Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Maksud
Dapat menggunakan aplikasi surfer sebagai media untuk melakukan

1.2

interpretasi dalam mengolah data.


Dapat membedakan SSR, Isochore dan Isopach.
Dapat mengetahui potensi suatu daerah dari data surfer.
Menbuat peta sand shale ratio.
Membuat peta isochore dan isopach.
Membuat peta kombinasi 1 dan 2 (over lay).

Tujuan

Dapat menggunakan aplikasi surfer sebagai media untuk melakukan

interpretasi dalam mengolah data.


Dapat membedakan SSR, Isochore dan Isopach.
Dapat mengetahui potensi geologi suatu daerah berdasarkan data

bawah permukan.
Penentuan arah material sedimen klastik.
Penentuan zona yang berpotensi sebagai cadangan minyak, gas atau

air.
Penentuan arah laut terbuka dan perkembangan sedimen klastik
ataupun non klastik.

1.3

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari, tanggal : Kamis, 7 November 2014
Waktu
: 15:30 - Selesai
Tempat
: Ruang 301, Gedung Pertamina Sukowati Teknik
Geologi UNDIP.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1

Pembagian Peta Geologi

Pada saat pemetaan geologi maka akan dapat menghasilkan peta


geologi. Peta geologi terbagi kedalam dua bagian, yaitu:
a) Peta permukaan, merupakan peta yang dihasilkan dari data permukaan
(outcrop)
b) Peta bawah permukaan, merupakan peta yang dihasilkan dari data
bawah permukaan.
Peta bawah permukaan sendiri dapat dibagi lagi, yaitu terdiri atas:

Struktur

Stratigrafi : terbagi menjadi dua, yaitu:


Isopach
Fasies

: untuk mengukur ketebalan lapisan sebenarnya


: dapat menghasilkan Peta Litofasies, Peta

Biofasies, Peta Tektofasies


Peta bawah permukaan dapat menggambarkan kondisi geologi
bawah permukaan. Hal tersebut merupakan informasi sangat penting
terutama dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.
Datanya dapat diperoleh melalui 2 cara, antara lain :
1) Langsung
Berupa wujud asli yang kemudian diperiksa dan diteliti. Contoh: drill
core, drill cutting, sumur atau parit uji (khusus untuk geologi teknik)
2) Tak langsung
Rekaman mengenai kondisi batuan, dikirim secara mekanik melalui
lubang bor atau seismik. Contoh: log mekanik (log litologi, log
porositas, log caliper), rekaman hasil survei seismik pantul atau bias.
Sifat-sifat peta bawah permukaan :
Kuantitatif, dinyatakan dalam garis kontur
Dinamik, tidak final dan tidak statis
Estetif, tidak meninggalkan unsur seni
Interpretatif
2.2

Macam-macam Peta Bawah Permukaan

1. Peta struktur kontur


Merupakan peta yang menggambarkan konfigurasi perlapisan
batuan bawah permukaan terhadap bidang referensi, misalnya muka
laut, elevasi kelly bushing. Peta ini berguna untuk mencari arah /
posisi jebakan minyak dan gas bumi, mengetahui keadaan suatu
lapisan pada saat lapisan lain diendapkan, memetakan posisi jebakan
mineral, dan analisa stratigrafi.
2. Peta Isopach
Pada

peta

ini,

yang

digambar

merupakan

ketebalan

sesungguhnya. Peta ini mampu memperlihatkan ketebalan lapisan


reservoir. Peta seperti ini sangat baik memperlihatkan tubuh reservoir
yang dibatasi secara lateral oleh pembajian dan batas erosi, karena
dalam hal ini lapisan secara tegas dipisahkan oleh bidang perlapisan.
Jika lensalensa atau lapisan individual yang dipetakan, maka
pemetaan disebut lense-mapping.
3. Peta isochore
Pada peta ini, yang digambar merupakan ketebalan semu.Peta
ini dapat digunakan untuk mengetahui arah penebalan unit stratigrafi,
untuk mengetahui gambaran ketebalan reservoar, dan mengetahui
jumlah cadangan minyak atau gas.
Sifat dari peta adalah dapat dibuat bila ada 2 lapisan
penunjuk.Tebal lapisan

data log dan harus dikoreksi bila dip > 5o.

t =h
cos

Ket:

h = tebal semu
= dip lapisan
t = tebal
sebenarnya

Gambar 2.1 Perhitungan Dip Lapisan

Macam-macam Peta Isopach :


Peta Isopach Total ( gross isopach map )
Peta ini menggambarkan gabungan ketebalan batupasir dengan
isinya.
Peta Isopach Batupasir ( net sand isopach map )
Peta yang menunjukkan ketebalan dari tempat / wadahnya.
Peta Isopach Minyak ( net oil isopach map )
Peta yang menggambarkan ketebalan fluida
2.3

Facies
Fasies adalah kelompok litologi dengan ciri-ciri tertentu yang
merupakan hasil dari suatu proses pengendapan ( Selley, 1978 ).Fasies
merupakan aspek fisik, kimiawi dan biologi pada sedimen didalam
kesamaan waktu geologi ( SSI, 1996 ). Individu fasies : unit tubuh batuan
yang dapat dikenali atas dasar kenampakan litologi yang khas yaitu
komposisi, ukuran butir, karakteristik lapisan dan struktur sedimenter.

2.4

Macam-Macam Peta Lithofacies


1. Single Component

a. Peta isolith

:menggambarkan ketebalan suatu komponen

terpilih dalam suatu unit stratigrafi.


b. Peta Prosentase

:menggambarkan ketebalan suatu komponen

terpilih ( dibagi tebal total unit stratigrafi ).


2. Multi Component
Peta Rasio : perbandingan antara sekumpulan batuan dengan
kumpulan batuan lain.Contoh : Peta SSR ( Sand-Shale Ratio Map ),
peta CR ( Clastic RatioMap ).Cara perhitungan untuk mendapatkan
data pada peta SSR dan CR, yaitu:
tebal sedimen klastik
CR =
SSR =

tebal sedimen
tebal konglomerat + batupasir

sand

tebal lanau + lempung

shale

Peta Sand Shale Ratio akan memperlihatkan dengan garis


kontur perbandingan jumlah ketebalan interkalasi pasir terhadap
sisipan serpih pada suatu interval lapisan. Peta ini lebih tepat untuk
perubahan fasies yang bersifat penyerpihan yang diwujudkan oleh jari
jemari.
2.5

Peta Paleogeografi
Merupakan peta yang menggambarkan kondisigeografi masa lampau

2.6

Peta Paleotektonik
Tabel 2.1 Pengelompokan Facies Berdasarkan Harga CR dan SSR

Nama Grup
Sandstone
Sand-shale
Shale-sand
Shale

Batas CR
>8
>8
>8
>8

Batas SSR
>8
18

Ciri Ciri Umum


Batupasir > 79%
Batupasir >shale; batugamping

1/8 1

< 11%
Batupasir <shale; batugamping

< 1/8

< 11%
Shale> 79%

Sand-lime

18

>1

Batupasir >shale; batugamping

Shale-lime

18

<1

11 50%
Batupasir <shale; batugamping

Lime-sand

-1

>1

11 50%
Batugamping

50

80%;

<1

batupasir >shale
Batugamping 50

80%;

Lime-shale

-1

limestone

2.7

<

Semua harga

batupasir < shale


Batugamping > 80%

Digram Perbandingan CR dan SSR


NON CLASTIC

19
7

5
1

6
2

CR

SAND

SHALE

SSR
Gambar 2.2 Diagram Perbandingan CR dan SSR

BAB III
METODOLOGI
3.1

Cara Kerja
1.

Pembuatan peta isopach


a. Pengolahan data.
b. Penghitungan ketebalan sebenarnya (t), dengan cara mengurangi
ketebalan bawah formasi dengan ketebalan atas formasi.
c. Setelah diperoleh data t, nilai t tersebut digunakan sebagai z
pada pembuatan peta isopach.

2.

Pembuatan peta Sand Shale Ratio (SSR)


a.

Pengolahan data

b.

Penghitungan rasio batupasir (sandstone)


dengan batuserpih (shale), dengan cara :
tebal konglomerat + batupasir

sand

tebal lanau + lempung

shale

SSR =

c.

Setelah diperoleh data rasio, nilai rasio


tersebut digunakan sebagai z pada pembuatan peta SSR

3.

Pembuatan peta kombinasi Isopach dan SSR


Hasil peta Isopach dan SSR digabungkan dengan cara dioverlay pada
software Surfer.

4.

Interpretasi
7

3.2

Diagram Alir
Mulai

Persiapan alat dan bahan

Perhitungan data Isochore, Isopach dan SSR


menggunakan microsoft excel

Membuat peta kontur dari data Isochore, Isopach


dan SSR menggunakan software Surfer

Pemberian warna pada kontur sesuai dengan ketinggian


dan ketebelan. (untuk kontur isopach dan isochore)

Pemberian warna pada kontur SSR sesuai dengan


ukuran litologi

Penggabungan antar dua kontur maupun bentuk 3


dimensinya sebagai data tambahan untuk interpretasi

Pembuatan Laporan

Selesai

BAB IV
PENGOLAHAN DATA
4.1

Tabel

Batas
Batas
Formasi Formasi Isochore Strike/dip
h
Bawah
Atas
889
658
1832
1085
959
885
678
1718
1998
948
1818
2348
1450
1084
1086
1098
1210
1846
845
1738
1828
1459

583
381
358
324
483
684
628
568
748
488
768
2354
821
656
854
386
481
422
583
678
472
385

306
277
1474
761
476
201
50
1150
1250
460
1050
6
629
428
232
712
729
1424
262
1060
1356
1074

50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50

Isopach
t

Sand

Shale

SSR

196,758
178,111
947,782
489,323
306,068
129,243
32,15
739,45
803,75
295,78
675,15
3,858
404,447
275,204
149,176
457,816
468,747
915,632
168,466
681,58
871,908
690,582

4
29
5
4
15
3
19
1
17
16
18
17
19
16
15
18
19
18
26
18
16
17

6
7
16
16
12
17
11
11
0
8
3
5
4
5
9
7
8
7
5
6
3
5

548
437
776
471
827
213
736
187
635
987
941
371
183
487
793
885
322
188
381
479
741
537

326
65
57
37
131
7
387
9
81
73
20
189
8
35
181
172
25
85
20
70
850
287

1,6809816
6,72307692
13,6140351
12,7297297
6,3129771
30,4285714
1,90180879
20,7777778
7,83950617
13,5205479
47,05
1,96296296
22,875
13,9142857
4,38121547
5,14534884
12,88
2,21176471
19,05
6,84285714
0,87176471
1,87108014

1299
1047
2528
183
2802
815
1022
883

4.2

388
499
598
97
435
582
545
781

911
548
1930
86
2367
233
477
102

50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50

585,773
352,364
1240,99
55,298
1521,981
149,819
306,711
65,586

8
17
16
19
15
17
15
9

3
2
0
4
2
1
1
10

154
482
151
0
232
438
577
105

168
646
24
38
1321
319
4345
987

Koreksi

Isochore
Batas
Batas
Formasi Formasi Isochore
h
Bawah
Atas
889
658
1832
1085
959
885
678
1718
1998
948
1818
2348
1450
1084
1086
1098
1210
1846
845
1738
1828
1459
1299
1047
2528
183
2802

583
381
358
324
483
684
628
568
748
488
768
2354
821
656
854
386
481
422
583
678
472
385
388
499
598
97
435

306
277
1474
761
476
201
50
1150
1250
460
1050
6
629
428
232
712
729
1424
262
1060
1356
1074
911
548
1930
86
2367

4
29
5
4
15
3
19
1
17
16
18
17
19
16
15
18
19
18
26
18
16
17
8
17
16
19
15

6
7
16
16
12
17
11
11
0
8
3
5
4
5
9
7
8
7
5
6
3
5
3
2
0
4
2

10

0,91666667
0,74613003
6,29166667
0
0,17562453
1,37304075
0,13279632
0,10638298

815
1022
883

582
545
781

233
477
102

17
15
9

1
1
10

Cara Perhitungan Isochore :


Isochore = Batas bawah formasi Batas atas formasi

Isopach
Isochore
Strike/dip
h
306
277
1474
761
476
201
50
1150
1250
460
1050
6
629
428
232
712
729
1424
262
1060
1356
1074
911
548
1930
86
2367
233
477

50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50
50/50

Isopach
t

196,758
178,111
947,782
489,323
306,068
129,243
32,15
739,45
803,75
295,78
675,15
3,858
404,447
275,204
149,176
457,816
468,747
915,632
168,466
681,58
871,908
690,582
585,773
352,364
1240,99
55,298
1521,981
149,819
306,711

4
29
5
4
15
3
19
1
17
16
18
17
19
16
15
18
19
18
26
18
16
17
8
17
16
19
15
17
15

6
7
16
16
12
17
11
11
0
8
3
5
4
5
9
7
8
7
5
6
3
5
3
2
0
4
2
1
1

11

102

50/50

65,586

10

Cara Perhitungan Isopach :


Isopach = Isochore * cos (strike/dip)

SSR
x

Sand

Shale

SSR

4
29
5
4
15
3
19
1
17
16
18
17
19
16
15
18
19
18
26
18
16
17
8
17
16
19
15
17
15
9

6
7
16
16
12
17
11
11
0
8
3
5
4
5
9
7
8
7
5
6
3
5
3
2
0
4
2
1
1
10

548
437
776
471
827
213
736
187
635
987
941
371
183
487
793
885
322
188
381
479
741
537
154
482
151
0
232
438
577
105

326
65
57
37
131
7
387
9
81
73
20
189
8
35
181
172
25
85
20
70
850
287
168
646
24
38
1321
319
4345
987

1,6809816
6,72307692
13,6140351
12,7297297
6,3129771
30,4285714
1,90180879
20,7777778
7,83950617
13,5205479
47,05
1,96296296
22,875
13,9142857
4,38121547
5,14534884
12,88
2,21176471
19,05
6,84285714
0,87176471
1,87108014
0,91666667
0,74613003
6,29166667
0
0,17562453
1,37304075
0,13279632
0,10638298

Cara Perhitungan SSR :


SSR =

Sand
Shale

12

4.3

Peta Kontur dan 3D


4.3.1 Peta Isochore

Gambar 4.1 Peta Isochore

Keterangan :
500

= Garis Kontur
= Lapisan Tebal
= Lapisan Sedang
= Lapisan Tipis

13

4.3.2 Peta 3 Dimensi Isochore (Overlay) dengan Kontur Isochore

Gambar 4.2 Peta 3 Dimensi Isochore (Overlay) dengan Kontur Isochore

Keterangan :
500

= Garis Kontur
= Lapisan Tebal
= Lapisan Sedang
= Lapisan Tipis

14

4.3.3 Peta Isopach

Gambar 4.3 Peta Isopach

Keterangan :
500

= Garis Kontur
= Lapisan Tebal
= Lapisan Sedang
= Lapisan Tipis

15

4.3.4 Peta 3 Dimensi Isopach (Overlay) dengan kontur Isopach

Gambar 4.4 Peta 3 Dimensi Isopach (Overlay) dengan Kontur Isopach

Keterangan :
500

= Garis Kontur
= Lapisan Tebal
= Lapisan Sedang
= Lapisan Tipis

16

4.3.5 Peta Kontur SSR

Gambar 4.5 Peta Kontur SSR

Keterangan :
500

= Garis Kontur
= Sandstone
= Sand - shalestone
= Shale - sandstone
= Shale

17

4.3.6 Peta 3 Dimensi SSR (Overlay) dengan Kontur SSR

Gambar 4.6 Peta 3 Dimensi SSR (Overlay) dengan Kontur SSR

Keterangan :
500

= Garis Kontur
= Sandstone
= Sand - shalestone
= Shale - sandstone
= Shale

4.3.7 Peta Overlay Kontur SSR dan Kontur Isochore

18

Gambar 4.7 Peta Overlay Kontur SSR dan Kontur Isochore

Keterangan :
500

= Garis Kontur SSR

500

= Garis Kontur Isochore

4.3.8 Peta Overlay Kontur SSR dan Kontur Isopach

19

Gambar 4.8 Peta Overlay Kontur SSR dan Kontur Isopach

Keterangan :
500

= Garis Kontur SSR

500

= Garis Kontur Isopach

4.3.9 Peta Vektor SSR Overlay Kontur SSR

20

Gambar 4.9 Peta Vektor SSR Overlay Kontur SSR

Keterangan :
500

= Garis Kontur SSR

= Kontur Vektor AAS

BAB V

21

PEMBAHASAN
Praktikum Sedimentologi dan Stratigrafi acara Lithofasies dilaksanakan
pada hari Kamis, 7 November 2014 pada pukul 16:30 WIB. Lithofasies
merupakan suatu pembagian fasies berdasarkan lithologi, dimana media atau
output yang digunakan berupa peta lithofasies. Peta lithofasies merupakan peta
yang menggambarkan variasi komponen lithologi dalam suatu unit stratigrafi
dengan menggambarkan perbedaan fasies sedimenter berdasarkan ciri fisik
lithologi yang dapat diamati secara megaskopis. Berdasarkan pengolahan data
dengan menggunakan media software bernama Surfer terhadap data yang telah
disediakan oleh asisten, praktikkan kan mendapatkn output berupa peta
lithostratigrafi. Peta Lithostratigrafi tersebut diantaranya yaitu, Peta Isochore, Peta
Isopach dan Peta SSR (sand-shale-ratio), Peta Vektor serta peta kombinasi dari
ketiganya. Dari ketiga jenis peta ini maka dapat siinterpretasikan arah material
sedimen klastik, penentuan daerah yang berpotensi terhadap minyak, gas atau air,
penentuan arah laut terbuka, serta perkembangan sedimen. Berikut pembahasan
dari hasil pengolahan data surfer :
5.1

Peta Isochore dan Isopach

Gambar 5.1 3 Dimensi Peta Isochore (kiri) dan Peta Isopach (kanan)

Peta Isochore dan Isopach merupakan peta yang menggambarkan


ketebalan sesungguhnya dari suatu bagian bawah permukaan bumi, peta

22

ini menggambarkan ketebalan reservoir, perbedaannya adalah kualitas


nilainya. Untuk peta isochore merupakan nilai yang didaptkan belum
terkoreksi, sedangkan peta isopach sudah terkoreksi. Peta isochore ini,
didapatkan dari hasil selisih batas atas dan batas bawah suatu perlapisan.
Dari gambar diatas menunjukkan suatu peta isochore dari beberapa data
yang sudah diberikan dengan nilai strike dip yang sama yaitu N 50 0 E/ 500.
Pada gambar diatas daerah yang berwarna kontur biru merupakan daerah
yang memiliki ketebalan tinggi ( diatas 1000m ), selanjutnya untuk lapisan
yang berwarna hijau tua merupakan daerah dengan ketebalan sedang
( 500m 900m ), dan untuk lapisan yang berwarna hijau muda merupakan
daerah yang memiliki ketebalan rendah ( 0 500m ).
Peta isochore dan isopach dari hasil pengolahan data diatas,
menunjukkan perbedaan bentuk kontur. Perbedaan bentuk kontur
dikarenakan pengkoreksian data yang sudah dilakukan. Perbedaan
ketebalan setiap lapisan diinterpretasikan karena pegaruh erosi, proses
sedimentasi, tataguna lahan, perbedaan material hasil deposisi dan erosi
karena kuat arus yang berubah-ubah sehingga kuantitas material yang
diendapkannya juga berbeda-beda, serta resistensi yang berbeda pada
setiap batuan terhadap proses erosi.
Pada gambar peta diatas dapat menunjukkan transportasi dan
mekanisme pengendapan dari batuan, sehingga didapat kesimpulan bahwa
daerah yang memiliki ketebalan tinggi lebih berpotensi besar sebagai
daerah cebakan.
5.2

Peta SSR
Peta SSR merupakan peta yang menunjukkan perbedaan klasifikasi
berdasarkan litologi. Litologi yang dibentuk dibedakan menjadi 4 yaitu
sandstone (berwarna kuning tua), sand-shale (berwarna kuning cerah),
shale-sand (berwarna hijau kekuningan) dan shale (berwarna hijau muda).
Daerah yang berpotensi sebagai
reservoar dengan litologi berupa
sandstone

23

Gambar 5.2 Peta SSR (sand-shale-ratio) dan 3 dimensinya

Peta SSR menunjukkan daerah lepasan sedimen yang lebih halus


akan semakin berada didaerah yang landai dan ketinggin rendah. Sehingga
diinterpretaskan semakin jauh material sedimen tersebut tertransport maka
akan semakin halus maerial yang dihasilkannya. Dan semakin kearah laut
maka

energi

transportasi

akan

rendah

namun

energi

utuk

mengendapkannya akan semakin besar, karena dipengaruhi dari ukuran


butir yang kecil serta pengaruh dari arus air lautnya. Arah pengendapannya
berdasarkan gambar diatas menunjukkan arah south-west kearah butiras
yang semakin halus.
Persebaran lithologi pada daerah yang tinggi berupa sandstone,
dimana sandstone merupakan litologi yang mempunyai porosity dan
permeability yang baik. Dimana porositas merupakan kemampuan batuan
untuk menyimpan fluida dan permeabilitas merupakan kemampuan batuan
untuk mengalirkan fluida. Sehingga daerah yang terbentuk dari litologi
yang berwarna kuning diatas (sandstone) sangat berpotensi sebagai daerah
reservoar.
5.3

Peta Vektor SSR kombinasi Kontur SSR


Berdasarkan peta penggabungan kontur SSR dengan vektor SSR,
menunjukkan arah aliran persebaran litologi berdasarkan penunjuk anak
panah serta kontur dari SSR sendiri. Semakin menuju anak panah maka
material yang dibentuknya akan semakin menghalus hingga menuju suatu
basin terakhir. Penunjuk anak panah menunjukkan perbedaan komposisi

24

perbandingan sand dan shalenya. Dimana aliran sedimen yang menuju


daerah yang rendah akan semakin menghalus dan komposisi shalenya akan
semakin tinggi, sebalikya pada daerah dengan kontur tinggi dan sebagai
awal aliran penunjuk anak panah, merupakan daerah yang memiliki
ukuran butir material sedimen yang cenderung mengkasar karena belum
terlalu terpengaruh oleh transportasi, litologinya berupa sand yang
dominan. Sehingga daerah awal mula pembentukan aliran tersebut
berlitologi sandstone yang merupakan batuan yang memiliki porositas dan
permeabilitas yang tinggi sehingga berpotensi sebagai daerah reservoar
minyak dan hisdro.

Gambar 5.3 Peta Vektor SSR Kombinasi Kontur SSR

5.4

Peta Kombinasi Kontur SSR dengan Kontur Isopach


Berdasarkan hasil kombinasi peta kontur SSR dengan kontur
Isopach dapat dianalisa, daerah yang berpotensi terdapatnya hidrokarbon
dan air karena data isopach merupakan nilai yang sdah terkoreksi. Pada
umumnya daerah yang berpotensi terdapatnya hidrokarbon adalah daerah
yang berlitologi sandstone, yaitu daerah yang memiliki batas SSR yang
lebih besar.Ini dilihat dari porositas sandstone yang besar berdasarkan
ukuran butirnya yang memungkinkan menjadi sebuah cebakan (reservoir)

25

hidrokarbon.Batuan

reservoir

harus

mempunyai

porositas

dan

permeabilitas yang merupakan kemampuan untuk menyimpan dan juga


untuk melepaskan hidrokarbon tersebut.
Permeabilitas adalah kemampuan untuk meloloskan air yang
biasanya di ukur dalam satuan MD atau biasa di sebut millidarcie.Semakin
besar angka nya maka permeabilitasnya semakin baik untuk produksi
hidrokarbon. Porositas adalah kemampuan untuk menyerap fluida pada
batuan atau formasi atau ruang-ruang yang terisi oleh fluida di antara zatzat padat atau mineral pada suatu batuan. porositas dan permeabilitas
berada pada batuan reservoir atau biasa di sebut batuan hydrocarbon
bearing rock. Batuan hydrocarbon bearing rock atau batuan yang berperan
sebagai reservoir ada 3 yaitu batu pasir , batu dolomit dan gamping. Ketiga
batuan tersebut memiliki dua sifat di atas yaitu porositas, dan
permeabilitas. Lempung tidak termasuk walaupun dia juga merupakan
batuan source dalam hidrokarbon, karena lempung hanya memliki
kemampuan mengikat air tapi tidak memiliki kemampuan dalam
mengalirkan air dalam hal ini yang biasa di sebut permeabilitas.

Gambar 5.4 Peta Kontur SSR Kombinasi Kontur Isopach

Dengan demikian daerah tersebut berpotensi adanya reservoar yang


ideal untuk menyimpan fluida (hidrokarbon). Pada peta ditunjukkan
26

dengan batas SSR >8 dan ditandai dengan warna kuning. Berdasarkan
peta isopach yang menggambarkan ketebalan lapisan dari suatu litologi,
maka daerah sandstone yang memiliki ketebalan lapisan yang cukup tebal
berada pada sebelah barat laut peta dengan ketebalan antara 1200 1500.
Sehingga didapatkan daerah yang sangat berpotensi sebagai reservoir
merupakan daeah yang berlitologi sandstone dan mempunyai ketebalan
yang tinggi.

BAB VI
KESIMPULAN

27

Berdasarkan interpretasi terhadap data hasil penggunaan software Surfer


melalui output berupa peta isochore, peta isopach dan peta SSR, permodelan
overlay, kombinasi antar kontur serta 3 dimensinya. Didapatkan kesimpulan darah
yang berpotensi sebagai reservoar untuk menyimpan hidrokarbon berdasarkan
peta SR ditunjukkan pada saerah yang memiliki kontur >8 dan ditandai dengan
warna kuning yang merupakan daerh dengan lithologi berup sandstone. Serta
selain litologi yang berpengaruh terhadap daerah yang berpotensi sebagai
reservoar yaitu berdasarkan data isopach yang sudah terkoreksi ditunjukkan
daerah yang memiliki ketebalan yang tinggi, sehingga lebih berpotensi sebagai
reservoar, ditunjukkan pada daerah yang berwarna biru.

DAFTAR PUSTAKA

28

Endarto, Danang. 2005. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: Universitas Sebelas


Maret Surakarta.
Staff Asisten

Sedimentologi.

2002.

Panduan

Praktikum

Sedimentologi.

Yogyakarta: Jurusan Teknik Geologi UGM.


Staff Asisten

Sedimentologi

dan

Stratigrafi

2011.

Panduan

Praktikum

Sedimentologi dan Stratigrafi. Semarang : Prodi Teknik Geologi Universitas


Diponegoro.

29

LAMPIRAN

30