Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Kekerasan adalah suatu perbuatan yang dapat berupa fisik maupun non fisik, dilakukan
secara aktif maupun pasif (tidak berbuat), dikehendaki oleh pelaku, yang dapat merugikan pada
korban (fisik atau psikis) yang tidak dikendaki oleh korban. Kekerasan terhadap perempuan
merupakan suatu masalah global dan erat kaitannya dengan hak asasi manusia terutama
perempuan. Dalam hasil Susesnas tahun 2006 menunjukkan terdapat 2,3 juta kasus (3,07 %)
kekerasan terhadap perempuan(Pasalbessy J D, 2010; Depkes, 2010).
Kasus kekerasan terhadap perempuan layaknya fenomena gunung es.Sebanyak 77 %
korban kekerasan terhadap perempuan tidak melaporkan kasus kekerasan dan tidak melakukan
upaya apapun dan hanya 17 % dari perempuan yang nenperoleh layanan dari LSM dan pekerja
sosial dan 6 % dari tokoh masyarakat. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencegah
serta menganggulangi permasalahan kekerasan terhadap perempuan dengan ikut menandatangani
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan atau CEDAW ( The
Convention on the Elimination of All Form of Discrimination Again Woman ) serta melalui UU
No.7 Tahun 1984. Namun adanya Undang-Undang tersebut tidak memberi dampak signifikan
bila seluruh pihak tidak memiliki kesadaran untuk ikut berperan dalam mencegah serta
menanggulangi kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi bagi
masyarakat agar seluruh masyarakat dapat berpartisipasi dalam mencegah serta menanggulangi
kekerasan terhadap perempua (Arivia G,2006; Depkes, 2010).

ISI
Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin
berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis,
termasuk ancaman tindakan tertentu,pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi. (Pasal 1 Deklarasi
Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan / Declaration on the Elimination of Violence
Against Women - 1994)
Berbagai studi mengenai kekerasan terhadapperempuan menunjukkan bahwa :
Pelaku kekerasan terhadap perempuan hampir seluruhnya adalah laki-laki.
Pelaku kekerasan justru sebagian besar adalah laki-laki yang merupakan teman/pasangan
korban.
Pada tindakan kekerasan fisik hampir selalu disertai kekerasan psikologis dan verbal.
Tindak kekerasan, atau violence, pada dasarnya merupakan suatu konsep yang makna dan
isinya sangat tergantung pada masyarakat sendiri, seperti dikatakan oleh Michael Levi. Jerome
Skolnick bahkan mengatakan bahwa tindak kekerasan merupakan "... an ambiguous term whose
meaning is established through political process (sebuah istilah yang ambigu/mendua yang
ditentukan melalui suatu proses politik)". Apapun, bila dilihat dari bentuknya, tindak kekerasan
mempunyai dampak yang sangat traumatis bagi perempuan, baik dikaitkan maupun tidak dengan
kodrat perempuan sendiri.
Kekerasan terhadap kaum perempuan adalah segala bentuk kekerasan yang berdasar pada
jender yang akibatnya berupa atau dapat berupa kerusakan atau penderitaan fisik, seksual,

psikologis pada perempuan-perempuan, termasuk disini ancaman-ancaman dari perbuatanperbuatan semacam itu, seperti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan,
baik yang terjadi ditempat umum atau di dalam kehidupan pribadi seseorang. Jadi, kekerasan
yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk kekerasan dari segi fisik, melainkan dari segi nonfisik.
Pada umumnya, Perempuan memiliki rasa takut terhadap kejahatan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan apa yang dirasakan pria. Jika dikaitkan dengan isu tindak kekerasan
terhadap perempuan, derita yang dialami perempuan - baik pada saat maupun setelah terjadinya
kekerasan - pada kenyataannya jauh lebih traumatis daripada yang dialami laki-laki. Trauma
yang lebih besar umumnya terjadi bila kekerasan ini dilakukan oleh orang- orang yang
mempunyai hubungan khusus dengan dirinya, misalnya keluarga sendiri (ayah, paman, suami,
pacar), orang-orang yang berkenaan dengan pekerjaannya (atasan atau teman kerja). Trauma
yang pernah dialami perempuan akibat tindakan menyakitkan dan menakutkan akan terus
membekas pada diri seseorang (Jersild, 1973). Orang yang terus menerus dalam keadaan tegang,
bimbang, takut, lambat laun akan mengalami kelainan jiwa (psychoneurose) yang
manisfestasinya dapat bermacam-macam, mulai dari yang ringan sampai yang berat.

Bentuk-Bentuk Tindak Kekerasan terhadap Perempuan


Jenis-jenis kekerasan dalam perempuan adalah :
a. Kekerasan fisik
Dapat berupa pukulan, dorongan, cubitan,tendangan, jambakan, cekikan, bekapan, luka
bakar, dll.Kadang diikuti oleh kekerasan seksual baik berupa serangan ke alat alat
seksual maupun persetubuhan paksa / perkosaan.
b. Kekerasan psikis
Perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada
seseorang.
c. Kekerasan seksual
Senggama perpaduan antara 2 alat kelamin yang berlainan jenis guna memenuhi
kebutuhan biologik yaitu kebutuhan seksual
Senggama yang legal :
1. Ada izin (consent) dari yang disetubuhi
2. tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya,tidak sedang dalam keadaan terikat
perkawinan dengan lain dan bukan anggota keluarga dekat.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), tindak kekerasan yang telah diatur
lebih banyak merupakan tindak kekerasan secara fisik. Rumusan mengenai tindak kekerasan ini
sebagian besar bersifat umum dilihat dari segi korban, yakni :
1.

pornografi (Pasal 282 dan seterusnya)

2.

perbuatan cabul (Pasal 290 dan seterusnya)

3.

penganiayaan (Pasal 351 dan seterusnya)

4.

pembunuhan (Pasal 338 dan seterusnya)

5.

penculikan (Pasal 328 dan seterusnya)


Ketentuan pidana yang secara khusus menyebut perempuan sebagai korban hanyalah

yang berkenaan dengan :


1.

perkosaan (Pasal 282)

2.

pengguguran kandungan tanpa seizin perempuan yang bersangkutan (Pasal 347)

3.

perdagangan perempuan (Pasal 297)

4.

melarikan perempuan (Pasal 332)


Di samping kejahatan-kejahatan di atas, sejumlah tindak kekerasan fisik lainnya ternyata

tidak diberi sanksi pidana, dan akibatnya adalah walaupun terjadi viktimisasi terhadap
perempuan, tidak dapat dilakukan tindakan hukum apapun terhadap pelakunya, misalnya:
1.

Hubungan seksual/persetubuhan antara saudara (incest)

2.

Perkosaan dalam perkawinan (marital rape)

3.

Pelecehan seksual (sexual harrashment)


Tindak kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga belum mendapat tempat

di dalam sistem hukum pidana Indonesia. Adanya anggapan bahwa masalah tindak kekerasan
terhadap perempuan - terutama yang berkenaan dengan tindak kekerasan dalam rumah tangga
merupakan masalah keluarga yang sebaiknya diselesaikan dalam keluarga. Padahal kalau
dibiarkan tindakan ini berlanjut, akan timbul korban lebih banyak.

Tindak kekerasan non-fisik yang dapat terjadi pada perempuan, yang ada sanksi
pidananya misalnya penghinaan di muka umum (Pasal 310 dan seterusnya). Namun
kenyataannya, Pasal ini sangat jarang dipergunakan untuk membawa suatu kasus ke dalam
proses peradilan pidana, disebabkan pada struktur dan budaya masyarakat yang ada, termasuk
pandangan perempuan sendiri tentang kedudukan mereka dalam masyarakat.
Dalam hal terjadi kasus tindak kekerasan terhadap perempuan, seringkali perempuan
kurang memiliki keberanian untuk melapor. Seperti yang terjadi pada kasus Ceplis yang telah
diperkosa oleh tiga pemuda pada tanggal 30 September 2001 di Cilacap. Sedangkan korban
melapor ke Polisi pada tanggal 8 Oktober 2001. Selisih antara waktu kejadian dengan waktu
pelaporan yang cukup lama mengindikasikan adanya ketidakberanian korban dalam menghadapi
kasus kekerasan yang dialaminya dan juga tentunya trauma yang dialami korban setelah kejadian
tersebut. Kondisi ini akan bertambah berat bagi korban ketika menjalani proses pemeriksaan di
kepolisian. Pada saat pemeriksaan, korban akan menjadi korban untuk kedua kalinya karena
harus menceritakan kembali peristiwa tragis yang dialaminya. Tanpa disadari, korban akan
mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.
Keadaan yang tidak menguntungkan itu diperburuk dengan adanya sikap sebagian
masyarakat. Biasanya korban perkosaan sering menjadi sorotan dan pergunjingan, bahkan
pengucilan oleh masyarakat sekeliling. Oleh karena itu, banyak pula dari korban yang tidak
melapor tentang terjadinya tindak kekerasan yang dialaminya karena takut akan resiko yang
masih harus ditanggungnya.
Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan terhadap Perempuan

Sebagai suatu bentuk kejahatan, tindakan kekerasan agaknya tidak akan pernah hilang
dari muka bumi ini, sebagaimana pula tindak-tindak kejahatan lainnya. Namun, bukan berarti
tindakan kekerasan ini tidak dapat dikurangi.Pemecahan yang menyeluruh untuk mencegah
tindak kekerasan terhadap perempuan seharusnya berfokus pada masyarakat sendiri, yakni
dengan mengubah persepsi mereka tentang tindak kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal ini,
harus diubah pandangan masyarakat yang selalu menganggap bahwa perempuan hanyalah warga
negara kelas dua (second class citizen).
Ketidakpedulian masyarakat terhadap masalah tindak kekerasan terhadap perempuan pun
harus diubah. Dalam hal ini, struktur sosial, persepsi masyarakat tentang perempuan dan tindak
kekerasan terhadap perempuan, serta nilai masyarakat yang selalu ingin tampak harmonis dan
karenanya sulit mengakui akan adanya masalah dalam rumah tangga, merupakan tiga hal pokok
penyebab yang mendasari ketidakpedulian tersebut.
Untuk itu, dibutuhkan suatu pendidikan publik/penyuluhan untuk membuat masyarakat
menyadari akan hak-hak dan kedudukan perempuan dalam masyarakat, dan yang secara khusus
menjelaskan tindak kekerasan terhadap perempuan, termasuk tentang hak-hak mereka, dan juga
tentang tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan
terhadap perempuan.
KUHP sebagai salah satu sumber hukum pidana yang mempunyai kaitan langsung
dengan tindak kekerasan terhadap perempuan, dapat dijadikan instrumen dalam penanggulangan
secara yuridis. Namun, kelemahan yang dimiliki oleh KUHP peninggalan kolonial sudah
seharusnya dibenahi dengan membuat KUHP nasional. Sebab seperti diketahui, masih banyak
perilaku tindak kekerasan terhadap perempuan yang belum tercantum di dalam KUHP.

Pemberlakuan prosedur yang baku dalam hal penanganan kasus-kasus yang berkenaan
dengan tindak kekerasan terhadap perempuan oleh aparat penegak hukum itu diperlukan. Sebab,
seringkali penanganan terhadap kasus tindak kekerasan terhadap perempuan itu berbeda-beda
tergantung kemampuan individu yang dimiliki oleh personil penegak hukum. Prosedur itu harus
berorientasi pada korban dan melakukan upaya awal untuk membantu korban dalam mengatasi
trauma yang dialaminya akibat tindak kekerasan yang menimpanya.
Kekerasan dalam rumah tangga
Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Kekerasan dalam rumah
tangga meliputi kekerasan fisik , kekerasan psikologis , kekerasan seksual , kekerasan ekonomi .
Faktor Pengaruh KDRT :

Masyarakat
Lingkungan
Hubungan
Individu

Lingkup Rumah Tangga Dalam Undang-undang Meliputi (Pasal 2 Ayat 1) :


a. Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri).
b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud

dalam huruf a
c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut
(Pekerjaan Rumah Tangga).
Dampak Kekerasan Terhadap Perempuan

Berdasarkan waktu :

Jangka pendek l
Jangka panjang

Berdasarkan bentuk

Fisik
Non fisik
Pengaruh terhadap masyarakat

KESIMPULAN
Upaya untuk mencegah dan atau menanggulangi berbagai perilaku kekerasan yang dialami
perempuan dan anak sudah mesti mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Oleh sebab

itu, pendekatan dalam penanganan masalah ini harus bersifat terpadu (integrated), di mana selain
pendekatan hukum juga harus mempertimbangkan pendekatan non hukum yang justru
merupakan penyebab terjadinya kekerasan. Dengan cara meningkatkan kesadaran perempuan
akan hak dan kewajibannya di dalam hukum, meningkatkan kesadaran masyarakat betapa
pentingnya usaha untuk mengatasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan, meningkatkan
kesadaran penegak hukum agar bertindak cepat dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan,
memberikan bantuan dan konseling terhadap korban kekerasan terhadap perempuan, melakukan
pembaharuan sistem pelayanan kesehatan yang kondusif guna menanggulangi kekerasan
terhadap perempuan. Disamping itu bantuan media massa (cetak dan elektronik) untuk lebih
memperhatikan masalah tindak kekerasan terhadap perempuan pemberitaannya, termasuk
memberi pendidikan publik tentang hak-hak asasi perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
Pasalbessy, J., D. 2010. Dampak Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak serta
Solusinya. Jurnal Sasi 16(3): 8-12.