Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mangan merupakan salah satu dari 12 unsur terbesar yang tergantung
dalam kerak bumi. Mineral mangan yang diketahui ada sekitar 300 jenis,
namun yang sering dijumpai dalam cebakan bijih komersial ada 13 jenis.
Pirolusit dan psilomelan merupakan mineral yang umum menjadi cebakan
bijih mangan. Di Indonesia, cadangan mangaan cukup besar namun tersebar
di banyak lokasi, yang secara individu umumnya berbentuk kantong atau
lensa berukuran kecil dengan kadar yang bervariasi.
Bijih mangan utama adalah pirolusit dan psilomelan, yang mempunyai
komposisi oksida dan terbentuk dalam cebakan sedimenter dan residu.
Mangan mempunyai warna abu-abu besi dengan kilap metalik sampai
submetalik, kekerasan 2 6, berat jenis 4,8, massif, reniform, botriodal,
stalaktit, serta kadang-kadang berstruktur fibrous dan radial. Mangan
berkomposisi oksida lainnya namun berperan bukan sebagai mineral utama
dalam cebakan bijih adalah bauxite, manganit, hausmanit, dan lithiofori,
sedangkan yang berkomposisi karbonat adalah rhodokrosit, serta rhodonit
yang berkomposisi silika.
Cebakan mangan dapat terjadi dalam beberapa tipe, seperti cebakan
hidrotermal, cebakan sedimenter, cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava
bawah laut, cebakan metamorfosa, cebakan laterit dan akumulasi residu.
Sekitar 90% mangan dunia digunakan untuk tujuan metalurgi, yaitu untuk
proses produksi besi-baja, sedangkan penggunaan mangan untuk tujuan nonmetalurgi antara lain untuk produksi baterai kering, keramik dan gelas, kimia,
dan lain-lain.

Permodelan Mangan

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan ini adalah
-

Untuk mengetahui genesa deposit Mangan.

Untuk mengetahui model eksplorasi untuk deposit Mangan.

Untuk mengetahui model penambangan deposit Mangan.

Untuk mengetahui model pengolahan Mangan.

Untuk mengetahui pemanfaatan dari Mangan.

1.3 Metode Penulisan


Metode penulisan yang digunakan yaitu :
a. Studi literatur
Studi literatur diperlukan untuk mengetahui dasar dasar teori yang dapat
menjadi acuan penulisan.
b. Pengumpulan data sekunder
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah pengambilan data yang
telah ada seperti jurnal, laporan penelitian, dan karya tulis ilmiah.

1.4 Manfaat Penulisan


Melalui paper ini diharapkan agar pembaca dapat :
-

Mengetahui genesa deposit Mangan.

Mengetahui model eksplorasi untuk deposit Mangan.

Mengetahui model penambangan deposit Mangan

Mengetahui model pengolahan Mangan.

Mengetahui pemanfaatan dari Mangan.

Permodelan Mangan

BAB II
TEKTONIK LEMPENG

2.1 Teori Pergerakan Lempeng


Menurut teori kerak bumi (litosfer) dapat diterangkan ibarat suatu
rakit yang sangat kuat dan relative dingin yang mengapung di atas mantel
astenosfer yang liat dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau
es yang mengapung di atas air laut. Teori tentang pergerakan lempeng
lithosfer, atau Tektonik Lempeng, menunjang untuk memahami keberadaan
dan kejadian struktur regional.

Gambar 2.1
Proses Tektonik Lempeng
Ada dua jenis kerak bumi yaitu kerak samudera yang tersusun oleh
batuan yang bersifat basa dan sangat basa, yang dijumpai pada samudera
yang sangat dalam, dan kerak benua yang tersusun dari batuan asam dan lebih
tebal dari kerak samudera.
Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya
aliran panas yang mengalir di dalam astenosfer menyebabkan kerak bumi ini
pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerak
Permodelan Mangan

bumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak
samudera atau keduanya. Arus konveksi tersebut merupakan kekuatan utama
yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng. Pergerakan lempeng
kerak bumi ada tiga macam, yaitu pergerakan yang saling mendekat, saling
menjauh, dan saling berpapasan.

Gambar 2.2
Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan
dimana salah satu dari lempeng akan menujam ke bawah. Daerah penujaman
membentuk suatu palung yang dalam, yang biasa merupakan jalur gempa
bumi yang kuat. Dibelakang alur penujaman akan terbentuk rangkaian
kegiatan magmatik dan gunung api serta berbagai cekungan pengendapan.
Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara kedua lempeng
IndoAustralia dan lempeng Eurasia menghasilkan jalur penujaman di selatan
pulau Jawa dan jalur gunung api Sumatera, Jawa dan Nusa tenggara, dan
berbagai cekungan seperti Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera
Selatan dan cekungan Jawa Utara.
Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan
peregangan kerak bumi dan akibatnya terjadi pengeluaran material baru dari

Permodelan Mangan

mantel membentuk jalur magmatik atau gunung api. Contoh pembentukan


gunung api di pematang tengah samudera di laut Pasifik dan benua Afrika.
Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar
yang besar seperti misalnya sesar besar San Andreas di Amerika.Pergerakan
lempeng kerak bumi yang saling bertumbukan akan membentuk zona
subduksi dan menimbulkan gaya yang bekerja baik horizontal maupun
vertical, yang akan membentuk pegunungan lipatan, jalur gunung
api/magmatic, persesaran batuan dan jalur gempa bumi serta terbentuknya
wilayah tektonik tertentu. Selain itu terbentuk juga berbagai jenis cekungan
pengendapan batuan sedimen seperti palung (parit), cekungan busur muka,
cekungan antar gunung dan cekungan busur belakang.

2.2 Jalur Orogenetik


Jalur orogenik atau Orogen merupakan jalur tempat terjadinya
konsentrasi deformasi mekanik atau aktifitas termal. Jalur ini merupakan
rangkaian struktur regional utama, yang mencerminkan distorsi secara
sistematik dari kerak bumi dimana struktur tersebut ditemukan.

Gambar 2.3
Jalur Orogenetik

Permodelan Mangan

Jalur orogen merupakan produk dari pergerakan lempeng lithosfer,


yang terbentuk sepanjang tepian lempeng (plate margins) atau dekat dengan
batas lempeng (plate boundaries). Ekspresi fisiografik dari orogen adalah
Rangkaian Pegunungan (Mountain belts/systems).

2.3 Tektonik Lempeng


Jalur gunung api yang terjadi akibat subduksi antar lempeng dari
erupsi gunungapi yang terjadi berupa abu gunungapi membawa unsur hara
yang menyuburkan tanah. Endapan mineral logam, seperti emas, tembaga dan
nikel, akan banyak dijumpai berasosiasi dengan lingkungan gunung api.
Di wilayah jalur gunung api/magmatic biasanya akan terbentuk zona
mineralisasi emas, perak dan tembaga, sedangkan pada jalur penujaman akan
ditemukan mineral kromit. Setiap wilayah tektonik memiliki ciri atau indikasi
tertentu, baik batuan, mineralisasi, struktur maupun kegempaan. Intrusiintrusi dangkal di sekitar gunung api menyediakan energi panas bumi yang
sangat besar yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.
Oceanic Crust di sepanjang SumatraJawaSulawesi- Nusa Tenggara
kaya akan mangananese, cobalt, nickel dalam tubuhtubuh intrusifnya. Dalam
depositnya kaya akan manganese nodules. (gambar 2.4)

Permodelan Mangan

Gambar 2.4
Zona Pembentukan Deposit Mineral
Menurut park (1956), cebakan mangan dibagi dalam 5 tipe yaitu :
- Cebakan Hidrothermal.
- Cebakan sedimenter, baik bersama-sama maupun tanpa affiliasi vulkanik
- Cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut
- Cebakan metamorfosa
- Cebakan laterit dan akumulasi residual
Dari kelima tipe cebakan tersebut, sumber mangan komersial berasal
dari cebakan sedimenter yang terpisah dari aktivitas vulkanik dan cebakan
akumulasi residual.
Cebakan sedimen laut mempunyai cirri khusus yaitu berbentuk
perlapisan dan lensa-lensa. Seluruh cebakan biji karbonat berasosiasi dekat
dengan batuan karbonat atau grafitik, dan kadang-kadang mengandung
lempung yang menunjukkan adanya suatu pengurangan lingkungan
pengendapan dalam cekungan terdekat. Sebaliknya cebakan bijih oksida
lebih umum dan berasosiasi dengan sediment klasik berukuran kasar, dengan
sedikit atau sama sekali bebas dari unsure karbon organic. Cebakan bijih ini
dihasilkan di bawah kondisi oksidasi yang kuat dan bebas sirkulasi air.
Permodelan Mangan

Cebakan bijih oksida merupakan cebakan sedimenter yang sangat


komersial dengan kadar bijih 25-40% Mn, sedangkan cebakan bijih karbonat
kadarnya cenderung lebih kecil, yaitu 15-30% Mn.

2.4 BATAS LEMPENG (PLATE BOUNDARIES)


Tepi dari lempeng atau kontak antar lempeng, merupakan daerah
dengan aktifitas gempa yang intensif. Batas tersebut merupakan pencerminan
dari pergerakan lempeng yang berupa batas :
a. Pertemuan (Convergence), Subduksi/Penunjaman (Subdution), Tumbukan
(Collision),Suture (zone)
b. Pemisahan (Divergence)
c. Pergeseran (Strike-Slip)

2.5 BATAS KONVERGEN


a. Busur Kepulauan (Island Arc)
Batas intreoceanic, terjadi penunjaman salah satu lempengnya.Peleburan
sebagian lithosfer (oceanic) >> magma>> Busur Volkanik
b. Pegunungan Tepi Kontinen (Continental Margin Mountain)
Jalur Pegunungan Orogen Jalur utama pembentukan struktur regional
:Himalaya, Alps, Appalachian, Andes.
c. Palung (Trench)
Jalur penunjaman, didalam proses, terjadi :Penyuguan (scrapping dan
accreting) sedimen dan material kerak samudra. Accretionary Melange
Wedge ; struktur bancuh/campur aduk (chaotic), Metamorfism (P tinggi).
d. Busur Magmatik dan Busur Volkanik (Magmatic Arc & Volcanic Arc)
Produk : Composite Volcanoes , Cinder cone,

Volcanic domes,

Ash flows.
e. Cekungan (Basin)
Lingkungan struktur dan pengendapan :Forearc Basin, inter-arc Basin,
Back-arc Basin, Foreland Basin.

Permodelan Mangan

2.6 BATAS DIVERGEN


Pematang Samudera (Ocean ridge)
1. Rift
2. Ridge
3. Seafloor Spreading
4. Triple Junction
Passive Continental Margin
1. Batas tepi kontinen
2. Carbonate Platform

Permodelan Mangan

BAB III
MODEL GENETIK MANGAN

3.1 Genesa Bahan Galian (Mangan)


Mangan merupakan salah satu mineral dari 12 unsur yang cukup
banyak terdapat di kerak bumi. Di samudra diperkirakan terdapat lebih dari 3
triliun ton nodul mangan berukuran sebesar kentang. Mineral mangan di
seluruh dunia terdapat dengan jumlah 0,1 % dari kandungan kerak bumi. Di
samudra Pasifik nodul mangan terbentuk sekitar 10 juta ton per tahun.
Berdasarkan hasil penyelidikan USBM (Suhala, 1997) diketahui bahwa zona
kadar mangan terdapat dalam cekungan sedimen pasifik bagian timur yang
terletak pada jarak 2200 km sebelah tenggara Los Angeles, California. Di
zona ini nodul mangan terjadi dalam lapisan tunggal dan tidak teratur.
Mineral logam mangan sangat luas pemakaiannya sehingga perlu
dilakukan eksplorasi untuk kelangsungan kegiatan industri logam. Mangan
banyak dijumpai dalam

bentuk

cebakan

bijih

sedimen, umumnya

berkomposisi oksida serta berasosiasi dengan kegiatan vulkanik dan batuan


yang bersifat basa. Mangan paling sering dijumpai dalam bentuk mineral
pirolusit dan psilomelan, kadang-kadang dijumpai pula rhodokrosit, rhodonit,
manganit, brausit, dan nsutit. Cadangan mineral logam mangan di Indonesia
cukup besar, namun tersebar di banyak lokasi yang secara individu umumnya
berbentuk lensa berukuran kecil dengan kadar yang bervariasi. Terdapat
ratusan mangan yang telah diketahui tetapi hanya 13 mineral saja yang sering
dijumpai dalam cebakan bijih secara komersial.

Permodelan Mangan

10

Gambar 3.1
Mineral Mangan
Bijih utama mangan yang sering dijumpai dan bernilai ekonomis
adalah pirolusit dan psilomelan. Dikenal 5 jenis mineral bijih yang
mengandung mangan (Sukandarrumidi, 1998) :
1. Pirolusit (MnO2)
Merupakan mineral oksida berwarna abu-abu kilap metalik, kekerasan
2 - 2,5, BD 4,4 - 4,8 gr/cc. Sistem Kristal tetragonal, belahan prismatik,
merupakan mineral hasil oksidasi. Umumnya pirolusit adalah mineral hasil
oksidasi sekunder atau vein. Pirolusit yang terbentuk sebagai pseudomorf
dari manganit biasanya bersifat masif ataupun reniform kadang berstruktur
berserabut dan radial. Selain sebagai kumpulan kristal yang kasar, pirolusit
juga terdapat sebagai kristal berbentuk jarum yang halus.
2. Psilomelan (Ba, H2O) 4Mn10O20
Merupakan deposit mineral sekunder terhidrasi berwarna abu-abu,
kekerasan 5 - 6, kilap submetalik, sebagai mineral amorf, bersifat massif,
reniform botroidal atau stalaktitik. Sehingga lebih umum dijumpai dalam
jebakan sekunder, berat jenis 3,3 - 4,7 gr/cc, pecahan brittle, sistem kristal
ortorombik.
Permodelan Mangan

11

3. Manganit (Mn2O3.H2O)
Mangan berkomposisioksida , d a n merupakan mineral terhidrasi yang
berwarna hitam besi atau abu-abu baja, monoklin, prismatik, kekerasan 4,
berat jenis 4,2 - 4,4 gr/cc, belahan sempurna, pecahan brittle. Basic
manganese oxide, umumnya dijumpai dalam bentuk urat yang terbentuk
pada temperatur cukup tinggi pada batuan basa.
4. Braunit (3Mn2O3.MnSiO3)
Merupakan Mangan berkomposisi oksida berwarna coklat kehitaman
sering mengandung silika sebanyak 10 %. Berat jenis 4 - 4,2 gr/cc,
berserabut atau kolumnar, mineral ini umumnya dijumpai dalam urat atau
cebakan sekunder. Umumnya berasosiasi dengan bixbyite (Mn,Fe)2O3
dan hausmanie (MnMn2O4).
5. Rhodokrosit (MnCO3)
Warna merah muda hingga coklat, hexagonal, kilap kaca, pecahan
choncoidal, belahan sempurna, kekerasan 3,5 - 4 Mosh, berat jenis
3,4 - 3,6 gr/cc. Mineral ini banyak dijumpai pada vein bersama kuarsa
karena

proses

metamorfisme

yang

bersentuhan

dengan

batuan

berkomposisi karbonat membentuk replacement pada batuan kapur.


Mineral mangan lainnya yang hanya dijumpai terbatas dalam cebakan
bijih adalah hausmanite (Mn3O4), todokrosit (Na,Ca,KMn2) O123H2O,
lithiofonit dan nsutit. Hausmanite berwarna coklat kehitaman dengan kilap
sub metalik, sedang todokrosit merupakan mineral utama dalam nodul
mangan. Lithioforit berkomposisi aluminiun-lithium mangan oksida dengan
kandungan kobal, nikel dan tembaga yang bervariasi.

3.2 Karakteristik Mangan (Mn)


3.2.1 Sifat Fisik Mangan
Mangan mempunyai warna putih-kelabu dan menyerupai besi.
Mangan berkilap metalik sampai submetalik, kekerasan 2 6, berat
jenis 4,8, reniform, massif, botriodal, stalaktit, dan kadang-kadang
berstruktur radial dan berserat. Mangan adalah logam keras dan sangat

Permodelan Mangan

12

rapuh, bisa dileburkan dan disatukan walaupun sulit, tetapi sangat


mudah untuk mengoksid mangan. Logam mangan dan ion-ion biasa
beliau mempunyai daya magnet yang kuat.

Gambar 3.2
Mineral Mangan

3.2.2 Sifat Kimia Mangan


Mangan termasuk golongan transisi yang merupakan logam
berwarna putih abu-abu yang penampilannya serupa dengan besi tuang.
Memiliki titik lebur yang tinggi kira-kira 1250 C. Ia bereaksi dengan
air hangat membentuk mangan (II) hidroksida dan hidrogen

[1]

. Cahaya

photogenerasi pada Mn(CO)4L radikal (L= CO, L) dari 1,2-diaxMn2(CO)5L2 kehadiran halida organik atau campuran fisik dari
Mn2(CO)3L2. (L = PR3) dan solusi halida organik hasil Mn(CO)5-yLyX
sebagai hasil satu-satunya.
Tingkat oksidasi tertinggi bagi mangan sesuai dengan jumlah
total elektron 3d dan 4s, tetapi hanya terjadi dalam senyawa okso
MnO4-, Mn2O7, dan MnO3F. Senyawa-senyawa ini menunjukkan
beberapa kemiripan dengan senyawa halogen yang sesuai. Mangan
relatif melimpah, dan terdapat dalam banyak deposit, terutama oksida,
oksida hidrat, atau karbonat. Logam dapat diperoleh daripadanya atau
dari Mn3O4 yang didapat dengan memanggangnya, melalui reduksi
Permodelan Mangan

13

dengan Al. Mangan cukup elektropositif, dan mudah melarut dalam


asam bukan pengoksidasi [3].
Selain titik cairnya yang tinggi, daya hantar listrik merupakan
sifat-sifat mangan yang lainnya. Selain itu, mangan memiliki kekerasan
yang sedang akibat dari cepat tersedianya elektron dan orbital untuk
membentuk ikatan logam [5].
Kegunaan mangan yang paling penting adalah dalam produksi
baja, dan untuk keperluan ini biasanya digunakan campuran besi mangan,
yaitu feromangan. Feromangan diproduksi dengan mereduksi campuran
besi dan oksida mangan dengan karbon. Bijih mangan yang paling utama
adalah pirolisit, MnO2

MnO2 + Fe2O3 + 5C Mn + 2Fe + 5CO


Konfigurasi elektron Mn adalah (Ar) 3d5 4s2 dengan
menggunakan 2 elektron 4s dan kemudian kelima elektron 3d yang
tidak berpasangan. Mn mempunyai bilangan oksidasi antara +2 sampai
+7. Reaksi kimia yang penting dari senyawa mangan adalah reaksi
oksidasi dan reduksi [5].
Enam oksida mangan dikenal orang MnO, Mn2O, MnO2, MnO3,
Mn2O7 dan Mn3O4. Lima dari oksida ini mempunayai keadaaan
oksidasi masing-masing +2, +3, +4, +5 dan +7, sedangkan yang terakhir
Mn3O4, merupakan mangan (II) okisda, (MnO, Mn2O3) [1].
Sumber utama senyawa mangan adalah MnO2. Jika MnO2
dipanaskan dengan penambahan alkali dan zat pengoksidasi, garam
permanganat dapat terbentuk.

3MnO2 + 6KOH + KClO3 3K2MnO4 + KCl + 3H2O

Permodelan Mangan

14

K2Mn4 diekstraksi dari bahan campuran dalam air dan dapat


dioksidasi menjadi KMnO4 (misalnya dengan Cl2 sebagai zat
pengoksidasi). Alternatif lain, jika MnO4 diasamkan dihasilkan MnO4-.
KMnO4 merupakan zat pengoksida yang penting. Untuk analisa kimia
biasanya digunakan pada larutan asam, dimana senyawa tersebut direduksi
menjadi Mn2+ [5].
Kation mangan (II) diturunkan dari mangan (II) oksida. Ia
membentuk garam-garam tak berwarna, meskipun jika senyawa itu
mengandung air kristal dan terdapat dalam larutan, warnyanya agak
merah jambu, ini disebabkan oleh adanya ion heksa kuomanganat (II)
(MnO(H2O)6)2+ ion mangan (III) tidak stabil, tetapi ada kompleks yang
mengandung mangan dalam keadaan oksidasi +3 dikenal orang. Mudah
direduksi menjadi ion mangan (II). Senyawa mangan (II) dengan
kekecualian mangan (IV) oksida adalah tidak stabil, karena ion mangan
(IV) ini mudah direduksi menjadi mangan (II). Senyawa mangan (VI)
stabil dalam larutan basa dan berwarna hijau. Pada penetralannya tejadi
reaksi disproporsionasi, tebentuk endapan mangan dikosida dan ion
manganat (VII) atau permanganat. Jika mangan (VI) oksida diolah dengan
asam, terbentuk ion-ion mangan (II). Senyawa mangan (VII) mengandung
ion manganat (VII) atau permangantat MNO4-. Permanganat alkali adalah
senyawa yang stabil yang menghasilkan larutan warna lembayung.
Semuanya merupakan zat pengoksidasi yang kuat.

Permodelan Mangan

15

BAB IV
EKSPLORASI DEPOSIT MANGAN (Mn)

4.1 Tahapan Eksplorasi


Salah satu elemen penting dalam proses penambangan adalah
eksplorasi. Eksplorasi yang baik merupakan penerapan good mining practices
dalam pra produksi tambang di lokasi IUP. Lama dan besar per satuan waktu
produksi dapat dihitung dengan memasukkan jumlah potensi mangan tersebut
dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Pada dasarnya belum ada metode eksplorasi yang paling tepat untuk
mengetahui potensi penyebaran mangan, karena penyebaran mangan yang
sulit diprediksi dan ditemukan secara sporadis. Pendekatan-pendekatan yang
bisa dilakukan adalah suatu rangkaian kegiatan eksplorasi yang merupakan
suatu kesatuan dan saling melengkapi, setiap tahapan direncanakan
berdasarkan tahapan sebelumnya. Apabila setiap tahapan ini dapat
dilaksanakan dengan

baik, maka tingkat keyakinan data semakin tinggi

sehingga menjadi informasi berharga dalam perencanaan produksi tambang.


Adapun tahapan-tahapan dalam eksplorasi mangan sebagai berikut :
1. Survei Tinjau
Untuk mengetahui kondisi umum suatu area IUP maka perlu melakukan
kegiatan survei tinjau. Informasi yang harus didapatkan :
a. Beberapa titik pengamatan umum (jenis batuan dan bentuk muka bumi)
b. Kondisi penduduk (pemukiman. Kearifan lokal, agama, dan lain-lain)
c. Tata guna lahan
d. Kesampaian daerah
2. Pemetaan Geologi Permukaan
Pemetaan geologi bertujuan untuk mengetahui sebaran endapan mineral
mangan yang tersingkap. Output dari kegiatan ini adalah :
a. Peta lintasan dan titik pengamatan dalam kegiatan lapangan pemetaan
geologi.

Permodelan Mangan

16

b. Peta gelogi
Peta geologi merupakan penggambaran dua dimensi kondisi geologi
lapangan meliputi jenis batuan, struktur geologi, serta sejarah
pembentukannya.
c. Penampang geologi
Penampang geologi adalah penampang yang menggambarkan urutanurutan pembentukan satuan litologi dalam peta geologi.
d. Peta geomorfologi
Peta ini menggambarkan relief muka bumi di area IUP. Peta ini penting
untuk perencanaan tambang dan infrastruktur tambang.
e. Peta tata guna lahan
Peta yang menunjukkan penggunaan lahan oleh masyarakat, misalnya
pemukiman, rumah ibadah, sekolah, pertanian, perkebunan, hutan dan
infrastruktur lain seperti jalan dan jembatan. Peta ini penting untuk
mengetahui lokasi-lokasi dalam area IUP yang tidak bisa dilakukan
proses penambangan.
f. Peta pola pengaliran
Peta pola pengairan dalam eksplorasi mangan diperlukan untuk
interprestasi struktur dan mineralisasi mangan.
g. Peta interprestasi zona mineralisasi mangan
Peta ini sangat penting untuk mengetahui zona prospeksi mangan dan
rekomendasi metode eksplorasi selanjutnya.
h. Rekomendasi-rekomendasi meliputi :
Lokasi rencana test pit
Perencanaan pemetaan bawah permukaan dengan metode geofisika
Lokasi stockpile, mesh, kantor dan gudang
3. Test Pit
Setelah dilakukan pemetaan permukaan (surface mapping) akan diketahui
lokasi-lokasi yang prospek. Informasi ini kemudian ditindaklanjuti dengan
perencanaan test pit (sumur uji) atau trenching (parit uji), jenis dan

Permodelan Mangan

17

dimensinya diatur berdasarkan kebutuhan data yang diinginkan dan pola


mineralisasi mangan dari hasil kegiatan pemetaan geologi.
4. Metode Geofisika
Metode geofisika sangat penting untuk mengetahui kondisi geologi bawah
permukaan. Metode geofisika yang dipilih dari rekomendasi kegiatan
pemetaan geologi permukaan atau berdasarkan jenis batuan yang
berasosiasi dengan mangan, metode geofisika yang biasa dipakai dalam
eksplorasi mangan adalah geolistrik dan geoscanner.
Output dari eksplorasi dengan metode geofisika ini adalah kondisi geologi
bawah permukaan termasuk di dalamnya interprestasi keterdapatan
mangan secara vertikal. Dalam kegaiatan pemetaan geologi diperoleh
penyebaran mangan dan polanya, sedangkan eksplorasi dengan metode
geofisika menghasilkan interprestasi prospek mangan secara vertikal.
5. Pemboran
Metode geofisika menghasilkan interprestasi kondisi bawah permukaan
termasuk keterdapatan mangan di dalamnya, kegaiatan pemboran
memberikan keyakinan 100% terhadap interprestasi tersebut. Disamping
memberikan keyakinan pada interprestasi metode geofisika, kegiatan
pemboran juga menghasilkan informasi berharga terkait kuantitas dan
kualitas mineral mangan serta model tida dimensi (3D) dan pendekatan
perhitungan cadangan mangan terukur secara akurat.

Permodelan Mangan

18

Model
Eksplorasi

Survei
Tinjau

Pemetaan
Geologi

Peta lintasan dan


titik pengamatan
Peta Geologi
Peta
Geomorfologi
Peta Tata Guna
Lahan
Peta Pola
Pengairan
Peta Interprestasi
Zona Mineralisasi
Lokasi Reancana
Test Pit

Test Pit

Metode
Geofisika

Sumur Uji

Geolistrik
Geoscanner

Pemboran

Gambar 4.1
Diagram Tahapan Eksplorasi Mangan

Permodelan Mangan

19

4.2 Potensi Deposit Mangan


Salah satu contoh penyelidikan potensi keterdapatan mangan (Mn)
adalah ditemukan tersebar dalam kawasan kars Gombong Selatan, baik dalam
bentuk nodul, lensa dan lapisan. Nodul dan lensa mangan ditemukan dalam
breksi vulkanik dan lava Formasi Gabon yang melandasi topografi kars.
Mangan berlapis berada di bawah batugamping pada bidang ketidakselarasan
antara Formasi Gabon dengan Formasi Kalipucang yang miring ke arah utara.
Keterdapan mangan (Mn) di daerah penyelidikan berupa nodul-nodul
yang berasosiasi dengan silika yang berada pada breksi vulkanik. Nodul ini
diliputi oleh lapisan mangan besi yang berbentuk konsentris namun tidak
terus menerus. Lapisan lempung atau silika kemudian mengisi celah-celah
diantara lapisan oksida tersebut secara tidak beraturan dan biasanya dapat
dijadikan

patokan

dalam

perhitungan

periode

pertumbuhan

nodul

bersangkutan. Keberadaan nodul mangan dalam silika/rijang dapat disebut


sebagai manganese silicates. Nodul mangan ini berasosiasi dengan lava, tufa
hijau dan breksi andesit yang mengindikasikan bahwa awalnya lingkungan
pembentukannya adalah laut dengan aktivitas gunung berapi yang berpotensi
menghasilkan black ore seperti mangan.

Gambar 4.2
Hasil Identifikasi Adanya Lensa Mangan dengan Menggunakan Metode
Geolistrik

Permodelan Mangan

20

Gambar 4.3
Proceding Pemaparan Hasil Kegiatan Lapangan (Hasil Sumur Uji)

Gambar 4.4
Block Model Mangan
Permodelan Mangan

21

BAB V
PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN

5.1 Penambangan Mangan


Penambangan

mangan

ditentukan

oleh

letak

deposit

yang

bersangkutan. Apabila depositnya terletak berada di dekat permukaan, teknik


penambangan menggunakan sistem tambang terbuka. Apabila depositnya
terdapat terlalu jauh dari permukaan maka, akan dilakukan pembuatan
sumuran yang dilanjutkan dengan sistem Gophering lebih sesuai seperti yang
dilakukan di daerah daerah keterdapatan mangan.
5.2 Aktivitas Penambangan Mangan Pada Tambang Terbuka
5.2.1 Tahap Persiapan
Kegiatan kegiatan yang dilakukan pada awal proses pengambilan atau
penambangan

bahan

galian

terdiri

dari

tahap

persiapan

(pra penambangan), Kegiatan tersebut meliputi :


1. Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilakukan sebelum tahap pengupasan lapisan tanah
penutup

dimulai.

Pekerjaan

ini

meliputi

pembabatan

dan

pengumpulan pohon yang tumbuh pada permukaan daerah yang


akan ditambang dengan tujuan untuk membersihkan daerah tambang
tersebut sehingga kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan
mudah tanpa harus terganggu dengan adanya gangguan tetumbuhan
yang ada didaerah penambangan.
Kegiatan

pembersihan

ini

dilakukan

dengan

menggunakan

Bulldozer. Pembersihan dilakukan pada daerah yang akan ditambang


yang mempunyai ketebalan overburden beberapa meter dengan
menggunakan Bulldozer dan dilakukan secara bertahap sesuai
dengan pengupasan lapisan tanah penutup. Dalam pembabatan,
pohon didorong kearah bawah lereng untuk dikumpulkan, dimana
penanganan selanjutnya diserahkan pada penduduk setempat.

Permodelan Mangan

22

2. Pengupasan Tanah Penutup


Pembuangan

lapisan

tanah

penutup

dimaksudkan

untuk

membersihkan endapan batu gamping yang akan digali dari semua


macam pengotor yang menutupi permukaanya, sehingga akan
mempermudah pekerjaan penggaliannya disamping juga hasilnya
akan relatif lebih bersih.
Lapisan tanah penutup pada daerah proyek terdiri atas dua jenis yaitu
top soil dan lapisan overburden sehingga lapisan dilakukan terhadap
lapisan top soil terlebih dahulu dan ditempatkan pada suatu daerah
tertentu untuk tujuan reklamasi nantinya.
Setelah lapisan top soil terkupas, selanjutnya dilakukan pengupasan
pada lapisan overburden lalu didorong dan ditempatkan pada daerah
tertentu dan sebagian lagi digunakan sebagai pengeras jalan.
Kegiatan

pengupasan

dilakukan

secara

bertahap

dengan

menggunakan bulldozer, dimana tahap pengupasan awal dilakukan


untuk menyiapkan jenjang pertama dan pengupasan berikutnya dapat
dilakukan bersamaan dengan tahap produksi, sehingga pola yang
diterapkan adalah seri dan paralel yang bertujuan untuk menghemat
investasi dan biaya persiapan, menghindari pengotoran endapan batu
gamping dari lapisan penutup, sehingga mempermudah dalam
pekerjaan penggalian, dan menghindari terjadinya longsoran dan
bahaya angin.
3. Persiapan Peralatan Penambangan
Penambangan

yang

akan

dilakukan

difokuskan

dengan

menggunakan peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan


diperlukan untuk menunjang kegiatan penambangan, yaitu :

Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan


pengupasan lapisan tanah penutup.

Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping


hasil dari pembongkaran keatas alat angkut.

Permodelan Mangan

23

Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front


penambangan ke tempat pabrik peremukan/penggerusan.

Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi


sebagai alat preparasi batu gamping dari front penambangan
guna mendapatkan ukuran butiran yang diinginkan oleh pasar.

Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang


akan dipakai sebagai penerangan, untuk alat pengolahan dan
menggerakkan alat alat yang bekerja didalam pabrik.

Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna


memenuhi kebutuhan peralatan dan karyawan.

5.2.2 Operasi Penambangan


Tujuan utama dari kegiatan penambangan adalah pengambilan endapan
dari batuan induknya, sehingga mudah untuk diangkut dan di proses
pada proses selanjutnya selanjutnya.
Kegiatan operasi penambangan terbagi atas tiga kegiatan, yaitu
pembongkaran, pemuatan dan pengangkutan. Adapun rincian dari
ketiga kegiatan tersebut adalah :
1. Pembongkaran
Pembongkaran merupakan kegiatan untuk memisahkan antara
endapan bahan galian dengan batuan induk yang dilakukan setelah
pengupasan lapisan tanah penutup endapan mangan tersebut selesai.
2. Pemuatan
Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan atau
mengisikan material atau endapan bahan galian hasil pembongkaran
ke dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan dilakukan setelah kegiatan
penggusuran, pemuatan dilakukan dengan menggunakan alat muat
dan diisikan ke dalam alat angkut.
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memindahkan mangan hasil
pembongkaran ke dalam alat angkut. Pengangkutan dilakukan
dengan sistem siklus, artinya truck yang telah dimuati langsung

Permodelan Mangan

24

berangkat tanpa harus menunggu truck yang lain dan setelah


membongkar muatan langsung kembali ke lokasi penambangan
untuk dimuati kembali.
3. Pengangkutan
Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut
atau membawa material atau endapan bahan galian dari front
penambangan dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih
lanjut. Kegiatan pengangkutan menggunakan Dump Truck yang
kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk dilakukan proses
peremukan (crushing), jumlah truk yang akan digunakan tergantung
dari banyaknya mangan hasil pembongkaran yang akan diangkut.

5.3 Penambangan Mangan Dengan Sistem Gophering


Selain menggunakan sistem tambang terbuka, salah satu sistem
penambangan mangan yaitu menggunakan sistem gophering. Gophering
merupakan cara penambangan untuk endapan bijih yang kecil yaitu lebih dari
3 meter, bentuknya tidak teratur dan terpisah-pisah tapi batuannya keras dan
bijihnya memiliki nilai tinggi.
Proses yang dilakukan dalam penambangan metode gophering:
1. Pembangunan lubang masuk ke tambang.
Lubang masuk dibuat sangat sederhana dengan diameter umumnya hanya
dapat untuk akses 1 orang saja.
2. Pembangunan akses menuju badan bijih.
Akses menuju badan bijih dibuat sesuai lokasi badan bijih yang menjadi
target. Terdapat 2 cara untuk menuju badan bijihberd asarkan lokasi dari
cebakan, yaitu:
a. Menggunakan drift (lubang masuk horizontal), jika lokasi badan bijih
relatif sejajar dengan jalan masuk utama.
b. Menggunakan shaft (lubang masuk vertikal), jika lokasi badan bijih
relatif di bawah jalan masuk utama.

Permodelan Mangan

25

Seperti halnya lubang masuk ke tambang, akses menuju badan bijih


dibuat secara sederhana, dengan lokasi kerja yang hanya cukup untuk
dipakai satu orang saja dengan diameter sekitar 1 1,5 meter. Lubang
masuk tersebut dibuat tanpa penyangga atau hanya dengan penyangga
sederhana untuk daerah yang diperkirakan rawan runtuh.
3. Penggalian Bahan Galian
Penggalian bahan galian dilakukan dengan mengikuti arah kemenerusan
bijih. Alat yang dipakai untuk keperluan pemberaian batuan berupa alat
gali manual, seperti belincong.
4. Pengangkutan bahan galian dari dalam tambang menuju ke luar tambang
dilakukan secara manual. Jalur pengangkutan menggunakan jalan masuk
utama. Khusus untuk akses menggunakan shaft, pengangkutan dibantu
dengan sistem katrol.

Penambangan metode gophering yang baik dilakukan dengan


ketentuan:
1. Jalan masuk menuju urat bijih emas harus dibuat lebih dari satu buah, dan
dapat dibuat datar/horizontal, miring/inclined maupun tegak lurus/vertikal
sesuai dengan kebutuhan.
2. Ukuran jalan masuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan, disarankan
diameter > 100 cm.
3. Lokasi jalan masuk berada pada daerah yang stabil (kemiringan < 30) dan
diusahakan tidak membuat jalan masuk pada lereng yang curam.
4. Lubang bukaan harus dijaga dalam kondisi stabil/tidak runtuh, bila
diperlukan dapat dipasang suatu sistem penyanggaan yang harus dapat
menjamin kestabilan lubang bukaan (untuk lubang masuk dengan
kemiringan > 60 disarankan untuk selalu memasang penyangga).
5. Kayu penyangga yang digunakan disarankan kayu kelas 1 (kayu jati,
rasamala, dll). Ukuran diameter/garistengah kayu penyangga yang
digunakan disarankan tidak kurang dari 7 cm. Jarak antar penyangga
disarankan tidak lebih dari 0.75 x

Permodelan Mangan

26

diameter bukaan (tergantung kelas kayu penyangga yang digunakan dan


kekuatan batuan yang disangga).
6. Sirkulasi udara harus terjamin sehingga dapat menjamin kebutuhan
minimal 2 m3/menit, bila diperlukan dapat digunakan kompresor dengan
penghantar berupa selang/pipa plastik.
7. Disekitar lubang masuk dibuat paritan untuk mencegah air masuk, dan
paritan diarahkan menuju ke kolam pengendap dengan pengendapan
dilakukan bertahap.

Gambar 5.1
Sistem Penambangan Gophering

5.4 Pengolahan Mangan


Sistem pengolahan mangan yang digunakan adalah pengolahan kering (dry
processing plant). Pada prinsipnya, metode pengolahan ini adalah tata cara
membersihkan atau menaikan kadar mangan dari hasil penambangan dan
memilih mangan dengan kadar dan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan.
Selanjutnya untuk menghasilkan ukuran mangan yang sesuai dengan
kebutuhan dilakuakn pengecilan ukuran (crushing) dan pemisahan ukuran
(screening).

Permodelan Mangan

27

1. Pengecilan Ukuran
Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan ukuran mangan yang
berukuran 70 mm dengan menggunakan satu unit Jaw Crusher.
Dipilihnya Jaw Crusher karena hasil dari alat ini relatif homogen
(seragam). Sebelum masuk ke alat pengecil ukuran (crusher), mangan hasil
penambangan ditampung dalam hopper, yang selanjutnya masuk ke
vibrating grizzly feeder sebagai pemisah awal dengan ukuran 70 mm.
Mangan dengan ukuran 70 mm akan turun ke air washing unit dan yang
ukurannya > 70 mm akan masuk sebagai umpan dari alat pengecilan
ukuran. Selanjutnya mangan berukuran > 70 mm ini mengalami proses
pengecilan ukuran dan hasilnya akan turun pada alat pemisah ukuran.
Kemampuan produksi alat ini adalah 17-25 ton/jam dan tergantung pada
faktor ukuran maksimum.
2. Air Washing Unit
Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan mangan bersih berukuran 70
mm dengan menggunakan unit modifikasi double roll crusher yang
dilengkapi dengan kawat pembersih di sekeliling roll crusher

dan

kompresor untuk menghasilkan udara bertekanan untuk meniup kotoran


keluar dari alat.
3. Belt Conveyor
Alat ini bertujuan untuk manyalurkan atau memindahkan mangan dari satu
alat ke alat lain dalam sistem pengolahan. Pada sistem pengolahan
diperlukan 5 unit belt conveyor yaitu :
a. Belt conveyor 1
Memindahkan mangan ukuran > 70 mm dari vibrating screen 1 ke belt
conveyor 2. Kondisi belt conveyor 1 :
- Lebar

: 16 in

- Panjang

: 8m

- Kecepatan

: 100 fpm

- Jumlah idler : 15 dengan diameter 4 in


- Tinggi

Permodelan Mangan

:2m

28

b. Belt conveyor 2
Memindahkan mangan ukuran > 70 mm dari belt conveyor 1 ke jaw
crusher. Kondisi belt conveyor 2 adalah :
- Lebar

: 16 in

- Panjang

: 8m

- Kecepatan

: 100 fpm

- Jumlah idler : 15 dengan diameter 4 in


- Tinggi

:2m

- HP

: 5 HP

c. Belt conveyor 3
Memindahkan mangan ukuran < 70 mm dari air washing unit ke
vibrating screen. Kondisi belt conveyor 3 adalah :
- Lebar

: 16 in

- Panjang

: 10 m

- Kecepatan

: 100 fpm

- Jumlah idler : 30 dengan diameter 4 in


- Tinggi

:2m

- HP

: 7 HP

d. Belt conveyor 4
Memindahkan mangan ukuran 10-70 mm dari vibrating screen ke stock
pile. Kondisi belt conveyor 4 adalah :
- Lebar

: 16 in

- Panjang

: 15 m

Permodelan Mangan

29

Gambar 5.2
Stock Pile and Processing Plant

5.5 Peleburan Mangan


Mangan diperoleh dengan ekstraksi oksida-oksidanya dari tambang bijihnya.
Prosesnya ada beberapa cara antara lain:
- Reduksi dengan karbon
Oksida mangan yang telah diekstraksi dicampur dengan karbon lalu
dipanaskan, sehingga terjadi reaksi:
Mn3O4 + 4C 3Mn + 4CO
MnO +2C Mn + 2CO
- Proses alumino thermic
Bijih dicuci dengan mengalirkan air dan dipanggang dengan dialiri udara
lalu dipanaskan terus sampai pijar(merah) dimana MnO2 akan berubah
menjadi Mn3O4.
MnO2 Mn3O4 + O2

Permodelan Mangan

30

Oksida yang terbentuk dicampur dengan bubuk aluminium dalam krus,


lalu ditimbuni dengan bubuk magnesium dan barium peroksida.
Reduksi terjadi dalam pemanasan 3Mn3O4 + 8Al 4Al2O3 + 9Mn
- Metode elektrolisa
Mangan secara besar-besaran diproduksi dengan cara ini:
Bijih digiling dan dipekatkan dengan proses gravity. Bijih yang sudah
dipekatkan dipanggang (elumino proses) sampai terbentuk Mn3O4
Mn3O4 diubah menjadi MnSO4.
Mn3O4 dipanaskan bersama H2SO4 encar maka terbentuk MnSO4 (larut)
dan MnO2 (tak larut). MnO2 dapat dipijarkan lagi menjadi Mn3O4 dan
proses diulang seperti diatas.
Elektrolisa larutan MnSO4 dielektrolisa menggunakan katoda merkuri.
Mangan dibebaskan pada katoda ini membentuk amalgam. Selanjutnya
amalgam didestilasi dimana Hg akan menguap lebih dulu dan tinggal
mangan.

5.4.1 Peleburan Mangan Dengan Proses Jigging .


Merupakan proses pemisahan mineral berharga dari gangue nya secara
mekanis menghasilkan produk yang kaya akan mineral berharga
(konsentrat) dan tailing (produk yang umumnya terdiri dari gangue
mineral). Keuntungan dilakukan pengolahan bahan galian :
1. Bila jarak antara tambang ke tempat peleburan jauh, dengan adanya
pengolahan dapat mengurangi biaya transportasi.
2. Untuk melebur perlu flux (bahan imbuh) untuk mengikat gangue
mineral agar menjadi slag dan menurunkan titik lebur slag. Dengan
adanya pengolahan kadar naik, gangue sedikit dan flux berkurang.
3. Kapasitas terbatas, dengan adanya pengolahan, logam yang yang
didapat dari hasil peleburan lebih banyak.
4. Logam yang hilang bersama slag dengan adanya pengolahan
menjadi sedikit.

Permodelan Mangan

31

Mangan merupakan salah satu produk pertambangan dengan


kegunaan luar biasa. Komoditi yang termasuk dalam kelompok dua
belas mineral di kulit bumi menjadi bahan baku yang tidak tergantikan
di industri baja dunia. Ferro Mangan dan Silico Mangan merupakan dua
bentuk mangan yang banyak digunakan industri baja.
Pembuatan high alloy steel harus dilakukan dengan cara yang
bisa memberikan hasil terbaik dengan biaya paling ekonomis.. sebab
harga material ferro alloy sangatlah mahal bila bila dibandingkan
dengan scrap alloy. Oleh karena itu, perkiraan biaya dan kualitas
merupakan korelasi yang erat hubungannya. Bila ingin memiliki
kualitas yang baik tentunya biaya yang dikeluarkan relative lebih besar
atau mahal, demikian juga sebaiknya jika menginginkan kualitas yang
rendah maka biaya yang dikeluarkan relatif lebih ringan.
Cara pembuatan baja mangan austenite adalah dengan
menggunakan material yang bahan dasarnya terdiri dari besi murni atau
karbon yang kemudian ditambahkan/dicampur paduan mangan dalam
bentuk murni atau ferro alloy (Fe-Mn steel). Cara ini merupakan cara
paling mahal karena tingginya harga besi murni.
Untuk alsan-alasan ekonomis proses pengecoran harus juga
dapat memanfaatkan scrap sisa tetapi bila menggunakan bahan scrap
dari luar kadang-kadang kurang diketahui kepastian komposisinya dan
tidak diketahui sudah beberapa kali mangalami daur ulang atau cor.
Bila hasil scrap telah mengalami banyak kali daur ulang corm aka akan
berakibat turunnya sifat tangguh hasil produk corm.

Permodelan Mangan

32

BAB VI
PEMANFAATAN MANGAN

6.1 Pemanfaatan/Kegunaan Mangan


Mangan merupakan salah satu produk pertambangan dengan kegunaan luar
biasa. Komoditi yang termasuk yang termasuk dalam kelompok dua belas
mineral di kulit bumi menjadi bahan baku yang tidak tergantikan. Ferro
Mangan dan Silico Mangan merupakan dua bentuk mangan yang banyak
digunakan di industri baja.
1. Pada Campuran Baja
Mangan diperlukan untuk produksi besi dan baja dari kebaikan
pembetulan belerangnya (sulfur-fixing), proses penghilangan oksigennya
(deoxidizing) dan campuran properti-propertinya. Pembuatan baja,
termasuk komponen pembuatan besinya, terhitung sebagai permintaan
terbesar, yang sekarang ada dalam jarak 85% s/d 90% dari total
permintaan. Dari beragam-ragam penggunaannya, mangan adalah kunci
komponen dari perumusan anggaran rendah baja tahan karat.
Kwantitas kecil dari mangan memajukan kemungkinan baja untuk bekerja
pada suhu tinggi, karena membentuk pelelehan sulfida yang tinggi dan
kemudian mencegah pembentukan sulfida besi yang cair pada batas
uratnya. Jika kadar mangan mencapai 4%, proses perapuhan bajanya
menjadi fitur yang menonjol. Proses perapuhan berkurang pada
konsentrasi mangan lebih tinggi dan mecapai tingkat yang dapat diterima
pada 8%. Kenyataan bahwa baja mengandung 8% - 15% mangan adalah
dingin mengeraskan, bisa memiliki kekuatan tinggi yg dapat diregangkan
dari / sampai dengan 863 MPa, baja dengan 12% mangan dahulu kala
digunakan untuk helem-helem baja di Inggris. Komposisi baja ini pertama
kali ditemukan pada tahun 1882 oleh Robert Hadfield, yang sekarang
masih diketahui sebagai baja Hadfield.

Permodelan Mangan

33

2. Pada Campuran Aluminium


Pemakaian terbesar ke dua untuk mangan adalah sebagai agen untuk
aluminium. Aluminium dengan kadar mangan sekitar 1.5% mempunyai
tingkat perlawanan yang lebih tinggi melawan karatan dan kerusakan
disebabkan oleh pembentukan urat yang menyerap kotoran yang dapat
mengakibatkan

karatan

galvanis.

Perlawanan

anti-karat

campuran

aluminium 3004 dan 3104 dengan kadar mangan dari 0.8% -1.5% adalah
campuran yang digunakan untuk sebagian besar sebagai kaleng-kaleng
minuman. Untuk tahun-tahun s/d 2000, lebih dari 1,6 juta metrik ton telah
digunakan untuk campuran-campuran tersebut, dengan 1% kadar mangan,
kwantitas ini memerlukan 16,000 metrik mangan ton.
3. Pada Industri Baterai Kering
Salah satu peran atau manfaat MnO2 (sebagai pirolusit) dalam baterai-sel
kering yaitu sebagai oksidator dan juga digunakan sebagai pendepolarisasi
pada sel baterai kering.
4. Dalam industri, mangan digunakan sebagai bahan pembuat batang las,
elektrosis seng dan bahan pengoksida dalam produksi uranium.

Permodelan Mangan

34

BAB VII
KESIMPULAN

1. Genesa

bahan

galian

sangat

erat

dengan

aktivitas

tektonik

bumi

yangberimplikasi langsung pada proses hydrothermal dan material induk


(hostmaterial).
2. Mangan merupakan salah satu dari 12 unsur terbesar yang terkandung dalam
kerak bumi. Mineral mangan yang diketahui ada sekitar 300 jenis. Namun yang
sering dijumpai dalam cebakan bijih komersial ada 13 jenis. Pirolusit dan
Psilcmelan merupakan mineral yang umum menjadi cebakan utama bijih
mangan. Terdapat 5 jenis mineral bijih yang mengandung mangan yaitu :
- Pirolusit (MnO2)
- Psilcmelan (4Mn10O2O)
- Manganit (Mn2O3)
- Braunit (3Mn2O3)
- Rhodokrosit (MnCO3)
3. Cebakan mangan terbagi menjadi 5 cebakan :
- Cebakan hidrotermal
- Cebakan sedimenter, baik bersama-sama maupun tanpa affilasi vulkanik.
- Cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut.
- Cebakan metamorfosa
- Cebakan laterit dan akumulasi residual
Dari kelima tipe cebakan tersebut, sumber mangan komersial berasal dari
cebakan sedimenter yang terpisah dari aktivitas vulkanik dan cebakan
akumulasi residual.
4. Zona pembentukan mangan terjadi di Oceanic Crust (disepanjang Sumatera,
Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara) yang kaya akan manganese, cobalt, nickel,
dalam tubuh-tubuh intrusifnya. Dalam depositnya kaya akan manganese
nodules.

Permodelan Mangan

35

5. Adapun tahapan eksplorasi mangan adalah :


Survei Tinjau
Pemetaan Geologi
- Peta Lintasan dan Titik Pengamatan
- Peta Geologi
- Peta Geomorfologi
- Peta Tata Guna Lahan
- Peta Pola Pengairan
- Peta Interprestasi Zona Mineralisasi
- Lokasi Rencana Test Pit
Test Pit (uji sumur)
Metode Geofisika
- Metode Geolistrik
- Metode Geoscanner
Pemboran
6. Mangan merupakan salah satu produk pertambangan dengan kegunaan luar
biasa. Komoditi yang termasuk yang termasuk dalam kelompok dua belas
mineral di kulit bumi menjadi bahan baku yang tidak tergantikan. Ferro
Mangan dan Silico Mangan merupakan dua bentuk mangan yang banyak
digunakan di industri baja.

Permodelan Mangan

36

DAFTAR PUSTAKA

Sukmana. 2007. Eksplorasi Umum Endapan Mangan Di Kabupaten


Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pusat Sumber Daya
Geologi
Moetamar. 2006. Esplorasi Mangan Di Sumbawa Besar, Kabupaten
Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pokja Mineral Pusat
Sumber Daya Geologi.
http://globalgeologist.blogspot.com/2011/01/tahapan-tahapan-eksplorasimineral.html
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Mangan/ulasan.asp?xdir=Mangan&commId=
22&comm=Mangan
http://www.academia.edu/2576516/Mangan
http://leenxx.wordpress.com/pergerakan-lempeng/
http://www.buchansminerals.com/Projects/WoodstockNewBrunswick.aspx

Permodelan Mangan

37