Anda di halaman 1dari 7

Pendahuluan

Di hamparan pulau sumatra yang hari ini termasuk menjadi kawasan


perkebunan dan ladang yang menyumbang sangat banyak hasilnya pada
Indonesia, entah itu berupa Kelapa Sawit, Karet, dan hasil perkebunan dan
ladang lainnya. Namun harus diingat pula bahwa pelebaran ladang dan
perkebunan semakin membuat hutan tropis di Sumatra semakin menipis
ditambah di saat masa orde lama Sumatra menjadi tempat tujuan
transmigrasi, Hemat penulis hal ini di satu sisi memberikan sisi positif bagi
perekonomian indonesia dan disisi lain memberi dampak negatif bagi
masyarakat pedalaman di Sumatra seperti suku Sakai, Talang Mamak ,
suku anak Dalam dan lainnya. Sebab sepengetahuan penulis bahwa
masyarakat pedalaman menggantungkan hidupnya pada hutan tropis
Sumatra.

Dewasa

ini

tanpa

disadari

pembabatan

hutan

dan

di

gantikannya dengan perkebunan secara masal di Sumatra membuat


semakin tercekiknya kehidupan masyarak pedalaman di Sumatra. Oleh
karenanya penulis menganggap penting penulisan makalah tentang Suku
Talang Mamak dan kehidupannya sebab hal ini menjadi suatu gambaran
tentang

kehidupan

suku-suku

hidupnya pada hutan.

pedalaman

yang

menggantungkan

Dan tentunya penulis berharap agar suku-suku

pedalaman mendapatkan kehidupan yang selayaknya sebagaimana nilainilai yang mereka anut.
suku Talang Mamak
Talang Mamak adalah suku pedalaman di daerah Riau dan sebagian
Jambi . Masyarakat adat Talang Mamak merupakan suku asli Indragiri Hulu
dengan sebutan "Suku Tuha" yang berarti suku pertama datang dan lebih
berhak atas sumber daya alam. Asal muasal Talang Mamak sulit
dipastikan karena ada dua versi. Versi pertama, berdasarkan penelitian
seorang Asisten Residen Indragiri Hulu di zaman Belanda, menyebutkan,
Suku Talang Mamak berasal dari Pagaruyung mitos yang akrab di dalam
masyarakat adat itu yang secara turun-temurun diwariskan, masyarakat
bercerita bahwa Talang Mamak merupakan keturunan Nabi Adam ke
1

tiga. Cerita itu diperkuat bukti berupa tapak kaki manusia di daerah
Sungai Tunu Kecamatan Rakit Kulim, Indragiri Hulu.Jejak itu diyakini
sebagai tapak kaki tokoh masyarakat adat Talang Mamak.
Selain itu ada versi lainnya yang mengatakan sejarah asal usul
masyarakat Talang Mamak lahir dari cerita rakyat tentang Putri Pinang
Masak Konon, hidup tujuh pasang putra-putri yang lahir kembar di
Indragiri. Ketujuh putra menjadi sesosok yang
gagah berani dan ketujuh putri menjadi gadi jelita dan cantik.Salah satu
putri yang cantik adalah Putri Pinang Masak.Untuk segi kepercayaan,
mayoritas suku Talang Mamak masih memeluk agama Animisme, tapi
orang Talang Mamak juga sudah ada yang memeluk agama yang diyakini
oleh Republik Indonesia ini seperti agama Islam dan Kristen.
Adapun agama yang dianut oleh orang Talang Mamak disebut dengan
Langkah Lama. Ada lima kebiasaan adat dalam agama yang diyakini
masyarakat Talang Mamak seperti Sunat dan Mengasah Gigi, Menyabung
Ayam, Berjudi, Berdukun Bekumantan dan mengadakan Persembahan
yakni seperti pemujaan terhadap kuburan yang dikeramatkan dengan
mengorbankan hewan. Dalam hidup kesehariannya masyarakat Talang
Mamak tetap mempertahankan adat tradisi yang dipertahankannya yakni
seperti membiarkan rambut nya memanjang, masih ada yang
menggunakan sorban, serta giginya bergarang hitam yang dikarenakan
mereka masih menginang. Selain itu, masyarakat Talang Mamak memiliki
kebiasaan yang baik yang bersifat sopan, jujur dan tidak mau mengusik
orang lain, bahkan untuk menghindari konflik orang Talang Mamak lebih
memilih untuk menghindar. Sedangkan untuk urusan yang berkaitan
dengan alam, orang Talang Mamak memiliki kehidupan yang damai dan
menyatu dengan alam. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kehidupan orang
Talang Mamak yang bergantung pada hutan atau alam disekitarnya,
terbukti dengan Tanah dan hutan bagi suku Talang Mamak merupakan
bagian dari kehidupan yang tidak dapat di pisahkan. Sejak ratusan tahun
lalu, mereka hidup damai menyatu dengan alam. Mata pencarian utama
2

masyarakat Talang Mamak adalah menanam padi di ladang beserta


menanam sayuran dan palawija. Para lelaki masih melakukan kegiatan
berburu, meramu di hutan dan menangkap ikan di sungai. Selain itu, mata
pencaharian lainnya jika hasil ladang sudah habis adalah menyadap getah
karet. Semua hasil itu akan dijual melalui seorang perantara untuk
dibawa ke produsen yang lebih besar. Kegiatan bertani dilakukan dengan
sistem ladang berpindah.

Dimana mereka masih mempercayakan kekuatan gaib yang kuat dan


berpengaruh pada pola perpindahan dan pembukaan ladang serta
penentuan hari bercocok tanam
Untuk sistem kekerabatan , masyarakat Talang Mamak menganut sistem
Matrilineal. Jabatan seperti batin, penghulu, mangku, monti serta warisan
harta pusaka diturunkan kepada anak laki saudara perempuan.
Rumah tangga terbentuk dari keluarga inti yang membuat rumah di
sekitar tempat tinggal orang tua istri. Dalam kehidupan sosial, aturan adat
berjalan beriirngan dengan hukum nasional. Meskipun demikian aturan
adat tetap mendominasi kehidupan warga.
Diskriminasi kehidupan suku Talang Mamak
Susahnya untuk jadi pintar bagi suku asli ini selain akses yang jauh,
sumberdaya ekonomi yang rendah, infrastruktur sekolah yang parah serta
keterbatasan guru adalah hal yang telah menghambat dunia pendidikan
bagi suku-suku asli di Indonesia ini seperti yang dialami oleh orang Talang
Mamak. Tapi ada yang paling menyedihkan dari itu semua yaitu,
terdiskriminasinya anak-anak suku asli di sekolah. Baik perilaku, sikap dan
kata-kata yang ditunjukkan teman-teman sebayanya juga oleh guru
sekolahnya sendiri. Akhirnya banyak dari mereka trauma dan tidak
bersekolah. Masalah diskriminasi juga salah satu penyebab banyak nya
3

orang-orang Talang Mamak mengalami keterasingan baik dalam segi


komunikasi,

pendidikan

serta

perekonomian.

Namun,

proses

pendidikannya, masih memberikan nuansa disikriminatif yang dialamai


oleh anak-anak suku Asli ini. Tak jarang, sesama murid mereka sering
mengejek dengan sebutan. Orang Talang- Orang Utan. Bahkan, perkataan
kotor dan bau serta kurang beradab sering terdengar dari mulut temanteman sebayanya. Di lain pihak, sistem pendidikan yang cenderung untuk
memiliki agama yang menyebabkan orang-orang tua mereka melarang
anaknya untuk bersekolah. Alasannya sangat jelas bagi orang Talang
Mamak ini,yakni ketakutan akan mengubah jati diri lingkungan sosial
mereka. Akibatnya anak-anak suku asli minoritas ini memutuskan untuk
tidak ikut sekolah lagi. Suku Talang Mamak mengalami diskriminasi dalam
pendidikan karena alasannya mereka dianggap tidak punya agama yang
syah ditentukan oleh Negara. Sebagian besar lainnya putus sekolah
karena tidak punya biaya atau akses sekolah sangat jauh sekali dari pusat
kehidupan sukunya.
Para lansia Talang Mamak semuanya mengalami buta huruf. Anakanak menginginkan untuk bersekolah tapi harus putus karena tidak
memiliki biaya.Padahal ada impian dalam kepala para orang tuasuku-suku
asli ini agar anak-anaknya bisa berdaya, pintar dan membangun sukunya
kembali sesuai dengan zamannya. Tapi apa daya kini anak-anak mereka
ikut hidup dalam kesengsaraan berkepanjangan.
Di Talang Mamak banyak orang tua buta huruf. Di tempat tersebut
tidak ada pendidikan yang masuk, ditambah
sekolah juga bukan jawaban kesusahan ekonomi yang mereka alami.
Selain itu sebagian besar orang Talang Mamak menolak pendidikan.
Alasannya sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah menyebabkan
keluarnya warga mereka dari adat. Pendidikan dianggap merusak adat
yang mereka pelihara selama ini. Terdesak terus oleh diskriminasi
pendidikan, ekonomi dan yang lainnya kinisudah ratusan Suku Talang
Mamak menghidupi diri dengan ladang berpindah.Hutan tropis dataran
rendah Sumatera bisa menunjang hidup mereka. Namun sekarang kami
4

tidak bias lagi berladang berpindah-pindah, hutan itu yang dahulu lebat
kini gundul dan berganti dengan tanaman kelapa sawit.Di kawasan
lingkungan tempat tinggal Talang Mamak yang tersebar di Kecamatan
Rakit Kulim dan Rengat Barat, sebetulnya terdapat empat kawasan Rimba
Puaka, yakni hutan Sungai Tunu seluas 104,933 hektare, hutan Durian
Cacar seluas 98.577 hektare, dan hutan Kelumbuk Tinggi Baner 21.901
hektare. Kini tak ada lagi kebanggaan dari hutan adat Talang Mamak yang
telah berpindah tangan dan hancur.Kehidupan mereka juga tidak lebih
baik dibandingkan para pendatang.Pendatang lebih mudah mendapatkan
sertifikat tanah dibandingkan orang Talang Mamak asli yang telah lama
mendiami tempat tersbut.Tentang masalah transmigrasi bukan tentang
menyudutkan

satu

pihak.Tapi

ada

keistimewaan,

pendatang

bisa

mendapatkan sertifikat tanah melalui proses yang cepat. Sedangkan


orang Talang Mamak telah mengurus ke BPN sudah lima tahun tidak
kunjung diterima. Pemerintah menganaktirikan Suku Talang Mamak,
antara lain karena pemerintah menganggap suku asli ini tidak beragama.
Pembangunan merupakan usaha pemerintah dalam memberikan
legalisasi ruang dan kawasan hidup pada lahan dan hutan tersisa.Di
pedalaman, ancaman hidup terbesar suku asli minoritas di area ini adalah
tersingkirnya mereka oleh pendatang lewat program yang dicanangkan
pemerintah (kasusnya program transmigrasi di daerah Jambi yang telah
menyingkirkan suku Talang Mamak).Termasuk pengkaplingan wilayah
hidup mereka demi kepentingan perusahaan dan industri besar.

Kesimpulan
Tidak dapat disangkal, kelompok masyarakat Talang Mamak adalah
bagian yang tidak boleh dipisahkan dari masyarakat lainnya. Karena
mereka adalah sebagian dari warga masyarakat Republik Indonesia yang
berasaskan pancasila ini, karenanya mereka pun berhak mendapatkan
perlakuan yang sama

dalam menikmati wilayah dalam arti luas.

Sayangnya, selama ini kita melihat masih ada kecenderungan sikap


sebagian masyarakat kita yang

memisahkan mereka dari masyarakat


5

lainnya, baik dalam pandangan budaya, maupun dalam kebijakan


pembinaan

dan

pergaulan

sehari-hari.

Secara

nasional,

terhadap

kelompok ini dibakukan sebutan Suku Terasing.Menurut Kamus Besar


Bahasa Indonesia (KBBI), kata terasing bermakna: terpencil dan
terpisah dari yang lain. Sedangkan dalam budaya Malayu Riau, sebutan
terasing mengandung pula makna Merendahkan atau Memandang
Rendah.Mereka ini dipandang rendah dan direndahkan dalam kehidupan
bermasyarakat, serta disisihkan dari pergaulan. Maka merajuk pada
pengertian diatas dalam memahami masyarakat dibutuhkan suatu
pembinaan terhadap suku Talang Mamak yang tidak dilakukan dengan
semena-mena, akan tetapi harus melalui proses kajian yang mendalam,
baik untuk lebih mengenal suku Talang Mamak secara menyeluruh,
maupun untuk menyusun rancangan pembinaan yang baik, serasi dan
tepat, agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Talang Mamak
Tersebut

dalam

mengatasi

diskriminasi

dan

potensi-potensi

yang

dimilikinya baik dalam segi wilayah lingkungan hidup, pendidikan,


komunikasi, ekonomi dan kesejahteraan lingkungan adat mereka. Dan
yang terpenting kebijakan tentang masalah hutan harus melibatkan suku
Talang Mamak. Sebab suku Talang mamak adalah salah satu dari sekian
banyak suku yang manggantungkan kehidupannya pada

DAFTAR PUSTAKA
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara - Pertemuan antara masyarakat adat
Talang Mamak
dengan Bupati Indragiri Hulu
http://www.aman.or.id/2012/11/30/pertemuan-antara-masyarakat-adat-talangmamak-dengan-bupati-indragiri-hulu/#.Ukm7B9Li3cw
6

Balada Orang Pedalaman : Susahnya Jadi Pintar untuk Suku-suku Asli


https://musfarayani.wordpress.com/2005/03/10/susahnya-jadi-pintar-untuksuku-suku-asli/
Rumah Kearifan Lokal & Semesta Hujan
Balada Orang Pedalaman : Sebutan Itu Sangat Menyakitkan
https://musfarayani.wordpress.com/2005/03/10/tulisan-iv-balada-orangpedalaman-sebutan itu-sangat-menyakitkan/
Data Base Masyarakat Adat - Komunitas Talang Mamak
http://masyarakatadat.org/id/database.html?idkom=62
Rimbo Bujang's Weblog- Suku Talang Mamak
http://mamas86.info/prop-jambi/suku-talang-mamak/
GLOBALVAY
Eko Magelang Suku Talang Mamak, Peradaban Melayu Kuno
http://ekomagelang.blogspot.com/2012/07/suku-talang-mamakperadaban-melayukuno.html
Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI
Kompas .com Talang Mamak dan Masyarakat Adat yang Merana
http://sains.kompas.com/read/2010/04/03/23204793/Talang.Mamak.dan.M
asyarakat.Adat.yang.Merana
Rumah Kearifan Lokal & Semesta Hujan
Komunitas Konservasi Indonesia WARSI Talang Mamak belajar
kearifan kelola hutan dari Temenggung Tarib
http://www.warsi.or.id/news/2004/News_200408_Talangmamak.php?
year=2004&file=News_200408_Talangmamak.php
Suku Bangsa Talang Mamak
http://globalvayparisui2011.blogspot.com/2011/10/suku-bangsa-talangmamak.html
Rab, Tabrani. 2002. Nasib Suku Asli di Riau. Pekanbaru: Riau Cultural Institute
http://wartasejarah.blogspot.com/2013/09/kehidupan-suku-talang-mamak.html