Anda di halaman 1dari 14

ASKEP TUMOR OTAK

Minggu, 10 Maret 2013


BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space
occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen
supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks,
meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor
metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian karena
kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien mengalami metastase
ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang bermetastase keluar sistem
saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari paru-paru, payudara, saluran
gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan kulit (melanoma). Insiden tertinggi
pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan ketujuh, dengan
tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak dimulai dari sel glia
(sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis) dan
merupakan supratentorial (terletak diatas penutup cerebellum). Jejas neoplastik di dalam
otak akhirnya menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan
dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
Peningkatan intra kranial ( PTIK ) dapat terjadi bila kenaikan yang relatif kecil dari
volume otak, keadaan ini tidak akan cepat menyebabkan tekanan tinggi intrakranial,
sebab volume yang meninggi ini dapat dikompensasi dengan memindahkan cairan
serebrospinal dari rongga tengkorak ke kanalis spinalis dan volume darah intrakranial
akan menurun oleh karena berkurangnya peregangan durameter. Hubungan antara
tekanan dan volume ini dikenal dengan complience. Jadi jika otak, darah dan cairan
serebrospinal volumenya terus menerus meninggi, maka mekanisme penyesuaian ini akan
gagal dan terjadi peningkatan intrakranial yang mengakibatkan herniasi dengan gagal
pernapasan dan gagal jantung serta kematian.

2. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Setelah membahas makalah Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Otak,
mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan mereka tentang cara cara menangani
pasien dengan tumor otak sesuai Asuhan Keperawatan yang telah ditegakkan.
b. Tujuan Khusus
Setelah membahas makalah Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Otak,
mahasiswa mampu :
- Memahami Konsep Penyakit Tumor Otak
- Memahami masalah kesehatan pada pasien tumor otak

- Memahami dan mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan untuk pasien pengidap


penyakit tumor otak.
- Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien pengidap penyakit tumor otak
3. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode deskriptif yang menjelaskan
tentang konsep penyakit tumor otak serta asuhan keperawatan yang bisa dilakukan pada
pasien pengidap penyakit tumor otak.
4. Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN. Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode
Penulisan, dan Sistematika Penulisan
BAB II : TINJAUAN TEORI, Terdiri dari Konsep tumbang, Masalah pada
Neonatus, dan Asuhan keperawatan Neonatus
BAB III : PENUTUP. Terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. KONSEP PENYAKIT TUMOR OTAK
1. Definisi
Sebuah tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada intrakarnial yang
menempati ruang didalam tengkorak. Tumor-tumor selalu bertumbuh sebagai sebuah
massa yang berbentuk bola tetapi juga dapat tumbuh menyebar, masuk kedalam jaringan.
Neoplasma terjadi akibat dari kompresi dan infiltrasi jaringan. Akibat perubahan fisik
bervariasi, yang menyebabkan beberapa atau semua kejadian patofisiologis sebagai
berikut:
Peningkatan tekanan intrakranial dan edema cerebral
Aktivitas kejang dan tanda-tanda neurologis fokal
Hidrosefalus
Gangguan fungsi hipofisis
Tumor otak primer menunjukkan kira-kira 20% dari semua penyebab kematian karena
kanker, dimana sekitar 20% sampai 40% dari semua kanker pasien mengalami metastase
ke otak dari tempat-tempat lain. Tumor-tumor otak jarang bermetastase keluar sistem
saraf pusat tetapi jejas metastase ke otak biasanya dari paru-paru, payudara, saluran
gastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal dan kulit (melanoma).
Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade kelima, keenam dan
ketujuh, dengan tingginya insiden pada pria. Pada usia dewasa, tumor otak banyak
dimulai dari sel glia (sel glia membuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula
spinalis) dan merupakan supratentorial (terletak diatas penutup cerebellum). Jejas
neoplastik di dalam otak akhirnya menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital,
seperti pernafasan dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
(Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, 2001, Jakarta : EGC. Hal: 2167)

2. Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut
menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel manusia memiliki mekanisme perbaikan
DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya
dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif
kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin,
serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme
tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada
meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai
manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenisjenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya
faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya
sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak
bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma,
teratoma intrakranial dan kordoma.
Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan
degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah
dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan
dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma,
tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan
perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah
diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik sepertimethylcholanthrone, nitroso-ethylurea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
3. Jenis jenis Tumor
Tumor yang jinak atau yang tidak ganas (non malignant) lambat tumbuhnya, tidak
menyebar, dan biasanya dikelilingi oleh penutup atau kapsul. Pertumbuhan yang seperti
itu bisa disebut sebagai enkapsuleted tumor atau tumor terbungkus. Tumor yang tidak
ganas bisa dicabut dengan cara pembedahan, terutama bila tumor itu menyebabkan organ
organ tubuh yang vital terdesak atau tertekan. Jika tumor yang tidak ganas dicabut,
tidak ada kemungkinan baginya tubuh untuk tumbuh lagi.
Tumor ganas disebut sebagai kanker atau malignancy (cepat menjalar ke bagian tubuh

yang lain). Tumbuhnya cepat, tidak dikelillingi oleh penutup, dan menyebar ke bagian
bagian tubuh yang lain. Sel sel yang abnormal ini menyerang jaringan jaringan yang
berdekatan. Kanker ganas itu dibawa pula ke bagian bagian tubuh yang lain oleh getah
bening dan darah. Pemindahan sel sel ganas ke bagian bagian tubuh yang lain ini
disebut metastasis. Tumbuhan baru yang dimulai dari sel sel bawaan ini disebut sebagai
pertumbuhan metastasis atau tumbuhan kedua (tumor kedua anak tumor). Pertumbuhan
sel sel tubuh yang cepat dan tak terkendali ini pada akhirnya mengancam keselamatan
jiwa orang itu sendiri.
(dr. H. Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan Pegawai
Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta. Hal. 41)
a. Tumor benigna
Tumor ini dapat timbul dari sebagian besar jaringan tubuh.
1. Sel-sel epitel atau endotel
Papiloma timbul dari sel-sel ini, misalnya kulit, kandung kemih, kolon. Tumor ini bisa
menjadi ganas.
2. Sel-sel pigmen kulit naevus (tahi lalat)
3. Kelenjar adenoma : payudara, parotis, tiroid.
4. Pembuluh darah-hemamioma : dua tipe.
a. Kapiler : tanda lahir ; portwine stain
b. Kavernosus : nodulus berwarna ungu yang memucat bila ditekan
5. Jaringan fibrosis fibroma : terlihat sebagai nodulus. Pada sebagian besar keadaan
dapat timbul.
6. Lemak glikoma : benjolan lunak, paling sering subkutan.
7. Osteoma tumor pada tulang rawan dan tulang biasa
8. Chondroma
9. Myoma : tumor otot biasa, tempat yang paling sering terkena adalah uterus
b. Tumor maligna
1. Sel sel epitel atau endotel.
a. Karsinoma : karsinoma diberi nama menurut jaringan asalnya, misalnya karsinoma
skuamosa kulit. Transitional sel karsinoma pada kandung kemih.
b. Melanoma : tumor maligna sel sel pigmen kulit
2. Jaringan kelenjar : adenokarsinoma, misalnya payudara atau lambung.
3. Jaringan ikat : sarkoma keadaan ini lebih jarang ditemukan. Fibrosarkoma dari
jaringan fibrosus, sarkoma osteogenik dari tulang, myosarkoma dari otot.
4. Kelenjar limfe. Ragam penyakit keganasan (maligna) ditemukan pada jaringan
limfoit (jaringan retikulo endotelial) dengan berbagai derajat keganasan, misalnya
limfoma, retikulo sarkoma, penyakit Hodgkin.
5. Leukimia. Penyakit maligna pada sel sel induk yang menghasilkan sel sel darah
putih.
4. Patofisiologi
Tumor intrakranial menyebabkan gangguan neurologis progresif. Gangguan neurologis
pada tumor intrakranial biasanya dianggap disebabkan karena 2 faktor, yaitu gangguan
vokal olah tumor dan peningkatan intrakranial.
Gangguan vokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau
invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja
dispensi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat (misalnya,

gliobastoma multiform). Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor
yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada
umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat
dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan
kompresi, invasi dan perubahan suplai darah kejaringan otak. Beberapa tumor
membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat
gangguan neurologis vokal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh
beberapa faktor:
1. Bertambahnya massa dalam tengkorak.
2. Terbentuknya edema sekitar tumor.
3. Perubahan sirkulasi cairan cerebrospinal.
Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mengmbil
tempat dalam ruang yang relatif tetap dan ruangan kranial yang kaku.
Tumor ganas menimbulkan edema dalam jaringan otak di sekitrnya. Mekanisnya belum
sepenuhnya dipahami, tetapi diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang menyebabkan
penyerapan cairan tumor. Beberapa tumor menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena dan
edema yang disebabkan oleh sawar darah otak, semuanya menimbulkan peningkatan
volume intrakranial dan menyebabkan tekanan intrakranial. Obstruksi sirkulasi cairan
cerebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subarakhnoid menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat salah
satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan
waktu berhari-hari atau berbulan-bulan unutk menjadi effektif oleh karen aitu tidak
berguna apabila tekanan itrakranial timbul dengan cepat. Mekanisme kompensasi ini
antara lain bekerja menurunkan volume darah intrakranial, volume cairan cerebrospinal,
kandungan cairan intra sel, dan mengurangi sel-sel parenkim.
Peningkatan tekanan yang tidak di obati mengakibatkan herniasi unkus atau cerebelum.
Herniasi unkus timbul bila girus medialis lobus temporalis tergeser ke inferior melalui
insisura tentorial oleh masa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesen sefalon,
menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf kranial ketiga. Pada herniasi
cerebelum, tonsil cerebelum bergeser kebawah melalui foramen magnum oleh suatu masa
posterior. Kompresi medula oblongata dan henti pernafasan terjadi dengan cepat.
Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan intrakranial yang cepat adalah
bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebran tekanan nadi), dan gangguan
pernafasan.
(Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Muttaqin Ariff, 2008,
Jakarta: Salemba Medika. Halaman : 477-478)
5. Tanda dan Gejala
Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan fungsi serebral akibat edema otak
dan tekanan intrakranial yang meningkat. Gejala spesifik terjadi akibat destruksi dan
kompresi jaringan saraf, bisa berupa nyeri kepala, muntah, kejang, penurunan kesadaran,
gangguan mental, gangguan visual dan sebagainya. Edema papil dan defisit neurologis
lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut. Gejala-gejala tumor otak dapat
meliputi, antara lain:
Nyeri Kepala (Headache)
Nyeri kepala biasanya terlokalisir, tapi bisa juga menyeluruh. Biasanya muncul pada pagi

hari setelah bangun tidur dan berlangsung beberapa waktu, datang pergi (rekuren) dengan
interval tak teratur beberapa menit sampai beberapa jam. Serangan semakin lama
semakin sering dengan interval semakin pendek. Nyeri kepala ini bertambah hebat pada
waktu penderita batuk, bersin atau mengejan (misalnya waktu buang air besar atau
koitus). Nyeri kepaia juga bertambah berat waktu posisi berbaring, dan berkurang bila
duduk. Penyebab nyeri kepala ini diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive
structure seperti dura, pembuluh darah atau serabut saraf. Nyeri kepala merupakan gejala
permulaan dari tumor otak yang berlokasi di daerah lobus oksipitalis.
Muntah
Lebih jarang dibanding dengan nyeri kepala. Muntah biasanya proyektil (menyemprot)
tanpa didahului rasa mual, dan jarang terjadi tanpa disertai nyeri kepala.
Edema Papil
Keadaan ini bisa terlihat dengan pemeriksaan funduskopi menggunakan oftalmoskop.
Gambarannya berupa kaburnya batas papil, warna papil berubah menjadi lebih
kemerahan dan pucat, pembuluh darah melebar atau kadang-kadang tampak terputusputus. Untuk mengetahui gambaran edema papil seharusnya kita sudah mengetahui
gambaran papil normal terlcbih dahulu. Penyebab edema papil ini masih diperdebatkan,
tapi diduga akibat penekanan terhadap vena sentralis retinae. Biasanya terjadi bila tumor
yang lokasi atau pembesarannya menckan jalan aliran likuor sehingga mengakibatkan
bendungan dan terjadi hidrocepallus.
Kejang
Ini terjadi bila tumor berada di hemisfer serebri serta merangsang korteks motorik.
Kejang yang sifatnya lokal sukar dibedakan dengan kejang akibat lesi otak lainnya,
sedang kejang yang sifatnya umum atau general sukar dibedakan dengan kejang karena
epilepsi. Tapi bila kejang terjadi pertama kali pada usia dekade III dari kehidupan harus
diwaspadai kemungkinan adanya tumor otak.
6. Komplikasi
a. Ganguan Fungsi Luhur
Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian adalah gangguan fungsi
luhur. Gangguan ini sering diistilahkan dengan gangguan kognitif dan neurobehavior
sehubungan dengan kerusakan fungsi pada area otak yang ditumbuhi tumor atau terkena
pembedahan maupun radioterapi.
Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi kognitif dan lokasi / lesi
tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor otak adalah gangguan fisik neurologist,
gangguan kognitif, gangguan tidur dan mood, disfungsi seksual serta fatique.
Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa dievaluasi dengan berbagai
tes. Di antaranya adalah Sickness Impact Profile, Minesota Multiphasic Personality
Inventory (MMPI), dan Mini mental State Examination (MMSE). Komponen kognitif
yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi lingkungan, level aktivitas, kemampuan
bicara dan bahasa, memori dan kemampuan berpikir, emosional afeksi serta persepsi.
b. Ganguan Wicara
Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak. Dalam hal ini kita
mengenal istilah disartria dan aphasia.
Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak atau neuromuscular perifer

yang bertanggung jawab dalam proses bicara. Tiga langkah yang menjadi prinsip dalam
terapi disartria adalah meningkatkan kemampuan verbal, mengoptimalkan fonasi, serta
memperbaiki suara normal.
Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia motorik atau sensorik
tergantung dari area pusat bahasa di otak yang mengalami kerusakan. Fungsi bahasa yang
terlibat adalah kelancaran (fluency), keterpaduan (komprehensi) dan pengulangan
(repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi perbaikan fungsi dalam
berkomunikasi, mengurangi ketergantungan pada lingkungan dan memastikan sinyalsinyal komunikasi serta menyediakan peralatan yang mendukung terapi dan metode
alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua komponen yaitu bicara prefocal dan latihan
menelan.
c. Ganguan Pola Makan
Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini yaitu ketidakmampuan menelan
makanan karena hilangnya refleks menelan. Gangguan bisa terjadi di fase oral,
pharingeal atau oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan terhambatnya asupan
nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena muntahnya makanan ke paru.
Etiologi yang mungkin adalah parese nervus glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga
karena komplikasi radioterapi.
Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering bersamaan dengan
dispepsia karena space occupying process dan kemoterapi yang menyebabkan hilangnya
selera makan serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini adalah dengan sonde lambung
untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan modifikasi kepadatan makanan (makanan
yang dipilih lebih cair/lunak).
d. Kelemahan Otot
Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang mengenai saraf
khususnya ditandai dengan hemiparesis, paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan terapi
yang dilakukan menggunakan prinsip stimulasi neuromusculer dan inhibisi spastisitas.
Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan kekuatan otot, koordinasi endurasi
dan pergerakan sendi.
e. Ganguan Penglihatan Dan Pendengaran
Tumor otak yang merusak saraf yang terhubung ke mata atau bagian dari otak yang
memproses informasi visual (visual korteks) dapat menyebabkan masalah penglihatan,
seperti penglihatan ganda atau penurunan lapang pandang.
Tumor otak yang mempengaruhi saraf pendengaran - terutama neuromas akustik dapat menyebabkan gangguan pendengaran di telinga pada sisi yang terlibat otak.
f. Stroke
Seseorang dengan stroke memiliki gangguan dalam suplai darah ke area otak, yang
menyebabkan otak tidak berfungsi. Otak sangat sensitif terhadap setiap gangguan dalam
aliran darah. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit kehilangan pasokan oksigen
dan glukosa.
Para gangguan aliran darah dapat terjadi oleh salah satu dari dua mekanisme, yaitu
hemorrhagic stroke disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah kecil yang
memasok darah ke otak dan Stroke iskemik disebabkan oleh bekuan darah yang
menghalangi aliran darah melalui arteri yang memasok darah ke otak. Ada dua jenis
stroke iskemik: Stroke trombotik stroke dan emboli. stroke trombotik disebabkan oleh
gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri otak. stroke emboli disebabkan oleh

gumpalan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah otak, kemudian gumpalan darah
itu berjalan melaui aliran darah dan sampai pada pembuluh darah otak, gumpalan darah
ini selanjutnya menyumbat suplay darah ke otak.
Pada tumor otak, komplikasi stroke yang timbul dapat berupa Hemorrhagic stroke
yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak yang tertekan akibat pembesaran
tumor.
g. Epilepsi
Kejadian sekitar 30% dari tumor otak. Alasannya sebagian besar disebabkan karena
rangsangan langsung atau represi dari tumor yang menyebabkan ganguan listrik pada
otak dan juga tumor otak dapat menyebabkan iritasi pada otak yang dapat menyebabkan
kejang
h. Depresi
Depresi dapat disebabkan karena tumor pada pusat emosi (system limbic) atau karena
keadaan klinis yang disebabkan oleh tumor tersebut, Gejala yang timbul dapat berupa
menangis terus-menerus, kesedihan yang mendalam, social withdrawal, Mudah marah,
kecemasan, penurunan libido, gangguan tidur, tingkah laku yang tidak wajar. Dapat juga
karena efek steroid : mood and sleep changes, ganguan bipolar (manicdepression).
i. Hidrosephalus
Hidrosephalus terjadi apabila tumor yang terbentuk menghalangi aliran LCS,
akibatnya aliran LCS akan terhambat dan mengakibatkan terbentuknya hidrosephalus.
Selain itu peningkatan tekanan intrakranial juga dapat menghambat aliran LCS.
j. Cerebral Hernia
Cerebral hernia adalah kondisi, progresif fatal di mana otak terpaksa melalui
pembukaan dalam tengkorak.
Tumor otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, yang kemudian
menyebabkan penggeseran parenkim otak ke foramen Magnum atau transtentorial
k. Ganguan Seksualitas
Tumor otak sendiri dapat mempengaruhi seksualitas, terutama jika tumor melibatkan
daerah otak yang mengontrol pelepasan hormon yang mempengaruhi libido, termasuk
estrogen, progesteron testosteron, dan. Daerah-daerah yang sama dari otak dapat rusak
oleh terapi radiasi, yang yang dapat juga mengurangi kesuburan dan libido selain itu
dapat pula menyababkan menopouse dini.
l. Terbentuknya Gumpalan Darah
Adanya Tumor otak mempunyai resiko tinggi terjadinya pembekuan darah.
Pembekuan ini disebut "trombosis vena dalam" (DVT) dan terjadi di pembuluh darah
kaki. Gejala yang DVT meliputi nyeri betis, bengkak, dan perubahan warna kaki,
meskipun itu DVT juga bisa terjadi tanpa gejala. Bahaya itu DVT adalah bahwa mereka
dapat pecah dan dibawa oleh aliran darah ke paru-paru, di mana mereka menyebabkan
"thromboemboli paru" (PTE) pembekuan darah di arteri paru.
7. Pemeriksaan Penunjang
Adapun beberapa pemeriksaan penunjang untuk penyakit tumor otak antara lain :
Computer Tomografik Scaning (CT SCAN) : CT SCAN digunakan lebih baik dari
pada X- Ray, CT SCAN dapat memberikan informasi tentang jumlah, ukuran, dan
densitas (warna gelap/terang) tumor, dapat memberikan informasi sistem ventrikuler.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) : MRI sangat penting untuk mendiagnosa tumor

sampai lesi terkecil dan tumor pada batang otak dan pituitary.
Elektroensefalogram (EEG) : dapat mendeteksi gelombang abnormal pada otak yang
disebabkan tumor hal ini dapat mengevaluasi kajang yang ditimbulkan karena gangguan
pada lobus temporal.
Stereotatic Radiosurgery : meliputi penggunaan kerangka tiga dimensi yang meliputi
lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka Stereotatic dan dan study pencitraan multipel
(sinar x) cara yang digunakan untuk menemukam tumor dan lokasinya.
Pemeriksaan cytologi : dapat mendeteksi keganasan pada sel yang disebabkan tumor
sistem saraf pusat.
Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan
memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi
pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak yang
besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi,
sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses
cerebri).
Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
8. Penatalaksanaan Medis
Orang dengan tumor otak memiliki beberapa pilihan pengobatan. Tergantung pada jenis
dan stadium tumor, pasien dapat diobati dengan operasi pembedahan, radioterapi, atau
kemoterapi. Beberapa pasien menerima kombinasi dari perawatan diatas.
Selain itu, pada setiap tahapan penyakit, pasien mungkin menjalani pengobatan untuk
mengendalikan rasa nyeri dari kanker, untuk meringankan efek samping dari terapi, dan
untuk meringankan masalah emosional. Jenis pengobatan ini disebut perawatan paliatif.
a. Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor otak. Tujuannya adalah
untuk mengangkat sebanyak tumor dan meminimalisir sebisa mungkin peluang
kehilangan fungsi otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi. Hal ini dilakukan dengan
anestesi umum. Sebelum operasi dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian
membuat sayatan di kulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk mengangkat
sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus sebagian atau seluruh tumor, ahli
bedah menutup kembali bukaan tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal
atau bahan. Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa ahli bedah
dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah kulit kepala selama satu atau dua
hari setelah operasi untuk meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah sakit
kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal
ini dapat diberikan obat sakit kepala. Masalah lain yang kurang umum yang dapat terjadi
adalah menumpuknya cairan cerebrospinal di otak yang mengakibatkan pembengkakan

otak (edema). Biasanya pasien diberikan steroid untuk meringankan pembengkakan.


Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan untuk mengalirkan cairan. Dokter bedah dapat
menempatkan sebuah tabung, panjang dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini
diletakkan di bawah kulit ke bagian lain dari tubuh, biasanya perut. Kelebihan cairan dari
otak dialirkan ke perut. Kadang-kadang cairan dialirkan ke jantung sebagai gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati dengan
antibiotic). Operasi otak dapat merusak jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi
masalah serius. Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara.
Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang. Sebagian besar
masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak
bisa permanen. Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi kerja.
b. Radiosurgery stereotactic
Radiosurgery stereotactic adalah tehnik "knifeless" yang lebih baru untuk
menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak. CT scan atau MRI digunakan
untuk menentukan lokasi yang tepat dari tumor di otak. Energi radiasi tingkat tinggi
diarahkan ke tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan tumornya. Alatnya
bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau akselerator linier dengan foton,
ataupun sinar proton.
Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil kemungkinan komplikasi pada
pasien dan memperpendek waktu pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sample
jaringan tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli patologi, serta pembengkakan
otak yang dapat terjadi setelah radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di batang otak
(brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli bedah tidak mungkin dapat
mengangkat tumor tanpa merusak jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat
menerima radioterapi atau perawatan lainnya.
c. Radioterapi
Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor. Sebuah mesin besar
diarahkan pada tumor dan jaringan di dekatnya. Mungkin kadang radiasi diarahkan ke
seluruh otak atau ke syaraf tulang belakang.
Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel tumor (sisa)
yang mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Radiasi juga dapat dilakukan sebagai
terapi pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada jenis dan ukuran tumor
serta usia pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya hanya berlangsung beberapa menit.
d. Kemoterapi
Kemoterapi yaitu penggunaan satu atau lebih obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker. Kemoterapi diberikan secara oral atau dengan infus intravena ke seluruh tubuh.
Obat-obatan biasanya diberikan dalam 2-4 siklus yang meliputi periode pengobatan dan
periode pemulihan.
Dua jenis obat kemoterapi, yaitu: temozolomide (Temodar) dan bevacizumab (Avastin),
baru-baru ini telah mendapat persetujuan untuk pengobatan glioma ganas. Mereka lebih
efektif, dan memiliki efek samping lebih sedikit jika dibandingkan dengan obat-obatan
kemo versi lama. Temozolomide memiliki keunggulan lain, yaitu bisa secara oral.
Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan, ahli bedah biasanya
melakukan operasi pengangkatan tumor dan kemudian melakukan implantasi wafer yang
mengandung obat kemoterapi. Selama beberapa minggu, wafer larut, melepaskan obat ke

otak. Obat tersebut kemudian membunuh sel kankernya.


B. Asuhan Keperawatan Teoritis Tumor Otak
1. Pemeriksaan fisik
a. BI (Breathing)
Inspeksi : pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula oblongata
didapatkan adanya kegagalan pernapasan.
Pada klien tanpa kompresi medula oblongata pada pengkajian inspeksi pernapasan tidak
ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Auskultasi tidak di dapatkan bunyi napas tambahan.
b. B2 (Blood)
Pada keadaan lanjut yang disebabkan adanya kompresi pada medula oblongata
didapatkan adanya kegagalan sirkulasi. Pada klien tanpa kompresi medula oblongata
pada pengkajian tidak ada kelainan. Tekanan darah biasanya normal, dan tidak ada
peningkatan heart rate.
c. B3 (Brain)
Tumor intrakranial sering menyebabkan berbagai defisit neurologis, bergantung pada
gangguan fokal dan adanya peningkatan intrakranial . pengkajian B3 (Brain) merupakan
pemeriksaan fokus dan lebih lengkap di bandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
Trias Klasik tumor otak adalan nyeri kepala, muntah, dan papiledema. Pengkajian tingkat
kesadaran. Kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan
parameter yang paling penting yang membutuhkan pengkajian. Tingkat keterjagaan klien
dan respon terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem
persarafan. Beberapa sistem digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam
kewaspadaan dan keterjagaan.
Pada keadaan lanjut tingkat kesadarn klien tmor intrakranial biasanya berkisar pada
tingkat letargi, stupor, dann semikomatosa. Jika klien sudah mengalami koma, penilaian
GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk
pemantauan pemberian asuhan.
Pengkajian fungsi serebral. Pengkajian ini meliputi status mental, fungsi intelektual, dan
lobus frontal.
Status mental. Observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara, ekspresi wajah,
dan aktivitas motorik klien. Pada klien tumor intarkranial tahap lanjut biasanya status
mental klien menglami perubahan.
Fungsi intelektual. Didapatkan penurunan dalam ingatan dan memori, baik jangka
pendek maupun jangka panjang. Penurunan kemampuan berhitung dan kalkulasi. Pada
beberapa kasus klien mengalami brain damage yaitu kesulitan untuk mengenal
persamaan dan perbedaan yang tidak begitu nyata.
Lobus Frontal. Tumor lobus frontalis memberi gejala perubahan menta, hemiparesis,
ataksia, dan gangguan bicara.
Perubahan mental bermanifestasi sebagai perubahan ringan daam kepribadian. Beberapa
klien mengalami periode depresi, bingung, atau periode ketika tingkah laku klien menjadi
aneh.
Perubahan yang paling sering adalah perubahan dalam memberi argumentasi yang sulit
dari perubahan dalam memberi penilaian tentang benar dan salah. Hemiparesis

disebabkan oleh tekanan pada area dan lintasan motorik di dekat tumor.
Jika area motorik terlibat, akan terjadi epilepsi Jackson dan kelemahan motorik yang
jelas. Tumor yang menyerang ujung bawah korteks prasentalis menyebabka kelemahan
pada wajah, lidah, dan ibu jari, sedangkan tumor pada lobulus parasentralis menyebabkan
kelemahan pada kaki dan ekstermitas bawah.
Tumor pada lobus frontalis dapat mengakibatkan gaya berjalan yang tidak mantap, sering
menyerupai ataksia serebelum. Jika lobus frontalis kiri atau yang dominan terkena, akan
terihat adanya afasia dan aparaksia.
Pengkajian saraf kranial. Pengkajian ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII.
Saraf I. Pada klien dengan tumor intrakranial yang tidak mengalami kompresi saraf ini
tidak memiliki kelainan pada fungsi penciuman.
Saraf II. Gangguan lapang pandang disebabkan lesi pada bagian tertentu dari lintasan
visual. Papiledema disebabkan oleh stasis vena yang menimbulkan pembengkakan papila
saraf optikus.
Saraf III, IV, dan VI. Adanya kelumpuhan unilateral atau b V. Pada ilateral dari saraf
VI memberikan manifestasi pada suatu tanda adanya glioblastoma multiformis.
Saraf V. Pada keadaan tumor intrakranial yang tidak menekan saraf trigeminus, tidak
ada kelainan pada fungsi saraf ini. Pada neorolema yang menekan saraf ini akan di
dapatkan adanya paralisis wajah ulilateral.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, dan otot wajah
tertarik ke bagian sisi sehat.
Saraf VIII. Pada neorolema di dapatkan adanya tuli persepsi. Tumor lobus temporalis
menyebabkan tinitus dan halusinasi pendengaran yang mungkiin diakibatkan iritasi
korteks pendengaran temporalis atau korteks yang berbatasan.
Saraf XI dan X. Kemampuan menelan kurang baik, dan terdapat kesulitan membuka
mulut.
Saraf XI. Tidk ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapesiuz.
Saraf XII. Lidah simetris, terdapat deviasi pada suatu sisi dan fasikulasi. Indra
pengecap normal.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi peningkatan intra kranial b.d desak ruang oleh rasa tumor intrakranial.
Tujuan
Tidak terjadi peningkatan tekanan intrakarnial pada klien dalam waktu 3x24 jam
Kriteria Hasil
Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepala, mual-mual dan muntah, GCS :
4,5,6, tidak terdapat papiledema, TTV dalam batas normal.
Intervensi :
1. Kaji faktor penyebab situasi atau keadaan individu atau penyebeb koma, atau
penurunan perkusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan tekanan
intrakarnial.
2. Memonitor TTV tiap 4 jam.
3. Berikan periode istirahat antara tindakan perawatan dan batasi lamanya prosedur.
Rasional :
1. Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi, mengkaji status neurologi atau tandatanda kegagalan untuk munentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan.
2. Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau fluktuasi di

tandai dengan tekanan darah sistemik penururnan dan autolegulator kebanyakan tanda
penurun difusilokal paskularisasi darah serebral.
3. Tindakan yang terus menerus dapat meningkatkan tekana intrakarnial oleh efek
rangsangan kumulatif.
b. Nyeri akut b.d traksi dan pegeseran sruktur peka nyeri dalam rongga intrakranial.
Tujuan
Nyeri berkurang atau hilang atau beradaptasi
Kriteria Hasil
Cara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat beradatasi. Dapat mengidetifikasi
aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. Klien tidak gelisah.
Intervensi :
1. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan peredah nyeri non farmakologi dan non
infasif.
2. Ajarkan relaksasi, teknik-teknik untuk mnurunkan ketengan untuk otot rangka, yang
dapat menurunkan intesitas nyri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
3. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik
Rasional :
1. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah
menunjukan keefektifan mengurangi nyeri.
2. Akan menghasilkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen oleh jaringan akan
terpenuhi sehingga akan mengurangi nyeri.
3. Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang
(Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan, Muttaqin Ariff, 2008,
Jakarta: Salemba Medika).
C.

PATHWAY Tumor Intrakranial (Tumor Otak)

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Tumor otak bisa mengenai segala usia. Tapi umumnya pada usia dewasa muda atau
pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di alas 70 tahun. Sebagian ahli
menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding wanita, tapi sebagian lagi
menyatakan tak ada perbedaan insidens antara pria dan wanita.
Tumor otak atau tumor intrakranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space
occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen
supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks,
meningen, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor
metastasis dari bagian tubuh lainnya.
Tumor otak menunjukkan manifestasi klinik yang tersebar. Tumor ini dapat menyebabkan
peningkatan tekanan intrakranial (TIK) serta tanda dan gejala lokal sebagai akibat dari
tumor yang menggangu bagian spesifik dari otak. Gejala yang biasanya banyak terjadi
akibat tekanan ini adalah sakit kepala, muntah, papiledema (edema saraf optik),
perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal motorik, sensori dan

disfiungsi saraf kranial.


2. Saran
Diharapkan perawat dapat menerapkan pengetahuan mereka tentang penyakit tumot otak
ini untuk diterapkan di tempat mereka bekerja. Dan juga diharapkan pula perawat dapat
menerapkan konsep asuhan keperawatan pada pasien tumor otak dengan semaksimal
mungkin. Dengan tujuan agar pasien pasien pengidap penyakit tumor otak ini dapat
segera sembuh dan dapat menjalankan aktivitasnya kembali seperti saat sebelum sakit.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
dr. H. Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan Pegawai
Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta.
Muttaqin Ariff. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan
Jakarta: Salemba Medika.
Oswari E. 1989. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : Gramedia.
Diposkan oleh Buddi Farma di 08.39