Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Undang-undang Dasar 1945 telah mengalami empat tahap perubahan yang
dilaksanakan dalam satu rangkaian yakni pada tahun 1999, 2000,2001, dan 2002.
Dimana dari adanya perubahan-perubahan Undang-undang Dasar 1945 tersebut
menimbulkan Implikasi pokok pikiran yang terkandung didalamnya. Salah satu
perubahan itu yakni kelembagaan dan mekanisme hubungan antar lembagalembaga Negara.
Mahkamah Konstitusi dibentuk pada tanggal 17 Agustus 2003, Mahkamah
Konstitusi dibentuk sebagai salah satu lembaga Negara konstitusional yang
tercantum pada Pasal 24 ayat 2 Undang-undang Dasar 1945. Mahkamah
Konstitusi memiliki wewenang yang telah dicantumkan dalam Pasal 24C ayat 1
Undang_undang Dasar 1945 yakni : Mahkamah Konstitusi berwenang
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final
untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus
sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus
perselisihan tentang hasil pemilihan umum.1

Salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memutus sengketa


kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang1 Pasal 24C ayat 1 Undang-undang Dasar 1945
1

undang Dasar tersebut tentunya akan membatasi siapa pihak yang dapat menjadi
pemohon

dan

termohon

didepan

persidangan

Mahkamah

Konstitusi.

Kewenangan lembaga negara yang dapat menjadi objek sengketa hanyalah


menyangkut kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945 kepada lembaga negara
tertentu. Dengan demikian lembaga negara yang memenuhi kriteria sebagai organ
ataupun lembaga negara yang menjalankan fungsi penyelenggaraan negara dan
pemerintahan yang bersengketa dengan lembaga negara yang lain.2
1.1.1

Latar Belakang pemilihan Judul

UUD 1945 setelah perubahan, dapat dinventarisasi 28 lembaga negara yang


disebut secara eksplisit maupun secara tidak langsung disebut tetapi kemudian
diperintahkan akan diatur dalam undang-undang. Lembaga negara yang memiliki
legal standing untuk dapat menjadi pemohon sengketa kewenangan lembaga
negara didepan Mahkamah Konstitusi. 3
Dengan demikian lembaga negara yang tidak memiliki legal standing yang
kemudian tidak dapat menjadi pemohon dalam hal sengketa kewenangan antar
lembaga negara. Fungsi Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga peradilan
konstitusi yang salah satunya memutus sengketa kewenangan antar lembaga
negara seakan-akan menjadi dipersempit dengan adanya kriteria untuk lembaga
2http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/pdfMakalah/makalah_makalah_17_oktober_200
9.pdf, diakses pada tanggal 11 september 2012 pukul 14.26 WIB
3http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=kewenangan+mahkamah+konstitusi+dalam+memutus+sengketa+antar+le
mbaga+negara, diakses pada tanggal 11 september 2012 pukul 15.00 WIB
2

negara yang akan mengajukan permohonannya dalam hal sengketa kewenangan


antar lembaga negara.
1.1.2

Latar belakang pemilihan Tempat

Adapun yang menjadi latar belakang pemilihan Mahkamah Konstitusi sebagai


tempat magang kali ini. Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga peradilan yang
memiliki kewenangan memutus sengketa kewenangan antar lembaga Negara.
Sehingga perlu adanya sebuah kajian yang akan mendapatkan sebuah hasil atau
rekomendasi dari hal tersebut adalah proses beracara terhadap sengketa
kewenangan antar lembaga negara.
1.1.3

Relevansi antara pemilihan Judul dan Tempat

Adanya lembaga peradilan konstitusi yakni Mahkamah Konstitusi tersebut


yang telah diamatkan oleh Undang-undang Dasar yang salah satumya memutus
sengketa kewenangan antar lembaga Negara, namun diberikan kriteria lembaga
Negara yang dapat mengajukan permohonan sengketa lembaga Negara. Tentunya
dari inilah adanya ketidakadilan bagi lembaga Negara yang bersengketa tetapi
tidak dapat mengajukan permohonan kepada lembaga peradilan yang berwenang
mengadili sengketa lembaga Negara tersebut.
Adanya kesimpangsiuran dalam hal inilah peneliti mencoba merumuskan
permasalahan yang ada untuk dijadikan penelitian sebagai bahan magang dengan
judul:
PROSES PENYELESAIAN SENGKETA KEWENANGAN ANTAR
LEMBAGA NEGARA DI MAHKAMAH KONSTITUSI.
1.2 Tujuan dan manfaat
Tujuan
3

Adapun tujuan dari pelaksanaan magang tersebut adalah:


1. Mengimplementasikan ilmu-ilmu teoritis yang telah didapatkan dalam
perkuliahan kepada masyarakat.
2. Untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman mahasiswa
di bidang hukum.
3. Mendapatkan informasi tentang penyelesaian sengketa kewenangan
antar lembaga Negara di Mahkamah Konstitusi.
4. Mengetahui proses beracara dalam hal penyelesaian sengketa
kewenangan antar lembaga Negara di Mahkamah konstitusi.
Manfaat
Di samping itu, penelitian ini di harapkan memberikan nilai manfaat,
baik dari segi teoritis, normatif, maupun praktis
1. Dari tataran teoritis, diharapkan penelitian ini mampu memberikan
transfer gagasan melalui argumentasi hukum sehingga mampu
memecahkan secara rasional.
2. Dari tataran Normatif, diharapkan mampu menjelaskan tentang
kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memutus Sengketa
Kewenangan Antar lembaga Negara.
3. Dari tataran Praktis, penelitian diharapkan dapat menjelaskan
implementasi hukum dalam penanganan Sengketa Kewenangan Antar
lembaga Negara.
1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang
Adapun waktu dan tempat magang yakni:
1. Pelaksanaan magang mandiri ini akan dilaksanakan pada tanggal 05
November 2012-05 Desember 2012.
2. Adapun instansi magang mandiri ini adalah Mahkamah Konstitusi , jl
Medan Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat.
1.4 Capaian Kegiatan

Adapun capaian kegiatan yang dapat diperoleh selama melakukan proses


magang di Mahkamah Konstitusi yakni:
1. Target yang diharapkan selama melakukan proses magang di
Mahkamah Konstitusi dapat terealisasi dengan baik, dimana target
yang pertama adalah mampu mengetahui secara langsung proses
pendaftaran Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara di
Mahkamah Konstitusi. Target yang pertama ini dapat tercapai karena
mendapatkan informasi langsung proses pendaftaran Sengketa
Kewenangan Antar Lembaga Negara dari bidang Pendaftaran
Permohonan Perkara di Mahkamah Konstitusi.
2. Target yang kedua yakni mampu menjelaskan proses penyelesaian
Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara di Mahkamah
Konstitusi dan Pemagang telah mendapatkan ataupun dapat
menjelaskan proses penyelesaian Sengketa Kewenangan Antar
Lembaga Negara di Mahkamah Konstitusi, karena telah mendapatkan
informasi yang jelas dari panitera dan salah satu hakim Mahkamah
Konstitusi serta dari Kepala Pusat Pendidikan di Mahkamah
Konstitusi dengan melakukan wawancara secara pribadi kepada yang
bersangkutan.

BAB II
HASIL KEGIATAN MAGANG
2.1 Uraian Kegiatan
2.1.1 Program Kegiatan Magang Harian

HARI & TANGGAL

O
1

KEGIATAN
Senin, 05 Nofember

Berkenalan dengan Pembimbing lapangan serta

2012

dengan pegawai Mahkamah Konstitusi di bagian

URAIAN SINGKAT MATERI KEGIATAN

Selasa, 06

Administrasi Kepaniteraan.
Nofember a. Shearing dengan pembimbing lapangan
b. Shearing
dengan
pegawai
di
bagian

2012
3

Rabu, 07

Administrasi Kepaniteraan.
Nofember Mempelajari berkas berkas permohonan yang

2012
4

Kamis, 08

masuk kebagian Administrasi Kepaniteraan yang


akan diregistrasi.
Nofember Mengerjakan Resume permohonan yang telah

2012
5

diregistrsi,

ke

Para

olahraga,

2012

meresume

berkas

pendataan

Klasifikasi

Senin, 12

melanjutkan
perkara.
Nofember Mengerjakan

Selasa, 13

kemudian
permohonan
Putusan

Undang-Undang

Terhadap

Undang

Undang Dasar 1945.


Nofember Masih Mengerjakan pendataan Klasifikasi Putusan

2012

Mahkamah Kostitusi yang berkenaan dengan


Pengujian

Rabu, 14

hakim

Mahkamah Kostitusi yang berkenaan dengan


Pengujian

diajukan

Mahkamah Konstitusi.
Jumat, 09 Nofember Pagi hari melakukan

2012

untuk

Undang-Undang Terhadap Undang

Undang Dasar 1945.


Nofember Masih Mengerjakan pendataan Klasifikasi Putusan

2012

Mahkamah Kostitusi yang berkenaan dengan


Pengujian

Undang-Undang Terhadap Undang

Undang Dasar 1945.(belum selesai)


Nofember Cuti bersama (tidak ada kegiatan)

Kamis, 15

10

2012
Jumat, 16 Nofember
Cuti bersama (tidak ada kegiatan)

11

2012
Senin, 19
2012

12

Selasa, 20

Nofember Shearing dengan pegawai yang ada di bagian


6

Risalah Sidang..( karena penempatan kegiatan


magang di ganti ke bagian risalah)
Nofember Membuat Risalah Sidang di bagian Risalah.( karena

2.1.2 Program Kegiatan Magang Mingguan


Berikut ini Uraian Kegiatan Magang Mingguan yang dilakukan selama di
Polres Sampang yaitu :
Mingg

Mingg

Mingg

Mingg

u1

u2

u3

u4

No Kegiatan
Pengarahan

dari

1
Pembimbing Lapangan
Melakukan
identifikasi
masalah

melalui

dengan

diskusi

Pembimbing

2
Lapangan, Panitera, serta
Hakim

Mahkamah

Konstitusi.
Mengumpulkan
melengkapi
3

menyempurnakan

Data,
dan
data,

menyusun dan menganalisis


4

data yang di peroleh


Menyusun laporan magang

2.1.3 Kegiatan Yang Terlaksana dan Tidak Terlaksana


Setelah selasai magang di Mahkamah Konstitusi tentunya ada beberapa hal
yang belum terlaksana secara menyeluruh dan ada pula yang terlaksana dengan
baik. Berikut kegiatan Yang Terlaksana

Dan Yang Tidak Terlaksana selama

magang di Mahkamah Konstitusi Yaitu :

Kegiatan Yang Terlaksana dan Tidak Terlasana Selama Magang


N

KEGIATAN

YANG KEGIATAN

O
1

TERLAKSANA
Berwawancara

TERLAKSANA
dengan -

pembimbing

lapangan

YANG

TAK

terkait

dengan apa saja kegiatan yang


akan dilakukan selama menjalani
2

magang.
Berwawancara

dengan

para Tidak

mendapatkan

waktu

yang

panitera dan Hakim Mahkamah cukup lama untuk mengulas lebih


Konstitusi terkait dengan proses jauh tentang proses penyelesaian
penyelesaian
Kewenangan

Sengketa Sengketa
Antar

Kewenangan

Antar

Lembaga Lembaga Negara karena kesibukan

Negara.

dari panitera dan Hakim Mahkamah

Konstitusi.
Belum bertemu dengan Sekertaris
Jenderal yakni Janedjri M. Gaffar

2.2 Hasil Pengamatan


2.2.1 Visi dan Misi Mahkamah Konstitusi
Guna menjawab berbagai tantangan dengan memperhatikan lingkungan,
karakter strategis dan analisi SWOT, Mahkamah Konstitusi menetapkan dan
menjalankan Visi, Misi sebagai suatu kelembagan yang menjalankan kekuasaan
kehakiman. Mahkamah Konstitusi mempunyai Visi dan misi sebagai berikut:
Visi Mahkamah Konstitusi adalah:
tegaknya konstitusi dalam rangka mewujudkan cita negara hukum dan demokrasi
demi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang bermartabat.
Misi Mahkamah Konstitusi adalah:
8

a. Mewujudkan Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu kekuasaan kehakiman


yang terpercaya.
b. Membangun konstitusionalitas Indonesia dan budaya sadar berkonstitusi
2.2.2 Teori dan Dasar Hukum Proses Penyelesaian Sengketa Kewenangan
Antar Lembaga Negara.
2.2.2.1 Lembaga Negara
Lembaga Negara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI)
(1997:979-58), kata lembaga antara lain diartikan sebagai 1) asal mula (yang
akan menjadi sesuatu); bakal (binatang, manusia, tumbuhan); (2) bentuk (rupa,
wujud) yang asli; (3) acuan; ikatan (tentang mata cincin dsb); (4) badan
(oganisasi) yang tujuannya melakukan penyelidikan keilmuan atau melakukan
suatu usaha; dan (5) pola perilaku manusia yang mapan, terdiri atas interaksi
sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevan.4
Pasal 1 ayat (5) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PMK/2006
tentang Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga
Negara yakni Lembaga Negara adalah lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 1945.5 Lembaga Negara terkadang disebut dengan istilah
Lembaga Pemerintahan, Lembaga pemerintahan Non Departemen, atau Lembaga
Negara saja.6 Ada yang dibentuk berdasarkan atau karena diberi kekuasaan oleh
4 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III, http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/, diakses
tanggal 10 Oktober 2012 pukul 19.00 WIB
5 Pasal 1 ayat 5 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PMK/2006 tentang Pedoman
Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara.
6 Jimly Asshidiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi.
(Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2006), hlm. 31
9

UUD 1945, ada pula yang dibentuk dan mendapatkan kekuasaannya dari pula
yang dibentuk dan mendapatkan kekuasaanya dari Undang-Undang, dan bahkan
ada pula yang hanya dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden.7
Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang kemudian dijabarkan dalam Pasal 10
ayat (1) huruf b UU 24/2003 tentang Mahkamah Konstitusi, lembaga negara dapat
dibedakan:8
a. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, dan
b. Lembaga negara yang kewenangannya tidak diberikan oleh UUD 1945,
tetapi diberikan oleh undang-undang atau peraturan perundang-undangan
lainnya.
Sederhananya dapat dibedakan menjadi dua kategori Lembaga Negara yakni
Lembaga Negara yang disebut dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Lembaga
Negara Yang tidak disebut dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Lembaga Negara Yang Disebut Dalam Undang-Undang Dasar 1945


Undang-Undang Dasar 1945 menyebut lembaga secara imsplisit namanya,
dan ada pula yang disebutkan eksplisit hanya fungsinya. Ada pula lembaga yang
disebut bahwa baik namanya maupun fungsi atau kewenangannya akan diatur
dengan peraturan yang lebih rendah. Undang-Undang Dasar 1945 sendiri tidak

7 Ibid. hml. 42
8 Tesis Lutfi Widagdo
10

merinci secara tegas lembaga negara mana saja yang termasuk lembaga negara
yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.
Menurut Pasal 2 ayat (1) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor
8/PMK/2006

tentang

Pedoman

Beracara

Dalam

Sengketa

Kewenangan

Konstitusional Lembaga Negara yakni:9


Lembaga negara yang dapat menjadi pemohon atau termohon dalam perkara
sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara adalah:
a. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR);
b. Dewan Perwakilan Daerah (DPD);
c. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR);
d. Presiden;
e. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK);
f. Pemerintahan Daerah (Pemda); atau
g. Lembaga negara lain yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.

Kemudian Pasal 2 ayat (1) huruf g Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor


8/PMK/2006

tentang

Pedoman

Beracara

Dalam

Sengketa

Kewenangan

Konstitusional Lembaga Negara tidak menjelaskan secara terperinci Lembaga


Negara mana yang kewenangnya diberikan oleh Undang Undang Dasar.

9 Pasal 2 ayat 1 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PMK/2006 tentang Pedoman


Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara.
11

Lembaga negara yang disebut nama dan kewenangannya dalam Undang


Undang Dasar 1945 yakni:10
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR);
2. Presiden;
3. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR);
4. Dewan Perwakilan Daerah (DPD);
5. Mahkamah Agung (MA);
6. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK);
7. Pemerintah (an) Daerah;
8. Komisi Pemilihan Umum (KPU);
9. Komisi Yudisial (KY);
10. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI);
11. Bank Sentral;
12. Tentara Nasional Indonesia (TNI);
13. Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Ada pula yang menjelaskan Lembaga Negara yang disebut dalam Undang
Undang Dasar 1945. Akan tetapi, penyebutan Lembaga Negaranya berbeda yakni
Lembaga Tinggi Negara dan lembaga Konstitusional Lainnya. Kemudian Untuk
Lembaga Negara yang tidak disebut dalam Undang Undang Dasar 1945 dikatakan
Lembaga Negara Lainnya. Dikatakan Lembaga Negara lainnya karena lembaga
Negara Tersebut dibentuk oleh peraturan yang berada dibawah Undang Undang
Dasar 1945, seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden
atau Keputusan Presiden.
10 Abdul Muktie Fadjar,Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi. (Jakarta:
Konstitusi Press, 2006), hlm.184
12

Lembaga Negara yang disebut dalam Undang Undang Dasar 1945 dengan
penyebutan Lembaga Tinggi Negara yakni:11
1. Presiden dan Wakil Presiden;
2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR);
3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD);
4. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR);
5. Mahkamah Konstitusi (MK);
6. Mahkamah Agung (MA);
7. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kemudian Lembaga Negara Yang disebut dalam Undang Undang Dasar
dengan penyebutan Lembaga Konstitusional Lainnya yakni:12
1. Menteri dan Kementrian Negara;
2. Dewan Pertimbangan Presiden;
3. Komisi Yudisial;
4. Tentara Nasional Indonesia;
5. Kepolisian Negara Republik Indonesia;
6. Kejaksaan;
7. Komisi Pemberantasan Korupsi;
8. Komisi pemilihan Umum;
9. Komisi Nasional HAM;
10. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Lembaga Negara Yang Tidak Disebut Dalam Undang-Undang Dasar 1945


11 Jimly Asshiddiqie, Op.cit.hlm 122
12 Jimly Asshiddiqie, Op.cit. hlm 172
13

Beberapa Lembaga Negara yang tidak disebut dalam Undang Undang


Dasar

yang kemudian dibentuk berdesarkan amanat Undang Undang atau

peraturan yang lebih rendah, seperti Peraturan Pemerintah, Paraturan Presiden


atau Keputusan Presiden. Beberapa diantaranya yakni :13
1. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yang dibentuk oleh UndangUndang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
2. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang dibentuk oleh
Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan persaingan Usaha Tidak Sehat.
3. Lembaga Kepolisian (Komisi Kepolisian), yang dibentuk oleh
Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik
Indonesia.
4. Dewan Pertahanan Nasional, yang dibentuk oleh Undang-Undang No.
3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
5. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI),
yang dibentuk oleh Undang-Undang No. 32 Tahun 1997 tentang
Perdagangan Berjangka Komoditi.
6. Dewan Pengupahan Nasional, yang dibentuk oleh Undang-Undang
No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
7. Dewan Pendidikan, yang dibentuk oleh Undang-Undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendididikan Nasional.
8. Dewan Sumber Air, yang dibentuk oleh Undang-Undang No. 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air.
9. Dewan Pers, yang dibentuk oleh Undang-Undang No. 40 Tahun 1999
tentang Pers.
10. Badan SAR Nasional, yang dibentuk oleh Undang-Undang No. 12
Tahun 2000 tentang Pencairan dan Pertolongan.
11. Komisi Banding Merek, yang dibentuk oleh Peraturan Pemerintah No.
7 Tahun 2005 tentang Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Komisi
Banding Merek.

13 Jimly Asshiddiqie, Ibid. hlm 253


14

12. Lembaga Sensor Film, yang dibentuk oleh Peraturan Pemerintah No. 7
Tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film.
13. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), yang dibentuk oleh
Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 tentang telekomunikasi.

2.2.2.2 Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara


Undang Undang Dasar 1945 memang menganut Pemisahan Kekuasaan, maka
setelah perubahan keempat, prinsip pembagian kekuasaan yang bersifat vertikal
itu tidak lagi dianut oleh Undang Undang Dasar 1945 . 14 Sebagai akibat dari
sistem pemilihan Umum secara langsung oleh rakyat, maka Presiden yang semula
dianggap tunduk dan bertanggungjawab kepada MPR, sekarang dianggap
langsung bertanggung jawab kepada rakyat pemilihnya.15
Wewenang Mahkamah Konstitusi untuk memutus sengketa kewenangan
lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang Undang Dasar
1945, dapat disebut dengan lebih sederhana dengan sengketa kewenangan
konstitusional antar lembaga negara.16 Dalam pengertian sengketa kewenangan
lembaga negara itu terdapat dua unsur yang harus dipenuhi yaitu:
1. Adanya kewenangan konstitusional yang ditentukan dalam Undang
Undang Dasar
14 Jimly Asshidiqie, Sengketa kewenangan Antar Lembaga Negara. (Jakarta: Konstitusi
Press, 2005), hlm.10
15 Ibid.
16 Ibid. hlm. 15
15

2. Timbulnya sengketa dalam pelaksanaan kewenangan konstitusional


tersebut sebagai akibat perbedaan penafsiran diantara dua atau lebih
lembaga Negara yang terkait.17
Sebenarnya telah timbul beberapa kasus yang dapat dilihat sebagai sengketa
kewenangan lembaga negara. Hanya saja, obyek yang dipersoalkan tidak selalu
dikaitkan dengan soal kewenangan, melainkan dengan pengujian Undang-Undang
sebagai pintu masuk (entry-point) untuk mengajukan perkara.18 Misalnya, dalam
putusan Mahkamah konstitusi Nomor 3/SKLN-X/2012 tentang Sengketa
Kewenangan Lembaga Negara antara Komisi Pemilihan Umum dan Pemerintahan
Daerah Provinsi Papua (yakni Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan Gubenur
Papua),19 yang dalam putusannya dikabulkan.
Persoalan yang dipermasalahkan adalah adanya kewenangan konstitusional
Pemohon sebagai penyelenggara Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
yang kemudian dilaksanakan oleh Pemerintahan Daerah Propinsi Papua. Komisi
Pemilihan Umum, berdasarkan Pasal 1 angka 21 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004, pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan
oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD).20 Akan tetapi, penyelenggaraan
Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Propinsi Papua dilaksanakan
17 Ibid.
18 Ibid. hlm. 20
19 Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 3/SKLN-X/2012 tentang
Sengketa Kewenangan Lembaga Negara.
20 Pasal 1 angka 21 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pemilihan Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah
16

oleh Pemerintahan Daerah Propinsi Papua. Hal ini mendapat reaksi dari berbagai
kalangan tentang ketidakkonsistenan pengaturan pemilihan kepala daerah dan
wakil kepala daerah yang telah diakui sebagai rezim Pemilu.21
Terlepas dari apa yang menjadi putusan Mahkamah Konstitusi terhadap
pemohonan semacam ini, yang jelas persoalan tersebut dapat dilihat dari kacamata
Sengketa Kewenangan lembaga Negara. Meskipun perkaranya melalui Pintu
Masuk Pengujian Undang-Undang, tetapi pada substansinya menyangkut sengketa
antara lembaga Komisi Pemilihan Umum dan Pemerintah Daerah Propinsi Papua.
Objek sengketa antar lembaga negara dalam kewenangan
Mahkamah Konstitusi adalah persengketaan mengenai kewenangan
konstitusional antar lembaga negara.22Satu-satunya lembaga negara yang
dikecualikan dari kemungkinan menjadi pihak dalam perkara sengketa
kewenangan antar lembaga negara ini adalah Mahkamah Agung
sebagaimana ditentukan oleh pasaal 65 Undang-undang No. 24 Tahun
2003. Pasal ini menentukan Mahkamah Agung tidak dapat menjadi pihak
dalam sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
pada Mahkamah konstitusi.23
Sengketa kewenangan antar lembaga negara ini terletak pada soal
kewenangan konstitusionalnya yang dalam hal pelaksanaannya, bukan
terletak pada kelembagaan lembaga negara tersebut. Dengan demikian
Mahkamah Konstitusilah yang berwenang untuk memutus sengketa antar
lembaga negara.

21 Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 3/SKLN-X/2012 tentang


Sengketa Kewenangan Lembaga Negara. Ibid. Hlm 8
22 Yudi Widagdo Harimurti, 2009, Buku Ajar Panduan Bagi Mahasiswa Mata kuliah
Lembaga Negara, Universitas Trunojoyo Madura, Hlm.144
23 Pasal 65 Undang-undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
17

Ada beberapa penyebab lembaga-lembaga Negara bersengketa,


yakni:24
a. Sistem ketatanegaraan yang diadopsikan dalam ketentuan UUD 1945
sesudah perubahan I, II dan IV, Mekanisme hubungan antarlembaga
negara bersifat horizontal, tidak lagi vertikal. Jika sebelumnya kita
mengenal adanya lembaga tinggi dan lembaga tertinggi negara, maka
sekarang tidak ada lagi lembaga tertinggi negara. MPR bukan lagi
lembaga yang paling tinggi kedudukannya dalam bangunan struktur
sistem ketatanegaraan kita, melainkan sederajat satu sama lain dengan
lembaga-lembaga konstitusional lainnya, seperti Presiden, DPR, DPD,
MK, MA dan BPK. Checks and balances merupakan prinsip hubungan
antar lembaga, dimana lembaga-lembaga tersebut diakui sederajat
tetapi

saling

mengendalikan,

sehingga

dalam

melaksanakan

kewenangan UUD terdapat perselisihan dalam menafsirkannya,


mekanisme penyelesaian sengketa tersebut dilakukan melalui proses
peradilan tata negara yaitu dengan nama Mahkamah Konstitusi.
b. Norma-norma yang menentukan kewenangan kewenangan subyek
kelembagaan yang diatur dalam UUD 1945 tidak hanya terkait dengan
subyek-subyek ketatanegaraan yang biasa dikenal sebagai lembaga
negara, melainkan terkait pula dengan subyek-subyek kelembagaan
yang lebih luas. Subyek yang di maksud misalnya TNI (tentara
Nasional Indonesia), Kepolisian Negara, Pemerintah Daerah, dan
sebagainya. Jika lembaga tersebut menghadapi hambatan dalam
melaksanakan kewenangan konstitusionalnya masing-masing, maka
lembaga tersebut dapat mengajukan persoalannya untuk diselesaikan
di Mahkamah Konstitusi melalui perkara sengketa kewenangan
konstitusional antarlembaga negara. Oleh karena kedua alasan itu,
maka buku ini memberikan informasi dan pengertian mengenai seluk
beluk prosedur beracara di Mahkamah konstitusi berkenaan dengan
perkara sengketa kewenangan antar lembaga negara.
24 Jurnal Konstitusi, juni 2007, vol. 4 nomor 2, Hml. 72
18

2.2.2.3 Proses Penyelesaian Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara


Proses penyelasaian Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara yang
dilakukan di Mahkamah Konstitusi telah terjabarkan dengan jelas di Peraturan
Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PMK/2006 tentang Pedoman Beracara Dalam
Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara yakni

dari awal

mengajukan permohonan perkara sampai lepada putusan Mahakamah Konstitusi


terhadap Perkara Sengketa Kewenangan Lembaga Negara.
Adapun Pasal yang mengatur dan menjelaskan tentang proses permohonan
perkara sengketa Kewenangan Lembaga Negara yakni:
Pasal 5
(1) Permohonan ditulis dalam bahasa Indonesia dan harus memuat:
a. Identitas lembaga negara yang menjadi pemohon, seperti nama
lembaganegara, nama ketua lembaga, dan alamat lengkap lembaga negara;
b. nama dan alamat lembaga negara yang menjadi termohon;
c. uraian yang jelas tentang:
1. kewenangan yang dipersengketakan;
2. kepentingan langsung pemohon atas kewenangan tersebut;
3. hal-hal yang diminta untuk diputuskan.
(2) Permohonan dibuat dalam 12 (duabelas) rangkap dan ditandatangani
olehPresiden atau Pimpinan lembaga negara yang mengajukan permohonan
atau kuasanya.

19

(3) Selain dibuat dalam bentuk tertulis, permohonan dapat pula dibuat dalam
format digital yang tersimpan secara elektronik dalam media penyimpanan
berupa disket, cakram padat (compact disk), atau yang sejenisnya.
(4) Permohonan sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara diajukan
tanpa dibebani biaya perkara.
Pasal 6
(1) Permohonan tertulis dan/atau format digitalnya (soft copy) diajukan kepada
Mahkamah melalui Kepaniteraan.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai alat-alat bukti
pendukung, misalnya dasar hukum keberadaan lembaga negara atau
surat/dokumen pendukung.
(3) Alat-alat bukti tertulis yang diajukan, seluruhnya dibuat dalam 12 (duabelas)
rangkap dengan bukti yang asli diberi materai secukupnya.
(4) Apabila pemohon bermaksud mengajukan ahli dan/atau saksi, pemohon harus
menyertakan daftar ahli dan/atau saksi yang akan memberi keterangan yang berisi
identitas, keahlian, kesaksian dan pokok-pokok keterangan yang akan diberikan.
(5) Dalam hal pemohon belum mengajukan ahli dan/atau saksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (4), pemohon masih dapat mengajukan ahli dan/atau saksi
selama dalam pemeriksaan persidangan.

20

2.3 Faktor Pendukung dan Penghambat kegiatan.


2.3.1 Faktor pendukung kegiatan magang di Mahkamah Konstitusi yaitu :
1. Dalam mencari data untuk laporan magang kita tidak perlu repot
untuk mencarinya karena setiap memperlukan data pembimbing
lapangan langsung menyediakan.
2. Pembimbing

lapangan

sangat

membantu

saya

dalam

menjalankan beberapa tugas di Mahkamah Konstitusi, selain


tugas itu sangat membantu penelitiaan saya juga untuk
pengalaman saya.
3. Tugas yang di berikan oleh pembimbing lapangan tidak lepas
dari judul laporan yang saya angkat.
4. Untuk melakukan wawancara dengan target magang diberikan
kesempatan atau waktu untuk wawancara.
2.3.2 faktor penghambat kegiatan magang di Mahkamah Konstitusi yaitu :
1. Untuk mengerjakan Risalah harus menunggu adanya sidang dan
berahirnya di setiap sidang di Mahkamah Konstitusi. Karena
rekaman sidang akan keluar setelah selesai dilakukannya sidang.
2. Jakarta yang macet membuat saya terkadang tidak tepat waktu,
yag seharusnya datang jam 08.00 WIB terkadang saya datang
08.15 WIB dan menjadi hambatan saya untuk segera melakukan
pekerjaan magang dengan tepat waktu.

21

BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Proses Penyelesaian Sengketa Kewenangan Lembaga Negara sudah secara
jelas diatus dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PMK/2006
tentang Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional
Lembaga Negara.

3.2 Saran
Proses Penyelesaian Sengketa Kewenangan Lembaga Negara di
Mahkamah Konstitusi sudak cukup baik, namun sebaiknya Mahkamah
Konstitusi lebih memperjelas kembali mana-mana sajakah Lembaga yang
dapat berperkara di Mahkamah Konstitusi, sebagai penegasan ataupun
penafsiran lembaga yang ada di Undang-Undang Dasar 1945.

22

Daftar Pustaka
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
(Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemilihan Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
125.)
Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PMK/2006 tentang Pedoman
Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara.
Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 3/SKLNX/2012 tentang Sengketa Kewenangan Lembaga Negara.
Referensi
Jimly, Asshidiqie, 2006, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara
Pasca Reformasi. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah
Konstitusi.
Abdul, Muktie Fadjar, 2006.Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi.
Jakarta: Konstitusi Press.
Jimly, Asshidiqie,2005. Sengketa kewenangan Antar Lembaga Negara.
Jakarta: Konstitusi Press.
Yudi Widagdo Harimurti, 2009, Buku Ajar Panduan Bagi Mahasiswa
Mata kuliah Lembaga Negara, Universitas Trunojoyo Madura.
Tesis Lutfi Widagdo
Jurnal Konstitusi, juni 2007, vol. 4 nomor 2, Hml. 72
Website
Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia,

Edisi

III,

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/,
23

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/pdfMakalah/makalah_makalah_17_
oktober_2009.pdf,
http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=kewenangan+mahkamah+konstitusi+dalam+memutus+sengketa+a
ntar+lembaga+negara,

24