Anda di halaman 1dari 50

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan pendidikan telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan maupun Kementerian Negara lainnya. Kenyataan bahwa pengangguran masih relatif
tinggi di Indonesia menuntut pemerintah dan pihak terkait merumuskan sebuah kerangka kerja yang
komprehensif dengan memperhatikan berbagai kondisi, baik internal maupun eksternal, sehingga ke
depan bisa terjadi peningkatan keselarasan antara pendidikan dengan dunia kerja yang diukur
berdasarkan capaian nilai indeks keselarasan (Alignment Index).
Penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja merupakan sebuah upaya komprehensif untuk
mensinkronkan pendidikan nasional dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga terjadi keselarasan
dalam pelaksanaannya. Pemetaan dan analisis sisi pasokan dalam dimensi kualitas, kuantitas, lokasi
dan waktu adalah salah satu program penyelarasan yang bertujuan untuk mengidentifikasi
kemampuan pasokan dunia pendidikan dalam hal kualifikasi/kompetensi, sehingga kita dapat
mengetahui kemampuan sisi pasokan untuk menghasilkan kualifikasi yang diharapkan dunia kerja
hingga pada akhirnya lulusan yang dihasilkan dapat terserap di dunia kerja. Adapun tujuan dari
kegiatan pemetaan dan analisis sisi pasokan dan permintaan dalam dimensi kualitas, kuantitas,
lokasi dan waktu ini adalah (1) mengetahui laju pasokan yang dihasilkan setiap tahunnya di tiap
sektor dan lokasi, (2) mengetahui karakteristik kebutuhan dunia kerja atas lulusan, dan (3)
melakukan analisis integrasi pasokan semua level dibandingkan kemampuan serap dunia kerja
berdasarkan sektor untuk dapat memberikan rekomendasi strategi peningkatan kualitas pendidikan
dalam penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja serta.
Pemahaman dengan baik atas kondisi yang ada saat ini khususnya dari sisi pasokan (dunia
pendidikan) dan sisi permintaan (dunia kerja) serta

analisis yang tajam dan efektif sangat

diperlukan, sehingga dapat diperoleh informasi kondisi eksisting dan yang akan datang yang akurat
dalam menggambarkan situasi pendidikan dan dunia kerja yang sebenarnya baik dari pendidikan
formal, informal maupun nonformal, serta berbagi sektor dunia kerja. Oleh karena itu, kajian ini
menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Berdasarkan dari informasi ini akan dapat sebuah rencana penyelarasan yang lebih komprehensif
dan terintegrasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka akan ada beberapa Lembaga Penelitian
yang akan diundang Perguruan Tinggi yang terpilih untuk melaksanakan kajian pemetaan sisi
pasokan dalam rangka program penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja. Pemilihan Lembaga
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 1

Pelaksana kajian Perguruan Tinggi tersebut didasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Selain melakukan pemetaan, Lembaga tersebut juga akan melakukan analisis terhadap hasil
pemetaan yang dilakukan serta merumuskan strategi dan juga saran-saran yang berguna untuk
meminimalisasi gap yang ada di antara sisi pasokan dan juga sisi permintaan sehingga dapat
terwujud keselarasan.

1.2. Tujuan Integrasi Pemetaan


1.

Adanya hasil analisis pemetaan pasokan yang telah dilakukan di wilayah pilot (Surabaya)
dalam dimensi kualitas, kuantitas, lokasi dan waktu.

2.

Adanya hasil analisis pemetaan permintaan yang telah dilakukan di wilayah pilot
(Surabaya) dalam dimensi kualitas, kuantitas, lokasi dan waktu.

3.

Adanya analisis integrasi pasokan dan pemetaan di wilayah pilot (Surabaya) yang
memberikan hasil :
a. Kemampuan pasokan dunia pendidikan dalam memenuhi

kualifikasi/kompetensi

dikaitkan dengan persoalan penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja.


b. Kemampuan dunia usaha dalam menyerap tenaga kerja dan tingkat pemenuhannya.
c. Rekomendasi strategi pembangunan pendidikan di wilayah pilot (Surabaya) untuk
peningkatan keselarasan pendidikan dengan dunia kerja
d. Rekomendasi strategi dan kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan indeks
keselarasan (Alignment Index) dan indeks pemenuhan (Fulfillment Index) di wilayah
pilot (Surabaya).
e. Rekomendasi tindak lanjut untuk penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja di
wilayah pilot (kota Surabaya).

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 2

BAB 2 TINJAUAN RELEVANSI


PROGRAM
2.1. Program Penyelarasan Pendidikan Dengan Dunia Kerja
Pembangunan pendidikan telah dilakukan oleh berbagai pihak baik Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan maupun Kementerian Negara lainnya. Berbagai program pendidikan baik formal,
informal maupun non formal untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal telah
diselenggarakan selama ini. Dalam Renstra Kemendiknas 2010-2014 dinyatakan bahwa telah terjadi
peningkatan capaian indikator Angka Penyerapan Kasar (APK) yang menunjukkan secara generik
bahwa terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja. Kenyataan bahwa pengangguran masih relatif
tinggi di Indonesia menuntut pemerintah dan pihak terkait merumuskan sebuah kerangka kerja yang
komprehensif dengan memperhatikan berbagai kondisi baik internal maupun eksternal, sehingga ke
depan bisa terjadi peningkatan keselarasan antara pendidikan dengan dunia kerja yang diukur
berdasarkan capaian nilai indeks keselarasan (Alignment Index).
Penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja merupakan sebuah upaya komprehensif untuk
mensinkronkan pendidikan nasional dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga terjadi keselarasan
dalam pelaksanaannya. Analisa kebutuhan dunia kerja yang meliputi dimensi kualitas/kompetensi
dan kuantitas

pada lokasi dan waktu yang berbeda merupakan informasi awal yang perlu

disediakan. Konsep pengembangan kerangka kerja penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja
terbagi dalam 3 bagian yaitu kerangka kerja sisi permintaan, sisi pasokan dan mekanisme
penyelarasan. Proyeksi kebutuhan kedepan terhadap kompetensi yang dibutuhkan dari dunia kerja
dan jumlahnya pada setiap lokasi di Indonesia diperlukan untuk mendisain sistem pendidikan yang
meliputi kualitas pendidik, sarana prasarana dan sistem pembelajarannya. Proyeksi kebutuhan
kedepan harus mengacu pada karakteristik khusus dan potensi yang dimiliki lokasi/daerah tersebut,
untuk itu informasi rencana pengembangan.
Koordinasi dan sinergi antar berbagai kementerian dan institusi/lembaga yang terkait baik pada sisi
pasokan maupun sisi permintaan sangat menentukan keberhasilan program penyelarasan. Program
penyelarasan harus mengacu pada pencapaian target indeks keselarasan yang telah ditetapkan
bersama. Pemangku kepentingan antara lain pihak Pemerintahan yang terdiri dari Pemerintah Pusat
dan Daerah, beberapa Kementerian Negara dan Kementerian lainnya, Lembaga Pendidikan dan
Pelatihan milik Pemerintah dan Swasta. Disamping itu, keterlibatan praktisi pendidikan, pelatihan,
industri dan dunia kerja lainnya diperlukan dalam merealiasikan program penyelarasan secara efektif
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 3

dan efisien, sehingga asosiasi pendidik, asosiasi industri dan asosiasi lain yang merepresentasikan sisi
pasokan dan sisi permintaan juga termasuk dalam pemangku kepentingan.
Optimasi proses koordinasi antar pemangku kepentingan baik antara kementerian dan
institusi/lembaga terkait maupun antara pemerintah pusat dan daerah, dapat dilakukan dengan
menciptakan sebuah mekanisme koordinasi efektif dan efisien melalui adanya sebuah
kesekretariatan khusus dan media koordinasi virtual dalam bentuk website. Rencana program,
kemajuan pelaksanaan dan hasil monitoring dan evaluasi di upload dalam website sehingga dapat
terjadi informasi, komunikasi sekaligus koordinasi antar semua pihak secara cepat dan real time.
Berpijak pada kondisi saat ini dan untuk mencapai kondisi keselarasan yang ideal, diperlukan
tahapan penyelarasan yang terarah dan komprehensif sebagai langkah operasionalisasi kerangka
kerja penyelarasan. Tahapan penyelarasan yang sistematis dapat ditampilkan pada gambar berikut :

Gambar 2.1 Tahapan penyelarasan

Proses penyelarasan diawali dengan tahap persiapan yang meliputi pembentukan kesekretariatan,
pengadaan website dan sosialisasi ke seluruh pemangku kepentingan. Secara paralel, sebuah pilot
project dilakukan melalui observasi permasalahan dan penanganannya. Pilot project ini dapat
menjadi wahana berlatih bagi semua pihak terkait untuk berinteraksi dan mengeksplorasi potensipotensi pemecahan masalah secara bersama-sama. Selain itu, juga merupakan wahana observasi
untuk menemukan akar permasalahan pengangguran di Indonesia dan wahana mengembangkan
konsep serta hipotesa penanganan yang tepat untuk masalah pengangguran.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 4

Studi awal meliputi aktivitas aktivitas dasar yang menjadi prasyarat dilaksanakannya aktivitas
selanjutnya, aktivitas tersebut adalah penyelarasan terminologi dan level yang digunakan oleh
pendidikan dan dunia kerja (A1) dan identifikasi kajian dan program yang telah dilaksanakan oleh
setiap kementerian dan institusi terkait berkenaan dengan upaya penyelarasan (A2). Aktivitas
penyelarasan dari sisi permintaan meliputi pemetaan dan analisa sisi permintaan dalam dimensi
kualitas, kuantitas, lokasi, dan waktu (M1), pemetaan dan analisa kebijakan sisi permintaan yang
berkontribusi pada terjadinya penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja (M2), perancangan dan
pengembangan Sistem Manajemen Basis Data (SMBD) untuk mendukung upaya penyelarasan
pendidikan dengan dunia kerja (M3), dan perancangan dan pengembangan model dan software
inteligen dinamis sisi permintaan untuk mendukung upaya penyelarasan pendidikan dengan dunia
kerja (M4).

Sisi pasokan berupaya mendekatkan pendidikan dengan dunia kerja melalui sejumlah aktivitas yaitu
pemetaan dan analisa sisi pasokan dalam dimensi kualitas, kuantitas, lokasi, dan waktu (P1),
pemetaan dan analisa kebijakan sisi pasokan yang berkontribusi pada terjadinya penyelarasan
pendidikan dengan dunia kerja (P2), dan analisis efektivitas implementasi kebijakan dalam
penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja (P3). Selanjutnya dilakukan proses penyelarasan antara
sisi permintaan dengan sisi pasokan melalui beberapa aktivitas yang meliputi Analisa gap antara sisi
permintaan dan sisi pasokan dalam dimensi kualitas, kuantitas, lokasi, dan waktu (S1), Perancangan
model dan sistem pengukuran kinerja penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja (S2), Pengukuran
dan analisa kinerja penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja saat ini

2.2. Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia


(MP3EI)
2.2.1. Latar belakang MP3EI
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan
langkah awal untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dan termasuk ke dalam 10 (sepuluh)
negara besar di dunia pada tahun 2025 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif,
berkeadilan dan berkelanjutan.
Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK Nasional menjadi salah satu dari 3 (tiga) strategi utama
pelaksanaan MP3EI. Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan, mesin
pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi.
Dalam konteks ini, peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam
mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, tujuan utama di
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 5

dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mendukung hal tersebut di atas haruslah bisa
menciptakan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan
sains dan teknologi.

Sumber daya manusia yang produktif merupakan penggerak pertumbuhan ekonomi. Untuk
menghasilkan tenaga kerja yang produktif, maka diperlukan pendidikan yang bermutu dan relevan
dengan kebutuhan pembangunan. Dalam ekonomi yang semakin bergeser ke arah ekonomi berbasis
pengetahuan, peran pendidikan tinggi sangat penting, antara lain untuk menghasilkan tenaga kerja
yang unggul dan produktif, yang semakin mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dibutuhkan, untuk meningkatkan nilai tambah kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Menyadari bahwa mencetak SDM sesuai kebutuhan Industri merupakan aktivitas masa depan.
Guna menjamin ketercapaian keselarasan secara makro maka upaya pemetaan permintaan SDM
menjadi penting dengan memperhatikan pola pengembangan ekonomi sehingga PPDK dapat secara
efektif memproyeksikan perkembangan ekonomi masa depan sebagai dasar proyeksi pemenuhan
permintaan industri. Selain itu, PPDK akan membentuk keselarasan antara pasokan dengan
permintaan SDM bagi Industri. Keadaan selaras tersebut akan mendorong produktivitas nasional dan
kesejahteraan masyarakat.

2.2.2. Implementasi MP3EI dalam Enam Koridor Ekonomi


Pelaksanaan MP3EI dilakukan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui
pengembangan 8 (delapan) program utama yang memuat 22 (dua puluh dua) kegiatan ekonomi
utama. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu:
(1) mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 (enam) Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu: Koridor
Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi,
Koridor Ekonomi BaliNusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi PapuaKepulauan Maluku; (2)
memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally
integrated, globally connected); (3) memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk
mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.
Dengan memperhitungkan berbagai potensi dan peran strategis masing-masing pulau besar (sesuai
dengan letak dan kedudukan geografis masing-masing pulau), telah ditetapkan 6 (enam) koridor
ekonomi seperti yang tergambar pada peta berikut ini.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 6

Gambar 2.2 Pembagian Enam Koridor Ekonomi

1. Koridor Ekonomi Sumatera memiliki tema pembangunan sebagai Sentra Produksi dan
Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional;
2. Koridor Ekonomi Jawa memiliki tema pembangunan sebagai Pendorong Industri dan Jasa
Nasional;
3. Koridor Ekonomi Kalimantan memiliki tema pembangunan sebagai Pusat Produksi dan
Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung Energi Nasional;
4. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki tema pembangunan sebagai Pusat Produksi dan
Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan Nasional;
Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara memiliki tema pembangunan sebagai Pintu Gerbang
Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional;
5. Koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku memiliki tema pembangunan sebagai Pusat
Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan Nasional.
Selanjutnya, Pengembangan MP3EI berfokus pada 8 program utama, yaitu: pertanian,
pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, telematika, dan pengembangan kawasan
strategis.

Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama yang

disesuaikan dengan potensi dan nilai strategisnya masing-masing di koridor yang bersangkutan.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 7

Tabel 2.1 Peta Kegiatan Ekonomi Utama dari Masing-Masing Koridor

Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia diselenggarakan berdasarkan


pendekatan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, baik yang telah ada maupun yang
baru. Pendekatan ini pada intinya merupakan integrasi dari pendekatan sektoral dan regional. Setiap
wilayah mengembangkan produk yang menjadi keunggulannya. Tujuan pengembangan pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi tersebut adalah untuk memaksimalkan keuntungan aglomerasi, menggali
potensi dan keunggulan daerah serta memperbaiki ketimpangan spasial pembangunan ekonomi
Indonesia.

Langkah-langkah terobosan yang tertuang di dalam strategi dan kebijakan MP3EI dirumuskan
dengan memperhatikan sejumlah prasyarat yang diperlukan. Selain itu juga dikembangkan strategi
yang terdiri atas 3 (tiga) pilar utama berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan, yaitu strategi
peningkatan potensi wilayah melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di dalam koridor
ekonomi, strategi memperkuat konektivitas nasional, serta strategi meningkatkan kapasitas Sumber
Daya Manusia dan IPTEK. Prasyarat serta berbagai strategi pengembangan tersebut akan sangat
mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan MP3EI.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 8

2.2.3. Pembangunan Eknomi di Koridor Ekonomi Jawa


Fokus pembangunan ekonomi Koridor Ekonomi Jawa adalah pada kegiatan ekonomi utama makanan
minuman, tekstil, dan peralatan transportasi. Selain itu terdapat pula aspirasi untuk
mengembangkan kegiatan ekonomi utama perkapalan, telematika, dan alat utama sistem senjata
(alutsista).
Pengembangan Koridor Ekonomi Jawa mempunyai tema Pendorong Industri dan Jasa Nasional.
Selain itu, strategi khusus Koridor Ekonomi Jawa adalah mengembangkan industri yang mendukung
pelestarian daya dukung air dan lingkungan. Secara umum, Koridor Ekonomi Jawa memiliki kondisi
yang lebih baik di bidang ekonomi dan sosial, sehingga Koridor Ekonomi Jawa berpotensi untuk
berkembang dalam rantai nilai dari ekonomi berbasis manufaktur ke jasa.
Propinsi Jawa Timur sebagai bagian dari Koridor Ekonomi Jawa dengan tema Pendorong Industri dan
Jasa Nasional paling tidak didasarkan pada kondisi makroekonominya. Awal Februari 2010, Badan
Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Timur mempublikasikan secara utuh kinerja ekonomi Jawa Timur
tahun 2010. Secara umum, terdapat beberapa catatan dari data makroekonomi Jatim tahun 2010
tersebut.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Jatim 2010 memang bagus (6,67 persen), lebih tinggi daripada
pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,1 persen. Tapi, inflasi Jatim 7,10 persen juga lebih
tinggi daripada inflasi nasional 6,96 persen. Pola itu mengulang kinerja pertumbuhan ekonomi 2009.
Yakni, ekonomi Jatim bertumbuh 5,01 persen dan nasional 4,5 persen. Kedua, data sebaliknya,
pertumbuhan sektoral kian tidak berpihak terhadap sektor pertanian dan industri (yang selama ini
menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar). Pada 2010, sektor pertanian hanya tumbuh 2,1
persen (turun dari 2009 sebesar 4,01 persen). Sementara itu, pertumbuhan sektor industri dan
pengolahan pada 2010 sebesar 4,35 persen.

Struktur pertumbuhan ekonomi Jatim banyak ditopang pertumbuhan sektor pengangkutan dan
komunikasi (10,07 persen); perdangangan, hotel dan restoran (10,67 persen); serta keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan (7,27 persen). Pertumbuhan sektor-sektor tersebut memang
penting. Tapi, kekurangannya adalah penyerapan tenaga kerja yang tidak terlalu besar, meski
pertumbuhannya tinggi.

Karakteristik sektor-sektor tersebut juga sangat khas, dinamika perkembangannya kurang


bersinggungan secara langsung dengan peranan pemerintah (daerah). Artinya jika pertumbuhan
sektor tersebut bagus, tidak lantas bisa disimpulkan peran pemerintah telah optimal. Sektor-sektor

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 9

itu selama ini berjalan lebih banyak berbasis kreativitas, geliat ekonomi, dan inisiasi individu.
Bahkan, sektor perdangangan tetap tumbuh di tengah buruknya infrastruktur ekonomi.

Berikutnya, kinerja pertumbuhan sektor industri yang lebih rendah (lebih rendah dari pertumbuhan
sektor industri dan pengolahan nasional: 4,5 persen pada 2010) mengakibatkan kontribusi sektor
industri dan pengolahan terhadap PDRB di Jatim tinggal 27,49 persen (2010), padahal pada 2009
kontribusinya masih 28,64 persen. Menurunnya kontribusi sektor industri secara otomatis juga
menunjukkan kian terbatasnya nilai tambah dari kegiatan ekonomi di Jatim. Sebab, sektor industri
merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling banyak menyumbangkan nilai tambah
perekonomian (disamping penyerapan tenaga kerja). Secara geografis, sektor industri itu juga
mengalami masalah karena terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi Jatim seperti di Surabaya,
Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan. Karena itu, bukan merupakan kebetulan jika
pendapatan per kapita di sebagian wilayah tersebut relatif tinggi.

2.3. Keadaan Umum Kota Surabaya


Kota Surabaya adalah ibukota provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota terbesar
kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota Surabaya secara geografis terletak antara 0721' Lintang
Selatan dan 11236' - 11254' Bujur Timur. Dengan jumlah penduduk yang termasuk ke dalam
kelompok metropolis dengan jumlah penduduk yang hampir 3 juta jiwa (2.765.487).

2.3.1. Kondisi Ekonomi Kota Surabaya


Sebagai kota metropolitan, Surabaya menjadi pusat kegiatan perekonomian di daerah Jawa Timur
dan sekitarnya. Sebagian besar penduduknya bergerak dalam bidang jasa, industri, dan perdagangan
sehingga jarang ditemukan lahan persawahan. Banyak perusahaan besar yang berkantor pusat di
Surabaya, seperti PT Sampoerna Tbk, Maspion, Wing's Group, Unilever, dan PT PAL. Kawasan
industri di Surabaya diantaranya Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) dan Margomulyo. Sektor
industri pengolahan dan perdagangan yang mencakup juga hotel dan restoran, merupakan
kontributor utama kegiatan ekonomi surabaya yang tergabung dalam nilai Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB).

PDRB Kota Surabaya Pada Triwulan III tahun 2010 Atas Dasar Harga Berlaku sebesar Rp.44,57 triliun
dan Atas Dasar Harga Konstan sebesar Rp.20,3 triliun. Ditinjau secara sektoral, PDRB Harga Berlaku
untuk Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran pada triwulan III-2010 sebesar Rp. 17,9 triliun atau
menyumbang 40,17 persen dari total PDRB. PDRB Sektor Industri Pengolahan sebesar Rp. 12,42
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 10

triliun atau menyumbang 27,87 persen PDRB total. dan PDRB Sektor Jasa-Jasa sebesar Rp. 2,87
triliun atau sebesar 6,45 persen dari total PDRB.
Tabel 2.2 Produk Domesti Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga
Berlaku (Dalam Juta Rupiah)
SEKTOR
Pertanian

TRIW III-2009

TRIW III-2010

28.832,85

26.744,32

3.798,35

4.139,27

11.135.531,73

12.420.337,47

Listrik, Gas & Air Bersih

1.689.700,53

1.891.068,05

Konstruksi

2.340.563,30

2.829.861,03

15.320.654,74

17.904.796,29

Pengangkutan & Komunikasi

3.520.350,30

4.108.191,53

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

2.180.262,15

2.508.619,97

Jasa Jasa

2.574.079,63

2.876.486,20

38.793.773,57

44.570.244,14

Pertambangan & Penggalian


Industri Pengolahan

Perdagangan, Hotel & Restoran

TOTAL PDRB SURABAYA

Pertumbuhan Ekonomi Surabaya pada triwulan III-2010 sebesar 7,53 persen. Pertumbuhan tertinggi
berdasarkan sektor ekonomi adalah Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 9,98 persen pada
triwulan III-2010. Pertumbuhan yang cukup tinggi juga dialami oleh Sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran sebesar 9,67 persen dan Sektor Konstruksi sebesar 9,13 persen.

Perekonomian Kota Surabaya pada tahun 2010 menunjukkan perkembangan yang sangat baik
dengan nilai Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 205.161.469 milyar. Pada
tahun 2009 PDRB Kota Surabaya atas dasar harga konstan besarnya Rp. 38.793.773,57 milyar dan
meningkat menjadi Rp. 44.570.244,14 milyar pada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi Kota
Surabaya dalam kurun waktu lima tahun (2006 2010) yang dihitung dari PDRB atas dasar harga
konstan mempunyai kecenderungan meningkat dengan pertumbuhan di atas 5% pada periode tahun
2005 2008 dan 5,68% pada tahun 2009-2010.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 11

Pertumbuhan Sektoral dan PDRB Kota Surabaya


Triwulan III-2010
7,33

7,00

7,80
5,80

3,73

6,39

5,68

3,96

2,92

1,44

Gambar 2.3 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya Triwulan III Tahun 2010

Pertumbuhan ekonomi per sektor di Kota Surabaya mengalami pertumbuhan ekonomi positif.
Sektor pertanian dan pertambangan pada tahun 2010 masing-masing tumbuh sebesar 1,44 persen
dan 3,73 persen, yang merupakan pertumbuhan ekonomi terkecil dibandingkan dengan sektor yang
lain. Sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan terbesar adalah sektor pengangkutan dan
komunikasi (7,80%) dan PHR (Perdagangan, Hotel dan Restoran) sebesar 7,33%, Sektor Keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan sebesar 5,80%

dan sektor industri pengolahan mengalami

pertumbuhan sebesar 2,92%.

2.3.2. Ketenagakerjaan Kota Surabaya


Jumlah angkatan kerja di Kota Surabaya tahun 2007 sebanyak 1.355.338 orang atau bertambah
24.921 orang (2%) dibanding tahun 2006, dan tahun 2008 bertambah 63.329 orang (5%) menjadi
1.418.667 orang. Meningkatnya tenaga kerja diikuti oleh pertambahan lapangan kerja, selengkapnya
dengan tabel 2.3. Tingkat pengangguran kota Surabaya tergolong tinggi. Sejak tahun 2001-2010
jumlah pencari kerja yang belum memperoleh pekerjaan berkisar antara 9.000 17.000 orang. Data
menunjukkan bahwa dari jumlah pengganggur tersebut, jumlah pencari kerja yang berlatar belakang
pendidikan tinggi merupakan jumlah terbesar (63%).
Tabel 2.3 Ketenagakerjaan Penduduk Kota Surabaya Tahun 2005 2010
Jumlah

Jumlah Orang

Jumlah

Tingkat

Tingkat

Orang yang

Yang Mencari

Angkatan

Kesempatan

Pengangguran

Bekerja

Pekerjaan

Kerja

Kerja (%)

Terbuka (%)

2006

1234234

96183

1330417

92.77

7.23

2007

1198240

157098

1355338

88.41

11.59

Tahun

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 12

Tahun

Jumlah

Jumlah Orang

Jumlah

Tingkat

Tingkat

2008

Orang
yang
1250690

Yang
Mencari
167977

Angkatan
1418667

Kesempatan
88.16

Pengangguran
11.84

2009

Bekerja
1275579

Pekerjaan
171462

Kerja
1447040

Kerja
(%)
88.15

Terbuka
11.85(%)

2010

1313846

162135

1475981

89.02

10.98

Angka pengangguran yang tinggi ini disebabkan jumlah permintaan tenaga kerja di Kota Surabaya
cenderung lebih rendah dari pasokan tenaga kerja.

Data Dinas Tenaga Kerja tahun 2002,

menunjukkan bahwa dari 7.749 pencari kerja


pada tahun 2002, hanya dapat ditampung oleh
lapangan kerja sebesar 1.205. Selebihnya 2.343
orang melakukan mobilisasi ke wilayah lain dan
4.110 orang menjadi penganggur.

Dari 7.749 pencari kerja pada tahun


2002, hanya dapat ditampung oleh
lapangan kerja sebesar 1.205.
Selebihnya 2.343 orang melakukan
mobilisasi ke wilayah lain dan 4.110
orang menjadi penganggur.

Tabel 2.4 Jumlah Pencari Kerja menurut Pendidikan Tahun 2003

Sisa
No

Tingkat

Akhir

Pendidikan

tahun

Sisa
Terdaftar Penempatan Dihapuskan

Akhir
Tahun

Lalu
1 SD

15

32

43

2 SLTP

53

88

10

131

4.117

3.574

1.019

1.063

5.573

4 Tinggi

7.307

4.055

172

1.280

9.946

Total

11.492

7.749

1.205

2.343

15.693

3 SMA / SMK
Perguruan

Sumber : Dinas Tenaga Kerja kota Surabaya (2003)

Secara umum struktur tenaga kerja menurut sektoral menunjukkan pola yang sama antar tahun
(2008 2010), yaitu penyerapan terbesar masih didominasi oleh sektor Perdagangan Besar, Eceran,
Rumah Makan dan Hotel, diikuti sektor Industri Pengolahan, sektor Angkutan, Pergudangan dan
Komunikasi serta yang berikutnya adalah sektor Keuangan, Asuransi dan Usaha Persewaan.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 13

Tabel 2.5 Distribusi penduduk yang bekerja di Kota Surabaya menurut Lapangan Usaha Tahun 2008-2010

Agustus

Agustus

Agustus

2008

2009

2010

Industri Pengolahan

205.535

193.279

205.246

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah

474.936

462.812

453.389

Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi

128.188

151.540

124.582

Keuangan, Asuransi dan Usaha

50.801

49.555

51.334

1.250.690

1.253.962

1.245.542

Lapangan Usaha

Makan dan Hotel

Persewaaan
Jumlah

Distribusi Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan


Agustus 2009
36,40%

Agustus 2010

36,91%

16,48%
10,00%

15,41%

4,12%
12,08%
Industri Pengolahan

3,95%

Perdagangan Besar, Angkutan, Pergudangan Keuangan, Asuransi dan


Eceran, Rumah Makan
dan Komunikasi
Usaha Persewaaan
dan Hotel

Gambar 2.4 Distribusi Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan

Pada Agustus 2010 jumlah penduduk yang bekerja mengalami penurunan pada beberapa sektor
(lapangan pekerjaan utama). Dibandingkan dengan Agustus 2009 ada dua sektor yang mengalami
kenaikan jumlah pekerja, yaitu Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Keuangan, Asuransi dan Usaha
Persewaan, masing-masing sebesar 1,07 persen dan 0,17 persen.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 14

BAB 3 METODOLOGI KAJIAN


Kajian Pemetaan dan Analisis Sisi Permintaan dan Pasokan berdasarkan Dimensi Kualitas, Kuantitas,
Lokasi dan Waktu, dilaksanakan di wilayah Kota Surabaya, pada Tanggal 24 Desember 2011 24
April 2012. Kajian Pemetaan dan Analisis Sisi Permintaan
Kualitas, Kuantitas, Lokasi dan Waktu,

dan Pasokan berdasarkan Dimensi

dilakukan dengan tahapan yang sistematis yang akan

diuraikan pada bagian ini.

3.1 Metoda dan Instrumen Pelaksanaan Kajian Pemetaan Sisi Permintaan


Kajian Pemetaan dan Analisis Sisi Permintaan dan Pasokan berdasarkan Dimensi Kualitas, Kuantitas,
Lokasi dan Waktu, dilakukan dengan tahapan sebagai sebagaimana digambarkan dalam bagan
berikut :
DATA BASEINDUSTRI (POPULASI)

Proporsi Sektor
Kajian
Proporsi sub
Sektor
Proporsi Skala
Usaha

Quota 180 Unit


Sampel
Random dalam
Subsektor

PENYUSUNAN danPENETAPAN
INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

PENETAPAN SAMPELKAJIAN

PENYUSUNAN INSTRUMEN
PENGUMPULAN DATA
VALIDASI INSTRUMEN
PENGUMPULAN DATA

PENGUMPULAN DATA

PENETAPAN INSTRUMEN
PENGUMPULAN DATA

ANALISA DATA

Gambar 3.1 Tahapan Pelaksanaan Kajian

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 15

Proses identifikasi Industri diawali dengan penetapan daftar populasi industri. Daftar ini memuat
identitas industri dan pengelompokan industri berdasarkan skala usaha dan sektor industri. Skala
industri di dasarkan pada jumlah tenaga kerja. Informasi tentang populasi industri digunakan untuk
menetapkan secara proporsional jumlah sampel pada masing-masing sektor.

Populasi yang ditetapkan untuk mengukur besaran kuantitas permintaan tenaga kerja adalah
seluruh dunia usaha / industri di Kota Surabaya. Sedang elemen dari populasi yang akan secara
khusus dipelajari adalah Sektor Industri yang berkaitan dengan Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3Ei) 2011-2025 dimana Koridor Jawa di tekankan
tema pengembangan sebagai Pendorong Industri dan Jasa Nasional. Untuk itu di pilih 3 sektor
utama yaitu :
i.

PERDAGANGAN, HOTEL dan RESTAURANT dengan subsektor


Perdagangan Besar,
Retail
Tourism, Restoran Dan Hotel
Iklan, Percetakan Dan Media

ii.

INDUSTRI PENGOLAHAN dengan subsektor


Industri Dasar dan Kimia,
Aneka Industri
Industri Kebutuhan Rumah Tangga (Consumer goods)
Industri Makanan dan Minuman

iii.

TRANSPORTASI dan TELKOMUNIKASI dengan subsektor


Transportasi
Telekomunikasi

iv.

JASA KEUANGAN dengan subsektor


Perbankan
Asuransi
Koperasi
Sekuritas

3.1.1. Penetapan Sampel


Berdasarkan penetapan proporsi industri berdasarkan skala masing-masing sektor dan subsektor,
setiap perguruan tinggi pelaksana pemetaan menetapkan perusahaan yang menjadi sampel.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 16

Pemilihan sampel dilakukan secara acak dari daftar industri pada masing-masing sektor dan
subsektor.
Pengambilan sampel dilakukan denga metode QUOTA PROPORSIONAL Random Sampling, dimana :
i. QUOTA perusahaan yang di tetapkan adalah 180 unit
ii. PROPORSI sampel yang diambil untuk tiap kelompok / subsektor industri ditentukan dengan
perhitungan sebagai berikut :

Populasi Sub Sektor X Pada Skala Y


--------------------------------------------------- x Quota = Sampel Subsektor X
Populasi Total

berdasarkan Skala Y

Perhitungan untuk penetuan sampel menghasilkan distribusi sampel untuk masing-masing sektor
dan subsektor sebagai berikut :
Tabel 3.1 Distribusi Sampel untuk Setiap Sektor
Jumlah

Sektor / Sub Sektor

Industri
Besar

Jumlah
Industri

Jumlah

Kecil

Total

Proporsi

Menengah

Jumlah

Jumlah

Industri

Industri

Sampel

Besar

Jumlah
Industri
Kecil
Menengah

Perdagangan
Perdagangan Besar

0%

Retail

76

79

155

12%

21

10

11

Tourism dan Restaurant

31

150

181

14%

25

20

Hotel

53

95

148

11%

20

13

Iklan Percetakan dan Media

20

97

117

9%

16

13

Industri dasar Kimia

14

13

27

2%

Aneka Industri

233

163

396

30%

54

32

22

Consumer goods

11

18

1%

Makanan Minuman

31

70

101

8%

14

10

Transportasi

26

10

36

3%

Telekomunikasi

13

17

30

2%

Perbankan

35

33

68

5%

Asuransi

35

10

45

3%

Pengolahan

Transportasi dan
Telkom

Kuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 17

Jumlah

Sektor / Sub Sektor

Industri
Besar

Jumlah Total Industri

576

Jumlah
Industri

Jumlah

Kecil

Total

Proporsi

Menengah

748

1324

Jumlah

Jumlah

Industri

Industri

Sampel

Besar

180

78

Jumlah
Industri
Kecil
Menengah

102

3.1.2 Penetapan Instrumen Pengumpulan Data


Bersamaan dengan pelaksanaan identifikasi populasi dan penetapan sampel

dilakukan pula

penetapan Instrumen pengumpulan data. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan Data
Primer, diperoleh melalui teknik wawancara langsung dengan responden, adalah sebagai berikut :
a. Focused Group Disscusion (FGD), Wawancara terbuka dengan perwakilan dunia usaha yang
bersedia berpartisipasi dalam kegiatan FGD. Dilakukan pada awal pelaksanaan kegiatan untuk
memberikan brain storming yang cukup sebagai dasar penyusunan instrumen selanjutnya.
Data yang digali mencakup : keadaan umum industri, karakter-karakter sektor-sektor industri,
terminologi teknis tentang SDM dalam industri, tanggapan industri tentang kuantitas, kualitas
SDM dan ketersediaan SDM serta kesediaan industri untuk mendukung kegiatan pemetaan.
b. Kuesioner, Wawancara terstruktur dengan perusahaan sampel
Data yang digali melalui wawancara terstruktur mencakup :
Jumlah tenaga kerja, Kelompok jenjang tenaga kerja, kualifikasi tenaga kerja, waktu rekrutmen
tenaga kerja, asal teaga kerja dan data profil unit usaha
Kuesioner disusun berdasarkan variabel dan indikator pemetaan.
Varibel dan indikator data yang harus dapat dikumpulkan dari kuesioner yang dipergunakan dalam
pengumpulan data adalah :
A. Identitas Industri
a.

Nama

b.

Umur Usaha

c.

Alamat

d.

Sektor / Area Industri

e.

Skala berdasarkan jumlah tenaga kerja

B. Permintaan Tenaga Kerja


a. Dimensi Kuantitas, variabel yang diamati adalah;
Jumlah dan sebaran tenaga kerja berdasarkan jenjang jabatan
Jumlah dan sebaran tenaga kerja berdasarkan bagian / departemen

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 18

b. Dimensi Kualitas, variabel yang diamati adalah;


Jumlah dan sebaran tenaga kerja berdasarkan jenjang pendidikan dalam kelompok jenjang
jabatan
Jenis dan sebaran Kualifikasi dasar / kecakapan umum berdasarkan kelompok jenjang
jabatan
Jenis dan sebaran Kualifikasi khusus / Kecakapan khusus berdasarkan kelompok jenjang
jabatan
Jenis dan sebaran Bidang Keahlian dan Sertifikasi yang ada berdasarkan kelompok jenjang
jabatan
Jumlah tenaga kerja dan Sebaran Kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan bidang
pekerjaan berdasarkan bagian / departemen

c. Dimensi Lokasi, variabel yang diamati adalah;


Jumlah dan sebaran tenaga kerja berdasarkan sektor industri
Jumlah dan sebaran tenaga kerja berdasarkan asal lokasi pendidikan terakhir

d. Dimensi Waktu, variabel yang diamati adalah;


Proyeksi kebutuhan tenaga kerja dalam masing masing sektor industri dan jenjang jabatan

C. Penunjang
a.

Persepsi Industri atas kualitas Lulusan

b.

Persepsi industri atas kebikjakan pemerintah yang berpengaruh

c.

Persepsi Industri terhadap dunia usaha dan industri

d.

Permasalahan Sumberdaya Manusia yang dihadapi industri

e.

Mekanisme rekrutmen yang diterapkan industri

f.

Kebutuhan industri atas dukungan pasokan sumberdaya manusia

Selanjutnya definisi operasional yang digunakan dalam pengkajian adalah sebagai berikut :
Tabel 3.2 Definisi Operasional Pengkajian

Nama Departemen

Sebutan / Nama departemen atau bagian atau divisi


sesuai dengan pembagian yang ada dalam perusahaan.
Jenjang

Jenjang Jabatan

perusahaan

jabatan dalam Departemen / Bagian / Divisi.

Untuk

itu,digunakan tiga bagian yang terpisah yang membagi jenjang jabatan


atas : MANAJEMEN, SUPERVISOR dan OPERATOR

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 19

Pendidikan Formal terakhir SDM pada jenjang dimaksud, dalam


Jenjang Pendidikan

Departemen / Bagian / Divisi. Untuk itu, akan terdapat bagian yang


terpisah yang membagi jenjang pendidikan atas : S3, S2, S1, D4, D3,
D2, D1, SMK, SMA, SD-SMP.

Bidang Studi

Nama Bidang Studi Pendidikan formal tenaga kerja, misal: Manajemen,

Pendidikan

Akuntansi, Hukum, Psikologi, Biologi, Pertanian dan lain lain.

Pengalaman

Lama SDM bekerja di perusahaan responden. Dikelompokkan atas 3


kelompok <1 tahun, 1-5 tahun dan > 5 tahun.
Nama/jenis sertifikat , baik Sertifikat Profesi atau Sertifikat

Sertifikat Profesi

Keterampilan atau Sertifikat Kursus atau Sertifikat Kemampuan lain


yang dimiliki oleh tenaga kerja dimaksud.
kesesuaian bidang

atau sertifikasi dalam tiga tingkat derajat

kesesuaian. Fully = Sesuai saat bidang ilmu dan sertifikat Sesuai


Kesesuaian Bidang

dengan harapan pekerjaan, Partly= Kurang sesuai saat bidang ilmu dan
sertifikat kurang sesuai dan None = Tidak Sesuai saat bidang ilmu dan
sertifikat sama sekali tidak sesuai dengan pekerjaan

Asal Lokasi Pendidikan

Kebutuhan Ideal

Lokasi asal SDM memperoleh pendidikan terakhir . dibagi dapam 4


kelompok Dalam Kota, Dalam Propinsi, Luar Propinsi dan Luar Negeri.
Jumlah Tenaga Kerja yang dibutuhkan SECARA IDEAL oleh perusahaan
pada tahun ini

Setalah prototipe kuesioner diperoleh, kuesioner didiskusikan dalam tim untuk memperoleh
perbaikan.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas kuesioner saat

digunakan dalam pengumpulan data. Guna memudahkan teknis, kuesioner disajikan baik dalam
bentuk lembar formulir isian, maupun dalam bentuk elektronik

Selain data primer, juga dikumpulkan Data Sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber referensi
berbagai lembaga terkait (Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah, Asosiasi Pengusaha dan Industri, asosiasi profesi dan lain-lain).
Data Sekunder yang digali meliputi : Statistik Industri, Pertumbuhan ekonomi dan Pertumbuhan
Sektor Ekonomi

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 20

3.1.3. Mekanisme Pengumpulan Data


Mekanisme yang beragam dilakukan dalam upaya pengumpulan data. Perbedaan mekanisme ini
harus dilakukan guna menyesuaikan dengan karakteristik industri sampel. Setelah menetapkan
nama perusahaan sampel, korespondensi dapat muali dilakukan.

Pada tahap awal pelaksana

pemetaan melakukan pengajuan permohonan dan kesediaan menjadi responden kepada


perusahaan sampel. Surat pengantar dan kuesioner dikirimkan pada perusahaan sampel. Selain
mengirimkan, juga dilakukan upaya korespondensi melalui telepon untuk memperoleh kesediaan
perusahaan.

Pada tahap ini surat rekomendasi dan surat tugas dari Ditjen PAUDNI Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan diperlukan sebagai pengantar pada calon responden. Selain surat rekomendasi,
bantuan teknis Dinas Tenaga Kerja, Alumni, Relasi dan Organisasi Profesi telah dimanfaatkan.
Bantuan ini diperlukan untuk mempermudah akses dan mendorong kesediaan perusahaan.

Pada beberapa perusahaan follow up yang lebih intensif sering diperlukan. Selain pendekatan
formal dilakukan pula pendekatan informal seperti mengupayakan bertemu langsung dengan unsur
pimpinan perusahaan di kantor maupun diluar kantor. Menghadiri kegiatan seminar maupun
pertemuan organisasi profesi yang mewadahi bidang SDM juga dilakukan untuk mempermudah
akses pada perusahaan sampel.

3.1.4. Analisa Data


Data yang telah terkumpul di analisa dengan metode analisa sebagai berikut :
1. Analisis Deskriptif digunakan untuk menganalisa Informasi tentang kuantitas, kualitas, lokasi
dan waktu permintaan tenaga kerja dari sektor dunia usaha yang dipelajari.

Analisis

Deskriptif juga digunakan untuk membentuk Peta kebutuhan tenaga kerja pada setiap sektor
berdasarkan skala besar sedang dan kecil yang memuat jumlah yang dibutuhkan, serta
kualifikasi dan kompetensi yang diinginkan.
2. Tabulasi dan Analisis akar masalah dipergunakan untuk melakukan Dokumentasi berbagai
data mengenai kendala dan permasalahan yang dihadapi dunia usaha dalam dalam upaya
penyediaan peluang kerja, serta dokumentasi identitas peluang wirausaha berdasarkan
sektor dunia kerja.
3. Analisis regresi linier sederhana walau pun tidak dominan digunakan dalam kajian
pemetaan, dapat dipergunakan untuk menduga nilai / besaran perubahan atau
pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja pada sektor kajian di masa mendatang berdasarkan
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 21

hasil pemetaan, maupun berdasarkan data sekunder


Analisis Regresi Linear Sederhana dengan pendekatan teorema Cobb Douglas dapat
digunakan untuk menganalisa perkembangan / trend masing masing variabel, didasarkan
pada pola perilaku yang terjadi pada deret waktu (time series data) (Rachman, 2005):.
Yt

a.tb .................................................................................................... (1)

diturunkan menjadi
lnYt =

Dimana : Yt

b lnt .................................................................................. (2)

= nilai prediksi perkembangan variabel data

= konstanta

= koefisien slope waktu

= tahun data

4. Perhitungan Fullfillment Index (FI) dipergunakan untuk memperhitungkan dan menduga


aras kesesuaian jumlah, kompetensi, lokasi, dan waktu, tenaga kerja terhadap kebutuhan
dan ekspektasi perusahaan. Perhitungan full fillment indeks dilakukan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Konsepsi dasar fullfillment indeks adalah perbandingan antara keaadaan tenaga kerja yang
diterima karyawan dengan ekspektasi perusahaan atas keadaan karyawan yang diinginkan.

(FI) =

................................................. (1)

Mempertimbangkan bahwa terdapat dimensi waktu (t), level jabatan (l) dan departemen (i)
serta interaksi kompetensi (j) dan lokasi pemenuhan (k) maka dapat dikembangkan rumusan
sebagai berikut :
,

1 .............................................................................. (2)

Dimana :
:

jumlah tenaga kerja diterima pada tahun t yang menempati level jabatan l di
departemen i, dengan lokasi pemenuhan k, serta memiliki level kompetensi j
(dengan j = 1, 2, 3)

jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk level jabatan l di departemen i,


pada tahun t.

Nilai yang diberikan untuk tenaga kerja dengan level kompetensi j (1 = 1, 2 =


0,5 ; dan 3 = 0,1).

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 22

3.1.4.1. Beberapa Catatan dalam Implementasi Metodologi


Informasi dasar tentang industri, merupakan hal penting untuk dapat menetukan distribusi
sampel.

Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa informasi tentang industri dapat

diperoleh dari berbagai sumber diantaranya Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Perindustriaan
Perdagangan. Kelemahannya Perbedaan lembaga memberikan konskwensi perbedaan basis
data.

Untuk pelaksanaan pemetaan dimasa mendatang akan sangat efektif untuk

menentukan SATU sumber data sebagai informasi dasar dalam penetapan sampel.
Focus Group Discussion (FGD), merupakan media yang berharga untuk memperoleh
berbagai informasi awal yang berguna bagi penyempurnaan instrumen dan pengembangan
variabel maupun indikator.

Pelaksanaan dalam pemetaan kali ini berlangsung kurang

optimal. Waktu yang terlalu pendek dalam persiapan merupakan penyebab utama kendala
pelaksanaan FGD. Perbikan dimasa mendatang adalah pentingnya memberikan informasi
dalam waktu yang cukup pada industri, menetapkan calon undangan yang lebih terstruktur
dan followup untuk mendorong motivasi industri berpartisipasi dalam FGD.
Kuesioner, merupakan instrumen utama yang dipergunakan dalam pengkajian. Beberapa
kendala dilapangan terkait dengan implementasi instrumen ini merupakan informasi yang
bermanfaat. Jumlah kuesioner yang kembali di bandingkan dengan jumlah kuesioner yang di
sebar, dapat menunjukkan tingkat partisipasi industri. Banyaknya kuesioner yang terisi
dengan baik terhadap seluruh kuesioner yang kembali, menunjukkan reliabilitas kuesioner.
Besarnya angka-angka tersebut akan dapat menjadi indikator penting untuk implementasi di
masa mendatang. Kendala utama kuesioner adalah :
Pemahaman Responden, terjadi karena ketidak selarasan penggunaan beberapa terminologi
dalam kuesioner (misal : perbedaan persepsi tentang jenjang supervisor dan perbedaan
pandangan tentang kesesuaian kompetensi). Untuk itu dalam pemetaan dimasa mendatang
diperlukan penetapan Definisi Operasional yang lebih baik dengan melibatkan setiap
pemangku kepentingan pemetaan. Pada masa mendatang penting memberikan catatan
penjelas cara / pemahaman responden saat pengisian pertanyaan kompetensi tenaga kerja.
Perbedaan tabulasi data yang dimiliki responden dengan metode tabulasi data pada
kuesioner.
Berkaitan dengan pelaksanaan FGD, akan sangat baik bila pada masa mendatang, FGD juga
bisa digunakan sebagai instrumen untuk menilai reliabilitas kuesioner.

Memberikan

kesempatan partisipan FGD untuk mengkritisi kuesioner yang akan digunakan.


Data Sekunder memegang peranan yang tidak kecil dalam interpretasi, pengembangan
pembahasan hingga pengambilan keputusan.
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Pengumpulan data sekunder mengalami


Halaman 23

permasalahan pada ketersediaan data yang rendah, perbedaan angka data berdasarkan
sumber data dan kekinian data. Hal ini mungkin terjadi karena koordinasi dengan
pemerintah Kota Surabaya kurang baik.

Berikut penjelasan mengenai metodologi Pemetaan Sisi Pasokan berdasarkan dimensi waktu,
kualitas, kuantitas, dan lokasi untuk studi kasus wilayah Kota Surabaya. Secara umum terdapat 6
tahapan penting, mulai dari penentuan sektor unggulan wilayah daerah/objek amatan (Kota
Surabaya) untuk memberikan batasan ruang lingkup kajian (Tahap 1), hingga tahap perhitungan
Alignment Index (Tahap 6).

Gambar 3.2 Metodologi Kajian Pemetaan dan Analisis Sisi Pasokan berdasarkan Dimensi Kuantitas, Kualitas,
Waktu, dan Lokasi

Tahap 1: Penetapan Sektor Unggulan Wilayah Objek Amatan


Dukungan supply SDM terdidik yang memiliki kompetensi yang sesuai merupakan sebuah modal
dasar untuk mengembangkan suatu wilayah. Mengukur kesiapan sisi pasokan untuk mendukung
pengembangan wilayah melalui sektor-sektor unggulannya menjadi mutlak diperlukan. Penetapan
Sektor Unggulan wilayah objek amatan akan berguna untuk mengevaluasi apakah SDM lokal telah
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 24

sejalan dan mampu menyediakan pasokan bagi pengembangan sektor-sektor unggulan tersebut.
Sinergi antar keduanya akan memberikan dampak sosial dan ekonomi yang cukup tinggi, karena
pengembangan wilayah dan ekonominya mampu didukung oleh SDM-SDM yang dihasilkan dari lokal
daerah tersebut.

Penetapan sektor unggulan dapat ditetapkan dari kecenderungan unggulan yang berkembang saat
ini (seperti: mengevaluasi PDRB dan potensi unggulan secara nasional) ataupun melihat Rencana
Strategis pengembangan wilayah kedepan (RT/RW, Renstra Pemerintah Daerah, maupun Rencana
MP3EI). Sebagai contoh, jika melihat evaluasi PDRB, maka potensi wilayah kota Surabaya adalah:
Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restaurant
Sektor Industri Pengolahan
Sektor Angkutan dan Komunikasi

Selain itu, berdasarkan Rencana MP3EI, wilayah Jawa (termasuk Surabaya) memiliki potensi yang
besar untuk melakukan pengembangan di sektor telematika. Dengan dasar acuan ini, maka evaluasi
pemetaan sisi pasokan akan dipentingkan kepada keempat sektor unggulan wilayah kota Surabaya
tersebut

Tahap 2: Pemetaan Instansi Pendidikan di Wilayah Objek Amatan


Setelah penetapan sektor unggulan, maka proses berikutnya adalah memetakan instansi pendidikan
yang memiliki program-program yang dapat mendukung pengembangan sektor unggulan. InstansiInstansi Penyelenggara Program Pendidikan tersebut akan dibagi kedalam 5 kategori besar, antara
lain: Perguruan Tinggi, SMK, Pendidikan Vocational, Pendidikan Non-Formal, dan Lembaga Kursus.
Berikut contoh penetapan program-program yang dapat mendukung pengembangan sektor
unggulan.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 25

Gambar 3.3 Penetapan Kompetensi Pendukung Sektor-Sektor Unggulan Wilayah Kota Surabaya

Setelah dipetakan, maka tahapan berikutnya adalah sosialisasi kegiatan kepada instansi-instansi
penyelenggara pendidikan. Pada tahapan ini akan disampaikan mengenai tujuan kegiatan,
metodologi, perangkat, dan teknis pelaksanaan. Pihak instansi pendidikan diharapkan dapat
memberikan data informasi lulusan selama 3 tahun terakhir sebagai basis acuan pelaksanaan tracer
study. Data tersebut berisi kualitas dan kuantitas lulusan serta data ID dan kontak terakhir lulusan.

Tahap 3: Persiapan Tracer Study


Tahapan ini merupakan tahap mempersiapkan mekanisme Tracer Study. Persiapan dimulai dari
penyiapan quisioner. Quisioner Tracer Study tersebut diharapkan dapat menangkap pergerakan
lulusan yang berwirausaha, bekerja, studi lanjut, atau masih menganggur. Bagi mereka yang bekerja,
informasi terkait dengan indikator-indikator pekerjaan pertama dan pergerakan pekerjaan
merupakan faktor yang menarik untuk dianalisis. Selain itu, informasi yang relavan dengan
wirausaha, studi lanjut, dan alasan belum mendapatkan pekerjaan adalah hal yang harus
terakomodir dalam penyusunan kuisioner.
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 26

Tahapan penting berikutnya adalah mobilisasi sumber daya dan manajemen proyek. Pelaksanaan
survey sebaiknya melibatkan institusi lokal untuk mendapatkan dukungan dan membawa manfaat
untuk lokal institusi. Tim Survey bekerja berdasarkan arahan dan petunjuk dari tim manajemen
proyek pemetaan sisi pasokan. Hasil pekerjaan Tim survey kemudian diperikasa oleh tim Validasi dan
QC. Hasil survey yang valid kemudian diolah oleh tim manajemen pemetaan dan dianalisis untuk
menjadi bahan laporan pemetaan pasokan di wilayah kota tersebut.

Gambar 3.4 Skema Manajemen Proyek Kegiatan Pemetaan Sisi Pasokan

Tahapan penting berikutnya adalah penyiapan media survey dan rencana sampling. Beberapa media
survey yang bisa dipergunakan antara lain: Telepon, E-mail, dan Online Survey. Rencana sampling
akan dibuat dengan memperhatikan Peta Populasi yang diperoleh dari data lulusan yang diberikan
oleh Instansi-Instansi pendidikan yang relevan dari hasil kegiatan sosialisasi di Tahap 2.

Tahap 4: Pelaksanaan Tracer Study


Pelaksanaan Tracer Study dilaksanakan sesuai dengan rencana sampling dan target waktu
penyelesaian. Kualitas data lulusan dan kemampuan surveyor untuk mengarahkan proses survey
menjadi 2 hal penting untuk mendapatkan kualitas data yang baik.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 27

Tahap 5: Analisis Hasil Tracer Study


Tracer Study dijalankan untuk memotret beberapa informasi indikator penting terkait dengan
lulusan. Komparasi akan dilakukan antar unit analisis, yaitu strata pendidikan, tahun lulusan,
ataupun asal institusi. Berikut beberapa indikator penting yang hendak dianalisis dan dipetakan,
antara lain:
[1] Kualitas Lulusan: Gaji Pertama, sertifikasi profesi yang dimiliki, persentase yang
berwirausaha/bekerja/belum bekerja, persentase lulusan yang melakukan studi lanjut,
Kesesuaian bidang pekerjaan dengan kompetensi pendidikan.
[2] Lama Waktu tunggu
[3] Sebaran Lokasi Pekerjaan pertama, apakah di Kota Surabaya, Luar kota Surabaya Dalam
Propinsi, Luar Kota Surabaya Luar Propinsi, dan Luar Negeri
[4] Indikator penting lainnya: Motivasi berwirausaha, motivasi studi lanjut, jumlah pindah
pekerjaan, perbandingan gaji pertama dan gaji saat ini, dsb.

Tahap 6: Pengukuran Alignment Index


Selain Analisis Hasil Tracer Study, bagian penting lainnya adalah pengukuran indeks keselarasan
(alignment index). Secara konsep, ukuran ini merupakan Alignment Index (Index Keselarasan) adalah
salah satu ukuran untuk melihat tingkat penyerapan dunia usaha/dunia industri terhadap lulusan
(output) perguruan tinggi. Secara umum, perhitungan Alignment Index (AI) dilakukan dengan
menggunakan rumus berikut :

AI pada kajian dihitung berdasarkan tiga level kinerja keselarasan yaitu kompetensi kerja, lokasi
tempat kerja. Oleh karena itu, rumus di atas dapat dikembangkan menjadi rumus berikut:

dimana:
= AI yang diukur pada tahun ke - i sejak kelulusan ke - t untuk bidang keahlian j pada level
pengukuran kinerja keselasaran k
= Lulusan yang lulus pada tahun t yang bekerja pada tahun ke-1 dengen level pengukuran
kinerja keselarasan sesuai
= Lulusan yang lulus pada tahun ke t dan menjadi angakatan kerja tahun ke-1
i

= triwulan ke-i sejak kelulusan (i=1,2,3,...)

= bidang keahlian

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 28

= level lokasi pengukuran AI (k=1,2,3,...)

= program keahlian yang ada dI bidang keahlian-j

= jumlah program keahlian pada bidang keahlian-j

= periode mulai bekerja sesuai level-i (p=1,2,3,...)

= kompetensi sesuai atau tidak ( c = 1 atau 0)

= lokasi tempat kerja sesuai dengan level-k (l=1,2,3)

Untuk mempermudah proses analisis, perhitungan Indeks Keselarasan / Alignment Index (AI) dapat
lakukan dengan langkah sebagai berikut:
Perhitungan AI untuk level bidang keahlian (kompetensi) tertentu untuk tahun 2009, 2010,
dan 2011.
Perhitungan AI untuk level lokasi tempat kerja untuk tahun 2009, 2010, dan 2011.
Perhitungan AI untuk level waktu tunggu kerja untuk tahun 2009, 2010, dan 2011.

Nilai berada pada rentang 0 AI 1. Nilai AI dikatakan semakin baik apabila nilainya semakin
mendekati 1. Nilai AI yang mendekati 1 menunjukkan bahwa level kinerja keselarasan yang tinggi
sehingga menunjukkan tingginya kesesuaian penyerapan lulusan pada dunia kerja.

3.2. Pemilihan Sektor dan Sub Sektor yang Paling Banyak Menyumbangkan
PDRB di Kota Surabaya
Obyek pemetaan permintaan ini adalah empat sektor industri di Kota Surabaya yang mempunyai
kontribusi signifikan terhadap PDRB Kota Surabaya dan pertimbangan signifikansi penyerapan
tenaga kerja serta merupakan industri yang sejalan dengan MP3EI, seperti yang ditunjukkan pada
diagram di bawah.

Sektor-sektor tersebut adalah: (1) Perdagangan; (2) Pariwisata, hotel dan

restoran; (3) Industri pengolahan; (4) Keuangan, transportasi dan telekomunikasi serta (5)
Periklanan, percetakan dan media.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 29

Kontribusi Sektoral PDRB Kota


SurabayaTriwulan III-2010

KEUANGAN,
PERSEWAAN &
JASA
PERUSAHAAN
6%
PENGANGKUTA
N & KOMUNIKASI
9%

JASA JASA PERTANIAN


0%
7%

PERDAGANGAN,
HOTEL &
RESTORAN
39%

PERTAMBANGA
N&
PENGGALIAN
0%
INDUSTRI
PENGOLAHAN
29%

LISTRIK, GAS &


AIR BERSIH
4%
KONSTRUKSI
6%

Gambar 3.5. Kontribusi sektoral PDRB Kota Surabaya Triwulan III Tahun 2010

Produktivitas Sektoral TRIW III-2010

112,07

Keuangan, Asuransi dan Usaha Persewaaan

Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan dan


Hotel

Industri Pengolahan

32,98

39,49

60,51

Gambar 3.6 Produktivitas Sektoral Triwulan III Tahun 2010

Hal ini menunjukkan bahwa dinamika pertumbuhan di Kota Surabaya merupakan akibat dari
pengaruh perkembangan faktor-faktor internal maupun eksternal, yang masing-masing akan saling
terkait. Kota sebagai pusat pertumbuhan mempunyai peran dalam mendorong pertumbuhan
kawasan yang ada di sekitarnya termasuk juga menarik tenaga kerja dari luar kota.

Untuk itu, diperlukan sinergi antara dunia pendidikan dengan pemerintah daerah serta dunia usaha
dan industri, untuk sama-sama membangun ekonomi daerah yang berbasis pada sumber daya lokal
dan tenaga kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara: Pertama, diperlukan
pengembangan dan diversifikasi program studi sesuai dengan potensi lokal. Kedua, diperlukan
sinergi antara dunia pendidikan dengan pemerintah daerah serta dunia usaha dan industri, untuk
sama-sama membangun ekonomi daerah yang berbasis pada sumber daya lokal dan tenaga kerja

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 30

berpengetahuan

(knowledge

worker)

yang

dihasilkan

dunia

pendidikan.

Dan

Ketiga,

mengintegrasikan pengembangan pendidikan kejuruan dengan pengembangan tata kota, dengan


mengutamakan: (1) Pengembangan sektor ekonomi wilayah kota; (2) Peningkatan kebutuhan
kualitas dan standarisasi tenaga Kerja (Workforce Development); (3) Kerja sama pengembangan
karier (Career Development Partnerships); (4) Sumberdaya yang tersedia online (Online Resources).

3.3. Pemilihan Sampel Industri


Pemilihan sampel industry pada pemetaan permintaan ini adalah empat sektor industri Kota
Surabaya yang berkntribusi langsung dan merupakan industri yang sejalan dengan MP3EI. Serta
memiliki kriteria, masuk dalam kategori sektor prospek masa akan datang, memiliki jangkauan
industri dalam melayani cutomer/masyarakat baik dari sisi cakupan wilayah dan kapasitas, serta
penyerapan jumlah tenaga kerja. Melalui pendataan yang telah dilakukan dipilih sampel industri
secara proporsional. Penetapan sampel dapat digambarkan dalam tabel berikut :
Tabel 3.2. Sampel Pemetaan Sisi Permintaan

Jumlah
Sektor / Sub Sektor

Industri
Besar

Jumlah
Industri

Jumlah

Kecil

Total

Proporsi

Menengah

Jumlah

Jumlah

Industri

Industri

Sampel

Besar

Jumlah
Industri
Kecil
Menengah

Perdagangan
Perdagangan
Besar

0%

Retail

76

79

155

12%

21

10

11

Restaurant

31

150

181

14%

25

20

Hotel

53

95

148

11%

20

13

20

97

117

9%

16

13

Kimia

14

13

27

2%

Aneka Industri

233

163

396

30%

54

32

22

11

18

1%

31

70

101

8%

14

10

Tourism dan

Iklan Percetakan
dan Media

Pengolahan
Industri dasar

Consumer goods
Makanan
Minuman

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 31

Transportasi dan
Telkom
Transportasi

26

10

36

3%

Telekomunikasi

13

17

30

2%

Perbankan

35

33

68

5%

Asuransi

35

10

45

3%

Jumlah Total Industri

576

748

1324

180

78

102

318

382

1324

Kuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan

Pada penelitian ini skala industri digolongkan berdasarkan jumlah tenaga kerja. Klasifikasi skala
industri didasarkan pada UU no 7 tahun 1981 mengenai wajib lapor terkait ketenagakerjaan.
Secara detail klasifikasi skala industri sebagai berikut:
a. Industri dengan tenaga kerja < 25 orang masuk skala industri kecil
b. Industri dengan tenaga kerja antara 25 sampai 100 orang masuk skala industri
menengah/sedang
c. Industri dengan tenaga kerja lebih dari 100 masuk skala industri besar
d. Khusus Sektor Keuangan klasifikasi industri didasarkan pada besar kecilnya asset
perusahaan

3.4. Pemetaan Sektor Pasokan


Pemilihan sampel lembaga pendidikan dan pelatihan di tiap level dan sesuai dengan sektor dan sub
sektor yang telah dipetakan sebagai berikut :

1. Pemilihan sampel lembaga pendidikan dan pelatihan di tiap level dan sesuai dengan
sektor dan sub sektor yang dipetakan

Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri dan pendidikan di Indonesia Timur. Hal ini
didukung oleh faktor lokasi yang strategis dan fasilitas yang memadai. Selain itu, keberadaan sektor
primer, sekunder, dan tersier yang ada di kota ini memperkuat Surabaya sebagai kota perdagangan
dan ekonomi. Penduduk Surabaya sebagian besar berada dalam kelompok usia produktif (15-64
tahun), sehingga Surabaya memiliki potensi tenaga kerja yang cukup besar dan cenderung
meningkat setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari data BPS Surabaya yang menunjukkan bahwa
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 32

antara tahun 2009 dan 2010 terdapat kenaikan jumlah angkata kerja kurang lebih 1,2% sehingga
menjadi berjumlah 1.337.000 orang. Tenaga kerja tersebut dipasok oleh berbagai institusi
pendidikan dan pelatihan di kota Surabaya, yaitu sebagai berikut:
73 Perguruan Tinggi (PT) dan Sekolah Vokasional (politeknik) negeri dan swasta
74 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri dan swasta
580 Lembaga Kursus dan Pelatihan(LKP)
4 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Untuk itu, baik untuk pasokan (lulusan) Perguruan tinggi, sekolah vokasional, SMK, LKP, dan PKBM
akan dipetakan berdasarkan kompetensi yang mendukung ketiga sektor unggulan kota Surabaya.
Namun, dengan adanya perbedaan karakteristik masing-masing institusi pendidikan dan pelatihan
ini maka terdapat sedikit perbedaan pendekatan antara pasokan dari perguruan tinggi dan sekolah
vokasional dengan SMK, LKP dan PKBM.

Untuk

pemetaan pasokan institusi pendidikan dan pelatihan SMK, LKP dan PKBM dilakukan

berdasarkan dua hal yaitu pola pengelompokan bidang yang diterapkan secara nasional, dan potensi
unggulan kelompok bidang kompetensi, sehingga dikelompokan ke dalam empat kompetensi (Tabel
1) yaitu: Bisnis dan Manajemen (4 sub-kompetensi keahlian), Teknologi dan Rekayasa (14 subkompetensi keahlian), Teknologi Informasi dan Komunikasi (6 sub-kompetensi keahlian), dan Seni,
Kerajinan, dan Pariwisata (9 sub-kompetensi keahlian).

Tabel 3.3 Kompetensi dan Sub Kompetensi SMK, LKP, dan PKBM

No
1

Kompetensi
Teknologi dan Rekayasa

Sub-Kompetensi
1. Teknik Konstruksi kayu
2. Teknik Gambar Bangunan
3. Teknik Instalasi Tenaga Listrik
4. Teknik Permesinan
5. Teknik Kendaraan Ringan
6. Teknik Kontruksi Batu Dan Beton
7. Teknik Pendinginan dan Tata Udara
8. Teknik Ototronik
9. Teknik Elektronika Industri
10. Desain dan Produksi Kria Tekstil
11. Desain dan Produksi Kria Kulit

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 33

No

Kompetensi

Sub-Kompetensi
12. Desain dan Produksi Kria Logam
13. Desain dan Produksi Kria Kayu
14. Desain Produksi Interior dan Landscaping

Teknologi

Informasi

dan

Komunikasi

1. Teknik Audio Video


2. Rekayasa Perangkat Lunak
3. Teknik Komputer dan Jaringan
4. Animasi
5. Multimedia
6. Desain Komunikasi Visual

Seni, Kerajinan, dan Pariwisata

1. Seni Musik Klasik


2. Seni Tari
3. Seni Karawitan
4. Seni Padalangan
5. Seni Teater
6. Seni Lukis
7. Usaha Perjalanan Wisata
8. Perhotelan
9. Pariwisata

Bisnis dan Manajemen

1. Administrasi Perkantoran
2. Akuntansi
3. Pemasaran
4. Perbankan

Sedangkan untuk pemetaan pasokan institusi pendidikan dan pelatihan dari Perguruan Tinggi dan
Sekolah Vokasional dilakukan berdasarkan empat kompentensi (Tabel 2), yaitu: 1) Kompetensi
Manajemen Bisnis dan Jasa, 2) Kompetensi Teknik dan Rekayasa, 3) Kompetensi Teknologi Informasi
(ICT), dan 4) Kompetensi Pendukung Lainnya (tercakup didalamnya, MIPA, Pendidikan dan Jurusan
Sosial).
Tabel 3.4 Kompetensi dan Sub Kompetensi Perguruan Tinggi dan Sekolah Vokasional

No
1

Kompetensi
Teknik dan Rekayasa

Sub-Kompetensi
Teknik

(Sipil,

Metalurgi,
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Mesin,
dsb);

Kimia,
Arsitektur;

Fisika,

Industri,

Bioteknologi;
Halaman 34

Agroteknologi; Teknologi Pangan


2

Bisnis, Manajemen dan Jasa

Manajemen; Bisnis; Akutansi; Psikologi; Hukum;


Statistika, Kedokteran (umum, hewan, dan gigi);
Kesehatan (Kesehatan Masyarakat, Perawatan);
Farmasi

ICT (Teknologi Informasi)

Teknik

Informatika;

Teknik

Komputer;

Sistem

Informasi
4

Sektor Lainnya

MIPA (Matematika; Kimia; Fisika; Biologi; Ilmu


Sosial; Ilmu Politik; Sastra; Pendidikan; dan lain-lain

Institusi pendidikan dan pelatihan yang terlibat dalam kajian pemetaan ini sebagian besar
merupakan institusi-institusi yang hadir dalam acara sosialisasi kegiatan Penyelarasan Pendidikan
dan Dunia Kerja di Hotel Novotel bulan November 2011 dan kemudian bersedia menjadi responden.
Berikut institusi tersebut, yaitu:
13 institusi Perguruan tinggi dan sekolah vokasional (swasta dan negeri) : Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya; Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS);
Universitas 17 Agustus; Universitas PGRI Adi Buana; UPN Veteran; STIESIA; STIE Perbanas;
Universitas '45; Universitas Hang Tuah; Universitas Bhayangkara; ITATS; STIKOM; dan
Universitas Wijaya Kusuma (UWK)
12 institusi SMK (swasta dan negeri): SMKN 2, SMKN 4, SMKN 7, SMKN 9, SMKN 10, SMKN
11, SMK Barunawati, SMK Metrika, SMK Katolik St. Louis, SMK Mahardhika, SMK Kristen
Petra, dan SMK Prapanca
6 institusi LKP: LKP Institut Pembangunan, LKP LP3I, LKP NSC, LKP Arva, LKP Yasco Training
Center, dan LKP Prisma Profesional
1 institusi PKBM: PKBM Kusuma Wijaya

Selain itu, kesepakatan pada saat kegiatan sosialisasi yaitu pemetaan pasokan difokuskan untuk
lulusan institusi pendidikan dan pelatihan tahun 2009, 2010 dan 2011. Pemetaan dilaksanakan
dengan pendekatan metode sampling dan kemudian dilanjutkan dengan tracer study pada sampel
(lulusan institusi) yang yang dilakukan melalui tiga mekanisme yaitu: email, telepon dan pengisian
kuesioner online. Sebelum tracer study dilaksanakan, terlebih dahulu jumlah total lulusan tahun
2009 sampai 2011 dari seluruh institusi yang menjadi responden diidentifikasikan berdasarkan
informasi dari masing-masing lembaga (data sekunder).

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 35

Penentuan sampel untuk responden tracer study awalnya direncanakan untuk dilakukan secara
stratified sampling dengan didasarkan pada beberapa faktor pertimbangan seperti:

proporsi

institusi Negeri dan Swasta, proporsi sebaran geografis (tingkat kecamatan), proporsi bidang
kompetensi, dan status akreditasi. Namun, dalam pelaksanaannya, ternyata pencapaian target
responden secara proporsional pada setiap faktor pertimbangan sangat sulit dipenuhi karena
ketidaktersediaan data lulusan yang lengkap dan terkini (e.q. nomor kontak/alamat sudah berubah).
Dengan kondisi data yang tidak lengkap tersebut maka pemilihan responden tracer study tidak dapat
dilakukan secara stratified namun secara random sampling. Adapun tabel 3 berikut menunjukkan
jumlah sampel lulusan per institusi pendidikan dan pelatihan yang menjadi responden tracer study.

Tabel 3.5 Jumlah Responden Tracer Study

No

Jenis institusi pendidikan dan pelatihan

Jumlah responden
(orang)

Perguruan Tinggi dan sekolah vokasional

1643

Sekolah Menengah Kejurusan (SMK)

994

Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP)

443

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)


Total

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

9
3089

Halaman 36

BAB 4 PEMETAAN TERINTEGRASI


Isi bab ini maupun laporan lengkap dapat diperoleh di Sekretariat Program Penyelarasan
Pendidikan dengan Dunia Kerja dengan alamat sebagai berikut.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
(PAUDNI)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
U.P. Bapak Purwanto Hanif, M.Si
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lantai 6
Jalan Jenderal Sudirman Senayan Jakarta
www.penyelarasan.kemdiknas.go.id
sekretariat_ppdk@yahoo.com
penyelarasanpendidikan@gmail.com

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 37

BAB 5 INTEGRASI PEMETAAN SISI


PASOKAN DAN PERMINTAAN
Isi bab ini maupun laporan lengkap dapat diperoleh di Sekretariat Program Penyelarasan
Pendidikan dengan Dunia Kerja dengan alamat sebagai berikut.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
(PAUDNI)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
U.P. Bapak Purwanto Hanif, M.Si
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lantai 6
Jalan Jenderal Sudirman Senayan Jakarta
www.penyelarasan.kemdiknas.go.id
sekretariat_ppdk@yahoo.com
penyelarasanpendidikan@gmail.com

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 38

BAB 6 ANALISIS INTEGRASI


Isi bab ini maupun laporan lengkap dapat diperoleh di Sekretariat Program Penyelarasan
Pendidikan dengan Dunia Kerja dengan alamat sebagai berikut.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan


Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
(PAUDNI)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
U.P. Bapak Purwanto Hanif, M.Si
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lantai 6
Jalan Jenderal Sudirman Senayan Jakarta
www.penyelarasan.kemdiknas.go.id
sekretariat_ppdk@yahoo.com
penyelarasanpendidikan@gmail.com

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 39

BAB 7 KESIMPULAN DAN


REKOMENDASI
7.1.

Hasil Kajian dan Analisis Pemetaan Permintaan dan Pasokan Kota

Surabaya
Koridor Ekonomi Jawa dan khususnya kota surabaya berdasar Master Plan P3EI, dimana
memiliki potensi yang cukup baik adalah industri dan jasa (termasuk perdagangan). Oleh karenanya
kota Surabaya didorong untuk meningkatkan kinerjanya di koridor ekonomi tersebut. Dan
diharapkan selanjutnya akan dapat membantu perkembangan ekonomi secara Nasional. Selain itu,
strategi khusus dalam mengembangkan industri yang mendukung pelestarian daya dukung air dan
lingkungan. Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, kota Surabaya cukup berhasil menjadikan
bagian dari pusat perdagangan, industri dan jasa yang sangat potensial. Dan kota Surabaya dan Jawa
Tmur menjadi bagian wilayah Indonesia yang dapat menopang dan menggerakkan pengembangan
wilayah Indonesia Timur. Di beberapa tahun terakhir, sektor yang berpotensi berdasar pertumbuhan
pada komposisi PDRB Wilayah Kota Surabaya antara lain adalah:
-

Sektor Perdagangan dan Jasa: meliputi Sub Sektor perdagangan besar dan retail, turism, hotel,
restaurant, percetakan dan media.

Sektor Transportasi, Telekomunikasi dan Perbankan.

Sektor Pengolahan: meliputi Sub Sektor industri dasar dan kimia, consumer goods dan aneka
industri (industri manufaktur)

Sedangkan dari sisi pemasok yaitu dari dunia pendidikan, jika didasarkan pada 3 sektor utama
penunjang PDRB tersebut, maka lulusan dikelompokkan menjadi 4 kelas kompetensi, yaitu:
1) Kompetensi Bisnis dan Manajemen (MB);
2) Kompetensi Teknik dan Rekayasa (TR);
3) Kompetensi Information & Communication Technology (ICT);
4) Kompetensi Pendukung Lainnya.

Terkait dengan hal tersebut, pemerintah kota Surabaya telah memiliki program penting
dalam kaitan pengembangan dan pertumbuhan ekonomi antara lain didorong untuk dapat
meningkatkan akselerasi pertumbuhan arus perdagangan barang dan jasa dalam skala regional
maupun internasional serta memadukan wilayah Greater Surabaya dalam suatu sistem tata ruang
Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 40

yang terintegrasi didukung infrastruktur, sistem transportasi dan sistem yang memadai, Serta
melihat potensi daerah Surabaya. Kemudian juga menjaga dan meningkatkan iklim yang kondusif
bagi pengembangan usaha mikro / kecil- menengah-besar, investasi serta menciptakan keterpaduan
/ interaksi antara skala usaha dan investasi tersebut. Sedangkan untuk menjaga kualitas terkait sisi
pasokan tenaga kerja, yang merupakan hasil dari dunia pendidikan, pemerintah kota Surabaya telah
memiliki progam kerja untuk meningkatan standard minimal pendidikan. Indikator persentase angka
dan kompetensi kelulusan serta prosentase terserap di dunia kerja dan usaha peningkatan
kompetensi tenaga pendidik serta tersedianya sarana prasarana yang memadai, menjadi bagian sub
program kota Surabaya yang menjadi perhatian.

Dari hasil kajian pemetaan dari sisi pasokan dan sisi permintaan terlihat masih ada gap yang perlu
untuk dipikirkan jalan keluarnya khususnya pada sinkrunisasi pada bidang atau sektor yang potensial
yang menuntut keahlian khusus. Sehingga dibeberapa serapan tenaga kerja tertentu belum dapat
berjalan sesuai kompetensi dan kebutuhan yang diinginkan sisi permintaan. Seperti diketahui bahwa
kebijakan kota Surabaya tersebut tertuju pada pengembangan bidang jasa, perdagangan dan
industri, pada kenyataannya belum menjadi acuan pembangunan pendidikan di beberapa tingkat
pendidikan di Surabaya, termasuk belum menjadi acuan masyarakat saat memilih bidang
kompetensi di satuan-satuan pendidikan tersebut.

Meskipun rata-rata indeks penyelarasan pendidikan menengah secara umum cukup baik (SMK
sebesar 0,83, LKP di atas SMK, yaitu sebesar 0,8576, PKBM adalah sebesar 0,8889) tetapi jika
dikaitkan dengan kompetensi tidak secara langsung menunjukkan keselarasan antara kebijakan
umum pemerintah kota Surabaya dengan sistem program pendidikan. Kedepan diharapkan indikator
tidak hanya dilihat dari daya serap tenaga kerja (kebutuhan), tetapi juga memperhatikan aspek
kompetensi tenaga kerja, dan hal ini, kedepan dapat direalisasikan dalam sistem di beberapa
jenjang pendidikan. Kemudian pada tingkat keselarasan lulusan pendidikan Vokasional dan
Perguruan Tinggi juga pada tataran relatif cukup baik meskipun tidak tinggi di tingkat pendidikan
menengah yaitu antara 55.25% sampai dengan 61.56%. Dan hal ini menunjukkan tingkat keselarasan
sisi pemasok masih perlu untuk menjadi perhatian dan harus dipikirkan jalan keluarnya, agar nilai AI
dapat lebih dapat ditingkatkan lagi. Perbandingan AI di empat bidang kompetensi menginformasikan
bahwa kompetensi Manajemen Bisnis selalu menjadi bidang kompetensi yang paling selaras baik di
perguruan tinggi mapupun sekolah vokasional. Sebaliknya, bidang ICT memiliki tingkat keselarasan
lulusan terrendah baik lulusan perguruan tinggi maupun vokasional. Lapangan pekerjaan ICT di
industri atau di bidang usaha yang relatif lebih sedikit di perusahaan bila dibandingkan dengan

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 41

bidang MB ataupun TR dan memaksa lulusan ICT harus mampu bersaing dan cenderung mengambil
pekerjaan di bidang lain. Terkait fenomena ini yang perlu didorong adalah aspek kewirausahaan
menjadi hal yang penting, dengan tentunya sejalan dengan fokus pengembangan di sektor usaha
potensial kota Surabaya.

Perbandingan AI di empat bidang kompetensi menunjukkan kompetensi Manajemen Bisnis selalu


menjadi bidang kompetensi yang paling selaras baik di perguruan tinggi mapupun sekolah
vokasional. Hal ini diperkirakan karena sektor potensial di kota Surabaya, berada pada sektor
perdangan dan jasa serta industri, dimana keilmuan masih sangat dibutuhkan pada sektor usaha
tersebut. Sebagian besar lulusan sekitar 61% memiliki kompetensi Manajemen Bisnis dan Jasa,
sedangkan kompetensi Teknik dan Rekayasa sebesar sekitar 21%, diikuti oleh ICT sebesar 12% dan
yang paling sedikit adalah kompetensi pendukung lainnya yaitu sebesar 6%. Khusus pada nilai AI
yang tinggi, hal ini inline sektor pekerjaannya, lulusan sebagian besar juga bekerja di bidang Jasa dan
Perdagangan (67%).

Kesemuanya ini masih relatif singkrun dengan kondisi perkembangan PDRB kota Surabaya yang
memang cukup besar perkembangan di sektor jasa dan perdagangan dan diikuti sektor industri
pengolahan. Meskipun ada bidang pendidikan yang masih dapat ditingkatkan lagi terkait dengan
bidang yang mendukung sektor potensi tersebut.

Sedangkan jika dilihat dari sisi permintaan pada sektor usaha, berdasarkan kajian ini terdapat
fenomena / permasalah penting yang harus dicari jalan keluarnya terkait keselarasan antara dunia
pendidikan dan dunia usaha. Jika dilihat dari berdasarkan skala industri, bahwa industri besar
memiliki Fulfillment Index (FI) yang lebih besar dibanding industri kecil menegah, namun nilai ini
masih dapat dikatakan cukup baik karena di atas nilai 0,5. Nilai FI paling besar pada kategori
industri kecil adalah ada pada departemen umum meliputi departemen administrasi,
akuntansi/keuangan, general affair, sedangkan nilai yang paling rendah ada pada departemen
marketing. Sedangkan jika dilihat dari bidang pekerjaan berdasarkan kebutuhan kompetensi
depertemen, pada bidang pekerjaan keuangan, laboratorium, dan R&D), Fulfillment Index (FI)
cenderung lebih tinggi dibanding departement yang lebih menunut keahlian bersifat khusus seperti
bagian warehouse, produksi, quality control dan bagian yang bersentuhan langsung dengan
konsumen. Hal ini cukup jelas diperlihatkan pada data kecakapan khusus pada industri tertentu,
seperti Makanan dan Minuman (Consumer good) kecakapan teknologi proses, proses produksi dan
quality kontrol meminta tuntutan tinggi. Hal ini terkait dengan regulasi sektor tersebut yang

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 42

menuntut perusahaan harus memperhatikan dan menjaga kualitas hasil produksinya, yang masih
belum dapat terpenuhi dengan ditunjukkan kesesuaian kompetensi dengan bidang pekerjaan yang
masih rendah. Berbeda dengan industri pengolahan yang hasil produksinya tidak terlalu berkaitan
dengan keselamatan konsumen, kesesuaian kompetensi masih belum menjadi perhatian dan
prioritas. Dan umumnya industri pengoahan kebanyakan memiliki program pelatihan untuk
meningkakan kompetensi terkait bidang pekerjaannya bagi karyawan atau sumber daya
manusiannya.

Secara umum sekali lagi bahwa jumlah tenaga kerja yang telah memiliki latar belakang pendidikan
(bidang kompentesi) yang sesuai lebih banyak dibandingkan dengan yang belum sesuai dan tidak
sesuai. Perbandingan tenaga kerja yang sesuai, kurang sesuai dan tidak sesuai antara latar belakang
pendidikan dengan pekerjaan adalah 13 : 5 : 1 Jika lebih di cermati lagi bahwa distribusi tingkat
pendidikan akan sangat bergantung pada posisi jabatan dalam industri. Semakin tinggi posisi yang
ditawarkan semakin tinggi pula kualifikasi yang dituntut dari tingkat pendidikan

Kemudian secara umum 89-94% pekerja di perusahaan-perusahaan di Surabaya berasal dari dalam
kota Surabaya, 3-10% berasal dari luar wilayah namun masih dalam propinsi, sedang sisanya (1-3%)
berasal dari luar propinsi. Hal tersebut menunjukkan bagi tenaga kerja lokal masing menjadikan
industri di kota Surabaya prioritas utama sebelum ke wilayah lain dalam mencari lapangan
pekerjaan. Kemungkinan ini juga karena pertumbuhan sektor industri, jasa dan perdagangan masih
tumbuh dan akan tumbuh di masa akan datang. Kemudian tingkat pemenuhan kebutuhan rata-rata
tenaga kerja di kota Surabaya dan sekitarnya tahun 2011, berdasarkan dimensi kuantitas, kualitas,
lokasi dan waktu untuk industri, jasa dan perdagangan relatif cukup besar yaitu diatas 60%. Dan ini
merupakan peluang yang harus ditangkap dengan baik terkait penyediaan tenaga kerja yang sesuai
dengan bidang agar kualitas pekerjaan dan performasi perusahaan dan usaha dapat lebih baik.
Sekaligus hal ini menunjukkan ada sektor potensial yang masih belum dapat terpenuhi karena
kompetensi pekerja atau kekurangan tenaga kerja pada level tertentu. Seperti pada sektor jasa
perhotelan di Surabaya ternyata kekurangan tenaga kerja untuk level manager akibat pertumbuhan
hotel berbintang yang tidak diikuti dengan penambahan ketersediaan sumber daya manusia,
meskipun jika dicermati lagi level dibawahnya juga masih cukup banyak yang belum terpenuhi.
Seperti posisi operator merupakan posisi yang juga paling besar dengan kesempatan yang sangat
terbuka. Apalagi jika melihat prosesntase kesempetan pekerjaan berdarkan tuntutan level
pendidikan. Level pendidikan menengah masih menempati posisi yag cukup besar jika dilihat
serapan dunia usaha dan industri.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 43

Agar terjadi keselarasan yang optimal antara sisi pasokan dan permintaan yaitu dilihat dari sisi
kesesuan bidang pendidikan terhadap bidang pekerjaan di industri dan lapangan pekerjaan, serta
kesesuaian kompetensi tenaga kerja di industri maka perlu adanya
a. Kesesuaian kebijakan ketenaga kerjaan dari pemerintah terhadap kondisi riel sisi pasokan dan
permintaan.
b. Instrumen pengawasan secara periodik pada Dinas-dinas Tenaga Kerja agar dapat melihat
pergerakan dan perubahan kebutuhan sektor usaha.
c. Penguatan sinkronisasi antar Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) di tingkat pemerintah
kota, dalam rangka mendukung kesalarasan sisi pasokan dan permintaan
d. Kebijakan pemerintah daerah yang dapat mendorong keselarasan dunua kerja dan dunia
pendidikan, khususnya keterbukaan industri dalam menjalin kerjasama dengan dunia
pendidikan.
e. Dorongan terhadap industri dan bidang usaha untuk selalu bekerja sesuai standard nasional
dalam bidang manajemen dan produksi, agar segala aktifitas, kompetensi dan infromasi penting
lainnya termasuk terkait ketenaga kerjaan selalu dapat tercatat dengan baik

7.2. Metodologi dan Metode Kajian


Program pemetaan sisi permintaan dan sisi pasokan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif
untuk pengumpulan data. Untuk metode kuantitatif akan digunakan teknik survei kepada pihak
industri sedangkan untuk teknik kualitatif akan dilakukan dengan sistem dokumentasi dan diskusi
kepada beberapa orang yang bertanggungjawab terkait institusi bisnis dan industri. Tahapan
metodelogi kajian seperti telah diuraikan bab metodologi, dapat disimpulkan sebagai beikut :

Identifikasi populasi

Telah mencoba kondisi riel di lapangan berdasarkan data-data yang dapat dipertanggung jawabkan
dalam menetapkan dan mengindentidikasi populasi industri. Populasi yang ditetapkan untuk
mengukur besaran kuantitas permintaan tenaga kerja adalah seluruh dunia usaha / industri di Kota
Surabaya. Sedang Elemen dari populasi yang akan secara khusus dipelajari adalah Sektor Industri
yang berkaitan dengan Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3Ei) 2011-2025 dimana Koridor Jawa di tekankan tema pengembangan sebagai Pendorong
Industri dan Jasa Nasional dan PDRB Jawa Timur. Untuk itu di pilih 4 sektor utama yaitu :
b.

Perdagangandan , Hotel, Restorant

c.

Industri Pengolahann

d.

Transportasi dan Telekomunikasi

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 44

e.

Jasa Keuangan

Sedangkan sisi Pasokan identifikasi populasi ditetapkan berdasarkan sektor unggulan melalui
program MP3EI dan profil PDRB, Renstra dan lainnya, kemudian ditetapkan yang akan mendukung 4
sektor tersebut dengan 4 kelas kompetensi, yaitu:
1)

Kompetensi Bisnis dan Manajemen (MB);

2)

Kompetensi Teknik dan Rekayasa (TR);

3)

Kompetensi Information & Communication Technology (ICT);

4)

Kompetensi Pendukung Lainnya.

Menetukan proporsi penetapan sample

Perusahaan-perusahaan tersebut mewakili sektor industri prioritas di Surabaya tersebut secara


proporsional yang tersebar dan didistribusi penugasannya kepada Lembaga pendidilan Universitas
Tribhuwana Tunggadewi Malang, Universitas Merdeka Malang, Universitas Negeri Malang,
Universitas Surabaya, Universitas Narotama, Universitas Airlangga, dan Universitas Adhibuana
Surabaya.

Pada sisi pasokan, ukuran sample dan satuan pendidikan (LPK, BLK, SMK, Politeknik, PT) di setiap
kawasan kota Surabaya (Surabaya Pusat, Surabaya Utara, Surabaya Selatan, Surabaya Barat, dan
Surabaya Timur) berdasarkan karakteristik sektor dunia usaha/ industri penyerapan tenaga kerja
kepada bidang satuan pendidikan yang memiliki bidang Teknologi dan Rekayasa, bidang Teknologi
Informasi dan Komunikasi, bidang Bisnis dan Manajemen, bidang Seni, Kerajinan, dan Pariwisata
(bidang lain-lain).

Penetapan Instrumen

Bersamaan dengan pelaksanaan identifikasi populasi dan penetapan sampel

dilakukan pula

penetapan Instrumen pengumpulan data. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan Data
Primer, diperoleh melalui teknik wawancara langsung dengan responden, adalah sebagai berikut :
c.

Focused Group Disscusion (FGD), yang dilakukan diawal pelaksanaan kegiatan sebagai upaya
brain storming sebagi dasar penyusunan instrumen, melalui wawancara terbuka dengan
perwakilan dunia usaha yang bersedia berpartisipasi dalam kegiatan FGD. Data yang digali
mencakup : keadaan umum industri, karakter-karakter sektor-sektor industri, terminologi
teknis tentang SDM dalam industri, tanggapan industri tentang kuantitas, kualitas SDM dan
ketersediaan SDM serta kesediaan industri untuk mendukung kegiatan pemetaan.

d.

Kuesioner dengan melalui wawancara terstruktur dengan perusahaan sampel

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 45

Data yang digali melalui wawancara terstruktur lebih detail dibanding FGD yaitu mencakup : Jumlah
tenaga kerja, Kelompok jenjang tenaga kerja, kualifikasi tenaga kerja, waktu rekrutmen tenaga kerja,
asal teaga kerja dan data profil unit usaha

Demikian juga usaha penggalaian data melalui secondary data yang telah tersedia pada tahapan
awal dan dapat dipergunakan sebagai validati data. Sisi Permintaan variabel dan indikator data yang
harus dapat dikumpulkan dari kuesioner yang dipergunakan dalam pengumpulan data meliputi
detail data terkait

Identitas Industri, Permintaan Tenaga Kerja berdasarkan empat dimensi

(kuantitas, kualitas, lokasi, dan waktu, termasuk sebaran dan proyeksi masing-masing sektor), dan
data Penunjang meliputi presepsi, permasalhan dan kedudukan pasokan sumber daya manusia.
Setalah prototipe kuesioner diperoleh, kuesioner didiskusikan dalam tim untuk memperoleh
perbaikan.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas kuesioner saat digunakan dalam
pengumpulan data. Selain data primer, juga dikumpulkan Data Sekunder yang diperoleh dari
berbagai sumber referensi berbagai lembaga terkait (Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas
Tenaga Kerja, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Asosiasi Pengusaha dan Industri, asosiasi
profesi dan lain-lain). Data Sekunder yang digali meliputi : Statistik Industri, Pertumbuhan ekonomi
dan Pertumbuhan Sektor Ekonomi
Sisi pasokan dalam persiaan tracer study, dilakukan perangkat/indtsrumen survey (quisioner) dan
penyiapam media survey seperti phone, E-mail dan on line survey.

Pengumpulan data

Sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan quota proporsional random


sampling, dan proporsionalnya adalah untuk jenis industri meliputi industri kecil, industri menengah
dan industri besar.

Pengumpulan data dilakukan terhadap responden melalui survey juga secara intesnif upaya
korespondensi melalui telepon untuk memperoleh kesediaan perusahaan. Pada tahap ini surat
rekomendasi dan surat tugas dari Ditjen PAUDNI Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta
Dinas Tenaga Kerja, Alumni, Relasi dan Organisasi Profesi telah diperlukan sebagai pengantar pada
calon responden. Pada beberapa perusahaan follow up yang lebih intensif sering diperlukan secara
formal dan informal seperti mengupayakan bertemu langsung dengan unsur pimpinan perusahaan

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 46

di kantor maupun diluar kantor. Menghadiri kegiatan seminar maupun pertemuan organisasi profesi
yang mewadahi bidang SDM juga dilakukan untuk mempermudah akses pada perusahaan sampel.

Analisis Data

Data yang telah terkumpul di analisa dengan metode analisa sebagai berikut :

Analisis Deskriptif

Analisis Deskriptif

Tabulasi dan Analisis akar masalah

Analisis regresi linier sederhana

Perhitungan Fullfillment Index

Setelah pelaksanaan kajian pemetaan sisi permimintaan, disimpulkan beberapa permasalahan yang
dapat diperbaiki untuk masa akan datang terkait bagian dari metodologi kajian, sepertI :
Informasi dasar tentang industri perlu divalidasi dan menetapkan SATU sumber informasi
industri, sehingga memudahkan penetapan proporsi sample.
Kuesioner sebelum disebarkan perlu untuk diuji coba, hal ini karena beberapa industri sulit
mengisi, tidak selaras dengan sistem data base perusahaan, berbasis individu. Untuk masa
depan dengan pertimbangkan reliabilitas dan validitas.
Perlunya hubungan antar intansi terkait agar setiap agenda acara khususnya FGD lebih dapat
efektif.
Secondary data yang berasal dari kedinasan terkadang kurang valid, tidak up todate dan
miskin data, serta banyak perbedaan data antar data SKPD terkait.
Tidak dan belum ada standard Unit analisis terkait sektor, jenjang / jenjang atau departemen
Akhirnya realibilitas dan validitas masih cukup rendah, ketika pengalian angka FI.

Sedangkan pada sisi pasokan, beberapa hal yang menjadi perhatian kedepan terkait pelaksanaan
pemetaan sisi pasokan antara lain :
Perlunya Manajemen Proyek dalam melaksanakan kajian ini, agar kajian ini terutama saat
pelaksanaan survey dapat berjalan secara efektif.
Dalam pelaksanaan survey peran surveyor dipilih dan disesuaikan sesuai alumni asalnya
Manajemen basis data dalam menganalisis perlu hal yang perlu diperhatikan.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 47

Beberapa alternatif rencana kajian yang perlu dilaksanakan di kota Surabaya adalah sebagai
berikut:
1. Kajian pelengkap sektor & sub sektor yang penting di kota Surabaya berdasarkan
permintaan atau kebutuhan dari pemerintah kota
2. Kajian penyusunan tabel prospek kerja per bidang keahlian.
Selama ini yang dipahami sebagai keselarasan adalah apabila seorang lulusan bekerja di
bidang yang sesuai dengan bidang pendidikannya, misalnya seorang lulusan elektronika akan
dianggap selaras

jika dia bekerja di maintenance peralataan hotel. Namun dari sisi

permintaan, dasar kebutuhan adalah sektor dimana seorang lulusan akan dilihat
keselarasannya jika bekerja di sektor yang seiring dengan sektor pendidikannya. Dengan
kata lain, terdapat perbedaan persepsi penilaian dalam kondisi riil di lapangan; sisi
permintaan menilai berdasarkan sektor, sementara sisi pendidikan menilai berdasarkan
bidang keahlian. Untuk menyamakan persepsi penilaian, diperlukan tabel prospek kerja per
bidang keahlian di tiap sektor. Dengan adanya tabel tersebut akan dapat diikuti perjalanan
pekerjaan seorang lulusan dengan lebih mudah, dan lembaga pendidikan dan pelatihanpun
akan lebih mudah mengembangkan kurikulum berbasis kebutuhan spesifik di tiap sektor.

Tim Penyelarasan Pendidikan dengan Dunia Kerja

Halaman 48