Anda di halaman 1dari 3

Nama : Fouren Atria Larasati

NIM : 41120098

1. Bagaimana tatacara membuat visum et repertum terhadap kasus


kekerasan dalam rumah tangga?
Pada kasus kekerasan dalam rumah tangga, seorang dokter apabila
dimintai pembuatan visum et repertum oleh penyidik wajib secara hukum
memberikan keterangan tentang korban. Beberapa hal yang akan dituangkan
dalam visum et repertum korban adalah kronologis kejadian, keadaan umum
pasien, luka/cedera yang ditemukan, tindakan yang dilakukan terhadap pasien,
keadaan sewaktu dalam perawatan dan keadaan waktu pulang, pada kesimpulan
harus dijelaskan luka/cedera, kekerasan penyebab dan derajat/kualifikasi luka.
2. Bagaimana cara melakukan pencegahan kasus malpraktek kedokteran?
1. Mempekerjakan dan melatih asisten dengan arahan langsung sampai asisten
tersebut dapat memenuhi standar kualifikasi yang ada.
2. Mengambil langkah hati-hati untuk menghilangkan faktor resiko di tempat
praktik.
3. Memeriksa secara periodik peralatan yang tersedia di tempat praktik.
4. Menghindari dalam meletakkan literatur medis di tempat yang mudah diakses
oleh pasien. Kesalahpahaman dapat mudah terjadi jika pasien membaca dan
menyalahartikan literatur yang ada.
5. Menghindari menyebut diagnosis lewat telepon.
6. Jangan meresepkan obat tanpa memeriksa pasien terlebih dahulu.
7. Jangan memberikan resep obat lewat telepon.
8. Jangan menjamin keberhasilan pengobatan atau prosedur operasi yang ada.
9. Rahasiakanlah sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia. Jangan membocorkan

informasi yang ada kepada siapapun. Rahasia ini hanya diketahui oleh dokter dan
pasien.
10. Simpanlah rekam medis secara lengkap, jangan menghapus atau mengubah isi
yang ada.
11. Gunakan formulir persetujuan yang sah dan sesuai Docu-books adalah alat
bantu yang penting dalam menyimpan surat persetujuan yang telah dibuat.
12. Jangan mengabaikan pasien.
13. Cobalah untuk menghindari debat dengan pasien tentang tarif dokter yang
terlampau mahal. Buatlah diskusi dan pengertian dengan pasien mengenai tarif
dokter yang wajar.
14. Pada tiap kali pertemuan, gunakanlah bahasa yang dapat dimengerti oleh
pasien. Jangan pernah menduga jika pasien mengerti apa yang kita ucapkan.
15. Jangan pernah melakukan pemasangan alat bantu, pengobatan atau tata
laksana jika pasien masih berada dalam pengaruh alkohol atau pengaruh
pengobatan yang mengandung narkotika.
3. Bagaimana langkah-langkah membuktikan tidak adanya kesalahan dokter
pada suatu kejadian tidak diharapkan?
Suatu kasus Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dapat dibuktikan melalui
tinjauan kembali pada rekam medis untuk melihat perjalanan penyakit pasien dan
tindakan-tindakan dokter (pemberian obat, pemeriksaan,dsb) sehingga dapat
ditentukan apakah kejadian tersebut berasal dari perjalanan penyakit pasien atau
memang ada kesalahan dalam melakukan tindakan. Adanya bukti informed
consent terhadap pasien dapat menentukan dokter bersalah atau tidak. Selain itu
dokter atau tenaga medis melakukan kesalahan atau tidak, harus dibuktikan
apakah perbuatan tersebut telah memenuhi unsur yakni :
a. Apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang
tercela.

b. Apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang salah
(sengaja, ceroboh atau adanya kealpaan).
Selanjutnya

dokter

dituduh

telah

melakukan

kealpaan

sehingga

mengakibatkan pasien meninggal dunia, menderita luka, maka yang harus


dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan
sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga.

4. Bagaimana cara pembelaan seorang dokter atau tenaga kesehatan apabila


dituduh melakukan malpraktek?
Pembelaan yang dapat dilakukan seorang dokter atau tenaga kesehatan
apabila dituduh melakukan malpraktek adalah :
Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal
bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrindoktrin yang ada, misalnya perawat mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan
disengaja, akan tetapi merupakan risiko medik (risk of treatment),atau
mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin sebagaimana
disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.
Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau
menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan
dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan
pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban, dengan
mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.