Anda di halaman 1dari 34

TUGAS

MANAJEMEN ENERGI

Dosen Pembimbing: Conny K. Wachjoe, Ir., M. Eng., Ph. D


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Manajemen Energi

Disusun oleh:
Anne Anugrah Dwiratna (121711036)
Asep Nurul Aprianto (121711005)
Wulan Purnamasari (121711031)
3A Konservasi
D3 Teknik Konversi Energi

DEPARTEMEN TEKNIK KONVERSI ENERGI


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015
BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang.
Gedung merupakan salah satu bangunan yang banyak mengkonsumsi energi.
Gedung ini banyak dimanfaatkan sebagai tempat perkuliahan, perkantoran, hotel dan lainlain. Konsusmsi energi

pada setiap bengunan mempunyai standar masing-masing,

sehingga perlu dilakukan penghematan dalam hal penggunaan energi listrik maupun yang
lainnya.
Dalam penggunaan energi yang ada pada bangunan itu terdiri dari beberapa
kegunaan yakni untuk penerangan, AC, Chiller, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan
konsusmsi energi yang ada pada gedung sangat besar. Untuk itu diperlukan cara-cara
penghematan pada konsumsi energi pada gedung dengan cara melakukan manjemen
energi dengan mengaudit terlebih dahulu. Audit tersebut meliputi audit di bidang listrik,
penerangan, chiller, AC dan lain-lain.
Dalam proses pengauditan bidang energi pada bangunan maka hal yang
diproritaskan dalam hal pengauditan yakni di bidang chiller/pendingin dan penerangan,
hal tersebut dikarenakan bidang ini mengkonsumsi energi paling besar pada bangunan.
Sehingga kemungkinan adanya pemborosan energi itu sangat besar .
1.2
1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan.
Untuk mengetahui efektivitas pada kondensor dan evaporator.
Untuk mengetahui COP pada chiller.
Untuk mengetahui konsumsi energi listrik pada sistem penerangan.
Untuk menentukan solusi penghematan energi pada sektor chiller.
Untuk menentukan solusi penghematan energi pada sistem penerangan.

1.3
1.
2.
3.
4.
5.

Rumusan Masalah
Berapa besar efektivitas pada kondensor dan evaporator?
Berapa besar COP pada chiller?
Berapa besar konsumsi energi listrik pada sistem penerangan?
Bagaimana solusi penghematan energi pada sektor chiller?
Bagaimana solusi penghematan energi pada sistem penerangan?

1.4
1.

Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan maka batasan masalah dalam laporan manajemen
energi ini hanya akan membahas pada solusi manajemen energi di PT. Telkom Jl.

2.

Lembong No. 11 Bandung pada tanggal 1-9 Oktober 2009.


Standarisasi sistem tata udara berpedoman kepada SNI 03-6190-2000 tentang

3.

Konservasi Energi Sistem Tata Udara Pada Bangunan Gedung.


Standarisasi sistem pencahayaan berpedoman kepada SNI 03-6197-2000 tentang
Konservasi Energi Sistem Pencahayaan Pada Bangunan Gedung.

1.5

Profil Perushaan
Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang industri Telekomuniasi bertaraf nasional,
PT. Telkom tentu tidaklah mampu bila dalam hal ini mengurus segala pengaturan dan
ruang lingkup kerja lainnya hanya mengandalkan kantor pusat. Oleh karena itu, ruang
lingkup PT. Telkom dibagi kedalam tujuh Divisi Regional (DIVRE) yang kantor
perwakilannya ditempatkan di kota-kota besar. Kemudian setiap Divisi Regional itu
dibagi kembali menjadi Kantor Daerah Telekomunikasi (Kandatel) yang kantor
perwakilannya ditunjuk berdasarkan ukuran luas daerah dan populasinya. Salah satunya
adalah Kandatel Bandung.
Gedung yang dipilih untuk objek manajemen energi adalah gedung kandantel milik
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., yang berada di Jl. Lembong No. 11 Bandung.
Bangunan ini mempunyai enam gedung dan menghadap keselatan; masing-masing
gedung memiliki satu sampai tiga lantai. Gedung kandatel ini digunakan selama lima hari,
yaitu hari senin sampai dengan jumat mulai pukul 08:00-16:00. Kandatel Bandung adalah
unit organisasi yang dibentuk pada tahun 1991 dan merupakan gabungan dari unit
sebelumnya yang sudah ada 3 yaitu terdiri dari lima Unit Pelaksanaan Teknis (UPT).
Kelima komunikasi yang dimaksud meliput : Kantor Daerah Telepon (Kandapan), Kantor
Daerah Telegraf dan telex (Kandatex), Stasiun Bumi Besar (SBB), StasiunTransmisi
Teresterial (SENTRA Teresterial) dan Kantor Interlokal (KIN).

1.6

Audit Energi di PT. Telkom Jalan Lembong, Bandung

PLN

BEBAN

Pencahaya
Chiller
an

Evaporato
r
Kondensor

Gambar diagram 1.6.1 distribusi di gedung A Gedung Kandatel yang akan di manajemen

Gambar 1.6.2 Diagram disribusi listrik di gedung A Gedung Kandatel


Keterangan:
MDP
SDP
P1
P2
P3

= Main Distribution Panel


= Sub Distribution Panel
= Titik Pengukuran SDP pada MDP I
= Titik Pengukuran SDP pada MDP II
= Titik Pengukuran SDP pada MDP III

BAB II
PROFIL ENERGI
2.1

Intensitas Konsumsi Energi (April 2007 Maret 2008)


Tabel 2.1 data konsumsi energi pada April 2007-Maret 2008
Bulan
Apr-07
Mei-07
Jun-07
Jul-07
Agu-07
Sep-07

kWh
9445,65
9400,83
9679,98
9690,73
9494,84
9412,67

Okt-07
Novf-07
Des-07
Jan-08
Feb-08
Mar-08

9656,73
9615,45
9729,65
9689,48
9665,29
9597,43

Total konsumsi energi = 115078,7 kWh


Luas bangunan = 403,5 m2.
Sehingga, nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) listrik = 285,2013 kwh/m2/tahun.
Dari tabel 2.1 dapat diketahui bahwa total konsumsi energi sebesar 115078,7 kWh,
luas bagunan sebesar 403,5 m2, dan didapatkan nilai IKE sebesar 285,2013
kWh/m2/tahun. Sedangkan nilai standar IKE untuk perkantoran (komersil) adalah 240
kWh/m2/tahun. Maka, gedung PT. Telkom termasuk gedung yang boros energi.

2.6

Presentase Konsumsi Eenergi Listrik

Presentase Konsumsi Energi Listrik


lain-lain

7%

AC
27%
51%

PENERANGAN
ALAT ELEKTRONIK

16%

Gambar 2.6 presentase konsumsi energi listrik di PT. Telkom Bandung

Dari gambar di atas diketahui nilai presentase konsumsi energi listrik pada AC
sebesar 26,68 %, penerangan sebesar 15,58 %, alat elektronik sebesar 50,7 %, dan
lain-lain sebesar 7,04 %. Nilai presentase konsumsi energi listrik pada alat elektronik
lebih besar dari nilai presentase konsumsi energi listrik pada AC, penerangan, dan
lain-lain. Hal ini disebabkan karena di PT. Telkom banyak menggunakan alat
elektronik, misalnya komputer server. lain-lain misalnya yaitu motor, pompa, dan
genset.
Dalam hal ini, alat elektronik tidak bisa diaudit karena keterbatasan data dan
metoda. Sehingga prioritas untuk manajemen energi di PT. Telkom adalah Sistem
Pengkondisi Udara (AC) dan Sistem Penerangan gedung.

BAB III
ANALISIS DATA

3.1

Chiller
Metode Perhitungan Pada Chiller
1.
Metode Untuk Menghitung Efektivitas Pada Evaporator
QR =mR h
.........................................................................................................
(1.1)
Qwater =m Cpwater T

...................................................................................(1.2)
Eff ev =

Qair
QR

Eff ev =

2.

m Cp water T
..............................................................................................
mR h

(1.3)
Metode Untuk Menghitung Efektivitas Pada Kondensor
Q
Eff kon= water
QR
Eff kon=

3.

m Cp water T
............................................................................................
mR h

(1.4)
Metode Untuk Menghitung COP

COP=

h 2h1
h3 h2 ..............................................................................................................

.(1.5)
4.

Neraca Energi

Gambar 3.1.1 Penyerapan Kalor di Evaporator

Gambar 3.1.2 Pelepasan Kalor di Kondensor

Wc

Gambar 3.1.3 neraca energi pada chiller


5.

Standar Audit Chiller


Pada audit chiller, salah satu yang menjadi standar acuan dalam proses
pengauditan selain dari name plate dari chiller tersebut , standar lain yang digunakan
adalah standar-standar yang dikeluarkan oleh badan-badan yang menangani bidang
ini. Salah satu standar mengenai chiller ini adalah standar yang dikeluarkan oleh
ASHRAE, dan standar mengenai chiller ini tertuang dalam ASHRAE Std. 90.1.
Berikut isi dari standar tersebut.
Tabel 3.1.1 Stndar Untuk Chiller

Equipment Type
Air cooled, with

Size Category
< 150 Tons

Minimum Efficient
2,8 COP

Test Procedure
ARI 550/590

condenser,
electrically operated
Air cooled, with
condenser,
electrically operated
Water
cooled,
Electrically
Operated, Positive
Displacement
(reciprocating)
Water
cooled
Electrically
Operated, Positive
Displacement
(rotary screw and
scroll)
Water
cooled
Electrically
Operated,
centrifugal

3,5 IPLV
All capacities

3,10 COP
3,45 IPLV

ARI 550/590

All capacities

4,20 COP
5,20 IPLV

ARI 550/590

<150 Tons
150 Tons
<300 Tons
300 Tons
<150 Tons
150 Tons
<300 Tons
300 Tons

Air
Cooled
Absorption Single
Effect
Water
Cooled
Absorption Single
Effect
Absorption Double
Effect,
Indirect
Fired
Absorption Double
Effect, Direct Fired

4,45 COP
5,20 IPLV
4,90 COP
5,60 IPLV
5,5 COP
6.15 IPLV
5,0 COP
5,25 IPLV
5,55 COP
5,90 IPLV
6,1 COP
6,40 IPLV

All capacities

0.6 COP

All capacities

0.7 COP

ARI 550/590

ARI 550/590

ARI 560
All capacities

1 COP
1.05 IPLV

All capacities

1 COP
1 IPLV

Metode Perhitungan Pada Sistem Penerangan

1.

Daya Pencahayaan.
Daya pencahayaan ini merupakan besarnya daya yang dikonsumsi oleh
masing-masing ruangan pada setiap ruangan yang menjadi objek audit di gedung PT.
Telkom ini. Berdasarkan rumus yang didapat maka akan diperoleh daya pencahayaan
pada Ruangan Rectifier EWSD sebagai berikut ini :
Pc

2.

Pt
A ...............................................................................................................

(1.6)
Dimana :
Pc= Daya pencahayaan Total (watt)
Pt= Daya total Lampu (watt)
A= Luas bidang kerja (m2)
Lumen ()
Banyaknya cahaya yang dihasilkan oleh suatu lampu disebut Fluks luminus
dengan satuan lumen. Untuk mencari besarnya lumen dapat menggunakan persamaan:
= E x A..................................................................................................................(1.7)
Dimana :
E=iluminasi/tingkat pencahayaan (lumen/m2 atau lux)
=Luminious Flux (lumen)

3.

Efikasi (K)
Efisiensi lampu atau yang disebut juga efikasi luminus, menunjukkan efisiensi
lampu dari pengalihan energi listrik ke cahaya dan dinyatakan dalam lumen per watt
(lumen/watt). Untuk mencari besarnya efikasi adalah sbb:

K = Pt
(1.8)

........................................................................................................................

Data Hasil Pengukuran Pada Sistem Chiller

Tabel 3.1.2 Data Hasil Pengukuran


Tangg
al

Debit
Air
(L/mi
n)

Refrigerant

Pin
(Bar)

Tin
(0C)

Pout
(Bar)

Tout
(0C)

Pin
(Bar)

Tin
(0C)

Pout
(Bar)

Tout
(0C)

Arus
Kom
p
I
(A)

Kondensor

Evaporator

Air
Evaporator

Air
Pendingin

Tin
(0C)

Tout
(0C)

Tin
(0C)

Tout
(0C)

13,9

14

92

12

31

4,8

2,8

11

22

18

25

30

15,6

14

94

12

31

4,6

2,7

10

22

18

25

33

11,7

14

94

12

31

4,4

2,8

8,5

22

18

25

34

12

14

94

12

31

4,4

2,6

8,5

22

18

25

35

11,5

14

94

12

31

4,4

2,7

8,5

22

17

25

36

12,4

14

94

12

31

4,4

2,6

22

17

25

36

11

14

93

12

31

4,5

2,7

21

17

25

36

11,7

14

92

12

31

4,4

2,6

21

17

25

36,5

11,7

14

92

12

31

4,4

2,6

21

17

25

37

3.3

Sistem Penerangan
Kondisi gedung PT Telkom yang akan di audit memliki karakteristik sebagai berikut:
Terdiri dari 3 lantai
Menghadap ke arah selatan
Lantai 1 untuk & kedua sebagai ruang kerja, ruang personil dan ruang
perangkat
Lantai 3 untuk ruang kerja kantor Flexi
Pemakaian Gedung dari hari Senin-Jumat Pukul 08.00-16.00 WIB.
Selain itu juga, gedung memiliki karakteristik luas dan lampu yang terpasang
di setiap ruangan sebagai berikut:
Tabel 3.1.3 Data Pengukuran Penerangan di PT Telkom Lembong Bandung

Jenis

Jumlah

Daya Total
Lampu
(Watt)

42.8

TL 36W

180

302.5

Ruang Personil Sentral

52.3

TL 36W

10

360

372.8

Ruang Sentral Dunk


dan AT & T

52.2

TL 36W

288

Ruang Rectifier AT &


T dan MDP III

74

TL 36W

288

Ruang Catu Daya

30.3

TL 36W

108

224.1

Ruang Baterai I

28.8

TL 36W

144

312.7

Ruang Baterai II

54

TL 36W

288

307.2

Ruang Kasubdin ME

12.6

TL 36W

144

385.3

TL 36W

No

Nama Ruang

Luas (m2)

Ruang Rectifier EWSD

10

Ruang Personil Catu


Daya

48.8

Ruang Dapur
Total

Waktu pengamatan

Lampu

72

112

Tingkat
Pencahayaan
(Lux)

355.1
279.7

143.1

CFL 20W

7.7

TL 36W

36

302.5

403.5

55

1948

2953.2

: 15 September 2008

40


1.

Data Hasil Analisis Pada Sistem Chiller


Evaporator
Data 3.1.4 Data Hasil Analisis
Po
Tanggal

Pin

ut

(Bar)

(Bar
)

4,8

4,6

4,4

4,4

4,4

4,4

4,5

4,4

4,4

2,
8
2,
7
2,
8
2,
6
2,
7
2,
6
2,
7
2,
6
2,
6

h1
(kJ/k
g)

h2
(kJ/k
g)

h3
(kJ/kg
)

204,
71
251,
5
251,
2
251,
2
251,
2
251,
2
203,
53
251,
2
251,
2

415,
33
414,
82
413,
93
414,
31
414,
12
414,
31
414,
12
414,
31
414,
31

462,5
7
464,2
4
432,9
8
432,9
8
432,9
8
432,9
8
432,2
8
462,5
7
462,5
7

debit
air
(L/mi
n)

Tin
(0C)

Tout
(0C)

mair.
(m3/s)

mref.
(m3/s)

13,9

22

18

0,23120
3

0,025

15,6

22

18

0,25948

0,025

11,7

22

18

0,19461

0,025

12

22

18

0,1996

0,025

11,5

22

17

12,4

22

17

11

21

17

11,7

21

17

0,19461

0,025

11,7

21

17

0,19461

0,025

0,19128
3
0,20625
3
0,18296
7

0,025
0,025
0,025

Qwate
r (kW)
3,8842
16
4,3592
64
3,2694
48
3,3532
8
4,0169
5
4,3313
2
3,0738
4
3,2694
48
3,2694
48

Qref.
(kW)
5,2655
4,083
4,0682
5
4,0777
5
4,073
4,0777
5
5,2647
5
4,0777
5
4,0777
5

Efektivi
tas (%)
73,3833
4
76,4567
2
78,4612
5
78,2784
6
97,9621
9
78,4986
57,4386
2
78,2784
6
78,2784
6

Data diambil dari tanggal 1-9 Oktober 2009. Temperatur refrigerant masuk evaporator bervariasi dari 21C sampai 22C (temperatur
relatif konstan), tekanan masuk bervariasi dari 4,4 Bar sampai 4,8 Bar (tekanan masuk relatif konstan), dan tekanan keluar juga bervariasi dari
2,6 Bar sampai 2,8 Bar (tekanan keluar relatif konstan). Entalpi masuk dan keluar didapat dari tabel property untuk R22. Entalpi bervariasi

tergantung temperatur dan tekanan refrigerant. Data Qwater dihasilkan dari pesamaan (1.1) dan data Qref. Dihasilkan dari persamaan (1.2), dan
efektivitas dihasilkan dari persamaan (1.3). efektivitas yang dihasilkan berkisar antara 57,4 % sampai dengan 97,96 %.

2.

Kondensor
Tabel 3.1.5 Data Profil Refrigeran pada Kondensor
Tanggal

T3(C)

P3 (bar)

T4 (C)

P4 (bar)

1
2
3
4
5
6
7
8
9

92
94
94
94
94
94
93
92
92

14
14
14
14
14
14
14
14
14

31
31
31
31
31
31
31
31
31

12
12
12
12
12
12
12
12
12

h3
(kJ/kg)
462,57
464,24
432,98
432,98
432,98
432,98
432,28
462,57
462,57

h4
(kJ/kg)
237,9
237,9
237,9
237,9
237,9
237,9
237,9
237,9
237,9

m
(kg/s)
0,025
0,025
0,025
0,025
0,025
0,025
0,025
0,025
0,025

QR (kW)
5,61675
5,6585
4,877
4,877
4,877
4,877
4,8595
5,61675
5,61675

Data diambil dari tanggal 1 9 Oktober 2009. Temperatur refrigerant masuk kondensor bervariasi dari 92C sampai 94C (relatif
konstan). Sementara Tekanan masuk dan keluar kondensor konstan, yaitu 14 dan 12 bar gauge. Entalpi masuk dan keluar didapat dari
tabel property untuk R22. Entalpi bervariasi tergantung temperatur dan tekanan refrigeran. Sementara, laju alir air refrigeran besarnya

konstan yaitu 0,025 kg/s. Penulis menggunakan persamaan (1.1) sehingga didapat kalor yang dilepas refrigeran yang berkisar antara 4,86
kW sampai dengan 5,66 kW.

Tabel 3.1.6 Data Profil Air Pendingin Refrigeran pada Kondensor


Tin (C)
25

Tout (C)
30

m (kg/s)
0,03

Qair (kW)
0,63

kon (%)
11,21645

25

33

0,03

1,008

17,81391

25

34

0,03

1,134

23,252

25

35

0,03

1,26

25,83555

25

36

0,03

1,386

28,41911

25

36

0,03

1,386

28,41911

25

36

0,03

1,386

28,52145

25

36,5

0,03

1,449

25,79784

25

37

0,03

1,512

26,91948

Sementara untuk perhitungan air pendingin membutuhkan data suhu air masuk kondensor (Tin), suhu air keluar kondensor (Tout)
dan laju alir air. Suhu air masuk kondensor besarnya konstan yaitu 25C. Suhu air keluar kondensor bervariasi antara 30C sampai

dengan 36,5C. Sementara laju alir airnya konstan yaitu 0,03 kg/s. Melalui persamaan (1.2) didapat kalor yang diserap air yaitu antara
0,63 kW sampai dengan 1,51 kW. Efektivitas kondensor didapat melalui persamaan (1.4), didapat efektivitasnya bervariasi antara 11,21%
sampai dengan 28,42%.

Tabel 3.1.7 Data COP Hasil Analisis Pada Sistem Chiller


COP
4,45851
3,304735
8,542257
8,736476
8,638388
8,736476
11,59637
3,379818
3,379818
Data hasil analisis diatas dihasilkan dari persamaan (1.5). Nilai COP berkisar
antara 3,30 sampai dengan 11,59. Masih ada beberapa nilai COP yang dibawah
standar. Oleh karena itu, COP perlu dilakukannya manajemen energi yang mampu
meningkatkan nilai COP. Cara meningkatkannya yaitu dengan cara meningkatkan
tekanan Pout pada evaporator.

Data Hasil Analisis Pada Sistem Penerangan

Nama Ruang

No

Daya
Pencahayaan
(W/m2)

Fluks
Luminus
(Lumen)

Efikasi
(Lumen/watt)

Ruang Rectifier EWSD

4.21

12947

71.93

Ruang Personil Sentral

6.88

19497.44

54.16

Ruang Sentral Dunk dan AT & T

5.52

18536.22

64.36

Ruang Rectifier AT & T dan MDP


III

3.89

20697.8

71.87

Ruang Catu Daya

3.56

6790.23

62.87

Ruang Baterai I

5.00

9005.76

62.54

Ruang Baterai II

5.33

16588.8

57.60

Ruang Kasubdin ME

11.43

4854.78

33.71

Ruang Personil Catu Daya

2.30

6983.28

62.35

10

Ruang Dapur

4.68

2084.39

57.90

Jumlah

52.79

117985.70

599.29

Rata2

5.23

11798.57

59.93

Tingkat pencahayaan ini menyatakan besarnya tingkat pencahayaan pada tingkat


pencahayaan pada setiap ruangan. Hal ini ditunjukkan untuk mengetahui tingkat kualitas
pencahayaan pada setiap ruangan yang nantinya akan dibandingkan dengan standar yang
telah ditetapkan.
1.

Perbandingan Penerangan dengan Standar


a. Tingkat Pencahayaan minimum
Standar yang digunakan untuk membandingkan tingkat pencahayaan pada
perkantoran dengan standar, standar yang digunkan adalah SNI 03-6575-2001.
Tingkat pencahayaan minimum yang diperlukan pada setiap ruangan berdasarkan SNI
disajikan pada tabel dibawah ini
Tabel 3.1.7 Perbandingan Tingkat Pencahayaan yang Terukur dengan Standar

No

Nama Ruang

Standar
Tingkat
Pencahayaan
Minimum
(Lux)

Keterangan

Ruang Rectifier EWSD

350

302.5

kurang

Ruang Personil Sentral

350

372.8

ok

Ruang Sentral Dunk dan AT


&T

350

355.1

ok

Ruang Rectifier AT & T dan


MDP III

350

279.7

kurang

Ruang Catu Daya

300

224.1

kurang

Ruang Baterai I

300

312.7

ok

Ruang Baterai II

300

307.2

ok

Ruang Kasubdin ME

350

385.3

ok

Ruang Personil Catu Daya

350

143.1

kurang

10

Ruang Dapur

250

270.7

ok

Tingkat
Pencahayaan
Terukur (Lux)

Cahaya alami dari matahari dapat mempengaruhi besarnya tingkat


pencahayaan. Berdasarkan profil diatas terdapat ruangan yang tingkat pencahayaan
telah memenuhi standar dan terdapat 5 ruangan yang tingkat pencahayaan kurang.

b. Daya Pencahayaan.
Untuk mengetahui apakah daya listrik penerangan yang digunakan PT Telkom Boros
atau tidak maka perlu ada perbandingan dengan standar yang ada. Standar untuk daya
pencahayaan yang digunakan adalah SNI 03-6197-2000. Berikut disajikan tabel
perbandingan antara daya pencahayaan di PT Telkom dengan standar.

1.

Hasil Analisis Kinerja Pada Sistem Chiller


Kinerja Evaporator
Profil Efektivitas Evaporator dibandingkan dengan Baseline
120
100
80
Efektivitas

STANDAR

60

AKTUAL

40
20
0

Tanggal

Gambar 3.1.4 Grafik Profil Efektivitas Evaporator Dibandingkan Dengan Baseline


Grafik diatas menunjukan baseline efektivitas hasil perhitungan dari hasil
pengukuran yang telah dilakukan. Ada tiga data yang jauh dibawah rata-rata dan enam
data lainnya sedikit dibawah nilai rata-rata. Hal ini kurang baik, oleh karena itu
perlunya dilakukan manajemen energi dan proses memperbaikinya.

2.

Kinerja Kondensor

Profil Efektivitas Kondensor dibandingkan dengan Baseline


30
25
20
Aktual

Efektivitas (%) 15
10

Standar

5
0

Tanggal Pengambilan Data

Gambar 3.1.5 Grafik Profil Efektivitas Kondensor Dibandingkan Dengan Baseline


Grafik menunjukan adanya penaikan efektivitas kondensor terhadap waktu.
Meskipun hal ini baik tapi masih ada efektivitas yang dibawah rata-rata hal ini
menunjukan efektivitas kondensor masih kurang bagus maka perlu ada proses
manajemen energi untuk memperbaikinya.

3.

COP Pada Sistem Chiller


Profil COP Evaporator dibandingkan dengan Baseline
14
12
10
COP

AKTUAL

STANDAR

4
2
0

Tanggal

Gambar 3.1.5 Grafik Profil COP Evaporator dibandingkan dengan Baseline


Grafik diatas menunjukan baseline COP hasil perhitungan dari hasil
pengukuran yang telah dilakukan. Ada empat data yang dibawah rata-rata, meskipun
ada data yang cukup besar diatas rata-rata. Untuk menigkatkan nilai COP, perlunya
dilakukan manajemen energi.

Tabel 3.1.8 Daya Pencahayaan di PT Telkom

No

Nama Ruang

Standar
Keterangan
Daya
Daya
Maksimum
Luas Total
Pencahayaan
Daya
2
(m ) Lampu
Terhitung
Pencahayaan
(Watt)
(W/m2)
(W/m2)

Ruang Rectifier EWSD

42.8

180

15

4.21

ok

Ruang Personil Sentral

52.3

360

15

6.88

ok

Ruang Sentral Dunk dan


AT & T

52.2

288

15

5.52

ok

Ruang Rectifier AT & T


dan MDP III

74

288

15

3.89

ok

Ruang Catu Daya

30.3

108

3.56

ok

Ruang Baterai I

28.8

144

5.00

ok

Ruang Baterai II

54

288

5.33

Not

Ruang Kasubdin ME

12.6

144

15

11.43

ok

Ruang Personil Catu


Daya

48.8

112

15

2.30

10

Ruang Dapur

7.7

36

10

4.68

ok
ok

Perbandingan Daya Pencahyaan Di PT. Telkom Dengan Standar


16
14
12
10
8
6
4
2
0

Standar SNI

Terhitung

Gambar Grafik 3.1.6 Perbandingan Daya Pencahyaan Dengan Standar

Dari grafik diatas terlihat hampir semua ruangan tidak melebihi standar artinya penggunaan
listrik untuk penerangan pada ruangan tersebut sudah efisien, hanya pada ruang baterai II saja
yang termasuk dalam kata boros.

BAB IV
MANAJEMEN ENERGI
4.1
1.

Manajemen Energi Pada Sistem Chiller


Evaporator
Untuk meningkatkan efektivitas pada evaporator, dilakukan dengan cara
menambahkan debit airnya. Debit air ditambahkan sebesar 2 L/min. Ketika debit air
ditambah, maka kalor yang dilepas refrigerant juga akan bertambah. Berikut
merupakan data tabel hasil perhitungannya:
Tabel 4.1.1 data hasil perhitungan
debit air
L/min

mair.
(m3/s)

mref.
(m3/s)

Qwater
(kW)

Qref.
(kW)

Efektivitas
(%)

15,9

0,26447

0,025

4,443096

5,2655

84,38127

17,6

0,292747

0,025

4,918144

4,083

86,76292

13,7

0,227877

0,025

3,828328

4,06825

94,10257

14

0,232867

0,025

3,91216

4,07775

95,93918

13,5

0,22455

0,025

4,71555

4,073

99,2138

14,4

0,23952

0,025

5,02992

4,07775

81,84639

13

0,216233

0,025

3,63272

5,26475

69,00081

13,7

0,227877

0,025

3,828328

4,07775

93,88334

13,7

0,227877

0,025

3,828328

4,07775

93,88334

Setelah dilakukakannya penambahan debit air sebesar 2 L/min dan laju massa
refrigerant tetap yaitu 0,025 m3/s, dapat dihasilkan grafik sebagai berikut:

Grafik Efektivitas Kondensor dibandingkan dengan Baseline


120
100

Efektivitas

80

Efektivitas setelah
dimanajemen

60

STANDAR

40

Efektivitas sebelum di
manajemen

20
0

Tanggal

Gambar 4.1.1 Garfik Efektivitas Kondensor dibandingkan dengan Baseline

Dari gambar grafik diatas dapat diketahui bahwa setelah dinaikannya debit air
sebesar 2 L/min, nilai efektivitasnya pun bertambah. Contohnya pada data tanggal 7,
efektivitas sebelum dinaikan debit airnya yaitu sebesar 57,44 % dan setelah dinaikkan
debit airnya sebesar 2 L/min, efektivitasnya bertambah menjadi 69,00 %. Hal ini
menunjukan bahwa dengan menaikan laju alir sebesar 2 L/min mampu menaikan
efektivitas evaporator dari mulai 1,25 % sampai dengan 17,66 %.
Selain meningkatkan debit airnya, dilakukan pembersihan pada evaporatornya
juga, hal ini dapat meningkatkan kinerja evaporator.
2.

Kondensor
Solusi Peningkatan Efektifitas Kondensor:
a.

Mengadakan perawatan (maintenance) yang berkala pada kondensor yaitu


dengan membersihkan pipa-pipa tempat terjadinya perpindahan panas pada
kondensor. Kotoran-kotoran yang mengendap pada area perpindahan panas
akan mengganggu proses tersebut sehingga kalor yang dapat dipindahkan dari
refrigerant ke air pendingin pun akansemakin sedikit. Melakukan pembersihan
pada kondensor dapat meningkatkan efektivas kondensor dari mulai 1%
sampai dengan 2%.

b.

Meningkatkan laju aliran air pendingin dari 0,03 kg/s menjadi 0,05 kg/s
Ketika laju alir air ditambah maka kalor yang dapat diserap air juga akan
bertambah. Hasil analisanya adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1.2 Data Hasil Analisis
m (kg/s)
0,05

Q air (kW)
1,05

Eff (%)
18,69408

0,05

1,68

29,68985

0,05

1,89

38,75333

0,05

2,1

43,05926

0,05

2,31

47,36518

0,05

2,31

47,36518

0,05

2,31

47,53575

0,05

2,415

42,99639

0,05

2,52

44,8658

Kalor yang dilepas refrigeran dianggap tetap (sama besarnya sebelum proses
manajemen) karena penulis tidak melakukan perubahan pada siklus refrigerasi.
Terlihat dari data bahwa kalor yang dapat diserap oleh kondensor adalah dari mulai
1,05 kW sampai 2,52 kW. Efektivitas bervariasi dari mulai 18,69 % sampai dengan
47,53%. Penulis mengubah data hasil manajemen kedalam bentuk grafik agar mudah
dipahami. Grafik efektivitas kondensor setelah proses manajemen tertuang dalam
Gambar 2, sebagai berikut.

Grafik Efektivitas Kondensor dibandingkan dengan Baseline


50
45
40
35

Sebelum Manajemen

Efektivitas (%) 30
25

Standar
Setelah Manajemen

20
15
10

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Waktu Pengambilan Data

Gambar 4.1.2 Grafik Efektivitas Kondensor Dibandingkan dengan Baseline Terhadap


Waktu Sebelum dan Setelah Proses Manajemen Energi
Dari grafik dapat terlihat bahwa proses manajemen energi yaitu dengan
menambah laju alir massa air pendingin pada kondensor dapat menaikan efektivitas
dari kondensor. Mulai dari yang paling sedikit, yaitu kenaikan 7,5% untuk data
tanggal 1 hingga yang paling besar yaitu kenaikan sebesar 18,9% untuk data tanggal 5
dan 6 Oktober. Hal ini menujukan bahwa dengan menaikan laju alir massa air
pendingin kondensor dari 0,03 ke 0,05 (dinaikan 0,02) mampu menaikan efektivitas
kondensor dari mulai 7,5 % sampai dengan 18,9%.
Menaik/turunkan tekanan kondensor. Tekanan pada kondensor berpengaruh
terhadap properti dari refrigeran. Perubahan properti pada refrigeran menyebabkan
kerja mesin juga berubah dan mempengaruhi nilai COP dari mesin pendingin.
Berikut adalah properti refrigeran apabila tekanan masukan kondensornya dinaikan
dari 14 bar menjadi 14,5 bar.
3.

COP Pada Sistem Chiller


Untuk meningkatkan nilai COP pada evaporator dilakukan dengan cara
menurunkan tekanan outputnya sebesar 0,5 Bar. Ketika tekanan diturunkan, maka
nilai COP yang dihasilkan akan bertambah. Berikut merupakan data tabel hasil
perhitungannya:

Tabel 4.1.3 Data Hasil Analisis


h1

h2

h3

COP

(kJ/kg)

(kJ/kg)

(kJ/kg)

204,71

416,24

462,57

4,565724

251,5

415,73

464,24

3,385488

251,2

414,86

432,98

9,032009

251,2

415,23

432,98

9,241127

251,2

415,05

432,98

9,138316

251,2

415,23

432,98

9,241127

203,53

415,05

432,28

12,27626

251,2

415,23

462,57

3,464935

251,2

415,23

462,57

3,464935

Setelah dilakukakannya penurunan tekanan sebesar 0,5 Bar, dihasilkan grafik


sebagai berikut:
Grafik COP Evaporator dibandingkan dengan Baseline
14
12
10

COP setelah
dimanajemen

8
COP

STANDAR

COP sebelum
dimanajemen

4
2
0

Tanggal

Gambar 4.1.3 Grafik COP Evaporator dibandingkan dengan Baseline

Dari gambar grafik diatas dapat diketahui bahwa setelah diturunkannya tekanan
sebesar 0,5 Bar, nilai COPnya pun bertambah. Contohnya pada data tanggal 2, COP
sebelum dinaikan tekanannya yaitu sebesar 3,304735 dan setelah dinaikkan tekanannya

sebesar 0,5 Bar, COPnya bertambah menjadi 3,38548. Hal ini menujukan bahwa dengan
menaikan tekanan sebesar 0,5 Bar mampu menaikan COP evaporator dari mulai 0,08
sampai dengan 0,1.

Tabel 4.1.4 Properti Refrigeran pada Tekanan masukan kondensor 14,5 bar.

4.2

T3
(0C)

P3
(Bar)

T4
(0C)

P4
(Bar)

h3
(kJ/kg)

h4
(kJ/kg)

92

14,5

31

12

462,03

237,9

94

14,5

31

12

463,71

237,9

94

14,5

31

12

463,71

237,9

94

14,5

31

12

463,71

237,9

94

14,5

31

12

463,71

237,9

94

14,5

31

12

463,71

237,9

93

14,5

31

12

462,87

237,9

92

14,5

31

12

462,03

237,9

92

14,5

31

12

462,03

237,9

COP
4,510064
3,34056
3,268984
3,301822
3,28534
3,301822
4,319795
3,418064
3,418064

Penerangan
Banyak cara untuk melakukan penghematan energi pada sektor penerangan
baik dengan investasi maupun tanpa investasi. Semakin besar investasi maka semakin
besar pula peluang penghematan energi. Pada sub bab berikutnya akan dijelaskan
beberapa peluang penghematan energi baik dengan investasi maupun tanpa investasi.
Peluang penghematan energi tanpa investasi.
4.1.1

Peluang penghematan energi tanpa investasi.


Peluang penghematan energi tanpa investasi dapat dilakukan dengan cara sbb :
Mengatur Posisi Perlengkapan Kantor Agar Tidak Menghalangi
Penerangan.
Terkadang terdapat perlengkapan kantor yang menghalangi jendela
sehingga dapat menghalangi cahaya alami yang masuk. Dengan mengatur
posisi yang tepat tanpa menghalangi jendela dapat menambah intensitas
cahaya pada ruangan sehingga dengan cara tersebut berpotensi mengurangi
jumlah lampu yang ada.

Menyalakan lampu pada saat diperlukan dan mengurangi lampu.


Mengontrol penggunaan lampu pada setiap ruangan merupakan salah
satu cara menghemat penggunaan listrik. Penggunaan kantor Telkom lembong
tidak sepenuhnya dipakai selama 8 jam penuh untuk berkerja karena setiap
kantor pastinya terdapat jam istirahat. Pada ruangan yang selalu digunakan
oleh karyawan kantor berpeluang untuk dimatikan lampunya saat jam istirahat.
Selain itu mematikan lampu pada ruangan yang tidak digunakan dapat
berpeluang melakukan penghematan listrik.
Pada tabel daya pencahayaan terdapat ruangan yang boros yaitu ruang
baterai II. Agar dapat melakukan konservasi energy maka akan dilakukan
analisis saving energy sbb:
a. Mengurangi penggunaan lampu saat jam istirahat selama 1 jam.
Sistem penerangan di PT Telkom digunakan selama 8 jam per hari, saat
jam istirahat lampu akan dimatikan selama 1 jam sebagai upaya
penghematan. Besar biaya listrik yang dapat dihemat selama 1 tahun bila
lampu dimatikan 1 jam adalah sbb :
Asumsikan 1 kwh = Rp 1300,Saving = (((Daya total lampu x waktu operasi 8 jam/)1000) x biaya 1
KWh) - (((Daya total lampu x waktu operasi 7 jam/)1000) x
biaya 1 KWh)
= (((1948 watt x (8x5x4x12) jam/tahun)/1000) x Rp 1300/KWh )
- (((1948 watt x (7x5x4x12) jam/tahun)/1000) x Rp
1300/KWh)
= Rp 4.682.208 KWh/ Tahun Rp 4.254.432 Kwh/tahun
= Rp 427.776 /tahun
b. Mengurangi jumlah lampu.
Ruang baterai II tingkat pencahayaanya 5,3 watt/m2 dan standar seharusnya
adalah 5 watt/m2. Oleh karena itu 1 lampu dapat dimatikan diruang tersebut,
biaya listrik yang dapat dalam sebagai berikut :
-

Daya total lampu adalah 1948 watt dan akan dikurangi daya 1 lampu
sebesar 36 watt.
Total daya setelah disaving = 1948 W 36 watt =1912 watt

Maka biaya listrik yang dapat di hemat pertahun adalah :


Asumsikan 1 kwh = Rp 1300,Saving per tahun = (((daya total lampu sebelum saving x waktu operasi)/1000)
x biaya 1 kwh)- (((daya total lampu setelah saving/1000 x
waktu operasi)/1000) x biaya 1 kwh)
= (((1948 watt x 1920 jam/tahun)/1000) x Rp 1300/KWh) (((1912 watt x 1920 jam/tahun)/1000) x Rp 1300/KWh)

= Rp 4.862.208 KWh/tahun- Rp 4.772.352/tahun


= Rp 89.856/tahun
Setelah dilakukan sejumlah perhitungan dengan mematikan 1 lampu pada
ruangan baterai II dapat mengemat biaya listrik Rp 89.856/tahun.
Melakukan Perawatan lampu.
Rekomendasi selanjutnya dengan melakukan perawatan kepada lampu .
salah satunya melalukan pembersihan lampu-lampu dari kotoran yang
menempel sepeti debu yang menempel pada lampu. Pembersihan lampu dapat
berpengaruh kepada intensitas cahaya yang dihasilkan lampu.

Perawatan

dengan membersikan lampu dapat dilakukan pada semua ruangan, agar


iluminasi yang dihasilkan lebih optimal.

4.1

Manajemen Energi
Tabel 4.3 Manajemen Energi

Item
Efektivitas
Kondensor
Efektivitas
Evaporator
Kinerja
Chiller

Sebelum
Manajemen
24,02 %
84,13 %
6,75

SC1
Menaikan laju air
pendingin: 40,036%
Menaikan laju air
dingin: 98,97 %
Menaikan Tekanan
evaporator: 7,08

SC2
melakukan pembersihan sebesar
25 %
melakukan pembersihan sebesar
85 %
Menaikan tekanan kondensor
dan evaporator: 6,8

Lumen
Konsumsi
Listrik

115.079

109714,8354

114232,5051

Biaya Listrik

117380274

111909132,1

116517155,2

Saving

5471141,914

863118,8276

Keterangan:
Beban pendinginan
Harga listrik

= 2072245,18 kWh/tahun
= Rp. 1020/kWh

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Dari analisis yang telah dilakukan didapat kesimpulan bahwa:

1.

Solusi untuk meningkatkan efektivitas evaporator adalah dengan cara:

a.

Meningkatkan laju air dingin sebesar 2 L/min. Hal ini mampu meningkatkan

b.

efektivitas evaporator dari mulai 1,25 % sampai dengan 17,66 %.


Melakukan pembersihan pada evaporator yang bisa meningkatkan efektivitas
sebesar 1 2%, efektivitas awal yaitu 24 % sehingga setelah dilakukannya

2.

pembersihan, efektivitas menjadi 25 %.


Solusi untuk meningkatkan efektivitas kondensor adalah dengan cara:
a. Meningkatkan laju air pendingin dari 0,03 kg/s menjadi 0,05 kg/s yang dapat
meningkatkan efektivitas dari mulai 7,47 % sampai dengan 18,94 %.
Melakukan pembersihan pada kondensor yang bisa meningkatkan efktivitas

b.

sebesar 1 2%, efektivitas awal yaitu 84 % sehingga setelah dilakukannya


3.

pembersihan, efektivitas menjadi 85 %.


Solusi untuk meningkatkan daya pencahayaan serta lumen pada sistem pencahayaan
adalah:
a. Mengatur posisi perlengkapan kantor agar tidak menghalangi penerangan.
b.
Mengurangi lampu pada ruang baterai (karena daya pencahayaannya melebihi
c.

standar), hal ini dapat menghemat biaya listrik sebesar Rp 89.856/tahun.


Mengurangi penggunaan lampu saat istirahat selama 1 jam dapat menghemat

d.

biaya listrik sebesar Rp 427.776 /tahun


Melakukan Perawatan lampu yaitu dengan pembersihan lampu-lampu dari
kotoran yang menempel sepeti debu yang menempel pada lampu.

5.2

Saran
Penulis menyarankan untuk melakukan manajemen energi pada sistem chiller dan
sistem pencahayaan sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.

Meningkatkan tekanan kondensor dan evaporator pada chiller.


Menigkatkan laju alir kondensor dan evaporator pada chiller.
Melakukan perawatan/maintenance pada komponen-komponen sistem chiller.
Mengatur waktu operasi lampu selama 1 jam, saat jam istirahat.
Kedua solusi tersebut akan bisa mengehemat energi sebesar Rp 863118,827,- / tahun
dari manajemen chiller dan Rp. 427.776 /tahun.