Anda di halaman 1dari 19

BAB I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini, kanker menjadi salah satu penyakit pembunuh utama di dunia,
baik di negara maju maupun di negara yang sedang

berkembang. Situasi

sekarang di negara-negara maju seperti Amerika, Canada dan Jepang dalam tiga
orang terdapat seorang meninggal karena kanker. Fenomena yang sering terjadi
adalah seseorang diketahui mengidap kanker ketika telah berada pada stadium
akhir (Lei Shu Hong, 2013).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Serikat Pengendalian Kanker
Internasional (UICC) memprediksi, akan terjadi peningkatan lonjakan penderita
kanker sebesar 300 persen di seluruh dunia pada tahun 2030. Dari jumlah
tersebut 70% berada di negara berkembang seperti Indonesia. Sementara itu
Kepala Departemen Radioterapi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengatakan
bahwa, jumlah penderita kanker di Indonesia kian meningkat. Data dari
Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa prevalensi kanker mencapai 4,3
banding 1.000 orang. Padahal data sebelumnya menyebutkan prevalensinya
1 banding 1.000 orang (Kemenkes, 2013).
Seiring dengan peningkatan jumlah penderita kanker di dunia, saat ini juga
telah banyak di temukan dan dilakukan terapi modalitas modern untuk mengobati
penyakit kanker. Beberapa diantaranya dengan menggunakan terapi Bone
Marrow Transplantation (BMT), Biotherapy dan Clinical Trials.
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan khususnya dalam terapi kanker modern tersebut, maka sebagai tenaga
kesehatan khususnya magister keperawatan kita dituntut untuk mampu
mengembangkan ilmu pengetahuan dan riset dalam penanganan penyakit kanker.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan wacana tentang penanganan kanker dengan menggunakan terapi
modalitas pada penyakit kanker.
2. Tujuan Khusus
a.

Memberikan wacana tentang terapi Bone Marrow Transplantation (BMT)

b. Memberikan wacana tentang Biotherapy


c.

Memberikan wacana tentang Clinical Trials

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Bone Morrow Tranplantation ( BMT )
1. Definisi
Transplantasi sumsum tulang adalah suatu proses menggantikan sumsum
tulang yang sakit atau rusak dengan sumsum tulang yang memiliki fungsi
normal ( shirley E.Otto,2005).Transplantasi sumsum tulang adalah suatu
metode terapi untuk berbagai keganasan dan penyakit non keganasan
Gambar 1. Donor Bone Marrow Cells Proliferate Recipient Bone Marrow

Sumber : www.medindia.net
2. Jenis Transplantasi Sumsum Tulang
a. Transplantasi sumsum tulang alogenik digunakan terutama untuk
penyakit sumsum tulang dan bergantung pada ketersediaan antigen
leukosit manusia (marker sel) yang cocok dengan donor, yang
kemungkinan sangat membatasi jumlah transplan.Jika ditemukan donor
alogenik, kira-kira 1-2 liter sumsum tulang harus amankan dibawah
anastesi umum. Resipien harus menerima dosis kemoterapi yang ablatif
dan kemungkinan Iradiasi Tubuh Total (Total Body Iradiation/TBI) untuk
menghancurkan semua sumsum tulang sebelumya dan penyakit
malignasi. Sumsum donor yang telah diambil diinfuskan secara intravena
3

kedalam tubuh resipien dan mengalir ke tempat dalam tubuh yang


menghasilkan sumsum tulang baru ini dikenal dengan nama engraftmen.
Ketika engraftment

telah selesai (2 sampai 4 minggu, kadang lebih

lama). Sumsum tulang yang baru menjadi berfungsi dan mulai


menghasilkan sel-sel darah merah,sel darah putih, dan keping darah.
b. Transplantasi sumsum tulang otologus dipertimbangkan untuk dilakukan
pada pasien dengan penyakit sumsum tulang yang tidak memiliki donor
yang cocok untuk TST ologenik dan bagi pasien yang mempunyai
sumsum tulang yang sehat tetapi membutuhkan dosis sumsum tulang
ablatif kemoterapi untuk menyembuhkan malignasi agresifnya.
c. Transplantasi sumsum tulang singenik adalah tipe transplan yang paling
jarang karena transplan ini membutuhkan saudara kandung identik untuk
sumsum tulangnya. Jelasnya bahwa transplantasi singenik tidak
menyebabkan rejeksi sumsum karena donor adalah jaringan identik yang
sesuai dengan resipien. Proses transplantasi dan pengambilannya sama
dengan trasnplan singenik juga seperti trasnplan singenik juga seperti
trasnplan alogenik.
3. Prosedur Transplantasi Sumsum Tulang
a. Kegiatan Praterapi
Pengkajian status fisik dan psikososial resipien dan donor secara
menyeluruh.
b. Panen Sumsum Tulang
Memanen adalah proses pengambilan sumsum tulang untuk keperluan
transplantasi, di lakukan di kamar bedah dengan anestesi umum. Metode
pengambilan dengan cara penusukan dberulang pada krista iliaka
posterior. Jumlah yang lazim adalah 10cc/kg BB. Sumsum tulang harus
dipisahkan dengan lemak
c. Regimen Perkondisian
Regimen pengkondisian adalah proses penyiapan pasien untuk menerima
sumsum tulang, meliputi kegiatan mengobliterasi penyakit keganasan,
menghancurkan status imunologis pasien dan membuat ruangan rongga
4

tulang untuk proliferasi sel bakal yang telah ditransplantasikan. Regimen


pengkondisian ini melibatkan pemberian kemoterapi dosis tinggi dengan
atau tanpa iradiasi tubuh total.
d. Transplantasi Sumsum
Memasukan sumsum tulang ke dalam tubuh resipien melalui infus. Pada
transplantasi autolog, sumsum tulang beku dibawa kedalam kamar
resipien lalu dicairkan dan segera diinjeksikan dengan cepat secara
intravena melalui kateter vena sentral. Pada transplantasi alogenik,
sumsum tulang diberikan langsung pada saat pengambilan melalui kateter
vena sentral.
e. Periode Pencangkokan
Dilakukan 2 sampai 3 minggu segera setelah transplantasi. Selama masa
ini pasien akan mengalami pansitopenia hebat dan imunosupresi.
4. Komplikasi Transplantasi Sumsum Tulang ( Smeltzer & Bare, 2002 )
Resipien transplantasi akan mengalami komplikasi toksik yang berhubungan
dengan terapi imunosupresi. Komplikasi utama yang khas adalah : penolakan
transplantasi, infeksi, pneumonitis, penyakit resipien lawan donor (GraftVersus-Host-Disease/GVHD), dan rekurensi penyakit awal.

5. Implikasi Keperawatan
Perawat mempunyai peranan yang besar dalam pelaksanaan BMT oleh
karena itu perawat perlu paham tentang BMT mulai dari persiapan hingga
monitoring efek samping agar dapat melakukan asuhan keperawatan secara
tuntas.
Hal yang harus dipahami perawat, meliputi :
a. Pengkajian Pratransplantasi
1) Resipien sumsum tulang
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, biopsi dan aspirasi sumsum
tulang

sitogenik, kimia darah, hitung darah lengkap, trombosit,

retikulosit, penentuan tipe ABO dan rhesus, profil koagulasi,


5

imunoelektroforesis serum, imunoglobulin kuantitatif, penapisan


hepatitis, titer sitomegalovirus, HIV, herpes simplek, urinalisis, klirens
kreatinin, dan kuantitatif protein, rongent toraks, EKG, ekokardiogram,
tes fungsi paru, rongent sinus,tes alergi, konsultasi terapi fisik,
konsultasi gigi, konsultasi diit, konsultasi psikolog/psikiatri, konsultasi
mata, konsultasi bagian bedah
2) Donor sumsum tulang
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, profil kimia, hitung darah
lengkap,trombosit, penentuan tipe ABO dan rhesus, penapisan
hepatitis, titer sitomegalovirus, HIV, dan herpes simplek, rongent
torak, EKG, urinalisis
b. Monitoring efek samping dan tindakan keperawatan
1) Mukositis dan diare. Tindakan yang dilakukan adalah pemberian
nutrisi parenteral dan menejemen nyeri.
2) Mual dan muntah. Tindakan yang diberikan adalah maintenance
pemenuhan nutrisi adekuat dan kolaborasi pemberian antiemetik.
3) Kehilangan rambut. Tindakan yang diberikan adalah memenuhi
kebutuhan konsep diri terutama yang berkaitan dengan estetika.
4) Infertilitas. Tindakan yang dilakukan adalah menyediakan konsultan
yang dapat membantu klien terapi fertilitas.
5) Keracunan organ ( hati, paru,tulang ). tindakan yang dilakukan adalah
meminimalisasi gangguan kebutuhan yang terkait fungsi organ
tersebut.
6) Kanker sekunder. Perlu mengkaji faktor resio kanker lanjutan sebelum
tindakan BMT.
6. Kajian Jurnal

Judul penelitian : Allogenic bone marrow transplantation compared to


peripheral blood stem cell transplantation for the treatment of hematologic
malignancies : a meta-analysis based on time-to-event data from randomized
controlled trials oleh Chang ( 2011 ).
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa :
a. Dibandingkan PBSCT (Peripheral Blood Stem Cell Transplantation),
BMT bisa menurunkan hematopoetik dan bersama-sama memiliki
persamaan dalam hal ini /khususnya dari penyakit akut dan kronik
GVHD (Graft-Versus-Host-Disease), gabungan antara TRM (TransplantRelated Mortality),LFS (Leukemia-Free-Survival), dan OS (Overall
Survival) yang menggunakan dua jenis pengobatan harus selalu
diobservasi, dikarenakan memiliki resiko tinggi khususnya untuk
penyakit maligna setelah menggunakan BMT. Ada beberapa pendapat
yang bisa dikombinasi dari penyakit akut GVHD menggunakan PBSCT,
lebih sedikit atau lebih rendah angka kejadian untuk penyakit akut
dibandingkan setelah menggunakan OS
b. Penurunan signifikan kejadian nilai II-IV akut GVHD setelah BMT
dibandingkan setelah PBSCT
B. Konsep Bioterapi
1. Definisi
Bioterapi didefinisikan sebagai terapi dengan agens yang diambil dari sumber
biologis dan atau yang mempengaruhi respon biologis (Black & Hawsk ,
2005). Inti dari bioterapi adalah meningkatkan respons immunitas. Istilah
imunoterapi sering digunakan bergantian dengan bioterapi . Tujuan terapi
adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
2. Jenis-Jenis/Macam-Macam Bioterapi Dan Mekanisme Kerjanya
Macam-macam bioterapi ( imunoterapy ) menurut Zen Yixin dan Xia
Jianchuan dalam Sherley ( 2005 ) terutama mencakup 5 jenis yaitu :
a. Stimulasi nonspesifik imunitas
7

1) BCG ( Bacille Calmette Guerin )


Gabungan BCG dan Kemoterapi untuk terapi leukemia pada anak
dengan hasil relatif baik. Terbukti pula sebagai terapi melanoma ,
limfosarcoma, dan karsinima buli-buli . Diberikan dengan cara
digoreskan pada kulit , suntikan intra dermal dan untuk kanker bulibuli dengan diinfuskan ke dalam buli-buli.
2) Corynebacterium parpum ( CP )
CP diberikan intra capital untuk menghilangkan efusi pleura, acites
maligna. Injeksi intra tumor pada kanker paru, mamae, melanoma
terhadap tumor stadium lanjut berefek positif.
3) Polisakarida
Yang sering digunakan adalah Lentinan { ( polisakarida jamur
Xianggu ( lentinus edodes ) }, krestin { polisakarida jamur yunzhi
( Coriolus versicolor)}, alfa poliresistin ( peptida polosakarida dan
biakan streptokokus alfa hemolitikus strain 33 ) . semua termasuk
imunostimulan nonsfesifik , dapat merangsang hiperplasia makropag
mononukleat , meningkatkan aktivitas sel T dan sel NK, secara klinis
terutama untuk terapi adjuvan tumor saluran cerna.
4) Ekstrak Jaringan dan sel imun
Sedian berasal dari jaringan imunitas ( kelenjar timus , limpa ,
kelenjar limfe dan sel limfosit tepi , memiliki efek memacu
deferensiasi maturasi sel T dan respon sel T terhadap antigen ,
memperkuat aktivitas sel CTL dan NK, memulihkan fungsi imun
pasien dengan fungsi imunitas sel T yang rendah serta membantu
tubuh melawan infeksi virus dan tumor.
b. Efek Anti Tumor dari sitokin
1) Interleukin-2 ( IL-2 ) berfungsi :merangsang sel T teraktivasi untuk
tumbuh dan berdeferensiasi memperkuat efek letal dari sel T,
merangsang proliferasi leukosit dan produksi imunoglobulin

memacu sel B mengekspresikan reseptor IL-2 , merangsang efek


sitotoksik dari makrofag mononukleat, memacu proliferasi sel NK,
8

memperkuat efek letal dari sel NK.melalui aktivasi LAK dan Faktor
yang dibutuhkan dari amplifikasi dan aktivasi LAK dan TIL. Melalui
aktivasi efek sitotoksi dari sel CTL, makrofag, sel NK, sel LAK dan
TIL serta menginduksi sel efektor memproduksi TNF dan sitokin lain,
menyebabkan sel tumor terbasmi. IL-2 juga dapat berefek antitumor
melalui stimulasi produksi antibodi.
2) Interferon
Efeknya mencakup:meredakan kecepatan replikasi sel ,efek sitotoksi
langsung

membunuh

sel

kanker,

memacu

diferensiasi

sel,

menginduksi sel tumor, berdeferensiansi normal, mengubah sifat


permukaan sel kanker meningkatkan ekspresi anti gen MHCI dan
MHCII pada sel tumor, mengaktifasi makrofag mononukleat, sel T,
sel NK, modulasi produksi antibodi, dan lain-lain.
3). Faktor nekrosis tumor (TNF)
TNF terdiri atas 2 golongan yaitu, TNF- (dihasilkan dari makrofag
mononukleat) dan TNF- (dihasilkan dari limfosit T). TNF berefek
antitumor, modulasi respon imun, modulasi metabolisme fisik dan
induksi deferensiasi sel, stimulasi pertumbuhan sel, induksi efek
antivirus sel dan aktifitas biologis lainnya. TNF melalui efek
sitotoksik sel makrofag, sel NK, CTL, dan LAK berefek mematikan
sel tumor atau menghambat proliferasinya, menyebabkan nekrosis
tumor, volumenya mengecil hingga lenyap. Juga dapat berefek
memutus pasokan darah tumor, memacu reaksi inflamasi hospes,
stimulasi produksi antibodi sitotoksik spesifik tumor dan lain lain.
4). Faktor stimulasi koloni (CSF)
CSF adalah sejenis protein spesifik yang memodulasi pembukaan sel
darah, termasuk faktor stimulasi koloni, granulosit (G-CSF), faktor
stimulasi koloni makrofag ( M-CSF), dan faktor stimulasi koloni
multiguna (multi-CSF, yaitu IL-3), juga mencakup eritroprotein

(EPO) dan trombopoietin (TPO), dll.Berperan dengan cepat


meningkatkan jumlah granulosit, membantu sumsum tulang pulih dari
kondisi depresi akibat radioterapi dan kemoterapi dan memperkuat
efek infeksi.
c. Antibodi monoklonal dalam terapi tumor
Antibodi monoklonal adalah antibodi spesifik yang langsung melawan
antigen tertentu pada permukaan sel. Antibodi monoklonal ( MAb) dapat
mendeteksi secara dini kanker dan dapat digunakan sebagai terapi kanker
bersama kemoterapi dan radioisotop.
d. Imunoterapi selular adoptif
Imono selular adoptif adalah menginfuskan sel efektor imun antitumor
untuk meningkatkan imunitas pasien melawan tumor. Dewasa ini sel imun
aktif yang digunakan untuk imunoterapi adoptif terutama mencakup
beberapa jenis berikut:
1) Sel pembunuh yang diaktivasi limfokin (LAK/ lymphokine activated
killer cells)
2) Limfosit infiltrasi tumor (TIL)
3) Sel pembunuh diinduksi sitokin (CIK/ cytokine induced killer cells)
4) Sel efektor antitumor lainnya, yaitu sel pembunuh diaktivasi antigen
tumor (TAK/ tumor antigen activated killer cell), monosit pembunuh
teraktivasi (AKM), sel pembunuh alamiah (NK), limfosit T sitotoksik
(CTL) dll. Mereka memiliki potensi penggunaan klinis yang luas.
e. Terapi vaksin tumor
Prinsip dasar vaksin tumor adalah menggunakan antigen tumor, melalui
imunitas aktif menginduksi tubuh menghasilkan efektor antitumor
spesifik, merangsang mekanisme imun protektif tubuh sendiri hingga
dapat menterapi atau mencegah rekurensi tumor.
f. Terapi gen terhadap tumor

10

Yang dimaksud terapi gen adalah memasukkan gen berfungsi normal ke


dalam sel target untuk mengoreksi atau memperbaiki defek akibat gen
patogenik, hingga mencapai tujuan terapi.
3. Mekanisme Kerja Bioterapi (Zhong , 2011 )
Mekanisme yang beragam telah dilakukan

oleh obat bioterapi

untuk

mencapai terapi efektif dan modulasi penyakit . Hal ini termasuk penggantian
enzim langsung, stimulasi sinyal respons biologis , enzim inhibisi , fungsi
efektor , Toksin konjugasi ,sitokin dan blokade faktor pertumbuhan .
4.

Keselamatan Dan Efek Samping Dari Bioterapi ( Zhong, 2011)


Penggunaan bioterapi dalam pengobatan kanker membawa risiko respon imun
dan berbagai efek samping yang terkait dengan target spesifik dan efek
samping organ-spesifik. Efek samping Bioterapi, meliputi :
a. Reaksi imun akut
Reaksi anafilaksis akut

dan anafilaktoid biasanya digambarkan untuk

cetuximab yang dimiliki dikaitkan dengan antibodi IgE yang sudah ada
terhadap galaktosa - 1,3- galaktosa yangdiekspresikan pada molekul
cetuximab.
b. Imunogenisitas
c.
Infeksi
d. Penyakit autoimun
Bioterapi seperti antibodi monoklonal memiliki kapasitas

tindakan

imunomodulator menyebabkan berbagai kondisi , seperti Lupus , penyakit


tiroid , dan kolitis autoimun .

Anti - sitotoksik seperti ipilimumab dan

tremelimumab meningkatkan stimulasi


antitumor
e.

tetapi

juga

menyebabkan

sel T telah terbukti sebagai


enterocolitis

autoimun

immunerelated efek samping seperti ruam dan hepatitis.


Kanker
Beberapa terapi antibodi seperti infliximab dan ditemukan merangsang
tumorigenicity pada pasien auto-imun .

f. Gangguan trombosit dan trombotik


11

Beberapa bioterapi dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit.


g. Dermatitis
Antibodi EGFR - spesifik cetuximab tersebut dan panitumumab umumnya
dapat menyebabkan ruam kulit pada wajah dan bagian atas tubuh,
diperkirakan bagian aksi farmakosinamik.
h. Cardiotoxicity
Trastuzumab , antibodi monoklonal manusiawi

yang digunakan untuk

pengobatan kanker payudara ditemukan sebagai cardiotoxicity peristiwa


buruk dan tak terduga.
i. Hiper Sitokin
Sitokin

storm

adalah

hypercytokinaemia

tidak

terkendali

yang

menyebabkan beberapa organ sebagai efek samping menonjol pada


penggunaan

muromonab , alemtuzumab , rituximab yaitu antibodi

monoklonal manusiawi menyebabkan

sitokine storm parah ketika

diberikan kepada enam sukarelawan pria sehat.


5. Implikasi Keperawatan Pada Pasien Yang Diberikan Bioterapi
Asuhan keperawatan pada pasien yang dilakukan pengobatan dengan
bioterapi dapat memberikan hasil yang bermakna sehingga pasien dapat
meningkatkan kualitas hidupnya, namun demikian tidak jarang terjadi efek
samping mulai dari yang ringan sampai yang berat. Adanya efek samping
yang timbul dapat menimbulkan kecemasan dan ketidak berdayaan serta
akibat yang lebih fatal. Perawat mempunyai peran yang sangat penting dalam
manajement asuhan keperawatan pasien yang dilakukan bioterapi. Untuk
dapat melakukan asuhan keperawatan dengan baik dibutuhkan pengetahuan
dan kompetensi yang baik khususnya yang terkait dengan pasien kanker dan
bioterapi .Peran perawat difokuskan pada memberikan pendidkan kesehatan
tentang prosedur bioterapi yang akan dilakukan,hal-hal yang mungkin timbul
atau dirasakan pasien berkaitan dengan efek samping dan hal- hal atau
intervensi keperawatan yang harus dilakukan jika terjadi efek samping.
12

6. Kajian Ilmiah Bioterapi


Trends pengobatan kanker saat ini adalah mengkombinasikan bioterapi
dengan kemoterapi (OShaughnessy, 2011).Hal ini akan di bahas dalam
clinical trials.

Pemberian bioterapi bersamaan dengan kemoterapi akan

memberikan pengaruh lebih signifikan karena kemoterapi bertujuan untuk


menghancurkan sel- sel kanker dan bioterapi meningkatkan imunitas klien
kanker. Hal tersebut sesuai dengan penelituan yang dilakukan oleh Koji Oba (
2009 ) berjudul : Individual Patient Based Meta- Analysis of Lentinan for
Unresectable/Recurent Gastric Cancer Penelitin ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh imunokemoterapi

dengan lentinan dibandingkan

dengan kemoterapi saja di evaluasi pada pasien dengan kanker lambung


melalui metaanalisis. Metode yang digunakan adalah randomised control
trials
Dari hasil analisis didapatkan bahwa lentinan secara signifikan
memperpanjang kelangsungan hidup pada pasien kanker lambung stadium
lanjut yang sudah dilakukan operasi dan kambuh berulang

( logrank

stratified p=0,011). Rasio hazard keseluruhan adalah 0,80. ( interval


kepercayaan 95 % =0,68 0,95).
C. Konsep Clinical Trials
1. Definisi
Clinical Trials adalah studi yang dilakukan untuk mengevaluasi terapi atau
pengobatan baru ( Black & Hawks, 2009). Clinical trial dilakukan untuk
membuktikan temuan-temuan ilmu pengetahuan baru yang telah diuji secara
invitro sehingga dapat menimbulkan hal baru yang efektif diterapkan secara
nyata pada manusia atau invivo.

13

2. Desain Clinical Trials


Clinical trials terdiri dari 4 fase, yaitu :
a. Fase I
Fase I merupakan fase awal percobaan mengevaluasi obat baru atau
kombinasi obat pada manusia. Tujuan pengujuan adalah mempelajari
farmakologi obat pada manusia, menentukan Maximum Tolerated Dose

MTD), menggambarkan respons obat tersebut pada tubuh manusia. Pada


pengujian ini tidak ada jaminan perbaikan kondisi pasien sebagai subyek
uji. Subyek uji sedikit, dengan kondisi penyakit yang kronis dan penyakit
yang tidak ada obatnya.
b. Fase II
Merupakan tindak lanjut dari fase I, jika ditemukan ada ketidak efektifan
hasil uji. Pada fase ini dapat berupa percobaan agen/obat tunggal atau
kombinasi beberapa obat. Fase ini bertujuan untuk menentukan efektifitas
obat terhadap penyakit tertentu seperti tumor. Subyek uji adalah pasien
dengan kondisi tertentu dengan jumlah yang lebih banyak dan tanpa
kelompok kontrol. Contoh fase II adalah pengujian obat kanker. Jika obat
A diberikan pada kanker tertentu maka mempunyai efektifitas 30%, jika
obat B diberikan pada pasien yang sama maka mempunyai efektifitas 40%.
Maka jika kedua obat itu digabungkan/kombinasi maka kemungkinan akan
mendapat efek 70% dalam fase II clinical trials.
c. Fase III
Merupakan tindakan pengujian pengobatan baru dibandingkan dengan
pengobatan standar. Maka pada fase ini memerlukan kelompok kontrol
yang mengikuti terapi standar. Hasilnya adalah bagaimana efektifitas
terapi baru dibandingkan terapi standar. Proses sampling dengan
randomized, dan dilakukan pengendalian terhadap faktor-faktor

bias

dalam percobaan seperti lingkungan, respons penyakit dan sebagainya.

14

Sampel dalam jumlah besar. Contoh pengujian obat kanker baru


dibandingkan dengan obat kanker standar yang biasa di pakai.
d. Fase IV
Fase ini adalah fase mengenalkan obat baru yang telah lolos pengujian
pada fase sebeumnya. Maka pada fase ini lebih pada memonitor efek obat.
3. Hasil Clinical Trials
a. Clinical trials fase I

1) Krop.et.al ( 2010), tentang Phase I Study of Trastuzumab-DM1, an


HER2 Antibody- Drug Conjugate, iven Every 3 Weeks to Patients
With HER2-Positive Metastatic Breast Cancer. Tujuan penelitian
untuk mengevaluasi keamanan, farmakokinetik dan eliminasi obat
Trastuzumab-DM1. Metode penelitian dengan kohort studi di mana
sampel di berikan obat Trastuzumab-DM1dengan dosis mulai dari 0,3
mg/kg hingga 4,8 mg/kg. Hasilnya MTD didapatkan 3,6 mg/kg,
eliminasi obat tercepat <1,2 mg/kg. efek samping yang ditemukan
adalah trombositopenia, peningkatan transaminase, kelemahan, mual
dan muntah dalam taraf ringan ( grade < 1). Maka disimpukan obat ni
mempunyai efek toksik yang reversible dan mengunungkan.
Disarankan dilakukan uji pada pasien kanker payu dara pada stadium
selanjutnya pada fase II dan III.
2) Ryan.et.al (2010), tentang Phase I Clinical Trial of the CYP17
Inhibitor Abiraterone Acetate Demonstrating Clinical Activity in
Patients With Castration-Resistant Prostate Cancer Who Received
Prior Ketoconazole Therapy. Tujuan penelitian untuk mengetahui
keamanan, parmakokinetik, dan efek obat. Metodenya dengan kohort
studi di mana sampel diberikan abiterone 250- 500 750 1000
mg/hari. Hasilnya obat ini memberikan respons 50% baik terhadap

15

PSA (Prostate-Specific Antigen) , mempunyai efek toksik yang serius


yaitu hipertensi grade #, hipokalemia grade 4. Kesimpulan adalah
Abiraterone acetate mempunyai toleransi yang tinggi pada CRPC.
Maka perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mananggapi daya
toksik obat tersebut.
b. Clinical trial fase II

OShaughness. et.al ( 2011), tentang Iniparib plus Chemotherapy in


Metastatic Triple Negative Breast Cancer. Tujuan penelitian adalah untuk
membandingkan efektifitas dan keamanan dari gemcitabine and
carboplatin dengan atau tanpa iniparib. Penelitian dilaksanakan waktu 6
bulan pengamatan. Sampel 123 diberikan dosis gemcitabine 1000mg per
hari dikombinasi dengan carboplastin dengan dan tanpa iniparib.
Kesimpulannya bahwa enambahan iniparib meningkatkan keuntungan
pengobatan pada pasien kanker payu dara tanpa meningkatkan efek
toksik. Maka perlu di lanjutkan untuk fase III dengan membandingkan
dengan obat standar.
c. Clinical trials fase III

1) Perren.et.al (2011), tentang A Phase 3 Trial of Bevacizumab in


Ovarian Cancer. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan
pengobatan pada Ca Ovarium dengan carboplatin (and paclitaxel
diberikan 3 6 minggu di bandingkan dengan

bevacizumab.

Hasilnya bevacizumab lebih mampu meningkatkan kualitas hidup


penderita kanker,
2) Kinlerd. et.al ( 2010), Gemcitabine Plus Bevacizumab Compared
With Gemcitabine Plus Placebo in Patients With Advanced
Pancreatic Cancer: Phase III Trial of the Cancer and Leukemia

16

Group B (CALGB 80303). Tujuan penelitan adalah membandingkan


efektifitas obat Gemcitabine dan Bevacizumab dengan Gemcitabine
dan Placebo. Penelitian menggunakan randomized dengan sampel
535. Hasil penelitian menyatakan bahwa kombinasi Gemcitabine dan
Bevacizumab tidak signifikan menyebabkan perbaikan pancreas. Ada
beberapa efek samping yaitu proteinuri , hipertensi ringan,,
thrombosis vena.

BAB III. PENUTUP


A. Kesimpulan

17

Kanker merupakan salah satu pembunuh utama di dunia. Prevalensi kejadian


kanker semakin meningkat dari tahun ke tahun, termasuk di Indonesia. Oleh
karena itu dikembangkanlah terapi modalitas kanker diantaranya BMT, Bioterapi,
dan pengembangan obat memalui clinical trials.
BMT adalah suatu proses mengantikan sumsum tulang yang sakit atau rusak
dengan sumsum tulang yang memiliki fungsi normal. Adapun macam-macam
BMT meliputi transplantasi alogenik, otologus dan singenik.
Bioterapi merupakan tindakan pemberian agen yang berfungsi untuk
meningkatkan daya tahan tubuh pada pasien kanker. Obat ini dapat diberikan
secara tunggal atau bersamaan dengan kemoterapi. Bioterapi meliputi jenis
stimulasi non spesifik imunitas, efek antitumor dari sitokin, antibodi monoklonal,
imunoterapi seluler, dan vaksin tumor serta terapi gen.
Clinical trials merupakan metode yang digunakan untuk melakukan uji
klinis dari berbagai obat kanker sehingga dapat digunakan untuk terapi kanker
dengan efektif.
Perawat mempunyai peranan penting dalan menejemen monitoring dan
asuhan pasien yang dilakukan BMT , Bioterapi dan pemberian obat hasil clinical
trials karena metode BMT dan Bioterapi serta penerapan obat hasil clinical trials
mempunyai beberapa efek samping.
B. Saran
1. Bagi Perawat
Perawat perlu mengakses dan mempernaharui pengetahuan/informasi secara
berkesinambungan tentang berbagai terapi modalitas kanker sehingga dapat
melakukan tindakan tepat dalam asuhan keperawatan pada pasien kanker.
2. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

18

Institusi pelayanan kesehatan sebaiknya mengadakan pelatihan secara berkala


untuk meningkatkan pengetahuan yang terkini dalam perawatan paasien kanker
dan terapi modalitas kanker.

19