Anda di halaman 1dari 4

1.

Mekanisme alergi obat


Ada dua macam mekanisme dalam alergi obat, pertma mewkanisme imunologis
dan kedua mekanisme non imunologis. Umumnya alergi obat timbul karena reaksi
hipersensitivitas berdasarkan mekanisme imunologis. Obat dan metabolit obat yang
berfungsi sebagai hapten, yang menginduksi antibodi humoral. Karena berat
molekulnya yang rendah (di bawah 2000) biasanya obat itu sendiri tidak mempunyai
kemampuan antigenik (immunogenik). Mereka bertindak sebagai hapten, dan sesudah
membentuk ikatan kovalen dengan suatu protein, peptide atau karbohidrat di jaringan
atau darah, akan merangsang pembentukab antibodi atau sel limfosit yang sangat
spesifik untuk kompleks antigen tersebut.Antibodi pada manusia terdiri dari 5 jenis
golongan protein yaitu immunoglobulin A, D, E, G, M yang dihasilkan oleh sel-sel
plasma(jaringan Thymic-Independent). Sedangkan sel limfosit (jaringan ThymicDependent) membentuk kekebalan selluler (Cell-mediated-immunity), penyebab dari
delayed hypersensitivity. Maka akan timbul reaksi alergik bila obat yang sama
diberikan kembali. (Purwanto, 1976)
Reaksi ini juga dapat melalui mekanisme non imunologis yang disebabkan karena
toksisistas obat, over dosis, interaksi antar obat dan perubahan dalam metabolisme.
(Revus, 2003)
Tabel 1. Reaksi imunologis dan non imunologis

A. Mekanisme Imunologis
Tipe I (Reaksi Anafilaksis)
Mekanisme ini paling banyak di temukan. Yang paling berperan ialah Ig E
yang mempunyai afinitas yang tinggi terhadap sel mast dan sel basofil
yang banyak terletak pada pembuluh darah. Pajanan pertama dari obat
tidak menimbulkan reaksi . Tetapi bila dilakukan pemberian kembali obat
yang sama, maka obat tersebut akan dianggap sebagai antigen yang akan
merangsang pelepasan bermacam-macam mediator seperti histamin,
serotonin, bradikinin dan heparin dan SRSA. Mediator yang dilepaskan ini
akan menimbulkan bermacam-macam efek, misalnya eritema, sesak nafas,
utrikaria. Reaksi anafilaksis yang paling ditakutkan adalah timbulnya
syok. (Baratawidjaja, 2010)
Tipe II (Reaksi Autositoksis)
Terjadi adanya ikatan antara ig G dan ig M dengan antigen yang melekat
pada sel. Hal ini menyebabkan efek sitolitik atau sitotoksik oleh sel
efektor yang diperantarai oleh komplemen. Reaksi sitotoksik memiliki 3
kemungkinan mekanisme; pertama, obat terikat secara kovalen pada
membran sel dan antibodi yang kemudian mengikat obat dan
mengaktivasi komplemen (misalnya penisilin); kedua kompleks obat
antibodi yang terbentuk, terikat pada permukaan sel dan mengaktivasi
komplemen (misalnya sefalosporin); ketiga obat yang terikat pada
permukaan sel menginduksi respon imunyang mengikat langsung antigen
spesifik jaringan (misalnya -metyl-dopa). Antibodi yang terbentuk
mengaktifkan sel K yang mempunyai reseptor Fc sebagai efektor antibody
dependent cellular cytotoxicity (ADCC). Selanjutnya ikatan antigen
antibodi mengaktifkan komplemen melalui reseptor C3b sehingga
memudahkan fagositosis dan menimbulkan lisis. (Baratawidjaja, 2010)
Tipe III (Reaksi Kompleks Imun)
Tipe III ditandai dengan pembentukan kompleks antigen-antibodi
(antibodi IgG atau ig M) dalam sirkulasi yang dideposit dalam jaringan.
Komplemen yang teraktivasi melepas macrophage chemotatic factor.
Makrofag dikerahkan ketemmpat tersebut melepas enzim yang dapat
merusak jaringan. Komplemen juga membentuk C3a dan C5a
(anafilatoksin) yang merangsang sel mast dan basofil melepas granul.

Komplemen juga dapat menimbulkan lisis sel bila kompleks diendapkan


di jaringan. (Baratawidjaja, 2010)
Tipe IV (Reaksi Alergi Seluler Tipe lambat)
Reaksi ini melibatkan limfosit. Limfosit T yang tersensitasi mengadakan
reaksi dengan antigen dan menyebabkan pembebasan serangkaian
limfokin, antara lain macrophage inhibition factor dan macrophage
activation factor. Makrofag yang diaktifkan dapat menimbulkan kerusakan
jaringan, contoh klasik dermatitis kontak alergik. Erupsi eksamatosa,
eritodermik, dan fotoalergik merupakan reaksi tipe IV. Reaksi tipe ini
melibatkan limfosit efektor yang spesifik yang juga terliabat pada purpura,
sindrom Lyells, bulosa, likhhenoid, dan erupsi obat yang menyerupai
lupus. Mekanisme tipe IV bersama-sama tipe III terlibat pada erupsi
makulo-papular, fixed drug eruption dan eritema nodusum. Pada
kenyataannya, reaksi-reaksi ini tidak selalu berdiri sendiri, namun dapat
bersama-sama. Limfosit T berperan pada inisiasi respon antibodi, dan
antibodi bekerja sebagai essensial link pada beberapa reaksi yang
diperantarai sel, misalnya ADCC. (Baratawidjaja, 2010)
B. Mekanisme Non Imunologis
Reaksi Pseudo-Allergic menstimulasi reaksi alergi yang bersifat antibodydependent. Salah satunya obat yang dapat menimbulkannya adalah aspirin dan
kontras media. Teori yang ada menyatakan bahwa ada satu atau lebih mekanisme
yang terlibat; pelepasanmediator sel mast dengan cara langsung, aktifitas
langsung dari sistem komplemen, atau pengaruh langsung pada metabolisme
enzim asam arachidonat sel. Efek kedua, diakibatkan proses farmakologis obat
terhadap tubuh yang dapat menimbulkan gangguan seperti alopesia yang timbul
karena penggunaan kemoterapi anti kanker. Penggunaan obat-obatan tertentu
secara progresif ditimbun di bawah kulit, dalam jangka waktu yang lama akan
mengakibatkan gangguan lain seperti hiperpigmentasi generalisata diffuse.
(Andrew, 1993)
C. Unkwown Mechanisms
Selain dua mekanisme di atas, masih terdapat mekanisme yang lain yang belum dapat
dijelaskan. (Andrew, 1993)

Daftar Pustaka
Andrew J.M, Sun. Cutaneous Drugs Eruption. In: Hong kong Practitioner. Volume 15.
Departement of Dermatology University of Wales College of Medicine. Cardiff CF4 4XN,
UK.

1993.

Access

on:

June

24,

2012.

Available

at:

http://sunzil.lib.hku.hk/hkjo/view/23/2301319.pdf
Baratawidjaja, Karnen Garna dkk. 2010. Imunologi Dasar edisi IX. Jakarta. FKUI.
Purwanto, SL. 1976. Alergi Obat. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UNIKA Atma
Jaya. Jakarta
Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume 1st. 2nd edition.
Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003