Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Bali memang mengagumkan. Kalau surga ada di bumi mungkin Bali lah

tempatnya. Ini jelas terlihat dari beragam tradisi dan budaya, keindahan alam yang
begitu menawan. Selalu ada hal yang patut untuk diceritakan tentang Bali.
Senantiasa ada adat dan budaya yang patut untuk diangkat dan sayang untuk
dilewatkan. Salah satunya adalah Desa Penglipuran. Desa Penglipuran merupakan
salah satu desa di Bali yang sampai saat ini masih memegang teguh budayanya.
Jika kita ingin melihat kawasan pemukiman adat yang tertata rapi dan sangat
konseptual, Penglipuran lah tempatnya.jika kita ingin mengenal konsep
pemukiman yang sangat kental dengan kearifan lokal, Penglipuran salah satu yang
layak dituju. Berbagai tatanan social dan budaya masih terlihat di berbagai sudut
desa ini sehingga nuansa Bali masa lalu tampak jelas. Tidak heran jika desa ini
sering dijadikan lokasi obyek wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan baik
domestik maupun mancanegara. Tentu selain sebagai obyek wisata, Desa
Penglipuran juga banyak dijadikan tujuan bagi para mahasiswa sebagai salah satu
obyek kunjungan studinya. Salah satunya saya sendiri telah melakukan kerja
sosial bersama mahasiswa-mahasiswa yang lain di esa Wisata Penglipuran Bangli.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah yang akan

dibahas dalam makalah ini diantaranya :


1.2.1

Bagaimana sejarah berdirinya Desa Penglipuran Bangli ?

1.2.2

Bagaimana bentuk kearifan lokal Desa Penglipuran Bangli ?

1.2.3

Bagaimana kegiatan kerja sosial yang berlangsung saat berada di Desa


Penglipuran Bangli ?

1.2.4

Apa saja temuan-temuan yang ditemukan selama mengadakan kerja sosial


di Desa Wisata Penglipuran Bangli ?

1.3

Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah

sebagai berikut :
1.3.1

Untuk mengetahui sejarah berdirinya Desa Penglipuran Bangli.

1.3.2

Untuk mengetahui bentuk kearifan lokal Desa Penglipuran Bangli.

1.3.3

Untuk mengetahui kegiatan kerja sosial yang berlangsung saat berada di


Desa Penglipuran Bangli.

1.3.4

Untuk mengetahui temuan-temuan yang ditemukan selama mengadakan


kerja sosial di Desa Wisata Penglipuran Bangli.

1.4

Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai

berikut :
1.4.1

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan acuan jika


diadakan kerja sosial selanjutnya.

1.4.2

Makalah ini diharapkan dapat memberikan sambungan pemikiran


mengenai kearifan lokal budaya Desa Penglipuran Bangli.

1.4.3

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah wawasan


mengenai Desa Wisata Penglipuran Bangli.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Sejarah Berdirinya Desa Penglipuran Bangli


Asal mula kata penglipuran berasal dari kata Pengeling Pura yang berarti

tempat suci mengenang para leluhur. Tempat ini sangat berarti sejak leluhur
mereka dating dari desa Bayung Gede ke Penglipuran yang jaraknya cukup jauh,
oleh karena itu masyarakat Penglipuran mendirikan pura yang sama sebagaiman
yang ada di Desa Bayung Gede. Dalam hal ini berarti masyarakat Penglipuran
masih mengenal asal usul dari mereka. Pendapat lain mengatakan bahwa
Penglipuran berasal dari kata Penglipur yang berarti penghibur karena pada
zaman kerajaan tempat ini dijadikan tempat peristirahatan.
Penglipuran memiliki dua pengertian, yaitu pangeling yang kata dasarnya
eling atau mengingat. Sementara pura artinya tanah leluhur. Jadi, Penglipuran
artinya mengingat tanah leluhur. Kata itu juga bisa berarti penghibur yang
berkonteks makna memberikan petunjuk bahwa ada hubungan sangat erat antara
tugas dan tanggung jawab masyarakat dalam menjalankan dharma agama.
Masyarakat desa adat Penglipuran percaya bahwa leluhur mereka berasal
dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Sebelumnya Desa Penglipuran bernama
Kubu Bayung. Pada zaman dahulu raja Bali memerintahkan pada warga-warganya
di Bayung Gede untuk mengerjakan proyek di Kubu Bayung, tapi akhirnya para
warga tersebut memutuskan untuk menetap di Desa Kubu Bayung.
Dilihat dari segi tradisi, desa adat ini menggunakan sistem pemerintahan
hulu apad. Pemerintah desa adatnya terdiri dari prajuru hulu apad dan prajuru
adat. Prajuru hulu apad terdiri dari jero kubayan, jero kubahu, jero singgukan, jero
cacar, jero balung, dan jero pati. Prajuru hulu apad otomatis dijabat oleh mereka
yang paling senior dilihat dari usia perkawinan tetapi yang belum ngelad. Ngelad
atau pension terjadi bila semua anak sudah kawin atau salah seorang cucunya
telah kawin. Mereka yang baru kawin duduk pada posisi yang paling bawah
3

dalam tangga keanggotaan desa adat. Menyusuri jalan utama desa kearah selatan
anda akan menjumpai sebuah tugu pahlawan yang tertata dengan rapi. Tugu ini
dibangun untuk menghormati serta mengenang jasa kepahlawanan Anak Agung
Gede Anom Mudita, gugur melawan penjajah Belanda pada tanggal 20 November
1947. Taman Pahlawan ini dibangun oleh masyarakat desa adat Penglipuran
sebagai wujud bakti dan hormat mereka kepada sang pejuang. Bersama segenap
rakyat Bangli, Kapten Mudita berjuang tanpa pamrih demi martabat dan harga diri
bangsa sampai titik darah penghabisan.
2.2

Bentuk Kearifan Lokal Desa Penglipuran Bangli


Desa Penglipuran terlihat begitu asri. Keasrian kawasan telah menerpa

pengunjung saat pertama kali melangkah memasuki kawasan. Selain asri, juga
sangat bersih. Sanga sulit untuk menemukan sampah yang tercecer di sana,
apalagi tumpukan sampah tidak ada sama sekali. Di beberapa sudut disediakan
tempat sampah dengan disain yang cukup unik. Kerimbunan pepohonan di
sepanjang jalan utama yang membelah desa juga menambah suasana asri. Di
sekitar pintu gerbang masuk desa terdapat area yang dinamakan catuspata yang
merupakan area yang terdiri dari balai desa, fasilitas masyarakat, dan ruang
terbuka hijau berupa taman yang asri. Semuanya tertata dengan rapi dengan
perpaduan tatanan struktur ruang desa tradisional dan konsep wisata desa yang
cukup menjual.
Penataan fisik bangunan dan pola penataan kawasn di Desa Wisata
Penglipuran sangat kental dengan budaya Bali yang tetap dipegang teguh oleh
masyarakatnya. Budaya yang berlaku turun temurun.
2.3

Kerja Sosial yang Berlangsung di Desa Penglipuran Bangli


Kegiatan kerja sosial yang kami lakukan di Desa Wisata Penglipuran

Bangli adalah kami mengadakan sembahyang bersama di Pura. Kemudian


kegiatan selanjutnya yaitu melakukan penanaman pohon bersama. Kegiatan
penanaman pohon ini sebagai symbol Tri Hita Karana yaitu tiga penyebab
4

kebahagiaan yang terdiri dari hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan),


hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan
lingkungan (Palemahan).
Setelah selesai menanam pohon kami melanjutkan dengan kegiatan bersihbersih agar lingkungan disekitar kita menjadi asri, indah dan lestari. Semua ini
sebagai rasa bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau atas asung kerta
wara nugraha Beliau, kita masih dapat tetap menjaga dan melaksanakan Tri Hita
Karana yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran agama.
Disamping itu untuk melaksanakan Tri Hita Karana salah satunya yaitu
Pawongan, kami melaksanakan suatu hiburan (tari-tarian) untuk mempererat rasa
kekeluargaan.
2.4

Temuan-temuan Selama Kerja Sosial di Desa Penglipuran Bangli


Berdasarkan kerja sosial yang kami lakukan dan sesuai data yang ada pada

masyarakat Desa Penglipuran Kecamatan Kubu Kabupaten Bangli, Bali terjadi


perubahan secara evolusi bila dilihat jangka waktu yang cukup lama. Ditinjau dari
berbagai aspek seperti sistem adat, tata ruang, perkawinan, bentuk bangunan dan
topografi, upacara kematian, sttratifikasi sosial, kesenian, mata pencaharian, dan
organisasi.
2.4.1

Sistem Adat
Di Desa Penglipuran terdapat dua sistem dalam pemerintahannya yaitu
menurut sistem pemerintah atau sistem formal yaitu terdiri dari RT dan
RW, dan sistem yang otonom atau desa adat. Kedudukan desa adat
maupun desa formal berdiri sendiri-sendiri san setara. Karena otonom,
desa adat mempunyai aturan-aturan tersendiri menurut adat istiadat di
daerah Penglipuran dengan catatan aturan tersebut tidak bertentangan
dengan Pancasila dan Undang-Undang Pemerintahan. Undang-Undang
atau aturan yang ada di Desa Penglipuran disebut dengan awig-awig.
Awig-awig tersebut merupakan implementasi dari landasan operasional
masyarakat Penglipuran yaitu Tri Hita Karana tersebut yaitu sebagai
berikut :
5

a. Parahyangan, adalah hubungan manusia dengan Tuhan. Meliputi


penentuan hari suci, tempat suci dan lain-lain.
b. Pawongan, adalah hubungan manusia dengan manusia. Meliputi
hubungan masyarakat Penglipuran dengan masyarakat desa lain,
maupun hubungan dengan orang yang beda agama. Dalam Pawongan
bentuk-bentuknya meliputi sistem perkawinan, organisasi, pewarisan
dan lain-lain.
c. Palemahan, adalah hubungan manusia dengan lingkungan. Masyarakat
Desa Penglipuran diajarkan untuk mencintai alam lingkungannya dan
selalu merawatnya, tidak heran kalau Desa Penglipuran terlihat begitu
asri. Dan memang pada umunya masyarakat di Bali sangat cinta
terhadap alam. Mereka menganggap manusia adalah makhluk yang
paling mulia dibandingkan hewan dan tumbuhan, sehingga manusia
bertugas menjaga alam semesta ini.
Filsafat hubungan yang selaras antara alam dan manusia dan kearifan
manusia mendayagunakkan alam sehingga terbentuk ruang kehidupan
terlihat jelas di Penglipuran dan daerah lain di Bali. Nilai estetika yang
ditimbulkan dari hubungan yang selaras dan serasi sudah menyatu dalam
proses alami yang terjadi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, visualisasi
estetika pada kawasan ini bukan merupakan barang langka yang sulit
dicari, melainkan sudah menyatu dalam tata lingkungannya.
2.4.2

Tata Ruang
Tata ruang Desa Penglipuran dikenal dengan Tri Mandala yang terdiri dari
tiga bagian yaitu :
a. Utara
Orang Penglipuran biasa menyebutnya sebagai Utama Mnadala, yang
biasa diartikan sebagai tempat suci. Ditempat inilah orang-orang
Penglipuran melakukan kegiatan sembahyang kepada Sang Hyang
Widhi Wasa yang mereka percaya sebagai Tuhan mereka.

b. Madya Mandala
Biasanya adalah berupa pemukiman penduduk yang berjejer sepanjang
jalan utama desa. Barisan itu berjejer menghadap kearah barat dan
timur. Saat ini jumlah rumah yang ada disana sebanyak 70 buah. Tata
ruang pemukimannya sendiri adalah sebelah utara atau timur adalah
pura keluarga yang telah diaben. Sedangkan Madya Mandala adalah
rumah keluarga. Ditiap rumah pun terdapat tata ruang yang telah diatur
oleh adat. Tata ruangnya adalah sebelah utara dijadikan sebagai tempat
tidur, tengah digunakkan sebagai tempat keluarga sedangkan sebelah
timur dijadikan sebagai tempat pembuangan dan bagian nista dari
pekarangan biasanya berupa jemuran, garasi dan tempat penyimpanan
kayu.
c. Nista Mandala
Nista Mandala ini adalah tempat yang paling buruk, disana terdapat
kuburan dari masyarakat Penglipuran.
2.4.3

Perkawinan
Di desa ini ada adat yang berlaku soal perkawinan yakni pelarangan
poligami terhadap para penduduknya. Adat melarang hal tersebut demi
menjaga para wanita. Meskipun ada yang boleh melakukan poligami
namun akan mendapat sanksi. Sanksi biasanya si poligami akan
ditempatkan pada tempat yang bernama Nista Mandala. Dan dilarang
melakukan perjalanan dari selatan ke utara karena wilayah utara bagi
orang Penglipuran adalah wilayah yang paling suci.

2.4.4

Bentuk Bangunan dan Topografi


Topografi desa tersusun sedemikian rupa dimana pada daerah utama desa
kedudukannya lebih tinggi dan demikian seterusnya menurun sampai
daerah hilir. Pada daerah desa terdapat Pura Penataran dan Pura Puseh
yang merupakan daerah utama desa yang unik dan spesifik karena
disepanjang jalan koridor desa hanya digunakan untuk pejalan kaki, yang
kanan kirinya dilengkapi dengan atribut-atribut struktur desa seperti
7

tembok penyengker, angkul-angkul dan telajakan yang seragam.


Keseragaman dari wajah desa tersebut disamping karena adanya
keseragaman bentuk juga dari keseragaman bahan yaitu bahan tanah untuk
tembok penyengker dan angkul-angkul (pol-polan) dan atap dari bambu
yang dibelah untuk seluruh bangunan desa. Penggunaan bambu baik untuk
atap, dinding maupun lain-lain kebutuhan merupakan suatu keharusan
untuk digunakkan karena Desa Penglipuran dikelilingi oleh hutan bambu
dan masih merupakan teritorial Desa Penglipuran.
2.4.5

Upacara Kematian (Ngaben)


Seperti daerah lain yang ada di Bali, di Penglipuran masyarakatnya
mengadakan upacara yang biasa disebut Ngaben. Dimana ini adalah suatu
upacara kematian dalam rangka mengembalikan arwah orang yang
meninggal yang awalnya menurut kepercayaan orang Bali arwah tersebut
masih tersesat kemudian dikembalikan ke pura kediaman si arwah. Yang
membedakan daerah ini hanyalah pada ritualnya saja. Dimana apabila
orang Bali lain ngaben dilakukan dengan cara membakar mayat, di
Penglipuran mayat dikubur. Menurut analisa kelompok kami hal tersebut
dilakukan oleh masyarakat Penglipuran sebagai tanda hormat dan juga
sebagai cara untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan buruk
mengingat daerah Penglipuran yang berada didaerah pegunungan yang
jauh dari laut, seperti yang kita ketahui bahwa abu jenazah yang telah
dibakar harus dilarung atau dibuang ke laut sedangkan bagi orang Bali
mennyimpan abu jenazah adalah suatu pantangan, jadi solusi terbaik
adalah dimakamkan.

2.4.6

Stratifikasi Sosial
Di Penglipuran hanya ada satu tingkatan kasta yaitu Kasta Sudra, jadi di
Penglipuran kedudukan antar warga setara. Hanya saja ada yang diangkat
untuk memimpin mereka yaitu ketua adat.

2.4.7

Kesenian
Di Desa Penglipuran terdapat tari-tarian yaitu Tari Baris. Tari Baris
sebagai salah satu bentuk seni tradisional yang berakar kuat pada
kehidupan masyarakatnya dan hidup secara mentradisi atau turun
menurun, dimana keberadaan Tari Baris Sakral di Desa Penglipuran adalah
merupakan tarian yang langka dan berfungsi sebagai tari penyelenggara
upacara Dewa Yadnya. Adapun iringan gamelan yang mengiringi pada saat
pementasan semua jenis Tari Baris Sakral tersebut adalah seperangkat
gamelan Gong Gede yang didukung oleh Sekaa Gong Gede Desa Adat
Penglipuran. Unsur bentuk ini meliputi juga keanggotaan sekaa Baris
sacral ini diatur di dalam awig-awig Desa Adat Penglipuran. Kemudian
nama-nama penari ketiga jenis Baris Sakral ini juga telah ditetapkan, yakni
Baris Jojor 12 orang, Baris Presi 12 orang, dan Baris Bedil 20 orang.

2.4.8

Mata Pencaharian
Mata pencaharian para penduduk Desa Penglipuran adalah sebagai petani.
Dimana sawah menjadi tumpuan harapan mereka disamping kerajinan
tangan yang mereka jual kepada para wisatawan yang berkunjung ke desa
mereka. Penduduk desa ini dilimpahi hujang yang lebat tiap tahunnya
sehingga memudahkan penduduknya dalam bercocok tanam dan masalah
irigasi.

2.4.9

Organisasi
Masyarakat Desa Penglipuran yang berumur tiga belas tahun diwajibkan
untuk masuk organisasi yang dinamakan Sekaa Taruna dan mereka harus
masuk organisasi ini sampai mereka menikah.

2.4.10 Tempat Wisata Desa Penglipuran


Ada beberapa tempat wisata di Desa Penglipuran ini, yaitu adalah sebagai
berikut :
a. Tugu Pahlawan
Di lingkungan desa terdapat Tugu Pahlawan sebagai simbol
perjuangan Kapten Anak Agung Gede Anom Mudita dari Puri
9

Kanginan Bangli. Anak Agung Gede Anom Mudita gugur melawan


penjajah Belanda pada tanggal 20 November 1947. Taman Pahlawan
ini dibangun oleh masyarakat desa adat Penglipuran sebagai wujud
bakti dan hormat mereka kepada sang pejuang. Bersama segenap
rakyat Bangli, Kapten Mudita berjuang tanpa pamrih demi martabat
dan harga diri bangsa sampai titik darah penghabisan. Tugu ini
sepenuhnya menjadi tanggung jawab karma desa adat Penglipuran dan
tidak dilimpahkan kepada pemerintah.
b. Hutan Bambu
Desa Penglipuran selain memiliki daya pesona budaya yakni keunikan
rumah warganya, juga memiliki daya tarik wisata yakni hamparan
hutan bambu yang luasnya mencapai lebih dari 45 hektar. Hutan ini
selain dimiliki warga desa adat juga menjadi salah satu obyek wisata
yang acap kali dikunjungi wisatawan baik yang ingin menyaksikan
berbagai jenis bambu, maupun mereka yang hanya ingin sekedar
menikmati suasana ditengah hutan bambu. Hutan bambu yang ada di
daerah Penglipuran mempunyai luas areal sekitar 45 hektar dengan
berbagai jenis bambu yakni terdiri dari bambu petung, bambu jajang
aya, bambu jajang abu, bambu tali, bambu papah, bambu suet dan jenis
bambu lainnya, tetapi terdapat beberapa jenis bambu yang sudah
mengalami kepunahan. Hutan bambu ini sebagian dimiliki oleh desa
adat dan sebagian lagi dimiliki oleh masyarakat. Suasana sunyi di
tengah hutan, selain memberikan suasana tersendiri bagi wisatawan,
juga akan makin mendekatkan wisatawan akan keindahan alam yang
ada di hutan bambu Desa Penglipuran. Usai menikmati keindahan
hutan bambu, wisatawan juga bisa menyaksikan perkebunan penduduk
serta aktivitas pembuatan aneka bentuk anyaman bambu yang
dikerjakan oleh warga Penglipuran. Kondisi ini tentunya akan
menambah pengalaman para wisatawan.
BAB III
10

PENUTUP
3.1

Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa Desa Penglipuran

merupakan salah satu desa di Bali yang sampai saat ini masih memegang teguh
budayanya. Desa Penglipuran memiliki beberapa julukan diantaranya Desa Adat,
Desa Budaya dan Desa Wisata. Semua unsur kehidupan di Bali saling menjalin
keakraban semua itu dapat kita lihat di Desa Adat Penglipuran. Dimana
masyarakat desa menyambut dengan ramah para wisatawan baik domestik
maupun mancanegara.
Di Desa Penglipuran juga sangat menghargai dan mencintai alam
sekitarnya, ini tidak lepas dari filosofi mereka yaitu Tri Hita Karana yaitu tiga
penyebab kebahagiaan yang terdiri dari Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.
3.2

Saran
Sebagai mahasiswa sebaiknya kita melaksanakan kewajiban untuk

memelihara apa yang menjadi warisan dari leluhur kita yang telah diwariskan
secara turun-temurun. Jangan sampai apa yang diwariskan oleh para leluhur
hilang begitu saja ditelan zaman dan cirikhas suatu desa merupakan salah satu
potensi budaya suatu daerah. Kita harus memiliki keteguhan untuk bisa selalu
mempertahankan apa yang menjadi ciri khas desa kita di tengah gempuran arus
modernisasi.

11

LAMPIRAN
FAKULTAS HUKUM

12

DAFTAR PUSTAKA

Narasumber
1. Tokoh masyarakat Desa Penglipuran
2. Kelian Adat Desa Penglipuran

13