Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

OFTALMOPLEGI TOTALIS
Pembimbing :
dr. Sri Hastuti, Sp. S
Disusun oleh :
Aulia Hilwi Zati humaira
NEUROLOGY DEPARTEMENT OF SYIAH KUALA UNIVERSITY/
dr. ZAINOEL ABIDIN GENERAL HOSPITAL
BANDA ACEH

Identitas Pasien

Nama
: Tn. RB
Umur
: 54 tahun
Alamat
: Babahrot Aceh Barat Daya
Agama
: Islam
Status Perkawinan : Menikah
Suku
: Aceh
Nomor CM
: 1-03-11-28
Pekerjaan
: Swasta
Tanggal Pemeriksaan : 16 Desember 2014

Anamnesis
KU :
Penurunan Kesadaran
RPS :
Pasien kiriman dari Rumah Sakit Abdya ke Instalasi Gawat
Darurat RSUDZA dengan diagnosa Head Injury susp. EDH +
Trauma tumpul thoraks datang dengan penurunan
kesadaran sejak 6 jam sebelum masuk Rumah Sakit.
menurut keluarga pasien, pasien sedang memperbaiki
rumah dan terjatuh dari ketinggian 3 meter, pasien saat
terjatuh kepala dan dada terbentur oleh batu dan kayu.
Setelah kejadian pasien muntah sebanyak 4 kali dengan
frekuensi 100 cc. Fase sadar diantara tidak sadar
disangkal keluarga pasien. Keluhan lain seperti mual (+),
muntah (+), kejang (-),demam (-),sakit kepala (-), riwayat
hipertensi disangkal.

RPD :
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat

alergi disangkal
infeksi saluran pernafasan atas disangkal
trauma disangkal
hipertensi disangkal
DM disangkal

RPK :
Keluarga pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama.
RKS :
Pasien sering minum kopi dan merokok, sehari
menghabiskan 2 bungkus rokok

Vital Sign

Compos
Mentis

120/80
mmHg

82
kali
/menit

20 kali/
menit

36,2 C

S. Neurologis
GCS : E2M4V2
Mata : Pupil anisokor (3mm/5mm),
RCL (+/-), RCTL (+/-)
T.R.M : Brudzinsky I (-)
Brudzinsky II (-)
Kernig (-)
Lasegue (-)

S. Neurologis
Nervus Cranialis :

Nervus III (otonom)


Ukuran : 3 mm/5 mm
Bentuk Pupil : bulat/bulat
Reflek Cahaya: positif/positif
Nistagmus
: negatif/negatif
Strabismus
: negatif/negatif

Nervus III, IV, VI (gerakan okuler)


Lateral
: negatif positif
Atas
: negatif positif
Bawah
: positif positif
Medial
: positif positif
Diplopia : positif negatif
Ptosis
: positif negatif

S. Neurologis
Motorik

: 3333/3333
1111/1111

Sensorik

: sulit dinilai

Autonom : sulit dinilai


R. Fisiologis : +/+
+/+
R. Patologis

: (-/-)

Assessment

Neuropati nervus medianus


Diagnosa Klinis
di pergelangan tangan
Kompresi pada nervus
Diagnosa Etiologi
medianus

Diagnosa Topis

Carpal Tunnel Syndrome

Terapi
Non Farmakologis :
Bedrest
Elevasi kepala 30

Farmakologis :
-Gabapentin 2x 300 mg
-Fenitoin 3x100 mg
-Nistatin drop
-Noncord ED 4x1 tts OS
-Nimotop 4x1 tab
-Alprazolam 1x 0,5 mg

P
Prognosis

Qou ad vitam
: dubia ad bonam
Qou ad functionam: dubia ad bonam
Qou ad sanactionam : dubia ad bonam

Diskusi Kasus

Parese Nervus
Okulomotor

Terjadi penekanan Bagian


subarachnoid di depan
midbrain pada fossa
interpedunkular, yang mana
bagian ini merupakan
perjalanan dari nervus
okulomotor dan trokhlearis.
Didapatkan adanya gejala
klinis berupa ptosis, diplopia,
keterbatasan pergerakan
bola mata.

Anatomi

Etiologi
Penyebab parese nervus okulomotorius pada orang dewasa
Rucker

Rucker

Green et al

(335 kasus)

(274 kasus)

(130 kasus)

No.

No.

No.

Aneurisma

64

19

50

18

38

13

Penyakit vaskuler *

63

19

47

17

25

Trauma

51

15

34

13

14

12

Neoplasma

35

11

50

18

Lain-lain

95

28

55

20

33

12

Penyakit misellanous

21

38

12

Sifilis

Penyebab parese nervus okulomotorius pada orang dewasa dan


anak-anak

Miller

Harley

(30 kasus)

(32 kasus)

No.

No.

Kongenital

13 *

43

15

47

Aneurisma

Neoplasma

10

Penyakit vaskuler

Trauma

20

13

Inflamasi

13

10

Misellanous

Patofisiologi

Parese N. Okulomotor dapat dibagi menjadi :

1. Kelumpuhan parsial
- Eksternal oftalmoplegia
Kelumpuhan hanya terjadi pada otot-otot
ekstraokular yang dipersarafi oleh nervus
okulomotorius

- Internal oftalmoplegia
Kelumpuhan hanya terjadi pada otot-otot
intraokular sehingga yang terjadi adalah
hilangnya refleks akomodasi akibat paralisis M.
siliaris dan midriasis akibat paralisis M. sfingter
pupil. Pasien tidak mengalami diplopia karena
tidak terjadi strabismus.

Parese N. Okulomotor dapat dibagi menjadi :

2. Kelumpuhan total
Semua otot intraokular dan semua otot
ekstraokular yang dipersarafi oleh nervus
okulomotorius terkena, disertai dengan hilangnya
refleks akomodasi dan refleks cahaya pupil

Menifestasi Klinis

Parestesi

Nyeri

Kekakuan

Kelemahan
tangan

Tidak bisa
menggengg
am

Atrofi otot

Diagnosis
1. Anamnesis
. Usia onset
. Jenis onset
. Jenis deviasi
. Diplopia
. Ketajaman penglihatan
. Riwayat penyakit

Diagnosis
2. Pemeriksaan fisik :
Inspeksi : ptosis
Pupil
Hirschberg reflection test
Pergerakan mata
Ketajaman penglihatan
Cover uncover test
Hess screen test
Pemeriksaan sensorik

Diagnosis
2. Pemeriksaan penunjang :
Gula darah
Foto kranium
Foto sinus paranasal dan orbita
Tes fungsi tiroid dan autoantibodi
Tensilon (edrophonium) test, untuk
menegakan diagnosa miastenia gravis
CT brain / MRI / angiografi karotis pada
kasus-kasus neurologis

Diagnosa Banding

Myasthenia gravis
Thyroid associated orbitopathy
Internuclear ophtalmoplegia
Chronic progressive external
ophtalmoplegia
Orbital pseudomotor

Terapi
a. Terapi Ambliopia
Oklusi (stadium awal dan stadium
pemeliharaan)
b. Prisma
menghilangkan diplopia
c. Terapi bedah
Reseksi dan resesi
d. Terapi ptosis
Kongenital : operasi

Diskusi Kasus dan Kesimpulan


Parese ophtalmoplegia totalis dapat berupa kelumpuhan otot-otot ekstraokular dan intraokular yang
dipersarafi oleh nervus okulomotorius dan trokhlearis, reaksi pupil terganggu dan hilangnya refleks
akomodasi m. Siliaris, semua otot intraokular dan semua otot ekstraokular yang dipersarafi oleh nervus
okulomotorius terkena

Penyebab parese okular motor antara lain kongenital, trauma, aneurisma,


diabetes dan hipertensi, neoplasma. Dari 337 kasus, trauma memiliki angka
kejadian 15%. Pada pasien ini penyebab kelumpuhan nervus okulomotor
adalah perdarahan subarachnoid
Bagian subarachnoid merupakan bagian dari perjalanan nervus okulomotor,
setelah keluar dari bagian ventral dari mesencephalon selanjutnya
akan
memasuki ruang subarachnoid di depan midbrain pada fossa
interpedunkular, dan lewat diantara arteri cerebellaris superior dan arteri
cerebralis posterior dan di proksimal dari arteri komunikans posterior.
Perdarahan pada subarachnoid menyebabkan tekanan parsial pada nervus
okulomotorius dan trokhlearis, sehingga muncul gejala berupa ptosis,
diplopia, pembesaran pupil, hilang akomodasi, pergerakan otot bola mata
terbatas.
Pemeriksaan nervus okulomotor berupa; Inspeksi untuk melihat ptosis,
pemeriksaan pupil, Hirschberg reflection test, Pergerakan mata, Ketajaman
penglihatan, Cover uncover test, Hess screen test, Pemeriksaan sensorik.
Sedangkan pemeriksaan penunjang berupa gula darah, Foto kranium, foto
sinus paranasal dan orbita, tes fungsi tiroid dan autoantibodi, tensilon test,

TERIMA KASIH
dr. Sri Hastuti Sp.S