Anda di halaman 1dari 20

GENETIKA

PENENTUAN JENIS KELAMIN


KELOMPOK 5

SEJARAH
Sudah ada sejak 1891 oleh H. Henking
dalam penyelidikan mengenai adanya hubungan
antara kromosom dengan perbedaan jenis kelamin
pada suatu makhluk hidup dengan cara
mengamati
spermatogenase
pada
beberapa
serangga dan menemukan struktur tertentu
dalam nukleusnya, dikatakan bahwa sebagian dari
spermatozoa itu memiliki struktur tersebut
sedangkan yang lainnya tidak. Namun, ia tidak
mengatakan tentang pentingnya struktur tersebut
dan hanya menamakannya sebagai kutup X.
badan X berhubungan dengan penentuan jenis
kelamin pada makhluk hidup, apakah dia jantan
atau betina.

Pada 1902 McClung membenarkan penemuan


Henking dan melanjutkan penelitian yang sama pada
belalang. Karena tidak dapat menemukan badan x pada
sel telur betina belalang, dia menyimpulkan bahwa
badan x ada hubungannya dengan penentuan jenis
kelamin.
Dilaporkan bahwa sel somatis betina memiliki 24
kromosom sedang jantan 23 kromosom saja.
Wilson dan Stevens berhasil memeriksa oogenesis
dan spermatogenesis pada beberapa serangga. Badan x
adalah kromosom dan diperkenalkan sebagai kromosom
X.

FAKTOR FAKTOR PENENTU JENIS


KELAMIN
Faktor Lingkungan
adanya faktor luar yang mempengaruhinya yang
dikenal dengan faktor lingkungan, biasanya yang
mengambil peranan dalam faktor lingkungan ini
adalah keadaan fisiologis dari suatu hewan
tersebut. Jika kadar hormon kelamin dalam tubuh
tidak seimbang penghasilan atau perederannya,
maka pernyataan fenotip pada makhluk mengenai
jenis kelaminnya dapat berubah, akibatnya watak
kelaminnya pun mengalami perubahan

Faktor Genetik
Umumnya dapat dikatakan bahwa faktor genetiklah
yang menentukan jenis kelamin suatu makhluk,
tepatnya adalah komposisi dari suatu kromosom (karena
bahan genetik terdapat didalam kromosom) Pada
beberapa mahkluk hidup dipengaruhi oleh kegiatan
yang berlainan dari gen-gen tunggal. Contohnya pada
kasus tanaman jagung, tanaman jagung yang
merupakan tanaman berumah satu. Jika gen (ba)
homozigotik, maka bongkol yang biasa merupakan
bunga betina, akan berubah membentuk benangsari.
Sebaliknya jika gen (ts) homozigotik, maka malai yang
merupakan bunga jantan, berubah membentuk putik
dan tidak menghasilkan serbuk sari

TIPE TIPE PENENTU JENIS KELAMIN


A. Tipe XY, Pada lalat buah Drosophila melanogaster
- Inti sel tubuh lalat buah Drosophila hanya memiliki 8 buah
kromosom saja. Delapan buah kromosom itu dibedakan atas:
1. 6 buah kromosom (atau 3 pasang) yang pada lalat betina
dan jantan bentuknya sama. Sehingga disebut autosom
(kromosom tubuh), disingkat dengan hurup A.
2. buah kromosom (1 pasang) disebut kromosom kelamin
(seks kromosom) sebab bentuknya ada yang berbeda pada
lalat betina dan jantan.
Kromosom kelamin dibedakan atas:
. Kromosom-X,
berbentuk batang lurus. Lalat betina
memiliki 2 kromosom-X.
. Kromosom-Y, berbentuk sedikit bengkok pada salah satu
ujungnya. Lalat jantan memiliki per satu kromosom-X dan
Y.

Formula kromosom untuk lalat buah:


Lalat betina 3AAXX (= 3 pasang autosom + 1 pasang
kromosom-X)
Lalat jantan 3AAXY (=3 pasang autosom + 1 kromosom-X
+ 1 kromosom-Y)

Kromosom kelamin pada lalat betina itu sejenis (artinya kedua-duanya


berupa kromosom-X) maka lalat betina dikatakan bersifat homogametik.
Lalat jantan bersifat heterogametik, karena kromosom kelamin satu sama
lain berbeda. Lalat betina membentuk satu macam sel telur saja yang
bersifat haploid (3AX). Tetapi lalat jantan membentuk 2 macam
spermatozoa yang haploid. Ada spermatozoa yang membawa kromosom-X
(3AX) dan ada yang membawa kromosom-Y (3AY). Apabila sel telur di
buahi oleh spermatozoon yang membawa kromosom-X, maka hasilnya
lalat betina (3AAXX). Bila sel telur dibuahi oleh spermatozoon membawa
kromosom-Y, maka menghasilkan lalat jantan yang diploid (3AAXY).

PENYIMPANGAN
Betina super (3AAXXX). Apabila sel telur memiliki 2
kromosom-X dibuahi oleh spermatozoa yang membawa
kromosom-X. Lalat ini hidupnya tidak lama.
Betina yang memiliki kromosom-Y (3AAXXY). Apabila sel
telur memiliki dua kromosom-X dibuahi oleh spermatozoa
yang membawa kromosom-Y. Lalat ini fertil dan hidup
seperti lalat biasa.
Jantan (3AAXO). Apabila sel telur yang tidak memiliki
kromosom-X dibuahi oleh spermatozoa yang membawa
kromosom X. Lalat ini steril.
Lalat (3AAYO) lalat tidak dikenal. Sel telur yang tidak
memiliki kromosom X dibuahi oleh spermatozoa yang
membawa kromosom-Y. Lalat ini tidak menghasilkan
keturunan, sebab letal.

KELAINAN-KELAINAN PADA LALAT


BUAH DROSOPHILA
Lalat ginandromorf, yaitu lalat yang separuh tubuhnya terdiri
dari jaringan lalat betina sedangkan separuh lainnya terdiri dari
jaringan lalat jantan. Batas antara bagian betina dan jantan nyata.
Lalat ini tidak memiliki formula kromosom.
Lalat interseks, ialahl alat yang jaringan tubuhnya merupakan
mosaik (campuran yang takteratur) dari jaringan lalatbetina dan
jantan. Lalat ini seharusnya akan menjadi lalat betina, akan tetapi
lalat ini triploid (3n) untuk autosomnya, maka lalat ini menjadi
interseks (3AAAXX). Lalat ini steril.
Lalat jantan super, lalatinisebenarnyaakanmenjadijantan, akan
tetapi lalat ini triploid (3n) untuk autosomnya (3AAAXY) dan steril.
Seperti halnya dengan lalat betina super, maka lalati ni tidak lama
hidupnya.
Lalat dengan kromosom X yang melekat. Lalat ini betina, tetapi
kedua kromosom-X saling melekat pada salah satu ujungnya.
Disamping itu lalat ini memiliki sebuah kromosom-Y, sehingga lalat
dengan kromosom-X yang melekat mempunyai formula kromosom
3AAXXY.

TEORI KESEIMBANGAN TENTANG


SEKS
1. Seks lalat tidak semata mata tergantung dari
hadirnya kromosom- X dan kromosom-Y, melainkan
lebih tepat ditentukan oleh indeks kelamin, yaitu
perbandingan antara banyaknya kromosom-X terhadap
banyaknya set/stel autosom (X/A)

TEORI KESEIMBANGAN
TENTANG SEKS DARI
BRIDGES

2. Gen gen yang menentukan jantan rupa rupanya


dibawa oleh autosom, sedang gen gen yang
menentukan betina dibawa oleh kromosom-X
3. kromosom-Y lebih banyak mengatur fertilitas pada
lalat jantan.
4. Indeks kelamin (X/A) > 1,00 atau < 0,50 menghasilkan
kelainan pada Droshophila (betina super dan jantan
super)
5. Indeks kelamin (X/arA) <1,00 tetapi >0,50
menghasilkan lalat interseks (antara betina dan jantan)

GEN TRANSFORMER (PENGUBAH)


Sebuah gen resesif tra dalam autosom nomor 3 bila
homozigot akan mengubah lalat betina normal
(AAXX) menjadi lalat jantan steril.
Lalat XX tratra memiliki sifat kelamin sekunder,
antara lain sex comb.

Tabel Indeks Kelamin (X/A)


pada Drosophila untuk
menentukan jenis kelamin.
SusunanKelamin

IndeksKelamin X/A

Kelamin

AAXXX

3/2 = 1,50

Betina Super

AAAXXXX

4/3 = 1,33

Betina Super

AAXX

2/2 = 1,0

Betina

AAAAXXXX

4/4 = 1,0

BetinaTetraploid (4n)

AAAXXX

3/3 = 1,0

Betina Triploid (3n)

AAAAXXX

3/4 = 0,75

Interseks

AAAXX

2/3 = 0,67

Interseks

AAXY

1/2 = 0,50

Jantan

AAAAXXY

2/4 = 0,50

Jantan

AAAXY

1/3 = 0,33

Jantan Super

PADA MANUSIA
Formula kromosom manusia :
Wanita
pria
>> 22AAXX
>> 22AAXY
>>46,XY
>>46, XY

Ginospermium yaitu, spermatozoa kromosom yang


memiliki 22 autosom dan sebuah kromosom X sehingga
formulanya 22AX
Androspermium yaitu spermatozoa yang memiliki 22
autosom dan sebuah kromosom Y sehingga formulanya
22AY. Andropermium memiliki ukaran yang ebih kecil
jika dibandingkan dengan ginospermium

Apabila sebuah sebuah sel telur dibuahi oleh


ginospermium maka anak yang dihasilkan adalah anak
perempuan. Tetapi bila sel telur dibuahi oleh
androspermium maka anak yang dihasilkan adalah lakilaki

PERBANDINGAN SEKS PADA


MANUSIA
Beberapa motivasi mengenai perbandingan seks
yang melebihi jumlah dibanding seks yang lain :
a.
migrasi, dapat mengakibatkan kelebihan salah
satu seks tetapi tidak untuk seluruh populasi
dalam suatu negeri
b.
Keepatan sperma
c.
Diameter sperma
d.
Kelompok umur

PENENTUAN JENIS SEKS


Pada tumbuhan
Tumbuhan dioesis (berumah dua) memiliki bunga
yang hanya memiliki putik atau hanya benang sari
saja. Disini dapat dibedakan antara bunga jantan
dan bunga betina
TIPE XO
Berlaku bagi serangga sep : belalang. Betina
memiliki dua kromosom X(XX) sedang jantan
hanya satu kromosom-X (XO)

TIPE ZW
Pada burung, kupu kupu dan beberapa jenis ikan.
Betina
bersifat
heterogametik,
sedang
jantan
homogametik. Jadi burung betina adalah ZW sedang
jantan ZZ
TIPE ZO
Pada unggas (ayam, itik dsb). Betina : ZO/XO dan jantan
ZZ/XX
TIPE PLOIDI
Pada lebah madu (Apis sp.)
dibuahi sperma(n)
Sel telur (n)
lebah betina (2n)
partenogenesis
Sel telur (n)
lebah jantan (n)

HIPOTESA LYON

Mary F. Lyon mengajukan hipotesis bahwa kromatin


kelamin merupakan kromosom X yang mengalami
kondensasi atau heterokromatinisasi sehingga secara
genetik menjadi inaktif (tidak aktif). Hipotesis ini
dilandasi hasil pengamatannya atas ekspresi gen
rangkai X yang mengatur warna bulu pada mencit.
Individu betina heterozigot memperlihatkan fenotipe
mozaik yang jelas berbeda dengan ekspresi gen
semidominan (warna antara yang seragam). Hal ini
menunjukkan bahwa hanya ada satu kromosom X yang
aktif di antara kedua kromosom X pada individu betina.
Kromosom X yang aktif pada suatu sel mungkin
membawa gen dominan sementara pada sel yang lain
mungkin justru membawa gen resesif.

Berdasarkan hipotesa Lyon banyaknya kromatin


kelamin yang dijumpai pada suatu individu adalah sama
dengan banyaknya kromosom-X yang dimiliki oleh
individu tersebut dikurangi dengan satu. Perempuan
normal memiliki kromosom XX maka ia memiliki 1
kromatin kelamin. Sedangkan pada pria kromosomnya
adalah XY sehingga tidak memiliki kromosom kelamin.
Selain itu kromosom kelamin juga digunakan untuk
diagnose terhadap berbagai kelainan kromosom pada
manusia.

Anda mungkin juga menyukai