Anda di halaman 1dari 10

METODE PENELITIAN PETAI (Parkia speciosa)

Tugas Fika Almira


A. ANALISIS FISIK
1. Susut Bobot
Perhitungan susut bobot dilakukan berdasarkan persentase penurunan berat bahan
sejak awal hingga akhir penyimpanan. Digunakan persamaan sebagai berikut:
(bobot awalbobot akhir)
% susut bobot =
x 100%
bobot awal
2. Bentuk
3. Tekstur (Aday and Caner, 2013)
TA.XT-PLUS Texture Analyzer (Sistem Micro Stabil Ltd, UK) digunakan untuk
mengukur parameter TPA. Tekstur analyzer dilengkapi dengan 30 kg beban sel dan 10 mm
diameter silinder plunger SMS-P/10 CYL Delrin penyelidikan. Petai yang ditetapkan dan
dikompresi pada tes kecepatan pra dari 5 mm/s, kecepatan uji 1 mm/s dan kecepatan post test
dari 8 mm/s untuk profil tekstur analisis. Jarak kompresi adalah 4 mm dan antara dua siklus,
sisanya periode adalah 5 s.
4. Warna (Hong and Park, 2000)
Sampel
Rigid PP tray (tebal 0.4 mm)
Pengukuran (Chromameter)
Sampel diletakkan secara individual pada PP tray yang kaku dengan tebal sekitar 0.4
mm, kemudian dilakukan pengukuran warna dengan Chroma Meter (Minolta CR-200, Japan)
yang terhadap nilai L,a, dan b yang dilakukan masing-masing 3 ulangan.

B. ANALISIS PROKSIMAT

Analisis proksimat yang dilakukan terhadap petai baik yang segar maupun yang digoreng
atau dikukus meliputi uji kadar air, abu, lemak menggunakan metode soxhlet, protein kasar
menggunakan metode kjeldahl, dan karbohidrat menggunakan perhitungan by difference.
1. Kadar Air (AOAC, 2005)
Analisis kadar air dilakukan untuk mengetahui kandungan atau jumlah air yang
terdapat pada suatu bahan. Prinsipnya, sampel dikeringkan dalam oven udara pada suhu
102-105 C sampai diperoleh berat konstan.
Peralatan:

Cawan (stainless steel, aluminium, nikel atau porselen) beserta tutupnya


Oven, penjepit cawan dan timbangan/neraca analitik
Desikator yang berisi bahan pengering (seperti butiran halus silika gel)

Prosedur kerja:
Tahap pertama yang dilakukan pada analisis kadar air adalah mengeringkan cawan
porselen dalam oven pada suhu 105 C selama 1 jam. Cawan tersebut diletakkan ke dalam
desikator selama 15 menit dan dibiarkan sampai dingin kemudian ditimbang. Sampel seberat
1 gram ditimbang setelah terlebih dahulu digerus. Selanjutnya cawan yang telah diisi sampel
tersebut dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 102-105 C sampai beratnya konstan
selama 5-6 jam. Cawan tersebut dimasukkan ke dalam desikator dan dibiarkan sampai dingin
selama 30 menit, kemudian ditimbang.
Kadar air dihitung dengan rumus berikut:
% kadar air =

BC
BA

x 100%

Keterangan :
A = berat cawan kosong (gram)
B = berat cawan yang diisi dengan sampel (gram)
C = berat cawan dengan sampel yang sudah dikeringkan (gram)
Perhitungan: (K.A basis kering atau basah)
% kadar air (basis kering) =

b(ca)
(ca)

x 100%

% kadar air (basis basah) =

b(ca)
b

x 100%

Keterangan :
a = berat cawan kering yang sudah konstan
b = berat sampel awal

c = berat cawan dan sampel kering yang sudah konstan


Diagram alir:

Cawan dibersihkan dan


dikeringkan
Cawan dimasukkan ke dalam
oven
(suhu 105 oC, 1 jam)

Samp
el

Didinginkan dalam
desikator
selama 15 menit

Dihaluskan/dig
erus

Cawan
ditimbang (A)

Ditimbang 1
gram
(B)

Dimasukkan pada
cawan
Dimasukkan dalam
oven
Didinginkan dalam
desikator
selama 30 menit
Ditimbang
(C)
Penghitungan
kadar air

Gambar 1. Diagram Alir Analisis Kadar Air


(AOAC, 2005)
2. Kadar Abu (AOAC, 2005)
Analisis kadar abu dilakukan untuk mengetahui jumlah abu yang terdapat pada suatu
bahan terkait dengan mineral dari bahan yang dianalisis.
Peralatan:

Tanur pengabuan (furnace)


Cawan porselen bertutup dan desikator
Penjepit cawan dan pemanas
Timbangan/neraca analitik

Prosedur kerja:
Aquades dan alkohol 70 %

Cawan abu porselen dibersihkan dan dikeringkan di dalam oven bersuhu sekitar
105 C selama 30 menit. Cawan abu porselen tersebut dimasukkan ke dalam desikator
(30 menit) dan kemudian ditimbang. Sampel sebanyak 5 gram ditimbang kemudian
dimasukkan ke dalam cawan abu porselen. Selanjutnya dibakar di atas kompor listrik sampai
tidak berasap dan dimasukkan ke dalam tanur pengabuan dengan suhu 600 C selama 7 jam.
Cawan dimasukkan di dalam desikator dibiarkan sampai dingin dan kemudian ditimbang.
Diagram alir:

Cawan dibersihkan dan


dikeringkan
Cawan dimasukkan ke dalam
oven
(suhu 105 oC, 30 menit)

Samp
el

Didinginkan dalam
desikator
selama 30 menit

Dihaluskan/dig
erus

Cawan
ditimbang (A)

Ditimbang 5
gram
(B)

Dimasukkan pada
cawan
Dipanaskan dalam tanur
(suhu 600 oC, 7 jam)
Didinginkan dalam
desikator
selama 1 jam
Ditimbang
(C)

Penghitungan
kadar abu
Gambar 2. Diagram Alir Analisis Kadar Abu
(AOAC, 2005)
Perhitungan:
Rumus yang digunakan untuk perhitungan kadar abu adalah:
C A
% kadar abu = B A x 100%
Keterangan :
A = berat cawan abu porselen kosong (gram)
B = berat cawan abu porselen dengan sampel (gram)

C = berat cawan dengan sampel setelah dikeringkan (gram)


3. Kadar Protein Metode Kjeldahl (AOAC, 2005)
Prinsip dari analisis protein, yaitu untuk mengetahui kandungan protein kasar (crude
protein) pada suatu bahan. Prosedur penetapan protein metode Kjeldahl dapat dibagi menjadi
3 tahapan, yaitu (a) tahap penghancuran (destruksi), (b) distilasi, dan (c) titrasi.
Pereaksi dan peralatan:
Bahan

asam sulfat pekat bebas nitrogen (H2SO4)


HgO
kalium sulfat (K2SO4)
larutan natrium hidroksida (50% w/v NaOH dalam air distilasi) dalam air dan
diencerkan sampai 100 ml
larutan asam borat jenuh (H3BO3)
larutan asam klorida 0.02N (HCl)
larutan indikator (campuran 2 bagian metil merah 0.2% dalam alkohol dan 1 bagian
bromtimol biru 0.2% dalam alkohol)
akuades

Alat

pemanas Kjeldahl lengkap yang dihubungkan dengan pengisap uap melalui aspirator
labu Kjeldahl 30 atau 50 ml
alat distilasi lengkap dengan erlenmeyer berpenampung berukuran 125 ml
buret 25 atau 50 ml
magnetic stirrer

Prosedur kerja:
(a) Persiapan sampel (penimbangan dan destruksi)
Jumlah sampel yang digunakan sedikit (0.1 - 0.5g) yang kira-kira akan membutuhkan
3-10 ml HCl 0,01N atau 0.02N pada saat titrasi. Sampel tersebut dimasukkan ke dalam labu
Kjeldahl. Kemudian ditambahkan 2 g K 2SO4, 50 mg HgO dan 3-5 ml H 2SO4 dan beberapa
butir batu didih untuk mencegah terbentuknya gelembung. Kjeldahl tersebut kemudian
dididihkan di atas pemanas listrik selama 1 - 1.5 jam sampai cairan menjadi jernih.
(b) Tahap distilasi
Setelah larutan dalam labu dingin kembali, larutan tersebut dimasukkan ke dalam alat
distilasi. Labu Kjeldahl dibilas dengan akuades 5-6 kali dengan menambahkan air untuk
memastikan bahwa tidak ada larutan hasil destruksi yang tertinggal.
Pada alat distilasi di bawah kondensor kemudian dipasangkan erlenmeyer 125 ml
yang berisi 5 ml larutan H 3BO3 dan 2 tetes indikator (campuran 2 bagian merah metil 0.2%

dalam alkohol dan 1 bagian bromtimol biru 0.2% dalam alkohol). Tambahkan juga air untuk
memastikan ujung dari alat distilator terendam (di bawah permukaan) larutan asam borat.
Kemudian tambahkan 10 ml larutan NaOH ke dalam alat distilasi, lalu dilakukan proses
distilasi sehingga tertampung kira-kira 15 ml destilat dalam erlenmeyer. -- Gas NH3 yang
dihasilkan dari reaksi dalam alat destilasi ditangkap oleh H3BO3 dalam erlenmeyer.
(c) Tahap titrasi
Distilat yang tertampung di dalam erlenmeyer kemudian dititrasi di atas magnetic
stirrer dengan menggunakan larutan HCl 0.02N yang sudah distandarisasi hingga terjadi
perubahan warna kondensat menjadi abu-abu. Penetapan blanko dilakukan dengan metode
yang sama seperti penetapan sampel, yang akan digunakan sebagai faktor koreksi dalam
perhitungan.
Diagram alir:

Samp
el
Dihaluskan/dig
erus
Ditimbang
(0.1 0.5 g)

2 g K2SO4, 50 mg HgO, 3-5


ml H2SO4

Dimasukkan dalam labu


Kjeldahl
Didestruksi
(1 1.5 jam)
Didinginkan

akuades, 5 ml H3BO3, 2 tetes


indikator dan 10 ml larutan
NaOH
larutan HCl
0.02N

Didistilasi
Dititrasi di atas magnetic
stirrer hingga berubah
warna
menjadi abu-abu
Perhitungan kadar protein

Gambar 3. Diagram Alir Analisis Kadar Protein Metode


Kjeldahl (AOAC, 2005)
Perhitungan:
Kadar protein dihitung dengan rumus :

%N =

( ml HCl sampelml blanko ) x N HCl x 14.007 x 100


mg sampel

Kadar protein (% bb) = % N x faktor konversi


Kadar protein (% bk) =

kadar protein(bb)
(100kadar air ( bb ) )

x 100%

Keterangan :
% bb = kadar protein / bahan basah (%)
% bk = kadar protein / bahan kering (%)
% N = kandungan nitrogen pada sampel (%)
Faktor konversi Parkia speciosa ?
Apakah akan memakai metode yang lain? Metode apa?
4. Kadar Karbohidrat (by difference)
Kadar karbohidrat basis basah dan basis kering dihitung berdasarkan by difference
dengan menggunakan persamaan :
Kadar karbohidrat (% bb) = 100 % - (P + A + KA + L)
Kadar karbohidrat (% bk) = 100 % - (P + A + L)
Keterangan :
% bb = kadar karbohidrat / bahan basah (%)
% bk = kadar karbohidrat / bahan kering (%)
P
= kadar protein (%)
A
= kadar abu (%)
KA
= kadar air (%)
L
= kadar lemak (%)
5. Kadar Lemak Metode Ekstraksi Soxhlet (AOAC, 2005)
Metode ekstraksi Soxhlet merupakan metode analisis kadar lemak secara langsung
dengan cara mengekstrak lemak dari bahan dengan pelarut organik seperti heksana,
petrolium eter dan dietil eter. Ekstraksi dilakukan dengan cara direfluks pada suhu yang
sesuai dengan titik didih pelarut yang digunakan. Setelah pelarutnya diuapkan, lemak dari
bahan dapat ditimbang dan dihitung persentasenya.
Pereaksi dan peralatan:
Bahan

pelarut organik seperti heksana, petrolium eter atau dietil eter


aquades
HCl 25%

AgNO3 0.1N

Alat

seperangkat alat Soxhlet lengkap dengan kondensor dan labu lemak


hot plate atau penangas uap
oven, timbangan analitik, desikator
kertas saring Whatman No.41, kapas, batu didih

Prosedur kerja:
Sampel yang digunakan (W1) dimasukkan ke dalam kertas saring dan dimasukkan ke
dalam selongsong lemak, kemudian dimasukkan ke dalam labu lemak yang sudah ditimbang
berat tetapnya (W2) dan disambungkan dengan tabung soxhlet. Selongsong lemak
dimasukkan ke dalam ruang ekstraktor tabung soxhlet dan disiram dengan pelarut lemak.
Tabung ekstraksi dipasang pada alat destilasi soxhlet lalu dipanaskan pada suhu 40 C
dengan menggunakan pemanas listrik selama 6 jam. Pelarut lemak yang ada dalam labu
lemak didestilasi hingga semua pelarut lemak menguap. Pada saat destilasi pelarut akan
tertampung di ruang ekstraktor, pelarut dikeluarkan sehingga tidak kembali ke dalam labu
lemak, selanjutnya labu lemak dikeringkan dalam oven pada suhu 105 C, setelah itu labu
didinginkan dalam desikator sampai beratnya konstan (W3).
Kadar lemak ditentukan dengan rumus:

Keterangan :
W1 = berat sampel (gram)
W2 = berat labu lemak tanpa lemak (gram)
W3 = berat labu lemak dengan lemak (gram)

C. ANALISIS KOMPOSISI ASAM LEMAK (AOAC, 1999)

Metode analisis yang digunakan memiliki prinsip mengubah asam lemak menjadi
turunannya, yaitu metil ester sehingga dapat terdeteksi oleh alat kromatografi. Diagram alir
analisis asam lemak disajikan pada Gambar 6. Gas chromatography (GC) memiliki prinsip
kerja pemisahan antara gas dan lapisan tipis cairan berdasarkan perbedaan jenis bahan
(Fardiaz 1989). Hasil analisis akan terekam dalam suatu lembaran yang terhubung dengan
rekorder dan ditunjukkan melalui beberapa puncak pada waktu retensi tertentu sesuai dengan
karakter masing-masing asam lemak. Sebelum melakukan injeksi metil ester, terlebih dahulu
lemak diekstraksi dari bahan lalu dilakukan metilasi sehingga terbentuk metil ester dari
masing-masing asam lemak yang didapat.
a) Tahap ekstraksi
Lemak diperoleh dengan metode Soxhlet. Pada tahap ini diperoleh lemak dalam
bentuk minyak. Kemudian, dari sampel tersebut ditimbang lemak sebanyak 0,02-0,03 g
untuk dilanjutkan pada tahap metilasi.
b) Pembentukan metil ester (metilasi)
Tahap metilasi dimaksudkan untuk membentuk senyawa turunan dari asam lemak
menjadi metil esternya. Asam-asam lemak diubah menjadi ester-ester metil atau alkil yang
lainnya sebelum disuntikkan ke dalam kromatografi gas.
Metilasi dilakukan dengan merefluks lemak di atas penangas air dengan pereaksi
berturut-turut NaOH-metanol 0,5 N, BF3 dan n-heksana. Sebanyak 0,02 g minyak dari
sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 5 ml NaOH-metanol 0,5 N lalu
dipanaskan dalam penangas air selama 20 menit pada suhu 80 oC. Larutan kemudian
didinginkan. Sebanyak 5 ml BF3 ditambahkan ke dalam tabung lalu tabung dipanaskan
kembali pada waterbath dengan suhu 80 oC selama 20 menit dan didinginkan. Kemudian
ditambahkan 2 ml NaCl jenuh dan dikocok. Selanjutnya, ditambahkan 5 ml heksana,
kemudian dikocok dengan baik. Larutan heksana di bagian atas larutan dipindahkan dengan
bantuan pipet tetes ke dalam tabung reaksi. Sebanyak 1 l sampel lemak diinjeksikan ke
dalam gas chromatography. Asam lemak yang ada dalam metil ester akan diidentifikasi oleh
flame ionization detector (FID) atau detektor ionisasi nyala dan respon yang ada akan
tercatat melalui kromatogram (peak).
c) Identifikasi asam lemak
Identifikasi asam lemak dilakukan dengan menginjeksikan metil ester pada alat
kromatografi gas dengan kondisi sebagai berikut : jenis alat kromatografi gas yang
digunakan adalah Shimadzu GC 2010 Plus, gas yang digunakan sebagai fase bergerak adalah
gas nitrogen dengan laju alir 30 mL/menit dan sebagai gas pembakar adalah hidrogen dan
oksigen, kolom yang digunakan adalah capilary column merk Quadrex dengan diameter
dalam 0,25 mm.

Kondisi alat GC pada saat analisis:


a) Kolom : Cyanopropil methyl sil (capilary column)
b) Dimensi kolom : P = 60 m, dalam = 0,25 mm, 0,25 m film Tickness
c) Laju alir N2 : 30 mL/menit
d) Laju alir H2 : 40 mL/menit
e) Laju alir udara : 400 mL/menit
f) Suhu injektor : 220 C
g) Suhu detektor : 240 C
h) Suhu terprogram : 125-225 C
i) Inject volume : 1 L