Anda di halaman 1dari 10

http://wizajasnel.blogspot.com/2013/05/makalah-mata-kuliah-geomorfologi.

html
Makalah Mata Kuliah Geomorfologi Indonesia
MORFOLOGI NUSA TENGGARA TIMUR
Sistem Pegunungan Nusa Tenggara
Pulau-pulau Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal yang merupakan pe
rluasan dari bagian barat dari busur Banda :
1.
Geantiklinal dalam bagian utara membujur dari timur sampai ke Pulau Roma
, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara, Flores, Rinca, Komodo,
Sumbawa, Lombok, dan Bali.
2.
Busur luar dibagian selatan terdiri dari Pulau Timor, Seram, Roti, Sawu,
Raijua dan Dana Punggung geantiklinal itu bercabang dua di daerah Sawu, yaitu :
a.
Membentuk sebuah ambacang yang menurun ke arah laut melintasi Raijua, d
an Dana berakhir ke arah punggungan bawah laut pada palung di sebelah selatan Ja
wa.
b.
Merupakan rantai penghubung dengan jalur dalam yang melintasi pulau Sumb
awa.
Palung Belakang
Di sebelah timur Flores, palung belakang dari kepulauan Nusa Tenggara dibentuk o
leh bagian barat dari Basin Banda Selatan. Di sebelah utara Flores dan Sumbawa t
erbentang Laut Flores terdiri dari 3 bagian :
Laut Flores Barat Laut adalah sebuah dataran yang luas dan dangkal, menghubungka
n Lengan Selatan Sulawesi dengan Dangkalan Sunda.
Basin Flores Tengah berbentuk segitiga dengan puncaknya terletak di selatan vulk
an Lompobatang yang diduga ada hubungan dengan depresi Walanesia dari lengan Sel
atan Sulawesi.
Sebelah timur Flores terdiri dari punggungan dan palung diantaranya Selayar yang
menghubungkan Lengan selatan Sulawesi dengan punggungan bawah laut Batu Tara.
Palung Depan
Diantara Pulau Christmas dan punggungan bawah laut di sebelah selatan pulau Jaw
a terdapat parit dalam yang utama, membujur dari timur ke barat dalamnya 7450 m.
Palung depan bagian Jawa, dari sistem punggungan Sunda itu membentang ke arah t
imur sebuah palung yang sempit dalamnya 6000-7000 m, sampai di Sumba kedalamanny
a berkurang dan di sebelah selatan Sawu melengkung ke arah timur laut sejajar de
ngan pulau Timor. Sampai di Pulau Roti sebuah punggungan (1940) memisahkan bagia
n barat ini dari palung Timor (-3310 m). Palung di selatan Jawa itu di bagian se
latan dibatasi oleh sebuah pengangkatan dasar laut yang tidak jelas batasnya, me
lewati Pulau Christmas menuju dasar laut yang dalamnya 3000-4000 m di antara 108,
5 dan 114,5 BT laut dangkal yang terpisah pada 110 40 BT dan 12 30 LS. Bagian timur d
ari palung depan Timor itu dibatasi oleh dangkalan Australia atau dangkalan Sahu
l (Laut Arafura).
Busur Dalam (Inner Arc)
Busur dalam dari Nusa Tenggara menghubungkan Pulau Jawa dengan Busur Dalam Banda
, sehingga membentuk sebuah jalur panjang dari pulau-pulau vulkanis yang subur.
Busur dalam Nusa Tenggara terletak pada punggungan geantiklinal yang lebarnya 100
km pada ujung barat, berangsur-angsur makin ke timur makin berkurang sehingga s
ebelah timur Flores menjadi 40 km. Selat antara pulau-pulau barat dangkal, makin
ke timur makin dalam.
E.

Busur Luar (Outer Arc)


Kepulauan Nusa Tenggara yang termasuk busur luar ialah Pulau Dana, Raijua,
Sawu, Roti Semau, dan Timor. Punggung bawah luat dari selatan Jawa muncul sampai
1200 m di bawah permukaan laut, selanjutnya menurun ke arah timur sampai kedala
man 4000 m, kemudian sumbu geantiklianal naik lagi sampai ke Pulau Sawu, Dana, d
an Raijua.

Morfologi Pulau Flores


Flores dipisahkan dari Sumbawa oleh Selat Sape yaitu sebuah parit sempit yang da
lamnya lebih dari 200 m. Pulau Komodo dan Rinca termasuk puncak geantiklinal dar
i Flores Barat sampai Flores Tengah yang terdiri dari batuan Vulkanis Tertier da
n intrusi magmatis yang dapat dibandingkan dengan Pegunungan Selatan Jawa. Vulka
n yang lebih muda muncul di sepanjang pantai selatan Flores Barat yang dikenal d
engan vulkan Paluweh.
Di Flores Timur geantiklinal tenggelam kemudian tersambung dengan Solor, Adonara
, Loblem, dan Pantar yang terdiri dari vulkan muda yang aktif, kemudan melintasi
Alor, Kambing, Wetar dan Rembang, merupakan vulkan yang tidak aktif lagi. Pul
au-pulau itu terdiri dari endapan vulkanis dari zaman Tertier Akhir yang sebagia
n terdapat di bawah permukaan air laut.
G.
Morfologi Pulau Sumba
Pulau Sumba adalah mata rantai geologis yang terpenting antara busur dalam dan b
usur luar dari sistem pegunungan Sunda. Vulkan muda tidak ada, tanah tertutup ol
eh Deposit Marine Neogen Quarter yang tersebar secara luas merupakan bad land (tip
e perhiasan).
H.
Morfologi Pulau Sawu
Sawu mempunyai koral yang tingginya 300 m di atas permukaan laut dan mengelilin
gi pulau-pulau ini yang terdiri dari batuan Pre-Tertier. Punggungan Dana ,Raijua
, dan Sawu mempunyai kedudukan terpisah dari punggungan Roti Timor dan dipisahka
n oleh Selat Dao dalamnya 1000 m.
Morfologi Pulau Roti
Pulau Roti terdiri dari sedimen-sedimen yang terlipat dengan kuat dan tertutup o
leh batu karang Kwarter yang tingginya 430 m di atas permukaan laut.
Morfologi Pulau Timor
Pulau Timor terjadi karena pengangkatan geantiklinal yang lebar serta pulau-pula
u lain yang tersebar di Indonesia. Di pulau Timor terdapat depresi memanjang pad
a bagian puncak geantiklinal yang dapat diikuti dari Teluk Kupang sampai pada Mu
ara Sungai Lois. Berdasarkan keterangan penduduk asli pulau Timor hampir seluruh
nya tergenang oleh air laut dan punggungan yang tertinggi adalah Lakoan (1525).

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mempelajari mengenai geologi Indonesia dan kaitannya dengan geomorfologi Kepulau
an Indonesia, garis besar geomorfologi Kepulauan Indonesia,analisis geomorfologi
untuk identifikasi masalah lingkungan fisikal dan pengembangan wilayah Indonesi
a. Wilayah Indonesia terletak pada daerah tropis dan merupakan kesatuan wilayah
laut yang ditebari pulau-pulau atau kepulauan. Jarak terjauh Barat Timur 5.110 K
m. dan jarak terjauh Utara Selatan 1.118 Km. ini berarti panjang kepulauan Indon
esia menduduki + 1/8 equator.

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terletak di selatan katulistiwa pada pos
isi 80
120 Lintang Selatan dan 1180
1250 Bujur Timur merupakan salah satu propin
si yang terdiri dari kepulauan dengan 566 pulau, 432 pulau sudah mempunyai nama
dan sisanya sampai saat ini belum mempunyai nama dan dari seluruh pulau yang ada
, 42 pulau telah berpenghuni sedangkan sisanya belum berpenghuni. Terdapat tiga
pulau besar di propinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu pulau Flores, Sumba dan Timor
, selebihnya adalah pulau-pulau kecil yang letaknya tersebar pada perairan denga
n luas kurang lebih 200.000 km2. Kabupaten Sikka sendiri yang terletak di antara
800 22' 80 50' derajat lintang selatan dan 1210 55'40"
1220 41'30" bujur timur
merupakan salah satu kabupaten diantara sembilan kabupaten lainnya di Pulau Flor
es yang masing masing wilayah setiap kabupaten ada yang berada dalam satu darata
n Pulau Flores dan ada pula yang wilayah kabupatennya mencakup pulau pulauyang l
etaknya berada disekitar Pulau Flores itu sendiri.
Nusa Tenggara Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Sesuai dengan namanya,
provinsi ini meliputi bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Dua pulau terbesar d
i provinsi ini adalah Lombok yang terletak di barat dan Sumbawa yang terletak di
timur. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Mataram yang berada di Pulau Lombok. S
ebagian besar dari penduduk Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima
dan Sumbawa merupakan kelompok etnis terbesar di Pulau Sumbawa. Mayoritas pendud
uk Nusa Tenggara Barat beragama Islam (96%).
Kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara ialah gugusan pulau di sebelah timur Pu
lau Jawa, dari Pulau Bali di sebelah barat sehingga Pulau Timor di sebelah timur
. Kepulauan Sunda Kecil termasuk wilayah negara Indonesia kecuali bagian timur P
ulau Timor yang termasuk wilayah negara Timor Timur. Di Indonesia, kepulauan ini
terdiri dari tiga buah provinsi, yaitu (berturut-turut dari barat): Bali, Nusa
Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Sunda kecil juga memiliki cerita geologi seperti halnya pulau-pulau lainnya. Sec
ara goelogis Sunda kecil memeiliki karakteristik yang khas karena terdiri dari p
ulau-pulau kecil yang tersebar dimulai dari Pulau Bali hingga Pulau Timor. Sunda
kecil merupakan hasil bentukan dari lempeng Samudra Hindia yang bergerak kearah
utara dan mendesak lempeng Eurasia. Pulau-pulau di wilayah Sunda Kecil memiliki
banyak gunung api yang masih aktif, gunung api ini merupakan jaluran dari pegun
ungan Busur Sunda (Jaluran Pegunungan Mediteran).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kondisi Geomorfologi
Pulau-pulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang merupaka
n perluasan busur Banda di sebelah barat. Geantiklinal yang membujur dari timur
sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara
, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali. Sedangkan dibagian selatan di
bentuk oleh pulau-pulau Timor, Roti, Sawu, Raijua dan Dana. Punggungan geantikli
nal tersebut bercabang di daerah Sawu. Salah satu cabangnya membentuk sebuah amb
ang yang turun ke laut melewati Raijua dan Dana, berakhir ke arah punggungan baw
ah laut di selatan Jawa. Cabang lain merupakan rantai penghubung dengan busur da
lam yang melintasi daerah dekat Sunda.
a)
Palung Belakang
Di sebelah timur Flores dibentuk oleh bagian barat basin Banda selatan. Di sebel
ah utara Flores dan Sumbawa terbentang laut Flores, yang dibedakan menjadi tiga
bagian, yaitu:
1)
Laut Flores Barat laut, berupa dataran (platform) yang luas dan dangkal,
yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan dangkalan Sunda.
2)
Basin Flores Tengah, berbentuk segitiga dengan puncak terletak di sebela
h selatan volkan Lompobatang, yang berhubungan dengan depresi Walanae. Sedangkan
dasarnya terletak di sepanjang pantai utara Flores, yang merupakan bagian terda
lam (-5140).
3)
Laut Flores Timur terdiri dari punggungan dan palung diantaranya, yang m
enghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan punggungan bawah laut Batu Tara.

Di sebelah utara Bali dan Lombok palung belakang ini dibentuk oleh Laut Bali (le
bar 100 km dan dalam 1500 m) ke arah barat dasarnya berangsur-angsur terangkat s
ampai bersambung dengan laut dangkal di selat Madura.
b)
Busur Dalam
Busur dalam Nusa Tenggara merupakan kelanjutan dari Jawa menuju Busur Dalam Band
a. Di Nusa Tenggara merupakan punggungan geantiklinal. Selat diantara pulau di b
agian barat dangkal dan menjadi lebih dalam ke arah timur.
Struktur umum Lombok di sebelah utara merupakan zone volkanis dengan volkan akti
f Rinjani (zone Solo), dataran rendah Mataram (subzone Blitar). Di selatan berup
a pegunungan selatan dengan materi kapur Tertier dan breksi volkanis.
Bali dipisahkan oleh selat Bali terhadap Jawa. Zone di Bali sama dengan Jawa. Ba
gian utara merupakan bagian terluas terdiri dari volkan-volkan. Kuarter yang mas
ih aktif, menunjukkan kelanjutan kompleks volkan muda di Jawa. Dataran Denpasar
yang membentang pada kaki selatan volkan termasuk sub zone Blitar di Jawa. Datar
an ini dihubungkan oleh tanah genting yang menyempit dengan bukit-bukit kapur Te
rtier Ulu Watu (213 m) yang dapat dibandingkan dengan semenanjung Blambangan. Pu
lau Nusa Panida (529 m) antara Bali dan Lombok juga terdiri dari kapur Tertier i
ni.
Fisiografi Sumbawa yang khas adalah adanya depresi yang memisahkan geantiklinal
menjadi beberapa bagian, diantaranya berupa teluk di bagian timur. Teluk tersebu
t dipisahkan dari laut oleh pulau Mojo yang memberikan sifat khas dari depresi a
ntar pegunungan pada puncak geantiklinal. Sisi utara ditumbuhi oleh beberapa vol
kan muda. Volkan Ngenges, Tambora dan Soromandi menghasilkan batuan leucit. Sedi
men tertier dan batuan kapur alkali disebarkan secara luas di pulau Sumbawa. Hal
ini memberikan gambaran bahwa zone pegunungan Selatan Jawa terdapat di seluruh
pulau Sumbawa dan depresi menengah yang disebut zone Solo. Teluk Saleh merupakan
sebuah depressi terpencil dari zone Solo.
Pulau Flores dipisahkan dari Sumba oleh selat Sape. Komodo dan Rinca termasuk ke
dalam puncak geantiklinal Flores Tengah, yang terdiri dari batuan volkanis lebi
h tua (Tertier) dan intrusi magmatis yang dapat dibandingkan dengan Pegunungan S
elatan Jawa. Volkan-volkan yang lebih muda muncul di sepanjang pantai selatan Fl
ores Barat. Di Flores Timur geantiklinal itu berupa sumbu yang tenggelam sehingg
a batuan volkanis yang lebih tua dan intrusi granodiorit tidak begitu banyak, se
rta hanya terdapat volkan muda yang muncul dibagian puncaknya. Geantiklinal itu
bersambung disepanjang Solor, Adonara, Lomblen dan Pantar, dimana pulau-pulau te
rsebut terdiri dari volkan yang aktif. Sumbu itu kemudian melalui Alor, Kambing,
Wetar dan Romang. Di bagian ini busur dalam tidak memiliki volkan aktif. Pulaupulau tersebut tersusun dari endapan volkanis Tertier akhir yang sebagian terdap
at di bawah permukaan laut.
c) Palung Antara dengan Sumba
Palung ini berada di antara busur dalam volkanis Jawa-Bali-Lombok dan punggungan
dasar laut sebelah selatan Jawa. Bagian terdalam terdapat di selatan Lombok, be
rcabang dua ke arah timur menjadi dua cabang yaitu sebelah utara dan selatan Sum
ba. Cabang-cabang ini merupakan penghubung antara palung sebelah selatan Jawa da
n Basin Sawu antara Flores timur dan Roti. Lereng yang curam pada Wetar dan basi
n Sawu serta dasar laut yang datar menunjukkan adanya penurunan permukaan bumi.
Sedangkan ujung timur dan baratnya dibatasi oleh pengangkatan seperti sembul (ho
rst) di Kisar dan Sumba. Kedua pulau tersebut secara morfologis termasuk zone pa
lung antara.
d) Busur Luar
Pulau-pulau di nusa tenggara yang termasuk busur luar adalah: Dana, Raijua, Sawu
, Roti, Seman dan Timor. Punggungan dasar laut dari selatan Jawa muncul sampai 1
200 m dibawah permukaan laut, selanjutnya turun ke arah timur sampai 4000 m. Pal
ung antara tersebut sebagian terangkat. Selanjutnya sumbu geantiklinal itu naik
lagi sampai ke pulau-pulau Sawu, Dana, Raijua, dan Sawu.
Pulau sawu mempunyai terumbu karang yang tingginya 300 m dpl dan mengelilingi pu
lau ini yang tersusun dari batuan pre-tertier. Punggungan dana-Raijua-Sawu seron
g terhadap punggungan Roti-Timor, dari tempat itu dipisahkan oleh selat Daong. P
ulau Roti tersusun dari sedimen terlipat kuat dan tertutup oleh batu karang kuat
er yang tingginya 430 m dpl. Timor merupakan hasil geantiklinal yang lebar. Disa

mping itu terdapat depressi memanjang di puncaknya, melalui Teluk Kupang sampai
perbatasan Timor Leste dan berakhir di muara sungai Lois.
e) Palung Depan
Antar pulau Chrismast dan punggungan bawah laut di selatan Jawa terdapat cekunga
n dalam utama yang membujur arah timur-barat, kedalamannya 7450 m. Palung depan
Jawa dari sistem pegunungan Sunda itu membentang ke arah timur. Sampai di Sumba
kedalamannya berkurang dan di sebelah selatan Sawu melengkung ke timur laut seja
jar dengan Timor. Sampai di pulau Roti dipisahkan oleh punggungan (1940 m) terha
dap palung Timor. Palung di selatan Jawa itu di bagian selatan dibatasi oleh pen
gangkatan dasar laut yang tidak jelas batasnya melalui Pulau Chrismast menuju da
sar laut yang dalamnya 3000-4000 m. bagian timur palung Timor ini dibatasi oleh
dangkalan Australia atau dangkalan Sahul.
2.2 Geomorfologi Pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Timur
Menurut Umhgrove, pulau-pulau Nusa Tenggara Barat dan Timur merupakan hasil peli
patan pada miosen, bersamaan dengan pembentukan geantiklin Jawa Selatan. Pelipat
an pada miosen yang paling intensif terdapat diIrian dibagian utara kepala burun
g kemudian masuk ke bagian tengah Irian Jaya. Secara garis besar pulau-pulau di
NTB dan NTT dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok yang masing-masing mengarah
dari timur ke barat Barisan Utara: terdiri dari P. Kambing, P. Alor, P. Pentar,
P. Lomblen, P.Solor, P. Andonara, P. Flores, P. Rinca, P. Komodo, P. Sumba, P.
Lombok, dan P.Bali. Sedangkan barisan selatan terdiri dari : P. Timor, P. Semau,
P. Roti, P. Sawu,P. Raijua, P. Dana. Diantara barisan utara dan selatan terdapa
t P. Sumba yangmenurut Van Bemmelen merupakan penghubung dua barisan tersebut.
Pembagian fisiografis di P. Bali mirip dengan di P. Jawa, dimana dibagian selata
n P. Bali merupakan daerah kapur dan dibagian utara merupakan daerah vulkanis de
ngan beberapa puncaknya sebagai berikut: G. Bratan, Batukau, Batur, dan G. Agung
. Begitu halnya dengan P. Lombok dimana bagian utara berupa daerah vulkanis dan
dibagian selatan berupa daerah kapur. P. Sumbawa mempunyai bentuk yang agak ber
lainan, disini teluk saleh hampir memotong pulau tersebut menjadi dua bagian. Vu
lkan juga terdapat dibagian utara seperti G. Tambora. Kemudian untuk P. Flores p
osisinya mengarah kebarat daya-timur laut dengan beberapa vulkan yang menduduki
bagian utara maupun selatan.
Dapat kita lihat bahwa di kedua pulau ini terdapat dua mountain land (southern d
an northern) yang terbentuk : gunung api Mio-Pliosen yang sekarang tererosi taha
p tua membentuk pematang-pematang sempit tertoreh dalam, dan gununapi aktif Kuar
ter muda yang bentuknya masih kerucut. Ini mencerminkan perkembangan busur volka
nik bagian dalam seiring dengan bergeraknya zone subduksi ke utara. Di Lombok da
n Sumbawa jalur volkanik tua ada di sebelah selatan. Sisa-sisa gunungapi tua and
esitik-basaltik ini misalnya Gunung Mareje (716 m) di dekat Mataram Lombok atau
Gunung Sepakat dan Gunung Dinding di Sumbawa selatan. Di sekitar gunung ini dapa
t dipelajari dengan baik bagaimana asal dan sekuen gunung ini dalam hubungannya
dengan batuan sediment yang tersingkap di sekitarnya, apakah intrusi magmatik ya
ng menerobos batuan sediment lebih tua, apakah gunungapi tuayang di pinggirnya d
itumbuhi terumbu karang, dsb.
Pengangkatan Resen terjadi sangat kuat di sebelah selatan Lombok-Sumbawa. Batuga
mping dan konglomerat dari gunung api tua terangkat membentuk tebing pantai, mis
alnya di dekat Kuta dan Blongas di Lombok selatan (bandingkan dengan pantai Uluw
hal yang sama juga). Dataran tinggi sebelah selatan Taliwang d
atu, Bali selatan
i Sumbawa baratdaya, juga merupakan uplifted coral limestones yang dulunya tumbu
h menumpu (onlap) gunungapi andesitik ke sebelah selatan dan tenggaranya.
Telah kita ketahui bahwa Sunda Kecil yang akan kita pelajari disini merupakan su
atu kepulaun di sebelah timur Pulau Jawa yang terdiri dari beberapa pulau besar
misalnya Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores. Kondisi geologi wilayah NTB dengan b
atuan tertua berumur Tersier dan yang termuda berumur Kuarter, didominasi oleh B
atuan Gunungapi serta Aluvium (recent). Batuan Tersier di Pulau Lombok terdiri d
ari perselingan batupasir kuarsa, batulempung, breksi, lava, tufa dengan lensa-l
ensa batugamping, batugamping dan dasit.
Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari lava, breksi, tufa, andesit, batupasir t
ufaan, batulempung, dasit, tonalit, tufa dasitan, batugamping berlapis, batugamp

ing tufaan dan lempung tufaan. Batuan Kuarter di Pulau Lombok terdiri dari perse
lingan breksi gampingan dan lava, breksi, lava, tufa, batuapung dan breksi lahar
. Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari terumbu koral terangkat, epiklastik (k
onglomerat), hasil gunungapi tanah merah, gunungapi tua, gunungapi Sangeangapi,
gunungapi Tambora, gunungapi muda dan batugamping koral. Aluvium dan endapan pan
tai cukup luas terdapat di Pulau Sumbawa dan Lombok.
Data geologi yang disajikan untuk Pulau Lombok dari hasil pengamatan, maka dapat
dikerhukakan jenis batuan yang ada di Pulau Lombok. Terdapat dua unsur geologi
utama di Pulau Lombok yaitu lingkaran gunung berapi di sebelah utara dan lingkar
an rendah yang sudah tua di sebelah selatan. Diantara kedua bagian ini terdapat
lembah yang merupakah peralihan. Gunung berapi dilapisan bagian atasnya dan pegu
nungan tua di lapisan bawah dan yang paling berpengaruh adalah Gunung Rinjani, G
unung Punikan dan Gunung Nangi dibentuk oleh sedikit beresia dan larya, yang dis
ebarkan oleh Bresia Rinjani ke arah barat dan timur.
Struktur geologi regional Bali dimulai dengan adanya kegiatan di lautan selama k
ala Miosen Bawah yang menghasilkan batuan lava bantal dan breksi yang disisipi o
leh batu gamping. Di bagian selatan terjadi pengendapan oleh batu gamping yang k
emudian membentuk Formasi Selatan. Di jalur yang berbatasan dengan tepi utaranya
terjadi pengendapan sedimen yang lebih halus. Pada akhir kala Pliosen, seluruh
daerah pengendapan itu muncul di atas permukaan laut. Bersamaan dengan pengangka
tan, terjadi pergeseran yang menyebabkan berbagai bagian tersesarkan satu terhad
ap yang lainnya. Umumnya sesar ini terbenam oleh bahan batuan organik atau endap
an yang lebih muda.
Selama kala Pliosen, di lautan sebelah utara terjadi endapan berupa bahan yang b
erasal dari endapan yang kemudian menghasilkan Formasi Asah. Di barat laut sebag
ian dari batuan muncul ke atas permukaan laut. Sementara ini semakin ke barat pe
ngendapan batuan karbonat lebih dominan. Seluruh jalur itu pada akhir Pliosen te
rangkat dan tersesarkan.
Kegiatan gunung api lebih banyak terjadi di daratan, yang menghasilkan gunung ap
i dari barat ke timur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera, yaitu mula-mula ka
ldera Buyan-Bratan dan kemudian kaldera Batur, Pulau Bali masih mengalami geraka
n yang menyebabkan pengangkatan di bagian utara. Akibatnya, Formasi Palasari ter
angkat ke permukaan laut dan Pulau Bali pada umumnya mempunyai penampang Utara-S
elatan yang tidak simetris. Bagian selatan lebih landai dari bagian Utara.

BAB
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kepulauan Nusa Tenggara terletak di Indonesia bagian tengah yang tersebar sepanj
ang 2.850 km dari barat ke timur (1150 49 BT sampai 134054 BT) dan 1.450 km dari u
tara ke selatan (2036 LU sampai 110LS). Nusa tenggara berada diantara bagian timu
r pulau Jawa dan kepulauan Banda tediri dari pulau-pulalu kecil dan lembah sunga
i. Secara fisik, dibagian utara berbatasan dengan pulau Jawa, bagian timur dibat
asi oleh kepulauan Banda, bagian utara dibatasi oleh laut Flores dan bagian sela
tan dibatasi oleh Samudra Hindia Terdapat lima pulau besar yaitu Bali, Lombok, S
umbawa, Flores, dan Sumba. Selain itu terdapat pulau-pulau kecil lainnya.
Kondisi fisik Nusa Tenggara sangat berbeda dengan kawasan lainnya di Indonesia.
Kepulauan ini terdiri dari pulau-pulau vulkanis dan rangkaian terumbu karang yan
g tersebar di sepanjang lautan yang terdalam di dunia, dan tidak memiliki pulau
besar, seperti Jawa dan Sumatera.
Asal-usul kepulauan ini dan proses-proses yang dialami dalam pembentukan pulau-p
ulau yang sampai sekarang masih terjadi sangat mempengaruhi posisi, ukuran, dan
bentuk pulau. Sebagian besar pulau-pulau di kawasan ini, secara geologis, masih

sangat muda, umurnya berkisar antara 1-15 tahun dan tidak pernah merupakan bagia
n dari massa daratan lain yang lebih besar. Kerumitan kondisi geologi Nusa Tengg
ara disebabkan oleh posisinya di persimpangan tiga lempeng geologis yaitu lempen
g Asia, lempeng Australia, lempeng Pasifik dan dua benua yaitu Asia dan Australi
a.
Secara geologi nusa tenggara berada pada busur Banda. Rangkaian pulau ini dibent
uk oleh pegunungan vulkanik muda. Pada teori lempeng tektonik, deretan pegununga
n di nusa tenggara dibangun tepat di zona subduksi indo-australia pada kerak sam
udra dan dapat di interpretasikan kedalaman magmanya kira-kira mencapai 165-200
km sesuai dengan peta tektonik Hamilton (1979).
Pulau-pulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang merupaka
n perluasan busur Banda di sebelah barat. Geantiklinal yang membujur dari timur
sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara
, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali.
Kondisi iklim di Nusa tenggara barat maupun timur tidak mempunyai berbedaan yang
mencolok, hal ini terlihat dengan adanya kondisi alam yang hampir sama di wilay
ah tersebut, misalnya terdapatnya padang rumput yang luas sehingga mempengaruhi
iklim yang ada. Selain itu juga karena wilayah nusa tenggara yang berbentuk pula
u-pulau sempit juga mempengaruhi iklim yang ada disana. Nusa tenggara tergolong
beriklim kering, yang antara lain ditandai dengan jumlah curah hujan yang sediki
t, dan tidak terbagi merata. Selain itu pada daerah dengan iklim kering ditandai
dengan luasnya padang rumput.
Berdasarkan penyebarannya, maka prosentasi jenis-jenis tanah di wilayah Nusa Ten
ggara Timur antara lain terdiri dari tanah Mediteran 51%; tanah-tanah kompleks 3
2,25%; Latosol 9,72%; Grumusol 3,25%; Andosol 1,93%; Regosol 0,19% dan jenis tan
ah Aluvial 1,66% (Sumber Rencana Umum Kehutanan Propinsi Dati I Nusa Tenggara Ti
mur tahun 1987).
Nusa Tenggara merupakan kepulauan yang dikelilingi laut dan terletak di pesisir
pantai,hal ini juga akan mempengaruhi kondisi hidrologi. Secara umum keadaan hid
rologi Nusa Tengara sangat bergantung pada curah hujan setempat. Wilayah peraira
n laut Nusa Tenggara Barat termasuk pada perairan laut dalam dengan dasar perair
an yang terdiri dari batu karang dan pasir.Meskipun curah hujan di kabupaten lom
bok barat relatif rendah, di wilayah kota ini mengalir 4 buah sungai yang cukup
besar dan potensial sebagai sumber mata air permukaan. Sungai yang terdapat di P
ropinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mempunyai fluktuasi aliran air yang cuk
up tinggi, pada musim penghujan berair dan banjir, sedangkan pada musim kemarau
berkurang bahkan ada yang tidak berair sama sekali.
Pemanfaatan lahan untuk pengembangan potensi wilayah kepulauan Nusa Tenggara ber
beda-beda. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi fisik lahan yang ber
variasi dalam hal topografi, kelerengan, kesuburan tanah dan pasang surut air. A
dapun pemanfaatan lahan di Nusa Tenggara antara lain untuk pertanian, perhutanan
, pertambangan, perkebunan, perternakan, perikanan, dan pariwisata
DAFTAR PUSTAKA
http://ict.unm.ac.id/public/data/Bahan%20Ajar/Geografi/Geomorfologi%20Indonesia/
Geomorfologi%20-%20Bali%20dan%20Nusa%20Tenggara.pdf.
http://smile-nd.blogspot.com/2013/11/geomorfologi-nusa-tenggara.html.
http://one-geo.blogspot.com/2010/01/kondisi-geomorfologi-nusa-tenggara.html

Pulau-pulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang merupaka
n perluasan busur Banda di sebelah barat. Geantiklinal yang membujur dari timur
sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara

, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali. Sedangkan dibagian selatan di
bentuk oleh pulau-pulau Timor, Roti, Sawu, Raijua dan Dana. Punggungan geantikli
nal tersebut bercabang di daerah Sawu. Salah satu cabangnya membentuk sebuah amb
ang yang turun ke laut melewati Raijua dan Dana, berakhir ke arah punggungan baw
ah laut di selatan Jawa. Cabang lain merupakan rantai penghubung dengan busur da
lam yang melintasi daerah dekat Sunda.
Geomorfologi Nusa Tenggara
a) Palung Belakang
Di sebelah timur Flores dibentuk oleh bagian barat basin Banda selatan. Di sebel
ah utara Flores dan Sumbawa terbentang laut Flores, yang dibedakan menjadi tiga
bagian, yaitu:
1)
Laut Flores Barat laut, berupa dataran (platform) yang luas dan dangkal,
yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan dangkalan Sunda.
2) Basin Flores Tengah, berbentuk segitiga dengan puncak terletak di sebelah s
elatan volkan Lompobatang, yang berhubungan dengan depresi Walanae. Sedangkan da
sarnya terletak di sepanjang pantai utara Flores, yang merupakan bagian terdalam
(-5140).
3) Laut Flores Timur terdiri dari punggungan dan palung diantaranya, yang mengh
ubungkan lengan selatan Sulawesi dengan punggungan bawah laut Batu Tara.
4)
Di sebelah utara Bali dan Lombok palung belakang ini dibentuk oleh Laut B
ali (lebar 100 km dan dalam 1500 m) ke arah barat dasarnya berangsur-angsur tera
ngkat sampai bersambung dengan laut dangkal di selat Madura.
PETA GEOMORFOLOGI NUSA TENGGARA BARAT
Geomorfologi Nusa Tenggara
b) Busur Dalam
Busur dalam Nusa Tenggara merupakan kelanjutan dari Jawa menuju Busur Dalam Band
a. Di Nusa Tenggara merupakan punggungan geantiklinal. Selat diantara pulau di b
agian barat dangkal dan menjadi lebih dalam ke arah timur.
Struktur umum Lombok di sebelah utara merupakan zone volkanis dengan volkan akti
f Rinjani (zone Solo), dataran rendah Mataram (subzone Blitar). Di selatan berup
a pegunungan selatan dengan materi kapur Tertier dan breksi volkanis.
Bali dipisahkan oleh selat Bali terhadap Jawa. Zone di Bali sama dengan Jawa. Ba
gian utara merupakan bagian terluas terdiri dari volkan-volkan. Kuarter yang mas
ih aktif, menunjukkan kelanjutan kompleks volkan muda di Jawa. Dataran Denpasar
yang membentang pada kaki selatan volkan termasuk sub zone Blitar di Jawa. Datar
an ini dihubungkan oleh tanah genting yang menyempit dengan bukit-bukit kapur Te
rtier Ulu Watu (213 m) yang dapat dibandingkan dengan semenanjung Blambangan. Pu
lau Nusa Panida (529 m) antara Bali dan Lombok juga terdiri dari kapur Tertier i
ni.
Fisiografi Sumbawa yang khas adalah adanya depresi yang memisahkan geantiklinal
menjadi beberapa bagian, diantaranya berupa teluk di bagian timur. Teluk tersebu
t dipisahkan dari laut oleh pulau Mojo yang memberikan sifat khas dari depresi a
ntar pegunungan pada puncak geantiklinal. Sisi utara ditumbuhi oleh beberapa vol
kan muda. Volkan Ngenges, Tambora dan Soromandi menghasilkan batuan leucit. Sedi
men tertier dan batuan kapur alkali disebarkan secara luas di pulau Sumbawa. Hal
ini memberikan gambaran bahwa zone pegunungan Selatan Jawa terdapat di seluruh
pulau Sumbawa dan depresi menengah yang disebut zone Solo. Teluk Saleh merupakan
sebuah depressi terpencil dari zone Solo.
Pulau Flores dipisahkan dari Sumba oleh selat Sape. Komodo dan Rinca termasuk ke
dalam puncak geantiklinal Flores Tengah, yang terdiri dari batuan volkanis lebi
h tua (Tertier) dan intrusi magmatis yang dapat dibandingkan dengan Pegunungan S
elatan Jawa. Volkan-volkan yang lebih muda muncul di sepanjang pantai selatan Fl
ores Barat. Di Flores Timur geantiklinal itu berupa sumbu yang tenggelam sehingg
a batuan volkanis yang lebih tua dan intrusi granodiorit tidak begitu banyak, se
rta hanya terdapat volkan muda yang muncul dibagian puncaknya. Geantiklinal itu
bersambung disepanjang Solor, Adonara, Lomblen dan Pantar, dimana pulau-pulau te

rsebut terdiri dari volkan yang aktif. Sumbu itu kemudian melalui Alor, Kambing,
Wetar dan Romang. Di bagian ini busur dalam tidak memiliki volkan aktif. Pulaupulau tersebut tersusun dari endapan volkanis Tertier akhir yang sebagian terdap
at di bawah permukaan laut.
c) Palung Antara dengan Sumba
Palung ini berada di antara busur dalam volkanis Jawa-Bali-Lombok dan punggungan
dasar laut sebelah selatan Jawa. Bagian terdalam terdapat di selatan Lombok, be
rcabang dua ke arah timur menjadi dua cabang yaitu sebelah utara dan selatan Sum
ba. Cabang-cabang ini merupakan penghubung antara palung sebelah selatan Jawa da
n Basin Sawu antara Flores timur dan Roti. Lereng yang curam pada Wetar dan basi
n Sawu serta dasar laut yang datar menunjukkan adanya penurunan permukaan bumi.
Sedangkan ujung timur dan baratnya dibatasi oleh pengangkatan seperti sembul (ho
rst) di Kisar dan Sumba. Kedua pulau tersebut secara morfologis termasuk zone pa
lung antara.

Pulau-pulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang merupaka
n perluasan busur Banda di sebelah barat. Geantiklinal yang membujur dari timur
sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara
, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali. Sedangkan dibagian selatan di
bentuk oleh pulau-pulau Timor, Roti, Sawu, Raijua dan Dana. Punggungan geantikli
nal tersebut bercabang di daerah Sawu. Salah satu cabangnya membentuk sebuah amb
ang yang turun ke laut melewati Raijua dan Dana, berakhir ke arah punggungan baw
ah laut di selatan Jawa. Cabang lain merupakan rantai penghubung dengan busur da
lam yang melintasi daerah dekat Sunda.
Geomorfologi Nusa Tenggara
a) Palung Belakang
Di sebelah timur Flores dibentuk oleh bagian barat basin Banda selatan. Di sebel
ah utara Flores dan Sumbawa terbentang laut Flores, yang dibedakan menjadi tiga
bagian, yaitu:
1)
Laut Flores Barat laut, berupa dataran (platform) yang luas dan dangkal,
yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan dangkalan Sunda.
2) Basin Flores Tengah, berbentuk segitiga dengan puncak terletak di sebelah s
elatan volkan Lompobatang, yang berhubungan dengan depresi Walanae. Sedangkan da
sarnya terletak di sepanjang pantai utara Flores, yang merupakan bagian terdalam
(-5140).
3) Laut Flores Timur terdiri dari punggungan dan palung diantaranya, yang mengh
ubungkan lengan selatan Sulawesi dengan punggungan bawah laut Batu Tara.
4)
Di sebelah utara Bali dan Lombok palung belakang ini dibentuk oleh Laut B
ali (lebar 100 km dan dalam 1500 m) ke arah barat dasarnya berangsur-angsur tera
ngkat sampai bersambung dengan laut dangkal di selat Madura.
PETA GEOMORFOLOGI NUSA TENGGARA BARAT
Geomorfologi Nusa Tenggara
b) Busur Dalam
Busur dalam Nusa Tenggara merupakan kelanjutan dari Jawa menuju Busur Dalam Band
a. Di Nusa Tenggara merupakan punggungan geantiklinal. Selat diantara pulau di b
agian barat dangkal dan menjadi lebih dalam ke arah timur.

Struktur umum Lombok di sebelah utara merupakan zone volkanis dengan volkan akti
f Rinjani (zone Solo), dataran rendah Mataram (subzone Blitar). Di selatan berup
a pegunungan selatan dengan materi kapur Tertier dan breksi volkanis.
Bali dipisahkan oleh selat Bali terhadap Jawa. Zone di Bali sama dengan Jawa. Ba
gian utara merupakan bagian terluas terdiri dari volkan-volkan. Kuarter yang mas
ih aktif, menunjukkan kelanjutan kompleks volkan muda di Jawa. Dataran Denpasar
yang membentang pada kaki selatan volkan termasuk sub zone Blitar di Jawa. Datar
an ini dihubungkan oleh tanah genting yang menyempit dengan bukit-bukit kapur Te
rtier Ulu Watu (213 m) yang dapat dibandingkan dengan semenanjung Blambangan. Pu
lau Nusa Panida (529 m) antara Bali dan Lombok juga terdiri dari kapur Tertier i
ni.
Fisiografi Sumbawa yang khas adalah adanya depresi yang memisahkan geantiklinal
menjadi beberapa bagian, diantaranya berupa teluk di bagian timur. Teluk tersebu
t dipisahkan dari laut oleh pulau Mojo yang memberikan sifat khas dari depresi a
ntar pegunungan pada puncak geantiklinal. Sisi utara ditumbuhi oleh beberapa vol
kan muda. Volkan Ngenges, Tambora dan Soromandi menghasilkan batuan leucit. Sedi
men tertier dan batuan kapur alkali disebarkan secara luas di pulau Sumbawa. Hal
ini memberikan gambaran bahwa zone pegunungan Selatan Jawa terdapat di seluruh
pulau Sumbawa dan depresi menengah yang disebut zone Solo. Teluk Saleh merupakan
sebuah depressi terpencil dari zone Solo.
Pulau Flores dipisahkan dari Sumba oleh selat Sape. Komodo dan Rinca termasuk ke
dalam puncak geantiklinal Flores Tengah, yang terdiri dari batuan volkanis lebi
h tua (Tertier) dan intrusi magmatis yang dapat dibandingkan dengan Pegunungan S
elatan Jawa. Volkan-volkan yang lebih muda muncul di sepanjang pantai selatan Fl
ores Barat. Di Flores Timur geantiklinal itu berupa sumbu yang tenggelam sehingg
a batuan volkanis yang lebih tua dan intrusi granodiorit tidak begitu banyak, se
rta hanya terdapat volkan muda yang muncul dibagian puncaknya. Geantiklinal itu
bersambung disepanjang Solor, Adonara, Lomblen dan Pantar, dimana pulau-pulau te
rsebut terdiri dari volkan yang aktif. Sumbu itu kemudian melalui Alor, Kambing,
Wetar dan Romang. Di bagian ini busur dalam tidak memiliki volkan aktif. Pulaupulau tersebut tersusun dari endapan volkanis Tertier akhir yang sebagian terdap
at di bawah permukaan laut.
c) Palung Antara dengan Sumba
Palung ini berada di antara busur dalam volkanis Jawa-Bali-Lombok dan punggungan
dasar laut sebelah selatan Jawa. Bagian terdalam terdapat di selatan Lombok, be
rcabang dua ke arah timur menjadi dua cabang yaitu sebelah utara dan selatan Sum
ba. Cabang-cabang ini merupakan penghubung antara palung sebelah selatan Jawa da
n Basin Sawu antara Flores timur dan Roti. Lereng yang curam pada Wetar dan basi
n Sawu serta dasar laut yang datar menunjukkan adanya penurunan permukaan bumi.
Sedangkan ujung timur dan baratnya dibatasi oleh pengangkatan seperti sembul (ho
rst) di Kisar dan Sumba. Kedua pulau tersebut secara morfologis termasuk zone pa
lung antara.