Anda di halaman 1dari 17

BAILUSTRASI KASUS

I.IDENTITAS
Nama
Jenis kelamin
Usia
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Suku
Agama
Status Perkawinan

: Tn B
: Laki-laki
: 28 tahun
: Perum Puskopkar
: SMA
: Buruh
: Jawa
: Islam
: Menikah

II.ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 17 Juni 2012.
Keluhan Utama:
Nyeri pada buah zakar kanan 10 hari SMRS
Keluhan Tambahan :
Benjolan pada buah zakar kanan 10 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien laki-laki berumur 28 tahun datang ke IGD RSOB dengan keluhan
nyeri pada buah zakar kanan 10 hari SMRS. Nyeri baru pertama kali dan dirasakan
hilang timbul dan hanya timbul saat pasien beraktivitas. Nyeri dirasakan menjalar ke
bagian abdomen kanan bawah. Pasien juga mengeluh benjolan pada buah zakar kanan
10 hari SMRS. Benjolan hanya pada satu sisi dirasakan kecil pada saat pertama kali
ditemukan dan bertambah besar setiap hari. Pasien menyangkal adanya riwayat mual
muntah. BAK pasien normal kira-kira 5 kali sehari dan tidak disertai nyeri. Pasien
juga menyangkal adanya riwayat demam.OS juga menyangkal adanya riwayat
trauma.
3 hari SMRS, pasien merasakan nyeri pada buah zakar semakin hebat dan
benjolan pada buah zakar kanan semakin membesar.
1 hari SMRS,pasien masih merasakan nyeri pada buah zakar disertai benjolan
yang semakin membesar. Pasien juga mengeluh adanya demam yang disertai dengan
menggigil . BAK pasien masih tetap normal tanpa disertai sebarang rasa nyeri saat
berkemih.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Keluhan serupa (-), Infeksi saluran kemih (-) Operasi (-), Alergi (-), penyakit jantung
(-), penyakit paru (-), riwayat kuning (-), DM (-), hipertensi (-).
Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluhan serupa pada keluarga (-), alergi (-), penyakit jantung (-), penyakit paru (-),
riwayat kuning (-), DM (-), hipertensi (-).
Riwayat Sosial:
Pasien tidak mengkonsumsi alkohol, merokok, jarang menkonsumi jeroan, jarang
berolahraga.

III.PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran
Keadaan umum
Gizi
TB
BB
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu

: Compos mentis
: Tampak sakit sedang
: Kesan gizi baik
: 170 cm
: 65 kg
: 110/80 mmHg
: 68x/menit, regular
: 18x/menit, teratur, abdominotorakal
: 36.8 C

Status Generalis
Kepala
: Normocephali
Mata
: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/THT
: Liang telinga lapang, serumen -/-, deviasi septum nasal (-), sekret
hidung -/-, uvula di tengah, arkus faring simetris, faring hiperemis (-),
Leher
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

tonsil T1/T1
: KGB tidak teraba, JVP 5-2 cm H2O
: Ictus cordis terlihat
: ictus cordis teraba
: batas jantung normal
:BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
: simetris dalam keadaan statis dan dinamis
: vokal fremitus simetris pada kedua hemitoraks
: sonor pada kedua lapang paru
: suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/: datar
: supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba
: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal., bruit (-).

Ekstremitas
Atas
: akral hangat +/+, edema -/Bawah
: akral hangat +/+, edema -/Status Urologi
1. Status lokalis : Regio Lumbal
Nyeri ketok CVA -/-, Ballotement -/2. Status lokalis : Regio Supra pubic
Inspeksi : tidak terlihat penuh
Palpasi : nyeri tekan (+)
3. Status lokalis : Regio genitalia eksterna
Inspeksi : OUE tidak menyempit, hiperemis (-), sekret (-),terlihat pembesaran
pada scrotum kanan, merah (+)
Palpasi : Teraba bengkak pada scrotum kanan,Nyeri tekan (+), Phren test
(+),Refleks kremaster (+),Tes transluminasi (+)
IV.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hematologi ( tanggal 16/6/2012)
Pemeriksaan
Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit

Hasil
19,9 103/mm3
16,1 103/mm3
44,9 %
237 103/mm3

Nilai Normal
3,5 10,0
11,0 16,5
35,0 50,0
150 390

Pemeriksaan Urinalisa ( tanggal 16/6/2012)


Pemeriksaan
Warna
Kejernihan
Leukosit
Eritrosit
Sel Epitel
Berat Jenis
pH

Hasil
Kuning
Jernih
4 8 /LPB
0 1 /LPB
Positif
1,005
8

Nilai Normal
3 -6 /LPB
0 / LPB
Negatif

Pemeriksaan USG Scrotum ( 16 Juni 2012)


Testis kanan:
Ukuran membesar, tekstur halus, tampak massa, tampak koleksi cairan di sekitar,
epididimis tidak tampak membesar, tak tampak SOL, tak tampak kalsifikasi
Testis kiri:
Tidak membesar, tekstur halus ,tidak tampak mass, epididimis tidak membesar, tak
tampak SOL. Vena tampak melebar, irreguler, berkelok-kelok (kaliber sampai 3mm)
Kesan: Orchitis dengan hidrokel kanan

Susp. Varicocele kiri


V.RESUME
Seorang laki-laki 28 tahun datang dengan nyeri pada buah zakar.Pertama kali , hilang
timbul dan timbul saat pasien beraktivitas. menjalar ke bagian abdomen kanan bawah
10 hari SMRS. Pasien juga mengeluh benjolan pada buah zakar kanan 10 hari
SMRS,satu sisi, kecil pada saat pertama kali ditemukan dan bertambah besar setiap
hari.Demam (+) 1 hari SMRS.Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah:
110/60 mmHg, nadi : 68x/menit, suhu : 36,8oC, pernafasan :182x/menit. Status lokalis
regio supra pubic:tidak terlihat penuh. nyeri tekan (+)Status lokalis regio genitalia
eksterna OUE tidak menyempit, hiperemis (-), sekret (-),terlihat pembesaran pada
scrotum kanan, merah (+) Dari hasil Laboratorium didapatkan leukosit
19,900,urinalisa: leukosit 4-8/LPB. Dari usg scrotum kesannya Orchitis dengan
hidrokel kanan dan susp. Varicocele kiri
VI.DIAGNOSA BANDING
Orchitis
Torso testis
Epididimitis
VII.DIAGNOSIS KERJA

Orchitis dextra

VIII.TATALAKSANA
Non-medikamentosa
Rawat inap
Bed rest
Gunakan celana ketat
Medikamentosa

IVFD NaCl 100 cc + Ketorolac /8jam


Ceftriaxone 1 x 1 gr.
Nutriflam 3 x 1 tab.

IX. PROGNOSIS

Ad Vitam:Dubia ad bonam
Ad Sanationam:Dubia ad malam
Ad Functionam :Dubia ad bonam

FOLLOW UP
( 18 Juni 2012)
Subjektif
Nyeri dirasakan semakin berkurang. Benjolan dirasakan semakin mengecil. Demam
disangkal pasien
Objektif
Kesadaran
Keadaan umum
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu

: Compos mentis
: Tampak sakit sedang
: 110/70 mmHg
: 80x/menit, regular
: 22x/menit, teratur, abdominotorakal
: 36.5 C

Status Urologi
1. Status lokalis : Regio Lumbal
Nyeri ketok CVA -/-, Ballotement -/2. Status lokalis : Regio Supra pubic
Inspeksi : tidak terlihat penuh
Palpasi : nyeri tekan (+)
3. Status lokalis : Regio genitalia eksterna
Inspeksi : Tampak benjolan pada scrotum kanan, merah (+)
Palpasi : Teraba benjolan pada scrotum kanan, nyeri tekan (+) phren test (+)
Laboratorium
Pemeriksaan Hematologi ( tanggal 18/6/2012)
Pemeriksaan
Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit

Hasil
14,1 103/mm3
13,9 103/mm3
37,6 %
278 103/mm3

Nilai Normal
3,5 10,0
11,0 16,5
35,0 50,0
150 390

Assesment
Orchitis dextra Perawatan hari ke-3 dengan perbaikan klinis

Planing
Non Medikamentosa:

Pakai celana ketat

Medikamentosa :

Inj Broadcet 1 x 2 gr.


Tab. Nutriflam 3 x 1
Tab. Keterobat 3 x 1

ANALISA KASUS
I.DASAR DIAGNOSIS
Pada kasus ini pasien di diagnosa orchitis dextra dengan dasar:
i.Identitas Pasien
Pasien adalah lelaki. Secara anatomi, testis hanya dimiliki oleh lelaki. Usia pasien 28
tahun. Menurut literatur, kebanyakan kasus orchitis terjadi pada lelaki yang aktif
secara sesual dan berumur lebih dari 15 tahun atau lelaki yang berumur lebih dari 50
tahun dengan benign prostate hyperthropy (BPH).
ii.Anamnesis
Dikeluhkan nyeri pada daerah skrotum kanan yang menjalar ke daerah abdomen.
Nyeri dirasakan hilang timbul dan hanya timbul saat pasien beraktivitas. Dikeluhkan
juga benjolan di daerah skrotum yang semakin membesar. Dikeluhkan juga demam
sehingga menggigil.
iii. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan status lokalis regio genitalia eksterna ditemukan pada inspeksi
pembengkakan di daerah scrotum kanan. Bengkak yang ditemukan terlihat merah.
Pada palpasi bengkak teraba keras disertai nyeri saat scrotum ditekan. Pada tes
transluminasi didapatkan hasilnya positif,tes Phren positif fan refleks kremaster
positif. Penemuan ini sesuai dengan gambaran klinis orchitis.
iv. Pemeriksaan penunjang

Dilakukan USG Scrotum.Menurut literatur pemeriksaan dengan menggunakan


ultrasonografi

merupakan

pemeriksaan

dengan

sensitifitas

tinggi

untuk

menyingkirkan diagnosa torsio testis dan dapat digunakan untuk melihat inflamasi
pada testis maupun epididimis.Pada hasil USG scrotum didapatkan pada scrotum
kanan dengan ukuran membesar , tekstur halus, tak tampak massa dan tampak koleksi
cairan disekitarnya.
v.Dasar penatalaksanaan
Pada OS diberikan ceftriaxone 1 x 1 gr. Menurut literatur pasien berumur kurang dari
35 tahun yang masih aktif secara seksual dengan orchitis yang disebabkan bakteri
diberikan antibiotik yang bisa melumpuhkan patogen sexually transmitted disease
seperti gonorrhae dan klamidia.

TINJAUAN PUSTAKA
I.PENDAHULUAN

Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut dari testis sekunder terhadap


infeksi. Sebagian besar kasus berhubungan dengan infeksi virus gondong , namun
virus lain dan bakteri dapat menyebabkan orchitis.
Insidensi orchitis umumnya ditemukan pada pria prepubertas terutama pasien
yang mengalami penyakit gondong. Bakteri yang dapat menyebabkan orchitis antara
lain Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, Escherichia coli, Klebsiella
pneumoniae , Pseudomonas aeruginosa , Staphylococcus, Streptococcus, bakteri
tersebut biasanya menyebar dari epididimitis terkait dalam seksual pria aktif atau lakilaki dengan BPH
Untuk menegakkan diagnosis orchitis diperlukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang baik. Pemeriksaan penunjang tidak terlalu membantu untuk menegakkan
diagnosis orchitis. USG dapat membantu menyingkirkan diagnosis lain nya seperti
torsio testis.
Penatalaksanaan dari orchitis terutama bersifat suportif karena biasanya
sebagian besar pasien orchitis akan sembuh spontan dalam 3- 10 hari, kecuali bila
penyebabnya bakteri, perlu diberikan antibiotik.
II.ANATOMI DAN FISIOLOGI TESTIS
Testis merupakan organ kelamin pria, terletak dalam scrotum. Testis akan
turun sekitar umur janin 7 bulan menuju scrotum melalui canalis inguinalis dibawah
pengaruh hormon testosterone dari testis. Testis sinistra biasanya terletak lebih rendah
daripada testis dextra. Masing-masing testis dikelilingi capsula fibrosa yang kuat,
disebut tunica albuginea. Dari permukaan dalam capsula terbentang banyak septa
fibrosa yang membagi bagian dalam testis menjadi lobulus-lobulus testis. Di dalam
setiap lobulus terdapat 1-3 tubuli seminiferi yang berkelok-kelok. Tubuli seminiferi
bermuara ke rete testis, ductuli efferentes, dan epididimis
Pengaturan suhu testis di dalam scrotum dilakukan oleh kontraksi musculus
dartos dan cremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke
tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot cremaster akan berelaksasi dan testis
akan menjauhi tubuh. Temperatur testis dalam scrotum selalu dipertahankan dibawah
temperatur suhu tubuh 2-3 oC untuk kelangsungan spermatogenesis. Molekul besar
tidak dapat menembus ke lumen (bagian dalam tubulus) melalui darah, karena adanya

ikatan yang kuat antar sel Sertoli yang disebut sawar darah testis. Fungsi dari sawar
darah testis adalah untuk mencegah reaksi auto-imun. Tubuh dapat membuat antibodi
melawan spermanya sendiri, maka hal ini dicegah dengan sawar.
Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai spermatogenesis.
Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin.
Fungsi testis:

Spermatogenesis terjadi dalam tubulus seminiferus, diatur FSH

Sekresi testosterone oleh sel Leydig, diatur oleh LH.

Dinding scrotum terdiri dari :


1. Cutis
2. Fascia superficialis
3. Musculus dartos
4. Fascia spermatica externa
5. Fascia cremasterica
6. Fascia spermatica interna
7. Tunica vaginalis

III.ORCHITIS
DEFINISI
Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut dari testis terhadap infeksi. Sebagian besar
kasus berhubungan dengan infeksi virus gondong , namun, virus lain dan bakteri
dapat menyebabkan orchitis.
ETIOLOGI

Virus: orchitis gondong (mumps) paling umum. Infeksi Coxsackievirus tipe A,


varicella, dan echoviral jarang terjadi.

Infeksi bakteri dan pyogenik: E. coli, Klebsiella, Pseudomonas,


Staphylococcus, dan Streptococcus

Granulomatous: T. pallidum, Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium


leprae, Actinomycetes

Trauma sekitar testis

Virus lain meliputi coxsackievirus , varicella , dan echovirus .

Beberapa laporan kasus telah dijelaskan imunisasi gondong, campak, dan


rubella (MMR) dapat ,enyebabkan orchitis

Bakteri penyebab biasanya menyebar dari epididimitis terkait dalam seksual


pria aktif atau laki-laki dengan BPH; bakteri termasuk Neisseria gonorrhoeae,
Chlamydia trachomatis, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae ,
Pseudomonas aeruginosa , Staphylococcus, Streptococcus

Idiopatik

EPIDEMIOLOGI

Kejadian diperkirakan 1 diantara 1.000 laki-laki

Dalam orchitis gondong, 4 dari 5 kasus terjadi pada laki-laki prepubertal (lebih
muda dari 10 tahun).

Dalam orchitis bakteri, sebagian besar kasus berhubungan dengan epididimitis


(epididymo-orchitis), dan mereka terjadi pada laki-laki yang aktif secara
seksual lebih tua dari 15 tahun atau pada pria lebih tua dari 50 tahun dengan
hipertrofi prostat jinak (BPH).

Di Amerika Serikat sekitar 20% dari pasien prepubertal dengan gondong


berkembang orchitis. Kondisi ini jarang terjadi pada laki-laki postpubertal
dengan gondong.

FAKTOR RISIKO

Instrumentasi dan pemasangan kateter merupakan faktor risiko yang umum


untuk epididymis akut. Urethritis atau prostatitis juga bisa menjadi faktor
risiko.

Refluks urin terinfeksi dari urethra prostatik ke epididymis melalui saluran


sperma dan vas deferens bisa dipicu melalaui Valsalva atau pendesakan kuat.

PATOFISIOLOGI

Hippocrates pertama kali melaporkan orchitis pada abad ke-5 SM. Radang pada testis
dapat disebabkan oleh berbagai virus ataupun bakteri. Hal ini akan menimbulkan
proses inflamasi pada testis yang meliputi kalor, rubor, dolor, tumor, dan function
laesa.
DIAGNOSIS
Anamnesis

Orchitis ditandai dengan nyeri testis dan pembengkakan.

Nyeri berkisar dari ketidaknyamanan ringan sampai nyeri yang hebat.

Kelelahan / mialgia

Kadang-kadang pasien sebelumnya mengeluh gondongan

Demam dan menggigil

Mual

Sakit kepala

Pemeriksaan Fisik

Pembesaran testis dan skrotum


Erythematous kulit skrotum dan lebih hangat.
Pembengkakan KGB inguinal
Pembesaran epididimis yang terkait dengan epididymo-orchitis

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis orchitis lebih dapat ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan


fisik.

Pemeriksaan darah tidak dapat membantu menegakkan diagnosis orchitis.

USG dapat digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan torsio testis.

DIAGNOSIS DIFFERENSIAL

Epididimitis

Torsio testis: kemungkinan besar jika nyeri memiliki onset tiba-tiba dan parah.
Lebih umum pada pria di bawah 20 tahun (tetapi bisa terjadi pada usia
berapapun). Membedakan torsi testikular ini dalam diagnosis sangat penting
dari segi bedah.

Tumor testis

Hydrocele

PENATALAKSANAAN
Pengobatan suportif: Bed rest, analgetik, elevasi skrotum. Yang paling
penting adalah membedakan orchitis dengan torsio testis karena gejala klinisnya
hampir mirip. Tidak ada obat yang diindikasikan untuk pengobatan orchitis karena
virus.
Pada pasien dengan kecurigaan bakteri, dimana penderita aktif secara seksual,
dapat diberikan antibiotik untuk menular seksual (terutama gonore dan klamidia)
dengan ceftriaxone, doksisiklin, atau azitromisin. Antibiotik golongan
Fluoroquinolon tidak lagi direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit (CDC) untuk pengobatan gonorrhea karena sudah resisten.
Contoh antibiotik:
1.Ceftriaxone
Sefalosporin generasi ketiga dengan spektrum luas, aktivitas gram-negatif; efikasi
lebih rendah terhadap organisme gram-positif. Menghambat pertumbuhan bakteri
dengan cara mengikat satu atau lebih penicillin-binding proteins. Dewasa
IM 125-250 mg sekali, anak : 25-50 mg / kg / hari IV; tidak melebihi 125 mg / d

2. Doxycycline
Menghambat sintesis protein dan pertumbuhan bakteri dengan cara mengikat 30S dan
kemungkinan 50S subunit ribosom bakteri.
Digunakan dalam kombinasi dengan ceftriaxone untuk pengobatan gonore.
Dewasa cap 100 mg selama 7 hari, Anak: 2-5 mg / kg / hari PO dalam 1-2 dosis
terbagi, tidak melebihi 200 mg / hari

3.Azitromisin
Mengobati infeksi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh strain rentan
mikroorganisme.
Diindikasikan untuk klamidia dan infeksi gonorrheal pada saluran kelamin. Dewasa 1
g sekali untuk infeksi klamidia, 2 g sekali untuk infeksi klamidia dan gonokokus.
Anak: 10 mg / kg PO sekali, tidak melebihi 250 mg / hari
4.Trimetoprim-sulfametoksazol
Menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis asam dihydrofolic.
Umumnya digunakan pada pasien > 35 tahun dengan orchitis.
Dewasa 960 mg q12h untuk 14 hari. Anak 15-20 mg / kg / hari, berdasarkan TMP, PO
tid / qid selama 14 hari
5.Ciprofloxacin
Fluorokuinolon dengan aktivitas terhadap pseudomonas, streptococci, MRSA, S
epidermidis, dan gram negatif sebagian besar organisme, namun tidak ada aktivitas
terhadap anaerob. Menghambat sintesis DNA bakteri dan akibatnya pertumbuhan
bakteri terhambat. Dewasa tab 500 mg PO selama 14 hari. Anak tidak dianjurkan
KOMPLIKASI

Sampai dengan 60% dari testis yang terkena menunjukkan beberapa derajat atrofi
testis.

Gangguan kesuburan dilaporkan 7-13%.

Kemandulan jarang dalam kasus-kasus orchitis unilateral.

Hidrokel communican atau pyocele mungkin memerlukan drainase bedah untuk


mengurangi tekanan dari tunika.

Abscess scrotalis

Infark testis

Rekurensi

Epididymitis kronis

Impotensi tidak umum setelah epididymitis akut, walaupun kejadian sebenarnya


yang didokumentsikan tidak diketahui. Gangguan dalam kualitas sperma biasanya
hanya sementara.

Yang lebih penting adalah azoospermia yang jauh lebih tidak umum, yang
disebabkan oleh gangguan saluran epididymal yang diamati pada laki-laki penderita
epididymitis yang tidak diobati dan yang diobati tidak tepat. Kejadian kondisi ini
masih belum diketahui.

PROGNOSIS
Sebagian besar kasus orchitis karena mumps menghilang secara spontan dalam 3-10
hari.
Dengan pemberian antibiotik yang sesuai, sebagian besar kasus orchitis bakteri
dapat sembuh tanpa komplikasi.
KESIMPULAN
Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut dari testis terhadap infeksi.
Sebagian besar kasus berhubungan dengan infeksi virus gondong , namun, virus lain
dan bakteri dapat menyebabkan orchitis.
Etiologi orchitis Virus: orchitis gondong (mumps) paling umum. Infeksi
bakteri dan pyogenik: E. coli, Klebsiella, Pseudomonas, Staphylococcus, dan
Streptococcus. Granulomatous: T. pallidum, Mycobacterium tuberculosis,
Mycobacterium leprae, Actinomycetes, trauma, virus lain meliputi coxsackievirus ,
varicella , dan echovirus .
Insidensi orchitis karena gondong, 4 dari 5 kasus terjadi pada laki-laki
prepubertal (lebih muda dari 10 tahun). Dalam orchitis bakteri, sebagian besar kasus
berhubungan dengan epididimitis (epididymo-orchitis), dan mereka terjadi pada laki-

laki yang aktif secara seksual lebih tua dari 15 tahun atau pada pria lebih tua dari 50
tahun dengan hipertrofi prostat jinak (BPH).
Gejala klinis: nyeri dan pembengkakan testis. Kelelahan, demam dan
menggigil , mual, sakit kepala Pada pemeriksaan fisik tampak pembesaran testis dan
skrotum, lebih hangat, kadang pembesaran KGB inguinal.
Penatalaksanaan meliputi terapi supportif dan antibiotika yang sesuai jika
penyebabnya bakteri.Komplikasi: sampai dengan 60% dari testis yang terkena
menunjukkan beberapa derajat atrofi testis, gangguan kesuburan dilaporkan pada
tingkat 7-13%, kemandulan jarang dalam kasus-kasus orchitis unilateral, abscess
scrotal , infark testis, rekurensi
Prognosis sebagian besar baik, jika penyebabnya virus, dapat hilang 3 -10 hari,
jika penyebabnya bakteri dengan pemberian antibiotik dapat sembuh tanpa
komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mark B. Orchitis- Department of Emergency Medicine. Diunduh pada 30 Juni
2012. Tersedia dari: http://emedicine.medscape.com/article/777456-overview
2. Andrew T.R,Michael S.D.Testes and Epidydimis.Churchills Pocketbooks of
Surgery 3rd Edition. United States of America.Elsvier;2006.hal.397-398
3. James G.,Andrew W,John L,Rowan W.Epidymo-orchitis.Davidson Principles
& Practice of Surgery 5th Edition.United States of America.
Elsvier;2007.hal.506-507
4. Timothy J. Testicular Torsion-Department if Emergency Medicine. Diunduh
pada 30 Juni 2012. Tersedia dari :
http://emedicine.medscape.com/article/778086-overview
5. Christina B.Epididymitis. Diunduh pada 30 Juni 2012/ Tersedia dari:
http://emedicine.medscape.com/article/436154-overview
6. Paul A,Mark C,Mohamad E.Orchitis.Campbell-Walsh Urology 9th Edition.
Philadelpia.Saunders-Elsvier;2007