Anda di halaman 1dari 22

LEMBAR ASISTENSI

Nama

: Hendra Baloga

No. Stambuk : A 251 12 041


Asisten

: Widya Astuti

Percobaan

: Kinetika Adsorpsi

No

Hari/Tangga

Keterangan

Paraf

PERCOBAAN 5
KINETIKA ADSORPSI
I. Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari kinetika
adsorpsi karbon aktif terhadap asam asetat dalam larutan.
II. Dasar Teori
Kinetika adsorpsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat
oleh adsorben dalam fungsi waktu. Adsorpsi terjadi pada permukaan zat
padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat
padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai
gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang
mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair,
mempunyai gaya adsorpsi. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi
zat yang diserap masuk ke dalam absorbens sedangkan pada adsorpsi zat
yang diserap hanya terdapat pada permukaannya (Sukardjo, 1990).
Salah satu sifat penting dari permukaan zat adalah adsorpsi. Adsorpsi
digunakan untuk menyatakan bahwa ada zat lan yang terserap pada zat itu,
misalnya karbon aktif dapat menyerap molekul asam asetat dalam
larutannya. Karbon aktif biasanya dibuat dengan cara membakar tempurung
kelapa atau kayu dengan persediaan udara (oksigen) yang terbatas (Staf
Pengajar Kimia Fisika II, 2014).
Proses adsorpsi yang terjadi pada kimisorpsi, partikel melekat pada
permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen), dan
cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasinya
dengan substrat. Peristiwa adsorpsi disebabkan oleh gaya tarik molekulmolekul di permukaan adsorbens. Dimana adsorben yang biasa digunakan
dalam percobaan adalah kabon aktif, sedangkan zat yang diserap adalah
asam asetat (Keenan, 1999).
Peristiwa adsorpsi yang terjadi jika berada pada permukaan dua fasa
yang bersih ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga ini akan
sangat mempengaruhi sifat permukaan. Komponen yang ditambahkan
adalah molekul yang teradsorpsi pada permukaan (dan karenanya

dinamakan surface aktif). Jumlah zat yang terserap setiap berat adsorbens,
tergantung konsentrasi dari zat terlarut. Namun demikian, bila adsorbens
sudah jenuh, konsentrasi tidak lagi berpengaruh. Adsorpsi dan desorpsi
(pelepasan) merupakan kesetimbangan (Atkins, 1990).
Suatu adsorbens dengan bahan dan jenis tertentu, banyaknya gas yang
dapat diserap, makin besar bila temperatur kritis semakin tinggi atau gas
tersebut mudah dicairkan. Semakin luas permukaan dari suatu adsorben
yang digunakan, maka semakin banyak gas yang dapat diserap. Luas
permukaan sukar ditentukan, hingga biasanya daya serap dihitung tiap
satuan massa adsorben. Daya serap zat padat terhadap gas tergantung dari
jenis adsorben, jenis gas, luas permukaan adsorben, temperatur dan tekanan
gas (Atkins, 1990).
Tiap partikel adsorpsi dikelilingi oleh molekul yang diserap karena
terjadi interaksi tarik menarik. Besar kecilnya adsorpsi dipengaruhi oleh:
macam adsorpsi, macam zat yang di adsorpsi, konsentrasi adsorben dan zat
yang diadsorpsi, luas permukaan, temperatur dan tekanan (Staf Pengajar
Kimia Fisik II, 2014).
Umumnya adsorpsi bersifat spesifik, hanya menyerap zat tertentu.
Kecepatan adsorpsi karbon aktif terhadap molekul asam asetat dalam
larutannya pada tekanan temperatur yang tetap tergantung pada konsentrasi
asam asetat. Adsorpsi dan desorpsi (pelepasan) merupakan kesetimbangan.
Kinetika adsorpsi sebelum kesetimbangan tercapai dapat dipelajari:

dC
k Cn
dt
Dimana:
dC/dt = Kecepatan adsorpsi
k

= Konstanta adsorpsi

= Konsentasi adsorbat

= Orde kecepatan adsorpsi\

(Staf Pengajar Kimia Fisik II, 2014).


Dalam fisisorpsi yang merupakan kependekan dari adsorpsi fisika,
terdapat interaksi van der Waals (contohnya, dispersi atau antaraksi dipolar)

antara adsorbat dan substrat. Antaraksi van der Waals mempunyai jarak
jauh, tetapi lemah, dan energi yang dilepaskan jika partikel terfisisorpsi
mempunyai orde besaran yang sama dengan entalpi kondensasi. Kuantitas
energi sekecil ini dapat diadsorpsi sebagai vibrasi kisi dan dihilangkan
sebagai gerakan termal. Molekul yang melambung pada permukaan seperti
batuan itu, akan kehilangan energinya perlahan-lahan dan akhirnya
teradsorpsi pada permukaan itu, dalam proses yang disebut akomodasi.
Entalpi fisisorpsi dapat diukur dengan mencatat kenaikan temperatur sampel
dengan kapasitas kalor yang diketahui dan nilai khas berada sekitar 20 kJ
mol-1. Perubahan entalpi yang kecil ini tidak cukup untuk menghasilkan
pemutusan ikatan, sehingga molekul yang terfisisorpsi tetap
mempertahankan identitasnya, walaupun molekul itu dapat terdistorsi
dengan adanya permukaan (Atkins, 1990).
Dalam kimisorpsi yang merupakan kependekan dari adsorpsi kimia,
partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya
ikatan kovalen), dan cenderung mencari tempat yang memaksimumkan
bilangan koordinasinya dengan substrat. Entalpi kimisorpsi jauh lebih besar
dibandingkan fisisorpsi, dan nilai khasnya sekitar -200 kJ/mol. Molekul
yang terkimisorpsi, dapat terpisah karena tuntutan valensi atom permukaan
yang tidak terpenuhi. Adanya fragmen molekul pada permukaan, sebagai
hasil kimisorpsi, merupakan salah satu alasan mengapa permukaan
mengkatalisa reaksi (Atkins, 1990).

III. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah
sebagai berikut:
A. Alat:
1. Erlenmeyer 10 buah
2. Spatula
3. Cawan

4. Penangas
5. Corong
6. Gelas ukur 25 ml 2 buah
7. Buret 50 ml
8. Statif dan klem
9. Lumpang dan alu
10. Stop watch
11. Neraca digital
12. Botol semprot
13. Pipet tetes
B. Bahan
1. Asam asetat 0,5 N
2. NaOH 0,5 N
3. Karbon aktif
4. Indikator pp
5. Asam asetat 1 N
6. Kertas saring
7. Aluminium foil
8. Aquades

IV. Prosedur
Adapun langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini
adalah sebagai berikut:
1. Mengaktifkan arang dengan memanaskan arang di atas penangas listrik.
2. mengaluskan menggunakan lumpang dan alu.
3. Menyiapkan 8 buah erlenmeyer.
4. Menimbang 1 gram arang aktif sebanyak 8 kali dan memasukkannya ke
dalam masing-masing erlenmeyer
5. Mengambil 4 buah erlenmeyer tersebut lalu mengisi dengan 12,5 ml
larutan asam asetat 1 N pada masing-masing erlenmeyer, kemudian
mengisi 4 buah erlenmeyer lain dengan 12,5 ml larutan asam asetat 0,5
N.
6. Menutup semua erlenmeyer dengan aluminium foil.
7. Mengocok setiap erlenmeyer selama 1 menit dan mendiamkan selama
30 menit (CH3COOH 0,5 N dan 1 N), 60 menit (CH3COOH 0,5 N dan 1
N), 90 menit (CH3COOH 0,5 N dan 1 N) dan 120 menit (CH3COOH
0,5 N dan 1 N).

8. Menyaring larutan dengan kertas saring.


9. Mengambil 5 ml filtrat dan menambahkan dengan 2 tetes indikator PP.
Perlakuan
30 menit

Volume NaOH 0,5 N (mL)


60 menit
90 menit

120 menit

CH3COOH 0,5
N + karbon

3,5

2,9

2,9

2,6

6,7

6,9

2,5

7,5

aktif (kocok 1
menit, saring
filtrat, titrasi.
CH3COOH 1 N
+ karbon
aktif (kocok 1
menit, saring
filtrat, titrasi.
10. Menitrasi larutan dengan larutan NaOH 0,5 N.
11. Mencatat volume NaOH yang diperlukan untuk melakukan titrasi.

V. Hasil Pengamatan
Adapun hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai
berikut:

VI. Perhitungan
A. Menentukan konsentrsi CH3COOH akhir
1. Untuk [CH3COOH] = 0,5 N
30 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH

0,5 N 3.5 mL
5 mL
1,75 N
5
0,35 N

60 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH

0,5 N 2,9 mL
5 mL
1,45 N
5
0,29 N

90 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH
3 mL
0,5 N 2,9
5 mL
1,45 N
5
0,29 N

120 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH

0,5 N 2,6 mL
5 mL
1,3 N
5

0,26
2. Untuk [CH3COOH] = 1 N N

30 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

V
CH3mL
COOH
1N 6,7
5 mL
6,7 N
5
1,34 N

60 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH
3
1N 2,5 mL
5 mL
2,5 N
5
0,5N

90 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH
3
1N 2,5 mL
5 mL
2,5 N
5
0,5N

120 menit

NaOH VNaOH

CH 3COOH

VCH COOH
3
1N 7,5 mL
5 mL
7,5 N
5
1,5N

B. Menentukan nilai k
1. Untuk orde I
ln [ Ao ] ln [ A]
k
t
a. Untuk [CH3COOH] = 0.5 N
30 menit = 1800 s
ln [0.5] ln [0.35] ( 0.69) ( 1.05)
k

2 x 104 s 1
1800 s
1800 s
60 menit = 3600 s
ln [0.5] ln [0.29] ( 0.69) ( 1.24)
k

1.53 x 10 4 s 1
3600 s
3600 s
90 menit = 5400 s
ln [0.5] ln [0.29] (0.69) (1.24)
k

1.02 x 104 s 1
5400 s
5400 s
120 menit = 7200 s
ln [0.5] ln [0.26] (0.69) (1.35)
k

9.17 x 105 s 1
7200 s
7200 s
b. Untuk [CH3COOH] = 1 N
30 menit = 1800 s
ln [1] ln [1.34] (0) (0.29)
k

1.61 x 104 s 1
1800 s
1800 s

60 menit = 3600 s
ln [1] ln [1.38] (0) (0.32)
k

8.89 x 105 s 1
3600 s
3600 s
90 menit = 5400 s
ln [1] ln [0.5] (0) ( 0.69)
k

1.28 x 104 s 1
5400 s
5400 s
120 menit = 7200 s
ln [1] ln [1.5] (0) (0.41)
k

5.69 x 105 s 1
7200 s
7200 s
2. Untuk orde II
1 1
1
k

t A A0
a. Untuk [CH3COOH] = 0.5 N
30 menit = 1800 s
1 1
1
k

1800 s 0.35 0.5


1

(0.85) N 2 4.72 x104 N 1s 1


1800 s
60 menit = 3600 s
1
1
1
k

3600 s 0.29 N 0.5 N


1

(1.44) N 2 4 x 104 N 1s 1
3600 s
90 menit = 5400 s
1
1
1
k

5400 s 0.29 N 0.5 N


1

(1.44) N 2 2.66 x 104 N 1s 1


5400 s
120 menit = 7200 s

1
1
1
k
.

2
2(7200) s [1.5 N ] [1N ]2

1
0.56 3.88 x 105 N 2 s 1
14400 s
b. Untuk [CH3COOH] = 1 N
30 menit = 1800 s

1 1
1

1800 s 1.34 N 1N
1

(0.26) N 1 1.44 x 104 N 1s 1


1800 s
60 menit = 3600 s
1 1
1
k

3600 s 1.38 N 1N
1

(0.28) N 1 7.7 x 10 5 N 1s 1
3600 s
90 menit = 5400 s
1 1
1
k

5400 s 0.5 N 1N
1

(1) N 1 1.85 x 104 N 1 s 1


5400 s
120 menit = 7200 s
1 1
1
k

7200 s 1.5 N 1N
1

(0.34) N 1 4.72 x 10 5 N 1s 1
7200 s
3. Orde III
1 1
1
k

2
2t [ A] [ Ao ]2
k

a. Untuk [CH3COOH] = 0.5 N

30 menit = 1800 s

1
1
1
k
.

2
2(1800) s [0.35 N ] [0.5 N ]2

1
4.16 1.16 x 103 N 2 s 1
3600 s
60 menit = 3600 s

1
1
1
k
.

2
2(3600)s [0.29 N ] [0.5 N ]2

1
7.89 1.10 x 103 N 2 s 1
7200 s
90 menit = 5400 s

1
1
1
.

2
2(5400) s [0.29 N ] [0.5 N ]2

1
7.89 7.31 x 104 N 2 s 1
10800s
120 menit = 7200 s

1
1
1
k
.

2
2(7200) s [0.26 N ] [0.5 N ]2

1
10.79 7.50 x 104 N 2 s 1
14400 s
b. Untuk [CH3COOH] = 1 N
30 menit = 1800 s

1
1
1
k
.

2
2(1800) s [0.34 N ] [1N ]2

1
0.44 1.22 x 104 N 2 s 1
3600 s
60 menit = 3600 s

1
1
1
k
.

2
2(3600) s [1.38 N ] [1N ]2

1
0.48 6.66 x 105 N 2 s 1
7200 s
90 menit = 5400 s

1
1
1
k
.

2
2(5400) s [0.5 N ] [1N ]2

1
3 2.78 x 104 N 2 s 1
10800s
120 menit = 7200 s

1
1
1
.

2
2(7200) s [1.5 N ] [1N ]2
1
0.56 3.88 x 105 N 2 s 1
14400 s

VII. Grafik Nilai k


A. Orde I
1. Untuk Untuk [CH3COOH] = 0,5 N
0
0
0
k

0
0
0
1000

2000

3000

4000

5000
t

2. Untuk Untuk [CH3COOH] = 1 N

6000

7000

8000

0
0
0
0
0
k

0
0
0
0
0
1000

2000

3000

4000

5000
t

B. Orde II
1. Untuk Untuk [CH3COOH] = 0,5 N

6000

7000

8000

0
0
0
0
0
k

0
0
0
0
0
0
1000

2000

3000

4000

5000

6000

7000

8000

5000

6000

7000

8000

2. Untuk Untuk [CH3COOH] = 1 N


0
0
0
0
k

0
0
1000
0

2000

3000

4000

0
0
0
t

C. Orde III
1. Untuk Untuk [CH3COOH] = 0,5 N

0
0
0
0
k

0
0
0
0
1000

2000

3000

4000

5000

6000

7000

8000

5000

6000

7000

8000

2. Untuk Untuk [CH3COOH] = 1 N


0
0
0
0
k

0
0
0
1000
0

2000

3000

4000

0
0
t

VIII. Pembahasan
Kinetika adsorpsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat
oleh adsorben dalam fungsi waktu. Adsorpsi terjadi pada permukaan zat
padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat
padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai
gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang

mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair,
mempunyai gaya adsorpsi. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi
zat yang diserap masuk ke dalam absorbens sedangkan pada adsorpsi zat
yang diserap hanya terdapat pada permukaannya (Sukardjo, 1990).
Adsorpsi ada dua jenis, yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia.
Physisorption (adsorpsi fisika) terjadi karena gaya Van der Walls dimana
ketika gaya tarik molekul antara larutan dan permukaan media lebih besar
daripada gaya tarik substansi terlarut dan larutan, maka substansi terlarut
akan diadsorpsi oleh permukaan media. Physisorption ini memiliki gaya
tarik Van der Walls yang kekuatannya relatif kecil. Molekul terikat sangat
lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar
20 kJ/mol. Contoh : adsorpsi oleh arang aktif. Aktivasi arang aktif pada
temperatur yang tinggi akan menghasilkan struktur berpori dan luas
permukaan adsorpsi yang besar. Semakin besar luas permukaan, maka
semakin banyak substansi terlarut yang melekat pada permukaan media
adsorpsi. Chemisorption (adsorpsi kimia). Chemisorption terjadi ketika
terbentuknya ikatan kimia antara substansi terlarut dalam larutan dengan
molekul dalam media. Chemisorpsi terjadi diawali dengan adsorpsi fisik,
yaitu partikel-partikel adsorbat mendekat ke permukaan adsorben melalui
gaya Van der Walls atau melalui ikatan hidrogen. Dalam adsorpsi kimia
partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya
ikatan kovalen), dan cenderung mencari tempat yang memaksimumkan
bilangan koordinasi dengan substrat. Contoh : Ion exchange
(Atkin, 1990).
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari kinetika
adsorpsi karbon aktif terhadap asam asetat dalam larutan (Staf Pengajar
Kimia Fisika II, 2014).
Dalam percobaan ini, hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan
adsorben yaitu arang aktif. Arang aktif digunakan karena dikenal sebagai
adsorben atau penyerap yang afektif sehingga banyak dipakai sebagai
adsorben. Selain itu, arang aktif adalah adsorben yang cocok untuk
mengadsorpsi bahan-bahan organik seperti sampel yang digunakan yaitu

asam asetat. Proses pembuatan arang aktif yaitu dengan cara memanaskan
arang tersebut menggunakan penangas listrik lalu mengaluskan dengan cara
menumbuk menggunakan lumpang dan alu. Arang diaktifkan dengan tujuan
untuk memperbesar pori-pori karbon dan untuk memperluas permukaan
agar mempermudah proses adsorpsi atau meningkatkan daya adsorpsi dari
arang tesebut.
Selanjutnya memasukkan arang yang telah diaktifkan ke dalam 8 buah
erlenmeyer sebanyak 1 gram untuk setiap erlenmeyer. Setelah berisi arang
aktif langkah selanjutnya adalah mengisi 4 buah erlenmeyer dengan 12,5 ml
larutan asam asetat 1 N, sedangkan sisanya dengan 12,5 ml larutan asam
asetat 0,5 N. Tujuan digunakan dua konsentrasi yang berbeda adalah untuk
mengetahui pengaruh besar kecilnya konsentrasi terhadap kecepatan
adsorpsi. Setelah memasukkan larutan asam asetat, selanjutnya mengocok
setiap erlenmeyer selama 1 menit, tujuan pengocokkan adalah untuk mem
setiap permukaan dari arang aktif dapat mengadsorpsi molekul-molekul
asam asetat. Setelah itu menutup erlenmeyer dengan aluminium foil agar
molekul-molekul asam asetat tidak menguap selama proses adsorpsi, sebab
adsorpsi menggunakan arang aktif akan menghasilkan gas.
Langkah selanjutnya adalah mendiamkan setiap erlenmeyer yaitu 4
buah erlenmeyer yang berisi larutan asam asetat 1 N didiamkan dengan
selang waktu yang berbeda yaitu 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120
menit. Demikian pula dengan 4 buah erlenmeyer yang berisi larutan asam
asetat 0,5 N. Pendiaman bertujuan untuk membiarkan proses adsorpsi
mencapai tahap setimbang. Setelah waktu pendiaman selesai, tahap berikut
adalah menyaring filtrat menggunakan kertas saring dengan tujuan untuk
memisahkan filtrat dari adsorben (arang aktif).
Proses terakhir adalah melakukan titrasi. Larutan standar yang
digunakakn dalam titrasi adalah NaOH 0,5 N. Pada titrasi ini indikator yang
digunakan adalah indikator PP, dimana indikator PP merupakan jenis
indikator asam. Dimana pada saat suasana asam indikator PP tidak
berwarna, tetapi pada suasana basa indikator PP berubah warna menjadi
merah muda. Titrasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsentrasi

akhir dari larutan asam asetat setelah proses adsorpsi dan hasil tersebut
kemudian digunakan untuk menghitung nilai tetapan laju reaksi untuk setiap
waktu pendiaman. Adapun hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Untuk [CH3COOH] awal 0,5 N, pada pendiaman 30 menit, 60 menit, 90
menit dan 120 menit secara berturut-turut adalah 0,35 N, 0,29 N, 0,29 N dan
0,26 N. Sedangkan Untuk [CH3COOH] awal 1 N dipeoleh hasil secara
berturut turut 1,34 N, 1,38 N, 0,5 N dan 1,5 N.
Setelah nilai konsentrasi untuk setiap pendiaman diketahui, maka
tetapan laju reaksi (k) dapat diperoleh melali perhitungan. Adapun nilai k
yang diperoleh adalah sebagai berikut: Untuk orde 1 dengan konsentrasi
CH3COOH awal 0,5 N dengan waktu pendiaman 30 menit, 60 menit, 90
menit dan 120 menit diperoleh nilai k secara berturut-turut adalah 2 x 10-4s-,
1,53 x 10-4 s-, 1,02 x 10-4 s- dan 9,17 x 10-5 s-. Sedangkan untuk konsentrasi
CH3COOH awal 1 N nilai k secara berturut-turut adalah 1,61 x 10-4 s-, 8,89 x
10-5 s-, 1,28 x 10-4 s- dan 5,69 x 10-5 s-. Untuk orde 2 dengan konsentrasi
CH3COOH awal 0,5 N nilai k secara berturut adalah 4,72 x 10-4 s-, 4 x 10-4
s-, 2,67 x 10-4 s- dan 2,55 x 10-4 s-. Sedangkan untuk konsentrasi CH3COOH
awal 1 N nilai k secara berturut-turut adalah -1,44 x 10-4 s-, -7,7 x 10-5 s-,
1,85 x 10-4 s- dan -4,72 x 10-4 s-. Dan untuk orde 3 dengan konsentrasi
CH3COOH awal 0,5 N nilai k secara berturut-turut adalah 1,16 x 10-3 s-,
1,10 x 10-3 s-, 7,30 x 10-3 s- dan 7,50 x 10-4 s-. Sedangkan untuk konsentrasi
CH3COOH awal 1 N nilai k secara berturut-turut adalah -1,22 x 10-4 s-,
-6,66 x 10-5 s-, 2,78 x 10-4 s- dan -3,88 x 10-5 s-. Dari nilai k yang diperoleh
dapat diketahui bahwa semakin besar konsentrasi, maka nilai k semakin
kecil.
Dalam percobaan ini, faktot yang mempengaruhi daya adsorpsi adalah
sebagai berikut: yang pertama adalah waktu kontak. Waktu kontak
merupakan suatu hal yang sangat menentukan dalam proses adsorpsi. Waktu
kontak memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat
berlangsung lebih baik. Yang kedua adalah luas permukaan. Semakin luas
permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang diserap, sehingga
proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semakin kecil ukuran diameter

adsorben maka semakin luas permukaannya. Kapasitas adsorpsi total dari


suatu adsorbat tergantung pada luas permukaan total adsorbennya. Yang
ketiga kelarutan adsorbat. Agar adsorpsi dapat terjadi, suatu molekul harus
terpisah dari larutan. Senyawa yang mudah larut mempunyai afinitas yang
kuat untuk larutannya dan karenanya lebih sukar untuk teradsorpsi
dibandingkan senyawa yang sukar larut. Akan tetapi ada perkeculian karena
banyak senyawa yang dengan kelarutan rendah sukar diadsorpsi, sedangkan
beberapa senyawa yang sangat mudah larut diadsorpsi dengan mudah.
Usaha-usaha untuk menemukan hubungan kuantitatif antara kemampuan
adsorpsi dengan kelarutan hanya sedikit yang berhasil. Yang keempat adalah
ukuran olekul adsorbat. Ukuran molekul adsorbat benar-benar penting
dalam proses adsorpsi ketika molekul masuk ke dalam mikropori suatu
partikel arang untuk diserap. Adsorpsi paling kuat ketika ukuran pori-pori
adsorben cukup besar sehingga memungkinkan molekul adsorbat untuk
masuk. Yang kelima adalah pH. pH di mana proses adsorpsi terjadi
menunjukkan pengaruh yang besar terhadap adsorpsi itu sendiri. Hal ini
dikarenakan ion hidrogen sendiri diadsorpsi dengan kuat, sebagian karena
pH mempengaruhi ionisasi dan karenanya juga mempengaruhi adsorpsi dari
beberapa senyawa. Asam organik lebih mudah diadsorpsi pada pH rendah,
sedangkan adsorpsi basa organik terjadi dengan mudah pada pH tinggi. pH
optimum untuk kebanyakan proses adsorpsi harus ditentukan dengan uji
laboratorium. Dan yang terakhir adalah temperatur.
Temperatur di mana proses adsorpsi terjadi akan mempengaruhi kecepatan
dan jumlah adsorpsi yang terjadi. Kecepatan adsorpsi meningkat dengan
meningkatnya temperatur, dan menurun dengan menurunnya temperatur.
Namun demikian, ketika adsorpsi merupakan proses eksoterm, derajad
adsorpsi meningkat pada suhu rendah dan akan menurun pada suhu yang
lebih tinggi.
Setelah nilai k diperoleh, selanjutnya membuat kurva k vs t untuk
masing-masing orde dan konsentrasi yang berbeda. Kurva dibuat dengan
cara membuat plot antara k dan t dimana t merupakan waktu pendiaman.

Sumbu y merupakan fungsi k sedangkan sumbu x merupakan fungsi t. Dari


kurva yang dibuat tidak terdapat nilai yang konstan dari hubungan k dan t.
Hal ini disebabkan oleh kesalahan yang terjadi dalam praktikum. Kesalahan
yang paling mungkin terjadi adalah praktikan kurang teliti dalam mengamati
waktu dalam proses pendiaman.

IX. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan pada permukaan suatu zat dalam
fungsi waktu. Dimana karbonnaktif bertindak sebagai adsorben dan asam
asetat sebagai adsorbat. Pada percobaan ini nilai konsentrasi akhir yang
diperoleh adalah sebagai berikut: Untuk [CH3COOH] awal 0,5 N, pada
pendiaman 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit secara berturutturut adalah 0,35 N, 0,29 N, 0,29 N dan 0,26 N. Sedangkan Untuk
[CH3C]OOH] awal 1 N dipeoleh hasil secara berturut turut 1,34 N, 1,38
N, 0,5 N dan 1,5 N.
2. Nilai k yang diperoleh yaitu:
a. Reaksi orde 1
Untuk [CH3COOH] awal 0,5 N yaitu: 2 x 10-4s-, 1,53 x 10-4 s-, 1,02

x 10-4 s- dan 9,17 x 10-5 s-.


Untuk [CH3COOH] awal 1 N yaitu: 1,61 x 10-4 s-, 8,89 x 10-5 s-,

1,28 x 10-4 s- dan 5,69 x 10-5 s-.


b. Reaksi orde 2

Untuk [CH3COOH] awal 0,5 N yaitu: 4,72 x 10-4 N- s-, 4 x 10-4 N-

s-, 2,67 x 10-4 N- s- dan 2,55 x 10-4 N- s-.


U ntuk [CH3COOH] awal 1 N yaitu: -1,44 x 10-4 N- s-, -7,7 x 10-5

N- s-, 1,85 x 10-4 N- s- dan -4,72 x 10-4 N- s-.


c. Reaksi orde 3
Untuk [CH3COOH] awal 0,5 N yaitu: 1,16 x 10-3 N-2 s-, 1,10 x 10-3

N-2 s-, 7,30 x 10-3 N-2 s- dan 7,50 x 10-4 N-2 s-.
Untuk [CH3COOH] awal 1 N yaitu: -1,22 x 10-4 N-2 s-, -6,66 x 10-5
N-2 s-, 2,78 x 10-4 N-2 s- dan -3,88 x 10-5 N-2 s-.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W., (1990), Kimia Fisika Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.
Keenan, C.W., (1999). Kimia untuk Universitas .Jakarta: Erlangga.
Staf Pengajar Kimia Fisik II., (2014). Penuntun Praktikum Kimia Fisik
II. Palu:UNTAD-Press.
Sukardjo,. (1990), Kimia Fisika. Jakarta: Bina Aksara.