Anda di halaman 1dari 2

Komplikasi Preeklampsia

Preeklampsia dapat menyebabkan kelahiran awal atau komplikasi pada neonatus berupa
prematuritas. Resiko fetus diakibatkan oleh insufisiensi plasenta baik akut maupun kronis.
Pada kasus berat dapat ditemui fetal distress baik pada saat kelahiran maupun sesudah
kelahiran (Pernoll, 1987). Komplikasi yang sering terjadi pada preklampsia berat adalah
(Wiknjosastro, 2006) :
1. Solusio plasenta.
Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu hamil yang menderita hipertensi akut. Di
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo 15,5 % solusio plasenta terjadi pada pasien
preeklampsia.
2. Hipofibrinogenemia.
Pada preeklampsia berat, Zuspan (1978) menemukan 23% hipofibrinogenemia.
3. Hemolisis.
Penderita dengan preeklampsia berat kadang-kadang menunjukan gejala klinik
hemolisis yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini
merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal
hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan
mekanisme ikterus tersebut.
4. Perdarahan otak.
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal.
5. Kelainan mata.
Kehilangan penglihatan untuk sementara yang berlangsung selama seminggu dapat
terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat
dan akan terjadi apopleksia serebri.
6. Nekrosis hati.
Nekrosis periportal hati pada pasien preeklampsia-eklampsia diakibatkan
vasospasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan
pemeriksaan faal hati.
7. Sindroma HELLP, yaitu hemolysis, elevated liver enzymes dan low platelet.
8. Kelainan ginjal.
Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus berupa pembengkakan sitoplasma sel
endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat
timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
9. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intrauterin.
10. Komplikasi lain berupa lidah tergigit, trauma dan fraktur karena terjatuh akibat
kejang, pneumonia aspirasi dan DIC.

Bila preeklamsia tidak ditangani dengan baik, maka dapat berkembang menjadi eklampsia
yang mana tidak hanya dapat membahayakan ibunya tetapi juga janin dalam rahim ibu
(Utomo, 1997). Kemungkinan yang terberat adalah terjadinya kematian ibu dan janin, solusio
placentae, hipofibrinogemia, haemolisis, perdarahan otak, kelainan mata, edema paru,
nekrosis hati, sindroma HELLP, dan kelainan hati (Wiknjosastro, 1999). Sedangkan
Cunningham (2006) menemukan adanya edema serebri sebagai komplikasi terjadinya
eklampsia.
Preeclampsia juga dihubungkan dengan tingginya kelahiran premature, small for gestational
age (SGA), dan kematian perinatal (Agudelo, 2000). North 1999, menemukan bahwa bayi
premature dan SGA sering terjadi pada ibu yang persalinannya normal.
Penelitian lain menyebutkan bahwa berat lahir bayi pada ibu preeclampsia rata-rata lebih
kecil dibanding bayi yang lahir dari ibu yang tidak preeclampsia. Selain itu, penelitian ini
juga menemukan bahwa rata-rata usia kehamilan ibu yang preeclampsia adalah 37-39
minggu, dan pada ibu yang bukan preeclampsia rata-rata 39 minggu (Perry & Beevers, 1994).
Ben-zion Taber (1994) mneyebutkan bahwa komplikasi-komplikasi potensial maternal
meliputi eklampsia, solusio plasenta, gagal ginjal, nekrosis hepar, rupture hepar, DIC, anemia
hemolitik mikroangiopatik, perdarahan otak, edema paru dan pelepasan retina. Sedangkan
komplikasi-komplikasi pada janin meliputi prematuritas, insufisiensi utero-plasental,
retardasi pertumbuhan intrauterine, dan kematian janin intrauterine.