP .......................................................................133
A. Kesimpulan .................................................................. 133
B. Saran ............................................................................ 134
DAFTAR KEPUSTAKAAN ...........................................................135

viii
romawi buku 8.indd 8

12/12/2012 9:35:17 AM

ix
romawi buku 8.indd 9

12/12/2012 9:35:17 AM

x
romawi buku 8.indd 10

12/12/2012 9:35:17 AM

xi
romawi buku 8.indd 11

12/12/2012 9:35:17 AM

xii
romawi buku 8.indd 12

12/12/2012 9:35:17 AM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan persekutuan usaha sebagai pengumpul
kapital sangat pesat dan menjadikan peran persekutuan usaha
menjadi sangat penting terutama dalam rangka pembangunan
perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasarkan
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi yang
berkeadilan,
berkelanjutan,
berwawasan
lingkungan,
kemandirian serta menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional yang bertujuan untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.1
Peningkatan pembangunan perekonomian nasional perlu
didukung oleh suatu landasan yang kokoh bagi dunia usaha
dalam menghadapi perkembangan perekonomian dunia dan
teknologi dalam era globalisasi2 pada masa mendatang. Untuk
itu diperlukan undang-undang yang mengatur tentang
persekutuan usaha yang dapat menjamin iklim dunia usaha yang
kondusif. Hal ini mengingat bentuk usaha persekutuan usaha
merupakan bentuk organisasi bisnis yang sangat penting saat ini
dalam perekonomian di Indonesia.

Dhaniswara K. Harjono, Pembaharuan Hukum Perseroan Terbatas


Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, (Jakarta: PPHBI, 2008), hlm. 17.
2
Dalam dunia yang semakin terintegrasi, setiap kebijakan pemerintah,
termasuk yang menyangkut regulasi keuangan, harus mempertimbangkan secara
matang konsekuensinya terhadap pasar dan reaksi pasar yang mungkin timbul. Pasar
memberikan disiplin yang sehat dan dalam jangka panjang akan mendorong
kebijakan dan kinerja ekonomi yang lebih baik. Lihat: Dian Ediana Rae, Transaksi
Derivatif dan Masalah Regulasi Ekonomi Indonesia (Jakarta: Penerbit PT Elex
Media Komputindo Kompas Gramedia, 2002), hlm. 12.

1
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 1

12/12/2012 9:34:52 AM

Bentuk-bentuk perusahaan3 atau badan usaha (business


organization) yang dapat dijumpai di Indonesia sekarang ini
demikian beragam jumlahnya. Sebagin besar dari bentuk-bentuk
badan usaha tersebut merupakan peninggalan masa lalu
(pemerintah Belanda), diantaranya ada yang telah diganti
dengan sebutan dalam bahasa Indonesia, tetapi masih ada juga
sebagian yang tetap mempergunakan nama aslinya.
Nama-nama yang masih terus digunakan dan belum diubah
pemakaiannya, yaitu Burgerlijke Maatschap, Maatschap,4
Vennootschap Onder Firma atau Firma (Fa)5 dan
Commanditaire Vennootschap (CV).6 Selain itu ada pula yang
sudah di Indonesiakan, seperti Perseroan Terbatas (PT),7 yang
3

Pasal 1 huruf b Undang-Undang Nomor 3 tahun 1992 tentang Wajib Daftar


Perusahaan menyebutkan perusahaan dapat didefinisikan sebagi setiap bentuk
usaha yang menjalankan setip jenis usaha yang bersifat tetap, terus menerus, dan
didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia dengan
tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Bertitik tolak dari definisi tersebut,
maka lingkup pembahasan hukum perusahaan meliputi dua hal pokok, yaitu bentuk
usaha dan jenis usaha. Dengan demikian, Hukum Perusahaan adalah keseluruhan
aturan hukum yang mengatur tentang bentuk usaha dan jenis usaha. Lihat abdul
kadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (bandung: PT Citra Aditya Bhakti,
1999), hlm. 1
4
Maatschap (Persekutuan perdata) adalah sekumpulan dari orang-orang
yang biasanya memiliki profesi yang sama dan berkeinginan untuk berhimpun
dengan menggunakan nama bersama atau disebut maatschap.
5
Persekutuan Firma (Fa) adalah suatu usaha bersama antara dua orang atau
lebih untuk menjalankan suatu usaha di bawah suatu nama bersama. Lihat: Munir
Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, Bandung: Penerbit PT Citra Aditya Bhakti,
2003, hlm. 43
6
Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap) biasanya disebut
komanditer, adalah suatu perusahaan yang didirikan oleh satu atau beberapa orang
secara tanggung menanggung, bertanggungjawab untuk seluruhnya atau
bertanggung jawab secara solider, dengan satu orang atau lebih sebagai pelepas uang
(geldschieter).Lihat: I.G. Ray Widjaya, Hukum Perusahaan, Jakarta: Penerbit
Kesaint Blanc, 2000,
7
Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut perseroan adalah badan hukum
yang merupakan pesekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan
pelaksanaannya. Lihat: Dr. Dhaniswara K. Harjono, Pembaruan Hukum Perseroan

2
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 2

12/12/2012 9:34:53 AM

sebenarnya berasal dari Naamloze Vennootschap (NV). Kata


vennootschap: diartikan menjadi kata perseroan, sehingga
dapat djumpai sebutan Perseroan Firma, Perseroan Komanditer
dan Perseroan Terbatas. Bersamaan dengan itu. Ada juga yang
menggunakan kata perseroan dalam arti luas, yaitu sebagai
sebutan perusahaan pada umumnya.8
Apabila diperhatikan kata perseroan, berasal dari kata
sero yang artinya saham atau andil, sehingga perusahaan yang
mengeluarkan saham atau sero disebut perseroan, sedangkan
yang memiliki sero dinamakan pesero atau lebih dikenal
dengan sebutan pemegang saham.
Namun untuk bentuk usaha seperti Maatschap (demikian
juga Firma dan CV), sebaiknya tetap diterjemahkan dengan
menggunakan kata persekutuan daripada memakai kata
perseroan. Hal ini sesuai dengan arti kata perseroan itu sendiri
dan pula Maatschap, Firma dan CV tidak menerbitkan saham.
Jadi, kata persekutuan tetap dipakai untuk padanan
Maatschap, Firma dan CV ini sesuai pula denga terjemahan
yang dipakai dalam KUHPerdata. Tetapi perlu diingat bahwa
CV juga mengenal sekutu pelepas uang, sehingga ada salah satu
jenis CV yang disebut CV atas saham yang modalnya
dibentuk dari perkumpulan saham-saham. Barangkali untuk
jenis CV atas saham tidak ada salahnya untuk menyebutnya
sebagai perseroan.
Dilihat dari perspektif hukum perusahaan,9 ada perbedaan
yang cukup mendasar, yakni masalah tanggung jawab perusahan
Terbatas (Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang
Perseroan Terbatas, Jakarta: Penerbit Pusat Pengembangan Hukum dan Bisnis
Indonesia (PPHBI), 2008, hlm. 169-170.
8
I.G. Rai Wijaya, Hukum Perusahaan (Jakarta: Kesaint Blanc, 2005), hlm. 1.
9
Pengertian hukum perusahaan (Corporate Law), maka hal ini juga tidak
bias dipisahkan dengan pengertian Hukum Dagang. Sudah diketahui bahwa Hukum
Dagang adalah hukum perikatan yang timbul khusus dari lapangan perusahaan. Bila
merujuk pada pendapat salah satu ahli tentang istilah perusahaan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa Hukum Perusahaan adalah seperangkat aturan hukum yang
mengatur perbuatan-perbuatan dalam lapangan perusahaan, yang dilakukan secara
terputus-putus, bertindak keluar, terang-terangan, dalam kedudukan tertentu dan

3
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 3

12/12/2012 9:34:53 AM

yang bukan badan hukum, yaitu, persekutuan yang wujudnya


terdiri dari Persekutuan Perdata, Persekutuan Firma dan
Persekutuan komanditer yang mempunyai unsur-unsur sebagai
berikut: (1) Kepentingan bersama, (2) kehendak bersama, (3)
tujuan bersama dan (4) kerja sama.
Persekutuan usaha di luar Perseroan Terbatas dan Koperasi
adalah asosiasi dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri
untuk memasukkan suatu (uang, barang atau tenaga/kerajinan)
dengan tujuan untuk mencari dan membagi keuntungan dengan
cara berusaha bersama.10
Bentuk usaha persekutuan ini di Indonesia diatur dalam dua
kodifikasi yaitu Persekutuan Perdata (maatschap), yang diatur
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Persekutuan
dengan Firma dan Persekutuan Komanditer yang diatur dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Digunakan
istilah persekutuan adalah sebagaimana dikemukakan di atas,
bentuk-bentuk usaha ini adalah asosiasi orang atau asosiasi para
sekutu bukan asosiasi modal atau sero sebagaimana halnya
dalam usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas.
Baik KUHPerdata maupun KUHD adalah dua kodifikasi
yang berasal dari negeri Belanda yang berdasarkan asas
konkordasi berlaku di Indonesia (Hindia Belanda) dengan
lahirnya stb 1847 Nomor 23. Setelah Indonesia merdeka,
berdasarkan Pasal II Undang-Undang Dasar 1945 (aturan
peralihan), maka kedua kodifikasi tersebut, yang pada
hakikatnya adalah produk pemerintah kolonial, masih tetap
berlaku sampai saat ini sementara dunia usaha di Indonesia telah
banyak mengalami perubahan dan perkembangan.
untuk mencari laba atau penghasilan, dengan cara memperniagaan barang-barang,
menyerahkan barang-barang, atau mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan
dan segala sesuatu itu dicatat dalam pembukuan. Lihat R.T. Sutantya R.
Hadikusumah dan Sumantoro, Pengertian Pokok Hukum Perusahaan: Bentuk-bentuk
Perusahaan yang berlaku di Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 1991), Cetakan 1,
hlm. 7.
10
Makalah Draf Laporan Penyusunan Naskah Akademis Peraturan Perundangundangan Tentang Rancangan Undang-Undang Persekutuan Usaha di luar Perseroan
Terbatas dan Koperasi.

4
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 4

12/12/2012 9:34:53 AM

Selain permasalahan tersebut di atas Indonesia dewasa ini


sedang giat-giatnya melakukan usaha untuk menciptakan
undang-undang nasional dalam berbagai bidang termasuk dalam
bidang-bidang yang ada diatur dalam KUHPerdata maupun
KUHD. Akibat dari kegiatan-kegiatan ini, maka akan terjadi
kodifikasi-kodifikasi yang parsial.
Berdasarkan keadaan-keadaan tersebut di atas perlu kiranya
diadakan suatu pembaharuan undang-undang nasional yang
meliputi semua bentuk-bentuk usaha persekutuan baik mengenai
pengaturannya maupun sistimatikanya sehingga dapat menjadi
suatu undang-undang yang utuh dan terpadu.
Penelitian mengenai badan usaha di luar perseroan terbatas
dan koperasi (Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma dan
Persekutuan Perdata) di Indonesia menjadi penting dilakukan,
setidaknya dikarenakan tiga alasan, yaitu: Pertama, adanya
perkembangan tuntutan masyarakat yang menghendaki untuk
memperoleh pelayanan yang cepat dan sederhana serta
menjamin kepastian hukum. Kedua untuk memenuhi
perkembangan dunia usaha serta untuk memenuhi tuntutan
masyarakat pengusaha akan praktik yang menghendaki
perubahan peraturan perundang-undangan, di bidang usaha,
Ketiga, adanya tuntutan kewajiban tanggung jawab hukum
perusahaan dalam menerapkan prinsip pengelolaan perusahaan
yang baik (good corporate governance)11 dalam rangka
menghadapi globalisasi.
Untuk itu pelaksanaan pembangunan ekonomi perlu lebih
memperhatikan keserasian dan keseimbangan aspek-aspek
pemerataan berdasarkan asas kekeluargaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 UUD 1945. Sehingga untuk lebih
meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan perekonomian
11

Siswanto Sutojo and E John Aldridge, Good Corporate Governance theory


adalah sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan bisnis
perusahaan. GCG mengatur pembagian tugas, hak dan kewajiban mereka yang
berkepentingan terhadap kehidupan perusahaan, termasuk para pemegang saham,
Dewan Pengurus, para manajer, dan semua anggota the stakeholders non-pemegang
saham, (Jakarta: Penerbit PT Damar Mulia Pustaka, 2005), hlm. 3.

5
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 5

12/12/2012 9:34:53 AM

nasional sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam ketentuan


Pasal 33 UUD 1945 tersebut, maka perlu dilakukan penataan
kembali peraturan perundang-undangan di bidang usaha yang
dirasakan sangat mendesak dan dipandang sudah tidak sesuai
lagi dengan perkembangan hukum dan dunia usaha yang telah
berkembang pesat.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas maka sangat tepat
kiranya dalam kesempatan ini dilakukan penelitian hukum
tentang Badan Usaha di luar Perseroan Terbatas dan Koperasi
khususnya ketiga badan usaha berbentuk persekutuan perdata,
pesekutuan dengan firma dan persekutuan komanditer.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka
penelitian ini merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana prinsip-prinsip hukum yang mendasari badan
usaha yang berbentuk persekutuan komanditer (CV),
persekutuan Firma (Fa), persekutuan Perdata di Indonesia?
2. Bagaimana permasalahan yang dihadapi persekutuan
komanditer (CV), persekutuan Firma (Fa) dan persekutuan
perdata dalam menerapkan good corporate governance?
3. Bagaimanakah peluang dan kendala yang dihadapi badan
usaha, persekutuan komanditer (CV), persekutuan Firma
(Fa) dan persekutuan perdata dalam menghadapi
globalisasi?
C Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini secara objektif adalah untuk menjawab
rumusan masalah yaitu:
1) Untuk mengetahui prinsip-prinsip hukum yang mendasari
badan usaha berbentuk Persekutuan Perdata, Persektuan
Firma dan Persekutuan Komanditer (CV) di Indonesia.
2) Untuk mengetahui
permasalahan yang dihadapi
persekutuan komanditer (CV), persekutuan Firma (Fa) dan
persekutuan perdata dalam menerapkan good corporate
governance di Indonesia.
6
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 6

12/12/2012 9:34:53 AM

3) Untuk mengetahui peluang dan kendala yang dihadapi


badan usaha berbentuk persekutuan perdata (PP),
persekutuan komanditer (CV), persekutuan Firma (Fa) dan
persekutuan perdata dalam menghadapi globalisasi.
D. Kegunaan Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat/guna dan
kontribusi yaitu:
1. Manfaat teoretis yaitu memberikan sumbang sih bagi ilmu
pengetahuan mengenai pengaturan hukum tentang
persekutuan usaha berbentuk PP, Firma dan CV di
Indonesia;
2. Manfaat Praktis yaitu memberikan pedoman pemerintah
khususnya BPHN untuk mengambil kebijakan dalam
merumuskan peraturan pemerintah sebagai peraturan
pelaksana dari aturan (hukum) itu, yakni PP, CV dan Firma.
Selain itu memberikan pedoman bagi perusahaan dalam
menerapkan good corporate gevernance di Indonesia.
3. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi masukan bagi para regulator atau pengambil
kebijakan dan publik di bidang hukum bisnis.
4. Dari segi empiris, penelitian ini diharapkan akan mengisi
kelangkaan penulisan di bidang hukum mengenai
persekutuan komanditer, persekutuan firma dan persekutuan
perdata;
E. Kerangka Teori dan Konsep
1. Kerangka Teori
Setidak-tidaknya ada 3 teori hukum yang terkait dengan
tanggung jawab hukum perusahaan yang berbentuk PP, CV
dan Firma. (1) piercing the corporate12 dan Ultra vires,13
12

Doktrin Piercing the corporate veil yang secara harfiah berarti membuka
cadar perseroan yang dalam Law black Dictionary dikatakan merupakan suatu
proses peradilan di mana pengadilan akan mengabaikan kekebalan yang biasa dari
pengurus perseroan (officers) atau badan (entities) dari tanggung jawab atas
kesalahan atau pelanggaran dalam melakukan kegiatan perseroan dan tanggung

7
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 7

12/12/2012 9:34:53 AM

(2) good corporate governance theory. Dan (3) Code of


Conduct. Namun dalam penelitian ini, ketiga teori tersebut
akan digunakan sebagai pisau analisis terhadap data yang
diperoleh dalam penelitian ini.
Teori ini dipilih setidak-tidaknya karena tiga alasan,
yaitu: Pertama, teori lainnya tidak dapat digunakan karena
beberapa alasan, yaitu:
1. Inti dari piercing the corporate theory adalah
merupakan doktrin yang mengajarkan bahwa
sesungguhnya suatu badan usaha bertanggung jawab
secara hukum hanya terbatas pada harta badan usaha
tersebut, tetapi dalam hal-hal tertentu batas tanggung
jawab tersebut dapat ditembus. Doktrin piercing the
Corporate veil atau menyingkap tabir perseroan
diartikan sebagai suatu proses untuk membebani
tanggung jawab kepundak orang atau perusahaan
pelaku, tanpa melihat bahwa perbuatan itu sebenarnya
dilakukaan oleh pelaku badan usaha tersebut.14
2. Ultra Virest theory adalah sebuah Prinsip khususnya
dipakai terhadap tindakan persekutuan yang melebihi
kekuasaannya sebagaimana diberikan oleh Anggaran
Dasarnya atau peraturan yang melandasinya
pembentukan persekutuan tersebut.15
3. Good Corporate Governance (GCG) theory adalah
prinsip dasar pengelolaan perusahaan secara transparan,
akuntabel dan adil. Konsep GCG ini bersifat universal
yang dapat dilaksanakan oleh semua pihak melalui
jawab pribadi dikenakan kepada pemegang saham, para direktur dan officers (para
pejabat perseroan) Lihat I.G Ray Widjaya, Hukum Perusahaan Perseroan
Terbatas, Jakarta: Mega Poin, 2002.
13
Doktrin Ultra virest atau pelampauan kewenangan berasal dari bahasa latin
di luar atau melebihi kekuasaan (outside the power), yaitu di luar kekuasaan
yang diizinkan oleh hukum terhadap suatu badan hukum.
14
Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law Eksistensinya
dan Hukum Indonesia, Cet. Kesatu, Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bhakti,
2002, hlm. 8.
15
Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 110.

8
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 8

12/12/2012 9:34:53 AM

4.

sistem ekonomi terbuka, dan ekonomi global. Karakter


universal itu pulalah yang menempatkan GCG menjadi
indikator utama maju mundurnya investasi
dan
perdagangan internasional suatu negara. Lebih daripada
itu, pelaskanaan GCG akan memberi manfaat langsung
pada regulasi bisnis sektoral, pemberdayaan usaha,
penilaian kepatuhan (compliance rating) peningkatan
minat investasi, minat dagang dan sebagainya.16
CSR (corporate social responsibility) adalah etika
moral atau etika bisnis.
Persoalan etika bisnis pada umumnya muncul karena
adanya tanggung jawab persekutuan kepada pihakpihak
di
luar
perusahaan
(non-shareholder
constituencies), seperti tenaga kerja, konsumen,
suppliers dan kelompok masyarakat lainnya. Perihal
inilah yang membuat persoalan menjadi kompleks jika
dilihat dari The contractual theory of the firm.
Etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi tentang
moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Moralitas berarti
aspek baik dan buruk, terpuji atau tercela, dan
karenanya diperbolehkan atau tidak dari perilaku
manusia. Sementara kegiatan ekonomi merupakan
suatu bidang perilaku manusia yang penting.17
Berkaitan dengan CSR adalah bentuk dari etika bisnis
yang di dasarkan pada moralitas, maka sifatnya adalah
voluntary.
Secara universal ada hubungan antara etika dalam
arti hukum dan atika dalam arti moral bisnis. Keduanya
dibangun dengan menggunakan common ethical
traditions. Tradisi ini menggunakan teori-teori etika

16

The International Conference on Improving Investors Confidence Through


The Implementiation Of Good Corporate Governance, Indonesian Chamber of
Commerce and Industry and CIPE, Suported by National Committee of Good CG
Policy and The World Bank, Jakarta July 25-27, 2000.
17
K. Bartens, op. cit, hlm. 33.

9
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 9

12/12/2012 9:34:53 AM

5.

klasik (kuno/accient).18 Selain itu etika dalam bisnis


juga dibangun berdasarkan ajaran dari berbagai
agama.19
Secara umum, etika adalah ilmu normatif
penuntun manusia, yang memberi perintah apa yang
mesti kita kerjakan dalam batas-batas kita sebagai
manusia, dengan segala tanggung jawabnya. Etika
menunjukkan kita dengan siapa dan apa yang sebaiknya
dilakukan.
Maka,
Etika
diarahkan
menuju
perkembangan aktualisasi kapasitas terbaik manusia.
Code of conduct
OECD memberikan definisi Code of Conduct yang
dirumuskan dari kajian secara komprehensif yaitu:
commitments voluntary made by companies,
association or other entities, which put forward
standards and principles for the conduct of business
activities in the market place.20
Definisi OECD ini menunjukkan bahwa Code of
Conduct adalah kewajiban yang harus ditegakkan
sendiri (self imposed obligation), tetapi bukan bagian

18

Robb Atkinson, Connecting Business Ethics And Legal Ethicss For The
Common Good: Come, Let Us Reason Together, Journal of Corporation Law 29
(Spring 2004); 476.
19
An Interfaith Declaration menyampaikan beberapa prinsip agama yang
dikaitkan dengan etika bisnis yaitu: (1) justice; (2) Mutual Respect; (3) Stewardship;
(4) Honesty. Simon Webley, Values Ingerent An Interfaith Declaration. A Code of
Ethics on International Business for Christians, Muslims and Jews. (Amman,
Jordan, 1993), Lihat John Hick, Towards A Universal Declaration Of A Global
Ethic A Christian Comment, diunduh dari http://astro.temple.edu/dialogue/center/hick.htm. Lihat Khalid Duran, Leonard Swidlers Drafts Of A
Global Ethic A Muslim Perspective diunduh dari http://astro. Temple.edu/dialogue/Center/duran.htm.
20
Definisi ini dikutip Lundbland dari OECD in 2001: Corporate
Responsibilities: Private Imitiatives and Public Goals, Claes lundblad, Some Legal
Dimension of Corproate Code of Conduct (Deventer: Kluwer Law international,
2005), hlm. 387.

10
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 10

12/12/2012 9:34:53 AM

dari peraturan perundang-undangan (rules) tentang


tatakelola perusahaan (corporate governance).21
Prinsip tersebut di atas digunakan untuk mengatasi
kebuntuan atas pendekatan formal terhadap kewajiban
perusahaan dalam sistem hukum. Hukum formal yang
dimaksud adalah bentuk intervensi negara dalam
mengatur persoalan privat melalui aturan perundangundangan, seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan,
Undang-Undang
Perlindungan
Konsumen
dan
sebagainya.
Di samping itu prinsip-prinsip tersebut dapat
digunakan sebagai pisau analisis untuk memberi solusi
atas perdebatan konsep tanggung jawab hukum badan
usaha yang berbentuk persekutuan dan penerapan good
corporate governance dalam menghadapi globalisasi di
Indonesia.
2.

Kerangka Konsepsional
Selanjutnya untuk menghindari salah pengertian,
paragraf-paragraf berikut ini akan menguraikan konsep
penelitian dengan memberikan definisi operasional dari
istilah-istilah yang digunakan dalam penulisan ini sebagai
berikut:
a. Badan Usaha adalah setiap bentuk usaha yang
menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan
terus menerus dan didirikan, bekerja, serta
berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia untuk
tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.22 Dari
uraian di atas bahwa pengertian perusahaan ada dua hal
pokok, yaitu: (a) bentuk usaha berupa organisasi atau
badan usaha; (b) jenis usaha berupa kegiatan dalam
bidang perekonomian yang dilakukan secara terus

21

Ibid.
Indonesia, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar
Perusahaan, pada Pasal 1, huruf (b).
22

11
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 11

12/12/2012 9:34:53 AM

b.

c.

menerus oleh pengusaha untuk memperoleh


keuntungan atau laba.
Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut perseroan
adalah badan hukum yang merupakan pesekutuan
modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya
terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan
pelaksanaannya.23
Perseroan Terbatas juga diartikan sebagai asosiasi
pemegang saham (atau bahkan seorang pemegang
saham jika dimungkinkan untuk itu oleh hukum di
negara tertentu) yang diciptakan oleh Hukum dan
diberlakukan sebagai manusia semu (artificial person)
oleh pengadilan, yang merupakan badan hukum
karenanya sama sekali terpisah dengan orang-orang
yang mendirikannya, dengan mempunyai kapasitas
untuk bereksistensi yang terus menerus dan sebagai
suatu badan hukum, Perseroan Terbatas berwenang
untuk menerima, memegang, dan mengalihkan harta
kekayaan, menggugat atau digugat, dan melaksanakan
kewenangan-kewenangan lainnya yang diberikan oleh
hukum yang berlaku.
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan
orang perseorang atau badan hukum koperasi dimana
kegiatannya berlandaskan pada prinsip koperasi
sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan.24
Dan definisi koperasi, menurut Ica Manchester, adalah
beberapa perkumpulan Otonom dari orang-orang yang

23

Dr. Dhaniswara K. Harjono, Pembaruan Hukum Perseroan Terbatas


(Tinajuan Terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas), Jakarta: Penerbit Pusat Pengembangan Hukum dan Bisnis Indonesia
(PPHBI), 2008, hlm. 169-170.
24
Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
yang disahkan pada tanggal 21 Oktober 1992, pada pasal 1 ayat (1).

12
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 12

12/12/2012 9:34:54 AM

d.

e.

f.

bersatu secara sukarela, untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dan asosiasi-asosiasi ekonomi, sosial dan
hidup mereka melalui perusahaan yang dimiliki dan
dikendalikan bersama secara demokratis.
Persekutuan Firma (Fa) adalah suatu usaha bersama
antara dua orang atau lebih untuk menjalankan suatu
usaha di bawah suatu nama bersama. Perusahaan dalam
bentuk Firma ini di awal penyebutan namanya sering
disingkat dengan Fa, misalnya Fa. Hasan & Co.25
Adapun persekutuan Firma adalah salah satu bentuk
persekutuan khusus yang diatur secara khusus dalam
KUHD, sebagaimana termaktub dalam pasal 16, Yang
dinamakan persekutuan firma adalah tiap-tiap
persekutuan
(perdata)
yang
didirikan
untuk
menjalankan sesuai perusahaan di bawah satu nama
bersama.
Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennoot
schap) biasanya disebut komanditer, adalah suatu
perusahaan yang didirikan oleh satu atau beberapa
orang secara tanggung menanggung, bertanggungjawab
untuk seluruhnya atau bertanggung jawab secara
solider, dengan satu orang atau lebih sebagai pelepas
uang (geldschieter).26
Persekutuan perdata adalah sekumpulan dari orangorang yang biasanya memiliki profesi yang sama dan
berkeinginan untuk berhimpun dengan menggunakan
nama bersama atau disebut maatschap.

F. Metode Penelitian
Dengan mengacu pada pertanyaan penelitian pada butir
Perumusan Masalah, penelitian ini menggunakan pendekatan

25

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, Bandung: Penerbit PT Citra


Aditya Bhakti, 2003, hlm. 43.
26
I.G. Ray Widjaya, Hukum Perusahaan, Jakarta: Penerbit Kesaint Blanc,
2000.

13
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 13

12/12/2012 9:34:54 AM

kualitatif 27 dengan metode penelitian yuridis normatif 28 dengan


penelitian hukum empiris.29 Metode yuridis normatif dilakukan
terhadap data sekunder baik berupa dokumen maupun
kepustakaan. Sementara itu, penelitian lapangan dilakukan
untuk memperoleh data primer berupa pandangan, pemikiran
dari para pelaku bisnis sebagai bahan analisis untuk memperoleh
konfirmasi atas hasil penelitian kepustakaan dan diharapkan
dapat mengungkapkan legal cultur atas perkembangan perilaku
persekutuan komanditer, persekutuan firma dan persekutuan
perdata di Indonesia.
Dengan demikian, dalam rangka menjawab perumusan
masalah sebagaimana tersebut di atas, akan dilakukan tahapan
penelitian seperti di bawah ini.
1. Penelitian yuridis normatif 30 terdiri dari sebagai berikut:
27

Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini karena penulisan ini


bermaksud memperoleh berbagai informasi yang dapat digunakan untuk
menganalisis dan memahami aspek-aspek tertentu dari perilaku bisnis Indonesia.
Pendekatan kualitatif ini sesuai karena akan membahas teori yang melandasi
lahirnya peraturan, kebijakan, atau putusan pengadilan di bidang persekutuan usaha
tersebut.
28
Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang dilakukan
dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Penelitian hukum
normatif ini mencakup: (1) penelitian terhadap asas-asas hukum, (2) penelitian
terhadap sistimatika hukum, (3) penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan
horizontal (4) perbandingan hukum, dan (5) sejarah hukum. Soerjono Soekanto dan
Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu tinjauan Singkat, Edisi 1, Cet. V,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 12-14, lihat juga Soerjono Seokanto
dan Sri Mamudji, Peranan dan Penggunaan Perpustakaan di dalam Penelitian
Hukum, Jakarta Pusat Dokumentasi Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
1979), hlm. 15.
29
Penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan
cara meneliti data-data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari
masyarakat. Penelitian hukum empiris ini disebut juga dengan penelitian hukum
sosiologis. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian ., op cit, hlm. 12
dan 14. Penelitian lapangan dilakukan dengan menggunakan in-depth interview
(wawancara mendalam) dan focus group discussion (FGD) untuk memperoleh data
primer berupa pandangan, pemikiran, dan pendapat.
30
Penelitian yuridis normatif dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman
yang mendalam terhadap implikasi sosial dan efek penerapan suatu peraturan
perundang-undangan atau kebijakan, terhadap masyarakat.

14
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 14

12/12/2012 9:34:54 AM

a.

2.

Inventarisasi
Inventarisasi dilakukan terhadap kebijakan, peraturan
perundang-undangan, dan pencermatan perkembangan
dan perilaku bisnis atas permasalahan yang terkait
dengan upaya tanggung jawab hukum persekutuan
komanditer, persekutuan Firma dan persekutuan
perdata.
b. Bencmarking (membandingkan dengan negara lain)
Studi literatur digunakan dalam membandingkan
beberapa hal tentang perilaku bisnis yang ditandai
dengan adanya good corporate governance terhadap
persekutuan komanditer, persekutuan firma dan
persekutuan perdata di negara-negara lain. Beberapa
hal tersebut misalnya tindakan atau langkah-langkah
yang dilakukan dalam rangka mengembangkan ketiga
bentuk badan usaha tersebut, serta kerangka peraturan
yang terkait dengan perilaku bisnisnya.
c. Analisis
Analisis dilakukan terhadap kekurangan, hal-hal yang
masih perlu disempurnakan, dan hal-hal yang perlu
dipertahankan terhadap langkah-langkah tanggung
jawab hukum perusahaan terhadap badan usaha yang
berbentuk Persekutuan perdata, Firma dan CV.
Penelitian lapangan, terdiri dari sebagai berikut:
a. In-Depth Interview
Wawancara secara mendalam dilakukan untuk
menjaring informasi selengkap mungkin berupa
pandangan, pemikiran, dan harapan mengenai perilaku
bisnis dari pelaku kebijakan, pelaksana kebijakan, para
pengamat/ahli di bidang hukum bisnis. Informasi ini
tergolong sebagai pendapat ahli sehingga diperlukan
key-informant, yakni tokoh-tokoh yang terkait dengan
hukum bisnis, misalnya penyusun peraturan
perundang-undangan, pelaku/praktisi dunia usaha, dan
pengamat/analisis business law.

15
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 15

12/12/2012 9:34:54 AM

b.

c.

Focus Group Discusion (FGD)


Forum diskusi diadakan untuk memperoleh pandangan
yang berbeda atau mengonfirmasikan data yang
diperoleh dari in depth interview. Informan FGD ini
memiliki jumlah perserta diskusi berkisar antara 6 10
orang.
Analysis of Law
Metode Pendekatan analisis Hukum31 digunakan untuk
menganalisis terhadap aspek perilaku suatu badan
usaha dan hubungan antara beberapa badan usaha yang
dipilih. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh
kualifikasi kecenderungan perilaku berdasarkan olahan
data primer yang dihasilkan dari in-depth interview dan
FGD. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mendukung
argumen-argumen yang diperoleh dari hasil analisis
tersebut pada penelitian yuridis normatif.
Pendekatan Analisis hukum ini memiliki kelebihan
karena dapat mengkuantifikasi data yang tidak dapat
diukur berupa pernyataan, opini, atau pendapat
sehingga dapat memberikan hasil penilaian atas
alternatif yang paling dominan dan menentukan urutan
prioritas. Dari pendekatan ini, akan dihasilkan output
berupa urutan prioritas masalah dan kebutuhan, dan
diharapkan output tersebut, kemudian dapat
memudahkan untuk memandu pada rekomendasi
strategi kebijakan yang tepat dan optimal.

G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pemahaman mengenai penelitian ini
disajikan dengan sistematika sebagai berikut:
31

Anlysys of Law dikembangkan oleh A. Thoman L. Saaty, Guru Besar Ilmu


Ekonomi di Pttsburgh University, Amerika Serikat 1994. Sementara itu, Iwan Jaya
Aziz, Guru Besar Ilmu Ekonomi di Cornell University Amerika Serikat, bersamasama dengan A. Thoman L. Saaty terus mengembangkan penggunaan ANP dalam
berbagai kegiatan akademis baik di Amerika Serikat maupun di negara-negara
lainnya.

16
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 16

12/12/2012 9:34:54 AM

BAB I

PENDAHULUAN
akan menguraikan latar belakang penelitian,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, kerangka teori dan konsepsional, metode
penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II

PERSEKUTUAN
USAHA
DAN
PRINSIP
TANGGUNG JAWAB HUKUM PERUSAHAAN
DI INDONESIA
akan menguraikan (a) Persekutuan Perdata
(Burgerlijke Maatschap): Pengertian, Jenis-jenis
Maatschap,
Sifat
Pendirian,
Maatschap,
Keanggotaan Maatschap, Hubungan Intern Para
Sekutu,
Pengurus
Maatschap,
Pembagian
keuntungan dan Kerugian, Tanggung jawab Intern
antara Sekutu, Tanggung jawab sekutu Maatschap
dengan Pihak Ketiga, Maatschap bukan Badan
Hukum, dan Bubarnya Maatschap. (b) Persektuan
Dengan Firma: Pengertian, Sifat-sifat Kepribadian,
Pendirian Firma, Hubungan Antara Sekutu,
Pengurus Firma, Tanggung jawab Sekutu baru,
Kewenangan Mewakili dan Bertindak Keluar, Firma
Bukan badan Hukum, dan Bubarnya Persekutuan
Firma. (c) Persekutuan Komanditer: Pengertian,
Komanditer Bukan meminjamkan Uang, Jenis-jenis
CV, Hubungan Intern antara Para Sekutu CV,
Hubungan Hukum Ekstern Dengan Pihak ketiga,
Kedudukan hukum CV, Bubarnya CV. (d) Prinsip
tanggung jawab hukum perusahaan di Indonesia

BAB III

PENYAJIAN
DATA
PENELITIAN
PERSEKUTUAN USAHA DI INDONESIA
akan menguraikan (a) Dasar Hukum Pembentukan
Persekutuan Usaha (b) Persekutuan Perdata (c)
Firma (d) Persekutuan Komanditer (e) Hubungan

17
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 17

12/12/2012 9:34:54 AM

antara Tanggung Jawab dan Hukum Perusahaan


dalam Perspektif Teoretis.
BAB IV

ANALISIS HUKUM PERSEKUTUAN USAHA DI


INDONESIA
akan menguraikan Prinsip Hukum Yang Mendasari
Persekutuan Perdata, Persekutuan Dengan Firma dan
Persekutuan Komanditer, Persekutuan Usaha Dalam
menerapkan prinsip Good Corporate Governance,
Peluang dan Kendala persekutuan usaha Dalam
menghadapi Globalisasi.

BAB V

PENUTUP
akan menyimpulkan dan menyarakan hasil-hasil
penelitian yang telah dituangkan dalam bab-bab
sebelumnya dan mengajukan saran sebagai implikasi
teoretis maupun praktis penelitian ini.

18
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 18

12/12/2012 9:34:54 AM

BAB II
PERSEKUTUAN USAHA DAN PRINSIP
TANGGUNG JAWAB HUKUM PERUSAHAAN DI
INDONESIA
A. Persekutuan Perdata (Burgerlijke Maatschap)
1. Pengertian
Menurut pandangan klasik, Burgerlijke Maatschap atau
lebih populer disebut Maatschap merupakan bentuk genus
(umum) dari Persekutuan Firma (VoF) dan Persekutuan
Komanditer (CV). Bahkan menurut pandangan klasik,
Maatschap tersebut mulanya merupakan bentuk genus pula
dari Perseroan Terbatas (PT). Hanya saja, karena saat ini
tentang PT sudah jauh berkembang, maka ada pendapat
yang mengatakan PT bukan lagi termasuk bentuk spesies
(khusus) dari Maatschap.32
Bila Firma dan CV sebagai bentuk Maatschap, maka ia
akan mengandung pula karakteristik-karakteristik dari
Maatschap, sepanjang tidak diatur secara khusus dan
menyimpang dalam KUHD. Jelasnya, apa yang diatur
dalam KUHPerdata mengenai Maatschap berlaku pula
terhadap Firma dan CV. Keadaan ini terbaca dalam Pasal 15
KUHD, yang menyatakan bahwa:
Persekutuan-persekutuan yang disebut dalm Buku I,
Bab III, bagian I KUHD diatur oleh perjanjianperjanjian antara para pihak dan oleh KUHPerdata.
Sebenarnya, apa yang diatur dalam Pasal 15 KUHD
sejalan dengan apa yang diatur dalam Pasal 1 KUHD.
Sebab KUHD itu sendiri merupakan spesies dari
KUHPerdata yang merupakan genusnya.
Dalam kepustakaan dan ilmu hukum, istilah
persekutuan bukanlah istilah tunggal, karena ada istilah
32

Rudhi Prasetyo, Maatschap, Firma, dan Persektuan Komanditer,


(Bandung: PT Citra Aditya Bhakti, 2002), hlm. 2.

19
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 19

12/12/2012 9:34:54 AM

pendampingnya yaitu perseroan dan perserikatan. Ketiga


istilah ini sering digunakan untuk menerjemahkan istilah
bahasa Belanda maatschap dan venootschap. Maat
maupun vennot dalam bahasa aslinya (Belanda) berarti
kawan atau sekutu.
H. Van der Tas, dalam Kamus Hukum menerjemahkan
Maatschap sebagai perseroan, perserikatan, persekutuan.
Fockema Andreae, menerjemahkannya sebagai perseroan,
perseroan perdata. R. Subekti dalam terjemahan BW
menyebut istilah Maatschap sebagai persekutuan.
Sedangkan penulis lain menerjemahkannya sebagai
persekutuan perdata atau perserikatan perdata (burgerlijke
maatschap).
Persekutuan artinya persatuan orang-orang yang
sama kepentingannya terhadap suatu perusahaan tertentu.
Sedangkan Sekutu artinya peserta dalam persekutuan.
Jadi, persekutuan berarti perkumpulan orang-orang yang
menjadi peserta pada perusahaan tertentu.33 Jika badan
usaha tersebut tidak menjalankan perusahaan, maka badan
itu bukanlah persekutuan perdata, tetapi disebut
perserikatan perdata. Sedangkan orang-orang yang
mengurus badan usaha disebut sebagai anggota, bukan
sekutu.
Dengan demikian, terdapat dua istilah yang
pengertiannya hampir sama, yaitu perserikatan perdata
dan persekutuan perdata. Perbedaannya, perserikatan
perdata tidak menjalankan perusahaan, sedangkan
persekutuan perdata menjalankan perusahaan. Dengan
begitu, maka perserikatan perdata adalah suatu badan usaha
yang termasuk hukum perdata umum, sebab tidak
menjalankan perusahaan. Sedangkan persekutuan perdata
adalah suatu badan usaha yang termasuk dalam hukum
perdata khusus (hukum dagang), sebab menjalankan
perusahaan.
33

H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang (Bentuk-bentuk


Perusahaan), (Yakarta: penerbit Djambatan, 1982), Cetakan ke-2, hlm. 16.

20
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 20

12/12/2012 9:34:54 AM

Menurut
Purwosutjipto,
persekutuan
perdata
(burgerlijke maatschap) sebagaimana diatur dalam Buku
III, bab VIII KUHPerdata adalah persekutuan yang
termasuk dalam bidang hukum perdata umum, sebab apa
yang disebut burgerlijke maatschap itu pada umumnya
tidak menjalankan perusahaan. Tetapi dalam praktik,
persekutuan perdata juga sering menjalankan persusahaan.
Namun persekutuan yang dimaksud adalah persekutuan
perdata khusus. Hal ini dapat diketahui dari Pasal 1623
KUHPerdata jo. Pasal 16 KUHD Pasal 1623 KUHPerdata
berbunyi:
Persekutuan perdata khusus ialah persekutuan
perdata yang hanya mengenai barang-barang tertentu
saja, pemakaian atau hasil yang didapat dari barangbarang itu atau mengenai suatu usaha tertentu,
melakukan
perusahaan
ataupun
melakukan
pekerjaan.
Sedangkan Pasal 16 KUHD berbunyi:
Yang dinamakan persekutuan Firma ialah
perskutuan
perdata
yang
didirikan
untuk
menjalankan perusahaan dengan nama bersama
(firma).
Batasan yuridis Maatschap dimuat di dalam Pasal 1618
KUHPerdata yang dirumuskan sebagai berikut:
Persekutuan perdata (Maatschap) adalah suatu
persetujuan dengan mana dua orang atau lebih
mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu
(inbreng) dalam persekutuan dengan maksud untuk
membagi keuntungan yang terjadi karenanya.
Menurut Soenawar Soekowati, Maatschap adalah suatu
organisasi kerja sama dalam bentuk taraf permulaan dalam
suatu usaha. Yang dimaksudkan dalam taraf permulaan di
sini adalah bahwa Maatschap merupakan sutau badan yang
21
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 21

12/12/2012 9:34:55 AM

belum menjadi perkumpulan berbadan hukum. Ia


merupakan bentuk badan yang paling sederhana, sebagai
dasar dari bentuk-bentuk badan usaha yang telah mencapai
taraf yang sempurna (berbelit-belit) pengaturannya. Jadi,
Maatschap bentuknya belum sempurna, artinya belum
memiliki pengaturan yang rumit atau belum memenuhi
unsur-unsur sebagai badan hukum.
Menurut kepustakaan, Maatschap itu bersifat dua
muka, yaitu bisa untuk kegiatan yang bersifat komersial
atau bisa pula untuk kegiatan non-komersial termasuk
dalam hal ini untuk persekutuan-persekutuan menjalankan
profesi. Dalam praktik dewasa ini, yang paling banyak
dipakai justru untuk non profit kegiatan profesi itu,
misalnya persekutuan diantara para lawyer yang biasa
dikenal sebagai associated atau partner (rekan atu
compagnon yang disingkat Co.34
Dalam Pasal 1618 KUHPerdata dikatakan bahwa tiap
peserta harus memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan.
Hal yang dimaksudkan di sini adalah pemasukan
(inbreng). Pemasukan (inbreng) dapat berwujud barang,
uang atau tenaga, baik tenaga badaniah maupun tenaga
kejiwaan (pikiran). Adapun hasil dari adanya pemasukan itu
tidak hanya keuntungan saja, tetapi mungkin pula
kemanfaatan, misalnya: empat orang bersahabat (A, B, C,
dan D) masing-masing memasukkan uang sebesar Rp
200.000,- untuk melakukan sebuah perjalanan wisata ke
Yogyakarta dengan mencarter sebuah taksi, mulai pagi
hingga sore dengan membawa makanan dan minuman,
maka pada sore hari ketika mereka sampai di rumah,
sedikitpun tidak mendapat keuntungan, tetapi hanya
kemanfaatan yang berwujud kepuasan hati. Kenyataan
hukum ini disebut perserikatan perdata.

34

Rudhi Prasetyo, ibid, hlm. 4-5.

22
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 22

12/12/2012 9:34:55 AM

2.

Jenis-jenis Maatschap
Sesuai dengn Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerdata) sebagai sumber hukumnya, maatschap itu
terbagi dua, yaitu sebagai berikut:
1) Maatschap Umum (Pasal 1622 KUHPerdata)
Maatschap umum meliputi apa saja yang akan
diperoleh para sekutu sebagai hasil usaha mereka
selama maatschap berdiri. Maatschap jenis ini
usahanya bisa bermacam-macam (tidak terbatas), yang
penting inbrengnya ditentukan secara jelas/terperinci.
2) Maatschap Khusus (Pasal 1623 KUHPerdata)
Maatschap khusus (bijzondere maatschap) adalah
maatschap yang gerak usahanya ditentukan secara
khusus, bisa hanya mengenai barang-barang tertetu
saja, atau pemakaiannya, atau hasil yang akan didapat
dari barang-barang itu, atau mengenai suatu usaha
tertentu atau penyelenggaraan suatu perusahaan atau
pekerjaan tetap. Jadi, penentuannya ditekankan pada
jenis usaha yang dikelola oleh maatschap (umum atau
khusus), bukan pada inbrengnya. Mengenai
pemasukan, baik pada maatschap umum mauapun
maatschap khsuus harus ditentukan secara jelas atau
terperinci. Kedua, maatschap ini dibolehkan, yang
tidak dibolehkan adalah maatschap yang sangat umum
yang inbrengnya tidak diatur secara terperinci, seperti
yang disinggung oleh Pasal 1621KUHPerdata.
Maatschap termasuk salah satu jenis kemitraan
(partnership) yang dikenal dalam Hukum Perusahaan di
Indonesia, di samping bentuk lainnya, seperti Vennootschap
Onder Firma (Fa) dan Commanditer Vennotschap (CV).
Maatschap merupakan bentuk usaha yang biasa
dipergunakan oleh para Konsultan, Ahli hukum, Notaris,
Dokter, Arsitek, dan profesi-profesi sejenis lainnya.

23
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 23

12/12/2012 9:34:55 AM

Maatschap merupakan bentuk kemitraan yang paling


sederhana, karena hal berikut:35
a. Dalam hal modal, tidak ada ketentuan tentang besarnya
modal seperti yang berlaku dalam Perseroan Terbatas
yang menetapkan modal minimal Rp 50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah).
b. Dalam rangka memasukkan suatu persekutuan atau
maatschap selain berbentuk uang atau barang boleh
menyumbangkan tenaga saja.
c. Lapangan kerjanya tidak dibatasi, bisa juga dalam
bidang perdagangan.
d. Tidak ada pengumuman kepada pihak ketiga seperti
yang dilakukan dalam Firma.
3.

Sifat pendirian Maatschap


Menurut Pasal 1618 KUHPerdata, maatschap adalah
persekutuan yang didirikan atas dasar perjanjian. Menurut
sifatnya, perjanjian itu ada dua macam golongan, yaitu
perjanjian konsensual (concensuelle overeenkomst) dan
perjanjian riil (reele overeenkomst). Perjanjian mendirikan
maatschap adalah perjanjian konsensual, yaitu perjanjian
yang terjadi karena ada persetujuan kehendak dari para
pihak atau ada kesepakatan sebelum ada tindakan-tindakan
(penyerahan barang). Pada maatschap, jika sudah ada kata
sepakat dari para sekutu untuk mendirikannya, meskipun
belum ada inbreng, maka maatschap sudah dianggap ada.
Undang-undang tidak menentukan mengenai cara
pendirian maatschap sehingga perjanjian maatschap
bentuknya bebas. Tetapi dalam praktik, hal ini dilakukan
dengan akta otentik ataupun akta di bawah tangan. Juga
tidak ada ketentuan yang mengharuskan pendaftaran dan
pengumuman bagi maatschap, hal ini sesuai dengan sifat
maatschap yang tidak menghendaki adanya publikasi
(terang-terangan).

35

I.G. Rai Widjaya, Hukum Perusahaan, (JakartaL Kesaint Blanc, 2005),


hlm. 36-37.

24
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 24

12/12/2012 9:34:55 AM

Perjanjian untuk mendirikan maatschap, di samping


harus memenuhi ketentuan dalam Pasal 1320 KUHPerdata,
juga harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a) Tidak dilarang oleh hukum;
b) Tidak bertentangan dengan tata susila dan ketertiban
umum;
c) Harus merupakan kepentingan bersama yang dikejar,
yaitu keuntungan.
4.

Keanggotaan Maatschap
Keanggotaan suatu maatschap penekananya diletakkan
pada sifat kapasitas kepribadian (persoonljke capacieil) dari
orang (sekutu) yang bersangkutan. Pada asasnya,
maatschap terikat pada kapasitas kepribadian dari masingmasing anggota, dan cara masuk keluarnya ke dalam
maatschap ditentukan secara statutair (tidak bebas). Adapun
sifat kapasitas kepribadian dimaksud diutamakan, seperti:
sama-sama seprofesi, ada hubungan keluarga, atau teman
karib.
KUHPerdata (Bab VIII) sendiri juga tidak melarang
adanya maatschap antara suami-istri. Meskipun tidak
dilarang, maatschap yang didirikan antara sumai-istri, di
mana ada kebersamaan harta kekayaan (huwelijk
gemeenschap van goederen), maka maatschap demikian
tidak berarti apa-apa, sebab kalau ada kebersamaan harta
kekayaan (harta perkawinan), maka pada saat ada
keuntungan untuk suami-istri itu tidak ada bedanya, kecuali
pada saat perkawinan diadakan perjanjian pemisahan
kekayaan.

5.

Hubungan internal Para Peserta


Perjanjian maatschap tidak mempunyai pengaruh
keluar (terhadap pihak ketiga), dan pesertalah yang sematamata mengatur bagaimana caranya kerja sama itu
berlangsung, demikian juga pembagian keuntungan yang

25
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 25

12/12/2012 9:34:55 AM

diperoleh bersama diserahkan sepenuhnya kepada mereka


sendiri untuk mengaturnya dalam perjanjian maatschapnya.
Hanya undang-undang mengadakan pembatasan
terhadap kebebasan mengatur pembagian keuntungan itu,
berupa dua ketentuan:
a) Para sekutu tidak boleh memperjanjikan bahwa mereka
akan menyerahkan pengaturan tentang besarnya bagian
masing-masing kepada salah seorang dari mereka atau
kepada seorang pihak ketiga (Pasal 1634 ayat (1)
KUHPerdata);
b) Para sekutu tidak boleh memperjanjikan bahwa kepada
salah seorang akan diberikan semua keuntungan (Pasal
1635 ayat (1) KUHPerdata).
6.

Pengurusan Maatschap
Pengangkatan pengurus Maatschap dapat dilakukan
dengan dua cara (Pasal 1636), yaitu:
1) Diatur sekaligus bersama-sama dalam akta pendirian
maatschap. Sekutu maatschap ini disebut sekutu
statuter (gerant statutaire);
2) Diatur sesudah persekutuan perdata berdiri dengan akta
khusus. Sekutu pengurus ini dinamakan sekutu
mandater (gerant mandataire).
Perbedaan kedudukan hukum antara sekutu statuter dan
sekutu mandater:
a) Menurut Pasal 1636 ayat (2) KUHPerdata, selama
berjalannya maatshcap, sekutu statuter tidak boleh
diberhentikan, kecuali atas dasar alasan-alasan menurut
hukum, misalnya tidak cakap, kurang seksama,
ceroboh, menderita sakit dalam waktu lama, atau
keadan-keadaan atau peristiwa-peristiwa yang tidak
memungkinkan seorang sekutu pengurus itu
melaksanakan tugasnya secara baik.
b) Yang memberhentikan sekutu statuter ialah maatschap
itu sendiri.

26
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 26

12/12/2012 9:34:55 AM

Atas pemberhentian itu sekutu statuter dapat minta


putusan hakim soal apakah pemberhentian itu benarbenar sesuai dengan kaidah hukum. Sekutu statuter bisa
meminta ganti kerugian bila pemberhentian itu
dipandang tidak beralasan;
c) Sekutu mandater kedudukannya sama dengan
pemegang kuasa, jadi kekuasaannya dapat dicabut
sewaktu-waktu atau atas permintaan sendiri.
Kalau di antara para sekutu tidak ada yang dianggap
cakap atau mereka tidak merasa cakap untuk menjadi
pengurus, maka para sekutu dapat menetapkan orang luar
yang cakap sebagai pengurus. Jadi, ada kemungkinan
pengurus maatschap adalah bukan sekutu. Hal ini dapat
ditetapkan dalam akta pendirian maatschap atau dalam
perjanjian khusus.
7.

Pembagian Keuntungan dan Kerugian


Para mitra bebas untuk menentukan bagaimana
keuntungan maatschap akan dibagikan diantara mereka.
Menurut Pasal 1633 KUHPerdata cara membagi keutungan
dan kerugian itu sebaiknya diatur dalam perjanjian
pendirian maatschap. Bila dalam perjanjian pendirian tidak
ada diatur maka bagian tiap sekutu dihitung menurut
perbandingan besarnya sumbangan modal yang dimasukan
oleh masing-masing sekutu. Sekutu yang inbrengnya hanya
berupa tenaga, maka bagian keuntungan atau kerugian yang
diperolehnya hanya sama dengan bagian sekutu yang
memasukkan inbreng berupa uang atau barang yang paling
sedikit.
Menurut Pasal 1634 KUHPerdata, para sekutu tidak
boleh berjanji bahwa jumlah bagian mereka masing-masing
dalam maatschap ditetapkan oleh salah seorang sekutu dari
mereka atau orang lain. Di samping itu, menurut Pasal 1635
KUHPerdata, para sekutu dilarang memperjanjikan akan
memberikan keuntungan saja kepada salah seorang sekutu,
tetapi harus mencakup keduanya, yakni keuntungan (laba)
27

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 27

12/12/2012 9:34:55 AM

dan kerugian. Bila hal itu diperjanjikan juga maka dianggap


batal. Namun sebaliknya, para sekutu diperbolehkan
memperjanjikan bahwa semua kerugian akan ditanggung
oleh salah seorang sekutu saja.
8.

Tanggung Jawab Internal Antara sekutu


Para sekutu Maatschap dapat membuat perjanjian
khusus dalam rangka menunjuk salah seorang di antara
mereka atau orang ketiga sebagi pengurus yang ditunjuk itu
berhak melakukan semua tindakan kepengurusan yang
dianggap perlu, walaupun tidak disetujui oleh beberapa
sekutu, asalkan dilakukan dengan iktikad baik. Jadi
pengurus dapat bertindak atas nama persekutuan dan
mengikat para sekutu terhadap pihak ketiga dan sebaliknya
pihak ketiga terhadap para mitra selama masa penunjukkan
(kuasa) itu berlaku. Para sekutu tentu saja masih bebas
untuk menggeser atau mengganti pengurus dengan mandat
tersebut. Selama pengurus yang ditunjuk itu ada, maka
sekutu yang bukan pengurus tidak mempunyai para sekutu
lainnya dengan pihak ketiga.
Bila tidak ada penunjukkan secara khusus mengenai
pengurus, Pasal 1639 KUHPerdata menetapkan bahwa
setiap sekutu dianggap secara timbal balik telah memberi
kuasa, supaya yang satu melakukan pengurusan terhadap
yang lain, bertindak atas nama Maatschap dan atas nama
mereka. Jadi, berkenaan dengan tanggung jawab internal
antara sekutu, kecuali dibatasi secara tegas dalam perjanjian
pendirian maatschap, setiap sekutu berhak bertindak atas
nama Maatschap dan mengikat para sekutu terhadap pihak
ketiga dan pihak ketiga terhadap sekutu.

9.

Tanggung Jawab Sekutu Maatschap dengan Pihak


Ketiga
Menurut Pasal 1642 sampai dengan 1645 KUHPerdata,
pertanggungjawaban sekutu maatschap adalah sebagai
berikut:

28
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 28

12/12/2012 9:34:55 AM

a) Pada asasnya, bila seorang sekutu maatschap


mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga,
maka sekutu yang bersangkutan sajalah yang
bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan hukum
yang dilakukan dengan pihak ketiga itu, walaupun dia
mengatakan bahwa dia berbuat untuk kepentingan
persekutuan.
b) Perbuatan sekutu baru mengikat sekutu-sekutu lainnya
apabila:
(1) sekutu tersebut diangkat sebagai pengurus secara
gerant statutaire;
(2) terdapat pada surat kuasa dari sekutu-sekutu lain;
(3) hasil perbuatannya atau keuntungannya telah
dinikmati oleh persekutuan.
c) Bila beberapa orang sekutu maatschap mengadakan
hubungan hukum dengan pihak ketiga, maka para
sekutu itu dapat dipertanggungjawabkan sama rata,
meskipun inbreng mereka tidak sama, kecuali bila
dalam perjanjian yang dibuatnya dengan pihak ketiga
itu
dengan
tegas
ditetapkan
keseimbangan
pertanggungjawaban masing-masing sekutu yang turut
mengadakan perjanjian itu.
d) Bila seorang sekutu mengadakan hubungan hukum
dengan pihak ketiga atas nama persekutuan (Pasal 1645
KUHPerdata), maka persekutuan dapat langsung
menggugat pihak ketiga itu. Di sini tidak diperlukan
adanya pemberian kuasa dari sekutu-sekutu lain.
10. Maatschap Bukan Badan Hukum
Setiap kerja sama selalu menimbulkan hasil yang
dualistis, oleh karena tiap kerja sama itu: (a) mesti
menimbulkan kesatuan (rechtpersoonlijkheid, yakni yang
berwujud suatu badan atau corporatie; (b) di samping itu
juga menimbulkan akibat yang bersifat verbintenis
rechttelijk yang individual.

29
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 29

12/12/2012 9:34:55 AM

Kalau suatu kerja sama itu di mana unsur korporasinya


merupakan hal yang lebih menonjol, misalnya pada suatu
Persekutuan Perdata (PP), maka orang tidak akan ragu lagi
untuk mengatakan bahwa Persekutuan Perdata itu sudah
reschtpersoon, (artinya badan hukum itu bisa bertindak
sebagai subjek hukum seperti halnya natuurlijke persoon).
Sebaliknya, manakala dalam kerja sama itu unsur
korporasinya lebih sedikit, akan timbul keraguan, baik pada
peradilan maupun para sarjana, yakni tentang apakah kerja
sama itu dilakukan oleh badan hukum atau bukan.
Ajaran yang umum (de heersen de leer) yang dianut
tidak mengakui bahwa maatschap itu merupakan badan
hukum, karena maatschap tidak mempunyi harta kekayaan
yang terpisah dengan kekayaan para sekutunya. Tapi karena
hukum itu berkembang, muncul pendirian baru yang
mengatakan bahwa pada maatschap itu dalam praktik sudah
ada kekayaannya yang terpisah akan tetapi belum dianggap
sebagai landasan hukum.
Pada Firma terlihat bahwa undang-undang mengakui
adanya harta kekayaan yang terpisah (Pasal 32 KUHD).
Tetapi oleh undang-undang firma juga belum diakui sebagai
badan hukum.
Di samping itu, walaupun maatschap dapat menggugat
langsung kepada pihak ketiga berdasarkan Pasal 1645
KUHPerdata, namun bukan berarti maatschap adalah badan
hukum. Perbuatan maatschap (persekutuan perdata) untuk
menggugat langsung kepada pihak ketiga adalah perbuatan
bersama semua para sekutu, karena mereka masing-masing
mempunyai bagiannya sendiri dalam harta kekayaan
persekutuan, sehingga tiap-tiap sekutu berhak menagih
sesuai dengan bagiannya itu.
Dari
sudut
pertanggungjawaban,
dapat
juga
disimpulkan bahwa Persekutuan Perdata bukan badan
hukum, karen bila ia disebut badan hukum maka seorang
sekutu yang melakukan perbuatan atas nama persekutuan,
pesekutuanlah yang terikat dengan pihak ketiga dan bukan
30
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 30

12/12/2012 9:34:56 AM

sekutu yang berbuat sebagaimana ditentukan dalam Pasal


1644 KUHPerdata. Bila Persekutuan Perdata ingin
dipaksakan menjadi badan hukum, maka tentu ada
keharusan bagi maatschap untuk memenuhi syarat-syarat
sebagai badan hukum, seperti (a) pengesahan dari
Kementerian Hukum dan HAM RI; (b) pendaftaran dalam
daftar wajib perusahaan; (c) pengumuman dalam Tambahan
Berita Negara RI. Sedangkan Persekutuan Perdata tidak
memerlukan prosedur pendirian sebagaimana disebut di
atas, tetapi cukup dilakukan secara konsensus atau dengan
akta (otentik atau di bawah tangan).
11. Bubarnya Maatschap
Ketentuan hukum pembubaran Persekutuan Perdata
diatur dalam buku III Pasal 1646 sampai dengan 1652
KUHPerdata. Adapun beberapa sebab sebuah Persekutuan
Perdata bisa dinyatakan bubar (Pasal 1646 KUHPerdata)
adalah sebagai beriut:
a) Lampaunya waktu maatschap itu didirikan.
b) Musnahnya barang atau telah diselesaikannya usaha
yang menjadikan pokok maatschap itu;
c) Kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu;
d) Salah seorang sekutu meninggal dunia atau di bawah
pengampuan atau dinyatakan pailit.
Berkenaan dengan huruf (a) bila persekutuan perdata
sejak semula didirikan untuk waktu tertentu namun
diteruskan oleh para mitra melewati waktu tersebut, maka
kemudin secara hukum persekutuan perdata itu didirikan
untuk waktu yang tidak tentu. Berkenaan dengan huruf (c)
terdapat perbedaan antar Persekutuan Perdata yang
didirikan untuk waktu tertentu dan yang didirikan untuk
waktu yang tidak tertentu. Dalam kasus pengunduran diri,
tidak dapat terjadi sebelum waktu yang ditunjuk, kecuali
semua mitra setuju atau ada perintah pengadilan (yang
diberikan untuk alasan demikian, seperti misalnya tidak
wanprestasi atau sakit berat). Menurut Pasal 1649
31
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 31

12/12/2012 9:34:56 AM

KUHPerdata, pengunduran diri harus pada waktunya dan


dengan itikad baik.36
B. Persekutuan Firma (Vennootschap Onder Firma)
1. Pengertian
Persekutuan Firma merupakan bentuk kemitraan
(partnership) kedua setelah Maatschap dan Persekutuan
Komanditer yang dikenal di Indonesia. Sedangkan di negara
Inggris (demikian juga Amerika), berdasarkan The Limited
Partnerships Act 1907, membedakan partnership37
(kemitraan) dalam dua tipe, yaitu: General Partnership
(mirip Persekutuan Firma) dan Sleeping atau Limited
Partnership (mirip Persekutuan Komanditer).38
General Partnership (GP) adalah organisasi usaha
(bisnis) yang didirikan oleh paling sedikit dua orang sekutu
(partner), yang mugkin terdiri dari individual (orang-orang
pribadi) atau badan-badan (entities) seperti persekutuan
(partnerships) lain atau perseroan-perseroan (corporations).
Setiap sekutu (partner) secara personal, bersama-sama, dan
masing-masing bertanggung jawab untuk semua kewajiban
dan utang-utang persekutuan. Para sekutu dalam GP ini
mempunyai kedudukan yang sama, sehingga sebagai wujud
kepemilikan atas usaha, secara bergiliran setiap sekutu

36

I.G. Rai Widjaya, Ibid., hlm. 43.


A partnership is a type of business entity in which partners (owners) share
with each other the profits or losses of the business. Partnership are often favored
over corporations for taxation purposes, as the partnership structure does not
generally incur a tax on profets before it is distributed to the partners (i.e. there is
non dividend tax levied). However, depending on the partner structure and the
jurisdiction in which it operates, owners of a partenership may be exposed to greater
personal liability than they wpuld as shareholders of a corporation. Lihat
http://en.wikipedia.org/wiki/partnership.diakses pada Rabu, 9 September 2009.
38
Helen J. bond and peter kay, Business Law (great Britain-London:
Blackstone Press limited, 1990), Pg. 337. A general partnership is an ordinary active
partner with right to participate in the management of the business. He also has
unlimited liability for the debts f the partnerships.
37

32
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 32

12/12/2012 9:34:56 AM

berhak mengelola usaha (bisnis) bersama-sama dengan


sekutu lainnya.39
Menurut Pasal 16 KUHD, Persekutuan Firma ialah
tiap-tiap persekutuan perdata yang didirikan untuk
menjalankan perusahaan dengan nama bersama.
Dari ketentuan pasal di atas dapat disimpulkan bahwa
Persekutuan Firma merupakan persekutuan perdata
khusus.
Molengraaff memberikan pengertian firma dengan
menggabungkan Pasal 16 dan Pasal 18 WvK, yaitu suatu
perkumpulan
(vereniging)
yang
didirikan
untuk
menjalankan perusahaan di bawah nama bersama dan yang
mana anggota-anggotanya tidak terbatas tanggung jawabnya
terhadap perikatan Firma dengan pihak ketiga.40
Schilggaarde mengatakan Persekutuan Firma sebagai
persekutuan
terbuka
terang-terangan
(openbare
vennootschap) yang menjalankan perusahaan dan tidak
mempunyai persero komanditer.41
Menurut Slagter, Firma adalah suatu perjanjian (een
overeenkomst) yang ditujukan ke arah kerja sama di antara
dua orang atau lebih secara terus menerus untuk
menjalankan suatu perusahaan di bawah suatu nama
bersama. Agar memperoleh keuntungan atas hak kebendaan
bersama
(gemeenschappeleijk
vermogensrechtelijk
voordeel) serta guna mencapai tujuan pihak-pihak di antara
mereka yang mengikatkan diri untuk memasukkan uang,
barang, kerja, nama baik atau kombinasi dari padanya ke
dalam perusahan.42
39

Gero Pfeiffer and Sven Timmerbeil, Loc.Cit. As a general rule, the partners
share equally in profits and losses. However, the partners often agree upon other
distribution procedures based on the amount of contribution made by the respective
partner.
40
M. Natzir Said, Hukum Perusahaan di Indonesia I, (Perorangan),
(Bandung: alumni1987, hlm. 117.
41
Ibid.
42
Ibid, hlm. 119.

33
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 33

12/12/2012 9:34:56 AM

Terdapat tiga unsur mutlak yang dimiliki Persekutuan


Firma, selain sifatnya sebagai Persekutuan Perdata khusus,
yaitu sebagai berikut:43
a) Menjalankan perusahaan (Pasal 16 KUHD)
Sebuah persekutuan yang sudah didirikan namun tidak
memiliki aktivitas atau kegiatan menjalankan
perusahaan, maka persekutuan itu bukanlah badan
usaha. Persekutuan Firma tersebut harus menjalankan
perusahaan dalam rangka mencapai keuntungan atau
laba. Di samping itu, aktivitas menjalankan perusahaan
haruslah bersifat terus-menerus, tetap, dan harus
memelihara pembukuan.
b) Dengan nama bersama atau Firma (Pasal 16 KUHD)
Firma artinya nama bersama, yaitu nama orang (sekutu)
yang dipergunakan menjadi nama perusahaan,
misalnya: salah seorang sekutu bernama Ulang
Mangun, lalu Persekutuan Firma yang mereka dirikan
diberinama Persekutuan Firma Ulang Mangun, atau
Firma Ulang Mangun Bersaudara. Di sini, tampak
bahwa nama salah seorang sekutu dijadikan sebagai
nama Firma.
Mengacu pada Pasal 16 KUHD dan yurisprudensi,
ditentukan bahwa nama bersama atau Firma dapat
diambil dari:
1) nama dari salah seorang sekutu, misalnya: Firma
Ulang Mangun.
2) nama dari salah seorang sekutu dengan tambahan,
misalnya: Firma Ulang Mangun Bersaudara,
Sosiawan & Brothers dan lain-lain;
3) kumpulan nama dari semua atau sebagian sekutu,
misalnya: Firma Hukum MAPRIAH ULAMOS,
MAPRIA ULAMOS merupakan singkatan nama

43
Bandingkan dengan ulasan yang dikemukakan oleh Zaeni Asyhadie,
hukum Bisnis: Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2006), hlm. 37-38.

34
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 34

12/12/2012 9:34:56 AM

beberapa sekutu yakni Marulak, Syprianus, Ahyar,


Ulang Mangun dan Mosgan;
4) nama lain yang bukan nama keluarga, yang
menyebutkan tujuan perusahaannya, misalnya:
Firma Perdagangan Food and Gatering.
Menurut Polak, para sekutu bebas untuk
menetapkan nama dari persekutuan Firma. Tetapi
kebebasan itu tidak sedemikian rupa sehingga
nama yang ditetapkan itu menyamai atau hampir
menyamai nama Firma lain yang sudah ada, dan
menimbulkan kebingungan di pihak ketiga.
c) Pertanggungjawaban sekutu yang bersifat pribadi untuk
keseluruhan (solider; tanggung renteng; tanggung
menanggung) (Pasal 18 KUHD)44
Setiap anggota atau sekutu Firma memiliki hak dan
tanggung jawab yang sama. Seorang sekutu yang
melakukan hubungan hukum dengan pihak ke-3, akan
secara serta merta mengikat sekutu yang lainnya.
Sehingga sekutu-sekutu Firma yang lain ikut
bertanggungjawab secara tanggung menanggung
hingga pada harta pribadi masing-masing. Hal ini
merupakan wujud kebersamaan yang berlaku dan
menjadi ciri khas Firma, serta dalam rangka melindungi
kepentingan pihak ke-3.
Dengan demikian, Persekutuan Perdata yang unsur
tambahannya kurang dari apa yang disebutkan di atas,
belum dapat disebut sebagai Persektuan Firma.
2.

Sifat Kepribadian
Sebagaimna yang berlaku dan menjadi ciri sebuah
Maatschap, maka kapasitas atau sifat kepribadian yang
tebal juga menjadi ciri sebuah Firma, hal ini sesuai dengan
ketentuan Pasal 16 KUHD yang menyebutkan Firma

44
Pasal 18 KUHD berbunyi: dalam pesekutuan Firma adalah tiap-tiap sekutu
secara tanggung menanggung bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala
perikatan dari persekutuan.

35
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 35

12/12/2012 9:34:56 AM

sebagai persekutuan perdata yang didirikan untuk


menjalankan perusahaan dengan nama bersama.
Persekutuan Perdata dan Persekutuan Firma sifat
kepribadian para sekutunya masih sangat diutamakan.
Lingkungan sekutu-sekutu tidak luas, hanya terbatas pada
keluarga, teman dan sahabat karib yang bekerjasama untuk
mencari laba, Oleh kita untuk kita. Berbeda halnya
dengan Perseroan Terbatas, yang bertujuan mencari
keuntungan sebesar-besarnya, maka sifat kepribadian tidak
kelihatan lagi bahkan tidak dipedulikan. Bagi Perseroan
Terbatas (PT) yang paling penting adalah bagaimana
meraup modal sebanyak mungkin dari pemegang saham,
tidak peduli siapa orangnya. Banyaknya jumlah pemegang
saham dalam PT menyebabkan mereka tidak saling
mengenal satu sama lain.
3.

Pendirian Firma
Menurut Pasal 16 KUHD jo. Pasal 1618 KUHPerdata,
pendirian Firma tidak disyaratkan adanya akta, tetapi pasal
22 KUHD45 mengharuskan pendirian Firma itu dengan akta
otentik. Namun demikian, ketentuan Pasal 22 KUHD tidak
diikuti dengan sanksi bila pendirian Firma itu dibuat tanpa
akta otentik. Bahkan menurut pasal ini, dibolehkan juga
Firma didirikan tanpa akta otentik. Ketiadaan akta otentik
tidak dapat dijadikan argumen untuk merugikan pihak
ketiga. Ini menunjukan bahwa akta otentik tidak menjadi
syarat mutlak bagi pendirian Firma, sehingga menurut
hukum Firma tanpa akta juga dapat berdiri. Akta hanya
diperlukan apabila terjadi suatu proses. Disini kedudukan
akta itu lain daripada akta dalam pendirian suatu PT. Pada
PT, akta otentik merupakan salah satu syarat pengesahan

45
Pasal 22 KUHD; Tiap-tiap Persekutuan Firma harus didirikan dengan akta
otentik, akan tetapi ketiadaan akta demikian tidak dapat dikemukakan untuk
merugikan pihak ketiga.

36
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 36

12/12/2012 9:34:56 AM

berdirinya PT, karena tanpa akta otentik, PT dianggap tidak


pernah ada.46
Bila pendirian Firma sudah terlanjur dibuat dengan
akta, maka akta tersebut didaftarkan ke Kepaniteraan
Pengadilan Negeri setempat. Kemudian diikuti dengan
pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia. Di
samping itu, untuk memulai berusaha sekutu pendiri harus
mengantongi Surat Izin Usaha, Surat Izin Tempat Berusaha,
dan Surat Izin berhubungan dengan Undang-Undang
Gangguan (Hinder Ordonanie, Stbl. 1926/226) bila
diperlukan.47
Kewajiban untuk mendaftarkan dan mengumumkan itu
adalah suatu keharusan yang bersanksi, karena selama
pendaftaran dan pengumuman belum dilaksanakan, pihak
ketiga dapat menganggap Firma tersebut sebagi
Persekutuan umum, yakni sebagai berikut:
a. menjalankan segala macam urusan;
b. didirikan untuk waktu tidak terbatas
c. tidak ada seorang sekutupun yang dikecualikan dari
kewenangan bertindak dan menandatangani surat bagi
persekutuan Firma (Pasal 29 KUHD).48
Sebenarnya, berdasarkan Pasal 26 ayat (2) dan Pasal 29
KUHD dikenal dua jenis Firma, yaitu:49
1) Firma umum, yakni Firma yang didirikan tetapi tidak
didaftarkan serta tidak diumumkan. Firma ini
menjalankan segala urusan didirikan untuk jangka
waktu tidak terbatas, dan masing-masing pihak (sekutu)
46

Achmad Ichsan, Hukum Dagang: Lembaga Perserikatan, Surat-surat


Berharga, Aturan-aturan Pengangkutan, (Jakarta; PT. Pradnya paramita, 1993),
hlm. 124.
47
H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia
(bentuk-bentuk Perusahaan). Jilid 2 (Jakarta: Djambatan, 1991), hlm. 48.
48
Ibid.
49
Pasal 26 ayat (2) berbunyi: Penyebutan Firma mereka dengan keterangan
apakah persekutuan itu umum atau hanya terbatas pada sesuatu kegiatan usaha
(perusahaan) yang khusus dan hal belakangan ini dengan menyebutkan kegiatan
usaha (perpisahan) khusus itu.

37
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 37

12/12/2012 9:34:56 AM

tanpa dikecualikan berhak bertindak untuk dan atas


nama Firma.
2) Firma khusus, yakni Firma yang didirikan, didaftarkan
serta diumumkan dan memiliki sifat-sifat yang bertolak
belakang dengan Firma umum seperti disebutkan di
atas.
Kedudukan akta pendirian (akta notaris) Firma
merupakan alat pembuktian utama terhadap pihak ketiga
mengenai adanya persekutuan Firma itu. Namun demikian,
ketiadaan akta sebagaimana dimaksud di atas tidak dapat
dijadikan alasan untuk lepas dari tanggung jawab atau
dengan maksud merugikan pihak ketiga. Dalam keadaan ini,
pihak ketiga dapat membuktikan adanya persekutuan Firma
dengan segala macam alat pembuktian biasa, seperti suratsurat, saksi, dan lain-lain.
4.

Hubungan Antara Sekutu


Pada prinsipnya, para sekutu Firma memiliki hubungan
yang sederajat satu sama lain. Masing-masing memiliki hak
dan kewajiban yang sama atas Firma. Dengan kata lain,
semua sekutu Firma merupakan pengurus Firma dan bisa
melakukan hubungan hukum keluar untuk dan atas nama
Firma. Hal ini disebabkan Firma memiliki sifat
kebersamaan (nama bersama). Perbuatan hukum salah
seorang sekutu Firma dengan pihak ketiga akan mengikat
sekutu-sekutu lainnya. Oleh sebab itulah, tanggung jawab
para sekutu dalam Firma bersifat pribadi untuk keseluruhan
(tanggung renteng, solider dan tanggung menanggung).
Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan para sekutu
menyepakati dalam akta pendirian mengenai sekutu tertentu
yang menjadi pengurus dan menetapkan sekutu tertentu
yang menjadi pemegang kuasa untuk melakukan perbuatan
hukum dengan pihak ketiga termasuk mewakili Firma di
forum pengadilan.
Pengaturan mengenai hubungan antar sekutu Firma
(khususnya mengenai pembagian laba dan rugi) tidak

38
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 38

12/12/2012 9:34:56 AM

ditemukan dalam KUHD, oleh karenanya hal ini kembali


merujuk pada ketentuan Persekutuan Perdata Pasal 1624
sampai dengan 1641 KUHPerdata. Ketentuan tersebut
merupakan ketentuan pelengkap, dan di antara pasal-pasal
itu terdapat Pasal 1634 dan 1635 yang merupakan ketentuan
memaksa menyangkut pembagian laba rugi. Mengenai laba
rugi merupakan hal penting untuk diatur dalam perjanjian
pendirian Firma. Bila hal itu tidak diatur maka berlakukah
asas keseimbangan dari pemasukan (inbreng) sebagaimana
diatur dalam Pasal 1633 KUHPerdata.
Sesuai dengan asas kebersamaan dalam pasal 1618
KUHPerdata, pada hakikatnya antara para sekutu tidak
boleh saling menyaingi. Namun bila hal itu terjadi, berlaku
Pasal 1630 KUHPerdata, yakni kewajiban memberikan
ganti kerugian.
5.

Pengurus Firma
Pengurus Persekutuan Firma harus ditentukan dalam
perjanjian pendirian Firma (garant statutaire). Bila hal itu
tidak diatur, maka harus diatur secara tersendiri dalam suatu
akta (garant mandataire), yang juga harus didaftarkan pada
kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat dan diumumkan
dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia.
Pendaftaran dan pengumuman penting agar pihak ketiga
dapat mengetahui siapa-siapa yang menjadi pengurus Firma
dan siapa pihak ketiga itu akan mengadakan hubungan
hukum.
Keberadaan pengurus dalam Firma semata-mata untuk
memudahkan pihak ketiga berhubungan dengan Firma.
Penetapan pengurus tidak membawa konsekuensi pada
tanggung jawab seperti yang berlaku dalam CV Tanggung
Jawab di antara sekutu Firma adalah sama, baik secara
internal maupun eksternal dengan pihak ketiga.
Dalam Firma, kemungkinan ada pemisahan antar pihak
pengurus dan pihak yang mewakili Firma untuk bertindak
keluar (pemegang kuasa). Seorang sekutu Firma (Pasal 17
39

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 39

12/12/2012 9:34:56 AM

KUHD)50 dapat dilarang bertindak keluar. Kalau larangan


itu tidak ada, maka tiap sekutu dapat mewakili Firma, yang
mengikat sekutu-sekutu lainnya (Pasal 18 KUHD), asal
tindakan sekutu yang bersangkutan ditujukan untuk
kepentingan Firma. Sedangkan tindakan yang bersifat
penguasaan harus ada kata sepakat dari semua sekutu.
Menurut beberapa yurisprudensi, tindakan pengurusan
sebenarnya juga mencakup di dalamnya tindakan di muka
Hakim bagi kepentingan Firma, sepanjang hal itu ada
kaitannya dengan pekerjaan pengurus sehari-hari, kecuali
bila ada pembatasan dalam perjanjian pendirian Firma
bahwa tindakan di muka Hakim termasuk tindakan yang
patut dikuasakan.
6.

Tanggung Jawab Sekutu Baru


Persekutuan Firma dimungkinkan menambah sekutu
baru, tetapi semua itu harus berdasarkan persetujuan untuk
semua sekutu lama (Pasal 1641 KUHPerdata). Sedapat
mugkin, ketentuan mengenai keluar masuknya sekutu diatur
dalam perjanjian pendirian (akta otentik) Firma.
Lain lagi halnya dengan sekutu pengganti. Penggantian
kedudukan sekutu selama sekutu tersebut masih hidup. Pada
dasarnya tidak diperbolehkan, kecuali hal itu diatur lain
dalam perjanjian pendirian Firma. Undang-undang hanya
membolehkan sekutu Firma untuk menarik orang lain
(teman untuk menerima bagian yang menjadi haknya dari
Firma itu, walaupun tanpa izin sekutu-sekutu lainnya (Pasal
1641 KUHPedata).
Pertanyaannya, apakah sekutu baru dalam Firma juga
tunduk pada Pasal 18 KUHD? Dengan kata lain, apakah
sekutu baru juga ikut bertanggung jawab secara pribadi

50

Pasal 17 KUHD: Tiap-tiap sekutu yang tidak dikecualikan dari satu sama
lain, berhak untuk bertindak untuk mengeluarkan dan menerima uang atas nama
persekutuan, pula untuk mengikat persekutuan itu dengan pihak ketiga dan pihak
ketiga dengannya.

40
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 40

12/12/2012 9:34:57 AM

terhadap utang-utang Firma yang sudah ada? mengenai hal


ini, ada beberapa pendapat:51
a) Polak: sekutu baru tidak boleh dimintai tangung jawab
untuk membayar utang-utang Firma yang telah ada
pada saat dia diterima menjadi sekutu, sebab dia tidak
pernah memberi kuasa kepada sekutu-sekutu lama
untuk mewakilinya dalam hubungan hukum yang telah
dibuat tersebut, kecuali apabila sekutu baru itu (sebagai
syarat penerimaannya) telah menyetujui sendiri tentang
tanggung jawab terhadap utang-utang Firma yang telah
ada sebelum dia bergabung.
b) Eggens: pertanggungjawaban sekutu baru terhadap
perikatan-perikatan atau utang-utang Firma yang telah
ada pada saat dia bergabung adalah sudah selayaknya
atau sudah pada tempatnya.
c) Soekardono: pertanggungjawaban itu sudah semestinya
karena keuntungan-keuntungan yang dapat diharapkan
oleh sekutu baru.
Selanjutnya, bagaiman pula halnya dengan tanggung
jawab sekutu yang keluar terhadap utang-utang Firma yang
belum sempurna dilunasi pada saat dia keluar? Berkaitan
denga hal ini, Van Ophuijsen yang mendapat dukungan dari
Polak berpendapat bahwa sekutu yang sudah keluar
bertanggung jawab terhadap utang-utang Firma yang belum
sempurna dilunasi saat dia keluar sebagai sekutu, karena
tanggung jawab itu tidak dapat dilakukan dengan perbuatan
sepihak dari sekutu bersangkutan dengan cara keluar dari
Firma.52
Menurut Partadireja, secara umum ada dua macam
tanggung jawab sekutu dalam Persekutuan Fima, yaitu:53
1) Tanggung jawab tidak terbatas (internal), artinya
apabila Firma bangkrut dan harta bendanya tidak
51

H.M.N. Puwosutjipto, op. cit., hlm. 57-58.


Ibid., hlm. 57
53
Iting Patadireja, Pengetahuan dan Hukum Dagang, (Jakarta: Erlangga,
1978), hlm. 48.
52

41
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 41

12/12/2012 9:34:57 AM

memadai untuk membayar utang-utang Firma, maka


harta benda pribadi para sekutu bisa disita untuk
dilelang dipakai untuk membayar utang-utang Firma.
Jadi, selain kehilangan modal dalam Firma, anggota
Firma bisa juga kehilangan harta benda pribadi. Dengan
kata lain, bila Firma jatuh pailit, ada kemungkinan
anggotanya ada yang terseret pailit. Sebaliknya, bila
sekutunya ada yang pailit, belum tentu Firma harus
terseret pailit. Mungkin hanya harus dikeluarkan dari
Firma dan kekayaannya yang ada pada firma (modal
dan keuntungan harus dibayarkan).
2) Tanggung jawab solider atau tanggung renteng
(eksternal)
Tanggung jawab ini khususnya terletak dalam
hubungan keuangan dengan pihak ketiga. Sekutu firma
bertanggung jawab penuh atas perjanjian yang ditutup
oleh rekannya untuk dan atas nama Firma. Orang luar
(pihak ketiga) yang mengadakan perjanjian dengan
sekutu itu boleh menuntut salah seorang sekutu, boleh
pula menuntut semua anggota sekaligus sampai kepada
harta benda pribadinya.
7.

Kewenangan Mewakili dan Bertindak Keluar


Dalam menjalankan perusahaan tiap-tiap sekutu
mempunyai wewenang untuk mengadakan perikatan dengan
pihak ketiga untuk kepentingan persekutuan, kecuali bila
sekutu itu dikeluarkan dari kewenangan tersebut (Pasal 17
KUHD). Bila tidak ada sekutu yang dikeluarkan dari
kewenangan untuk mengadakan perbuatan hukum, maka
dapat dianggap bahwa tiap-tiap sekutu saling memberikan
kuasa umum bagi dan atas nama semua sekutu untuk
melakukan perbuatan hukum dengan pihak ketiga. Hal ini
mencakup semua perbuatan hukum, termasuk tindakantindakan di muka hakim.54

54

H.M.N, Pirwo sutjipto, Pengertian hukum dagang indonesia (bentukbentuk Perusahaan), Op. cit, hlm. 61.

42
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 42

12/12/2012 9:34:57 AM

Dengan demikian, asas kewenangan mewakili berarti


bahwa sekutu-sekutu lain turut terikat oleh perbuatan
seorang sekutu terhadap pihak ketiga, sekedar perbuatan itu
dilakukan atas nama dan bagi kepentingan Firma. Dengan
ini (solider/renteng). Tanggung jawab pribadi untuk
keseluruhan, termasuk perikatan-perikatan yang timbul
karena perbuatan melawan hukum. Kepada sekutu yang
melakukan perbuatan melawan hukum dapat dituntut
mengganti kerugian oleh Firma berdasarkan Pasal 1365
KUHPerdata.
Mengenai pertanggungjawaban anggota atau sekutu
atau pemegang saham terhadap pihak ketiga, dapat
diurutkan sebagai berikut:55
a) Bagi sekutu Persekutuan Perdata, tanggung jawab
secara pribadi terbatas pada perikatan-perikatan yang
telah dibuatnya sendiri, kecuali bila sekutu
bersangkutan telah mendapat kuasa dari sekutu-sekutu
lain atau keuntungan dari adanya perikatan itu telah
dinikmati oleh persekutuan (Pasal 1642 dan Pasal 1644
KUHPerdata).
b) Bagi sekutu Persekutuan Firma (Fa) bertanggung jawab
secara pribadi untuk keseluruhan, artinya untuk seluruh
perikatan yang telah dibuat oleh dia sendiri dan para
sekutu lainnya bagi kepentingan persekutaun (Pasal 18
KUHD).
c) Bagi seorang persero atau pemegang saham pada
Perseroan terbatas (PT) tanggung jawabnya terbatas
pada jumlah penuh dari saham-sahamnya (Pasal 10
ayat (2) KUHD).
8.

55

Firma Bukan Badan Hukum


Pendapat umum di Indonesia berlaku ketentuan bahwa
Persekutuan Firma belum dikategorikan sebagai badan
hukum. Ada beberapa syarat atau unsur materiil agar suatu
badan dapat dinamakan badan hukum, seperti berikut ini:
Ibid., hlm. 62

43
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 43

12/12/2012 9:34:57 AM

(a) adanya harta kekayaan (hak-hak)


dengan tujuan
tertentu, terpisah dari kekayaan para sekutu badan itu;
(b) ada kepentingan yang menjadi tujuan adalah
kepentingan bersama yang bersifat stabil, yakni dalam
rangka mencari laba atau keuntungan;
(c) adanya beberapa orang sebagai pengurus dari badan itu.
Berdasarkan beberapa syarat atau unsur materiil di atas,
sebenarnya Persekutuan Firma sudah layak menjadi badan
hukum, tetapi belum memenuhi syarat atau unsur formil,
maka Persekutuan Firma belum bisa dikatakan sebagai
badan hukum. Unsur formil yang dimaksud adalah
pengakuan undang-undang, pengesahan dari pemerintah
(Kementerian Hukum dan HAM RI), dan pengakuan atau
pernyataan
dalam
yurisprudensi
yang
mengakui
Persekutuan Firma sebagai badan hukum. Bila syarat atau
unsur formil ini dipenuhi maka Persekutuan Firma baru
dapat disebut sebagai badan hukum.
Berbeda dengan pandangan umum yang dianut
Indonesia, Belgia, dan Perancis bahwa Persekutuan Firma
dan Persekutuan Komanditer adalah badan hukum. Sikap
ini juga dianut oleh Eggens yang menyatakan bahwa
Persekutuan Firma itu adalah badan hukum karena telah
memenuhi syarat materiil sebagai badan hukum. Tetapi
sikap Eggens ini banyak ditentang oleh ahli hukum yang
lain, seperti Zeylemaker, yang mengatakan Eggens
dianggap menggunakan istilah badan hukum yang
menyimpang dari yang lazim, yaitu sebagai sebuah
kesatuan (perkumpulan) yang dapat dikenal, karena
kekayaannya yang terpisah dan pertanggungjawaban yang
terpisah pula.56
Pendapat Eggens ini jelas menyimpang karena unsurunsur badan hukum yang dibuatnya tidak mencakup unsur
materiil dan formil secara keseluruhan, karena sebagai
badan hukum Persekutuan Firma tidak cukup hanya sekedar
dikenal sebagai sebuah kesatuan atau perkumpulan atau
56

Ibid., hlm. 65.

44
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 44

12/12/2012 9:34:57 AM

persekutuan tetapi harus mendapat pengakuan undangundang atau pengesahan dari pemerintah sebagai unsur
formil.
Walaupun Firma mempunyai modal yang terpisah
dengan harta para sekutunya, namun karena Firma bukan
merupakan badan hukum (karena tidak memenuhi syarat
materiil dan syarat formil sekaligus), maka Firma tidak
dapat mengambil bagian dalam lalu lintas hukum. Demikian
juga Firma, tidak dapat mengadakan tindakan hukum dan
tidak memiliki hak dan kewajiban seperti badan hukum
pada umumnya. Karena bukan badan hukum, maka Firma
tidak mempunyai alat-alat seperti pengurus yang dapat
melakukan tindakan hukum.57
9.

Bubarnya Persekutuan Firma


Mengenai bubarnya Persekutuan Firma, berlaku
ketentuan yang sama dengan Persekutuan Perdata
(Maatschap). Ini disebabkan karena Firma sesungguhnya
juga merupakan Persekutuan Perdata (Pasal 16 KUHD).
Ketentuan tersebut adalah Pasal 1646 sampai dengan 1652,
Buku III KUHPerdata ditambah dengan Pasal 31 sampai
dengan 35 KUHD.
Menurut Pasal 1646 KUHPerdata, beberapa sebab
bubarnya Persekutuan Firma adalah sebagai berikut:
a) Lampaunya waktu untuk mana Persekutuan Perdata itu
didirikan.
b) Musnahnya barang atau telah diselesaikannya usaha
yang menjadi tugas pokok maatschap itu.
c) Kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu
d) Salah seorang sekutu meninggal dunia atau di bawah
pengampuan atau dinyatakan pailit.
Pasal 31 KUHD mengatur syarat pembubaran Firma
khusus untuk kepentingan pihak ketiga, dengan bunyi
sebagai berikut:

57

Achmad Ichsan, Op. Cit, hlm. 122.

45
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 45

12/12/2012 9:34:57 AM

Ayat (1) : Membubarkan Firma sebelum waktu yang


ditentukan dalam perjanjian pendirian atau
sebagai akibat pengunduran diri atau
pemberhentian, begitu juga memperpanjang
waktu sehabis waktu yang telah ditentukan, dan
mengadakan
perubahan-perubahan
dalam
perjanjian semula yang penting bagi pihak
ketiga, semua itu harus dilakukan dengan akta
otentik, didaftarkan seperti tersebut di atas dan
diumumkan dalam tambahan Berita Negara RI.
Ayat (2): Kelalaian dalam pendaftaran dan pengumuman
tersebut,
berakibat
tidak
berlakunya
pembubaran, pengunduran diri, pemberhentian
atau perubahan tadi terhadap pihak ketiga.
Ayat (3): Bila kelalaian itu mengenai perpanjangan
waktu, maka berlakulah ketentuan-ketentuan
Pasal 29 KUHD, yaitu pihak ketiga dapat
menganggap bahwa persekutuan itu:
(a) Berlaku untuk jangka waktu yang tidak
ditentukan;
(b) Mengenai smua jenis usaha perniagaan; dan
(c) Tidak ada sekutu yang dikeluarkan dari
kewenangan untuk bertindak keluar.
Menurut logika hukum yang berlaku saat ini,
Persekutuan Firma dapat berakhir karena hal-hal berikut:58
(a) Jangka waktunya sudah habis;
(b) Diputuskan oleh para anggotanya untuk dibubarkan;
(c) Firma dan anggotanya jatuh pailit;
(d) Salah seorang anggota meninggal dunia, keluar atau
berada di bawah pengampuan;
(e) Tujuan dari Firma telah tercapai.
Dalam praktik hukum seringkali terjadi bahwa
penggantian anggota
dengan penerusan Firma itu
dimungkinkan. Untuk ini, para sekutu mengadakan
58

Achmad Ishsan, Ibid, hlm. 127.

46
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 46

12/12/2012 9:34:57 AM

perjanjian bahwa Firma itu dapat terus berjalan apabila


salah seorang sekutu meninggal dunia, yang dapat diganti
oleh ahli warisnya atau apabila seorang sekutu
mengundurkan diri dan diganti dengan orang lain atau dapat
diteruskan tanpa penggantian sama sekali setelah terlebih
dahulu diadakan perhitungan dengan ahli waris atau
anggota yang keluar itu. Dengan adanya perjanjian ini, yang
dalam hukum disebut verblijvensgeding menjamin tetap
berlangsungnya persekutuan itu. Namun, untuk ini perlu
dipenuhi syarat pokok, yaitu adanya pengumuman
mengenai perubahan itu bagi pihak ketiga.59
Dari uraian di atas dapat disimpulkan adanya beberapa
kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh badan usaha
berbentuk Persekutuan Firma sebagaimana berikut ini:
1. Kelebihan Vennootschap Onder Firma (VoF)
a. Kemampuan manajemen lebih besar, karena ada
pembagian kerja di antara para anggota;
b. Pendiriannya relatif mudah;
c. Kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi;
d. Para sekutu Firma memiliki kedudukan yang sama;
e. Memiliki hak dan kewajiban yang sama;
f. Semua sekutu pada hakikatnya merupakan
pengurus Firma, walaupun ada pengurus firma.
2. Kekurangan Vennootschap Onder Firma (VoF)
a. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas (internal);
b. Setiap sekutu dapat mengikat Firma dengan pihak
ketiga;
c. Ada kemungkinan sekutu yang tidak memiliki
integritas melakukan perbuatan hukum yang
merugikan Firma;
d. Kerugian disebabkan oleh seorang sekutu harus
ditanggung bersama;
e. Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu.

59

Ibid.

47
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 47

12/12/2012 9:34:57 AM

Persekutuan Firma merupakan Persekutuan Perdata


khusus, karena itu syarat-syarat Persekutuan Perdata juga
berlaku bagi Firma. Firma hanyalah merupakan
pengembangan yang lebih sempurna dari Persekutuan
Perdata. Namun demikian, sedikitnya terdapat empat
perbedaan yang dapat diindentifikasi antara Persekutuan
Perdata dan Firma sebagai berikut:
1. Maatschap
a. Bertanggung jawab sendiri-sendiri;
b. Masing-masing sekutu tidak dapat mengikat sekutu
lain, kecuali ada pemberian kuasa dari sekutu lain;
c. Spesifikasi dalam aktivitas atau kegiatan
Maatschap belum kelihatan;
d. Tidak mempunyai kekayaan terpisah;
e. Didirikan dengan perjanjian, baik dengan akta
otentik ataupun akta di bawah tangan. Tetapi
undang-undang tidak ada menegaskan dengan akta
otentik. Akta otentik sifatnya sebagai alat bukti
semata.
d. Tidak
ada
kewajiban
pendaftaran
dan
pengumuman.
2. Firma
a. Bertanggung jawab sendiri-sendiri;
b. Masing-masing sekutu tidak dapat mengikat sekutu
lain, kecuali ada pemberian kuasa dari sekutu lain;
c. Spesifikasi dalam aktivitas atau kegiatan
Maatschap belum kelihatan;
d. Tidak mempunyai kekayaan terpisah;
e. Didirikan dengan perjanjian, baik dengan akta
otentik ataupun akta di bawah tangan. Tetapi
undang-undang tidak ada menegaskan dengan akta
otentik. Akta otentik sifatnya sebagai alat bukti
semata.
f. Tidak
ada
kewajiban
pendaftaran
dan
pengumuman.

48
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 48

12/12/2012 9:34:57 AM

C. Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap)


1. Pengertian
Menurut Pasal 19 KUHD, Persekutuan Komanditer
(Commanditaire Vennootshap), selanjutnya disingkat CV,
adalah persekutuan yang didirikan oleh satu orang atau
lebih yang secara tanggung menanggung bertanggung
jawab seluruhnya (solider) pada pihak pertama (sekutu
komplementer), dan satu orang atau lebih sebagai pelepas
uang (sekutu komanditer) pada pihak lain.
Sekutu komanditer adalah sekutu yang hanya
menyerahkan uang atau barang sebagai pemasukan pada
persekutuan dan tidak turut campur di dalam mengurus
atau mengelola persekutuan. Status seorang sekutu
komanditer dapat disamakan dengan seorang yang
menitipkan modal pada suatu perusahaan yang hanya
menantikan hasil keuntungan dari modal tersebut.
Molengraaff mlihat CV sebagai suatu perkumpulan
(vereeniging) perjanjian kerja sama, di mana satu atau lebih
sekutu mengikatkan diri untuk memasukkan modal tertentu
untuk perkiraan bersama oleh satu atau lebih sekutu lain
menjalankan perusahaan niaga (handelsbedrijf).60
Perumusan ini terlalu sederhana, sehingga kurang
mencakup unsur-unsur yang diperlukan oleh suatu CV,
seperti pencerminan adanya sekutu yang secara tanggunhg
menanggung (sepenuhnya bertanggung jawab bersama), di
samping adanya sekutu yang bertangung jawab terbatas,
sekutu pengurus dan sekutu diam serta unsur menjalankan
perusahaan.61
Rancangan BW Nederland Pasal 7, Pasal 13, Pasal 3,
dan Pasal 1 ayat (1) menetapkan CV adalah persekutuan
terbuka terang-terangan yang menjalankan suatu
perusahaan, di mana di samping satu orang atau lebih

60
61

M. Natzir, Said, Op. Cit., hlm. 188.


Ibid.

49
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 49

12/12/2012 9:34:57 AM

sekutu biasa (gewone vennoten), juga mempunyai satu


orang atau lebih sekutu diam (commancitaire vennoten).62
Dalam KUHD, sekutu komanditer disebut juga dengan
sekutu pelepas uang (geldschieter). Di antara penulis ada
yang tidak setuju dengan penggunaan istilah pelepas uang
yang dipersamakan dengan istilah sekutu kokmanditer.
Menurut Purwosutjipto, pada pelepas uang (geldschieter),
uang atau benda yang telah diserahkan kepada orang lain
dapat dituntut kembali bila debitor jatuh pailit. Tetapi uang
atau modal yang diserahkan oleh sekutu komanditer kepada
sebuah persekutuan, tidak dapat dituntut kembali bila
persekutuan itu jatuh pailit.
Bila Persekutuan Firma diatur dalam Pasal 16 sampai
dengan 35 KUHD, maka tiga pasal di antaranya yakni Pasal
19, Pasal 20, dan Pasal 21 merupakan aturan mengenai CV.
Karena itulah dalam Pasal 19 KUHD disebutkan bahwa
Persekutuan Komanditer (persekutuan pelepas uang)
sebagai bentuk lain dari Firma, yakni firma yang lebih
sempurna dan memiliki satu atau beberapa orang sekutu
pelepas uang atau komanditer. Dalam Firma biasa, sekutu
komanditer tidak dikenal, tetapi masing-masing sekutu
wajib memberikan pemasukan (inbreng) dalam jumlah yang
sama, sehingga kedudukan mereka dari segi modal dan
tanggung jawab juga sama. Dalam CVB ada pembedaan
antara sekutu komanditer (sekutu diam; mitra pasif;
sleeping partner) dan sekutu komplementer (sekutu kerja;
mitra aktif, mitra biasa; pengurus; working partners).
Adanya pembedaan sekutu-sekutu itu membawa
konsekuensi pada pembedaan tanggung jawab yang dimiliki
oleh masing-masing sekutu.
a. Sekutu komanditer adalah sekutu yang tidak
bertanggung jawab pada pengurusan persekutuan,
sekutu ini hanya menempatkan modal (uang atau
barang) pada persekutuan dan mempunyai hak
mengambil bagian dalam aset persekutuan bila ada
62

Ibid.

50
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 50

12/12/2012 9:34:58 AM

b.

2.

63

untung sebesar nilai kontribusinya. Demikian juga dia


akan menanggung kerugian sebesar nilai kontribusinya.
Sekutu komplementer adalah sekutu pengurus yang
bertanggung jawab atas jalannya pesekutuan, bahkan
pertanggungjawabannya
sampai
kepada
harta
pribadinya.

Komanditer Bukan meminjamkan Uang (Geldschieter)


Istilah geldschieter dan commanditeire dalam
Pasal 19 ayat (10) KUHD dapat menimbulkan salah paham.
Pada dasarnya, kedua istilah itu tidak bisa disamakan,
seperti apa yang dilakukan dalam bunyi undang-undang.
Geldschieter memiliki maksud meminjamkan uang, dan
pada saat tertentu ia bisa berkedudukan sebagai penagih
(schuldeiser). Padahal, sekutu komanditer bukanlah
peminjam uang atau penagih, mereka adalah para perserta
dalam persekutuan yang memikul hak dan kewajiban untuk
mendapatkan keuntungan atau laba dan saldo dalam hal
persekutuan dilikuider serta memikul kerugian menurut
jumlah inbreng (saham) yang dimasukkan. Bila hal itu
dimaksudkan sebagai kreditur penagih (Ischuldeiser), maka
pembayaran tagihan dapat dilakukan selama masih ada uang
di kas persekutuan. Sebaliknya, bagi pemasukan uang yang
dilakukan oleh sekutu komanditer, tidak dapat dilakukan
penagihan selama persekutuan berlangsung.63
Dalam ketentuan pinjam-meminjam uang (Pasal 1759
dan 1760 KUHPerdata) ditetapkan bahwa orang yang
meminjam uang tidak dapat meminta uangnya kembali
sebelum lewat waktu yang telah ditentukan dalam
perjanjian, dan hakim dapat memberikan kelonggaran
kepada si peminjam dalam pengembalian uang bila keadaan
tidak memungkinkan. Perbedaan yang paling jelas adalah
bahwa sekutu komanditer dapat memikul risiko untung atau
rugi, sedangkan pemimjam uang atau penagih tidaklah
dibebani dengan kerugian.
Ibid, hlm. 195.

51
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 51

12/12/2012 9:34:58 AM

Modal yang dimasukkan oleh sekutu komanditer dapat


merupakan modal tambahan terhadap modal yang telah ada
atau dijanjikan untuk dimasukkan oleh para sekutu
komplementer. Pada dasarnya, sekutu komanditer
mempunyai kedudukan yang sama dengan Persekutuan
Firma yang bertanggung jawab secara tanggung
menanggung bersama, sehingga sekutu komanditer hanya
bertanggung jawab secara intern kepada sekutu pengurus,
untuk secara penuh memasukkan modal yang telah
dijanjikan dan uang yang dimaksukkan itu dikuasai dan
dipergunakan sepenuhnya oleh pengurus dalam rangka
pengurusan persekutuan guna mencapai tujuan.64
Saat ini, dalam BW baru Belanda sudah tidak
ditemukan atau dikenal istilah geldschieter tetapi hanya
menggunakan istilah commanditaire vennoten di satu
pihak dan gewone vennoten di lain pihak.
3.

64
65

Jenis-jenis Persekutuan Komanditer (CV)


Ada tiga jenis persekutuan komanditer (CV) yang
dikenal antara lain sebagai berikut:65
a. CV diam-diam, yaitu CV yang belum menyatakan
dirinya terang-terangan kepada pihak ketiga sebagai
CV. Keluar (terhadap pihak-pihak di luar CV),
persekutuan ini masih menyatakan dirinya sebagai
Firma, tetapi persekutuan ini sudah menjadi CV karena
salah seorang atau beberapa orang sekutu sudah
menjadi sekutu komanditer.
b. CV terang-terangan (terbuka), yaitu CV yang terangterangan menyatakan dirinya kepada pihak ketiga
sebagai CV. Hal itu terlihat dari tindakannya dalam
bentuk publikasi berupa papan nama yang bertuliskan
CV (misalnya CV Sejahtera). Bisa juga dalam
penulisan di kepala surat yang menerangkan nama CV
tersebut dalam berhubungan dengan pihak ketiga.
Ibid., hlm. 196
H.M.N. Purwosutjipto, Op. Cit., hlm. 75.

52
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 52

12/12/2012 9:34:58 AM

c.

CV dengan saham, yaitu CV terang-terangan, yang


modalnya terdiri dari kumpulan saham-saham. Jenis
terakhir ini sama sekali tidak diatur dalam KUHD, ia
hanya muncul dari praktik dikalangan pengusaha atau
dunia perniagaan. Pada hakikatnya CV dengan saham
sama saja dengan jenis CV terang-terangan, bedanya
hanya pada pebentukan modalnya saja yang sudah
terdiri dari saham-saham. Pembentukan modal CV
dengan saham ini dimungkinkan oleh Pasal 1337 ayat
(1), Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata jo. Pasal 1
KUHD. Karenanya, CV jenis terakhir ini juga semacam
CV terang-terangan (CV biasa).
Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan sebagai
persamaan dan perbedaan antara CV dengan saham dan PT,
yaitu sebagai berikut:66
1. Persamaannya
a. Modalnya sama-sama terdiri dari saham-saham,
CV dengan Saham berbentuk saham atas nama (op
naam); sementara pada PT, bisa berbentuk saham
atas nama (op naam) atau saham atas pembawa (an
toonder).
b. Ada pengawasan dari komisaris. Pada CV dengan
saham dapat ditetapkan salah seorang dari
sekutunya sebagai komisaris, yang bertugas
mengawasi pekerjaan sekutu kerja. Meskipun dia
komisaris, tetapi karena dia adalah sekutu
komanditer, tetap saja dia tidak diperbolehkan
mencampuri urusan pengurusan. Dalam PT
komisaris merupakan salah satu organ perseroan
yang harus ada di samping RUPS dan Direksi.
2. Perbedaannya
a. Dalam CV dengan saham, dikenal adanya sekutu
kerja (sekutu komplementer) yang bertanggung
jawab penuh secara pribadi untuk keseluruhan
(tidak terbatas). Pertanggungjawaban seperti ini,
66

Bandingkan dengan HMN. Sutjipto Op. Cit., hlm. 77.

53
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 53

12/12/2012 9:34:59 AM

b.

c.

4.

67

pada PT mirip dengan direksi (pengurus), tetapi


direksi tidak bertanggung jawab secara pribadi
untuk keseluruhan (terbatas).
Sekutu kerja pada CV dengan saham, direksi boleh
diangkat untuk selamanya, sedangkan direksi pada
PT tidak dapat diangkat buat selamanya, ia bisa
diberhentikan sewaktu-waktu.
Dalam CV dengan saham tidak dikenal adanya
dewan Pengawas Syariah, tetapi dalam PT
(Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007)
mengenal adanya Dewan Pengawas Syariah.

Hubungan intern antar para Sekutu CV


Hubungan intern di antara sekutu biasa atau pengurus
(gewone vennooten) dengan sekutu komanditer terdapat
perbedaan, di mana sekutu biasa atau pengurus (gewone
vennooten), selain memasukkan uang atau benda ke dalam
persekutuan, juga memasukkan tenaga, dalam rangka
mengurus dan menjalankan persekutuan. Di samping itu,
sekutu biasa atau pengurus juga memikul tanggung jawab
tidak terbatas ada kerugin yang diderita persekutuan dalam
usahanya, kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian
pesekutuan. Sedangkan sekutu komanditer, tidak terbebani
kerugian yang lebih dari jumlah modal yang
dimasukkannya.67
Dasar hubungan hukum di antara sesama sekutu CV
pada dasanya adalah hubungan kerja sama untuk mencari
dan membagi keuntungan. Hal itu ditetapkan dalam
ketentuan Pasal 1618 KUHPerdata yang menetapkan
bahwa persekutuan adalah suatu perjanjian antara dua orang
atau lebih yang mengikatkan diri untuk memasukkan
sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi
keuntungan yang diperoleh karenanya.
Seorang sekutu komanditer yang memasukkan uangnya
dalam persekutuan bermaksud untuk mendapatkan
M. Natzir Said, Op. Cit., hlm. 198.

54
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 54

12/12/2012 9:34:59 AM

keuntungan. Sebaliknya, jika perseroan menderita kerugian,


maka sekutu komanditer juga ikut memikulnya, akan tetapi
tidak boleh melebihi pemasukannya.
Melalui undang-undang dan akta pendirian CV, pada
hal-hal intern dari sekutu komanditer. Seperti halnya
sejauhmana para sekutu komanditer dapat ikut serta dalam
memberikan persetujuan, dan kemungkinan para sekutu
komanditer dapat melihat pembukuan berkaitan dengan
kepentingannya. Demikian pula halnya dengan pemberian
kewenangan kepada satu atau lebih sekutu komanditer
untuk diangkat menjadi komisaris.
Rancangan BW Nederland mengatur hak-hak dan
kewenangan para sekutu tersebut seperti kewenangan
melihat pembukuan dan surat-surat persekutuan,
pengesahan neraca tahunan dan sebagainya yang diatur
dalam Pasal 7, Pasal 131, dan Pasal 9.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas maka
kedudukan sekutu komanditer sama dengan perseroan dari
suatu perseron terbatas (PT), di mana tidak boleh dibebani
kerugian yang melebihi jumlah modal atau saham yang
dimasukkannya dalam persekutuan. Demikian juga halnya
bila ternyata sekutu komanditer telah menerima keuntungan
dari persekutuan, maka tidak boleh diminta kembali jumlah
keuntungan yang telah ia terima sebagaimana diatur dalam
Pasal 1625 KUHPerdata dan Pasal 20 ayat (3) KUHD.
Sekutu komanditer tidak diperkenankan menjadi sekutu
pengurus atau bekerja dalam perusahaan, termasuk dengan
surat kuasa (Pasal 20 ayat (2) KUHD), dan bahkan
penggunaan namanya pun dilarang menurut undangundang. Hal ini dapat dimengerti karena para sekutu
komanditer tidak bertanggung jawab dalam pengurusan CV
dan hanya bertanggung jawab sesuai dengan jumlah uang
yang dimasukkan. Keadaan ini sama sekali tidak diketahui
oleh pihak ketiga, dan pihak ketiga hanya tahu bahwa yang
melakukan pengurusan CV adalah sekutu komplementer
yang bertanggung jawab tidak terbatas.
55
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 55

12/12/2012 9:34:59 AM

Sekutu komanditer dapat melakukan pengawasan atas


pegurusan CV apabila hal itu ditetapkan dalam perjanjian
pendirian CV, akan tetapi pengawasan tersebut hanya
bersifat intern dan tidak boleh dilakukan sedemikian rupa
yang memberikan suatu kesan seakan-akan ia sebagai
sekutu pengurus. Dalam perjanjian pendirian CV dapat
ditetapkan bahwa terhadap hal-hal tertentu yang sangat
penting dalam pengurusan persekutuan maka diharuskan
adanya persetujuan dari para sekutu komanditer.
Rancangan BW Nederland (Pasal 7, Pasal 13, Pasal 3,
Pasal 2 ayat (3)) menetapkan seorang sekutu komanditer
yang berbuat atas nama persekutuan sebagai sekutu
pengurus, maka terhadap pihak ketiga bertanggung jawab
sepenuhnya untuk perikatan yang sudah dilakukan seperti
yang diberlakukan dan menjadi sifat utama pada sekutu
pengurus (komplementer).
Menurut Pasal 21 KUHD, sanksi terhadap pelanggaran
Pasal 20 ayat (1) dan (2), terikat oleh semua utang dan
prikatan dari persekutuan secara perorangan untuk
semuanya. Ketentuan ini mempunyai makna yang sama
dengan Pasal 7, Pasal 13, Pasal 3, Pasal 2 ayat (3)
Rancangan BW Nederland yang pada dasarnya cukup
memberikan pelindungan kepada pihak ketiga.
5.

Hubungan Hukum ekstern dengan Pihak Ketiga


Hanya sekutu pengurus (komplementer) yang dapat
melakukan tindakan, tidak sekedar melakukan pengurusan
terhadap jalannya CV tetapi juga melakukan perbuatan atau
hubungan hukum atas nama CV dengan pihak ketiga.
Sedangkan sekutu komanditer hanya memiliki hubungan
intern saja dengan sekutu komplementer, tidak
diperkenankan melakukan tindakan hukum atas nama
persekutuan dengan pihak ketiga. Hal ini disebabkan
kedudukan sekutu komanditer yang hanya bertanggung
jawab terbatas pada persekutuan sebesar jumlah
pemasukannya dan berkewajiban melunasi pemasukan

56
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 56

12/12/2012 9:34:59 AM

(modal) tersebut sebagimana telah dijanjikan untuk


dimasukkan dalam persekutuan.
Perihal kewenangan mewakili CV haruslah dilihat lebih
dahulu apakah CV tersebut berstatus diam-diam atau
terang-terangan (terbuka). CV diam-diam, hubungan keluar
dengan pihak ketiga tidak dilakukan secara terbuka atau
terang-terangan. Sehingga yang menjalankan persekutuan
itulah yang dipandang sebagai satu-satunya sekutu pengurus
dan yang menggunakan namanya sendiri untuk dan atas
nama persekutuan atau seorang sekutu pengurus (dari
beberapa sekutu pengurus) menjalankan persekutuan
dengan menggunakan namanya.
Menurut Molengraaff, sekutu pengurus yang satusatunya menjalankan persekutuan itulah yang menanggung
sepenuhnya dan bertanggung jawab baik ke dalam (internal)
dengan para sekutu lainnya maupun dengan pihak ketiga.
Dalam hal terdapat beberapa sekutu pengurus yang
menjalankan persekutuan (CV diam-diam), biasanya dalam
perjanjian persekutuan sudah ditetapkan tentang pemisahan
kekayaan persekutuan dengan kekayaan para pengurusnya.
CV terang-terangan (terbuka), biasanya dijalankan oleh
beberapa sekutu pengurus dan melakukan hubungan hukum
dengan pihak ketiga atas nama persekutuan. Hal ini berarti
bahwa para sekutu pengurus secara bersama-sama
bertanggungjawab
sepenuhnya
secara
tanggung
menanggung kepada pihak ketiga.
Molengraaff melihat bahwa tindakan mewakili
persekutuan keluar kepada pihak ketiga dalam
kenyataannya tidaklah benar-benar terjadi. Bila seorang
sekutu pengurus menjalankan persekutuan maka dia
sendirilah yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada
pihak-pihak ketiga. Demikian juga, bila beberapa sekutu
pengurus bersama-sama bertindak mewakili persekutuan
keluar, maka mereka secara tanggung menanggung
bertanggung jawab kepada pihak ketiga seperti dalam
Firma, dan harta bersama persekutuan yang terpisah
57
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 57

12/12/2012 9:34:59 AM

menjadi jaminan bagi pihak ketiga. Dengan kata lain, siapa


yang berbuat maka dialah yang bertanggung jawab kepada
pihak ketiga.
6.

Kedudukan Hukum CV
Persekutuan Komanditer (CV) tidak diatur secara
khusus oleh undang-undang baik di dalam KUHPerdata
maupun KUHD, akan tetapi pengaturannya mengacu pada
ketentuan-ketentuan Maatschap dalam KUHPerdata dan
Persekutuan Firma, antara lain Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21,
Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 32 KUHD. Ketentuan-ketentuan
Maatschap diberlakukan tentu saja sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan khusus dalam KUHD
seperti disebutkan di atas.
Kedudukan hukum CV dikenal dalam keadaan statis
tunduk sepenuhnya pada hukum Perdata (KUHPerdata dan
KUHD). Demikian juga dalam keadaan bergerak tunduk
sepenuhnya pada hukum Perdata (KUHPerdata dan
KUHD).
Kedudukan hukum CV dalam keadaan statis
dimaksudkan semua perbuatan dan perhubungan hukum
intern CV, seperti perbuatan hukum pendirian yang
dilakukan di hadapan Notaris (Pasal 22 ayat (1) KUHD).
Demikian juga dengan perhubungan hukum intern CV
dengan para sekutu pengurus maupun sekutu komanditer,
dan sebagainya. Kedudukan hukum CV dalam keadaan
bergeraknya
dimaksudkan
setiap
perbuatan
dan
perhubungan hukum keluar (ekstern) dengan pihak ketiga.
Khusus terhadap CV atas saham, maka ketentuan
tentang pengaturan kedudukan saham-saham dan pemegang
saham mirip dengan ketentuan yang mengatur saham pada
Perseroan Terbatas (PT), sedangkan perbedaannya terletak
antar lain dalam hal-hal sebagi berikut:68

68

Achman Ichsan, Dunia Usaha Indonesia, (Jakarta: Pradnya Paramita,


1986), hlm. 311.

58
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 58

12/12/2012 9:34:59 AM

a.

b.

Anggota persero dalam CV atas saham yang melakukan


tindak pengurusan pengelolaan (daden van beheer)
ialah para komplementaris yang mempunyai tanggung
jawab yang tidak terbatas sampai dengan semu harta
milik pribadinya. Sebaliknya, anggota pengurus PT
hanya bertanggung jawab terbatas terhadap tugas yang
dibebankan kepadanya; mereka tidak terikat pada pihak
ketiga dengan adanya perjanjian yang diadakan untuk
kepentingan PT.
Para komplementaris tersebut mempunyai kedudukan
yang sangat berbeda dengan para pengurus PT.

Di Belanda, dalam rancangan BW barunya, kedudukan


CV telah diatur tersendiri dalam BUKU ke-7, titel 13,
afdeling 3. dalam Pasal 1 ayat (1) dan Pasal 2 ayat (2), CV
telah dinyatakan sebagai badan hukum. Di Indonesia ada
kecenderungan para sarjana melihat firma dan CV sebagai
badan hukum, tetapi undang-undang belum mengakuinya
demikian.
Sistem BW baru Belanda memperlakukan CV terangterangan (terbuka) dan CV atas saham sebagai badan
hukum, akan tetapi CV diam-diam tidak dianggap sebagai
badan hukum.
Pada abad ke-17, dikenal Persekutuan Komanditer
sebagi suatu perusahan yang memiliki kekayaan yang
terpisah. Pada abad ke-18 kemudian meningkat statusnya
sehingga dipandang sebagai perusahaan berbadan hukum.
Dalam ketentuan hukum Belanda, sudah lama diketahui
bahwa harta kekayaan CV terpisah dari kekayaan para
sekutu pengurusnya. Dalam sebuah undang-undang di
Belgia, terhadap CV diam-diam maupun CV atas saham
secara tegas dinyatakan sebagi badan hukum. Sedangkan di
Perancis, baik Firma maupun CV dipandang sebagai badan
hukum. Para ahli hukum dan yurisprudensi cenderung
menganggap Firma dan CV sebagai badan hukum dan hal

59
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 59

12/12/2012 9:34:59 AM

ini diperlakukan
kepentingannya.
7.

69
70

agar

pihak

ketiga

lebih

terjamin

Bubarnya CV
Persekutuan Komanditer pada hakikatnya adalah Firma,
sehingga cara pembubaran Firma berlaku juga pada CV,
yaitu dengan cara sebagai berikut: (Pasal 31 KUHD)
a. Berakhirnya jangka waktu CV yang ditetapkan dalam
anggaran dasar;
b. Akibat pengunduran diri atau pemberhentian sekutu;
c. Akibat perubahan anggaran dasar.
Pembubaran CV sama dengan Firma, yaitu harus
dilakukan dengan akta otentik yang dibuat di muka notaris,
didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan Negeri, dan
diumumkan dalam Tambahan Berita Negara. Kelalaian
pendaftaran dan pengumuman ini mengakibatkan tidak
berlakunya pembubaran pengunduran diri, pemberhentian,
dan perubahan anggaran dasar terhadap pihak ketiga.69
Setiap pembubaran CV memerlukan pemberesan, baik
mengenai keuntungan maupun kerugian. Pemberesan
keuntungan dan kerugian dilakukan menurut ketentuan
dalam anggaran dasar. Apabila dalam anggaran dasar tidak
ditentukan, berlakulah ketentuan Pasal 1633 sampai dengan
1635 KUHPerdata. Apabila pemberesan selesai dilakukan
masih ada sisa sejumlah uang, sisa uang tersebut dibagikan
kepada semua sekutu menurut perbandingan pemasukan
(inbreng) masing-masing. Jika setelah pemberesan terdapat
kekurangan (kerugian), maka penyelesaian atas kerugian
tersebut juga dilakukan menurut perbandingan pemasukan
masing-masing.70
Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa
kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh badan usaha
berbentuk Persekutuan Komanditer (CV) ini bila dijalankan.
Sebagai berikut:
Abdul kadir Muhammad, Op. Cit., hlm. 98.
Ibid.

60
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 60

12/12/2012 9:34:59 AM

1.

Kelebihan
a. Spesifikasi dalam aktivitas/kegiatan semakin
kelihatan;
b. proses pendiriannya relatif mudah;
c. kemampuan manajemen lebih besar;
d. Terdapat sekutu komanditer yang memiliki peran
dalam pengembangan modal dan perusahaan;
e. Modal yang dikumpulkan dapat lebih besar, karena
ada peluang masuknya sekutu komanditer lain
untuk bergabung;
f. Mudah memperoleh kredit dan melakukan
ekspansi usaha.
2. Kekurangan
a. Sebagian
sekutu
yang
menjadi
sekutu
komplementer memiliki tanggung jawab tidak
terbatas;
b. Sulit menarik kembali modal yang sudah
ditanamkan;
c. Sekutu komanditer tidak memiliki akses untuk
mengelola perusahaan;
d. Kemungkinan perusahaan salah urus bisa lebih
besar, karena hak mutlak pengurusan berada di
tangan sekutu komplementer;
e. Kelangsungan hidup perusahan tidak menentu.
Secara umum, CV adalah bagian dari Firma, karena CV
lahir dari dan merupakan pengembangan yang lebih
sempurna dari Firma. Namun demikian, sedikitnya terdapat
lima perbedaan yang dapat diidentifikasi antara CV dan
Firma, sebagai berikut:
1. Perbedaan Firma
a. Tidak ada pembedaan kedudukan di antara para
sekutu;
b. Semua sekutu memiliki hak dan tanggung jawab
yang sama;
c. Jumlah inbreng di antar sekutu sama;

61
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 61

12/12/2012 9:34:59 AM

d.

2.

Semua sekutu Firma adalah pengurus Firma, tetapi


boleh ditunjuk satu atu lebih sekutu tertentu dalam
akta pendirian;
e. Walaupun pada dasarnya sekutu pengurus bisa
mewakili Firma keluar, tetapi boleh ditetapkan
secara tegas satu atau lebih sekutu yang boleh
melakukan perbuatan hukum dengan pihak ketiga
(pemegang kuasa);
f. Tidak mengenal adanya komisaris.
Commanditer Vennootschap
a. Ada pembedaan kedudukan di antara para sekutu;
b. Para sekutu memiliki hak dan tanggung jawab
berbeda;
c. Jumlah inbreng di antara sekutu tidak sama;
d. Pengurus CV mutlak dari sekutu komplementer;
e. Hanya pengurus atau sekutu komplementer yang
berwenang melakukan perbuatan hukum keluar
dengan pihak ketiga, tanpa surat kuasa;
f. Mengenai adanya komisaris.

D. Prinsip Tanggung Jawab Hukum Perusahaan Di Indonesia


Di dalam hukum perusahaan terdapat beberapa teori/doktrin
perluasan tanggung jawab. KUHPerdata dan KUHD menganut
doktrin piercing the corporate veil atau menyingkap tabir
perseroan dan doktrin ultra vires.
1. Piercing the Corporate Veil
Teori ini dikenal dengan doktrin menyingkap tabir
perseroan. KUHPerdata dan KUHD menganut teori ini.
Doktrin Piercing the Corporate Veil: merupakan doktrin
yang mengajarkan bahwa sesungguhnya suatu badan usaha
bertanggungjawab secara hukum hanya terbatas pada harta
badan usaha tersebut, tetapi dalam hal-hal tertentu batas
tanggung jawab tersebut dapat ditembus. Doktrin piercing
the Corporat veil atau, menyingkap tabir perseroan
diartikan sebagai suatu proses untuk membebani tanggung
jawab kepundak orang atau perusahaan pelaku, tanpa
62
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 62

12/12/2012 9:35:00 AM

melihat bahwa perbuatan itu sebenarnya dilakukaan oleh


pelaku badan usaha tersebut.71
Piercing the corporate veil yang secara harfiah
berarti membuka cadar perseroan yang dalam Law Black
Dictionary dikatakan:
merupakan suatu proses peradilan di mana pengadilan
akan mengabaikan kekebalan yang biasa dari pengurus
perseroan (officers) atau badan (entities) dari tanggung
jawab atas kesalahan atau pelanggaran dalam
melakukan kegiatan perseroan dan tanggung jawab
pribadi dikenakan kepada pemegang saham, para
direktur dan officers (para pejabat peseroan).72
Kasus yang mungkin terjadi atau timbul dalam
kaitannya dengan kegiatan persekutuan yang dapat
mengakibatkan diberlakukannya doktrin piercing the
corporate veil, antara lain: pertama, adanya kepentingan
yang bertentangan (internal conflict) antara direksi dan/atau
komisaris terhadap persekutuan; kedua, Direksi dan/atau
Komisaris yang mengambilalih kesempatan yang
sebenarnya milik persekutuan untuk kepentingan pribadi
atau usaha pribadi (business opportunity). Oleh karenanya
biasanya doktrin piercing the corporate veil muncul dan
diterapkan manakala ada kerugian atau tuntutan hukum dari
pihak ketiga terhadap persekutuan tersebut.
Kriteria dasar dan universal agar prinsip ini dapat
diterapkan adalah:73
a. terjadinya penipuan;
b. didapatnya suatu ketidakadilan;
c. terjadinya suatu penindasan (oppression);
d. tidak memenuhi unsur hukum;
e. dominasi pemegang saham yang berlebihan;
perusahaan merupakan alter ago dari pemegang saham
mayoritas.
71

Munir Fuady, Op. Cit. 2002, hlm. 8


I.G. Ray Wijaya, Hukum Perusahaan Perseoan Terbatas, Op. Cit, hlm. 4.
73
Munir Fuady Doktrin-doktrin , op. Cit., hlm. 10.
72

63
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 63

12/12/2012 9:35:00 AM

Berdasarkan kriteria tersebut, maka penerapan doktrin


ini secara universal dilakukan dalam hal-hal sebagai
berikut:74
a) Penerapan karena perusahaan tidak mengikuti
formalitas tertentu
Salah satu alasan untuk menerapkan prinsip piercing
the corporate veil adalah jika perusahaan tersebut tidak
atau tidak cukup memenuhi formalitas tertentu yang
diharuskan oleh hukum bagi suatu persekutuan. Dalam
hal ini tidak bertujuan secara langsung untuk
melindungi pihak tertentu, seperti pihak minoritas atau
pihak ketiga, tetapi semata-mata untuk menegakkan
hukum agar formalitas tersebut terpenuhi. Sebagai
contoh tidak tuntasnya formalitas pendirian perusahaan,
tidak melakukan rapat, pemilihan Direksi atau
Komisaris, tidak melakukan penyetoran modal atau
peng-issu-an saham, pihak pemegang saham terlalu
banyak mencampuri urusan perusahaan, atau
pencampuradukan antara urusan persekutuan dengan
urusan pribadi.
b) Penerapan terhadap persekutuan yang hanya terpisah
secara artifisial
Dalam hal ini yang dimaksud adalah penerapan doktrin
piercing the corporate veil ke dalam suatu perusahaan
yang sebenarnya dalam kenyataan adalah tunggal (one
business entity), tetapi perusahaan tersebut dibagi ke
dalam beberapa persekutuan yang terpisah secara
artifisial, tetapi bisnisnya dilakukan sedemikian rupa
sehingga seolah-olah bisnis tersebut dilakukan oleh satu
unit perusahaan. Dengan penerapan prinsip ini, beban
tanggung jawab akan diberikan kepada seluruh
persekutuan yang paling terkait tersebut.

74

Ibid., hlm. 11-14.

64
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 64

12/12/2012 9:35:00 AM

c) Penerapan berdasarkan hubungan kontraktual


Doktrin ini layak juga diterapkan jika ada hubungan
kontraktual antara perusahaan dengan pihak ketiga, di
mana tanpa penerapan prinsip ini, kerugian kepada
pihak ketiga tidak mungkin tertanggulangi. Penerapan
prinsip ini dalam hubungan kontrak dengan pihak
ketiga biasanya dipersyaratkan adanya unsur keadaan
yang tidak lazim pada aktivitas perusahaan, yaitu
pihak ketiga diperdaya untuk bertransaksi dengan
persekutuan,
tindakan
bisnis
perusahaan
membingungkan (apakah dilakukan oleh persekutuan
atau pribadi), permodalan perusahaan tidak dinyatakan
dengan benar atau tidak disetor, adanya jaminan pribadi
dari pemegang saham, atau persekutuan dioperasikan
secara tidak layak (tidak pernah untung, semua setoran
disedot oleh pemegang saham, perusahaan selalu dibuat
dalam keadaan kekurangan).
d) Penerapan karena perbuatan melawan hukum atau
tindak pidana
Jika terdapat unsur pidana dalam suatu kegiatan
persekutuan, meskipun hal itu dilakukan oleh
perusahaan sendiri, maka berdasarkan doktrin piercing
the corporate veil, oleh hukum dibenarkan pula jika
tanggung jawab dimintakan kepada pihak-pihak lain,
seperti Direksi atau pemegang sahamnya. Demikian
juga jika persekutuan melakukan perbuatan melawan
hukum di bidang perdata.
e) Penerapan dalam hubungan dengan Holding Campany
dan anak perusahaan
Doktrin piercing the corporate veil juga berlaku dalam
perusahaan grup yang saat ini sudah sangat
berkembang di Indonesia. Penerapan prinsip ini dikenal
dengan doktrin Instrumental, dimana menurut doktrin
ini piercing the corporate veil dapat diterapkan. Dalam
hal ini yang bertanggungjawab bukan hanya
persekutuan yang melakukan perbuatan hukum yang
65
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 65

12/12/2012 9:35:00 AM

bersangkutan, tetapi juga pemegang saham (perusahaan


holding) juga ikut bertanggung jawab secara hukum,
apabila pengontrolan anak perusahaan dilakukan oleh
perusahaan holding, penggunaan kontrol oleh
perusahaan holding untuk melakukan penipuan,
ketidakjujuran atau tindakan tidak fair lainnya, atau
terdapat kerugian sebagai akibat dari breach of duty
dari perusahaan holding.
Dengan pemberlakuan doktrin piercing the corporate
veil, prinsip tanggung jawab terbatas dari persekutuan
dapat dilampaui, di mana dengan pemberlakuan doktrin
ini tanggung jawab persekutuan sebagai bukan badan
hukum yang mandiri kepada pihak ketiga dapat
dialihkan ke pemegang saham, Direksi ataupun
Komisaris.
2.

75

Ultra Vires
Selanjutnya mengenai doktrin Ultra vires atau
pelampauan kewenangan berasal dari bahasa latin di luar
atau melebih kekuasaan (autside the power), yaitu di luar
kekuasaan yang diizinkan oleh hukum terhadap suatu badan
hukum. Prinsip ini khususnya dipakai terhadap tindakan
persekutuan yang melebihi kekuasaannya sebagaimana
diberikan oleh Anggaran Dasarnya atau peraturan yang
melandasinya pembentukan persekutuan tersebut.75
Doktrin ultra vires merupakan upaya hukum
perusahaan yang modern yang pada prinsipnya ditujukan
kepada setiap tindakan (yang mengatasnamakan
perusahaan), tetapi sebenarnya di luar dari ruang lingkup
kekuasaan dari perusahaan tersebut sebagaimana yang
tertera dalam anggaran dasarnya. Dalam penerapannya
prinsip ini ditafsirkan secara lebih luas dari sekedar
perbuatan di luar lingkup usahanya sesuai anggaran
dasarnya, tetapi juga meliputi perbuatan-perbuatan sebagai
berikut:
Munir Fuady, Op. Cit., hlm. 110.

66
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 66

12/12/2012 9:35:00 AM

1.
2.
3.

walaupun tidak dilarang, tetapi melebihi dari kekuasaan


yang diberikan;
perusahaan tidak punya untuk itu, atau kalaupun punya
kekuasaan, tetapi kekuasaan tersebut dilaksanakan
secara tidak teratur;
perbuatan-perbuatan yang dilakukan atas nama
perusahaan, bukan hanya melebihi kekuasaannya yang
tersurat maupun tersirat dalam anggaran dasarnya,
bahkan juga termasuk perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan ketertiban umum, dan/atau
perbuatan yang dilarang oleh perundang-undangan.
Sungguhpun
kadang-kadang
perbuatan
yang
bertentangan dengan ketertiban umum, dan/atau
perbuatan yang dilarang oleh perundang-undangan
tersebut tidak lagi termasuk dalam katagori ultra vires,
tetapi digolongkan ke dalam apa yang disebut
perbuatan illegal.

Doktrin ultra vires ini diterapkan dalam arti luas, yakni


tidak hanya kegiatan yang dilarang oleh anggaran dasarnya
tetapi juga termasuk tindakan yang tidak dilarang, tetapi
melampaui kewenangan yang diberikan. Jadi ultra vires
tidak hanya digolongkan kepada tindakan yang melampaui
kewenangan yang tersurat maupun yang tersirat, tetapi juga
tindakannya itu bertentangan dengan peraturan yang berlaku
atau bertentangan dengan kepentingan umum.
Secara literal ultra vires berarti tidak punya kekuasaan
atau kewenangan (beyond the power). Prinsip ini
mengajarkan bahwa jika suatu perusahaan melakukan
transaksi yang tidak termasuk ruang lingkup yang
disebutkan dalam anggaran dasarnya, maka perbuatan itu
akan batal demi hukum (null and void).
Kewenangan di sini sangatlah berbeda dengan maksud
dan tujuan persekutuan usaha yang diartikan sebagai setiap
pernyataan yang menjelaskan jenis bisnis yang
dilaksanakan oleh persekutuan tersebut. Sementara
67
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 67

12/12/2012 9:35:00 AM

kewenagan diartikan sebagai metode yang dilakukan oleh


persekutuan dalam rangka melaksanakan maksud dan
tujuan persekutuan, misalnya persekutuan dapat membuat
kontrak dengan pihak ketiga, mengambil pinjaman atau
menjamin aset persekutuan untuk utang-utang yang
dibuatnya. Pada umunya kewenangan dari persekutuan
diatur dalam anggaran dasarnya.
Berdasarkan doktrin ultra vires ini Direksi, Komisaris
dan pemegang saham hanya dapat melakukan tindakan
hukum berdasarkan kewenangan yang dimilikinya dan juga
tindakan tersebut harus berdasarkan apa yang sudah
digariskan dalam anggaran dasar dan peraturan perundangundangan. Apabila hal ini dilanggar dapat menyebabkan
pertanggungjawaban pribadi dari orang yang melakukan
perbuatan tersebut.
Dalam praktiknya, penerapan kedua pinsip tersebut
bukanlah suatu hal yang mudah karena menentukan fair
business sangatlah sulit dan abstrak. Namun demikian,
kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan berkembang dari
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dapatlah dijadikan
standar.
Secara sederhana yang dapat dilakukan oleh
persekutuan usaha memang merupakan care business-nya
atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali. Apabila
hal tersebut dilaksanakan dengan baik, maka penerapan
piercing the corporate veil dapat dihindari terutama apabila
Direksi dan Komisaris melaksanakan fiduciary duty dan
duty of skill and care dengan sebaik-baiknya.
3.

Good Corporate Governance (GCG)


a. Pengertian
Kata governance berasal dari bahasa Perancis
gubernance yang berarti pengendalian. Selanjutnya
kata tersebut dipergunakan dalam konteks kegiatan
perusahaan atau jenis organisasi yang lain, menjadi
corporate governance. Dalam bahasa Indonesia

68
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 68

12/12/2012 9:35:00 AM

corporate governance diterjemahkan sebagai tata


kelola atau tata pemerintahan perusahaan.76
Definisi Corporate governance. OECD (The
Organization for Economic C0-operation and
Development), mendefinisikan corporate governance
sebagai berikut:
Corporate governance is the sistem bay which
business corporations are dirested and controlled.
Tha corporate governance structure specifies the
distribution of rights and responsibilities among
different participants in the corporation, such as
the board, the managers, shareholders and other
stakeholderrs and spells out the rules and
procedurr for making decisions on corporate
affairs. By doing this, it also providfes the structure
through which the company objectives are set, and
the mens of attaining those objectives and
monitoring performance.77
Definisi
Corporate
Governance
menurut
Australian Stock Exchange (ASX) sebagai berikut:78
Corporate governance is the sistem by which
companies are directed and managed. It influences
how the onjectives of the company set and
achieved, how risk is monitored and assesed, and
how performance is optimised.
(corporate governance sebagai sistem yang
dipergunakan untuk mengarahkan dan mengelola
kegiatan perusahaan. Sistem tersebut mempunyai
pengaruh besar dalam menentukan sasaran usaha
maupun dalam upaya mencapai sasaran tersebut.
Corporate governance juga mempunyai pengaruh
76

Laura T. Stark & Stuart I. Gilan, Peranan Good Corporate Governance,


Lihat: Good Corporate Governnance tata kelola Perusahaan Yang Sehat, Jakarta:
PT Damar Mulia Pustaka, 2005, hlm. 1.
77
Laura T. Starks & Stuart I. Gilan, Ibid., hlm. 2.
78
Ibid., hlm. 3

69
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 69

12/12/2012 9:35:00 AM

dalam upaya mencapai kinerja risiko bisnis yang


dihadapi perusahaan).
Good
corporate
governance
mendorong
perusahaan untuk meningkatkan nilai (the value)
perusahaan serta akuntabilitas dan sistem pngendalian
kegiatan usaha bisnis.
Definisi corporate governance yang ketiga
diutarakan oleh dua orang pakar manajemen Jill
Solomon Dan Aris Solomon, sebagai berikut:
Corporate Governance sebagai sistem yang
mengatur hubungan antara perusahaan (diwakili
oleh Board of Directors) dengan pemegang
saham. Corporate governance juga mengatur
hubungan
dan
pertanggungjawaban
atau
akuntabilitas perusahaan kepada seluruh anggota
the stakeholders non-pemegang saham. (Termasuk
dalam kategori the stakeholders non-pemegang
saham adalah para kreditur, pelanggan, karyawan
dan masyarakat terutama yang berada disekitar
unit sarana produksi perusahaan).
Hubungan dan akuntabilitas perusahaan kepada
para pemegang saham dan stakeholders yang lain itu
harus ditata secara sehat dan mengindahkan berbagai
macam undang-undang dan ketentuan hukum lain yang
berlaku di negara masing-masing. Kalau tidak ia dapat
menurunkan kinerja bisnis perusahaan dan menurunkan
kepercayaan calon kreditur dan investor.
Corporate governance yang tidak sehat dapat
menimbulkan godaan penyalahgunaan jabatan oleh
Dewan Pengurus dan manajemen perusahaan yang
lemah etika bisnis dan moralnya. Ia juga dapat
merugikan para anggota stakeholders, terutama para
pemegang saham, kreditor, perusahaan pemasok dan
karyawan.

70
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 70

12/12/2012 9:35:01 AM

Penerapan corporate governance yang tidak


mengindahkan ketentuan hukum yang berlaku dapat
dikenai sanksi oleh aparat pemerintah. Sebagai contoh
perusahaan yang mencemari lingkungan hidup
masyarakat di sekitar daerah operasinya dapat dikenai
sanksi oleh yang berwajib.
b. Tujuan Good Corporate Governance
Good Corporate Governance mempunyai lima
macam tujuan utama, kelima tujuan tersebut adalah
sebagai berikut:79
(1) Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham.
(2) Melindungi hak dan kepentingan para anggota the
stakeholders non-pemegang saham.
(3) Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang
saham.
(4) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja
Dewan Pengurus atau Board of Directors dan
manajemen perusahaan, dan
(5) Meningkatkan mutu hubungan Board of Directors
dengan manajemen senior perusahaan.
c. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
OECD menciptakan prinsip-prinsip good corporate
governance dengan harapan dapat dipergunakan
sebagai bahan acuan internasional (international
benchmark) bagi para penguasa negara, investor,
perusahaan dan stakeholders perusahaan (termasuk
pemegang saham), baik di negara-negara anggota
OECD maupun bagi negara non-anggota.
Harapan OECD menyajikan bahan acuan
internasional tersebut telah membawa hasil. Pada tahun
2004 Donald J. Johnson, OECD Secretary General
mengutarakan sejak beberapa tahun terakhir para
penguasa pemerintahan dan masyarakat bisnis di
banyak negara mulai menyadari good corproate
governance dapat memberikan kontribusi yang
79

Ibid., hlm. 5.

71
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 71

12/12/2012 9:35:01 AM

signifikan terhadap stabilitas perkembangan pasar


modal, iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Prinsip-prinsip corporate governance yang
diterbitkan OECD itu mencakup hal-hal sebagai
berikut:80
(a) Landasan hukum yang diperlukan untuk menjamin
penerapan good corporate governance secara
efektif (ensuring the basis for an effective
corporate governance framework),
(b) Hak pemegang saham dan fungsi pokok
kepemilikan perusahaan (the rights of shaleholders
and key ownership functions),
(c) Perlakuan yang adil terhadap para pemegang
saham (the equitable treatment of shareholders),
(d) Peranan the stakeholders dalam corporate
governance (the role as stakeholders in corporate
governance),
(e) Prinsip pengungkapan informasi perusahaan secara
transparan (disclosure and transparency), dan
(f) Tanggung
jawab
Dewan
Pengurus
(the
responsibilities of the Board).
Landasan hukum. Menuurt OECD apabila
pemerintah suatu negara menginginkan prinsip-prinsip
good corporate governance diterapkan secara efektif di
negaranya, mereka wajib membangun landasan hukum
yang memungkinkan hal itu terjadi. Tanpa landasan
hukum yang kuat salah satu tujuan utama good
corporate governance, yaitu melindungi hak dan
kepentingan para pemegang saham dan stakeholders
yang lain sulit dilaksanakan.
Landasan hukum tersebut antara lain berupa
penciptaan (a) undang-undang tentang perseron terbatas
(b) undang-undang ketenagakerjaan (c) undang-undang
perbankan, (d) ketentuan tentang standar akuntansi
80

Ibid, hlm. 9.

72
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 72

12/12/2012 9:35:01 AM

keuangan dan standar audit, dan (e) syarat dan prosedur


pendaftaran saham perusahaan di bursa efek.81
OECD menyarankan dalam menyusun undangundang atau ketentuan hukum lain yang bersangkutan
dengan penerapan prinsip good corporate governance,
pemerintah hendaknya melakukan komunikasi dan
konsultasi dengan perusahaan-perusahaan lokal. Di
samping itu pemerintah negara yang menerapkan
prinsip-prinsip good corporate governance disarankan
memonitor penerapan prinsip-prinsip tersebut di dunia
bisnis negaranya.
Apabila pemerintah menganggap undang-undang
atau ketentuan hukum baru perlu dikeluarkan,
hendaknya mereka menjamin undang-undang atau
ketentuan hukum baru tersebut dapat diterapkan. Untuk
itu diperlukan dialog dengan asosiasi profesi dan
pengusaha sebelum undang-undang itu diundangkan.
Undang-undang atau ketentuan hukum baru tidak boleh
bertentngan dengan undang-undang atau ketentuan
hukum yang telah berlaku.
Hak Pemegang saham. Pemegang saham
mempunyai hak-hak tertentu. OECD menyarankan hakhak tersebut dilindungi, baik secara hukum maupun
oleh masing-masing perusahaan. Sebagai contoh hak
pemegang saham perusahaan publik adalah menjual
kembali atau memindahtangankan saham yang mereka
miliki. Contoh hak pemegang saham yang lain adalah
menerima deviden dan ikut menghadiri rapat umum
pemegang saham.
Perlakuan yang adil terhadap para pemegang
saham. Perusahaan wajib menjamin perlakuan yang
adil terhadap semua pemegang saham perusahaan,
termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang
saham asing. Pemegang jenis saham yang sama
(misalnya saham biasa) wajib mendapatkan jaminan
81

Ibib, hlm. 10.

73
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 73

12/12/2012 9:35:01 AM

memperoleh perlakuan yang sama. Dalam kaitannya


dengan perlakuan adil itu sebelum membeli saham
yang diperdagangkan di bursa efek, setiap investor
berhak mendapatkan informasi tentang hak dan
perlindungan terhadap saham yang akan mereka beli.
Peranan the stakeholders. OECD juga
menyarankan
adanya
perlindungan
hak
dan
kepentingan para anggota the stakeholders nonpemegang saham. Hal itu disebabkan karena
keberhasilan operasi bisnis perusahan ditentukan oleh
hasil kerja sama para anggota the stakeholders,
termasuk para pemegang saham, karyawan, kreditor,
pelanggan dan para pemasok layanan jasa, bahan baku
dan bahan pembantu.
Prinsip pengungkapan informasi secara
transparan. Prinsip good corporate governance lain
yang disosialisasikan OECD kepada negara-negara
anggota dan negara-negara non-anggota adalah
pengungkapan informasi perusahaan secara transparan.
Menurut OECD Board of Dorectors perusahaan wajib
melaporkan kepada pemegang saham secara akurat,
transparan dan tepat waktu, hal-hal yang bersangkutan
dengan kondisi keuangan, perubahan kepemilikan,
kinerja bisnis dan hal-hal penting lainnya yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.
Tanggung jawab Dewan Pengurus. Organisasi
Dewan Pengurus atau Board of Directors di banyak
negara terdiri dari dua lapis. Di Indonesia lapis pertama
disebut Dewan Komisaris, sedangkan lapis kedua
disebut Direksi. Lapis pertama Board of Directors
berfungsi sebagai pengarah dan pengawas jalannya
operasi bisnis perusahaan dan kinerja Direksi.
Sedangkan fungsi utama lapis kedua Board of
Directors adalah mengelola harta, utang dan kegiatan
bisnis perusahan sehari-hari.

74
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 74

12/12/2012 9:35:01 AM

Boards of Directors bertanggung jawab atas


kepatuhan perusahaan yang mereka kelola terhadap
undang-undang atau ketentuan hukum yang berlaku,
termasuk undang-undang perpajakan, perburuhan,
persaingan usaha, perbankan, lingkungan hidup dan
keselamatan kerja.
Upaya sosialisasi
Agar prinsip-prinsip good corporate governance
tersebut di atas dapat dipergunakan sebagai bahan
acuan internasional. OECD mensosialisasikannya ke
seluruh dunia. Salah satu cara mensosialisasikan prinsip
GCG tersebut adalah menyelenggarakan pertemuanpertemuan antar negara anggota OECD dan negaranegara non anggota. Pertemuanpertemuan yang
mereka sebut the regional corporate governance
roundtable meetings itu dihadiri para pejabat
pemerintah, representatif bursa efek, representatif
perusahaan swasta dan pemerintah organisasi
multilateral, organisasi buruh, pakar-pakar internasional
dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, diperkenalkan prinsipprinsip GCG yang disusun OECD. Di samping di
bicarakan pula cara-cara meningkatkan mutu GCG,
termasuk hal-hal yang bersangkutan dengan: (a) Tugas
dan kewajiban, jumlah anggota dan struktur Board of
Directors; (b) perlindungan terhadap kepentingan
pemegang saham mayoritas; dan (c) prinsip
pengungkapan laporan perkembangan usaha bisnis dan
laporan keuangan perusahaan kepada pemegang saham
secara transparan.
Kerja keras organisasi ekonomi internasional
tersebut telah memberikan hasil. Salah satu hasil yang
tercapai adalah prinsip-prinsip GCG OECD telah
dijadikan bahan acuan instansi pemerintah di banyak
negara di dunia dalam mereformasi GCG di negaranya.
75
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 75

12/12/2012 9:35:01 AM

Prinsip GCG OECD juga dijadikan international


benchmark para investor, perusahaan dan stakeholders
perusahaan di berbagai negara di dunia.
The Indonesian Code for GCG
Code for GCG tersebut bertujuan menyajikan
pedoman kepada masyarakat bisnis Indonesia tentang
bagaimana menerapkan GCG di perusahaan-perusahaan
mereka. Dengan demikian diharapkan daya saing
perusahaan Indonesia di dunia internasional dapat
meningkat di samping itu kinerja perusahaan Indonesia
yang menerapkan prinsip-prinsip GCG diharapkan akan
lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak
menerapkannya.
Dalam Indonesian Code for Good Corporate
Governance antara lain memuat hal-hal yang
bersangkutan dengan: (a) pemegang saham dan hak
mereka; (b) fungsi Dewan Komisaris perusahaan; (c)
Fungsi Direksi perusahaan; (d) Sistem audit; (e)
Sekretaris perusahaan; (f) The stakeholders; (g) prinsip
pengungkapan informasi perusahaan secara transparan;
(h) Prinsip kerahasiaan; (i) Etika bisnis dan korupsi,
dan (j) Perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Pada tahap pertama ketentuan tentang prinsip GCG
di atas terutama ditujukan kepada perusahaanperusahaan publik, badan usaha milik negara dan
perusahaan-perusahaan yang mempergunakan dana
publik atau ikut dalam pengelolaan dana publik.
4.

Corporate Social Responsibility (CSR) adalah kewajiban


moral dalam etika bisnis
CSR seringkali dikaitkan dengan persoalan etika dalam
bisnis. Kajian etika dalam bisnis akan memberikan fokus
pada perilaku korporasi dalam beroperasi, yang diukur
dengan aspek moralitas. Etika bisnis adalah pemikiran atau
refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis.

76
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 76

12/12/2012 9:35:01 AM

Moralitas berarti aspek baik dan buruk, terpuji atau tercela,


dan karenanya diperbolehkan atau tidak dari, perilaku
manusia. Sementara kegiatan ekonomi merupakan suatu
bidang perilaku manusia yang penting.82 Berkaitan dengan
CSR adalah bentuk dari etika bisnis yang di dasarkan pada
moralitas, maka sifatnya adalah voluntary.
Secara universal ada hubungan antara etika dalam arti
hukum dan etika dalam arti moral bisnis. Keduanya
dibangun dengan menggunakan common ethical traditions.
Tradisi ini menggunakan teori-teori etika klasik
(kuno/accient).83 Selain itu etika dalam bisnis juga
dibangun berdasarkan ajaran dari berbagai agama.84
Secara umum, etika adalah ilmu normatif penuntun
manusia, yang memberi perintah apa yang mesti kita
kerjakan dalam batas-batas kita sebagai manusia, dengan
segala tanggung jawabnya. Etika menunjukkan kita dengan
siapa dan apa yang sebaiknya dilakukan. Maka, Etika
diarahkan menuju perkembangan aktualisasi kapasitas
terbaik manusia.85 Henry Chesseman memberikan definisi
yang singkat mengenai etika yaitu: a set of moral principles
or value that govern the conduct of an individual or a
group.86 Secara lebih rinci Rafik Issa Beekun menjelaskan:
82

K. Bartens, op. cit, hlm. 33.


Robb Atkinson, Connecting Business Ethics And Legal Ethicss For The
Common Good: Come, Let Us Reason Together, Journal of Corporation Law 29
(Spring 2004); 476.
84
An Interfaith Declaration menyampaikan beberapa prinsip agama yang
dikaitkan dengan etika bisnis yaitu: (1) justice; (2) Mutual Respect; (3) Stewardship;
(4) Honesty. Simon Webley, Values Ingerent An Interfaith Declaration. A Code of
Ethics on International Business for Christians, Muslims and Jews. (Amman,
Jordan, 1993), Lihat John Hick, Towards A Universal Declaration Of A Global
Ethic A Christian Comment, diunduh dari http://astro.temple.edu/dialogue/center/hick.htm. Lihat Khalid Duran, Leonard Swidlers Drafts Of A
Global Ethic A Muslim Perspective diunduh dari http://astro. Temple.edu/dialogue/Center/duran.htm.
85
Frans Magnis Suseno, Etika dasar, Masalah-Masalah Pokok Etika Moral,
(Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987), hlm. 13-19.
86
Henry R Chesseman, Business Law , op cit., hlm. 149.
83

77
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 77

12/12/2012 9:35:01 AM

Ethics may be defined as the set of moral principles


that distinguish what is right from what is wrong. It is a
normative field because it prescribes what one should
do or abstain from doing.87
Sementara itu, moralitas telah didefinisikan
oleh
ensiklopedia sebagai berikut:
Morality means a code of conduct held to be
authoritive in matters of right and wrong, whether by
society, philosophy, religion, or individual conscience.
In its second normative and universal sense, morality
refers to an ideal code of conduct, one which would be
espoused in preference to alternatives by all rational
people, under specifield conditions.88
Caroll dan Buchholtz memberi definisi untuk etika
bisnis yang dikaitkan dengan persoalan efisiensi, keadilan
dan persamaan, sebagai berikut:
Ethics is the discipline that deals with what is good and
bad ang with moral duty and obligation. Ethics an also
be regarded as a set of moral principles or values.
Morality is a doctrine or system of moral conduct.
Moral conduct refers to that which relates to principles
of right and wrong in behavior. Business ethics,
thereforce, is concerned with good and bad or right
and wrong behavior that takes place within a business
context. Concepts of right and wrong are increasingly
being interpreted today to include the more difficult
and subtle questions of fairness, justice, and equity.89
87

Rafik Issa Beekun, Islamic Business Ethics, University of Nevada And


Islamic Training Foundation, International Institute of Islamic Though (1996), hlm.
2, diunduh dari www.muslimtents. com/aminahsword/ethicshm.pdf.
88
Morality, Wikipedia, Encyclopedia, diunduh dari http://en.wikipedia.
org/wiki/Mrality.
89
Caroll and Buchholtz, business and Societyp Ethics and Stakeholders
management
diunduh
dari
http://www.amzon.com/exec/obidos/
ASIN/
0324225814/nofieeiman-off20/

78
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 78

12/12/2012 9:35:02 AM

Dalam perekonomian yang berjalan berdasarkan prinsip


pasar yaitu bisnis adalah bisnis, kebebasan berusaha
adalah yang utama. Namun kebebasan
tersebut
mengandung kewajiban untuk memastikan bahwa
kebebasan itu digunakan secara bertanggung jawab untuk
memberikan nilai tambah bagi perusahaan.90
Persoalan etika bisnis pada umumnya muncul karena
adanya tanggung jawab korporasi kepada pihak-pihak di
luar perusahaan (nonshareholder constituencies), seperti
tenaga kerja, konsumen, suppliers dan kelompok
masyarakat lainnya. Perihal inilah yang membuat persoalan
menjadi kompleks jika dilihat dari The contractual theory of
the firm.
Nilai-nilai dasar yang menjadi tolok ukur etika bisnis
adalah tingkah laku para pengusaha dalam menjalankan
bisnis. Apakah dalam usahanya mengambil keuntungan dari
konsumen dilakukan dengan melalui persaingan usaha yang
fair, transparan, dan etis. Perbuatan yang termasuk dalam
unethical conduct misalnya, memberikan informasi yang
tidak jujur mengenai bahan mentah, ciri produk,
menyembunyikan harta kekayaan perusahaan untuk
menghindari pajak, membayar upah karyawan di bawah
UMR atau melakukan persekongkolan dan persaingan tidak
sehat.91
Secara umum, kebanyakan pelaku bisnis berpendapat
ada hubungan secara khusus antara keuntungan finansial
dengan melakukan bisnis secara etis, namun beberapa
diantaranya berpendapat bahwa tidak ada hubungan
langsung antara etika dan keuntungan, Thomas I. White
90

F. Antonius Alijoyo, Corporate Code of Conduct, Forum for Corporate


Governance in Indonesia, diunduh dari http://www.fcgi.or.id.
91
Ridwan Khairandy, Corporate Social Responsibilty: Dari Shareholder ke
Stakeholder, dan Dari Etika Bisnis ke Norma Hukum, Makalah Seminar,
Workshop Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, PUSHAM UII dan Norwegian
Centre for Human Right, Yogyakarta 6-8 Mei 2008. hlm. 2.

79
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 79

12/12/2012 9:35:02 AM

mencatat beberapa perbedaan pendapat para senior manager


sebagai berikut:
Andrew Sigler, Chairman dan CEO Champion
International menegaskan,
I dont believe that ethical behavior is an impairment
to profitability. I cannot remember situations where if I
do the bad thing well make a lot of money, but if I do
the right thing well siffer. Lots of responsible
decisions, arent just ethically sound. Theyre damn
smart and very smart business.92
Selain itu, menurut Jerry R. Junkins, President dan
CEO of Texas Instruments, pimpinan korporasi akan
dengan cepat menolak biaya jangka panjang akibat
melakukan bisnis secara tidak etis:
If I do something un ethical faor some short term
gain, somebody else is going to get hurt, and theyre
not going to for got it. Youre clearly trading a short
term gain for something thats inevitably going to be
worse down the road-youll eventually lose business
Texas instruments reputation for integrity,
dates back to the founders of the company. And we
consider that reputations to be a principles asset.
Walter Klain, CEO dari The Bunge Corporations
menjelaskan hubungan etika dengan karyawan:
The company gains if its ethical because that will
preserve its reputation. Yet another issue cited is the
effect of unethical conduct by the corporation on its
employees. Bunges Walter Klein claims, If the
company is unethical, that company is going to be
cheated by its own employees.
David Calare, President Johnson dan Johnson,
menjelaskan, bahwa melakukan kebohongan sebagai
92

Thomas I White, Ethics Incorporated: how Americas Corporations Are


Institutionalizing Moral Values, Center for Ethics and business, Loyola Marymount
University Los Angeles, CA diunduh dari http://www.imu.edu/Asset9444.aspx?
Method=1.

80
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 80

12/12/2012 9:35:02 AM

sesuatu yang berbahaya terhadap korporasi. Cepat atau


lambat akan menjadi bumerang, yang balik menyerang:
What you may perceive as a simple lie or a simple
misstatement that doesnt hurt anybody and protects
the company, sooner or later will come back to bite
you. Itll bite you with people in your organization who
know its a lie. If you cant be open ang honest at all
times, yourre sending a signal to the organization that
you will let them get away with lying occasionally. And
that includes lying to you.
Karena sifatnya yang voluntary dan ada di wilayah
etika maka beberapa negara dan organisasi internasional
mengatur CSR dalam code of conduct, (yang kemudian
dikenal dengan istilah softlaw).93
5.

Code of Conduct
OECD memberikan definisi Code of Conduct yang
dirumuskan dari kajian secara komprehensif yaitu:
commitments voluntary made by companies, association or
other entities, which put forward standards and principles
for the conduct of busimess activities in the market
place.94

93

Ran Goel memberikan catatan berbagai softlaw yang dapat dijadikan


panduan untuk melaksanakan CSR, diantaranya Account Avility 1000 Assurance
Standard (AA 1000), Cere Principles Equator Principle, Extractive Industries
Transparency Initiative (EITTI), Global Reporting Initiative Sustainability
Reporting Guidelaines (GRI), Global Sullivan Principles, greenhaouse Gas
Protocol (GHG Protocal), International Labour Organization Declaration on
Fundamental Principles and rights at work (ILO Declaration), ISO 14000,
MacBride Principles, Orgaization for Economic Co-operation and Development
Guidelaines for Multinational Enterprises (OECD Guidelaines), Social
Accountability 8000 (SA8000), United Nations Norms on the Responsibilities of
Transnational Corporations and Other Business Enterprises with Regard to Human
Right (UN Norms,) dan lain-lain, Ran Goel, Guide to Instruments of Corporate
Responsibility: An overview of 16 key Tools For labour Fund Trustees, Schulich,
Canadas Global Business School, University of Toronto Canada, (October, 2005).
94
Definisi ini dikutip Lundbland dari OECD in 2001: Corporate
Responsibilities: Private Imitiatives and Public Goals, Claes lundblad, Some Legal

81
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 81

12/12/2012 9:35:02 AM

Definisi OECD ini menunjukkan bahwa Code of


Conduct adalah kewajiban yang harus ditegakkan sendiri
(self imposed obligation), tetapi bukan bagian dari peraturan
perundang-undangan (rules) tentang tatakelola perusahaan
(corporate governance).95
Sejarah munculnya code of conduct dimulai sejak
zaman hukum romawi dan abad pertengahan di Eropa.
Romawi mengatur Korporasi sejak cara pembentukan
hingga pembubaran perusahaan. Code of conduct tersebut
menjadi dasar pembentukan code of conduct perusahaan
modern. Di abad modern code of conduct mulai
diperkenalkan pada pertengahan tahun 1890an. Catatan ini
ditandai dengan dikeluarkannya the code of Standards of
Advertising Practise pada tahun 1937 oleh International
Chamber of Commerce (ICC). Beberapa tahun kemudian
setelah perang dunia kedua mulai banyak code of conduct
yang dibuat institusi International. Kemudian menyeruak
secara signifikan pada tahun 1970an, 1980an dan 1990an.96
Saat ini ada ratusan code of conduct yang telah dibuat
oleh lembaga privat, institusi publik, lembaga pemerintah
maupun antar pemerintah (intergovernmental). Hal ini
mencerminkan pentingnya code of conduct untuk dirujuk
oleh para pelaku bisnis dan korporasi.97
Frederik Philips, President of Philips Electronics,
Oliver Giscard dEstaing, Vice-Chairman of INSEAD dan
Ryuzaburo Kaku, Chairman of Canon Inc, pada tahun 1986
membahas pentingnya penggunaan code of conduct, dalam
Dimension of Corporate Code of Conduct (Deventer: Kluwer Law international,
2005), hlm. 387.
95
Ibid.
96
Mark B. baker, Promises And Platitudes: Toward A New 21st Century
Paradigm For Corporate Code of Conduct?, Connecticut Journal of International
Law 23 (Winter 2007): 126.
97
Philip H Rudolph, The history, Variations, Impact, and Future of Self
Regulation, dalam Ramon Mullerat (ed), Corporate Social Responsibility: the
Corporate Governance of the 21 st Century (Deventer: Kluwer Law International,
2005), hlm. 369.

82
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 82

12/12/2012 9:35:02 AM

melakukan pembangunan ekonomi yang konstruktif, antara


korporasi dan masyarakat. Hasil pembahasan ini
menghasilkan business code of conduct yang dikenal
dengan Caux Round Table Principles. Prinsip-prinsip Caux
Round Table Principles tersebut adalah:98
a. The responsibilities of business: beyond shareholders
toward stakeholders
Bisnis mempunyai peranan untuk memperbaiki
hubungan dengan semua pelanggan, karyawan, dan
pemegang saham, yaitu dengan berbagi atas kekayaan
yang didapat mereka. Mereka harus melakukan bisnis
dengan semangat kejujuran dan fairness, dan berlaku
sebagai warga negara yang bertanggung jawab terhadap
masyarakat di mana mereka beroperasi. Bisnis harus
menjadi bagian dalam membentuk masa depan semua
komunitas.
b. The economic and social impact of business towards
innovation, justice and world community
Bisnis harus ikut mengembangkan dan berperan untuk
kemajuan sosial negara di mana mereka bekerja,
dengan membuat produktif tenaga kerja dan membantu
menaikkan daya beli dari warga negara. Bisnis juga
harus berperan untuk hak asasi manusia, pendidikan
dan kesejahteraan. Bisnis harus ikut berperan dalam
pembangunan sosial dengan dan berhati-hati dalam
menggunakan sumber daya secara efektif, hati-hati dan
kompetisi yang adil.
c. Business behavior beyond the letter of law, towards
a spirit of trust
Dengan hak-hak pengelolaan yang dimiliki, bisnis
harus dilakukan secara transparan dan menjaga
kestabilan setiap urusan dengan menjaga kepercayaan.

98
Caux Round Table: Principles for Business, Human Right Library,
University
of
Minessota,
di
unduh
dari
http://www1.umn.edu
/humanrts/instree/cauxm-dtbl.htm.

83
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 83

12/12/2012 9:35:02 AM

d.

e.

f.

g.

Respect for rules


Bisnis harus menghormati aturan domestik dan
menjaga untuk tidak melakukan aktivitas yang
merugikan masyarakat walaupun itu sah di hadapan
hukum.
Support for multilateral trade
Bisnis harus menghormati kesepakatan internasional
dan
organisasi
perdagangan
dunia
dengan
menyesuaikan kebijakan nasional di negara tempat
mereka beroperasi.
Respect for the environment
Bisnis harus melindungi dan memajukan lingkungan
dengan mencegah pemborosan penggunaan sumber
alam.
Avoidance of illict operations
Bisnis harus dijalankan dengan menghindari segala
macam uang sogokan atau tindakan korup, dengan cara
menjalin kerja sama yang baik. Bisnis tidak boleh
mendukung dan mendanai aktivitas teroris, lalu lintas
narkoba atau mengorganisir kejahatan lain.

84
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 84

12/12/2012 9:35:02 AM

BAB III
PENYAJIAN DATA PENELITIAN
PERSEKUTUAN USAHA DI INDONESIA
A. Dasar Hukum Pembentukan Persekutuan Usaha
Pembentukan organisasi bisnis yang dalam hukum perdata
disebut persekutuan diatur di dalam Pasal 1618 dan Pasal
1619 KUHPerdata, sebagai berikut:
Pasal 1618:
Persekutuan adalah suatu perjanjian (kontrak) dengan mana
dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan
sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi
keuntungan yang terjadi karenanya.
Pasal 1619:
Segala persekutuan harus mengenai sesuatu yang halal dan
harus dibuat untuk manfaat bersama para pihak. Masingmasing sekutu diwajibkan memasukkan uang, barang-barang
lain ataupun kerajinannya ke dalam perseroan itu.
Dari kedua pasal KUHPerdata di atas dapat diketahui
bahwa suatu persekutuan yang didirikan harus memenuhi
minimal 5 (lima) unsur sebagai berikut:
(a) Unsur perjanjian, yaitu suatu persekutuan harus dibuat
dalam bentuk perjanjian (kontrak) yang membawa
konsekuensi hukum yang berisi hak dan kewajiban para
pihak yang harus tunduk terhadap isi perjanjian
sebagaimana diatur di dalam Pasal 1233 dan Pasal 1320
KUHPerdata.
(b) Unsur memasukkan kebendaan, yaitu masing-masing pihak
wajib memasukkan harta (kebendaan) ke dalam persekutuan
yang selanjutnya menjadi milik bersama yang dapat
digunakan, dimanfaatkan dan dikelola oleh para pihak
dalam persekutuan untuk memperoleh keberuntungan.

85
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 85

12/12/2012 9:35:02 AM

Menyerahkan kebendaan ini merupakan ciri pokok dari


suatu persekutuan. Umumnya kebendaan yang diserahkan
adalah:
1. Uang.
2. Benda, baik
yang bergerak maupun yang tidak
bergerak;
a. Benda bergerak dalam hukum perdata meliputi:
1. Dalam KUHPerdata; surat berharga, cek,
wesel, kuitansi dan lain-lain.
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, diubah Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perbankan.
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas.
4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal; mengatur bursa efek.
5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002
tentang Surat Utang Negara.
b. Benda tidak bergerak yang bukan tanah, seperti
kapal laut sebagaimana diatur di dalam KUHD.
c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1966 tentang Hak
Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda
yang Berkaitan Dengan Tanah.
d. Benda Immaterial, yaitu hak atas intelektual, merek
dagang dan hak paten.
3. Keahlian.
4. Kenikmatan suatu benda sebagaimana diatur di dalam
pasal 508 dan 511 KUHPerdata.
(c) Unsur keuntungan, yaitu persekutuan dibuat memang untuk
mencari profit. Hal ini diatur di dalam pasal 1621
KUHPerdata,
undang-undang
hanyalah
mengenal
persekutuan penuh tentang keuntungan. Dilarang adanya
segala persekutuan, baik dari semua kekayaan maupun dari

86
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 86

12/12/2012 9:35:02 AM

sebagaian tertentu dari kekayaan seorang secara


percampuran seumumnya.
(d) Unsur memasukkan keuntungan ke dalam persekutuan,
yaitu keuntungan yang diperoleh adalah hasil dari usaha
bersama termasuk keahlian yang dijanjikan untuk
dimasukkan ke dalam persekutuan. Dalam Pasal 1622
KUHPerdata, disebutkan:
Persekutuan penuh tentang keuntungan hanyalah
mengenai segala apa yang akan diperoleh para pihak dengan
nama apapun, selama berlangsungnya persekutuan sebagai
dari hasil kerajinan mereka. Dari pasal ini tersimpul
beberapa hal:
1. Keuntungan adalah suatu keuntungan yang akan
diperoleh;
2. Keuntungan diperoleh berdasarkan hasil kerajinan
sekutu dalam persekutuan.
(e) Unsur pembagian profit, yaitu pembagian keuntungan
bersama sebagai hasil usaha dibagi kepada para pihak yang
ada di dalam persekutuan. Dalam Pasal 1633 KUHPerdata
disebutkan:
Jika di dalam perjanjian persekutuan tidak ditentukan
bagian masing-masing sekutu dalam untung dan ruginya
persekutuan, maka bagian masing-masing adalah seimbang
dengan apa yang ia telah masukkan ke dalam persekutuan.
Terhadap si sekutu yang hanya memasukkan kerajinannya,
bagian dari untung rugi ditetapkan sama dengan bagian si
sekutu yang memasukkan uang atau barang paling sedikit.
B. Persekutuan Perdata
1. Pengertian Persektuan Perdata
Keberadaan Persekutuan Perdata sebagai badan usaha
diatur dalam Pasal 1618 Pasal 1652 Kitab UndangUndang Hukum Perdata. Apa yang dimaksud dengan
Persekutuan Perdata? Dalam KUHPerdata disebutkan
Persekutuan perdata adalah suatu perjanjian dengan mana 2
(dua) orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan
87
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 87

12/12/2012 9:35:03 AM

2.

3.

4.

sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk


membagikan keuntungan atau kemanfaatan yang diperoleh
karenanya. (Lihat Pasal 1618 KUHPerdata).
Karakteristik Persekutuan Perdata
Ciri-ciri Persekutuan Perdata, yaitu adanya:
a. Perjanjian antara 2 (dua) orang atau lebih;
b. Memasukkan sesuatu (inbreng);
c. Tujuannya membagi keuntungan atau kemanfaatan.
Dalam Pasal 1619 ayat (2) KUHPerdata disebutkan:
Masing-masing sekutu diwajibkan memasukkan uang,
barang dan keahliannya ke dalam persekutuan.
Sedangkan dalam Pasal 1625 KUHPerdata dijelaskan:
Apa yang telah disanggupi wajib dipenuhi oleh sekutu.
Dan dalam Pasal 1627 KUHPerdata dikemukakan:
Keahlian yang dimasukkan ke dalam persekutuan
wajib ditaati.
Pendirian Persekutuan Perdata
Apabila dicermati pengertian persekutuan seperti yang
diatur dalam Pasal 1618 KUHPerdata, tampak bahwa
pendirian persekutuan perdata dapat dilakukan secara lisan
atau tertulis. Demikian juga halnya bila dicermati dalam
Pasal 1624 KUHPerdata, dapat diketahui bahwa
persekutuan perdata berdiri sejak adanya kesepakatan di
antara para pendiri atau saat berdirinya ditentukan dalam
anggaran dasar persekutuan. Namun demikian, jika hendak
mendirikan persekutuan perdata ada syarat yang harus
dipenuhi, yakni:
a. Tidak dilarang oleh undang-undang;
b. Tidak bertentangan dengan tata susila atau ketertiban
umum;
c. Tujuannya adalah kepentingan bersama, untuk mencari
keuntungan.
Persekutuan Perdata Bukan Badan Hukum
Apakah persekutuan perdata badan hukum? Jika
dicermati ketentuan Pasal 1644 KUHPerdata yang
mengemukakan bahwa:

88
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 88

12/12/2012 9:35:03 AM

Persekutuan tidak terikat atas perbuatan sekutu,


kecuali ada surat kuasa untuk itu.
Dan ketentuan Pasal 1645 KUHPerdata yang
mengemukakan bahwa:
Salah seorang sekutu mengadakan perjanjian dengan
pihak ketiga atas nama persekutuan, maka persekutuan
berhak secara langsung menagih piutang ke pihak
ketiga, maka dapat disimpulkan bahwa persekutuan
perdata bukan badan hukum, sebab tanggung jawab
tidak terbatas.
Selain itu, dalam Pasal 1646 KUHPerdata disebutkan
bahwa:
Persekutuan Perdata berakhir karena:
a. Lampaunya waktu persekutuan didirikan;
b. Musnahnya barang atau telah diselesaikannya
usaha yang menjadi tugas pokok persekutuan;
c. Kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu;
d. Salah seorang sekutu meninggal dunia atau di
bawah pengampuan atau dinyatakan pailit.
Namun sesuai dengan sifat hukum perjanjian sebagai
hukum pelengkap (optional law), para pihak dapat
menentukan lain dalam anggaran dasarnya. Sebagaimana
ditegaskan dalam HR 6 Februari 1935 dalam anggaran
dasar dapat ditentukan, bahwa tiap-tiap sekutu dapat
memasukkan pihak ketiga menjadi anggota persekutuan
tanpa izin sekutu lainnya.
Masalah hubungan ekstern persekutuan perdata diatur
dalam Pasal 1642 Pasal 1645 KUHPerdata. Dalam Pasal
1642 jo. Pasal 1644 disebutkan:
Para pesero tidak bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap utang-utang persekutuan, kecuali ada
perjanjian atau surat kuasa untuk itu.
C. Firma
Berdasarkan Pasal 16 KUHD, Firma adalah tiap-tiap
persekutuan perdata yang didirikan untuk menjalankan suatu
89
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 89

12/12/2012 9:35:03 AM

perusahaan di bawah satu nama bersama. Jadi Firma adalah


persekutuan perdata yang khusus, yaitu menggunaka nama
bersama atau Firma.
Di mata pihak ketiga, tiap-tiap sekutu firma bertanggung
jawab secara tanggung menanggung atas segala perikatan firma
(Pasal 18 KUHD). Meskipun demikian, harus diingat bahwa
hanya sekutu yang berwenang menurut anggaran dasar firma
yang dapat mengikat pihak ketiga (pasal 17 KUHD). Dengan
demikian, sekutu yang tidak berwenang atau walaupun
berwenang, tindakannya tersebut tidak sesuai dengan lingkup
kegiatan firma, sekutu yang bersangkutan bertanggung jawab
secara individu atas tindakan yang dilakukannya dengan
mengatasnamakan firma (Pasal 17 KUHD).
1.

Persyaratan Pendirian Firma


Untuk mendirikan firma persyaratan di bawah ini harus
dilengkapi sebagi berikut:
a. Pembuatan akta otentik berupa akta notaris pendirian
firma (Pasal 22 KUHD);
b. Pendaftaran akta pendirian tersebut di kepaniteraan
pengadilan negeri di dalam daerah hukum tempat
persekutuan firma itu berdomisili (Pasal 23 KUHD)
yang sekarang cukup pendaftaran wajib perusahaan di
Kantor Pendaftaran Perusahaan (Pasal 14 ayat (1) dan
(2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang
Wajib daftar Perusahaan);
c. Pengumuman akta pendirian tersebut di dalam berita
negara melalui kantor percetakan negara (Pasal 28
KUHD).
Perlu diperhatikan bahwa jika pendaftaran dan
pengumuman belum dilakukan sepenuhnya, oleh pihak
ketiga firma dianggap suatu persekutuan perdata (Pasal 29
KUHD).

90
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 90

12/12/2012 9:35:03 AM

2.

Firma Bukan Badan Hukum


Firma bukanlah badan hukum seperti halnya perseroan
terbatas karena undang-undang di Indonesia mengatur firma
dianggap sebagai perusahaan yang dibentuk hanya
berdasarkan persekutuan, bukan diakui sebagai badan
hukum. Selain itu, syarat lain bagi suatu entitas untuk dapat
dikatakan sebagai badan hukum adalah mempunyai
kekayaan yang terpisah dengan pengurusnya. Dalam firma
tidak ada pemisahan kekayaan firma dengan pengurus,
maksudnya adalah pertanggungjawaban firma kepada pihak
ketiga mencakup sampai kepada harta prinbadi sekutusekutunya (Pasal 33 KUHD). Firma adalah bentuk
persekutuan perdata yang khusus.

3.

Pembubaran Firma
Pengaturan pembubaran firma cukup diatur dalam
KUHPerdata, yaitu di BUKU III Bab VIII bagian IV.
Berdasarkan Pasal 1646 KUHPerdata persekutuan dapat
berakhir karena hal-hal sebagai berikut:
(a) Jangka waktunya sudah habis;
(b) Diputuskan oleh para anggotanya untuk dibubarkan;
(c) Firma dan anggotanya jatuh pailit;
(d) Salah seorang anggota meninggal dunia, keluar atau
berada di bawah pengampuan;
(e) Tujuan dari Firma telah tercapai.
Berakhirnya persekutuan firma yang disebabkan
meninggalnya salah seorang sekutu, dapat dikesampingkan
jika sebelumnya di antara sekutu-sekutu tersebut telah
diperjanjikan bahwa meninggalnya salah seorang sekutu
tidak berpengaruh terhadap kelangsungan firma.
Persekutuan (dalam hal ini firma) tersebut dapat
berlangsung terus dengan ahli warisnya, atau akan
berlangsung terus di antara sekutu-sekutu yang masih ada
(pasal 1651 KUHPerdata).

91
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 91

12/12/2012 9:35:03 AM

4.

Kelebihan dan Kekurangan Firma


Adanya beberapa kelebihan dan kekurangan yang
dimiliki oleh badan usaha berbentuk Persekutuan Firma
sebagaimana berikut ini:
1. Kelebihan Vennootschap Onder Firma (VoF)
a. Kemampuan manajemen lebih besar, karena ada
pembagian kerja di antara para anggota;
b. Pendiriannya relatif mudah;
c. Kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi;
d. Para sekutu Firma memiliki kedudukan yang sama;
e. Memiliki hak dan kewajiban yang sama;
f. Semua sekutu pada hakikatnya merupakan
pengurus Firma, walaupun ada pengurus firma.
2. Kekurangan Vennootschap Onder Firma (VoF)
a. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas (internal);
b. Setiap sekutu dapat mengikat Firma dengan pihak
ketiga;
c. Ada kemungkinan sekutu yang tidak memiliki
integritas melakukan perbuatan hukum yang
merugikan Fima;
d. Kerugian disebabkan oleh seorang sekutu harus
ditanggung bersama;
e. Kelangsungan hidup perusahaan tidak menentu.

D. Persekutuan Komanditer
Persekutuan komanditer (CV) adalah persektuan firma
yang memiliki satu atau beberapa orang sekutu komanditer.
Sekutu komanditer adalah sekutu yang hanya menyerahkan
uang, barang, atau tenaga sebagai pemasukan kepada
persekutuan, dan dia tidak ikut campur dalam pengurusan atau
penguasaan dalam persekutuan.
Status sekutu komanditer dapat disamakan dengan seorang
yang menitipkan modal pada suatu perusahaan, yang hanya
menantikan hasil keuntungan dan inbreng yang dimasukkan itu,
dan tidak ikut campur dalam kepengurusan, pengusahaan dan

92
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 92

12/12/2012 9:35:03 AM

kegiatan usaha perusahaan. Karena itu, dalam persektuan


komanditer terdapat dua macam sekutu sebagai berikut:
1) Sekutu kerja atau sekutu komplementer, yakni sekutu yang
menjadi pengurus persekutuan;
2) Sekutu tidak kerja atau sekutu komanditer, yakni tidak
mengurus persekutuan dan hanya memberikan inbreng.
1.

Dasar Pengaturan Persekutuan Komanditer


Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21 KUHD adalah aturan
untuk persekutuan komanditer. Pasal 19 (a) KUHD
mengatur bahwa persekutuan komanditer didirikan atas satu
atau beberapa orang yang bertanggung jawab secara pribadi
untuk keseluruhan dengan satu atau beberapa orang pelepas
uang. Adanya aturan persekutuan komanditer di antara/di
dalam aturan mengenai firma, disebabkan pesekutuan
komanditer juga termasuk bentuk firma dalam arti khusus,
yang kekhususannya terletak dari adanya persekutuan
komanditer. Sementara itu, sekutu jenis ini tidak ada dalam
bentuk firma (yang ada dalam firma hanya bentuk sekutu
kerja atau firma).

2.

Pendirian, Pendaftaran, dan Pengumuman CV


Tidak ada pengaturan khusus bagi CV, sehingga
pendirian CV sama dengan pendirian Firma. CV bisa
didirikan secara lisan (diatur dalam Pasal 22 KUHD, bahwa
tiap-tiap perseroan firma harus didirikan dengan akta
otentik, tetapi ketiadaan akta demikian, tidak dapat
dikemukakan untuk merugikan publik/pihak ketiga). Pada
praktiknya di Indonesia telah menunjukkan suatu kebiasaan
bahwa seorang mendirikan CV berdasarkan akta notaris
(otentik) yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri (PN) yang berwenang dan diumumkan dalam
Tambahan Berita Negara RI.
Disebabkan adanya kesamaan dalam pendirian CV
dengan firma, tahap-tahap pendirian CV sebagai berikut:

93
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 93

12/12/2012 9:35:03 AM

1.

Pasal 23 KUHD mewajibkan pendiri firma (yang juga


berlaku pada CV) mendaftarkan akta pendiriannya
kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang
berwenang, dan yang didaftarkan hanya akta pendirian
firma (atau CV) atau ikhtisar resminya (Pasal 24
KUHD); dan
2. Para pendiri CV diwajibkan mengumumkan ikhtisar
resmi akta pendiriannya dalam Tambahan Berita
Negara RI (Pasal 28 KUHD); kedua pekerjaan ini bisa
dilimpahkan kepada notaris yang membuat akta.
Ikhtisar isi resmi dari akta pendirian CV meliputi:
1. nama lengkap, pekerjaan, dan tempat tinggal para
pendiri;
2. penetapan nama CV;
3. keterangan mengenai CV itu bersifat umum atau
terbatas untuk menjalankan sebuah perusahaan cabang
secara khusus;
4. nama
sekutu
yang
tidak
berkuasa
untuk
menandatangani perjanjian atas nama persekutuan;
5. saat mulai dan berlakunya CV;
6. klausula-klausula lain penting yang berkaitan dengan
pihak ketiga terhadap sekutu pendiri;
7. pendaftaran akta pendirian ke PN harus diberi tanggal;
8. pembentukan kas (uang) dari CV yang khusus
disediakan bagi penagih dari pihak ketiga, yang jika
sudah kosong berlakulah tanggung jawab sekutu secara
pribadi untuk keseluruhan;
9. pengeluaran satu atau beberapa sekutu dari
wewenangnya untuk bertindak atas nama persekutuan.
E. Hubungan Antara Tanggung jawab dan Hukum
Perusahaan Dalam Perspektif Teoretis
Di dalam hukum perusahaan terdapat beberapa teori/doktrin
perluasan tanggung jawab. KUHPerdata dan KUHD menganut
doktrin piercing the corporate veil atau menyingkap tabir
perseroan dan doktrin ultra vires.
94
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 94

12/12/2012 9:35:03 AM

1.

Piercing the Corporate Veil


Teori ini dikenal dengan doktrin menyingkap tabir
perseroan. KUHPerdata dan KUHD menganut teori ini.
Doktrin Piercing the Corporate Veil: merupakan doktrin
yang mengajarkan bahwa sesungguhnya suatu badan usaha
bertanggung jawab secara hukum hanya terbatas pada harta
badan usaha tersebut, tetapi dalam hal-hal tertentu batas
tanggung jawab tersebut dapat ditembus. Doktrin piercing
the Corporat veil atau menyingkap tabir perseroan diartikan
sebagai suatu proses untuk membebani tanggung jawab
kepundak orang atau perusahaan pelaku, tanpa melihat
bahwa perbuatan itu sebenarnya dilakukaan oleh pelaku
badan usaha tersebut.
Piercing the corporate veil yang secara harfiah
berarti membuka cadar perseroan yang dalam Law Black
Dictionary dikatakan:
merupakan suatu proses peradilan di mana pengadilan
akan mengabaikan kekebalan yang biasa dari pengurus
perseroan (officers) atau badan (entities) dari tanggung
jawab atas kesalahan atau pelanggaran dalam
melakukan kegiatan perseroan dan tanggung jawab
pribadi dikenakan kepada pemegang saham, para
direktur dan officers (para pejabat peseroan).
Kasus yang mungkin terjadi atau timbul dalam
kaitannya dengan kegiatan persekutuan yang dapat
mengakibatkan diberlakukannya doktrin piercing the
corporate veil, antara lain: pertama, adanya kepentingan
yang bertentangan (internal conflict) antara direksi dan/atau
komisaris terhadap persekutuan; kedua, Direksi dan/atau
Komisaris yang mengambilalih kesempatan yang
sebenarnya milik persekutuan untuk kepentingan pribadi
atau usaha pribadi (business opportunity). Oleh karenanya
biasanya doktrin piercing the corporate veil muncul dan
diterapkan manakala ada kerugian atau tuntutan hukum dari
pihak ketiga terhadap persekutuan tersebut.

95
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 95

12/12/2012 9:35:03 AM

Kriterian dasar dan universal agar prinsip ini dapat


diterapkan adalah:
a. terjadinya penipuan;
b. didapatnya suatu ketidakadilan;
c. terjadinya suatu penindasan (oppression);
d. tidak memenuhi unsur hukum;
e. dominasi pemegang saham yang berlebihan;
perusahaan merupakan alter ago dari pemegang saham
mayoritas.
Berdasarkan kriteria tersebut, maka penerapan doktrin
ini secara universal dilakukan dalam hal-hal sebagai
berikut:
1) Penerapan karena perusahaan tidak mengikuti
formalitas tertentu
Salah satu alasan untuk menerapkan prinsip piercing
the corporate veil adalah jika perusahaan tersebut tidak
atau tidak cukup memenuhi formalitas tertentu yang
diharuskan oleh hukum bagi suatu persekutuan. Dalam
hal ini tidak bertujuan secara langsung untuk
melindungi pihak tertentu, seperti pihak minoritas atau
pihak ketiga, tetapi semata-mata untuk menegakkan
hukum agar formalitas tersebut terpenuhi. Sebagai
contoh tidak tuntasnya formalitas pendirian perusahaan,
tidak melakukan rapat, pemilihan Direksi atau
Komisaris, tidak melakukan penyetoran modal atau
peng-issu-an saham, pihak pemegang saham terlalu
banyak mencampuri urusan perusahaan, atau
pencampuradukan antara urusan persekutuan dengan
urusan pribadi.
2) Penerapan terhadap persekutuan yang hanya terpisah
secara artifisial
Dalam hal ini yang dimaksud adalah penerapan doktrin
piercing the corporate veil ke dalam suatu perusahaan
yang sebenarnya dalam kenyataan adalah tunggal (one
business entity), tetapi perusahaan tersebut dibagi ke
dalam beberapa persekutuan yang terpisah secara
96
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 96

12/12/2012 9:35:04 AM

artifisial, tetapi bisnisnya dilakukan sedemikian rupa


sehingga seolah-olah bisnis tersebut dilakukan oleh satu
unit perusahaan. Dengan penerapan prinsip ini, beban
tanggung jawab akan diberikan kepada seluruh
persekutuan yang paling terkait tersebut.
3) Penerapan berdasarkan hubungan kontraktual
Doktrin ini layak juga diterapkan jika ada hubungan
kontraktual antara perusahaan dengan pihak ketiga,
dimana tanpa penerapan prinsip ini, kerugian kepada
pihak ketiga tidak mungkin tertanggulangi. Penerapan
prinsip ini dalam hubungan kontrak dengan pihak
ketiga biasanya dipersyaratkan adanya unsur keadaan
yang tidak lazim pada aktivitas perusahaan, yaitu
pihak ketiga diperdaya untuk bertransaksi dengan
persekutuan,
tindakan
bisnis
perusahaan
membingungkan (apakah dilakukan oleh persekutuan
atau pribadi), permodalan perusahaan tidak dinyatakan
dengan benar atau tidak disetor, adanya jaminan pribadi
dari pemegang saham, atau persekutuan dioperasikan
secara tidak layak (tidak pernah untung, semua setoran
disedot oleh pemegang saham, perusahaan selalu dibuat
dalam kadaan kekurangan).
4) Penerapan karena perbuatan melawan hukum atau
tindak pidana
Jika terdapat unsur pidana dalam suatu kegiatan
persekutuan, meskipun hal itu dilakukan oleh
perusahaan sendiri, maka berdasarkan doktrin piercing
the corporate veil, oleh hukum dibenarkan pula jika
tanggungjawab dimintakan kepada pihak-pihak lain,
seperti Direksi atau pemegang sahamnya. Demikian
juga jika persekutuan melakukan perbuatan melawan
hukum di bidang perdata.
5) Penerapan dalam hubungan dengan Holding Campany
dan anak perusahaan
Doktrin piercing the corporate veil juga berlaku dalam
perusahaan group yang saat ini sudah sangat
97
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 97

12/12/2012 9:35:04 AM

2.

berkembang di Indonesia. Penerapan prinsip ini dikenal


dengan doktrin Instrumental, di mana menurut
doktrin ini piercing the corporate veil dapat diterapkan.
Dalam hal ini yang bertanggung jawab bukan hanya
persekutuan yang melakukan perbuatan hukum yang
bersangkutan, tetapi juga pemegang saham (perusahaan
holding) juga ikut bertanggung jawab secara hukum,
apabila pengontrolan anak perusahaan dilakukan oleh
perusahaan holding, penggunaan kontrol oleh
perusahaan holding untuk melakukan penipuan,
ketidakjujuran atau tindakan tidak fair lainnya, atau
terdapat kerugian sebagai akibat dari breach of duty
dari perusahaan holding.
Dengan pemberlakuan doktrin piercing the corporate
veil, prinsip tanggung jawab terbatas dari persekutuan
dapat dilampaui, dimana dengan pemberlakuan doktrin
ini tanggung jawab persekutuan sebagai bukan badan
hukum yang mandiri kepada pihak ketiga dapat
dialihkan ke pemegang saham, Direksi ataupun
Komisaris.
Ultra Vires
Selanjutnya mengenai doktrin Ultra vires atau
pelampauan kewenangan berasal dari bahasa latin di luar
atau melebih kekuasaan (autside the power), yaitu di luar
kekuasaan yang diizinkan oleh hukum terhadap suatu badan
hukum. Prinsip ini khususnya dipakai terhadap tindakan
persekutuan yang melebihi kekuasaannya sebagaimana
diberikan oleh Anggaran Dasarnya atau peraturan yang
melandasinya pembentukan persekutuan tersebut.
Doktrin ultra vires merupakan upaya hukum
perusahaan yang modern yang pada prinsipnya ditujukan
kepada setiap tindakan (yang mengatasnamakan
perusahaan), tetapi sebenarnya di luar dari ruang lingkup
kekuasaan dari perusahaan tersebut sebagaimana yang
tertera dalam anggaran dasarnya. Dalam penerapannya
prinsip ini ditafsirkan secara lebih luas dari sekedar

98
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 98

12/12/2012 9:35:04 AM

perbuatan di luar lingkup usahanya sesuai anggaran


dasarnya, tetapi juga meliputi perbuatan-perbuatan sebagai
berikut:
1. walaupun tidak dilarang, tetapi melebihi dari kekuasaan
yang diberikan;
2. perusahaan tidak punya untuk itu, atau kalaupun punya
kekuasaan, tetapi kekuasaan tersebut dilaksanakan
secara tidak teratur;
3. perbuatan-perbuatan yang dilakukan atas nama
perusahaan, bukan hanya melebihi kekuasaannya yang
tersurat maupun tersirat dalam anggaran dasarnya,
bahkan juga termasuk perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan ketertiban umum, dan/atau
perbuatan yang dilarang oleh perundang-undangan.
Sungguhpun
kadang-kadang
perbuatan
yang
bertentangan dengan ketertiban umum, dan/atau
perbuatan yang dilarang oleh perundang-undangan
tersebut tidak lagi termasuk dalam katagori ultra vires,
tetapi digolongkan ke dalam apa yang disebut
perbuatan illegal.
Doktrin ultra vires ini diterapkan dalam arti luas, yakni
tidak hanya kegiatan yang dilarang oleh anggaran dasarnya
tetapi juga termasuk tindakan yang tidak dilarang, tetapi
melampaui kewenagan yang diberikan. Jadi ultra vires tidak
hanya digolongkan kepada tindakan yang melampaui
kewenangan yang tersurat maupun yang tersirat, tetapi juga
tindakannya itu bertentangan dengan peraturan yang berlaku
atau bertentangan dengan kepentingan umum.
Secara literal ultra vires berarti tidak punya kekuasaan
atau kewenangan (beyond the power). Prinsip ini
mengajarkan bahwa jika suatu perusahaan melakukan
transaksi yang tidak termasuk ruang lingkup yang
disebutkan dalam anggaran dasarnya, maka perbuatan itu
akan batal demi hukum (null and void).
Kewenangan di sini sangatlah berbeda dengan maksud
dan tujuan persekutuan usaha yang diartikan sebagai setiap
99
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 99

12/12/2012 9:35:04 AM

pernyataan yang menjelaskan jenis bisnis yang


dilaksanakan oleh persekutuan tersebut. Sementara
kewenangan diartikan sebagai metode yang dilakukan oleh
persekutuan dalam rangka melaksanakan maksud dan
tujuan persekutuan, misalnya persekutuan dapat membuat
kontrak dengan pihak ketiga, mengambil pinjaman atau
menjamin aset persekutuan untuk utang-utang yang
dibuatnya. Pada umunya kewenangan dari persekutuan
diatur dalam Anggaran dasarnya.
Berdasarkan doktrin ultra vires ini Direksi, Komisaris
dan pemegang saham hanya dapat melakukan tindakan
hukum berdasarkan kewenangan yang dimilikinya dan juga
tindakan tersebut harus berdasarkan apa yang sudah
digariskan dalam Anggaran dasar dan peraturan perundangundangan. Apabila hal ini dilanggar dapat menyebabkan
pertanggungjawaban pribadi dari orang yang melakukan
perbuatan tersebut.
Dalam praktiknya, penerapan kedua pinsip tersebut
bukanlah suatu hal yang mudah karena menentukan fair
business sangatlah sulit dan abstrak. Namun demikian,
kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan berkembang dari
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dapatlah dijadikan
standar.
Secara sederhana yang dapat dilakukan oleh
persekutuan usaha memang merupakan care business-nya
atau bahkan tidak ada hubungannya sama sakali. Apabila
hal tersebut dilaksanakan dengan baik, maka penerapan
piercing the corporate veil dapat dihindari terutama apabila
Direksi dan Komisaris melaksanakan fiduciary duty dan
duty of skill and care dengan sebaik-baiknya.

100
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 100

12/12/2012 9:35:04 AM

BAB IV
ANALISIS HUKUM
PERSEKUTUAN USAHA DI INDONESIA
A. Prinsip Hukum Yang Mendasari Persekutuan Perdata,
Persekutuan Dengan Firma dan Persekutuan Komanditer
1. KUHPerdata dan KUHD
Bentuk usaha persekutuan di Indonesia diatur dalam
dua kodifikasi yaitu persekutuan perdata (maatschap)
diatur dalam KUHPerdata dan Persekutuan dengan Firma
dan Persekutuan Komanditer, diatur dalam Kitab UndangUndang Hukum Dagang (KUHD).
Di samping itu
mengingat bahwa hubungan intern dari ketiga jenis
persekutuan usaha tersebut mempunyai landasan hukum
yang sama yakni (Pasal 19 KUHD jo. Pasal 16 KUHD jo.
Pasal 1618 sampai dengan Pasal 1652 KUHPerdata kecuali
Pasal 1642 sampai dengan Pasal 1645 KUHPerdata) dan
mengingat bahwa KUHD adalah ketentuan khusus
KUHPerdata yang adalah ketentuan umumnya (Pasal 1
KUHD), maka ketentuan hukum intern ini harus dilihat
dalam KUHPerdata khususnya dalam Buku II Bab 8.
a. Persekutuan Usaha Pada umumnya
Dari apa yang telah dikemukakan di atas dapat
dideskripsikan bahwa subjek hukum atau pengemban
hak dan kewajiban dari suatu persekutuan usaha adalah
orang-orang atau individu-individu. Atau dengan kata
lain persekutuan usaha bukanlah suatu badan hukum.
Ini berarti bahwa dalam persekutuan usaha perikatan
dengan pihak ketiga menjadi tanggung jawab sekutu
atau para sekutu untuk sepenuhnya yaitu tidak hanya
terbatas pada pemasukannya saja dalam persekutuan
akan tetapi sampai harta pribadinya (Pasal 1642 sampai
dengan 1645 KUHPerdata dan Pasal 18 jo. Pasal 19
KUHDagang).

101
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 101

12/12/2012 9:35:04 AM

Dari ketentuan hukum mengenai persekutuan


dengan Firma dikatakan:
Firma adalah suatu persekutuan Perdata (Firma is een
maatschap) yang menjalankan perusahaan di bawah
satu nama bersama (Pasal 16 KUHDagang).
Dari ketentuan ini diketahui bahwa ada persamaan
antara persekutuan dengan Firma dengan Persekutuan
Perdata (maatschap). Dengan perkataan lain
persekutuan dengan Firma hanya dapat kita ketahui
dengan tuntas apabila kita telah mengetahui lebih
dahulu apa yang dimaksud dengan persekutuan perdata
(maatschap).
Perbedaan antara kedua persekutuan usaha terletak
pada persekutuan dengan Firma menjalankan usahanya
dengan nama bersama sedangkan persekutuan perdata
(maatschap) tidak menjalankan usahanya dengan nama
bersama. Jadi apabila ada persekutuan usaha yang
memakai nama Misalnya Fa Ratna Dumilah ini berarti
bahwa usaha itu adalah suatu persekutuan usaha.
Akibat hukum apakah suatu persekutuan usaha
menjalankan usahanya dengan nama bersama atau tidak
adalah terhadap hubungan hukum dengan pihak ketiga.
Dengan menggunakan nama bersama (FA), maka pihak
ketiga mengetahui secara serta merta bahwa ia
berhubungan dengan suatu persekutuan usaha atau
dengan perkataan lain pihak ketiga mengetahui bahwa
pengemban hak dan kewajiban dari counter partnya
adalah lebih dari suatu subjek hukum (Pasal 18
KUHDagang).
Lain halnya dengan persekutuan usaha yang
berbentuk Persekutuan Perdata (maatschap) jenis
persekutuan usaha ini menjalankan usahanya tidak
dengan menggunakan nama bersama sehingga pihak
ketiga tidak mengetahui bahwa counter partnya adalah
suatu persekutuan usaha. Akibatnya maka pengemban
hak dan kewajiban dalam usaha ini hanyalah si sekutu
102
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 102

12/12/2012 9:35:04 AM

yang berhubungan dengan pihak ketiga tersebut kecuali


bila ada pemberian kuasa (Pasal 1542 sampai dengan
Pasal 1645 KUHPerdata).
Bahwa perbedaan antara Persekutuan Perdata
(maatschap) dengan Persekutuan dengan Firma
hanyalah terletak pada hubungan-hubungan hukum
dengan pihak ketiga atau hanya terletak pada masalahmasalah ekstern atau secara a contrario masalahmasalah intern dari masing-masing persekutuan ini
adalah sama. Dengan demikian dapatlah dimengerti apa
sebab dalam ketentuan hukum mengenai persekutuan
usaha dengan Firma sebagaimana diatur dalam
KUHDagang Buku I, Bab III Bagian ke-2 tidak
ditemukan satu ketentuan hukum yang mengatur
hubungan intern para sekutu dari persekutuan dengan
Firma.
Mengenai hubungan intern ini Pasal 16
KUHDagang telah menyatakan adalah sama dengan
Persekutuan Perdata (maatschap). Ini berarti bahwa
ketentuan-ketentuan
hukum
berkenaan
dengan
masalah-masalah intern dari Persekutuan Usaha yang
berbentuk Persekutuan dengan Firma mengacu pada
ketentuan-ketentuan intern dari Persekutuan Usaha
yang berbentuk Persekutuan Perdata (maatschap).
Demikian pula halnya dengan Persekutuan Usaha
yang berbentuk Persekutuan Komanditer (CV).
Perbedaan yang khas antara Persekutuan Usaha ini
dengan Kedua bentuk Persekutuan Usaha (Persekutuan
Perdata dan Persekutuan Dengan Firma) hanya terletak
pada adanya Sekutu Pelepas Uang (Sekutu Komanditer)
di samping sekutu bertanggung jawab (sekutu
komplementer). Dari namanya sudah dapat diketahui
bahwa Sekutu Pelepas Uang bukanlah sekutu
bertanggung jawab. Tanggung jawab yang dimaksud
adalah baik tanggung jawab ekstern maupun tanggung
jawab intern. Satu-satunya tanggung jawab yang ada
103
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 103

12/12/2012 9:35:04 AM

pada Sekutu Pelepas Uang ini (sekutu komanditer)


adalah melunasi uang yang telah disepakatinya untuk
dilepaskan dalam persekutuan. Bila hal ini telah
dilaksanakannya maka yang ada padanya hanyalah hak
atas keuntungan. Oleh karena itu Sekutu Pelepas Uang
juga dikenal dengan sleeping partner (Pasal 20
KUHDagang).
b. Jenis-Jenis Persekutuan Usaha
Bahwa persekutuan usaha ada tiga macam yaitu:
pertama Persekutuan Perdata (Maatschap); kedua,
persekutuan dengan Firma; dan ketiga Persekutuan
Komanditer (CV).
Apa yang dimaksud dengan persekutuan perdata adalah
apa yang dikenal dalam bahasa Belanda dengan
maatschap. Istilah maatschap diartikan sebagai
perseroan, perikatan, persekutuan, perkumpulan,
persekutuan perdata. Istilah mana yang tepatnya
digunakan untuk menggantikan istilah maatschap
sampai saat ini belum terdapat kesepakatan di antara
para pakar Hukum Perdata dan Hukum Dagang.
Bahkan Prof. R. Subekti dalam terjemahan
KUHPerdata
dan
KUHDagang
menggunakan
terjemahan yang berbeda untuk istilah maatschap.
Dalam KUHPerdata maatschap diterjemahkan dengan
istilah Persekutuan sedangkan dalam KUHDagang
maatschap diterjemahkan dengan istilah Perserikatan.
Ketidakkonsistenan dalam menterjemahkan istilah
maatschap ini ditambahkan pula dengan masingmasing istilah tersebut berada dalam kodifikasi yang
berbeda, maka acapkali terjadi pengertian bahwa
ketentuan hukum mengenai Persekutuan dengan Firma
dan Persekutuan Komanditer tidak ada kaitannya
dengan ketentuan hukum mengenai persekutuan
perdata (maatschap) sebagaimana diatur dalam
KUHPerdata. Bahkan ada pendapat yang mengatakan
ketentuan hukum mengenai Persekutuan dengan Firma
104
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 104

12/12/2012 9:35:04 AM

c.

dan Persekutuan Komanditer yang dalam KUHDagang


itu tidak lengkap karena dalam KUHD itu tidak ada
ditemukan ketentuan intern dari persekutuanpersekutuan itu.
Dalam Pasal 16 KUHDagang ketiga bentuk badan
usaha tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua bagian
yaitu; Pertama Persekutuan Usaha tertutup adalah
setiap persekutuan usaha yang tidak memakai nama
bersama yaitu persekutuan perdata (maatschap); kedua,
persekutuan usaha yang terbuka adalah setiap
persekutuan usaha yang menggunakan nama bersama
yakni Persekutuan dengan Firma dan Persekutuan
Komanditer yang mempunyai dua atau lebih sekutu
bertanggung jawab.
Selain itu bila ditinjau dari segi pemasukan/
inbreng/modal maka persekutuan usaha dapat dibagi
dalam dua bagian yaitu (Pasal 1620 KUHPerdata);
pertama persekutuan usaha penuh adalah persekutuan
usaha penuh tentang keuntungan (Pasal 1621 jo. Pasal
1622 KUHPerdata); kedua, persekutuan usaha khusus
adalah persekutuan usaha yang hanya mengenai
barang-barang tertentu saja atau pemakaiannya atau
hasil-hasil yang akan didapatnya dari barang-barang itu
(Pasal 1623 KUHPerdata).
Hubungan intern para sekutu persekutuan usaha
Mengingat bahwa hubungan intern dari ketiga
bentuk badan usaha tersebut mempunyai landasan
hukum yang sama, yaitu Pasal 19 KUHDagang jo.
Pasal 16 KUHDagang jo. Pasal 1618 sampai dengan
Pasal 1652 KUHPerdata kecuali Pasal 1652 sampai
dengan Pasal 1655 KUHPerdata, mengingat bahwa
KUHDagang adalah ketentuan khusus sedangkan
KUHPerdata adalah ketentuan umumnya (Pasal 1
KUHDagang), maka ketentuan hukum intern ini harus
dilihat dalam KUHPerdata khususnya dalam Buku III
Bab VIII.
105

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 105

12/12/2012 9:35:05 AM

1.

2.

3.

Cara Mendirikan
Mendirikan suatu persekutuan usaha tidak
harus dengan suatu akta. Persekutuan usaha sudah
ada sejak adanya kesepakatan (Pasal 1624
KUHPerdata). Artinya bahwa akta pendirian tidak
menjadi syarat untuk adanya suatu persekutuan
usaha. Pasal 11 KUHDagang tidak dapat dijadikan
landasan hukum mengenai cara mendirikan
Persekutuan dengan Firma atau persekutuan
Komanditer. Justru dari pasal ini kita ketahui
bahwa akta pendirian firma tidak menjadi syarat
untuk adanya persekutuan tetapi hanya merupakan
alat bukti akan adanya persekutuan dengan Firma
(Pasal 22 sampai dengan Pasal 29 KUHDagang).
Dalam mengadakan persetujuan untuk
mengadakan Persekutuan usaha dengan sendirinya
ketentuan-ketentuan mengenai syarat sahnya
persetujuan sebagaimana ditur dalam KUHPerdata
(undang-undang tentang hukum perikatan) tidak
dapat diabaikan.
Modal
Modal (inbreng atau pemasukan) persekutuan
usaha didapat dari para sekutu baik berupa uang,
hak, barang, kerajinan ataupun hak untuk
menikmati suatu barang (Pasal 1619 jo. Pasal 1631
KUHPerdata). Sekutu yang lalai menyerahkan
pemasukannya dianggap berutang terhitung sejak
tanggal pemasukkan tersebut seyogianya sudag
harus diserahkan (Pasal 1625 sampai dengan Pasal
1627 KUHPerdata).
Tujuan
Tujuan bersekutuan dalam suatu Persekutuan
Usaha adalah untuk memperoleh keuntungan
bersama. Karenanya para sekutu berkewajiban
untuk mendahulukan kepentingan bersama
daripada kepentingan pribadi sebagai anggota

106
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 106

12/12/2012 9:35:05 AM

4.

5.

6.

sekutu (Pasal 1619 ayat (1) jo. Pasal 1628 sampai


dengan Pasal 1630 KUHPerdata jo. Pasal 16
KUHD).
Pengurus
Persekutuan Usaha diurus oleh anggota sekutu.
Dalam hal untuk pengurusan diangkat seorang atau
lebih sebagai pengurus, maka pengangkatan
pengurus ini dapat ditentukan dalam anggaran
dasar atau dengan akta pengangkatan tersendiri.
Bila pengurus diangkat dalam anggaran dasar maka
pengurus ini mempunyai kekuasaan yang mutlak
yang tidak dapat dicabut kembali kecuali dengan
alasan yang sah, maka wewenang pengurus ini
sama dengan seorang penerima kuasa (Pasal 1636
sampai dengan Pasal 1638 KUHPerdata). Bila
tidak diadakan pengangkatan pengurus, maka para
sekutu dapat melakukan pengurusan dan masingmasing sekutu dianggap secara bertimbal balik
telah memberi kuasa kepada teman sekutunya
untuk melakukan pengurusan (Pasal 1639
KUHPerdata).
Pembagian Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan dan kerugian Persekutuan Perdata
dibagi secara proporsional menurut keseimbangan
dari pemasukkan (inbreng) sekutu masing-masing
kecuali para sekutu sepakat untuk menentukan lain.
Pembagian keuntungan dan kerugian harus
ditentukan bersama oleh semua sekutu kecuali
dalam Persekutuan Komanditer Sekutu Pelepas
uang tidak berhak turut menentukan (Pasal 1633
sampai dengan Pasal1635 KUHPerdata jo. Pasal 20
KUHD).
Berakhirnya Persekutuan Usaha
Persektuan Usaha berakhir dengan:
(a) Lewatnya waktu untuk mana persekutuan telah
diadakan;
107

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 107

12/12/2012 9:35:05 AM

(b) Dengan
musnahnya
barang
atau
diselesaikannya perbuatan yang menjadi
pokok persekutuan;
(c) Atas kehendak semata-mata seorang atau
beberapa anggota sekutu;
(d) Jika salah seorang sekutu meninggal atau
ditaruh di bawah pengampuan atau dinyatakan
pailit (Pasal 1646 sampai dengan Pasal 1652
KUHPerdata).
Untuk Persekutuan Usaha terbuka yaitu
Persekutuan dengan Firma dan Persekutuan
Komanditer berakhirnya persekutuan harus dinayatakan
dengan akta otentik yang didaftarkan dan diumumlkan
(Pasal 30 jo. Pasal 31 KUHD).
d. Hubungan Ekstern Para Sekutu Persekutuan Usaha
Di atas telah dikemukakan bahwa berbagai jenis
Persekutuan Usaha ini mempunyai kesamaan dalam hal
intern. Oleh karenanya hubungan intern dari masingmasing jenis Persekutuan Usaha itu dapat dibahas
sekaligus bersamaan dengan landasan hukum yang
sama. Adalah lain halnya dengan hubungan ekstern.
Perbedaan antara masing-masing jenis persekutuan
usaha terletak pada hubungan Ekstern. Oleh karenanya
hubungan ekstern akan dibahas satu persatu.
1. Yang berhak melakukan hubungan hukum dengan
pihak ketiga (ekstern) atas nama persekutuan,
sebagai berikut:
(a) Persekutuan Perdata (maatschap)
Masing-masing sekutu dapat melakukan
hubungan dengan pihak ke tiga atas nama
persektuan (Pasal 1642 KUHPerdata).
(b) Persekutuan dengan Firma
Hanya sekutu yang tidak dikecualikan yang
dapat mengadakan hukum dengan pihak ketiga
atas
nama
persekutuan.
Jadi
dalam
108
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 108

12/12/2012 9:35:05 AM

2.

Persekutuan dengan Firma tidak tertutup


kemungkinan
adanya
sekutu
yang
dikecualikan untuk dapat mengadakan
hubungan hukum dengan pihak ketiga dan
mengikat pihak ketiga dengan persekutuan
(Pasal 17 KUHD).
(c) Persekutuan Komanditer
Sekutu komanditer tidak dapat melakukan
hubungan hukum dengan pihak ketiga atas
nama persekutuan. Ini berarti sekutu
komanditer dikecualikan untuk mengadakan
hubungan ekstern dengan pihak ketiga atas
nama persekutuan (Pasal 20 ayat (2) KUHD).
Hubungan hukum dengan pihak ketiga
(ekstern) hanya dapat dilakukan oleh sekutu
bertanggung jawab (sekutu komplementer).
Namun demikian dalam hal sekutu
komplementer ada lebih dari satu orang, maka
tidak tertutup kemungkinan diantara sekutu
komplementer tersebut ada sekutu yang
dikecualikan untuk bertindak dengan pihak
ketiga (Pasal 19 ayat (2) jo. Pasal 17 KUHD).
Yang bertangung jawab atas perikatan persekutuan
dengan pihak ketiga (Ekstern)
(a) Persekutuan Perdata (maatschap)
Perikatan Persekutuan dengan pihak ketiga
hanya mengikat sekutu yang membuatnya
tidak mengikat anggota sekutu lainnya kecuali
bila ada pemberian kuasa. Ini berarti bahwa
sekutu hanya bertanggung jawab atas
perikatan persekutuan yang dibuatnya (Pasal
1644 jo. Pasal 1643 KUHPerdata).
(b) Persekutuan dengan Firma
Seluruh Perikatan Persekutuan mengikat
semua anggota sekutu Firma untuk
sepenuhnya secara tanggung menanggung. Ini
109

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 109

12/12/2012 9:35:05 AM

berarti walaupun sekutu firma adalah sekutu


yang
dikecualikan
untuk
mengadakan
hubungan hukum atas nama persekutuan
dengan pihak ketiga tetapi ia tidak
dikecualikan dari tanggung jawab atas
perikatan persekutuan dengan lain perkataan
persekutuan firma yang dikecualikan untuk
mengadakan hubungan hukum dengan pihak
ketiga juga turut bertanggung jawab untuk
sepenuhnya atas perikatan persekutuan yang
tidak dibuatnya secara tangung menanggung
(Pasal 18 KUHD).
(c) Persekutuan Komanditer
Perikatan Persekutuan dengan pihak ketiga
tidak menjadi tanggung jawab sekutu pelepas
uang/Sekutu Komanditer (Pasal 20 ayat (3)
KUHD). Perikatan persekutuan menjadi
tanggung jawab sepenuhnya dari semua sekutu
bertanggung
jawab
secara
tanggung
menanggung (Pasal 19 ayat (2) jo. Pasal 18
KUHD).
2.

Piercing the Corporate Veil


Doktrin Piercing the Corporate Veil: merupakan
doktrin yang mengajarkan bahwa sesungguhnya suatu
badan usaha bertanggungjawab secara hukum hanya
terbatas pada harta badan usaha tersebut, tetapi dalam halhal tertentu batas tanggungjawab tersebut dapat ditembus.
Kasus yang mungkin terjadi atau timbul dalam
kaitannya dengan kegiatan persekutuan yang dapat
mengakibatkan diberlakukannya doktrin piercing the
corporate veil, antara lain:
Pertama, adanya kepentingan yang bertentangan
(internal conflict) antara direksi dan/atau komisaris
terhadap persekutuan; kedua, Direksi dan/atau Komisaris
yang mengambilalih kesempatan yang sebenarnya milik

110
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 110

12/12/2012 9:35:05 AM

persekutuan untuk kepentingan pribadi atau usaha pribadi


(business opportunity).
Oleh karenanya biasanya doktrin piercing the corporate
veil muncul dan diterapkan manakala ada kerugian atau
tuntutan hukum dari pihak ketiga terhadap persekutuan
tersebut.
Adapun kriteria dasar agar prinsip ini dapat diterapkan
adalah:
a. terjadinya penipuan;
b. didapatnya suatu ketidakadilan;
c. terjadinya suatu penindasan (oppression);
d. tidak memenuhi unsur hukum;
e. dominasi pemegang saham yang berlebihan;
perusahaan merupakan alter ago dari pemegang saham
mayoritas.
3.

Ultra Vires
Prinsip ini khususnya dipakai terhadap tindakan
persekutuan yang melebihi kekuasaannya sebagaimana
yang diberikan oleh Anggaran Dasarnya atau peraturan
yang melandasinya pembentukan persekutuan tersebut.
Dalam penerapannya prinsip ini ditafsirkan secara lebih
luas dari sekedar perbuatan di luar lingkup usahanya sesuai
anggaran dasarnya, tetapi juga meliputi perbuatan-perbuatan
sebagai berikut:
a. walaupun tidak dilarang, tetapi melebihi dari kekuasaan
yang diberikan;
b. perusahaan tidak punya untuk itu, atau kalaupun punya
kekuasaan, tetapi kekuasaan tersebut dilaksanakan
secara tidak teratur;
c. perbuatan-perbuatan yang dilakukan atas nama
perusahaan, bukan hanya melebihi kekuasaannya yang
tersurat maupun tersirat dalam anggaran dasarnya,
bahkan juga termasuk perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan ketertiban umum, dan/atau
perbuatan yang dilarang oleh perundang-undangan.
111

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 111

12/12/2012 9:35:05 AM

Sungguhpun
kadang-kadang
perbuatan
yang
bertentangan dengan ketertiban umum, dan/atau
perbuatan yang dilarang oleh perundang-undangan
tersebut tidak lagi termasuk dalam katagori ultra vires,
tetapi digolongkan ke dalam apa yang disebut
perbuatan illegal.
4.

Good Corporate Governance (GCG)


Good Corporate Governance (GCG) merupakan
prinsip dasar pengelolaan perusahaan secara transparan,
akuntabel dan adil. Konsep GCG ini bersifat universal yang
dapat dilaksanakan oleh semua pihak melalui sistem
ekonomi terbuka, dan ekonomi global. Karakter universal
itu pulalah yang menempatkan GCG menjadi indikator
utama maju mundurnya investasi dan perdagangan dalam
negeri maupun perdagangan internasional suatu negara.
Lebih dari pada itu, pelaksanaan GCG akan memberikan
manfaat langsung pada regulasi bisnis sektoral,
pemberdayaan usaha, penilaian kepatutan (compliance
rating), peningkatan minat investasi, minat dagang dan
sebagainya.
a. GCG Belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh
Meskipun sebagian perusahaan berbentuk PP, Fa, CV
telah mempunyai Code for GCG, namun dalam
kenyataan, kinerjanya masih dibawah standar. Hal ini
disebabkan GCG itu belum dilaksanakan secara utuh
dan sungguh-sungguh. Hal ini dapat dilihat dari:
(1) Adanya birokrasi dan pemegang kekuasaan sebagai
pemilik saham terbesar dalam manajemen
perusahaan.
(2) Kurangannya keadilan dalam melaskanakan fit
and proper test.
(3) Tidak berjalannya sangsi hukum terhadap misconduct dan salah prosedur yang menyebabkan
terjadinya penyimpangan.

112
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 112

12/12/2012 9:35:05 AM

b.

c.

(4) Tidak berjalannya sanksi hukum saat terjadi misperformance seperti tidak mencapai target yang
telah disepakati pada kurun waktu tertentu.
Selama bertahun-tahun sistem pertanggungjawaban
jalannya perusahaan tidak jelas dan terbuka. Dalam
upaya meningkatkan pelaksanaan GCG maka perlu
disusun dan dikeluarkan peraturan code of Corporate
Governance yang berada di bawah pembinaannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Di Indonesia corporate governance belum
dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan baik oleh
suatu perusahaan, disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
(1) Tidak adanya kesamaan persepsi akan fungsi dari
ketiga organ perusahaan tersebut (perangkat Rapat
Umum Pemilik Saham, Dewan Direksi dan Dewan
Komisaris).
(2) Seringkali jabatan dianggap hanya merupakan
penghormatan atau kedudukan balas jasa dan
bukan sebagai tugas dan tanggung jawab.
(3) Tidak adanya pemberdayaan hukum dan kepastian
hukum.
(4) Adanya mis-konsepsi mengenai tugas dan
tanggung jawab, hak dan kewajiban karena
terminologi yang disusun sangat bersifat umum
tidak rinci, sehingga sering terjadi mis-interpretasi
dengan penafsiran yang beraneka ragam.
Pentingnya pelaksanaan GCG
Pelaksanaan GCG yang tidak konsisten dan
sungguh-sunguh
merupakan
penyebab
utama
perusahaan tidak dapat bertahan dalam menghadapi
krisis yang melanda
perusahaan-perusahan di
Indonesia.
1. Kebijakan Etika, Apa artinya ?

113
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 113

12/12/2012 9:35:05 AM

2.

Kebijakan GCG merupakan bagian dari suatu


kerangka perilaku yang mencakup, antara lain
Corporate Governance (cara menjalankan Bisnis
secara baik dan Manajemen Risiko (Risk
management), yaitu:
Kebijakan GCG merupakan lingkungan, proses,
dan alat yang membantu suatu organisasi untuk
dapat menangani hal-hal atau permasalahan
sebagai berikut:
(a) Permintaan yang tumbuh untuk menjalankan
bisnis secara baik.
(b) Perhatian publik/pihak luar yang semakin
besar pada etika perusahaan dan akuntabilitas.
(c) Perusahaan yang merupakan target bagi
kelompok-kelompok dan LSM tertentu.
(d) Menjaga reputasi perusahaan yang pernah
terkena kasus yang berkaitan dengan etika.
(e) Keinginan masyarakat agar bisnis yang
dilakukan lebih etis.
(f) Manyadari bahwa dengan menjalankan etika
yang baik akan menjadikan bisnis lebih baik
dalam jangka panjang.
(g) Mencapai suatu kebijakan etika meskipun
berada dalam suatu pemerintahan yang korup.
Kebijakan Etika kapan perlu dilakukan?
Tepat saatnya untuk:
(a) Memberdayakan seluruh karyawan dalam
suatu organisasi untuk mengenali dilema
etika.
(b) Membantu staf/karyawan dan suatu organisasi
untuk mencapai jalan keluar
dalam
menghadapi masalah/dilema mengenai etika.
(c) Berakar dari pengalaman.
Meningkatnya kepedulian akan pentingnya GCG
timbul sebagai akibat krisis ekonomi yang melanda
Indonesia, pengaruh kekuatan globalisasi dan

114
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 114

12/12/2012 9:35:06 AM

perubahan paradigma di dunia usaha. Faktor yang


mendorong
pelaksanaan
GCG
adalah
mengembalikan kepercayaan pihak luar negeri,
reformasi corporate governance sangat ditekankan
oleh lembaga/negara donor dan Code GCG telah
dicanangkan yang bertujuan untuk meningkatkan
nilai perusahaan dan pemilik saham dengan
menjunjung tinggi asas keterbukaan, dapat
dipercaya serta adanya pertanggungjawaban dan
membentuk sistem managerial yang dapat
mendorong dan meningkatkan kreativitas serta
kewirausahaan (enterpreneurship) yang progresif.
5.

CSR (corporate social responsibility) adalah etika moral


atau etika bisnis
CSR (Tanggung Jawab Perusahaan) adalah suatu moral
yang baik dan sangat penting bagi dunia usaha serta baik
bagi masyarakat. CSR persekutuan usaha merupakan
komitmen bisnis perusahaan terhadap kelompok dan
individu dalam lingkungannya yang meliputi konsumen,
karyawan, investor, pemasok dan komunitas lokal.
a. Konsumen
Tanggung jawab perusahaan terhadap konsumen,
terkait dengan:
1. Hak-hak konsumen, seperti:
1.1. Hak atas produk yang aman
1.2. Hak mengetahui seluruh aspek produk
1.3. Hak untuk didengar
1.4. Hak memilih produk yang disukai
1.5. Hak memperoleh informasi pembelian yang
benar, dan
1.6. Hak memperoleh pelayanan yang baik.
2. Penetapan Harga
Perusahaan harus menetapkan harga yang wajar
pada setiap produknya. Kolusi atau kesepakatan
ilegal dari dua atau lebih perusahaan untuk
115

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 115

12/12/2012 9:35:06 AM

b.

c.

bekerjasama dalam tindakan yang salah pada


penetapan harga suatu produk dapat dikenakan
sanksi hukum. Menimbun BBM misalnya, untuk
dijual kembali dengan harga yang lebih mahal
merupakan tindakan ilegal dan melanggar hukum.
3. Etika dalam beriklan
Perusahaan harus memperhatikan kode etik dalam
beriklan maupun dalam informansi produk, juga
menghindari potensi salah interpretasi atas kata
atau ungkapan. Harus dihindari iklan yang
menyesatkan, bias, tidak pada tempatnya, untuk
orang
dewasa,
berbau
pornografi,
atau
mempertontonkan kekerasan.
Karyawan
Tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan, terkait
dengan:
1. Komitmen Hukum dan Sosial
Tanggung jawab hukum dan sosial perusahaan
terhadap karyawan adalah dengan memberi
kesempatan yang sama tanpa memandang jenis
kelamin, suku, dan faktor lain yang tidak relevan.
Perusahaan wajib memberikan perlindungan
hukum terhadap karyawannya terutama dalam
kaitan dengan tugas yang dijalankannya.
2. Komitmen Etis
Manajemen harus dapat menerima dan melakukan
perbaikan ke dalam bila ada karyawan yang
melaporkan ke level manajemen yang lebih tinggi
perihal praktik-praktik ilegal, tidak etis, atau tidak
bertanggungjawab yang dilakukannya, bukan
malah memecat, memutasi, atau menurunkan
pangkat karyawan tersebut.
Stakeholders (pemegang saham/investor)
Tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para
penanam modal adalah menghindari terjadinya:
1. Manajemen finansial yang tidak wajar

116
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 116

12/12/2012 9:35:06 AM

d.

Memberi gaji terlalu besar kepada para manajer,


liburan ke luar negeri dengan fasilitas hotel mahal,
keanggotaan klub-klub mewah, bonus yang di luar
kewajaran, dan penyimpanan manajemen keuangan
lainnya.
2. Insider trading
Merupakan cara memeperoleh keuntungan pribadi
dengan cara memberi informasi rahasia dalam
pembelian atau penjualan saham perushaan kepada
pihak lain.
3. Penyimpangan Laporan keuangan
Adanya laporan keuangan yang tidak sesuai
dengan kondisi sebenarnya, seperti melaporkan
laba jauh di atas pendapatan, atau menutupi
kerugian dalam pembukuannya. Dalam hal ini
status keuangan perusahaan harus sesuai prinsip
legal akuntansi.
4. Cek Kosong
Merupakan tindakan ilegal karena menuliskan cek
kosong padahal dananya belum tersedia di bank
yang dituju saat cek tersebut hendak dicairkan.
Perspektif CSR
Untuk mendorong perilaku etis dan mempromosikan
hubungan yang saling menguntungkan antara
persekutuan usaha dan masyarakat maka perlu
dibangun harapan tentang bagaimana CSR harus
dilaksanakan. Bagaimanapun, antara persekutuan usaha
dan masyarakat masih harus menemukan bagaimana
persisnya harapan itu seharusnya.
Pendekatan CSR dapat digolongkan ke dalam empat
perspektif, yakni:
(1) Minimalis: peusahaan-perusahan yang tidak
mempnyai tanggung jawab sosial di luar
memperoleh uang dan mematuhi hukum.

117
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 117

12/12/2012 9:35:06 AM

(2) Sinis: perusahaan-perusahaan menggunakan CSR


sebagai cara pemasaran untuk
mengalihkan
perhatian dari perilaku pemusatan diri sendiri.
(3) Bertahan: perusahaan-perusahaan menggunakan
CSR ketika mereka malu atau justru memaksanya.
(4) Berhati-hati: Perusahaan-perusahaan memiliki
tanggung jawab untuk membantu masyarakat di
luar membayar pajak dan mematuhi hukum.
B.

Persekutuan Usaha Dalam Menerapkan Prinsip Good


Corporate Governance
1. Penerapan Good Corporate Governance (GCG) Yang
Dihadapi Persekutuan Perdata (PP), Firma dan
Persekutuan Komanditer (CV) di Indonesia
Penerapan Good Corporate Governance yang dihadapi
oleh persekutuan usaha (Persekutuan Perdata, Firma dan
Persektuan Komanditer (CV)) di Indonesia dapat dianalisis
sebagai berikut:
a. GCG Belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh
Meskipun sebagian perusahaan berbentuk PP, Fa,
CV telah mempunyai Code for GCG, namun dalam
kenyataan, kinerjanya masih di bawah standar. Hal ini
disebabkan GCG itu belum dilaksanakan secara utuh
dan sungguh-sungguh. Hal ini dapat dilihat dari:
(1) Adanya birokrasi dan pemegang kekuasaan sebagai
pemilik saham terbesar dalam manajemen
perusahaan.
(2) Keuangannya keadilan dalam melaskanakan fit
and proper test.
(3) Tidak berjalannya sanksi hukum terhadap misconduct dan salah prosedur yang menyebabkan
terjadinya penyimpangan.
(4) Tidak berjalannya sanksi hukum saat terjadi misperformance seperti tidak mencapai target yang
telah disepakati pada kurun waktu tertentu.

118
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 118

12/12/2012 9:35:06 AM

Selama bertahun-tahun sistem pertanggungjawaban jalannya perusahaan tidak jelas dan terbuka.
Dalam upaya meningkatkan pelaksanaan GCG maka
perlu disusun dan dikeluarkan peraturan Code of
Corporate Governance yang berada di bawah
pembinaannya.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Di Indonesia corporate governance belum
dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan baik oleh
suatu perusahaan, disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
(1) Tidak adanya kesamaan persepsi akan fungsi dari
ketiga organ perusahaan tersebut (perangkat Rapat
Umum Pemilik Saham, dewan Direksi dan Dewan
Komisaris).
(2) Seringkali jabatan dianggap hanya merupakan
penghormatan atau kedudukan balas jasa dan
bukan sebagai tugas dan tanggung jawab.
(3) Tidak adanya pemberdayaan hukum dan kepastian
hukum.
(4) Adanya mis-konsepsi mengenai tugas dan
tanggung jawab, hak dan kewajiban karena
terminologi yang disusun sangat bersifat umum
tidak rinci, sehingga sering terjadi mis-interpretasi
dengan penafsiran yang beraneka ragam.
c. Pentingnya pelaksanaan GCG
Pelaksanaan GCG yang tidak konsisten dan
sungguh-sungguh
merupakan
penyebab
utama
perusahaan tidak dapat bertahan dalam menghadapi
krisis yang melanda perusahaan di Indonesia.
1. Kebijakan GCG, Apa artinya?
Kebijakan GCG merupakan bagian dari suatu
kerangka perilaku yang mencakup, antara lain
Corporate Governance (cara menjalankan Bisnis
secara baik dan Manajemen Risiko (Risk
management), yaitu:
119
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 119

12/12/2012 9:35:06 AM

2.

Kebijakan GCG merupakan lingkungan, proses,


dan alat yang membantu suatu organisasi untuk
dapat menangani hal-hal atau permasalahan
sebagai berikut:
(a) Permintaan yang tumbuh untuk menjalankan
bisnis secara baik.
(b) Perhatian publik/pihak luar yang semakin
besar pada etika perusahaan dan akuntabilitas.
(c) Perusahaan yang merupakan target bagi
kelompok-kelompok dan LSM tertentu.
(d) Menjaga reputasi perusahaan yang pernah
terkena kasus yang berkaitan dengan etika.
(e) Keinginan masyarakat agar bisnis yang
dilakukan lebih etis.
(f) Manyadari bahwa dengan menjalankan etika
yang baik akan menjadikan bisnis lebih baik
dalam jangka panjang.
(g) Mencapai suatu kebijakan etika meskipun
berada dalm suatu pemerintahan yang korup.
Kebijakan GCG kapan perlu dilakukan?
Tepat saatnya untuk:
(a) Memberdayakan seluruh karyawan dalam
suatu organisasi untuk mengenali dilema
etika.
(b) Membantu staf/karyawan dan suatu organisasi
untuk mencapai jalan keluar
dalam
menghadapi masalah/dilema mengenai etika.
(c) Berakar dari pengalaman.
Meningkatnya kepedulian akan pentingnya GCG
timbul sebagai akibat krisis ekonomi yang melanda
Indonesia, pengaruh kekuatan globalisasi dan
perubahan paradigma di dunia usaha. Faktor yang
mendorong
pelaksanaan
GCG
adalah
mengembalikan kepercayaan pihak luar negeri,
reformasi
corporate
governanace
sangat
ditekankan oleh lembaga/negara donor dan Code

120
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 120

12/12/2012 9:35:06 AM

GCG telah dicanangkan yang bertujuan untuk


meningkatkan nilai perusahaan dan pemilik saham
dengan menjunjung tinggi asas keterbukaan, dapat
dipercaya serta adanya pertanggungjawaban dan
membentuk sistem managerial yang dapat
mendorong dan meningkatkan kreativitas serta
kewirausahaan (enterpreneurship) yang progresif.
2.

Corporate Social Responsibility Persekutuan Usaha


a. Tanggung Jawab Sosial Persekutuan Usaha
Terhadap Karyawan
Secara normatif sesungguhnya di Indonesia standar
perlindungan bagi tenaga kerja telah diatur dalam BAB
X Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (Undang-Undang Ketenagakerjaan).
Dalam undang-undang ini secara rinci disebutkan pada
Pasal 67 sampai dengan Pasal 101.
Jika dikaitkan dengan konsep CSR sebagai
improving the equality of life of the workforce and their
families, maka peraturan perundang-undangan tentang
tenaga kerja di Indonesia dapat dikatakan telah
memenuhi kriteria tersebut. Walaupun masih terbatas
hanya pada kesehatan keluarga pekerja saja dan belum
menyentuh persoalan kebutuhan dasar lainnya seperti:
pendidikan dan tempat tinggal yang layak. Artinya,
konsepsi CSR dalam ruang lingkup ketenagakerjaan
secara
parsial
telah
diatur
dalam
hukum
ketenagakerjaan di Indonesia.
Selain itu hak pekerja juga diatur dalam UndangUndang Nomor 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial
Tenaga Kerja (Undang-Undang Jamsostek). Pasal 1
angka 1 Undang-Undang Jamsostek menyebutkan:
Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu
perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk
santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian
dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan
121

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 121

12/12/2012 9:35:06 AM

pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan


yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan
kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal
dunia.
Ruang lingkup jaminan sosial tenaga kerja
(Jamsostek) dalam Pasal 6 disebutkan:
a) Ruang lingkup program jaminan sosial tenaga kerja
dalam undang-undang meliputi:
1) Jaminan Kecelakaan Kerja;
2) Jaminan Kematian;
3) Jaminan Hari Tua;
4) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.
b) Pengembangan program jaminan spasial tenaga
kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Dipertegas dalam Pasal 7 bahwa:
(1) Jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana
dimaksud dalam pasal 6 diperuntukkan bagi
tenaga kerja.
(2) Jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 huruf d berlaku pula
untuk keluarga tenaga kerja.
b. Tanggung Jawab Sosial Persekutuan Usaha
Terhadap Stakeholder
Untuk itu, dalam penelitian ini perlu diberi batasan
mengenai stakeholder sebagai pihak-pihak eksternal
yang ikut mempengaruhi jalannya korporasi. Pihakpihak tersebut baik langsung maupun tidak langsung
mempunyai hubungan hukum baik secara kontraktual
maupun karena undang-undang dengan korporasi, yaitu
konsumen dan mita kerja.
a) Konsumen
Beberapa hak konsumen dari Consumers Bill
of Right 1962 tersebut, telah mengilhami bagi
pengaturan hak konsumen di Indonesia. Jika
122
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 122

12/12/2012 9:35:07 AM

diamati dari Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (Undang-Undang Konsumen), pada
pasal 4 menyebutkan Hak Konsumen sebagai
berikut:
a) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa;
b) Hak untuk memilih barang dan jasa serta
mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai
dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan
yang dijanjikan;
c) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang dan
jasa;
d) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya
atas barang dan atau jasa yang digunakan;
e) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;
f) Hak untuk mendapat pembinaan dan
pendidikan konsumen;
g) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara
benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti
rugi dan atau penggantian, apabila barang dan
jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i) hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
Untuk memperlancar hak-hak konsumen
tersebut di atas, konsumen juga mempunyai
tanggung jawab dan kewajiban. Menurut Adela
Cortina ada tiga nilai yang penting yang menjadi
tanggung jawab konsumen, yaitu: (1) tanggung
jawab pada dirinya sendiri; (2) tanggung jawab
123
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 123

12/12/2012 9:35:07 AM

untuk berpartisipasi mempengaruhi konsumen


lainnya (terhadap adanya produk yang merugikan),
dan; (3) tanggung jawab untuk berpartisipasi
mempengaruhi lembaga terkait, baik level lokal
maupun global.
Dari Undang-Undang Konsumen juga memuat
kewajiban dan tanggung jawab dari produsen. Pada
Pasal 19 ayat (1) menyebutkan:
Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan
ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau
kerugian konsumen akibat mengkonsumsi
barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
Kewajiban untuk bertanggung jawab kepada
konsumen tersebut didasarkan pada tiga prinsip
tanggung jawab, yaitu: (1) tanggung jawab mutlak
(absolut/strict liability); (2) tanggung jawab
berdasar kesalahan (fault liability) dan; (3)
tanggung jawab berdasar kontraktual (contractual
liability). Dari ketiga prinsip tanggung jawab
tersebut, absolut/strict liability, adalah salah satu
bentuk kemajuan bagi perlindungan konsumen,
karena unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh
konsumen, tetapi menjadi tanggung jawab
produsen.
b) Mitra Kerja (Rekanan, Kreditor, Supplier)
Dalam pertanggungjawaban CSR, hubungan
antara prinsipal dengan perusahan lokal sebagai
supplier ataupun rekanan, tidak saja berdiri di atas
klausul kontrak dan perhitungan ekonomi saja.
Namun persoalan dampak sosial ekonomi juga
harus dipertimbangkan. Sebab bagaimanapun
korporasi akan melakaukan efisiensi dengan
mencari biaya semurah-murahnya dengan hasil
sebanyak-banyaknya untuk mampu mengambil
posisi dalam kompetisi. Tanggung jawab terhadap
124
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 124

12/12/2012 9:35:07 AM

keryawan sepenuhnya secara hukum berada di


pundak perusahaan rekanan dan supplier. Strategi
ini bukannya tanpa dalih, sebab Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
memberikan kesempatan untuk dilakukannya
outsourcing?
Pasal
64
Undang-Undang
Ketenagakerjaan menyebutkan:
Perusahaan dapat menyerahkan sebagian
pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
lainnya melalui perjanjian pemborongan
pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh
yang dibuat secara tertulis.
Sementara itu dalam Pasal 66 ayat (2) huruf c
disebutkan:
Perlindungan upah dan kesejahteraan, syaratsyarat kerja, serta perselisihan yang timbul
menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia
jasa pekerja/buruh.
Ketentuan inilah yang membuat perusahaan
pengguna (dalam hal ini korporasi besar atau
investor asing), dengan mudah serta tanpa
melawan hukum dapat menghentikan kontrak kerja
sama dengan perusahaan penyedia (perusahaan
lokal) tanpa memperdulikan nasib tenaga kerjanya.
Akibat hukum dari transaksi bisnis korporasi
seperti di atas harus memperhatikan kepentingan
pihak mitra usaha. Sebab, bisnis, selain dari
hubungan hukum adalah didasarkan pada prinsip
kepercayaan (trust). Kondisi beralihnya segala
hubungan kontraktual dengan pihak lain, harus
pula dikondisikan bagi mitra usaha untuk
membangun kepercayaan dengan rekanan bisnis
barunya.

125
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 125

12/12/2012 9:35:07 AM

c.

C.

Tanggung Jawab Sosial Persekutuan Usaha


Terhadap Masyarakat Umum
Pendekatan community develoment merupakan satu
bentuk CSR yang lebih banyak didorong oleh motivasi
kewarganegaraan, meskipun pada beberapa aspek lain
masih diwarnai oleh motivasi filantropis. Oleh karena
itu sebagai good corporate cirizenship, korporasi harus
ikut mengambil peran dalam membantu persoalan
sosial.
Ada beberapa objek Program Kerja Bina
Lingkungan (PKBL) dalam bentuk beberapa macam,
seperti (1) bantuan korban bencana alam; (2) bantuan
Pendidikan dan atau pelatihan; (3) bantuan peningkatan
kesehatan; (4) bantuan pengembangan prasarana dan
sarana umum; (5) bantun sarana ibadah; dan (6)
bantuan pelestarian alam.

Peluang dan Kendala Persekutuan Usaha Dalam


Menghadapi Globalisasi
1. Peluang
Dari uraian di depan dapat dipahami dan dimengerti
bahwa arus globalisasi tidak dapat lagi dihindari dan perlu
dihadapi secara sungguh-sunguh. Salah satu upaya yang
perlu ditempuh adalah melalui pembentukan jaringan usaha.
Masalahnya sekarang adalah jaringan usaha yang
bagaimana yang harus dibentuk. Sebagai pisau analisis
dapat dikaji apakah manfaat dari pembentukan jaringan
usaha dapat diharapkan untuk membantu memecahkan
kesulitan persekutuan usaha dibidang ekonomi di Indonesia,
antara lain sebagai berikut:
a.

Jaringan Usaha
Jaringan usaha dapat dideskripsikan sebagai suatu
bentuk organisasi di bidang ekonomi yang
dimanfaatkan untuk mengatur koordinasi serta
mewujudkan kerja sama antar unsur dalam organisasi.

126
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 126

12/12/2012 9:35:07 AM

b.

c.

Unsur-unsur tersebut pada umumnya berupa unit usaha.


Dapat juga berupa non unit usaha, tetapi merupakan
unsur
dalam
rangkaian
yang
memfasilitasi
penyelenggaraan unit usaha.
Manfaat
terciptanya
jaringan
usaha
bagi
perkembangan dunia usaha diyakini sangat besar,
bahkan ada yang berani menentukan sebagai sangat
dominan. Oleh sebab itu, diperlukan suatu
pengembangan jaringan usaha baik bagi perusahaan
besar, menengah maupun kecil yang pada hakikatnya
merupakan
salah
satu
bagian
dari
upaya
penyelengaraan lingkungan usaha yang kondusif.
Bentuk Jaringan Usaha
Bentuk jaringan usaha dapat didirikan untuk
kepentingan produksi, pemasaran, maupun pelayanan.
Untuk kepentingan produksi, jaringan semacam ini
melibatkan usaha-usaha yang bergerak dalam rangkaian
kebelakang untuk maksud mewujudkan atau
membentuk berbagai fasilitas yang mendukung
kegiatan produksi seperti misalnya: penyediaan bahan
baku dan bahan pembantu, penyedian tenaga kerja
tingkat bawah, menengah sampai dengan tingkat atas,
penyediaan modal, baik modal kerja maupun modal
investasi, penyediaan mesin dan peralatan proses
produksi, penyediaan lahan bagi pengembangan usaha.
Tujuan Jaringan Usaha
Tujuan utama suatu perusahaan/persekutuan
melibatkan diri dalam suatu jaringan usaha lebih
bersifat jangka panjang, yaitu mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan melalui peningkatan
daya saing. Pada umumnya aturan-aturan yang
mengatur tentang jaringan usaha bersifat fleksibel dan
tidak selalu dalam bentuk formil. Bahkan lebih terkesan
bersifat informal. Hal ini dimungkinkan, mengingat
kondisi yang dihadapi tidaklah selalu sama sepanjang
waktu, dan karena itu sifat saling percaya di antara para
127

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 127

12/12/2012 9:35:07 AM

anggota jaringan usaha perlu terus dipelihara dengan


baik.
Syarat-syarat kelangsungan keberadaan jaringan
usaha antara lain sebagai berikut: (a) adanya disiplin
kuat diantara semua pihak yang berkepentingan dalam
melaksanakan kerja sama yang telah disepakati, (b)
adanya kejujuran yang sungguh-sungguh diantara pihak
terkait dalam membawakan kesepakatan, (c) timbulnya
sikap saling percaya, (d) sikap kesungguhan dalam
menangani segala pekerjaan yang menjadi tanggung
jawabnya, (5) Adanya tekad kuat untuk meraih
kemajuan dalam kebersamaan, (6) Mengedepankan
sikap transparansi dalam setiap tindakan yang
melibatkan kepentingan bersama, dan (7) Berusaha
kuat menangani setiap masalah dan perbedaan demi
kepentingan bersama.
2.

Kendala
Ancaman globalisasi tersebut akan semakin
mempersulit perkembangan kegiatan persektuan usaha yang
pada gilirannya akan mempersulit juga pertumbuhan
ekonomi Indonesia, mengingat selama ini ditingkat
perdagangan dalam negeri dan luar negeri, daya saing
Indonesia sangatlah rendah.
a.

Daya saing
Ada empat unsur penting sebagai penentu suatu
negara/perusahaan/persekutuan dapat memenangkan
persaingan untuk meraih daya saing tinggi yaitu:
(a) kondisi faktor produksi
(b) Kondisi permintaan dan tuntutan mutu dalam
negeri
(c) Eksistensi industri pendukung
(d) Kondisi persaingan strategis dan struktur
organisasi.

128
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 128

12/12/2012 9:35:07 AM

Unsur yang keempat ini memegang kunci artinya,


kalau unsur keempat ini telah berhasil dicapai, maka
unsur-unsur yang lain akan relatif lebih mudah digapai,
sehingga keunggulan dapat diraih relatif lebih cepat.
Disinilah jaringan usaha menempati posisi penting
dalam menentukan positioning.
b.

Kondisi Ekonomi
Bahwa kondisi ekonomi dan non-ekonomi
Indonesia masih mengalami kelemahan. Kelemahan ini
dapat dilihat pada banyak hal seperti: tingginya beban
utang luar negeri, rendahnya mutu sumber daya
manusia, terbatasnya jumlah untrepreneur dalam
negeri. Lebih memprihatinkan lagi bahwa dukungan
pemerintah selama ini justru menimbulkan bukan saja
distorsi yang menghambat pertumubuhan persektuuan
usaha yang bekerja
secara efisien tetapi juga
pemborosan dana dan tenaga dan korupsi.

c.

Adanya Kelemahan
Beban kepincangan tersebut semakin tampak dan
terasa, kalau diperhatikan kegiatan persekutuan usaha
sebagai berikut: (1) nilai kapital relatif kecil, lambat
melakukan ekspansi dan modal sering terpakai untuk
kebutuhan rumah tangga; (2) usahanya lebih banyak
dilakukan secara mandiri, lemah latar belakang bisnis,
maupun akademis, lemah kaderisasi dan kurang
wawasan perkembangan, (3) rentan terhadap pesaing,
pasif dan tanpa integritas dalam fungsi-fungsi
manajemen; (4) teknologi sarana produksinya sering
out up to date; (5) mengalami banyak kendala dalam
menembus pasar; (6) produktivitas rendah; (7) kuatnya
kepercayaan bahwa bisnis adalah tanggung jawab
individu, tidak menyadari pentingnya organisasi serta
sulitnya mengorganisir mereka mengingat lokasi
tersebar dalam wilayah yang luas.
129

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 129

12/12/2012 9:35:07 AM

Berbagai kelemahan tersebut dapat secara langsung


atau tidak langsung mempengaruhi posisi persekutuan
usaha dalam menghadapi globalisasi. Pertanyannya
adalah bagaimana caranya untuk mengatasi kelemahan
tersebut, jawaban langsung dan sederhananya adalah
memperbaiki setiap kelemahan tersebut. Tetapi dalam
praktik tidaklah mudah melaksanakannya. Yang
pertamakali dituntut adalah niat dan kesungguhan
political will dari pemerintah termasuk di dalamnya
political will dari pihak legislatif.
Dengan political will itu, segala jalan dan fasilitas
yang dibutuhkan adalah sikap warga masyarakat untuk
memberikan respon positif terhadap political will
tersebut. Dalam pelaksanaanya, warga masyarakat akan
selalu siap sedia memberikan respon positif, kalau
warga masyarakat yakin bahwa pemerintah dan
legislatif sungguh-sungguh dalam penanganan.
Terakhir yang dituntut adalah pelaskanaan demokrasi
yang berpihak kepada rakyat secara keseluruhan bukan
demokrasi berpihak kepada elit tertentu.
d.

Kebijakan
Ancaman/tantangan yang dihadapi terlalu banyak
variasinya baik di bidang ekonomi, politik, sosial, dan
budaya. Ancaman yang paling serius adalah perilaku
pengusaha Indonesia dalam persaingan usaha seperti,
pembajakan buku, lagu, film, pemalsuan merek,
pemalsuan barang dan sebagainya. Ancaman lain di
bidang ekonomi datang dari pemerintah seperti
kebijakan di bidang ekonomi yang sering bersifat
kontradiktif satu terhadap yang lain, seperti kasus
subsidi bahan bakar, yang dalam pelaksanaannya justru
dinikmati orang kaya. Begitu juga program
pembenahan di sektor perbankan yang justru uang
rakyat untuk membantu orang kaya.

130
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 130

12/12/2012 9:35:07 AM

e.

Hukum
Ancaman di bidang hukum terasa serius dalam hal
lemahnya perlindungan hukum, lemahnya lembaga
peradilan, dan lembaga kejaksaan. Pelanggaran hak
intelektual yang semakin marak, dan
tantangan
persaingan dari luar ngeri. Untuk mengurangi berbagai
ancaman tersebut, perlu dituntut hal yang sama dengan
melakukan pembenahan di berbagai bidang.

131
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 131

12/12/2012 9:35:08 AM

132
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 132

12/12/2012 9:35:08 AM

BAB V
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
untuk menjawab tiga permasalahan pokok, sebagai berikut:
1. Pada prinsipnya pengaturan hukum mengenai Firma, CV,
Persekutuan Perdata masih memadai untuk kebutuhan
pelaku usaha, yaitu:
(a) Dasar pengaturan Firma diatur dalam Pasal 16 - 35
KUHD, sementara Pasal 19, 20, dan 21 adalah aturan
untuk persekutuan komanditer. Pasal 19 (a) KUHD
mengatur bahwa persekutuan komanditer, didirikan atas
satu atau beberapa orang yang bertanggung jawab
secara pribadi untuk keseluruhan dengan satu atau
beberapa orang pelepas uang. Selanjutnya Pasal 23
KUHD mewajibkan pendiri Firma mendaftarkan akta
pendiriannya kepada panitera pengadilan negeri yang
berwenang. (Pasal 24 KUHD)
(b) Tidak ada pengaturan khusus bagi CV, sehingga
pendirian CV sama dengan pendirian Firma. CV bisa
didirikan secara lisan (diatur dalam Pasal 22 KUHD).
Pada praktiknya di Indonesia telah menunjukkan suatu
kebiasaan bahwa orang mendirikan CV berdasarkan
akta notaris (otentik) yang didaftarkan di kepaniteraan
pengadilan negari yang berwenang dan diumumkan
dalam Tambahan Berita Negara RI (Pasal 28 KUHD).
(c) Persekutuan Perdata adalah perjanjian antara dua orang
atau lebih yang mengikat diri untuk memasukkan
sesuatu (inbreng) ke dalam persekutuan yang diperoleh
karenanya. Adapun dasar hukum persekutuan perdata
diatur dalam Pasal 1618 sampai dengan 1652
KUHPerdata.
2. Ketiga bentuk persekutuan usaha belum sepenuhnya
menerapkan prinsip good corporate governance dan
133

BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 133

12/12/2012 9:35:08 AM

3.

B.

Corporate Social Responsibility disebabkan belum adanya


kewajiban dan kejelasan pengaturan yang ada mengenai
good corporate governance dan Corporate Social
Responsibility di samping masih lemahnya pelaku usaha
dalam menerapkan etika bisnis.
Globalisasi harus dihadapi secara efektif dan efisien oleh
pelaku usaha dengan meningkatkan peluang usaha yaitu
membentuk jaringan usaha besar, menengah, dan kecil yang
bersifat jangka panjang dengan melibatkan semua pihak
yang berkepentingan untuk mengantisipasi kendala yang
mungkin akan terjadi.

Saran
1. Pemerintah perlu segera mengeluarkan peraturan
perundang-undangan yang mengatur Persekutuan Perdata,
Firma, dan Comanditaire Vennoottschap (CV), sebagai
bagian integral dari kegiatan ekonomi rakyat yang
mempunyai kedudukan, peran, dan potensi yang strategis
untuk mengatur tanggung jawab hukumnya agar dapat
dijadikan acuan bagi pihak yang berkepentingan secara
efektif, tepat, terukur, guna mewujudkan struktur
perekonomian nasional yang berdasarkan demokrasi
ekonomi.
2. Perlu adanya sanksi yang tegas terhadap persekutuan usaha
yang tidak menerapkan good corporate governance dan
Corporate Social Responsibility terhadap pelaku bisnis
yang mencermati lingkungan hidup masyarakat di sekitar
daerah operasinya.
3. Pemerintah perlu memberikan kebijakan, perlingdungan
dan kemudahan yang lebih kondusif dalam pembuatan
perizinan bagi pelaku bisnis dengan biaya murah dan cepat
dalam menghadapi globalisasi.

134
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 134

12/12/2012 9:35:08 AM

DAFTAR KEPUSTAKAAN
A.

Buku
Dhaniswara K. Harjono, Pembaharuan Hukum Perseroan
Terbatas Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas, (Jakarta: PPHBI, 2008).
Dian Ediana Rae, Transaksi Derivatif dan Masalah
Regulasi Ekonomi Indonesia (Jakarta: Penerbit PT Elex Media
Komputindo Kompas Gramedia, 2002).
Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, Bandung:
Penerbit PT Citra Aditya Bhakti, 2003.
I.G. Ray Widjaya, Hukum Perusahaan, Jakarta: Penerbit
Kesaint Blanc, 2000.
Mukti Fajar ND, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Di
Indonesia, Penerbit: Pustaka Pelajar, 2010.
Mulhadi, Hukum Perusahaan Bentuk-Bentuk Badan
Usaha di Indonsia, Penerbit: Ghalia Indonesia, 2010.
H. Syahrin Naihasy, Hukum Bisnis (Business Law),
Penerbit: Mida Pustaka, 2005.
Mahmud Thoha, Globalisasi Krisis Ekonomi dan
Kebangkitan ekonomi Kerakyatan, Penerbit: PT Pustaka
Quantum, 2002.
Soerjono, Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum
Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Edisi 1. Cet. V (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2001).

135
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 135

12/12/2012 9:35:08 AM

Siswanto Sutojo dan E. John Aldridge, Good Corporate


Governanace, Tata kelola Perusahaan yang Sehat, Penerbit:
PT. Damar Mulia Pustaka. 2005.
B.

Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Wajib Daftar
Perusahaan

136
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 136

12/12/2012 9:35:08 AM

Susunan Personalia Tim


Berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia Nomor: PHN.1-01.LT.01.05 Tahun 2010 tentang
Pembentukan Tim Penelitian Hukum Badan Pembinaan Hukum
Nasional Tahun Anggaran 2010, tertanggal 19 Januari 2010, tim
penelitian ini dengan susunan pelaksana sebagai berikut:
Ketua
Sekretaris
Anggota

: Drs. Ulang Mangun Sosiawan, M.H.


: Tongam Renikson Silaban, S.H., M.H.
: 1. Marulak Pardede, S.H., M.H., APU.
2. H. Ady Kusnadi, S.H., M.H., C.N.
3. Hj. Ida Padmanegara, SH, MH.
4. Mosgan Situmorang, S.H., M.H.
5. Syprianus Aristeus, S.H., M.H.
6. Heri Setiawan, S.H., M.H.
7. Wiwiek, S.Sos.
Staf Sekretariat:
1. Adharinalti, S.H., M.H.
2. Hartono

137
BUKU 8 LANGSUNG_REVIS_PROOF 3.indd 137

12/12/2012 9:35:08 AM