Anda di halaman 1dari 39

ACARA I

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI YAKULT


TERHADAP BAKTERI PATOGEN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Antimikroba adalah senyawa yang digunakan untuk membunuh mikroba,
khususnya mikroba yang merugikan manusia. Antibiotik adalah zat yang dihasilkan
oleh suatu mikroba, terutama fungi yang dapat menghambat atau dapat membasmi
mikroba lain. Banyak antibiotik yang dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.
Antimikroba yang digunakan untuk membunuh mikroba, ditentukan haruslah
memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya, antimikroba tersebut
haruslah bersifat sangat toksik terhadap mikroba. Pada minuman prebiotik YAKULT
digunakan kultur bakteri Lactobacillus casei yang berperan sebagai antibiotik dan
melawan bakteri bakteri patogen pada usus. Oleh karena itu perlu dilakukan
praktikum ini, untuk menguji aktivitas antimikroba dari YAKULT.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui aktivitas bakteri asam
laktat yang berasal dari YAKULT terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan
Escherichia coli.

TINJAUAN PUSTAKA
Antibiotika adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan atau diturunkan oleh
organisme hidup, termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, yang
dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan
mikroorganisme. Pada awalnya antibiotik diisolasi dari mikroorganisme, tetapi
sekarang beberapa antibiotika ditemukan dari tanaman tinggi atau binatang
(Soekardjo, 1995).
Suatu zat anti mikroba biotik kemoteurapeutik yang idealnya hendak memiliki
sifat-sifat mempunyai kemampuan untuk merusak atau membunuh mikroorganisme
patogen spesifik. Makin besar jumlah dan macam mikroorganisme yang dipengaruhi
makin baik. Tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk-bentuk resisten parasit.
Tidak menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki pada inang, seperti reaksi
alergis, kerusakan pada saraf, iritasi pada ginjal atau saluran gastrointestin. Tidak
melenyapkan flora mikrobia normal pada inang. Gangguan pada flora normal dapat
mengacaukan keseimbangan alamiah sehingga memungkinkan mikroba yang
biasanya non patogenik atau bentuk-bentuk patogenik yang semula dikendalikan
oleh flora normal, untuk menimbulkan infeksi baru (Pelczar, 1996).
Minuman probiotik merupakan istilah lain untuk menyebut minuman
fermentasi asam laktat. probiotik (Bahasa Yunani probiotic = untuk hidup) adalah
minuman kesehatan yang mengandung bakteri asam laktat hidup yang mampu
bertahan hidup dalam keasaman lambung sehingga dapat menempati usus dalam
kuantitas yang cukup besar (Waspodo, 1997).

Lactobacillus casei yang digunakan sebagai starter pada produk minuman


probiotik termasuk jenis bakteri asam laktat homofermentatif, yaitu bakteri yang
memfermentasi glukosa menjadi asam laktat dalam jumlah besar (90%). Selain
asam laktat juga dihasilkan asam sitrat, malat, suksinat, asetaldehid, diasetil dan
asetai dalam jumlah yang kecil, yang mempengaruhi citarasa minuman probiotik
(Speck, 1978).

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 12 Mei 2014 di Laboratorium
Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas
Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a.

Alat- alat Praktikum


Adapun alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cawan petri,

b.

tabung reaksi, paper disk, bunsen, vortex, pipet mikro dan yellow tip.
Bahan- bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu YAKULT,
Trypticase Soy Broth (TSB), Trypticase Soy Agar (TSA), kultur bakteri
Escherichia coli, Staphylococcus aereus, buffer phospat dan alkohol

Prosedur Kerja
1. Dimasukkan kultur Eschericia coli dan Staphylococcus aureus pengenceran

10

CFU/ml pada media cair TSB.

2. Diambil 1 ml kultur dan dimasukkan ke cawan petri dan diberi media TSA 100 ml
lalu dibekukan.
3. Dipasang paper disk dan ditetesi 0,75 ml YAKULT di atas paper disk
4. Diinkubasi pada suhu 37C selama 18 jam
5. Diukur zona penghambatannya dengan rumus :

Zp=

D1+ D 2
2

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Aktivitas Anti Mikroba dari YAKULT
Kelompok
Escherichia coli
Staphylococcus aereus
D1
D2
D1
D2
1
0
0
0
0
2
0
0
0
0
3
0
0
0
0
4
0
0
0
0

PEMBAHASAN
Awal abad ke-20, telah dinyatakan bahwa asam laktat dan produk lain yang
terdapat dalam susu yang difermentasi oleh bakteri asam laktat dapat menghambat
pertumbuhan dan pembentukan toksin bakteri bakteri yang berspora yang anaerobic
dalam usus besar. Keunggulan tersebut mengakibatkan produk susu hasil
fermentasi menjadi bahan pangan yang dikenal dan disukai masyarakat serta
dipercayai sebagai makanan kesehatan. Fermentasi susu menghasilkan produk
produk metabolik seperti asam laktat, asam asetat dan hidrogen peroksida serta
senyawa bakteriosin misalnya : aridofilin, asidolin, bulgarika, nisin, diplococcin dan
sebagainya, yang dapat mencegah dan menghambat pertumbuhan mikroba
patogenetik dan mikroba perusak (Kilara, 1978).
Praktikum ini dilakukan uji aktivitas dari YAKULT terhadap beberapa bakteri
patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dari hasil uji yang
dilakukan, didapatkan bahwa setiap penambahan 0,75 ml YAKULT tidak mampu
menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
dengan

konsentrasi

kultur

107

CFU/ml.

beberapa

faktor

yang

dapat

mempengaruhnya seperti suhu penyimpanan YAKULT, konsentrasi penambahan


YAKULT, peranan Lactobacillus casei, dan masa inkubasi. YAKULT yang digunakan
sebagai kultur sebaiknya disimpan pada suhu di bawah 10C. Apabila YAKULT
disimpan pada suhu di atas 10C akan mengakibatkan turunnya kualitas, karena
Lactobacillus casei akan inaktif. Diketahui bahwa bakteri vibrio dan bakteri kolera
dalam YAKULT yang mengandung Lactobacillus casei akan mati dalam 5 menit.
Sedangkan bakteri disentritifus dan Staphylococcus aureus akan mati dalam waktu

yang lebih lama yaitu 30-40 menit. Sementara itu bakteri koliform adalah bakteri
paling tahan terhadap bakteri asam laktat, karena mati setelah 60 menit (Anonim,
1990). Dilihat dari paper disk yang ditanam pada media TSA tidak ada zona hambat
yang didapat.
Dalam sebotol YAKULT terdapat lebih dari 6,5 milyar bakteri Lactobacillus
casei hidup yang seharusnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan
bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang banyak terdapat pada
usus. Lactobacillus cereus sebagai gram positif dapat menghasilkan asam laktat dan
juga menghasilkan protein yang bersifat bakterisidal terhadap bakteri gram positif
dan gram negatif yang disebut bakteriosin (Tahara, 1996). Bakteriosin mempunyai
aktivitas antimikroba terhadap patogen pencemar makanan (foodborne) dan
organisme berspora lainnya (Karaoglu, 2003). Menurut penelitian dari Nowroozi
(2004), menyatakan bahwa Lactobacillus mempunyai aktivitas antimikroba terhadap
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Lactobacillus casei Shirota Strain adalah galur unggul yang cocok untuk
dikembangkan dalam minuman berbahan dasar susu
2. Antimikroba yang berperan untuk membunuh bakteri pada produk YAKULT yaitu
bakteri asam laktat dengan jenis Lactobacillus casei.
3. Penambahan 0,75 ml YAKULT tidak mampu menghambat pertumbuhan kultur
bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
4. Beberapa faktor penyebab tidak ada zona hambat adalah suhu penyimpanan
dan konsentrasi penambahan YAKULT, Lactobacillus casei mengalami masa
dormansi atau masa subletal.
5. Dalam sebotol YAKULT terdapat lebih dari 6,5 milyar bakteri Lactobacillus casei
hidup.

ACARA II
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI ASAP CAIR
TERHADAP BAKTERI PEMBUSUK DAN PATOGEN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Asap cair merupakan suatu campuran dispers asap kayu dalam air yang
dibuat dengan mengkondensasikan asap hasil pembakaran kayu. Asap cair telah
digunakan secara komersial sebagai bahan pemberi aroma pada ikan dan daging
karena adanya komponen flavor dari senyawa-senyawa fenolik. Asap cair
mempunyai beberapa keunggulan, yaitu memiliki aktivitas antibakteri, penggunaan,
dosis dan penanganan lebih mudah serta komponen-komponen yang berbahaya
seperti tar yang mengandung hidrokarbon aromatik, termasuk benzo(a)-pyrene
dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum ini untuk mengetauhui
dan menguji aktivitas antimikroba yang ada dalam asap cair terhadap beberapa
bakteri patogen.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk menguji dan mengetahui aktivitas
antimikroba dari asap cair terhadap bakteri patogen dan pembusuk.

TINJAUAN PUSTAKA
Asap cair telah banyak digunakandan diproduksi secara komersial untuk
diperdagangkan. Pemanfaatan asap cair dibedakan berdasarkan kualitasnya.
Tingkat 1 dengan karekteristik berwarna bening, rasa sedikit asam, kualitasnya
tinggi, dan tidakmengandung senyawa berbahaya untuk diaplikasikan dalam produk
pangan sehingga dapat dijadikan sebagai pengawet makanan. Asap cair tingkat 2
digunakan sebagai pengawet makanan dengan rasa asap seperti daging asap dan
bandeng asap. Sedangkan tingkat 3 tidak digunakan sebagai bahan pengawet
makanan, tetapi digunakan dalam pengolahan karet, penghilang bau, dan pengawet
kayu (Astuti, 2000).
Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang,
termasuk dalam grup Enterobacteriaciae dan dipakai sebagai indikator terhadap
kontaminan feses pada air dan susu, bersifat motil dengan flagella peritikus. Tumbuh
optimum pH 7-7,5 dengan pH minimum 4 dan pH maksimum 8,5. Bakteri ini
sensitive terhadap panas dan pada makanan yang mengalami pemanasan, suhu
optimum 37C dengan kisaran suhu 10-40C (Frazier dan Westhoff, 1987).
Cara pembuatan asap cair adalah dengan memasukkan 100-150 kg
tempurung kelapa ke tungku pirulis (terbuat dari stainless) kemudian ditutup rapat
tanpa ada udara yang kelua, setelah itu dilakukan proses pemanasan dengan
menggunakan model kompor bertekanan tinggi. Setelah dipanaskan setengah jam,
dari dalam tungku tersebut akan mengeluarkan zat semacam ter yang bermanfaat
sebagai pengawet kayu. Asap yang tidak menetes dalam bentuk ter, selanjutnya
disalurkan dalam pipa kemudian masuk kumpara. Di dalam kumparan, terdapat

tungku kedua dalam bentuk drum yang telah diisi air. Uap asap yang mengalir
tersebut mendingin dan mencair, lalu disalurkan ke dalam tungku ketiga. Karena uap
cair ini masih belum bening dan masih mengandung zat berbahaya, dalam proses ini
uap cair akan diuapkan kembali (destilasi). Setelah melalui dua kali proses destilat,
uap cair akan menjadi bening (Bambang, 2004).

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Mei 2014 di Laboratorium
Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas
Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah paper disk,
cawan petri, pipet mikro, pinset, tip, vortex dan tabung reaksi.
b. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah asap cair,
alkohol, kultur bakteri Escherichia coli, Bacillus cereus, media Trypticase Soy
Agar (TSA) dan Trypticase Soy Broth (TSB).

Prosedur Kerja
1.
2.
3.
4.
5.

Dimasukkan 1 ml kultur Bacillus cereus dan Escherichia coli kedalam media TSB
Divortex dan diambil 1 ml masing-masing ke dalam TSA.
Dituangkan ke dalam cawan petri dan dibiarkan membeku.
Diletakkan paper disk
ditengah cawan, kemudian ditetesi 0,075 ml asap cair.
Diinkubasi selama 48 jam dan diamati zona hambat.

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Hasil Pengamatan Zona Penghambatan Asap Cair
Kelompo
Bacillus cereus
Zp
Escherichia coli
U1
U2
U1
U2
k
(cm)
D1 D2 D1 D2 U1
U2 D1 D2 D1 D2
1
5,5 4,4 5,9 3,8 4,9
4,8 5,8 5,0 5,7 3,5
2
5
2
5,0 5,0 4,9 4,5 5,0
4,5 4,0 4,2 5,1 4,4
3
6,2 4,5 5,9 4,0 5,3
4,9 3,9 3,8 4,3 3,9
5
5
4
4,0 3,9 4,1 5,0 3,9
4,5 3,3 3,4 4,1 3,6
5
5
Hasil Perhitungan
Bacillus cereus
Kelompok 1: U1

D 1+ D 2 5,5+ 4,4
=
=4,95 cm
2
2

U2

D 1+D 2 5,9+3,8
=
=4,85 cm
2
2

Kelompok 2 U1

D 1+ D 2 5,0+5,0
=
=5,0 cm
2
2

U2

D 1+ D 2 4,5+4,5
=
=4,5 cm
2
2

Kelompok 3 U1

D 1+D 2 6,2+4,5
=
=5,35 cm
2
2

U2

D 1+ D 2 5,9+ 4,0
=
=4,95 cm
2
2

Zp
(cm)
U1
U2
5,4 5,35
4,1
3,8
5
3,3
5

4,75
4,1
3,85


Kelompok 4 U1

D 1+ D 2 4,0+3,9
=
=4,55 cm
2
2

D 1+ D 2 4,1+ 5,0
=
=4,55 cm
2
2

Kelompok 1 U1

D 1+ D 2 5,8+5,0
=
=4,4 cm
2
2

U2

D 1+ D 2 5,7+3,5
=
=5,35 cm
2
2

Kelompok 2 U1

D 1+ D 2 4,0+4,2
=
=4,1 cm
2
2

U2

D 1+ D 2 5,1+ 4,4
=
=4,75 cm
2
2

Kelompok 3 U1

D 1+ D 2 3,8+3,9
=
=3,85 cm
2
2

U2

D 1+ D 2 4,3+3,9
=
=4,1 cm
2
2

Kelompok 4 U1

D 1+ D 2 3,3+3,4
=
=3,35 cm
2
2

U2

D 1+D 2 4,1+3,6
=
=3,85 cm
2
2

U2
Escherichia coli

PEMBAHASAN
Asap cair (liquid smoke) merupakan suatu hasil kondensasi (pengembunan)
dari uap hasi pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahanbahan yang mengandung lignin, selulosa, hemiselulolsa dan karbon (Darmadji,
1996). Asap cair telah banyak diaplikasikan pada industry pangan sebagai pengawet
karena bersifat antimikroba dan antioksidan. Teknologi asap cair dapat digunakan
pada daging dan hasil ternak, daging olahan, keju, dan pengasapan ikan. Selain itu
juga digunakan pada saus, sayur kaleng, bumbu dan rempah-rempah sebagai
penambah cita rasa. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan asap cair
adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu dan sebagainya
(Amritama, 2007).
Asap cair diperoleh dari tahap pirolisis atau grade 3 yang masih banyak
mengandung tar dan benzopiren sehingga tidak aman bila diaplikasikan untuk
pengawet makana, di grade 3 digunakan pada pengolahan karet penghilang baud
an pengolahan kayu agar tahan terhadap rayap. Untuk meningkatkan mutu asap
cair, maka dilakukan proses destilasi (grade 2) yang dapat digunakan sebagai
pengawet ikan pengganti formalin dengan taste asap yang masih kental (daging
asap, ikan asap). Selanjutnya dilakuka kembali redestilasi (grade 1) digunakan
sebagai pengawet makanan seperti bakso, mie, tahu, bumbu barbeque. Di grade 1
memiliki kualitas tinggi, aroma netral tidak mengandung senyawa yang berbahaya
untuk diaplikasikan pada digunakan makanan.
Praktikum uji aktivitas antimikroba dari asap cair terhadap bakteri patogen
dan pembusuk ini digunakan asap cair grade 1. Bakteri patogen yang digunakan

adalah Escherichia coli dan bakteri pembusuk yang digunakan adalah Bacillus
cereus. Dari hasil pengamatan, dapat dilihatzoba hambat dari asap cair dengan
volume konsentrasi 0,75 ml mampu menghambat pertumbuhan kultu Escherichia
coli dan Bacillus cereus pada media TSB. Bacillus cereus merupakan bakteri gram
positif dengan dinding sel yang disusun oleh rantai tetrapeptida dan jembatan
interpeptida yang terdiri dari lima unit glisin. Bacillus cereus lebih resisten dari pada
Escherichia coli terhadap asap cair. Unit asam meramat pada Bacillus cereus
disibtusi oleh tetrapeptida yang dihubungkan oleh jembatan interpeptida dengan
ikatan kovalen yang menghasilkan struktur yang kuat, sehingga struktur ini sangan
tahan terhadap kerusakan (Thorpe, 1995).

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Asap cair (liquid smoke) merupakan suatu hasil kondensasi (pengembunan) dari
hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan
yang banyak mengandung lignin, selulosa hemiselulosa dan senyawa karbon
lainnya (Darmadji, 1996).
2. Asap cair diperoleh dari pirolisis (grade 3), proses destilat (grade 2), dan proses
redestilat (grade 1) yang baik digunakan sebgai pengawetan pangan.
3. Kultur Bacillus cereus lebih resisten dibandingkan dengan Escherichia coli
terhadap asap cair.
4. Asap cair bersifat bakterisidal terhadap kultur bakteri Bacillus cereus dan
Escherichia coli.
5. Bacillus cereus merupakan bakteri pembusuk dan Escherichia coli adalah bakteri
patogen.

ACARA III
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA PADA KITOSAN
TERHADAP BAKTERI PATOGEN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Antimikroba merupakan senyawa yang dapat menghambat, mencegah, dan
membunuh, pertumbuhan mikroba. Hewan merupakan salah satu penghasil
senyawa antimikroba alami. Misalnya pada udang dan kepiting, dimana dari kedua
kulit dan cangkang hewan ini mengandung senyawa antimikroba yang disebut
dengan kitin dan khitosan. Khitosan dapat berinteraksi dengan muatan negatif pada
permukaan sel bakteri. Adanya kerusakan pada dinding sel mengkibatkan
perlemahan kekuatan mikroba menjadi rusak. Oleh kerena itu, untuk mengetahuinya
perlu dilakukan praktikum mengenai khitosan.
Tujuan praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui aktivitas
antimikroba dari kitosan terhadap bakteri patogen.

TINJAUAN PUSTAKA
Kitosan merupakan polimer kationik yang bersifat non toksik, dapat
mengalami biodegradasi dan biokompatibel. Kitosan juga memiliki kegunaan yang
sangat luas dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebagai adsorben limbah logam
berat dan zat warna, pengawet, antijamur kosmetik, farmasi, flokulan, antikanker,
dan antibodi. Kitoasan dapat aktif dan beriteraksi dengan sel, enzim, atau matrik
polimer yang bermuatan negatif (Stephen, 1995).
Sumber kitosan sangat berlimpah di alam terutama dari golongan hewan
Crustaceans seperti udang dan kepiting. Indonesia merupakan Negara bahari yang
sangat melimpah akan sumber-sumber kitosan seperti udang dan limbah kulit udang
yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat banyak kurang dimanfaatkan dengan
baik (Liu, 2006).
Melimpahnya sumber kitosan ini dapat dijadikan alternatif untuk bahan dasar
produksi antimikroba yang ramah lingkungan dan tidak toksik sehingga pada
akhirnya dapat memenuhi kebutuhan tekstil dan pangan antimikroba di dalam negeri
tanpa impor dan mencemari lingkungan (Brooks, 1986). Kitosan diperoleh melalui
beberapa tahapan proses yaitu proteinase, dimenarilisase, dipegmentasi dari
cangkang udang sehingga diperoleh kitin atau kitosan. Kitosan kemudian didestilasi
melalui proses hidrolisis basa menggunakan basa kuat dan pekat sehingga
diperoleh kitosan (Winarno, 1998).

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Mei 2014 di Laboratorium
Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas
Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri,
pipet, lampu Bunsen, pinset, tabung reaksi, inkubator, kertas label dan vortex.
b. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
suspensi Pseudomonas, Bacillus cereus, kitosan, paper disk, alkohol media
Tripticase Soy Broth.
Prosedur kerja
1. Diambil media Tripticase Soy Broth (TSB) yang telah ditambahkan kultur
Pseudomonas, dan Bacillus cereus.
2. Diambil 1 mL dan dimasukkan kedalam cawan petri kosong, kemudian

Zp=

D1+ D 2
2

3.
4.
5.
6.

dibekukan.
Diletekkan paper disk diatas media yang telah dibekukan.
Diteteskan 75 l kitosan di atas paperdisk.
Diinkubasi pada suhu 37C selama 2 hari
Diukur dan dihitung zona penghambatan dengan rumus:

Keterangan:

D1 : diameter 1
D2 : diameter 2

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


Hasil Pengamatan
Table 3.1. Hasil Pengamatan Zona Hambat Kitosan Terhadap Bakteri Patogen dan
Pembusuk.
Zona Penghambatan
Bacillus cereus
Pseudomonas sp
Kelopok
D1
D2
D1
D2
U1
U2
U1
U2
U1
U2
U1
U2
1
2
3
4
-

ACARA IV
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI
TERHADAP BAKTERI PATOGEN DAN PEMBUSUK
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional telah berlangsung sejak dulu
dimasyarakat kita. Berbagai jenis tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat
tradisional. Salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional
adalah Jambu biji (Psidium guajava L). Tanaman ini biasanya digunakan untuk
mengobati diare. Jambu biji memliki kandungan pektin tinggi sehingga dapat
menurunkan kolesterol dan mengandung tannin sehingga dapat memperlancar
fungsi pencernaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum ini untuk mengetahui
dan menguji aktivitas antimikroba dari ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L).
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari
ekstrak daun jambu biji terhadap bakteri patogen dan pembusuk.

TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional
ialah Jambu biji (Psidium guajava L.). Jambu biji biasanya digunakan sebagai obat
diare. Jambu biji atau jambu klutuk mengandung pektin tinggi sehingga dapat
menurunkan kolesterol serta mengandung tanin yang berfungsi untuk memperlancar
sistem pencernaan. Senyawa kimia yang terkandung di dalam buah jambu salah
satunya adalah Quersetin adalah senyawa golongan flavonoid jenis flavonol dan
flavon, yang berkhasiat diantaranya untuk mengobati kerapuhan pembuluh kapiler
pada manusia (Yuliani, 2003).
Salah satu senyawa aktif yang terkandung pada jambu biji adalah tanin.
Departemen Kesehatan pada tahun 1989 menyatakan bahwa bagian tanaman yang
sering digunakan sebagai obat adalah daunnya, karena daunnya diketahui
mengandung senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat.
Penelitian Claus dan Tyler pada tahun 1965 menyebutkan bahwa tannin mempunyai
daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang disebabkan bakteri atau jamur
(Rohmawati, 2008).
Tanin bersifat anti bakteri dengan cara mempresipitasi protein. Efek anti
mikroba tannin melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, destruksi atau
inaktivitasi

fungsi

materi

genetik.

Alkaloid,

flavonoid

dapat

menghambat

pertumbuhan bakteri Staphylococcus aereus (Ajizah, 2004). Hasil skrining fitokimia,


daun jambu biji mengandung metabolit sekunder, terdiri dari tanin dan polifenolat,
flavonoid, monoterpenoid, siskulterpen, alkaloid, kuinon dan saponin (Kurniawati,
2006).

Tanin merupakan komponen utama dalam daun jambu biji, karena jumlah
kandungan tanin lebih banyak dibandingkan dengan kandungan senyawa lainnya
(Depkes, 1989). Berdasarkan efektif kerjanya, senyawa antibakteri dibagi menjadi
dua jenis, yaitu senyawa anti bakteri berspektrum luas dan berspektrum sempit.
Senyawa anti bakteri berspektrum luas efektif terhadap bakteri yang bersifat gram
positif dan negatif, sedangkan senyawa anti bakteri berspektrum sempit hanya
efektif untuk bakteri yang bersifat gram positif atau gram negatif saja (Jamaludin,
2005).

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Juni 2014 di Laboratorium
Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindstri Universitas
Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a. Alat- alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cawan petri,
tabung reaksi, pipet mikro, lampu Bunsen, paper disk dan vortex.
b. Bahan- bahan Praktikum
Adapun bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu ekstrak
daun jambu biji, kultur bakteri Bacillus cereus, Escherichia coli, media Trypticase
Soy Agar (TSA), Trypticase Soy Broth (TSB) dan larutan uffer
Prosedur Kerja
1. Dimasukkan kultur Bacillus cereus dan Escherichia coli kedalam media TSB
2. Diambil 1ml kultur dan dimasukkan ke cawan dan diberikan media TSA dan
dibekukan.
3. Di pasang paper disk lalu diteteskan 0,75 ml ekstrak daun jambu biji diatas

ZP=

D 1+ D 2
2

paper disk.
4. Diinkubasi pada suhu 37 C selama 48 Jam
5. Dihitung zona penghambatannya dengan rumus:

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Aktivitas Anti Mikroba dari Ekstrak Daun Jambu Biji.
Bakteri
D1 D2
Zona Penghambatan (cm)
Bacillus cereus U1
3
1,5
2,25
Bacillus cereus U2
1.5
1
1,25
Eschericha coli U1
2
2
2
Escherichia coli U2
2,5
2
2,25
Hasil Perhitungan
a. Bacillus cereus

ZP=
U1

D 1+ D 2 3+1,5
=
=2,25 cm
2
2

ZP=

D 1+ D 2 1,5+1
=
=1,25 cm
2
2

U2

b. Escherichia coli

U1

U2

ZP=

D 1+ D 2 2+2
=
=2 cm
2
2

ZP=

D 1+ D 2 2,5+ 2
=
=2,25 cm
2
2

PEMBAHASAN
Pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional sampai sekarang masih
berlangsung dan jenis yang digunakan juga banyak. Jambu biji (Psidium guajava L.)
telah lama dimanfaatkan sebagai obat yang dapat menyembuhkan diare, keputihan,
diabetes, sariawan, dan luka berdarah. Tanaman jambu biji terdiri dari beberapa
kultivar antara lain tanaman jambu biji dengan daging buah merah, daging buah
putih dan daging buah kuning (Aliansyahbana, 1993).
Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional adalah daun
yang mengandung minyak atsiri, lemak, dammar, garam- garam mineral, tritirpenoid,
disamping itu juga ada tanin, dan flavonoid yang diduga berkhasiat sebagai anti
diare. Pemakaiannya dengan cara direbus atau diremas-remas halus dengan air dan
garam kemudian disaring air remasan tersebut dan langsung diminum tanpa harus
direbus (Hembing, 1992).
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas anti mikroba yang berasal
dari ekstrak daun jambu biji. Mula-mula daun jambu biji segar dicuci bersih dan
ditimbang, lalu ditumbuk hingga halus. Untuk mendapatkan ektrak daun jambu yang
mencukupi, daun jambu biji yang telah ditumbuk ditambahkan dengan larutan buffer
fosfat sebanyak 8ml, sehingga didapatkan ekstrak daun jambu biji cair.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, didapati zona penghambatan
pada bakteri Bacillus cereus yaitu sebesar 2,25 cm pada uji pertama dan 1,25 cm
pada uji keduanya. Pada bakteri Escherchia coli didapatkan zona penghambatan
sebesar 2 cm pada uji pertama dan 2,25 cm pada uji kedua. Hal ini menyatakan

bahwa ekstrak daun jambu biji dengan penambahan larutan buffer fosfat memiliki
sifat bakterisidal terhadap bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan yang dilakukan dapat
ditarik beberapa kesimpulan yaitu:
1. Bagian tanaman yang digunakan yaitu bagian daun, karena pada daun
terkadung tanin yang tinggi.
2. Media yang digunakan yaitu media Trypticase Soy Agar (TSA) dan Trypticase
Soy Broth (TSB).
3. Kultur bakteri yang digunakan adalah bakteri Bacillus cereus dan Eschericia
coli.
4. Zona penghambatan pada Bacillus cereus sebesar 2,25 cm dan Escherichia
coli sebesar 2 cm.
5. Ekstrak daun jambu biji memiliki sifat bakterisidal terhadap bakteri Bacillus
cereus dan Escherichia coli.

ACARA V
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI EKSTRAK DAUN KIRINYUH
TERHADAP BAKTERI PEMBUSUK DAN PATOGEN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kirinyuh (Chromolaena odorata) yang juga dikenal dengan nama Tekelan (P.
Jawa) memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kirinyuh adalah gulma atau
tumbuhan pengganggu yang sangat merugikan tanaman sekitarnya, karena
merupakan kompetitor dalam penyerapan air dan unsur hara tanah sehingga
penurunan hasil panen sangat tinggi. Namun di sisi lainnya, Chromolaena odorata
ternyata memiliki berbagai potensi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Sebagai contoh digunakan untuk obat deman, insektisida, dan bahkan pakan ternak.
Oleh karena itu, untuk mengetahui potansi daun kirinyuh sebagai antimikroba maka
dilakukanlah pengujian aktivitas terhadap beberapa bakteri pembusuk dan patogen.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui efektifitas
antimikroba dari ekstrak daun kirinyuh (Chromolaena odorata).

TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan kirinyuh memiliki kandungan protein tinggi (21-36%) setara


dengan lamtoro dan turi, asam amino, glisin (4,61%), lisin (2,01%), asam glutamik
(9,38%), lemak kasar (1,88%), serat kasar (11,17%) dan abu (15,92%). Dalam
ekstrak air kirinyuh mengandung senyawa fenol, alkaloid, triterpenoid, tanin,
flavonoid (eupatorin), limonen dan minyak atsiri. Kandungan tanin yang terdapat
dalam daun kirinyuh adalah 2,56% (Romdonawati, 2009). Minyak atsiri pada daun
kirinyuh terdapat -pinene, cadinene, limonene, -caryophyllene (Inya-agha, 1987).
Tanin bersifat antibakteri dengan cara mempresipitasi protein. Efek anti
mikroba tannin melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, destruksi atau
inaktivitasi

fungsi

materi

genetik.

Alkaloid,

flavonoid

dapat

menghambat

pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus (Ajizah, 2004).


Antibiotik adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan atau diturunkan oleh
organisme hidup, termasuk struktur analognya yang dibuat secara sintetik, yang
dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan
mikroorganisme. Pada awalnya antibiotik diisolasi dari mikroorganisme, tetapi
sekarang beberapa antibiotika ditemukan dari tanaman tinggi atau binatang
(Soekardjo, 1995).

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, Mei 2014 di Laboratorium
Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas
Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri,
lampu bunsen, pipet mikro, pinset, inkubator, mortar dan tabung reaksi.
b. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah paper
disk, kultur Pseudomonas sp. dan Staphylococcus aureus, media Trypticase
Soy Broth (TSB), alkohol dan daun kirinyuh.
Prosedur Kerja
1. Bahan ditumbuk dengan mortar
2. Diambil media Trypticase Soy Broth yang telah ditambahkan kultur B. cereus
dan S. aureus.
3. Diambil 5 ml suspensi dan dimasukkan ke dalam cawan petri kosong dan
4.
5.
6.
7.

tunggu bekukan.
Diletakkan paper disk di atas media yang telah dibekukan.
Diteteskan 75 l ekstrak daun pepaya diatas paper disk.
Diinkubasi pada susu 37C selama 18 jam.
Diukur dan dihitung zona penghambatan dengan rumus:
Zona Penghambatan :

d 1+d 2
2

Keterangan :
d1
= Diameter 1
d2
= Diameter 2

HASIL PENGAMATAN
Hasil Pengamatan
Tabel 5.1. Hasil Pengamatan Zona Penghambatan Daun Kirinyuh terhadap
Pertumbuhan Bakteri
Sampel
Pseudomonas sp.
Zp
Staphylococcus aureus
uI
u2
u1
u2
(cm)
d1
d2
d1
d2
d1
d2
d1
d1
Kirinyuh
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Zp
(cm)
0

DAFTAR PUSTAKA
Ajizah, A., 2004. Sensitivitas Salmonella typhymurium Terhadap Ekstrak Daun
Jambu Biji (Psidium guajava L.) Bioscientiae Volume I, No 1. Program Studi
Biologi Universitas Lambung Mangkurat
Anonim, 1990. Yakult Fermented Milk Drink To Promote Health. Yakult Honsha Co.
Ltd. Tokyo, japan
Astuti. 2000. Pemanfaatan Asap cair. Download dari http://alcoconut.
Multiply.com/jurnal. Tanggal 12 mei 2010. Pukul 10.05 WITA.
Departemen Kesehatan, 1989. Vademakum Bahan Obat Alami. Dirjen POM RI.
Jamaludin, D., 2005. Studi Awal Kandungan Steroid dan Uji Aktivitas Anti Bakteri
Ikan Laut dalam (Satyrichthys welchi) dari Perairan Selatan Jawa. Insitutu
Pertanian Bogor Press. Bogor.
Karaoglu, 2003. Handbook of Probiotics and Prebiotics 2sd Edition. John Wiley an
Sons. New Jersey
Liu, 2006. Chitosan On Antibacterial Activity Of Escherechia coli, Carbohydr. Polym.,
64:60-65.
Pelczar, 1998, Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Rohmawati, N., 2008. Efek Penyembuhan Luka Bakar dalam Sediaan Gelekstrat
Etanol 70% Daun Lidah Buaya pada Kulit Punggung Kelinci New Zealand.
Fakultas Farmasi UMS. Surakarta.
Salmien, s, dan wright, A, V. 1993. Lactic Acid Bakteria. Marcel Decker Inc. New
York
Shanani dan kilara, 1978 Dalam Rose, AH, 1982. Fermented Food. Academic Press.
London.
Soekardjo, M.L, 1978. Development In Industrial Microbiology Dalam Rose,
A.H.1982. Economic Microbiology Fermented Food. Volume VII, Academic
Press London.

Stphen, A.M., 1996. Food Polysaccharides And Their Application. Universitry of


Cape Town, Inc, Rondebosch, 442-450.
Taharu, 1996. Lactic Acid Bacteria. CRC Press. ISBN
Waspodo, 1997, Probiotik Bakteri Penyebab Kanker. Intisari
Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta.
Yuliani, S., L Udarno dan E. Hayani, 2003. Kadar Tanin dan Quersetin Tiga Tipe
Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.). Buletin tanaman rempah dan Obat.