Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin
hari semakin pesat. Perkembangan ini secara faktual tidak bisa
dipisahkan

dari

perkembangan

ekonomi,

karena

kedua

perkembangan ini saling mendukung satu sama lain. Jika dilihat


dari aspek hukum, khususnya di bidang hukum pidana ekonomi,
perkembangan

teknologi

dan

perekonomian

justru

menentukan perkembangan kejahatan ekonomi

turut

itu sendiri.

Mengenai hubungan dialektika antara perkembangan teknologi


dan ekonomi di satu sisi dengan perkembangan kejahatan
ekonomi, Bakat Purwanto mengemukakan: Perkembangan IPTEK
tersebut

akan

memacu

pertumbuhan

jenis-jenis

kejahatan

tertentu. Karena setiap perkembangan budaya manusia selalu


diikuti dengan perkembangan kriminalitas, crime is a shadow of
civilization.
Kasus pembobolan bank, setidaknya telah ditetapkan oleh
Bareskrim Mabes Polri berdasarkan hasil rapat dengan Bank
Indonesia pada hari senin tanggal 4 April 2011, ada delapan
kasus pembobolan yang akan segera ditindaklanjuti. Kejahatan
pembobolan Bank semakin bertambah banyak jumlahnya dan
semakin beragam dan pelik modus yang digunakan. Pembobolan
bank yang terjadi pada umumnya melibatkan orang dalam bank
(pihak interent/pihak terafiliasi) yang tentunya mengetahui seluk
beluk

mekanisme

dan

system

keamanan

bank

yang

bersangkutan. Keterlibatan orang dalam ini ada yang memang


murni inisiatif dan kerjasama antar orang dalam, ada juga

kolaborasi antara orang dalam bank dengan orang luar bank


(eksteren), atau bahkan benar-benar pembobolan yang dilakukan
oleh orang luar bank dengan merusak system pada sebuah bank
dengan melakukan hekcer menggunakan fasilitas internet. 1
Kesemua kasus pembobolan bank ini memperlihatkan bahwa
masih lemahnya system keamanan yang diberikan oleh bank,
selain itu peranan Bank Indonesia sebagai bank sentral dan
berhak untuk memberikan pengawasan juga dinilai kurang.
Kejahatan pembobolan bank yang terjadi selama ini
dilakukan oleh oknum-oknum yang mengerti dan paham tentang
mekanisme transaksi dan teknis jaringan dalam bank yang dituju
sebagai objek pembobolan, hal ini memungkinkan adanya pihak
terafiliasi (pihak dalam bank) yang turut andil meelakukan
pembobolan bank. Pihak-pihak yang melakukan pembobolan
bank

tersebut

menggunakan

modus

operandi

mulai

dari

pemalsuan dokumen, pembukuan ganda, penggelapan uang


nasabah,

mekanisme

transfer

dana,

hingga

pemanfaatan/penyalahgunaan prosedur mekanisme L/C.


Berbagai modus operandi kejahatan yang dilakukan oleh pembobol bank
harus segera diantisipasi oleh aparatur hukum di Indonesia, kerja cepat dan
pembuktian yang cermat harus mampu dilakukan agar hukum tidak terlihat lemah.
Pembobolan bank merupakan jenis kejahatan krah putih (white collar crime) yang
dilakukan oleh kaum intelektual dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi
dan strategi serta celah pada aturan-aturan internal bank maupun aturan-aturan
hukum yang berlaku.
Dari latar belakang maraknya kasus pembobolan Bank dengan modus
yang semakin beragam, penulis membuat suatu makalah dengan judul
ANALISIS TINDAK PIDANA MONEY LAUNDERING BANK BNI
1 Sutan Remy Sjahdeini, Himpunan Tulisan Kapita Selekta Hukum Perbankan,
jilid 1, Jakarta: UI Press, 2006, hlm. 20.

SEBESAR

RP

1,7

TRILIUN

YANG

BERAWAL

DARI

PEMALSUAN LETTER OF CREDIT .

B. Rumusan masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas penulis
menarik dua latar belakang masalah yaitu :
1. Pelanggaran apa yang mengawali Tindak Pidana Money
Laundering Bank BNI sebesar Rp 1,7 triliun?
2. Bagaimana analisis hukum tindak pidana

Money

Laundering dalam kasus pembobolan Bank BNI sebesar


Rp 1,7 triliun bermodus letter of credit palsu?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Mengenai Letter of Credit (L/C)
L/C

merupakan

kepada Beneficiary/
pembayarannya

janji

Eksportir/penjual

hanya

Bank jika Beneficiary

membayar

dapat

dari Issuing

yang

dilakukan

menyerahkan

mana

oleh Issuing
kepada Issuing

Bank dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C.


L/C sebagai alat pembayaran sangat disukai secara internasional
karena unsur janji pembayaran dari Issuing Bank, sehingga
penjual/eksportir merasa aman mengirimkan barangnya, dilain
sisi pembeli merasa aman dalam melaksanakan pembayaran
karena

pembayaran

hanya

akan

dilakukan

oleh Issuing

Bank apabila dokumen yang mewakili barang yang dibeli sesuai


dengan persyaratan L/C.
Dalam Surat Edaran No. 26/34/ULN tanggal 17 Desember
1993 tentang Uniform Customs And Practice For Documentary
Credits 1993 Revision-International Chamber of Commerce
Publication

No.

500 (UCP)

mengatur

bahwa

jika

dalam

penerbitan L/C disepakati untuk menerapkan UCP maka dalam


L/C nya harus secara tegas mencantumkan penundukan pada
UCP. Dengan demikian, walaupun tidak mewajibkan suatu L/C
harus tunduk pada UCP, namun Bank Indonesia mendukung agar
UCP dipergunakan dalam praktek penerbitan L/C oleh bank-bank
umum.
UCP pertama kali diterbitkan oleh International Chamber of
Commerce (ICC) pada tahun 1933 dan telah beberapa kali
mengalami perubahan dan yang terakhir diubah pada tahun
1993; Uniform Customs and Practice for Documentary Credits
1993 Revision International Chamber of Commerce atau yang
lebih dikenal dengan UCP 500. Pemberlakuan ketentuan UCP

atas suatu transaksi L/C harus secara tegas dinyatakan dalam


L/C itu sendiri.
Pada umumnya pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi
L/C adalah:
a. Pemohon (Applicant)
Adalah pihak yang memohon untuk diterbitkan L/C yang
dalam hal ini umumnya adalah pembeli/importir.
b. Bank Penerbit (Issuing Bank)
Adalah
bank
yang

atas

permintaan Applicant menerbitkan L/C.


c. Penerima (Beneficiary)
Adalah
pihak
kepada
siapa

L/C

diterbitkan/diperuntukkan yang dalam hal ini adalah


eksportir.
d. Bank Penerus (Advising Bank)
Bank yang melakukan otentikasi atas L/C yang diterima
dan

menginformasikan

Beneficiary mengenai

penerimaan L/C tersebut.


e. Bank yang ditunjuk (Nominated Bank)
L/C seperti melakukan negosiasi (selanjutnya disebut
Negotiating Bank), melakukan konfirmasi (selanjutnya
disebut Confirming Bank) dan lain-lain.
f. Bank Penegosiasi (Negotiating Bank)
Bank yang melakukan negosiasi/pengambil-alihan atas
dokumen ekspor dan karenanya membayar terlebih
dahulu

kepada Beneficiary dan

untuk

selanjutnya

menagih pembayaran kepada Issuing Bank.


g. Bank Pengkonfirmasi (Confirming Bank)
Bank yang memberikan konfirmasi atau
kepada Beneficiary apabila Issuing
melakukan

pembayaran

Bank

sebagaimana

jaminan
tidak
yang

diperjanjikan dalam L/C.


Mekanisme pembayaran dengan Letter of Credit (L/C) :

a. Applicant mengajukan

permohonan

kepada Issuing

Bank untuk menerbitkan L/C dalam rangka transaksi


pembelian barang dari penjual/eksportir.
b. Issuing
Bank menerbitkan
L/C
yang
kepada Beneficiary melalui Advising

Bank

dimana Beneficiary berlokasi.


c. Advising
Bank akan
melakukan
kebenaran

penerbit

L/C

ditujukan
di

negara

otentikasi

dan

atas

selanjutnya

memberitahukan Beneficiary mengenai

telah

diterimanya L/C untuk kepentingan Beneficiary.


d. Beneficiary akan mempersiapkan barang dan dokumendokumen yang diperlukan sesuai dengan L/C yang
diterima

serta

menyerahkan

kepada Nominated Bank.


e. Nominated
Bank akan
dari Beneficiary dan

dokumen

menerima

meneruskannya

tersebut
dokumen

kepada

Issuing

Bank.
f. Issuing Bank akan memeriksa dokumen yang diterima
apakah telah memenuhi seluruh persyaratan dari L/C.
Apabila

telah

memenuhi

maka Issuing

seluruh

persyaratan

Bank melakukan

pembayaran

kepada Beneficiary.
g. Issuing
Bank menagih
kepada Applicant dan

setelah

L/C,

pembayaran
pembayaran

diterima

menyerahkan dokumen kepada Applicant.


h. Applicant dengan menggunakan dokumen yang diterima
dari Issuing Bank mengeluarkan barang dari pelabuhan.
Hubungan Hukum
a. Hubungan Hukum Applicant dan Issuing Bank
Dalam

rangka

merealisasikan

cara

pembayaran

sebagaimana diatur dalam sales contract, pembeli akan

mengajukan permohonan kepada Issuing Bank agar Issuing


Bankmenerbitkan L/C untuk kepentingan penjual. Dengan
demikian hubungan hukum antara Applicant dan Issuing
Bank didasarkan pada kontrak yang dinamakan permintaan
penerbitan
melaksanakan
menerbitkan

L/C.

Jika Issuing

Bank setuju

permohonan Applicant,Issuing
L/C

tersebut.

Isi

dari

L/C

untuk

Bank akan
tidak

boleh

menyimpang dari kondisi sebagaimana disyaratkan dalam


permohonan penerbitan L/C.
Permohonan penerbitan L/C juga terpisah dari sales
contract barang. Permohonan penerbitan L/C ini hanya
mengikat Applicant dan Issuing

Bank yang

pada

intinya

berisi bahwa Issuing Bank berjanji untuk menerbitkan L/C


karena Applicant berjanji

akan

membayar

kembali

sejumlah L/C kepada Issuing Bank.


Permohonan penerbitan L/C diatur oleh hukum nasional
masing-masing negara yang dalam hal tertentu dapat
berbeda dari satu negara terhadap negara lainnya.
b. Hubungan Hukum Issuing Bank dan Beneficiary
Hubungan

hukum

antara Issuing

Bank dan Beneficiary lahir atas dasar L/C yang diterbitkan


oleh Issuing Bank yang disetujui Beneficiary. Sebelum L/C
disetujui olehBeneficiary, maka L/C merupakan kontrak
sepihak dari Issuing Bank yang tidak mengikatBeneficiary.
Persetujuan Beneficiary terhadap L/C diwujudkan melalui
pengajuan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan dalam
L/C kepada Issuing Bank.

Sepanjang tidak diatur secara khusus dalam L/C itu


sendiri,

maka

hak

dan

kewajibanIssuing

Bank dan Beneficiary diatur dalam UCP, dalam hal ini


apabila L/C menundukkan diri pada UCP. Untuk hal-hal
yang tidak diatur dalam L/C maupun UCP akan tunduk
pada hukum nasional sebagaimana ditentukan dalam L/C
atau apabila tidak ditentukan hukum nasional yang berlaku
maka apabila terjadi sengketa akan tunduk pada hukum
nasional yang ditentukan oleh hakim berdasarkan teori
penentuan hukum yang berlaku.
c. Hubungan Hukum Issuing Bank dan Advising Bank
Hubungan

hukum

Bank didasarkan

antara Issuing
pada

Bank dan Advising

instruksi

Issuing

Bank kepada Advising Bank yang disetujui Advising Bank.


Hubungan hukum ini pada intinya merupakan hubungan
keagenan dimana Advising Bank bertindak sebagai agen
dari Issuing Bank untuk meneruskan L/C yang diterbitkan
oleh Issuing Bank kepada Beneficiary.
Mengingat Advising
untuk

selalu

Bank tidak

meneruskan

L/C

memiliki
yang

kewajiban
diterimanya,

maka Advising Bank wajib segera memberitahukan Issuing


Bank apabila ia tidak berkenan atau tidak setuju untuk
meneruskan

L/C

kepada Beneficiary.

sebagaimana

dinyatakan

dalam

Hal

pasal 7

demikian
UCP yang

berbunyi: A Credit may be advised to a Beneficiary


through another bank (the Advising Bank) without
engagement on the part of the Advising Bank, but that
bank, if it elects to advise the Credit, shall take reasonable
care to check the apparent authenticity of the Credit which

it advises. If the bank elects not to advises, it must so


inform the Issuing Bank without delay.
Hak

dan

kewajiban Issuing

Bank dan Advising

Bank sepanjang tidak diatur secara khusus dalam L/C maka


akan

tunduk

pada

ketentuan

UCP.

Sebagai Advising

Bank saja bank ini tidak berkewajiban untuk melakukan


pembayaran,

negosiasi

wesel Beneficiary,

atau

akseptasi

kecuali Issuing

terhadap

Bank secara

khusus

meminta Advising Bank untuk melakukan itu.


Jika Advising Bank dalam L/C dimintakan juga untuk
menambahkan konfirmasinya, makaAdvising Bank tersebut
juga melaksanakan fungsi sebagai Confirming Bank yang
mempunyai

kewajiban

Bank yaitu

yang

melakukan

akseptasi.

sama

pembayaran,

dengan Issuing
negosiasi

Konsekuensinya, Confirming

atau

Bank wajib

melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang


diajukan oleh Beneficiary.
d. Hubungan Hukum Advising Bank dan Beneficiary
Hubungan

hukum

Bank dan Beneficiary tergantung


dilakukan

oleh Advising

antara Advising
pada

fungsi

yang

Bank sesuai

dengan

yang

dipersyaratkan dalam L/C. Advising Bank dapat berfungsi


sebagai Advising Bank semata, bank pengkonfirmasi, bank
penegosiasi, bank pembayar atau bank pengaksep.
Dalam hal Advising Bank murni menjalankan fungsinya
sebagai Advising

Bank,

maka

kewajibannya

terhadap Beneficiary hanyalah terbatas pada penerusan


L/C

termasuk

perubahannya.

Oleh

karena

10

itu Beneficiary tidak


dariAdvising

dapat

Bank.

menuntut

Tetapi

pembayaran

dalam

L/C

hal Advising

Bank bertindak sebagai Confirming Bank maka ia memiliki


kewajiban

untuk

Jika Advising

melakukan

Bankditunjuk

pembayaran

sebagai

bank

atas

L/C.

penegosiasi

maka Advising Bank dapat melakukan pembelian terhadap


dokumen

yang

diserahkan

kepada Issuing

Bank oleh Beneficiary.


B. Kajian Mengenai Money Laundering
Pencucian uang (Inggris: money laundering) adalah suatu
upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan
asal usul uang/dana atau harta kekayaan hasil tindak pidana
melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau harta
kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan
yang sah atau legal.
Money laundering adalah suatu praktek pencucian uang
panas atau kotor (dirty money). Uang kotor ini, berasal dari
praktek-praktek haram dan ilegal seperti korupsi, penyuapan,
penyelundupan, serta tindak pidana perbankan dan praktekpraktek tidak sehat lainnya. Untuk membersihkannya uang
tersebut ditempatkan pada suatu bank atau tempat tertentu
untuk sementara waktu sebelum akhirnya dipindahkan ke tempat
lain (Layering), misalnya melalui pembelian saham di pasar
modal, transfer valuta asing atau pembelian suatu asset. Setelah
itu, si pelaku akan menerima uang yang sudah bersih dari ladang
pencucian berupa pendapatan yang diperoleh dari pembelian
saham, valuta asing atau asset tersebut (Integration). Proses
inilah yang dinamakan money laundering, karena mengubah

11

uang kotor menjadi bersih tak berbekas melalui proses keuangan


yang sah.
Problematik pencucian uang yang dalam bahasa Inggris
dikenal dengan nama money laundering sekarang mulai
dibahas dalam buku-buku teks, apakah itu buku teks hukum
pidana atau kriminologi. Ternyata problematik uang haram ini
sudah meminta perhatian dunia internasional karena dimensi
dan implikasinya yang melanggar batas-batas negara. Sebagai
suatu fenomena kejahatan yang menyangkut terutama dunia
kejahatan yang dinamakan organized crime, ternyata ada
pihak-pihak tertentu yang ikut menikmati keuntungan dari
lalulintas

pencucian

uang

tanpa

menyadari

akan

dampak

kerugian yang ditimbulkan. Erat bertalian dengan hal terakhir ini


adalah dunia perbankan yang pada satu pihak beroperasional
atas dasar kepercayaan para konsumen, namun pada pihak lain,
apakah akan membiarkan kejahatan pencucian uang ini terus
merajalela.
Pada

umumnya

pelaku

tindak

pidana

berusaha

menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan


yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara
agar harta kekayaan hasil kejahatannya sulit ditelusuri oleh
aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan
harta kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun
tidak sah. Oleh karena itu, tindak pidana Pencucian Uang tidak
hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian
dan sistem keuangan, melainkan juga dapat membahayakan
sendi-sendi

kehidupan

bermasyarakat,

berbangsa,

dan

bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar


Negara Republik Indonesia Tahun 1945

12

Di Indonesia, hal tentang pencucian uang atau money


laundering ini terdapat pada: pasal 3 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang yang berbunyi: Setiap orang yang
menempatkan,

mentransfer,

mengalihkan,

membelanjakan,

membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar


negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau
surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan
tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta
kekayaan dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan
pidana penjara paling lama 20 tahun (dua puluh) tahun dan
denda paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah.
Dan kemudian, kegiatan money laundering juga telah
diatur secara yuridis dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak

Pidana

Pencucian Uang, di mana

pencucian uang

dibedakan dalam tiga tindak pidana:


1. Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu setiap orang
yang

menempatkan,

membelanjakan,
menitipkan,

mentransfer,

menbayarkan,

membawa

ke

luar

mengalihkan,
menghibahkan,

negeri,

mengubah

bentuk, menukarkan dengan uang uang atau surat


berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat

(1)

dengan

tujuan

menyembunyikan

atau

menyamarkan asal usul harta kekayaan. (Pasal 3 UU RI


No. 8 Tahun 2010).

13

2. Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan


kepada setiap orang yang menerima atau menguasai
penempatan,

pentransferan,

pembayaran,

hibah,

sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan


harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1). Hal tersebut dianggap juga sama
dengan

melakukan

pencucian

uang.

Namun,

dikecualikan bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan


kewajiban

pelaporan

sebagaimana

diatur

dalam

undang-undang ini. (Pasal 5 UU RI No. 8 Tahun 2010).


3. Dalam Pasal 4 UU RI No. 8/2010, dikenakan pula bagi
mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian
uang

yang

dikenakan

kepada

setiap

Orang

yang

menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber


lokasi,

peruntukan,

pengalihan

hak-hak,

atau

kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang


diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1). Hal ini pun dianggap sama dengan melakukan
pencucian uang.
Sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang adalah
cukup berat, yakni dimulai dari hukuman penjara paling lama
maksimum 20 tahun, dengan denda paling banyak 10 miliar
rupiah.
Hasil Tindak Pidana Pencucian Uang yang tercantum pada
Pasal 2 UU RI No. 8 Tahun 2010, yaitu:
a. Hasil

tindak

pidana

adalah

Harta

Kekayaan

yang

diperoleh dari tindak pidana: a. korupsi; b. penyuapan;

14

c. narkotika; d. psikotropika; e. penyelundupan tenaga


kerja; f. penyelundupan migran; g. di bidang perbankan;
h. di bidang pasar modal; i. di bidang perasuransian; j.
kepabeanan;

k.

cukai;

l.

perdagangan

orang;

m.

perdagangan senjata gelap; n. terorisme; o. penculikan;


p. pencurian; q. penggelapan; r. penipuan; s. pemalsuan
uang; t. perjudian; u. prostitusi; v. di bidang perpajakan;
w. di bidang kehutanan; x. di bidang lingkungan hidup;
y. di bidang kelautan dan perikanan; atau z. tindak
pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4
(empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana
tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum
Indonesia.
b. Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan
digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau
tidak langsung untuk kegiatan terorisme, organisasi
terorisme, atau teroris perseorangan disamakan sebagai
hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf n.
Kegiatan money laundering biasanya akan melibatkan
aktivitas yang sangat kompleks. Namun pada dasarnya, kegiatan
tersebut terdiri dari tiga langkah yang masing-masing berdiri
sendiri tetapi seringkali dilakukan secara bersama-sama, yaitu:
a. Placement
Placement diartikan sebagai upaya untuk menempatkan
dana yang dihasilkan dari suatu aktivitas kejahatan ke
dalam sistem keuangan. Dalam hal ini terdapat pergerakan
fisik dan uang tunai baik melalui penyelundupan uang

15

tunai dari satu negara ke negara lain, menggabungkan


antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan
uang yang diperoleh dari hasil kegiatan yang sah, ataupun
dengan melakukan penempatan uang giral ke dalam
sistem perbankan, misalnya deposito bank, cek atau
melalui

real

estate

atau

saham-saham

atau

juga

mengkonversikan ke dalam mata uang lainnya atau


transfer uang ke dalam valuta asing.
b. Layering
Layering diartikan sebagai memisahkan hasil kejahatan
dari sumbernya yaitu aktivitas kejahatan yang terkait
melalui beberapa tahapan tranaksi keuangan. Dalam hal ini
terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening
atau lokasi tertentu sebagai hasil Placement ke tempat
lainnya melalui serangkaian transaksi yang kompleks yang
didesain untuk menyamarkan atau mengelabui sumber
dana haram tersebut. Layering dapat pula dilakukan
melalui pembukaan sebanyak mungkin perusahaan-per
usahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentuan rahasia
bank.
c. Integration
Integration adalah upaya menggunakan harta kekeyaan
yang telah tampak sah baik untuk dinikmati langsung,
diinvestasikan
material

ke

dalam

maupun

berbagai

keuangan,

membiayai

kembali

kegiatan

melakukan

pencucian

uang,

bentuk

kekayaan

dipergunakan
tindak
pelaku

untuk

pidana.

Dalam

tidak

terlalu

mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh dan biaya


yang harus dikeluarkan, karena tujuan utamanya adalah
menyamarkan

atau

menghilangkan

asal-usul

uang

sehingga hasil akhirnya dapat dinikmati atau digunakan


secara aman.

16

17

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pelanggaran yang Mengawali Tindak Pidana Money


Laundering Bank BNI sebesar Rp 1,7 Triliun
Tindak pidana ekonomi secara konseptual mengalami
perubahan dan perkembangan pemaknaan dari waktu ke waktu.
Pada

awal

dimaknai

kemunculannya,

sebagai

istilah

pelanggaran

tindak

yang

pidana

ekonomi

berhubungan

dengan

perbuatan-perbuatan yang diatur melalui Undang-Undang Nomor


7 Drt. 1955. Dalam perkembangannya, istilah tindak pidana
ekonomi dimaknai sebagai pelanggaran yang merupakan ciri
yang

menonjol

dari

kejahatan

terhadap

pembangunan

masyarakat, baik dalam masyarakat yang sudah modern maupun


yang sedang mengalami perkembangan ke arah modernisasi,
karenanya kejahatan ini sangat luas dan dapat melampaui batasbatas teritorial. Kejahatan yang bermotif ekonomi ini mempunyai
pengaruh negatif terhadap kegiatan di bidang perekonomian
masyarakat

dan

keuangan

negara

yang

sehat

serta

menimbulkan kerugian dalam skala besar.


Tindak pidana ekonomi apabila dilihat secara substantif
pada hakekatnya merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap
etika dan hukum. Pelanggaran dalam kegiatan perekonomian
pada dasarnya tidak selalu merupakan tindak pidana. Perbuatan
di bidang perekonomian dapat termasuk dalam bidang perdata
atau di bidang administrasi. Perbuatan-perbuatan tertentu,
terutama yang menyangkut perijinan, adalah termasuk dalam
bidang hukum administrasi. Pelanggaran terhadap kaidahnya
tentunya diancam dengan sanksi administrasi.

18

Penulis menganalisis adanya kemungkinan pelanggaran


dalam

penanganan

transaksi

L/C

tersebut

di

Bank

BNI.

Kemungkinan pelanggaran diuraikan sebagai berikut :


1. Pelanggaran terhadap Peraturan Bank Indonesia dan
Perundang-undangan Lainnya.
Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian dalam
pengelolaan bank (prudential banking practice). Bank
Indonesia telah membuat ketentuan Batas Maksimum
Pemberian Kredit (BMPK) yaitu 20 % dari modal disetor
bank. Modal disetor BNI per 31 Desember 2003 adalah
sebesar Rp 7.042 milyar, sehingga dengan demikian BMPK
untuk kelompok Gramarindo dan Petindo adalah Rp 1,4
trilyun (20% modal disetor). Nilai L/C yang diberikan
kepada Gramarindo transaksi sebesar Rp. 1,7 triliun jelas
merupakan pelanggaran karena pada dasarnya dapat
digolongkan dalam fasilitas pemberian kredit, terutama
ketika fasilitas negosiasi tersebut efektif menjadi kredit
karena tidak bisa dibayar oleh Issuing Bank.
2. Pelanggaran terhadap aturan internal bank
Semua bank, tak terkecuali Bank BNI pasti sudah
mempunyai aturan baku dalam menangani transaksi L/C,
sehingga apabila semua aturan yang ada dilaksanakan
niscaya kasus seperti Bank BNI tidak akan terjadi.
Untuk lebih memberikan gambaran yang rinci, akan
dianalisa kemungkinan pelanggaran pada setiap tahapan
pemrosesan L/C sbb :
a.

Pada saat meneruskan L/C

19

Dalam pengamatan penulis, dari nama-nama Issuing


Bank sebagaimana disebutkan, tidak terdapat dalam
daftar nama-nama bank yang ada di Bankers Almanac
atau setidak-tidaknya tidak cukup terkenal, untuk tidak
mengatakan bahwa nama-nama bank itu hanya fiktif.
Dalam praktek perbankan pada umumnya, kalau Issuing
Bank tersebut bukan korespnden, tentunya pada saat L/C
diterima mestinya tidak bisa diproses, karena tidak bisa
dilakukan otentikasi atas kebenaran dan keabsahan L/C
dimaksud, terlebih lagi kalau ternyata L/C itu diterbitkan
oleh bank fiktif, jelas bank tidak boleh melakukan proses
selanjutnya.
Dalam UCP 500 pasal 7 disebutkan bahwa dalam hal
advising bank memutuskan untuk meneruskan L/C maka
harus mengambil langkah-langkah yang benar dalam
memeriksa

keabsahan

L/C

yang

diteruskannya.

Dan

apabila bank tersebut memutuskan tidak meneruskan,


maka

ia

harus

memberitahukan

kepada

Issuing

Bank. Pasal 7 lebih lanjut mengatur bahwa apabila tidak


bisa memastikan keabsahan L/C, Advising Bank pada
kesempatan

pertama

harus

memberitahukan

kepada

Issuing Bank dan apabila Advising Bank memilih untuk


meneruskan L/C tersebut, maka ia harus memberitahukan
kepada Beneficiary bahwa ia tidak dapat memastikan
keabsahan L/C tersebut.
Ada beberapa kemungkinan atas lolosnya L/C dari
bank-bank tersebut :
a) L/C tersebut memang benar-benar asli dan otentik,
dalam arti nama bank memang ada dan Bank BNI

20

dapat melakukan otentikasi atas keabsahan L/C


dimaksud.
b) L/C tersebuut asli tapi palsu, dalam artian bukan
diterbitkan oleh bank-bank tersebut,tapi dibuat
seolah-olah diterbitkan oleh bank-bank tersebut
dan dengan bantuan oknum-oknum yang ada di
Bank BNI dapat diotentikasi dengan menggunakan
sandi otentikasi dari bank-bank tersebut dengan
cara-cara illegal.
c) L/C memang tidak di-otentikasi sama sekali oleh
Bank BNI.
d) Satu hal yang juga sudah menjadi praktek standard
yang dilakukan oleh bank-bank diseluruh dunia dan
itu mungkin tidak dilakukan dalam kasus Bank BNI,
adalah bahwa untuk nilai transaksi yang cukup
besar biasanya dimintakan klarifikasi ulang kepada
Issuing Bank untuk memastikan keabsahan dari
L/C.
b. Pada saat proses negosiasi (diskonto usance L/C)
a) Sebelum melakukan negosiasi, bank biasanya
melakukan

rating

korespondennya

terhadap

dan

resiko

kemudian

bank

dibuatkan

commercial line. Ada atau tidaknya commercial


line,

dijadikan

dasar

pertimbangan

untuk

menegosiasi atau tidak. Artinya bahwa jika tidak


ada

commercial

line,

maka

Bank

dapat

memutuskan untuk menolak negosiasi.


b) Pada saat dokumen ekspor diajukan kepada bank,
maka bank akan memeriksa untuk meyakini bahwa
semua syarat dan kondisi L/C telah terpenuhi.
c) Dalam
memeriksa
dokumen
bank
tidak
bertanggung

jawab

terhadap

kebenaran

isi

dokumen, sebagaimana diatur dalam UCP pasal 4 :

21

dalam pelaksanaan L/C, bank hanya berurusan


dengan

dokumen-dokumen

dan

bukan

dengan

barang-barang, jasa-jasa dan atau pelaksanaan


lainnya yang berkaitan dengan dokumen yang
bersangkutan.
Meskipun UCP pasal 4 mengatur demikian, bukan
berarti

bank

tidak

berhak

mengecek

apakah

memang barang telah benar-benar dimuat di atas


kapal, sehingga bisa diterbitkannya Bill of Lading.
Dalam

kasus

dokumennya

BNI,
sangat

seharusnya
besar,

maka

karena
bank

nilai
harus

meyakini bahwa barang memang benar-benar telah


dimuat diatas kapal dengan mengklarifikasi kepada
perusahaan pelayaran atau dengan memeriksa
secara langsung di pelabuhan muat.
d) Setelah dokumen diperiksa lengkap dan sesuai
dengan L/C, maka dalam kasus Bank BNI dimana
L/C mensyaratkan pembayaran berjangka, maka
tahap selanjutnya adalah memintakan akseptasi
kepada
c.

Issuing

Bank

dan

apabila

sudah

ada

akseptasi maka baru bisa dilaksanakan negosiasi.


Penanganan Pasca Negosiasi (Diskonto Usance L/C)
Permasalahan di Bank BNI adalah bahwa setelah

jatuh tempo, ternyata pihak Issuing Bank wanprestasi atau


tidak bisa membayar tagihan wesel ekspor Usance. Sudah
menjadi praktek umum di dunia perbankan, apabila
terdapat tagihan wesel yang tidak dibayar oleh Issuing
Bank, maka Negotiating Bank harus mengusahakan agar
outstanding tagihan tersebut segera dibayar dan agar tidak
terjadi akumulasi tagihan wesel yang tidak terbayar, maka
bank seharusnya untuk sementara berhenti memberikan

22

fasilitas negosiasi sampai semua tagihan weselnya dilunasi


oleh Issuing Bank.
Disamping
negosiasi,

itu

bank

pada

saat

biasanya

memberikan

mensyaratkan

fasilitas
kepada

beneficiary untuk menyerahkan semacam surat jaminan


yang dimana jika ternyata wesel ekspornya tidak dibayar
oleh bank di luar negeri, negotiating bank dapat menarik
kembali dari beneficiary atau sering disebut dengan hak
regres.

Hak

regres

adalah

hak

yang

dimiliki

oleh

Negotiating Bank atas L/C yang tidak di-konfirm, untuk L/C


yang di-konfirm Negotiating Bank tidak mempunyai hak
regres (pasal 9.iv UCP 500).
Jadi dalam praktek, sebelum melakukan negosiasi
bank akan meminta terlebih dahulu surat jaminan yang
nantinya akan digunakan oleh Negotiating Bank untuk
meng-eksekusi hak regresnya. Bank juga harus meyakini
bahwa pada saat hak regres itu akan dieksekusi, maka
rekening nasabah masih tersedia cukup dana.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, dapat
dilihat

telah

terjadi

pelanggaran

prosedur

dalam

menangani transaksi L/C tersebut di atas sejak dari tahap


awal penerusan L/C sampai dengan L/C itu kemudian
direalisir

dan

terjadi

negosiasi. Pelanggaran

tersebut

kemudian berlanjut hingga saat fasilitas negosiasi menjadi


bermasalah karena tidak dibayar oleh Issuing Bank,
dimana kemungkinan Bank BNI kurang cepat dalam
melakukan tindakan-tindakan pengamanan atas fasilitas
yang telah diberikan kepada nasabahnya.
3. Pelanggaran terhadap UCP 500

23

Dalam kasus Bank BNI, pihak yang wan prestasi adalah


Issuing Bank. Dengan asumsi bahwa nama-nama bank yang
disebutkan

sebelumnya

adalah

benar,

maka

Issuing

Bank

dimaksud telah melanggar pasal 9.a.iii, UCP 500 yang antara lain
berbunyi : Suatu irrevocable L/C merupakan jaminan yang pasti
dari Issuing Bank asalkan dokumen-dokumen yang diminta
diserahkan kepada Bank yang ditunjuk Negotiating Bank dan
sesuai dengan syarat dan kondisi L/C, untuk:
a. apabila L/C mensyaratkan pembayaran atas unjuk
(sight) untuk membayar atas unjuk;
b. apabila L/C mensyaratkan pembayaran

kemudian

(defferred payment) untuk membayar pada tanggal


jatuh tempo yang ditentukan sesuai dengan yang
disyaratkan L/C tersebut;
c. apabila L/C mensyaratkan akseptasi :
a) oleh Issuing Bank untuk mengaksep wesel yang
ditarik

olehbeneficiary

pada

Issuing

Bank

dan

membayarnya pada saat jatuh tempo.


b) Oleh bank tertarik lainnya untuk mengaksep dan
membayar pada saat jatuh tempo wesel yang ditarik
oleh beneficiary pada Issuing Bank dalam hal bank
tertarik yang ditunjuk dalam L/C tidak mengaksep
wesel

yang

ditarik

atas

bank

tersebut,

atau

membayar wesel yang telah diaksep tetapi tidak


dibayar oleh bank tertarik tersebut pada saat jatuh
tempo.
4. Penyimpangan terhadap Kebiasaan dan Best Practice di
dunia perbankan
Berdasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya, maka
dapat

disimpulkan

telah

terjadi

penyimpangan

terhadap

Kebiasaan dan Best Practice di dunia perbankan sebagai berikut:

24

a. Tidak dilakukan assessment resiko terhadap Issuing


Bank (Commercial Line.
b. Tidak
dimintakan
konfirmasi

dari

First

Class

International Bank, padahal untuk yang L/C berasal dari


high risk country dan nilainya sangat besar lazimnya dikonfirm.
c. Tidak dilakukan assessment terhadap nasabah penerima
fasilitas (Gramarindo & Petindo), dengan analisa 5C
(Character, Capability, Capital, Collateral & Condition)
dan Trade Line.
d. Tidak ada pemisahan fungsi manajemen risiko dan
fungsi marketing karena semua keputusan dilakukan
oleh satu pejabat yakni Kepala Cabang atau pejabat lain
yang ditunjuk Kepala Cabang, tanpa adanya review dari
sisi Risk Manajemen.
5. Pelanggaran terhadap Etika
Tindak pidana di bidang ekonomi dapat diawali dengan
pelanggaran terhadap etika. Pegawai Bank BNI Kebayoran Baru
lainnya tidak melaporkan adanya indikasi pelanggaran prosedur
diskonto L/C kepada unit yang berwenang, sehingga potensi
kerugian Bank BNI menjadi semakin besar.
B. Analisis Hukum Tindak Pidana Money Laundering
Dalam Kasus Pembobolan Bank BNI Sebesar Rp 1,7
Triliun Bermodus Letter Of Credit Palsu
Pembobolan Bank BNI sebesar Rp 1,7 triliun melalui L/C
(Letter of Credit) fiktif oleh pihak Cab.BNI Utama Kebayoran Baru.
Bobolnya

uang

sejumlah Rp 1,7 triliun

bermula

dari

PT.

Gramarindo Mega Indonesia (Perusahaan milik Erri Lumowa dan


Adrian Woworuntu) mengajukan permohonan pembiayaan ekspor
impor dari BNI Cab. Kebayoran Baru Jakarta Selatan. PT.

25

Gramarindo rencananya akan melakukan ekspor pasir dan


minyak residu ke negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Dalam
mengajukan permohonan pembiayaan tersebut PT. Gramarindo
mendapatkan jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya, The Wall
Street Banking Corporation, Middle East Bank Kenya, Ltd. Ross
Bank Swiss dan Bank One (New York). Berdasarkan L/C yang
dipecah-pecah menjadi 80 L/C kecil namun keseluruhannya
berjumlah Rp 1,7 triliun tersebut, menghasilkan yang kredit
ekspor dalam mata uang dollar dan Euro yang telah dicairkan
sejak bulan Juli 2002 sampai bulan Juli 2003. Belakangan baru
diketahui kalau ternyata ekspor tersebut hanya fiktif belaka,
yaitu dengan membuat dokumen ekspor fiktif, PT Gramarindo
Group dapat menikmati uang dan menggunakan uang tersebut.
Money laundering adalah suatu upaya perbuatan untuk
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/dana atau
harta kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai transaksi
keuangan agar uang atau harta kekayaan tersebut tampak
seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah atau legal. Pada
umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul harta kekayaan yang merupakan hasil
dari tindak pidana dengan berbagai cara agar harta kekayaan
hasil kejahatannya sulit ditelusuri oleh aparat penegak hukum
sehingga dengan leluasa memanfaatkan harta kekayaan tersebut
baik

untuk

kegiatan

yang

sah

maupun

tidak

sah. Kasus

pembobolan Bank BNI sebesar Rp 1,7 triliun yang bermodus


letter of credit palsu merupakan sebuah kasus pencucian uang.
Upaya

untuk menipu

Bank

menggunakan

letter of credit

merupakan suatu tindakan kejahatan. Uang yang diperoleh dari


praktek tersebut merupakan uang panas atau kotor (dirty money).

26

Uang hasil kejahatan tersebut ditempatkan pada suatu bank atau tempat
tertentu untuk sementara waktu sebelum akhirnya dipindahkan ke tempat lain
(Layering), misalnya melalui pembelian saham di pasar modal, transfer valuta
asing atau pembelian suatu asset. Setelah itu, si pelaku akan menerima uang yang
sudah bersih dari ladang pencucian berupa pendapatan yang diperoleh dari
pembelian saham, valuta asing atau asset tersebut (Integration). Proses inilah yang
dinamakan money laundering, karena mengubah uang kotor menjadi bersih tak
berbekas melalui proses keuangan yang sah.
Untuk membersihkannya hasil pembobolan BNI Cabang Kemayoran
tersebut L/C yang dipecah-pecah menjadi 80 L/C kecil yang
keseluruhannya berjumlah Rp 1,7 triliun, sehingga sulit diketahui
aliran uang tersebut dikemanakan saja. Kasus ini merupakan
kasus money laundering karena sangat kompleks dan memenuhi tahapan
placement, layering, dan integration. Ketiga kegiatan di atas dapat terjadi secara
terpisah atau simultan, namun umumnya dilakukan secara tumpang tindih.
Modus operandi pencucian uang dari waktu ke waktu semakin kompleks
dengan menggunakan teknologi dan rekayasa keuangan yang cukup rumit. Hal itu
terjadi baik pada tahap Placement, Layering, maupun Integration, sehingga
penanganannya pun semakin sulit dan membutuhkan peningkatan peningkatan
(capacity building) secara sitematis dan berkesinambungan. Jadi dalam
Integration, begitu uang tersebut telah berhasil diupayakan proses pencuciannya
melalui cara Layering, maka tahap selanjutnya adalah menggunakan uang yang
telah menjadi uang halal (clean money) untuk kegiatan bisnis atau kegiatan
operasi kejahatan dari penjahat atau organisasi kejahatan yang mengendalikan
uang tersebut. Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini
memungkinkan para raja uang haram ini dana yang begitu besar dalam rangka
mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses
dalam dunia kejahatan terutama yang menyangkut narkotika. Untuk menghadapi
cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui
pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka

27

dalam jumlah yang besar, maka ada tiga permasalahan yang harus ditanganin jika
ingin menggagalkan praktik kotor pencucian uang haram ini, yaitu kerahasiaan
bank, kerahasiaan financial secara pribadi, dan efesiensi transaksi.
Terdapat beberapa modus operandi dalam melakukan
kegiatan money laundering, berikut adalah beberapa modus
yang umum digunakan oleh para pelaku, yaitu sebagai berikut:
1. Loan Back, yakni dengan cara meminjam uangnya sendiri,
Modus ini terinci lagi dalam bentuk direct Loan, dengan
cara

meminjam

uang

dari

perusahaan

luar

negeri,

semacam perusahaan bayangan (immobilen investment


company)

yang

direksinya

dan pemegang

sahamnya

adalah dia sendiri. Dalam bentuk back to Loan, dimana si


pelaku peminjam uang dari cabang bank asing secara
stand by letter of credit atau certificate of deposit bahwa
uang didapat atas dasar uang dari kejahatan, pinjaman itu
kemudian tidak dikembalikan sehingga jaminan bank
dicairkan.
2. Modus C-Chase Operation, metode ini cukup rumit karena
memiliki sifat liku-liku sebagai cara untuk menghapus jejak.
Contoh dalam kasus BCCI, dimana kurir-kurir datang ke
bank Florida untuk menyimpan dana sebesar US $ 10.000
supaya lolos dari kewajiban lapor. Kemudian beberapa kali
dilakukan transfer, yakni New York ke Luxsemburg ke
cabang bank Inggris, lalu disana dikonfersi dalam bentuk
certifacate of deposit untuk menjamin Loan dalam jumlah
yang sama yang diambil oleh orang Florida. Loan buat
negara karibia yang terkenal dengan tax Heavennya. Disini
Loan itu tidak pernah ditagih, namun hanya dengan
mencairkan sertifikat deposito itu saja. Dari Floria, uang
terebut di transfer ke Uruguay melalui rekening drug

28

dealer

dan

disana

uang

itu

didistribusikan

menurut

keperluan dan bisnis yang serba gelap. Hasil investasi ini


dapat tercuci dan aman.
3. Modus Transaksi-transaksi Dagang Internasional, modus ini
menggunakan sarana dokumen L/C. Karena menjadi fokus
urusan bank baik bank koresponden maupun opening bank
adalah dokumen bank itu sendiri dan tidak mengenal
keadaan barang, maka hal ini dapat menjadi sasaran
money laundering, berupa membuat invoice yang besar
terhadap barang yang kecil atau malahan barang itu tidak
ada.
4. Modus Penyelundupan Uang Tunai atau Sistem Bank Paralel
ke Negara lain. Modus ini menyelundupkan sejumah fisik
uang itu ke luar negeri. Berhubung dengan cara ini
terdapat resiko seperti dirampok, hilang atau tertangkap
maka digunakan modus berupa electronic transfer, yakni
mentransfer dari satu Negara ke negara lain tanpa
perpindahan fisik uang itu.
5. Modus Akuisisi, yang diakui sisi adalah perusahaanya
sendiri. Contoh seorang pemilik perusahaan di indonesia
yang memiliki perusahaan secara gelap pula di Cayman
Island,

negara

didepositokan

tax
atas

haven.
nama

Hasil

usaha

perusahaan

di

yang

cayman
ada

di

Indonesia. Kemudian perusahaan yang ada di Cayman


membeli saham-saham dari perusahaan yang ada di
Indonesia

(secara

akuisisi).

Dengan

cara

ini

pemilik

perusahaan di Indonesia memliki dana yang sah, karena


telah tercuci melalui hasil pejualan saham-sahamnya di
perusahaan Indonesia.
6. Modus Real Estate Carousel, yakni dengan menjual suatu
properti berkali-kali kepada perusahaan di dalam kelompok
yang sama. Pelaku Money Laundering memiliki sejumlah

29

perusahaan (pemegang saham mayoritas) dalam bentuk


real estate dari satu ke lain perusahaan.
7. Modus Investasi Tertentu, investasi tertentu ini biasanya
dalam bisnis transaksi barang atau lukisan atau antik.
Misalnya pelaku membeli barang lukisan dan kemudian
menjualnya kepada seseorang yang sebenarnya adalah
suruhan si pelaku itu sendiri dengan harga mahal. Lukisan
dengan harga tak terukur, dapat ditetapkan harga setinggitingginya dan bersifat sah. Dana hasil penjualan lukisan
tersebut dapat dikategorikan sebagai dana yang sudah
sah.
8. Modus Over Invoices atau Double Invoice. Modus ini
dilakukan dengan mendirikan perusahaan ekspor-impor
negara sendiri, lalu diluar negeri (yang bersistem tax
haven)

mendirikan

company).

pula

Perusahaan

perusahaan
di

Negara

bayangan
tax

(shell

Haven

ini

mengekspor barang ke Indonesia dan perusahaan yang


ada di diluar negeri itu membuat invoice pembelian
dengan harga tingi inilah yang disebut over invoice dan
bila dibuat 2 invoices, maka disebut double invoices.
9. Modus Perdagangan Saham, Modus ini pernah terjadi di
Belanda. Dalam suatu kasus di Busra efek Amsterdam,
dengan melibatkan perusahaan efek Nusse Brink, dimana
beberapa nasabah perusahaan efek ini menjadi pelaku
pencucian uang. Artinya dana dari nasabahnya yang
diinvestasi ini bersumber dari uang gelap. Nussre brink
membuat 2 (dua) buah rekening bagi nasabah-nasabah
tersebut, yang satu untuk nasabah yang rugi dan satu
yang memiliki keuntungan. Rekening di upayakan dibuka di
tempat yang sangat terjamin proteksi kerahasaannya,

30

supaya sulit ditelusuri siapa benefecial owner dari rekening


tersebut.
10.
Modus Pizza Connection. Modus ini dilakukan dengan
menginvestasikan

hasil

perdagangan

obat

bius

diinvestasikan untuk mendapat konsesi pizza, sementara


sisi lainnya diinvestasikan di Karibia dan Swiss.
11.
Modus La Mina, kasus yang dipandang

sebagai

modus dalam money laundering terjadi di Amerika Serikat


tahun 1990. Dana yang diperoleh dari perdagangan obat
bius diserahkan kepada perdagangan grosiran emas dan
permata sebagai suatu sindikat. Kemudian emas, kemudian
batangan diekspor dari Uruguay dengan maksud supaya
impornya bersifat legal. Uang disimpan dalam desain kotak
kemasan

emas,

kemudian

dikirim

kepada

pedagang

perhiasan yang bersindikat mafia obat bius. Penjualan


dilakukan di Los Angeles, hasil uang tunai dibawa ke bank
dengan maksud supaya seakan-akan berasal dari kota ini
dikirim ke bank New York dan dari kota ini di kirim ke bank
New York dan dari kota ini dikirim ke bank Eropa melalui
Negara
Kolombia

Panama.
guna

Uang

tersebut

didistribusi

dalam

akhirnya
berupa

sampai

di

membayar

ongkos-ongkos, untuk investasi perdagangan obat bius,


tetapi sebagian untuk unvestasi jangka panjang.
12.
Modus Deposit Taking, Mendirikan perusahaan
keuangan seperti Deposit Taking Institution (DTI) Canada.
DTI ini terkenal dengan sarana pencucian uangnya seperti
chartered bank, trust company dan credit union. Kasus
Money Laundering ini melibatkan DTI antara lain transfer
melalui telex, surat berharga, penukaran valuta asing,
pembelian obligasi pemerintahan dan teasury bills.
13.
Modus
Identitas
Palsu,
yakni
modus

yang

memanfaatkan lembaga perbankan sebagai mesin pemutih

31

uang dengan cara mendepositokan dengan nama palsu,


menggunakan safe deposit box untuk menyembunyikan
hasil kejahatan, menyediakan fasilatas transfer supaya
dengan mudah ditransfer ke tempat yang dikehendaki atau
menggunakan electronic fund transfer untuk melunasi
kewajiban

transaksi

gelap,

menyimpan

atau

mendistribusikan hasil transaksi gelap itu.


Pemberantasan kegiatan money laundering atau pencucian uang dapat
dilakukan melalui pendekatan pidana atau pendekatan bukan pidana, seperti
pengaturan dan tindakan administratif. Partisipasi Pemerintah RI dalam upaya
pemberantasan kegiatan pencucian uang merupakan pelaksanaan dari amanat PBB
dalam the UN Convention Against Illicit Traffic in Narcotics, Drugs and
Psychotropic Substances of 1988 yang kemudian diratifikasi oleh Pemerintah
melalui UU Nomor 7 Tahun 1997. Dengan penandatanganan konvensi tersebut
maka setiap negara penandatangan diharuskan untuk menetapkan kegiatan
pencucian uang sebagai suatu tindak kejahatan dan mengambil langkah-langkah
agar pihak yang berwajib dapat mengidentifikasikan, melacak dan membekukan
atau menyita hasil perdagangan obat bius.
Dari pembahasan diatas dapat diidentifikasi telah terjadi
tindak pidana pemalsuan terhadap L/C dan dokumen ekspor
(B/L), karena dari informasi yang ada, ternyata tidak pernah
terjadi realisasi ekspor dan pengapalan barang ke Kenya dan
Kongo. Disamping itu, berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan telah diputuskan terjadi pelanggaran terhadap
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Tindak Pidana Korupsi dan Upaya
Pemberantasan Korupsi dan UU Nomor 15 Tahun 2002 Pasal 6 jo.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

32

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan dan analisis yang telah dipaparkan,
penulis menarik 2 (dua) kesimpulan, yaitu :
1. Terjadi pelanggaran dan penyimpangan terhadap 3 aspek
sbb :
a. Ekonomi
Berpotensi merugikan BNI sebesar Rp 1,2 trilyun, karena
dari total nilai transaksi L/C, sebesar Rp. 0,5 trilyun telah
dikembalikan oleh nasabah.
b. Hukum
Telah terjadi pelanggaran/penyimpangan terhadap:
a) Aturan Internal BNI
b) Uniform Customs and Practice for Documentary
Credit (UCP)
c) Kebiasaan dan Best Practice di dunia perbankan
d) Peraturan BI, UU Tindak Pidana Korupsi dan UU
Tindak Pidana Pencucian Uang
e) Telah terjadi tindak pidana pemalsuan terhadap L/C
dan dokumen ekspor (B/L)
c. Etika
Pegawai Bank BNI Cabang Kebayoran Baru lainnya tidak
melaporkan

adanya

indikasi

pelanggaran

prosedur

diskonto L/C kepada unit yang berwenang di BNI.


2. Kasus pembobolan Bank BNI sebesar Rp 1,7 triliun
merupakan sebuah kasus pencucian uang yang diawali
dengan adanya tindak pidana pemalsuan terhadap L/C dan
dokumen ekspor (B/L), karena dari informasi yang ada,
ternyata

tidak

pernah

terjadi

realisasi

ekspor

dan

pengapalan barang ke Kenya dan Kongo. Kasus ini bermula


dari penipuan terhadap Bank BNI menggunakan L/C palsu

33

yang kemudian uang tersebut dipecah-pecah menjadi 80


L/C sebagai usaha untuk membersihkan uang tersebut.
Kejahatan pencucian uang dilakukan melalui langkah placement, layering,
integration. Ketiga kegiatan di atas dapat terjadi secara terpisah atau
simultan,

namun

umumnya

dilakukan

secara

tumpang

tindih.

Berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan


telah diputuskan terjadi pelanggaran terhadap UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2011 Tentang Tindak Pidana Korupsi dan Upaya
Pemberantasan Korupsi dan UU Nomor 15 Tahun 2002
Pasal 6 jo. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang.
B. Saran
Berdasarkan pemaparan masalah dan analisis yang diatas,
maka penulis memberikan saran :
1. Memberlakukan aturan kewenangan yang berjenjang
dalam memutus fasilitas L/C ekspor.
2. Selalu mengacu pada best practice dan UCP dalam
menangani transaksi L/C.
3. Menerapkan Good Corporate

Governance

secara

konsisten.
4. Untuk menanggulangi kejahatan di bidang ekonomi
yang

semakin

berkembang

seiring

dengan

perkembangan teknologi, perkembangan globalisasi,


perkembangan sosial, budaya ekonomi dan kemajuan
intelektual manusia harus diiringi dengan bekal nilai
moral yang baik. Di Indonesia nilai-nilai ke-Indoneisaan
yang terdapat dalam Pancasila harus dihidupkan dalam
kultur sosial masyarakat, sehingga Indonesia tetap akan

34

menjadi Indonesia dengan nilai luhurnya yang selalu


diperam ditengah arus dunia yang semakin bebas dan
komersil untuk kemajuan Indonesia di segala bidang.
Dengan nilai luhur yang hidup di setiap individu maka
pelaku bisnis, pelaku aparat hukum akan bekerja secara
profesional, upaya ini merupakan upaya prefentif yang
berkelanjutan agar kejahatan di bidang ekonomi yang
semakin berkembang seperti money laudering dapat
diminimalisir ke depannya.

35

36