Anda di halaman 1dari 6

Pengujian Sifat Timbangan Sentisimal Kelas III Kapasitas 150 kg

UPTD METROLOGI PEMATANG SIANTAR

Dr. Diana A. Barus1, M.sc , Tanto Kuntoyo, MM2


1
Abdul Rasyid, 2Nur Hafiz A. Rangkuti, 3Tetra B. Sembiring, 4Fahrizal Ahmad
Mahasiswa Program Studi D3 Metrologi dan Instrumentasi FMIPA USU

ABSTRAK

kg
tergantung
kapasitas
maksimum
menimbang (total) timbangan. Gandar
berskala yang dilengkapi bobot ingsut ini
adalah untuk menghindari penggunaan AT
yang kecil dalam membuat kedudukan
setimbang. Pada bagian ujung gandar dibuat
lancip dan pada bagian yang berhadapan
dengan ujung gandar yang lancip dipasang
tolok
yang
kedudukannya
permanen.
Kedudukan setimbang diperlihatkan apabila
ujung gandar yang lancip itu tepat berhadapan
dengan ujung tolok.

Timbangan sentisimal termasuk timbangan


majemuk kelas menengah yang banyak
digunakan para pedagang. Lantai muatannya
luas, sehingga timbangan ini dapat
menimbang muatan yang relatif besar dan
tanpa memerlukan anak timbangan yang
besar, karena anak timbangan yang diperlukan
hanya 1/100 dari muatan yang ditimbang,
sehingga disebut timbangan sentisimal yang
artinya seperseratus.
Dalam pengujian yang telah dilakukan,
timbangan memiliki nilai interval skala 2. DASAR TEORI
2.1 Persyaratan Teknis
verifikasi sebesar 100 g, minimum
1. Bahan
menimbang 2000 g, BKD pada kapasitas
Timbangan harus dibuat dari bahan
maksimum sebesar 150 g, dan memiliki
yang kualitasnya sedemikian rupa,
kesalahan penunjukan rata-rata 20 g.
sehingga dapat menjamin keserasian,
kekuatan, keawetan dan karakteristik
Kata kunci : Ketidaktetapan, Kepekaan,
serta sifat-sifat kemetrologiannya.
2. Konstruksi
BKD, Muatan.
a. timbangan harus dibuat sesuai
dengan
maksud
dan
tujuan
1. PENDAHULUAN
penggunaannya;
Timbangan sentisimal disebut demikian
b. timbangan harus dibuat kokoh dan
sentisimal (seperseratus) karena mempunyai
rapih agar menjamin pemeliharaan
perbandingan antara anak timbangan yang
kualitas kemetrologiannya selama
ditaruh di piring AT dengan barang/muatan
periode penggunaannya;
c. timbangan
harus
mempunyai
yang di timbang sebesar 1 : 100 artinya
penerimaan
muatan
yang
apabila menaruh AT pada piringan AT seberat
sedemikian rupa, sehingga massa
1 kg, maka dalam keadaan setimbang
standar/anak timbangan standar
barang/muatan yang ada pada piringan
dapat diletakkan dengan mudah dan
muatan beratnya sama dengan 100 kg.
aman pada saat pengujian. Jika
Pada umumnya timbangan ini ditempatkan
massa
standar/anak
timbangan
dibawah/diatas tanah tidak diatas meja,
standar tidak dapat ditempatkan,
karena pada umumnya mempunyai kekuatan
perlu ada penyangga tambahan;
maksimum menimbang 150 kg atau lebih.
d.
timbangan tidak boleh mempunyai
Pada gandar utama, diberi berskala dan
karakteristik yang memudahkan
dilengkapi dengan bobot ingsut. Kapasitas
untuk melakukan kecurangan;
pada gandar utama ini adalah 25 kg atau 50

e. timbangan harus dibuat sedemikian


rupa, sehingga gangguan yang
mempengaruhi kebenaran fungsinya
segera dapat diketahui;
f. timbangan
harus
dilengkapi
pengaman alat penyetel. Untuk
timbangan kelas satu alat penyetel
kepekaan boleh tidak disegel;
g. timbangan boleh dilengkapi dengan
alat untuk kompensasi pengaruh
perubahan
gravitasi.
Setelah
penyegelan/ pengamanan, pengaruh
luar pada atau akses terhadap alat ini
harus tidak memungkinkan.
2.2 Persyaratan Kemetrologian
2.2.1 Penetapan kelas timbangan
Tabel 1 Penetapan kelas timbangan

2.2.2 Batas Kesalahan yang Diizinkan


Tabel 2 Batas Kesalahan yang Diizinkan

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui


apakah timbangan dapat memberikan hasil
yang konsisten, apabila diberi muatan yang
sama secara berulang-ulang pada posisi yang
relatif sama. Muatan uji yang digunakan
adalah beban yang bersifat tetap dengan
massa sekurang-kurangnya 50% Maks.
Langkah-langkah pengujian:
1. Nolkan timbangan (I0);
2. Muati dengan muatan uji dan diberi
tanda letak posisi muatan;
3. Setelah timbangan diberi muatan L
lakukan langkah-langkah sbb:
- Periksa posisi jarum terhadap tolok
kesetimbangan (kemungkinan diatas
atau dibawah sekitar tolok). Kemudian
geser ke bobot ingsut ke skala
berikutnya sebesar 1e.
- Tambahkan imbuh 0,1e ke atas
penerima muatan secara bertahap
sampai penunjukan tepat pada garis
skala berikutnya, catat jumlah imbuh
yang dibutuhkan yaitu L
- Catat penunjukan timbangan IL+L,
dengan demikian posisi penunjukan
timbangan (P) adalah P = IL+L L
4. Turunkan muatan uji dan imbuh yang
digunakan;
5. Jika penunjukan timbangan tidak nol,
dinolkan;
6. Lakukan langkah-langkah 2 s.d. 5 secara
berulang dengan minimum 3 kali
pengujian;
7. Repeatability (ketidaktetapan) nya adalah
:
R=

3. METODOLOGI
Terdapat beberapa pengujian yang harus
dilakukan untuk menguji neraca sama lengan
yaitu : Ketidaktetapan (Repeatability),
Pengujian Kepekaan, Penunjukan Nol, dan
Pengujian Kebenaran.
3.1 Ketidaktetapan (Repeatability)

( Pi P )

n1

Dimana

P
= rata-rata pengujian

n = jumlah pengujian
8. Bandingkan hasil pengukuran dan
periksa apakah nilai R tidak lebih besar
dari nilai absolut BKD untuk muatan uji.
3.2 Pengujian Eksentrisitas

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui


kinerja timbangan dalam memberikan hasil
penimbangan bila muatan yang sama
diletakkan pada posisi yang berbeda.
Langkah-langkah pengujian:
1. Muatan uji yang digunakan anak
timbangan standar dengan massa 1/3
Maks;
2. Nolkan timbangan (I0);
3. Naikkan muatan uji pada bagian yang
diuji;
4. Tentukan
dan
catat
kesalahan
penunjukannya (E), yaitu
E = IL+L L L
5. Lakukan langkah 2 s.d. 4 untuk bagian
lainnya;
6. Periksa apakah kesalahan penunjukan (E)
pada setiap bagian permukaan tidak
melebihi BKD untuk muatan uji.
3.3 Pengujian Kepekaan
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kinerja/kemampuan timbangan terhadap
perubahan kecil muatan. Untuk timbangan
yang memiliki d e, maka ketentuan dalam
prosedur pengujian ini yang ditulis e diubah
menjadi d. Pengujian dilakukan pada 3 titik
sembarang titik uji (misal: Min, 50% Maks
dan Maks).
Langkah-langkah pengujian:
1. Nol-kan timbangan (I0);
2. Naikkan muatan pada penerima
muatan;
3. Catat penunjukan awal timbangan (I1);
4. Dengan hati-hati tambahkan imbuh
sebesar 1 kali nilai BKD untuk muatan
yang digunakan ke atas penerima
muatan;
5. Amati
dan
catat
perubahan
penunjukannya (I2);
6. Periksa
apakah
perubahan
penunjukannya
memenuhi
syarat
ditetapkan yaitu minimal 0,7 BKD.
3.4 Penunjukan Nol

Pengujian dilakukan dengan menaikkan dan


menurunkan muatan (sembarang muatan)
serta mengamati perubahan penunjukannya.
Langkah-langkah pengujian:
1. Nolkan timbangan (I0);
2. Naikkan muatan uji;
3. Turunkan kembali muatan uji;
4. Amati secara visual perubahan posisi
penunjukan nol timbangan dan periksa
perubahan penunjukannya tidak boleh
lebih dari 0,25e dari nol.
3.5 Pengujian Kemiringan
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kinerja timbangan sejauh mana perbedaan
hasil penimbangan bila timbangan dimuati
dalam posisi miring. Pengujian ini tidak
dilakukan untuk timbangan yang muatannya
digantung.
Langkah-langkah pengujian:
1. Posisikan timbangan dalam keadaan
datar dengan memperhatikan penyipat
datar.
2. Muati timbangan dengan sembarang
muatan
dan
tentukan
posisi
penunjukannya, misalnya P1.
3. Posisikan timbangan dalam keadaan
miring sebesar 1/1000 dari keadaan
penyipat datar butir 1, yaitu dengan
memberikan
ganjal
dalam
arah
panjangatau melintang.
4. Muati timbangan sebesar seperti muatan
pada butir (2) dan tentukan posisi
penunjukannya misal P2. Selisih P2 P1
tidak boleh lebih besar dari BKD.
3.6 Pengujian Kebenaran
Pengujian kebenaran harus dilakukan setelah
uji ketidaktetapan (Repeatability). Titik uji
penimbangan dengan minimal lima (5) titik
uji dalam rentang ukur penimbangannya
harus mencakup :
1. Minimum menimbang;
2. Pada titik perubahan BKD;
3. Maksimum menimbang atau boleh
kurang sampai 5e dari maksimum

Langkah-langkah pengujian :
1. Nolkan timbangan (I0);
2. Muati dengan anak timbangan standar L
sesuai dengan titik uji yang akan
diperiksa (didahului dari minimum
menimbang);
3. Catat penunjukan timbangan IL+L dan
tentukan kesalahan penunjukannya (E);
E = IL+L L L
4. Lakukan kembali prosedur di atas untuk
titik-titik uji lainnya.
5. Pengujian selesai
4. PEMBAHASAN DAN ANALISA
4.1 Penentuan spesifikasi timbangan
Jumlah interval skala Verifikasi
Kap . Max
150000
n =
=
= 1500
e
100
Kelas = III (Sedang)
e = 100 g
Min. Menimbang = 20 e = 20 (100)
= 2000 g
Muatan Uji
= 75000 g
Muatan
75000
n=
=
= 750 (Lihat
e
100

Tabel 3 Kemampuan Ulang (Repeatibility)


4.2.2 Pengujian Eksentrisitas
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kinerja timbangan dalam memberikan hasil
penimbangan bila muatan yang sama
diletakkan pada posisi yang berbeda. Pada
pengujian ini dilakukan sebanyak 5 titik
penimbangan dengan muatan yang sama yaitu
50 kg, BKD muatan sebesar 100 g, dan imbuh
(L) berbeda pada masing-masing titik. Dari
hasil pengujian, error maksimum timbangan
adalah 80 g dan masih berada pada BKD.
Tabel 4 Eksentrisitas

Tabel BKD)
1,0 e = 1.0 (100 g)
BKD = 100 g
4.2 Data Pengujian Timbangan Sentisimal
4.2.1 Ketidaktetapan (Repeatability)
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
apakah timbangan dapat memberikan hasil
yang konsisten, apabila diberi muatan yang
sama secara berulang-ulang pada posisi yang
relatif sama. Pada pengujian ini dilakukan
sebanyak 3 kali dengan muatan uji yang
diberikan pada timbangan sebesar 75 kg,
BKD muatan sebesar 100 g, dan imbuh (L)
90-100 g. Dari hasil pengujian, timbangan
masih menunjukkan hasil yang konsisten.

4.2.3 Pengujian Kepekaan


Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kinerja/kemampuan timbangan terhadap
perubahan kecil muatan. Untuk timbangan
yang memiliki d e, maka ketentuan dalam
prosedur pengujian ini yang ditulis e diubah
menjadi d. Pada pengujian ini dilakukan
sebanyak 3 kali dengan muatan uji yang
berbeda-beda yaitu 2 kg, 75 kg, dan 150 kg.
masing-masing muatan diberikan imbuh (L)
yang berbeda. Pengujian dinyatakan sah jika
pergerakan tolok minimal 5 mm.

Tabel 5 Kepekaan

4.2.4 Penunjukan Nol


Pengujian dilakukan dengan menaikkan
dan menurunkan muatan (sembarang muatan)
serta mengamati perubahan penunjukannya.
Pada pengujian ini dilakukan dengan muatan
25 kg. Pengujian dinyatakan sah saat muatan
dinaikkan, tolok berada diatas dan bergerak
ke arah kesetimbangan.
Tabel 6 Penunjukan Nol

4.2.5 Pengujian Kemiringan


Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kinerja timbangan sejauh mana perbedaan
hasil penimbangan bila timbangan dimuati
dalam posisi miring. Pengujian ini tidak
dilakukan untuk timbangan yang muatannya
digantung. Pada pengujian ini dilakukan
sebanyak 2 kali dengan muatan (L) 10 kg dan
BKD muatan sebesar 50 g. Pengujian ini
dikatakan sah bila selisih penunjukan
pengujian tanpa dimiringkan (P1) dengan
pengujian dengan kemiringan 2/1000 harus
tidak melebihi 1 BKD (50 g). Dari pengujian,
P1-P2 = 0 dan pengujian ini dinyatakan sah.
Tabel 7 Pengujian Kemiringan

4.2.6 Pengujian kebenaran


Pengujian kebenaran harus dilakukan
setelah uji ketidaktetapan (Repeatability).
Titik uji penimbangan dengan minimal 5 titik
uji dalam rentang ukur penimbangannya
harus mencakup : Minimum menimbang;
Pada titik perubahan BKD; Maksimum
menimbang atau boleh kurang sampai 5e dari
maksimum. Dari hasil pengujian dinyatakan
sah, karena pada masing-masing mutan uji
memiliki kesalahan penunjukan yang tidak
melebihi BKD.
Tabel 8 Pengujian Kebenaran

5.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengujian neraca, dapat diambil
beberapa kesimpulan, diantaranya :
1. Dalam pengujian yang telah dilakukan,
timbangan memiliki nilai interval skala
verifikasi sebesar 100 g, minimum
menimbang 2000 g, BKD pada kapasitas
maksimum sebesar 150 g, dan memiliki
kesalahan penunjukan rata-rata 20 g.
2. Timbangan tersebut masih dalam keadaan
baik untuk digunakan serta tidak melebihi
BKD (Batas Kesalahan yang Diizinkan).
3. Pada pengujian eksentrisitas nilai error
yang didapat rata-rata 38 g dan masih baik
digunakan pada 5 titik tempat yang
berbeda.
5.2 Saran
1.
Sebelum melaksanakan
diharapkan mematuhi

pengujian,
peraturan-

peraturan yang telah ditetapkan oleh


standar laboratorium.
2. Agar dalam pengujian memperoleh hasil yang
maksimal, ruangan harus dikondisikan
sedemikian rupa sesuai dengan standar
laboratorium.
3. Pada saat melakukan pengujian, sebaiknya
terlebih dahulu membaca prosedur kerja
pengujian.
4. Pada waktu pemakaian timbangan harus
diperhatikan bahwa timbangan dalam
keadaan benar-benar mendatar. Oleh
karena itu timbangan harus dilengkapi
dengan penyipat datar.
DAFTAR PUSTAKA

1. SK Dirjen Perdagangan Dalam Negeri


No. 31/PDN/KEP/3/2010 Tanggal 3 Maret
2010 Tentang Timbangan Bukan Otomatis
2. Jurnal PPSDMK Diklat Kemetrologian
ISS 2088-6608 No.3 Vol. 6 Tahun 2013
3. PP Nomor 2 Tahun 1985 Tentang SyaratSyarat Teknis Kemetrologian (SSTK)
4. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1981
Tentang Metrologi Legal