Anda di halaman 1dari 21

EMUL

SI

1.
2.
3.
4.
5.
6.

TRI PUTRA PASARIBU


(110405094)
MARADONA SIMANJUNTAK
(110405096)
EDY SAPUTRA
(110405100)
ERLANGGA WICAKSANA
(110405102)
MARIA KRISTIANI
(110405104)
DWI GITA FERANI
(110405106)

Pendahuluan

Sistem koloid banyak digunakan pada


kehidupan sehari - hari
Hal ini disebabkan sifat karakteristik
koloid yang penting, yaitu dapat
digunakan untuk mencampur zat - zat
yang tidak dapat saling melarutkan
secara homogen dan bersifat stabil untuk
produksi dalam skala besar. Salah satu
sistem koloid yang ada dalam kehidupan
sehari hari dan dalam industri adalah
jenis emulsi.

Definisi
Emulsi
Emulsi

merupakan jenis koloid dengan fase


terdispersinya berupa fase cair dengan
medium pendispersinya bisa berupa zat
padat, cair, ataupun gas.
Emulsi
merupakan
sediaan
yang
mengandung dua zat yang tidak dapat
bercampur, contoh yang paling sering yaitu
campuran yang terdiri dari minyak dan air,
dimana cairan yang satu terdispersi menjadi
butir-butir kecil dalam cairan yang lain.

Dispersi

ini tidak stabil, butir butir ini


bergabung dan membentuk dua lapisan
yaitu air dan minyak yang terpisah
kemudian dibantu oleh zat pengemulsi
(emulgator)
yang
merupakan
komponen yang paling penting untuk
memperoleh emulsi yang stabil.

Masing masing emulsi dengan medium


pendipersi yang berbeda juga mempunyai
nama yang berbeda,yaitu sebagai berikut:
1. Emulsi Gas
2. Emulsi cair
3. Emulsi Padat

Emulsi
Gas
Emulsi gas merupakan emulsi dengan
fase terdispersinya berupa fase cair dan
medium pendispersinya berupa gas.
Salah satu contohnya hairspray, dimana
dapat
dibentuk
emulsi
gas
yang
diinginkan karena adanya bantuan bahan
pendorong atau propelan aerosol anatara
lain; CFC (klorofuorokarbon atau Freon)

Emulsi
Cair
Emulsi cair merupakan emulsi dengan fase
terdispersinya
maupun
pendispersinya
berupa fase cairan yang tidak saling
melarutkan karena kedua fase
bersifat
polar dan
non polar. Emulsi ini dapat
digolongkan menjadi 2 jenis yaitu emulsi
minyak didalam air contoh susu terdiri dari
lemak sebagai fase terdispersi dalam air
jadi butiran minyak didalam air atau emulsi
air dalam minyak contoh margarine
terdispersi dalam minyak jadi butiran air
dalam minyak.

Bagaimana air dan minyak dapat


bercampur sehingga membentuk emulsi
cair?
Air dan minyak dapat bercampur membentuk
emulsi cair apabila suatu pengemulsi
(emulgator) ditambahkan dalam larutan
tersebut. Karena kebanyakan emulsi adalah
dispersi air dalam minyak, dan dispersi
minyak dalam air, maka zat pengemulsi yang
digunakan harus dapat larut dengan baik di
dalam air maupun minyak. Contoh
pengemulsi tersebut adalah senyawa organic
yang memiliki gugus polar dan non-polar.

Bagian non-polar akan berinteraksi


dengan minyak/ mengelilingi partikelpartikel minyak, sedangkan bagian yang
polar akan berinteraksi kuat dengan air.
Apabila bagian polar ini terionisasi
menjadi bermuatan negatif, maka
pertikel-partikel minyak juga akan
bermuatan negatif. Muatan tersebut
akan mengakibatkan pertikel-partikel
minyak saling tolak-menolak dan tidak
akan bergabung, sehingga emulsi
menjadi stabil.

Emulsi Padat
Emulsi padat merupakan emulsi dengan
fase terdispersinya cair dengan fase
pendispersinya
berupa
fase
padat.
Contoh: Gel yang dibedakan menjadi gel
elastic dan gel non elastik dimana gel
elastic ikatan partikelnya tidak kuat
sedangkan non elastik ikatan antar
partikelnya membentuk ikatan kovalen
yang kuat.

Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak


stabil, sehingga dibutuhkan zat pengemulsi
atau emulgator untuk menstabilkan. Tujuan dari
penstabilan adalah untuk mencegah pecahnya
atau terpisahnya antara fase terdispersi dengan
pendispersinya.
Dengan
penambahan
emulgator berarti telah menurunkan tegangan
permukaan secara bertahap
sehingga akan
menurunkan energi bebas pembentukan emulsi,
artinya dengan semakin rendah energi bebas
pembentukan emulsi akan semakin mudah.

Bentuk Bentuk ketidak stabilan


dari emulsi

Flokulasi, karena kurangnya zat pengemulsi sehingga


kedua fase tidak tertutupi oleh lapisan pelindung
sehingga terbentuklah flok flok atau sebuah agregat
Koalescens, yang disebabkan hilangnya lapisan film
dan globul sehingga terjadi pencampuran
Kriming, adanya pengaruh gravitasi membuat emulsi
memekat pada daerah permukaan dan dasar
Inversi massa (pembalikan massa) yang terjadi
karena adannya perubahan viskositas
Breaking/demulsifikasi,
lapisan
film
mengalami
pemecahan sehingga hilang karena pengaruh suhu.

Mekanisme Secara Kimia dan Fisika

Mekanisme secara kimia


Mekanisme secara kimia dapat kita jelaskan
pada emulsi air dan minyak. Air dan minyak
dapat bercampur membentuk emulsi cair
apabila suatu pengemulsi ditambahkan,
karena kebanyakan emulsi adalah dispersi
air dalam minyak dan dispersi minyak dalam
air, sehingga emulgator yang digunakan
harus dapat larut dalam air maupun minyak.

Mekanisme secara fisika


Secara fisika emulsi dapat terbentuk
karena
adanya
pemasukan
tenaga
misalnya
dengan
cara
pengadukan.
Dengan adanya pengadukan maka fase
terdispersinya akan tersebar merata ke
dalam medium pendispersinya

Kestabilan Emulsi
Kestabilan emulsi ditentukan oleh dua
gaya, yaitu:
Gaya tarik-menarik yang dikenal dengan
gaya Van Der Waals. Gaya ini
menyebabkan partikel - partikel koloid
berkumpul membentuk agregat dan
mengendap.
Gaya tolak - menolak yang disebabkan
oleh pertumpang tindihan lapisan ganda
elektrik yang bermuatan sama. Gaya ini
akan menstabilkan dispersi koloid.

Faktor
yang
mempengaruhi
kestabilan emulsi
Tegangan

antarmuka rendah
Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan
antarmuka
Tolakkan listrik double layer
Relativitas fase pendispersi kecil
Viskositas tinggi

Beberapa Cara Pembuatan Emulsi

Dengan Mortir dan Stampel


Sering digunakan untuk membuat minyak lemak dalam ukuran
kecil
Botol
Minyak dengan viskositas rendah dapat dibuat dengan cara
dikocok dalam botol pengocokan dilakukan terputus putus untuk
memberi kesempatan emulgator bekerja.
Mixer
Partikel fase dispersi dihaluskan dengan memasukkan kedalam
ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar denagn
kecepatan tinggi.
Homogenizer
Dengan melewatkan partikel fase dispersi melewati celah sempit,
sehingga partikel mempunyai ukuran yang sama.

Penerapan dalam kehidupan


sehari-hari
Salah satu contoh penerapan emulsi
dalam kehidupan sehari-hari adalah
penggunaan sabun dan detergen. Sabun
merupakan garam karboksilat. Molekul
sabun tersusun dari ekor alkil yang nonpolar (larut dalam minyak) dan kepala ion
karboksilat yang polar (larut dalam air).
Prinsip tersebut yang menyebabkan sabun
dan deterjen memiliki daya pembersih.

Ketika kita mandi atau mencuci pakaian,


ekor non-polar dari sabun akan
menempel pada kotoran dan kepala
polarnya menempel pada air. Sehingga
tegangan permukaan air akan semakin
berkurang, sehingga air akan jauh lebih
mudah untuk menarik kotoran.

Penerapan dalam bidang industri


Dalam bidang industri salah satu sistem emulsi yang
digunakan adalah industri saus salad yang terbuat dari
larutan asam cuka dan minyak. Dimana asam cuka bersifat
hidrofilik dan minyak yang bersifat hidrofobik, dengan
mengocok minyak dan cuka. Pada awalnya akan
mengandung butiran minyak yang terdispersi dalam larutan
asam cuka setelah pengocokan dihentikan, maka butiranbutiran akan bergabung kembali membentuk partikel yang
lebih besar sehingga asam cuka dan minyak akan terpisah
lagi. Agar saus salad ini kembali stabil maka dapat
ditambahkan emulagator misalnya kuning telur yang
mengandung lesitin. Sistem koloid ini dikenal sebagai
mayonnaise

Terima Kasih