Anda di halaman 1dari 4

Pendahuluan

Latar belakang
Persalinan induksi adalah salah satu intervensi obstetrik yang berkembang cepat dalam
perawatan bersalin modern. Di New Zealand pada tahun 2005, angka persalinan induksi
sebesar 19.8% dari semua kelahiran yang tercatat oleh Departemen Kesehatan. Di Amerika
serikat, angka kelahiran induksi meningkat dari 9.0% menjadi 20.6%, dari semua kelahiran
antara tahun 1989 dan 2002 ( sebanyak 129% peningkatan sejak tahun 1989), dan selanjutnya
meningkat hingga 22.3% pada tahun 2005 (Martin et al 2007).
Di Australia pada tahun 2006, kejadian kelahiran spontan hanya 56.6% dari semua
wanita yang melahirkan, selanjutnya tidak terjadi persalinan untuk 18,3% dari semua ibu dan
persalinan induksi

sebesar 25,1%.(Laws et al 2009). Di Netherlands, angka persalinan

induksi cukup konstan yaitu sebesar 15% (Elferink-Stinkes et al 1996; Rayburn & Zhang
2002).
Alasan untuk perbedaan ini berhubungan dengan kemampuan pematangan serviks,
tekanan dari pasien, kenyamanan bagi dokter, factor logistic, alasan psikis, dan kendala sadar
hukum(Rayburn & Zhang 2002).
Pada studi The Listening to Mothers II ( DeClercq et al 2006) ditemukan bahwa para
wanita sering tidak mendapat informasi yang mereka butuhkan untuk bisa memutuskan
apakah akan melakukan induksi atau tidak. Mereka tidak dijelaskan mengenai komplikasi
yang bisa timbul dari induksi, dimana juga termasuk komplikasi yang mengancam nyawa
baik untuk ibu dan janin. Sebagian besar hanya mengetahui bahwa indikasi induksi dilakukan
adalah bila bayi terlalu besar pada akhir kehamilan. Sebenarnya para ibu berpikir bahwa
proses persalinan harusnya tidak di interupsi kecuali secara medic memang diperlukan.
Sekitar 11% mengungkapkan bahwa mereka mendapat tekanan dari care providers untuk
melakukan induksi. Mereka mengusulkan untuk lebih mendiskusikan tentang komplikasi
yang bisa timbul dari tindakan induksi dan seksio sesarea.
Dengan perkembangan ilmu dan teknologi obstetric, kesempatan bagi induksi
persalinan per vaginam semakin sempit karena sebagian dilakukan langsung dengan seksio
sesarea. Induksi persalinan per vaginam merupakan perantara menuju tindakan seksio
sesarea. Itulah sebabnya bahwa setiap induksi persalinan yang dilakukan sebaiknya disertai

pertimbangan bahwa kegagalan persalinan per vaginam akan dilanjutkan dengan tindakan
seksio sesarea yang harus dilakukan di rumah sakit yang dilengkapi dengan fasilitas operasi
( pengantar obstetric 2007)

Tinjauan Teoritis
Definisi
Induksi persalinan adalah upaya untuk melahirkan janin menjelang aterm dalam keadaan
belum terdapat tanda-tanda persalinan (belum inpartu), dengan kemungkinan janin dapat
hidup di luar kandungan (umur di atas 28 minggu).
Dengan induksi persalinan bayi sudah dapat hidup di luar kandungan. Ini merupakan
upaya untuk menyelamatkan janin dari pengaruh buruk jika janin masih dalam kandungan.
Indikasi
Indikasi dari persalinan induksi dapat ditinjau dari :
1. Indikasi dari ibu :
a. Penyakit yang diderita
Penyakit ginjal
Penyakit jantung
Penyakit hipertensi
DM
Keganasan payudara dan portio
b. Komplikasi kehamilan
Preeclampsia
Eklampsia
c. Kondisi fisik
Penyempitan panggul
Kelainan bentuk panggul
Kelainan bentuk tulang belakang
2. Indikasi janin :
Kehamilan lewat waktu
Plasenta previa
Solusio plasenta

Kematian intrauteri
Kematian berulang dalam rahim
Kelainan congenital
Ketuban pecah dini

Kontraindikasi induksi persalinan per vaginam


Kontraindikasi pada induksi persalinan terjadi jika tindakan induksi yang akan dilakukan
lebih merugikan dibandingkan tindakan seksio langsung. Kontraindikasi tersebut adalah :
1. Terdapat distosia persalinan
a. Panggul sempit atau disproporsi sefalopelvis
b. Kelainan posisi kepala janin
c. Terdapat kelainan letak janin dalam rahim
d. Kesempitan panggul absolut ( CD < 5.5 cm )
e. Perkiraan bahwa berat janin > 4.000gr
2. Terdapat kedudukan ganda
a. Tangan bersama kepala
b. Kaki bersama kepala
c. Tali pusat menumbung terkemuka
3. Terdapat overdistensi rahim
a. Kehamilan ganda
b. Kehamilan dengan hidramnion
4. Terdapat anamnesis : perdarahan antepartum
5. Terdapat bekas operasi pada otot rahim
a. Bekas operasi sesarea
b. Bekas operasi mioma uteri
6. Pada grandemultipara atau kehamilan . 5 kali
7. Terdapat tanda-tanda atau gejala intrauteri fetal distress
Syarat induksi persalinan yang harus dipenuhi adalah :
1.
2.
3.
4.

Janin mendekati aterm


Tidak terdapat kesempitan panggul atau disproporsi sefalopelvik
Memungkinkan untuk lahir per vaginam
Janin dalam presentasi belakang kepala

Factor-faktor yang mempengaruhi induksi persalinan


1. Kedudukan bagian terendah
Semakin rendah kedudukan bagian terendah janin kemungkinan keberhasilan induksi
akan semakin besar karena dapat menembus pleksus Frankenhaoser.
2. Penempatan ( presentasi)
a. Letak kepala lebih berhasil dibandingkan kedudukan bokong
b. Kepala lebih membantu pembukaan dibandingkan dengan bokong.
3. Kondisi serviks

a. Serviks yang kaku menjurus ke belakang sulit berhasil dengan induksi


persalinan
b. Serviks lunak lurus atau ke depan lebih berhasil dalam induksi
4. Paritas
Dibandingkan dengan primigravida, induksi pada multipara akan lebih berhasil karena
sudah terdapat pembukaan.
5. Umur kehamilan
a. Ibu dengan umur yang relative tua ( di atas 30-35 tahun) dan umur anak
terakhir yang lebih dari lima tahun kurang berhasil.
b. Kekakuan serviks menghalangi pembukaan sehingga lebih banyak dikerjakan
tindakan operasi.
c. Pada kehamilan yang semakin mendekati aterm induksi persalinan per
vaginam akan semakin berhasil.

Bentuk induksi persalinan


1. Secara medis
Metode Steinsche
Metode drip/infuse oksitosin
Oksitosin sublingual
Induksi persalinan dengan prostaglandin
2. Secara mekanis
Pemecahan ketuban
Pemasangan laminaria stiff (bunggie)