Anda di halaman 1dari 53

ADMINISTRASI PERADILAN LEMBAGA PENGAWASAN SISTEM

PERADILAN TERPADU
MaPPI FHUI
19 May 2005, 12:17:31 WIB - pemantauperadilan.com

A.

DIMENSI PENGAWASAN

Dimensi pengawasan dalam kerangka penegakan hukum memegang peranan penting


terutama dalam mengukur sejauhmana seorang penegak hukum menjalankan profesinya
berdasarkan aturan yang telah ditetapkan. Mekanisme pengawasan yang dipraktekkan saat ini
kurang mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat, hal ini tidak lain karena berbagai praktekpraktek menyimpang yang terjadi dalam pelaksanaan proses peradilan[1]. Merebaknya praktek
tersebut tidak lepas dari lemahnya sistem pengawasan yang ada selama ini.
Pelaksanaan pengawasan berjalan tidak effektif juga dipengaruhi oleh rasa solidaritas
untuk membela rekan sejawat (lesprit de corps). Dengan adanya rasa solidaritas tersebut
mengakibatkan mekanisme penghukuman (punishment system) tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Mengingat hal tersebut diatas, kebutuhan akan lembaga pengawasan untuk
menciptakan peradilan yang baik adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, hal ini terungkap
dalam penelitian lapangan yang telah dilakukan, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini :

No

1
2
3

Diperlukan Sistem
Pengawasan untuk
Menciptakan Kondisi
Peradilan yang Baik
Ya
Tidak
Tidak menjawab

Hakim
89.3
10.7
0.0

Jaksa

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/
pengacara

Akademisi
/LSM

91.0
9.0
0.0

85.5
15.7
0.6

98.4
1.6
0.0

93.7
6.3
0.0

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa sistem pengawasan diperlukan dalam rangka
menciptakan peradilan yang baik. Atas usulan tersebut sebagian besar responden menyatakan
persetujuannya. Sedikit sekali responden yang menyatakan penolakannya.
Berbicara tentang pengawasan, setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan,
pertama aspek pendekatan dalam pengawasan misalnya pendekatan preventif, detektif, dan
repressif. Kedua adalah aspek pihak pelaksana dalam pengawasan, yang meliputi masyarakat
dan lembaga formal (termasuk di dalam kelembagaan antara lain aspek kedudukan, sumber
daya manusia serta mekanisme kerja. Ketiga, obyeknya, adalah pengawasan terhadap perilaku,
kecakapan (skill) atau pelaksanaan tugas (performance) dalam hal administrastif, prosedural,
keuangan serta metode pengawasannya[2].

1.

Pendekatan Pengawasan

a.

Preventif

Pendekatan Preventif pada intinya diperlukan untuk meminimalisasi penyebab dan


peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran oleh aparat penegak hukum
dan hakim[3]. Pendekatan ini penting dilakukan dalam rangka menunjang pengawasan yang
efektif karena selama ini banyak aturan hukum di Indonesia yang masih bersifat umum dan
memiliki loopholes sehingga membuka peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang atau
pelanggaran.
Salah satu titik tolak untuk melakukan upaya pengawasan preventif tersebut adalah
pembenahan hukum acara, kode etik atau kode berperilaku, dan aturan teknis pelaksanaan
tugas, antara lain dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, diskresi
yang limitatif, obyektifitas, pembatasan perilaku yang spesifik, serta partisipasi masyarakat dan
ketersediaan mekanisme check and balances di dalamnya. Penerapan prinsip akuntabilitas dan
transparansi memegang peranan penting dalam rangka peningkatan peran serta masyarakat
dalam pengawasan.

1) Transparansi dan Akuntabilitas


Ketiadaan transparansi dan akuntabilitas adalah salah satu faktor penyebab tumbuh
suburnya penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran[4]. Selain itu, korupsi terjadi karena
adanya monopoli kewenangan ditambah adanya diskresi yang luas serta kurangnya akuntabilitas
(termasuk transparansi)[5]. Oleh karena itu, selama tidak mempengaruhi upaya penegakan
hukum, maka seluruh pelaksanaan tugas dan wewenang aparat penegak hukum dan hakim
harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel)[6].
Dalam tahap penyelidikan misalnya, penyelidik harus dapat mempertanggungjawabkan
secara terbuka atas hasil penyelidikan yang telah dilakukan. Pertanggungjawaban tersebut
terutama adalah dalam hal tidak ditingkatkannya penyelidikan ke tingkat penyidikan. Begitupula
halnya pengungkapan alasan tidak ditingkatkannya penyidikan ke tingkat penuntutan, serta tidak
dilanjutkannya penuntutan ke pengadilan juga harus diungkapkan alasan yang
melatarbelakanginya. Dimana alasan untuk dihentikannya suatu penyidikan atau penuntutan
harus secara terbuka diungkapkan alasan yang melatarbelakanginya. Demikian pula rencana
penuntutan, selain itu dokumen-dokumen yang lahir dari proses peradilan harus dapat diakses
oleh masyarakat, dengan demikian aparat penegak hukum dan hakim akan berhati-hati dalam
menggunakan kewenangannya.
Di Mahkamah Agung misalnya, pengaturan hal yang berhubungan dengan managemen
perkara perlu dibenahi. Untuk meminimalisasi KKN, informasi mengenai status perkara harus
dapat diakses pencari keadilan secara cepat dan murah[7]. Hal yang sama berlaku pula bagi
informasi lain yang dikelola oleh lembaga penegak hukum dan lembaga peradilan misalnya
informasi kepegawaian, anggaran, pelaksanaan tugas kelembagaan dan sebagainya[8].

2)

Dikresi yang terbatas dan tolok ukur yang obyektif

Sebagaimana dijelaskan, luasnya diskresi membuka peluang untuk penyalahgunaan


wewenang dan pelanggaran. Hal ini jelas perlu diantisipasi dengan pengaturan yang lebih rinci,

limitatif, dan memiliki tolok ukur yang obyektif untuk menilai bagaimana aparat penegak hukum
dan hakim harus menjalankan tugas dan wewenangnya.
Kelemahannya adalah selama ini diskresi aparat penegak hukum dan hakim masih besar
dan belum disertai tolok ukur yang obyektif dalam pelaksanaannya. Hal ini dapat dilihat misalnya
dalam diskresi yang luas dan subyektif bagi penyelidik/penyidik/penuntut/hakim untuk
mengartikan bukti yang cukup, ada kekhawatiran tersangka/terdakwa melarikan diri, atau
menghilangkan alat bukt menahan sebagai dasar penahanan tersangka atau terdakwa[9]. Selain
itu masalah diskresi ini pun dapat dilihat dalam aturan MA, dimana tidak ada batas waktu yang
jelas bagi hakim agung untuk menyelesaikan suatu perkara.
Oleh karena itu, perlu dibuat suatu pembatasan atas penggunaan diskresi bagi aparat
penegak hukum dan hakim. Selain itu, untuk menutup peluang penyalahgunaan wewenang,
pengaturan tentang diskresi yang teknis, baik itu standard operation procedure (SOP), buku
pedoman, Prosedur Tetap atau istilah lainnya, penting sebagai dasar untuk menilai performance
dan perilaku aparat penegak hukum dan hakim.

3) Pembatasan perilaku yang spesifik


Senafas dengan diskresi yang terbatas, adanya pembatasan perilaku yang spesifik bagi
aparat penegak hukum, hakim dan advokat dalam menjalankan tugas merupakan hal yang tidak
kalah pentingnya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran.
Selain itu, pembatasan perilaku yang spesifik akan sangat membantu upaya represif yaitu untuk
menentukan sesuai tidaknya penggunaan wewenang atau perilaku aparat penegak hukum,
hakim dan advokat dalam menjalankan tugas. Kelemahannya selama ini, aturan mengenai
pembatasan perilaku bagi aparat penegak hukum, hakim, dan advokat yang biasanya diatur
dalam UU tentang lembaga penegak hukum dan lembaga peradilan serta etika profesi, masih
belum rinci[10].
Sebagai contoh misalnya, larangan bagi hakim untuk bertemu salah satu pihak tanpa
dihadiri pihak lain. Hal ini bisa membantu memudahkan upaya pendisiplinan bagi hakim, jika ini
dilanggar dan ada saksi yang bisa membuktikan[11].

4) Partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam melakukan pengawasan merupakan hal yang penting,
mengingat lemahnya lembaga pengawas formal selama ini serta keterbatasanketerbatasan
yang mereka miliki. Bukankah seribu mata lebih mampu melihat banyak hal dibandingkan dua
mata?
Dalam konteks hukum acara pidana, pengaturan mengenai praperadilan yang
merupakan sarana check and balances harus dibenahi, antara lain dengan pemberian standing
kepada masyarakat untuk mengajukan praperadilan atas penghentian penyidikan atau
penuntutan. Selain itu, untuk memastikan bahwa laporan dari pelapor ditindaklanjuti oleh
penyelidik, maka pelapor perlu diberikan hak untuk mengajukan praperadilan jika laporannya
tidak ditindaklanjuti dengan alasan yang jelas.
Untuk memaksimalkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan, penyadaran
masyarakat atas hak-haknya menjadi penting. Selain itu sarana untuk memudahkan masyarakat

melaporkan suatu penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran dan jaminan yang melindungi
pelapor perlu diperhatikan.

b. Detektif
Pendekatan detektif pada intinya diperlukan untuk memudahkan upaya memperoleh
informasi yang cepat dan akurat guna menunjang pengawasan[12]. Beberapa hal yang dapat
dilakukan dalam hal ini misalnya pencatatan harta kekayaan dan sumber penghasilan
(sebagaimana yang dilakukan oleh KPKPN), penyampaian gratifikasi sebagaimana diatur dalam
UU korupsi yang baru (Pasal 12 UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang-Undang No.
31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), pendataan informasi
kepegawaian yang baik[13].

c. Represif
Pendekatan represif ini pada intinya merupakan langkah penegakan hukum (dalam
konteks ini hukum administrasi), oleh lembaga pengawasan jika ada penyalahgunaan wewenang
atau pelanggaran oleh aparat penegak hukum dan hakim. Pada intinya penegakan hukum ini
harus dilakukan secara non diskriminatif, transparan, akuntabel, objektif dan tegas.

2. Pelaksana Pengawasan
Pengawasan hanya akan dapat efektif jika pihak yang melaksanakannya memiliki
jaminan independensi, tidak memiliki keberpihakan, memiliki kemampuan (keahlian, waktu dan
sebagainya) dan diikat dalam suatu sistem yang kondusif bagi pelaksanaan tugasnya.

3.

Obyek Pengawasan

Pemahaman yang jelas mengenai obyek pengawasan menjadi penting untuk pihak yang
dapat melakukan pengawasan serta mempermudah memetakan metode yang efektif untuk
melakukan pengawasan terhadap obyek-obyek tersebut. Secara umum ada beberapa obyek
yang harus menjadi bahan pengawasan, antara lain perilaku aparat penegak hukum dan hakim,
kemampuan teknis (skill), pelaksanaan tugas (performance) dalam hal adminstratif, prosedural
dan keuangan, dimana untuk setiap obyek tersebut metode pengawasannya dapat berbedabeda, minimal dalam penekanannya.

1. Perilaku
Yang termasuk dalam ruang lingkup obyek ini adalah perilaku aparat penegak hukum
dan hakim dalam tugas dan di luar tugas. Metode pengawasan terhadap perilaku yang selama ini

telah dilakukan adalah menerima dan memproses laporan atau pengaduan masyarakat. Hal lain
yang dapat dilakukan adalah pengamatan secara langsung (aktif) terhadap aparat penegak
hukum dalam menjalankan tugasnya.

2. Kecakapan (Skill)
Yang dimaksud dengan kecakapan disini adalah kemampuan intelektual aparat penegak
hukum dan hakim dalam menjalankan tugasnya (substansial dan prosedural). Sebagai ilustrasi
sampai akhir tahun 1970-an, di pengadilan dikenal istilah eksaminasi putusan. Dalam eksaminasi
putusan ini, putusan hakim yang lebih rendah dikaji oleh hakim pada pengadilan yang lebih
tinggi. Hasil kajiannya dapat dijadikan penilaian terhadap kondite hakim sekaligus untuk
mendidiknya[14]
Sedangkan untuk kepolisian, pengawasan atas kecakapan ini dapat dilakukan melalui
evaluasi hasil penyelidikan atau penyidikan, dan adapun untuk jaksa evaluasi dapat dilakukan
melalui eksaminasi surat dakwaan.

3. Pelaksanaan Tugas (performance)


Pelaksanaan tugas aparat penegak hukum dapat dilihat dari beberapa aspek, misalnya
kepatuhan dalam melaksanakan hukum acara dan aturan teknis pelaksanaan tugas lainnya.
Metode pengawasan untuk melihat hal tersebut dapat dilakukan berdasarkan laporan
masyarakat, pengamatan di lapangan, survei kepada masyarakat pengguna jasa aparat penegak
hukum dan hakim serta laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas. Untuk itu di setiap
lembaga diwajibkan membuat laporan pertanggungjawaban yang rinci sesuai dengan elemenelemen penting dalam hukum acara dan aturan teknis pelaksanaan tugas.
Untuk menilai pelaksanaan tugas hakim agung dalam memutus perkara misalnya,
prosedur tetap penyelesaian perkara yang harus dibuat Mahkamah Agung haruslah memuat
tanggal diterimanya berkas perkara dan tanggal diserahkan kembali berkas perkara ke hakim
agung lain. Hal ini penting untuk menilai produktivitas hakim agung setiap harinya[15].
Khusus untuk pelaksanaan tugas di bidang finansial, metode pengawasannya adalah
audit, baik secara internal maupun eksternal (BPKP dan atau BPK). Khusus untuk pengadilan,
selama ini tidak ada pertanggungjawaban keuangan perkara atau uang titipan. Oleh karena itu,
perlu dibuat aturan yang memberikan kewenangan kepada BPK untuk dapat mengaudit sumber
dana tersebut. Dalam kelompok masyarakat pelaksanaan tugas keuangan ini memerlukan sekali
adanya prinsip transparansi sehingga masyarakat ikut mengontrol.

B.

SISTEM PENGAWASAN

1. Pengawasan Dalam KUHAP

Mekanisme pengawasan yang ada dalam KUHAP sebenarnya telah memfasilitasi


mekanisme pengawasan antar para pihak yang berperan dalam sistem peradilan, misalnya
adanya mekanisme praperadilan, upaya hukum biasa ataupun luar biasa, hakim pengawas dan
pengamat serta mekanisme pengawasan horisontal lainnya. Berdasarkan mekanisme
pengawasan yang difasilitasi oleh KUHAP tersebut, mengisyaratkan perlunya pendekatan yang
sistemik dalam pelaksanaan sistem tersebut. Untuk pelaksanaan hal tersebut sangatlah
diperlukan perubahan yang subtantif dan struktural untuk mencapai harmonisasi dan sinkronisasi
hukum. Hal ini diperlukan untuk menghindari adanya disintegrasi pelaksanaan sistem peradilan.
Hubungan kordinasi fungsional dan instansional dalam KUHAP, apabila dilihat lebih jauh
didalamnya terdapat esensi pengawasan terhadap pelaksanaan proses peradilan. Hubungan
koordinasi tersebut memiliki makna adanya hubungan pengawasan horisontal diantara sesama
pelaku dalam proses peradilan. Hubungan sebagaimana dimaksud diatas adalah sebagai
berikut :
a.

Dimulainya suatu penyidikan, penyidik berkewajiban untuk memberitahukan tentang


dimulainya penyidikan kepada penuntut umum (pasal 109 ayat 1)

b.

Penghentian penyidikan, atas hal tersebut penyidik memberitahukan kepada penuntut


umum (pasal 109 ayat 2)

c.

Penyerahan berkas perkara hasil penyidikan kepada penuntut umum (110 ayat 1), dalam
hal ini penuntut memeriksa hasil penyidikan apabila kurang lengkap maka dikembalikan
dan diberikan petunjuk untuk melengkapinya.

d.

Untuk upaya paksa penggeledahan rumah (pasal 33), Penyitaan (pasal 38) dan
pemeriksaan surat (pasal 47) diperlukan izin atau izin khusus dari Ketua Pengadilan
Negeri.

e.

Perpanjangan penahanan dalam tahap penyidikan dilakukan oleh penuntut umum (pasal
24 ayat 2), sedangkan perpanjangan penahanan dalam tahap penuntutan dilakukan oleh
Ketua Pengadilan Negeri (pasal 25 ayat 2), sedangkan dalam tahap pemeriksaan
pengadilan negeri dan pengadilan tinggi atau banding perpanjangan penahanan
dilakukan oleh Ketua Pengadilan Tinggi (pasal 26 ayat 2 dan pasal 27 ayat 2), adapun
untuk pemeriksaan perkara dalam perkara kasasi perpanjangan penahanan dilakukan
oleh Ketua MA (pasal 29 ayat 2)

Berbagai mekanisme pengawasan dalam KUHAP sebagaimana yang telah diungkapkan


diatas seringkali tidak berjalan sebagaimana mestinya, tidak berjalannya sistem peradilan
tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor geografis, faktor sumber
daya, dan daya dukung peraturan perundang-undangan yang kurang kuat, tegas dan jelas.
Sistem yang dibangun oleh KUHAP sudah memadai walaupun tak dapat dipungkiri terdapat
berbagai kekurangan, namun hal itu bukan alasan untuk tidak menerapkan KUHAP dengan
baik[16].

2.

Konsep dan Strategi Pengawasan

Dalam pelaksanaan pengawasan terhadap proses peradilan sangat terkait dengan


pelaksanaan beberapa prinsip dalam proses peradilan. Sehinggga berbicara tentang strategi

pengawasan sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan sistem peradilan. Pelaksanaan sistem
peradilan yang baik sendiri adalah terlaksananya beberapa prinsip umum sebagai minimum
standard alam penerapan sistem peradilan yang terintegrasi dengan baik. Minimum standard
termaksud adalah

a.

Persamaan dimuka hukum (equality before the law)

Prinsip yang dirumuskan dalam pasal 28 D ayat 1 Amandemen Kedua UUD 1945 dan
pasal 5 ayat (1) UU No.14 tahun 1970 ini merupakan asas yang bersifat universal. Pasal 7
Universal Declaration of Human Rights menjelaskan bahwa all are equal before the law and are
entitled without discrimination to equal protection of law. Dikaitkan dengan sistem peradilan
terpadu, dapat dinyatakan bahwa jenis kelamin, agama, ras, waran kulit, etnis, status sosial,
status ekonomi maupun ideologi politik tidak boleh menjadi dasar untuk memperlakukan orang
secara berbeda, doktrin yang dikemukakan Dicey berbunyi all persons wheather high oficial or
ordinary citizens are subject to the same law administered by ordinary courts, semakin
menguatkan asas ini. Pasal 14 International Covenant on Civil and Political Right menguatkan
bahwa all persons shall be equal before the court and tribunals.

b. Due Process of Law


Negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi mempunyai kewenangan penuh untuk
melakukan proses peradilan yang adil dan tidak memihak. Oleh karenanya kekuasaan ini perlu
dibatasi agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang. Asas ini tercermin dari pasal 6 ayat (1)
dan pasal 7 UU No. 14 tahun 1970 tentang Pokok-pokok kekuasaaan Kehakiman. Due Process
of Law pada dasarnya bukan semata-mata mengenai rule of law, akan tetapi merupakan unsur
yang essensial dalam penyelenggaraan peradilan yang intinya adalah bahwa ia merupakan a
law which hears before it condemns, which proceeds upon inquiry, and renders judgement only
after trial. Pada dasarnya yang menjadi titik sentral adalah perlindungan hak-hak asasi
individu terhadap arbitrary action of the government.

c.. Sederhana dan cepat


Salah satu hal yang dituntut publik ketika memasuki proses peradilan, mereka harus
mendapat kemudahan yang didukung sistem. Proses yang berbelit-belit akan membuahkan
kefrustasian dan ketidakadilan, akan tetapi harus diingat bahwa tindakan yang prosedural harus
pula menjamin pemberian keadilan, dan proses yang sederhana harus pula menjamin adanya
ketelitian dalam pengambilan keputusan.

d. Efektif dan Efisien


Suatu proses peradilan harus dirancang untuk mencapai sasaran yang dituju yaitu hukum
dan keadilan. Selanjutnya seluruh sub sistem dalam melaksanakan tugas dan kewajiban mereka
harus pula :Berdaya guna dan berhasil guna;Dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang
berkualitas dan profesional; Menggunakan sedikit mungkin sumber dana.

e. Akuntabilitas
Pemberian kekuasaan membawa konsekuensi adanya akuntabilitas, dalam kerangka
pelaksanaan akuntabilitas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu adanya:Ketaatan
pada hukum;Prosedur yang jelas, adil dan layak, sertaMekanisme kontrol yang efektif
Sebagai pemegang kekuasaan untuk melakukan proses peradilan kewenangan yang tanpa batas
akan membahayakan publik. Oleh karenanya diperlukan mekanisme kontrol untuk mencegah
atau paling kurang mereduksi adanya penyimpangan hukum dan penyalahgunaan kewenangan
demi terjaminnya hak asasi manusia. Mekanisme kontrol yang diciptakan haruslah rasional,
proporsional dan obyektif dan mekanisme ini dapat dilakukan dalam beberapa cara:
-

internal (oleh lembaga yang bersangkutan sendiri, baik oleh peer group maupun atasan)

Eksternal (oleh pihak diluar lembaga)

Horisontal (oleh lembaga lain dalam hubungan horisontal), maupun

Vertikal (oleh pihak yang memiliki hubungan vertikal dengan personil atau lembaga)

f. Transparansi
Makna transparansi bukanlah keterbukaan yang tanpa batas akan tetapi sesuai dengan
tingkat pemeriksaan dan kebutuhan, asalkan ada kesempatan bagi publik untuk melakukan
kontrol dan koreksi. Misalnya keterbukaan dalam sidang pengadilan merupakan suatu keharusan
akan tetapi pemeriksaan oleh lembaga kepolisian tentunya tidak terbuka untuk umum. Pasal 10
Universal Declaration of Human Rights dengan tegas menentukan bahwa everyone is entitled in
full equality to a fair and public hearing by an independent and impartial tribunalsof any criminal
charges against him. Erat hubungannya dengan konsep ini adalah kebebasan untuk
memperoleh informasi dengan syarat tidak membahayakan berjalannya proses peradilan.
Berbeda halnya dengan keterbukaan putusan pengadilan yang harus dapat diakses oleh publik
untuk dapat mengetahui landasan diambilnya suatu keputusan.
Kesemua prinsip tersebut menjadi ukuran sejauh mana sistem peradilan telah
dilaksanakan dengan baik. Dalam kaitan dengan pengawasan terhadap pelaksanaan proses
peradilan, utamanya pengawasan dalam kerangka mekanisme pengawasan antar sub sistem
perlu adanya pengaturan mekanisme yang lebih partisipatif, dalam hal ini adalah perlunya
standing masyarakat untuk mengajukan praperadilan terutama terhadap penghentian penyidikan
atau penuntutan yang berindikasi KKN.
Partisipasi publik dalam pengawasan peradilan perlu diperkuat dengan memberikan
aturan yang mewajibkan pemberitahuan kemajuan (progress report) penyelesaian perkara,
kepada para pihak yang berkepentingan. Selain itu mekanisme pengawasan horisontal
sebagaimana disebutkan diatas perlu diberikan mekanisme pemaksa agar dapat terlaksana
dengan baik. Alat pemaksa dimaksud didahului dengan persamaan persepsi diantara sub sistem
peradilan, terutama tentang standard atau pedoman pelaksanaan proses peradilan dalam suatu
aturan yang berlaku untuk seluruh proses.

C.

LEMBAGA PENGAWAS

Dalam melaksanakan fungsi pengawasan dapat dilakukan dengan dua cara, pertama
melalui pendekatan struktur atau kelembagaan (institusional approach), kedua pendekatan
sistem (system approach)[17]. Pada metode yang pertama, fungsi pengawasan diserahkan pada
lembaga tersendiri yang bertanggungjawab untuk melakukan pengawasan guna mengusahakan
tercapainya tujuan organisasi tanpa mengalami kesulitan yang berarti, yang dalam hal ini untuk
menjamin terlaksananya fungsi pengawasan secara effektif harus diperhatikan kedudukan
lembaga dalam struktur organisasinya.
Agar suatu lembaga pengawas mampu melaksanakan fungsi pengawasan secara efektif,
terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, diantaranya adalah :
1.

Bebaskan lembaga ini dari fungsi operasional atau kegiatan operasional organisasi
secara keseluruhan. Hal ini dimaksudkan agar posisinya dalam pengawasan itu, bebas
dari kepentingan pribadi atau golongan.

2.

Usahakan agar lembaga ini tetap dalam posisi independent dengan fungsi
operasional maupun secara individual. Ia harus independen secara nyata dan bebas
dari unsur-unsur yang tidak independen.

3.

Harus memiliki kemampuan, keahlian yang lengkap bahkan melebihi keahlian yang
diawasi

4.

Memiliki integritas pribadi, kejujuran dan bersih dari segala kemungkinan


penyelewengan[18].

Pendekatan sistem sebagai salah satu metode dalam pengawasan fungsi organisasi
adalah metode pengawasan berdasarkan sistem sebagai elemen utama dalam melakukan
pengawasan. Sistem sendiri adalah seluruh urutan prosedural (hubungan antar sub sistem) yang
dianut dalam menyelesaikan kegiatan rutin organisasi/lembaga. Sistem harus diatur sedemikian
rupa sehingga tidak memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyimpang dan harus menjamin
efisiensi kerja dalam kerangka mencapai tujuan organisasi secara optimal dan hal inilah yang
dinamakan pengawasan internal. Dalam sistem pengawasan unsur manusia sangat penting
karena manusialah yang menjalankan fungsi pengawasan dan yang diawasi. Namun tak dapat
dipungkiri bahwa manusia dan sistem memiliki korelasi yang kuat dalam melahirkan optimalisasi
pengawasan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sarwono Kusumaatmadja sebagai berikut :
saya melihat korupsi sebagai kelemahan sistem dan keserakahan individu. jadi
sistemnya yang harus diperbaiki, artinya yang digunakan adalah pendekatan sistem.
Dengan demikian , saya tak berharap adanya perubahan drastis dalam penanganan
korupsi. Namun yang harus dilihat adalah kemajuan secara bertahap[19].

Dalam rangka pelaksanaan pengawasan seharusnya dilakukan secara terpadu,


menyeluruh, terintegrasi dan tidak boleh hanya terpaku pada pembenahan sistem atau manusia
semata. Kalau hanya memperhatikan satu unsur saja hampir dapat dipastikan bahwa hasil dari
pengawasan yang dilakukan akan tidak optimal, sehingga tidak dapat menekan perilaku

menyimpang dalam organisasi. Pengawasan dalam peradilan sendiri pada tiap sub sistem
peradilan memang telah diakui ada, dimana pengawasan tersebut adalah bagian dari organisasi.
Hal ini sebagaimana terungkap dalam tabel berikut :

No Apakah Sudah Ada


Sistem Pengawasan
terhadap Lembaga
Peradilan
1 Sudah
2 Belum
3 Tidak menjawab

Hakim
95.1
3.5
1.4

Jaksa
98.7
0
1.3

RESPONDEN (%)
Polisi
Advokat/
pengacara
80.7
17.5
1.8

94.9
7.6
0

Akademisi
/LSM
53.2
41.9
4.8

Pada pertanyaan yang diajukan kepada responden terungkap, bahwa sebagian besar
responden mengakui bahwa telah ada sistem pengawasan terhadap lembaga peradilan.
Responden hakim, jaksa, polisi dan advokat sebagian besar, lebih dari 90% menyatakan sudah
ada sistem pengawasan terhadap lembaga peradilan khususnya di lembaga masing-masing.
Untuk kalangan akademisi/LSM memiliki pandangan yang berbeda. Hal ini terlihat dari
perbandingan antara responden yang memilih jawaban sudah dan belum tidak terlalu jauh
berbeda. Alasan kalangan akademisi/LSM, bahwa mereka belum melihat ada suatu perubahan
atas kinerja aparat penegak hukum. Perubahan yang diharapkan itu seharusnya menjadi
cerminan atas keberhasilan lembaga pengawas.
Keberadaan lembaga pengawasan internal yang ada, oleh masyarakat dirasakan kurang
dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam menindak perilaku yang menyimpang.
Penegasan ini terungkap dari kekurangpercayaan masyarakat terhadap sistem yang ada saat ini.
Mereka kurang percaya bahwa sistem yang ada saat ini dapat menciptakan kondisi peradilan
yang baik. Hal ini terungkap dalam tabel jawaban atas kuisioner yang terhimpun berikut ini :

No

1
2
3

Apakah Sistem
Pengawasan yang Telah Hakim
Ada Dapat Menciptakan
Kondisi Peradilan yang
Baik
Ya
77.8
Tidak
70.8
Tidak menjawab
4.9

Jaksa

RESPONDEN (%)
Polisi
Advokat/
pengacara

Akademisi/LSM

85.9
7.7
6.4

72.9
13.4
18.1

21.0
35.5
43.5

35.4
59.5
5.1

Pertanyaan pada bagian ini merupakan kelanjutan dari pertanyaan sebelumnya yang
menanyakan apakah sistem pengawasan yang ada dapat menciptakan kondisi peradilan yang
baik?. Pertanyaan pada bagian ini menarik untuk dicermati, karena untuk responden dari
kalangan hakim memiliki perbandingan yang tidak jauh berbeda antara responden yang memilih
jawaban ya dan tidak. Sebagian dari hakim menyatakan bahwa pengawasan yang ada saat ini
sudah cukup efektif, sanksi yang diberikan sudah cukup membuat jera. Namun di sisi lain, hakim
atau panitera yang menjawab pertanyaan ini dengan jawaban tidak, menyatakan bahwa
pengawasan yang ada saat ini masih belum efektif. Tidak efektifnya pengawasan karena masih

banyak intervensi dari pihak luar, masih banyak pejabat pengadilan yang menerima suap, dan
masih banyak lagi alasan lainnya. Indikasi ini tentunya perlu menjadi pehatian bersama,
khususnya indikasi adanya permainan antara pengawas dan yang diawasi. Kendala yang
dihadapi pengadilan dalam masalah pengawasan ini tentunya terkait dengan keberadaannya
yang masih dua atap. Departemen Kehakiman melalui Inspektorat Jenderal dan Mahkamah
Agung di pihak lain.
Kondisi yang berbeda terlihat pada responden dari kalangan jaksa, sebagian besar (85.9%) menyatakan sistem
pengawasan yang ada saat ini dapat menciptakan kondisi peradilan yang baik. hanya sedikit yang menyatakan kebalikannya.
Perbedaan pendapat tersebut kembali terlihat pada responden dari kalangan advokat/pengacara dan akademisi/LSM.

Kalangan advokat/pengacara sebagian besar menyatakan tidak atas pertanyaan di atas,


walaupun demikian mereka yang memiliki sikap optimis atas sistem pengawasan yang ada saat
ini pun tidak sedikit. Demikian pula dengan kalangan akademisi/LSM, sebagian dari mereka
memilih menjawab tidak (35.5%) atau tidak menjawab sama sekali (43.5%). Jumlah responden
tersebut ada yang melebihi 100%, hal itu disebabkan sebagian kecil responden menjawab
kedua-duanya (ya/tidak). Alasan yang diberikan hampir sama yaitu tergantung pada kondisi dan
moral dari para pelaksananya.
Keyakinan pihak didalam sistem peradilan terhadap pengawasan internal yang ada
seolah bertolak belakang dengan kenyataan yang ada dalam praktek peradilan. Dimana dalam
praktek masih ditemui perilaku menyimpang[20], dan hal ini diakui oleh pelaku peradilan bahwa
penyebab lahirnya kondisi peradilan yang buruk adalah peradilan yang diliputi oleh korupsi, kolusi
dan Nepotisme.
Pengawasan terhadap lembaga peradilan selain memperhatikan pengawasan internal,
harus juga memperhatikan mekanisme pengawasan eksternal. Dalam pengawasan eksternal
terdapat peran serta masyarakat, dan dapat menjadi counter part bagi pengawasan internal.
Keikutsertaan pihak luar organisasi dalam melakukan pengawasan, sangat penting dalam rangka
membangun kepercayaan publik terhadap institusi.
Adanya kepercayaan publik terhadap institusi akan mengokohkan posisi institusi di
masyarakat. Pembentukan tim pengawasan terpadu menjadi pilihan dalam menerapkan sistem
pengawasan yang menyatukan pihak intern institusi dan eksternal institusi. Hal ini yang
dinamakan dengan stake holders approach, pendekatan ini menggunakan metode multi stake
holders profession dalam lembaga pengawas[21]. Perlunya gagasan untuk menerapkan multi
stake holders approach adalah adanya ketidakpercayaan apabila pengawasan hanya dilakukan
pihak internal saja sehingga tidak tercipta objektifitas. Penggunaan pendekatan ini juga untuk
mencapaian reputasi (prestige) yang baik bagi lembaga pengawasan termaksud.
Studi ini dilakukan untuk memberikan sebuah bentuk pengawasan dalam pelaksanaan
sistem peradilan. Sebagaimana telah diungkapkan diatas bahwa paling tidak terdapat dua
konsep pengawasan dalam suatu sistem guna mencapai tujuan organisasi, yaitu pengawasan
internal dan pengawasan eksternal[22].

1.

Pengawasan Internal

Pengawasan internal mencakup struktur organisasi dan seluruh metode dan prosedur
yang terkordinasi yang diterapkan oleh organisasi untuk mendorong effisiensi dan effektifitas
sehingga tercapai tujuan organisasi [23]. Sistem pengawasan internal yang baik harus didukung
oleh struktur organisasi yang baik dan mekanisme pertanggungjawaban yang baik pula. Struktur
organisasi yang baik berarti adanya pembagian tugas dan wewenang yang jelas diantara para

pihak yang terkait dalam sistem. Dengan adanya pembagian yang jelas maka akan memperjelas
pula obyek pengawasan sebagaimana dijelaskan diatas.
Sebagai suatu kajian, studi ini mencoba mengumpulkan pendapat tentang mekanisme
pengawasan internal dimasa mendatang. Dalam rangka itu tim peneliti mencoba menyimpulkan
berbagai keinginan yang berkembang selama studi ini berlangsung terhadap lembaga
pengawasan internal dimasa mendatang. Walaupun dalam hal ini tak dapat dipungkiri bahwa
pendapat yang diajukan oleh para pihak adalah sangat dipengaruhi oleh kondisi pengawasan
yang ada saat ini.

a.

Kepolisian
1). Kedudukan dan Pertanggungjawaban

Kedudukan lembaga pengawas internal kepolisian, menurut hasil pengumpulan


pendapat ini, terungkap bahwa lembaga pengawasan tersebut berada di bawah Kepala
Kepolisian Republik Indonesia (46.9%). Pendapat ini muncul disebabkan memang adanya
keinginan bahwa lembaga pengawasan internal itu berada di bawah Kapolri, dan menjadi bagian
dari struktur organisasi Kepolisian RI.
Mengingat kedudukannya yang berada di bawah kapolri maka pertanggungjawaban
diberikan kepada Kapolri (62%). Hasil dari pengawasan yang telah dilakukan oleh lembaga
pengawasan tersebut juga disampaikan kepada publik (42,2%), meskipun dalam hal ini adapula
yang menginginkan agar tidak dibuka ke publik (24,1%).
Kedudukan lembaga pengawasan internal Kepolisian dimasa mendatang selayaknya
memperhatikan kedudukan lembaga kepolisian sendiri yang telah berpisah dengan TNI.
Independensitas lembaga pengawasan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas dan
wewenang kepolisian sebagaimana yang telah diamanatkan oleh undang-undang. Kedudukan
lembaga pengawasan internal dibawah Kapolri bukan berarti menghilangkan independensi fungsi
pengawasan dari lembaga pengawasan[24]. Untuk itu perlu dikuatkan posisi lembaga
pengawasan terutama dalam menjalankan tugas dan wewenang sebagai pengawas kepolisian
dalam kedudukannya sebagai penegak hukum.

2) Fungsi, Tugas dan Wewenang


Berbeda dengan beberapa responden dari lembaga profesi lain, responden dari
kepolisian melihat fungsi lembaga pengawas internal kepolisian tersebut adalah mengawasi
kinerja aparat di bidang kepolisian (66.8%), memberikan penilaian atas kinerja aparat kepolisian
(49.9%), dan mengkritisi peraturan perundang-undangan (12.6%). Responden yang tidak
menjawab pertanyaan berjumlah 29.5%. berdasarkan hasil tersebut, responden dari kalangan
polisi lebih menitikberatkan pada faktor pengawasan dan memberikan penilaian atas kinerja polisi
dalam melaksanakan tugasnya.
Lembaga pengawas intern kepolisian dimasa mendatang dapat memberikan kontribusi
yang signifikan dalam kerangka menciptakan lembaga kepolisian yang berwibawa. Dalam
menjalankan tugas dan wewenang yang diembannya, seorang pengawas diharapkan dapat
menjalankan tugasnya secara independen tanpa diliputi oleh rasa khawatir akan timbulnya
permasalahan sehingga ia terkena sanksi oleh atasan.. Wewenang pengawasan yang akan

dijalankan selayaknya didukung oleh kesamaan persepsi atas batasan, metode atau mekanisme
pengawasan dan sistem pertanggungjawaban kepada publik.

3) Keanggotaan
Bagi pihak kepolisian, responden menyatakan bahwa anggota lembaga pengawas
internal terdiri dari polisi senior (42%), Kapolri (36%), dan purnawirawan polisi. Sebanyak 28.9%
dari responden tidak memberikan jawaban atas pertanyaan ini.
Perihal keanggotaan lembaga pengawas dimasa mendatang selayaknya terdiri dari
berbagai stake holders (multi stake holders). Dalam UU No. 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia, dinyatakan bahwa keanggotaan Komisi Kepolisian Negara terdiri dari
unsur pemerintah, pakar kepolisian dan anggota masyarakat. keberadaan pihak diluar kepolisian
untuk membantu kepolisian dalam menganalisis data yang berhasil dihimpun, untuk dijadikan
bahan bagi pengawasan.
Adapun yang dapat dipilih sebagai anggota lembaga pengawas intern kepolisian ini
adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dibidang ilmu kepolisian ataupun
pengetahuan dibidang hukum (66,2%). Untuk selanjutnya orang tersebut harus lolos dari uji
kelayakan dan kepatutan (36,7%). Persyaratan umum lainnya mengikuti seperti apa yang telah
diatur dalam UU. Namun ditengah persyaratan umum tersebut perlu ditambah untuk
mengumumkan kekayaan pribadinya.

4) Tata cara Pemilihan


Menurut responden dari kalangan polisi, yang dapat melakukan pemilihan calon dan uji
kelayakan dan kepatutan adalah lembaga independen yang dibentuk khusus untuk melakukan uji
tersebut (46.9%). Kepala Kepolisian Republik Indonesia, menurut responden (25.8%) dapat
melakukan pemilihan calon dan uji kelayakan dan kepatutan atas anggota lembaga pengawas.
Namun sebagian dari responden (33.1%) tidak memberikan jawabannya. Dalam pemilihan
terlihat adanya fenomena bahwa adanya keiginan anggota lembaga pengawas dipilih oleh
sebuah dewan pemilihan yang independen[25].

b. Jaksa
1. Kedudukan dan Pertanggungjawaban
Responden dari lembaga kejaksaan sebagian besar memilih agar lembaga pengawas
tersebut berada di bawah Jaksa Agung (48.7%), hanya 32.1% yang menyatakan lembaga
tersebut berada di bawah Jaksa Agung Muda bidang Pengawasan. Perihal pertanggungjawaban,
64.1% menyatakan agar pertanggungjawaban diberikan kepada Jaksa Agung. Hanya 16.7 %
yang menyatakan pertanggungjawaban diberikan kepada Jaksa Agung Muda bidang
Pengawasan.
Menyangkut bentuk pertanggungjawaban lembaga pengawas internal kejaksaan,
sebagian besar (48.7%) memilih agar pertanggungjawaban tertutup untuk umum. Hanya 28.2%
yang menyatakan terbuka untuk umum. Hasil jajak pendapat ini perlu untuk dicermati, karena

jawaban responden seakan-akan mencerminkan sikap kejaksaan yang terkesan tertutup.


Perbandingan antara responden yang memilih terbuka untuk umum dan tertutup untuk umum
tersebut cukup jauh, sehingga perlu untuk mendapat perhatian. Perhatian tersebut tentunya
diarahkan menyangkut akuntabilitas lembaga kejaksaan sebagai lembaga publik seharusnya
dapat memberikan pertanggungjawaban secara terbuka.

2. Fungsi, Tugas dan wewenang


Fungsi lembaga pengawas internal kejaksaan berdasarkan hasil jajak pendapat adalah
mengawasi kinerja aparat kejaksaan (73%), kemudian memberikan penilaian atas kinerja aparat
kejaksaan (64%). Hanya sedikit diantara responden yang memilih melakukan kritisi atas
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kejaksaan (20.5%). Hal tersebut dapat
kita pahami karena memang tidak selamanya undang-undang tersebut harus menjadi suatu
perhatian pokok dalam menjalankan fungsinya. Responden yang tidak memberikan jawabannya
berjumlah 26.9%. Sedangkan jumlah responden yang memilih jawaban lain-lain berkisar 7.6%.
Tugas dan wewenang lembaga pengawas kejaksaan, menurut responden adalah
melakukan pemeriksaan atas pelanggaran yang dilakukan oleh jaksa (70.5%). Menjatuhkan
sanksi atas pelanggaran yang telah dilakukan (69.4%). Mengawasi kinerja jaksa dalam
melakukan tugas di bidang peradilan (65.4%) serta memberikan pertanggungjawaban atas hasil
pengawasan yang telah dilakukan kepada pihak yang berwenang (64.1%).
Berdasarkan hasil tersebut, nampak terlihat bahwa responden dari lembaga kejaksaan
masih menekankan pada faktor kesalahan dan penghukuman. Faktor pengawasan yang
seharusnya dijalankan oleh lembaga ini belum menjadi titik perhatian dalam melakukan
perbaikan di lembaga kejaksaan. Selain itu inisiatif yang seharusnya muncul berkenaan dengan
tugas dan wewenang lembaga pengawas ini seakan-akan hilang, hal ini dapat dilihat dari jumlah
responden yang berjumlah hanya 2.6% dari seluruh responden.

3. Keanggotaan
Bagi lembaga kejaksaan, responden mengusulkan agar anggota lembaga pengawas
tersebut terdiri dari jaksa senior (57.7%). Para responden sangat sedikit sekali yang
merekomendasikan mantan jaksa (5.2%) untuk duduk di dalam lembaga tersebut. Jumlah
responden yang menempatkan Jaksa Agung di dalam lembaga pengawas hanya 15.4%.
Sedangkan responden yang tidak menjawab berjumlah 28,2%.
Kriteria yang harus dimiliki oleh anggota lembaga pengawas internal kejaksaan adalah
memiliki pengetahuan yang cukup di bidang hukum (69.2%). Sedangkan keharusan untuk
mengikuti dan lolos uji kelayakan dan kepatutan tidak terlalu banyak dipilih oleh responden
(26.9%). Jumlah responden yang tidak menjawab pertanyaan tersebut sebanyak 26.9%
Sedangkan responden yang menjawab lain-lain sebanyak 23%.

4. Tata cara Pemilihan

Pemilihan calon dan uji kelayakan dilakukan oleh Jaksa Agung (38.5%), atau dapat pula
dilakukan oleh lembaga yang dibentuk khusus untuk itu (21.9%). Namun sebagian besar dari
responden memilih untuk tidak menjawab (41%).

c.

Hakim

1. Kedudukan dan Pertanggungjawaban


Kalangan hakim dan panitera berpendapat agar lembaga pengawasan tersebut berada di
bawah ketua Mahkamah Agung (48.6%), sedangkan kedudukan lembaga pengawas di bawah
ketua muda bidang pengawasan tidak terlalu banyak (36.1%). Untuk itu perlu ada suatu
pengkajian lebih lanjut atas keberadaan ketua muda bidang pengawasan, menyangkut efektifitas
atas keberadaan lembaga tersebut.
Menyangkut pertanggungjawaban, sikap responden tidak jauh berbeda dengan
pertanyaan sebelumnya, 61.1% menyatakan agar lembaga pengawas tersebut
bertanggungjawab kepada ketua Mahkamah Agung. Hanya 18.7% saja yang menyatakan
pertanggungjawaban tersebut diberikan kepada ketua muda bidang pengawasan
Perihal
bentuk
pertanggungjawaban,
43.1%
responden
menginginkan
pertanggungjawaban tersebut dilakukan secara terbuka untuk umum. Alasan yang dikemukakan
oleh responden adalah agar masyarakat dapat turut memantau pelaksanaan penegakan hukum
yang dilakukan oleh MA. Serta dapat mengetahui permasalahan yang ada dalam upaya
penegakan hukum tersebut.
Sebagian responden (32.7%) memilih bentuk pertanggungjawaban secara tertutup untuk
umum. Sebagian memberikan alasan agar tidak menimbulkan gejolak di masayarakat serta untuk
menjaga nama baik. Alasan tersebut tentunya kurang dapat diterima dan masih terkesan terlalu
membela korps secara berlebihan. Sedangkan 27.1% responden lebih memilih untuk tidak
memberikan jawabannya.

2. Fungsi, tugas dan wewenang


Fungsi lembaga pengawas internal pengadilan, berdasarkan hasil jajak pendapat, 68.7%
menyatakan berfungi untuk mengawasi kinerja aparat peradilan di lembaga pengadilan. Selain
melakukan pengawasan, lembaga ini juga akan memberikan penilaian atas kinerja aparat
peradilan di lembaga peradilan (63.2%). Hanya 26.4 % responden hakim dan panitera yang
menyatakan bahwa selain kedua fungsi di atas, lembaga ini pun dapat melakukan kritisi atas
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lembaga pengadilan. Sedikit sekali
responden yang memberikan pendapat lain (5,6%). Pada dasarnya pendapat lain-lain tersebut
tidak jauh berbeda dengan tiga pendapat sebelumnya. Hanya 27.1% responden yang tidak
memberikan jawaban atas pertanyaan ini.
Tugas dan wewenang dari lembaga pengawas ini adalah mengawasi kinerja hakim dan
panitera dalam melakukan tugasnya di bidang peradilan (67.5%). Tugas mengawasi tersebut
dilengkapi dengan kewenangan untuk melakukan pemeriksaan atas pelanggaran yang telah
dilakukan (59.9%) dan dapat menjatuhkan sanksi atas pelanggaran tersebut (41.1%). Sebagai
bentuk pertanggungjawaban atas tugas dan wewenang yang dimilikinya, maka lembaga ini harus
memberikan pertanggungjawaban atas hasil pengawasan yang telah dilakukan kepada pihak

yang memang berwenang untuk itu (48.7%), misalnya ketua MA. Responden yang tidak
memberikan jawaban berjumlah 26.4%.

3. Keanggotaan
Perihal anggota dari lembaga pengawas tersebut, kalangan hakim memilih hakim senior
(57.1%) untuk menjadi anggota pada lembaga pengawas. Pilihan kedua yang terbanyak adalah
ketua Mahkamah Agung (30%) yang dipilih untuk duduk di dalam lembaga pengawas. Pilihan
ketiga merupakan pilihan lain-lain (22.3%). Untuk pilihan lain-lain ini sebagian besar
menempatkan masyarakat umum untuk turut serta di dalamnya. Sedangkan pilihan untuk mantan
hakim hanya diusulkan oleh 18.2%. responden yang tidak memberikan jawaban berjumlah
26.4%.
Kriteria yang harus dimiliki oleh anggota lembaga pengawas ini pada dasarnya tidak
dibatasi oleh dua pilihan di atas. Pilihan mempunyai pengetahuan di bidang hukum merupakan
syarat yang paling banyak diusulkan oleh responden (62.5%). Sedangkan syarat/kriteria telah
mengikuti dan lolos uji kelayakan dan kepatutan merupakan pilihan kedua yang diusulkan oleh
responden (40.3%). Pilihan lain-lain (25%) dari jawaban responden pada umumnya menyatakan
bebas KKN, tidak pernah terlibat dalam kriminal, dan berdedikasi tinggi.

4. Tata cara Pemilihan


Perihal panitia yang dapat melakukan pemilihan calon dan uji kelayakan dan kepatutan,
menurut responden dibentuk oleh ketua Mahkamah Agung (39%). Namun 31.3% menyatakan
agar dilakukan oleh lembaga independen yang dibentuk khusus untu melakukan pemilihan
tersebut. Responden yang tidak memberikan jawaban sebanyak 33.3%, sedangkan responden
yang menjawab lain-lain sebanyak 11.9%.

d. Advokat/Pengacara
1. Kedudukan dan Pertanggungjawaban
Hasil jajak pendapat terhadap profesi advokat memperlihatkan keinginan profesi advokat
untuk mandiri, terlepas dari pemerintah dan Mahkamah Agung. Sebanyak 34.1% responden
menginginkan kedudukan lembaga tersebut berada di bawah ketua organisasi advokat. Alasan
yang dikemukakan antara lain, agar ada jaminan untuk menjalankan tugas secara mandiri,
menghindari kerancuan yang mungkin akan timbul dalam pelaksanaannya nanti.
Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan responden yang tidak memberikan
jawabannya. Hal itu mungkin disebabkan oleh beragamnya organisasi advokat yang ada di
Indonesia. Sehingga cukup sulit untuk menempatkan lembaga pengawas advokat ini dalam satu
organisasi.
Untuk masalah pertanggungjawaban, responden yang memilih agar pengawas
bertanggungjawab kepada ketua organisasi advokat (24.1%) tidak sebanyak saat menyatakan
kedudukan lembaga pengawas tersebut. Mereka yang memilih jawaban ini memberikan alasan,
agar koordinasi dalam proses tindak lanjut atas suatu masalah menjadi lebih cepat.

Sebanyak 34.1% memilih jawaban lain-lain, namun pada umumnya pilihan lain-lain ini
diisi dengan pertanggungjawaban pada masyarakat atau lembaga lain yang independen. Jumlah
terbesar dari kalangan advokat (38%) memilih untuk tidak menjawab. Hanya 10.2% yang memilih
agar lembaga pengawas bertanggungjawab kepada Ketua Mahkamah Agung. Tentunya hal ini
berbeda jauh dengan pertanyaan awal, mengenai kedudukan lembaga pengawas, yang sebagian
kecil memilih di bawah Ketua Mahkamah Agung sebagai letak kedudukan lembaga pengawas.

2. Fungsi, tugas dan wewenang


Fungsi lembaga pengawas internal untuk advokat/pengacara menurut hasil jajak
pendapat, 38.8% responden menyatakan berfungsi untuk mengawasi kinerja advokat/pengacara.
Responden yang menyatakan berfungsi untuk memberikan penilaian atas kinerja
advokat/pengacara (26.9%) dan mengkritisi peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan advokat/pengacara (22.8%). Responden yang memberikan jawaban lain-lain berjumlah
16.4%, jawaban lain-lain tersebut pada umumnya tidak jauh berbeda dengan tiga jawaban
sebelumnya. Namun yang perlu mendapat perhatian adalah jumlah responden yang tidak
memberikan jawabannya. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan jumlah responden yang
berpendapat bahwa fungsi lembaga pengawas untuk mengawasi kinerja advokat.
Perihal tugas dan wewenang dari lembaga pengawas internal advokat/pengacara tidak
jauh berbeda dengan pendapat yang diberikan oleh lembaga kejaksaan. Perbedaan yang
dimaksud adalah penekanan yang diberikan oleh responden berkisar pada pemeriksaan atas
pelanggaran yang dilakukan oleh advokat/pengacara (58.5%) dan penjatuhan sanksi atas
pelanggaran tersebut (54.6%). Tugas untuk mengawasi (49.7%) dan memberikan
pertanggungjawaban atas hasil pengawasan tersebut (33.1%) tidak terlalu banyak dipilih oleh
responden. Sedangkan mereka yang tidak memberikan jawaban berjumlah 36.7%. Jumlah
tersebut sama dengan jumlah responden yang tidak memberikan jawaban pada pertanyaan
sebelumnya. Hal ini perlu pula untuk diperhatikan mengingat jumlah organisasi advokat dan
pengacara yang banyak sehingga responden belum dapat memberikan suatu pendapat pasti
akan lembaga pengawas internal yang ideal dalam pandangannya.

3. Keanggotaan
Bagi kalangan advokat/pengacara, responden memilih advokat/pengacara senior
(53.3%) untuk duduk menjadi anggota lembaga pengawas. Sedangkan 25.5% responden
memilih ketua oraganisasi advokat/pengacara untuk duduk menjadi anggota. Responden yang
tidak memberikan jawaban sebanyak 36.7%.
Kalangan advokat dan pengacara mensyaratkan agar anggota lembaga pengawas
internal tersebut memiliki pengalaman praktek sebagai advokat/pengacara (59.4%). Kriteria
selanjutnya, para calon anggota lembaga pengawas ini telah mengikuti dan lolos uji kelayakan
dan kepatutan (56.9%). Kriteria selanjutnya adalah, bahwa para calon anggota tersebut harus
memiliki pengetahuan yang cukup di bidang hukum (55.6%). Adapun jumlah responden yang
tidak memilih berjumlah 36.7%.

4. Tata cara Pemilihan

Uji kelayakan dan kepatutan dilakukan oleh lembaga independen yang dibentuk khusus
(29.3%). Keterlibatan ketua Mahkamah Agung (6.5%) dan menteri kehakiman (5.2%) dalam
melakukan uji kelayakan dan kepatutan tidak didukung oleh sebagian besar responden.
Dukungan atas ketua organisasi advokat/pengacara tidak terlalu besar, hanya 18% jumlah
responden. Pilihan lain terdapat di dalam kategori lain-lain (27.9%), jawaban tersebut pada
umumnya berpendapat bahwa yang dapat melakukan pengujian tersebut harus melibatkan
masyarakat dengan ketentuan mereka harus bersih dan bebas KKN.

2. Pengawasan Eksternal
Mekanisme kontrol internal oleh beberapa kalangan dianggap kurang mampu mengatasi
permasalahan penyimpangan dalam institusi penegak hukum yang ada saat ini. Lemahnya
mekanisme kontrol pada tiap-tiap sub sistem tidak dapat dilepaskan dari ketentuan perundangundangan yang mendasarinya. Selayaknya mekanisme kontrol dimaksudkan untuk memastikan
kinerja setiap lembaga dalam mencapai tujuan organisasi yang telah digariskan. Lemahnya
mekanisme kontrol ini tergambar dalam pandangan yang diberikan oleh responden dalam studi
ini, sebagaimana yang telah diungkapkan diatas.
Mekanisme kontrol yang bersifat internal sudah terinkorporasi dalam tiap subsistem,
yang juga sering disebut sebagai pengawasam melekat (waskat), walaupun efektifitasnya masih
banyak diragukan (utamanya karena dugaan adanya in-group feeling yang cenderung menutupi
kesalahan sesama kolega). Beberapa hal yang ditengarai dari pelaksanaan mekanisme kontrol
internal antara lain adalah :
1.

Jarang sekali ada penjelasan dari lembaga mengenai hasil akhir pengaduan masyarakat
mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya;

2.

Produk dari mekanisme pengawasan internal pada umumnya tidak untuk konsumsi
publik, tetapi hanya bersifat internal;

3.

Apabila ada anggota yang diproses, tidak mungkin dapat bersifat obyektif dalam
melakukan investigasi terhadap anggotanya yang melakukan pelanggaran (solidaritas, in
group feeling, esprit de corps);

4.

Pelanggaran yang dilakukan oleh aparatur yang berada dalam sub sistem peradilan
mencerminkan adanya kelemahan atau keburukan lembaga tersebut, termasuk fungsi
pendidikan dan pelatihannya, sehingga sulit diharapkan bahwa hal semacam ini akan
diekspose oleh suatu lembaga internal.

5.

Proses Investigasi oleh lembaga internal terhadap anggotanya cenderung diwarnai oleh
conflict of interest sehingga hasilnya kurang credible.[26]

Menanggapi adanya wacana dan fakta seperti itu, dewasa ini telah mulai muncul
berbagai lembaga swadaya masyarakat yang bertujuan melakukan public control terhadap
sistem peradilan, diantaranya Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), Police watch,
judicil watch serta lembaga lainnya yang serupa. Namun keberadaan lembaga tersebut hanya
sejauh sebagai pressure group untuk peningkatan pengawasan karena berada diluar sistem
internal.

Melemahnya mekanisme internal sebagaimana disebutkan diatas melahirkan


keprihatinan para pemerhati hukum, yang mana hal tersebut kemudian melahirkan wacana
pembentukan lembaga kontrol eksternal yang independen sebagai public control terhadap
pelaksanaan sistem peradilan.
Namun lembaga baru ini tidak seperti layaknya beberapa LSM seperti Masyarakat
Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi
Peradilan (LeiP), Indonesian Court Monitoring (ICM), Police Watch, Judicial Watch dan berbagai
lembaga sejenis yang tersebar diseluruh Indonesia yang keberadaan lembaga hanya sejauh
sebagai pressure group, karena berada diluar sistem internal. Akan tetapi harapan berbagai
kalangan tersebut adalah adanya lembaga pengawas eksternal yang lebih berdaya dalam
memberikan tekanan kepada pihak dalam pelaksanaan sistem peradilan, sebagaimana yang
tergambar dalam tabel berikut :

No Perlukah Dibentuk
Lembaga Pengawas
Baru
1 Perlu
2 Tidak
3 Tidak menjawab

Hakim
13.9
14.6
71.5

Jaksa
3.8
3.8
92.3

RESPONDEN (%)
Polisi
Advokat/
pengacara
9.0
48.1
18.7
17.7
74.1
34.2

Akademisi
69.4
8.1
22.6

Penelitian ini mencoba untuk memberikan alternatif lain yang sekiranya dapat membantu
fungsi lembaga pengawasan yang telah ada. Untuk itu diajukan pertanyaan perlukah dibentuk
lembaga pengawas baru. Atas pertanyaan ini sebagian besar memilih tidak menjawab. Hal ini
menimbulkan pertanyaan besar atas sikap tersebut, apakah ada rasa antipati, pesimisme atau
menyerahkan pada apapun yang akan diatur kemudian, atau mungkin sebenarnya ingin adanya
lembaga baru tetapi enggan atau tidak berani menjawab (ya).
Tetapi untuk responden dari kalangan advokat dan akademisi/LSM sebagian besar
menganggap perlu ada suatu lembaga pengawas baru yang berada di luar instansi yang
bersangkutan. Hal itu diperlukan, dengan alasan bahwa selama ini lembaga pengawas yang ada
tidak dapat berfungsi dengan baik bahkan cenderung untuk melindungi korps masing-masing.
Namun mereka yang menjawab tidak mempunyai alasan sendiri, diantaranya adalah bahwa
lembaga yang ada seharusnya dapat lebih dimaksimalkan peran dan fungsinya.
Dari berbagai pendapat yang terkumpul dalam studi ini, berhasil dirangkaikan bentuk
lembaga pengawasan eksternal dimasa yang akan datang. Dalam studi ini tentang kelembagaan
pengawas eksternal mencakup 4 aspek yaitu bentuk dan kedudukan, tugas dan wewenang,
keanggotaan serta mekanisme pengangkatan.

a. Kedudukan dan Pertanggungjawaban


Sebelum lebih jauh membahas tentang kelembagaan pengawas eksternal, terlebih
dahulu dibicarakan tentang kedudukan lembaga tersebut. Dalam hal ini lembaga pengawas
eksternal diharapkan berada di seluruh Indonesia. Dimana lembaga pengawas tersebut
keberadaannya mengikuti kewenangan relatif pengajuan tuntutan. Harapannya, keberadaan
lembaga pengawas ini nantinya dibentuk dengan Undang-undang tersendiri, dimana apabila

memang dianggap sangat mendesak kebutuhan akan terciptanya suatu mekanisme pengawasan
melalui lembaga pengawasan tersebut, bilamana perlu dapat dibentuk melalui Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu)[27].
Lembaga pengawas eksternal ini adalah lembaga yang independen, untuk itu kedudukan
lembaga tidak berada di bawah kepala lembaga internal yang ada. Untuk kedudukan ini ada
beberapa alternatif kedudukan, diantaranya adalah berada di bawah Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) [28]. Alasannya karena agar lebih netral karena MPR merupakan perwujudan dari
rakyat, selain itu agar tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai kepentingan sehingga masyarakat
dapat mengawasi lembaga dengan baik.
Dengan kedudukan yang berada di bawah MPR membawa dampak
pertanggungjawaban lembaga dilakukan kepada MPR, namun dalam bagian lain ada keinginan
bahwa pertanggungjawaban kepada MPR dilakukan melalui Mahkamah Agung (MA). Mengenai
hal ini, dapat diartikan bahwa pertanggungjawaban lembaga bersamaan dengan laporan yang
disampaikan MA ke MPR.
Alternatif pilihan lain bahwa lembaga pengawasan yang akan terbentuk nantinya adalah
berada di bawah Presiden selaku Kepala Negara. Pilihan ini dimaksudkan bahwa kedudukan
lembaga pengawas nantinya adalah sejajar dengan lembaga penegak hukum lainnya yang
berada di bawah Presiden. Namun sejalan dengan perkembangan yang ada lahir keinginan agar
lembaga tersebut berada sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya. Hal ini perlu mendapat
kajian lebih dalam tentang kedudukan lembaga pengawas apabila sejajar dengan lembaga tinggi
negara lainnya, karena hal ini membawa dampak pada ketatanegaraan dalam posisinya di
Undang-Undang Dasar.
Untuk yang alternatif kedua ini mekanisme pertanggungjawaban yang ditawarkan sangat
beragam, namun kesemuanya mengarah pada mekanisme pertanggungjawaban kepada publik
secara terbuka melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pertanggungjawaban yang diberikan
lembaga selain mengenai kinerja juga mengenai keuangan yang digunakan. Dalam hal ini
mekanisme laporan kinerja diberikan paling kurang setiap tahun.

b.

Fungsi, Tugas Dan Wewenang


No Fungsi
Lembaga
.
Pengawas
Haki
m
1
Mengawasi
kinerja44.6
aparat peradilan
2
Mengkritisi peraturan27.4
perundangundangan
3
Mengawasi
17.4
kemungkinan terjadi
campur tangan atas
kewenangan lembaga
peradilan
4
Menerima
dan18.6
menindaklanjuti
pengaduan
atas
kinerja
aparat
lembaga
peradilan
yang dinilai buruk

Jaksa

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/pengacara Akademisi/LSM

39.9

29.4

59.6

80.5

18.0

15.0

29.2

43.5

28.3

27.4

39.3

70.8

33.4

33.6

33.0

72.5

5
6

Lain-lain
Tidak menjawab

8.6
54.8

5.2
57.7

40.8
54.8

14.0
35.4

24.2
14.5

Fungsi lembaga pengawas baru tersebut berdasarkan hasil pengumpulan pendapat,


bahwa kalangan hakim (44.6%) dan jaksa (39.9%) menyatakan bahwa lembaga tersebut
berfungsi untuk mengawasi kinerja aparat peradilan. Kalangan advokat dan akademisi memiliki
pandangan yang tak jauh berbeda dengan pandangan yang dimiliki oleh kedua profesi
sebelumnya. Responden dari kepolisian (33.6%) lebih banyak menyoroti fungsi lembaga tersebut
untuk menerima dan menindaklanjuti pengaduan atas kinerja aparat lembaga peradilan yang
dinilai buruk. Namun secara umum profesi hakim, jaksa, dan polisi lebih banyak yang tidak
menjawab pertanyaan ini. Tetapi berdasarkan hasil kuisioner ini fungsi kontrol kinerja lembaga
pengawas lebih mendapat perhatian dari pada fungsi lainnya seperti mengkritisi peraturan
perundang-undangan.
Adapun untuk tugas dan wewenangnya tergambar dalam tabel dibawah ini

No. Tugas dan Wewenang


Lembaga Pengawas
1
2

3
4
5
6

39.8

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/
pengacara
36.3
49.6

32.1

23.9

49.7

70.9

26.9

20.0

38.2

62.9

14.1

28.8

36.9

37.0

2.6
57.7

2.1
61.1

15.4
35.4

14.4
16.1

Hakim Jaksa

Mengawasi Pelaksanaan32.7
Penegakan Hukum
Memberikan Penilaian Atas23.7
Pelaksanaan Penegakan
Hukum
oleh
Aparat
Peradilan
Mengumumkan
hasil16.0
Penilaian Kepada Publik
Memberikan Sanksi Atas18.8
Pelanggaran yang Terjadi
di Lembaga Peradilan
Lain-lain
2.1
Tidak menjawab
61.1

Akademisi/LSM
61.2

Perihal tugas dan wewenang lembaga pengawas secara urut, para responden
memberikan penilaian yang hampir sama. Pada dasarnya responden menyetujui tugas dan
wewenang lembaga pengawas tersebut adalah mengawasi pelaksanaan penegakan hukum,
memberikan penilaian atas pelaksanaan penegakan hukum oleh aparat peradilan,
mengumumkan hasil penilaian kepada publik, dan memberikan sanksi atas pelanggaran yang
terjadi di lembaga peradilan. Tetapi jumlah responden yang memberikan persetujuannya, masih
sedikit dibandingkan responden yang tidak memberikan jawaban sama sekali. Kecuali akademisi
dan advokat yang memberikan penilaian secara berimbang atas usulan yang diajukan dalam
kuisioner ini.

c.

Susunan Keanggotaan dan Mekanisme Pemilihan Anggota

No. Yang Berhak Duduk di


Lembaga Pengawas
1
2
3
4
5
6

37.3
33.4
34.7
32.2

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/
Pengacara
31.8
58.2
25.2
19.0
19.8
15.2
31.2
54.4

18.0
57.7

16.8
54.8

Hakim Jaksa

Akademisi
31.3
Mantan Hakim
28.5
Mantan Jaksa
21.5
Aktivis Organisasi non27.8
Pemerintah
di
Bidang
Hukum
Lain-lain
16.7
Tidak menjawab
61.8

34.2
35.4

Akademisi/LSM
79.0
45.1
37.1
80.6
45.1
14.5

Berdasarkan hasil jajak pendapat, diperoleh data bahwa yang dapat duduk di dalam
lembaga pengawas tersebut terdiri dari kalangan akademisi, aktivis lembaga swadaya
masyarakat, mantan hakim, dan mantan jaksa. Tetapi sebagian besar responden yang berasal
dari kalangan hakim, jaksa, dan polisi memilih untuk tidak menjawab. Hal yang berbeda jauh
dengan kalangan advokat/pengacara dan akademisi/LSM, sebagian besar responden dari
kalangan ini memilih akademisi dan aktivis LSM untuk duduk di dalam lembaga tersebut.
Sedangkan kriteria yang harus dimilikinya adalah

No. Kriteria yang Harus RESPONDEN (%)


Dimiliki oleh Anggota Hakim Jaksa Polisi
Lembaga Pengawas
1
Tidak
Menjadi25.1
10.3
24.7
Anggota/Pengurus
Partai Politik Apapun
2
Mempunyai
35.8
41.0
41.3
Pengetahuan
yang
memadai di Bidang
Hukum
3
Telah Mengikuti dan32.0
28.1
32.5
Lolos uji Kelayakan
dan Kepatutan
4
Lain-lain
7.0
10.3
10.8
5
Tidak menjawab
62.5
57.7
54.8

Advokat/
pengacara
48.2

Akademisi/LSM

55.8

72.5

58.2

40.9

17.8
35.4

33.8
16.1

72.5

Kriteria yang harus dimiliki oleh anggota lembaga pengawas, menurut hasil jajak
pendapat, sebagian besar menempatkan pengetahuan di bidang hukum menjadi salah satu
syarat yang harus dimiliki oleh para anggota tersebut. Syarat kedua, mereka harus lolos dalam fit
and proper test. Syarat ini merupakan syarat umum untuk menduduki jabatan publik yang cukup
menentukan.

Syarat ketiga, tidak menjadi anggota/pengurus partai politik apapun. Responden dari
kalangan jaksa, hakim, dan polisi tidak terlalu banyak yang memilih jawaban ini. Sebagian besar
dari kalangan ini lebih memilih untuk tidak menjawab. Hanya kalangan advokat/pengacara dan
akademisi/LSM yang memberikan jawaban dengan memilih jawaban yang telah disediakan.
Rata-rata jumlah yang memilih jawaban tersebut berjumlah diatas 50% dari responden advokat
dan akademisi yang memberikan jawaban tersebut.

3. Prinsip Prinsip Berfungsinya Lembaga Pengawas


Guna penciptaan lembaga pengawas yang mampu menerapkan pengawasan secara efektif dan
efisien serta memiliki daya dukung yang kuat, lembaga pengawasan eksternal dimasa
mendatang sekurang-kurangnya harus memiliki prinsip-prinsip kelembagaan yang berdaya guna
dan berhasil guna. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah prinsip independensi, yurisdiksi
yang tegas dan wewenang yang memadai, kemudahan untuk diakses, efisiensi operasional dan
pertanggungjawaban.

a)

Independensi

Sebuah lembaga yang efektif adalah lembaga yang mampu bekerja secara terpisah dari
pemerintah, partai politik, serta segala lembaga yang mungkin dapat mempengaruhi
pekerjaannya. Akan tetapi, independensi adalah konsep yang relatif. Kenyataan bahwa suatu
lembaga diberi independensi tertentu untuk bekerja, membedakan lembaga tersebut dari
instrumen pemerintah. Sebaliknya, independensi bagi lembaga memuat persyaratan bahwa
lembaga tersebut memiliki dasar hukum yang kuat. Hal yang dpat menghalangi independensi
diantaranya adalah kewajiban memberikan laporan dan tidak adanya otonomi penuh dalam hal
keuangan. Dasar hukum dan batasan-batasan yang mendampinginya adalah unsur-unsur yang
membedakan lembaga ini dengan organisasi non pemerintah.
Independensi suatu lembaga akan tercipta dengan baik sepanjang diterapkan makna
independensi secara menyeluruh. Independensi suatu lembaga dalam menjalankan fungsi, tugas
dan wewenangnya meliputi independensi melalui otonomi hukum dan operasional, independensi
melalui otonomi keuangan, independensi melalui prosedur pengangkatan dan pemecatan,
independensi melalui komposisi.

1. Otonomi Hukum dan Operasional


Undang-undang pembentukan lembaga sangat penting dalam memastikan independensi
hukumnya, terutama independensinya dari pemerintah. Idealnya lembaga yang independen
diberi status yang berbeda dan terpisah dari pusat kekuasaan, terutama untuk menjalankan
kekuasaan pembuatan keputusan secara independen. Dalam hal ini lembaga yang bersangkutan
menjalankan fungsinya tanpa gangguan atau halangan dari cabang-cabang pemerintah atau
lembaga-lembaga masyarakat atau swasta. Hal ini dapat dicapai dengan membentuk lembaga
tersebut bertanggungjawab secara langsung kepada parlemen.

Otonomi operasional berkaitan dengan kemampuan untuk menjalankan kegiatan sehari-harinya


secara terpisah dari individu, organisasi , departemen atau aparat manapun. Efektifitas lembaga
tercermin dari merancang peraturan dan prosedurnya serndiri, dan peraturan ini tidak boleh
diubah dari luar. Lembaga ini juga tidak bisa diperiksa oleh lembaga manapun kecuali ditentukan
oleh Undang-undang yang membentuknya. Otonomi operasional juga terkait dengan wewenang
hukum untuk memaksa kerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas, fungsi dan
wewenangnya, dimana penyelidikan atas pengaduan diberikan wewenang penuhnya kepadanya.
Dalam UU juga ditentukan bahwa semua petugas dan aparat publik harus membantu pekerjaan
lembaga, termasuk menjawab permintaan untuk memberikan informasi , dan membantu dalam
pengusutan.

2. Independensi Melalui Otonomi Keuangan


Otonomi keuangan sangat terkait dengan otonomi fungsional, apabila tidak independen secara
keuangan maka akan tergantung pada lembaga pemerintah yang berdampak pada intervensi
fungsional. Dalam hal keuangan lembaga independen diberikan kekuasaan untuk mengatur
anggarannya sendiri. peran parlemen hanya dalam pemeriksaan dan evaluasi atas laporan
keuangan, hal ini terkait pemberian anggaran dalam anggaran negara.

ADMINISTRASI PERADILAN LEMBAGA PENGAWASAN SISTEM


PERADILAN TERPADU
MaPPI FHUI
19 May 2005, 12:17:31 WIB - pemantauperadilan.com

A.

DIMENSI PENGAWASAN

Dimensi pengawasan dalam kerangka penegakan hukum memegang peranan penting


terutama dalam mengukur sejauhmana seorang penegak hukum menjalankan profesinya
berdasarkan aturan yang telah ditetapkan. Mekanisme pengawasan yang dipraktekkan saat ini
kurang mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat, hal ini tidak lain karena berbagai praktekpraktek menyimpang yang terjadi dalam pelaksanaan proses peradilan[1]. Merebaknya praktek
tersebut tidak lepas dari lemahnya sistem pengawasan yang ada selama ini.
Pelaksanaan pengawasan berjalan tidak effektif juga dipengaruhi oleh rasa solidaritas
untuk membela rekan sejawat (lesprit de corps). Dengan adanya rasa solidaritas tersebut
mengakibatkan mekanisme penghukuman (punishment system) tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Mengingat hal tersebut diatas, kebutuhan akan lembaga pengawasan untuk
menciptakan peradilan yang baik adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, hal ini terungkap
dalam penelitian lapangan yang telah dilakukan, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini :

No

RESPONDEN (%)

1
2
3

Diperlukan Sistem
Pengawasan untuk
Menciptakan Kondisi
Peradilan yang Baik
Ya
Tidak
Tidak menjawab

Hakim

89.3
10.7
0.0

Jaksa

Polisi

Advokat/
pengacara

Akademisi
/LSM

91.0
9.0
0.0

85.5
15.7
0.6

93.7
6.3
0.0

98.4
1.6
0.0

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa sistem pengawasan diperlukan dalam rangka
menciptakan peradilan yang baik. Atas usulan tersebut sebagian besar responden menyatakan
persetujuannya. Sedikit sekali responden yang menyatakan penolakannya.
Berbicara tentang pengawasan, setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan,
pertama aspek pendekatan dalam pengawasan misalnya pendekatan preventif, detektif, dan
repressif. Kedua adalah aspek pihak pelaksana dalam pengawasan, yang meliputi masyarakat
dan lembaga formal (termasuk di dalam kelembagaan antara lain aspek kedudukan, sumber
daya manusia serta mekanisme kerja. Ketiga, obyeknya, adalah pengawasan terhadap perilaku,
kecakapan (skill) atau pelaksanaan tugas (performance) dalam hal administrastif, prosedural,
keuangan serta metode pengawasannya[2].

1.

Pendekatan Pengawasan
a.

Preventif

Pendekatan Preventif pada intinya diperlukan untuk meminimalisasi penyebab dan


peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran oleh aparat penegak hukum
dan hakim[3]. Pendekatan ini penting dilakukan dalam rangka menunjang pengawasan yang
efektif karena selama ini banyak aturan hukum di Indonesia yang masih bersifat umum dan
memiliki loopholes sehingga membuka peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang atau
pelanggaran.
Salah satu titik tolak untuk melakukan upaya pengawasan preventif tersebut adalah
pembenahan hukum acara, kode etik atau kode berperilaku, dan aturan teknis pelaksanaan
tugas, antara lain dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, diskresi
yang limitatif, obyektifitas, pembatasan perilaku yang spesifik, serta partisipasi masyarakat dan
ketersediaan mekanisme check and balances di dalamnya. Penerapan prinsip akuntabilitas dan
transparansi memegang peranan penting dalam rangka peningkatan peran serta masyarakat
dalam pengawasan.

1) Transparansi dan Akuntabilitas


Ketiadaan transparansi dan akuntabilitas adalah salah satu faktor penyebab tumbuh
suburnya penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran[4]. Selain itu, korupsi terjadi karena
adanya monopoli kewenangan ditambah adanya diskresi yang luas serta kurangnya akuntabilitas
(termasuk transparansi)[5]. Oleh karena itu, selama tidak mempengaruhi upaya penegakan
hukum, maka seluruh pelaksanaan tugas dan wewenang aparat penegak hukum dan hakim
harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan (akuntabel)[6].

Dalam tahap penyelidikan misalnya, penyelidik harus dapat mempertanggungjawabkan


secara terbuka atas hasil penyelidikan yang telah dilakukan. Pertanggungjawaban tersebut
terutama adalah dalam hal tidak ditingkatkannya penyelidikan ke tingkat penyidikan. Begitupula
halnya pengungkapan alasan tidak ditingkatkannya penyidikan ke tingkat penuntutan, serta tidak
dilanjutkannya penuntutan ke pengadilan juga harus diungkapkan alasan yang
melatarbelakanginya. Dimana alasan untuk dihentikannya suatu penyidikan atau penuntutan
harus secara terbuka diungkapkan alasan yang melatarbelakanginya. Demikian pula rencana
penuntutan, selain itu dokumen-dokumen yang lahir dari proses peradilan harus dapat diakses
oleh masyarakat, dengan demikian aparat penegak hukum dan hakim akan berhati-hati dalam
menggunakan kewenangannya.
Di Mahkamah Agung misalnya, pengaturan hal yang berhubungan dengan managemen
perkara perlu dibenahi. Untuk meminimalisasi KKN, informasi mengenai status perkara harus
dapat diakses pencari keadilan secara cepat dan murah[7]. Hal yang sama berlaku pula bagi
informasi lain yang dikelola oleh lembaga penegak hukum dan lembaga peradilan misalnya
informasi kepegawaian, anggaran, pelaksanaan tugas kelembagaan dan sebagainya[8].

2)

Dikresi yang terbatas dan tolok ukur yang obyektif

Sebagaimana dijelaskan, luasnya diskresi membuka peluang untuk penyalahgunaan


wewenang dan pelanggaran. Hal ini jelas perlu diantisipasi dengan pengaturan yang lebih rinci,
limitatif, dan memiliki tolok ukur yang obyektif untuk menilai bagaimana aparat penegak hukum
dan hakim harus menjalankan tugas dan wewenangnya.
Kelemahannya adalah selama ini diskresi aparat penegak hukum dan hakim masih besar
dan belum disertai tolok ukur yang obyektif dalam pelaksanaannya. Hal ini dapat dilihat misalnya
dalam diskresi yang luas dan subyektif bagi penyelidik/penyidik/penuntut/hakim untuk
mengartikan bukti yang cukup, ada kekhawatiran tersangka/terdakwa melarikan diri, atau
menghilangkan alat bukt menahan sebagai dasar penahanan tersangka atau terdakwa[9]. Selain
itu masalah diskresi ini pun dapat dilihat dalam aturan MA, dimana tidak ada batas waktu yang
jelas bagi hakim agung untuk menyelesaikan suatu perkara.
Oleh karena itu, perlu dibuat suatu pembatasan atas penggunaan diskresi bagi aparat
penegak hukum dan hakim. Selain itu, untuk menutup peluang penyalahgunaan wewenang,
pengaturan tentang diskresi yang teknis, baik itu standard operation procedure (SOP), buku
pedoman, Prosedur Tetap atau istilah lainnya, penting sebagai dasar untuk menilai performance
dan perilaku aparat penegak hukum dan hakim.

3) Pembatasan perilaku yang spesifik


Senafas dengan diskresi yang terbatas, adanya pembatasan perilaku yang spesifik bagi
aparat penegak hukum, hakim dan advokat dalam menjalankan tugas merupakan hal yang tidak
kalah pentingnya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran.
Selain itu, pembatasan perilaku yang spesifik akan sangat membantu upaya represif yaitu untuk
menentukan sesuai tidaknya penggunaan wewenang atau perilaku aparat penegak hukum,
hakim dan advokat dalam menjalankan tugas. Kelemahannya selama ini, aturan mengenai
pembatasan perilaku bagi aparat penegak hukum, hakim, dan advokat yang biasanya diatur

dalam UU tentang lembaga penegak hukum dan lembaga peradilan serta etika profesi, masih
belum rinci[10].
Sebagai contoh misalnya, larangan bagi hakim untuk bertemu salah satu pihak tanpa
dihadiri pihak lain. Hal ini bisa membantu memudahkan upaya pendisiplinan bagi hakim, jika ini
dilanggar dan ada saksi yang bisa membuktikan[11].

4) Partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam melakukan pengawasan merupakan hal yang penting,
mengingat lemahnya lembaga pengawas formal selama ini serta keterbatasanketerbatasan
yang mereka miliki. Bukankah seribu mata lebih mampu melihat banyak hal dibandingkan dua
mata?
Dalam konteks hukum acara pidana, pengaturan mengenai praperadilan yang
merupakan sarana check and balances harus dibenahi, antara lain dengan pemberian standing
kepada masyarakat untuk mengajukan praperadilan atas penghentian penyidikan atau
penuntutan. Selain itu, untuk memastikan bahwa laporan dari pelapor ditindaklanjuti oleh
penyelidik, maka pelapor perlu diberikan hak untuk mengajukan praperadilan jika laporannya
tidak ditindaklanjuti dengan alasan yang jelas.
Untuk memaksimalkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan, penyadaran
masyarakat atas hak-haknya menjadi penting. Selain itu sarana untuk memudahkan masyarakat
melaporkan suatu penyalahgunaan wewenang atau pelanggaran dan jaminan yang melindungi
pelapor perlu diperhatikan.

b. Detektif
Pendekatan detektif pada intinya diperlukan untuk memudahkan upaya memperoleh
informasi yang cepat dan akurat guna menunjang pengawasan[12]. Beberapa hal yang dapat
dilakukan dalam hal ini misalnya pencatatan harta kekayaan dan sumber penghasilan
(sebagaimana yang dilakukan oleh KPKPN), penyampaian gratifikasi sebagaimana diatur dalam
UU korupsi yang baru (Pasal 12 UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Undang-Undang No.
31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), pendataan informasi
kepegawaian yang baik[13].

c. Represif
Pendekatan represif ini pada intinya merupakan langkah penegakan hukum (dalam
konteks ini hukum administrasi), oleh lembaga pengawasan jika ada penyalahgunaan wewenang
atau pelanggaran oleh aparat penegak hukum dan hakim. Pada intinya penegakan hukum ini
harus dilakukan secara non diskriminatif, transparan, akuntabel, objektif dan tegas.

2. Pelaksana Pengawasan
Pengawasan hanya akan dapat efektif jika pihak yang melaksanakannya memiliki
jaminan independensi, tidak memiliki keberpihakan, memiliki kemampuan (keahlian, waktu dan
sebagainya) dan diikat dalam suatu sistem yang kondusif bagi pelaksanaan tugasnya.

3.

Obyek Pengawasan

Pemahaman yang jelas mengenai obyek pengawasan menjadi penting untuk pihak yang
dapat melakukan pengawasan serta mempermudah memetakan metode yang efektif untuk
melakukan pengawasan terhadap obyek-obyek tersebut. Secara umum ada beberapa obyek
yang harus menjadi bahan pengawasan, antara lain perilaku aparat penegak hukum dan hakim,
kemampuan teknis (skill), pelaksanaan tugas (performance) dalam hal adminstratif, prosedural
dan keuangan, dimana untuk setiap obyek tersebut metode pengawasannya dapat berbedabeda, minimal dalam penekanannya.

1. Perilaku
Yang termasuk dalam ruang lingkup obyek ini adalah perilaku aparat penegak hukum
dan hakim dalam tugas dan di luar tugas. Metode pengawasan terhadap perilaku yang selama ini
telah dilakukan adalah menerima dan memproses laporan atau pengaduan masyarakat. Hal lain
yang dapat dilakukan adalah pengamatan secara langsung (aktif) terhadap aparat penegak
hukum dalam menjalankan tugasnya.

2. Kecakapan (Skill)
Yang dimaksud dengan kecakapan disini adalah kemampuan intelektual aparat penegak
hukum dan hakim dalam menjalankan tugasnya (substansial dan prosedural). Sebagai ilustrasi
sampai akhir tahun 1970-an, di pengadilan dikenal istilah eksaminasi putusan. Dalam eksaminasi
putusan ini, putusan hakim yang lebih rendah dikaji oleh hakim pada pengadilan yang lebih
tinggi. Hasil kajiannya dapat dijadikan penilaian terhadap kondite hakim sekaligus untuk
mendidiknya[14]
Sedangkan untuk kepolisian, pengawasan atas kecakapan ini dapat dilakukan melalui
evaluasi hasil penyelidikan atau penyidikan, dan adapun untuk jaksa evaluasi dapat dilakukan
melalui eksaminasi surat dakwaan.

3. Pelaksanaan Tugas (performance)


Pelaksanaan tugas aparat penegak hukum dapat dilihat dari beberapa aspek, misalnya
kepatuhan dalam melaksanakan hukum acara dan aturan teknis pelaksanaan tugas lainnya.
Metode pengawasan untuk melihat hal tersebut dapat dilakukan berdasarkan laporan
masyarakat, pengamatan di lapangan, survei kepada masyarakat pengguna jasa aparat penegak
hukum dan hakim serta laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas. Untuk itu di setiap

lembaga diwajibkan membuat laporan pertanggungjawaban yang rinci sesuai dengan elemenelemen penting dalam hukum acara dan aturan teknis pelaksanaan tugas.
Untuk menilai pelaksanaan tugas hakim agung dalam memutus perkara misalnya,
prosedur tetap penyelesaian perkara yang harus dibuat Mahkamah Agung haruslah memuat
tanggal diterimanya berkas perkara dan tanggal diserahkan kembali berkas perkara ke hakim
agung lain. Hal ini penting untuk menilai produktivitas hakim agung setiap harinya[15].
Khusus untuk pelaksanaan tugas di bidang finansial, metode pengawasannya adalah
audit, baik secara internal maupun eksternal (BPKP dan atau BPK). Khusus untuk pengadilan,
selama ini tidak ada pertanggungjawaban keuangan perkara atau uang titipan. Oleh karena itu,
perlu dibuat aturan yang memberikan kewenangan kepada BPK untuk dapat mengaudit sumber
dana tersebut. Dalam kelompok masyarakat pelaksanaan tugas keuangan ini memerlukan sekali
adanya prinsip transparansi sehingga masyarakat ikut mengontrol.

B.

SISTEM PENGAWASAN

1. Pengawasan Dalam KUHAP


Mekanisme pengawasan yang ada dalam KUHAP sebenarnya telah memfasilitasi
mekanisme pengawasan antar para pihak yang berperan dalam sistem peradilan, misalnya
adanya mekanisme praperadilan, upaya hukum biasa ataupun luar biasa, hakim pengawas dan
pengamat serta mekanisme pengawasan horisontal lainnya. Berdasarkan mekanisme
pengawasan yang difasilitasi oleh KUHAP tersebut, mengisyaratkan perlunya pendekatan yang
sistemik dalam pelaksanaan sistem tersebut. Untuk pelaksanaan hal tersebut sangatlah
diperlukan perubahan yang subtantif dan struktural untuk mencapai harmonisasi dan sinkronisasi
hukum. Hal ini diperlukan untuk menghindari adanya disintegrasi pelaksanaan sistem peradilan.
Hubungan kordinasi fungsional dan instansional dalam KUHAP, apabila dilihat lebih jauh
didalamnya terdapat esensi pengawasan terhadap pelaksanaan proses peradilan. Hubungan
koordinasi tersebut memiliki makna adanya hubungan pengawasan horisontal diantara sesama
pelaku dalam proses peradilan. Hubungan sebagaimana dimaksud diatas adalah sebagai
berikut :
a.

Dimulainya suatu penyidikan, penyidik berkewajiban untuk memberitahukan tentang


dimulainya penyidikan kepada penuntut umum (pasal 109 ayat 1)

b.

Penghentian penyidikan, atas hal tersebut penyidik memberitahukan kepada penuntut


umum (pasal 109 ayat 2)

c.

Penyerahan berkas perkara hasil penyidikan kepada penuntut umum (110 ayat 1), dalam
hal ini penuntut memeriksa hasil penyidikan apabila kurang lengkap maka dikembalikan
dan diberikan petunjuk untuk melengkapinya.

d.

Untuk upaya paksa penggeledahan rumah (pasal 33), Penyitaan (pasal 38) dan
pemeriksaan surat (pasal 47) diperlukan izin atau izin khusus dari Ketua Pengadilan
Negeri.

e.

Perpanjangan penahanan dalam tahap penyidikan dilakukan oleh penuntut umum (pasal
24 ayat 2), sedangkan perpanjangan penahanan dalam tahap penuntutan dilakukan oleh
Ketua Pengadilan Negeri (pasal 25 ayat 2), sedangkan dalam tahap pemeriksaan
pengadilan negeri dan pengadilan tinggi atau banding perpanjangan penahanan
dilakukan oleh Ketua Pengadilan Tinggi (pasal 26 ayat 2 dan pasal 27 ayat 2), adapun
untuk pemeriksaan perkara dalam perkara kasasi perpanjangan penahanan dilakukan
oleh Ketua MA (pasal 29 ayat 2)

Berbagai mekanisme pengawasan dalam KUHAP sebagaimana yang telah diungkapkan


diatas seringkali tidak berjalan sebagaimana mestinya, tidak berjalannya sistem peradilan
tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor geografis, faktor sumber
daya, dan daya dukung peraturan perundang-undangan yang kurang kuat, tegas dan jelas.
Sistem yang dibangun oleh KUHAP sudah memadai walaupun tak dapat dipungkiri terdapat
berbagai kekurangan, namun hal itu bukan alasan untuk tidak menerapkan KUHAP dengan
baik[16].

2.

Konsep dan Strategi Pengawasan

Dalam pelaksanaan pengawasan terhadap proses peradilan sangat terkait dengan


pelaksanaan beberapa prinsip dalam proses peradilan. Sehinggga berbicara tentang strategi
pengawasan sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan sistem peradilan. Pelaksanaan sistem
peradilan yang baik sendiri adalah terlaksananya beberapa prinsip umum sebagai minimum
standard alam penerapan sistem peradilan yang terintegrasi dengan baik. Minimum standard
termaksud adalah

a.

Persamaan dimuka hukum (equality before the law)

Prinsip yang dirumuskan dalam pasal 28 D ayat 1 Amandemen Kedua UUD 1945 dan
pasal 5 ayat (1) UU No.14 tahun 1970 ini merupakan asas yang bersifat universal. Pasal 7
Universal Declaration of Human Rights menjelaskan bahwa all are equal before the law and are
entitled without discrimination to equal protection of law. Dikaitkan dengan sistem peradilan
terpadu, dapat dinyatakan bahwa jenis kelamin, agama, ras, waran kulit, etnis, status sosial,
status ekonomi maupun ideologi politik tidak boleh menjadi dasar untuk memperlakukan orang
secara berbeda, doktrin yang dikemukakan Dicey berbunyi all persons wheather high oficial or
ordinary citizens are subject to the same law administered by ordinary courts, semakin
menguatkan asas ini. Pasal 14 International Covenant on Civil and Political Right menguatkan
bahwa all persons shall be equal before the court and tribunals.

b. Due Process of Law


Negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi mempunyai kewenangan penuh untuk
melakukan proses peradilan yang adil dan tidak memihak. Oleh karenanya kekuasaan ini perlu
dibatasi agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang. Asas ini tercermin dari pasal 6 ayat (1)
dan pasal 7 UU No. 14 tahun 1970 tentang Pokok-pokok kekuasaaan Kehakiman. Due Process
of Law pada dasarnya bukan semata-mata mengenai rule of law, akan tetapi merupakan unsur

yang essensial dalam penyelenggaraan peradilan yang intinya adalah bahwa ia merupakan a
law which hears before it condemns, which proceeds upon inquiry, and renders judgement only
after trial. Pada dasarnya yang menjadi titik sentral adalah perlindungan hak-hak asasi
individu terhadap arbitrary action of the government.

c.. Sederhana dan cepat


Salah satu hal yang dituntut publik ketika memasuki proses peradilan, mereka harus
mendapat kemudahan yang didukung sistem. Proses yang berbelit-belit akan membuahkan
kefrustasian dan ketidakadilan, akan tetapi harus diingat bahwa tindakan yang prosedural harus
pula menjamin pemberian keadilan, dan proses yang sederhana harus pula menjamin adanya
ketelitian dalam pengambilan keputusan.

d. Efektif dan Efisien


Suatu proses peradilan harus dirancang untuk mencapai sasaran yang dituju yaitu hukum
dan keadilan. Selanjutnya seluruh sub sistem dalam melaksanakan tugas dan kewajiban mereka
harus pula :Berdaya guna dan berhasil guna;Dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang
berkualitas dan profesional; Menggunakan sedikit mungkin sumber dana.

e. Akuntabilitas
Pemberian kekuasaan membawa konsekuensi adanya akuntabilitas, dalam kerangka
pelaksanaan akuntabilitas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu adanya:Ketaatan
pada hukum;Prosedur yang jelas, adil dan layak, sertaMekanisme kontrol yang efektif
Sebagai pemegang kekuasaan untuk melakukan proses peradilan kewenangan yang tanpa batas
akan membahayakan publik. Oleh karenanya diperlukan mekanisme kontrol untuk mencegah
atau paling kurang mereduksi adanya penyimpangan hukum dan penyalahgunaan kewenangan
demi terjaminnya hak asasi manusia. Mekanisme kontrol yang diciptakan haruslah rasional,
proporsional dan obyektif dan mekanisme ini dapat dilakukan dalam beberapa cara:
-

internal (oleh lembaga yang bersangkutan sendiri, baik oleh peer group maupun atasan)

Eksternal (oleh pihak diluar lembaga)

Horisontal (oleh lembaga lain dalam hubungan horisontal), maupun

Vertikal (oleh pihak yang memiliki hubungan vertikal dengan personil atau lembaga)

f. Transparansi
Makna transparansi bukanlah keterbukaan yang tanpa batas akan tetapi sesuai dengan
tingkat pemeriksaan dan kebutuhan, asalkan ada kesempatan bagi publik untuk melakukan

kontrol dan koreksi. Misalnya keterbukaan dalam sidang pengadilan merupakan suatu keharusan
akan tetapi pemeriksaan oleh lembaga kepolisian tentunya tidak terbuka untuk umum. Pasal 10
Universal Declaration of Human Rights dengan tegas menentukan bahwa everyone is entitled in
full equality to a fair and public hearing by an independent and impartial tribunalsof any criminal
charges against him. Erat hubungannya dengan konsep ini adalah kebebasan untuk
memperoleh informasi dengan syarat tidak membahayakan berjalannya proses peradilan.
Berbeda halnya dengan keterbukaan putusan pengadilan yang harus dapat diakses oleh publik
untuk dapat mengetahui landasan diambilnya suatu keputusan.
Kesemua prinsip tersebut menjadi ukuran sejauh mana sistem peradilan telah
dilaksanakan dengan baik. Dalam kaitan dengan pengawasan terhadap pelaksanaan proses
peradilan, utamanya pengawasan dalam kerangka mekanisme pengawasan antar sub sistem
perlu adanya pengaturan mekanisme yang lebih partisipatif, dalam hal ini adalah perlunya
standing masyarakat untuk mengajukan praperadilan terutama terhadap penghentian penyidikan
atau penuntutan yang berindikasi KKN.
Partisipasi publik dalam pengawasan peradilan perlu diperkuat dengan memberikan
aturan yang mewajibkan pemberitahuan kemajuan (progress report) penyelesaian perkara,
kepada para pihak yang berkepentingan. Selain itu mekanisme pengawasan horisontal
sebagaimana disebutkan diatas perlu diberikan mekanisme pemaksa agar dapat terlaksana
dengan baik. Alat pemaksa dimaksud didahului dengan persamaan persepsi diantara sub sistem
peradilan, terutama tentang standard atau pedoman pelaksanaan proses peradilan dalam suatu
aturan yang berlaku untuk seluruh proses.

C.

LEMBAGA PENGAWAS

Dalam melaksanakan fungsi pengawasan dapat dilakukan dengan dua cara, pertama
melalui pendekatan struktur atau kelembagaan (institusional approach), kedua pendekatan
sistem (system approach)[17]. Pada metode yang pertama, fungsi pengawasan diserahkan pada
lembaga tersendiri yang bertanggungjawab untuk melakukan pengawasan guna mengusahakan
tercapainya tujuan organisasi tanpa mengalami kesulitan yang berarti, yang dalam hal ini untuk
menjamin terlaksananya fungsi pengawasan secara effektif harus diperhatikan kedudukan
lembaga dalam struktur organisasinya.
Agar suatu lembaga pengawas mampu melaksanakan fungsi pengawasan secara efektif,
terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, diantaranya adalah :
1.

Bebaskan lembaga ini dari fungsi operasional atau kegiatan operasional organisasi
secara keseluruhan. Hal ini dimaksudkan agar posisinya dalam pengawasan itu, bebas
dari kepentingan pribadi atau golongan.

2.

Usahakan agar lembaga ini tetap dalam posisi independent dengan fungsi
operasional maupun secara individual. Ia harus independen secara nyata dan bebas
dari unsur-unsur yang tidak independen.

3.

Harus memiliki kemampuan, keahlian yang lengkap bahkan melebihi keahlian yang
diawasi

4.

Memiliki integritas pribadi, kejujuran dan bersih dari segala kemungkinan


penyelewengan[18].

Pendekatan sistem sebagai salah satu metode dalam pengawasan fungsi organisasi
adalah metode pengawasan berdasarkan sistem sebagai elemen utama dalam melakukan
pengawasan. Sistem sendiri adalah seluruh urutan prosedural (hubungan antar sub sistem) yang
dianut dalam menyelesaikan kegiatan rutin organisasi/lembaga. Sistem harus diatur sedemikian
rupa sehingga tidak memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyimpang dan harus menjamin
efisiensi kerja dalam kerangka mencapai tujuan organisasi secara optimal dan hal inilah yang
dinamakan pengawasan internal. Dalam sistem pengawasan unsur manusia sangat penting
karena manusialah yang menjalankan fungsi pengawasan dan yang diawasi. Namun tak dapat
dipungkiri bahwa manusia dan sistem memiliki korelasi yang kuat dalam melahirkan optimalisasi
pengawasan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sarwono Kusumaatmadja sebagai berikut :
saya melihat korupsi sebagai kelemahan sistem dan keserakahan individu. jadi
sistemnya yang harus diperbaiki, artinya yang digunakan adalah pendekatan sistem.
Dengan demikian , saya tak berharap adanya perubahan drastis dalam penanganan
korupsi. Namun yang harus dilihat adalah kemajuan secara bertahap[19].

Dalam rangka pelaksanaan pengawasan seharusnya dilakukan secara terpadu,


menyeluruh, terintegrasi dan tidak boleh hanya terpaku pada pembenahan sistem atau manusia
semata. Kalau hanya memperhatikan satu unsur saja hampir dapat dipastikan bahwa hasil dari
pengawasan yang dilakukan akan tidak optimal, sehingga tidak dapat menekan perilaku
menyimpang dalam organisasi. Pengawasan dalam peradilan sendiri pada tiap sub sistem
peradilan memang telah diakui ada, dimana pengawasan tersebut adalah bagian dari organisasi.
Hal ini sebagaimana terungkap dalam tabel berikut :

No Apakah Sudah Ada


Sistem Pengawasan
terhadap Lembaga
Peradilan
1 Sudah
2 Belum
3 Tidak menjawab

Hakim
95.1
3.5
1.4

Jaksa
98.7
0
1.3

RESPONDEN (%)
Polisi
Advokat/
pengacara
80.7
17.5
1.8

94.9
7.6
0

Akademisi
/LSM
53.2
41.9
4.8

Pada pertanyaan yang diajukan kepada responden terungkap, bahwa sebagian besar
responden mengakui bahwa telah ada sistem pengawasan terhadap lembaga peradilan.
Responden hakim, jaksa, polisi dan advokat sebagian besar, lebih dari 90% menyatakan sudah
ada sistem pengawasan terhadap lembaga peradilan khususnya di lembaga masing-masing.
Untuk kalangan akademisi/LSM memiliki pandangan yang berbeda. Hal ini terlihat dari
perbandingan antara responden yang memilih jawaban sudah dan belum tidak terlalu jauh
berbeda. Alasan kalangan akademisi/LSM, bahwa mereka belum melihat ada suatu perubahan
atas kinerja aparat penegak hukum. Perubahan yang diharapkan itu seharusnya menjadi
cerminan atas keberhasilan lembaga pengawas.

Keberadaan lembaga pengawasan internal yang ada, oleh masyarakat dirasakan kurang
dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam menindak perilaku yang menyimpang.
Penegasan ini terungkap dari kekurangpercayaan masyarakat terhadap sistem yang ada saat ini.
Mereka kurang percaya bahwa sistem yang ada saat ini dapat menciptakan kondisi peradilan
yang baik. Hal ini terungkap dalam tabel jawaban atas kuisioner yang terhimpun berikut ini :

No

1
2
3

Apakah Sistem
Pengawasan yang Telah Hakim
Ada Dapat Menciptakan
Kondisi Peradilan yang
Baik
Ya
77.8
Tidak
70.8
Tidak menjawab
4.9

Jaksa

RESPONDEN (%)
Polisi
Advokat/
pengacara

Akademisi/LSM

85.9
7.7
6.4

72.9
13.4
18.1

21.0
35.5
43.5

35.4
59.5
5.1

Pertanyaan pada bagian ini merupakan kelanjutan dari pertanyaan sebelumnya yang
menanyakan apakah sistem pengawasan yang ada dapat menciptakan kondisi peradilan yang
baik?. Pertanyaan pada bagian ini menarik untuk dicermati, karena untuk responden dari
kalangan hakim memiliki perbandingan yang tidak jauh berbeda antara responden yang memilih
jawaban ya dan tidak. Sebagian dari hakim menyatakan bahwa pengawasan yang ada saat ini
sudah cukup efektif, sanksi yang diberikan sudah cukup membuat jera. Namun di sisi lain, hakim
atau panitera yang menjawab pertanyaan ini dengan jawaban tidak, menyatakan bahwa
pengawasan yang ada saat ini masih belum efektif. Tidak efektifnya pengawasan karena masih
banyak intervensi dari pihak luar, masih banyak pejabat pengadilan yang menerima suap, dan
masih banyak lagi alasan lainnya. Indikasi ini tentunya perlu menjadi pehatian bersama,
khususnya indikasi adanya permainan antara pengawas dan yang diawasi. Kendala yang
dihadapi pengadilan dalam masalah pengawasan ini tentunya terkait dengan keberadaannya
yang masih dua atap. Departemen Kehakiman melalui Inspektorat Jenderal dan Mahkamah
Agung di pihak lain.
Kondisi yang berbeda terlihat pada responden dari kalangan jaksa, sebagian besar (85.9%) menyatakan sistem
pengawasan yang ada saat ini dapat menciptakan kondisi peradilan yang baik. hanya sedikit yang menyatakan kebalikannya.
Perbedaan pendapat tersebut kembali terlihat pada responden dari kalangan advokat/pengacara dan akademisi/LSM.

Kalangan advokat/pengacara sebagian besar menyatakan tidak atas pertanyaan di atas,


walaupun demikian mereka yang memiliki sikap optimis atas sistem pengawasan yang ada saat
ini pun tidak sedikit. Demikian pula dengan kalangan akademisi/LSM, sebagian dari mereka
memilih menjawab tidak (35.5%) atau tidak menjawab sama sekali (43.5%). Jumlah responden
tersebut ada yang melebihi 100%, hal itu disebabkan sebagian kecil responden menjawab
kedua-duanya (ya/tidak). Alasan yang diberikan hampir sama yaitu tergantung pada kondisi dan
moral dari para pelaksananya.
Keyakinan pihak didalam sistem peradilan terhadap pengawasan internal yang ada
seolah bertolak belakang dengan kenyataan yang ada dalam praktek peradilan. Dimana dalam
praktek masih ditemui perilaku menyimpang[20], dan hal ini diakui oleh pelaku peradilan bahwa
penyebab lahirnya kondisi peradilan yang buruk adalah peradilan yang diliputi oleh korupsi, kolusi
dan Nepotisme.
Pengawasan terhadap lembaga peradilan selain memperhatikan pengawasan internal,
harus juga memperhatikan mekanisme pengawasan eksternal. Dalam pengawasan eksternal

terdapat peran serta masyarakat, dan dapat menjadi counter part bagi pengawasan internal.
Keikutsertaan pihak luar organisasi dalam melakukan pengawasan, sangat penting dalam rangka
membangun kepercayaan publik terhadap institusi.
Adanya kepercayaan publik terhadap institusi akan mengokohkan posisi institusi di
masyarakat. Pembentukan tim pengawasan terpadu menjadi pilihan dalam menerapkan sistem
pengawasan yang menyatukan pihak intern institusi dan eksternal institusi. Hal ini yang
dinamakan dengan stake holders approach, pendekatan ini menggunakan metode multi stake
holders profession dalam lembaga pengawas[21]. Perlunya gagasan untuk menerapkan multi
stake holders approach adalah adanya ketidakpercayaan apabila pengawasan hanya dilakukan
pihak internal saja sehingga tidak tercipta objektifitas. Penggunaan pendekatan ini juga untuk
mencapaian reputasi (prestige) yang baik bagi lembaga pengawasan termaksud.
Studi ini dilakukan untuk memberikan sebuah bentuk pengawasan dalam pelaksanaan
sistem peradilan. Sebagaimana telah diungkapkan diatas bahwa paling tidak terdapat dua
konsep pengawasan dalam suatu sistem guna mencapai tujuan organisasi, yaitu pengawasan
internal dan pengawasan eksternal[22].

1.

Pengawasan Internal

Pengawasan internal mencakup struktur organisasi dan seluruh metode dan prosedur
yang terkordinasi yang diterapkan oleh organisasi untuk mendorong effisiensi dan effektifitas
sehingga tercapai tujuan organisasi [23]. Sistem pengawasan internal yang baik harus didukung
oleh struktur organisasi yang baik dan mekanisme pertanggungjawaban yang baik pula. Struktur
organisasi yang baik berarti adanya pembagian tugas dan wewenang yang jelas diantara para
pihak yang terkait dalam sistem. Dengan adanya pembagian yang jelas maka akan memperjelas
pula obyek pengawasan sebagaimana dijelaskan diatas.
Sebagai suatu kajian, studi ini mencoba mengumpulkan pendapat tentang mekanisme
pengawasan internal dimasa mendatang. Dalam rangka itu tim peneliti mencoba menyimpulkan
berbagai keinginan yang berkembang selama studi ini berlangsung terhadap lembaga
pengawasan internal dimasa mendatang. Walaupun dalam hal ini tak dapat dipungkiri bahwa
pendapat yang diajukan oleh para pihak adalah sangat dipengaruhi oleh kondisi pengawasan
yang ada saat ini.

a.

Kepolisian
1). Kedudukan dan Pertanggungjawaban

Kedudukan lembaga pengawas internal kepolisian, menurut hasil pengumpulan


pendapat ini, terungkap bahwa lembaga pengawasan tersebut berada di bawah Kepala
Kepolisian Republik Indonesia (46.9%). Pendapat ini muncul disebabkan memang adanya
keinginan bahwa lembaga pengawasan internal itu berada di bawah Kapolri, dan menjadi bagian
dari struktur organisasi Kepolisian RI.
Mengingat kedudukannya yang berada di bawah kapolri maka pertanggungjawaban
diberikan kepada Kapolri (62%). Hasil dari pengawasan yang telah dilakukan oleh lembaga
pengawasan tersebut juga disampaikan kepada publik (42,2%), meskipun dalam hal ini adapula
yang menginginkan agar tidak dibuka ke publik (24,1%).

Kedudukan lembaga pengawasan internal Kepolisian dimasa mendatang selayaknya


memperhatikan kedudukan lembaga kepolisian sendiri yang telah berpisah dengan TNI.
Independensitas lembaga pengawasan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas dan
wewenang kepolisian sebagaimana yang telah diamanatkan oleh undang-undang. Kedudukan
lembaga pengawasan internal dibawah Kapolri bukan berarti menghilangkan independensi fungsi
pengawasan dari lembaga pengawasan[24]. Untuk itu perlu dikuatkan posisi lembaga
pengawasan terutama dalam menjalankan tugas dan wewenang sebagai pengawas kepolisian
dalam kedudukannya sebagai penegak hukum.

2) Fungsi, Tugas dan Wewenang


Berbeda dengan beberapa responden dari lembaga profesi lain, responden dari
kepolisian melihat fungsi lembaga pengawas internal kepolisian tersebut adalah mengawasi
kinerja aparat di bidang kepolisian (66.8%), memberikan penilaian atas kinerja aparat kepolisian
(49.9%), dan mengkritisi peraturan perundang-undangan (12.6%). Responden yang tidak
menjawab pertanyaan berjumlah 29.5%. berdasarkan hasil tersebut, responden dari kalangan
polisi lebih menitikberatkan pada faktor pengawasan dan memberikan penilaian atas kinerja polisi
dalam melaksanakan tugasnya.
Lembaga pengawas intern kepolisian dimasa mendatang dapat memberikan kontribusi
yang signifikan dalam kerangka menciptakan lembaga kepolisian yang berwibawa. Dalam
menjalankan tugas dan wewenang yang diembannya, seorang pengawas diharapkan dapat
menjalankan tugasnya secara independen tanpa diliputi oleh rasa khawatir akan timbulnya
permasalahan sehingga ia terkena sanksi oleh atasan.. Wewenang pengawasan yang akan
dijalankan selayaknya didukung oleh kesamaan persepsi atas batasan, metode atau mekanisme
pengawasan dan sistem pertanggungjawaban kepada publik.

3) Keanggotaan
Bagi pihak kepolisian, responden menyatakan bahwa anggota lembaga pengawas
internal terdiri dari polisi senior (42%), Kapolri (36%), dan purnawirawan polisi. Sebanyak 28.9%
dari responden tidak memberikan jawaban atas pertanyaan ini.
Perihal keanggotaan lembaga pengawas dimasa mendatang selayaknya terdiri dari
berbagai stake holders (multi stake holders). Dalam UU No. 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia, dinyatakan bahwa keanggotaan Komisi Kepolisian Negara terdiri dari
unsur pemerintah, pakar kepolisian dan anggota masyarakat. keberadaan pihak diluar kepolisian
untuk membantu kepolisian dalam menganalisis data yang berhasil dihimpun, untuk dijadikan
bahan bagi pengawasan.
Adapun yang dapat dipilih sebagai anggota lembaga pengawas intern kepolisian ini
adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dibidang ilmu kepolisian ataupun
pengetahuan dibidang hukum (66,2%). Untuk selanjutnya orang tersebut harus lolos dari uji
kelayakan dan kepatutan (36,7%). Persyaratan umum lainnya mengikuti seperti apa yang telah
diatur dalam UU. Namun ditengah persyaratan umum tersebut perlu ditambah untuk
mengumumkan kekayaan pribadinya.

4) Tata cara Pemilihan


Menurut responden dari kalangan polisi, yang dapat melakukan pemilihan calon dan uji
kelayakan dan kepatutan adalah lembaga independen yang dibentuk khusus untuk melakukan uji
tersebut (46.9%). Kepala Kepolisian Republik Indonesia, menurut responden (25.8%) dapat
melakukan pemilihan calon dan uji kelayakan dan kepatutan atas anggota lembaga pengawas.
Namun sebagian dari responden (33.1%) tidak memberikan jawabannya. Dalam pemilihan
terlihat adanya fenomena bahwa adanya keiginan anggota lembaga pengawas dipilih oleh
sebuah dewan pemilihan yang independen[25].

b. Jaksa
1. Kedudukan dan Pertanggungjawaban
Responden dari lembaga kejaksaan sebagian besar memilih agar lembaga pengawas
tersebut berada di bawah Jaksa Agung (48.7%), hanya 32.1% yang menyatakan lembaga
tersebut berada di bawah Jaksa Agung Muda bidang Pengawasan. Perihal pertanggungjawaban,
64.1% menyatakan agar pertanggungjawaban diberikan kepada Jaksa Agung. Hanya 16.7 %
yang menyatakan pertanggungjawaban diberikan kepada Jaksa Agung Muda bidang
Pengawasan.
Menyangkut bentuk pertanggungjawaban lembaga pengawas internal kejaksaan,
sebagian besar (48.7%) memilih agar pertanggungjawaban tertutup untuk umum. Hanya 28.2%
yang menyatakan terbuka untuk umum. Hasil jajak pendapat ini perlu untuk dicermati, karena
jawaban responden seakan-akan mencerminkan sikap kejaksaan yang terkesan tertutup.
Perbandingan antara responden yang memilih terbuka untuk umum dan tertutup untuk umum
tersebut cukup jauh, sehingga perlu untuk mendapat perhatian. Perhatian tersebut tentunya
diarahkan menyangkut akuntabilitas lembaga kejaksaan sebagai lembaga publik seharusnya
dapat memberikan pertanggungjawaban secara terbuka.

2. Fungsi, Tugas dan wewenang


Fungsi lembaga pengawas internal kejaksaan berdasarkan hasil jajak pendapat adalah
mengawasi kinerja aparat kejaksaan (73%), kemudian memberikan penilaian atas kinerja aparat
kejaksaan (64%). Hanya sedikit diantara responden yang memilih melakukan kritisi atas
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kejaksaan (20.5%). Hal tersebut dapat
kita pahami karena memang tidak selamanya undang-undang tersebut harus menjadi suatu
perhatian pokok dalam menjalankan fungsinya. Responden yang tidak memberikan jawabannya
berjumlah 26.9%. Sedangkan jumlah responden yang memilih jawaban lain-lain berkisar 7.6%.
Tugas dan wewenang lembaga pengawas kejaksaan, menurut responden adalah
melakukan pemeriksaan atas pelanggaran yang dilakukan oleh jaksa (70.5%). Menjatuhkan
sanksi atas pelanggaran yang telah dilakukan (69.4%). Mengawasi kinerja jaksa dalam
melakukan tugas di bidang peradilan (65.4%) serta memberikan pertanggungjawaban atas hasil
pengawasan yang telah dilakukan kepada pihak yang berwenang (64.1%).
Berdasarkan hasil tersebut, nampak terlihat bahwa responden dari lembaga kejaksaan
masih menekankan pada faktor kesalahan dan penghukuman. Faktor pengawasan yang
seharusnya dijalankan oleh lembaga ini belum menjadi titik perhatian dalam melakukan

perbaikan di lembaga kejaksaan. Selain itu inisiatif yang seharusnya muncul berkenaan dengan
tugas dan wewenang lembaga pengawas ini seakan-akan hilang, hal ini dapat dilihat dari jumlah
responden yang berjumlah hanya 2.6% dari seluruh responden.

3. Keanggotaan
Bagi lembaga kejaksaan, responden mengusulkan agar anggota lembaga pengawas
tersebut terdiri dari jaksa senior (57.7%). Para responden sangat sedikit sekali yang
merekomendasikan mantan jaksa (5.2%) untuk duduk di dalam lembaga tersebut. Jumlah
responden yang menempatkan Jaksa Agung di dalam lembaga pengawas hanya 15.4%.
Sedangkan responden yang tidak menjawab berjumlah 28,2%.
Kriteria yang harus dimiliki oleh anggota lembaga pengawas internal kejaksaan adalah
memiliki pengetahuan yang cukup di bidang hukum (69.2%). Sedangkan keharusan untuk
mengikuti dan lolos uji kelayakan dan kepatutan tidak terlalu banyak dipilih oleh responden
(26.9%). Jumlah responden yang tidak menjawab pertanyaan tersebut sebanyak 26.9%
Sedangkan responden yang menjawab lain-lain sebanyak 23%.

4. Tata cara Pemilihan


Pemilihan calon dan uji kelayakan dilakukan oleh Jaksa Agung (38.5%), atau dapat pula
dilakukan oleh lembaga yang dibentuk khusus untuk itu (21.9%). Namun sebagian besar dari
responden memilih untuk tidak menjawab (41%).

c.

Hakim

1. Kedudukan dan Pertanggungjawaban


Kalangan hakim dan panitera berpendapat agar lembaga pengawasan tersebut berada di
bawah ketua Mahkamah Agung (48.6%), sedangkan kedudukan lembaga pengawas di bawah
ketua muda bidang pengawasan tidak terlalu banyak (36.1%). Untuk itu perlu ada suatu
pengkajian lebih lanjut atas keberadaan ketua muda bidang pengawasan, menyangkut efektifitas
atas keberadaan lembaga tersebut.
Menyangkut pertanggungjawaban, sikap responden tidak jauh berbeda dengan
pertanyaan sebelumnya, 61.1% menyatakan agar lembaga pengawas tersebut
bertanggungjawab kepada ketua Mahkamah Agung. Hanya 18.7% saja yang menyatakan
pertanggungjawaban tersebut diberikan kepada ketua muda bidang pengawasan
Perihal
bentuk
pertanggungjawaban,
43.1%
responden
menginginkan
pertanggungjawaban tersebut dilakukan secara terbuka untuk umum. Alasan yang dikemukakan
oleh responden adalah agar masyarakat dapat turut memantau pelaksanaan penegakan hukum
yang dilakukan oleh MA. Serta dapat mengetahui permasalahan yang ada dalam upaya
penegakan hukum tersebut.
Sebagian responden (32.7%) memilih bentuk pertanggungjawaban secara tertutup untuk
umum. Sebagian memberikan alasan agar tidak menimbulkan gejolak di masayarakat serta untuk

menjaga nama baik. Alasan tersebut tentunya kurang dapat diterima dan masih terkesan terlalu
membela korps secara berlebihan. Sedangkan 27.1% responden lebih memilih untuk tidak
memberikan jawabannya.

2. Fungsi, tugas dan wewenang


Fungsi lembaga pengawas internal pengadilan, berdasarkan hasil jajak pendapat, 68.7%
menyatakan berfungi untuk mengawasi kinerja aparat peradilan di lembaga pengadilan. Selain
melakukan pengawasan, lembaga ini juga akan memberikan penilaian atas kinerja aparat
peradilan di lembaga peradilan (63.2%). Hanya 26.4 % responden hakim dan panitera yang
menyatakan bahwa selain kedua fungsi di atas, lembaga ini pun dapat melakukan kritisi atas
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lembaga pengadilan. Sedikit sekali
responden yang memberikan pendapat lain (5,6%). Pada dasarnya pendapat lain-lain tersebut
tidak jauh berbeda dengan tiga pendapat sebelumnya. Hanya 27.1% responden yang tidak
memberikan jawaban atas pertanyaan ini.
Tugas dan wewenang dari lembaga pengawas ini adalah mengawasi kinerja hakim dan
panitera dalam melakukan tugasnya di bidang peradilan (67.5%). Tugas mengawasi tersebut
dilengkapi dengan kewenangan untuk melakukan pemeriksaan atas pelanggaran yang telah
dilakukan (59.9%) dan dapat menjatuhkan sanksi atas pelanggaran tersebut (41.1%). Sebagai
bentuk pertanggungjawaban atas tugas dan wewenang yang dimilikinya, maka lembaga ini harus
memberikan pertanggungjawaban atas hasil pengawasan yang telah dilakukan kepada pihak
yang memang berwenang untuk itu (48.7%), misalnya ketua MA. Responden yang tidak
memberikan jawaban berjumlah 26.4%.

3. Keanggotaan
Perihal anggota dari lembaga pengawas tersebut, kalangan hakim memilih hakim senior
(57.1%) untuk menjadi anggota pada lembaga pengawas. Pilihan kedua yang terbanyak adalah
ketua Mahkamah Agung (30%) yang dipilih untuk duduk di dalam lembaga pengawas. Pilihan
ketiga merupakan pilihan lain-lain (22.3%). Untuk pilihan lain-lain ini sebagian besar
menempatkan masyarakat umum untuk turut serta di dalamnya. Sedangkan pilihan untuk mantan
hakim hanya diusulkan oleh 18.2%. responden yang tidak memberikan jawaban berjumlah
26.4%.
Kriteria yang harus dimiliki oleh anggota lembaga pengawas ini pada dasarnya tidak
dibatasi oleh dua pilihan di atas. Pilihan mempunyai pengetahuan di bidang hukum merupakan
syarat yang paling banyak diusulkan oleh responden (62.5%). Sedangkan syarat/kriteria telah
mengikuti dan lolos uji kelayakan dan kepatutan merupakan pilihan kedua yang diusulkan oleh
responden (40.3%). Pilihan lain-lain (25%) dari jawaban responden pada umumnya menyatakan
bebas KKN, tidak pernah terlibat dalam kriminal, dan berdedikasi tinggi.

4. Tata cara Pemilihan


Perihal panitia yang dapat melakukan pemilihan calon dan uji kelayakan dan kepatutan,
menurut responden dibentuk oleh ketua Mahkamah Agung (39%). Namun 31.3% menyatakan
agar dilakukan oleh lembaga independen yang dibentuk khusus untu melakukan pemilihan

tersebut. Responden yang tidak memberikan jawaban sebanyak 33.3%, sedangkan responden
yang menjawab lain-lain sebanyak 11.9%.

d. Advokat/Pengacara
1. Kedudukan dan Pertanggungjawaban
Hasil jajak pendapat terhadap profesi advokat memperlihatkan keinginan profesi advokat
untuk mandiri, terlepas dari pemerintah dan Mahkamah Agung. Sebanyak 34.1% responden
menginginkan kedudukan lembaga tersebut berada di bawah ketua organisasi advokat. Alasan
yang dikemukakan antara lain, agar ada jaminan untuk menjalankan tugas secara mandiri,
menghindari kerancuan yang mungkin akan timbul dalam pelaksanaannya nanti.
Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan responden yang tidak memberikan
jawabannya. Hal itu mungkin disebabkan oleh beragamnya organisasi advokat yang ada di
Indonesia. Sehingga cukup sulit untuk menempatkan lembaga pengawas advokat ini dalam satu
organisasi.
Untuk masalah pertanggungjawaban, responden yang memilih agar pengawas
bertanggungjawab kepada ketua organisasi advokat (24.1%) tidak sebanyak saat menyatakan
kedudukan lembaga pengawas tersebut. Mereka yang memilih jawaban ini memberikan alasan,
agar koordinasi dalam proses tindak lanjut atas suatu masalah menjadi lebih cepat.
Sebanyak 34.1% memilih jawaban lain-lain, namun pada umumnya pilihan lain-lain ini
diisi dengan pertanggungjawaban pada masyarakat atau lembaga lain yang independen. Jumlah
terbesar dari kalangan advokat (38%) memilih untuk tidak menjawab. Hanya 10.2% yang memilih
agar lembaga pengawas bertanggungjawab kepada Ketua Mahkamah Agung. Tentunya hal ini
berbeda jauh dengan pertanyaan awal, mengenai kedudukan lembaga pengawas, yang sebagian
kecil memilih di bawah Ketua Mahkamah Agung sebagai letak kedudukan lembaga pengawas.

2. Fungsi, tugas dan wewenang


Fungsi lembaga pengawas internal untuk advokat/pengacara menurut hasil jajak
pendapat, 38.8% responden menyatakan berfungsi untuk mengawasi kinerja advokat/pengacara.
Responden yang menyatakan berfungsi untuk memberikan penilaian atas kinerja
advokat/pengacara (26.9%) dan mengkritisi peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan advokat/pengacara (22.8%). Responden yang memberikan jawaban lain-lain berjumlah
16.4%, jawaban lain-lain tersebut pada umumnya tidak jauh berbeda dengan tiga jawaban
sebelumnya. Namun yang perlu mendapat perhatian adalah jumlah responden yang tidak
memberikan jawabannya. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan jumlah responden yang
berpendapat bahwa fungsi lembaga pengawas untuk mengawasi kinerja advokat.
Perihal tugas dan wewenang dari lembaga pengawas internal advokat/pengacara tidak
jauh berbeda dengan pendapat yang diberikan oleh lembaga kejaksaan. Perbedaan yang
dimaksud adalah penekanan yang diberikan oleh responden berkisar pada pemeriksaan atas
pelanggaran yang dilakukan oleh advokat/pengacara (58.5%) dan penjatuhan sanksi atas
pelanggaran tersebut (54.6%). Tugas untuk mengawasi (49.7%) dan memberikan
pertanggungjawaban atas hasil pengawasan tersebut (33.1%) tidak terlalu banyak dipilih oleh
responden. Sedangkan mereka yang tidak memberikan jawaban berjumlah 36.7%. Jumlah

tersebut sama dengan jumlah responden yang tidak memberikan jawaban pada pertanyaan
sebelumnya. Hal ini perlu pula untuk diperhatikan mengingat jumlah organisasi advokat dan
pengacara yang banyak sehingga responden belum dapat memberikan suatu pendapat pasti
akan lembaga pengawas internal yang ideal dalam pandangannya.

3. Keanggotaan
Bagi kalangan advokat/pengacara, responden memilih advokat/pengacara senior
(53.3%) untuk duduk menjadi anggota lembaga pengawas. Sedangkan 25.5% responden
memilih ketua oraganisasi advokat/pengacara untuk duduk menjadi anggota. Responden yang
tidak memberikan jawaban sebanyak 36.7%.
Kalangan advokat dan pengacara mensyaratkan agar anggota lembaga pengawas
internal tersebut memiliki pengalaman praktek sebagai advokat/pengacara (59.4%). Kriteria
selanjutnya, para calon anggota lembaga pengawas ini telah mengikuti dan lolos uji kelayakan
dan kepatutan (56.9%). Kriteria selanjutnya adalah, bahwa para calon anggota tersebut harus
memiliki pengetahuan yang cukup di bidang hukum (55.6%). Adapun jumlah responden yang
tidak memilih berjumlah 36.7%.

4. Tata cara Pemilihan


Uji kelayakan dan kepatutan dilakukan oleh lembaga independen yang dibentuk khusus
(29.3%). Keterlibatan ketua Mahkamah Agung (6.5%) dan menteri kehakiman (5.2%) dalam
melakukan uji kelayakan dan kepatutan tidak didukung oleh sebagian besar responden.
Dukungan atas ketua organisasi advokat/pengacara tidak terlalu besar, hanya 18% jumlah
responden. Pilihan lain terdapat di dalam kategori lain-lain (27.9%), jawaban tersebut pada
umumnya berpendapat bahwa yang dapat melakukan pengujian tersebut harus melibatkan
masyarakat dengan ketentuan mereka harus bersih dan bebas KKN.

2. Pengawasan Eksternal
Mekanisme kontrol internal oleh beberapa kalangan dianggap kurang mampu mengatasi
permasalahan penyimpangan dalam institusi penegak hukum yang ada saat ini. Lemahnya
mekanisme kontrol pada tiap-tiap sub sistem tidak dapat dilepaskan dari ketentuan perundangundangan yang mendasarinya. Selayaknya mekanisme kontrol dimaksudkan untuk memastikan
kinerja setiap lembaga dalam mencapai tujuan organisasi yang telah digariskan. Lemahnya
mekanisme kontrol ini tergambar dalam pandangan yang diberikan oleh responden dalam studi
ini, sebagaimana yang telah diungkapkan diatas.
Mekanisme kontrol yang bersifat internal sudah terinkorporasi dalam tiap subsistem,
yang juga sering disebut sebagai pengawasam melekat (waskat), walaupun efektifitasnya masih
banyak diragukan (utamanya karena dugaan adanya in-group feeling yang cenderung menutupi
kesalahan sesama kolega). Beberapa hal yang ditengarai dari pelaksanaan mekanisme kontrol
internal antara lain adalah :
1.

Jarang sekali ada penjelasan dari lembaga mengenai hasil akhir pengaduan masyarakat
mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya;

2.

Produk dari mekanisme pengawasan internal pada umumnya tidak untuk konsumsi
publik, tetapi hanya bersifat internal;

3.

Apabila ada anggota yang diproses, tidak mungkin dapat bersifat obyektif dalam
melakukan investigasi terhadap anggotanya yang melakukan pelanggaran (solidaritas, in
group feeling, esprit de corps);

4.

Pelanggaran yang dilakukan oleh aparatur yang berada dalam sub sistem peradilan
mencerminkan adanya kelemahan atau keburukan lembaga tersebut, termasuk fungsi
pendidikan dan pelatihannya, sehingga sulit diharapkan bahwa hal semacam ini akan
diekspose oleh suatu lembaga internal.

5.

Proses Investigasi oleh lembaga internal terhadap anggotanya cenderung diwarnai oleh
conflict of interest sehingga hasilnya kurang credible.[26]

Menanggapi adanya wacana dan fakta seperti itu, dewasa ini telah mulai muncul
berbagai lembaga swadaya masyarakat yang bertujuan melakukan public control terhadap
sistem peradilan, diantaranya Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), Police watch,
judicil watch serta lembaga lainnya yang serupa. Namun keberadaan lembaga tersebut hanya
sejauh sebagai pressure group untuk peningkatan pengawasan karena berada diluar sistem
internal.
Melemahnya mekanisme internal sebagaimana disebutkan diatas melahirkan
keprihatinan para pemerhati hukum, yang mana hal tersebut kemudian melahirkan wacana
pembentukan lembaga kontrol eksternal yang independen sebagai public control terhadap
pelaksanaan sistem peradilan.
Namun lembaga baru ini tidak seperti layaknya beberapa LSM seperti Masyarakat
Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi
Peradilan (LeiP), Indonesian Court Monitoring (ICM), Police Watch, Judicial Watch dan berbagai
lembaga sejenis yang tersebar diseluruh Indonesia yang keberadaan lembaga hanya sejauh
sebagai pressure group, karena berada diluar sistem internal. Akan tetapi harapan berbagai
kalangan tersebut adalah adanya lembaga pengawas eksternal yang lebih berdaya dalam
memberikan tekanan kepada pihak dalam pelaksanaan sistem peradilan, sebagaimana yang
tergambar dalam tabel berikut :

No Perlukah Dibentuk
Lembaga Pengawas
Baru
1 Perlu
2 Tidak
3 Tidak menjawab

Hakim
13.9
14.6
71.5

Jaksa
3.8
3.8
92.3

RESPONDEN (%)
Polisi
Advokat/
pengacara
9.0
48.1
18.7
17.7
74.1
34.2

Akademisi
69.4
8.1
22.6

Penelitian ini mencoba untuk memberikan alternatif lain yang sekiranya dapat membantu
fungsi lembaga pengawasan yang telah ada. Untuk itu diajukan pertanyaan perlukah dibentuk
lembaga pengawas baru. Atas pertanyaan ini sebagian besar memilih tidak menjawab. Hal ini
menimbulkan pertanyaan besar atas sikap tersebut, apakah ada rasa antipati, pesimisme atau

menyerahkan pada apapun yang akan diatur kemudian, atau mungkin sebenarnya ingin adanya
lembaga baru tetapi enggan atau tidak berani menjawab (ya).
Tetapi untuk responden dari kalangan advokat dan akademisi/LSM sebagian besar
menganggap perlu ada suatu lembaga pengawas baru yang berada di luar instansi yang
bersangkutan. Hal itu diperlukan, dengan alasan bahwa selama ini lembaga pengawas yang ada
tidak dapat berfungsi dengan baik bahkan cenderung untuk melindungi korps masing-masing.
Namun mereka yang menjawab tidak mempunyai alasan sendiri, diantaranya adalah bahwa
lembaga yang ada seharusnya dapat lebih dimaksimalkan peran dan fungsinya.
Dari berbagai pendapat yang terkumpul dalam studi ini, berhasil dirangkaikan bentuk
lembaga pengawasan eksternal dimasa yang akan datang. Dalam studi ini tentang kelembagaan
pengawas eksternal mencakup 4 aspek yaitu bentuk dan kedudukan, tugas dan wewenang,
keanggotaan serta mekanisme pengangkatan.

a. Kedudukan dan Pertanggungjawaban


Sebelum lebih jauh membahas tentang kelembagaan pengawas eksternal, terlebih
dahulu dibicarakan tentang kedudukan lembaga tersebut. Dalam hal ini lembaga pengawas
eksternal diharapkan berada di seluruh Indonesia. Dimana lembaga pengawas tersebut
keberadaannya mengikuti kewenangan relatif pengajuan tuntutan. Harapannya, keberadaan
lembaga pengawas ini nantinya dibentuk dengan Undang-undang tersendiri, dimana apabila
memang dianggap sangat mendesak kebutuhan akan terciptanya suatu mekanisme pengawasan
melalui lembaga pengawasan tersebut, bilamana perlu dapat dibentuk melalui Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu)[27].
Lembaga pengawas eksternal ini adalah lembaga yang independen, untuk itu kedudukan
lembaga tidak berada di bawah kepala lembaga internal yang ada. Untuk kedudukan ini ada
beberapa alternatif kedudukan, diantaranya adalah berada di bawah Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) [28]. Alasannya karena agar lebih netral karena MPR merupakan perwujudan dari
rakyat, selain itu agar tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai kepentingan sehingga masyarakat
dapat mengawasi lembaga dengan baik.
Dengan kedudukan yang berada di bawah MPR membawa dampak
pertanggungjawaban lembaga dilakukan kepada MPR, namun dalam bagian lain ada keinginan
bahwa pertanggungjawaban kepada MPR dilakukan melalui Mahkamah Agung (MA). Mengenai
hal ini, dapat diartikan bahwa pertanggungjawaban lembaga bersamaan dengan laporan yang
disampaikan MA ke MPR.
Alternatif pilihan lain bahwa lembaga pengawasan yang akan terbentuk nantinya adalah
berada di bawah Presiden selaku Kepala Negara. Pilihan ini dimaksudkan bahwa kedudukan
lembaga pengawas nantinya adalah sejajar dengan lembaga penegak hukum lainnya yang
berada di bawah Presiden. Namun sejalan dengan perkembangan yang ada lahir keinginan agar
lembaga tersebut berada sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya. Hal ini perlu mendapat
kajian lebih dalam tentang kedudukan lembaga pengawas apabila sejajar dengan lembaga tinggi
negara lainnya, karena hal ini membawa dampak pada ketatanegaraan dalam posisinya di
Undang-Undang Dasar.
Untuk yang alternatif kedua ini mekanisme pertanggungjawaban yang ditawarkan sangat
beragam, namun kesemuanya mengarah pada mekanisme pertanggungjawaban kepada publik
secara terbuka melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pertanggungjawaban yang diberikan

lembaga selain mengenai kinerja juga mengenai keuangan yang digunakan. Dalam hal ini
mekanisme laporan kinerja diberikan paling kurang setiap tahun.

b.

Fungsi, Tugas Dan Wewenang


No Fungsi
Lembaga
.
Pengawas
Haki
m
1
Mengawasi
kinerja44.6
aparat peradilan
2
Mengkritisi peraturan27.4
perundangundangan
3
Mengawasi
17.4
kemungkinan terjadi
campur tangan atas
kewenangan lembaga
peradilan
4
Menerima
dan18.6
menindaklanjuti
pengaduan
atas
kinerja
aparat
lembaga
peradilan
yang dinilai buruk
5
Lain-lain
8.6
6
Tidak menjawab
54.8

Jaksa

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/pengacara Akademisi/LSM

39.9

29.4

59.6

80.5

18.0

15.0

29.2

43.5

28.3

27.4

39.3

70.8

33.4

33.6

33.0

72.5

5.2
57.7

40.8
54.8

14.0
35.4

24.2
14.5

Fungsi lembaga pengawas baru tersebut berdasarkan hasil pengumpulan pendapat,


bahwa kalangan hakim (44.6%) dan jaksa (39.9%) menyatakan bahwa lembaga tersebut
berfungsi untuk mengawasi kinerja aparat peradilan. Kalangan advokat dan akademisi memiliki
pandangan yang tak jauh berbeda dengan pandangan yang dimiliki oleh kedua profesi
sebelumnya. Responden dari kepolisian (33.6%) lebih banyak menyoroti fungsi lembaga tersebut
untuk menerima dan menindaklanjuti pengaduan atas kinerja aparat lembaga peradilan yang
dinilai buruk. Namun secara umum profesi hakim, jaksa, dan polisi lebih banyak yang tidak
menjawab pertanyaan ini. Tetapi berdasarkan hasil kuisioner ini fungsi kontrol kinerja lembaga
pengawas lebih mendapat perhatian dari pada fungsi lainnya seperti mengkritisi peraturan
perundang-undangan.
Adapun untuk tugas dan wewenangnya tergambar dalam tabel dibawah ini

No. Tugas dan Wewenang


Lembaga Pengawas
1
2

39.8

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/
pengacara
36.3
49.6

32.1

23.9

Hakim Jaksa

Mengawasi Pelaksanaan32.7
Penegakan Hukum
Memberikan Penilaian Atas23.7
Pelaksanaan Penegakan
Hukum
oleh
Aparat

49.7

Akademisi/LSM
61.2
70.9

3
4
5
6

Peradilan
Mengumumkan
hasil16.0
Penilaian Kepada Publik
Memberikan Sanksi Atas18.8
Pelanggaran yang Terjadi
di Lembaga Peradilan
Lain-lain
2.1
Tidak menjawab
61.1

26.9

20.0

38.2

62.9

14.1

28.8

36.9

37.0

2.6
57.7

2.1
61.1

15.4
35.4

14.4
16.1

Perihal tugas dan wewenang lembaga pengawas secara urut, para responden
memberikan penilaian yang hampir sama. Pada dasarnya responden menyetujui tugas dan
wewenang lembaga pengawas tersebut adalah mengawasi pelaksanaan penegakan hukum,
memberikan penilaian atas pelaksanaan penegakan hukum oleh aparat peradilan,
mengumumkan hasil penilaian kepada publik, dan memberikan sanksi atas pelanggaran yang
terjadi di lembaga peradilan. Tetapi jumlah responden yang memberikan persetujuannya, masih
sedikit dibandingkan responden yang tidak memberikan jawaban sama sekali. Kecuali akademisi
dan advokat yang memberikan penilaian secara berimbang atas usulan yang diajukan dalam
kuisioner ini.

c.

Susunan Keanggotaan dan Mekanisme Pemilihan Anggota

No. Yang Berhak Duduk di


Lembaga Pengawas
1
2
3
4
5
6

37.3
33.4
34.7
32.2

RESPONDEN (%)
Polisi Advokat/
Pengacara
31.8
58.2
25.2
19.0
19.8
15.2
31.2
54.4

18.0
57.7

16.8
54.8

Hakim Jaksa

Akademisi
31.3
Mantan Hakim
28.5
Mantan Jaksa
21.5
Aktivis Organisasi non27.8
Pemerintah
di
Bidang
Hukum
Lain-lain
16.7
Tidak menjawab
61.8

34.2
35.4

Akademisi/LSM
79.0
45.1
37.1
80.6
45.1
14.5

Berdasarkan hasil jajak pendapat, diperoleh data bahwa yang dapat duduk di dalam
lembaga pengawas tersebut terdiri dari kalangan akademisi, aktivis lembaga swadaya
masyarakat, mantan hakim, dan mantan jaksa. Tetapi sebagian besar responden yang berasal
dari kalangan hakim, jaksa, dan polisi memilih untuk tidak menjawab. Hal yang berbeda jauh
dengan kalangan advokat/pengacara dan akademisi/LSM, sebagian besar responden dari
kalangan ini memilih akademisi dan aktivis LSM untuk duduk di dalam lembaga tersebut.
Sedangkan kriteria yang harus dimilikinya adalah

No. Kriteria yang Harus RESPONDEN (%)


Dimiliki oleh Anggota Hakim Jaksa Polisi
Lembaga Pengawas
1
Tidak
Menjadi25.1
10.3
24.7
Anggota/Pengurus
Partai Politik Apapun
2
Mempunyai
35.8
41.0
41.3
Pengetahuan
yang
memadai di Bidang
Hukum
3
Telah Mengikuti dan32.0
28.1
32.5
Lolos uji Kelayakan
dan Kepatutan
4
Lain-lain
7.0
10.3
10.8
5
Tidak menjawab
62.5
57.7
54.8

Advokat/
pengacara
48.2

Akademisi/LSM

55.8

72.5

58.2

40.9

17.8
35.4

33.8
16.1

72.5

Kriteria yang harus dimiliki oleh anggota lembaga pengawas, menurut hasil jajak
pendapat, sebagian besar menempatkan pengetahuan di bidang hukum menjadi salah satu
syarat yang harus dimiliki oleh para anggota tersebut. Syarat kedua, mereka harus lolos dalam fit
and proper test. Syarat ini merupakan syarat umum untuk menduduki jabatan publik yang cukup
menentukan.
Syarat ketiga, tidak menjadi anggota/pengurus partai politik apapun. Responden dari
kalangan jaksa, hakim, dan polisi tidak terlalu banyak yang memilih jawaban ini. Sebagian besar
dari kalangan ini lebih memilih untuk tidak menjawab. Hanya kalangan advokat/pengacara dan
akademisi/LSM yang memberikan jawaban dengan memilih jawaban yang telah disediakan.
Rata-rata jumlah yang memilih jawaban tersebut berjumlah diatas 50% dari responden advokat
dan akademisi yang memberikan jawaban tersebut.

3. Prinsip Prinsip Berfungsinya Lembaga Pengawas


Guna penciptaan lembaga pengawas yang mampu menerapkan pengawasan secara efektif dan
efisien serta memiliki daya dukung yang kuat, lembaga pengawasan eksternal dimasa
mendatang sekurang-kurangnya harus memiliki prinsip-prinsip kelembagaan yang berdaya guna
dan berhasil guna. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah prinsip independensi, yurisdiksi
yang tegas dan wewenang yang memadai, kemudahan untuk diakses, efisiensi operasional dan
pertanggungjawaban.

a)

Independensi

Sebuah lembaga yang efektif adalah lembaga yang mampu bekerja secara terpisah dari
pemerintah, partai politik, serta segala lembaga yang mungkin dapat mempengaruhi
pekerjaannya. Akan tetapi, independensi adalah konsep yang relatif. Kenyataan bahwa suatu
lembaga diberi independensi tertentu untuk bekerja, membedakan lembaga tersebut dari
instrumen pemerintah. Sebaliknya, independensi bagi lembaga memuat persyaratan bahwa

lembaga tersebut memiliki dasar hukum yang kuat. Hal yang dpat menghalangi independensi
diantaranya adalah kewajiban memberikan laporan dan tidak adanya otonomi penuh dalam hal
keuangan. Dasar hukum dan batasan-batasan yang mendampinginya adalah unsur-unsur yang
membedakan lembaga ini dengan organisasi non pemerintah.
Independensi suatu lembaga akan tercipta dengan baik sepanjang diterapkan makna
independensi secara menyeluruh. Independensi suatu lembaga dalam menjalankan fungsi, tugas
dan wewenangnya meliputi independensi melalui otonomi hukum dan operasional, independensi
melalui otonomi keuangan, independensi melalui prosedur pengangkatan dan pemecatan,
independensi melalui komposisi.

1. Otonomi Hukum dan Operasional


Undang-undang pembentukan lembaga sangat penting dalam memastikan independensi
hukumnya, terutama independensinya dari pemerintah. Idealnya lembaga yang independen
diberi status yang berbeda dan terpisah dari pusat kekuasaan, terutama untuk menjalankan
kekuasaan pembuatan keputusan secara independen. Dalam hal ini lembaga yang bersangkutan
menjalankan fungsinya tanpa gangguan atau halangan dari cabang-cabang pemerintah atau
lembaga-lembaga masyarakat atau swasta. Hal ini dapat dicapai dengan membentuk lembaga
tersebut bertanggungjawab secara langsung kepada parlemen.
Otonomi operasional berkaitan dengan kemampuan untuk menjalankan kegiatan sehari-harinya
secara terpisah dari individu, organisasi , departemen atau aparat manapun. Efektifitas lembaga
tercermin dari merancang peraturan dan prosedurnya serndiri, dan peraturan ini tidak boleh
diubah dari luar. Lembaga ini juga tidak bisa diperiksa oleh lembaga manapun kecuali ditentukan
oleh Undang-undang yang membentuknya. Otonomi operasional juga terkait dengan wewenang
hukum untuk memaksa kerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas, fungsi dan
wewenangnya, dimana penyelidikan atas pengaduan diberikan wewenang penuhnya kepadanya.
Dalam UU juga ditentukan bahwa semua petugas dan aparat publik harus membantu pekerjaan
lembaga, termasuk menjawab permintaan untuk memberikan informasi , dan membantu dalam
pengusutan.

2. Independensi Melalui Otonomi Keuangan


Otonomi keuangan sangat terkait dengan otonomi fungsional, apabila tidak independen secara
keuangan maka akan tergantung pada lembaga pemerintah yang berdampak pada intervensi
fungsional. Dalam hal keuangan lembaga independen diberikan kekuasaan untuk mengatur
anggarannya sendiri. peran parlemen hanya dalam pemeriksaan dan evaluasi atas laporan
keuangan, hal ini terkait pemberian anggaran dalam anggaran negara.

3.. Independensi Melalui Prosedur Pengangkatan dan Pemecatan


Pemberian otonomi hukum, teknis dan keuangan tidak cukup apabila tidak dibarengi
independensi anggota secara individu maupun kolektif dalam rangka mempertahankan dan
menghasilkan tindakan yang independen. Metode pengangkatan seorang anggota lembaga
sangat penting, karenanya perlu dipertimbangkan untuk mempercayakan tugas ini kepada

parlemen. Hal ini juga harus didukung oleh aturan prosedur pengangkatan yang partisipatif dan
terbuka, serta dukungan persyaratan pengangkatan yang jelas.
Dalam mengatasi permasalahan pemecatan terhadap anggota lembaga, selayaknya diberikan
independensi kepada lembaga untuk menjalankan fungsi tersebut. Dimana dasar pemecatan
diatur dengan jelas, dalam hal ini juga terdapat mekanisme peradilan bagi pemeriksaan
penyimpangan yang dilakukan anggota. dalam menjalankan kegiatannya anggota lembaga
diberikan imunitas terhadap hukum acara pidana dan perdata dalam menjalankan tugasnya
secara resmi.

4. Independensi Melalui Komposisi


Komposisi lembaga harus mencerminkan jaminan independensinya, dimana komposisi lembaga
menggambarkan pluralitas keanggotaan (multi stake holders). Dalam hal ini lembaga
dimungkinkan untuk memastikan diri bahwa seluruh elemen terwakili (terutama dalam proses
peradilan) yang ada. Keragaman anggota juga memperhatikan komposisi berdasarkan
pertimbangan yang lain yang mencerminkan keragaman masyarakat.

b) Yurisdiksi Yang tegas dan Wewenang Yang Memadai


1)

Yurisdiksi tentang Pokok Persoalan

Lembaga independen yang efektif akan memiliki yurisdiksi pokok permasalahan yang
sebutkan dengan jelas. Berbicara tentang yurisdiksi tidak hanya berdasarkan fungsinya belaka,
namun melibatkan pemikiran mengenai dasar hukum yang tepat dari fungsi-fungsi tertentu.
Sebuah lembaga dalam menjalankan fungsinya hanya sesejauh kegiatan menjadi bidang tugas
lembaga tersebut. Dengan adanya yurisdiksi pokok permasalahan yang jelas maka akan
memenuhi beberapa tujuan. Pembentukan lembaga yang didahului dengan perencanaan yang
teliti akan melahirkan prioritas dan cara-cara yang dapat digunakan untuk memenuhi prioritas
secara konstruktif. Lembaga yang lahir dengan yurisdiksi yang luas dan didefinisikan dengan
jelas, seringkali tidak efektif dibandingkan dengan lembaga yang bekerja dalam batas-batas yang
dapat diidentifikasi.
Berkaitan dengan yurisdiksi pokok masalah adalah masalah katagori individu atau
lembaga yang menjadi pusat perhatian lembaga dalam melaksanakan pekerjaannya. Katagorikatagori ini pada umumnya berhubungan dengan fungsi-fungsi yang harus dijalankan oleh
lembaga yang dibentuk.

2) Menghindari konflik Yurisdiksi


Terkadang yurisdiksi pokok masalah antara satu lembaga dengan lembaga lain sdaling
tumpang tindih. Untuk menghindari hal ini adalah kejelasan tujuan selama proses pra
pembentukan. Pembentukan lembaga baru adalah untuk menjalankan tugas-tugas yang tidak
(atau belum) dapat dijalankan lembaga lain. Oleh karena, lembaga yang baru dibentuk untuk

melengkapi dan bukan untuk menyaingi lembaga yang sudah ada. Ketumpangtindihan mungkin
hal yang umum yang terjadi namun konflik tidak boleh terjadi.
Konflik dan duplikasi agar dihindari yaitu dengan memastikan bahwa tiap lembaga diberi
tanggung jawab berbeda yang tidak tumpang tindih. Pertemuan antar badan adalah cara lain utuk
memperkuat sifat saling melengkapi, seperti halnya dengan pengembangan dan pemeliharaan
komunikasi yang baik antara lembaga serupa. Menjalin dan membina hubungan yang dekat
dengan badan-badan yang sama untuk mempromosikan kebijakan umum, dan menghindari
konflik dalam kasus-kasus yurisdiksi yang tumpang tindih.

3) Independensi melalui komposisi


Kekuasaan dalam hal ini mengacu pada kemampuan lembaga untuk melakukan tindakan
tertentu, atau memaksa orang lain atau lembaga lain untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Kekuasaan harus dapat dijalankan dan harus diatur dengan suatu aturan hukum. Ketetapan juga
harus dibuat bagi penjatuhan sanksi hukum dan administratif apabila pelaksanaan yang bebas
dan kekuasaan lembaga dihalangi. Lembaga harus diberikan kekuasaan yang memadai untuk
memungkinkan pelaksanaan tugasnya secara bertanggung jawab. Memadai atau tidaknya
kekuasaan yang dimiliki oleh lembaga terkait dengan fungsi-fungsi yang harus dilakukan
lembaga.

c)

Kemudahan untuk diakses

Lembaga yang efektif adalah lembaga yang mudah diakses oleh orang-orang atau kelompok
yang kepentingannya harus diperjuangkan. Kemudahan akses tidak dapat diperoleh hanya
melalui upayaupaya struktural melainkan dipengaruhi oleh seluruh aspek organisasi dan
prosedur lembaga. Sebuah lembaga yang dianggap bertanggung jawab dan efektif, serta
memiliki kepercayaan masyarakat secara otomatis akan meningkatkan kemudahan aksesnya.
Sebuah lembaga yang tidak diakses oleh masyarakat akan melahirkan disinformasi mengenai
keberadaan dan fungsi lembaga tersebut. Lembaga harus menyadari bahwa individu atau
kelompok-kelompok yang rentan mendapati penyimpangan, lebih suit dijangkau dengan caracara atau media komunikasi yang biasa. Karena itu suatu lembaga harus mengembangkan caracara yang kreatif untuk memastikan visibilitasnya diantara kelompok atau individu yang rentan,
serta mendapatkan kepercayaan mereka.
Kemudahan akses secara fisik terhadap lembaga yang akan dibentuk adalah bagian penting
dalam mensosialisasikan keberadaan lembaga. Kemudahan akses bagi mereka yang tinggal di
daerah-daerah terpencil, atau mereka yang tidak bisa melakukan perjalanan tidak akan dapat
terhalangi apabila akses secara fisik terselesaikan. Peningkatan akses secara fisik dapat
dilakukan dengan menerapkan sistem desentralisasi. Kantor-kantor lokal amaupun regional
dapat dididikan untuk memberikan pelayanan yang lengkap, atau bertindak sebagai jalur
komunikasi atau tempat konsultasi antara masyarakat dengan lembaga.
Permasalahan kemudahan akses fisik dapat terselesaikan dengan metode selain desentralisasi
yaitu dengan memperkerjakan petugas-petugas lapangan diberbagai wilayah. Lain daripada itu
dapat juga dilakukan dengan kelonggaran mekanisme pengaduan, yaitudengan tidak mewajibkan
kehadiran fisik pengadu. Hal iniyang paling mungkin dilakukan apabila pendanaan yang ada tidak
mencukupi untuk pembentukan secara desentralisasi.

d)

Kerjasama

Bahwa sebuah kenyataan dimana lembaga tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus menjalin dan
memperkuat hubungan kerjasama dengan berbagai organisasi dan kelompok lain. Kerjasama
yang dapat dijalin adalah kerjasam dengan organisasi non pemerintah. Jalinan kerjasama
dengan Ornop akan berguna dalam meningkatkan visibilitas lembaga dengan memberitahukan
masyarakat tentang keberadaan lembaga. Keuntungan lain yang diambil adalah menjadikan
ornop sebagai perantara antara korban dengan lembaga, dimana kecenderungannya adalah
orang-orang yang rentan terhadap pelanggaran sering tidak ingin langsung mendekati badan
resmi untuk mengadukan permasalahannya.

Kerjasama antar lembaga sejenis negara lain penting dilakukan untuk saling tukar menukar
informasi, dukungan dari negara yang lebih maju untuk memberikan bimbingan dalam
perancangan Undang-undang, pelatihan dan perekrutan personil dan pengembangan kerja yang
efektif. Kerjsama juga berguna untuk saling bertukar laporan serta membahas isu-isu yang
menjadi perhatian bersama. Kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintah digunakan untuk
meningkatkan aktifitas lembaga dengan menggunakan sumber daya dan keahlian yang tersedia
dalam organisasi pemerintah.

e)

Efisiensi operasional

Bahwa setiap lembaga harus dapat membuktikan bahwa metode kerjanya adalah paling efektif
dan efisien. Efisiensi operasional meliputi semua apspek prosedur lembaga, mulai dari
penerimaan dari seleksi personil, pengembangan metode kerja dan peraturan prosedur, samapai
ke penerapan pemeriksaan kinerja rutin. Sumber daya manusia yang memadai serta pendanaan
yang memadai dan berkesinambungan merupakan prasyarat efisiensi operasional. Manajemen
sumber daya efektif memerlukan penetapan prioritas yang tegas dan ketaatan pada rencana
anggaran yang telah disetujui.
Maksimalisasi efisiensi operasional dilakukan melalui pengembangan dan pemajuan ketaatan
terhadap metode dan prosedur tertentu. Cakupan pengembanagn dimaksud adalah kriteria
pengembangan kelompok kerja, prosedur menangggapi pengaduan, serta jadual dan frekuensi
rapat staff. Dalam peningkatan efisiensi operasional terkait dengan pelaku pelaksana kegiatan
lembaga, dalam hal ini permasalahan personil penting dilakukan mulai dari penentuan kriteria
atau kualifikasi yang dibutuhkan untuk lembaga, samapai ke masalah pelatihan dan evaluasi
kinerja.
Pemeriksaan dan evaluasi dalam rangka peningkatan efisiensi operasional dilakukan
berdasarkan atas sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Evaluasi terhadap kerja yang telah
dilakukan penting dilakukan untuk menemukan permasalahan yang mungkin mejadi hambatan
dalam pelaksanaan kerja lembaga. Untuk evaluasi dibutuhkan masukan informasi yang akurat
dan cukup, yang diperoleh baik dari internal maupun eksternal.

f)

Pertanggungjawaban

Efektifitas institusional memerlukan pengembangan sistem pertanggungjawaban yang


didasarkan atas sasaran yang khusus dan jelas. Lembaga akan bertanggung jawab secara
hukum dan keuangan kepada publik melalui dewan perwakilan rakyat. Aspek
pertanggungjawaban ini dilakukan mellaui kewajiban pelaporan mengiungat pentingnya hal ini,
maka esensi laporan pe5rlu ditegaskan dalam perundang-undangan. Hal yang perlu diatur dalam
kaitan dengan pertanggungjawaban adalah frejuensi laporan, isu-isu yang harus dilaporkan, dan
prosedur pemeriksaan laporan. Transparansi institusi dalam kerangka akuntabilitas publik
dilakukan melalui publikasi dan penyebarluasan laporan, hal ini akan meningkatkan kredibilitas
lembaga dimata masyarakat.

[1] Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia, Administrasi Peradilan: Lembaga Pengawasan Sistem
Peradilan Terpadu, (Discussion Paper yang disampaikan pada seminar dan Lokakarya Penelitian MaPPI KHN, Jakarta
30 Mei 2002), hal 13 16. lihat Indonesian Corruption Watch, Profil Judicial Corruption di Peradilan, (laporan hasil
Pemanatauan peradilan terhadap Pola-pola korupsipada proses beracara di peradilan, Jakarta, 2001). Karena perilaku
korup yang ditunjukkan oleh berbagai elemen menempatkan Indonesia pada negara paling terkorup di Asia, pada tahun
2001 Indonesia menduduki peringkat 2 di Asia (lihat, Political and Econnomic Risk Consultancy, Corruption in Asia, dalam
Adnan Buyung Nasution, prinsip-prinsip Umum Pengadilan Yang Baik (makalah disampaikan dalam Lokakarya
mengenai Pengadilan khusus Korupsi. Jakarta, 19 20 Juni 2001) hal.2.
[2] Rifqi S. Assegaf, Pengawasan Lembaga Penegak hukum dan Lembaga Peradilan, Makalah disampaikan
pada seminar dan lokakarya yang diselenggarakan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia tanggal 3031 Juni 2002.
[3] Diolah dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional
(Jakarta, BPKP: 1999), hal.4.
[4] Melawan Tirani Informasi (Jakarta, Koalisi Kebebasan Memperoleh Informasi, 2001)
[5] Robert Klitgaard, Membasmi Korupsi (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1998)
[6] Lihat Mauro Cappaletti, Who watches the watchmen, dalam Shimon Shetreet and J. Deschenes, Judicial
Independence The Contemporary Debate (Netherlands: Martinus Nijhoff Publisher), 1985 atau Oficials of Democracy
and Governance, Guidance for Promoting Judicial Independence and Impartiality (Washington, 2001).
[7] Draft Studi Pembaruan Mahkamah Agung (MA dan LeIP, 2002)
[8] RUU Kebebasan Memperoleh Informasi yang disusun Koalisi Kebebasan Informasi 2001
[9] Indonesia, UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, pasal 21
[10] Lihat Pricewaterhouse Cooper and The British Institute of International Comparative Law, The Final Report
of The Governance Audit of The Public Prosecution Service Of The Republik of Indonesia (Jakarta: Pricewaterhouse
Cooper and The British Institute of International Comparative Law, 2001)
[11] Hal ini telah diatur dalam Surat eadaran MA meskipun pengawasan terhadap pelaksanaan SEMA ini
bukanlah hal yang mudah, karena sangat mungkin terjadi pertemuan dengan pihak berperkara (atau kuasanya) yang
mana sebenarnya hakim yang bersangkutan tidak berkeinginan untuk bertemu.

[12] Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Stategi Pemberantasan Korupsi Nasional (Jakarta:
BPKP, 1999) hal 58.
[13] Misalnya data tempat kelahiran, pendidikan dan sebagainya yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk
jika ada dugaan penyalahgunaan kewenangan misalnya kolusi- antara aparat penegak hukum atau hakim dengan pihak
lain yang memiliki kesamaan empat tinggal, almamater pendidikan dan sebagainya.
[14] S. van Hoeij Schiltouwer Pompe, The Indonesia Supreme Court: Fivety Years of Judicial Development, hal.
223.
[15] Dalam bentuk yang sedikit berbeda, di pengadilan tingkat pertama dan banding, hal ini telah dilakukan.
Lihat SEMA No. 6 tahun 1992.
[16] Pendapat disampaikan oleh Komisaris Jenderal Ahwiluttan (Inspektur Jenderal POLRI) dalam wawancara
mendalam yang dilakukan team peneliti pada tanggal 4 April 2002.
[17] Sofyan Syafri Harahap, Sistem Pengawasan Manajemen (Management Control System), (Jakarta:
Pustaka Quantum, 2001). Hal. 14.
[18] Harahap, Ibid, hal.14.
[19] wawancara Warta Ekonomi dengan Sarwono Kusumaatmadaja sebagaimana termuat dalam Warta
Ekonomi No. 26 TH. II/ 2 Mei 1990.
[20] Lihat laporan hasil pemantauan peradilan terhadap pola-pola korupsi dalam proses peradilan yang
dilakukan oleh Indonesian Corruption Watch tahun 2001.
[21] Wawancara mendalam dengan Bambang Widjojanto, tanggal 28 Maret 2002.
[22] Widjojanto, Ibid.
[23] Committee on Auditing Procedure, Internal control element of Cordinate System and Its Importance to
Management and the Independent Public Accountant, Tahun 1949, dalam Harahap, Op.Cit. hal 122.
[24] Dalam wawancara mendalam yang dilakukan terhadap R,M. Surachman (Komisi Ombudsman Nasional),
terungkap pesimisme beliau terhadap independensi lembaga pengawasan apabila lembaga itu tetap berada dibawah
pimpinan intern organisasi, karena kekhawatiran intervensi.
[25] Pola rekruitmen dilakukan oleh sebuah komisi pemilihan yang independen, hal ini sebagaimana suatu
gejala keinginan untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap mekanisme yang selama ini ada. Hal ini terjadi pada
saat pemilihan anggota komisi nasional hak aasasi manusia, dimana nama- nama yang diusulkan oleh Komnas
merupakan hasil keputusan lembaga seleksi tersebut.
[26] Harkristuti Harkrisnowo, Komisi Pengawas eksternal pada Polri : Pembatas Kewenangan ataukah
Pendorong Profesionalisme, (makalah disampaiakan dalam Seminar yang diadakan FISIP Universitas Riau, di
Pekanbaru, 15 16 November 1999), dalam Tim Universitas Indonesia fakultas Hukum, Sinkronisasi Ketentuan
Perundang-undangan Mengenai Sistem Peradilan Pidana Terpadu Melalui Penerapan Asas-Asas Umum, (Jakarta, Juni
2001), hal 34.
[27] Hal ini diungkapkan oleh M.H. Silaban dalam Semiloka I MaPPI di Jakarta, 29-30 Mei 2001, hal ini menurut
beliau keadaan yang mendesak karena apabila menunggu melalui pembahasan UU akan mermakan waktu lama
sedangkan perilaku korup terus berlanjut.
[28] Alternatif ini merupakan pilihan yang paling banyak dipilih oleh peserta workshop, dimana dalam
rekomendasinya mereka menginginkan lembaga berada di bawah MPR. Dalam studi lapangan yang dilakukan responden
sebagian besar (25%) memilih berada dibawah MPR. Namun hal ini juga harus dipikirkan kembali mengingat
perkembangan yang ada dalam pembahasan amandemen UUD 1945.

http://www.pemantauperadilan.com/detil/detil.php?id=228&tipe=penelitian