Anda di halaman 1dari 30

EVALUATION AND INTERPRETATION OF

BODY COMPOSITION INDICES


(INCI INTERPRETATION)
Makalah
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah
Nutrition Assessment

Oleh

Fepy Sisiliay (A2/145070300111024)

PROGRAM STUDI GIZI KESEHATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berkembang pesatnya teknologi sejalan dengan semakin banyaknya penyakitpenyakit digeneratif antara lain yang disebabkan salah satunya karena pola makan
yang salah seperti diabetes melitus, kanker, hipertensi, jantung koroner. Penyakitpenyakit tersebut dapat mempengaruhi penentuan status gizi seseorang maupun
komunitas. Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan. Status gizi juga didefinisikan
sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan
masukan nutrient.
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan
gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan
terganggu, menurunnya produktifitas kerja dan daya tahan tubuh yang berakibat
meningkatnya angka kesakitan dan kematian. Kecukupan gizi sangat diperlukan
oleh setiap individu sejak janin masih didalam kandungan, bayi, anakanak, masa
remaja, dewasa sampai usia lanjut (Supriyono, 2010). Penelitian status gizi
merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan
riwayat diit (Razak, 2009).
Salah satu macam pengukuran status gizi dengan cara langsung adalah dengan
menggunakan

pengukuran

antropometri.

Metode

antropometri

mencakup

pengukuran dari dimensi fisik dan komposisi nyata dari tubuh (WHO cit Gibson,
2005). Pengukuran antropometri biasanya digunakan untuk mengukur ukuran tubuh
(body size) dan komposisi tubuh (body composition).
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Parameter
adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain : umur, berat badan, tinggi
badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan tebal
lemak di bawah kulit (Supariasa dkk, 2001). Pada pengukuran body composition,
seseorang dapat mengukur massa lemak yang akan dikaitkan dengan peluang orang
tersebut terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan massa lemak dalam
tubuh. Tentunya ada banyak macam pengukuran body composition beserta dengan

kelemahan dan kelebihannya dalam masing-masing cara pengukuran. Oleh karena


itu, dalam makalah ini akan membahas tentang evaluasi dan intepretasi pengukuran
antropometri body composition untuk penilaian status gizi seseorang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud antropometri?
2. Apa saja metode yang digunakan untuk mengukur komposisi tubuh?
3. Bagaimana cara mengevaluasi dan menginterpretasikan data hasil pengukuran
komposisi tubuh?
1.3 Tujuan
1

Untuk mengetahui tentang antropometri.

Untuk mengetahui metode-metode yang dapat digunakan untuk mengukur


komposisi tubuh.

Untuk mengetahui cara mengevaluasi dan menginterpretasikan data hasil


pengukuran komposisi tubuh.

1.4 Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian Ahli Gizi maupun
pembaca mengenai pengukuran komposisi tubuh, sekaligus mengerti cara
mengevaluasi dan menginterpretasikan data hasil pengukuran tersebut. Selain itu
melalui penulisan makalah juga diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan
pertimbangan mengenai pengukuran komposisi tubuh, serta cara mengevaluasi dan
menginterpretasikan data hasil pengukuran komposisi tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthoropos artinya tubuh
dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh. Pengertian ini
bersifat sangat umum sekali (Supariasa, dkk, 2002). Sedangkan sudut pandang gizi,
Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan tingkat gizi. Metode antropometri mencakup pengukuran dari
dimensi fisik dan komposisi nyata dari tubuh (WHO cit Gibson, 2005). Ada dua
macam pengukuran antropometri, yaitu :
1. Body size yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lain-lain.
2. Body composition yang meliputi pengukuran :
a. Fat free mass yang terdiri dari pengukuran : Mid-upper-arm circumference,
mid-upper-arm muscle circumference, dan mid-upper-arm muscle area.
b. Fat mass yang terdiri dari pengukuran : skinfold thickness, waist-hip
circumference ratio, waist circumference, dan limb fat area.
2.2 Metode Evaluasi Tubuh
Terdapat tiga model untuk mengukur komposisi tubuh seseorang yaitu two
compartment model, three compartment model dan four compartment model.
1. Two compartment model
Two compartment model merupakan metode evaluasi komposisi tubuh yang
penghitungannya berdasarkan pada jumlah massa lemak (fat mass) dan jumlah
massa non lemak (fat free mass). Metode ini paling banyak digunakan karena
paling mudah perhitungannya dan tidak membutuhkan banyak variabel untuk
menentukan komposisi tubuh seseorang, sehingga menjadi lebih cepat dan relatif
murah karena tidak memerlukan tes laboratorium.
Rumus :
BW = FM + FFM

Keterangan :

BW

: Body weight atau berat badan (kg)

FM

: Fat mass atau massa lemak (kg)

FFM : Fat free mass atau massa non lemak (kg)


2. Three compartment model
Three Compartment Model adalah Metode evaluasi komposisi tubuh yang
menggabungkan 2 unsur Fat Free Mass(FFM) menjadi 1 komponen. Misalnya
tulang dan protein di gabung.
Rumus :
BW = FM + TBW + S
Keterangan :
BW

: Body weight atau berat badan (kg)

FM

: Fat mass atau massa lemak (kg)

TBW : Total body water atau jumlah air (kg)


S

: Solid (nonaqueous) atau gabungan tulang dan protein (kg)

3. Four compartment model


Four Compartment Model adalah Metode evaluasi komposisi tubuh yang
berdasarkan pada jumlah air (water), tulang (bone), lemak (fat), otot (protein),
dan glikogen yang jumlahnya sangat sedikit, sehingga beratnya sering diabaian.
Rumus :
BW = FM + TBW + Protein + Bone + Glikogen
Keterangan :
BW

: Bogy weight atau berat badan (kg)

FM

: Fat mass atau massa lemak (kg)

TBW : Total body water atau jumlah air (kg)


Protein, Bone dan Glikogen (kg)
Dari tiga metode pengukuran komposisi tubuh tersebut, massa lemak selalu
menjadi perhatian utama. Hal ini karena lemak adalah komposisi tubuh yang bersifat
buruk sehingga dijadikan sebagai prediktor untuk menentukan resiko terjadinya
penyakit degenerative. Lemak tubuh juga merupakan komponen terbanyak dalam
tubuh kita.Komposisi lemak dalam tubuh setiap manusia berbeda. Rata rata
komposisi lemak dalam tubuh wanita sekitar 26,9 % dari total berat badan.
Sementara rata rata komposisi lemak dalam tubuh pria sekitar 14,7 % dari total

berat badan. Berikut adalah distribusi lemak dalam tubuh pada pria dan wanita
(Gibson, 1993).
Tabel Distribusi Lemak dalam Tubuh Pria dan Wanita (Gibson, 1993)
Fat Location

Men

Women

2,1

4,9

Storage fat (depot)

8,2

10,4

Subcutaneous

3,1

5,1

Intermuscular

3,3

3,5

Intramuscular

0,8

0,6

Fat of thoracic and abdominal cavity

1,0

1,2

Total fat

10,5

15,3

Body weight

70,0

56,8

Percentage fat

14,7

26,9

Essential fat (lipids of the bone marrows, CNS,


mammary glands, and other organs)

2.3 Evaluasi dan Interpretasi Data Hasil Pengukuran Komposisi Tubuh


Untuk mengintepretasikan dan evaluasi hasil pengukuran Body Composition
dibagi menjadi 2 yaitu Fat Mass dan Fat Free Mass. Fat Mask berdasarkan pada
Skinfold, Mid Upper Arm Fat Area dan sebagainya. Sedangkan untuk Fat Free
Mask berdasarkan pada Mid-upper arm circumference ( MUAC), Mid-upper arm
muscle circumference ( MUAMC), Mid-upper-arm muscle area ( MUAMA ) dan
Corrected Mid-upper-arm Muscle Area.
1. Pengukuran Massa Lemak Tunggal (Single Measurement)
Pengukuran massa lemak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Selain kita
harus mengetahui cara perhitungan dari data yang telah dihasilkan, tentunya kita
juga harus kemudahan dan kesulitan dari masing-masing cara. Cara perhitungan
lemak tubuh tersebut disesuaikan oleh jenis pengukuran, jenis kelamin dan usia.
Bagian badan yang biasa diukur untuk menentukan jumlah lemak dalam tubuh
adalah trisep, bisep, subscapula, dan suprailiaka. Pada umumnya, rata-rata
komposisi lemak tubuh wanita lebih banyak dari pada komposisi lemak pria.

Lemak tubuh dapat diukur secara absolute (dalam kilogram) maupun dalam
presentase dari berat keseluruhan. Lemak tubuh dapat diperkirakan dengan satu
atau lebiih pengukutan skinfold thickness. Perkiraan awal lemak tubuh dan
kecepatan perubahan lemak dalam tubuh diperlukan untuk memantau keparahan
dan ketidakseimbangan asupan energi-protein. Hilangnya lemak tubuh secara
besar-besaran dapat mengindikasikan adanya katidakseimbangan energi.
Namun, perubahan kecil pada lemak tubuh tidak dapat diukur seara akurat
menggunakan metode antropometri.
a. Triceps Skinfolds
Triseps skinfold merupakan pengukuran lemak pada titik tengah bagian
belakang lengan atas tangan yang jarang digunakan. Tebal lemak pada
triseps ini merupakan suatu area yang sering digunakan untuk mengestimasi
secara tidak langsung ukuran dari tempat penyimpanan lemak subkutan
karena pada area ini dianggap yang paling memprosentasikan lemak tubuh.
Anggapan ini sebenarnya tidak benar, karena distribusi lemak subkutan
tidak seragam pada seluruh tubuh dan bervariasi pada setiap jenis kelamin,
ras, dan usia. Namun, pengukuran triseps sering digunakan karena mudah,
sopan. Triseps skinfold ini memiliki korelasi koefisien dengan :
% lemak tubuh

: 0,70 (pria) dan 0,77 (wanita)

Total lemak tubuh

: 0.73 (pria) dan 0,80 (wanita)

Cara mengintepretasikan tebal lemak triseps adalah :

Menentukan ketebalan lemak pada triseps.

Gambar : Contoh pengukuran triceps skinfolds

Setelah diketahui data ketebalan lemak pada trisep, kemudian mencari


persentase mediannya, yaitu sebagai berikut :

Tabel Persentil Pengukuran Trisep Berdasarkan Umur dan Kelamin (Gibson,


1993)

Setelah mendapatkan persentase median, maka dapat diinterpretasikan


hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi antropometri.
Tabel Klasifikasi Evaluasi Fat Status (Fransisco, 1990)

Contoh soal :
Ny. R berumur 29 tahun, memiliki tebal trisep 18 mm. Berapa persentil
ketebalan trisep dan bagaimana status lemaknya?
Jawab :
. Status lemak Ny. R adalah Excess Fat atau
lemak berlebih.
b. Subscapular Skinfolds
Bagian subscapular terletak di daerah belakang tubuh di bawah tulang
belikat pada bagian punggung kiri. Subscapular skinfold digunakan untuk
mengukur jaringan adipose subkutan dan ketebalan kulit. Subscapular
skinfold memungkinkan untuk memprediksi total lemak tubuh, tekanan
darah dan kadar lemak dalam darah. Pada subscapular setidaknya dilakukan
2 kali pengukuran dan perbedaan diantara keduanya harus kurang dari 1 mm.
Subscapular skinfold memiliki korelasi koefisien :
% lemak tubuh

: 0,75 (pria) dan 0,71 (wanita)

Total lemak tubuh

: 0,79 (pria) dan 0,80 (wanita)

Cara mengintepretasikan tebal lemak subscapular adalah :

Menentukan ketebalan lemak pada subscapular.

Gambar contoh pengukuran subscapular skinfold

Setelah diketahui data ketebalan lemak pada subscapular, maka dapat


dicari persentase median, sebagai berikut :

Tabel Persentil Ketebalan Subscapular Berdasarkan Umur dan Kelamin


(Gibson, 1993)

Setelah mendapatkan persentase median, maka dapat diinterpretasikan


hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi antropometri.
Tabel Klasifikasi Evaluasi Fat Status (Frisancho, 1990)

Contoh Soal :

Tn. T berumur 45 tahun, memiliki tebal subscapular 11 mm. Berapa


persentil median subscapular dan bagaimana status lemaknya?
Jawab :
Status lemak Tn. T adalah average
atau normal.
2. Pengukuran Massa Lemak Multiple (Multiple Measurement)
Kombinasi pengukuran skinfold untuk beberapa area yang paling optimal
belum diketahui jelas karena tidak ada satu pun area tubuh yang memiliki
jumlah lemak subkutan yang secara konsisten dapat merepresentasikan jumlah
lemak pada seluruh tubuh. Pada umumnya, dalam studi pada anak-anak dan
dewasa, direkomendasikan untuk mengambil satu hasil pengukuran lemak di
anggota gerak (misalnya triseps) dan satu hasil pengukuran lemak tubuh
(misalnya subskapula).
a. Pengukuran Trisep dan Subscapular
Multiple measurement skinfold ini menggunakan penjumlahan hasil
pengukuran lemak triseps dan subssapular dengan rumus :

Tabel Persentil Ketebalan Trisep dan Subscapular Berdasarkan Umur dan


Jenis Kelamin (Gibson, 1993)

Tabel Kalsifikasi Evaluasi Fat Status (Frinsascho, 1990)

Contoh Soal :

Tn. S berumur 45 tahun, memiliki ketebalan trisep 15 mm dan subscapular


11 mm. Berapa persentil median ketebalan trisep dan subscapular dan
bagaimana status lemaknya?
Jawab :
= 89.66 %. Status lemak Tn. S adalah Excess Fat
atau lemak berlebih.
b. Mid Upper Arms Fat Area
Mid Upper Arm Fat Area adalah luas penampang lemak bagian lengan
atas yang dihitung dari pertengahan lingkar lengan atas dan tebal lipatan
kulit trisep. Perhitungan ini merupakan gabungan dari MUAC (Mid Upper
Arm Circumference) dan ketebalan trisep-skinfold. Cara perhitungannya
adalah :

Menghitung Mid Upper Arm Fat Area menggunakan persamaan :

Keterangan :

= Mid upper arm fat area (mm2)

C1

= Mid upper arm circumference / MUAC (mm)

SKF

= Ketebalan Triceps Skinfold (mm)

Menghitung

prosentase

median

untuk

mid-upper-arm

menggunakan umur, dan jenis kelamin dengan persamaan :

fat

area

Tabel Persentil Mid Upper Arm Fat Area Berdasarkan Umur dan Jenis
Kelamin (Gibson, 1993)

Menentukan Arm Fat Index (AFI) atau indeks lemak di lengan atas, dari
persamaan :

Dalam persamaan diatas, total mid-upper-arm areanya berasal dari


perhitungan :

Setelah mendapatkan nilai AFI, barulah menentukan status fat dari hasil
perhitungan tersebut menggunakan tabel klasifikasi antropometri :

Tabel Klasifikasi Evaluasi Fat Status (Frinsascho, 1990)

c. Waist Hip Ratio (WHR)


WHR dilakukan untuk mengetahui distribusi dari lemak pada subkutan
dan pada jaringan adipose intra-abdomen. Pengukuran waist dilakukan pada
pinggang sedangkan pengukuran hip dilakukan pada pinggul. Yang disebut
lingkar pinggang adalah bagian di atas pusar dan di bawah dada, yakni
bagian terkecil dari tubuh. Pinggul adalah bagian paling lebar dari tubuh.
WHR digunakan untuk mengukur banyaknya cadangan lemak pada perut,
pinggul dan pantat. Berat badan yang terpusat di sekitar abdomen sering
disebut apple shape, sedangkan yang terkonsentrasi di sekitar pinggul
disebut pear shape. Orang dengan berat badan berlebih yang terpusat di
daerah abdomen beresiko lebih besar untuk mengidap penyakit-penyakit
degeneratif dibanding dengan orang yang berat badannya terpusat di daerah
pinggul dan paha.

Gb. Pengukuran WHR

Gb. Apple Shape vs. Pear Shape

Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan WHR


merupakan resiko terhadap penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus.
WHR dan kegemukan secara sinergis merupakan resiko terhadap non insulin
dependent diabetes mellitus. Dalam beberapa penelitian, menyatakan bahwa
pria dan wanita yang memiliki WHR yang tinggi memilik resiko yang lebih
tinggi terkena penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes melitus tipe 2.
Pengukuran massa lemak tubuh dengan metode waist hip ratio ini
dianggap lebih presisi daripada menggunakan metode skinfold. Pengukuran
waist hip ratio dapat dilakukan dengan rumus :

Nilai batas ambang pada pria dan wanita berbeda. Ambang batas (cutoff) resiko terhadap penyakit untuk laki-laki (WHR) 1 sedangkan untuk
wanita

(WHR)

0,85.

Nilai

batas

ini

dapat

digunakan

untuk

menginterpretasikan kemungkinan atau resiko terkena penyakit degeneratif.


Tabel Nilai Ambang Batas WHR Berdasarkan Jenis Kelamin
Pengukuran

Lingkar pinggang
Perbandingan
lingkar pinggang
dan lingkar
pinggul

Pria

Wanita

Resiko

Resiko Sangat

Resiko

Resiko Sangat

Meningkat

Meningkat

Meningkat

Meningkat

> 94 cm
0,9

> 102 cm
1,0

> 80 cm
0,8

> 88 cm
0,9

Tabel Resiko Penyakit Berdasarkan Waist-Hip circumference Ratio (WHR)


Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Jenis

Umur

Kelamin

Resiko
Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat
Tinggi

Laki-laki

Perempuan

20-29

< 0,83

0,83 0,88

0,89 0,94

> 0,94

30-39

< 0,84

0,84 0,91

0,92 0,96

> 0,96

40-49

< 0,88

0,88 0,95

0,96 0,10

> 0,10

50-59

< 0,90

0,90 0,96

0,97 1,02

> 1,02

60-69

< 0,91

0,91 0,98

0,98 1,03

> 1,03

20-29

< 0,71

0,71 0,77

0,78 0,82

> 0,82

30-39

< 0,72

0,72 0,78

0,79 0,84

> 0,84

40-49

< 0,73

0,73 0,79

0,80 0,87

> 0,87

50-59

< 0,74

0,74 0,81

0,82 0,88

> 0,88

60-69

< 0,76

0,76 0,83

0,84 0,90

> 0,90

Contoh Soal :
Seorang remaja putri berumur 17 tahun, memiliki memiliki lingkar pinggang
sebesar 75 cm dan lingkar pinggul 80 cm. Bagaimana tingkat resika remaja
tersebut?
Jawab :
Dengan melihat tabel WHR berdasarkan umur dan jenis
kelamin, remaja tersebut sangat beresiko tinggi terhadap penyakit
degeneratif.
d. Menghitung Total Body Fat
Prosentase lemak tubuh dapat dihitung menggunakan data dari
pengukuran skinfold tunggal (single) atau jumlah dua-empat pengukuran
skinfold.
Prosedur pengukurannya adalah :

Melakukan pengukuran skinfold. Pengukuran skinfold yang dimaksud


adalah pengukuran pada salah satu tempat, seperti trisep, subscapular,
bisep atau suprailiac.

Menghitung body density ( D ) menggunakan rumus :


D = c m (log hasil skinfold)
Keterangan :
D = Body Density
Nilai m dan c dilihat di table Durnin dan Womersley
Nilai m dan c Tabel Durnin dan Womesley (1974)

Menghitung prosentase lemak tubuh


Persamaan perhitungan prosentase lemak tubuh didasarkan asumsi :
berat jenis dari massa bebas lemak relative konstan, berat jenis lemak
pada orang normal tidak berubah masing- masing individunya,
kandungan air dalam massa bebas lemak konstan, proporsi dari mineral
tulang pada otot dalam fat-free body konstan. Kita dapat menghitung
proporsi lemak tubuh dengan rumus :
Siri (1961)
{

Siri menggunakan persamaan yang mengasumsikan bahwa berat


jenis lemak adalah 0.900 gr/cc dan berat jenis pada jaringan bebas
lemak adalah 1.100 gr/cc.
Brozek, et al (1963)
{

Rathbun and Pace (1945)

Persamaan Brozek dan Rathburn and Pace didasarkan atas konsep


referensi tubuh dari berat jenis spesifik dan komposisi, dan
menghindari syarat dari penaksiran pada berat jenis dari massa bebas
lemak.
Setelah kita mendapatkan prosentase jumlah lemak, kita dapat
menginterpretasikannya sebagai berikut :
Tabel Klasifikasi Lemak Tubuh (Lee and Nieman, 1996)
No.

Jenis Kelamin

Klasifikasi
Lean

Optimal

Slightly

Fat

Obese

Overfat
1.

Pria

<8%

8 15 %

16 20 % 21 24 % 25 %

2.

Wanita

< 13 %

13 23 %

24 27 % 28 32 %

33 %

Menghitung berat lemak tubuh total dengan persamaan :

Contoh Soal :
Seorang remaja pria berumur 19 tahun, memiliki berat badan 50 kg dan
tebal subscapular 11 mm. Berapa total berat lemak tubuhnya dan
bagaimana interpretasinya?
Jawab :
D = c m (log skinfold)
Untuk nilai c dan m dilihat pada tabel Durnin JVGA, Womersley J
(1974)
Untuk nilai c = 1.1312
Untuk nilai m = 0.0670
D = 1.1312 0.0670 (log 11)
= 1.1312 0.0670 (1.041)
= 1.1312 0.0697
= 1.0615
(Siri, 1961)

}
{

= 0.16 100 %
= 16 %
Berdasarkan hasil persentase lemak, dapat diinterpretasikan bahwa
wanita tersebut termasuk dalam kategori Slightly Overfat.
3. Pengukuran Massa Bebas Lemak (Fat Free Mass)
Masa bebas lemak adalah massa tubuh manusia tanpa persebaran lemak.
Masa bebas lemak terdiri dari otot rangka atau skeletal muscle, non skeletal
muscle, soft lean tissue, serta tulang. Beberapa cara pengukuran massa bebas
lemak dalam tubuh adalah mid-upper-arm circumference (MUAC), mid-upperarm-muscle circumference (MUAMC), mid-upper-arm muscle area ( MUAMA).

a. Mid Upper Arm Circumference (MUAC)


Mid-upper-arm circumference digunakan untuk mengetahui proteinenergi malnutrisi, karena metode ini dapat menganalisis penurunan massa
otot yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi protein. MUAC yang
dikombinasikan dengan metode skinfold thickness dapat digunakan untuk
menghitung lemak dan jaringan lemak pada lengan.

Gambar Pengukuran MUAC


Setelah mendapatkan data hasil MUAC, maka dapat dicari persamaan
median, dengan rumus :

Tabel Persentil MUAC Berdasarkan Usia dan Kelamin ( Gibson, 1993)

Setelah

mendapatkan

persentase

median,

maka

kita

bisa

menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi


dibawah ini :
Tabel Klasifikasi dan Evaluasi Muscle Status (Frisancho, 1990)

Contoh Soal :
Tn. P berumur 32 tahun, memiliki data MUAC sebesar 200 mm. Berapa
persentil median MUAC Tn. P dan bagaimana muscle statusnya?
Jawab :
Muscle status Tn P adalah average atau
normal.
b. Mid Upper Arm Muscle Circumference (MUAMC)
Pengukuran MUAMC ini didapatkan dari hasil pengukuran MUAC dan
hasil pengukuran triceps skinfold. Pengukuran digunakan untuk mengukur
perubahan pada otot sehingga index cadangan protein dapat diketahui.
Pengukuran MUAMC ini dapat digunakan untuk menilai total massa otot
dan dapat juga digunakan untuk menilai atau menghitung perubahan besar
yang terjadi dalam total massa otot pada tubuh karena otot merupakan pusat
penyimpanan protein, maka dengan pengukuran ptotein otot, kita dapat
mengetahui cadangan protein dalam tubuh. Sayangnya, rasio MUAMC
tergantung pada usia dan penyakit tertentu yang diderita subyek. Berikut ini
persamaan yang digunakan :

Untuk menghitung mid-upper-arm muscle circumference (MUAMC)


MUAMC = MUAC ( TSK)
Keterangan :
MUAC (mm)
TSK = Triceps Skinfold Thickness (mm)

Untuk menghitung persentil median MUAMC

Tabel Persentil MUAMC Berdasarkan Usia dan Kelamin (Gibson, 1993)

Setelah

mendapatkan

persentase

median,

maka

kita

bisa

menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi


dibawah ini :
Tabel Klasifikasi dan Evaluasi Muscle Status (Frisancho, 1990)

Contoh Soal :
Ny. A berumur 28 tahun, memiliki ketebalan trisep 18 mm dan data MUAC
sebesar 150 mm. Berapa persentil median MUAMC Ny. A dan bagaimana
muscle statusnya?
Jawab :
MUAMC = 150 (3.14 18)
= 150 56.52
= 93.48
Muscle status Ny. A adalah average atau
normal.
c. Mid Upper Arm Muscle Area (AMA)
Mengukur arm muscle area (AMA), dapat menghitung dan mengestimasi
cadangan protein dalam tubuh. Penggunaan AMA ini didapatkan dari hasil
pengukuran MUAC dan hasil pengukuran triceps skinfold. AMA dinilai dan
dianggap lebih baik daripada MUAC dan MUAMC. Kita dapat menghitung
nilai AMA dengan rumus sebagai berikut :

Menghitung Mid upper muscle area (AMA) dengan persamaan :

Keterangan :
AMA = Mid Upper Muscle Area (mm)
MUAC = Mid Upper Arm Circumference (mm)
TSK = Triceps Skinfold (mm_

Untuk menghitung persentil median AMA, yaitu :

Tabel Persentil AMA Berdasarkan Usia dan Kelamin (Gibson, 1993)

Setelah

mendapatkan

persentase

median,

maka

kita

bisa

menginterpretasikan hasil median tersebut ke dalam tabel klasifikasi


dibawah ini :
Tabel Klasifikasi dan Evaluasi Muscle Status (Frisancho, 1990)

Contoh Soal :
Seorang remaja perempuan berumur 17 tahun, memiliki ketebalan trisep
20 mm dan data MUAC sebesar 150 mm. Berapa persentil median AMA
remaja tersebut dan bagaimana muscle statusnya?
Jawab :

Muscle status remaja tersebut adalah


average atau normal.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Anthoropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran.Antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Metode antropometri
mencakup pengukuran dari dimensi fisik dan komposisi nyata dari tubuh (WHO
cit Gibson, 2005).
2. Terdapat tiga model untuk mengukur komposisi tubuh seseorang yaitu two
compartment model, three compartment model dan four compartment model.
Metode two compartment adalah membagi berat badan terbagi menjadi dua
yaitu massa lemak dan massa non-lemak. Three compartment model adalah
Metode evaluasi komposisi tubuh yang menggabungkan 2 Unsur FFM menjadi 1
komponen. Sedangkan metode Four compartment mengasumsikan berat badan
menjadi 4 bagian yaitu massa lemak, total cairan dalam tubuh, massa protein,
massa tulang dan glikogen.
3. Untuk mengintepretasikan dan evaluasi hasil pengukuran Body Composition
dibagi menjadi 2 yaitu Fat Mass dan Fat Free Mass. Fat Mask berdasarkan pada
Skinfold, Mid Upper Arm Fat Area dan sebagainya. Sedangkan untuk Fat Free
Mask berdasarkan pada Mid-upper arm circumference (MUAC), Mid-upper arm
muscle circumference (MUAMC), Mid-upper-arm muscle area (AMA) dan
Corrected Mid-upper-arm Muscle Area.
3.2 Saran
1. Untuk mengukur komposisi tubuh diperlukan ketelitian tinggi, sehingga lebih

baik pada pengukuran skinfold dilakukan berulang agar mendapatkan hasil yang
kualitif.
2. Hendaknya setiap individu memperhatikan komposisi tubuh, karena dengan

komposisi tubuh yang buruk berarti tingkat kesehatan orang tersebut juga buruk.

DAFTAR PUSTAKA
Djoko, Sudarmani. Faktor-faktor yang Berhubungan Rasio Lingkar Pinggang Lingkar
Pinggul
Orang
Dewasa:
Kasus
Padang.
(http://www.digilib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-110086.pdf, diakses 19 Maret
2015).
Frisancho, A.R. 1990. Anthropometric Standards for the Assessment of Growth and
Nutritional Status.Michigan: University of Michigan Press.
Gee, David Lee. 2006.
Gibson, Rosalind S. 1993. Nutrition Assessment for Laboratory Manual. New York:
Oxford University Press.
P. Hills, Andrew., Lyell, Linda., M. Byrne, Nuala. 2001. An Evaluation of the
Methodology for the Assessment of Body Composition in Children and Adolescent.
Queensland University of Technology : Australia.
Siervogel, RM., Roche, AF., WC Chumlea, JG Morris, P Webb and JL Knittle. 1982.
Blood pressure, body composition, and fat tissue cellularity in adults.
http://hyper.ahajournals.org/content/4/3/382.full.pdf+html. (Diakses 8 Maret 2015).
Sloan, A.W., Burt A.J., Blyth C.S.: Estimating body fat in young women., J. Appl.
Physiol.
(1962);17:p967-970).
http://www.topendsports.com/testing/densitysloan.html. (Diakses 8 Maret 2015).
Supariasa, Nyoman.dkk.2002. Penilain Status Gizi. EGC:Jakarta
Supriyono., 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia Gizi Besi pada Tenaga
Kerja
Wanita
di
Pt
HM
Sampoerna.
http://gizi.depkes.go.id/wpcontent/uploads/2012/08/faktor-faktor-yang
mempengaruhi-anemia-gizi-besi-pada-tenaga-kerja-wanita-di-pt-hm-sampoerna.pdf.
(Diakses 5 Maret 2015).
Susilowati. 2009. Pengukuran Status Gizi dengan Antropometri Gizi.