Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH BAHAN KONSTRUKSI KIMIA

BAHAN LOGAM BESI

DISUSUN OLEH :

1. Angga Harsyah
2. Natashia Cindy P
3. Yulia Malasari

0613 3040 1031


0613 3040 1043
0613 3040 1051
Kelas : 4 KE

Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Rusdianasari, Msi

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
TAHUN 2015

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................................. i
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................................... 2
BAB II DASAR TEORI
2.1 Pengertian Logam Besi (ferro) .................................................................................. 3
2.2 Sifat-Sifat Logam Besi .............................................................................................. 4
2.3 Klasifikasi Logam Besi ............................................................................................. 5
2.4 Proses Pembuatan Logam Besi ................................................................................ 13
BAB III FLOWSHEET PEMBUATAN LOGAM BESI
3.1 Flowsheet Pembuatan Besi Tuang ........................................................................... 14
3.2 Flowsheet Pembuatan Baja Karbon ......................................................................... 16
BAB IV APLIKASI PENGGUNAAN LOGAM BESI
4.1 Aplikasi Penggunaan Logam Besi ............................................................................ 18
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, liat, keras, penghantar
listrik dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan cara
penambangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur dengan unsur-unsur seperti
karbon, sulfur, fosfor, silikon, serta kotoran seperti tanah liat, pasir, dan tanah.
Bijih logam yang ditemukan dengan cara penambangan terlebih dahulu dilakukan
proses pendahuluan sebelum diolah dalam dapur pengolahan logam dengan cara dipecah
sebesar kepalan tangan, dipilih yang mengandung unsur logam, dicuci dengan air unruk
mengeluarkan kotoran dan terakhir dikeringkan dengan cara dipanggang untuk mengeluarkan
uap yang mengandung air.
Selain logam ada yang disebut dengan istilah bukan logam (nonmetal) dan unsur
metaloid (yang menyerupai logam).
-

Logam dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu :

Logam berat : besi, nikel, krom, tembaga, timah putih, timah hitam, dan seng.

Logam ringan : alumunium, magnesium, titanium, kalsium, kalium, natrium, dan


barium.

Logam mulia : emas, perak, dan platina.

Logam tahan api : wolfram, molibden, titanium, dan zirkonium.

Dalam penggunaan serta pemakaiannya, logam pada umumnya tidak merupakan senyawa
logam, tetapi merupakan paduan. Logam dan paduannya merupakan bahan teknik yang
penting, dipakai untuk konstruksi mesin, kendaraan, jembatan, bangunan, dan pesawat
terbang.
Sehubungan dengan pemakaiannya pada teknik mesin, sifat logam yang penting adalah
mekanis, fisik, dan kimia yang sangat menentukan kualitasnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Mendefinisikan pengertian logam besi


2. Menjelaskan sifat fisik dan sifat kimia dari logam besi
3. Mengklasifikasikan logam besi
4. Menjelaskan Proses pembuatan atau flowsheet pembuatan logam besi
5. Menjelaskan aplikasi penggunaan logam besi
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian logam besi
2. Mengetahui sifat fisik dan sifat kimia logam besi
3. Mengklasifikasi logam besi
4. Mengetahui Proses pembuatan atau flowsheet pembuatan logam besi
5. Mengetahui aplikasi penggunaan logam besi

BAB II

DASAR TEORI
Logam dapat dibagi dalam dua golongan yaitu logam ferro atau logam besi dan logam non
ferro yaitu logam bukan besi.
2.1 Pengertian Logam (Ferro)
Logam ferro adalah suatu logam paduan yang terdiri dari campuran unsur karbon
dengan besi. Untuk menghasilkan suatu logam paduan yang mempunyai sifat yang berbeda
dengan besi dan karbon maka dicampur dengan bermacam logam lainnya.
Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat, seperti dapat ditempa dan diubah
bentuk, penghantar panas dan listrik,keras (tahan terhadap goresan, potongan atau keausan),
kenyal (tahan patah bila dibentang), kuat (tahan terhadap benturan, pukulan martil), dan liat
(dapat ditarik).
Besi dalam bidang keteknisan adalah besi teknis, bukan besi murni, karena besi murni
(Fe) tidak memenuhi pernyataan teknik, persyaratan teknik adalah kekuatan bahan, keuletan,
dan ketertahanan terhadap pengaruh luar (korosi, aus, bahan kimia, suhu tinggi dan
sebagainya).
Besi teknis selalu tercampur dengan unsure-unsur lain misalnya karbon (C), silicon
(Si), mangan (Mn), Fosfor (P), dan belerang (S). Unsur-unsur tersebut harus dalam kadar
tertentu, sesuai dengan sifat-sifat yang dikehendaki, secara garis besar besi teknik terbagi
menjadi :
a. Besi kasar : kadar karbon lebih besar dari 3,5%, tidak dapat ditempa.
b. Besi : kadar karbon lebih besar dari 2,5%, tidak dapat ditempa.
c. Baja : kadar karbon kurang dari 1,7%, dapat ditempa.

2.2 Sifat-Sifat Logam Besi

Sifat fisika

Fase
Massa jenis (suhu kamar)
Titi lebur

Padat
7,68 gr/cm3
1811 oK

Titik didih

( 1538 oC , 2800 oF)


3134 oK

Kalor peleburan
Kalor penguapan

( 2861 oC , 5182 oF)


13,81 kJ/mol
340 kJ/mol

Sifat Kimia

Tidak termakan oleh udara kering yang tidak mengandung CO2.

Jika terkena udara basah akan terbentuk karat (Fe2O3. nH2O). Reaksi pembentukan

karat, yaitu

Bereaksi dengan uap air panas.


Fe + uap air panas (stoom) akan menghasilkan H2 (pembuatan H2 secara teknik).

Reaksi :

Bereaksi dengan semua asam.


Reaksi :
Jika timbul H2 maka selalu terbentuk senyawaan fero.
Reaksi :

Tidak termakan oleh basa.

Bereaksi dengan halida.


Reaksi :

2.3 Klasifikasi Logam Besi

Logam-logam besi merupakan logam dan paduan yang mengandung besi (Fe) sebagai
unsur utamanya dan carbon, sedangkan logam bukan besi merupakan logam yang tidak
mengandung unsur besi.
Logam besi dapat digolongkan dalam beberapa kelompok berdasarkan komposisi
kimia, khususnya kadar karbon, sifat-sifat mekanis atau fisis dan tujuan penggunaannya.
Proses pembuatan baja dapat dilakukan berdasarkan proses asam dan basa yang berhubungan
dengan sifat kimia yang meghasilkan terak dari lapisan dapur.
Proses asam digunakan untuk memurnikan besi kasar yang persetasenya rendah dalam
fosfor dan sulfur. Besi kadar ini dihasilkan dari bijih besi yang kaya silikon yang
menghasilkan terak asam. Lapisan dapur dibangun dari batu silika (SiO2) dan mempunyai
sifat yang sama dengan terak sehingga mencegah reaksi antara unsur fosfor dengan lapisan
dapur.
Proses basa digunakan Untuk memurnikan besi kasar yang kaya fosfor. Unsur itu
hanya dapat dikeluarkan apabila digunakan sejumlah besar dari batu kapur selama
berlangsung proses pemurnian, sehingga akan menghasilkan terak. Lapisan dapur harus
terbuat dari batu kapur untuk mencegah reaksi antara lapisan dapur dengan unsur silikon.
Jenis logam ferro adalah sebagai berikut :
1. Besi Tuang
Komposisinya yaitu campuran besi dan karbon. Kadar karbon sekitar 40%, sifatnya
rapuh tidak dapat ditempa, baik untuk dituang, liat dalam pemadatan, lemah dalam tegangan.
Digunakan untuk membuat alas mesin, meja perata, badan ragum, bagian-bagian mesin robot,
blok slinder, dan cincin torak.
Klasifikasi Besi Tuang
Besi Tuang Kelabu
Untuk memperoleh besi tuang kelabu kita harus berpangkal pada besi kasar kelabu.
Besi kasar kelabu memiliki kadar silikon yang tinggi (kurang lebih 5,5 sampai 50%) dan
kadar mangan yang rendah. Karena itu pembentukan karbon bebas jadi meningkat. Jadi besi
tuang kelabu setelah didinginkan mengandung grafit. Grafit tersebut terdapat dalam besituang berupa pelat-pelat tipis. Besi tuang kelabu memperoleh namanya dari bidang patahan
yang berwarna kelabu, yang disebabkan oleh grafit hitam.

Besi

Tuang Putih

Untuk memperoleh besi tuang putih, kita harus berpangkal pada besi kasar putih. Besi
kasar putih itu memiliki kadar silikon yang rendah (kurang lebih 0,5%) dan kadar mangan
yang tinggi. Dengan demikian pembentukan sementit digiatkan. Karena kadar silikon yang
sangat rendah hanya terbentuk sementit. Jadi untuk besi tuang putih hanya diagram menstabil
yang penting.
Dengan demikian besi tuang putih setelah didinginkan tediri dari perlit dan sementit.
Besi tuang putih dengan kadar karbon 2.5% sampai 3.6% mengandung banyak sementit.
Dengan adanya kadar yang besar dari sementit yang sangat keras,akan tetapi rapuh itu, besi
tuang putih memperoleh kekerasan sangat besar, akan tetapi kekuatan tarik yang sangat
rendah dan regangan yang sangat kecil

Gambar struktur besi tuang putih

Besi Tuang mampu tempa

Untuk memperoleh besi tuang yang dapat di tempa, kita harus berpangkal pada besi
tuang putih. Bahan ini dipanaskan sampai kurang lebih 900 C dan dibiarkan beberapa hari
pada suhu tersebut. Besi tuang jenis ini dibuat dari besi tuang putih dengan melakukan heat
treatment kembali yang tujuannya menguraikan seluruh gumpalan grafit akan terurai menjadi
matriks ferrit, pearlit, martensit. Besi tuang ini juga mempunyai sifat yang mirip dengan baja

Gambar struktur besi tuang mampu tempa

Besi Tuang Nodular

Untuk memperoleh besi tuang nodular, kita harus berpangkal pada besi kasar kelabu.
Besi kasar kelabu memiliki kadar silikon yang tinggi (kurang lebih 5,5 sampai 1,5%), dan
kadar mangan rendah. Karena itu pada pendinginan perlahan-lahan pembentukan karbon
bebas akan meningkat. Karena selama fabrikasi dimasukkan magnesium ke dalam bahan,
maka karbon bebas itu terjadi berupa bola. Bola-bola itu dinamakan nodul. Nodul grafit
memberikan pengurangan penampang yang lebih kurang dan tidak menyebabkan pengerjaan
takik.
Besi tuang noduler, setelah pendinginan dan setelah pengerjaan pemijaran terutama
dari ferit, perlit, dan grafit. Karena adanya ferit atau perlit dan karena bentuk nodul grafit
yang sangat menguntungkan, maka besi tuang noduler memiliki kekuatan tarik yang tinggi
dan regangan yang besar.

Gambar

struktur

Besi

Tuang Nodular

Sifat Mekanis dari Besi Tuang


Keras dan mudah melebur/mencair
Getas sehingga tidak dapat menahan benturan
Temperatur meleleh 1250
Kekuatan tarik menurun
Regangan menurun
Sangat tahan terhadap karat (jauh lebih baik daripada baja)
Tidak dapat di beri muatan magnit
Tidak dapat disambung dengan las dan paku keling, disambung dengan baut dan

sekrup.
Kuat dalam menahan gaya tekan, lemah dalam menahan tarik kuat tekan sekitar 600

Mpa, kuat tarik 50 Mpa


Menyusut waktu pendinginan/waktu dituang.
Besi tuang hampir bisa dicetak dalam bentuk apa saja.
Bisa tahan terhadap tekanan yang besar

Kegunaan
Kerangka mesin, seperti mesin bubut, mesin ketam, dan alat pengepres
Psabuk-V dalam motor dan mesin
Besi silinder
Pipa yang menahan tekanan dari luar sangat tinggi
Tutup lubang saluran drainasi dan alat saniter lain
Bagian mesin, blok mesin
Pintu gerbang,tiang lampu
Sendi, rol jembatan.
Pada umumnya Besi Tuang (Cast Iron) mempunyai bentuk yang rumit suatu contoh

(PIPE FITTING, SPROKECT, PUMP, CRANK SHAFT MESIN MOBIL dan beberapa
peralatan yang lain dengan ukuran besar.
Dengan adanya bentuk yang rumit besi tuang tersebut sedikit banyak mempunyai
ketebalan yang tidak seragam hal ini akan mempengaruhi konstraksi tegangan yang terjadi
pada material tersebut dan mudah terjadi retak.

Untuk menghindari timbulnya keretakan pada sebuah besi tuang karena ketegangan
akibat konstraksi tegangan selama pengelasan sering dilakukan dengan memperluas bidang
yang dipanasi dengan PREHEATING untuk menyeimbangkan KONTRAKSI TEGANGAN
dalam hal ini ada metode yang dilakukan dalam preheating :

PREHEATING

SETEMPAT.Tujuannya

untuk

menghambat

tingkat

pendinginan sambungan las.


PREHEATING KESELURUHAN.Mempunyai fungsi untuk melepaskan
tegangan internal yang tersembunyi dan untuk memperlambat pendinginan
pengelasan. Hal ini cocok untuk material yang mempunyai bentuk rumit
Seperti RODA GIGI, SPROKET dsb.

2. Besi Tempa
Komposisi besi terdiri dari 99% besi murni, sifat dapat ditempa, liat, dan tidak dapat
dituang. Besi tempa antara lain dapat digunakan untuk membuat rantai jangkar, kait keran,
dan landasan kerja plat.
3. Baja Lunak
Komposisi campuran besi dan karbon, kadar karbon 0,1% - 0,3%, membuat sifat
dapat ditempa dengan tanah liat. Digunakan untuk membuat mur, sekrup, pipa, dan keperluan
umum dalam pembangunan.
4. Baja karbon.
Baja karbon adalah material logam yang terbentuk dari unsur utama Fe dan unsur
kedua yang berpengaruh pada sifatsifatnya adalah karbon, sedangkan unsur yang lain
berpengaruh menurut persentasenya. Baja karbon merupakan salah satu jenis logam paduan
besi karbon terpenting dengan persentase berat karbon hingga 2,11%. Baja karbon memiliki
kadar C hingga 1.2% dengan Mn 0.30%-0.95%. Elemen-elemen persentase maksimum selain
bajanya sebagai berikut: 0.60% Silicon, 0.60% Copper.
Fasa-fasa yang terbentuk pada baja karbon :
-

Ferit (alpha) : merupakan sel satuan (susunan atom-atom yang paling kecil dan
teratur) berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat badan), Ferit ini mempunyai

sifat : magnetis, agak ulet, agak kuat, dll.


Austenit : merupakan sel satuan yang berupa Face Centered Cubic (FCC =kubus pusat
muka), Austenit ini mempunyai sifat : Non magnetis, ulet, dll.

Sementid (besi karbida) : merupakan sel satuan yang berupa orthorombik, Semented

ini mempunyai sifat : keras dan getas.


Perlit : merupakan campuran fasa ferit dan sementid sehingga mempunyai sifat Kuat.
Delta : merupakan sel satuan yang berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat
badan).

Gambar 1. Photomicrographs of (a) ferrite and (b) austenite

Klasifikasi Baja Karbon


Baja karbon (carbon steel), dibagi menjadi tiga golongan yaitu :

Baja karbon rendah (low carbon steel).Kandungannya 0,05% 0,30% C.Sifatnya


mudah ditempa dan mudah di mesin.

Penggunaannya:

0,05 % 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets, screws, nails.

0,20 % 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings.

Baja karbon sedang (medium carbon steel)


Kekuatan lebih tinggi daripada baja karbon rendah.
Sifatnya sulit untuk dibengkokkan, dilas, dipotong. Penggunaan:
0,30 % 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles.
0,40 % 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits, screwdrivers.
0,50 % 0,60 % C : hammers dan sledges.

Baja karbon tinggi (high carbon steel)


Sifatnya sulit dibengkokkan, dilas dan dipotong. Kandungan 0,60% 1,50% C

Tabel pembagian besi dan baja berdasarkan komposisinya


No

Paduan Besi dan Baja

K o m p o s i s i

k i m i a

( % )

Besi Tuang

2-4% C, 1-3% Si, 0,8% Mn(maks), 0,10%


P
(maks), 0,05% S(maks).

- Besi tuang kelabu


- Besi tuang potih

Disamping terdapat perbedaan yang kecil

- Besi tuang noduler

dari segi komposisi, perbedaan sifat-sifat

- Besi tuang paduan

besi tuang ditentukan oleh strukutur mikro

karena proses pembutan atau karena proses


perlakuan panas.
Elemen-elemen pemadu: Cr, Ni
2

Baja Karbon
- Baja karbon rendah

0,08-0,35% C 0,25-1,50% Mn

- Baja karbon medium

0,35-0,50% C 0,25-0,80% Si

- Baja karbon tinggi

0,55-1,70% C 0,04% P 0,05% S

Baja Paduan

Seperti pada baja karbon rendah + elemen

- Baja paduan rendah

elemen pemadu kurang dari 4% .


Seperti Cr, Ni, Mo, Cu, Al, Ti, V, Nb, B, W

- Baja paduan medium

Seperti pada baja paduan rendah tetapi


jumlah elemen-elemen pemadu di atas 4%

Baja Spesial
- Baja Stainless

a. Feritik (12-30% Cr dan kadar C rendah)


b. Martensitik (12-17% Cr dan 0,1-1,0%C)
c. Austenitic (17-25 % Cr dan 8-20% Ni)
d. Duplek (23-30%Cr, 2,5-7% Ni, plus Ti
dan Mo)
e. Presipitasi (seperti pada sustenitik, plus
elemen pemadu: Cu, Ti, Al, Mo, Nb,atau
Ni.

- Baja perkakas
High speed steels(0.85-1,25%C, 1,5-20%
W
, 4-9,5%Mo, 3-4,5% Cr, 1-4 %V, 512%Co)
2.4 Proses Pembuatan Logam Besi
Bijih ialah mineral atau batu-batuan yang mengandung satu macam atau beberapa
macam logam dalam prosentase yang cukup banyak untuk dijadikan bahan tambang.

Banyaknya logam yang terkandung dalam bijih itu berbeda-beda. Logam dalam keadaan
murni jarang sekali terdapat di dalam bumi, kebanyakan merupakan senyawa-senyawa
oksida, sulfida, karbonat, dan sulfat yang merupakan bijih logam yang perlu diproses menjadi
bahan logam yang bermanfaat bagi manusia.Jenis bijih besi yang lazim digunakan adalah
hematite, magnetite, siderite, dan himosit.
Hematite (Fe2O3) adalah bijih besi yang paling banyak dimanfaatkan karena kadar
besinya tinggi, sedangkan kadar kotorannya relative rendah. Meskipun pirirt (FeS2) banyak
ditemukan, jenis bijih ini tidak digunakan dikarenakan kadar sulfur tinggi sehingga
diperlukan pemurniaan tambahan.
Bijih besi diolah dalam tanur atau dapur tinggi untuk menghasilkan besi kasar. Besi
kasar adalah bahan baku untuk pembuatan besi cor (cast iron), besi tempa (wrought iron), dan
baja (steel). Ketiga macam bahan itu banyak dipakai dalam bidang teknik.
Baja adalah logam paduan antara besi dan karbon dengan kadar karbonnya secara teoritis
maksimum 1,7%. Besi cor adalah logam paduan antara beara besi dan karbon yang kadarnya
1,7%-3,5%. Besi tempa adalah baja yang mempunyai kadar karbon rendah.

BAB III
PROSES PEMBUATAN atau FLOWSHEET
3.1 Proses Pembuatan Besi Tuang

Besi Tuang terbuat dari besi kasar (pig iron) hasil tanur tinggi dari bijih besi.
Kemudian besi kasar dilebur kembali agar bisa menjadi besi tuang. Peleburan besi tuang
biasanya dilakukan dalam tungku yang sering disebut Kupola.
Bentuk dan konstruksi Kupola tersebut hampir sama dengan konstruksi tanur tinggi
(blast furnace). Bahan baku yang dilebur terdiri dari batang logam besi kasar yang dihasilkan
dari proses tanur tinggi. Bahan baku yang dilebur terdiri dari ingot besi kasar yang dihasilkan
dari proses tanur tinggi, ditambah dengan skrap baja ataupun skrap besi tuang (return scrap).
Disamping itu penambahan bahan-bahan seperti ferosilikon (FeSi) dan feromangan (FeMn)
sering pula dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk menaikkan kembali kadar Si dan Mn
dalam besi tuang karena sebagian dari kedua unsur tersebut biasanya berkurang (hilang)
akibat oksidasi pada saat peleburan.
Bahan bakar yang digunakan adalah kokas dan dimasukkan ke dalam Kupola selang
seling dengan muatan logam. Proses pembakaran terjadi dengan meniupkan udara ke dalam
Kupola dengan menggunakan Blower. Untuk mendapatkan proses peleburan yang baik maka
perbandingan antara muatan logam, bahan bakar dan kebutuhan udara harus dijaga sebaik
mungkin.
Disamping membutuhkan bahan-bahan seperti yang disebutkan diatas, ke dalam
Kupola juga ditambahkan sejumlah batu kapur. Bahan ini dapat membantu pembentukan
terak (slag) yang dapat mengikat kotoran-kotoran sehingga memisahkannya dari besi cair.
Proses peleburan besi tuang dengan Kupola biasanya terjadi secara kontinyu artinya
begitu muatan logam mencair maka langsung mengalir keluar tungku. Logam cair yang
keluar dari Kupola ditampung pada alat perapian depan (forehearth) yang kemudian diangkut

dengan menggunakan ladel untuk dituang ke dalam cetakan. Dengan proses peleburan seperti
itu maka sering kali mempersulit untuk melakukan pengaturan komposisi kimia. Hal ini dapat
mengakibatkan daerah komposisi kimia yang dihasilkan menjadi lebar sehingga memberikan
variasi pula terhadap kualitas produk yang dibuat.
Disamping itu kekurangan lainnya pada proses peleburan dengan Kupola yaitu logam
cair mudah mengalami kontaminasi oleh sulfur atau unsur-unsur lainnya yang disebabkan
oleh bahan bakar kokas. Pengotoran karena sulfur ini dapat menurunkan sifat-sifat besi tuang.
Karena kekurangan-kekurangan di atas, maka dewasa ini banyak pabrik pengecoran
menggunakan tungku listrik untuk menggantikan Kupola. Tungku listrik yang banyak
digunakan adalah dari jenis tungku induksi. Bahan baku yang dilebur pada umumnya tidak
menggunakan besi kasar melainkan sebagian besar berupa skrap baja atau skrap besi tuang.
Peleburan dengan tungku ini dapat menghasilkan logam cair dengan komposisi kimia yang
lebih konsisten dengan kadar impuritas yang lebih rendah karena bahan baku yang dilebur
biasanya berupa skrap baja, maka untuk menaikkan kadar karbon agar mencapai kadar yang
sesuai untuk besi tuang biasanya dilakukan dengan memasukkan sejumlah arang kayu ke
dalam tungku.
Dalam pemakaian di industri, ada tiga jenis besi tuang yang banyak digunakan, yaitu :
besi tuang kelabu (grey cast iron), besi tuang ulet atau besi tuang nodular (nodular cast iron)
dan besi tuang putih (white cast iron). Ketiga jenis besi tuang ini mempunyai komposisi
kimia yang hampir sama yaitu : 2,55 - 3,5 %C, 1-3 %Si, Mn kurang dari 1% sedangkan S dan
P dibatasi antara 0,05-0,10 % (maksimum). Walaupun komposisi kimianya hampir sama,
tetapi karena prosesnya berbeda maka struktur dan sifat-sifat dari ketiga besi tuang tersebut
berbeda.

3.2 Proses Pembuatan Baja Karbon

Proses pembuatan baja karbon dimulai dengan proses ekstraksi bijih besi. Proses
reduksi umumnya terjadi di dalam tanur tiup (blast furnace) di mana di dalamnya bijih besi
(iron ore) dan batu gamping (limestone) yang telah mengalami pemanggangan (sintering)
diproses bersama-sama dengan kokas (cokes) yang berasal dari batubara. Serangkaian reaksi
terjadi di dalam tanur pada waktu dan lokasi yang berbeda-beda, tetapi reaksi penting yang
mereduksi bijih besi menjadi logam besi adalah sebagai berikut:
Fe2O3 + 3CO
2Fe + 3CO2

Gambar 3. Proses Peleburan Besi


Luaran utama dari proses ini adalah lelehan besi mentah (molten pig iron) dengan
kandungan karbon yang cukup tinggi (4% C) beserta pengotor-pengotor lain seperti silkon,

mangan, sulfur, dan fosfor . Besi mentah ini belum dapat dimanfaatkan secara langsung untuk
aplikasi rekayasa karena sifat-sifat (mekanis)-nya belum sesuai dengan yang dibutuhkan
karena pengotor-pengotor tersebut. Besi mentah berupa lelehan atau coran selanjutnya
dikirim menuju converter yang akan mengkonversinya menjadi baja.
Proses pembuatan baja karbon umumnya berlangsung di tungku oksigen-basa
(basic-oxygen furnace). Di dalam tungku ini besi mentah cair dicampur dengan 30% besi tua
(scrap) yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tanur. Selanjutnya, oksigen murni
ditiupkan dari bagian atas ke dalam leburan, bereaksi dengan Fe membentuk oksida besi FeO.
Beberapa saat sebelum reaksi dengan oksigen mulai berlangsung, fluks pembentuk slag
dimasukkan dalam jumlah tertentu.
Oksida besi atau FeO selanjutnya akan bereaksi dengan karbon di dalam besi mentah
sehingga diperoleh Fe dengan kadar karbon lebih rendah dan gas karbon monoksida. Reaksi
penting yang terjadi di dalam tungku adalah sebagai berikut:
FeO + C

Fe + CO

Selama proses berlangsung (sekitar 22 menit), terjadi penurunan kadar karbon dan unsurunsur pengotor lain seperti P, S, Mn, dalam jumlah yang signifikan.

Gambar 4. Baja Karbon (Pipa)

BAB IV

APLIKASI PENGGUNAAN LOGAM BESI

4.1 Aplikasi Penggunaan Logam Besi


Beberapa aplikasi penggunaan dari logam besi, yaitu
-

Bidang industri :

Logam besi: digunakan untuk membuat konstruksi jembatan, badan kendaraan,


rel kereta api, dan konstruksi bangunan lainnya.

Stainless steel : digunakan untuk membuat peralatan industri, peralatan rumah


tangga , dan komponen kendaraan bermotor.

Baja nikel, baja mangan, baja kromium: untuk membuat senjata dan kawat.

Besi (III) klorida atau feri klorida digunakan dalam pengolahan limbah dan
pengecatan.

Besi (II) sulfat : digunakan dalam perawatan tekstil dan pengerasaan alumunium,
pembuatan tinta.

Besi (II) oksida (FeO) : sebagai pewarna tegel atau ubin.

Senyawa besi juga terdapat pada sayur-sayuran, dan dalam tubuh kita.
Contohnya: Hemoglobin, terdapat dalam darah. Myoglobin, terdapat di dalam
sel-sel otot, mengandung Fe bentuk Ferro.

Fe(OH)3 : digunakan untuk bahan cat

Bidang Laboratorium :

Besi (III) klorida atau feri klorida digunakan sebagai katalis dan koagulan.

BAB V

PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Logam terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :

Logam Ferro, dan

Logam Non Ferro.

Logam besi bila direaksikan dengan Oksigen maka akan terjadinya proses korosif,
menjadi Fe2O3.

Besi maupun baja memiliki manfaat salah satunya sebagai pembuatan alat industri,
alat rumah tangga, kawat maupun sebagai katalis dan koagulan.

Berdasarkan klasifikasinya, logam besi terbagi dalam 4 macam yaitu :


-

Besi Tuang

Besi Tempa

Besi Lunak

Baja Karbon

DAFTAR PUSTAKA

http://egis18.wordpress.com/2010/08/08/logam-ferro-dan-non-ferro/
http://ibenkguevara.blogspot.com/2012/09/logam-ferro-dan-non-ferro.html
http://zahidiadliwaad.blogspot.com/2012/11/peleburan-bijih-besi-dan-dapur-dapur.html
http://www.youtube.com/watch?v=EmJ1RwGPkM0