Anda di halaman 1dari 21

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
Pada manusia, indera rasa pengecap merupakan hal yang sangat berarti,
karena dengan indera rasa pengecap tersebut dapat merasakan nikmat dan
enaknya makanan serta minuman. Sensasi rasa pengecap timbul akibat adanya zat
kimia yang berikatan pada reseptor indera rasa pengecap (taste buds) yang
kebanyakan terdapat di permukaan lidah dan palatum molle. Hanya zat kimia
dalam larutan atau zat padat yang telah larut dalam saliva yang dapat berikatan
dengan sel reseptor (Sherwood, 2001)
Lidah merupakan indra pengecap yang dapat menangkap rangsangan berupa
senyawa kimia yang larut dalam air. Sel-sel pengecap tersebut dikenal dengan
sebutan papilla yang tersebar pada seluruh permukaan lidah. Kita dapat menikmati
makanan dan minuman karena adanya indera pengecap yang berfungsi dengan
baik. Bagian lidah yang depan berguna untuk merasakan rasa asin, bagian yang
sebelah samping untuk rasa asam, bagian tepi depan berfungsi untuk merasakan
rasa manis dan bagian lidah yang belakang untuk rasa pahit. Lidah digunakan
untuk mengecap rasa.
Taste buds yang dilayani oleh serat saraf sensoris adalah taste buds pada 2/3
lidah bagian anterior (papilla filiformis dan sebagian papilla fungiformis) dilayani
oleh chorda tympani cabang dari N. Facialis (N.VII) (Ganong, 1998; Boron,
2005). Masing-masing papilla pengecap dipersarafi 50 serat saraf dan setiap serat
saraf menerima masukan dari rata-rata 5 papilla pengecap. Papilla circumvalata
yang lebih besar masing-masing mengandung sampai 100 papilla pengecap,
biasanya terletak di sisi papilla, tetapi karena terbatasnya data maka disebutkan
ada sekitar 200-250 taste buds per papilla circumvalata pada setiap individu
dibawah usia 20 tahun, dan menurun hingga 200 taste buds atau kurang menjelang
maturitas, dan kurang lebih 100 taste buds menjelang usia 75 tahun. Penelitian
dengan mikroelektroda pada satu taste buds memperlihatkan bahwa setiap taste
buds biasanya hanya merespon terhadap satu dari empat rangsang kecap primer,
bila substansi pengecap berada dalam konsentrasi rendah. Pada konsentrasi tinggi,
1

sebagian besar taste buds dapat dirangsang oleh dua, tiga atau bahkan empat
rangsang pengecap primer dan juga oleh beberapa rangsang pengecap yang lain
yang tidak termasuk dalam kategori primer (Ganong, 1998).

Sensasi pengecapan terjadi karena rangsangan terhadap berbagai reseptor


pengecapan, ada sedikitnya 13 reseptor kimia yang ada pada sel-sel pengecapan,
antara lain: 2 reseptor natrium, 2 reseptor kalium, 1 reseptor klorida, 1 resptor
adenosine, 1 reseptor inosin, 1 reseptor manis, 1 reseptor pahit, 1 reseptor
glutamate, dan 1 reseptor ion hydrogen.
Kemampuan reseptor tersebut dikumpulkan menjadi 5 kategori umum : asam,
asin, manis, pahit dan umami disebut sensasi pengecapan utama.
1.

Rasa asam, terletak pada dua pertiga bagian samping lidah.


Disebabkan oleh asam karena konsentrasi ion hydrogen. Intensitas dari
sensasi rasa ini hampir sebanding dengan logaritma dari konsentrasi ion
hydrogen, makinasam suatu asam makin kuat sensasi yang terbentuk.

2.

Rasa asin, terletak di ujung lidah.


Dihasilkan oleh garam yang terionisasi, karena konsentrasi Na. Kualitas
rasanya berbeda-beda antara garam yang satu dengan yang lain karena garam
juga membentuk sensasi rasa yang lain selain rasa asin.

3.

Rasa manis, terletak di ujung lidah.

Dibentuk oleh beberapa zat kimia organic ( gula, glikol, alcohol, aldehide,
keton, amida, ester, asam amino, protein, asam sulfonat, asam halogenasi ),
dan garam anorganik dari timah dan berilium. Perubahan yang sangat kecil
pada radikal sederhana, seringkali dapat mengubah substansi manis menjadi
pahit.
4.

Rasa pahit, terletak pada bagian posterior lidah dan palatum molle.
Tidak dibentuk oleh satu zat kimia, zat pembentuk rasa manis bila terjadi
perubahan pada struktur kimianya dapat menjadi pahit. Rasa pahit juga dapat
mengindikasi bahwa makanan tersebut mengandung toxin atau beracun.

5.

Rasa Umami (bhs.Jepang), terletak di ujung lidah


artinya lezat, untuk menyatakan rasa kecap yang menyenangkan secara
kualitatif. Rasa yang diperoleh karena rangsangan pada reseptor metabotropic
glutamate receptor (mGluR4) yang sensitive terhadap monosodium glutamate
(MSG). MSG umumnya ditambahkan pada makanan untuk menguatkan rasa.

Kuncup-kuncup pengecap ini ada yang tersebar dan ada pula yang
berkelompok dalam tonjolan-tonjolan epitel yang disebut papila. Terdapat empat
macam papila lidah:
1. Papila foliate, pada pangkal lidah bagian lateral,
2. Papila fungiformis, pada bagian anterior.
3. Papila sirkumfalata, melintang pada pangkal lidah. Ada delapan hingga
dua belas buah dari jenis ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Papillae
sirkumvalata adalah jenis papillae yang terbesar, dan masing-masing

dikelilingi semacam lekukan seperti parit. Papillae ini tersusun berjejer


membentuk huruf V pada bagian belakang lidah.
4. Papila Filiformis, terdapat pada bagian posterior.
Pada foliate tidak terdapat kuncup-kuncup pengecap. Organ ujung untuk
pengecapan adalah papilla pengecap yang sangat banyak terdapat dalam dinding
papillae sirkumvalata dan fungiformis. Papilae filiformis lebih berfungsi untuk
menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang sebenarnya. Selaput lendir
langit-langit

dan

faring

juga

bermuatan

puting-puting

pengecap

(Widiastuti,2002).

Setiap kuncup pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan
sel penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang
memanjang ke lubang pengecap. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan,
mencapai kuncup pengecap melalui lubang-lubang pengecap (taste pores).
Serat-serat saraf sensorik dari papil-papil pengecap di dua pertiga anterior
lidah berjalan dengan cabang korda timpani, nervus fasialis, dan serat-serat saraf
dari sepertiga posterior lidah mencapai batang otak melalui saraf glossofaringeus.
Nukleus traktus solitarius untuk dapat menyatu ke dalam medula oblongata harus
bergabung dengan kedua sarafnya. Disana mereka bersinap dengan neuron-neuron
ordo kedua yang aksonnya melintasi garis tengah dan bertemu dengan lemnikus
medialis, berakhir di nukleus-nukleus pemancar sensorik spesifik pada talamus
bersama serat untuk sensasi sentuh nyeri dan suhu. Impuls dipancarkan dari sini
4

ke daerah proyeksi pengecapan di korteks serebrum di kaki girus pasca sentralis.


Pengecapan tidak memiliki daerah proyeksi yang terpisah tetapi digambrkan
dibagian girus pasca sentralis yang melayani sensasi kulit dan wajah.
Impuls pengecapan melintasi saraf otak ketujuh, kesembilan dan kesepuluh
menuju otak, tempat merek berakhir di dalam traktus solitarius. Isyarat mula-mula
ke talamus dan kemudian ke area operkulum-insulaparietal korteks serebri. Area
ini terletak pada pinggir lateral girus postsentralis dalam fisura sylvii yang erat
berhubungan dengan atau bertindihan dengan daerah lidah area somatik
Terdapat banyak variasi dalam distribusi keempat papik pengecap dasar pada
berbagai spesies dan dalam suatu spesies tertentu antara individu. Pengecapan
memperlihatkan after-reaction dan fenomena kontras yang serupa dalam beberapa
dalam beberapa hal dalam after-image dan kontras penglihatan. Sebagian adalah
tipuan kimia, tetapi sebagian lain mungkin benar-benar merupakan fenomena
sentral.

BAB II
HASIL PERCOBAAN
2.1

Data Pengamatan

2.1.1 Pengenalan Bentuk Berbagai Benda di Rongga Mulut dan Area


Wajah
Persepsi
Bentuk spesimen

Ukuran (mm)

Orang

Perseps

coba

Asli

Waktu

Kotak

Kotak

5 mm

11 mm

10 detik

Segitiga

Segitiga

5 mm

10 mm

7 detik

Bulat

Bulat

15 mm

15 mm

8 detik

Lonjong

Lonjong

6mm

7 mm

6 detik

2.1.2 Two Point Dicrimination di Rongga Mulut dan Area Wajah


Lokasi
Anterior Lidah
Samping ka - ki Lidah
Posterior Lidah
Palatum
Mukosa pipi
Gusi
Dahi
Hidung
Cuping Telinga
Bibir atas
Bibir bawah
Leher
Pipi Kiri-Kanan
Dagu

Jarak 1 mm
2 titik
1 titik
1 titik
1 titik
1 titik
2 titik
1 titik
2 titik
2 titik
1 titik
1 titik
1 titik
1 titik
1 titik

Jarak 2 mm
2 titik
1 titik
2 titik
1 titik
2 titik
2 titik
1 titik
2 titik
2 titik
2 titik
1 titik
1 titik
1 titik
1 titik

Jarak 3 mm
2 titik
1 titik
2 titik
1 titik
1 titik
2 titik
2 titik
2 titik
2 titik
2 titik
1 titik
1 titik
2 titik
1 titik

2.1.3 Pengenalan Suhu di Rongga Mulut dan Area Wajah


Lokasi

Air es

80o C
6

Anterior lidah

Samping ki ka lidah

++

Posterior lidah

Palatum

++

++

Mukosa pipi

+++

Gusi

Dahi

++

Hidung

Cuping telinga

++

++

Bibir atas

Bibir bawah

++

+++

+++

Leher
Pipi kiri dan kanan
Dagu

Keterangan : (-) tidak terasa apa pun


(+) sedikit terasa
(++) terasa
(+++) sangat terasa
2.2.4 Persepsi Rasa pada Beberapa Bagian Lidah
Lokas

Garam

Air Gula

Cuka

Kina

Umami

2.2.5 Rasa Nyeri pada Jaringan Rongga Mulut dan Area Wajah
a.

Rangsangan Tekanan
Lokasi

Tingkat Kedalaman

Area Paling Sensitif

5 mm

6 mm

6 mm

8 mm

5 mm

5 mm

8 mm

5 mm

b. Rangsangan Panas
Lokasi

70o

80o

90o

Waktu-nyeri

4 detik

4 detik

3 detik

5 detik & 3
detik

4 detik

c.

Rangsangan Dingin

Lokasi

0o

5o

10o

Waktu-nyeri

1m 19s; 1m
09s; 1m 40s

96s

87s

Urutan tingkat sensitivitas :


1, 4, 6, 5, 7, 8, 2, 3
2.1.6 Pemeriksaan Vitalitas Gigi
a. Test Vitalitas Gigi dengan Suhu Dingin
Lokasi

Respon

Labial 1/3 incisa incisiv

Dingin, terasa ngilu

Mesio bukal cusp molar

Dingin, tetapi tidak ngilu

b. Test Vitalitas Gigi dengan Suhu Panas


Lokasi

Air Panas

Suhu Kamar

Guttap

Burnisher

Labial 1/3
incisa insisiv

Panas, ngilu

Tidak ngilu

Panas, ngilu

Tidak
ngilu

Mesio bukal
cusp molar

Tidak ngilu

Tidak ngilu

Tidak ngilu

Tidak
ngilu

c. Test Vitalitas Gigi dengan Tekan


Lokasi

Respon

Labial 1/3 incisa incisiv

Terasa sangat ngilu

Mesio bukal cusp molar

Terasa ngilu

d. Test Perkusi Gigi dan Palpasi


Lokasi

Respon

Labial 1/3 incisa incisiv

Terasa sangat ngilu

Mesio bukal cusp molar

Tidak terasa ngilu

2.2

Pertanyaan dan Jawaban


1. Bagian mulut dan wajah yang mana yang lebih sensitive terhadap
pengenalan bentuk benda ?
Bagian lidah bagian anterior merupakan bagian paling sensitif terhadap
pengenalan bentuk benda karena disana terdapat lebih banyak serabut
saraf sensoris dan taste bud. Sedangkan bagian wajah yang sensitive
terhadap pengenalan bentuk benda yaitu bibir atas, hidung, pipi kanan,
dan pipi kiri.
2. Bagian mulut dan wajah yang mana yang lebih sensitiv mengenali jarak
antara dua titik ? Jelaskan mengapa ?
10

Berdasarkan hasil percobaan daerah mulut yang sensitive mengenali


jarak antara dua titik adalah anterior lidah, posterior lidah dan gusi.
Sedangkan untuk daerah wajah adalah hidung, cuping telinga dan bibir
atas. Hal tersebut mungkin dikarenakan lapisan terluar dari bagian
tersebut tipis dan dekat dengan daerah persyarafan sehingga tingkat
kesensitivannya lebih tinggi dibanding daerah lain terhadap adanya
sentuhan. Terutama pada lidah yang terdapat banyak papilla dan juga
posterior lidah yang merupakan trigger zone
3. Bagian lidah mana yang lebih sensitive terhadap suhu ? jelaskan
mengapa ?
Bagian samping kanan dan kiri lidah merupakan bagian yang paling
sensitive terhadap suhu panas dan dingin menurut percobaan yang telah
dilakukan. Hal itu mungkin dikarenakan adanya papilla-papilla lidah
yang lebih banyak pada daerah samping lidah.
4. Bagian lidah mana yang lebih sensitive terhadap nyeri? Jelaskan
mengapa ?
Berdasarkan hasil percobaan, dengan rangsang tekanan daerah yang
paling sensitive adalah ujung lidah, untuk rangsang panas yang paling
sensitive adalah dorsum lidah bagian depan, sedangkan untuk rangsang
dingin yang paling sensitive adalah posterior lidah. Hal tersebut
mungkin dikarenakan ujung lidah memiliki lapisan yang tipis sehingga
lebih peka terhadap tekanan, selain itu adanya papilla lidah pada bagian
dorsum serta posterior lidah juga menyebabkan daerah tersebut peka
terhadap rangsang
5. Apakah percobaan anda sesuai dengan teori yang anda peroleh?
Ya, sudah cukup sesuai dengan teori yang ada
6. Bagian lidah mana yang lebih sensitive terhadap rasa manis, asin, pahit,
asam, dan umami?
Berdasarkan hasil percobaan, ujung lidah adalah bagian yang paling
sensitive terhadap rasa manis. Sedangkan bagian samping lidah
posterior paling sensitive terhadap rasa asin. Untuk rasa pahit terletak

11

pada posterior lidah dan untuk rasa asam terletak pada bagian samping
lidah anterior. Sedangkan rasa umami terletak pada ujung lidah.
7. Mengapa perlu dilakukan test vitalitas gigi?
Untuk mengetahui seberapa kuat gigi kita terhadap rangsangan baik
rangsangan suhu dan tekanan. Dan juga untuk mengetahui kondisi gigi
dalam keadaan baik ataupun tidak baik
8. Untuk apa test perkusi dan palpasi dilakukan?
Test perkusi dan palpasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi
gigi dalam keadaan baik ataupun tidak baik. Test perkusi berfungsi
untuk mengetahui ada atau tidaknya periodontitis dan inflamasi
periapikal pada gigi, biasanya pasien akan merasakan sakit dan ada atau
tidaknya sensasi ngilu pada saat dilakukan test perkusi. Bila positif
sakit, maka memang adanya kelainan pada jaringan di sekitarnya.
Sementara itu, test palpasi berfungsi untuk mengecek ada atau tidaknya
oedema / pembengkakan, fluktuasi / pergerakan jaringan, ada atau
tidaknya kelainan periapikal, dan juga limfa denopati.

12

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Pengenalan Bentuk Berbagai Benda di Rongga Mulut dan Area


Wajah
Pada percobaan ini, orang coba diminta untuk mengenali bentuk dan
ukuran benda yang ada di atas lidahnya dengan cara orang coba tidak
diperbolehkan melihat atau diperintahkan untuk menutup mata. Percobaan
ini dilakukan dengan 4 buah permen dengan bentuk yang berbeda.
Hasil yang di dapatkan adalah orang coba mampu mengenali bentuk ke
empat permen yang diletakkan di atas lidahnya tersebut dengan rata-rata
waktu 7,5 detik.Tetapi orang coba kurang mampu mengenali ukuran dari
permen tersebut, dapat dilihat orang coba hanya benar sekali dalam
mengenali ukuran permen yang ada di atas lidahnya. Sehingga dapat
dikatakan bahwa lidah orang coba cukup sensitive untuk mengenali bentuk
benda.

13

3.2

Two Point Discrimination di Rongga Mulut dan Area Wajah


Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kesensitifan bagian rongga
mulut dan wajah terhadap reflex sentuhan, dilakukan pemeriksaan two
point discrimination

di

rongga mulut

dan area

wajah. Pemeriksaan

dilakukan pada lidah bagian ujung depan, samping kiri dan kanan, dorsal
dan posterior, palatum, mukosa pipi, gusi, bibir atas, dahi, hidung, cuping
telinga, dan pipi. Percobaan ini dengan meletakkan jangka pada bagianbagian tersebut dengan jarak 1 mm, 2 mm dan terakhir 3 mm.
Pada anterior lidah, orang coba dapat mengenali jangka sebagai 2 titik
dari jarak 1 mm hingga 3 mm. Begitu pula pada daerah gusi, hidung dan
cuping telinga. Pada daerah samping kiri-kanan lidah, dahi serta pipi kirikanan hanya dapat mengenali sebagai 2 titik pada jarak 3 mm. Untuk
daerah posterior lidah, dan bibir atas sudah dapat dikenali sebagai 2 titik
pada jarak 2 mm. Palatum hanya dapat mengenali sebagai 2 titik pada
jarak 2 mm, untuk jarak 1 mm dan 3 mm orang coba tidak dapat
mengenalinya sebagai kedua titik. Sedangkan untuk palatum, bibir bawah,
leher dan dagu, hingga pada jarak 3 mm pun tidak dapat dikenali sebagai
2 titik. Hal tersebut menunjukkan daerah-daerah tersebut tidak peka.
Daerah yang peka menurut percobaan ini adalah anterior lidah dan gusi.
3.3

Pengenalan Suhu di Rongga Mulut dan Area Wajah


Pada percobaan ini, orang coba diminta untuk mengenali rangsangan
suhu yang akan diberikan di daerah ujung depan, samping kiri dan kanan,
posterior, palatum, mukosa pipi, gusi, bibir atas, bibir bawah, leher, dahi,
hidung, cuping telinga, pipi dan dagu.
Pada daerah anterior lidah, samping kanan dan kiri lidah, palatum,
hidung, cuping telinga, bibir atas, pipi kiri dan kanan, orang coba dapat
mengenali suhu panas dan dingin. Pada daerah posterior lidah, gusi, dahi,
mukosa pipi, bibir bawah dan dagu hanya dapat dikenali suhu dingin saja.
Sedangkan leher tidak dikenali suhu dingin maupun panas. Hal ini
mungkin dikarenakan orang coba yang kurang peka terhadap suhu atau

14

perendaman yang kurang lama sehingga kurang berpengaruh. Daerah yang


paling sensitive adalah mukosa pipi dan pipi kiri-kanan.
3.4.

Persepsi Rasa pada Beberapa Bagian Lidah


Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui persepsi rasa pada beberapa
bagian lidah dengan menggunakan sampel yaitu, air gula untuk merasakan
rasa manis, cuka untuk merasakan rasa asam, kina untuk merasakan rasa
pahit, umami untuk merasakan rasa gurih, serta air garam untuk rasa asin
yang diteteskan pada 8 bagian lidah.
Berdasarkan hasil percobaan, rasa asin dapat dirasakan di hampir semua
bagian lidah kecuali no 4 yaitu daerah posterior lidah. Dengan rasa asin
paling kuat pada ujung lidah (no 1). Untuk rasa manis dapat dirasakan
pada lidah bagian 1-3, dengan rangsang paling kuat pada bagian ujung
lidah. Pada percobaan dengan cuka, dapat dirasakan rasa asam pada
seluruh bagian lidah. Hal itu dikarenakan intensitas sensasi rasanya
sebanding dengan logaritma dari konsentrasi ion hidrogen yaitu mkain
asam makin kuat sensasi yang terbentuk. Untuk pemberian kina pada
lidah, dirasakan rasa pahit hanya pada lidah bagian posterior (no 4) saja.
Sedangkan untuk umami hanya dirasakan pada bagian lidah no 1, 5 dan 6.
Rasa asin dibentuk oleh garam-garam yang terionisasi. Kualitas rasanya
berbeda beda antara garam yang satu dengan yang lain. Karena garamgaram juga membentuk sensasi rasa yang lain. Kaitan dari garam terutama
berperan membentuk rasa asin tetapi anionnya juga ikut berperan
walaupun lebih kecil.
Rasa manis tidak di bentuk oleh satu golongan kelas substansi kimia
saja. Beberapa tipe substansi kimia yang menyebabkan rasa manis
mencakup gula, glikol, alkohol, aldehid, keton, amida, ester, asam amino,
beberapa protein kecil, asam sulforat, asam halogenasi, dan garam
anorganik dari timah. Rasa pahit seperti rasa manis, tidak hanya dibentuk
oleh satusubstansi kimia, tapi juga beberapa substansi yang hampir

15

seluruhnya adalah substansi organik mencakup bitrigen, alkoloid, juibib,


kafein, strinki, dan nikotin.
Hal ini menunjukkan bahwa berbagai macam rasa dapat dideteksi oleh
lidah, dengan daerah rasa yang berbeda-beda. Disebabkan karena pada
lidah terdapat reseptor rasa. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari
berbagai bahan-bahan yang masuk ke dalam rongga mulut dan terkena
oleh lidah itu sendiri.
3.5

Rasa Nyeri pada Jaringan Rongga Mulut dan Area Wajah


a.

Rangsangan Tekanan
Tujuan percobaan ini adalah menguji area yang sensitif terhadap
rangsangan tekanan yang dilakukan pada daerah lidah yang dibagi
menjadi 8 daerah, dimana penekanan yang dilakukan dengan
menggunakan sonde besar.
Berdasarkan hasil praktikum yang didapatkan, orang coba
merasakan area yang lebih sensitif terhadap tekanan adalah pada
bagian ke-1 di lidah (ujung lidah). Mungkin dikarenakan ujung lidah
lebih tipis sehingga lebih peka terhadap tekanan.

b. Rangsangan Panas
Percobaan dilakukan dengan mengamati lama waktu timbulnya
nyeri pada 8 bagian lidah. Untuk merangsang timbulnya respon nyeri
dilakuan dengan rangsangan termis yaitu dengan menguunakan
rangsangan panas. Rangsangan panas tersebut didapatkan dengan cara
merendam sonde besar pada air yang telah dipanaskan dengan suhu
o

70

, 80

, dan 90

Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan perbedaan sensitivitas


pada masing-masing bagian. Tetapi banyak bagian lidah orang coba
yang kurang peka terhadap suhu sehingga orang coba tidak merasakan
apapun pada daerah lidah no 2, 3, dan 7. Ujung lidah orang coba

16

hanya merasakan rangsang ketika menggunakan suhu

70o . Untuk

daerah dorsum lidah bagian anterior dan posterior juga hanya dapat
80o ,. Kemungkinan terjadi

mengenali rangsang pada suhu

kesalahan pada percobaan ini yang dikarenakan kurang lamanya


perendaman sonde pada air panas atau hal-hal teknis lainnya. Menurut
percobaan ini, yang paling peka adalah bagian dorsum lidah. Mungkin
dikarenakan banyak nya papilla pada bagian ini sehingga lebih peka.
Selain

mengamati

daerah

yang

paling

sensitif

terhadap

rangsangan, didapatkan pula hasil bahwa semakin tinggi suhu dari


rangsangan, maka respon nyeri akan semakin cepat timbul. Hal ini
disebabkan karena suhu tinggi dapat mempercepat kerja syaraf untuk
menyampaikan rangsangan menuju sistem saraf pusat.
c.

Rangsangan Dingin
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan respon
beberapa jaringan rongga mulut terhadap rangsangan dingin, yaitu
dilakukan dengan mengamati lama waktu timbulnya nyeri pada 8
daerah lidah. Rangsangan dingin didapatkan dengan merendam sonde
besar pada air dengan suhu 0o, 5o, 10o.
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan daerah paling sensitive
terhadap suhu dingin adalah bagian lidah no 4 (posterior lidah).
Dengan bagian lidah yang lain tidak dirasakan adanya rangsang
dingin. Hal ini menunjukkan kurang pekanya lidah orang coba.

3.6

Pemeriksaan Vitalitas Gigi


a.

Test Vitalitas Gigi dengan Suhu Dingin


Pemeriksaan / tes vitalitas gigi merupakan sebuah pengujian
untuk mengetahui kondisi gigi dan jaringan di sekitar gigi. Percobaan
ini dilakukan pada labial 1/3 incisa insisiv dan mesio bukal cusp
molar. Percobaan pertama dilakukan tes vitalitas gigi dengan dengan

17

stimulus dingin. Stimulus dingin dilakukan dengan membasahi cotton


palate dengan chlor ethyl.
Berdasarkan hasil percobaan, bagian permukaan labial sepertiga
inisisal memberi respon ngilu yang disertai rasa dingin pada orang
coba. Sedangakan pada bagian permukaan dari mesio bukal cusp tidak
memberi respon ngilu namun tetap diikuti rasa dingin. Hal tersebut
dapat terjadi karena ketebalan pemukaan kedua bagian gigi tersebut
tidak sama. Pada bagian sepertiga insisal lebih tipis permukaannya
sehingga dimungkinkan terjadi penghantaran respon dingin oleh saraf
yang terhubung oleh tubulus dentin sehingga menimbulkan persepsi
ngilu pada bagian tersebut. Selain itu, rasa ngilu tersebut juga bisa
diakibatkan oleh terbukanya lapisan dentin. Ketika lapisan dentin
terbuka, rangsang termal akan mudah terdeteksi, sehingga akan
membuat gigi terasa linu ketika makan/ minum dengan suhu yang
dingin.
b. Test Vitalitas Gigi dengan Suhu Panas
Percobaan ini menggunakan air panas, air suhu kamar, serta guttap
percha dan burnisher yang dipanaskan.
Dari hasil percobaan yang didapat, diketahui bahwa gigi insisivus
lebih sensitive terhadap rangsangan suhu panas daripada gigi molar,
hal ini dibuktikan dengan gigi insisivus yang ngilu ketika di tes
dengan air panas dan guttap percha yang dipanaskan. Hal ini
disebabkan lapisan enamel dari gigi insisive lebih tipis daripada
lapisan enamel dari gigi molar, sehingga rangsangan lebih mudah
masuk ke tubuli dentin, dan kemudian dilanjutkan ke pulpa, yang
merupakan tempat persarafan gigi berada.
c.

Test Vitalitas Gigi dengan Tekan


Pada percobaan kali ini, dilakukan dengan menekankan handle
kaca mulut ke gigi yang akan di tes. Di dapatkan hasil pada gigi
insisive pertama setelah ditekan dengan kaca mulut gigi orang coba
terasa sangat ngilu, sedangkan pada gigi molar bawah kanan, saat

18

ditekan dengan kaca mulut, gigi orang coba tidak terasa ngilu. Respon
positif ini kemungkinan bisa terjadi karena tekanan yang diberikan
terlalu kuat sehingga menekan pembuluh darah disekitar gigi atau bisa
juga karena ada kerusakan jaringan pendukung gigi di sekitar gigi.
Respon positif menunjukkan jaringan pendukung gigi masih sehat.
d. Test Perkusi Gigi dan Palpasi
Pada percobaan ini ketika mengetukkan handle kaca mulut pada
gigi yang di tes dengan arah vertikal dan palpasi /perabaan pada
gingival gigi iyang di tes. Didapatkan hasil untuk gigi insisivus
pertama terasa ngilu, sedangkan untuk gigi molar pertama tidak terasa
ngilu tetapi dirasakan adanya rangsang. Ini dikarenakan lapisan
enamel pada gigi insisiv lebih tipis daripada lapisan enamel pada gigi
molar pertama, sehingga rangsangan lebih mudah diteruskan melewati
tubuli dentin menuju ke pulpa yang berisi saraf.
.

BAB IV
KESIMPULAN
Lidah sebagai indera pengecapan memiliki reseptor-reseptor / taste bud
yang berfungsi memberikan sensasi rasa yang berbeda-beda di setiap bagiannya.
Reseptor rasamanis terletak pada ujung lidah, reseptor rasa asin terletak pada tepi
depan bagian lidah, reseptor rasa asam terletak ditepi belakang lidah, reseptor rasa
pahit terletak di pangkal / dorsal lidah dan reseptor rasa umami terletak pada
ujung lidah. Ujung lidah merupakan daerah yang sensitive karena merupakan

19

bagian lidah yang paling tipis, selain itu dorsum lidah juga sensitive karena
memiliki banyak papilla sehingga lebih peka.

DAFTAR PUSTAKA
Boron, WF. 2005. Medical physiology. A cellular and molecular approach.
Philadelphia : Elsevier Saunders;
Ganong, W. F. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit EGC
Kimball.W.J.1991. Biologi Umum 2. Jakarta: Erlangga
Lestari, Wahyu Fitri. Fisiologi Indera Pengecap. Scribd.com. Diakses tanggal 19
April 2015
Pearce, evelyn. 2005. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia
Press
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Ed. ke-2. Jakarta: Penerbit EGC
Widiastuti, Sri. 2002. Indera Pengecap. http://sriwidii.blogspot.com. Diakses

20

tanggal 19 April 2012

21