Anda di halaman 1dari 5

BAB 4

PEMBAHASAN

4.1 Kontraksi Prematur


4.1.1.
Diagnosis
4.1.2.
Terapi
4.1.3.
Prognosis
Diagnosis pada kasus ini adalah dokter G2P1A0 gravid 30-31 minggu +
janin tunggal hidup intra uterine letak kepala + kontraksi premature. Dasar
diagnosis kasus ini adalah sebagai berikut: 1). Amenorea, yangmana pasien sudah
tidak mengalami haid lagi dengan hari pertama haid terakhir (HPHT) pada tanggal
16-11-2014 dan berdasarkan HPHT tersebut, saat ini pasien gravid 11-12 minggu;
2). Tes kehamilan dengan mengambil sampel urin pasien dan menunjukkan hasil
positif; 3). Pemeriksaan ultrasonografi (USG) menunjukkan bahwa terdapat janin
yang berusia 12 minggu dan berjumlah tunggal. Pemeriksaan USG harus
dilakukan untuk mendeteksi kehamilan multipel atau mola hidatidosa karena pada
kondisi tersebut hormone chorionic gonadotropin (hCG) dibentuk secara
berlebihan dan akan menstimulasi ovarium untuk memproduksi estrogen yang
dapat merangang mual dan muntah.3 Sedangkan dasar diagnosis hiperemesis
gravidarum pada kasus ini adalah sebagai berikut: 1). Muntah > 10 kali dalam
sehari, berisi makanan dan minuman yang dikonsumsi, jika sudah terasa kosong,
isi muntahan yang keluar berwarna kuning, disertai dengan rasa terbakar
ditenggorokan dan rasa nyeri di ulu hati. Banyaknya muntahan lebih dari dari
setengah gelas aqua (kemasan 150 cc). Selama mengalami keluhan tersebut pasien
merasa lemas, tidak bertenaga, dan tidak sanggup untuk bekerja lagi sehingga
lebih banyak beristirahat di tempat tidur. Pasien juga mengaku bahwa muntah
dipicu oleh bau-bauan terutama bau-bauan atau makanan yang mengandung
bawang putih. Keluhan muncul terutama saat pagi hari dan tengah malam. Pasien
mengalami penurunan berat badan sebanyak 1 kilogram. 2). Pada pemeriksaan
penunjang ditemukan ketone di urin +3 yang menunjukkan cadangan karbohidrat
dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi selama hiperemesis gravidarum.
Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, maka terjadilah ketosis dengan
tertimbunya asam aseton asetik, asam hidroksi butirik, dan aseton dalam darah.

Terapi pada kasus ini mencakup 1). Drip Isoxsuprine (duvadilan) 4 ampul
dalam 500 cc cairan Ringer Laktat 12 tetes per menit; 2). Histolan tablet 2x1.
Literatur menjelaskan bahwa resusitasi cairan merupakan prioritas utama,
untuk mencegah mekanisme kompensasi yaitu vasokonstriksi dan gangguan
perfusi uterus. Selama terjadi gangguan hemodinamik, uterus termasuk organ non
vital sehingga pasokan darah berkurang. Pada kasus hiperemesis gravidarum,
jenis dehidrasi yang terjadi termasuk dalam dehidrasi karena kehilangan cairan
(pure dehydration). Maka tindakan yang dilakukan adalah rehidrasi yaitu
mengganti cairan tubuh yang hilang ke volume normal, osmolaritas yang efektif
dan komposisi cairan yang tepat untuk keseimbangan asam basa. Berikan cairan
parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat, dan protein dengan glukosa 5%
dalam cairan garam fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. Peranan vitamin B6 untuk
mengatasi hiperemesis masih kontroversi. Dosis vitamin B6 yang cukup efektif
berkisar 12,5-25 mg per hari tiap 8 jam. Selain itu Czeizel melaporkan
suplementasi multivitamin secara bermakna mengurangi kejadian mencegah
insiden hiperemesis gravidarum.14 Pemberian serotonin antagonis cukup efektif
dalam menurunkan keluhan mual dan muntah. Obat ini bekerja menurunkan
rangsangan pusat muntah di medula. Serotonin antagonis yang dianjurkan adalah
ondansetron.

Ondansetron

biasanya

diberikan

pada

pasien

hiperemesis

gravidarum yang tidak membaik setelah diberikan obat-obatan yang lain.


Ranitidin diberikan dengan tujuan mengurangi nyeri epigastrium yang dialami
oleh pasien.
Prognosis pada kasus ini baik, karena saat perawatan hari terakhir
(keempat) pasien tidak lagi mengalami kondisi mual dan muntah. Dalam 1-10%
dari kehamilan, gejala-gejala dapat berlanjut melampaui 20-22 minggu. Kejadian
hiperemesis dapat berulang pada wanita hamil. J. Fitzgerald (1938-1953)
melakukan studi terhadap 159 wanita hamil di Aberdeen, Skotlandia, menemukan
bahwa hiperemesis pada kehamilan pertama merupakan faktor risiko untuk
terjadinya hiperemesis pada kehamilan berikutnya. Berdasarkan penelitian, dari
56 wanita yang kembali hamil, 27 diantaranya mengalami hiperemesis pada
kehamilan kedua dan 7 dari 19 wanita mengalami hiperemesis pada kehamilan
ketiga.5-6

BAB 5
PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Pasien Ny. S, umur 23 tahun dengan GPA usia kehamilan .. minggu datang
dengan keluhan mengelukan perut terasa kencang-kencang sejak 8 jam sebelum
masuk rumah sakit. Keluhan disertai adanya keluar darah dan lendir dari jalan
lahir. Tidak ada riwayat keluar air-air dari jalan lahir. Pasien didiagnosis oleh
dokter G2P1A0 gravid 30-31 minggu + janin tunggal hidup intra uterine letak
kepala + kontraksi prematur. Pasien diberikan tatalaksana 1). Rawat inap; 2).
Drip duvadilan 4 ampul dalam 500 cc RL 12 tpm; dan 3). Histolan tab 2x1.
Setelah dirawat selama 3 hari di Rumah Sakit, pasien lalu dipulangkan dalam
keadaan baik dengan terapi yang diberikan adalah histolan tablet 2x1.
5.2

Saran
Mengingat masih banyaknya kekurangan atas penyusunan

tutorial klinik ini, diharapkan sekali kepada rekan-rekan sekalian


atas kritik dan saran yang membangun demi bertambahnya
khasanah ilmu pengetahuan kita bersama.