Anda di halaman 1dari 123

1

KITAB TAFSIR PERIODE KLASIK


(ABAD III Tahun 656 H. /IX XIII M.)

1.

Tafsir Mujhid Bin Jubair al-Makhzumi alTbi'iy. W. 104 H. (bercampur dengan riwayat
hadits).
a. Nama tafisr:
Tafsir Mujahid
b. Pengarang:
Mujahid ibvn Jabr al-Makky
c. Keberadaan tafsir:
1. Mujahid adalah murid Ibnu Abbas yang paling
sedikit meriwayatkan tafsir darinya
2. Tafsir Mujahid banyak dinukil oleh Bukhary
dalam kitab tafsirnya
3. Kitab tafsir ini hanya merupakan penjelasan
bahasa terhadap beberapa ayat al-Quran
serta penjelasan tentang istimbath hukum
fiqh
4. Kitab ini dicetak oleh percetakan: almansyurat al-Ilmiyah Bairut dengan jumlah
2 jilid atas tahqiq Abdurrahman Thahir
Muhammad
al-Suraty.
Juga
ditahqiq
Muhammad Abdus Salam Abu Nubail)

2.

Tafsir Yazid Bin Harun al-Sullamiy. W. 117 H.


(bercampur dengan riwayat hadits).
(tafsirnya terdapat dalam riwayat shahihain, Abi
Daud, al-Nasaiy, Tirmidzy, Ibnu Majah, al-Darimy,
Musnad Ahmad, Shahih Ibnu Huzaimah, Shahih Ibnu
Hibban, mustadrak al-Hakim)

3.

Tafsir Ibnu Juraij. W. 150 H. (bercampur


dengan riwayat hadits)
(Tafsirnya terdapat dalam riwayat Shahihain, Abi
Daud, al-Nasaiy, Tirmidzy,
al-Darimy, Musnad
Ahmad, Shahih Ibnu Huzaimah, Shahih Ibnu Hibban,
mustadrak al-Hakim)
Nama kitab:
Tafsir Ibnu Juraij
Pengarang:
Abu al-Walid Abdul Malik bin Abdul Aziz bin
Juraij.
Keberaan kitab
Kitab ini merupakan kitab tafsir bi al-matsur
yang diambil dari hadits nabi dan riwayat sahabat,
selalin itu terdapat pula penejelsan asbab nuzul,
penjelsan nasakh mansukh, Qiraat dan lain-lain
terkait dengan istimbath yang dilakukan oleh ibnu
Juraij. Pada umumnya penafsiran lebih banyak
hanya mwerupakan penafsiran arti kebahasaan saja.
Walaupun kitab ini menjelaskan semua surat yang
ada dalam mushaf, namun tidak semua ayat dalam
surat tersebut ditafsirkan. Penafsiran hanya
beberapa ayat saja.
Tafsir ini dicetak oleh maktabah al-Turats alislamy, kairo dengan tahqiq Ali Hasan Abdul Ghany.
Dengan jumlah hanya 1 jilid.

4.

Tafsir Muqatil Bin Sulaiman Bin Basyir alArdiy al-Khurasani. W. 150 H.


a. Nama kitab:
tafsir Muqatil
b. Pengarang:
Imam Muqatil bin Sulaiman al-Azdy

c. Keberadaan Kitab:
1. kitab ini merupakan kitab terpenting dalam
penjelasan al-Quran dan merupakan kitab
yang pertama kali secara lengkap membahas
semua ayat-ayat al-Quran
2. Kitab ini susunannya mudah sehingga sangat
membantu memehami ayat-ayat al-Quran
3. kitab ini dicetak oleh percetakan Dar al-kutub
al-Ilmiyah Bairut Lebanon dengan jumlah 3
jilid. Dengan tahqiq Ahmad Farid
5. Tafsir Syu'bah Bin al-Hajjaj.
(bercampur dengan hadits)

W.

160

H.

6. Tafsir al-Tsaury, karya Imam Abu Abdillah,


Sufyan Bin Sa'id Bin Masruq al-Tsaury al-Kufy.
W. 161 H. (bercampur dengan hadits)
Nama kitab
Tafsir Sufyan al-Tsaury
Pengarang:
Abu Abdillah bin Said bin Masyruq al-Tsaury
al-Kufy
Keberadaan tafsir:
Kitab ini berupa penjelasan imam al-Tsaury
tentang penafsirannya terhadap ayat-ayat alQuran, tidak semua ayat al-Quran ditafsirkan
dalam kitab ini. Penafsiran hanya terbatas pada
adanyaa pendapat sufyan terkait dengan ayat yang
ditafsirkan. Riwayat dalam kitab ini berasal dari
Muhammad dari Abi Hudzaifah al-Nahdy.
Kitab ini dicetak oleh dar al-kutub al-Ilmiyah
pada tahun 1403 H./ 1983 dengan jumlah satu jilid.
7.

Tafsir Waki' Bin al-Jarrah.


(bercampur dengan hadits).

W.

197

H.

8.

Tafsir Sufyan Bin Uyainah.


(bercampur dengan hadits).

W.

198

H.

a. Nama Kitab:
Tafsir Sufyan ibn Uyainah
b. Pengarang:
Ahmad Shalih Muhabiry
c.

9.

Keberadaan Kitab:
1. Kitab ini dicetak oleh Maktabah al-Islamy li
al-Nasyr Lebnanon berjumlah 1 jilid
2. dan seterusnya

Tafsir Yahya Bin Salam al-Tamimiy al-Bashry.


W. 200 H. Bercampur dengan hadits)
a.

Nama Tafsir:
tafsir Yahya Bin Salam al-Tamimiy

b.

Pengarang:
Yahya Bin Salam al-Tamimiy al-Bashry. W. 200

H.
c.

Keberadaan tafsir:

10. Tafsir Ruh Bin Ubadah al-Bashry. W. 205 H.


(bercampur dengan hadits)
11. Tafsir al-Farra`. W. 207 H.
12. Tafsir Abdurrazaq Bin Hammam al-Sanany.
W. 211 H. (bercampur dengan hadits).
a. Nama Tafsir:
Tafsir Abd al-Razaq al-Shanany
b. Riwayat Hidup Pengarang

Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Abd al-Razaq


bin Hammam bin Nafi al-Shanany. Ia lahir pada
tahun 126 H di Shana Yaman. Dan meninggal pada
pertengahan bulan Syawwal tahun 211 H. Ia
merupakan seorang referensi utama para ulama
tafsir di Yaman pada akhir abad 1 H menjelang awal
abad ke 2 H. Selain memiliki kemampuan di bidang
tafsir, ia juga seorang ahli hadis.
Di antara guru-gurunya adalah: Mamar bin
Rasyid, Shufyan al-Tsaury, Sahufyan Ibn Uyainah,
Ikrimah ibn Ammar dan lain-lain.
Diantara murid-muridnya adalah Ahmad bin
Hanbal dan Yahya bin Main.
Diantara karya-karyanya adalah: al-Mushannaf
(al-jami al-Kabir fi al-hadits), al-Sunan fi al-Fiqh, almaghazy, Tazkiyah al-Arwah an Mawaqiq al-Aflah,
Kitab al-shalah, al-Amaly fi Atsar al-Shahabah, dan
tafsir al-Quran.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir karya al-Shanany ini dikenal dengan:
Tafsir al-Quran li al-Shanany atau juga dikenal
dengan: Tafsir Abd al-Razaq al-Shanany. Tafir alShanany termasuk tafsir bi al-matsur. Riwayat
penafsirannya banyak ditemukan dalam kitab tafsir
al-Thabary dan al-Durr al-mantsur karya al-Suyuthy.
Tafsir ini tidak meliputi keseluruhan surat dan
ayat al-Quran. Akan tetapi, tafsir ini dianggap
sebagai karya kitab tafsir masa transisi yang
menghubungkan antara periode sahabat dan tabiin
dengan periode al-Thabary.
Hampir keseluruhan sumber penafsirannya
adalah hadis Nabi, fatwa para sahabat dan para
tabiin. Setiap keterangan surat dan ayat yang
ditampilkan selalu disertai dengan hadis yang
diasumsikan sebagai penafsiran atas ayat tersebut.
Kemudian, ditambahkan keterangan-keterangan
yang dianggap penting seperti, nasikh-mansukh,

sabab nuzul dan lingkup makna yang terkandung di


dalamnya secara global.
Tidak terdapat muqaddimah yang menjelaskan
metode penafsiran sebagaimana kitab-kitab tafisir
pada umumnya.
Dalam penafsiran banyak berpegang pada
pendapat dan riwayat gurunya yaitu Shufyan alTsaury.
Kitab ini pertama kali dicetak di Riyadh oleh
Maktabah al-Rusyd li al-Nasyr wa al-Tauzi pada
tahun 1410 H./1989 M. dengan tahqiq Doktor
Mustafa Muslim Muhammad dengan jumlah 4 jilid.
Kemudian dicetak di Bairut oleh Dar al-Marifah
tahun 1411 H/1991 M. dengan tahqiq Doktor Abdul
Muthi dengan jumlah 2 jilid.
d. Metodologi Penafsiran
Selalu
menghadirkan
hadits
setiap
kali
menjelaksan surat atau ayat yang terkait dengan
pembahasan, kemudian disertai dengan penjelasan
nasakh mansukh atau sebab nuzul.
Hanya memasukkan hadits-hadits yang marfu
dan mauquf dalam menafsirakan setiap ayat dengan
sanad sampai ke sahabat atau tabiin. Menggunakan
riwayat israiliyat walaupun tidak banyak, hal ini
sebagaimana ketika menjelaskan surat al-Baqarah:
102 tentang harut dan Marut.
e. Penilaian Ulama
Ali Ayazy berkata: Kitab tafsir al-Shanany
merupakan sumber kitab bi al-matsur yang sangat
penting bagi ulama ahli Sunnah hal ini sebagaima
banyaknya orang yang mengambil sanad darinya
13. Tafsir Adam Bin Abi Iyas. W.
(bercampur juga dengan hadits).

220

H.

14. Tafsir Abed Bin Humaid.


(bercampur dengan hadits).

W.

249

H.

15. Kitab Tafsir dalam Shahih al-Bukhary. W. 256


H. (bercampur dengan hadits).
16. Tafsir al-Hasan al-'Askariy, Abu Muhammad
al-Hasan Bin Aliy al-Hadiy bin Muhammad alJawad. (dianggap Imam ke-11 dalam Madzhab
Syiah 12 Imam) W. 260 H.
17. Tafsir " Tafsir al-Qur`an al-'Adzim ". Karya
Imam Abu Muhammad, Sahal Bin Abdillah Bin
Yunus Bin Isa Bin Abdillah al-Tusturiy. W. 273 H
18. Tafsir Hud bin al-Muhakkam al-Huwwary. W.
280 H.
a. Nama Tafsir:
Tafsir Kitabullah al-Aziz atau Tafsir Hud bin alMuhakkam al-Huwwary
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap penulis tafsir ini adalah Hud bin alMuhakkam al-Huwwary. Ia lahir pada kisaran akhir
pertengahan pertama abad ke 3 H dan meninggal
pada tahun 280 H. Ia termasuk tokoh ulama
Khawarij Ibadiyah. Ia berasal dari sebuah suku badui
(pedesaan) dari kabilah Baranis Barbariyah.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab ini merupakan salah satu dari tiga kitab
tafsir dari golongan ibadiyah yang sampai kepada
kita dengan sempurna. Berbentuk tafsir bi al-Matsur

dengan ringkas serta tidak menjelaskan masalahmasalah fiqh dan Irab.


Banyak mengambil dari pendapat Yahya bin
salam al-Bashry hingga kitab ini merupakan
ringkasan dari tafsir tersebut.
Kitab tafsir ini dicetak pertama kali di Bairut
oleh dar al-Gharb al-Islamy pada tahun 1990 dengan
tahqiq Balhaq bin Said Syarify dengan jumlah 4 Jilid.
d. Metodologi Penafsiran
Menjelaskan seluruh ayat dan surat, makkiyah
dan madaniyahnya kemudian disertai dengan hadits
yang menjelaskan tentang hal tersebut.
Banyak mengambil sumber dari penafsiran
sahabat seperti Ibu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Masud,
dan lain-lain sehingga kitab ini seakan-akan
kumpulan tafsir sahabat. Banyak mengambil
penafsiran dari tabiin yaitu Hasan al-Bashri dan
Mujahid. Juga banyak menggunakan riwayat
israiliyat dari al-kalaby dan al-Sudy.
19. Tafsir al-Nasaiy. (215 - 303 H)
a. Nama Tafsir:
Tafsir al-Nasaiy
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu Abd al-Rahman
Ahmad bin Shueb bin Aly al-NasaI. Ia lahir pada
tahun 215 H. Ia adalah ahli hadis terkemuka dan
merupakan salah satu tokoh hadis dalam kutub alsittah (kitab induk yang enam). Al-NasaI adalah
nisbah kepada tanah kelahirannya di daerah
Khurasan.
Semasa hidupnya, al-NasaI pernah menjabat
sebagai hakim di Mesir dan di Hams. Ia meninggal di
Palestina pada tahun 303 H.

Pada masa kecilnya telah mencari ilmu hingga


ke baghdad menemui Qutaibah ibn Said, kemudian
pergi ke Hijaz, Mesir. Iraq, Basharah, Kufah.
Meriwayatkan dari banyak guru hadits seperti
Bukhary, Muslim, Abi Daud.
Diantara karya-karyanya adalah: tafsir al-Quran
al-Adhim, Tasmiyah Fiqaha al-Amshar min Ashab
Rasulillah, al-Sunan al-Shughra, al-Sunan al-Kubra,
al-Dhuafa wa al-Matrukin, Khashaish Ali dan lainlain.
Kitab tafsir ini masuk dalam kitab hadits yang
dicetak pertama kali oleh Dar al-Salafiyah tahun
1410 H/1990 M dengan jumlah 2 jilid.
c. Keberadaan Dan metodologi Tafsir
Tafsir al-NasaI termasuk tafsir bi al-matsur.
Tafsir hanya terdiri dari seratus empat surat saja.
Itu pun ini tidak mencakup keseluruhan ayat alQuran yang ada di dalam surat-surat yang
ditafsirkan. Sebagaimana ciri khas tafsir bi almatsur, tafsir ini kebanyakan juga menampilkan
hadis-hadis nabi. Selain itu, di dalamnya juga
dilengkapi dengan keterangan-keterangan seperti,
makna global, nasikh-mansukh.
Ciri lain dari tafsir ini adalah al-NasaI tidak
memasukkan kajian-kajian lain selain yang
terkandung di dalam makna ayat yang sedang
dibahas. Begitu pula, ia tidak menampilkan hadis
dan fatwa sabahat atau tabiin, kecuali memiliki
hubungan langsung dengan ayat yang sedang
dibahas.
20. Tafsir Aly bin Ibrahim al-Qummy (w. 307 H
a. Nama Tafsir:
Tafsir Aly bin Ibrahim al-Qummy
b. Riwayat Hidup Pengarang

10

Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Aly bin


Ibrahim bin Hasyim al-Qummy. Al-Qummy
merupakan salah satu tokoh tafsir kelompok Syiah
dua belas. Banyak yang menilai bahwa al-Qummy
adalah seorang ulama tsiqah.
Dia hidup pada masa al-Askary dan ayahnya Abu
Aly Ibrahim bin Haisyam meruapakan syaikhnya
orang-orang Qum Iran.
Al-Qummy mempunyai banyak karya,
diantaranya adalah: Kitab Tafsir, fi al-Nasikh wa alMansukh, al-Maghazy, fi al-SyaraI, Kitab al-Tauhid
wa al-Syirk, Kitab Fadhail Amir al-Mukminin Ali,
Ikhtiyar al-Quran dan lain-lain.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir al-Qummy termasuk tafsir bi al-matsur.
Sebagaimana tafsir bi al-matshur, tafsir ini
menampilkan riwayat-riwayat yang bersumber dari
nabi. Hanya saja, perbedaannya adalah ketika tafsir
ini sengaja menampilkan riwayat-riwayat dari para
perawi ahli bait.
Merupakan sumber tafsir kelompok Imamiyah
yang masyhur dan yang pertama ke tangan kita.
Sebagian ulama menyatakan kitab tafsir al-Qumy
yang sampai kepada kita sekarang ini sudah tidak
lagi asli karya al-Qumy tetapi sudah banyak dirubah
sebagaimana kitab tafsir yang dinisbatkan ke imam
al-Askary.
Kitab ini dicetak untuk kedua kalinya di Bairut
pada tahun 1387 H/1968 M. dengan jumlah 2 jilid.
Kemudian pada tahun 1404 H/1983 M. dengan
tahqiq Sayyid Thayyib al-Jazairi kemudian dicetak di
Qum Iran pada tahun 1409 H/1988 M.
d. Metodologi Penafsiran
Tafsir dimulai dengan muqaddimah yang
menjelaskan
tentang
keutamaan
al-Quran,
pentingnya perpegang teguh dengan ahli al-bait,

11

Banyak membahs tentang naskah manuskh,


muhkam mutasyabih, tahrif dan tawil serta
penolakan terdapat beberapa kelompok agama
Termasuk tafsir bi al-Matsur yang ditawili dan
kurang diterima akal serta jauh dari dhahirnya
lafadz.
Banyak menggunakan riwayat-riwayat dari para
imam yang mashum.
21. Tafsir "Jami'ul Bayan 'An Wujuh Takwil Ayil
Quran" (Tafsir al-Thabary). KaryaImam Abu
Ja'far, Muhammad Bin Jarir Bin Yazid Bin Katsir
Bin Ghalib al-Thabary. W. 310 H.
a. Nama Tafsir:
Jami al-Bayan fi Tafsir al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap al-Thabary adalah Abu Jafar
Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib
al-Thabary. Lahir di Amul (Thabaristan) tahun 224 H./
839 M. atau tahun 225 H./ 840 M. Wafat tahun 310
H. di Baghdad dalam usian 81 tahun.
al-Thabary hidup pada masa kejayaan dan
kemajuan Islam dalam berbagai disiplin ilmu
sehingga hal ini menjadikannya mudah menjadi
seorang yang alim dalam ilmu-ilmu agama.
Di kora Ray ia belajar hadits pada Muhammad
bin Humaid al-Razy dan Mutsanna bin Ibrahim alIbily serta tarikh pada Muhammad bin Ahmad bin
Hammad al-Daulaby.
Di Baghdad ia belajar pada Ahmad bin Hanbal
dan mengambil qiraah dari Ahmad bin Yusuf alTaghliby.
Di Kufah ia mengambil qiraah dari Sulaiman alTulkhy dan hadits dari sekelompok jamaah yang
mengambil dari Ibrahim Abi Kuraib Muhammad bi alAla al-Hamdany salah seorang ulama besar ahli

12

hadits. Ia mengenal fiqh syafiiyah dari al-Hasan bin


Sabbah al-Zafarany dan Abi Salid al-Astakhary.
al-Thabary menghabiskan waktunya untuk
mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan tradisi-tradisi
Arab. Selain ahli fiqh ia juga ahli sejarah, tafsir,
sastra,
leksikrografi,
tata
bahasa,
logika,
matematika dan kedokteran. Mulanya mengikuti
madzhab Syafiiy lalu membentuk madzhab sendiri.
Al-Thabary merupakan salah seorang tokoh
terkemuka yang menguasai benar berbagai displin
ilmu, ia telah meninggalkan warisan keislaman yang
cukup besar yang mendapatkan sambutan besar
disetiap masa dan generasi. la mendapatkan
popularitas luas melalui dua buah karyanya, Tarikh
al-Umam wa al-Mulk tentang sejarah dan Jami albayan fi Tafsir al-Quran tentang tafsir. Kedua buku
tersebut termasuk di antara sekian banyak rujukan
ilmiah paling penting. Bahkan buku tafsirnya
merupakan rujukan utama bagi para mufasir yang
menaruh perhatian terhadap tafsir bil-ma'tsur.
Tidak banyak diperoleh penjelasan tentang
buah karya al-Thabary, namun Khatib al-Baghdady
mendengar dari Ali bin Ubaidillah al-Lughawy alSamy yang memberikan kesaksian bahwa alThabary aktif menulis selama 40 tahun dan setiap
harinya mampu menulis 40 lembar sehingga
diperkirakan karyanya mencapai 1.768.000 lembar.
Abdullah al-Fakhary menyebutkan bahwasanya
sebagian murid al-Thabary memperhitungkan bila
jumlah kertas yang pernah ditulisnya dibagi dengan
usia sejak lahir hingga wafatnya maka diperkirakan
ia menulis 14 lembar.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir ini mempunyai nama lengkap Jami alBayan fi Tafsir al-Quran. Ditulis pada paruh abad
ke 3 H. dan perupakan tafsir bi al-Matsur pertama
serta referensi utama para mufassirin yang menaruh
perhatian besar pada tafsir bi al-Matsur.

13

Tafsir ini terdiri dari 30 jilid berukuran besar.


Mulanya tafsir ini hilang tetapi kemudian terdapat
satu manuskrip yang disimpan oleh Amir Hamud bin
abd al-Rasyid seorang penguasa Najd, dari
manuskrip ini kemudian diterbitkan dan beredar luas
dan menjadi sebuah ensiklopedi tafsir bi al-Matsur.
Tafsir ini merupakan tafsir tertua yang sampai
kepada kita secara lengkap, sebab tafsir-tafsir yang
pernah ditulis sebelumnya tidak ada yang sampai
kepada kita secara lengkap sebagaimana tafsir ini.
d. Metodologi Penafsiran
Tafsir ini menggunakan metode Tahlily sebab
penafsirannya berdasarkan pada susunan ayat dan
surat sebagaimana dalam urutan mushhaf. Selain itu
juga dengan metode bi al-Matsur digabung dengan
bi al-rayi, Karena dalam setiap penafsiran lebih
banyak menampilkan riwayat-riwayat baik dari alQuran, hadits, pendapat sahabat dan tabiin maka
tafsir ini dimasukkan dalam kelompok tafsir bi alMatsur.
Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran mulamula dijelaskan makna kata-kata dari segi
terminologi bahasa Arab, menjelaskan struktuir
linguistiknya dengan melengkapi syawahid dari
syiir-syiir Arab. Setelah itu menafsirkan ayat
dengan disertai Syawahid berupa riwayat-riwayat
yang datang dari shabat atau tabiin dengan sanad
lengkap sebagaimana dalam metode bi al-matsur.
Semua
riwayat
berkaitan
dengan
ayat
dipaparkan dengan panjang lebar lalu dibandingkan
antara satu dengan yang lainnya, terhadap sanadsanad yang ada terkadang dikritik dengan mentadil
salah satu riwayat terkadang mentarjihnya, namun
pada umumnya riwayat-riwayat itu tidak dijelaskan
shahih dan dlaifnya.

14

Tafsir ini juga menjelaskan tentang berbagai


macam qiraat dan konsekwensinya terhadap
perbedaan arti yang timbul, namun demikian
qiraat-qiraat itu dijelaskan kedlaifannya dan
ditolak jika menurut ulama tidakl bisa dipakai
sebagai hujjah.
Riwayat-riwayat
Israiliyat
juga
dijadikan
sebagai sumber pada tafsir ini, baik dari Kaab alAhbar, Wahab bin Munabbih, ibnu Juraij, al-Sudy dan
lain-lainnya,
namun
demikian
riwayat-riwayat
Israiliyat tersebut terkadang dikritik jika tidak sesuai
dengan hadits nabi dan terkadang tidak Adanya
riwayat-riwayat Israiliyat ini tidak lepas dari latar
belakang al-Thabary sebagai seorang sejarawan.
Selain itu pembicaraan tentang kaidah-kaidah
bahasa dan syiir-syiir Arab, masalah akidah juga
dibahas dalam tafsir ini. Dan karena kapasitasnya
sebagai mujtahid masalah-masalah fiqh kerap kali
dijelaskan hingga dikatakan bahwa kecenderungan
tafsir ini adalah kepada masalah-masalah fiqh.
e. Penilaian Ulama
Tafsir al-Thabary mempunyai nilai yang tinggi
sebab selain didasarkan pada riwayat-riwayat tafsir
juga adanya istimbath hukum dari ayat-ayat yang
ditafsirkan. Ketinggian nilai tafsir ini terbukti
sepakatnya para ulama untuk menjadikan tafsir ini
sebagai sumber tafsir yang penting, dan komentar
beberapa ulama terhadap tafsir ini.
al-Suyuthy berkata: Tafsir al-Thabary adalah
tafsir terbaik dan paling agung, sebab didalamnya
dipaparkan berbagai pendapat lalu ditarjih salah
satunya, juga dijelaskan masalah Irab serta adanya
istimbath hukum sehingga mengungguli tafsir-tafsir
terdahulu.
al-Nawawy berkata: Ulama sepakat bahwa
tidak ada kitab tafsir pun yang lebih tinggi nilainya
dari pada tafsir al-Thabary. pengarang kitab Lisan

15

al-Mizan menjelaskan bahwa Ibnu Huzaimah pernah


meminjam kitab tafsir al-Thabary dari Ibnu Khaluih
selama dua tahun kemudian ia berkata: Tidak ada
di muka bumi ini mufassir yang lebih pandai dari
pada al-Thabary.
Abu Hamid al-Isfirayiny berkata: Seandainya
seseorang pergi ke negara Cina untuk mendapatkan
tafsir al-Thabary maka yang demikian itu tidaklah
berat.
Ibnu Taymiah berkata: Adapun tafsir yang
beredar dikalangan manusia maka yang terbaik
adalah
tafsir
Ibnu
Jarir
al-Thabary,
sebab
menjelaskan tentang pendapat kaum salaf dengan
sanad-sanad yang kokoh dan tidak ada bidah di
dalamnya serta tidak dinukil dari para pendusta.
22. Tafsir Ibnu Abi Hatim al-Razy. W. 327 H.
a. Nama Tafsir:
Tafsir Ibnu Abi Hatim al-Razy Musnadan an alRasul wa Shahabah wa al-Tabiin
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abd
al-Rahman bin Abu Hatim bin Idris bin al-Mudzir alHandhali al-Razy. Al-Razy, selain dikenal sebagai
serang ahli tafsir dan ilmu-ilmu al-Quran, ia juga
dikenal sebagai seorang ahli hadis.
Dilahirkan pada tahun 204 H. dan diajak
ayahnya pergi mencari ilmu hingga mendapatkan
sanad yang tinggi. Mendengar hadits dari Abu said
al-Asybah, Ali ibn Mundzir al-Thariqy.
Seorang yang zuhud dan termasuk wali Abdal.
Pada tahun 260 pergi haji bersama ayahnya dan
gurunya Muhammad bin hammad al-Thahrany,
kemudian pergi ke Syam sendirian dan ke mesir
pada tahun 262 dan ke Asfihan tahun 264.

16

Meninggal pada buklan Muharram tahun 327 H


di al-Ray.
Diantara karya-karya adalah: al-jarh wa alTadil, Kitab Tafsir, al-Radd ala al-Jahmiyah, Ilal alHadits, al-Marasil dan lain-lain.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir karya al-Razy ini dikenal dengan nama,
Tafsir Ibnu Abi Hatim al-Razy Musnadan an al-Rasul
wa Shahabah wa al-Tabiin. Tafsir ini tidak lengkap
tiga puluh juz. Akan tetapi, hanya memuat tafsir
ayat-ayat yang dianggap sudah ditafsirkan oleh
nabi, sahabat, tabiin dan tabbi tabiin saja. Selain
itu, ditambahkan beberapa keterangan seperti
sabab nuzul dan aspek kebahasaan yang berkaitan
dengan ayat yang sedang dibahas.
Kitab tafsir ini dicetak pertama kali pada
tahun 1408 H. oleh maktabah al-Dar al-Madinah di
Madinah. Kemudian di Riyadh oleh Dar al-Thayyibah.
d. Metodologi Penafsiran
Menyertakan hadits pada setiap pembahasan
surat, kemudian menjelaskan keutamaankeumtamaannya, sebab nuzulnya, kemudian
menjelaskan makna ayat. Setiap ayat ditafsirkan
dengan penjelasan yang cukup.
Tidak menjelaskan tentang keshahihan,
kehasanan, dan kedhaifan hadits yang dipakai
menafsirakan setiap ayat.
Menuqil riwayat-riwayat dari syumber Yahudi
sebagai penjelasan ayat serta cerita-cerita israiliyat.
Berpegang teguh pada riwayat-riwayat sahabat
dan tabiin terutama riwaayat Shufyan al-Tsaury.
23. Tafsir "Takwilat Ahlu al-Sunnah" karyaimam
al-Maturidi, Abu Mansur Muhammad Bin
Muhammad Bin Mahmud al-Maturidi alSamarkandi. W. 330 H

17

a. Nama Tafsir:
Tawilat Ahli Sunnah
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu Mansyur
Muhammad bin Mahmud al-Maturidy. Ia lahir pada
tahun 248 H, di desa Maturid Samarqan. Al-Maturidy
adalah tokoh ulama mutakallimin (teolog) yang
dijuluki dengan Mushahih Aqaid al-Muslimin
(penegak kebenaran teologi kaum muslim).
Al-Maturidy banyak mengcounter pemikiranpemikiran teologi Mutazilah. Jasanya di dalam ilmu
kalam tidak diragukan lagi. Misalnya, ia pernah
menjadi penengah atas perseteruan antara
Mutazilah dengan Asyariyah dalam masalah baik
buruknya perbuatan Tuhan.
Al-Maturidy hidup tidak lama setelah alAsyary, dia banyak mendukung dan memperkuat
madzhab ahlu Sunnah. Meninggal di Smarqand
tahun 333 H.
Diantara karya-karyanya adalah: Kitab alTauhid, Kitab al-Maqalat, al-Radd `ala alQaramithah, Radd ushul al-Khamsah, radd kitab alImamah dan lain-lain.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir karya al-Maturidy dikenal dengan Tasfir
al-Maturidy atau Tawilat Ahl al-Sunnah atau Tawilat
al-Quran. Tafsir ini tergolong tafsir yang sangat
sederhana. Tafsir ini sengaja ditulis untuk
mempresentasikan padangan-pandangan akidah ahl
sunnah wa al-jamaah.
Setiap ayat yag dibahas, dimpilkan makna
globalnya dan riwayat-riwayat yang berkaitan
dengan ayat, tanpa menampilkan sanad
periwayatannya. Bahkan, tidak disebutkan pula
perawi yang meriwayatkannya. Kemudian, tafsir ini
menampilkan pandangan-pandangan para teolog

18

dan pembahasan seputar argumentasi pandangan


teologi ahli sunnah terhadap pandangan teolog di
luar ahli sunnah.
Kitab ini dicetak dengan jumlah 8 jilid besar di
Mesir oleh al-Majlis al-Ala li al-Syuun al-Islamiyah
Lajnah al-Quran wa al-Sunnah pada tahun 1391
H/1971 M.
d. Metodologi Penafsiran
Setiap menjelaskan ayat dijelaskan secara
global dan pada umumnya menjelaskan ayat
dengan tafsir bi al-matsur tanpa sanad lengkap dan
sumber tafsir.
Menggunakan metode bi al-Matsur dan bi alrayi secara bersamaan dan menekankan
pada`masalah-malasah aqidah.
Menempuh penafsiran al-Quran bi al-Quran
terlebih dahulu baru kemudian menggunakan rayu.
Berpegang teguh pada pendapat fuqaha dan
ahli ushul dan menjauhi riwayuat israiliyat.
e. Penilaian Ulama
menurut sebagian besar ulama tafsir ini
sangat berguna dari segi penetapan aqidah
Islamiyah terutama dalam menghadapi kelompok
Murjiah dan Mutazilah.
24. Tafsir Ibni Hibban, karya Abu al-Syaih Bin
Hibban. W. 369 H.
(bercampur dengan hadits)
25. Ahkam
aL-Quran
/Tafsir
aL-Jashshash
karyaAbu Bakr Ahmad bin
Aly al-Rary alJashash (307 - 370 H.)
a. Nama Tafsir:
Ahkam al-Quran

19

b. Riwayat Hidup Pengarang


Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Ahmad bin
Aly al-Rary al-Jashash atau yang dikenal dengan alJashash. Ia lahir pada tahun 307 H, di Baghdad. AlJashash adalah salah satu tokoh madzhab fiqih
Hanafy.
Ia belajar fiqh pada Abi Sahl al-Zajjaj dan Abi
al-Hasan al-Kurkhy dan belajar hadits pada Abdul
Baqi bin Qani.
Pergi ke al-Ahwaz kemudian kembali ke
Baghdad, kemudian ke Naisabur bersama al-Hakim
al-Naisabury atas izin dari al-Kurkhy, kemudian
tahun 344 kembali ke Baghdad. Dan meninggal
pada tahun 370 H.
Diantara karya-karyanya adalah: Syarakh
Mukhtashar al-Kurkhy, Syarakh Mukhtashar alThahawy, Syarakh Jami karya Muhammad bin
Hasan, Syarakh Asma al-Husna dan lain-lain.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir karya al-Jashash ini dikenal dengan
nama: Ahkam al-Quran. Tafsir ini merupakan tafsir
dengan corak fiqih Hanafy. Tafsir ini sengaja ditulis
oleh al-Jashash sebagai bentuk pengukuhan atas
madzhab fiqihnya dan sekaligus sebagai ladang
untuk mengemukakan pandangan-pandangan serta
segala argumentasi yang digunakan oleh para
pengikut madzhab Hanafy.
Tafsir ini menampilkan surat per surat.
Kemudian, setiap pembahasan diberi komentar
tentang hukum fiqih yang dapat digali dan diambil
dari pembahasan setiap surat atau ayat.
Kitab tafsir ini dicetak di mesir oleh al-mathba
al-Salafiyah bejumlah 3 jilid tanpa diketahui
tarikhnya. Kemudian dicetak di istambul oleh
Mathbaah al-Auqaf tahun 1335 H. Kemudian di

20

Bairut oleh Dar al-Ihya al-Turats al-Islamny pada


tahun 1405 H dengan jumlah 5 jilid.
d. Metodologi Penafsiran
Menjelaskan surat demi surat dan pembahasan
hukum setiap akhir ayat. Mula dijelaskan ayat
terkait dengan hukum kemudian mengistimbath
hukum dari ayat tersebut.
Tafsir ini tergolong tengah-tengah dalam
mengistimbathkan hukum fiqh, tidak ringkas dan
juga tidak bertele-tele.
Terkadang menjelaskan masalah hilafiyah yang
sangat panjang yang tidak ada hubungannya
dengan
ayat
yang
ditafsirkan.
Kebanyakan
menjelaskan hukum fiqh untuk memperkuat
pendapatnya.
e. Penilaian Ulama
Menurut Ali Ayazy kitab tafsir ini merupakan
kitab referensi penting bago madzhab fiqh Hanafy
26. Tafsir Ibnu Majah. W. 373 H
27. Tafsir "al-Bahr al-Ulum" yang dikenal dengan
tafsir Abi Laits al-Samarkandi. W. 373 H / 375
H
a. Nama Tafsir:
Bahr al-Ulum
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap al-Samarqandy adalah Abu alLaits Nasr bin Muhammad bin Ibrahim alSamarqandy yang terkenal dengan Imam al-Huda.
Tentang kelahirannya tidak banyak diketahui, namun
ahli sejarah memperkirakan tahun lahirnya adalah
tahun 301 H./ 310 H.
Berkaitan dengan wafatnya para ulama
berbeda pendapat, menurut al-Dawawy dalam kitab

21

Thabaqat al-Mufassirin beliau wafat pada malam


selasa tangga 11 Jumadil Awwal 293 H. Pengarang
kitab Kasyf al-Dhunun beliau wafat tahun 375 H.
Kata al-Samarqandy yang menjadi nama julukannya
di ambil dari kota Samarqandy yaitu tempat
tinggalnya. Kota ini adalah salah satu di Khurrasan
(sekarang
termasuk
wilayah
kekuasaan
Uni
Soviet/Rusia).
Dalam bahasa Arab disebut dengan nama
Saran yaitu daerah pemukiman yang termasuk
dataran tinggi dan areal perkebunan yang luas.
Seorang pujangga mengatakan: Setiap orang
(muslim) akan berjumpa di surga sedang surga
dunia adalah Samarqandy.
Samarqandy
merupakan
kiblat
para
cendekiawan muslim pada masa hidup imam abi alLaits, sebab banyak ulama, para sufy yang pernah
singgah dan belajar di kota ini. Selain itu kota
Samarqandy
merupakan
pusat
penyebaran
kebudayaan Islam dan tempat rujukan ulama.
Dengan demikian kota Samarqandy merupakan
tempat ilmiyah di antara kota-kota Islam lainnya.
Keadaan kota Samarqandy yang demikian ini
memberikan kontribusi banyak kepada Abu al-Laits
untuk menjadi seorang ulama besar.
Tidak banyak ditemukan dalam catatan sejarah
tentang keberadaan keluarga Abu al-Laits kecuali ia
sendiri dan ayahnya yang bernama Muhammad bin
Ibrahim al-Taudy yang sekaligus menjadi guru
pertamanya. Ia banyak mengambil pendapat
ayahnya baik dalam kitab tafsir dan ktab-kitab
karangan lainnya. Selain berguru pada ayahnya ia
juga berguru pada Abu Jafar al-Handawany atau
Abu Jafar al-Balkhy, al-Khalil bin Ahmad al-Qadly alSajazy seorang tokoh hadits dan figh madzhab
Hanafy, dan Muhammad bin al-Fadl al-Balkhy.
Dalam bidang fiqh ia mengungguli ulamaulama pada masanya, begitu pula dalam bidang

22

ilmu ushuluddin. Di antara murid-murid yang


mengambil ilmunya adalah Luqman bin al-Hakim alFarghany, Abu Malik Nuaim al-Khatib, Muhammad
bin Abd al-Rahman al-Zubairy, Abu Sahl Ahmad bin
Muhammad, dan Abu Abdillah al-Harary.
Abu al-Laits medalam dan menyelami berbagai
macam ilmu segingga ia menjadi seorang intelek
handal dan penulis yang produktif. Di antara karyakaryanya adalah, dalam bidang tafsir: Bahr alUlum, dalam bidang fiqh: Khazanah al-Fiqh,
Uyun al-Masail, al-Nawadir al-Muqayyadah dan
lain-lainnya, dalam bidang tasawwuf: Tanbih alGhafilin, Bustan al-Arifin, Qurrah al-Uyun wa
Mufarrikh al-Qalby al-Mahzun, dalam bidang
ushuluddin: Ushul al-Din , Risalah fi al-Hukmn,
Risalah fi al-marifah wa al-Iman dan lain-lainnya.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir ini mempunyai nama lengkap Bahr alUlum terdiri dari 3 juz yang besar. Kitab tafsir ini
berada di Dar al-Kutub al-Mishriyah dan di
perpustakaan al-Azhar ditemukan dua bentuk tulisan
yang satu dalam bentuk satu juz dan yang satunya
terdiri dari 3 juz.
Pada bab-bab permulaan kitab tafsir ini
menjelaskan tentang dorongan mencari ilmu tafsir
dan faidahnya, kemudian dijelaskan tidak bolehnya
seseorang menafsirkan al-Quran dengan ijtihad
tanpa ditopang dengan ilmu bahasa dan tanpa
mengetahui keadaan-keadaan di mana al-Quran itu
diturunkan,
semuanya disertai dalil-dalil yang
disandarkan kepada ulama salaf.
d. Metodologi Penafsiran
Tafsir ini mengunakan metode tahlily karena
penafsirannya berdasarkan susunan ayat atau surat
sesuai dengan urutan dalam msuhhaf. Selain itu
juga menggunakan metode Bi al-Matsur.

23

Penafsiran dilakukan dengan mengemukakan


riwayat-riwayat ulama salaf, dengan urutan riwayat
dari sahabat, tabiin dan orang-orang sesudahnya,
hanya saja riwayat-riwayat itu tidak dijelaskan orang
yang
meriwayatkannya
dan
langka
sekali
dikemukakan sanad pada sebagian riwayat-riwayat
yang dijadikan sebagai penafsiran. Terkadang
dijelaskan berbagai riwayat dan pendapat yang
berbeda-beda tentang penafsiran sebuah ayat alQuran tanpa dijelaskan sanadnya kecuali sangat
langka sekali.
Selain itu juga dijelaskan masalah qiraat dan
bahasa tetapi hanya sekedarnya. Juga sedikit
diriwayatkan
qisah-qisah
dan
riwayat-riwayat
Israiliyah, itupun tanpa diseleksi. Kebanyakan
komentarnya adalah: sebagian ulama berkata
demikian Terkadang juga diriwayatkan dari
orang-orang yang dloif (lemah) seperti dari riwayat
al-Kalaby dari riwayat Asbath dari riwayat al-Sudy
dan
dari
orang-orang
lain
yang
masih
dipertentangkan keshahihannya. Pada umumnya
penafsiran terhadap ayat al-Quran dilakukan
dengan mencari dulu ayat lain yang menjadi tafsir
ayat yang ditafsirkan. al-Laits dalam tafsir ini
mengumpulkan metode bi al-matsur dan bi al-Rayi
hanya saja penafsiran bi al-Matsur lebih dominan
dari pada bi al-Rayi.
e. Penilaian Ulama
Pada dasarnya tafsir ini baik dan mempunyai
banyak faedah sebab pada umumnya ayat-ayat
yang ditafsirkan berdasarkan al-Quran, hadits,
riwayat-riwayat sahabat tabiin dan orang-orang
salaf lainnya. Berkaitan dengan hal ini pengarang
Kasy al-Dhunun mengatakan bahwa tafsir Abi alLaits nasr bin Muhammad al-Faqih al-Samarqandy
al-Hanafy adalah kitab yang masyhur dan banyak
faedahnya, hadits-hadits nya banyak ditakhrij oleh
Zain al-Din Qasim bin Qathlubigha al-Hanafy. Hanya

24

saja yang perlu diperhatikan adalah keshahihan


riwayat yang ada di dalamnya disebabkan
langkanya riwayat tersebut disertai sanad yang
jelas.
28. Tafsir al-Hakim. W. 405 H (bercampur dengan
hadits)
29. Tafsir Imam Abu Bakar Bin Mardawaih. W.
410 H (bercampur dengan hadits)
30. Tafsir " Haqoiq al-Tafsir " (Tafsir al-Sullamiy).
Karya Imam Abu Abdir Rahman, Muhammad
Bin al-Husain Bin Musa al-Azdi al-Sullami. W.
412 H
31. Tafsir al-Syaikh al-Mufid al-Mustakhraj min
Turatsih, karya Syeikh al-Mufid (336 - 413 H)
a. Nama Tafsir:
Tafsir al-Syaikh al-Mufid al-Mustakhraj min Turatsih
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin
Muhammad bin al-Numan atau lebih dkenal dengan
nama Syeikh al-Mufid. Ia lahir pada tahun 336 H, di
Suwayqah dekat Baghdad dan meninggal pada
tahun 413 H. Syeikh Mufid termasuk salah satu
tokoh di kalangan ulama Syiah.
Belajar ilmu hingga matang dipangkuan
ayahnya yang menjadi muallim sehingga ia dijuluki
ibnu al-Muaallim. Pergi ke baghdad dan belajar
qiraah dibawah bimbingan Abi Abdillah al-Husain
ibn Ali al-Bashry al-Mutazily.
Diantara karya-karyanya adalah: al-Nusrah fi
fadhail al-Quran, al-Bayan fi Talif al-Quran, alkalam fi Wujuh Ijaz al-Quran dan lain-lain.

25

c. Keberadaan dan metodologi Tafsir


Tafsir ini dikenal dengan Tafsir al-Sheikh alMufid al-Mustakhraj min Turatsihi. Sebenarnya,
karya tafsir ini tidak semata-mata tafsir al-Quran
secara independen. Sebab, di dalam tafsir ini
terdapat banyak pembahasan tentang akidah, fiqih,
sejarah dan juga hasil diskusi dengan beberapa
pihak dalam kaitannya dengan pemikiran dan
logika. Apalagi, tidak semua surat dan ayat dibahas
di dalam kitab tafsir.
Tepatnya, tafsir ini merupakan bentuk
perhatian Sheikh Mufid dalam hal mengcounter dan
memberikan keterangan atas beberapa kasus yang
sangat variatif. Meski dimulai dari surat alFatih}ah}, akan tetapi tafsir dapat dikatakan tidak
berurutan ayat per ayat. Karena, dalam banyak
pembahasannya, tafsir ini banyak menampilkan
ayat-ayat al-Quran untuk mendukung satu
pandagan atas kasus tertentu.
Kitab tafsir ini dicetak di Qum Iran oleh
maktabah al-Ilam al-Islamy pada tahun 1415 H
dengan satu jilid yang besar.
32. Tanzih al-Quran an al-Mathain, karya Abu
al-Hasan Abd al-Jabar bin Ahmad al-Hamdany
(359 H./970 M. - 415 H./1025 M).
a. Nama Tafsir:
Tanzih al-Quran an al-Mathain
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Abd alJabar bin Ahmad bin al-Khalil al-Hamdany al-Asad
Abady atau lebih dikenal dengan al-Hamdany. Ia
dilahirkan di tengah kota Hamdan pada tahun 359

26

H./970 M. dan meninggal pada tahun 415 H./1025


M.
Ia adalah seorang qadhy pada masa
pemerintahan Buwaihi. Ia dijuluki oleh para ulama
semasanya dengan qady qudhat. Ia banyak
membaca fiqih Imam ShafiI, tafsir dan hadis serta
ilmu kalam.
Diantara karya-karyanya adalah: Tafsir alMuhith, mutasyabih al-Quran, al-Khilaf wa al-wafa,
Syarkh Ushul al-Khamsah dan lain-lain.
c. Keberadaan dan metodologi Tafsir
Tafsir karya al-Hamdany ini dikenal dengan,
Tanzih al-Quran an al-Mathain. Sebenarnya alHamdany mempunyai tafsir yang diberi nama alMuhith, akan tetapi tafsir itu hilang dari tangannya.
Tafsir ini adalah tafsir yang singkat dan sederhana.
Tafsir ini juga tidak mencakup keseluruhan ayat
al-Quran, meskipun secara keseluruhan suratnya
telah dibahas. Karena, tujuan dari tafsir ini adalah
menerangkan ayat-ayat yang mutashabih,
muh}kan dan tambahan pembahasan seputar
kesalahan orang-orang tentang tawil ayat-ayat
yang termasuk dalam kategori keduanya. Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa tafsir ini tidak
mengkhususkan diri seputar tafsir mutashabih dan
muhkam, akan tetapi juga permasalahanpermasalahn yang berkaitan dengan akidah alHamdany atau yang bertentangan dengannya.
Maka, di dalam tafsir ini juga akan didapatkan
jawaban dari beberapa problem seputar kritik atas
al-Quran dan akidah Mutazilah.
Kitab tafsir ini dicetak di Mesir oleh Mathbaah
al-jamaliyah pada tahun 1339 H, kemudian di
Bairut oleh Dar al-Nahdhah berjumlah satu jilid.

27

33. Tafsir " Al-Kasyfu wa al-Bayan 'An Tafsir alQuran"


(Tafsir al-Tsa'labi). Karya Imam alTsa'labi. W. 427 H.
a.

Nama Tafsir

al-Kasyfu wa al-Bayan an Tafsir al-Qur'an


b.

Riwayat Hidup Pengarang

Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim as-Tsalaby an


Naisaburi. Kitab ini lebilh dikenal dengan sebutan
tafsir alTslaby. Secara pasti kelahirannya tidak
diketahui, akan tetapi la wafat pada hari Rabu pada
bulan Muharram Tahun 427 H.
Beliau adalah seseorang Mufassir ahli Qori;
(ahli baca al-Quran), Sejarawan, Khafidz, ahli bahasa
dan pidato. Al-Tsalaby merupakan gelar atau julukan
yang diberikan oleh masyarakat Khurasan. Kita
ketahui bersama bahwa para ulmaahli hadits ddan
ahli tafsir banyak yang berasal darl daerah Khurasan
khususnya Naisyabur, hal ini dikarenakan daerah
tersebut merupakan daerah pusat keilmuan dan
peradaban. Sehingga tidak mengherankan jika
muncul seorang mufassir yang handal dari daerah
ini.
Beliau memperoleh ilmunya dari guru-gurunya
seperti Abi Thohir bin Khuzaimah dan Imam Abi
Bakar bin Mahran. Konon dua guru inilah yang
sangat berpengaruh dalam pemikirannya, sedang
muridnya yang paling terkenal adalah Abu Hasan alWahidy.
Pada abad ke 4 H atau 10 M. tafsir sudah
berkembang pesat, akan tetapi para mufassir dalam
mengarang kitab tafsirnya banyak dipengaruhi oleh
aliran-aliran tertentu. Karena pada masa ini
pertentangan masalah teologis sangat besar dan
mempunyal efek yang kurang bagus terhadap para
mufassir.

28

Disamping itu juga pengaruh Israiliyat sangat


mewarnai tafsir-tafsir pada masa ini. Hal ini
dikarenakan karena semakin banyaknya orangorang ahli kitab yang masuk Islam, disamping itu
juga adanya keinginan dari umat mengetahui kisahkisah yang simpang siur.
Selain kitaf tafsir al-Tsalabi juga mempunyai
karya-Karya yang lain, dinataranya adalah: al-Arais
(F1 Qosos al-Anbiya'), Tafsir al-Khawi Anwa alFaraid, dan beberapa kitab lainnya yang berkaitan
dengan masalah Frob, Qiroat, Balaghoh dan Sastra,
dan sebagainya.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab ini terdiri dari 4 jilid, dimulai dari surat alFatihah sampai dengan surat al-Furqon. Tafsir ini
tersimpan pada perpustakaan al-Azhar dan sisanya
hilang.
Kelebilian kitab ini dari segi Nahwu, hukum
(fiqh), kedua masalah diatas dijelaskan dan
dijabarkan secara panjang lebar. seperti penjelasakn
tentang Irab, Sorof dan Qiro'at. Dalam masalah fiqh
banyak dijelaskan pendapat-pendapat Imain Mazhab
tetapi tidak edikomentarinya. Dalam masalah
hokum lebih banyak dijelaskan pendapat al-Syafiiy.
Kekurangan kitab ini banyak memuat kisahkisah Israiliyat dan memuat hadits-haditsa yang
gharib bahkan maudhu, kitab ini juga hanya tertulis
sampai dengan surat al-Furqan saja.
d. Metodologi Penafsiran
Tafsir ini tergolong ke dalam tafsir bi-al-Matsur
atau riwayat, dikarenakan dalam penafsirannya alTsalabi banyak (mayoritis) menggunakan riwayatriwayat untuk menjelaskan
suatu ayat.
la
menafsirkan al-Quran berdasarkan hadits-hadits
yang bersumber dari ulama salaf dengan meringkas

29

sanadnya,
karena
menurut
beliau
sudah
menganggap cukup dengan menyebutnya pada
pendahuluan kitab.
Tafsir ini sedikit memperluas pembahasan
Nahwu dalam menafsirkan ayat al-Qur'an dan
menjelaskan masalah-masalah fiqih terutama fiqih
syafiiy, karena beliau bermazhab Syafl'i. Beliau
sangat senang dengan kisah-kisah dan cerita
sehingga dalam kitabnya banyak ditemukan ceritacerita Israiliyat yang dianggap asing bahkan ada
yang sama sekali tidak benar adanya, terkadang
beliau mengkritik terhadap beberapa kisah yang
mereka
kutip
tetapi
kadang-kadang
tidak
memberikan komentar dan tidak mau mengorek
kesalahan yang terdapat dalam kisah tersebut,
meskipun jelas-jelas kisah tersebut menodai
kesucian para Nabi. Beliau meriwayatkan kisahkisah tersebut dari Kaab al-Ahbar, akan tetapi
mayoritas kisah-kisahnya diperoleh dari as-Sudi alShaghir dari al-Kalaby dari Abi Sholikh dari Ibn
Abbas, silsilah periwayatan ini sering disebut silsilah
Kazzab.
Dalam
penafsirannya
al-tsalaby
banyak
mengandalkan hadits-hadits yang gharib bahkan
maudhu', terutarna ketika menerangkan tentang
ketumaan surat-surat al-Qur'an.
e. Penilaian Ulama
Terdapat banyak ulama yang menyanjung dan
memuji al-Tsalabi, akan tetapi tidak sedikit pula
yang mengkritiknya. Ibn Khalkan mengatakan
bahwa al-Tsalabi adalah orang yang Tsiqah, ahli
tafsir. Yaqut dalam Mukam Udaba mengatakan
bahwa al-tsalaby adalah ahli Qiroah, Hafidz, ahli
Sastra dan Nahwu. Hal senada juga dilontarkan oleh
Abd al-Ghofar Bin Ismail al-Farisi dalam kitabnya
Syiyaq Tarikh Naisabur

30

Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa pada


pribadi al-Tsalaby tertanam kebaikan dan agama,
tetapi ia bagaikan pencari kayu di malam hari. alKattany juga mengatakan bahwa al-Tsalaby
bukanlah Syekh karena ia banyak membuat bid'ah.
34. Tafsir "al-Naqd wa al-'Uyun Fi Tafsir alQuran" (Tafsir al-Mawardi). Karya Imam Abul
Hasan, Ali Bin Muhammad Bin Habib alMawardi al-Bashriy al-Syafi'iy.
a. Nama Tafsir:
al-Nukat wa al-Uyun
b. Riwayat Hidup Pengarang
Penulis tafsir ini adalah Abu al-Hasan Aly bin
Muhamad bin Hubayb al-Mawardy al-Bashry alSyafii. Ia lahir pada tahun 364 H/975 M, di Bashrah.
Nama al-Mawardy di ambil dari pekerjaannya ma
al-ward (tukang siram mawar). Al-Mawardy dan
orang tuanya memang berprofesi sebagai tukang
(penjual) bunga mawar.
Ia banyak mengambil ilmu dari para ulama
Bashrah seperti, Abu al-Qasim al-Shaymiry dan
ulama Baghdad seperti, Abu Hamid al-Isfirainy.
Ia meninggal pada hari Selasa bulan Rabiul
awwal tahun 450 H./1058 M.
Diantara karya-karyanya adalah: al-Ahkam alSulthaniyah, Adab al-Wazir, Adab al-Dunya wa`alDin, Adab al-Qaghy dan lain-lain.
c. Keberadaan dan metodologi Tafsir
Tafsir karya al-Mawardy ini dikenal dengan
nama, al-Nukat wa al-Uyun atau dikenal juga
dengan tafsir al-Mawardy.
Tafsir ini mencakup keseluruhan ayat alQuran dan dikemas dalam bentuk yang singkat.

31

Tafsir ini banyak menampilkan pembahasan


bahasa.
Sebelum membahas keseluruhan makna
kata, Al-Mawardy memulai pembahasannya
dengan menerangkan nama surat, Makkiyah,
Madaniyah, riwayat-riwayat yang ada yang diduga
sebagai tafsir dari ayat yang dimaksud serta
menampilkan pula sabab nuzul ayat. Selain itu, alMawardy juga membahas ayat dengan
menampilkan makna asal kata, kemudian
memberikan keterangannya seputar makna kata
dengan didukung oleh amtsal (peribahasa atau
kata bijak), dan syair.
Kitab tafsir ini pertama kali dicetak di Bairut
oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah tahun 1412 H/1992 M
dengan tahqiq Abdul Maqsud abdurrahim dengan
jumlah 6 jilid. Kemudian pada tahun 1403 H./1982
dicetak di Kuwait oleh menteri perwakafan negara
Kuwait.
35. al-Tibyan
al-Jami
li
Ulum
al-Quran,
karyaAbu Jafar Muhammad bin al-Hasan bin
Aly al-Thusy (385 H/960 M. - 460 H./1067 M).
a. Nama Tafsir:
al-Tibyan al-Jami li Ulum al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang
Penulis tafsir ini adalah Abu Jafar
Muh}ammad bin al-Hasan bin Aly al-Thusy atau
dikenal dengan Syeikh al-Thusy. Ia lahir pada tahun
385 H/960 M. di Thus Khurasan. Ia pindah dari Thus
ke Iraq sejak umurnya masih sangat kecil, sebagai
murid Syeikh al-Mufid. Ia belajar fiqih madzhab
Jafary dari gurunya itu. Sehingga, akhirnya ia
dikenal sebagai tokoh Syiah dua belas. Ia
meninggal di Najef tahun 460 H./1067 M.

32

Diantara karya-karyanya adalah: Ikhtiyar Rijal


fi marifah al-Rijal, al-Istibshar fima Ikhtalafa min alAkhyar, Talkhish al-Syafiiy, Tadzhib al-Ahkam, aljamal wa al-Uqud fi al-Ibadah, dan lain-lain.
c. Keberadaan dan metodologi Tafsir
Tafsir karya al-Thusy ini dikenal dengan alTibyan al-Jami li Ulum al-Quran atau lebih dikenal
dengan nama tafsir al-Thusy. Tafsir ini disebut-sebut
sebagai tafsir pertama di kalangan orang-orang
Syiah.
Tafsir al-Thusy mencakup keseluruhan ayat alQuran, tiga puluh juz. Di dalamnya terdapat
berbagai macam pembahasan yang cukup
mendalam seperti, al-qiraah, bahasa, irab, sabab
nuzul, nadhm, nasikh mansukh, muhkam dan
mutasyabih.
Pembahasannya ditulis dengan sangat ilmiah.
Selain itu, tafsir al-Thusy dianggap sebagai tafsir
yang menggabungkan antara pandangan rasio
dengan wahyu dan antara riwayah dan dirayah.
Sistematika penulisannya sangat baik. Pertamatama al-Thusy menampilkan surat, kemudian
membahas nama surat, menyebutkan Makkiyah dan
Madaniyahnya dan beberapa hal yang dbutuhkan di
dalam tasfir untuk mendukung kebenaran
penafsirannya. Seperti, nasihkh mansukh dan sabab
nuzul.
Kitab tafsir ini dicetak pertama kali di Teheran
dengan pemantauan al-Sayyid Muhammad al-Hujjah
al-Kuh Kamrah al-Tibrizy pada tahun 1406 H. dengan
jumlah 10 jilid

36. Tafsir "Lathaif al-Isyarat Fi Tafsir al-Quran"


(Tafsir al-Qusyairi). KaryaImam Abu al-Qosim,

33

Abdu al-Karim Bin


Qusyairi. W. 465 H

Hawazin

al-Syafi'i

al-

a. Nama Tafsir:
Lathaif al-Isyarat
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim Abd alKarim bin Hawazan bin Abd al-Malik Zayn al-Islam
al-Qushairy al-Nayshabury atau lebih dikenal
dengan Abu al-Qasim al-Qushairy.
Ia lahir pada tahun 376 H, di Nayshabur. Ia
adalah tokoh sufi terkenal pada jamannya. Ia
meninggal pada tahun 465 H.
Belajar tasawwuf pada Abi al-hasan bin alDaqqaq, Abu bakar al-Thusy, Ibnu fauraq, alAsfarayiny. Hingga menjadi tokoh sufy terkjenal.
Diantara karya-karyanya adalah: al-Tafsir alKabir terkenal dengan al-taisir fi al-Tafsir, Lathaif alIsyarat, al-Riasalah al-Qusyairiyah, Adab alShufiyyah, Ahkam al-Sima dan lain-lain.
c. Keberadaan dan metodologi Tafsir
Tafsir karya al-Qushairy ini diberinama Lathaif
al-Isyarat atau dikenal dengan nama tafsir alQushairy. Tafsir ini ditulis lengkap keseluruhan alQuran, tiga puluh juz. Sebelumnya, al-Qushairy
sudah pernah menulis tafsir yang diberinama alTaysir fi al-Tafsir.
Tafsir al-Qushairy didahului dengan tafsir albasmalah dan sebagian dari ayat al-Quran.
Kemudian dengan sengaja ia menambahkan
keterangan dalam kajian bahasa, syair dan
beberapa riwayat yang tidak disertai dengan
sanadnya.

34

Dalam menukil beberapa riwayat, al-Qushairy


tidak memperhatikan kualitas hadis. Sebab,
banyak di dalamnya didapati riwayat-riwayat yang
shahih dan dhaif serta riwayat-riwayat Israiliyat,
khususnya yang berkaitan dengan kisah para nabi.
Kitab tafsir ini dicetak untuk kali kedua di Kairo
oleh al-haiah al-Mishriyah pada tahun 1390 H
dengan jumlah 3 julid. Kemudian pada tahun 1971
H. dicetak lagi oleh Dar al-Kutub al-Arabiyah
dengan tahqiq Doktor Ibrahim Basyuny.
37. Tafsir Al-Basith, tafsir al-Wasith dan tafsir alWajiz. Tiga tafsir ini disebut, Al-Hawi Li Jami'
al-Ma'ani. Karya Imam Abu al-Hasan, Ali bin
Ahmad al-Wahidi. W. 468 H
38. Tafsir "Ma'alim al-Tanzil" (Tafsir al-Baghowi).
Karya
Imam
al-Husain
Bin
Masud
Bin
Muhammad, Abu Muhammad al-Baghowi alFaqih al-Syafi'i. W. 510 H
a. Nama Tafsir
Maalim al-Tanzil
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama
lengkap al-Baghawy
adalah
Abu
Muhammad al-Husain bin Masud yang lebih dikenal
dengan nama al-farra al-Baghawy, kemudian
digelari dengan muhyi al-Sunnah, yang cenderung
kepada ilmu-ilmu agama. Beliau lahir di Persia tahun
436 H./1044 M. dan wafat pada tahun 510 H./ 1117
M.
al-Baghawy adalah imam dalam tafsir, imam
dalam hadits, imam dalam fiqh dan juga seorang
yang hafizh. Dia seorang yang zuhud dan wara
(menjaga kesucian agama), pernimpin yang baik
dan murid paling khusus (paling cerdas). beliau
mendengarkan hadits dari Abi Umar Abdul Wahid al-

35

Muhaailiy, Abi al-Hasan al-Dawudi, Abi Bakar Yacub


Ibn Ahmad al-Shairrify, Abi aI-Hasan Ali bin Yusuf aIJuwainy, Abi al-Fadhl Ziyad Ibn Muhammad alHanafy, Ahmad bin Abi Nashar aI-Kufaany, Hasan bin
Muhammad maniy, Abi al-Hasan Muhammad bin
Muhammad al-Syayatazi dan lain sebagainya. Beliau
mendengarkan hadits setelah tahun 460 H.
Di antara murid-muridnya adalah Abu Mansur
Muhammad bin As'ad al-Thaary, Abu al-Fathuh
Muhammad bin Muhammad al-Thay, Abu alMukarram Fadullah bin Muhamammad al-Nukony.
Diantara
karya-karya
al-Baghawy
adalah
Mualim al-Tanzil dalam tafsir, Syarah al-Sunnah, alMashabih, al-Jamu bain al-Shohihain, Tadzib dalam
fiqh. Beliau tidak menerima pelajaran kecuali dalam
keadaan suci, tidak tamak dalam makanan apalagi
untuk mencelanya dan membubuhkan minyak
dalam rnakanannya itu, beliau terkenal dengan
pernimpin yang baik, beliau sudah berumur 80
tahun namun belum juga melaksanakan haji.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab tafsir ini berjudul Maalim al-Tanzil, kitab
tafsir ini tergolong kilab tafsir besar terdiri dari 8 jilid
menurut informasi yang diberikan Ibn Talmiyah
dalam muqaddimah fi usul al-Tafsir. Kitab alBaghawy merupakan ikhtisahar (ringkasan) dari
tafsir karya al-Tsalaby (yang bernama al-Kasyfu alBayan an tafsir al-Qur'an).
Dalam
karya
tersebut,
al-Baghawy
menghindarkan tafsirnya dari hadits-hadits maudhu
serta pandangan-pandangan bidah. Beliau juga
menukil
perkataan
ulama
salaf
mengenai
perbedaan pendapat di dalam tafsir dan tidak
menguatkan satu riwayat atas riwayat yang lain.
d. Metodologi Penafsiran

36

Dilihat dari sumber penafsiran tafsir ini


menggunakan metode bi al-Ma'sur, hal ini
disebabkan ketika menafsirkan ayat-ayat al-Quran
selalu detempuh dengan mengumpulkan nukilan
dari kitab tafsir yang ada sebelumnya.
Masalah yang lebih banyak dikemukakan
adalah masalah aqidah, hukum fiqh, qira'at,
isralliyat, syair, kebahasaan dan nahwu. Kitab tafsir
ini merupakan salah satu tafsir salaf yang berkaitan
dengan Asma Allah, sifat-sifat-Nya, yang terhindar
dari takwil-takwil yang batil. Dalam tafsir ini ayatayat dan penafsirkan dijelaskan dengan sangat
mudah ringkas.
al-Bagahawy termasuk ulama salaf, dalam
menetapkan sifat-sifat Allah dijelaskan sebagaimana
adanya tanpa adanya tawil. Namun demikian
terdapat juga asma-asma Allah yang ditawilkan,
seperti ar-Rahmah yang ditakwilkan dengan lradah
Allah untuk berbuat baik terhadap pelakunya. alHaya ditawilkan dengan at-Tark wa al-man'u
(membiarkan dan mencegah).
al-Baghawy seringkali menukil semua yang
berasal dari ulama Salaf mengenai tafsir suatu ayat
tanpa menyebutkan Isnad-nya. Akan tetapi bellau
telah menyebutkan sanad-sanadnya hingga sampai
kepada mereka itu pada mukaddimah Tafsimya.
Beliau biasanya amat selektif terhadap keashihan
hadits yang disandarkannya kepada Rasulullah.
Sementara itu beliau tidak peduli terhadap haditshadits Munkar dan Maudlu (palsu) namun terkadang
meriwayatkan dari al-Kalabiy dan periwayatpenwayat lemah lainnya..
al-Baghawy juga menjelaskan permasalahanperinasalahan fiqih dengan gaya bahasa yang
mudah dan menukil perbedaan yang ada tanpa
mengupasnya secara panjang lebar. Beliau juga
menyinggung tentang Qira'at dan jenis-jenis bacaan
ayat tanpa bertele-tele. Beliau juga menyinggung
tentang
sebagian
israiliyat
namun
tidak

37

memberikan
tanggapan
terhadapnya.
Beliau
menghindari kupasan panjang lebar di dalam
pembahasan Irab (penguraian anak kalimat) dan
hal-hal yang terkait dengan Balaghah namun
menyinggung
hal-hal
yang
memang
urgen
disebutkan untuk menyingkap makna suatu ayat.
e. Penilaian Ulama
Menurut al-Khazin (orang yang meringkas kitab
Maalim al-Tanzil karya al-Baghawy) bahwa tafsir
maalim al-Tanzil mempunyai produk karya ilmu
tafsir yang tinggi kualitasnya. Disamping itu,
menurut al-Khazin, al-Baghawy dianggap memiliki
kualitas intelektual yang tinggi dan patut menjadi
panutan ummat. Pujian senada juga dilontarkan oleh
Mani Abd Al-Halim Mahmud dalam Manahij alMufassirin yang menyatakan bahwa al-bagahawy
sebagai pribadi yang berpegang teguh pada alQur'an dan Sunnah sangat tinggi integritas
keilmuannya dan karya tafsir yang ia susun berdasar
keahliannya membawa faedah yang besar.
al-Subhi menganggap al-baghawy sebagai
seorang ulama terkenal dalam mazhad al-Syafiiy.
Ibnu Taimiyah dalam muqaddimah tafsirnya
mengatakan: tafsir al-baghawy lebih ringkas
daripada
al-Tsalaby,
tafsirnya
merupakan
perbedaan
dari
hadits-hadits
palsudan
dari
pendapat-pendapat ahli bidah.
39. Tafsir "al-Kasyaf 'An Haqoiq al-Tanzil Wa
'Uyun al-Aqowil Fi Wujuh al-Takwil" (Tafsir alKasyaf). KaryaImam Mahmud Bin Umar Bin
Muhammad Bin Umar al-Nahwi al-Lughawi alMuktazili al-Zamakhsyari. W. 538 H
a. Nama Tafsir:

38

al-Kasysyaf 'an Haqaiq al-Tanzil waUyun al-Aqawil fi


Wujuh al-Taiwill
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap al-Zamakhsyary adalah Abd alQasim Mahmud Ibn Mahammad Ibn Umar alZamakhsyary. la dilahirkan di Zamakhsyar, sebuah
kota kecil di Khawarijmi pada hari Rabu Tanggal 27
Rajab Tahun 467 H atau 18 Maret 1075 M., dari
sebuah keluarga miskin, tetapi alim dan taat
beragarna. dilihat dari masa tersebut, la lahir pada
masa pemerintahan Sultan Jalal al-Din Abi al-Fath
Maliksyah dengan Wazirya Nizam al-Mulk. Wazir ini
terkenal
sebagal
orang
yang
aktif
dalam
pengembangan
dan
kegiatan
keilmuan.
Dia
mempunyai kelompok diskusi yang terkenal maju
dan selalu penuh dihadiri oleh para ilmuan dari
berbagai kalangan.
Sejak usia menjelang remaja, al-Zamakhsyary
sudah pergi merantau meninggalkan desanya pergi
menuntut ilmu pengetahuan ke Bukhara, yang pada
masa itu menjadi pusat kegiatan keilmuan dan
terkenal dengan para sastrawan. Baru beberapa
tahun belajar, ia. merasa terpanggil untuk pulang
sehubungan dengan dipenjarakannya ayahnya oleh
pihak
penguasa
dan
kemudian
wafat.
alZamakhsyary masih beruntung, bisa. berjumpa.
dengan Ulama' terkemuka di Khawarizim, yaitu Abu
Mudar al-Nahwy (w. 508 H), berkat bimbingan dan
bantuan yang diberikan Abu Mudar, ia berhasil
menjadi murid yang terbaik, menguasai bahasa dan
sastra Arab, logika, filsafat dan ilmu kalam.
Al-Zamakhsyary juga dikenal sebagai yang
berambisi memperoleh kedudukan di pemerintahan.
Setelah merasa tidak berhasil dan kecewa melihat
orang-orang yang dari segi ilmu dan akhlaq lebih
rendah dari dirinya diberi jabatan-jabatan yang
tinggi oleh penguasa, sementara ia sendiri tidak

39

mendapatkannya walaupun telah di promosikan oleh


guru yang sangat di hormatinya, Abu Mudar.
Keadaan itu memaksanya untuk pindah ke
Khurrasan dan memperoleh sambutan baik serta
pujian dari kalangan pejabat pemerinttahan Abu alFath Ibn al-usain al-Dastani dan kemudian Ubaidillah
Nizam al-Mulk. Di sana, ia di angkat menjadi
sekretaris (katib) tetapi karena tidak puas dengan
jabatan tersebut, la pergi ke pusat pemerintahan
Daulah Bani Saljuk, yakni kota Isfahan.
Setidaknya ada dua kemungkinan mengapa alZamakhsyary selalu gagal dalam mewujudkan
keinginannya duduk di pemerintahan. Kemungkinan
pertama, karena ia bukan saja ahli Bahasa dan
Sastra Arab saja, tetapi juga seorang tokoh
Mutazilah
yang
sangat
demonstratif
dalam
menyebar-luaskan fahamnya, dan ini membawa
dampak kurang disenangi oleh beberapa kalangan
yang tidak berafiliasi pada Mutazilah. Kedua,
mungkin juga karena kurang didukung kondisi
jasmaninya, al-Zamakhsyary memiliki cacat fisilk,
yaitu kehilangan satu kakinya.
Akan tetapi, setelah terserang sakit yang parah
pada tahun 512 H, angan-angamya untuk
mendapatkan jabatan di pemerintahanpun segera
sirna. Al-Zamakhsyary lalu pergi melanjutkan
perjalanannya ke Baghdad. DI sini ia mengikuti
pengajian Hadits oleh Abu al-Khattab al-Batr Abi
Saidah al-Syafani, Abi Mansur al-Harisi, dan
mengikuti pengajian fiqh oleh ahli fiqh Hanafi, alDamagani al-Syarif Ibn al-Syajary. Ia bertekad
membersihkan
dosa-dosanya
yang
lalu
dan
menjauhi penguasa, menuju penyerahan diri kepada
Allah SWT. Dengan melawat ke Makkah selama dua
tahun. Di kota sucl ini ia suntuk mempelajari kitab
Sibawaihi, pakar gramatika Arab yang terkenal
(w.518 H). ia juga menyempatkan diri mengunjungi
banyak negeri di Jazirah Arab. Kerinduannya pada
kampung halaman membawanya pulang kembali,

40

setelah al-Zamakhsyary menyadari usianya yang


semakin lanjut, timbul lagi kegairahannya untuk
pergi ke Makkah. la tiba kembali di sana untuk yang
kedua kalinya pada tahun 256 H. dan menetap
selama tiga tahun yaitu mulai tahun 256-259 H.
atau 1132-1135 M, bertetangga dengan Baitullah
sehingga la mendapat gelar Jar Allah. Dari Makkah ia
pergi lagi ke Baghdad dan selanjutnya ke
Khawarizm. Beberapa tahun setelah berada di
negerinya itu, ia wafat di Jurjaniyah pada malam
arafah tahun 538 H.
Al-Zamakhsyary membujang seumur hidup.
Sebagian besar waktunya di abdikan untuk ilmu dan
menyebarluaskan faham yang di anutnya, seperti
sering di lakukan kalangan ulama Mutazilah
pendahulunya. Oleh karena itu tidak mengherankan
apabila para penulis biografinya mencatat kurang
lebih 50 buah karya tulisnya yang mencakup
berbagai bidang. Sebagian karya al-Zamakhsyary
ada yang masih berbentuk manuskrip.
Selain kitaf tafsir ini al-Zamakhsary juga
mempunyai karya-karya yang lain dal;am berbagai
disiplin ilmu, yaitu:
1.
Dalam bidang tafsir: al-Kasysyaf an Haqaiq
al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujud al-Tawil
2.
Dalam bidang hadits: al-Faiq fi Gharib alHadits.
3.
Dalam bidang fiqh: al-Raid fi al-Faraid.
4.
Dalam bidang ilmu bumi : al-Jibal wa alAmkinah.
5.
Dalam bidang akhlaq: Mutasyabih asma alRuwat, al-Kalim al-Nabawiy fi al-Mawaiz, al-Nasaih
al-Kibar, al-Nasaih al-Sighar, Maqamat fi alMawaiz, kitab fi Manaqib al-Imam Abi Hanifah.
6.
Dalam bidang sastra: Diwan Rasail, Diwan alTamtsil, Tasliyat al-Darir.
7.
Dalam bidang ilmu Nahwu: al-Namuzaj fi
Nahw, syarkh kitab Syibawaih, Syarh al-Mufassal fi
Nahw.

41

8.
Dalam bidang bahasa: Asas al-Balaghah,
Jawahir al-Lughah, al-Ajnas, Muqadimah al-Adab fi
al-Lughah.
c. Keberadaan Tafsir
al-Zamakhsyary menulis kitab tafsirnya yang
berjudul al-Kasysyaf an Haqaiq al-Tanzil wa Uyun alAqawil fi Wujuh al-Tawil bermula dari permintaan
suatu kelompok Mutazilah. Dalam muqaddimah
tafsir al-Kasysyaf disebutkan sebagai berikut: ..
mereka menginginkan adanya sebuah kitab tafsir,
dan mereka meminta saya supaya mengungkapkan
hakikat mana al-Quran dan semua kisah yang
terdapat
di
dalamnya,
termasuk
segi-segi
penakwilannya .....
Didorong
oleh
permitaan
di
atas,
alZamakhsyary menulis sebuah kitab tafsir, dan
kepada mereka yang meminta didiktekan mengenai
fawatih al-suwar dan beberapa bahasan tentang
hakikat-hakikat dari surat al-Baqarah. Penafsiran alZamakhsary ini nampaknya mendapat sambutan
hangat di berbagai negen. Dalam perjalanannya
yang ke dua di Makkah, banyak tokoh yang di
jumpainya
menyatakan
keinginannya
untuk
memperoleh karnyanya itu. Bahkan setelah tiba di
Makkah, ia di beri tahu bahwa pemimpin pemenntah
Makkah, Ibn Wahhas, bermaksud mengunjunginya
ke Khawarizm untuk mendapatkan karya tersebut.
Semua itu menggugah semangat al-Zamakhsyary
untuk memulai menulis tafsirnya, meskipun dalam
bentuk yang lebih ringkas dari yang telah didiktekan
sebelumnya.
Berdasar desakan pengikut-pengikut Mutazilah
di Makkah dan atas dorongan al-Hassan 'Ali Ibn
Hamzah Ibn Wahhas, serta kesadaran dirinya
sendiri,
akhimya
al-Zamakhsyary
berhasil
menyelesaikan penulisan tafsirnya dalam waktu
kurang lebih 30 bulan. Penulisan tafsir tersebut

42

dimulai ketika ia berada di Makkah pada tahun 526


H. dan selesai pada hari senin 23 Rabi'ul Akhir 528
H.
Penafsiran yang di tempuh al-Zamakhsyary
dalam karyanya ini sangat menarik, karena
uraiannya singkat tapi jelas, sehingga para ulama
Mutazilah mengusulkan agar tafsir tersebut
dipresentasikan pada para ulama Mutazilah dan
mengusulkan agar penafsirannya dilakukan dengan
corak Itizaly, dan hasilnya adalah tafsir al-Kasysyaf
yang ada sekarang ini.
Pada tahun 1968, tafsir al-Kasysyaf di cetak
ulang pada percetakan Mustafa al-Babi al-Halabi,
Mesir, dalam empat jilid. Jilid pertama diawali
dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat
al-Maidah. Jilid kedua diawali dengan surat al-Anam
dan diakhiri dengan surat al-Anbiya. Jilid ketiga
diawali dengan surat al-Hajj dan diakhiri dengan
surat al-Hujurat. Jilid keempat diawali surat al-Qaf
dan diakhiri dengan surat al-Nas
d. Metodologi Penafsiran.
Tafsir al-Kasysyaf disusun dengan tartib
mushafi, yaitu berdasarkan urutan surat dan ayat
dalam mushaf utsmani, yang terdiri dari 30 juz berisi
114 surat, dimulai dengan surat al-Fatihah dan di
akhiri dengan surat al-Nas. Setiap surat diawali
dengan basmalah, kecuali surat al-Taubah.
Dalam menafsirkan al-Quran, al-Zamakhsary
lebih dahulu menuliskan ayat al-Quran yang akan di
tafsirkan, kemudian mulai menafsirkannya dengan
mengemukakan pemikiran rasional yang didukung
dengan dalil-dalil dan riwayat (hadits) atau ayat alQuran, baik yang berhubungan dengan sabab alnuzul suatu ayat atau dalam hal penafsiran ayat.
Meskipun demikian, ia tidak terikat oleh riwayat
dalam penafsirannya. Dengan kata lain, kalau ada
riwayat yang mendukung penafsirannya ia akan

43

mengambilnya, dan kalau tidak ada riwayat, ia akan


tetap melakukan penafsirkannya.
Jika diteliti dengan cermat, ayat demi ayat,
surat demi surat, maka nampaklah dengan jelas
bahwa metode yang dipergunakan al-Zamakhsary
dalam penafsirannya adalah metode tahlily, yaitu
meneliti makna kata-kata dan kalimat-kalimat
dengan cermat. la juga menyingkap aspek
munasabah, yaitu hubungan antara satu ayat
dengan ayat lainnya atau antara satu surat dengan
surat lainnya, sesuai dengan tertib susunan suratsurat dalam mushaf usmani. Untuk membantu
mengungkapkan ayat-ayat, ia juga menggunakan
riwayat-riwayat dari para sahabat dan para tabiin,
dan
kemudian
mengambil
konklusi
dengan
pandangan atau dengan pemikirannya sendiri.
Karena
sebagian
besar
penafsirannya
berorientasi kepada rasio (rayu), maka tafsir alKasysyaf dapat dikategorikan pada tafsir bi al-rayi,
meskipun
pada
beberapa
penafsirannya
menggunakan dalil naql (nas al-Quran dan hadist).
Mengenai corak tafsir al-Kasysyaf, dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1.
al-Zamakhsyary terkenal sebagai seorang yang
ahli dalam bahasa Arab, yang meliputi sastranya,
balaghahnya, nahwunya, atau gramatikanya.
Oleh karena. itu tidak mengherankan kalau
bidang-bidang keahliannya itu juga sangat
mewarnai
hasil
penafsirannya,
al-Zahabi
misalnya, menyatakan bahwa penafsiran alZamakhsary lebili banyak berorientasi pada aspek
balaghah, untuk mengungkap keindahan dan
rahasia yang terkandung dalam al-Quran.
Sehingga tafsir al-Kasysyaf sangat terkenal di
negara-negara Islam di belahan timur, karena
disana perhatian masyarakat pada kesusastraan
sangat besar. Subhi al-salih juga menyatakan hal
yang sama, bahwa tafsir al-Kasysyaf mempunyai
keistimewaan dalam mengetengahkan aspek

44

balaghah dan membuktikan beberapa bentuk Ijaz


dengan cara adu argumentasi. Tafsir al-Kasysyaf
uraiannya jelas dan tidak bertele-tele.
2.
al-Zamakhsaryt adalah seorang teolog
(mutakallimin)
sekaligus
seorang
tokoh
Mutazilah. Kedua predikat ini juga. mewarnai
penafsirannya yang tertuang dalam tafsir alKasysyaf, sehingga tafsir tersebut juga memiliki
corak teologis dan lebih khusus lagi corak
Mutazilah (laun al-Itizah)
al-Zamakhsyary sebagai tokoh Mutazilah yang
benar-benar menguasai bahasa Arab dan
balaghah, sering menggunakan keahliannya itu
untuk membela alirannya, jika menemukan dalam
al-Quran suatu lafaz yang tampaknya tidak
sesuai dengan Mutazilah, la berusaha dengan
segenap kemampuannya untuk membatalkan
makna yang tampak dan menetapkan makna
lainnya yang terdapat dalam bahasa.
Al-Zamakhsyary
juga
memperlihatkan
keberpihakannya pada Mutazilah dan membelanya
secara gigih, dengan menarik ayat mutasyabihat
pada muhkamat. Oleh karena itu, ketika ia
menemukan
suatu
ayat
yang
tampaknya
bertentangan dengan prinsip-prinsip Mutazilah, ia.
akan
mencari
jalan
keluar
dengan
cara
mengumpulkan
beberapa
ayat,
kemudian
mengklasifikasikannya pada ayat muhkamat dan
mutasyabihat, ayat-ayat yang sesuia dengan paham
Mutazilah di kelompokkan kedalam ayat muhkamat,
sedangkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan
pahan Mutazilah di kelompokkan kedalam ayat
mutasyabihat, kemudian ditakwilkan agar sesuai
dengan prinsip-prinsip Mutazilah.
e. Penilaian Uama.
Dikalangan para ulama, tafsir al-Kasysyaf
sangat terkenal karena kepiawaian al-Zamakhsyary

45

dalam
mengungkap
kemukjizatan
al-Quran,
terutama mengena keindahan balaghahnya. Mereka
bahkan mengatakan bahwa tafsir inilah yang pertma
kali menyingkap kemujizatan al-Quran secara
sempurna. Namun tiada gading yang tak retak. Di
samping mempunyai kelebihan, tafsir ini juga
mempunyai kelemahan dan kekurangan, berikut ini
beberapa penilaian ulama terhadap tafsir alKasysyaf.
1. Imam Busykual
Setelah mengadakan penelitian terhadap dua
tafsir, yaitu tafsir ibn Athiyyah dan tafsir alZamakhsyary, Busykual berkesimpulan bahwa
tafsir ibn Athiyah banyak mengambil sumber dari
naql, lebih luas cakupannya dan lebih bersih,
sedangkan tafsir al-Zamakhsary lebih ringkas dan
lebih mendalam. Hanya saja al-Zamakhsyary
sering menggunakan kata-kata yang sukar dan
menggunakan
syair,
sehingga
mempersulit
pembaca untuk memahaminya, dan sering
menyerang mazhab lain. Hal ini terjadi karena ia
berusaha
membela
mazhabnya,
mazhab
Mutazilah.
2.
Haidar al-Harawy
Haidar al-Harawy menilai bahwa tafsir al-Kasysyaf
merupakan kitab tafsir yang sangat tinggi
nilainya. Tafsir-tafsir sesudahnya menurut Haidar
tiada satupun yang dapat menandinginya, baik
dalam
kemudahan
maupun
kedalamannya,
kalaupun ada, maka penyusunannya hanya
mengutip
apa
adanya,
tanpa
mengubah
sedikitpun baik susunan kata maupun kalimatnya.
Tafsir al-Kasysyaf sangat terkenal di berbagai
negara dan menaburkan mana dan kandungan
al-Quran dalam setiap kalbu insan, bagaikan
matahari di siang hari menyinari seluruh daratan
bahari. Namun bukan berarti bahwa al-Kasysyaf
adalah sempurna tanpa kekurangan. Menurut

46

Haidar, kekurangan-kekurangan yang terdapat


pada al-Kasysyaf antara lain:
a. Sering melakukan penyimpangan mana dan
lafadz tanpa di pikirkan lebih mendalam, dan
menafsirkan ayat dengan panjang lebar,
seakan-akan manutupi kelemahannya, serta
penuh dangan pemikiran Mutazilah.
b. Terlalu banyak menghadirkan syair-syair dan
peribahasa yang penuh kejenakaan, yang jauh
dari tuntunan syari'at.
c. Sering menyebut ahl al-sunnah wa al-jama'ah
dengan sebutan yang tidak sopan, bahkan
kadang-kadang mengkafirkan mereka dengan
sindiran-sindiran. Ini adalah suatu perilaku
yang tidak layak di sandang oleh ulama yang
baik.
3. Ibn Khaldun
Ketika membahas pentingnya lughah,Irab dan
balaghah dalam memahami al-Quran, Ibn
Khaldun mengatakan bahwa di antara tafsir yang
baik dan dan paling mampu mengungkapkan alQuran dengan pendekatan bahasa dan balaghah,
adalah
tafsir
al-Kasysyaf.
Hanya
saja
penyusunnya
bermazhab
Mutazilah
dalam
masalah aqidah. Dengan balaghah ia membela
mazhabnya dalam menafsirkan al-Quran, karena
itu sebagian ulama menentangnya dengan
balaghah dalam pengertian ahl al-sunnah, bukan
menurut pengertian Mutazilah.
4.
Mustafa al-Sawi al-Juwaini
al-Sawy berpendapat bahwa al-Zamakhsyary
adalah seorang ulama Mutazilah yang sangat
fanatik dalam membela paham Mutazilah,
sehingga penafsirannya sangat dipengaruhi oleh
prinsip-prinsip Mutazilah. Oleh
karena
itu,
tafsirnya seakan-akan merupakan pembelaan
Mazhab Mutazilah

47

40. Tafsir "al-Muharrar al-Wajiz Fi tafsir al-Kitab


al-'Aziz" (Tafsir Ibnu Athiyah). Karya Imam alQodhi Abu Muhammad Abdul Haq Bin Ghalib
Bin Abdir Rahman. W. 541 H
a. Nama Tafsir
al-Muharrir al-Wajiz fi tafsir Kitab al-Aziz
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap Ibnu ayhiyah adalah abd al-haqq
bin Ghalib bin Athiyah al-Andalusi. Ia dilahirkan pada
tahun 481 H. dan wafat pada tahun 546 H.
Ibnu athiyah adalah salah seorang hakim
terkenal dari Spanyol selama masa keemasan Islam.
Ia dibesarkan dilingkungan para pecinta ilmu dan
keluarga terhormat. Ia adalah salah seorang hakim
yang mempunyai reputasi tinggi dan ahli dalam
berbagai ilmu pengetahuan, hadits, tafsir, bahasa
dan sastra. Ia juga seorang tokoh terkemuka dari
madzhab Maliki.
Diantara gurunya adalah ayahnya sendiri yakni
Abu Bakar Ghalib Ibnu Athiyah seorang imam yang
hafiz. Guru yang lainnya adalah Abi Ali al-Ghassany
dan al-Shafdy. Murid-muridnya yang terkenal adalah
Abu bakar ibni Abi hamzah, Abu al-Qasim bin Jaiz,
Abu jafar bin Mudho.
Selain itu ia juga ahli tata bahasa, pakar
bahasa, ahli filologi, ahli penyusunan kamus
(leksiografer), penulis dan penyair. Ia terkenal
dengan kepiawian dan kecemaerlangan dan
kecerdasannya.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir ini, dalam bentuk manuskripnya, terkenal
karena pembahasannya yang ekklusif. Terdapat 10
(sepuluh) jilid besar yang hingga kini masih eksis.

48

Al-Dzahaby menyebutkan bahwa di dar alKutub al-Misriyah kitab tafsir ini berjumlah empat
jilid, yaitu jilid III, V, VII, dan X.
Tafsir Ibnu Athiyah lebih baik daripada
kebanyakan tafsir lain, meskipun tafsir ini memiliki
beberapa hal yang tidak shahih.
d. Metodologi Penafsiran
Tafsir ini tergolong tafsir bi al-matsur karena
sebagaian besar penafsirannya bersandar pada
riwayat. Namun demikian tafsir ini tidak membatasi
pada riwayat saja tetapi juga didalamnya
ditambahkan semangat ilmiah sebagai refleksi
kecerdasan pengarangnya hingga tafir ini semakin
mempesona dan diogemari para pembacanya.
Tafsir ini banyak menukil dari tafsit al-Thabary,
dan riwayat-riwayat dari kaum salaf yang dinukil
dengan sesekali dikomentari dan sesekali tidak
diberi penjelasan. Tafsir ini banyak juga yang
menggunakan
syiir
Arab
sebagai
penguat
penafsiran yang dijelaskannya.
e. Penilaian Ulama
Ibnu Taimiyah dalam fatwanya membuat
perbandingan antara Tafsir Ibnu Athiyah dengan
tafsir al-Zamakhsary dan beluai mengatakan: Tafsir
Ibnu Athiyah lebih baik daripada tafsir alZamakhsary dan lebih akurat dalam pengambilan
sumber-sumber dari periwayatannya, selain itu
beliau juga mengatakan Tafsir Ibnu Athuyah lebih
menyerupai ahli sunnah wa al-jamaah dan lebih
selamat
dari
bidah
disbanding
dengan
zamakhsary.
Dalam muqaddimah tafsirnya Ibnu Hayyan juga
membandingkan kitab tafsir Ibnu Athiyah dengan
tafsir al-Zamakhsary dengan berkomentar: Tafsir
Ibnu Athuyah lebih manqul (dominan tafsir bi al-

49

Matsurnya), lebih padat dsan lebih murni, sedang


tafsir al-Zamakhsary lebih ringkas dan lebih dalam.
41. Tafsir Majma al-Bayan fi Tafsir al-Quran
karya Abu Aly al-Fadl bin al-Hasan al-Thibrisy
al-Thusy (468 H, - 548 H).
a. Nama Tafsir
Majma al-Bayan fi Tafsir al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu Aly al-Fadl bin
al-Hasan al-Thibrisy al-Thusy atau lebih dikenal
dengan nama Syeikh al-Turusy. Syeikh al-Thurusy
lahir pada tahun 468 H, di Tubrustan Khurasan.
Tetapi ada yang mengatakan bahwa Syeikh alTurusy berasal dari T}ubrus kota Qum. Syeikh alThurusy termasuk salah satu ulama Syiah dua
belas. Meninggal pada tahun 548 H.
Diantara karya-karyanya adalah Tafsir Jawami
al-Jami, al-Kafy al-Syafi an al-Kasysyaf dan lainlain.
c. Keberadaan dan metodologi Tafsir
Syeikh al-Turusy mempunyai dua kitab tafsir
yaitu, Majma al-Bayan dan Jawami al-Jami. Kedua
tafsir ini sama-sama terkenal di kalangan umat
Islam Syiah, khususnya Majma al-Bayan. Di dalam
tafsir Majma al-Bayan memuat bernagai macam
pembahasan ilmiah, seperti bahasa, irab, naz}m
dan sabab nuzul.
Tafsir ini disusun dengan cara menampilkan
surat dan menyebutkan Makkiyah dan
Madaniyahnya. Selain itu, tafsir ini juga memuat
banyak tetang perbedaan pandangan di kalangan
ulama tafsir seputar jumlah ayat yang terkandung

50

dalam setiap surat, perbedaan qiraat. Setelah


menerangkan beberapa poin pokok, kemudian
diterangkan pula hal-hal yang berkaitan dengan
ayat seperti, alasan mengapa kata ini atau itu
mesti ditafsirkan demikian, hukum yang
terkandung di dalamnya, kisah, tawil dan
kesesuaian ayat dengan ayat yang lain.
Kitab tafsir ini dicetak beberapa kali diMesir,
Iran, Bairut, Iraq dan negara-negara Islam lainnya.
Di Teheran kitab ini dicetak oleh Maktabah alIlmiyah al-Islamiyah dengan tahqiq Abu al-Hasan alSyarany dengan jumlah 10 jilid. Pada tahun 1382
H. Percetakan Dar al-Taqrib Kairo mencetak kitab ini
dengan jumnlah 12 jilid dengan diberi muqaddimah
oleh Ahmad Syalthut.
42. Tafsir "Zad al-Masir Fi Ilm al-Tafsir" (Tafsir alJauzi). Jamaluddin Abul Farag, Abdurrahman
Bin Abi al-Hasan/terkenal dengan Imam Ibnu
al-Jauzi. W. 597 H
43. Tafsir "Mafatih al-Ghaib" atau "al-Tafsir alKabir" (Tafsir al-Razi). Karya Imam Abu
Abdillah, Muhammad Bin Umar Bin Husain alQurasyi aL-Razy al-Tabrastani al-Syafi'i. W. 639
H
a. Nama Tafsir:
Mafaatih al-Ghaib
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap al-Razy adalah Abu Abdillah
Muhammad bin Umar bin Husain bin Hasan bin Ali
al-Tamimy
al-Bakry
al-Thabaristany
al-Razy.
Kemudian dijuluki dengan nama Fakhruddin al-Razy.
Lahir tahun 543 H./1149 M atau 544 H/1150 M.
Wafat di kota Heart (alray) pada tahun 606 H./1209

51

M. Menurut sebagian riwayat bahwa ia wafat diracun


oleh kelompok Karramiyah akibat seringnya adanya
perdebatan
dengan
mereka
hingga
saling
mengkafirkan.
al-Razy adalah seorang ulama yang banyak
menguasai disiplin ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu
aqliyah, ia menguasai ilmu logika, filsafat, dan
sangat menonjol dalam ilmu kalam (teologi Islam).
Saking menguasainya dalam berbagai ilmu hingga
ia menjadi seorang imam (pakar) dalam bidang
tafsir, ilmu kalam, ilmu bahasa dan ilmu logika.
Mula-mula belajar pada ayahnya Dliya al-Din
(dikenal dengan nama al-Khatib al-Ray), kemudian
belajar pada al-Kamal al-Samany, al-Majd al-Jaily,
dan ulama-ulama semasanya. Selain belajar di kota
kelahirannya al-Razy juga belajar di kota Khawarizm,
Bukhara dan samarkand. Sekitar tahun 582 H./1185
M. ia bekerja di Ghazna dan Hindi, kemudian
menetap di Heart dibawah perlindungan Sultan
Gharid dan Khawarizmsyah.
al-Razy termasuk ulama yang produktif, ia
mempunyai banyak karangan, antara lain dalam
bidang tafsir dan ilmu al-Quran terdapat Mafatih
al-Ghaib, al-Burhan fi Qiraah al-Quran, Durrah
al-Tanzil wa Ghurrah al-Tawil fi Ayat alMutasyabihat, dalam bidang kalam terdapat alMathalib al-Ulya, Kitab al-Bayan wa al-Burhan fi alRadd ala Ahl al-Zaigh wa al-Tughyan, dalam bidang
ushul fiqh terdapat al-Muhashshal fi Ushul al-Fiqh,
dalam bidang filasafat terdapat Syarakh al-Isyarah
wa Tanbihat li Ibn Sina, dan lain-lainnya.
c. Keberadaan Tafsir
Karya tafsir al-Razy ini berjudul Mafatih alGhaib, kitab tafsir ini tergolong kitab tafsir besar
terdiri dari 8 jilid. Menurut al-Qadly Syuhbah kitab
tafsir ini tidak sempat diselesaikan oleh al-Razy, ia
hanya sampai pada surat al-Anbiya saja, kemudian

52

tafsir ini diteruskan oleh orang lain, yaitu Ahmad bin


Muhammad Ibn al-Hazm Makky Najm al-Din alMakhzumy (wafat 727 H.) menurut Ibn Hajar.
Adapun menurut pengarang kitab Kasy al-Dhunun
yang meneruskan adalah Najm al-Din Ahmad bin
Muhammad al-Qamuly (wafat 727 H.) dan Syihab alDin bin Khalil al-Khauby al-Dimasyqy (wafat 629 H.).
Meskipun demikian, pembaca tafsir ini tidak
akan mendapatkan perbedaan tentang metode dan
alur pembahasan dalam penafsiran ayat-ayat alQuran.
Menurut al-Dzahaby di antara bukti bahwa
tafsir ini tidak diselesaikan oleh al-Razy dengan
sempurna yaitu penjelakasan tafsir ini pada
penafsiran surat al-Waqiah: 24.


Berkaitan dengan ayat ini terdapat penjelsaan:
masalah
pertama
adalah
masalah
pokok
sebagaimana dijelaskan oleh imam fakhruddin alRazy
diberbagai
tempat
Penjelasan
ini
mengindikasikan bahwa yang menafsirkan ayat ini
bukanlah al-Razy tetapi ulama lain.
d. Metodologi Penafsiran
Di tinjau dari urutan ayat-ayat yang ditafsirkan
tafsir ini menggunakan metode Tahlily sedang dari
sumber penafsiran menggunakan metode bi alRayi. Selain metode di atas al-Razy juga
menggunakan metode analisis dengan menjelaskan
korelasi antar ayat. Korelasi antar ayat tidak hanya
sekedar dijelaskan dengan ayat tertentu bahkan
terhadap berbagai ayat dalam al-Quran Tafsir ini
juga banyak menguraikan ilmu-ilmu eksakta, fisika,
falak, filsafat dengan mengemukakan argumen
rasional para folosof serta berbagai macam
pandangan ahli fiqh.

53

Selain itu masalah bahasa dan kebalaghian alQuran juga sering dikemukakan, hingga seakanakan kitab tafsir ini merupakan ensiklopedi ilmu
kalam, kosmologi, fisika dan ilmu-ilmu eksakta
lainnya.
Dengan demikian kitab tafsir ini menjelaskan
segala hal berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu
selama mempunyai relevansi dengan ayat yang
ditafsirkan.
e. Penilaian Ulama
Pada dasarnya kitab tafsir ini tergolong kitab
tafsir bi al-rayi mahmud
karena penafsirannya
sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran, hanya saja
karena tafsir ini menjelaskan secara panjang lebar
tentang berbagai macam disiplin ilmu baik berkaiatn
dengan keagamaan atau masalah umum, maka
kitab tafsir ini kemudian menuai kritik minor dari
sebagian ulama.
Berkaiatan dengan tafsir ini pengarang kitab
Kasy al-Dhunun berkata: al-Razy memenuhi
tafsirnya dengan pendapat-pendapat kaum ahlu
hikmah dan filosof sehingga orang yang melihatnya
merasa taajub (heran). Ibnu Hayyan berkomentar:
Imam al-Razy memasukkan segala sesuatu dalam
tafsirnya yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam
ilmu tafsir, hingga sebagian ulama menyatakan
bahwa dalam tafsir al-Razy ini terdapat segala
sesuatu kecuali tafsir.
44. Tafsir Rahmah min al-Rahman fi Tafsir wa
Isyarat al-Quran, karya Muhammad bin Aly
bin Muhammad bin Abdullah al-Araby (560 H
638 H).
a. Nama Tafsir

54

Rahmah min al-Rahman fi Tafsir wa Isyarat


Quranl

al-

b. Riwayat Hidup Pengarang


Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah
Muhammad bin Aly bin Muhammad bin Abdullah
al-Araby atau lebih dikenal dengan al-Syeikh alAkbar dan Sheikh Muhy al-Din bin Araby. Ia lahir
pada tahun 560 H./1165 M. dan merupakan
seorang tokoh sufi terkenal. Sheikh Muhy al-Din
bin Araby meninggal pada tahun 638 H.
Diantara karya-karyanya adalah: al-Futuhat
al-makkiyah, Qushush al-Hikam, Diwan al-Syaikh,
Rauh al-Quds fi al-tarjamah an al-Quran dan lainlain.
c. Keberadaan dan metodologi Tafsir
Tafsir karya Sheikh Muhy al-Din bin Araby ini
dikenal dengan nama Rahmah min al-Rahman fi
Tafsir wa Isyarat al-Quran. Tafsir ini tidak memuat
keseluruhan ayat al-Quran, akan tetapi tafsir atas
ayat-ayat yang ada kaitannya dengan dunia sufi.
Secara sistematika, tema-tema yang ada di dalam
kitab tafsir ini disusun sesuai dengan urutan
mushaf al-Quran.
Dalam menafsirkan ayat al-Quran terlebih
dahulu menghadirkan makna dhahir ayat
kemudian meriwayatkan makna lain kemudian
menjelaskan dengan dhahir dan isyarat.
Tidak banyak menjelaskan riwayat-riwayat
israiliyat bahkan mengingkari riwayat-riwayat
tersebut.
Kitab tafsir ini dicetak pertama kali di
Damaskus oleh Mathbaah Nashar tahun 1410
H./1989 M. dengan jumlah 4 jilid.

55

45. Tafsir "Amaly Fi Tafsir al-Quran". Karya Syaih


al-Islam, Izzuddin, Abdul Aziz Bin Abdissalam
al-Masry al-Syafi'i. W. 660 H

56

TAFSIR PERIODE PERTENGAHAN (Tahun 656


H /XII H.) (masa ulama mutaakhkhirin)
1. Tafsir "al-Jami' Li Ahkam al-Quran" (Tafsir alQurthubiy). Karya Imam Muhammad Bin
Ahmad Bin Abi Bakar Bin Farah al-Anshoriy alKhazraji al-Andalusiy. Malikiy al-Madzhab. W.
671 H
a. Nama Tafsir:
al-Jami li Ahkam al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap al-Qurthuby adalah Abu Abdillah
Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakar ibn Farh alAnshary al-Khazrajy al-Andalusi. Tidak ada penjelasan
tentang waktu lahirnya tetapi beliau wafat pada
tahun 671 H.
Sebagian riwayat menjelaskan bahwa al-Qurthuby
termasuk seorang hamba Allah yang shaleh, ahli
zuhud dan ulama yang arif dalam madzhab maliki.
Saking zuhudnya hingga ia hanya mempunyai satu
pakaian dan satu kopyah semasa hidupnya.
Diantara gurunya adalah Abi al-Abbas Ibn Umar alQurthuby, Abiu Ali al-hasan ibn Muhammad al-Bakry.
Hidupnya banyak dicurahkan untuk tawajjuh kepada
Allah dan mengarang hingga mempunyai banyak
karangan. Diantara karya-karyanya adalah: al-Jami
li Ahkam al-Quran, syarkh Asmaul Husna, Kitab
al-Tidzkar fi Afdhal al-Adzkar, Kitab Tadzkirah li
Umur al-Akhirah, Syarkh al-Tuqsha, Kitab Qam alHirshy bi al-Zuhd wa al-Qnaah dan lain-lainnya.
Sebagian karyanya dalam bidang taswwuf.

57

c. keberadaan tafsir
Tafsir al-Qurthuby termasuk tafsir yang besar. Dalam
tafsir ini pengarang tidak membatasi penafisrannya
pada ayat-ayat yang terkait dengan hokum saja
tetapi semua ayat ditafsirkan sesuai dengan urutan
surat dalam mushhaf.
Tafsir ini sangat luas dalam mengkaji ayat-ayat
hokum, di adalamnya dikemukakan berbagai
masalah khilafiyah. Selain itu diketengahkan pula
dalil-dalil yang dikemukakan dengan diberikan
komentar. Pengarangnya tidak fanatik terhadap
madzhab Maliki walaupun ia pendukung madzhab
tersebut.
Dalam tafsir ini pengarang juga melakukan
konfrontasi terhadap sejumlah golongan seperti
Mutazilah, Syiah, para ahli filsafat, kaum sufi dan
lain-lainnya tetapi dengan bahasa yang halus dan
sopan.
Kitab tafsir ini sempat hilang dari perpustakaan
hingga akhirnya dicetak oleh Dar al-Kutub al-Misriyah
pada
mulanya,
kemudian
dal
al-Fikr
serta
percetakan-percetakan lainnya. Kitab ini berjumlah
sekitar 23 jilid besar.
d. metodologi penafsiran
Ditinjau dari sumber penafsiran tafsir al-Qurthuby
termasuk tafsir bi al-rayi. Dari segi cara
penjelasannya termasuk tafsir muqarin. Dari segi
keluasan penjelasannya termasuk itnaby. Dari segi
sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan
termasuk tafsir tahlily.
Kecenderungan tafsir ini adalah fiqhy terutama
madzhab Maliky.
Metode
yang
ditempuh
adalah
mula-mula
menampilkan ayat-ayat al-Quran yang akan
ditafsirkan. Kemudian menafsirkan ayat-ayat alQuran dengan mengemukakan asbab nuzul (jika

58

ada), macam-macam qiraat, Irab, penjelasan lafadzlafadz yang gharib, mengkaitkan pendapat para
ulama.
Selain metode di atas dalam kitab tafsir ini
pengerang menyediakan paragraph khusus bagi
penjelasan ahli tafsir dan ahli sejarah kemudian
mengutip pendapat mereka yang dipercaya. Selain
itu juga mengutip pendapat para ulama terutama
yang ahli hokum dan ulama tafsir sepeti: al-Thabary,
Ibn Athiyah, Ibn Araby, al-Jashshash dan lain lainnya.
e. nilai tafsir
Tafsir al-Qurthuby termasuk tafsir bi al-Rayi yang
mahmud karena penafsiran terhadap ayat-ayat alQuran dalam tafsir ini sesuai dengan kaidah-kaidah
penafisran al-Quran. Terhadap ayat-ayat yang akan
ditafsirkan selalu dikemukakan riwayat-riwayat
dengan sanad yang lengkap, selain itu dikemukaan
juga asbab nuzul dan ilmu-ilmu yang terkait dengan
panfsiran juga ditampilkan.
Berkaitan dengan tafsir ini Ibnu Farkhun berkata:
Tafsir al-Thabary adalah tafsir yang paling agung
dan banyak memberikan faedah. Di dalamnya
dijelaskan hukum-hukum beserta dengan dalildalilnya, qiraat dan nasakh mansukh juga kerap kali
dijelaskan dalam tafsir ini
2. Tafsir " Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil"
(Tafsir al-Baidhawi). Karya Qodhi al-Qudhoh,
Abdullah Bin Umar al-Baidhawi al-Syafi'i. W.
691 H / 685 H
a. Nama Tafsir
Anwar al-Tanzil wa asrar al-Ta'wil
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama pengarang tafsir ini adalah Nashiruddin
Abu al-Khair Abdullah bin Umar al-Baidhawy (w. 685

59

H), dilahirkan di kota Baida, sebuah daerah yang


berdekatan dengan kota Syiraz di daerah Iran
bagian selatan. Kota tempat kelahiran al-Baidhawy
ketika itu merupakan kota pusat ilmu pengetahuan
hingga ia lebih mudah untuk mengusasi ilmu-ilmu
agama hingga menjadi seorang hakim agung,
namun demikian ia akhirnya mengundurkan diri dari
hakim agung.
Selepas mengundurkan diri dari hakim agung,
al-Baidhawy mengembara ke Tabriz hingga akhirnya
meninggal dunia. Di Kota Tabriz inilah beliau menulis
karya tafsirnya ini. Selain mengusai ilmu tafsir alBaidhawy juga menguasai ilmu fiqh, ilmu ushul fiqh,
teologi, nahwu, mantiq dan sejarah, hal ini terbukti
dengan karya dalam ilmu-ilmu tersebut.
Diantara karya-karya al-Baidhawy adalah: Kitab
Minhaj al-Wushul, Tawali al-Anwar Anwan al-Tanzil
dan lain-lain.
c. Keberadaan Tafsir
Ada du alasan yang mendasar tentang
penulisan kitab tafsir ini, hal ini sebagaimana
dinyatakan
oleh
al-Baidhawy
sendiri
dalam
muqaddimah tafsirnya, yaitu:
1. Ilmu tafsir adalah ilmu yang tertinggi. alBaidhawy menyatakan: Sesungguhnya ilmu yang
paling tinggi derajatnya dan paling mulia adalah
ilmu tafir, ilmu ini adalah pemimpin ilmu-ilmu
agama dan kepalanya, pondasi dasar ilmu-ilmu
agama.
2. Melaksanakan apa yang diniatkan seja lama.
Dalam kaitan ini al-Baidhawy menyatakan: Saya
telah lama berkeinginan menulis kitab tafsir
sesuai dengan yang telah saya pelajari dari para
sahabat, tabiin dan para kaum salaf. Kitab yang
akan mencakup pikiran-pikiran saya dan mereka
yang sebelum saya. Didalamnya mencakup
qiraat dari delapan imam.

60

Dalam
penulisan
tafsir
ini
al-Baidhawy
mendapat bimbingan dari gurunya yaitu Syekh
Muhammad al-Khaththaby, salah seorang ulama
yang menyarankan al-Baidhawy mengundurkan diri
dari jabatannya hakim agung.
Tafsir al-Baidhawy sangat popular di kalangan
kaum muslimin maupun orang-orang Barat. Bahkan
populernya tafsir ini didunia barat menyamai
populernya tafsir jalalain di dunia Islam, hingga
sebagian tafsir ini yang diterjemahkan dalam
bahasa Inggris dan perancis.
Eric F.F.L. Bishop menerjemahkan penafsiran
surat Yusuf dari tafsir al-Baidhawy dalam karyanya
yang berjudul: The light of Intspiration and the
Secret of Interpretation of the Chapter of Yoseph
(surat Yusuf) with the Commentary of nashir ad-Din
al-Baidhawy.
d. Metodologi Penafsiran
Di lihat dari segi luasnya penafsiran tafsir alBaidhawy menggunakan model tahlily, dan dari
kecenderungannya tafsir ini mencakup berbagai
macam qiraat, kebahasaaan, aqidah filsafat, fiqh
dan tasawwuf.
Tafsir ini merupakan kombinasi antara riwayah
dan dirayah. Tafsir ini dilengkapi dengan bukti-bukti
untuk menopang argumentasi ahl al-sunnah wa aljamaah.
Metode penalaran secara logis juga ditentukan
dalam tafsir ini, sehingga tafsir ini menjadi polpluler
dengan adanya beberapa catatan atau komentar
ualma terkait dengan tafsir ini.
e. Penilaian Ulama
Menurut al-Dzahaby terdapar sekitar 40 (empat
puluh) komentar tenbtang tafsir al-Baidhawy. Edwin
Carverly menyebutkan lebih kurang 80 (delapan
puluh) komnetar tentang tafsir ini.

61

Sebagian ulama menilai tafsir ini merupakan


ringkasan dari tafsir al-Kassyaf karya al-Zamakhsay,
Mafatih al-Ghaib karya al-Razy dan tafsir al-Raghib
al-Asfihany, hanya saja terhadap ketiga tafsir di atas
al-Baidhawy mengadakan penelitian yang sangat
ketat.
3. Tafsir "Madarik al-Tanzil Wa Haqoiq al-Takwil"
(Tafsir al-Nasafi). Karya Imam Abul Barakat,
Abdullah Bin Ahmad Bin Mahmud al-Nasafi alHanafi. W. 701 H
a. Nama Tafsir
Madarik al-Tanzil Wa Haqaiq al-Tawil
b. Riwayat Hidup Pengarang
Abu al-Barakat Abd Allah bin Ahmad bin
Mahmud al-Nassafy al-Hanafy. Tidak dijumpai
keterangan tentang tempat dan tahun lahirnya.
wafat pada tahun 701 H. di Kota Aidzaj negara
bagian Kharistan.
al-Nassafy adalah salah seorang ulama
mutaakhkhirin ahli zuhud ternama, ahli dalam
bidang fiqh, ushul fiqh, hadits, manany dan lainlain. Belajar pada ulama-ulama besar pada
masanya, di antaranya adalah Syams al-Aimmah alKurdy, Ahmad bin Muhammad al-Ataby. Al-Nassafy
juga seorang ulama produktif yang mempunyai
banyak karangan, di antaranya adalah: Matan alWafy, Syarakh al-Kafy, Kanz al-Daqaiq, alManar, semuanya dalam bidang fiqh dan ushul fiqh.
al-Umdah fi Ushul al-Din dalam bidang teologi dan
Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Tawil dalam bidang
tafsir.
c. Keberadaan Tafsir

62

Kitab tafsir al-Nassafy terdiri dari dua jilid. Kitab


ini tergolong kitaf tafsir yang ulasannya sedang
tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
Menurut penilaian al-Dzahaby kitab tafsir al-Nassafy
merupakan ringkasan dari kitab tafsir al-Baidlawy
dan al-Kasysyaf karya al-Zamakhsary, hanya saja
dalam tafsir ini al-Nassafy meninggalkan madzhab
Mutazilah dan menyesuaiakan dengan madzhab
ahli sunnah wa al-jamaah sesuai dengan madzhab
yang diikutinya.
d. Metodologi Penafsiran
Sebagaimana kitab tafsir al-Baidlawy dan alZamakhsary, kitab tafsir al-nassafy menggunakan
metode bi al-rayi dan metode Tahlily. Selain itu
dipaparkan juga masalah-masalah Irab dari segi
ragam bacaan, segi balaghah, segi muhassinat, dan
makna-makna gharib (abstrak). Dari sudut qiraat
tafsir ini menguraikan macam-macam qiraah tujuh
(Qiraah
sabah)
yang
mutawatir
dengan
menghubungkan tiap-tiap qiraah kepada qarinya.
Berkaitan dengan ayat-ayat ahkam tafsir ini
menjelaskan berbagai macam wacana fiqh yang
ada, namun kecenderungannya kepada madzhab
Abu Hanifah. Selain itu permasalaan israiliyat juga
dijelaskan, namun tidak secara panjang lebar.
e. Penilaian Ulama
Tafsir al-Nassafy tergolong tafsir bi al-Rayi
yang mahmud (terpuji) sebab tafsir
ini selain
didasarkan pada penafsiran pada kaidah-kaidah
bahasa juga si mufassirnya terglong ulama yang
ahli dalam bidang tafsir. Tidak banyak ditemukan
komentar ulama tentang tafsir ini, hanya saja
dalam pandangan al-Dzahaby tafsir ini adalah tafsir
yang menggunakan ibarah yang ringkas sehingga

63

mudah dimengerti dan lebih ringkas dari tafsir alKasysyaf.


4. Tafsir
"Daqa`iq
al-Tafsir"
Karya
Imam
Taqiyuddin, Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdis
Salam, Ibnu Taimiyah al-Numairi al-Harani alDimasyqi. W. 728 H
a.

Nama Tafsir
Daqaiq al-Tafsir

b.

Biografi Penulis
Nama lengkapnya adalah Taqiy al-Din Abu
al-Abbas Ahmad bin Abd al-Halim bin Abd al-Salam
Muhammad bin Taymiyah. Ia lahir pata tahun 661 H
di Huran, Turki. Nasab Taymiyah dinisbahan kepada
kakeknya. Ia adalah salah satu ulama dalam
madzhab fiqih Hanbaly. Selain belajar ilmu-ilmu
keislaman, ia banyak mempelajari berbagai macam
ilmu, termasuk ilmu matematika.
c.

Keberadaan Tafsir

Tafsir ini tidak lengkap berisikan tiga puluh juz


al-Quran. Karena hal ini, banyak yang menilai tafsir
ini tidak sesuai degan namanya yaitu, al-Tafsir alKabir. Selain itu, ukurannya juga sangat kecil, jika
dibandingkan dengan kitab-kitab tafsir yang lain.
Ayat-ayat yang ditafsirkannya pun ayat-ayat yang
berkaitan dengan permasalahan-permasalahan
biasa yang sering diperdebatkan oleh kebanyakan
ulama.
Tafsir Ibnu Taymiyah tidak banyak
memperhatikan kaidah bahasa al-Quran dan tidak
juga memperhatikan urutan atau tartib ayat di
dalam al-Quran. Hal ini mungkin disebabkan
karena, tujuan dari penulisan tafsir adalah untuk

64

memberikan jawaban atas pertanyaan dan problem


yang ada di dalam kitabnya Fatawa.
5. Tafsir "Gharaib al-Quran wa Raghaib alFurqon" (Tafsir al-Naisaburi). Karya Imam
Nidzamuddin, Al-Hasan Bin Muhammad alKhurasani al-Nisaburi. W. 728 H
a. Nama Tafsir
Gharaib al-Quran wa Raghaib al-Furqan
b. Riwayat Hidup Pengarang
al-Naisabury
mempunyai
nama
lengkap
Nidham al-Din al-Hasan ibn Muhammad ibn Husain
al- Qummy al-Naysabury, namun ditemukan pula
nama lengkap beliau adalah al-Hasan bin
Muhammad bin Habib bin al-Ayyub, Abu al-Kasim.
Tidak ditemukan kapan beliau dilahirkan, namun
beliau wafat antara bulan dzul Hijjah dan Dzul
Qadah 728 Hijriah.
Beliau adalah seorang mufassir al-Quran yang
sangat disegani pada masanya, beliau adalah
seorang ahli bahasa, sejarawan dan ahli hadits.
Gurunya adalah Abu al-Abbas al-Asamm (w. 346 H.).
Karyanya antara lain Kitab al-Tanzil wa Tartib yang
hanya beberapa lembar folio.
al-Naysabury juga dikenal dengan Ukala almadjanin,
yaitu
sebuah
kitab
koleksi
dari
kecerdasan intelgensinya, yang menginformasikan
tentang sebuah aliran sastra, baliau juga seorang
humoris karyanya Buhlul yang setenar Layla Majnun
yang bermuatan dari anekdot konyol sampai pada
cerita mistik yang susah dipahami.
Beliau juga sangat sering memuji nama al-Djahiz
(w.255H) dan Ibn Abi al-Dunya al-Kurashi (w.281 H.)

65

yang banyak mewarnai karya sastranya, dan banyak


yang menyukai serta terkagum atas karya-karya.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir ini tidak terlalu besar bila dibandingkan
dengan kitab-kitab tafsir yang lain, Tafsir ini dicetak
beberapa kali, pernah mempunyai judul besar Jami
al-Bayan dan Gharaib al-Quran wa Raghaib alFurqan sebagai sub judulnya. Namun pada cetakan
tahun 1416 Hijriah atau 1996 Masehi langsug
menjadikan sub judul sebagai judul besarnya.
Kitab tafsir ini dicetak dengan jumlah 6 Jilid,
dengan komposisi sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Jilid I terdiri dari juz 1 dan 2,


Jilid II terdiri dari juz 3 sampai juz 6
Jilid III terdiri dari juz 7 sampai dengan 11
Jilid IV terdiri dari juz 12 sampai dengan 16
Jilid V terdiri dari juz 17 sampai dengan 23 dan
Jilid V1 terdiri dari juz 24 sampai dengan 30.
Tafsir ini dicetak juga dipinggirnya tafsir Ibnu
Jarir al-Thabary

d. Metodologi Tafsir
Dari segi tartib ayat-ayat yang ditafsirkan tafsir
ini termasuk tahlity yaitu dimulai dengan al-Fatihah
dan diakhiri dengan surat an-Nas, tafsir ini tergolong
bi al-rayi, walaupun tak jarang menghadirkan
hadits-hadits Rasul sebagai awal dari penjelasanpenjelasannya.
Dalam penafsirannya pada setiap awal surat
dituliskan nama surat, jenis surat makkyah atau
madaniyah-nya, jumlah huruf kalimat dan ayatnya.
Setelah itu dituliskan beberapa ayat yang akan
ditafsirkan selalu diikuti dengan qiraahnya dan tak
jarang disertakan pula tokoh-tokoh yang memiliki
jenis qiraahnya tersebut. Lalu dilanjutkan dengan
jenis waqafnya, sehingga pembaaca tafsir ini
mengetahui dimana diperbolehkan atau diwajibkan

66

berhenti dan tidak, baru


perkata atau perkalimat.

kemudian

ditafsirkan

Dalam muqaddimah tafsir-nya, al-Naisabury


menyebut nama Muhammad ibn Amr ibn Husain alKhatib al-Razy dan kitab al-Kasysyaf karya alZamakhsyari
yang
banyak
mempengaruhi
penafsiran-penafsirannya. Uniknya, masih dalam
muqaddimah tafsirnya, beliau membagi menjadi 11
muqaddimah sesuai karakter tafsir Gharaib alQur'an wa Raghaib al-Furqan. Pembagian yang
menjadi nilai dififerensiasi adalah sebagaimana
berikut:
a. Muqaddimah I, beliau membicarakan tentang
keutamaan Qiraah, Qari, adab at-qiraah,
kebolehan berbeda qiraah dan sekaligus
mengupas qiraah yang masyhur dan mutabar.
Dalam penjelasannya dikuatkan dengan
hadits-hadits yang mengindikasikan adanya
perbedaan qiraah terhadap ayat-ayat alQur'an.
Sedangkan qiraah sabah yang digunakan
dalam
tafsir
ini
dijelaskan
jalur
periwayatannya, sebagaimana berikut:
1. Abu Amr Ziban ibn al-Ala al-Bashry (w.
154 H.) diriwayatkan dari Mujahid ibn
Jabir, Said ibn Jubair dari Ibnu Abbas, dari
Abi Ibnu Kaab dari Rasulullah.
2. Ibn Katsir, yaitu Abu Muhammad Abdullah
ibn
Katsir
al-Makky
(w.
120
H.)
diriwayatkan dari Mujahid ibn Jabir dari
Ibn Abbas dari Abi ibn Ka'ab dari
Rasulullah SAW.
3. Nafi ibn Abi Naim al-Madany (w. 169 H.)
telah membacakan berdasarka bacaan Abi
Jafar al-Qary dan 70 orang tabiin, Ibnu
Abbas dan Abi Hurairah dari Abi Kaab dari
Nabi.

67

4. Abdullah Ibn 'Amir al-Yahshaby as-Syamy


(w.
118
H.)
telah
membacakan
berdasarkan atas bacaan al-Mughirah ibn
Abi Sahab al-Makhzumy, berdasarkan
Utsman ibn Affan ra. dari Rasulullah.
5. Ashim ibn Bahdalah al-Asady (w. 128 H.),
metode bacaannya berdasarkan Zara ibn
Hubai , Abdullah Ibn Masud atas
Rasulullah.
Dan
juga
membacakan
berdasarkan Abi Abdurrahman Abdullah
ibn Hubaib as-Salamy gurunya adalah
Hasan dan Husain atas Ali atas Rasulullah.
6. Hamzah ibn Hubaib az-Ziyat al-Ajaly (w.
156 H.), bacaanya berdasarkan Sulaiman
ibn Mihran al-Asyamy, Yahya ibn Watsab,
Zarra ibn Hubaisy, Ali ibn Thalib, Utsman,
serta Ibnu Masud atas Rasulullah.
7. Ali Ibn Hamzah al-Kisay (w. 189 H.)
bacaannya berdasarkan Hamzah ibn
Hubaib, Yahya ibn Watsab, Zarra ibn
Hubaisy, Ustman, dan Ali, serta Ibnu
Masud atas Rasulullah.
b. Muqaddimah II, membahas tentang urgensi
dari bacaan taawudz sebelum membaca alQuran.
c.
Muqaddimah III, membahas tentang
masalah-masalah penting yang kemudian
dijadikan dasar dlam bahsan tafsir, yaitu:
1. Qiraat
Sabah.
Menurutnya
yang
diriwayatkan secara mutawattir adalah
cara bacanya bukan tafsirnya.
2. Tempat waqaf-nya
3. Sabah al-Ahraff (tujuh dialek) dari dialek
Qurasy, namun dari ketujuh dialek
tersebut harus didapati kesepakatan
Maknanya.
d. Muqaddimah IV, dalam muqaddimah ini
diceritakan tentang bagaimana al-Quran
dikumpulkan, yang diawali oleh ide Umar ibn

68

Khattab yang disampaikan kepada Abu Bakr


al-Siddiq.
e. Muqaddimah V, disampaikan alasan mengapa
perlu dihitung huruf, kalimat pada tiap
suratnya.
f. Muqaddimah VI, dikupas mengenai tujuh atau
delapan surat-surat yang panjang dalam alQur'an, yang konon diturunkan pada saat
Rasulullah melakukan peperangan.
g. Muqaddimah VII, dikupas mengenai huruf alQuran yang dibuang dalam penulisannya.
Seperti Bismillah dengan membuang huruf
alifya, lafadz fiimaa yang terpisah hanya pada
al-Baqarah 234, 240, al-Anan 145, 165, alAnfal 68, al-Anbiya' 102, an-Nur 14, az-Zumar
3, 46, dan al-Waqiah 61. dan beberapa tema
yang lain.
h. Muqaddimah
VIII,
membahas
menganai
pembagian waqaf.
i. Muqaddimah IX, membahas mengenai istilah
yang penting. Seperti yadullah dan lain
sebagainya.
j. Muqaddimah X. membahas menganai bahwa
kalam Allah itu qadim atau bukan?.
k. Muqaddimah XI, membahas menganai metode
pengambilan (istimbath) beraneka ragam
hukum, sedangkan ayatnya sedikit.
Dari latar belakang di atas, Imarn al-Naysabury
mengutamakan pada qiraat al-Quran disertai
dengan jalur bacaannya sampai Rasulallah, waqaf,
hitungan huruf kalimat dalam tiap surat, tafsir dan
takwilnya. Disertai hadits-hadits Nabi sebagai
penjelas bahkan untuk memudahkan tak jarang
beliau menggunakan syiir.
Selain masalah-masalah di atas al-naisabury
juga membahas tentang masalah ilmu kalam
dengan menjelaskan berbagai macam pendapat
madzhab ilmu kalam serta argumen masing-masing.

69

Ketika membahas ayat-ayat kauniyat juga dibahas


serta disertakan pendapat-pendapat para filosof.
Masalah-masalah tasawwuf juga dibahas dalam
tafsir ini.
e. Penilaian Ulama
Tafsir ini menurut al-Dzahaby persis seperti
tafsir majma al-Bayan baik cara maupun
bentuknya. Hanya saja dalam tafsir ini ada
penambahan hukum-hukum waqaf di awal dan akhir
setiap penafsiran ayat dan adanya penawilan
terhadap ayat-ayat yang ditafsirkan. Kitab tafsir ini
merupakan syarakh al-Quran yang terbaik dan
mengandung faedah yang sangat besar
6. Tafsir "Lubbab al-Takwil Fi Ma'ani al-Tanzil"
(Tafsir al-Khozin). Karya Imam Alauddin, Abul
Hasan, Ali Bin Muhammad Bin Ibrahim Bin
Umar Bin Khalil al-Syaihi al-Bagdadi al-Syafi'i
al-Shufiy yang dikenal dengan al-Khozin. W.
741 H
7. Tafsir "Al-Bahr al-Muhith" (Tafsir Abi Hayyan).
Karya Imam Muhammad Bin Hayyan alAndalusiy. W. 745 H
a. Nama Tafsir
aI-Bahr al-Muhith
b. Riwayat Hidup Pengarang
Muhammad bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusi,
wafat pada tahun 745. Abu Hayyan al-Andalusi alGarnati mempunyai pengetahuan luas tentang
bahasa, tafsir, hadits, riwayat tokoh-tokoh hadits
dan tingkatannya terutama tokoh-tokoh yang hidup

70

di barat. la mempunyai banyak karangan dan yang


terpenting adalah kitab tafsirnya, al-Bahrul Muhit.
c. Keberadaan Tafsir
Tafsir terdiri atas delapan jilid besar ini telah
diterbitkan dan beredar luas. Di dalamnya Abu
Hayyan banyak mencurahkan perhatian untuk
menerangkan wajah-wajah i'rab dan masalahmasalah Nahwu, bahkan cenderung memperluasnya
karena ia mengemukakan, mendiskusikan dan
memperdebatkan perbedaan pendapat di kalangan
Ahli Nahwu sehingga kitab ini lebih dekat ke kitabkitab Nahwu daripada ke kitab-kitab tafsir.
Dalam tafsir ini Abu Hayyan banyak mengutip
dari tafsir Zamakhsyari dan tafsir Ibn 'Athiyah,
terutarna yang berhubungan dengan masalah
Nahwu dan Irab. Dan seringkali ia mengakhiri
kutipannya dengan sanggahan, bahkan terkadang
pula ia menyerang Zamakhsyari dengan gencar
meskipun di lain segi ia memujinya karena
ketrampilannya
yang
menonjol
dalam
menyingkapkan retorika (balghah) Qur'an dan
kekuatan bayan-nya.
Abu Hayyan tidak menyukai paham keMutazilah-an al- Zamakhsyari. Karena itu ia
mengkritik dan menyanggahnya dengan gaya
bahasa yang sinis. Dalam banyak hal ia berpedoman
pada kitab al-Tahrir wa al-Tahbir li Aqwili A'immah alTafsir, karya gurunya Jamaluddin Abu Abdillah
Muhammad bin Sulaiman al-Miqdasi yang terkenal
dengan Ibnu al-Naqib. Tentang kitab karya
gurunya itu Abu Hayyan mlukiskannya sebagai kitab
paling besar yang disusun mengenai ilmu tafsir,
yang jumlahnya mencapai, atau hampir, seratus
buah.
d. Metodologi Penafsiran
Selain menggunakan metode bi al-Rayi
dengan model tahlily dalam menfasirkan ayat-ayat

71

al-Quran tafsir ini selalu disertai dengan kajian


kebahasaan (nahwu) hingga perbedaan pendapat
ulama tentang hal ini dijelaskan di dalamnya.
Selain itu juga membicarakan masalah hal-hal
yang terkait dengan penafsiran yakni masalah
asbab nuzul, nasakh mansukh, qiraat dan masalahmasalah fiqh juga duijelaskan.
Secara urut dalam menafsirkan setiap ayat alQuran tafsir ini mula-mula menjelaskan mufrodat
ayat, hukum nahwu untuk diketahui keterkaitan
lafadz-lafadz yang ditafsirkan, baru kemudian
menafsirkan ayat dengan memulia asbab nuzul,
nasaklh mansukh, munasabah, jenis-jenis qiraatqiraat, pendapat-pendapat ahli fiqh dan seterusnya.
e. Penilaian Ulama
al-Dzahaby berkata: Tafsir Abu hayyan banyak
mengutip dari tafsir al-Zamakhsary, Ibnu Athiyah
terutama masalah-masalah nahwu dan segi-segi
Irabnya.
Taj al-Din Ahmad bin Abd Qadir meringkas kitab
ini dan menamakan dengan ringkasan kitab
Zamakhsary bdan Ibnu Athiyyah.
8. Tafsir "al-Tafsir al-Qayyim" Karya Imam Ibnu
Qoyyim al-Jauziyah. W. 751 H
9. Tafsir " Tafsir al-Quran al-Adzim" (Tafsir Ibn
Katsir). Karya Imam Imaduddin, Ismail Bin
Umar Bin Katsir. W. 774 H
a. Nama Tafsir
Tafsir al-Quran al-AzhimTerkenal Dengan nama
Tafsir Ibn al-Katsir
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap Ibn Katsir adalah Imam al-Jalil
al-Hafidz Imad al-Din Abu al-Fida Ismail bin Amr

72

bin Katsir bin Dlau bin Katsir bin Zar al-Faqih alSyafiiy. Lahir di desa Mijdal dalam wilayah Bashrah
pada tahun 700 H./1300 M. Predikat al-Bushrawy
sering dicantumkan dibelakang namanya, begitu
juga al-Dimasyqy. Wafat pada tahun 774 H/1374 M.
Dalam usia 7 tahun (sebagian pendapat 3
tahun) telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Ditangan
kakaknya ia mulai belajar ilmu agama kemudian
dilanjutkan di bawah bimbingan ulama semasanya,
diantaranya adalah Baha al-Din al-Qasimy bin
Asakir (W. 727 H.), Ishaq bin Yahya al-Amidy (W. 728
H.), Taqy al-Din Ahmad Ibn Taimiyah (W. 728 H.)
bahkan ia merupakan murid terbesar guru yang
terakhir ini.
Ibn al-Katsir menguasai berbagai disipilin ilmuilmu keislaman terutama hadits, fiqh, sejarah, dan
tafsir. Dalam keenam bidang ilmu ini dapat dijumpai
karya tulisnya, sehingga wajar gelar al-muhaddits,
al-faqih, dan al-muarrikh sering dicantumkan di
depan namanya. Diantara karyanya dalam bidang
tarikh al-Bidayah wa al-Nihayah, sebuah kitab
tentang sejarah yang terdiri dari 14 jilid besar-besar.
Dalam bidang hadits Jami al-Masanid, al-Kawakib
al-Durary , al-Tamil berisi daftar nama ulamaulama ahli hadits kurun pertama. Dalam bidang
tafsir Tafsir al-Quran al-Azhim, Dan masih banyak
lagi.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab Tafsir Ibn Katsir ini merupakan karya
terbaik dalam bidang tafsir bi al-Matsur, kitab ini
dicetak beberapa kali ada yang berjumlah 6 jilid ada
yang berjumlah 4 jilid. Pada terbitan Dar al-Kutub alIlmiyah Bairut Lebanon tafsir ini ada yang berjumlah
3 jilid ada yang 4 jilid (umumnya). Banyak ulama
yang menyunting dan membuat ringkasan terhadap
tafsir ini, antara lain: Ahmad Syakir, Muhammad
Nasib al-Rifaiy dan terakhir Muhammad Ali alShabuny. Tafsir ini memberikan perhatian besar

73

terhadap apa yang diriwayatkan dari para mufassir


salaf yang menjelaskan makna-makna ayat dan
hukum-hukum yang terkandung serta menjauhi
pembahasan Irab dan cabang-cabang balaghah
yang biasanya dibicarakan secara panjang lebar
oleh kebanyakan tafsir.
Tafsir
ini
juga
banyak
memuat
atau
memaparkan ayat-ayat yang bersesuain maknanya,
kemudian diikuti dengan penafsiran hadits-hadits
marfu yang mempunyai relevansi dengan ayat
serta menjelaskan apa yang dijadikan hujjah dari
ayat tersebut. Kemudian diikuti pula dengan atsar
para sahabat dan pendapat tabiin dan ulama salaf
sesudahnya.
d. Metodologi Penafsiran
Metodologi penafsiran tafsir Ibn al-Katsir ini
adalah bi al-Matsur, hal ini sebagaimana dijelaskan
dalam muqaddimah tafsir ini:
Sesungguhnya metode yang paling shahih adalah
hendaknya al-Quran ditafsirkan dengan al-Quran,
sebab satu permasalahan di satu tempat terkadang
dijelaskan al-Quran secara global tetapi ditempat
yang lain dijelaskan secara rinci. Jika tidak
ditemukan maka hendaknya dengan al-Sunnah,
karena ia penjabar dan penjelas al-Quran. Jika Kami
tidak menemukan di dalam keduanya maka kami
kembalikan kepada pendapat sahabat, sebab
mereka lebih tahu tentang hal itu, disebabkan
mereka turut menyaksikan saat diturunkan aya-ayat
al-Quran, berikut situasi dan kondisi yang
menyertainya, juga disebabkan mereka memiliki
pemahaman yang sempurna, ilmu yang shahih,
amal yang shalih, terutama para ulama pembesar
mereka semisal khulafa al-Rasyidin, Abdullah bin
Masud, Abdullah bin Abbas dan lain-lainnya. Dan
jika tidak ditemukan dalam ketiganya maka kami
kembalikan ke perkataan atsar (pendapat tabiin).

74

Dari penjelasan di atas jelas bahwa metodologi


tafsir ini adalah bi al-Matsur. Sejauh pandangan
penulis tafsir ini sebenarnya merupakan kolaborasi
antara bi al-Matsur dengan bi al-Rayi. ini ditandai
adanya ijtihad Ibn Katsir terhadap berbagai riwayat
yang
bervariasi
dan
terkadang
kontradiktif
kemudian
dikompromikan
dan
ditarjih.
Dikategorikannya tafsir ini ke dalam jenis tafsir bi alMatsur disebabkan dominannya unsur riwayat
dalam tafsir ini.
Dalam tafsir ini mula-mula disebutkan ayatayat yang akan ditafsirkan, kemudian menyatukan
ayat-ayat yang relevan untuk dibandingkan,
kemudian dikemukakan hadits-hadits marfu yang
mempunyai
hubungan
dengan
ayat,
lalu
dikompromikan dengan pendapat sahabat, tabiin
serta ulama salaf. Riwayat-riwayat dalam tafsir ini
banyak diambil dari tafsir al-Thabary, Ibnu Abi
Hatim, Ibnu Athiyyah dan ulamaulama setelahnya.
Selain menggunakan metode bi al-matsur
tafsir ini juga menggunakan metode tahliliy karena
penafsiran didasarkan atas urutan ayat sesuai
dengan yang ada dalam mushhaf, juga dengan
metode Muqarrin karena selalu membandingkan
satu ayat dengan ayat lainnnya.
Makna-makna mufrodat sejauh diperlukan juga
dijelaskan dengan mengemukakan bebarapa riwayat
yang ada dengan disertai sanad yang lengkap,
begitu pula tentang asbab al-Nuzul.
Sebagaimana jenis tafsir bi al-Matsur yang
lain, tafsir ini juga mengemukakan riwayat-riwayat
Israiliyat sebagai sumber penafsiran, hanya saja
riwayat-riwayat itu diseleksi secara ketat. Ketika
mengemukaan
riwayat
Israiliyat
Ibn
Katsir
menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengemukakan berbagai kelemahan Israiliyat
berdasarkan
penelitian.
kemudian
ia
mengkritik perawi-perawi yang dianggap
memiliki kelemahan-kelemahan tertentu serta

75

2.

3.

4.

5.

memperlihatkan riwayat yang


palsu dan
rusak.
Ketika mengemukakan Israiliyat yang asing
yang mengandung kemungkinan benar dan
salah, Ibn Katsir mengingatkan bahwa
Israiliyat itu termasuk hal yang diizinkan nabi
untuk diriwayatkan. Israiliyat itu tidak boleh
dijadikan pegangan, kecuali bila didukung oleh
argumentasi yang membenarkannya.
Ketika mengemukakan Israiliyat yang ganjil
yang
tidak
masuk
akal,
Ibn
Katsir
membatalkannya dan menganggap cukup
berpegang kepada keterangan al-Quran yang
global.
Ketika membatalkan Israiliyat yang nampak
bertentangan dengan akal dan syariat Ibn
Katsir mengajukan argumentasi yang lengkap
dan jelas.
Ibn Katsir terkadang berpaling dari sebagian
kisah Israiliyat yang diriwayatkan oleh
ulamaulama tafsir dengan alasan bahwa
menahan diri untuk tidak meriwayatkannya
adalah lebih baik, karena meriwayatkannya
termasuk perbuatan yang sia-sia dan tidak
mempunyai faedah apapun.

e. Penilaian Ulama
Dalam bidang tafsir bi al-Matsur tafsir ini
merupakan karya paling bagus setelah tafsir alThabary bahkan dari segi penelitian sanad, tafsir ini
mengalahkan tafsir al-Thabary. Hal ini tidak lepas
dari kemampuan Ibn al-Katsir dalam bidang hadits
sehingga ia mendapatkan berbagai pujian dari para
ulama. Di antara komentar para ulama terhadap
tafsir ini adalah:
1. al-Dzahaby.
Ibn Katsir adalah imam besar yang berindak
sebagai mufti, ahli hadits yang agung dan ahli
tafsir

76

2. Ibn Hijab (murid Ibn Katsir).


Ibn Katsir dikenal sebagai orang yang ahli
dalam hadits dan seluk-beluk sanadnya
3. Syihad al-Din bin al-Hajj (murid Ibn Katsir).
Ibn Katsir adalah orang yang paling hafal
matan-matan hadits dan seluk-beluk takhrij
sanad
4. al-Suyuthy.
Tafsir Ibn Katsir merupakan tafsir yang tidak
ada duanya. Belum pernah ditemukan tafsir
yang
sistematika
dan
karakteristiknya
menyamahi kitab tafsir ini
5. al-Zarqany.
Tafsir Ibn Katsir merupakan merupakan
karya terbaik, oleh
karenanya tafsir ini
menjadi
rujukan
ulama-ulama
tafsir
sesudahnya
6. Rasyid Ridla
Tafsir ini merupakan tafsir yang paling
masyhur yang memberikan perhatian besar
terhadap apa yang diriwayatkan para mufassir
salaf dan menjelaskan makna-makna ayat dan
hukum-hukumnya serta menjauhi Irab dan
cabang-cabang
balaghah
yang
pada
umumnya dibicarakan secara panjang lebar
oleh kebanyakan mufassir
7. Mani Abdul Halim Mahmud.
Tafsir Ibn Katsir merupakan satu tafsir bi alMatsur yang shahih jika kita tidak bisa
mengatakan yang paling shahih
8. Taqy al-Din al-Hilaly (Guru besar Jamiah alIslamy Madinah).
Kitab tafsir Ibn Katsir merupakan kitab tafsir
yang terbaik di antara kitab-kitab tafsir yang
pernah ada
9. Muhammad Ali al-Shabuny.
Ibn Katsir tak ubahnya gunung yang tinggi
dan laut yang dalam, dalam berbagai ilmu
pengetahuan khususnya sejarah dan tafsir.

77

Kitab tafsir dan sejarahnya merupakan karya


terbaik
10.
Tafsir
Ibnu 'Irfah, Karya Imam al-Fadhil, Abu
Abdillah, Muhammad Bin 'Irfah al-Maliki. W.
803 H
11.
Tafsir
"Tanwir al-Miqbas Min Tafsir Ibni Abbas"
dikumpulkan dan dinisbatkan kepada Ibnu
Abbas oleh Imam Abi Thahir, Muhammad Bin
Yakub al-Fairuz Abadi al-Syafi'i. W. 817 H
12.
Tafsir
"Mujam' al-Bayan Li 'Ulum al-Quran". Karya
Imam Abu Ali, al-Fadl Bin Husain Bin al-Fadl alTabrasiy al-Masyhadi. W. 835 H
13.
Tafsir alJalalain. Dikarang oleh dua Imam besar, Imam
Jalaluddin al-Mahalliy, W. 864 H dan Imam
Jalaluddin al- Suyuthiy. W. 911 H. Tafsir ini
meKaryai 2 kitab Syarh (penjelas) yang
terkenal, yaitu "Khasyiyah al-Jamal 'ala alJalalain" dan "Khasyiyah al-Shawiy 'ala
alJalalain".
14.
Tafsir
"
Al-Jawahir al-Hisan Fi Tafsir al-Quran" (Tafsir
al-Tsa'alibi).
Karya
Imam
Abu
Zaid,
Abdirrahman Bin Muhammad Bin Makhluf alTsa'alibiy al-Jazairy. W. 875 H
a. Nama Tafsir
al-Jawahir alHisan fi tafsir al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang

78

Nama lengkap dari al-Tsaalaby adalah Abu


Zaid Abd al-rahman bin Muhammad bin makhluf alTsaalaby al-Jazairy al-Maghraby al-Maliky. Seorang
imam yang alim, zahid dan wara.
Dalam beberapa karyanya al-Tsaalaby berkata:
aku pergi mencari ilmu pada akhir abad ke VIII H.
hingga aku sampai negara Tunis, Mesir dsan kembali
lagi ke Tunis. Di Tunis ketika itu tidak ada orang yang
mengungguliku dalam ilmu hadits, jika aku berkata
maka semua ulama Tunis diam dan menerima apa
yang aku riwayatkan.
Al-Tsaalaby mempunyai banyak karyanya,
dinatara karyanya selain kitab tafsir ini adalah kitab
al-Dzahabal-Ibriz fi Gharaib al-Quran al-Aziz, Tuhfah
al-Ikhwan (tentang sebaagian Irab al-Quran), jami
al-ummahat (tentang hokum ibadah) dan masih
banyka lagi lainnya.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab tafsir ini merupakan kitab ringkasan tafsir
Ibnu Athiyah, hal ini sebagaimana dinyatakan sendiri
oleh al-Tsaalaby dalam muqaddimah tafsirnya.
Meskipun demikian ia juga mengambil dari kitabkitab tafsir yang lain.
Setiap bentuk penukilan dalam kitab ini selkalu
diberi keterangan rujukannya, hal ini sebagaimana
jika riwayat itu diambil dari al-Thabary maka
dijelaskan, demikian juga tafsir-tafsir yang lainnya.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan
bahwa kitab tafsir al-Tsaalaby ini merupakan kitab
ringkasan Ibnu Athiyah dan beberapa kitab tafsir
sebelumnya.
Kitab tafsir ini dicetak dalam bentuk 4 juz
besar, tulisan aslinya ditemukan di dar al-Kutub alMisriyah dan maktabah al-Azhariyah.
d. Metodologi Penafsiran
Kitab ini menggunakan metode bi al-matsur,
sebab setiap penafsiran selalu dilengkapi dengan

79

riwayat. Terhadap riwayat-riwayat tersebut selalu


dijelaskan sumber pengambilannya.
Dalam penjelasan tafsirnya banyak mengambil
dari tafsir Ibnu Athiyah, yaitu dengan menjelaskan
bab keutamaan al-Quran disertai dengan riwayatriwayat tentang hal tersebut, kemudian dilanjutkan
dengan bab keutamaan tafsir al-Quran dan
Irabnya, dilanjutkan denganfasal tentang pendapatpendapat tentang Irab al-Quran, fasal tentang
perbedaan pandangan ulama tentang sabati ahruf,
fasal tentang lafaz-0lafaz al-Quran, kemudian
dilanjutkan dengan bab tafsir asma al-Quran, baru
kemudian menjelaskan tentang tafsir ayat.
Hal-hal yang juga diuraikan dalam kitab tafsir
ini adalah masalah qiraat, dan tata bahasa Arab
seperti nahwu dan lain sebagainya. Disamping itu
dibeberapa tempat juga dikemukakan syiir Arab
sebagai penguat penafsiran. Riwayat Israiliyat juga
dijelaksan tetapi disertai penjelasan keshahihan dan
faedahnya.
e. Penilaian Ulama
Ibnu salamah al-Bakry berkata: Syekh alTsaalaby adalah seorang yang shalih, zahid dan
alim dan termasuk auliya Allah
Wali al-Iraqy dan para ulama lainnya sepakat
menilai keagungan dari al-Tsaalaby.
Al-Dzahaby menyimpulkan bahwa kitab tafsir
al-Tsaalaby ini adalah kitab yang berfaedah dan
merupakan ringkasan kitab-kitab tafsir yang
mengandung manfaat yang banyak.
15.
Tafsir
"al-Lubab Fi 'Ulum al-Kitab" (Tafsir Ibnu adil).
Karya Imam Sirajuddin, Abi Hafs, Umar Bin Ali
Bin 'Adil al-Hambali al-Dimasyqi. Selesai
merampungkan tafsirnya pada tahun 879 H

80

16.
Tafsir
"
Nadzmud Duror Fi Tanasub al-Ayat wa alSuwar". Karya Imam Burhanuddin, Abul Hasan,
Ibrahim Bin Umar al-Biqo'iy. W. 885 H
17.
Tafsir
"
al-Tibyan Fi Tafsir Gharib al-Quran" Karya
Imam Syihabuddin Ahmad Bin Muhammad alHaim al- Masriy. W. 887 H
18.
Tafsir
"al-Durrul Mantsur Fi al-Tafsir Bil Ma`tsur".
Karya al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi. W. 911 H
a. Nama Tafsir
al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi Matsur
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah al-Hafidz Jalal al-Din
Abu al-Fadl Abd al-Rahman bin Abi Bakar bin
Muhammad al-Suyuthy al-Musnid al-Muhaqqiq. Lahir
di kota Suyuth bagian negara Mesir pada malam
Ahad usai maghrib bulan Rajab tahun 849 H. dan
meninggal pada hari kamis Jumadi al-Ulaa tahun
911 H.
al-Suyuthy berasal dari keluarga al-Suyuth
yang bermadzhab Syafiiy. Ia tumbuh dalam
keadaan yatim, ayahnya meninggal pada malam
senen 5 Shafar 855 H. ketika ia berusia 6 tahun. Ia
mulai menghafal al-Quran sejak usia dini dan
merampungkan hafalannya sebelum usia 8 tahun.
Kemudian beralih pada kitab-kitab lainnya, seperti
al-Umdah, Manahij al-Fiqh, ushul, dan al-Fiyah karya
Ibnu Malik.
Pada usia 16 tahun al-Suyuthy mulai
menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan agama,
belajar fiqh dan nahwu di majelis sekitar tempat
tinggalnya, belajar ilmu faraidl dari Syekh Syihab alDin al-Syamasahy, ushul, bahasa Arab dari Muhyi al-

81

Din al-Kafiajy. Ia pernah berkunjung ke Syam, Hijaz,


Yaman, India dan Maroko, sehingga pada usia
mudah ia sudah menjadi pakar dari 7 bidang ilmu,
yaitu: tafsir, hadits, fiqh, nahwu, maany, bayan, dan
badi. al-Suyuthy belajar kepada banyak guru yang
menurut al-Daudy (muridnya) mencapai 51 guru,
yang terkenal di antaranya adalah: Umar al-Bulqiny,
al-Qadly Syarif al-Din al-Manawy. Di antara muridnya
yang terkenal adalah al-Hafidz Syam al-Din
Muhammad bin Ali bin Ahmad al-Daudy al-Misry.
al-Suyuthy adalah seorang ulama yang
produktif menulis dan mengarang, dalam hal ini
muridnya al-Daudy berkata: Saya telah membantu
guru saya, beliau menulis sebanyak tiga buku dalam
sehari Ia juga merupakan pakar ilmu hadits
terkemuka pada saat itu, yang mana hampir
berbagai cabang ilmu hadits seperti Ilmu Rijal alHadits, Ilmu Gharib al-Hadits, matan Hadits, Sanad
Hadits, sebagai Istimbath hukum dikuasainya
dengan baik. Ia mengatakan bahwa dirinya hafal
200 ribu hadits dan berkata: Seandainya saya
menemukan lebih banyak lagi, pasti saya akan
menghafalnya.
Di usianya yang ke 40 tahun al-Suyuthy
menyendiri dan meninggalkan aktivitas keduniaan,
meninggalkan
fatwa
kemudian
semata-mata
beribadah kepada Allah dan mengarang hingga
meninggal dunia.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab tafsir al-Suyuthy ini bernama al-Durr alManshur fi al-Tafsir bi al-Matsur dan tergolong
kitab tafsir yang besar. Kitab ini dicetak terdiri dari 6
jilid berukuran besar oleh percetakan Dar al-Fikr
Bairut Lebanon, selain itu kitab ini juga dicetak oleh
sebuah percetakan di Mesir.
d. Metodologi Penafsiran

82

Kitab tafsir ini menggunakan metode bi alMatsur, hal ini sebaimana dinyatakan dalam
muqaddimah tafsir ini sebagai berikut:
Saya mengarang kitab Turjuman al-Quran
dengan
menggunakan
metode
penafsiran
berdasarkan riwayat yang disandarkan kepada
Rasulullah dan sahabat. Alhamdulillah, saya bisa
menulis hingga beberapa jilid. Hal ini saya lakukan
berkat banyaknya atsar (riwayat) yang disimpan
oleh kolektor hadits. Kemudian saya menilai bahwa
banyak masalah-masalah dalam hadits tersebut
yang perlu diperhatikan dan diteliti, selain itu
banyak orang yang senang dengan ringkasan. Atas
dasar itu, kemudian saya meringkas matan hadits
tersebut tanpa mencantumkan sanadnya. Saya
meringkasnya dari kitab-kitab mutabar yang
dikarang oleh para kolektor ternama. Kemudian saya
menghimpunnya dalam sebuah kitab yang diberi
nama al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Matsur.
Dari ulasan di atas jelaslah bahwa kitab tafsir
ini merupakan ringkasan kitab Turjuman al-Quran
karya al-Suyuthy sendiri, selain itu metode yang
digunakan adalah bi al-Matsur karena setiap
menjelaskan ayat selalu berdasar pada riwayatriwayat yang ada. Selain itu tafsir ini menggunakan
metode Tahlily karena penafsirannya didasarkan
atas urutan ayat-ayat al-Quran sebagaimana dalam
urutan mushhaf.
Meskipun penafsiran ayat-ayat al-Quran dalam
tafsir ini berdasarkan riwayat, namun tafsir ini hanya
mencantumkan beberapa riwayat dari ulamaulama salaf tentang penafsiran ayat, dengan tanpa
menyebutkan sanad dan juga tidak menjelaskan
tentang jarh dan tadil, keshahihan dan kedlifan
riwayat tersebut. Hal ini berbeda dengan kitab
karangan
al-Suyuthy
sendiri
yang
berjudul
Majmaal Bahrain wa mathla al-Badrain , dimana
dalam kitab ini dijelaskan secara rinci Irab, aspekaspek balaghah dan muhassinat. Kitab tafsir ini

83

hanya memaparkan beberapa riwayat dari yulama


salaf, yang di ambil dari imam-imam hadits seperti:
Bukhary, Muslim, Turmudzy, al-Nasaiy dan lain-lain.
Dalam tafsir ini riwayat-riwayat yang menjadi
sumber penafsiran itu bercampur antara yang
shahih dengan yang tidak. Oleh sebab itu perlu
adanya penelitian sanad yang seksama terhadap
riwayat-riwayat yang ada dalam tafsir ini.
e. Penilaian Ulama
Tidak banyak ditemukan komentar ulama
tentang tafsir ini. Namun demikian dalam literaturliteratur kitab-kitab tafsir yang dikarang setelah
masa ini banyak yang menjadikan kitab tafsir alDurr al-Manshur fi al-Tafsir bi al-Matsur sebagai
sumber tafsir, ini menunjukkan baiknya nilai tafsir
ini dan diterimanya dikalangan ahli tafsir dan para
ulama.
Pada umumnya para ulama menilai tafsir ini
merupakan tafsir terbaik pada masanya, hanya
kemudian ada tanggapan minor dari Rasyid Ridla
terhadap tafsir ini, ia menuduh al-Suyuthy sebagai
seorang fanatik buta, hal ini disebabkan penilaian alSuyuthy terhadap beberapa hadits yang dinilai oleh
Rasyid Ridla sebagai hadits malul dimana hadits itu
hanya dhahirnya saja yang shahih, tetapi setelah
diadakan penelitian ternyata ada illat (cacat) yang
menyebabkan hadits tersebut tidak shahih, hadits
ini kemudian dikemukakan oleh al-Suyuthy dalam
tafsirnya ini.
19.
Tafsir
"Irsyad al-'Aql al- Salim Ila Mazaya al-Kitab alKarim" (Tafsir Abi al-Su'ud). Karya Imam
Muhammad Bin Muhammad Bin Musthafa
al-'Imadi al-Hanafiy. W 952 H

84

a. Nama Tafsir
Irsyad al-aql al-Salim Ila Mazaya al-Quran alKarim
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkapnya adalah Abu al-Suud
Muhammad bin Muhammad bin Mustofa al-Amady.
Beliau lahir pada tahun 893 H./11493 M. di dekat
konstantinopel (Instanbul-Turki) dan meninggal pada
awal Jumadil Ula tahun 982 H/1573M di kota yang
sama. la dimakarnkan di dekat kuburan Abu Ayyub
al-Anshari. Dari sini diketahui bahwa Abu al-Suud
adalah salah seorang ulama besar (mufassir) dari
kalangan bangsa Ajam yaitu Turki, selama hidupnya
ia pernah diserahi tugas sebagai Qadhi (hakim) di
beberapa kota dan dilantik sebagai Mufti pada tahun
952 H.
Beliau pemah menuntut ilmu pengetahuan ke
berbagai negei, juga dikenal mempunyai daya hafal
yang kuat, analisis yang tajam, dan intelegensi yang
tinggi. la menguasai bahasa Arab Persia, dan
tentunya
bahasa
Turki
sendiri.
Hal
ini
mengantarkannya mampu menelaah kitab-kitab
yang ditulis dalam bahasa tersebut sebagai bahasa
pengantar, bahkan dapat menulis pula dengan
bahasa tersebut. Keaktifannya di dunia akademis
tidak pernah terputus selama hidupnya. Sepanjang
hidupnya ia mengajarkan dua kitab tafsir yang
sangat masyhur, yakni Tafsir al-Kasysaf karya azZamakhsyari dan Anwar at-Tanzil karya al- Baidhawi.
Kesibukan Abi Suud mengajar dan sebagai
hakim temyata tidak menghalangi dirinya untuk
memproduksi karya tulis, diantara karya-karyanya
antara lain: 1. Irsyad al-Aql al-Salim ila Mazaya alQur'an al-Karim, Tuhfah at-Thullab fi Idab alMunadzarah, dan Qissah Harut Wa Warut, Risalat fi
al-Mash la al-Kuffain, Risalat fi Masa'il al-Wuquf dan
lain-lain.

85

c. Keberadaan Tafsir
Tafsir ini secara lengkap bejudul Tafsir Irsyad alAql al-Salim ila Mazaya al Quran al-Karim dan
populer dengan sebutan Tafsir Abu al-Suud. Tafsir
ini telah diterbitkan beberapa kali, antara lain: di
Beirut oleh Dar lhya al-Turats al-Arabiyyah pada
tahun 1411 H. terbit dalam 9 jilid dan ditashih oleh
Hasan Ahmad Mara dan Muhammad Shadiq
Qamhawi. Juga, pernah diterbitkan di Mesir pada
tahun 1275 H/1885H, yakni di Kairo oleh Dar alUshur pada tahun 134711/1928M, dan di Riyadh
pada tahun 1974 M. oleh Maktabah Riyadh alHaditsah, terbitan dalam versi ini tahqiq oleh Abdul
Kadir Ahmad Atha.
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan hukum
fiqih, ia memaparkan sesuai kebutuhan tanpa harus
menjelaskan panjang lebar, dengan mennyebutkan
riwayat yang berkaitan dengan ayat hukum yang
ada dan biasannya menyebutkan rahasia, illat, serta
faedah sebuah hukum yang ditetapkan.
Keakraban Abi al-Suud dengan kitab tafsir alKasysyaf karya az-Zamakhsyari dan Anwar al-Tanzil
karya al-Baidhawi, memberikan pengaruh yang
sangat kental terhadap tafsirnya. Di dalamnya,
sangat banyak menukil kedua kitab tersebut
sehingga tidak ada salahnya bila dikatakan bahwa
kitab tafsir Irdsyad al-AqI al-Salim merupakan
copyan dari keduanya, mekipun ada perubahan
disana-sini.
Meskipun ia sangat dipengaruhi tafsir alKasysyaf, namun abu al-Suud menganut teologi
Asy'ariyah. Dalam hal ini, ia mengikuti al-Baidhawi
pengarang Anwar al-Tanzil, Kitab tafsir yang
memberikan
pengaruh
yang
tidak
kurang
dibandingkan pengaruh kitab yang pertama
terhadap dirinya.

86

d. Metodologi Penafsiran
Metodologi penafsiran tafsir Abi al-Suud
adalah tafsir bir Rayi. Adapun metode yang
ditempuh dalam penulisan tafsirnya dimulai dengan
menyebut nama surat, diidentifikasi dengan
menyebutkan katagori makiyyah dan Madaniyah,
serta jumlah ayat setiap surat, lalu menyebutkan
sepotong atau satu ayat dan menafsirkanya dengan
mengangkat masalah yang berkaitan dengan aspek
sastra, kebahasaan, qira'at dan aspek-aspek lainya.
Metodologi yang ia tempuh mengantarkan
tafsir yang dihasilkanya tampil sebagai tafsir yang
sesungguhnya (murni). Ia tidak ngelantur kemanamana, sehingga pernbahasanya tidak meluas ke hal
yang tidak perlu. la betul betul terfokus pada aspek
kebahasaan (balaghah), rahasia kemujizatan bahasa
al-Qur'an, utamanya pada persoalan yang berkaitan
dengan al-Fashlu wa al-Washlu, dan aspek
keserasian antar ayat-ayat al-Qur'an.
Dalam memulai tafsimya, Abu as-Su'ud
mengungkapkan apresiasinya terhadap kitab tafsir
al-Kasyisyaf dan anwar at-tanzil, seraya berkata :
Sesungguhnya hari demi hari telah berlalu
hingga beberapa tahun telah aku habiskan,
sernuanya
kuperuntukkan
untuk
mengkaji
keduanya, bahkan berhari-hari dalam hidup adalah
kebersamaanku dengannya.... Sehingga muncul
dalam
benakku
bagaimana
sekiranya
saya
menyusun intan yang telah saya dapatkan
didalamnya menjadi rangkayan intan yang rapi,
menatanya dengan tatanan yang apik, lalu
menambahkan padanya apa yang aku temukan di
dalam kitab-kitab tafsir lain, yang juga mengungkap
sisi keindahan yang lain.
e. Penilaian Ulama
Adz-Dzahabi
memberikan
komentar,
Sesungguhnya tafsir ini merupakan prestasi

87

tertinggi dalam ilmu balaqhah, pencapain akhir


dalam keindahan susunan redaksi dan kalimatkalimatnya.
Sungguh
penulisnya
berhasil
menyingkap rahasia-rahasia balighiyah dalam alQuran, sesuatu yang belum pernah di ungkap oleh
para mufassir sebelumnya. Karena unsur inilah,
tafsir tersebut sangat populer dikalangan ahli al-Ilmi.
Dan mayoritas ulama mengakuinya sebagai karya
terbaik dalam bidang tafsir.

20.
Tafsir
"
al-Siraj al-Munir Fil I'anah 'Ala Makrifat Ba'dl
Ma'ani Kalam Rabbina al-Hakim al-Khabir".
Karya Imam Muhammad al-Syarbiniy. W. 977 H
21.
Tafsir
"al-Shafiy Fi Tafsir al-Qur`an al-Karim" Karya
al-Mala Muhsin al-Kasyi, salah seorang ulama
Syiah. Merampungkan tafsirnya pada tahun
1075 H
22.
Tafsir
"Mir`at al-Anwar Wa Misykat al-Asrar". Karya
Abul Hasan al-'Amili. Salah satu ulama syiah.
W. 1138 H
23.
Tafsir
"Tafsir al-Quran" Karya al-Sayyid Abdillah
al-'Alawiy, salah satu ulama syiah. W. 1188 H
24.
Tafsir
"Fath al-Qodir al-Jami' Bain Fannai al-Riwayah
wa al-Dirayah Min 'Ilm al-Tafsir" yang dikenal
dengan
tafsir
al-Syaukani.
Karya
Imam
Muhammad Bin Ali Bin Muhammad alSyaukani. W. 1250 H

88

25.
Tafsir
"Ruh al-Ma'ani Fi Tafsir al-Qur`an Wa al-Sab'
al-Matsani" (Tafsir al-Alusiy). Karya Imam
Syihabuddin, Mahmud al-Alusiy al-Bagdadi. W.
1270 H
a. Nama Tafsir
Ruh al-Maani
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap pengarang tafsir ini adalah Abu
al-Tsana Syihabuddin al-Sayyid Mahmud Afandi alAlusi al-Baghdadi. Beliau dilahirkan pada hari jum'at
tanggal 14 Syaban tahun 1217 H. didekat daerah
Kurh, Iraq. Beliau termasuk ulama besar di Iraq yang
ahli ilmu agama, baik di bidang ilmu usul (ilmu
pokok) maupun yang ilmu furu (ilmu cabang).
Nisbat al-Alusi merujuk kepada suatu daerah di
dekat sungai Eufrat antara Baghdad dan Syam
(Syiria). Disitulah keluarga dan kakeknya bertempat
tinggal. Itulah sebabnya beliau dikenal dengan
sebutan al-Alusi. Pada usia mudanya beliau
dibimbing oleh orang tuanya sendiri yaitu Syekh
Kholid al-Naqsyabandy. Disamping itu al-Alusi juga
berguru kepada Syaikh Ali al-Suwaidy. Dari yang
terakhir ini beliau belajar tasawwuf. Maka wajar jika
dalam
sebagian
uraian
tafsirnya,
beliau
memasukkan perspektif sufistik sebagai upaya
untuk menguak masalah batin (esoteris).
Al-Alusy termasuk ulama yang alim tentang
perbandingan madzhab, dan ahli dalam masalah
agama. Bermadzhab salaf dala iktiqad dan al-Syafi;ii
dalam fiqh, namun demikian dalam beberapa
masalah ia mengikuti madzhab Abi Hanifah, pada
akhirnya ia sampai ketingkat mujtahid.
Secara akademis al-Alusi relatif sangat
produktif. Tidaklah berlebihan jika beliau dijuluki
dengan Hujjatul Udaba. Dan sebagai rujukan bagi

89

para ulama pada zamannya. Kealiman beliau dapat


terlihat dari karya-karyanya antara lain : Hasyiyah
la al-Qatr, Syarh al-Salim dalam ilmu logika, alAjwibah al-Iraqiyyah an Asilah al-Laghoriyyah, alAjwibah al-Iraqiyyah an Asilah al-Iraniyyah, Durrah
al-Gawas fi Awham al-Khawas, al-Nafakhat atQudsiyyah fi Adab al-Bahs, Ruh al-Maani fi Tafsir alQuran al-Azim wa al-Sabi al-Matsani dan lain-lain.
Diantara karya-karya tersebut, tampaknya karya
yang paling populer adalah yang terakhit disebut,
yang kemudian dikenal dengan tafsir al-Alusi atau
Ruh al-Maani. Namun rupanya al-Alusi tidak
berumur panjang. Pada tanggal 23 Zulhijjah 1270 H.
beliau wafat dan dimakamkan di dekat kuburan
Syekh Maruf al-Kurkhy, salah seorang tokoh sufi
yang sangat dikenal di kota Kurh.
c. Keberadaan Tafsir
Latar belakang penulisan kitab tafsir Ruh alMaani terkesan agak mistik. Beliau menulis
terdorong oleh suatu mimpi, meskipun sebelumnya
sudah ada ide untuk menulis trafsir tersebut. al-Alusi
memang ingin sekali menyusun sebuah kitab tafsir
yang dapat mencakup persoalan-perrsoalan yang
dianggap urgen bagi masyarakat waktu itu, namun
rupanya beliau senantiasa dihinggapi keragu-raguan
(syak) untuk merealisasikan ide tersebut.
Akhirnya, pada suatu malam, tepatnya pada
malam jumat bulan Rajab tahun 1252 H, beliau
bermimpi disuruh Allah SWT untuk melipat langit
dan bumi, kemudian disuruh untuk memperbaiki
kerusakan-kerusakan yang ada padanya. Dalam
mimpinya beliau seolah mengangkat tangan
satunya ke langit dan yang satunya ke tempat air.
Namun kemudian beliau terbangun dari tidurnya.
Mimpi tersebut lalu ditakwilkan dan ternyata beliau
menemukan jawabannya dalam sebuah kitab bahwa
mimpi itu merupakan isyarat untuk menyusun kitab
tafsir.

90

Tafsir ini merupakan perpaduan antara bi alMatsur dan bi al-rayi. Tafsir ini diterbitkan dengan
jumlah 30 jilid dalam bentuk yang besar.
d. Metodologi Penafsiran
Metode yang dipakai oleh al-Alusi dalam
menafsirkan al-Quran adalah metode tahlily. Salah
satu yang menonjol dalam tahlily (analisis) adalah
bahwa
seorang
mufassir
akan
berusaha
menganalisis berbagai dimensi yang terdapat dalam
ayat yang sitafsirkan. Maka biasanya mufassir akan
menganalisis dari segi bahasa, asbab al-nuzul,
nasikh-mansukhnya dan lain-lain.
Adapun
sumber-sumber
penafsiran
yang
dipakai oleh al-Alusi adalah, perpaduan antara
sumber maitsur (riwayat) dan al-rayi (ijtihad).
Sedangkan salah satu pendekatan yang dipakai
dalam penafsirannya adalah pendekatan sufistik,
meskipun
ia
juga
tidak
mengesampinkan
pendekatan bahasa sebagaimana penilaian alZahabi, porsi sufistiknya relatif lebih sedikit.
Sistematika sebagai langkah metodis yang
ditempuh oleh al-Alusi adalah, biasanya beliau
menyebutkan ayat-ayat al-Quran dan langsung
menjelaskan makna kandungan ayat demi ayat.
Dalam analisisnya, terkadang juga menyebutkan
asbab al-Nuzul terlebih dahulu, namun kadang
beliau langsung mengupas dari segi gramatikanya,
kemudian mengutip riwayat hadits atau pendapat
tabi'in.
Dalam menjelaskan makna kandungan ayat
yang ditafsirkan al-Alusi sering mengutip pendapat
para mufassir sebelumnya, baik salaf maupun
khalaf. Kemudian beliau memilili pendapat yang
dianggap paling benar.
Masalah-masalah nahwu, fiqh, kauniyah, qiraat
dan munasabah juga dijelaskan dalam tafsir ini,
namun masalah israiliyat yang tidak benar ditolak
dengan tegas dalam tafsir ini.

91

e. Penilaian Ulama
Tafsir rulh al-Maani dinilal oleh sebagian ulama
sebagai tafsir yang bercorak isyari (tafsir yasng
mencoba menguak dimensi makna batin berdasar
isyarat atau ilham dan ta'wil sufi) sebagaimana
tafsir al-Naisaburi. Namun anggapan ini dibantah
oleh al-Zahabi dengan menyatakan bahwa tafsir ruh
al-Ma'ani bukan untuk tujuan tafsir isyary, maka
tidak dapat dikategorikan sebagai tafsir isyary. AlDzahaby memasukkan tafsir al-Alusi ke dalam tafsir
bi al-ra'yi al-mahmud( tafsir berdasar ijtihad yang
terpuji).
Menurut
Imam
ali
al-Shabuni
beliau
menyatakan bahwa al-Alusi memang memberi
perhatian kepada tafsir isyary, segi-segi balaghah
dan
bayan.
Dengan
apresiatif
beliau
lalu
mengatakan bahwa tafsir al-Alusi dapat dianggap
sebagai tafsir yang paling baik untuk dijadikan
rujukan dalam kajian tafsir bi al-riwayah, bi aldirayah dan isyarah.
Menurut al-Dzahaby dan Abu Suhbah tafsir ruh
al-Maany merupakan kitab tafsir yang dapat
menghimpun sebagian besar pendapat para
mufassir dengan disertai kritik yang tajam dan
pentarjih terhadap pendapat-pendapat yang beliau
kutip. Disamping itu, sebagaimana dikutib M.
Quraisy Shiliab, Rashid Ridha juga menilai bahwa alAlusi sebagai mufassir yang terbaik dikalangan
ulama
muttaakhirin
karena
keluasaan
pengetahuannya menyangkut pendapat-pendapat
muttakhirin dan mutaqaddimin.

92

KITAB TAFSIR PERIODE MODERN


(ABAD XIII H./XIX M SEKARANG)
1. Tafsir al-Khurrasany
a. Nama Tafsir
Bayan al-Saadah fi Maqamat al-Ibadah
b. Riwayat Hidup Pengarang
Sultan Muhammad bin haidar Muhammad bin
Sultan Muhammad al-Janabadzy al-Khurrasany.
Salah seorang ulama sufy dan syiah imamiyah
yang terkenal dengan nama sultan Ali Syah. Lahir
pada tanggal 28 Jumadil Ula tahun 1251 H/1835 M.
dan meninggal pada tahun 1327 H/1909 M.
Ketika berumur tiga tahun ayahnya pergi ke
Iran dan India yang kemudian tidak diketahui
khabarnya. Sejak itu ia diasuh oleh pamannya
Muhammad Ali. Dibawah asuan pamannya ia
belajar sastra Arab, aqidah dan filsafat.
Setelah
menguasai
ilmu-ilmu
di
atas
kemudian pergi ke Bazwar berguru pada al-Arif
Mullah Hadi, kemudian ke Asfihan memasuki dunia
tasawwuf dibawah asuan Mullah Muhammad
Kadhim. Pada tahun 1293 H gurunya tersebut
meninggal sehingga ia menduduki maqamnya
Diantara karya-karya adalah:
1. Majma al-Saadah (Bahasa Persia)
2. Saadatunamah (bahasa Persia)
3. Basyarah al-Mukminin
4. Al-Idhah (bahasa Arab)
5. Bayan al-Saadah fi maqamat al-Ibadah
(Kitab Tafsir)
6. Tanbih al-Naimin
c. Keberadaan Tafsir.
Tafsir ini pertama kali dicetak di Teheran
tahun 1314 H. dalam bentuk satu jilid besar.
Kemudian Jamiah Teheran pada tahun 1385 H.

93

Sealnjutnya dicetak Muassasah al-Alamy Beirut


mencetak dengan jumlah 4 jilid pada tahun 1408 H.
Tafsir
ini
merupakan
tafsir
dengan
pendekatan tasaawuf dengan corak madzhab Syiah
imamiyah. Muafssir banyka menukil hadits-hadits
riwyata imam Itsna Asyariyah dari kalangan ahgli
bait.
Tafsir ini membahas semua ayat al-Quran
dengan menjelaskan secara panjang lebar masalah
qiraat, Irab, arti kebahasaan, tafsir serta hadits.
d. Metodologi Penafsiran.
Mula-mula menjelaskan nama surat dan
jumlah ayat, kemudian menjelaskan kelompok surat
antara makky dan madany. Keutamaan surat dan
keutamaan bagi pembacanya. Setelah itu baru
menafsirkan ayat dimulai dengan ragam qiraah,
nahwu, dan arti bahasa serta pandangan ulama
terkait dengan masalah di atas. Dalam penafsiran
disertai juga dengan dukungan hadfits-hadits ahli
al-bait.
Diantara
keutamaan
tafsir
ini
selalu
mengkaitkan ayat yang ditafsirkan dengan ayat
sebelumnya dengan penjelasan bahwa semua ayat
al-Quran mempunyai keterkaitan antara satu
dengan lainnya. Tafsir ini bersih dari hadits-hadits
dhoif
Kelemahan Tafsir ini adalah:
1. Banyak bersandar pada Hadits-hadits dhoif
terkait dengan pendapat tentang tahrif alQuran
2. Dan tidak membedakan antara hadits-hadits
dhoif yang dinisbatkan kepada ahli al-bait
3. Mengandung banyak kajian tasawwuf yang
menyimpang dari al-Quran.
2. Tafsir al-Qasimy

94

a. Nama Tafsir
Mahasin al-Tawil
b. Riwayat Hidup Pengarang
Pengarang tafsir ini adalah jamal al-Din abu alfarh Muhammad bin Muhammad terkenal den gan
al-Qasimy. Lahir di damaskus tahun 1283 H/1866 M
dan meninggal tahun 1322 H/1914 M.
Al-Qasimy adalah seorang imam dalam ilmu
fiqh, tafsir dan Hadits. Termasuk ulama yang
mewarisi metode ulama salaf dan mampu
mengaplikasikan sesuai dengan zaman. Ia juga
termasuk tokoh gerakan politik di Negara Syam.
Menurut rasyid Ridha al-Qasimy ulama yang
produktif dan menulis tuju puluh lebih kitab dalam
kajian keislaman. Ia termasuk ulama besar
dilingkungan madrasah\nya Muhammad Abduh.
Diantara karyanya adalah:
1. Qawad al-tahdits min Funun Musthalah
hadits
2. Mahasin al-Tawil (kitab tafsir)
3. Irsyad al-Khalq ila al-Amal bi Kahir al-Barq
4. Islah al-masajid min al-Bida wa al-Awaid
5. Dalail al-Tauhid
6. Risalah fi al-Jin
c. Keberadaan Tafsir.
Kitab btafsir ini dikarang pada tahun 1329 H.
dan pertama kali diterbitkan di Mesir oleh dar alIhya al-Kutub al-Arabiyah pada tahun 1376 H.
Kemudian
oleh dar al-Fikr Bairut mnerbitkan
kembali pada tahun 1398 H. Kemudian pada tahun
1414 H kitab ini diterbitkan oleh dar al-Ihya alAraby Bairut dengan tahqiq Fuad Abdul Baqy. Kitab
ini berjumlah 10 jilid.
Kitab tafsir in mencakup seluruh kajian ayat alQuran sesuai dengan metode Muhammad Abduh.
d. Metodologi Penafsiran.

95

Memulaia dengan menyebut nama surat


dilanjutkan dengan menjelaskan makky dan
madany, jumlah ayat, keutamaan ayat dan surat,
keutmaan mebaca ayat dan surat disertai dengan
hadits dan komentar sahabat.
Setiap menjelaskan ayat selalu dibarengi
dengan penjelasan arti bahasa, Irab, kajian nahwu
dan sharaf, dan pandangan berbagai macam
ulama tentang masalah di atas dan menjelasan
tentang hadits-hadits maudhuat.
Banyak
mengambil
pendapat
ulama
mutaqaddimin,
terkadang
menrtajihnya
dan
terkadang tidak.
e. Penilaian Ulama
Muhammad
bakar
Ismail
menjelaskan:
Kecenderungan al-Qasimy dalam menafsirkan ayat
al-Quran
adalah
masalah
ijtimay
(social
kemasyrakatan), dia menafsirkan dengan metode bi
al-Matsur dan bi al-Rayi, selalu berpegang pada
pendapat ulama salaf shalih setiap menjelaskan
ayat dan selalu mampu mentarjih terhadap
perbedaan pendapat yang ada
3. TAFSIR AL-MANAR.
a. Nama Tafsir
al-Manar
b. Riwayat Hidup Pengarang
1. Muhammad Abduh
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin
Abduh bin Hasan Khairullah. Beliau dilahirkan di
Mesir pada tahun 1266 H (1849 M) Ayahnya
bernama Abduh Ibn Hasan Khairullah dan Ibunya
bernama Junainah.

96

Pendidikan Muhammad Abduh dimulai dari


Masjid al-Ahmadi Thantha untuk mempelajari tajwid
al-Quran. Pada umur 12 tahun beliau telah hafal alQuran di masjid al-Ahmadi. Setelah belajar di
Masjid al-Ahmadi, beliau menuju ke Kairo untuk
belajar di al-Azhar pada bulan Februari 1866. Di
sana, beliau bertemu dengan Sayyid Jamaluddin alAfghani (tahun 1871).
Setelah 2 tahun sejak pertemuannya dengan
Jamaluddin al-Afghani, terjadilah perubahan yang
sangat berarti pada kepribadian Abduh dan
mulailah ia menulis kitab-kitab karangannya seperti
Risalah al-Aridat (1837), Hasyiah Syarah al-Jalal alDiwani li al-Aqaid al-Adhudhiyah (1875). Semua ini
ditulis ketika beliau berumur 26 tahun, beliau juga
menulis tentang aliran-aliran flisafat, ilmu kalam
dan tasawuf, serta mengkritik pendapat-pendapat
yang dianggapnya salah.
Di samping itu, Abduh juga menulis artikelartikel pembaharuan di surat kabar al-Ahram
(Kairo). Dan tulisannya sempat menimbulkan
kontroversi di kalangan pengajar al-Azhar. Namun,
beliau mendapatkan pembelaan dari Syekh
Muhammad al-Mahdi (Syaikh al-Azhar) dan akhimya
beliau dinyatakan lulus dengan mencapai nilal
tertinggi di al-Azhar dalam usia 28 tahun (1877 M).
Setelah lulus dari tingkat Alamiyah (Lt), la
mengajar di al-Azhar dalam bidang ilmu Mantiq dan
Ilmu Kalam. Sedangkan di rumahnya, la mengajar
kitab Tahdzib al-Akhlaq (Ibn Maskawal) dan sejarah
peradaban kerajaan-kerajaan Eropa.
Pada tahun 1878, ia diangkat sebagai
pengajar sejarah pada sekolah Dar al-Ulum dan
Bahasa Arab pada Madrasah al-Idarah wa Alsun.
Dan pada tahun 1879, Muhammad Abduh
diberhentikan di 2 sekolah tersebut. Kemudian, ia
menyusul gurunya (Jamaluddin al-Afghani) yang
berada di Paris. Di sana mereka berdua
menerbitkan surat kabar al-Urwah al-Wutsqa, yang

97

bertujuan mendirikan pan-Islam dan menentang


penjajahan Barat (Inggris).
Pada tahun 1885, Abduh meninggalkan Paris
dan menuju ke Beirut (Lebanon) dan mengajar di
sana sambil mengarang beberapa kitab, antara
lain:
1. Risalah al-Tauhid (Teologi).
2. Syarah Nahju al-Balaghah.
3. Menerjemahkan karangan Jamaluddin alAfghani dari bahasa Persia, yakni al-Radd
ala al-Dahriyyin.
4. Syarah
Maqamat
Badi
al-Zaman
alHamazam.
Pada tahun 1888, Muhammad Abduh
kembali ke tanah airnya dan oleh pemerintah Mesir,
ia diberi tugas sebagai Hakim di pengadilan Daerah
Banha. Kemudian pada 1899 la diangkat menjadi
Mufti kerajaan Mesir dan beliau juga menjabat
sebagai anggota Majelis Syura di Mesir, seksi
Perundang-undangan.
Pada tahun 1905, Muhammad Abduh
mencetuskan ide pembentukan Universitas Mesir.
Ide ini mendapat respon yang baik di kalangan
pemerintah maupun masyarakat. Namun, sayang,
universitas yang dicita-citakannya ini baru berdiri
setelah
Muhammad
Abduh
berpulang
ke
Rahmatullah pada tanggal 11 Juni 1905 karena
penyakit kanker yang dideritanya dan Universitas
inilah yang kemudian menjadi Universitas Kairo.
Selain yang telah disebutkan di atas,
Muhammad Abduh melahirkan beberapa karya
lain, yaitu:
1. Tafsir al-Quran al-Hakim (al-Manar) yang
dirampungkan oleh Rasyid Ridha.
2. Khasyiah ala Syarkh al-Diwani li al-Aqaid
al-Adhudhiyat.
3. al-Islam wa al-Nashraniyah maa al-Ilm wa
al-Madaniyah.

98

2. Rasyid Ridha
Nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid
ibn Ali Ridha ibn Muhammad Syams al-Din alQalamuny. Beliau dilahirkan di Syria (Syam) pada
tanggal 27 tahun 1282 H (1865 M).
Pendidikan Rasyid Ridha dimulai di Madrasah
tradisional Qalamun untuk belajar al-Quran
disamping belajar membaca dan berhitung.
Kemudian pada tahun 1882 M ia meneruskan
studinya di Madrasah al-Wathaniyah al-Islam di
Tripoli. Namun, beliau tidak dapat lama belajar di
sana karena sekolah tersebut harus ditutup setelah
mendapat tantangan hebat dari pemerintah
kerajaan Utsmani.
Setelah itu, ia kembali lagi ke Tripoli (Syria)
untuk melancarkan ide-ide pembaharuan dengan
bekal keilmuwannya. Namun, usahanya mendapat
kecaman dan intimidasi dan pihak pemerintah
Utsmani, yang membuat Rasyid Ridha akhirnya
memutuskan untuk pindah ke Mesir pada tahun
1898 M., di Mesir Rasyid Ridha menjadi murid
Muhammad
Abduh
dalam
usaha-usaha
melancarkan pembaharuan.
Beberapa bulan di Mesir, la berhasil
menerbitkan sebuah majalah yang terkenal yakni
al-Manar. Adapun tujuan dari penerbitan majalah ini
untuk
melanjutkan
misi
majalah
al-Urwah
(Muhamamad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani)
yang
diantaranya
adalah
mengadakan
pembaharuan dalam bidang agama, sosial,
ekonomi, mengikis takhayul, khurafat dan bid'ah
yang merusak ajaran Islam.
Selain menerbitkan majalah al-Manar, Rasyid
Ridha sangat raiin menulis dan mengarang dalam
bentuk berbagai buku dan kitab. Salah satunya
adalah penulisan tafsir modern terhadap al-Quran
yang diberi nama tafsir al-Manar. Hal ini bemula
dari anjuran Rasyid Ridha kepada Gurunya,
Muhammad Abduh agar membuat tafsir al-Quran

99

yang sesual dengan ide-ide pembaharuan yang


dicanangkannya. Pada mulanya, Muhammad Abduh
menolak gagasan tersebut, namun karena selalu di
desak Rasyid Ridha, akhirnya, Muhammad Abduh
menyetujuinya dengan cara memberikan semacam
perkualiahan mengenai tafsir al-Quran di al-Azhar.
Dan perkualiahan tersebut dicatat oleh Rasyid
Ridha untuk disusun dalam bentuk karangan.
Tulisan tersebut diperiksa kembali oleh Muhammad
Abduh dan setelah mendapatkan pengesahan baru
disiarkan dalam al-Manar. Sebelum wafatnya tahun
1905, Muhammad Abduh sempat menyusun tafsir
tersebut sampai pada surat al-Nisa ayat 125, yakni
baru jilid ketiga dari tafsir al-Manar. Kemudian,
Tafsir tersebut dilanjutkan oleh Rasyid Ridha.
Di samping itu, Rasyid Ridha mampu
mendirikan sekolah yang diberi nama al-Madrasah
al-Dakwah Wwa al-lrsyad pada tahun 1912 M di
Kairo. Namun, sayang sekali umur sekolahan
tersebut tidak panjang, karena waktu itu terjadi
perang Dunia I dan sekolahan tersebut terpaksa
harus ditutup. Selain bergerak dalam bidang
mengarang dan pendidikan Rasyid Ridha juga aktif
dalam bidang politik. Namun, perjuangannya tidak
berlangsung lama. Di masa tuanya, Rasyid Ridha
sering terganggu kesehatannya. Walaupun begitu,
ia tidak suka diam dan selalu aktif dalam
perjuangannya. Akhirnya, tokoh pembaharu ini
menemui ajalnya pada bulan Agustus 1935 M.
Adapun karya-karya Rasyid Ridha lainnya
adalah:
Tarikh
al-Ustadz
al-Imam
al-Syekh
Muhammad Abduh, Nidau li al-Jinsi al-Latif, alWahyu al-Muhammadiy, Yusra al-Islam wa Usul alTasyri al-Am, al-Khilafat, al-Wahabiyyah wa alHijaz, Muhawarat al-Muslih wa al-Muqallid, dan lainlain.
c. Keberadaan Tafsir.

100

Kitab Tafsir al-Manar diterbitkan pada 22


Syawal 1315 H. Hal ini di latar belakangi oleh
keinginan Rasyid Ridha untuk menerbitkan sebuah
surat kabar yang membahas masalah sosial-budaya
dan agama. Awalnya al-Manar diterbitkan secara
serial dan periode, ternyata mendapatkan sambutan
hangat, bukan hanya di Mesir dan negara-negara
Arab lainnya, namun juga sampai ke Eropa dan
Indonesia.
Kitab ini terdiri dari 12 jus dari al-Quran, yakni
surat al-Fatihah sampai dengan surat Yusuf ayat 53.
Penafsiran dari awal sampai surat al-Nisa ayat 126
diambil dari pemikiran tafsir Muhammad Abduh dan
selebihnya dilanjutkan oleh Rasyid Ridha (muridnya)
dengan mengikuti metode Muhammad Abduh.
Masing-masing dari 12 jus mencakup 1 jus dari alQur'an. Dan ketebalan dari setiap jilidnya sekitamya
500 halaman. Ayat-ayatnya dikelompokkan dalam 1
kesatuan yang logis.
d. Metodologi Penafsiran.
Tafsir ini menggunakan metode Ilmy karena
penafsirannya memfokuskan pada kajian-kajian
ilmiah untuk menjelaskan ayat-ayat al-Quran yang
berkaitan
dengan
alam,
atau
tafsir
yang
memberikan hukurn terhadap istilah alamiyah dalam
ibarat al-Quran. Hal ini sesuai dengan penafsiran
Muhammad
Abduh
yang
cenderung
mengkombinasikan antara riwayat yang shahih dan
nalar yang rasional, yang diharapkan dapat
menjelaskan hikmah-hikmah syariat sunnatullah,
serta eksistensi al-Quran sebagai petunjuk bagi
manusia.
Sedangkan penafsiran Rasyid Ridha banyak
tergantung pada riwayat dari Nabi SAW dan banyak
menukil dari pemikiran para mufassir lain. Hal ini
dilakukannya jika la menilai Muhammad Abduh
setiap kali dihadapkan dengan masalah selalu

101

mengikuti kata pikiran dan hatinya saja, serta sesuai


dengan apa yang dibacanya dalam al-Qur'an.
Disamping itu, tafsir al-Manar banyak berbicara
tentang sastra-budaya dan kemasyarakatan. Suatu
corak penafsiran yang menitik beratkan penjelasan
ayat al-Quran pada segi ketelitian redaksinya,
kemudian menyusun kandungan ayat-ayatnya
dalam suatu redaksi yang indah dengan penekanan
pada tujuan utama turunnya al-Quran, yakni
memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia dan
merangkaikan ayat-ayat tersebut dengan hukumhukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan
kemajuan peradaban manusia.
Adapun hal yang membedakan tafsir al-Manar
dengan tafsir lainnya adalah bahwa dalm tafsir ini
banyak menganalisis tentang masalah-masalah
sosial yang aktual pada masanya. Atas dasar itu,
metode yang digunakan dalam tafsir ini, menurut
Muhammad Husain adz-Dzahaby adalah metode
Adaby Ijtimaiy (sosio-kultural).
Tafsir al-Manar merupakan salah satu kitab
tafsir yang memuat riwayat-riwayat yang shahih dan
sesuai dengan pandangan akal yang tegas, serta
menjelaskan hikmah-hikmah syariah dan sunnah
Allah (hukum-hukum Allah) terhadap manusia. Tafsir
ini ditulis dengan redaksi yang sederhana serta
menghindari istilah-istilah ilmiah dan teknologi
sehingga mudah dimengerti oleh orang-orang
awam,
namun
tidak
diabaikan
oleh
para
cendekiawan.
Berdasarkan hal tersebut, maka para ulama
tafsir memasukkan al-Manar kedalam golongan
tafsir dengan metode Tahliliy (metode tafsir yang
menjelaskan kandungan ayat-ayat a]-Quran dari
seluruh aspeknya), kemudian mengemukakan
munasabah antar ayat. Penjelasan tentang Asbabun
Nuzul juga dijelaskan dalam metode ini. Namun,
tafsir ini jarang menggunakan kisah-kisah Israilivat.
Kalaupun ada, kisah tersebut bukannya sebagai

102

dasar penafsiran, tapi hanya sekedar sebagai


tambahan penjelasan dalam rangkaian untuk
menguatkan tafsirnya.
e. Penilaian Ulama
Berkaitan dengan tafsir al-manar Syekh
manna al-Qaththan berkata: Syaikh Muhammad
Abduh telah merintis kebangkitan ilmiah dan
memberikan buahnya kepada murid-muridnya.
Kebangkitan ini berpusat pada kesadaran Islami,
upaya pemahaman ajaran sosiologis Islam dan
pemecahan
agama
terhadap
problematika
kehidupan masa kini. Benih-benih kebangkitan
tersebut sebenarnya dimulai dengan gerakan
Jamaluddin al-Afgani, yang kepadanya Muhammad
Abduh berguru. Abduh memberikan mata kuliah
tafsir di Unversitas al-Azhar dan mendapat
sambutan baik dari murid dan mahasiswanya. Dan
Rasyid Rida adalah murid paling tekun mempelajari
mata kuliah tersebut, paling bersemangat dan
mencatatnya dengan teliti. Maka dapatlah dikatakan
bahwa ia adalah ahli waris tunggal bagi ilmu-ilmu
Syaikh Mphammad Abduk Buah nyata akan hal ini
tampak jelas dalam tafsimya yang diberi nama tafsir
al-Quran al-Hakim, populer dengan nama Tafsir alManar, nisbah kepada Majalah al-manar yang
diterbitkannya.
Tafsir al-Manar adalah sebuah tafsir yang
penuh dengan pendapat para pendahulu umat ini,
sahabat dan tabiin dan penuh pula dengan uslubuslub bahasa Arab dan penjelasan tentang
sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan umat
manusia. Ayat-ayat Quran ditafsirkan dengan gaya
bahasa
menarik,
makna-makna
diungkapkan
dengan redaksi yang mudah dipahami, berbagai
persoalan dijelaskan secara tuntas, tuduhan dan
kesalahpahaman pihak musuh yang dilontarkan
terhadap Islam dibantah dengan tegas dan
penyakit-penyakit masyarakat ditangani, diobati

103

dengan petunjuk qurani. Syekh Rasyid menjelaskan


bahwa tujuan pokok tafsirnya ialah (untuk)
memahami Kitabullah sebagai sumber ajaran agama
yang membimbing umat manusia ke arah
kebahagiaan hidup, di dunia dan hidup di akhirat.
4.

TAFSIR AL-MARAGHI
a. Nama Tafsir
al-Maraghy
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap al-Maraghy adalah Muhammad
ibn Musthofa ibn Muhammad Ibn Munim al-Maraghy.
Lahir di kota al-Maragh sebuah perkampungan di
negara Mesir pada tahun 1298 H./1881 M. dan
meningal di kota Kairo pada tahun 1371 H./1952 M.
al-Maraghy belajar agama hingga menamatkan
sekolah menengah di kampung halamannya.
Setelah dewasa ia pergi ke kota Kairo Mesir untuk
mendalami berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman di
Perguruan Tinggi Darul Ulum Kairo Mesir bahkan
karena kepandaiannya ia langsung diangkat menjadi
staf pengajar pada almamaternya tersebut.. alMaraghy sempat belajar pada Syekh Muhammad
Abduh seorang ulama besar yang tidak asing bagi
umat Islam.
Setelah menguasai berbagai disiplin ilmu-ilmu
keislaman al-Maraghy dipercaya memegang jabatan
dalam pemerintahan, pada tahun 1908 M. hingga
1919 M. ia dipercaya sebagai Qadhy (Hakim) di
negara Sudan dan beberapa tahun kemudian
diangkat sebagai guru besar di Universitas Gurdun
di kota Khurthum Sudan dalam mata kuliah Bahasa
Arab dan Syariah Islamiyah (Hukum Islam). Ketika
menjadi
Qadhy
(Hakim)
ia
menyempatkan
mempelajari berbagai macam bahasa asing, hingga
pada tahun 1928 ia mendapatkan kepercayaan

104

ulama dan pemerintah negara Mesir sebagai rektor


Universitas al-Azhar. Beberapa tahun kemudian
jabatan rektor Universitas al-Azhar ia tinggalkan,
namun kemudian ia pangku kembali hingga wafat
pada tahun 1952 M.
Selain mengajar dan sebagai Qadhy alMaraghy banyak menelorkan karya ilmiah, di antara
karya ilmiahnya adalah: Kitab al-Hisbah al-Islamy,
Kitab al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh, Kitab al-Ulum alBalaghah, dan yang paling terkenal adalah Tafsir
al-Maraghy.
c. Keberadaan Tafsir
Kitab tafsir al-Maraghy terdiri dari 10 jilid
berukuran sedang dan beredar di negara-negara
Islam Timur Tengah hingga ke Indonesia. Kitab tafsir
ini ditulis selama 7 tahun dan berakhir pada bulan
Dzul Hijjah tahun 1365 H. di Mesir.
d. Metodologi Penafsiran
Ditinjau dari urutan ayat yang
ditafsirkan
maka tafsir al-Maraghy memakai metode Tahliliy
dan dari tinjauan sumber penafsiran memakai
metode bi al-rayi.
Secara rinci metode yang digunakan dalam
tafsir
al-Maraghy
dapat
ditemukan
dalam
muqaddimah tafsir ini, yaitu:
a. Menyampaikan
teks
ayat
pada
awal
pembahasan,
terkadang
dengan
membandingkan
ayat-ayat
lain
yang
relevan.
b. Penjelasan kata-kata (dari tinjauan bahasa,
penjelasan kata gharib dan terkadang
memakai pendapat pakar bahasa atau alNuhat).
c. Penjelasan ayat secara ijmaly (global).
Dimaksudkan agar mempermudah pembaca
untuk mengetahui arti ayat secara umum

105

sebelum mengkaji topik-topik yang menjadi


pembahasan dari ayat yang dijelaskan.
d. Penjelasan tentang abab nuzul (bila ayat
yang dijelaskan ada asbab nuzulnya
sekaligus dengan mentashih riwayat-riwayat
asbab buzul yang shahih dari Rasulullah ).
e. Menjelaskan
berbagai
persoalan
sosial
(terkadang ilmu-ilmu pengetahuan) yang
ada
relevansinya
dengan
ayat
yang
ditafsirkan.
f. Tidak banyak menjelaskan kajian bahasa,
bentuk-bentuk qiraat dan masalah-masalah
yang berkaitan dengan kebalaghiaan alQuran sebagaimana bentuk tafsir-tafsir bi
al-Rayi sebelumnya.
g. Tidak banyak menjelaskan secara panjang
lebar riwayat-riwayat Israiliyat, masalahmasalah kalam dan perbedaan-perbedaan
pendapat para ahli kalam (teolog) , masalahmasalah fiqh dan perbedaan pendapat para
tokoh-tokohnya,
filsafat
dan
ilmu-ilmu
kosmologi yang lainnya, hanya saja tafsir ini
banyak menjelaskan berbagai persoalan
sosial sehingga kecenderungan ke masalahmasalah sosial nampak kental sekali dalam
tafsir ini.
e. Penilaian Ulama
Tafsir al-Maraghy tergolong tafsir bi al-Rayi
modern yang mahmud (terpuji), metode yang
digunakan dalam menjelaskan ayat-ayat merupakan
metode yang paling bagus di antara metode-metode
yang digunakan dalam tafsir bi al-Rayi lainnya.
Metode penjelasaan ayat al-Quran dalam tafsir alMaraghy dapat dikatakan metode yang baru yang
kemudian
dipakai
oleh
mufassir-mufassir
setelahnya.
Hanya
saja
tafsir
ini
tidak
menyelesaikan
permasalahan
secara
tuntas
sebagaimana dalam metode maudluiy, selain itu

106

kurang adanya seleksi terhadap hadits-hadist yang


menjadi penguat terhadap penafsiran ayat-ayat
yang ditafsirkan.
Adanya kecenderungan terhadap masalahmasalah sosial yang dijadikan sebagai penafsiran
ayat-ayat tertentu terkadang mengindikasikan
pemaksaan penafsiran antara ayat-ayat yang
ditafsirkan dengan masalah-masalah sosial yang
menjadi
subyek
penafsiran
ayat-ayat
yang
ditafsirkan.
5.

TAFSIR AL-JAWAHIR
a. Nama Tafsir
al-Jawahir fi Tafsir al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang
Tantawi Jauhari Lahir di desa Kift lwadillah
tahun 1287 H/1870 M dan beliau meninggal pada
tahun 1358 H/1940 M. Beliau merupakan seorang
pemikir dan cendekiawan di Negara Mesir, bahkan
ada yang menyebutkan sebagai seorang filosof
Islam. Di waktu kecilnya dia belajar di al-Ghar sambil
membantu orang tuanya yang pekerjaannya sebagai
seorang
petani,
dari
sana
ia
meneruskan
pelajarannya di al-Azhar Kairo, setelah itu Tantawi
pindah ke Dar al-Ulum dan menyelesaikannya pada
tahun 1311 H/1893 M.
Selesai dari bangku perkuliahan ia bekerja
sebagai seorang guru Madrasah Ibtidaiyah dan
Tsanawiyah kemudian meningkat menjadi seorang
guru di Universitas Dar al-Ulum.
Tantawi Jauhari sangat tertarik dengan cara
Muhammad Abduh yang memberikan kuliah di
Universitas al-Azhar terutama dalam penyampaian
mata kuliah tafsir. Tidak hanya itu, beliau juga
tertarik dengan ilmu Fisika, beliau memandang
bahwa ilmu Fisika dapat menjadi suatu studi untuk

107

menanggulangi
kesalah-pahaman
orang
yang
menuduh bahwa Islam menentang Ilmu dan
Teknologi modern. Daya tarik inilah yang mendorong
Tantawi menyusun pembahasan-pembahasan yang
dapat mengkompromikan pemikiran Islam dengan
kemajuan studi Ilmu Fisika. Dengan pandangan itu
beliau merasa tidak puas dengan program
pembelajaran khususnya dalam mata kuliah Tafsir.
Tantawi diangkat menjadi dosen/pengajar di alJamiat al-Musriyat tahun 1912 dalam mata kuliah
filsafat Islam. Kemudian beliau mendirikan lembaga
pendidikan bahasa Asing terutama bahasa Inggris,
supaya pemuda-pemuda Islam dapat memahami
Ilmu pengetahuan yang tersiar dalam surat-surat
kabar ataupun lewat majalah, dia giat juga
menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah yang
sangat berguna untuk memajukan budaya bangsa.
Dia
juga
berusaha
memajukan
daya
pikir
masyarakat Islam, dan menjauhkan mereka dari
kebekuan berfikir serta menyadarkan mereka untuk
menuntut ilmu modern,
oleh karena itulah
kemudian Tantawi mendorong warga masyarakat
Mesir
untuk
memperbanyak
pembangunan
sekolah-sekolah dari muali Sekolah Dasar sampai
Perguruan
Tinggi
(Universitas).
Usaha
yang
dilakukan itu terdorong dari adanya konsep alQuran yang sangat mengajarkan kaum muslimin
untuk menuntut ilmu dalam arti yang seluas-luasnya
Tantawi
menghabiskan
umurnya
untuk
mengarang dan menterjemahkan buku tidak kurang
dari 37 tahun lamanya, sejak beliau mulai bekerja
sebagai guru sampai masuk usia pensiun pada
tahun 1930. Dari sekian lama masa hidupnya
terhimpun tidak kurang dari 30 kitab dari berbagai
judul antara lain adalah:
1. Mijan al-Jawahir fi Ajaib al-Bahir (1900 M)
2. Jawahir al-Ulum (1904 M)
3. al-Hikmah Wa al-Hukama
4. Taj al-Murassa

108

5. Jamalral-Alam
6. Nahdah al-ummah wa Hayatuha.
7. al-Quran wa ulum al-Quran
Dari kitab karangannya ada diantaranya
diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa. Adapun
karyanya yang paling terkenal adalah kitabnya, alJawahir fi Tafsir al-Quran, yang disusun disusun
ketika umurnya sudah menginjak usia 60 tahun.
c. Keberdaan Tafsir
Kitab tafsir al-Jawahir fi Tafsir al-Quran terdiri
dari 25 Juz, dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran
pengerangnya
sangat
terpengaruh
dengan
pemikiran Muhammad Abduh terutama terkait
dengan tujuan memberantas bidah dan taqlid.
Kitab Tafsir ini memuat bahasan-bahasan yang
berbeda dengan kebisaan pembahasan kitab-kitab
Tafsir lainnya. Dalam menafsirkan ayat-ayat yang
berhubungan dengan bidang alamiah dilengkapi
dengan garnbar dan foto-foto tentang alam.
Misalnya dalam Juz 1 hal 248 dapat di baca uraian
tentang perkembangan kehidupan makhluk katak
mulai dari telur hingga menjadi katak yang besar.
Dalam Juz III halaman 141 diuraikan bagaimana
pentingnya
ilmu-ilmu
biologi,
antropologi,
pertambangan
dan
kedokteran
dan
ilmupengetahuan lainnya. Dalam Juz III hal 11 dijelaskan
tentang bunga dan tumbuh-tumbuhan dengan
segala macamnya. Dalm Juz III halaman 102
diuraikan tentang ilmu kimia, macam-macam atom,
sifat-sifat atom, dan daftar unsur-unsur dalam ilmu
kimia, Juz VIII hal 97 memuat pembahasan sejarah
timbulnya pesawat udara dan perkembangan
selanjutinya. Dalam juz XII halaman 61 memuat
hewan, tumbuh-tumbuhan di seluruh Asia, seluruh
Amerika Utara dan Amerika Selatan, serta peta
Eropa. Dalam Juz XV halaman 222 diuraikan tentang
jantung manusia. Dalam Juz IX halaman 144 dimuat
suatu uraian tentang mata air yang memancar

109

menjulang tinggi dari celah-celah batu kuning di


Amerika Selatan.Dan masih banyak lagi penjelasan
berbagai macam ilmu pengetahuan modern
dijelaskan dalam tafsir ini
d. Metodologi Penafsiran
Tafsir ini tergolong dalam tafsir bi al-Rayi jenis
tafsir ilmy karena memuat masalah-masalah ilmiah.
Tafsir ini sangat memberikan perhatian besar pada
ilmu-ilmu kealaman (al-Ulum al-Kauniah, natural
sciences) dan keajaiban makhluk.
Tantawi menyatakan bahwa di dalam Quran
terdapat
ayat-ayat
ilmu
pengetahuan
yang
jumlahnya lebih dari tujuh ratus lima puluh ayat. la
juga menganjurkan umat Islam agar memikirkan
ayat-ayat Quran yang menunjuk pada ilmu-ilmu
kealaman,
mendorong
mereka
untuk
mengarnalkannya dan untuk pada masa kini harus
lebih diperhatikan dari ayat-ayat yang lain, bahkan
dari kewajiban-kewajiban agama sekalipun. la
berkata, Mengapakah kita tidak mengamalkan
ayat-ayat ilmu pengetahuan alam sebagaimana
para pendahulu kita mengamalkan ayat-ayat
kewarisan? Akan tetapi saya mengucapkan alhamdulillah, al-hamdu lillah, karena kini anda telah
dapat membaca dalam tafsir ini rangkuman atau
intisari ilmu pengetahuan, yang mempelajarinya
lebih utama daripada mempelajari ilmu faraid
karena ia hanya fardu kifayah. sedangkan ilmu
pengetahuan dapat menambah marifah kepada
Allah, karena itu ia menjadi fadlu ain bagi setiap
orang yang mampu.
Dalam pembahasan pengetahuan Tantawi agak
berlebihan hingga ia berani mencela para mufasir
terdahulu. Katanya, llmu-ilmu yang kami masukkan
ke dalam tafsir ini adalah ilmu yang dilalaikan oleh
orang-orang bodoh yang tertipu, yaitu para Fuqaha
Islam yang kerdil. Kini adalah masa perubahan dan

110

pemunculan hakikat dan Allah membimbing siapa


yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
Pengarang tafsir ini telah mencampur-adukkan
kesalahan di dalam kitabnya. Ia memasukkan ke
dalamnya gambar tumbuh-tumbuhan, binatang,
pemandangan alam dan berbagai eksperimen ilmu
pengetahuan seakan-akan ia adalah buku diktat
tentang ilmu pengetahuan. la menerangkan hakikathakikat keagamaan dengan apa yang ditulis Plato
dalam Republika-nya dan kelompok Ikhwanus Safa
dalam risalah mereka, memaparkan ilmu pasti dan
menafsirkan ayat-ayat dengan berlandaskan pada
teori-teori ilmiah modern.
e. Penilain Ulama
Sebagian Ulama memandang kitab tafsir alJawahir adalah kitab yang pada dasarnya bukan
merupakan kitab tafsir karena banyak mengupas
tentang ilmu pengetahuan dimana hal tersebut
bukanlah tujuan utama al-Quran, hal ini pula yang
menyebabkan mengapa kitab tafsir ini berbeda
dengan kitab tafsir-tafsir lainnya. Kitab tafsir ini
bahkan pernah dilarang masuk ke daerah Saudi
Arabia.
Kitab tafsir ini mengritik Ulama Ahli Fiqh yang
telah
melalaikan
ayat-ayat
tentang
Ilmu
pengetahuan dalam arti luas, namun demikian
menurut sebagain Ulama berpendapat bahwa kitab
tafsir ini merupakan kitab tafsir yang didalamnya
memuat segala macam ilmu dan kitab tersebut
dapat
membangkitkan
umat
Islam
dari
keterpurukan.
Manna al-Qaththan menyatakan: Dalam
pandangan kami Tantawi Jauhari telah melakukan
kesalahan
besar
terhadap
tafsir
dengan
perbuatannya itu; ia mengira bahwa dirinya telah
berbuat baik, padahal tafsirnya itu tidak diterima
oleh banyak orang terpelajar karena mengandung
pemaksaan dalam membawakan ayat kepada apa

111

yang bukan maknanya. Oleh karena itu tafsir ini


mendapat predikat yang sama dengan yang
diperoleh
tafsir
al-Razi.
Maka
terhadapnya
dikatakan, Di dalamnya terdapat segala sesuatu
kecuali tafsir itu sendiri.
6.

TAFSIR FI DLILAL

a. Nama Tafsir
Fi dhilal al-Quran
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap Sayyid Quthub adalah Sayyid
ibn Quthub ibn Ibrahim. Lahir di desa Moshah di
propinsi Asyut Mesir pada tahun 1906 dan
meninggal menjelang fajar ditiang gantungan pada
tanggal 29 Agustus 1966 di Mesir.
Sayyid Quthub dibesarkan pada sebuah
keluarga yang menitik beratkan pada ajaran Islam.
Gelar al-Hafidz diperoleh ketika berumur 10 tahun,
kemudian ketika berumur 13 tahun ia dikirim oleh
orang tuanya ke halwan daerah pinggiran kota
Kairo dan memperoleh kesempatan belajar di
tajhiziyah Darul Ulum. Tahun 1929 masuk kuliah di
al-mamater yang sama dan tahun 1993 memperoleh
gelar sarjana muda dalam bidang
pendidikan,
kemudian
memperdalam
study
dalam
ilmu
pendidikan selama 2 tahun di Amerika Serikat.
Setelah menyelesaikan studinya Sayyid Quthub
bergabung dengan gerakan Islam Ikhwan alMuslimin yang didirikan oleh al-Syahid Hasan alBanna, kemudian ia menjadi salah satu tokoh yang
berpenggaruh dalam gerakan tersebut. Bulan Juli
1954 ia diangkat sebagai pimpinan redaksi harian
Ikhwan al-Muslimin, akan tetapi baru 2 bulan
harian tersebut berjalan, ditutup oleh pemerintah
atas perintah presiden Mesir Kolonel Gamal Abdul
Naser, karena mengecam perjanjian Mesir Inggris

112

tanggal 7 juli 1954. Kemudian pada tanggal 13 Juli


1955 Pengadilan Rakyat Mesir menjatuhkan
hukuman 15 tahun penjara dengan kerja berat. Ia di
tahan di beberapa penjara di Mesir hingga
pertengahan tahun 1964 ia dibebaskan atas
permintaan presiden Irak Abdul Salam Arif yang
kebetulan sedang berkunjung ke Mesir.
Baru setahun Sayyid Quthub menikmati
kebebasan, ia kembali di tahan bersama tiga orang
saudaranya: Muhammmad Quthb, Hamidah dan
Aminah. Juga ikut ditahan sekitar 20. 000 orang, di
antaranya 700 orang wanita. Tanggal 13 Jumadil
Awwal 1386 H/29 Agustus 1966 ia bersama dua
orang temannya yaitu: Abdul Fatah Ismail dan
Muhammad Yusuf Hawwasy dihukum gantung.
Sebagai seorang yang mempunyai kecerdasan
dan
menguasai
berbagai
disiplin
ilmu-ilmu
keislaman Sayyid Quthub menulis lebih dari 20karya
ilmiah. Mula-mula ia
mengembangkan bakat
menulisnya dengan membuat buku untuk anak-anak
tentang kisah nabi Muhammad SAW, kemudian
dilanjutkan dengan menulis beberapa cerpen, sajaksajak, kritik-kritik sastra dan artikel-artikel majalah.
Di antara hasil karya ilmiahnya adalah: al-Taswir alFanny fi al-Quran , Musyahidat al-Qiyamah fi alQuran, pada tahun 1948 ia menerbitkan karyanya
berjudul al-Adalah al-Ijtimaiyah dan karya
besarnya adalah Fi Dlilal al-Quran yang ia
selesaikan dalam penjara tahun 1953 1964, kitab
tafsir ini dicetak dalam jumlah 8 jilid besar.
Sayyid Quthb dikenal dikalangan bangsa Mesir
sebagai sastrawan yang produktif dan disejajarkan
dengan mahmud al-Aqqad, Musthafa Shadiq Rafiiy
dan Thaha Husen. Ia banyak menyampaikan kritik
tajam dalam beberapa artikelnya melalui media
masa tentang etika moral masyarakat Mesir yang
telah jauh meninggalkan nilai-nilai humanisme yang
tidak relevan lagi menurut kaca mata Islam.

113

c. Keberadaan Tafsir
Kitab tafsir ini terdiri dari 8 jilid besar dan telah
mengalami beberapa kali cetak ulang hanya dalam
beberapa tahun saja, karena mendapat sambutan
baik dari orang-orang terpelajar.
d. Metodologi Penafsiran
Ditinjau dari urutan ayat yang ditafsirkan maka
tafsir Fi Dlilal al-Quran karya Sayyid Quthub
memakai metode Tahliliy dan dari tinjauan sumber
penafsiran memakai metode bi al-rayi.
Dalam menjelaskan penafsiran metode yang
ditempuh tafsir ini adalah:
1. Memberikan
pengantar
yang
menjelaskan
kandungan atau isi pokok surat atau ayat yang
dijelaskan sebelum kemudian menjelaskan teks
surat atau ayat.
2. Menafsirkan ayat demi ayat sesuai dengan
urutan
ayat
dalam
mushhaf
dengan
mengkomparasiakn ayat-ayat yang terkait serta
menyertakan nash-nash hadits pendukung yang
shahih atau dengan kata lain memadukan antara
penafsiran bi al-Matsur dengan bi al-Rayi.
3. Menekankan pada aspek keindahan ungkapan alQuran.
4. Mengkaitkan penafsirannya dengan permasalahn
sosial politik dan kemasyarakatan.
5. Memberikan pandangan yang dalam dan konsepkonsep alternatif serta mengkaitkan antara Islam
dan pertumbuhan serta perkembangan ilmu
pengetahuan
yang
dapat
mentuntaskan
problematika kehidupan kaum muslimin.
6. Tidak banyak mengungkapkan istilah-istilah ilmu
pengetahuan dan pembahasan ilmiah secara
mendalam.
7. Menjauhi riwayat-riwayat Israiliyah.

114

8. Tidak menjelaskan secara detail arti mufrodat


dan tidak pula menitik beratkan pada aspekaspek fiqh.
e. Penilaian Ulama
Tafsir Fi Dlilal al-Quran tergolong tafsir bi alRayi modern yang mahmud (terpuji), sebagaimana
tafsir al-Maraghy. Penafsiran ayat-ayat al-Quran
berkaiatan dengan permasalahan sosial kerap kali
dapat ditemukan dalam tafsir ini, begitu pula
tentang kandungan hukum yang terkait dengan
permasalahan sosial sering dikemukakan dengan
memberikan alternatif-alternatif pemecahan sesuai
dengan di mana kaum muslimin itu hidup sehingga
nampak sekali peran nilai al-Quran yang universal.
Hanya saja penafsiran ayat ini tidak berangkat dari
dari penafsiran kosa kata terdahulu yang justru itu
yang lebih penting untuk ditafsirkan terlebih dahulu
sebelum menafsirkan secara keseluruhan ayat-ayat
yang akan ditafsirkan, selain itu aspek asbab nuzul (
pada ayat-ayat yang terdapat asbab nuzulnya) yang
merupakan aspek pokok dalam penafsiran kerap kali
tidak diperhitungkan dalam tafsir ini. Walaupun
demikian tafsir ini dalam pandangan mufassirin
tergolong tafsir bi al-Matsur yang mahmud (terpuji),
sebab penafsiran dilakukan sesuai dengan kaidahkaidah penafsiran yang telah ditentukan oleh para
mufassirin.
Banyak sekali faedah yang dapat kita ambil
dalam tafsir ini, namun berkaiatan dengan teoriteori ilmu sosial kemsyarakatan yang kerap kali
diungkapkan itu bukanlah merupakan penafsiran
ayat-ayat
al-Quran,
demikian
itu
hanya
menunjukkan betapa kuatnya peran
al-Quran
sebagai mujizat yang kemudian sesuai dengan
konsep-konsep taersebut, sebab jika tidak demikian
adanya maka al-Quran akan hilang nilainya jika
tidak sesuai lagi dengan konsep-konsep di atas,

115

sementara fungsi al-Quran adalah sebagai petunjuk


dan pedoman umat Islam selamanya.
7.

TAFSIR AL-MIZAN

a. Nama Tafsir
AI-Mizan Fi At-Tafsir Al-Qur'an"
b. Riwayat Hidup Pengarang
Nama lengkap Thabathabai adalah al-Allamah
Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, yang
kemudian terkenal dengan Nama Al-Thabathabai.
Beliau lahir di Tabriz pada tahun 1321 H/1903 M.
dalam suatu keluarga keturunan Nabi yang selama
empat belas generasi melahirkan generasi-generasi
sarjana Islam yang terkemuka.
Beliau menerima pendidikan permulaan di kota
kelahirannya, menguasai unsur-unsur bahasa arab
dan pengetahuan-pengetahuan keislaman. Pada
sekitar usia dua puluh tahun ia pergi ke Universitas
Syiah yang besar di Najaf untuk melanjutkan study,
kebanyakan murid di madrasah mengikuti cabang
al-Ulum al-Naqhyah yakni pengetahuan yang
berdasarkan tentang dalil-dalil agama, terutama
yang membahas Fiqh dan Ushul Fiqh (prinsip-prinsip
Yurisprudensi),
bahkan
Thabathabai
mampu
menguasai dua pengetahuan tradisional, yakni
pengetahuan Naqliyah dan pengetahuan Aqliyah.
Diantara Nama-nama guru besarnya adalah:
- Mirza Muhammad Husain Naini (Guru besar
marifat Islam)
- Syekh Muhammad Husain Isfahany
- Sayyid Ab al-Qasim Khawansari
Beliau sangat menguasai bidang pengetahuan
Fiqh dan Ushul Fiqh, sehingga apabila beliau tetap
bertahan sepenuhnya pada bidang ini ia akan
menjadi mujtahid
yang terkenal dan arnat
berpengaruh pada bidang politik dan sosial.

116

Selain
belajar
ilmu
pengetahuan
Islam
tradisional (Ilm al-Ushuly) Thabathabai juga
menjalani Ilmu Hudhuri atau pengetahuan langsung
atau pengetahuan marifat, yang meningkatkan
pengetahuan menjadi kasyaf tentang realitas yang
sempurna.
Berkat guru-gurunya, bertahun-tahun di Najaf
al-Thabathabai
tidak
hanya
menncapai
pengetahuan intelektual tinggi, namun juga untuk
mencapai tingkat kezuhudan dan kerohaniaan yang
memungkinkan mencapai keadaan perwujudan
kerohanian yang sering diibaratkan sebagai tajrid
atau
pelepasan
dari
kegelapan
batas-batas
kebendaan.
Pada tahun 1314 H/ 1934 M al-Thabathabai
kembali ke Tabriz dan tinggal di kota itu beberapa
tahun serya mengajar sejumlah muridnya, beliau
masih belum dikenal dikalangan keagamaan persia
pada umumnya. Peristiwa yang memusnahkan,
yakni peristiwa perang dunia ke II dan pendudukan
Rusia ke Persia membawa al-Thabathabai dari Tabriz
ke Qum pada tahun 1324 H/ 1945 M. Kota Qum
ketika itu menjadi pusat study keagamaan di persia.
Di sini al-Thabathabai mulai mengajar dengan
menitik beratkan pada kajian tafsr al-Quran dan
Filsafat serta Teologi Islam tradisional, yang selama
bertahun-tahun tidak diajarkan di Qum.
Kepribadian dan penampilan al-Thabathabai
penuh magnet sehingga menarik beberapa murid
yang cerdas dan cakap, secara berlahan-lahan ia
menjadikan ajaran-ajaran mula sadra menjadi bagian
penting dalam kurikulum tradisional. Selain menetap
di kota Qum juga sering mengadakan kunjungan ke
Teheran. Setelah perang dunia ke II, ketika Marxisme
menjadi mode sebagian kalangan generasi muda di
Teheran, al-Thabathabai menjadi satu-satunya
ulama yang berusaha dengan seksama mempelajari
dasar komunisme, dan memberikan jawaban

117

terhadap materialisme dialektika dari sudut pandang


tradisional.
Hasil dari usaha itu kemudian menimbulkan
salah satu karya besar beliau, yakni Ushul alFalsafah wa Rawisyi Ri'alism (prinsip-prinsip Filsafat
dan Metode Realisme), beliau membela realisme
dalam koridor pengertian tradisional dan abad
pertengahan,
melawan
semua
filsafat-filsafat
dialektika, ia juga melatih sejumlah murid yang
tergolong masyarakat Iran dengan pendidikan
modern.
Selain
mengajar
al-Thabathabai
juga
menyibukkan diri dengan banyak menulis buku dan
artikel
yang
memperlihatkan
kemampuan
intelektualanya yang mengagurnkan dan keluasan
pengetahuanya dalam dunia pengetahuan dan
keislaman tradisional.
Di Kota Qum beliau mengabdikan diri hampir
seluruh waktunya untuk tafsir al-Quran dan
membimbing muridnya yang terbaik, ia berdiri
sebagai lambang kepermanenan tradisi kesarjanaan
dan pengetahuan Islam yang panjang,
dan
kehadirannya membawa keharuman, yang keluar
hanya dari orang yang telah merasakan buah dan
Pengetahuan Ketuhanan.
c. Keberdaan Tafsir
Tafsir al-Mizan fi al-Tafsir al-Quran ini karya
Sayyid Thabathabai berjumlah delapan jilid
berukuran sedang. Tafsir ini telah dicetak baik di
mesir maupun di Iran.
d. Metodolog1 Penafsiran
Dilihat dari urutan ayat yang ditafsirkan
metode penafsiran yang digunakan oleh Sayyid
Thabathabai
adalah
metode
Tahlili,
beliau
menafsirkanya mulai dari surat al-Fatihah sampai
pada surat terakhir dalam al-Quran.

118

Adapun tahapa-tahapan dari metode penafsiran


yang dipakai oleh Alainah Sayyid Thabathabai
secara garis besar adalah:
1. Permasalahan tarif (definisi)
2.
Menjelaskan penafsiran dari penafsiran para
sahabat dan para tabiin.
3.
Penjelasan tentang penafsiran ayat-ayat
mutsabihat
4.
Menjelaskan pendapat dari ulama-ulama lain,
seperti beberapa penafsiran yang dianggap
extrimisme terhadap beberapa madzhab.
5. Melibatkan masalah filsafat dalam penafsiran
6. Kesimpulan akhir dari tema ayat yang ditafsirkan
e. Penilain Ulama
Sebagian ulama menilai tafsir Al-mizan Fi
at-tafsir AI-Qur'an karya Sayyid Muhammad Husain
Thabahabai merupakan tafsir bi al-Ra'yi yang
mahmud, karena penafsiran terhadap ayat-ayat alQuran dalam tafsir ini sesuai dengan kaidah-kaidah
tafsir al-Quran. Namun sebagian ulama menilai
tafsir ini dalam beberapa masalah condong ke
masalah Syiah.
8.

TAFSIR BINTU SYATHI

a. Nama Tafsir
Tafsir al-Bayan li al-Quran al-Karim
b. Riwayat Hidup Pengarang
Bintu al-Syathi dilahirkan di Dumyat wilayah
sebelah barat Delta Nil, ia tumbuh dewasa ditengah
sebuah keluarga muslim yang saleh. Bintu al-Syathi
adalah nama samarannya, nama aslinya adalah Dr.
Aisyah Abdurrahman. Tidak banyak literature yang
menjelaskan
tentang
kapan
wafatnya.
la
menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas
Fuad I Kairo, walaupun mempunyai pandangan dan

119

sifat konservatif, ia memiliki semua daya tarik


seorang perempuan Arab modern yang berbudaya.
c. Keberedaan Tafsir
Bukunya mengenai tafsir al-Bayan li al-Quran
al-Karim, Vol. 1 (1962) telah dicetak ulang dua kali
(tahun 1966 dan tahun 1968) dan edisi bajakannya
telah terbit pula di Beirut Vol II. Kitab tafsirnya terbit
pada tahun 1969 yang telah mendapat sarnbutan
luar biasa, dan Dr. Aisyah Abdurrahman diharapkan
dapat melanjutkan studi tafsirnya itu hingga
mencakup keseluruhan al-Quran, tidak hanya
keempat belas surat pendek yang sejauh ini sudah
diselesaikannya.
d. Metodologi Penafsiran
Bintu al-Syathi mengkhtisarkan prinsip-pninsip
metodenya kedalarn empat butir.
Pertama,
basis
metodenya
adalah
memperlakukan apa yang ingin dipahamai dari alQuran secara obyektif, dan hal ini dimulai dengan
pengumpulan sernua surah dan ayat mengenai topik
yang ingin dipelajari.
Kedua, untuk memahami gagasan tertentu.
yang terkandung di dalam al-Quran menurut
konteknya, ayat-ayat disekitar itu harus disusun
menurut tatanan kronologis pewahyuan, hingga
keterangan-keterangan
mengenai
wahyu
dan
tempat dapat diketahui. Riwayat-riwayat tradisional
mengenai
peristiwa
pewahyuan
dipandang
sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan hanya
sejauh
dan
dalam
pengertian
bahwa
peristiwa-peristiwa
itu
merupakan
keterangan-keterangan kontekstual yang berkaitan
dengan
pewahyuan
suatu
ayat,
sebab
peristiwa-peristiwa itu bukanlah tujuan atau sebab
sin qua non (syarat mutlak) kenapa pewahyuan
teriadi. Pentingnya pewahyuan terletak pada

120

generalitas kata-kata yang digunakan, bukan pada


kekhususan peristiwa pewahyuannya.
Ketiga, bahasa Arab adalah bahasa yang
digunakan dalam al-Quran, maka untuk memahami
arti kata-katanya harus dicari arti linguistik aslinya
yang memiliki rasa kearaban kata tersebut dalam
berbagai penggunaan material dan figuratifnya.
Dengan demikian maka al-Quran diusut melalui
pengumpulan seluruh bentuk kata didalarn alQuran, dan mempelajari konteks spesifik kata itu
dalam ayat dan surat tertentu serta konteks
umumnya dalam al-Quran.
Keempat,
untuk
mernahami
pernyataan-pernyataan yang sulit, naskah yang ada
dalam susunan al-Quran itu dipelajari untuk
mengetahui kemungkinan maksudnya. Baik bentuk
dhahir maupun bathim semangat teks itu harus
diperhatikan. Apa yang telah dikatakan oleh para
mufasir, dengan demikian diuji kaitannya dengan
naskah yang sedang dipelajari, dan hanya yang
sejalan dengan naskah yang diterima. Seluruh
penafsiran yang bersifat sektarian dan isra'iliyat
(materi-materi Yahudi-Kristen) yang mengacaukan,
yang biasanya dipaksakan masuk kedalam tafsir alQuran harus disingkirkan.
Seperti yang dapat disimak dari ringkasan
tersebut diatas, apa yang menjadi dasar metode
tafsir adalah diktum yang telah dikemukakan para
mufasir klasik masa lalu, yakni bahwa al-Quran
menjelaskan dirinya dengan dirinya sendiri (tafsir
ayat dengan ayat), meskipun para mufasir tersebut
tidak menerapkan diktum itu secara sistematis.
Selain itu yang menjadi dasar metode tersebut
adalah prinsip bahwa al-Quran harus dipelajari dan
dipahami dalam keseluruhanya sebagai suatu
kesatuan
dengan
karakteristik-karakteristik
ungkapan dan gaya yang khas. Terakhir yang
menjadi dasar pula adalah penenimaan atas

121

keterangan sejarah mengenai kandungan al-Quran


tanpa menghilangkan keabadian nilainya.
Dalam metode yang dikembangkan Bintu alSyathi ini tampak jelas kehati-hatian yang sengaja
dipatok agar dapat membiarkan al-Quran berbicara
mengenai dirinya sendiri, dan agar kitab suci itu
dipahami dengan cara-cara yang paling langsung
sebagaimana orang -orang Arab pada masa
kehidupan nabi Muhammad SAW. Rujukart-rujukan
al-Quran kepada orang-orang yang hidup pada
masa itu diminimalkan hanya sebagai data sejarah,
maksuknya adalah agar signifikansi relegius
orang-orang maupun kejadiankejadin tersebut
dipahami pada konteks pesan al-Quran dalam
totalitasnya. Dengan demikian tekanan diletakkan
pada apa yang menjadi maksud Tuhan dengan
sebuah wahyu, yang melampaui dan berada diatas
peristiwa sejarah tertentu yang menjadi latar
belakangnya.
Bintu al-Syathi dalam menafsirkan al-Quran
cenderung menilal pada unsur-unsur-unsur tata
bahasa, retorika dan gaya al-Quran, ketimbang
mengikuti aturan-aturan buatan para ahli tata
bahasa, retorika, dan kritik sastra yang justru harus
ditinjau kembali atau bahkan direvisi, dibawah
petunjuk al-Quran. Dengan demikian jelaslah
bahwa pendekatan yang dipakai Bintu al-Syathi ini
terdapat suatu metode tafsir moderen al-Quran.
Walaupun berdasarkan aturan-aturan penafsiran
klasik yang sayangnya tidak pernah dipraktikkan
secara serius sebagai usaha-usaha penafsiran
sistematik, metode ini telah menghadirkan suasana
kesegaran baru dalam bidang tafsir al-Quran di
masa modern ini.
Di
dalam
tafsirnya
Bintu
al-Syathi'
memusatkan perhatian pada kesusastraan Arab.
Dalam pendahuluannya ia mengemukakan bahwa ia
menempuh metoda ini untuk memecahkan berbagai
persoalan kehidupan dunia sastra dan bahasa.

122

Dikatakannya pula bahwa ia pernah menyampaikan


kajian terhadap masalah tersebut di berbagai
kongres internasional. Misalnya dalam Kongres
Orientalis Internasional di India pada 1964. Topik
pembahasan yang disampaikannya dalam bagian
studi Islam adalah Musykilat al-Taraduf al-Lughawi
fi Daul al-Tafsir al-Bayani fi al-Quran al-Karim. Ia
mengatakan:
Dalam
pembahasan
tersebut
dijelaskan bagaimana hasil penelitian cermat
terhadap kamus lafaz-lafaz al-Quran dan dalalah
(penunjukkan makna)-nya di dalam konteksnya.
Hasil penelitian itu mengungkapkan bahwa alQuran menggunakan sebuah lafaz dengan dalalah
terbatas (tertentu); yang tidak mungkin dapat
diganti dengan lafaz lain yang mempunyai makna
sama seperti diterangkan oleh kamus-kamus bahasa
dan kitab-kitab tafsir, baik jumlah lafaz yang dikatakan sebagai muradif (sinonim) itu sedikit maupun
banyak.
e. Penilaian Ulama
Terdapat beberapa ulama yang kurang setuju
dengan metode yang dijadikan pijakan penafsiran
Bintu al-Syathi, bahkan mereka menolak dengan
menyatakan
Memahami
al-Quran
dalam
keseluruhan
dan
dalam
tatanan
kronologis
pewahyuannya, untuk menjelaskan bagian tertentu
dengan yang lain, berarti menyepelehkan atau
mengingkari kenyataan bahwa kitab suci itu
diturunkan dalam rentang waktu dua puluh dua
hingga dua puluh tiga tahun, yang berarti ungkapan
dan gayanya pada masa-masa awal pewahyuan
tidak harus sama dengan ungkapan dan gaya yang
digunakan pada masa-masa yang belakangan.
Berkaitan dengan hal di atas Bintu al-Syathi
menjawab keberatan ini dengan menekankan bahwa
proses dedukatif digunakan untuk menemukan
makna fenomena linguistik dan gaya al-Quran yang
tersatukan secara kronologis sebagai bagian-bagian

123

yang utuh dan telah terbukti sebagai petunjuk paling


memadai untuk membawa kita pada makna Qurani
terhadap fenomena-fenomena tersebut, dan bahwa
fenomena-fendmena itu secara keseluruhan bersifat
konsisten.
Manna al-Qaththan menyatakan: Di antara
kaum wanita kita masa kini yang ikut ambil bagian
dalam kesusastraan Arab dan pemikiran sosial
adalah Dr. Aisyah Abdurrahman, populer dengan
nama Bintu al-Syathi. Ia adalah pengajar pada
Fakultas Adab di Kairo dan pada Fakultas Tarbiyah
Putri. Di tengah-tengah kesibukan mengajarnya ia
sempat menulis tafsir beberapa surah pendek dan
kemudian diterbitkan dalam bentuk buku yang
diberi nama at-Tafsir al-Bayani li al-Quran. Tafsir
Bayani (sastra) merupakan usaha yang tidak
dilarang untuk merealisasikan tujuan yang ingin
dicapai oleh Bintu al-Syathi, Dalam hal ini binthu alSyathi banyak berpedoman pada kitab-kitab tafsir
yang menaruh perhatian terhadap aspek-aspek
balaghah al-Quran dan mengungkapkannya dengan
ungkapan sastra yang tinggi.