Anda di halaman 1dari 12

ASAS DAN KODE ETIK

BIMBINGAN KONSELING
A. Asas Asas Bimbingan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan professional sesuai dengan
makna uraian tentang pemahaman, pelanggaran, dan penyikapan (yang meliputi unsur-unsur
kognisi, afeksi dan perlakuan) konselor terhadap kasus pekerjaan professional itu harus
dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektivitas proses
dan lain-lainya. Kaidah-kaidah tersebut didasarkan atas tuntutan keilmuan layanan di satu
segi (antara lain bahwa layanan harus didasarkan atas data dan perkembangan klien),dan
tuntutan optimalisasi proses penyelenggaraan layanan di segi lain (yaitu suasana konseling
ditandai oleh adanya kehangatan,pemahaman,penerimaaan,kebebasan dan keterbukaan,serta
sebagai sumber daya yang perlu diaktifkan). Asas bimbingan dan konseling yaituketentuanketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraann layanan itu. Apabila asas-asas itu
diselenggarakan dan diikuti dengan baik,maka dapat diharapkan proses pelayanan mengarah
pada pencapaian tujuan yang diharapkan;sebaliknya,apabila asas itu diabaikan atau
dilanggar maka sangat dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan
tujuan bimbingan dan konseling,bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat
dalam pelayanan,serta profesi bimbingan dan konseling itu sendiri.
Dalam menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya
selalu mengacu pada asas-asas bimbingan dan konseling. Asas-asas ini dapat diterapkan
yakni asas kerahasiaan, asas kesukarelaan, asas keterbukaan, asas kekinan,asas kemandirian,
asas kegiatanasas kedinamisan, asas keterpaduan, asas kenormatifan, asas keahlian, asas alih
tangan, dan asas tutwuri handayani
Untuk mendapatkan wawasan dan pemahaman yang memadai mengenai asas-asas
bimbingan dan konseling diatas dijelaskan sebagai berikut :
1. Asas kerahasiaan
Pelayanan bimbingan dan konseling ada kalanya berhubungan dengan klien yang
mengalami masalah. Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan bimbingan
konseling kadang-kadang klient harus menyampaikan hal-hal yuang sangat pribadi/
rahasia, kepada konselor, oleh karena itu konselor harus menjaga kerahasiaan data yang

diperolehnya dari klientnya. Bagi klien yang bermasalah dan ingin menyelesaikan
masalahnya akan sangat membutuhkan bantuan dari orang yang dapat menyimpan
kerahasian masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu segala sesuatu yang dibicarakan
klien kepada konselor tidak boleh disebarluaskan kepad pihak lain.Jika asas ini benarbenar dilaksanakan oleh konselor, maka konselor akan mendapat kepercayaan

dari

semua pihak dan mereka akan memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan
sebaik-baiknya. Sebaliknya ,jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan ini
dengan baik,maka hilanglah kepercayaan klien terhadap konselor,sehingga akibatnya
pelayanan bimbingan tidak dapat tempat atau diterima di hati klien dan para calon klien.
Selain itu klien akan takut meminta bantuan pada konselor sebab khwatir masalah dan
diri mereka akan menjadi bahan pembicaraan orang. Sementara itu ada kemungkinana
klien akan menyebarluaskan pengalaman yang yang tidak menyenangkan ini kepada
klien lain. Hal yang demikian dapat berdampak terhadap pelaksanaan bimbingan dan
konseling selanjutnya,dan konselor tidak dapat dipercaya oleh klien. Dari penjelasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa asas kerahasiaan merupakan asas kunci dalam usaha
bimbingan dan konseling,dan harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh tanggung
jawab.
2. Asas kesukarelaan
Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan,baik
dari pihak konselor maupun klien.Dengan ini keberhasilan pelayanan bimbingan dan
konseling akan tercapai.kesukarelaan itu ada pada konselor maupun pada klien. Artinya
klien secara sukarela tanpa cara terpaksa mau menyampaikan masalah yang ditanganinya
dengan mengungkapkan secara terbuka hal-hal yang dialaminya,serta mengungkapkan
segenap fakta,data dan seluk beluk yang berkenaan dengan masalah yang dialaminya.
Sementara konselor hendaknya dapat memberikan bantuan dnegan tidak terpaksa,atau
dengan kata lain konselor memberikan bantuan dnegan ikhlas.
3. Asas keterbukaan
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana
keterbukaan,baik dari pihak konselor maupun klien. Keterbukaan ini bukan hanya
sekadar bersedia menerima saran-saran dari luar, malahan lebih dari itu,diharapkan
masing pihak yang bersangkutan bersedia buka diri untuk kepentingan masalah.individu

yang membutuhkan bimbngan diharapakan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus
terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelahan serta
pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan klien dapat dilaksanakan
Keterusterangan si klien akan terjadi jika klien tidak lagi mempersoalkan asas
kerahasiaan dan kesukarelaan maksudnya klien betul- betul mempercyai konselor dan
benar benar mengharapakan bantuan dari konselornya.
Keterbukaan disisni ditinjau dari 2 arah .dari pihak klien diharapakan pertama-tama
membuka diri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat diketahui oleh orang lain(dalam
hal ini orang konselor)dan yang kedua mau membuka diri dalam arti mau menerima
saran dan masukan lainnya dari pihak luar.dari pihak konselor keterbukaan terwujud
dengan kesedian konselor menjawab pertanyaan- pertanyaan dari klien dan
mengunkapkan diri konselor sendiri jika hal itu memang di kehendaki oleh klien.dalam
hubungan suasana seperti itu masing- masing pihak bersifat transparan(terbuka)terhadap
pihak lainya.dengan keterbukaan ini penelahan masalah serta pengkajian berbagai
kekuatan dan kelemahan klien semakin muda dipahami.
4. Asas kekinian
Masalah klien yang ditangani melalui kegiatan dan bimbingan dan konseling adalah
masalah masalah yang sedang dirasakan,bukan masalah yang pernah dialami pada
masa lampau,dan juga bukan masalah yang mungkin dialami di masa yang akan
datang .apabila ada hal tertentu yang menyangkut masa lampu dan atau masalah yang
akan datang yang perlu dibahas dalam upaya bimbingan yang sedang di selenggrakan
itu,pembahasan tersebut hanyalah merupakn latar belakang dan atau latar depan dari
maslah yang dihadapi sekarang,sehingga masalah yang sedang dialami dapat
terselesaikan.dalam usaha bersifat pencegahan,pada dasarnya pertanyaan yang perlu
dijawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarang sehingga kemungkinan yang tidak
baik dapat di hindari.
Asas kekinian juga mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menundahnundah pemberian bantuan. Jika diminta bantuan oleh klien atau jelas-jelas terlihat
misalnya adanya siswa yang mengalami masalah, maka konselor hendaklah segera
memberi bantuan. Konselor tidak selayaknya menunda-nunda memberi bantuan dengan
berbagai dalih. Konselor harus mendahulukan kepentingan klien dari pada yang lainnya.

Jika konselor benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberi bantuannya
maka harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu
justru untuk kepentingan klien.
5. Asas Kemandirian
Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan klien dapat berdiri
sendiri tidak bergantung pada orang lain atau konselor. Ciri-ciri pokok dari individu yang
setelah dibimbing dan dapat mandiri adalah sebagai berikut:
a. Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagai mana adanya
b. Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis
c. Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri
d. Mengarahkan diri sendiri sendiri sesuai keputusan itu
e. Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi,minat,dan kemampuan yang
dimilikinya
Kemandirian dengan ciri-ciri umum diatas haruslah di sesuaikan dengan tingkat
perkembangan dan peranan klien dalam kehidupan sehari-hari. Kemandirian sebagai hasil
konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling,dan hal itu didasari baik oleh
konselor maupun klien. Dengan demikian,maka para konselor hendaknya senantiasa
berusaha menghidupkan kemandirian pada diri klien,bukan justru menghidupkan
ketergantungan klien pada konselor.
6. Asas kegiatan
Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan buah yang berarti bila
klien tidak melakukan sendiri dalam mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Hasil
usaha bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya,melainkan harus
dengan kerja giat dari klien sendiri. Konselor hendaknya membangkitkan semangat klien
sehingga klien mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam
penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam konseling.
7. Asas kedinamisan
Upaya pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan
pada diri klien yang dibimbing yaitu perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik.
Perubahan itu tidak sekedar mengulang hal yang lama yang bersifat monoton melainkan
perubahan yang menuju ke suatu pembaruan,sesuatu yang lebih maju,dinamis,sesuai

dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki. Asas kedinamisan mengacuh pada
hal-hal; yang baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi ciri-ciri dari proses
konseling dan hasil-hasilnya.
8. Asas keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan sebagai aspek
kepribadian klien. Sebagaimana diketahui klien memiliki berbagai aspek kepribadian
yang kalau keadaannya tidak seimbang,serasi dan terpadu justru akan menimbulkan
masalah. Disamping keterpaduan pada diri klien,juga harus diperhatikan keterpaduan isi
dan proses layanan yang diberikan. Jangan terjadinya aspek layanan yang satu dengan
aspek layanan yang lainnya menjadi tidak serasi. Untuk terselenggaranya asas
keterpaduan,konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien
dan aspek-aspek lingkungan klien,serta sebagai sumber yang dapat diaktifkan untuk
menangani masalah klien. Kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling
menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.
9. Asas kenormatifan
Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma-norma
yang berlaku,baik ditinjau dari norma agama,adat,hukum atau negara,ilmu, maupun
kebiasaan sehari-hari. Asas ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan
bimbingan dan konseling. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang
ada. Demikian pula prosedur,tekhnik,dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari
norma-norma yang dimaksudkan. Ditinjau dari permasalahan klien,barangkali pada
awalnya ada materi bimbingan dan konseling yang tidak bersesuaian dengan norma
(misalnya klien mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu), namun justru
dengan pelayanan bimbingan dan konselinglah tingkah laku yang melanggar norma itu
di arahkan kepada yang lebih bersesuaian dengan norma.
10. Asas Keahlian
Usaha bimbingan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan
sistematik dengan menggunakan prosedur, tekhnik dan alat (instrumentasi bimbingan
dan konseling) yang memadai. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan
secukupnya, sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian
layanan. Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pelayanan profesional yang

diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk pekerjaan itu. Asas
ini selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya pendidikan sarjana bidang
bimbingan dan konseling ), juga kepada pengalaman. Teori dan praktek bimbingan dan
konselor perlu dipadukan. Oleh karena itu, seorang konselor ahli harus benar-benar
menguasai teori dan praktek konseling secara baik.
11. Asas Alih Tangan
Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling,asas ini jika konselor sudah
mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu, namun inidividu yang
bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan,maka konselor dapat
mengirim individu tersebut kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Disamping itu
asas ini juga mengisyaratkan bahwa pelayanan bimbingan konseling hanya menangani
masalah-masalah individu sesuai dengan kewenangan petugas yang bersangkutan, dan
setiap masalah yang ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu. Hal terakhir itu
secara langsung mengacu kepada batasan yang telah diuraikan pada BAB II ,bahwa
bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada
dasarnya normal (tidak sakit jasmani maupun rohani) dan bekerja dengan kasus-kasus
yang terbebas dari masalah-masalah kriminal maupun perdata.
12. Asas Tutwuri Handayani
Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka
hubungan keseluruhan antara konselor dan klien. Lebih-lebih dilingkungan sekolah, asas
ini makin dirasakan keperluannya dan bahkan perlu dilengkapi dengan ing ngarso sung
tulodo,ing madya mangun karso. Asas ini menuntut agar layanan bimbingan dan
konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap
kepada konselor saja ,namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling
pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling
itu.
B. Peran Guru Mata Pelajaran dalam Penerapan Asas Bimbingan Konseling
Di sekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan kegiatan
pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali lepas dengan kegiatan
pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan konstribusi guru mata pelajaran tetap sangat
diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di

sekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi
siswanya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru
yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki
pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Sementara itu, berkenaan peran guru
mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan
bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus
manusiawi-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan
menghargai tanpa syarat.
Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran
dalam bimbingan dan konseling adalah :
1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
2. Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan
layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada
guru pembimbing/konselor.
4. Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa yang menuntut
guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti
pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).
5. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswasiswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
6. Memberikan

kesempatan

dan

kemudahan

kepada

siswa

yang

memerlukan

layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan


yang dimaksudkan itu.
7. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi
kasus.
8. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan
bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
Sardiman (2001) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan
Bimbingan dan Konseling, yaitu:
1. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium,
studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.

2. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan
lain-lain.
3. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta
reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas)
dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajarmengajar.
4. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai
dengan tujuan yang dicita-citakan.
5. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
6. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan
pengetahuan.
7. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajarmengajar.
8. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang
akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak
didiknya berhasil atau tidak.
C. Kode Etik Bimbingan Konseling
Kode etik adalah pola ketentuan / aturan / tata cara yang menjadi pedoman menjalani
tugas dan aktivitas suatu profesi. Di samping rumusan kode etik bimbingan dan konseling
yang dirumusakan oleh ikatan petugas bimbingan Indonesia, yaitu:
1. Pembimbing menghormati harkat klien.
2. Pembimbing menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.
3. Pembimbing tidak membedakan klien.
4. Pembimbing dapat menguasai dirinya, dalam arti kata kekurangan-kekurangannya dan
perasangka-prasangka pada dirinya.
5. Pembimbing mempunyai sifat renda hati sederhana dan sabar.
6. Pembimbing terbuka terhadap saran yang diberikan pada klien.
7. Pembimbing memiliki sifat tanggung jawab terhadab lembaga ataupun orang yang
dilayani.
8. Pembimbing mengusahakan mutu kerjanya sebaik mungkin.

9. Pembimbing mengetahui pengetahuan dasar yang memadai tentang tingkah laku orang ,
serta tehnik dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan sebaik-baiknya.
10. Seluruh catatan tentang klien bersifat rahasia.
11. Suatu tes hanya boleh diberikan kepada petugas yang berwenang menggunakan dan
menafsirkan hasilnya.
Beberapa rumusan kode etik bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
1. Pembimbing yang memegang jabatan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan
dan konseling.
2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang baik.
3. Pekerjaan pembimbing harus harus berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang maka
seorang pembimbing harus:
a. Dapat menyimpan rahasia klien
b. Menunjukkan penghargaan yang sama pada berbagai macam klien.
c. Pembimbing tidak dipekerjakan menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli.
d. Menunjukkan sikap hormat kepada klien
e. Meminta bantuan ahli diluar kemampuan stafnya
Sumber :
Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.
Prayitno dan Erman Amti.2008.Dasar-dasar bimbingan dan konseling.Jakarta:Rineka Cipta
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta
Wina Senjaya. 2006. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana

SOAL
A. PILIHAN GANDA
1. Berikut ini yang tidak termasuk asas bimbingan konseling adalah . . .
a . Asas Kebebasan

b . Asas Kerahasiaan

c . Asas Kepercayaan

d . Asas Keterbukaan

2. Salah satu prinsip peran guru mata pelajaran dalam penerapan asas bimbingan
konseling adalah..
a. Mengingatkan siswa untuk melaporkan masalah yang dialami nya
b. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti
konferensi kasus.
c. Menyemangati siswa yang memiliki masalah
d. Memberi teguran kepada siswa yang bermasalah
3. Masalah klien yang ditangani melalui kegiatan dan bimbingan dan konseling adalah
masalah masalah yang sedang dirasakan,bukan masalah yang pernah dialami pada
masa lampau, maka ini berkaitan dengan asas...
a . Kebebasan

b . Kekinian

c . Kerahasiaan

d . Kepopuleran

4. Salah satu ciri pokok klien yang dibimbing mandiri adalah ...
a. Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagai mana adanya
b. Mengenal diri sendiri sesuai yang dianjurkan konselor
c. Individu mampu menyelesaikan permasalahan pribadi.
d. Klien mampu berdiskusi dengan konselor
5. Pengembangan Pembimbing mempunyai sifat renda hati sederhana dan sabar.
Merupakan salah satu dari . . . bimbingan konseling
a . Sasaran layanan

b . Program layanan

c . Asas

d . Kode Etik

B. ESSAY
1. Jelaskan asas keterbukaan !
Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan suasana
keterbukaan,baik dari pihak konselor maupun klien. Keterbukaan ini bukan hanya

sekadar bersedia menerima saran-saran dari luar, malahan lebih dari itu,diharapkan
masing pihak

yang bersangkutan bersedia buka diri untuk kepentingan

masalah.individu yang membutuhkan bimbngan diharapakan dapat berbicara sejujur


mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan
ini penelahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan klien dapat
dilaksanakan
2. Sebutkan 3 peran guru mata pelajaran dalam penerapan bimbingan konseling !
3 peran guru mata pelajaran dalam Bimbingan Konseling :
a. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
b. Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang
memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang
siswa-siswa tersebut.
c. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
kepada guru pembimbing/konselor.
3. Sebutkan 5 kode etik bimbingan konseling!
Kode etik bimbingan konseling yaitu :
a. Pembimbing menghormati harkat klien.
b. Pembimbing menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.
c. Pembimbing tidak membedakan klien.
d. Pembimbing

dapat

menguasai

dirinya,

dalam

arti

kekurangannya dan perasangka-prasangka pada dirinya.


e. Pembimbing mempunyai sifat renda hati sederhana dan sabar.

kata

kekurangan-

YEL YEL

Pegang teguh asas dan kode etik BK untuk


terlaksananya fungsi BK

Anda mungkin juga menyukai