Anda di halaman 1dari 17

PERANAN INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM) DALAM

PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KABUPATEN PONOROGO


Andri Ratnasari
Drs. H. Kirwani SE, MM
ABSTRACT
Small and medium industries sector is a sector that has a variety of important roles in the
economy. Among the variety of roles, most notably its role in labor absorption. In Ponorogo Regency
number of labor absorption by small and medium industries continues to increased along increases in
the number of small and medium industrial unit. However, labor absorption growth of small and
medium industries are not as fast as the growth of the number of its units. Beside its, working labor
has decreased over the last few years. Therefore in doing research to measure what extent the role of
the small and medium industries in the labor absorption in Ponorogo Regency. In this research, data
analysis technique used is the descriptive statistical analysis by counting the number of people
working in small and medium industries divided by the total number of labor working in Ponorogo
Regency. Results of the research is small and medium industries have a major role in labor absoption
in Ponorogo. Small and medium industries sector is a potential sector that will boost labor absorption
in Ponorogo.
Keyword :

Small and Medium Industries, Small Industries, Medium Industries, Manpower, and
Labor Absoption
ABSTRAK

Sektor industri kecil menengah merupakan sektor yang memiliki berbagai peran penting dalam
perekonomian. Diantara berbagai peran tersebut, yang paling menonjol adalah perannya dalam
penyerapan tenaga kerja. Di Kabupaten Ponorogo jumlah penyerapan tenaga kerja oleh industri kecil
menengah terus meningkat seiring peningkatan jumlah unit usaha industri kecil menengah. Namun
pertumbuhan penyerapan tenaga kerja industri kecil menengah tidak secepat pertumbuhan jumlah unit
usahanya. Selain itu jumlah angkatan kerja yang bekerja mengalami penurunan selama beberapa tahun
terakhir. Oleh karena itu di lakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar
peranan industri kecil menengah terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo. Dalam
penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan cara
menghitung jumlah tenaga kerja yang bekerja di industri kecil menengah dibagi dengan total jumlah
angkatan kerja yang bekerja di Kabupaten Ponorogo. Hasil dari penelitian adalah industri kecil
menengah memiliki peranan yang besar dalam penyerapan tenaga kerja di kabupaten Ponorogo.
Sektor industri kecil menengah merupakan sektor potensial yang akan mendorong peningkatan
penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo.
Kata Kunci :

Indutri Kecil Menengah, Industri Kecil, Industri Menengah, Tenaga Kerja, dan
Penyerapan Tenaga Kerja

PENDAHULUAN
Sektor industri merupakan salah satu
sektor

ekonomi

sedang

terutama dalam penyerapan tenaga kerja di

dikembangkan di Indonesia sebagai sektor

Indonesia. Berdasarkan data di Badan

penggerak

sektor-sektor

pusat penelitian (BPS) pada tahun 2012,

ekonomi lainnya. Peran sektor industri

sektor industri mampu menyerap tenaga

kemajuan

yang

dalam perekonomian dinilai sangat penting

kerja sebanyak15,37 juta jiwa, dari 118

Selain itu, Industri Kecil Menengah

juta jiwa angkatan kerja yang tersedia.

(IKM) adalah usaha yang mempunyai

Dari total penyerapan tenaga kerja oleh

ketahanan akan krisis ekonomi. Hal ini

sektor industri, sekitar 61,57 % dari

terbukti saat terjadi krisis tahun 1998, IKM

penyerapan tenaga kerja tersebut dilakukan

bisa bertahan dari keterpurukan yang

oleh Industri Kecil Menengah (IKM).

dialami usaha besar lainnya. Bahkan

Sedangkan di Jawa Timur penyerapan

jumlah IKM semakin meningkat paska

tenaga kerja oleh sektor indutri juga

terjadinya krisis. Faktor pendukung IKM

didominasi oleh sektor IKM, dari jumlah

dapat bertahan dan cenderung meningkat

total penyerapan tenaga kerja sebanyak

jumlahnya pada masa krisis adalah: (1)

3,03 juta jiwa, IKM menyerap sekitar 2,75

sebagian besar IKM memproduksi barang

juta atau sekitar 91 persen dari jumlah total

konsumsi dan jasa-jasa dengan elastisitas

penyerapan

permintaan terhadap pendapatan yang

tenaga

kerja.

Penyerapan

tenaga kerja IKM lebih unggul karena

rendah,

sektor Industri Kecil Menengah (IKM)

mempergunakan modal sendiri dan tidak

adalah sub sektor yang mengelola jenis-

mendapat

jenis industri yang berskala kecil atau

lembaga keuangan lainnya. Sehingga pada

menengah seperti industri rumah tangga,

masa krisis keterpurukan sektor perbankan

dan indutri skala kecil lainnya yang lebih

dan naiknya suku bunga tidak berpengaruh

mudah untuk dibentuk oleh masyarakat

terhadap

terutama masyarakat ekonomi menengah

ekonomi

ke bawah.

menyebabkan

Sub sektor IKM merupakan bentuk

(2)

sebagian

modal

IKM,

dari

(3)

yang bergerak dalam berbagai sektor

kegiatan

ekonomi. Sehingga jumlah IKM sangat

akibatnya

jumlah

banyak

meningkat

(Partomo

dan

tersebar

disemua

sektor

ekonomi dan diseluruh wilayah Indonesia.

ataupun

formal

pekerjanya.

pengangguran
usaha

bank

krisis

berkepanjangan

sektor

pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah

IKM

Terjadinya

yang

memberhentikan

besar

yang

ada

yang

banyak
Sehingga

melakukan

berskala

IKM
dan

kecil,

semakin
Soejodono,

2004).

Karena tersebar diberbagai sektor dan

Peran sektor Industri Kecil Menengah

wilayah maka sektor IKM dapat menyerap

(IKM) sebagai pemberdayaan masyarakat

banyak tenaga kerja secara merata disemua

ekonomi lemah, membuat sektor ini lebih

wilayah. Jenis IKM yang berkembang pun

banyak berkembang di daerah pedesaan

beraneka ragam karena keanekaragaman

seperti

budaya Indonesia.

mayoritas penduduknya memiliki ekonomi

Kabupaten

Ponorogo,

yang

menengah

kebawah.

ekonomi

yang

Ponorogo

Dengan

lemah,

kondisi

dari kerajinan REOG, kerajinan alat dapur,

masyarakat

berusaha

berbagai

mendapatkan

pernak

pernik

cinderamata,

kompor, makanan olahan khas Ponorogo,

pendapatan dengan melakukan berbagai

mebel,

kegiatan

seperti batu bata merah dan genteng. Dari

usaha

menengah

berskala

yang

banyak

tidak

modal.

kecil

atau

membutuhkan

pengamatan

tersebut

tersebut

untuk

diketahui jika masyarakat mengembangkan

membentuk usaha dalam skala besar,

IKM layaknya sebuah komunitas, dimana

masyarakat tidak memiliki modal yang

dalam satu daerah masyrakat membentuk

cukup.

membuat

IKM yang memproduksi jenis barang yang

lebih

sama atau seragam. Sehingga setiap daerah

mengembangkan sektor IKM daripada

menjadi sentra IKM untuk jenis barang

membentuk industri besar. Selain itu,

tertentu. Hampir setiap kecamatan di

Industri Kecil Menengah ( IKM) mampu

Kabupaten

menyerap tenaga kerja dengan kualitas

IKM, bahkan ada beberapa kecamatan

pendidikan rendah yang ada di Kabupaten

yang memiliki lebih dari satu sentra IKM.

Ponorogo.

pengembangan

Misalnya Kecamatan Jetis yang menjadi

industri-industri besar dapat menyerap

sentra IKM Jenang Mirah dan makanan

tenaga kerja, tetapi untuk memasuki pasar

olahan khas Ponorogo, Desa Paju di

tenaga

besar,

Kecamatan Ponorogo yang menjadi sentra

keterampilan-keterampilan

industri seng dan gamelan, serta Desa

Hal

inilah

masyarakat

yang

pedesaan

Meskipun

kerja

diperlukan
khusus

Sedangkan

hasil

hingga bahan-bahan bangunan

industri

masyarakat ekonomi menengah kebawah.

gethuk nggolan dan sentra industri tahu.

Sedangkan

Menengah

Selain sentra-sentra industri tersebut masih

teknologi

banyak industri kecil berupa industri

masyarakat

rumah tangga yang tersebar di seluruh

dengan

Industri

yang

dimiliki

sentra

Sukorejo yang menjadi sentra industri

sederhana

tidak

memiliki

oleh

(IKM)

yang

sektor

Ponorogo

Kecil

menggunakan

memungkinkan
pendidikan

rendah

untuk

wilayah Kabupaten Ponorogo. Industri

melakukan kegiatan usahanya. Dengan

rumah

demikian, tenaga yang tidak terserap oleh

jumlahnya adalah industri kerajinan dan

usaha besar dan sektor ekonomi lainnya

makanan

mampu diserap oleh IKM.

kerajinan tikar, industri kerajinan anyaman

Berdasarkan hasil pengamatan, sektor

tangga

yang

olahan,

paling

misalnya

banyak

industri

bambu, industri tempe mentah, indutri

IKM yang berkembang di Kabupaten

tempe

Ponorogo sangat beraneka ragam, mulai

Industri-industri

kripik,

serta

industri

tersebut

krupuk.

merupakan

industri dalam skala kecil yang tersebar di

maksimal

seluruh

Kabupaten

pengangguran. Pada tahun 2010 jumlah

Ponorogo. Menurut pengamatan yang telah

angkatan kerja turun, namun pada tahun

dilakukan, lebih dari 75% industri rumah

yang sama jumlah pengangguran justru

tangga tersebut tidak memiliki surat ijin

meningkat. Jika berkurangnya angkatan

usaha dan termasuk dalam sektor non

kerja

formal.

pengangguran

kecamatan

di

sehingga

tidak

masih

tercipta

mengurangi

jumlah

melainkan

jumlah

Jumlah IKM di Kabupaten Ponorogo

pengangguran semakin meningkat. Hal ini

terus meningkat, hal ini ditandai dengan

menunjukkan jika jumlah angkatan kerja

semakin banyaknya merk-merk baru yang

yang sudah bekerja turun lebih besar dari

muncul

barang.

jumlah penurunan angkatan kerja itu

Berdasarkan keterangan dari para pemilik

sendiri sehingga mengakibatkan jumlah

IKM, jumlah IKM di daerahnya semakin

pengangguran semakin meningkat.

untuk

satu

jenis

banyak jumlahnya, baik dengan produksi

Berkaitan

dengan

tentang

IKM

dalam
berbagai

sejenis atau dengan produksi jenis barang

berbagai

lainnya.

Ponorogo

perekonomian

diatas

serta

pertumbuhan jumlah unit usaha IKM

permasalahan

IKM

di

selalu

Ponorogo, maka akan dilakukan penelitian

Di

Kabupaten

diikuti

penyerapan

dengan

tenaga

peningkatan

kerjanya.

Namun

tentang

peranan

uraian

peranannya

di

Kabupaten

Kabupaten

Ponorogo

dengan

IKM yang besar, tidak diimbangi dengan

Industri

Kecil

pertambahan penyerapan tenaga kerja yang

terhadap Tingkat Penyerapan Tenaga

besar pula. Penyerapan tenaga kerja IKM

Kerja di Kabupaten Ponorogo.

seharusnya dapat mencapai jumlah yang


lebih

besar

mengingat

jumlah

judul

Peranan

ternyata peningkatan jumlah unit usaha

Menengah

(IKM)

Rumusan Masalah

unit

Bagaimana

usahanya yang besar dan terus meningkat.

peranan

Industri

Kecil

Menengah (IKM) dalam menyerap tenaga

Selanjutnya meskipun jumlah penyerapan

kerja di Kabupaten Ponorogo?

tenaga kerja IKM terus meningkat, jumlah


Tujuan Penelitian

pertambahan penyerapan tenaga kerja IKM

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

cenderung mengalami penurunan pada

mengetahui

periode 2009-2011.Selain permasalahan

Ponorogo

ternyata

besar

peranan

Industri Kecil Menengah (IKM)sebagai

tersebut, penyerapan tenaga kerja IKM di


Kabupaten

seberapa

upaya seleksi sektor yang mendukung

belum

mampu menyerap tenaga kerja secara

perluasan kesempatan kerja di kabupaten

jumlah tenaga kerja dapat menggambarkan

Ponorogo

skala usaha yang sedang dilakukan.


Sedangkan menurut Surat Edaran

KAJIAN TEORI

Bank Indonesia (dalam Prasetyo, 2008),

Industri Kecil Dan Menengah (IKM)


Definisi

tentang

Industri

industri kecil adalah suatu usaha dalam

Kecil

bentuk industri yang dijalankan oleh rakyat

Menengah (IKM) sangat beragam di

miskin atau mendekati miskin, yang

Indonesia, keberagaman ini disebabkan

memiliki aset < Rp 200 juta atau omset Rp

oleh pendefinisian IKM oleh pihak-pihak


atau

lembaga

pemerintahan

yang

menerapkan

mendefinisikan IKM.

tangga

yang

kerja

melakukan
mengabaikan

kecil

dan

yang

digunakan

untuk

suatu

produksi

dan

modal

yang

jumlah

aset < Rp 600 juta untuk kegiatan lainnya.


Kemudian Dinas Perindustrian dan
Perdagangan (Disperindag) dalam RIPIKM (2002-2004) mendefinisikan industri
kecil sebagai kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh perseorangan atau rumah

digunakan dianggap bisa menjelaskan

tangga maupun suatu badan, bertujuan

bagaimana kegiatan usaha yang dilakukan.

untuk memproduksi barang maupun jasa

Dengan jumlah tenaga kerja yang sedikit,


usaha

yang

untuk diperdagangkan secara komersial,

dapat

yang mempunyai nilai kekayaan bersih

dilakukan hanya kegiatan yang sederhana

paling

dan menghasilkan output yang terbatas.


Sedangkan

dan

aset < Rp 5 milyar untuk kegiatan industri,

kegiatan usaha. Jumlah tenaga kerja yang

kegiatan

sederhana

kecil yang berkembang sehingga memiliki

indutsri

diperlukan serta omset yang diperoleh oleh

biasanya

lokal,

industri menengah merupakan industri

menengah dapat dibedakan dari jumlah


tenaga

teknologi

daya

sedikit lebih besar dari industri kecil,

memiliki

kegiatan usaha yang sama yaitu kegiatan


Industri

sumber

keluarga,

industri menengah adalah industri yang

2007:5) kedua industri ini merupakan

produksi.

industri

mudah keluar masuk industri. Kemudian

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS,

rumah

bersifat

menggunakan

menggunakan konsep yang berbeda dalam

usaha

milyar,

banyak

mempunyai

dengan jumlah tenaga kerja

200

nilai

juta rupiah dan

penjualan

pertahun

sebesar 1 milyar rupiah atau kurang.

yang lebih banyak, biasanya kegiatan

Sedangkan

usaha yang dapat dilakukan lebih rumit

Industri

menengah

adalah

kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh

dan menghasilkan output yang lebih

perseorangan atau badan, bertujuan untuk

banyak. Sehingga dapat dikatakan jika

memproduksi barang ataupun jasa untuk

diperdagangkan secara komersial yang

melakukan kegiatan lain seperti bersekolah

mempunyai nilai penjualan pertahun lebih

atau mengurus rumah tangga pun termasuk

besar dari 1 milyar rupiah namun kurang

dalam kelompok tenaga kerja karena

dari 50 milyar rupiah.

mampu

Dari

beberapa

pengertian

melakukan

suatu

pekerjaan.

dapat

Penduduk bersekolah dan mengurus rumah

disimpulkan jika definisi Industri Kecil

tangga walaupun tidak sedang bekerja,

Menengah (IKM) tidak selalu sama,

tetapi mereka secara fisik mampu bekerja

tergantung pada konsep yang digunakan

dan sewaktu-waktu dapat untuk ikut

untuk mendefinisikannya. Menurut Tohar

bekerja.

(2007: 1) ada beberapa aspek yang

digolongkan kedalam kelompok tenaga

digunakan dalam konsep definisi usaha

kerja

kecil tersebut, yaitu 1) kepemilikan, 2)

kemampuan untuk bekerja serta memiliki

modal dan aset, 3) serta jumlah tenaga

potensi untuk bekerja disaat mereka ingin

kerja.

melakukannya.

Djojohadikusumo

yang

permintaan terhadap tenaga kerja mereka


dan jika mereka mau berpartisipasi dalam
aktifitas

menggolongkan penduduk dalam golongan

tersebut.

Usia

kerja

yang

dimaksud adalah usia dimana umumnya

tenaga kerja atau bukan tenaga kerja, dapat

seseorang

dilihat dari kemampuan seseorang untuk

penduduk

menyatakan

memproduksi barang dan jasa jika ada

akibat tidak ada kesempatan kerja. Untuk

pekerjaan.

59)

penduduk dalam suatu negara yang dapat

menganggur

dan mereka yang menganggur terpaksa

suatu

(2008:

memiliki

(berusia 15 64 tahun) atau jumlah

meskipun bersedia dan sanggup bekerja

melakukan

memang

dapat

sebagai semua penduduk dalam usia kerja

orang yang bersedia dan sanggup bekerja,


mereka

mereka

bahwa tenaga dapat kerja didefinisikan

(dalam

Misbach, 2011) tenaga kerja adalah semua

termasuk

karena

Mulyadi

Tenaga Kerja
Menurut

Sehingga

sudah

mampu

atau

masih

mampu melakukan suatu pekerjaan.

Semua

Sedangkan UU No.13 tahun 2003

yang memiliki kemampuan

tentang ketenagakerjaan mendefinisikan

untuk melakukan aktivitas bekerja dapat

tenaga kerja sebagai orang yang mampu

digolongkan dalam kelompok tenaga kerja.

melakukan pekerjaan guna menghasilkan

Menurut Simanjuntak (2005: 2) selain

barang dan atau jasa baik untuk memenuhi

penduduk yang sudah bekerja atau sedang

kebutuhan

bekerja, serta penduduk yang sedang

sendiri

maupun

untuk

masyarakat. Pengertian ini menjelaskan

mencari pekerjaan, maka penduduk yang

bagaimana tenaga kerja selalu berperan

dalam setiap kegiatan produksi barang atau

kerja tidak bisa dipisahkan dengan unsur

jasa baik itu produksi dalam jumlah kecil

lain dalam proses produksi. Tanpa adanya

ataupun besar, untuk kebutuhan sendiri

tenaga kerja, faktor produksi alam dan

ataupun orang banyak.

faktor

Selanjutnya Sumarsono (2009: 2)

produksi

modal

tidak

dapat

digunakan secara optimal.

menyebutkan bahwa tenaga kerja atau

Maka untuk mewujudkan tujuan dari

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah

kegiatan usaha, diperlukan tenaga kerja

menyangkut manusia yang mampu bekerja

sebagai

untuk memberikan jasa atau usaha kerja

kegiatan usaha. Meskipun pada jaman

tersebut. Mampu bekerja yang dimaksud

sekarang ini perusahaan lebih banyak

adalah mampu melakukan kegiatan yang

menggunakan mesin untuk menggantikan

mempunyai nilai ekonomis, yaitu suatu

peran tenaga kerja dalam proses produksi,

kegiatan yang menghasilkan barang dan

hal ini tidak dapat menghapus peran

jasa

penting tenaga kerja dalam keseluruhan

untuk

memenuhi

kebutuhan

masyarakat. Pada umumya, secara fisik

Menurut Kuncoro (dalam Fadliilah,

dianggap mampu bekerja.

2012) pengertian penyerapan tenaga kerja

Dari beberapa pengertian diatas dapat

adalah jumlah dari lapangan kerja yang

disimpulkan bahwa tenaga kerja adalah

sudah terisi yang dapat tercemin dari

total penduduk dalam usia produktif yang

jumlah penduduk yang bekerja atau dapat

dapat melakukan suatu pekerjaan baik

disebut angkatan kerja yang telah bekerja.

yang sudah bekerja, sedang mencari

Angkatan kerja yang bekerja tersebut

pekerjaan, maupun yang tidak bekerja dan


selain

terserap dan tersebar di berbagai sektor

bekerja.

perekonomian. Terserapnya angkatan kerja

Dengan demikian tenaga kerja merupakan

disebabkan adanya permintaan akan tenaga

salah satu faktor produksi yang penting

kerja, sehingga penyerapan tenaga kerja

bagi setiap kegiatan produktif.

dapat dikatakan permintaan tenaga kerja.

Menurut Sastrohardiwiryo (2005: 33)

Menurut Tohar (2007: 10) penyerapan

dengan posisinya sebagai faktor produksi,

tenaga kerja adalah diterimanya para

tenaga kerja adalah salah satu unsur dari

pelaku tenaga kerja untuk melakukan tugas

perusahaan yang memiliki peran yang


sangat

penting

pelaku

Penyerapan Tenaga Kerja

Sehingga orang yang dalam usia kerja

kegiatan

sakaligus

kegiatan usaha.

kemampuan bekerja diukur dengan usia.

melakukan

perencana

dalam

sebagaimana mestinya, atau adanya suatu

operasional

keadaan yang menggambarkan tersedianya

perusahaan. Oleh karena itu unsur tenaga

pekerjaan atau lapangan pekerjaan untuk

Pentingnya Industri Kecil Menengah

diisi oleh pencari kerja. Ketersediaan

(IKM) dalam Penyerapan Tenaga Kerja

pekerjaan atau lapangan kerja yang belum

Sebagai sektor yang memiliki banyak

terisi merupakan kesempatan bagi semua

potensi, sektor IKM dapat melakukan

pencari kerja untuk mengisinya dan ketika

berbagai

pencari kerja telah berhasil mengisinya

pemerataan perluasan penyerapan tenaga

maka

kerja. Menurut Partomo (2004: 13) dari

lapangan

kerja

tersebut

telah

menyerap tenaga kerja.


Sudarsono

pemerataan

semua

kemampuan

penyerapan tenaga kerjanya merupakan

merupakan

potensi yang paling menonjol. Jenis IKM

jumlah angkatan kerja yang bekerja yang

yang beraneka ragam, jumlahnya yang

tersedia di satu daerah. Permintaan tenaga

besar serta penyebarannya yang merata

kerja berhubungan dengan jumlah tenaga

disemua sektor ekonomi membuat sektor

kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan-

ini dapat menyerap tenaga kerja secara

perusahaan atau instansi tertentu. Jumlah

merata.

tenaga

tenaga

kerja

Putra,

IKM,

satunya

2012)

penyerapan

(dalam

potensi

salah

kerja

yang

dibutuhkan

oleh

Prabowo

(dalam

Woyanti,

2010)

perusahaan mencerminkan jumlah tenaga

berpendapat bahwa jumlah unit usaha

kerja yang akan terserap pada perusahaan

mempunyai pengaruh yang positif terhadap

tersebut.

permintaan tenaga kerja, artinya jika unit

Jadi dari beberapa pengertian diatas,

usaha

suatu

IKM

meningkat

maka

dapat disimpulkan apa yang dimaksud

permintaan tenaga kerjanya juga akan

dengan penyerapan tenaga kerja dalam

bertambah. Peningkatan unit usaha suatu

penelitian ini, yaitu banyaknya angkatan

sektor Industri Kecil Menengah (IKM)

kerja yang bekerja atau yang mampu

pada suatu daerah akan menambah jumlah

terserap oleh lapangan kerja. Dengan

lapangan

demikian, jumlah orang yang bekerja

kemudian pertambahan lapangan kerja ini

tergantung dari permintaan tenaga kerja

mengakibatkan permintaan tenaga kerja

oleh

tersedia.

juga bertambah. Dengan demikian dapat

Sedangkan permintaan tenaga kerja oleh

disimpulkan jika semakin banyak jumlah

lapangan kerja dipengaruhi oleh beberapa

perusahaan atau unit usaha IKM yang

faktor, salah satunya adalah jumlah unit

berdiri

usaha yang tersedia. Jika jumlah unit usaha

penyerapan tenaga kerjanya.

lapangan

bertambah,

kerja

maka

yang

permintaan

tenaga

pekerjaan

maka

akan

yang

semakin

tersedia,

besar

Melihat IKM mempunyai keterlibatan

kerjanya juga bertambah.

yang besar terhadap angkatan kerja, secara

garis besar IKM memegang peranan

deskriptif.

Analisis

statistik

deskriptif

penting sebagai sektor yang potensial

adalah analisis dengan menggunakan suatu

dalam penyerapan tenaga kerja. Dimana

rumus-rumus

keberadaan sektor IKM disuatu daerah

mendiskripsikan atau memberi gambaran

akan memberi kontribusi nyata dalam

terhadap objek yang diteliti melalui data

usaha meningkatkan penyerapan tenaga

sampel atau populasi sebagaimana adanya,

kerja di daerah tersebut.

tanpa membuat analisis atau kesimpulan

statistik

untuk

yang berlaku untuk umum (Sugiyono,


METODE PENELITIAN

2010: 29).

Jenis dan Pendekatan Penelitian

Data kuantitatif yang berupa angka-

Penelitian yang dilakukan adalah jenis

angka

penelitian deskriptif dengan pendekatan

yang

dilakukan

dianalisis

menggunakan

kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah


penelitian

akan

rumus

dengan

statistik.

Untuk

mengukur peranan IKM dalam penyerapan

untuk

tenaga kerja maka data akan dianalisis

mengetahui nilai suatu variabel mandiri,

dengan menggunakan rumus sederhana

baik satu variabel atau lebih (independen)

yang diturunkan dari rumus presentase

tanpa membuat suatu perbandingan, atau

sebagai berikut :

tanpa menghubungkan antara satu variabel


dengan yang lainnya (Sugiyono, 2010:11).
Penelitian

deskriptif

hanya

Profesor Iwan Jaya Azis, (1994)

menggambarkan dan mendeskripsikan data


Metode

yang telah terkumpul sebagaimana adanya

ini

digunakan

untuk

tanpa bertujuan untuk membuat suatu

mengetahui berapa persentase penyerapan

kesimpulan yang akan berlaku untuk

tenaga kerja sektor IKM dengan cara

umum atau generalisasi. Dengan demikian

membandingkan antara tenaga kerja yang

penelitian ini hanya bertujuan untuk

terserap IKM dengan jumlah total tenaga

mendapatkan deskripsi atau gambaran

kerja

tentang Industri Kecil Menengah (IKM)

Ponorogo.

serta perannya dalam penyerapan tenaga

diketahui seberapa besar peranan IKM

kerja di Kabupaten Ponorogo.

dalam

yang

terserap
Dengan

penyerapan

di

Kabupaten

demikian

tenaga

dapat

kerja

dibandingkan dengan sektor usaha lainnya.


Teknik Analisis Data

Kemudian untuk mengukur peranan

Teknik Analisis Statistik Deskriptif


Dalam
menggunakan

penelitian
teknik

ini
analisis

IKM formal dan IKM non formal dalam

peneliti
statistik

total

penyerapan

tenaga

kerja

IKM

Di

digunakan rumus sebagai berikut :

Kabupaten

Ponorogo

Industri

Kecil Menengah (IKM) memiliki peranan


dalam menyerap tenaga kerja dengan
kualitas pendidikan yang rendah. Untuk
mengukur besarnya peranan IKM dalam
penyerapan tenaga kerja

di Kabupaten

Ponorogo maka jumlah penyerapan tenaga


Rumus-rumus
untuk

mengetahui

tersebut

digunakan

kerja oleh sektor IKM akan dibandingkan

berapa

persentase

dengan total penyerapan tenaga kerja di


Kabupaten Ponorogo.

penyerapan tenaga kerja sektor IKM

Dari

formal dan IKM non formal dalam

perhitungan

rumus

tersebut

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

diperoleh besarnya peranan IKM dalam

Ponorogo, dan mengetahui sumbangan

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

masing-masing dalam total jumlah tenaga

Ponorogo

kerja yang berhasil terserap oleh IKM.

sebagai berikut :

selama

periode

2002-2011

Tabel 4.5 Peranan IKM dalam Penyerapan


HASIL DAN PEMBAHASAN

Tenaga Kerja di Kabupaten Ponorogo

Analisis Data

periode 2002-2011

Dalam penelitian telah dikumpulkan


Tahun

beberapa data tentang variabel-variabel


penelitian mengguna-kan metode studi
pustaka,

wawancara,

observasi

dokumentasi. Selanjutnya semua

2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

dan
data

yang telah terkumpul selama penelitian


dihitung dengan menggunakan rumusrumus statistik untuk menentukan hasil
dari penelitian. Yaitu mengukur besarnya
peranan IKM dalam penyerapan tenaga
kerja di Kabupaten Ponorogo.
Peranan

Industri

Kecil

Penyerapan
Tenaga
Kerja oleh
IKM
49.329
50.512
51.103
51.515
51.940
52.467
52.632
52.947
53.162

Persentase
Penyerapan TK
oleh IKM
(%)
11,17
12,43
11,65
11,07
11,89
9,94
10,67
10,04
11,21

2011
11,79
53.337
Sumber data : Badan Pusat Statistik,
Dinas Industri Perdagangan Koperasi
dan UKM(indakop)

Menengah

(IKM) dalam penyerapan tenaga kerja

Hasil perhitungan data menunjukkan

di Kabupaten Ponorogo

peranan IKM dalam penyerapan tenaga

10

kerja

mengalami

peningkatan

dan

tenaga kerja. Untuk mengukur seberapa

penurunan. Peranan terbesar terjadi pada

besar

tahun 2003 yaitu mencapai 12,43 persen

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

dengan

sebanyak

Ponorogo, jumlah tenaga kerja yang

50.512 tenaga kerja dan peranan terendah

bekerja di IKM formal akan dibandingkan

pada tahun 2007 yaitu 9,94 persen dengan

dengan jumlah total penyerapan tenaga

penyerapan sebanyak 52.467 tenaga kerja.

kerja di Kabupaten Ponorogo.

jumlah

penyerapan

Rata-rata persentase peranan IKM dalam

peranan

Dari

hasil

IKM

formal

perhitungan

dalam

dengan

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

menggunakan rumus tersebut diperoleh

Ponorogo adalah sekitar 11,19 persen

besarnya peranan IKM formal dalam

setiap tahun yaitu sekitar 51.000 tenaga

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

kerja. Hal ini menunjukkan bahwa Industri

Ponorogo

Kecil

sebagai berikut:

Menengah

(IKM)

memberikan

selama

periode

2002-2011

sumbangan sebebsar 11,19 persen dalam


Tabel 4.6 Peranan IKM formal dalam

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten

Ponorogo. Dengan angka 11,19 persen,

Ponorogo periode 2002-2011

sektor IKM memiliki peranan yang cukup


besar dalam penyerapan tenaga kerja di
Kabupaten Ponorogo. Dengan demikian
IKM

berperan

perluasan

penting

kesempatan

mengatasi

dalam

upaya

kerja

untuk

peningkatan

jumlah

pengangguran.
Peranan IKM formal dalam penyerapan
tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo
Industri Kecil Menengah (IKM) di
Kabupaten Ponorogo terbentuk dari dua
jenis IKM, yaitu IKM formal dan IKM non
formal.

Keduanya

memiliki

Tahun

Jumlah
penyerapan
tenaga kerja
IKM formal

2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

7.215
7.658
7.906
8.163
8.430
8.835
8.903
9.087
9.184

Presentase
Peranan
IKM
formal
(%)
1,63
1,73
1,95
1,86
1,81
2,02
1,69
1,84
1,74

2011
9.252
1,95
Sumber data : Badan Pusat Statistik,
Dinas Industri Perdagangan Koperasi
dan UKM (indakop)

perannya

masing-masing dalam penyerapan tenaga


kerja di Kabupaten Ponorogo. Oleh karena

Hasil

itu, harus dihitung besarnya peranan

perhitungan

menunjukkan

penyerapan tenaga kerja oleh IKM formal

masing-masing IKM dalam penyerapan

mengalami peningkatan dan penurunan.

11

Peranan terbesar terjadi pada tahun 2007

dengan jumlah total penyerapan tenaga

yaitu

kerja di Kabupaten Ponorogo.

mencapai

2,09

persen

dengan

penyerapan sebanyak 8835 tenaga kerja,

Dari

hasil

perhitungan

dengan

dan terendah pada tahun 2002 yaitu 1,63

menggunakan rumus tersebut diperoleh

persen dengan penyerapan sebanyak 7.215

besarnya peranan IKM non-formal dalam

tenaga kerja. Adapun rata-rata persentase

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

peranan IKM formal dalam penyerapan

Ponorogo

tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo

sebagai berikut:

adalah sekitar 1,82 persen setiap tahun

yang

kecil

Ponorogo periode 2002-2011

dalam

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten


Tahun

Ponorogo. Dari total penyerapan tenaga


kerja oleh IKM sebesar

11,19 persen,
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010

peranan IKM formal hanya menyumbang


sebesar 1,82 persen. Sisanya merupakan
peranan yang diberikan oleh IKM non
formal.
Peranan

IKM

Non

formal

dalam

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten


Ponorogo
Setelah mengetahui besarnya peranan

selanjutnya

peranan

besarnya

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

rata persentase peranan IKM non-formal

Ponorogo.

dalam

IKM

formal

43.729
43.860
43.978

9.54
10.55
9.85
9.32
9.96
8.27
8.87
8.32
9.28

Hasil analisis data menunjukkan rata-

Untuk

non

Presentase
Peranan IKM
Non formal
(%)

dalam

peranan

IKM

dihitung

Jumlah
penyerapan
tenaga kerja
IKM Non
formal
42.114
42.854
43.197
43.352
43.510
43.632

2011
9.74
44.085
Sumber data : Badan Pusat Statistik,
Dinas
Industri
Perdagangan
Koperasi dan UKM (indakop)

IKM formal dalam penyerapan tenaga


kerja,

2002-2011

Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten

angka 1,82 persen, sektor IKM formal


peranan

periode

Tabel 4.7 Peranan IKM non-formal dalam

yaitu sekitar 8.000 tenaga kerja. Dengan

memiliki

selama

mengukur

tenaga

kerja

di

Kabupaten Ponorogo adalah sekitar 9,37

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

persen tiap tahunnya. Peranan terbesar

Ponorogo, jumlah penyerapan tenaga kerja

terjadi pada tahun 2003 yaitu mencapai

oleh

10,55 persen, dan terendah pada tahun

non

formal

penyerapan

dalam

IKM

non

besarnya

formal

dibandingkan

2007 yaitu 8,27 persen. Dengan angka 9,37

12

persen, sektor IKM non-formal memiliki

hanya mencapai 406.232 tenaga kerja,

peranan yang tidak kecil dalam penyerapan

jumlah

tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo. Dari

sebelumnya. Hal ini disebabkan jumlah

11,19

dalam

penyerapan tenaga oleh sektor selain IKM

penyerapan tenaga kerja, sektor IKM non-

mengalami penurunan. Penurunan jumlah

formal menyumbang sebesar 9,37 persen.

ini dapat disebabkan oleh banyak faktor,

Peranan IKM non-formal lebih besar jika

diantaranya banyak tenaga kerja yang

dibandingkan peranan IKM formal.

pensiun, adanya PHK, dan pengunduran

persen

peranan

IKM

meningkat mencapai 50.512 tenaga kerja,

2002-2011. Namun dari hasil perhitungan

oleh karena itu peranan IKM menjadi

data menunjukkan peranan IKM dalam


penyerapan

tenaga

peningkatan

dan

kerja

sangat besar pada tahu 2003. Sedangkan

mengalami

penurunan.

Hal

pada tahun 2007 jumlah total penyerapan

ini

tenaga kerja mengalami peningkatan yang

dipengaruhi oleh jumlah total penyerapan


kerja

itu

sendiri.

besar hingga mencapai 527.879 tenaga

Rata-rata

kerja,

persentase peranan IKM dalam penyerapan

hanya

Jadi dapat disimpulkan bahwa 11,19

dari

itu

penyerapan

persen.

Hal

penyerapan

ini

sektor

secara

peranan

keseluruhan
yang

besar

IKM
dalam

penyerapan tenaga kerja di Kabupaten

penyerapan

Ponorogo. Hal ini juga didukung oleh


peryataan beberapa pemilik IKM sebagai

terendah pada tahun 2007 yaitu 9,94


dengan

9,94

jumlah

semua,

memiliki

sebanyak 50.512 tenaga kerja dan peranan

persen

jumlah

mengalami penurunan. Namun disamping

sektor

pada tahun 2003 yaitu mencapai 12,43


jumlah

sama

di tahun 2007 sehingga peranan IKM

ekonomi lainnya. Peranan terbesar terjadi

dengan

yang

ekonomi lain juga mengalami peningkatan

merupakan

sumbangan dari IKM, sedangkan sisanya


penyerapan

sekitar

disebabkan

persen dari total penyerapan tenaga kerja


Ponorogo

saat

52.467 tenaga kerja. Jumlah peranan IKM

adalah sekitar 11,19 persen setiap tahun.

Kabupaten

di

penyerapan tenaga kerja oleh IKM sebesar

tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo

persen

jumlah

disaat yang sama penyerapan IKM tetap

IKM selalu meningkat selama periode

merupakan

dari

sendiri atau mutasi kerja ke kota lain. Dan

Jumlah penyerapan tenaga kerja oleh

di

menurun

diri dari karyawan untuk membentuk usaha

Pembahasan

tenaga

ini

nara sumber yang menyatakan

sebanyak

IKM

memiliki peranan dalam menyerap tenaga

52.467 tenaga kerja. Pada tahun 2003

kerja di daerah mereka. Seperti pernyataan

jumlah total penyerapan tenaga kerja

13

yang diberikan oleh salah satu pemilik

observasi dilapangan, peranan IKM non

industri roti di Desa Kalimalang.

formal lebih besar dikarenakan jumlah unit


usaha IKM non formal lebib banyak

Ya banyak Mbak. Dulu waktu


belum banyak yang membuat roti,
semua orang di desa ini pergi keluar
negeri jadi TKI. Soalnya di rumah
menganggur, tidak ada pekerjaan
adanya kerja serabutan. Tapi setelah
banyak warga yang buka usaha roti,
banyak warga yang ikut kerja di usaha
itu.(Sujarmiati,Wawancara 25 Juli
2013)
Dari

penyataan

disimpulkan

jika

tersebut

dapat

keberadaan

IKM

daripada jumlah IKM formal. Sehingga


peningkatan penyerapan tenaga kerjanya
pun lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan
teori Prabowo (2010) berpendapat bahwa
jumlah unit usaha mempunyai pengaruh
yang positif terhadap permintaan tenaga
kerja.
Menurut Sutaji (Wawancara, 26 Juli
2013)

memiliki peranan yang penting dalam


penyerapan

tenaga

kerja

di

membentuk

Desa

Berbeda dengan industri formal yang

di daerah sekitarnya. Hasil penelitian ini

mayoritas

yang

proses

industrialisasi

sehingga

dan

memerlukan

ijin

usaha.

menyatakan jika modal yang digunakan

oleh IKM sebesar 11,19 persen, peranan

oleh para pemiliki IKM adalah modal

IKM formal menyumbang 1,82 persen dan


non-formal

menengah

Parman (Wawancara, 25 Juli 2013) yang

Dari total penyerapan tenaga kerja

IKM

industri

Pernyatan ini di dukung oleh pernyataan

penyerapan tenaga kerja.

sektor

adalah

dengan wilayah pemasaran yang lebih luas

menyatakan jika IKM berperan penting


dalam

karena

kecil yang tidak harus memiliki ijin usaha.

yang besar dalam penyerapan tenaga kerja

klasik

non-formal,

untuk membentuk industri dengan skala

menyatakan bahwa IKM memiliki peran

teori

banyak

modal yang mereka miliki hanya cukup

beberapa pemiliki IKM lainnya juga

dengan

IKM

lebih

selain mengurus surat ijinnya terlalu rumit,

Kalimalang. Dari hasil wawancara dengan

sesuai

masyarakat

pribadi. Industri kecil Menengah (IKM)

menyumbang

yang menggunakan modal pinjaman sangat

sebesar 9,37 persen. Peranan IKM non

sedikit

formal dalam penyerapan tenaga kerja

jumlahnya.

Hal

inilah

yang

menyebabkan jumlah industri non formal

lebih besar daripada IKM formal. Hal ini

lebih banyak jumlahnya daripada industri

menunjukkan jika IKM formal belum

formal. Meskipun demikian, peranan IKM

mampu menyerap tenaga kerja secara

formal tidak dapat diabaikan, karena

maksimal. Melihat pada data dari Dinas

penyerapan tenaga kerja per unit usahanya

Indakop Kabupaten Ponorogo serta hasil

lebih banyak jika dibandingkan dengan

14

penyerapan tenaga kerja per unit usaha

tenaga kerja oleh IKM tetap meningkat.

IKM non-formal.

Hal ini menunjukkan jika penurunan

Jumlah IKM formal yang lebih kecil


menyebabkan

jumlah

jumlah penyerapan tenaga kerja hanya

pertumbuhan

terjadi disektor-sektor ekonomi lain selain

penyerapan tenaga kerja oleh IKM tidak

IKM. Dengan demikian selain memiliki

secepat peningkatan jumlah unit usahanya.

peranan yang besar dalam penyerapan

Karena peningkatan jumlah unit usaha

tenaga

IKM lebih didominasi IKM non-formal

kemampuan untuk tetap menyerap tenaga

yang mayoritas merupakan industri dengan

kerja disaat penyerapan tenaga kerja

skala kecil, menyebabkan peningkatan

sektor-sektor ekonomi lain mengalami

penyerapan

penurunan.

tenaga

kerjanya

tidak

maksimal. Karena industri dengan skala


kecil

di

Kabupaten

Ponorogo

dapat disimpulkan :
Rata-rata persentase peranan IKM

IKM formal di kabupaten Ponorogo.

dalam

Namun secara keseluruhan dengan peranan

mengatasi

kerja.

kesempatan

Dengan

semakin

potensinya dalam menyerap tenaga kerja,

untuk

dalam

dikembangkan

tepat untuk dikembangkan dalam upaya

kemampuan

jumlah

upaya

peningkatan

penyerapan tenaga kerja. Jika sektor IKM

bahwa sektor ini merupakan sektor yang

ini

peningkatan

potensial

penyerapan tenaga kerja, membuktikan

sektor

di

pengangguran dan merupakan sektor yang

Besarnya angka peranan IKM dalam

menunjukkan

kerja

IKM berperan penting dalam upaya untuk

upaya

menciptakan kesempatan kerja.

kesempatan

tenaga

persen tiap tahunnya. Dengan demikian

Kabupaten Ponorogo memberikan peranan

perluasan

penyerapan

Kabupaten Ponorogo adalah sekitar 11,19

sebesar 11,19 persen menunjukkan IKM di

dalam

memiliki

Dari hasil analisis data dan pembahasan

usaha-usaha untuk meningkatkan jumlah

besar

juga

Simpulan

usahanya. Oleh karena iti, diperlukan

cukup

IKM

SIMPULAN DAN SARAN

hanya

mampu menyerap 1-5 tenaga kerja per unit

yang

kerja,

dengan

kerja

banyak

yang

baik,

maka

tercipta

pun

sehingga penyerapan

tenaga kerja di Kabupaten Ponorogo akan

memiliki

meningkat.

mengurangi

Sedangakan

jumlah

pertambahan penyerapan tenaga kerja IKM

pengangguran jika dikelola dengan baik.

hanya

Selain itu, pada saat jumlah angkatan kerja

sedikit

karena

dari

total

pertambahan jumlah unit usaha IKM lebih

yang bekerja di Kabupaten Ponorogo

didominasi oleh jumlah unit usaha IKM

mengalami penurunan, jumlah penyerapan

15

non-formal yang penyerapan tenaga kerja

menjadi

per unit usahanya lebih kecil daripada IKM

memperluas wilayah pemasarannya.

formal.tenaga
Ponorogo.

kerja

di

Meskipun

industri

menengah

atau

Kabupaten

demikian

IKM

DAFTAR PUSTAKA

formal tidak dapat diabaikan, karena


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Penelitian:
Suatu
Pendekatan
Praktek.(Edisi Keempat). Jakarta:
Rineka Cipta

penyerapan per unit usahanya lebih tinggi


jika dibandingkan dengan penyerapan
tenaga kerja per unit usaha IKM non-

Badan Pusat Statistik. 2006. Evaluasi


Kinerja Pembangunan Pemerintah
Propinsi Jawa Timur tahun 2006 :
Data Makro Sosial dan Ekonomi
Timur Tahun 2002-2006. Surabaya:
Pemerintah dan BPS Jawa Timur

formal.
Saran
1. Peranan

IKM

dalam

penyerapan

tenaga kerja di kabupaten Ponorogo

Badan Pusat Statistik. 2007. Analisa


Penyusunan Kinerja Makro Ekonomi
Dan Sosial Jawa Timur Tahun 2007 :
Data Makro Sosial dan Ekonomi
Jawa Timur Tahun 2003-2007.
Surabaya: Pemerintah dan BPS Jawa
Timur

cukup besar namun belum maksimal


karena jumlah angkatan kerja yang
bekerja

tetap

menurun.

dipengaruhi

oleh

Hal

ini

penurunan

penyerapan tenaga kerja di sektor-

Badan Pusat Statistik. 2011. Data Makro


Sosial Ekonomi Jawa Timur Tahun
2007-2011 : Pengukuran Kinerja
Rencana
Pembangunan
Jangka
Menegah Daerah (RPJMD)20092014. Surabaya: Pemerintah dan BPS
Jawa Timur

sektor ekonomi yang lain. Oleh


karena

itu

sektor

dikembangkan

IKM

agar

jumlah

harus
unit

usahanya lebih banyak.


2. IKM

formal

harus

lebih

Badan Pusat Statistik. 2012. Ponorogo


Dalam Angka 2012 . Ponrogo :
Pemerintah dan BPS Ponorogo

dikembangkan karena penyerapan per


unit

usahanya

dibandingkan

lebih

tinggi

dengan

jika

penyerapan

Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan


Koperasi Ponorogo. 2012. Laporan
Pendataan Insdustri Kecil Menengah
Kabupaten Ponorogo. Ponorogo

tenaga kerja per unit usaha IKM nonformal. Sehingga total penyerapan
tenaga kerja oleh IKM dapat lebih
meningkat.

Upaya

yang

Fadliilah, Diah Nur. 2012. Diponegoro


Journal Of Economics : Analisis
Penyerapan Tenaga Kerja Pada
Industri Kecil (Studi Kasus di Sentra
Industri Kecil Ikan Asin di Kota
Tegal). Volume 1, Nomor 1, Tahun
2012, Halaman 1-13. Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas
Diponegoro
Semarang.

dapat

dilakukan adalah memberikan modal


untuk pemilik industri kecil sehingga
dapat

mengembangkan

usahanya

16

(http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jme diakses
30 Desember 2012)

Manusia.
Jakarta : Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.

Misbach, Muzamil. 2011. Pengertian


Tenaga Kerja dan Angkatan Kerja.
(http://economicsjurnal.blogspot.co
m/2011/12/pengertian-tenagakerja-dan-angkatan.html diakses
23 Desember 2012)

Sumarsono, Sonny. 2009. Ekonomi


Sumber Daya Manusia Teori dan
Kebijakan Publik. Yogyakarta :
Graha Ilmu.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.

Partomo, Tiktik Sartika dkk. 2004.


Ekonomi Skala Kecil / Menengah
dan Koperasi. Bogor: Ghalia
Indonesia.

Sugiyono. 2010. Statistik Untuk


Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sukirno,
Sadono.
2005.
Mikro
Ekonomi, Teori Pengantar : Edisi
Ketiga.
Jakarta : PT.
Rajawali Press

Putra, Riky Eka. 2012. Economics


Development Analysis Journal :
Pengaruh Nilai Investasi, Nilai
Upah, Dan Nilai Produksi
Terhadap Penyerapan Tenaga
Kerja Pada Industri Mebel Di
Kecamatan Pedurungan Kota
Semarang. EDAJ 1 (2) (2012).
Ekonomi Pembanguna fakultas
Ekonomi Universitas Semarang.
(http://journal.unnes.ac.id/sju/inde
x.php/edaj di akses 23 maret 2013)

Teguh, Muhammad. 2010. Ekonomi


Industri. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Tohar, M. 2007. Membuka Usaha
Kecil (cetakan 7). Jakarta:
Kanisius
Wijono, Sutarto. 2010. Psikologi
Industri dan Organisasi : Dalam
Suatu Bidang Gerak Psikologi
Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Kencana Prenada Media

Rejekiningsih, Tri Wahyu. 2004.


Mengukur Besarnya Peranan
Industri
Kecil
dalam
Perekonomian di Jawa Tengah.
Vol 1 No 2 desember 2004.
(http://eprints.undip.ac.id/14001/1/
Mengukur_Besarnya_Peranan_Ind
ustri_Kecil....by_Tri_Wahyu_Reje
kiningsih_(OK).pdf diakses 23
Desember 2012)

Wuri, Josephine dan Yuliana Rini


Hardanti. 2006. Peranan Industri
Kecil
Dalam
Meningkatkan
Pendapatan Masyarakat : Studi
Kasus Pada Industri Kerajinan
Batik Kayu di Dusun Krebet,
Sendangsari,
Pajangan,
Bantul.KINERJA, Volume 10,
No.2, Tahun. 2006. Universitas
Sanata
Dharma
Yogyakarta.
(http://www.uajy.ac.id/jurnal/kiner
ja/Vol10-No.2-2006/Article-5V10-N2-06.pdf di akses 12 Januari
2013)

Sastrohadiwiryo, B. Siswanto. 2005.


Manajemen
Tenaga
Kerja
Indonesia,
Pendekatan
Administratif Dan Operasional.
Cetakan ketiga.Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Simanjuntak, J Payaman. 2005.
Pengantar Ekonomi Sumber Daya

17