Anda di halaman 1dari 20

UNIVERSITAS INDONESIA

SENSOR FIBER OPTIK INTERFEROMETER FABRY PEROT


UNTUK PENGUKURAN KELEMBABAN DAN SUHU SECARA
BERSAMAAN

MAKALAH SISTEM PENGUKURAN DENGAN METODE OPTIK


DITELAAH DARI IEEE SENSORS JOURNAL
An Optical Fiber FabryPerot Interferometer Sensor
for Simultaneous Measurement of Relative
Humidity and Temperature

STIEVEN NETANEL RUMOKOY


1406509542

FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK TENAGA LISTRIK DAN ENERGI
PROGRAM MAGISTER
UNIVERSITAS INDONESIA

2015

ALUR PENULISAN MAKALAH

TEORI FIBER OPTIK


INTERFEROMETER FABRI-PEROT
PENGUKURAN KELEMBAPAN DAN SUHU
LATAR BELAKANG PAPER
DISAIN SENSOR DAN ANALISA
EKSPERIMENT DAN DISKUSI
KESIMPULAN

TEORI FIBER OPTIK


1.

Serat Optik
Serat optik merupakan media transmisi atau pandu gelombang cahaya berbentuk
silinder yang dikembangkan diakhir tahun 1960-an sebagai jawaban atas perkembangan
sistem komunikasi yang semakin lama membutuhkan bandwidh yang besar dengan laju
transmisi yang tinggi. Serat optik terbuat dari bahan dielektrik berbentuk seperti kaca. Di
dalam serat inilah energi cahaya yang dibangkitkan oleh sumber cahaya disalurkan sehingga
dapat diterima di ujung unit penerima (receiver).
Serat optik terdiri dari dua jenis yaitu serat optik kabel dan serat optik plastik. Serat
optik kabel banyak digunakan untuk transmisi jarak jauh sementara untuk serat optik plastik
hanya digunakan untuk komunikasi jarak pendek. Serat optik banyak dibuat dari kaca atau
bahan silika (SiO2), yang biasanya diberi doping untuk menaikkan indeks biasnya. Serat
optik plastik tidak jauh berbeda dengan serat optik kabel, hanya saja untuk serat optik kabel
dilengkapi dengan kevlar untuk penguat serat optik.

2.

Karakteristik Serat Optik


a. Pemantulan Internal Total
Ketika cahaya yang menjalar di dalam bahan transparan yang memiliki
perbedaan indeks bias, sehingga menemui permukaan bahan transparan lainnya, maka dua
hal akan terjadi, yaitu:
1)
Sebagian cahaya dipantulkan, dan
2)
Sebagian cahaya diteruskan ke dalam bahan transparan kedua.

Gambar 1. Sinar datang pada bidang


Cahaya yang diteruskan biasanya berubah arah ketika memasuki bahan kedua, yaitu
jika cahaya masuk dengan sebuah sudut terhadap garis normal permukaan bahan.
Pembelokan cahaya ini timbul karena pembiasan yang bergantung pada kecepatan cahaya
di dalam suatu bahan, dan kecepatannya berbeda di dalam bahan dengan indeks bias
berbeda. Seberkas sinar datang dari medium pertama yang mempunyai indeks bias n1
dengan sudut datang i1, sinar itu dibiaskan pada bidang batas dan masuk ke medium kedua
yang mempunyai indeks bias n1 dengan sudut bias i1. Menurut hukum Snell pembiasan
tersebut dapat dituliskan dalam bentuk:
......................................................................................................................................(1)
Gambar 1.(a) menunjukkan sinar datang dari medium pertama menuju medium kedua
dengan sudut datang i1. Pada bidang batas sinar datang sebagian dipantulkan dengan sudut
pantul i1 dan sebagian lain dibiaskan dengan sudut bias i2.
Apabila sinar datang dengan sudut i1 yang melewati bidang batas dua medium dengan
n2<n1 dibiaskan dengan sudut 900, maka sudut datang inilah yang disebut dengan sudut
kritis (kritis), seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.(b). berdasarkan persamaan (1) nilai
sudut kritis diberikan oleh:
.....................................................................................................................(2)

Gambar 1.(c) menunjukkan bahwa sudut datang i1 lebih besar daripada sudut
kritis, sehingga sinar mengalami pemantulan internal total.
b. Numerical Aperture
Sinar cahaya yang masuk ke dalam inti serat optik membentuk sudut datang tertentu
terhadap poros serat optik. Sudut yang menuju ke arah permukaan serat optik, tidak semua
akan diteruskan. Tetapi ada syarat tertentu agar sinar yang datang tersebut dapat
diteruskan.
Gambar 2, menunjukkan adanya sudut max yang merupakan batas agar sinar dapat
melewati serat optik. Sudut ini disebut Numerical Aperture.

Gambar 2. Numerical Apartur


Sinar tidak dapat melewati serat optik jika datang dengan sudut lebih besar dari max.
Sinar ini bisa masuk ke serat optik tetapi tidak dapat melewati serat optik karena sinar telah
diserap oleh cladding. Sedangkan semua sinar dengan sudut datang kurang dari max dapat
masuk dan melewati serat optik, sinar ini akan mengalami pematulan internal total yang
menyebabkan sinar tetap berada dalam serat optik.
Gambar 2. Sudut dimana sinar dapat diterima oleh serat optik. Besarnya nilai
numerical aperture (NA) ditentukan dengan persamaan berikut:
............................................................................................................................(3)
Dengan n adalah indeks bias udara = 1, n1 adalah indeks bias inti, n2 adalah indeks
bias selubung (cladding). Nilai numerical aperture adalah suatu ukuran kemampuan serat
optik untuk menangkap sinar yang berasal dari sumber optik. Semakin besar nilai NA
menandai semakin tinggi efisiensi dari suatu sumber optik dalam mengkopling sinar-sinar ke
dalam serat optik.
c. Rugi-Rugi Daya Serat Optik
Daya yang dibawa oleh cahaya akan mengalami pelemahan (rugi-rugi/loss) akibat
terjadinya kebocoran atau karena kurangnya kejernihan bahan serat optik. Besaran
pelemahan daya pada serat optik dinyatakan sebagai perbandingan antara daya pancaran
awal terhadap daya yang diterima dan dinyatakan dalam deci-Bell (dB). Pelemahan daya
disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu absorpsi, hamburan (scattering) dan lekukan (bending
losses). Gelas yang merupakan bahan pembuat serat optik biasanya terbentuk dari silicondioksida (SiO2) yang memiliki indeks bias tertentu. Variasi indeks bias diperoleh dengan
menambahkan bahan lain seperti oksida titanium, thallium, germanium atau boron. Dengan
susunan bahan yang tepat maka akan didapatkan atenuasi yang kecil. Pelemahan energi
yang mengakibatkan pelemahan amplitudo gelombang yang sampai pada penerima menjadi
lebih kecil dari pada amplitudo yang dikirimkan oleh pemancar.
Cahaya yang merambat sepanjang serat optik mengalami penurunan energi secara
eksponensial terhadap jaraknya. Jika P(0) adalah daya optik awal dalam serat (pada z = 0),
dan P(z) adalah daya optik setelah menempuh z, maka diperoleh hubungan sebagai berikut:
.......................................................................................................................................(4)

.......................................................................................................................................(5)
Dengan p merupakan koefisien atenuasi satuannya km-1, z adalah panjang lintasan
serat optik yang digunakan untuk perjalanan sinar (gelombang elektromagnetik). Secara
ringkas dalam perhitungan atenuasi dalam serat optik dinyatakan dengan decibel per
kilometer (dB/km).
Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya atenuasi dalam serat optik yaitu absorbsi,
pancaran Reyleigh, pemantulan Fresnel, rugi-rugi karena pembengkokan. Penjabaran dari
masing-masing adalah sebagai berikut :
1)
Absorpsi
Zat pengotor (impurity) apapun yang masih tersisa di dalam bahan inti akan
menyerap sebagian dari energi cahaya yang merambat di dalam serat optik. Kontaminan
yang menimbulkan efek paling serius adalah ion-ion hidroksil (-OH) dan zat-zat logam.
Ion-ion hidroksil yang merupakan wujud lain dari air akan menyerap energi gelombang
dengan panjang gelombang 1380 nm, sedangkan zat-zat logam akan menyerap energi
gelombang dengan berbagai nilai panjang gelombang tertentu.
2)
Hamburan Rayleigh
Hamburan Rayleigh (Rayleigh scatter) adalah efek terpencarnya cahayaakibat
terjadinya perubahan kecil yang bersifat lokal pada indeks bias bahan inti dan bahan core.
Dikatakan bersifat lokal karena perubahan hanya terjadi di lokasi-lokasi tertentu saja di
dalam bahan, dan ukuran daerah yang terkena pengaruh perubahan ini sangat kecil, yaitu
kurang dari satu panjang gelombang cahaya yang terhambur.

Gambar.3 Cahaya terhambur


Terdapat dua hal yang menyebabkan terjadinya fenomena ini, dan keduanya timbul
di dalam proses manufaktur. Sebab pertama adalah terdapatnya ketidakrataan di dalam
adonan bahan-bahan pembuat serat optik. Ketidakrataan dalam jumlah yang sangat kecil
dan bersifat acak mustahil untuk sepenuhnya dihilangkan. Penyebab kedua adalah
pergeseran-pergeseran kecil pada kerapatan bahan yang biasanya terjadi saat kaca silika
mulai membeku menjadi padat. Salah satu lokasi kelemahan ini dan efek pancaran
Rayleigh yang ditimbulkannya diilustrasikan dalam Gambar 3. Dalam Gambar
diperlihatkan bahwa cahaya terpecah dan terpencar ke segala arah. Semua komponen
pancaran sinar yang kini merambat dengan sudut datang kurang dari sudut kritis akan
dapat menembus mantel dan hilang sebagai rugi daya. Intensitas pancaran Rayleigh
bergantung pada ukuran daerah perubahan relatif terhadap panjang gelombang cahaya
yang bersangkutan. Oleh karena itu cahaya dengan panjang gelombang paling kecil, atau
frekuensi tertinggi, akan paling besar terkena dampak pancaran ini.
3)
Pemantulan Fresnel
Ketika sinar cahaya menumbuk sebuah titik perubahan indeks bias dan terpencar ke
segala arah, komponen pancaran yang merambat dengan sudut datang mendekati garis
normal (90) akan langsung lewat menembus bidang perbatasan. Akan tetapi tidak semua
bagian dari cahaya yang datang dengan sudut mendekati garis normal akan menembus
bidang perbatasan. Sebagian kecil dari cahaya itu akan terpantul balik di bidang
perbatasan. Efek ini dapat menjadi masalah untuk cahaya yang meninggalkan ujung
output serat optik, seperti Gambar 3. Di titik ini, terjadi perubahan seketika dari indeks bias
core ke indeks bias udara yang ada di luar serat optik. Efek yang sama juga terjadi pada
arah yang berlawanan. Sebagian sangat kecil cahaya yang datang dan hendak memasuki
serat optik akan terpantul balik oleh bidang perbatasan udara dan core. Seberapa besar

proporsi cahaya yang menembus bidang perbatasan dan seberapa besar yang terpantul
balik ditentukan oleh besarnya perubahan indeks bias di bidang perbatasan, dan dapat
ditentukan menggunakan rumus :
.......................................................................................................................................(6)
4)

Penyambungan Serat Optik


Jika penyambungan sebuah serat optik modus jamak dengan core berukuran besar ke
serat lainnya yang memiliki ukuran yang lebih kecil, maka hanya sebagian kecil dari
cahaya yang datang dari core berukuran besar dapat masuk ke core berukuran kecil, dan
akibatnya sebagian daya cahaya akan hilang. Besarnya rugi-rugi daya ini dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
.......................................................................................................................................(7)

3. Prinsip dan Tipe Sensor Optik


Sensor serat optik adalah jenis sensor optik yang menggunakan serat optik dalam
mekanisme penginderaan atau pendeteksian, baik sebagai komponen aktif sensor maupun
sekedar sebagai pemandu gelombang saja. Sistem sensor optik dilengkapi dengan paling tidak
tiga komponen utama, yaitu komponen optoelektronik, link optik dan probe. Komponen
optoelektronika meliputi sumber cahaya, detektor optik dan pengolah sinyal. Link optik berupa
gelombang serat optik yang berfungsi memandu cahaya ke atau dari bagian penginderaan.
Sedangkan probe adalah bagian sensing atau transducing, baik pada bagian di dalam serat
optik atau di luar serat optik, yang bertindak sebagai transduser dan berinteraksi langsung
dengan obyek atau besaran yang diukur.
Sensor serat optik didasarkan pada mekanisme modulasi gelombang cahaya dari suatu
sumber seperti LED, diode laser, atau yang lainnya. Kuantitas optik yang dimodulasi dapat
berupa intensitas atau amplitudo, panjang gelombang, fase gelombang dan polarisasi
gelombang optik tersebut. Modulasi ini dapat terjadi di luar maupun di dalam serat optik
Modulasi dalam sensor serat optik dapat dirancang dengan konfigurasi yang berbeda,
bergantung pada besaran optik yang dimodulasi dapat berupa intensitas, panjang gelombang,
fasa atau polarisasi gelombang. Misalnya, untuk sensor serat optik berdasarkan modulasi fasa
dapat dilakukan dengan konfigurasi interferometrik, sedangkan untuk modulasi panjang
gelombang dapat dilakukan melalui pelapisan material sensitif di ujung serat optik. Modulasi
intensitas yang paling banyak dikembangkan dapat dilakukan melalui mekanisme cladding.
Sensor serat optik termodulasi intensitas dengan mengukur intensitas transmisi atau absorbsi
yang terjadi baik di luar maupun di dalam serat optik, sedangkan sensor serat optik
termodulasi panjang gelombang atau fasa didasarkan pada pergeseran fasa gelombang optik
di dalam atau diluar serat optik ketika mendapat gangguan dari luar.

INTERFEROMETER FABRI-PEROT
1. Prinsip dasar Interferometer Fabry-Perot
Interferensi gelombang merupakan perpaduan antara dua gelombang atau lebih pada
suatu daerah tertentu pada saat yang bersamaan. Interferensi dua gelombang yang
mempunyai frekuensi, amplitude, dan arah getaran sama yang merambat menurut garis lurus
dengan kecepatan yang sama tetapi berlawanan arahnya, menghasilkan gelombang stasioner
atau gelombang diam. Interferensi desdruktif (saling meniadakan) terjadi bila gelombanggelombang yang mengambil bagian dalam interferensi memiliki fase berlawanan. Sedangkan
interferensi konstruktif (saling menguatkan) terjadi jika gelombang-gelombang yang mengambil
bagian dalam interferensi memiliki fase yang sama. Interferensi konstruktif biasa disebut juga
dengan superposisi gelombang.
Salah satu alat yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi pola interferensi tersebut
adalah interferometer. Alat ini dapat dipegunakan untuk mengukur panjang gelombang atau
perubahan panjang gelombang dengan ketelitian sangat tinggi berdasarkan penentuan garisgaris interferensi. Walaupun pada awal mula dibuatnya alat ini dipergunakan untuk
membuktikan ada tidaknya eter.
Dalam interferometer ini, kedua gelombang yang berinterferensi diperoleh dengan jalan
membagi intensitas gelombang semula. Contohnya adalah interferometer Febry-Perot yang
merupakan perbaikan lebih lanjut dari Interferometer Michelson, interferometer ini juga sangat
berguna dalam pengukuran indeks bias dan jarak. Prinsip kerja dari percobaan yang dilakukan
oleh A. Perot telah menghasilkan beberapa variasi konfigurasi. Agar pola interferensi yang
misalnya berwujud lingkaran-lingkaran gelap-terang dapat terjadi, hubungan fase antara
gelombang-gelombang di sembarang titik pada pola interferensi haruslah koheren.
Interferometer Fabry-Perot dibangun dengan menggunakan dua plat sejajar yang
permukaannya sangat reflektif dan pada umumnya dipisahkan oleh udara. Dua buah plat kaca
dipisahkan oleh sebuah jarak d yang mempnyai sifat untuk memeantulkan pada
permukaannya.Gelombang keluar dari plat setelah mengalami banyak refleksi selanjutnya
dikumpulkanoleh lensa dan gambar dapat diobservasi pada sebuah layar. Keakurasian sebuah
interferometer dapat mengukur panjang gelombang dari cahaya yang disebut chromatic
resolving power.

Gamar 4. Pola penampakan Frinji dalam hubungannya dengan sudut


Pada percobaan interferometer Febry-Perot ini menggunakan sebuah interferometer,
dimana interferometer itu sendiri berasal dari kata interferensi dan meter yang berarti suatu alat
yang digunakan unutuk mengukur panjang atau perubahan panjang dengan ketelitian yang
sangat tinggi berdasarkan penentuan garis-garis interferensi.
Instrumen optik yang dikenal memanfaatkan sumber laser ini dan juga dikenal baik dalam
penggunaanya adalah interferometer Fabry-Perot. Alat ini memanfaatkan interferensi dari
banyak gelombang. Interferometer Fabry-Perot (IFP) didesain oleh C. Fabry dan A. Perot
menggambarkan perbaikan yang signifikan terhadap interferometer Michelson (IM). Dibedakan
dengan IM maka desain IFP mengandung permukaan bidang yang keduanya membiaskan

hnaya sebagian cahaya sehingga memungkinkan adanya banyak sinar yang menciptakan pola
interferensi. Teori umum yang medasari ariinter ferometer Michelson masih dapat diterapkan
untuk Interferometer Fabry-Perot, namun dengan adanya pemantulan berulang memperkuat
area dimana efek interferensi konstruktif dan destruktif terjadi menyebabkan frinji-frinji hasil
interferensi didefinisikan dengan lebih jelas. Ini mengijinkan lebih teliti untuk pengukuran
panjang gelombang.
Prinsip reflektansi dan transmisivitas pada eksperimen Interferometer Febry-Perot ini dapat
dijelaskan sebagai berikut: sinar dikirim mundur maju melalui gas beberapa kali oleh sepasang
cermin sejajar, sehingga seperti merangsang emisi berdasarkan sebanyak mungkin atom yang
tereksitasi. Salah satu cermin itu adalah tembus cahaya sebagian, sehingga sebagian dari
berkas sinar itu muncul sebagai berkas sinar ke luar.
Interferometer Febry-Pero menghasilkan lingkaran-lingkaran gelap terang yang amat
kontras, yakni menampilkan pola interferensi yang sangat tajam dan banyak dipakai untuk
menyelidiki panjang gelombang warna-warna suatu sumber cahaya. Garis-garis gelap terang
pola interferens yang sejajar itu terutama disebabkan oleh variasi ketebalan celah udara
diantara kedua lempeng kaca tersebut. Sehingga dapat diketahui bahwa interferensi satu
berkas cahayanya dapat dipandang sebagai sebuah gelombang dari medan listrik-magnetik
yang berosilasi. Yaitu yang diperoleh dengan menjumlahkan gelombang-gelombang tersebut.
Hasil penjumlahan itu akan memberikan intensitas yang maksimum disuatu titik, apabila di titik
tersebut gelombang-gelombang itu selalu sefase. Agar pola interferensi yang misalnya
berwujud lingkaran-lingkaran gelap-terang dapat terjadi, hubungan fase antara gelombanggelombang di sembarang titik pada pola interferensi haruslaah tetap sepanjang waktu, atau
dengan kata lain gelombang- gelombang itu harus koheren. Syarat koheren tidak terpenuhi jika
gelombang- gelombang itu berasal dari sumber-sumber cahaya yang berlainan, sebab setiap
sumber cahaya biasa tidak memancarkan gelombang cahaya secara kontinu, melainkan
terputus-putus, gelombang elektromagnetik cahaya dipancarkan sewaktu terjadi dieksitasi
atom.

Gambar 5. Proses Pembentukan cahaya pada Interferometer Fabry-Perot

PENGUKURAN KELEMBAPAN DAN SUHU

1. Pengukuran dengan Sensor Optik


Sensor serat optik adalah jenis sensor optik yang menggunakan serat optik dalam
mekanisme penginderaan atau pendeteksian, baik sebagai komponen aktif sensor maupun
sekedar sebagai pemandu gelombang saja. Sistem sensor optik dilengkapi dengan paling tidak
tiga komponen utama, yaitu komponen optoelektronik, link optik dan probe. Komponen
optoelektronika meliputi sumber cahaya, detektor optik dan pengolah sinyal. Link optik berupa
gelombang serat optik yang berfungsi memandu cahaya ke atau dari bagian penginderaan.
Sedangkan probe adalah bagian sensing atau transducing, baik pada bagian di dalam serat
optik atau di luar serat optik, yang bertindak sebagai transduser dan berinteraksi langsung
dengan obyek atau besaran yang diukur.
Sensor serat optik didasarkan pada mekanisme modulasi gelombang cahaya dari suatu
sumber seperti LED, diode laser, atau yang lainnya. Kuantitas optik yang dimodulasi dapat
berupa intensitas atau amplitudo, panjang gelombang, fase gelombang dan polarisasi
gelombang optik tersebut. Modulasi ini dapat terjadi di luar maupun di dalam serat optik.

Gambar 6. Skema Sensor pada umumnya


Konfigurasi sistem serat optik digambarkan dengan skema pada Gambar 6. Sumber
cahaya dilewatkan melalui salah satu ujung serat optik menuju daerah modulasi cahaya,
modulator atau transduser, selanjutnya diteruskan ke ujung lain serat optik dimana terdapat
detektor cahaya, atau dapat juga setelah termodulasi, cahaya tersebut dikembalikan melalui
serat optik yang sama menuju detektor. Cahaya tersebut dimodulasi oleh besaran- besaran
medium yang diukur, yaitu besaran kimia, biologi atau fisika, sebagai besaran yang akan
dideteksi. Besaranbesaran kimia yang dapat dideteksi seperti pH, konsentrasi larutan atau
jenis ion maupun konsentrasi gas atau uap kimia. Besaran-bsaran biologi seperti jenis dan
populasi bakteri atau mikroorganisme lainnya ataupun komponenkomponen biokimia seperti
glukosa hingga DNA. Sedangkan besaran-besaran fisika yang dapat dideteksi meliputi suhu,
tekanan, strain, perpindahan, percepatan, arus listrik dan sebagainya.
Modulasi dalam sensor serat optik dapat dirancang dengan konfigurasi yang berbeda,
bergantung pada besaran optik yang dimodulasi dapat berupa intensitas, panjang gelombang,
fasa atau polarisasi gelombang. Misalnya, untuk sensor serat optik berdasarkan modulasi fasa
dapat dilakukan dengan konfigurasi interferometrik, sedangkan untuk modulasi panjang
gelombang dapat dilakukan melalui pelapisan material sensitif di ujung serat optik. Modulasi
intensitas yang paling banyak dikembangkan dapat dilakukan melalui mekanisme cladding.
Sensor serat optik termodulasi intensitas dengan mengukur intensitas transmisi atau absorbsi
yang terjadi baik di luar maupun di dalam serat optik, sedangkan sensor serat optik termodulasi
panjang gelombang atau fasa didasarkan pada pergeseran fasa gelombang optik di dalam
atau diluar serat optik ketika mendapat gangguan dari luar.
2. Definisi Kelembapan
Kelembapan dalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat
diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat
untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur
tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah pengawalembap
(dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara.
Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan suhu.

Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30C (86F),
dan tidak melebihi 0,5% pada 0C (32F).
3. Definisi Suhu
Setiap cabang khusus fisika mula- mula dipelajari dengan memisahkan bagian ruang yang
terbatas atau bagian materi dari lingkungannya. Bagian yang dipisahkan yang merupakan pusat
perhatian kita disebut sistem, dan segala sesuatu yang mempengaruhi sistem secara langsung
disebut lingkungan .
Semua keadaan isotherm bersesuaian dari semua sistem mempunyai suatu kesamaan,
yaitu semuanya dalam kesetimbangan termal satu sama lain. Kesetimbangan termal adalah
keadaan yang dicapai oleh dua atau lebih sistem yang dicirikan oleh keterbatasan harga
koordinat sistem itu setelah sistem saling berinteraksi melalui dinding indoterm. Dalam keadaan
ini sistemnya sendiri dapat dikatakan memiliki sifat lain. Sifat ini sering sebut temperatur.
Temperatur sistem adalah suatu sifat yang menentukan apakah sistem dalam kesetimbangan
termal dengan lainnya.
Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda,
semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki
oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam
bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tinggi energi atom-atom
penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.
Suhu juga sering disebut sifat fisik yang kuantitatif mengungkapkan pengertian umum dari
panas dan dingin, obyek dingin memiliki suhu rendah, sedangkan berbagai tingkat temperatur
yang lebih tinggi disebut sebagai hangat atau panas. Suhu dapat diukur dengan termometer,
yang memungkinkan untuk dikalibrasi keberbagai skala suhu yaitu: celcius, reamur, fahrenheit,
dan kelvin. Sebagian besar di dunia menggunakan celsius sebagai skala pengukuran suhu,
tetapi standar satuan internasional suhu adalah kelvin. Celcius memiliki kenaikan yang sama
dengan kelvin, tetapi titik nol yang berbeda yaitu ketika suhu 0K sama dengan -273,15C.
Kalor adalah suatu bentuk energi dan merupakan suatu besaran dengan lambang (Q) dan
satuan (J) atau kal. Kalor dapat mengubah suhu dan wujud suatu zat dari padat ke cair
kemudian ke gas dan sebaliknya. Kalor jenis suatu zat adalah banyaknya kalor yang diperlukan
oleh suatu zat bermassa 1 kg untuk menaikkan suhu 1C, kalor zenis suatu zat dapat diukur
dengan alat kalorimeter.

LATAR BELAKANG PAPER


Abstrak
Sensor perubahan kelembapan relatif/ relatif Humidity(RF) dan temperatur menggunakan prinsip
sistem fiber optik Interferometer fabry perot telah diajukan dan secara experiment telah
disimulasikan. Sensor ini terdiri dari sambungan sebuah pendek panjang(short-length) Photonic
Cristal Fiber(PCF) ke Fiber optik Single Mode dan dibungkus oleh Ultrathin Polyfinyl Alcohol Film
pada permukaan PCF yang terbelah itu. Ukuran panjang total sensor ini hanya sekitar 10M dan
memiliki ukuran yang praktis, Maksudnya dapat digunakan secara fleksibel diarea yang terbatas
dan lingkungan yang ekstrim. Hasil percobaan menunjukan sensor dapat mengukur perubahan
ambient RH dan temperature melalui pengaturan perubahan tenaga dan pergeseran spektrum
gelombang refleksi. Hasilnya, keuntungan dari ukuran yang praktis, biaya yang lebih murah,
fleksibilitas dan stabilitas yang tinggi, respon yang cepat dan kemampuan mengukur perubahan
RH dan temperatur, yang berarti sensor yang telah diajukan memiliki cakupan kelengkapan yang
luas untuk pengaplikasian yang potensial.
1. Pendahuluan
Teknik konvensional pendeteksi kelembapan antara lain berupa hygrometer mekanik,
Hygrometer Chilled Miror, lampu psychrometer basah dan kering, higrometer Infrared dengan
sistem optik absorbtion dan sensor elektronik. Dengan pengembangan dari fiber optik dan
teknologi penginderaan, sensor sistem optik RH akan menjadi teknik pendeteksi kelembaban
yang baru. Dibandingkan dengan sensor pengukur kelembaban konvensional, sensor fiber optik
RH memiliki banyak keuntungan, seperti ukurang yang praktis, daya sensifitas yang tinggi,
fleksibel, dan memiliki daya imun yang baik terhadap pengaruh medan magnet, yang membuat
sensor ini memiliki kemampuan untuk digunakan pada kondisi lingkungan yang ekstrime
sekalipun. Sistem penginderaan dari tipe sensor ini berupa beberapa parameter sistem optik
berupa panjang gelombang, intensitas, refleksifitas atau polasisasinya, akan memproduksi
perubahan yang berhubungan dengan variasi RH yang berbeda. Pada umumnya sensor sistem
optik RH berupa sensor kopelan kelembapan gelombang evanescent, Sensor kelembaban long
Period Fiber Grating(LPG) , sensor kelembaban Fiber Bragg Grating, dan sensor
kelembabansistem fiber optik plastik. Pada umumnya, sensor LPG dan FBG atau yang lainnya
membutuhkan material yang sensitif untuk perubahan pengukuran kelembapannya. Pada saat ini
biasanya penggunaan material yang sensitif itu berupa electrolite, polimer, ceramic base
material,porous metal oxide dan material semi konduktor yang juga polimer hygroscopic adalah
salah satu material yang sangat menjanjikan dalam hal kesensitifitasan dalam pengukuran
kelembaban yang luas dalam tingkat pengukurannya, eror wet hysteris yang kecil, dan respon
yang cepat.
Banyak dari material polimer memiliki karakteristik tingkat sensitifitas antara lain cellulose
acetate, styrene, polyimide, agarose, chitosan, polymethyl methacrylate, and polyvinyl alcohol
(PVA). Untuk polyimide, agarose and PVA combined dalam hal penelitian sensor sistem optik telah
banyak dilakukan. Tapi sanyang untuk material polyimide and agarose membutuhkan biaya yang
lumayan. Untuk harga yang lebih murah kita dapat menggunakan PVA. PVA memiliki respon ratarata pembengkakan, film forming property dan bonding properties yang baik dan keuntungan ini
sangat baik untuk diaplikasikan sebagai pembungkus pada permukaan fiber. Permukan PVA yang
di bungkus pada fiber akan mengembang setelah menyerap air dan akan menghasilkan reduksi
dari rrfraktif Index(RI).
Pada penelitian tahun-tahun terakhir ini, para peneliti telah melaporkan bermacam-macam
sensor RH sistem optik yang dikombinasikan dengan material PVA.
a). Pada tahun 2004 A. Gaston dkk, memperkenalkan sensor kelembaban yang memiliki fiber
yang dibungkus dengan lapisan PVA,g memiliki karakteristik sensitifitas respon sesaat.
b). Pada ahun 2005, Sunil K Khijwania dkk, memperkenalkan sensor kelembaban fiber optik
dengan memanfaatkan perubahan spectroscopy gelombang evanicent yang diserap fiber single
U-bend plastic- clad silica dengan dinamisa perubahan harga dan sensitifitas yang tinggi. Pada
penelitiannya , PVA digunakan sebagai pembalut polymer matrix untuk anhydrous CoCl 2.
c). Pada Tahun 2008, T. Venugopalan et al. reported a LPG RH sensor coated with PVA and it
demonstrated a relatively fast response time of 80s to reach 97%RH from 33%RH

d). Pada Tahun 2009, Y. Miao dkk. mengajukan sebuah sensor RH dengan sensitifitas tinggi
berdasarkan kemiringan fiber Bragg grating (TFBG) yang dibalut dengan PVA.
e). Pada tahun 2012 and 2013, T. Li dkk. Mengajukan sensor RH melalui model refleksi dengan
menggabungkan sebuah FBG dan sebuah multimode fiber taper yang dibungkus dengan
lapisan PVA .

Gambar 7. Diagram PCF cros-section

X. Wang dkk. mengajukan sebuah sensor RH majemuk dengan menggabungkan sebuah


arrayed waveguide grating (AWG) dan multimode-fiber tapers (MFTs). Kemajemukan data
telah didapat dengan tingkatan PVA-coated MFT dengan setiap channel AWG. W. C. Wong
dkk. Melaporkan Sensor RH PVA coated photonic crystal fiber (PCF) yang telah dibuat
melalui jatuhan lubang dari PCF pada kedua ujung ke Michelson interferometer dengan
cladding mode excitation . T. Li dkk. mengajukan sebuah PCF-model interferometer-based RH
sensor, dibentuk dari sambungan fusi sebuah short length dari PCF diantara two single-mode
fibers (SMF) dengan lubang udara pada PCF pada bagian sambungan menjadi sangat
mengempis. Pada laporan keduanya. Memberikan keterangan bahwa PCF-based RH sensors
memiliki tingkat sensifitas tinggi, pembacaan yang baik and kebebasan temperatur yang
rendah. Tentu saja, peneliti juga mengajukan beberapa material polimer yang didasarkan
untuk sensor RH dengan ketangguhan yang tinggi, antara lain, L. H. Chen dkk mengajukan
sebuah chitosan berdasarkan sensor kelembaban
extrinsic fiber-based Fabry-Perot
interferometer yang dibentuk melalui penyambungan dari hollow-core fiber dengan SMF dan
sebuah chitosan film dibungkus pada ujung fiber hollow-core. Hal ini menunjukan sensitifitas
kelembaban relatif yang tinggi yaitu 0.13 nm/% RH. Tetapi variasi ambient temperatur akan
menyebabkan perubahan yang panjang dari FP cavity juga dan akhirnya keluaran resonansi
gelombangnya akan bergeser. Temperature cross-sensitivity akan membawa harga eror untuk
pengaturan gelombang dari RH. Walaupun begitu, pada aplikasi praktek pengukuran
kelembaban relatif, temperature cross-sensitivity tetap menjadi hal yang penting.
Oleh karena itu, sensor RH dengan kompensasi temperatur adalah hal yang paling unggul
untuk dipilih untuk pengaplikasian pada praktek. Pada tahun 2013, J. Mathew dkk,
mengajukan sebuah hybrid sensor untuk perubahan harga temperature dan RH. Peralatannya
terdiri dari kombinasi sebuah FBG dan sebuah agarose yang diselipkan interferometer PCF
(PCFI), dimana PCFI dan FBG digunakan untuk memonitor RH and temperature. Tapi bentuk
spektrum dari alat hybrid ini tidak halus, mengakibatkan sulit untuk penentuannya. Pada jurnal
kali ini, sensor RH dan temperature berdasarkan sistem fiber optik interferometer Fabry-Perot
(FPI) dan PVA film telah diajukan dan diteliti. Sensor ini tidak hanya menyelesaikan masalah
dari cross-sensitivity ke temperature pada pengukuran RH, tapi juga dapat mengatur
perubahann suhu temperatur lingkungan dan kelembapan relatifnya. Total panjang sensor ini
hanya sekitar 110m. Bentuk dan ukuran yang praktis membuat sensor ini dapat digunakan
pada erea terbatas dan lingkungan yang ekstrim.

DISAIN SENSOR DAN ANALISA

Disain Sensor dan Analisa


Skematik diagram yang diajukan dibuat seperti tunjukan pada Gambar 7. Sensor ini dibuat
dengan sambungan short-length PCF dengan SMF-28 fiber ujung terbelah dan dibungkus dengan
sangat tipis dengan PVA film pada permukaan PCF, dan membentuk sistem interferometer FabryPerot. Panjang PCF ini sekitar 105m dan ketebalan PVA film sekitar 5m. Jadi total
panjang/length bagian atas pengindera hanya sekitar 110m. PCF yang digunakan pada
percobaan ini adalah sejenis dari fiber polarization maintaining photonic crystal, fiber ini memiliki
silica yang murni inti simetris yang dikeliling oleh dua buah lubang udara berdiameter 7.5m pada
sisinya (itunjukan pada Gambar 7). Pada penelitian sebelumnya, tim kami telah meneliti jenis PCF
ini, memahami bagian-bagiannya dan mendapatkan beberapa indeks refraktif, temperatur,
tegangan, and parameter ganda pada sensor pengukuran itu. Berdasarkan hasil penelitian
sebelumnya, Bentuk spektrum interferensi yang baik dan interval panjang gelombang yang cocok
dapat ditentukan hanya dengan 100m PCF dan setiap sensornya memiliki ukuran yang praktis
membuat sensor ini dapat digunakan dengan fleksibel diruang yang terbatas dan lingkungan yang
ekstrim.
Sambungan dari SMF dan PCF telah dicapai menggunakan Alat penyambung fusi/fusion
splicer (Fujikura FSM-60) yang dipakai pada umumnya dengan model operasi manual. Biasanya
temperatur alat penyambung ini akan melebihi temperatur penghalusnya dari PCF ketika
pengelasan/penyambungan SMF dan PCF dilakukan, setiap tekanan pada permukaannya dapat
melebihi harga viscositasnya dan keluaran dari lubang anginnya akan rusak pada dekat bidang
penyambungan. Pada Ref. 21, penulis menunjukan miniatur sensor RH berdasar dari sebuah fiber
interferometer polymer-infiltrated photonic crystal dan memanfaatkan kerusakan area micro-hole
untuk mengeksitasi dan mengkombinasikan kembali model urutan cladding yang tinggi. Tapi
kerusakan micro-hole dapat mengakibatkan kerusakan transmisi yang lebih luas. Untuk
menghindari kerusakan micro-hole dan memastikan kekuatan mekanik dari area penyambungan,
parameter penyambungan telah dioptimasi. Waktu penyambungannya adalah 300ms dan
pengisian kembali tenaganya adalah +20. Disamping itu, bidang penyambungannya sudah digeser
sangat sedikit untuk penyimpangan dari posisi discharge electrode dan gaya electrode dischargenya pada SMF. Harus diingat bahwa pergerakannya sangat kecil, sebaliknya hal ini akan
berdampak pada kekuatan mekanik pada bidang pengelasannya. Dengan cara ini dapat
menghindari kemungkinan lubang udara rusak dengan berpikiran juga terhadap kekuatan
mekaniknya.
Pembuatan PVA filmis dijelaskan dibawah ini.
Bagian Pertama, Campurkanlah flocculent PVA granules dan deionized water dari bentuk
9%(wt/wt) PVA solution, dan jagalah pada magnetic stirrer, kendalikan dengan lambat pada
saat 70 C selama 3jam untuk memastikan PVA granules telah terlarut dengan sempurna
dan bentuk PVA colloidal solution.
Bagian Kedua, sebuah motor dengan kecepatan bertingkat digunakan untuk mencelupkan
PCF dengan perlahan-lahan dan dengan posisi vertikal di permukaan PVA colloidal solution
dan kemudian tarik keluar/ keluarkan setelah terjadi sedikit kontak untuk memastikan
lapisan yang tipis dari PVA yang telah terbungkus pada ujung PCF. Berdasarkan pada Ref.
[13], [22], semakin tipis PVA film dapat menaikan kecepatan respon yang lebih cepat dan
respon waktu yang lambat.
Bagian terakhirnya, kepala sensornya dipanaskan pada oven vacum selama 10jam
adengan temperatur yang konstan sebesar 50 C iyang bertujuan untuk evaporasi dan
membuat kondisi PVA film tipis dan menempel pada ujung PCF dengan kuat.
Secara teori, terdapat tiga bidang refleksi pada interferometer ini, yaitu SMF/PCF interface,
PCF/PVA interface, dan PVA/air interface. Cahaya diemisikan dari sumber cahaya yang akan
direfleksikan melalui tiga perangkat ini dan tiga papan refleksi ini akan berinteferensi satu dengan
yang lain akibat dari perbedaan fase yang disebakan dari perbedaan sistem optik and dan
membangkitkan tiga interferensi frinji mendahului pada bentuk spektrum refleksi. Berdasarkan teori
interferensi, kita mengetahui I1 and I2 adalah intensitas dari dua bidang refleksi. Setiap intensitas

cahaya refleksinya dapat dirumuskan seperti:

................................................................................................(8)
dimana, fasa = 2nL/, n adalah effective refractive index, L adalah selisih dari optical path,
dan adalah panjang gelombang yang dioperasikan. Perbedaan fasanya akan dipenuhi pada
kondisi = 2k(k = nL/ adalah bilangan integer), hubungan dari gelombang interferensi
ekstrimum dapat ditunjukan seperti pada rumus:
..........................................................................................................(9)
Dengan free spectral range (FSR) diantara dua interferensi minima atau maxima dapat dibuat
seperti:
...........................................................................................................(10)
Dapat dilihat pada rumus 11 bahwa FSR berhubungan dengan effective refractive index dan
perbedaan optical path. Refractive indexe inti PCF dan PVA film dibawah 35%RH adalah sekitar
1.4575 dan 1.435. Jadi FSR pada interferensi frinji dapat dihitung dengan mudah seperti pada
rumus 11. FSR pada interferensi frinji terjadi karena refleksi dari bidang SMF/PCF dan PCF/PVA
yang sekitar 7.85nm. Dan FSR disebabkan oleh PCF/PVA dan PVA/air yang sekitar 167.4nm.
Untuk interferensi frinji disebabkan oleh SMF/PCF dan PVA/air interfaces, berdasarkan
persamaan:
...................................................................................(11)
FSR diperkirakan 7.85nm, yang harganya sama dengan FSR yang dibentuk oleh SMF/PCF dan
PCF/PVA. Jadi seharusnya ada dua interferensi frinji yang jelas dengan perbedaan periode
7.85nm dan167.4nm dan diobservasi dari bentuk spektrumnya.
Gambar 8 adalah spektrum refleksi dari sensor yang diajukan (dibawah 40 C, 35%RH) dan
hubungan spektrum frekuensi spasial ditentukan melalui Fast Fourier transformation (FFT). Jarak
antara frinjinya diperkirakan 7.9nm dan rasio pemadamannya sekitar 8dB. Dari gambar ini, dapat
dipelajari bahwa hanya satu frinji interferensi yang jelas pada OSA yang panjang gelombangnya
15201580nm. Pada umumnya ada dua penyebab timbulnya fenomena ini, yang pertama karena
167.4nm FSR lebih besar dari 7.85nm dan OSAmenampilkan panjang gelombang 60nm ijauh dari
167.4nm. Alasan yang lainnya adalah kuat interferensi diantara dua bidang refleksi oleh PCF/PVA
dan PVA/air sangat lemah dalam bandingan interferensi yang dihasilkan oleh SMF/PCF dan
PCF/PVA berdasarkan spectrum frekuensi spasialnya. Oleh sebab itu, Hanya ada satu frinji
interferensi yang pasti dengan periode 7.9nm yang termasuk dalam spektrum refleksi, ketika
refleksi antar bidang direfleksikan oleh PCF/PVA dan PVA/air interfaces lemah dan hanya sedikit
spektrum modulasinya. Isamping itu, Jarak interferensi frinjinya 7.9nm ditentukan dari pengukuran
langsung yang diperkirakan secara teori adalah 7.85nm.

Gambar 8. Spektrum Refleksi


Untuk sensor yang diajukan ini, PVA film akan mengembung setelah menyerap air dan
mengakibatkan reduksi dari RI saat ambient RH meningkat. Pengembungan dan reduksi RI akan
mengubah perbedaan garis optik pada transisi cahaya dan mengurangi reflektifitas dari PVA/air
interface, dan terjadi pergeseran panjang gelombang resonansi dan cntras dari frinjinya menurun.
Saat ambient temperatur berubah akan membangkitkan perubahan bentuk dan hasilnya
pergeseran panjang gelombang yang dikarenakanefek dari pengembungan dari suhunya. Karena
hanya vareasi ambient RH yang dapat meningkatkan kuat perubahan spectrum refleksinya, jadi
kita dapat berpendapat bahwa ketika ambient RH dan temperature berubah pada saat yang sama,
informasi ambient RH dapat ditentukan melalui pengaturan perubahan dari kuat spectrum refleksi,
dan sementara itu mendapatkan pergeseran yang disebabkan oleh variasi RH, informasi ambient
temperature dapat ditentukan melalui pengaturan total pergeseran panjang gelombang dikurangi
dari variasi pergeseran panjang gelombang RH. Dengan cara ini, Sensor yang diajukan ini dapat
menduduki kemampuan pengukuran RH dan temperature secara bersamaan.

EKSPERIMEN DAN DISKUSI

Eksperimen dan Diskusi


Gambar 9 adalah set-up dari pengujian temperature and RH. Interferometer telah diiluminasi
dengan sumber/broadband source (BBS) pada 1550 nm. Sebuah optical spectrum analyzer (OSA,
YOKOGAWA-AQ6370B) dengan resolusi 0.02nm digunakan sebagai monitor perubahan spektrum
refleksi. Cahaya dari BBS disebarkan tke kepala sensor melalui

Gambar 9. Set-up peralatan

Gambar 10. Spectrum refleksi pada perbedaan RH


fiber optik ciculator dan kemudian direfleksikan sebagai cahaya yang dipandu ke OSA melalui
circulator. Sensor yang diajukan ditempatkan pada ruang kelembaban temperatur yang konstan
(WHTC-225, WEWON) yang pembacaannya sekitar 20%98% RH dan 0150 C. Eror
kelembaban dan temperatur pada ruang ini adalah 0.2 C dan 2% RH. Programmable controller membuat sensor ini dapat digunakan pada seting variasi parameter yang dapat ditentukan.
Untuk menghilangkan variasi temperaturnya, ruang dengan kelembaban temperatur yang
konstan dijaga pada 40 C (mendekati suhu standar ruangan) pada proses pengujian RH. Kami
merekam hubungan antara spektrum refleksi kelembaban sensor ini dan proses pengubahan
kelembaban dibawah kelembababn relatif yaitu 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85% dan 95%.
Sebelum penentuan setiap pengukuran, sensor kembali distabilkan selama 5min untuk
mendapatkan hasil data yang stabil dan untuk mendapatkan data yg dapat dipertanggungjawabkan. Spektrum Refleksi pada perbedaan RH dapat dilihat pada gambar 10, dapat dilihat
dengan jelas bahwa rasio pemadaman spectrum refleksi menurun dan panjang gelombang
bergeser ke arah gelombang yang lebih panjang dengan kenaikan harga RH. Penurunan dekat
panjang gelombang 1550nm dipilih sebagai indikator untuk memonitor perubahan spectrum RH.
Gambar 11 menunjukan hasilnya dan penguatan spektrumnya berubah sinusoidal baik
kelembaban dan proses pengubahan kelembabannya. Hubungan dari rasio penurunan dan
resonansi panjang gelombang dari perubahan harga RH diperlihatkan pada gambar 12 dan 13.
Dapat dilihat pada gambar 12 bahwa extinction ratio menurun secara eksponensial dengan
kenaikan harga ambient RH, dan dapat dirumuskan dengan persamaan
..........................................................................................(12)
..........................................................................................(13)

Tingkat kepercayaannya R2 adalah 0.99891 dan 0.99864. Dari gambar 13, panjang gelombang
resonansinya secara eksponensial meningkat saat RH meningkat. Persamaanya adalah
..........................................................................................(14)
..........................................................................................(15)
Tingkat kepercayaannya R2 adalah. Berdasarkan hasil pengukuran, kita dapat menggunakan
extinction ratio untuk mengukur variasi RH, dan secara bersamaan menentukan pergeseran
panjang gelombang yang diakibatkan dari perubahan harga RH. Itu telah ditemukan bahwa variasi
respon sensor yang diajukan dan dan maksimum serpon kurang dari 500ms saat RH berganti dari
35% ke95%. Respon yang cepat ini disebabkan oleh ketipisan relatif dari PVA film.

Gambar 11. Spektrum refleksi pada dasar mendekati 1550 nm dengan perubahan RH pada proses
pelembaban

Gambar 12. Rasio harga pemadaman dengan RH

Gambar 13. Perubahan resonansi Gelombang dengan RH

Gambar 14. Spektrum Refleksi pada perbedaan temperatur


Untuk investigasi temperatu pada sensor ini, ruang kelembaban temperatur konstannya telah
dijaga pada RH 60% pada seluruh rangkaian proses percobaan. Temperaturnya bertahap
meningkat 80C dari 20C dan kemudian kembali lagi ke 20C. Kami merekam spektrum
refleksinya berturut-turut setiap 10 C pada saat proses pemanasan dan pendinginannya. Dari
gambar 14, dapat dilihat bahwa spektrum refleksi begeser ke arah gelombang yang lebih panjang
dengan kondisi ambient temperaturnya meningkat. Gambar 15 adalah spektrum reflrksi dari
penurunan 1550nm yang berubah pada proses pemanasan dan pendinginannya.

Gambar 15. Spektrum refleksi pada dasar mendekati 1550 nm dengan perubahan temperatur
pada pemanasan dan pendinginan.

Gambar 16. Perubahan resonansi Gelombang dengan Temperatur


Panjang gelombang resonansinya berubah pada temperatur 2080 C yang ditunjukan pada
gambar 16. dapat dilihat responnya mendekati linier. Persamaan liniernya adalah:
..........................................................................................................(16)
.........................................................................................................(17)
harga slope-nya merupakan harga sensitifitas sensornya, yaitu 12.82 pm/C dan 12.54
pm/C. Jadi telah diketahui bahwa ambient temperature meningkat 1 C akan membangkitkan
pergeseran resonansi panjang gelombang 12.82pm kearah gelombang yang lebih panjang.
Alhasil, saat ambient temperature dan kelembaban berubah pada saat yang bersaman,perubahan
harga temperatur dapat ditentukan melalui pengaturan pergeseran panjang gelombang dikurangi
pergeseran panjang gelombang yang disebabkan variasi kelembaban.
Iuntuk pengujian kestabilannya, sensor ini dijaga dalam kondisi 50% RH dan 50C selama
100 menit, dan spektrum direkam setiap interval 10menit. Dapat dilihat pada gambar 17, sensor
yang diajukan ini sangat stabil dan hampir tak ada variasi harga pada 100menit. Respon RH dan
temperature pada sensor telah dipelajari pada percobaan lima hari kemudian. Berdasarkan kurva
variasi respon RH dan temperature, respon eror maximum RH dan temperature adalah 1.47% dan
0.0032%.
Pada sensor FPI yang diajukan ini, saat ambient temperature dan kelembaban berubah
pada saat yang bersamaan, kita bisa mendapatkan informasi RH terlebih dahulu dengan
memperhatikan harga variasi extinction ratio, dan kemudian mendapatkan pergeseran panjang
gelombang yang disebabkan oleh perubahan harga RH, akhirnya penentuan harga didapat dari
informasi temperatur melalui total pergeseran panjang gelombang dikurangi pergeseran panjang
gelombang yang disebabkan oleh perubahan harga RH, Dan hal ini menunjukan harga dari
perubahan RH dan temperatur. Alhasil, masalah sensor yang diajukan ini terhadap crosssensitivity dan penentuah perubahan harga dari RH dan temperatur secara bersamaan mendapat
keuntungan karena tipisnya PCF dan ultrathin PVA film.

Gambar 17. Kestabilan Sensor

KESIMPULAN

Kami mengajukan dan menunjukan sebuah sensor RH and temperature yang


pengukurannya secara bersamaan berdasarkan sistem FPI. Sensor ini dibuat dengan
penyambungan sebuah short length dari PCF ke SMF dan dibungkus oleh ultrathin layer dari PVA
film untuk PCF yang permukaanya terbelah. Panjang total kepala sensor hanya sekitar 110m.
Pembungkusan dengan Ultrathin PVA membuat sensor ini cepat dalam menentukan harga RH.
Hasil eksperimen menunjukan bahwa sensor dapat mengukur secara bersamaan dalam
menentukan harga RH dan temperatur melalui pengaturan kuat intensitas dan pergeseran panjang
gelombang dari spektrum lefleksinya. Alhasil, keuntungannya berupa ukuran yang praktis, lharga
murah, tingkat kefleksibelitas dan stabilitas yang tinggi, respon yang cepat, kemampuan
pembacaan perubahan harga RH dan temperatur secara bersama, dan baik dalam keimunitasan
terhadap pengaruh medan elektromagnetiknya membuat sensor yang diajukan ini menjadi aplikasi
yang lengkap untuk aplikasi beragam di lapangan.