Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PEMBAHASAN
A. Fisiologi Sel Saraf
Hampir semua fungsi pengendalian tubuh manusia dilakukan oleh sistem saraf. Secara umum sistem saraf
mengendlikan aktivitas tubuh yang cepat seperti kontraksi otot. Daya kepekan dan daya hantaran merupakan sifat
utama dari makhluk hidup dalam bereaksi terhadap perubahan sekitarnya. Rangsangan ini disebut dengan stimulus.
Reaksi yang dihasilkan dinamakan respons. Dengan perantaraan zat kimia yang aktif atau melalui hormon melalui
tonjolan protoplasma dari satu sel berupa benang atau serabut. Sel ini dinamakan neuron.
Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang disebut perikarion berisi nukleus. Di dalam sel plasma perikarion,
terdapat badan-badan yang disebut dengan subtansia nissel. Dari badansel keluar dua macam serabut saraf,
yaitu dendrit dan akson. Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi
mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang dan
sebaliknya dendrit berukuran pendek. Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua
serabut saraf ini berisi plasma sel.
Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak yang disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang
menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf
mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilema. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi
nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat
penghantaran impuls. Sususnan saraf terdiri atas susunan saraf sentral atau sitem saraf pusat, terdiri atas otak
besar, otak kecil, batang otak dan medulla spinalis, saraf perifer yaitu saraf somatis dan saraf otonom.
Neuron dikhususkan untuk menghasilkan sinyal listrik dan biokimia cepat. Neuron juga mampu mengolah, memulai,
mengkode, dan menghantarkan perubahan-perubahan pada potensial membrannya sebagai suatu cara untuk
menyalurkan pesan dengan cepat melintasi panjangnya. Selain itu, neuron telah mengembangkan perantara
kimiawi untuk menyampaikan informasi melalui jalur-jalur saraf yang berbeit-belit dari neuron ke neuron serta ke
otot dan kelenjar.
Sel saraf menurut jenis rangsangannya meliputi sel saraf (sel ganglion) dan serabut saraf(neurit) atau akson. Sel
saraf (neuron) besarnya bermacam-macam dilihat dari geriginya satu, dua, dan banyak. Gerigi yang banyak

bercabang menghubungkan sel itu dengan sesamanya, gerigi ini disebut dendrite. Alat penghubung disebut
neuron. Serabut saraf (neurit) atau akson adalah bagian utama serabut saraf, yang disebut sumbu toraks, dan di
bagian tengah disebut juga benang saraf. Sumbu saraf mempunyai benang saraf yang terdiri atas zat
lemakdinamakan myelin. Sumbu toraks yang tidak mempunyai selaput kehilangankeabu-abuan atau serabut saraf
gaib (saraf sulung) sekeliling serabut saraf ini ada selaput bening yang disebut dengan selaput schwan.
Sistem saraf tersusun oleh 3 kelas neuron yaitu neuron aferen, neuron eferen, dan antarneuron. Sistem Saraf
Aferen terdiri dari neuron aferen yang memiliki reseptor sensorik yang menghasilakan potensial aksi sebagai
respons terhadap rangsangan spesifik. Potensial aksi dimulai di ujung reseptor perifer sebagai respons terhadap
rangsangan dan menjalar di sepanjang akson perifer dan akson sentral ke arah medula spinalis. Neuron
eferen berada pada sistem saraf perifer. Badan sel neuron eferen berada pada SSP, tempat banyak masukan
prasinaps yang berlokasi sentral berkonvergensi pada neuron tersebut untuk mempengaruhi keluaran ke organ
efektor. Akson-akson pada eferen meninggalkan sistem saraf pusat untuk berjalan menuju ke otot dan kelenjar yang
mereka persarafi, menyampaikan keluaran terintegrasi agar melaksanakan perintah yang
diinginkan. Antarneuron atau interneuron terletak seluruhnya di dalam SSP. Neuron jenis ini memiliki dua fungsi
utama yaitu menghubungkan neuron aferen dengan neuron eferen dan bertanggung jawab atas fenomena abstrak
yang berkaitan dengan jiwa, misalnya berfikir, emosi, ingatan, kreativitas, intelektual dan motivasi.

Kemampuan khusus yang dimiliki oleh sel saraf seperti iritabilita, sensitivitas terhadap stimulus, konduktivitas, dan
kemampuan mentranmisi suatu respon terhadap stimulusdiatur oleh sistem saraf melalui 3 cara yaitu:
1.
Input sensoris yaitu menerima sensasi atau stimulus melalui respor yang terletak di tubuh, baik eksterneal
maupun internal.
2.
Akivitas intergratif yaitu respons mengubah stimulus mnjdi impuls listrik yang mejalar sepanjang saraf sampai
ke otak dan medulla spinalis, kemudian menginterpretasikan stimulus sehingga respons terhadap informasi dapat
terjadi.
3.
Out put yaitu impuls dari otak dan medulla spinalis memperoleh respons yang sesuai dari otak dan kelenjar
yang disebut dengan efektor.

Sistem saraf memiliki tugas pokok yang meliputi 1) kontraksi otot seluruh tubuh, 2) kontraksi otot polos dalam organ
internal, 3) sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin dalam tubuh. Kegitan tersebut secara bersama-sama disebut
dengan fungsi motorik.
Gambar 1.1 Sel saraf atu neuron
B.

Pengolahan Informasi pada Sistem Saraf

Informasi yang masuk diolah sedemikian rupa sehingga terjadi reaksi motorik yang tepat. Lebih dari 99% dari semua
informasi sensoris terus dibuang karena tidak penting, misal: orang menyadari bagian tubuh yang bersentuhan
dengan pakaian dan tidak menyadari tekanan pada tempat duduk ketika sedang duduk. Perhatian ditujukan pada
suatu objek khusus dalam lapangan penglihatan dan bunyi yang terus menerus, biasanya dipindahkan ke latar
belakang bila informasi sensoris penting telah dipilih maka selanjutnya disalurkan ke dalam daerah motorik otak
yang tepat unntuk menimbulkan reksi yang diinginkan. Dalam hal ini sinaps berperan dalam mengolah
informasi. Sinaps berfungsi sebagai tempat hubungan satu neuron dengan neuron berikutnya untuk mengatur
penghantaran isyarat dan menentukan arah penyebaran isyarat saraf di dalam sistem saraf.
Biasanya sinaps neuron ke neuron yang lain melibatkan suatu pertautan antara sebuah terminal akson di satu
neuron dan dendrit atau badan sel saraf yang lain. terminal akson yaitu, yang menghantaran potensial aksi menuju
ke sinaps, berakhir di sebuah ujung yang sedikit menggelembung, yang disebut kepala sinaps (synaptic knob).
Kepala sinaps mengandungvesikel sinaps, yang menyimpan zat perantara kimiawi spesifik, yaitu
suatu neurotransmitter, yang telah disentesis dan dikemas oleh neuron prasinaps . Kepala sinaps berada sangat
dekat , tetapi tidak berkontak langsung dengan neuron pascasinaps, yaitu neuron yang potensial aksinya menjalar
menjauhi sinaps. Ruang antara neuron prasinaps dan pascasinaps yaitu celah sinaps yang terlalu lebar untuk
penyebran langsung arus dari satu sel ke sel lain dan dengan demikian mencegah potensial aksi lewat secara
elektris antar neuron. Bagian dari membrane pascasinaps yang tepat berada di bawah kepala sinaps disebut
sebagai membrane subsinaps. Sinaps hanya beroprasi dalam satu arah. Proses hantaran impuls melalui sinaps
harus melalui serentetan peristiwa fisika dan kimia yang mengalami sederetan proses sebelumnya sehingga dapat
menimbulkan potensial aksi di sel pascasinaps. Penghantaran impuls melalu sinaps mudah dipengaruhi oleh obatobatan dan zat kimia .
Neuron prasinaps mempengaruhi neuron pascasinaps tetapi neuron pasca sinaps tidak mempengaruhi neuron
prasinaps. Ketika suatu potensial aksi di neuron prasinaps telah merambat sampai ke terminal akson perubahn

potensial ini akan mencetuskan pembukaan saluran-saluran Ca++ ke gerbang voltase. Melalui proses eksositosis ion
Ca++ menginduksi pelepasan suatu neurotransmiter dari sebagian vesikel sinaps ke dalam celah sinaps.
Neurotransmiter yang dibebaskan akan berdifusi melewati celah dan berikatan dengan reseptor protein spesifik di
membrane subsinaps. Karena hanya terminal prasinaps yang mengeluarkan neurrotransmiter dan hanya membrane
subsinaps yang di neuron pascasinaps yang memiliki reseptor untuk neurotransmiter, sinaps hanya dapat beroprasi
dengan satu arah, yaitu arah dari neuron prasinaps ke neuron pascasinaps.
Ada beberapa jenis hubungan sinaps diantaranya: 1) sinaps interneuronal yaitu hubungan kontak fungsional antara
dua neuron, 2) sinaps neuromuskular yaitu hubungan kontak fungsional antara satu neuron dengan satu sel otot
atau satu serat otot, 3) sinaps neuroglandular yaitu hubungan kontak antara satu neuron dengan satu kelenjar.
Setiap saat terdapat perubahan potensial pada membrane sel. Potensial ini disebut dengan potensial pascasinaps
(post-sinaptic potensial/PSP) yang tergantung pada jenis potensialnya. Pada sel dapat terjadi Excitatory Post Sinaptic
Potensial (EPSP) atau Inhibitory Post Synaptic Potensial (IPSP). Eksitasi pascasinaptic, yaitu potensial yang terdapat
dalam sel pascasinaps berupa depolarisasi, yaitu proses netralisasi keadaan polar yang besar dan sangat
dipengaruhi oleh jumlah neurotransmiter yang dilepas oleh sinaps. Inhibisi pascasinaptikmerupakan zat yang
terdapat pada pasccasinaps berupa hiperpolarisasi yang besarnya sangat dipengaruhi oleh
jumlah neurotransmiter yang dilepas oleh prasinaps.
Hasil dari olahan informasi tersebut hanya sebagian kecil informasi sensoris penting yang menyebabkan reaksi
motorik segera. Sebagian besar disimpan untuk kegiatan motorik di masa yang akan datang dan digunakan dalam
proses berpikir. Penyimpanan ini terjadi dalam korteks serebri, tetapi tidak semuanya karena daerah basal otak dan
medula spinalis dapat menyimpan sejumlah kecil informasi. Penyimpanan informasi merupakan proses daya ingat
dan fungsi sinaps. Setiap kali suatu saraf sensoris tertentu melalui serangkaian sinaps maka sinaps yang
bersangkutan menghatarkan isyarat yang sama pada kesempatan berikutnya. Proses ini disebut dengan fasilitasi.
C.

Sistem Saraf Manusia

Sistem saraf tersusun menjadi Susunan Saraf Pusat (SSP) yang terdiri atas otak dankorda spinalis, dan sistem saraf
tepi (SST), yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP ke bagian tubuh lain
(perifer). Sistem Saraf Tepi dibagi menjadi devisiaferen dan eferen. Divisi aferen membawa informasi ke SSP,
memberitahu SSP mengenai lingkungan eksternal dan aktivitas-aktivitas internal yang diatur oleh SSP.

Instruksi dari SSP disalurkan melalui divisi eferen (yang berarti membawa dari) ke organ efektor yaitu otot atau
kelenjar yang melaksanakan perintah untuk menimbulkan efek yang diinginkan. Sistem saraf eferen dibagi menjadi
sistem saraf somatic yang terdiri dari serat-seratneuron motorik yang mempersarafi otot-otot rangka, dan seratserat sistem saraf otonomyang mempersarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjar. Sistem saraf yang terakhir
dibagi lagi menjadi sistem saraf simpatis dan parasimpatis, keduanya mempersarafi sebagian besar organ yang
dipersarafi oleh sistem saraf otonom.
1.

Sistem Saraf Pusat

Sekitar 90% sel-sel di dalam SSP bukanlah neuron tetapi sel glia atau neuroglia. Walaupun jumlahnya besar, sel glia
hanya menempati separuh dari volume otak karena sel-sel ini tidak memiliki cabangcabang ekstensif seperti neuron.
Tidak seperti neuron sel glia tidak memulai atau menghatarkan impuls saraf. Namun sel-sel ini penting untuk
viabilitas SSP, yaitu sebagai jaringan ikaat SSP dan membantu menunjang neuron baik secara fisik ataupun
metabolik. Terdapat empat jenis sel glia di SSPyaitu astrosit, oligodendrosit, sel ependimal, dan microglia. Astrosit
memiliki fungsi yang penting yaitu sebagai perekat utama yang menyatukan neuron-neuron dalam hubungan spatial
yang sesuai. Oligodendrosit berfungsi membentuk sarung myelin insulatif yang mengelilingi akson pada SSP. Sel
ependimal berfungsi membatasi rongga-rongga internal SSP. Mikroglia adalah penyapu SSP. Sel-sel ini sebagai sel
fagositik yang berasal dari darah dan masuk ke jaringan saraf pusat.
Jaringan saraf pusat sangatlah lembut(lunak). Sifat ini ditambah dengan kenyataan bahwa sel saraf yang rusak tidak
dapat digantikan karena neuron tidak mampu membelah diri, meyebabkan jaringan yang rapuh dan tidak
tergantikan ini harus terlindungi dengan baik. Terdapat empat keistimewaan yang melindungi SSP yaitu: 1) SSP
terbungkus oleh struktur tulang yang keras seperti cranium yang melindungi otak dan kolumna vertebralis yang
mengelilingi korda spinalis, 2) terdapat tiga membrane yang melindungi dan mengandung zat makanan,
yaitumenings yang terletak antara tulang penutup dan jaringan saraf yang terdiri atas durameter(lapisan luar) yaitu
selaput keras yang berasl dari jaringan ikat tebal dan kuat, di bagin tengkorak terdiri dari selapu tulang tengkorak
dan durameter propia di bagian dalam, arakhnoid yaitu selaput halus yang memisahkan durameter dengan
piameter membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf sentral,
yang terdapat pada permukaan jaringan otak, piameter berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-strutur
jaringan ikat yang disebut trabekel. Di dalam piameter terdapat cairan serebrospinalis yaitu cairan yang bersifat
alkali bening mirip plasma dan dihasilkan pleksus coroideus yang ditemukan di daerah-daerah tertentu rongga
ventrikel otak dan medula spinalis. Cairan ini berfungsi untuk memberi kelembapan pada otak dan medula spinalis,

melindungi alat-alat dalam medulla spinalis dan otak dari tekanan, serta melicinkan alat-alat dalam medulla spinalis
dan otak.
Sitem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang.
1.1 Otak Manusia
Otak merupakan organ tubuh yang sangat penting dan vital bagi manusia yaitu untuk mengatur segala pusat
aktivitas manusia. Otak terletak dalam rongga cranium berkmbang dari ssebuah tabung yang mulanya
memperlihatkan tiga pembesaran otak awal yaitu: (1) otak depan menjadi hemisfer serebri, corpus serebri korpus
striatum thalamus serta hipotalamus. Fungsi menerima dn mengintegrasikan informasi mengenai kesadran dan
emosi, (2) otak tengah mengkoordinir otot yang brhubungan dengan penglihatan dan pendengara. Otak ini menjadi
tegmentum, krus serebrium, korpus kuadrigeminus, (3) otak belakang (pons), bagian otak yang menonjol
kebanyakan tersusun dari lapisan fiber dan masuk sel yang mengontrol sistem pernapasan.
Otak dilindungi oleh kulit kepala, rambut, tulang tengkrak, columna vertebralis dan meningen. Kapiler otak dikelilingi
oleh tonjolaan-tonjolan astrosit yang bertanggung jawab secara fisik membentuk sawar darah otak. Walaupun
banyak zat dalam darah yang tidak pernah benar-benar berkontak dengan jaringan otak, otak melebihi jaringan lain,
yang dapat menggunakan sumber bahan bakar yang lain untuk menghasilkan energy sebagai pengganti glukosa.
Dalam keadaan normal otak hanya menggunakan glukosa tetapi tidak menyimpan zat ini. Dengan demikian otak
bergantung pada pasokan oksigen dan glukosa yang adekuat serta kontinu. Otak merupakan suatu keseluruhan
fungsi yang tersusun atas beberapa daerah yang berbeda yaitu:
1.1.1

Batang Otak

Batang otak merupakan daerah paling tua dan paling kecil di otak, bersambungan dengan korda spinalis. Bagian ini
mengatur dan mengontrol banyak prosses untuk mempertahankan hidup, misalnya bernapas, sirkulasi dan
pencernaan. Proses-proses diatas disebut dengan proses vegetative. Batang otak merupakan struktur pada bagian
posterior (belakang) otak. Batang otak merupakan sebutan untuk kesatuan dari tiga struktur yaitu medulla
oblongata, pons danmesencephalon (otak tengah).
Pada gerak volunter, batang otak merupakan jalur yang dilalui impuls rangsang sebelum mencapai cerebrum.
Impuls rangsang dihantarkan oleh traktus ascendentes (serat-serat saraf yang menghantarkan impuls ke otak)
untuk diolah di otak, lalu impuls respons dihantarkan oleh traktus descendentes (serat-serat saraf yang

menghantarkan impuls menjauhi otak). Pada perbatasan antara batang otak dan medulla
spinalis terjadi deccusatio (penyilangan) serat-serat kortikospinal(serat-serat saraf descendentes dari cerebrum ke
medulla spinalis). Serat-serat kortokospinal dari otak kiri menyilang ke bagian kanan medulla spinalis dan serat dari
otak kanan menyilang ke bagian kiri. Penyilangan ini menyebabkan bagian tubuh kanan di kendalikan oleh otak kiri
dan bagian tubuh kiri dikendalikan oleh otak kanan. Batang otak merupakan tempat melekatnya seluruh saraf
kranial, kecuali saraf I dan II yang menempel pada cerebrum (otak besar). Batang otak terdri dari:
a.
Diensepalon, yaitu bagian otak paling atas, trletak diantara serebelum dengan mesensepalon, yaitu kumpulan
sel saraf yang terdapat di bagian depan lobus temporalis ddan terdapat kapsula interna yang menghadap ke
samping. Fungsi dari diensepalon yaitu, a) vaso kontruktor yaitu mengecilkan pembuluh darah, b) respiratori yaitu
membantu proses pernapasan, c) mengontrol gerakan reflek, d) membantu pekerjaan jantung.
b.
Mesensepalon terdiri atas 4 bagian yang menonjol ke atas, 2 disebelah atas yang disebut korpus
kuadrigeminus superior, 2 di sebelah awah yang disebut kuadrigeminus inferior. Mesensefalon mempunyai seratserat saraf nervus troklearis yang bertugas untuk membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata, serta
memutar mata dan pusat mata.
c.
Medula Oblongata atau sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis
menuju ke otak. Medulla oblongata merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang
menghubungkan vons varoli dengan medulla spinalis Sumsum sambung juga mempengaruhi jembatan, refleks
fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi
kelenjar pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan
berkedip.
d.
Pons Varoli berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan
otak besar dan sumsum tulang belakang. Jembtan varol terletak di depan serebelum diantara otak tengah dan
medulla oblongata. Pada jembatan parol terdapat premotoksid yang mengatur gerakan pernapasan dan reflek.
1.1.2 Otak Besar
Otak besar atau serebrum merupakan bagian terbesar dari otak manusia, dibagi menjadi dua belahan
yaitu hemisfer sereberum kiri dan kanan. Keduanya dihubungkan satu sama lain oleh korpus kalosum, suatu pita
tebal yang mengandung sekitar 300 juta akson saraf melintang diantara kedua hemisfer. Setiap hemisfer terdiri dari

sebuah substansia grisea (bahan abu-abu) atau korteks sereberum yang menutupi bagian tengah yang lebih tebal
yaitu substansia alba (bahan putih). Jauh di sebelah dalam substansia alba terdapat substansia grisea yang lain
yaitu nucleus-nukleus basal. Di seluruh SSP, substansia grisea terdiri dari badan-badan sel saraf ang terkemas rapat
dengan dendrit-dendrit mereka dan sel-sel glia. Berkas atau traktus serat-serat saraf bermielin membentuk
substansia alba. Substansia alba berpenampakan putih yang disebabkan oleh komposisi lemak myelin.
Korteks serebrum terorganisasi menjadi enam lapisan berbatas tegas berdasarkan distribusi badan sel yang
bervaariasi dan serat-serat terkait lain dari beberapa jenis sel tertentu. Lapisan-lapisan ini tersusun atas kolomkolom fungsional, yang berjalan tegak lurus dari permukaan ke bawah menelusuri kedalaman korteks sampai
substansia alba yang mendasarinya. Daerah-daerah korteks bertanggung jawab terhadap persepsi indera-indera
memiliki lapisan 4 yang berkembang, suatu lapisan yang kaya akan sel stelata, yang berperan dalam pengolahan
awal masukan sensorik ke koorteks. Sebaliknya daerah korteks yang mengontrol keluaran ke otot rangka mempunya
5 laisan yang menebal, yang sangat banyak mengandung sel piramida besar. Sel-sel ini mengirim serat-serat korda
spinalis dari korteks untuk berakhir di berbagai neuron motorik eferen yang mempersarafi otot rangka.
Pada otak besar ditemukan 4 lobus yaitu:
a.

Lobus frontalis

Terletak di korteks bagian depan bertanggung jawab terhaddap 3 fungsi utama yaitu: (1) aktivitas motorik volunteer,
(2) kemampuana berbicara, (elaborasi pikiran). Daerah di lobus frontalis belakang tepat di depan sulkus sentralis
akhir di neuron-neuron motorik eferen yang mencetuskan kontraksi otot rangka di sisi kanan tubuh. Stimulasi
daerah-daerah yang berlainan di korteks motorik primer yanh menyebabkan timbulnya gerakan di bagian-bagian
tubuh yang berbeda. Seperti homonkulus motorik yang melukiskan lokasi dan jumlah relative korteks motorik yang
diabdikan sebagai keluaran ke otot-otot tiap-tiap bagian tubuh.
b.

Lobus parietalis

Terletak di depan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh karaco oksipitalis yang berjalan ke bawah di bagian tengah
permukaan lateral tiap-tiap hemisfer. Lobus parietalis menerima kesan indra yang berbeda dari seluruh tubuh dan
dapat merasakan "sakit" atau bug merangkak pada satu lengan, kaki, atau wajah. Fungsi lobus parietalis: lobus
parietalis menggabungkan kesan dari bentuk, tekstur dan berat badan ke dalam persepsi umum, lobus parietalis
juga membantu mengarahkan posisi pada ruang di sekitarnya dan merasakan posisi dari bagian tubuhnya,

kerusakan kecil di bagian depan lobus parietalis menyebabkan mati rasa pada sisi tubuh yang berlawanan,
kerusakan yang agak luas bisa menyebabkan hilangnya kemampuan untuk melakukan serangkaian pekerjaan
(keadaan ini disebut apraksia) dan untuk menentukan arah kiri-kanan, kerusakan yang luar bisa mempengaruhi
kemampuan penderita dalam mengenali bagian tubuhnya atau ruang di sekitarnya atau bahkan bisa mempengaruhi
ingatan akan bentuk yang sebelumnya dikenal dengan baik. Lobus parietalis juga dianggap sebagai "lobus tangan"
dan menerima sensasi sensoris dari tulang, tendon, otot, dan kulit tangan.
c.

Lobus Temporalis

Lobus temporalis berada di bawah sylvian fissure dan di anterior korteks oksipital dan parietal. Fungsi Lobus
Temporal: dalam lobus temporalis terdapatprimary auditory cortex, the secondary auditory, dan visual cortex, limbic
cortex, dan amygdala. Tiga fungsi basis dari korteks temporal adalah memprosesinput auditori, mengenali objek
visual, dan penyimpanan jangka lama dari input sensori, ditambah dengan fungsi amigdala, yaitu nada
afeksi (emosi) pada input sensori dan memori.
d.

Lobus oksipitalis

Lobus oksipitalis adalah bagian korteks serebri yang terletak di belakang dan berhubungan dengan penafsiran
rangsangan visual. Korteks visual primer, yang menerima dan menafsirkan informasi dari retina mata, terletak di
lobus oksipitalis. Kerusakan pada lobus ini dapat menyebabkan masalah penglihatan seperti kesulitan mengenali
objek, ketidakmampuan untuk mengidentifikasi warna, dan kesulitan mengenali kata-kata.
Selain terdiri atas empat lobus otak besar juga memiliki area khusus. Somatic sensoryadalah area yang menerima
impuls dari reseptor sensory tubuh. Primary motor area adalah yang mengirim impuls ke otot skeletal. Brocaas
area adalah terlibat dalam kemampuan bicara.
1.1.3

Otak Kecil

Otak kecil atau cerebellum terletak dalam fosa cranial posterior, dibawah tentorium cerebellum bagian posterior dari
pons varoli dan meula oblongata. Cerebelum mempunyai 2 hemisfer yang dihubungkan oleh fermis. Otak kecil
terdiri atas dua belahan dan permukaanya berlekuk-lekuk. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur sikap atau posisi
tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar. Jika terjadi cedera pada otak kecil,
dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi,
misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

2.1 Medula Spinalis


Medulla spinalis atau yang sering disebut dengan korda spinalis yang terbentang dari foramen magnum sampai
dengan L1, di L1 melonjong dan agak melebar yang disebut conus terminalis atau conus medullaris.. Pada medulla
spinais juga terdapat substansia grisea. Berlainan dengan substansa yang ada pada oak, substansia grisea yang ada
pada medulla spinalis berbentuk seperti kupu-kupu di bagian dalam dan dikelilingi oleh substansia alba. Sama
halnya seperti otak, substansia pada medulla spinalis tersusun atas badan-badan sel saraf beserta dendritnya, antar
neuron pendek dan sel-sel glia. Substnsi alba tersusun menjadi traktus yaitu berkas-berkas serat saraf dengan
fungsi serupa. Sebagian besar adalah traktus asendens (korda ke otak), dan traktus desndens (dari otak
k). Substansi abu-abu membentuk seperti huruf H dan terdiri dari tiga bagian yaitu: anterior, posterior dan
Comissura abu-abu. Bagian Posterior sebagai input /afferent, anterior sebagai Output/efferent, comissura abu-abu
untuk refleks silang dan substansi putih merupakan kumpulan serat syaraf bermyelin.
Korda spinalis memiliki fungsi sebagai penghubung untuk menyalurkan informasi antara otak dan bagian tubuh
lainnya, serta mengintegrasikan aktivitas reflek antara masukan aferen dan keluaran eferen tanpa melibatkan otak,
untuk pernapasan, gerakan menelan, dan berperan dalam muntah.
2.

Sistem Saraf Perifer

Sistem saraf perifer terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP di bagian-bagian lain tubuh.
Sistem saraf perifer terdiri atas sisten saraf cranial dan sistem saraf spinal. Sistem saraf cranial terdiri atas 12 saraf
yaitu:
Nama SarafTipe

Fungsi

Olfaktori

Sensorik

Penciuman

Optik

Sensorik

Penglihatan

OkulomotorMotorik

Pergerakan otot bola mata dan kelopak mata

Troklear

Pergerakan otot bola mata

Motorik

Trigeminal Campuran Sensorik: sensasi di wajah dan mulut,

motorik: mengunyah
Abdusena Motorik
Fasial

Pergerakan bola mata

Campuran Sensorik: rasa (kecap), motorik: pergerakan di wajah


dan kelenjar pencernaan

Auditori

Sensorik

Pendengaran dan keseimbangan tubuh

Glosofaring Campuran Sensorik: rasa (kecap), motorik: menelan


Vagus

Campuran Saraf utama untuk sistem pusat parasimpatik

Aksesori

Motorik

Hipoglossal Motorik

Menelan dan pergerakan leher


Otot di lidah

Table 1.1 Bagian-bagian saraf cranial beserta fungsi


Sedangkan saraf spinal merupakan saraf yang berasal dari sumsum tulang belakang yang berhubungan dengan
seluruh tubuh. Tersusun atas 31 pasang syaraf spinal yaitu: 8 pasang syaraf servikal, 12 Pasang syaraf Torakal, 5
Pasang syaraf Lumbal, 5 Pasang syaraf Sakral dan 1 pasang syaraf koksigeal. Saraf-saraf trsebut dikenal sebagai
kauda ekuina ekor kuda.
2.1 Sistem Saraf Somatic
Sistem saraf somatic adalah susunan saraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar
atau serat lintang. Jadi saraf ini melakukan sistem pergerakan otot yang tidak disengaja ataupun disengaja.

2.2 Sistem Saraf Otonom

Sistem saraf otonom mengendalikan kelenjar dan otot polos, yang mencakup otot jantung, otot-otot di pembuluh
darah, dan otot-otot di bagian dalam lambung dan usus. Otot-otot tersebut dinamakan otot polos karena jika dilihat
dari bawah mikroskop tampak polos. Sebaliknya otot rangka memiliki gambaran yang berlurik-lurik. Sistem saraf
otonomik mendapatkan namanya dari fakta bahawa banyak aktivitas yang dikendalikannya secara otonom, atau
self-regulating (seperti pencernaan dan sirkulasi) dan terus berjalan kendatipun orang itu sedang tidur atau tidak
sadar.
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan
menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk
sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat
saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem sarafparasimpatik. Perbedaan struktur
antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang
terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra
ganglion pendek,sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion
menempel pada organ yang dibantu. Sistem saraf ini seringkali memiliki aksi antagonistic. Sebagai contohnya,
sistem saraf parasimpatik menyebabkan konstraksi pupil mata, menstimulasi pengeluaran saliva, dan
memperlambat denyut jantung, sistem saraf simpatik memiliki efek yang berlawanan. Keadaan tubuh yang normal (
di suatu tempat di antara ekstrem eksitasi dan plasiditas vegetative) dipertahankan oleh keseimbangan di antara
kedua sistem ini. Fungsi-fungsi saraf otonom dapat dibedakan menjadi tabel berikut ini :
Parasimpatik

Simpatik

mengecilkan pupil

memperbesar pupil

menstimulasi aliran ludah

menghambat aliran ludah

memperlambat denyut jantung

mempercepat denyut jantung

membesarkan bronkus

mengecilkan bronkus

menstimulasi sekresi kelenjar

menghambat sekresi kelenjar

pencernaan

pencernaan

mengerutkan kantung kemih

menghambat kontraksi kandung


kemih

Tabel 1.2 Tabel fungsi saraf simpatik dan para simpatik


D.

Mekanisme Gerak Reflek

Reflek adalah respon yang tidak berubah terhadap rangsangan yang terjadi di luar kehendak. Rangsangan ini
merupakan reaksi organisme terhadap perubahan lingkungan, baik dalam maupun luar organisme. Reflek dapat
berupa peningkatan atau penurunan kegiatan misalnya kontraksi otot atau relaksasi otot.
Jalur-jaur saraf yang berperan dalam pelaksanaan aktivitas rfleks disebut lengkung reflek. Komponen-komponen
yang dilalui reflek adalah reseptor rangsangan sensoris yang peka terhadap suatu rangsangan misalnya kulit,
neuron aferen atau sensoris yang dapat mnghantarkan impus menuju ke susunan saraf pusat yaitu medulla spinais,
pusat saraf atau pusat sinaps yang merupakan tempat integrasi di mana masuknya sensoriss dan dianalisis kembali
ke neuron eferen, neuron eferen atau motorik yang menghantarkan impuls ke perifer, dan alat efektor yang
merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat otot atau kelenjar.
Gambar 1.2 Lengkung reflek yang mnggambarkan jalannya impuls pada lutut yang dipukul
Jenis reflek dikelompokan ke dalam beberapa bagian diantaranya:
1.
Jenis reflek berdasarkan letak reseptor yaitu: reflek ekstroseptif yang timbul karena rangsangan pada reseptor
permukaan tubuh, reflek interoreseptif timbul karena rangsangan yang timbul pada alat dalam tubuh atau pembuluh
darah, dan reflek proreseptif timbul karena rangsangan pada otot, tendo, dan sendi untuk keseimbangan.
2.
Jenis reflek berdasarkan bagian saraf pusat yaitu: reflek spinal melibatkan neuron di medulla spinalis, reflek
bulbar melibatkan neuron di medulla oblongata, reflek kortikal melibatkan neuron korteks serebri.
3.
Jenis reflek berdasarkan timbulnya yaitu: reflek tak bersyarat, reflek yang dibawa sejak lahir dan bersifat
menetap, reflek bersyarat adalah reflek yang di dapat saat pertumbuhan yang berdasarkan pengalaman hidup.

4.
Jenis reflek berdasarkan jumlah neuron yaitu: reflex monosinaps yang melaui proses satu sinaps dan dua
neuron yang langsung berhubungan dengan saraf pusat, reflek polisinaps melalui beberapa interneuron yag
menghubungkan aferen dengan eferen, reflek patologis biasanya terjadi pada anak bayi.
E.

Kelainan pada Sistem Saraf

a.
Stroke, merupakan penyakit yang timbul karena pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah sehingga otak
menjadi rusak. Penyebab penyumbatan ini ialah adanya penyempitan pembuluh darah (arteriosklerosis). Selain itu,
bisa juga karena penyumbatan oleh suatu emboli. Ciri yang tampak dari penderita stroke misalnya wajah yang tak
simetris.
b.
Neuritis, merupakan gangguan sistem saraf yang disebabkan tekanan, pukulan, patah tulang, dan
keracunan/kekurangan vitamin B. Adanya penyakit ini menjadikan penderita sering kesemutan.
c.
Amnesia, merupakan gangguan yang terjadi pada otak karena disebabkan goncangan batin atau cidera. Ciri
gangguan ini yakni hilangnya kemampuan seseorang mengenali dan mengingat kejadian masa lampau dalam kurun
waktu tertentu.
d.
Transeksi, merupakan gangguan pada sistem saraf terutama medula spinalis karena jatuh atau tertembak.
Akibat yang timbul yakni penderita akan kehilangan segala rasa (mati rasa).
e.
Parkinson, merupakan penyakit yang terjadi karena kekurangan neurotransmiter dopamine pada dasar
ganglion. Secara fisik, penderita ini memiliki ciri tangan gemetaran saat istirahat, gerak susah, mata sulit berkedip,
dan otot kaku sehingga salah satu cirinya adalah langkah kaki menjadi kaku.
f.
Epilepsi, merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya luka, infeksi, tumor, atau lainnya terutama pada
jaringan-jaringan otak, sehingga terjadi letusan-letusan listrik (impuls) pada neuron-neuron di otak.
g.
Poliomielitis, ialah penyakit yang menyerang neuron-neuron motorik sistem saraf pusat terutama otak dan
medula spinalis oleh infeksi virus. Penderitanya mengalami berbagai gejala seperti panas, sakit kepala, kaki duduk,
sakit otot, dan kelumpuhan.
h.
Multipel Sklerosis, adalah keadaan terjadinya degenerasi mielin pada sistem saraf pusat. Adanya
penghantaran impuls saraf menjadi terhambat dan terjadi gejala seperti hilangnya koordinasi tubuh, gangguan

penglihatan, dan gangguan bicara. Penyakit ini dapat berkembang perlahan tetapi dapat pula menyerang secara
tiba-tiba. Penyebabnya diperkirakan berupa kerentanan yang bersifat genetik, infeksi virus, dan gangguan sistem
kekebalan tubuh.
F.
1.

Epilepsi
Pengertian epilepsi

Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologi utama dengan permasalahan yang kompleks. Epilepsi memiliki
beban sakit yang signifikan, terutama di negara-negara berkembang. Epilepsi juga dihubungkan dengan
konsekuensi psikososial yang lebih berat bagi para penyandangnya. Sebagian besar kasus epilepsi dimulai pada
masa anak-anak. Pada tahun 2000, diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37
juta orang diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang. Laporan WHO (2001)
memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif diantara 1000 orang penduduk,
dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk.
Pada penyandang usia anak-anak dan remaja, permasalahan yang terkait dengan epilepsi menjadi lebih kompleks.
Penyandang epilepsi pada masa anak dan remaja dihadapkan pada masalah keterbatasan interaksi sosial dan
kesulitan dalam mengikuti pendidikan formal. Mereka memiliki risiko lebih besar terhadap terjadinya kecelakaan dan
kematian yang berhubungan dengan epilepsi.
Epilepsi menurut JH Jackson (1951) didefinisikan sebagai suatu gejala akibat cetusan pada jaringan saraf yang
berlebihan dan tidak beraturan. Cetusan tersebut dapat melibatkan sebagian kecil otak (serangan parsial atau fokal)
atau yang lebih luas pada kedua hemisfer otak (serangan umum). Epilepsi merupakan gejala klinis yang kompleks
yang disebabkan berbagai proses patologis di otak. Epilepsi ditandai dengan cetusan neuron yang berlebihan dan
dapat dideteksi dari gejala klinis, rekaman elektroensefalografi (EEG), atau keduanya. Epilepsi adalah suatu
kelainan di otak yang ditandai adanya bangkitan epileptik yang berulang (lebih dari satu episode). International
League Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau for Epilepsy (IBE) pada tahun 2005 merumuskan kembali
definisi epilepsi yaitu suatu kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi yang dapat mencetuskan
bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif, psikologis dan adanya konsekuensi sosial yang
diakibatkannya.

Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan
paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai
manifestasi klinik dan laboratorik (Baiquni, 2010). Epilepsi merupakan penyakit kronis yang paling sering
menimbulkan permasalahan medik dan kualitas hidup yang buruk bagi penyandangnya. Epilepsi berpengaruh luas
pada aspek kehidupan penyandang, keluarga, dan lingkungan sosialnya. Lokasi fokus, tipe bangkitan, dan frekuensi
bangkitan merupakan hal-hal yang berpengaruh terhadap dampak epilepsi pada aspek kehidupan penyandangnya.
2.

Patofisiologi Epilepsi

Dasar serangan epilepsy adalah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps. Tiap sel hidup,
termasuk neuron-neuron otak mempunyai kegiatan listrik yang disebabkan oleh adanya potensial membrane sel.
Potensial membrane sel saraf bergantung pada permeabilitas selektif membrane neuron, yakni membrane sel
mudah dilewati oleh ion K dari ruang ekstra seluler ke intra seluer yang kurang sekali ion Ca, Na dan Cl, shingga di
dalam sel terdapat konsentrasi yang tinggi ion K dan konsentrasi ion Ca, Na, dan Cl menjadi rendah. Sedangkan
kkeadaan sebaliknya ada pada membrane ekstraseluler. Perbedaan konsentrasi ion-ion iilah ang menimbulkan
potensial membrane.
Ada dua jenis neurotransmiter yaitu neurotransmiter eksitasi yang memudahkan depolarisasi atau pelepasan
muatan listrik dan neurotranmiter inhibisi yang menyebabkan hipolarisasi sehingga sel neuron lebih stabil dan tidak
mudah melepaskan listrik. Diantaraneurotranmiter eksitasi disebut dengan glutamate, aspartap dan asetilkolin.
Sedangkanneurotranmiter inhibisi yang terkenal adalah gamma amina butyric acid dan glisin. Jika hasil pengaruh
kedua jenis lepasmuatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsang. Hal ini misalnya terjadi dalam keadaan
fisiologis apabila potensial aksi tiba di neuron. Dalam keadaan istirahat membrane neuron mempunyai potensial
listrik tertentu dan berada dalam keadaan polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane
neuron dan seluruh sel akan melepas muatan listrik.
Adanya berbagai faaktor, diantaranya keadaan patologik dapat merubah atau mengganggu fungsi membrane
neuron sehingga membrane neuron mudah dilampaui ion Ca dan Na dari ruangan ekstraseluler ke intraseluler. Influx
Ca akan lepas muatan listrik tidak terkendali, berlebihan dan tidak teratur. Pelepasan muatan listrik yang demikian
oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar serangan epilepsi. Suatu sifat khas serangan epilepsy
adalah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat adanya pengaruh proses inhibisi. Diduga inhibisi ini
merupakan pengaruh neuron-neuron serangan epilepsy. Selain itu juga sistem-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik
yang menjamin agar neuron-neuron tidak terus-menerus berlepasmuatan memegang peranan. Keadaan lain yang

dapat menyebabkan suatu serangan epilepsy terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang
penting untuk fungsi otak.
Penyebab epilepsy secara patofisiologi adalah pada kanal ion yang normal terjadi keseimbangan antara masuknya
ion natrium (natrium influks) dan keluarnya ion kalium (kalium efluks) sehingga terjadi aktivitas depolarisasi dan
repolarisasi yang normal pada sel neuron. Jika terjadi mutasi pada kanal Na seperti yang terdapat pada generalized
epilepsy with febrile seizures plus, maka terjadi natrium influks yang berlebihan sedangkan kalium efluks tetap
seperti semula sehingga terjadi depolarisasi dan repolarisasi yang berlangsung berkali-kali dan cepat atau
terjadi hipereksitasi pada neuron.
Secara etiopatologik, bangkitan epilepsi bisa diakibatkan oleh cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi otak,
keracunan, atau juga pertumbuhan jarigan saraf yang tidak normal(neurodevelopmental problems), pengaruh
genetik yang mengakibatkan mutasi. Mutasi genetik maupun kerusakan sel secara fisik pada cedera maupun stroke
ataupun tumor akan mengakibatkan perubahan dalam mekanisme regulasi fungsi dan struktur neuron yang
mengarah pada gangguan pertumbuhan ataupun plastisitas di sinapsis. Perubahan (fokus) inilah yang bisa
menimbulkan bangkitan listrik di otak.
Bangkitan epilepsi bisa juga terjadi tanpa ditemukan kerusakan anatomi (focus) di otak. Disisi lain epilepsi juga akan
bisa mengakibatkan kelainan jaringan otak sehingga bisa menyebabkan disfungsi fisik dan retardasi mental. Dari
sudut pandang biologi molekuler, bangkitan epilepsi disebabkan oleh ketidakseimbangan sekresi maupun fungsi
neurotransmiter eksitatorik dan inhibitorik di otak. Keadaan ini bisa disebabkan sekresi neurotransmiter dari
presinaptik tidak terkontrol ke sinaptik yang selanjutnya berperan pada reseptor NMDA atau AMPA di post-sinaptik.
Beberapa penelitian neurogenetik membuktikan adanya beberapa faktor yang bertanggungjawab atas bangkitan
epilepsi antara lain kelainan pada ligand-gate (sub unit dari reseptor nikotinik) begitu juga halnya dengan voltagegate (kanal natrium dan kalium).
3.

Gejala Epilepsi

Gejala-gejala epilepsi yang timbul tidak sama pada setiap orang dan penyebabnya kadang-kadang tidak diketahui.
Secara umum penyebab yang dapat mempengaruhi terjadinya epilepsy adalah cidera fisik atau kerusakan otak
terutama jika kejangnya berkurang. Gejala umum yang sering timbul adalah tidak sadar dan mata berbalik ke
atas. Kedua tangan dan kaki menjadi kaku disertai dengan gerakan kejut yang kuat. Saat kejang air liur berbusa dan
napas mendengkur. Setelah sadar pendrita akan muntah beberapa kali, merasakan ngantuk dan tertidur.

4.

Penanganan Epilepsi

Secara umum banyak masyarakat yang salah mengartikan penyyakit epilepsy. Akibatnya banyak penderita epilepsy
yang dikucilkan. Epilepsy bukanlah penyakit yang menular. Para penderita epilepsy harus mempertahankan daya
tahan tubuhnya agar dapat mengurangi resiko kejang-kejang yang berulang. Hindari terik matahari yang sangat
pana pada saat kondisi fisik lemah. Kondisi fisik yang lemah, stess dan depresi dapat memicu munculnya gejaa
epilepsy dan mempersulit proses pengobatan.
Konsumsilah makan yang bergisi dan hindari terjadinya benturan pada kepala atau bagian tubuh yang lain pada
benda yang keras. Selama kejang berlangsung longgarkan pkaian penderita, biarkan penderita sadar dengan
sendirinya namun sebelum itu lindungi kepalanya dengan bantal atau sesuatu yang lembut di bawah kepala.
Setelah sadar bantulah penderita memiringkan tubuhnya dan bantu untuk memuihkan pernapasannya. Jangan
langsung diberi minum karena dapat mengakibatkan penderita tersedak.
Hal yang sangat dihindari ketika seseorang terserang epilepsy adalah jangan meletakkan benda apapun di
mulutnya. Jika serangan epilepsy sangat parah sebaiknya langssung dibawa ke dokter.

BAB II
PENUTUP

A.

Kesimpulan

Hampir semua fungsi pengendalian tubuh manusia dilakukan oleh sistem saraf. Setiap neuron terdiri dari satu badan
sel yang disebut perikarion berisi nukleus. Di dalam sel plasma perikarion, terdapat badan-badan yang disebut
dengan subtansia nissel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson. Dendrit berfungsi
mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan
lain. Akson biasanya sangat panjang dan sebaliknya dendrit berukuran pendek. Setiap neuron hanya mempunyai
satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel.
Sistem saraf tersusun oleh 3 kelas neuron yaitu neuron aferen, neuron eferen, dan antarneuron. Sistem saraf
tersusun menjadi Susunan Saraf Pusat (SSP) yang terdiri atas otakdan korda spinalis, dan sistem saraf tepi (SST),
yang terdiri dari serat-serat saraf yang membawa informasi antara SSP ke bagian tubuh lain (perifer). Sistem Saraf
Tepi dibagi menjadi devisi aferen dan eferen.
Ada banyak gangguan pada sistem saraf manusia, salah satunya adalah epilepsi. Dasar serangan epilepsy adalah
gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps. Secara umum penyebab yang dapat
mempengaruhi terjadinya epilepsy adalah cidera fisik atau kerusakan otak. Gejala umum yang sering timbul adalah
tidak sadar dan mata berbalik ke atas. Epilepsy bukanlah penyakit yang menular. Para penderita epilepsy harus
mempertahankan daya tahan tubuhnya agar dapat mengurangi resiko kejang-kejang yang berulang.

Daftar Pustaka
1.

Lauralee, Sherwood,2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem edisi-2, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

2.

Setiadi, 2007, Anatomi Fisiologi Manusia, Jakarta: Graha Ilmu.

3.

Syaifuddin, 2001, Fungsi Sistem Tubuh Manusia, Jakarta: Widya Medika.

4.
http://bumbata.co/5945/tips-anti-epilepsi-mengenal-4-gejala-epilepsi-pada-anak, dikutip pada 16 Desember
2012.
5.

http://penyakitepilepsi.com/gejala-epilepsi/, dikutip pada 16 Desember 2012.