Anda di halaman 1dari 3

Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi terkait Masalah Konsep Diri

Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi terkait Masalah Konsep Diri


Oleh: Fallah Adi Wijayanti, NPM.0806457035
Mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
I. Pendahuluan
Konsep diri merupakan citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari
perasaan, sikap, dan presepsi bawah sadar maupun sadar. Beberapa orang mungkin
mengalami masalah pada konsep dirinya. Masalah konsep diri harus bisa dikaji dengan baik.
Faktor predisposisi dan faktor presipitasi merupakan bagian dari pengkajian dalam proses
keperawatan pada individu yang mengalami masalah konsep diri. Oleh karena itu, pada
laporan tugas mandiri ini akan dibahas tentang faktor predisposisi dan faktor presipitasi
terkait dengan masalah konsep diri. Laporan tugas mandiri ini dibuat dengan telaah studi
pustaka dan mengunduh dari internet.
II. Pembahasan
Proses asuhan keperawatan dalam pengkajian pada masalah konsep diri dapat dilihat
dari faktor predisposisi dan faktor presipitasi.
A. Faktor Predisposisi
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri.
Harga diri adalah sifat yang diwariskan secara genetik. Pengaruh lingkungan sangat
penting dalam pengembangan harga diri. Faktor-faktor predisposisi dari pengalaman masa
anak-anak merupakan faktor kontribusi pada gangguan atau masalah konsep diri. Anak sangat
peka terhadap perlakuan dan respon orang tua. Penolakan orang tua menyebabkan anak
memilki ketidakpastian tentang dirinya dan hubungan dengan manusia lain. Anak merasa
tidak dicintai dan menjadi gagal mencintai dirinya dan orang lain.
Saat ia tumbuh lebih dewasa, anak tidak didorong untuk menjadi mandiri, berpikir
untuk dirinya sendiri, dan bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri. Kontrol berlebihan dan
rasa memiliki yang berlebihan yang dilakukan oleh orang tua dapat menciptakan rasa tidak
penting dan kurangnya harga diri pada anak. Orangtua membuat anak-anak menjadi tidak
masuk akal, mengkritik keras, dan hukuman.
Tindakan orang tua yang berlebihan tersebut dapat menyebabkan frustasi awal, kalah,
dan rasa yang merusak dari ketidak mampuan dan rendah diri. Faktor lain dalam menciptakan
perasaan seperti itu mungkin putus asa, rendah diri, atau peniruan yang sangat jelas terlihat
dari saudara atau orangtua. Kegagalan dapat menghancurkan harga diri, dalam hal ini dia
gagal dalam dirinya sendiri, tidak menghasilkan rasa tidak berdaya, kegagalan yang
mendalam sebagai bukti pribadi yang tidak kompeten.

Ideal diri tidak realistik merupakan salah satu penyebab rendahnya harga diri.Individu
yang tidak mengerti maksud dan tujuan dalam hidup gagal untuk menerima tanggung jawab
diri sendiri dan gagal untuk mengembangkan potensi yang dimilki. Dia menolak dirinya
bebas berekspresi, termasuk kebenaran untuk kesalahan dan kegagalan, menjadi tidak
sabaran, keras, dan menuntut diri. Dia mengatur standar yang tidak dapat ditemukan.
Kesadaran dan pengamatan diri berpaling kepada penghinaan diri dan kekalahan diri. Hasil
ini lebih lanjut dalam hilangnya kepercayaan diri.
2. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran
Peran yang sesuai dengan jenis kelamin sejak dulu sudah diterima oleh masyarakat,
misalnya wanita dianggap kurang mampu, kurang mandiri , kurang objektif, dan kurang
rasional dibandingkan pria. Pria dianggap kurang sensitive, kurang hangat, kurang ekpresif
dibanding wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita atau pria berperan tidak seperti
lazimnya maka akan menimbulkan konflik didalam diri mapun hubungan sosial. Misalnya
wanita yang secara tradisional harus tinggal dirumah saja, jika ia mulai keluar rumah untuk
mulai sekolah atau bekerja akan menimbulkan masalah. Konflik peran dan peran yang tidak
sesuai muncul dari faktor biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita atau pria.
3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri
Intervensi orangtua terus-menerus dapat mengganggu pilihan remaja. Orang tua yang
selalu curiga pada anak menyebakan kurang percaya diri pada anak. Anak akan ragu apakah
yang dia pilih tepat, jika tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka timbul rasa bersalah.
Ini juga dapat merendahkan pendapat anak dan mengarah pada keraguan, impulsif, dan
bertindak keluar dalam upaya untuk mencapai beberapa identitas. Teman sebayanya
merupkan faktor lain yang mempengaruhi identitas. Remaja ingin diterima, dibutuhkan,
diingikan, dan dimilki oleh kelompoknya.
B. Faktor Presipitasi
1. Trauma
Masalah khusus tentang konsep diri disebabakan oleh setiap situasi dimana individu
tidak mampu menyesuaikan. Situasi dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya.
Situasi dan stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri dan hilangnya bagian badan,
tindakan operasi, proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh, proses
tumbuh kembang, dan prosedur tindakan dan pengobatan.
2. Ketegangan peran
Ketegangan peran adalah stres yang berhubungan dengan frustasi yang dialami
individu dalam peran.
a. Transisi perkembangan
Transisi perkembangan adalah perubahan normatif berhubungan dengan pertumbuhan.
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap tahap

perkembangan harus dilakukan inidividu dengan menyelesaikan tugas perkembangan yang


berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stressor bagi konsep diri.
b. Transisi situasi
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan. Transisi situasi merupakan
bertambah atau berkurangnya orang yang penting dalam kehidupan individu melalui
kelahiran atau kematian orang yang berarti, misalnya status sendiri menjadi berdua atau
menjadi orang tua.
c. Transisi sehat sakit
Transisi sehat sakit berkembang berubah dari tahap sehat ke tahap sakit. Beberapa
stressor pada tubuh dapat menyebabakan gangguan gambaran diri dan berakibat perubahan
konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri yaitu
gambaran diri, peran ,dan harga diri. Masalah konsep diri dapat dicetuskan oleh faktor
psikologis, sossiologis, atau fisiologis, namun yang lebih penting adalah persepsi klien
terhadap ancaman.
perilaku.
III. Penutup
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan, faktor predisposisi dan faktor presipitasi
sangat mempengaruhi konsep diri yang dimiliki individu. Faktor predisposisi dan faktor
presipitasi merupakan bagian dari pengkajian pada individu yang mengalami masalah konsep
diri. Faktor predisposisi terdiri dari faktor yang mempengaruhi harga diri, penampilan peran,
dan identitas diri. Faktor presipitasi berupa trauma dan ketegangan peran pada transisi
perkembangan dan sehat sakit. Oleh karena itu, dalam menyusun rencana asuhan
keperawatan terkait dengan masalah konsep diri perlu memperhatikan faktor predisposisi dan
faktor presipitasi pada individu.

IV. Daftar pustaka


Green, Lawrance. Predisposing factors. http://www.enotes.com/public-healthencyclopedia/predisposing-factors diunduh pada 05 Februari 2010
Potter, P.A. and Perry, A.G. (2005). Fundamental of nursing : concepts, process, and
practice. Sixth Edition. St. Louis : Mosby.
Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing. Eight
edition. St. Louis: Mosby Year Book